Archive for the Psikologi Category

Kategori Anak dalam Islam

Posted in Psikologi, Tausiyah with tags , , , , , , , on January 26, 2011 by hzulkarnain

pewaris masa depan dunia

Herdian Zulkarnain

Orang Jawa punya ujar-ujar: tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati. Sebuah pepatah yang menggambarkan betapa darah atau nasab tidak mutlak menentukan perkembangan anak menjadi dirinya sendiri.

Tunggak jarak menggambarkan cikal bakal orang kebanyakan, bisa didapat di mana saja, tetapi juga bisa tumbuh di mana saja. Mrajak bermakna tumbuh dengan cepat dan subur. Tunggak jati menunjukkan derajat yang lebih tinggi, mahal, tapi tidak bisa mrajak. Bahkan bila tidak dirawat dengan benar, akan mati begitu saja.

Ada 2 dalam garis hidupnya yang tidak bisa dipilih oleh manusia, yakni dari siapa dia dilahirkan, dan di tanah mana dia akan mati. Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari seorang ibu yang tinggal hangat di sebuah istana raja, atau seorang ibu yang mengigil kedinginan di bawah jembatan. Yang Maha Kuasa dengan segala ke-Maha Adil-nya telah menentukan tanggung jawab dari masing-masing orang tua agar anaknya menjadi diri yang sesempurna mungkin. Anak bukanlah hak milik orang tua, tetapi anak adalah tanggung jawab Allah pada setiap orang tua untuk mengasuh dan membesarkannya.

…sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya ,

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan  pembalasan sesudah  itu?

Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?

(QS At-Tiin)

Dalam cetak birunya, manusia dikodratkan sempurna lahir dan batin. Akan tetapi, saat masuk ke alam dunia manusia harus melewati sebuah gerbang yang berupa kandungan ibu. Di sinilah awal perjalanan jasmaniah dan ruhaniah mulai. Sebagian manusia sangat berhati-hati dengan janin di kandungannya, memperlakukannya dengan cermat dan santun, dan mengajarkan kebaikan bahkan sebelum ruh ditiupkan ke dalam jasad bayi. Sebagian yang lain, dengan cerobohnya membiarkan cikal bakal manusia ini tumbuh tak terawat, bahkan tidak sedikit yang lahir dengan kecacatan fisik maupun mental.

Tidak ada yang terjadi di dunia ini tanpa ijin Allah, namun manusia diberik akal budi untuk menjadikan dirinya sebaik-baik manusia. Karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa mendatang, kita diperintahkan oleh Allah untuk menjaga keluarga kita dari api neraka … Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka … (At Tahriim 6). Perintah yang sederhana, namun memiliki konsekuensi sangat luas.

Sekalipun seorang anak memiliki kecerdasan, namun pada dasarnya ia adalah selembar kertas yang menerima apa saja yang dituliskan orang tuanya padanya. Tidak heran bila ada pepatah, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, sebab memang merekalah yang mengukir jiwa raga si anak. Apakah akan mrajak atau mati, tergantung dari cara orang tua mengasuh mereka.

Kekeliruan pertama yang biasa dijumpai pada sebagian besar orang tua adalah lemah dalam menekankan kedisiplinan pada anak. Demi melihat lucunya anak, tidak tega melihat anak sakit atau sedih, anak tidak dibiasakan berdisiplin. Dalam pikiran orang tua … ah, nanti saja kalau sudah agak besar. Padahal, mengukir kepribadian anak bisa diibaratkan menulis di atas tabularasa, lembar lilin yang cukup lunak. Dengan effort minimum, hasilnya tahan lama. Sementara mengukir anak yang lebih dewasa, seperti memahat batu. Harus keras dengan tenaga besar, atau tidak membekas bagus.

Bila anak mulai merokok, mulai nonton pornografi, pacaran, konsumtif, jangan melulu melihat si anak ini. Lihat pula bagaimana dia dibesarkan. Artinya, sebagian kesalahan terletak pada orang tua. Saat dewasa nanti, sebagian anak akan memberikan surga bagi orang tuanya, namun sebaliknya ada yang memberikan kesedihan dan kesusahan saja bagi mereka. Kita ingat kisah Nabi Khidir yang tanpa diduga oleh Nabi Musa mencekik seorang bocah tampan hingga mati. Nabi Khidir as. hanya mengatakan bahwa anak ini kelak dewasa nanti akan mendurhakai orang tuanya, sebab dia semenjak kecil selalu dimanjakan oleh keduanya. Dengan kematiannya, Nabi Khidir mendoakan semoga orang tuanya itu akan diberi ganti oleh Allah anak yang saleh.

Dalam Islam, kelak dewasa, anak kita akan masuk dalam salah satu kategori:

  1. Anak qurrota a’yun
  2. Anak yang menjadi perhiasan dunia
  3. Anak yang menjadi ujian bagi orang tuanya
  4. Anak yang menjadi musuh bagi orang tuanya

Seorang anak yang qurrota a’yun menjadi penyegar mata dan hati orang tua. Menyenangkan perilaku dan kepribadiannya, membanggakan, dan bisa mengangkat derajat orang tua di dunia dan akhirat. Tentu saja, tidak banyak anak yang seperti ini.

bimbingan sejak dini

Yang masih lebih banyak adalah anak-anak yang menjadi perhiasan dunia. Sesekali menjengkelkan, kadangkala membuat kesal, tetapi secara umum tetap membuat orang tua bangga. Mungkin banyak dari anda yang membaca blog ini termasuk kategori anak-anak kebanggaan orang tua …  bisa dipamerkan pada orang lain, menjadi tumpuan di hari tua mereka, dan akan mendoakan kelak saat orang tua sudah tiada.

Yang mungkin lebih banyak lagi adalah anak-anak yang menjadi ujian bagi orang tua. Sedikit menyenangkan, tapi lebih banyak mengesalkan. Membandel, sekalipun kadang kala menurut. Tidak kelihatan nakal, tapi membuat susah hati. Orang tua jadi sering-sering ber-istighfar, mengelus dada, dan mendoakan keselematan bagi si anak. Keadaan gamang ini masih menyimpan potensi untuk menjadikan anak kembali bagi orang tuanya (bila dia bertobat dari kesalahannya), tetapi bisa juga berubah menjadi musuh (saat dia semakin tersesat).

Kategori terakhir, yang paling memprihatinkan, adalah anak yang menjadi musuh bagi orang tuanya. Tidak ada kebahagiaan orang tua atas diri mereka, hanya ada kesedihan dan penderitaan batin. Sepertinya, arah jalan mereka berbeda dengan arahan orang tua. Anak-anak durhaka ini akan membebani orang tua saat di akhirat, karena kembali bahwa sebagian kesalahan anak terletak pada orang tua. Orang tua tidak bisa menjaga si anak berlari ke arah api neraka.

Marilah sejenak kita lihat, bagaimana anak-anak kita. Masuk di kategori mana mereka ini. Semoga, anak-anak itu bisa tumbuh menjadi manusia yang diridhoi Allah SWT.

Harapan Baru Di Tahun Baru

Posted in Kontemplasi, Psikologi, Sharing with tags , , , , on January 7, 2011 by hzulkarnain

Kalau sudah menjelang tahun baru, atau masuk tahun baru, orang suka membuat resolusi tahun baru. Yang pada intinya ingin menjadi orang yang lebih baik daripada tahun sebelumnya. Banyak resolusi tahun baru yang muluk-muluk, saking inginnya menjadi orang yang berbeda, yang sukses, dan signifikan.

definisikan resolusimu

Bila memungkinkan, tidak ada orang yang tidak mengharapkan lebih baik daripada tahun sebelumnya. Bagi pekerja, mungkin gaji yang lebih baik. Bagi yang masih menjombol, mudah-mudahan ada jodoh di tahun yang baru ini. Bagi pengantin baru, kehamilan atau malah lahirnya anak-anak yang sehat. Demikian seterusnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, sejalan dengan beratnya perjuangan menempuh kehidupan hari ke hari, lebih banyak resolusi yang dilupakan daripada terlaksana. Apapun alasannya. Akhirnya, tidak sedikit yang mencapai akhir tahun berikutnya sama saja kondisinya dengan setahun silam, kalau tidak bertambah buruk.

Masalah yang paling lazim dihadapi oleh pembuat resolusi tahun baru adalah merumuskan resolusi tersebut menjadi tahapan yang bisa dicapai. Entah karena tidak tahu caranya membuat rumusan, atau tidak suka membuat perencanaan, akhirnya cita-cita yang ingin dicapai di tahun mendatang menguap begitu saja bersama waktu.

Bagaimana Caranya?

Meminjam istilah Romy Rafael, buatlah cita-cita yang menjadi puncak resolusi tahun baru itu punya fisik, punya warna, bisa dirasakan, bahkan mungkin diendus baunya, dan diraba. Intinya kita yakin bahwa itulah yang ingin kita raih. Ini akan men-sugesti diri kita untuk meyakini maknanya, dan mendorong kita untuk mewujudkannya.

Seringkali orang hanya bercita-cita secara abstrak – misalnya menjadi orang yang lebih baik. Itu tidak akan tercapai, kecuali anda merumuskannya secara jelas. Menjadi lebih baik dalam hal apa, bidang apa, urusan apa. Justru karena (alam bawah sadar kita) enggan berubah dari kondisi sekarang, seringkali kita mengaburkan resolusi yang kita tetapkan sendiri.

Apapun yang akan kita lakukan, selalu butuh rencana. Kalau secara sadar kita ingin berubah, kita harus membuat rencana. Rencana itu dirupakan tahapan yang bisa di-eksekusi, cukup mudah dilakukan, dan sederhana. Pecahlah cita-cita menjadi bagian-bagian atau tahapan-tahapan, agar kita tidak malas menjalankannya. Penjadwalan akan membuat anda lebih disiplin.

tahapan membuatnya mungkin dicapai

Seribu langkah selalu didahului dengan langkah pertama – itulah yang harus anda lakukan. Sekalipun rencana itu tidak sempurna, jalani saja. Kuatkan niat untuk memulai langkah pertama, dan jangan menengok ke belakang lagi – agar tidak ada keragu-raguan yang merugikan.

Seraya membuat rencana, organisasikan semua hal yang diperlukan untuk meraih cita-cita. Kalau cita-cita akhir tahun ini adalah menikah, pastikan ada punya seorang calon istri atau suami (:D pastilah ….). Di masa sekarang, orang menikah biasanya perlu biaya besar, pastikan sumber dana aman, tempat resepsi aman, suvenir, dsb. Apalagi kalau mau mendatangkan artis, atau pesta kebun di tepi kolam renang, perlu perencanaan yang lebih seksama.

Bila rencana sudah dibuat, semua resource (sumber daya) sudah didaftar, tinggal mengeksekusinya sesuai dengan tahapan yang sudah direncanakan. Kerjakan yang termudah, yang bisa dilakukan sekarang, tapi harus mulai sekarang. Diri anda adalah komandan dan guru bagi diri anda sendiri, karena tidak ada kekuatan besar yang bisa membuat anda berubah kecuali diri anda sendiri. Bila komandan memerintahkan anda untuk bergerak sekarang, tetapi dengan berbagai dalih anda berusaha menghindarinya, melupakan disiplin, dan tidak memenuhi rencana yang anda buat sendiri … itu sudah setengah jalan untuk menemui kegagalan lagi dalam mencapai cita-cita resolusi tahun baru anda.

Alasan rencana perlu dibuat dengan tahapan adalah fungsi kontrol. Rencana anda harus bisa diukur keberhasilannya, dan secara sadar anda bisa melihat progress (kemajuan) yang sudah terjadi. Kalau anda belajar membaca Al-Qur’an, anda tentunya bisa merasakan perbedaan antara pertama kali anda membuka kitab suci tersebut dengan setelah 3 bulan berlalu. Bila sebelumnya membaca halaman pertama Al-Baqarah butuh 30 menit, selanjutnya anda hanya perlu setengah waktu saja untuk menghabiskan 1 halaman. Setelah 1 tahun, mungkin hanya perlu 15 menit untuk menyelesaikan surat Yasiin. Itu yang dinamakan kemajuan.

Dengan fungsi kontrol ini, anda bisa mengoreksi jalan yang keliru dan harus diperbaiki. Bila mungkin kemarin anda sudah membuat seseorang sakit hati, ini waktunya anda mendatanginya dan minta maaf. Sekalipun mungkin orang tersebut sudah memaafkan sejak dulu, ia akan bisa melihat bahwa anda telah berubah menjadi orang yang lebih baik.

resolusi tanpa rencana? end up like this ...

Membentuk karakter tidak pernah bisa diselesaikan dalam waktu semalam saja. Butuh waktu lama dan kesabaran. Penyusunnya adalah bata demi bata perbuatan baik, yang anda cetak sendiri, dan bangun sesuai dengan keinginan. Semakin rapat batu bata tersebut, semakin kokoh bangunan yang terbentuk nanti. Kejujuran anda pada diri sendiri diperlukan untuk menjadikan bangunan ini nanti solid tak tergoyahkan.

Semoga tahun baru ini membawa keberkahan bagi kita semua, dan kita sama-sama berkehendak menjadi orang yang lebih baik. Islam mengajarkan kita untuk selalu lebih baik, agar jadi orang yang beruntung. Dengan cara apa? Saya mengatakan: Perbaiki diri, sekalipun hanya dengan 1 alif. Artinya, seperti mengaji Al-Qur’an, teruslah tambah bacaan anda dari ke hari … sekalipun perbedaan itu hanya 1 alif dibandingkan dengan kemarin.

Memberi Makna pada Hidup

Posted in Kontemplasi, Psikologi with tags , , , , , , on October 21, 2010 by hzulkarnain

Siang tadi, seorang teman mengirimkan e-mail yang berisi sepenggal informasi, bahwa ada penelitian di Amerika yang menunjukkan bahwa sepertiga dari pemenang lotere di Amerika Serikat jatuh bangkrut 5 tahun setelah mendapatkan uang yang berlimpah. Kenapa? Uang melambangkan nilai, dan bila orang tidak memahami makna di balik nilai uang itu maka uang-uang itu tidak akan bertahan.

crying for help

Kick Andy edisi 15 Oktober 2010 mengupas tentang perilaku bunuh diri, dan membahas alasan orang melakukannya. Sungguh di luar dugaan, usia pelaku bunuh diri ternyata semakin muda, di kala seharusnya mereka sedang menikmati masa hidup terindah. Ada yang baru 10 tahunan, 15 tahunan, 18 tahunan, serta seorang gadis muda yang pernah melakukan percobaan bunuh diri sebanyak 3 kali.

Kriminolog Ronny Nitibaskara dan psikolog Josephine Ratna yang menjadi narasumber sama menyepakati bahwa pelaku bunuh diri bisa dikenali sejak dini, saat terjadinya perubahan perilaku pada diri anak atau kerabat kita. Bukan hanya perilaku negatif tetapi bisa juga positif. Perilaku negatif misalnya murung, menutup diri, menarik diri, stress, dan semacamnya; sementara perilaku positif kebalikannya: anak menjadi lebih rajin membantu, rajin sholat, jadi lebih manis, dsb. Hal ini lebih kentara lagi pada perempuan, karena sebenarnya bunuh diri bukan pilihan pertama mereka. Mereka mencoba bunuh diri sebagai ganti “crying for help”.

Orang tua perlu melatih sensitifitas terhadap anak-anak, agar bisa mengantisipasi dengan cepat perubahan mental mereka. Josephine Ratna menunjukkan vitamin yang bisa mengokohkan akar kepribadian anak yaitu vitamin KPC: kasih sayang, perhatian, dan cinta. Jangan menolak saat anak meminta perhatian, misalnya dengan alasan capek atau sibuk. Berilah anak hak mereka untuk menikmati kehangatan relasi dengan orang tua. Orang tua yang terbiasa menyepelekan anak, yang berakibat renggangnya kontak emosi orang tua dan anak-anak mereka.

Apa kesamaan antara orang menang lotere dan pelaku bunuh diri? Keduanya sama-sama menyia-nyiakan sesuatu yang penting dalam kehidupan. Bukan soal uangnya, tetapi kesempatan untuk menjadi lebih baik. Bukan soal hidup yang seperti tanpa guna, tetapi kehidupan ini diciptakan sebenarnya tidak untuk main-main.

no future...hidup tanpa makna

Manusia punya tugas sebagai dan selayaknya insan mulia di muka bumi ini. Menjadi manusia yang utuh pada dasarnya menjadikan kehidupan ini punya makna bagi diri dan sekelilingnya. Bukan hanya Presiden, pejabat kementrian, Jenderal, perwira militer, pengusaha, engineer, advokat, dan semacamnya yang berhak mengatakan bahwa hidup mereka bermakna. Guru, petugas cleaning service, petugas parkir, bahkan pemulung pun punya hak untuk merasa hidupnya bermakna.

Dalam acara Minta Tolong RCTI beberapa waktu lalu, sang penolong adalah seorang perempuan pemulung dengan becak sewaan, dengan dua orang cucunya yang masih kecil-kecil. Dia sudah memulung selama 20 tahunan, dan belum akan berhenti selama masih hidup. Semasa mudanya, nenek itu adalah seorang tuna susila. Ia benar-benar merasakan siksaan hidup setelah ke-4 anaknya kehilangan arah. Dua anaknya ditengarainya hidup melacur seperti dirinya dulu, sementara dua yang lain tidak mau mengakuinya sebagai orang tua.

Sebuah nasihat sahabat menjadi pencerahan baginya 20 tahun yang lalu. Ia mendapatkan wejangan tentang kesengsaraan hidup saat bergantung pada orang lain. Hidup mejadi pelacur yang mengandalkan orang lain tidak akan membahagiakan. Hidup dengan keringat sendiri, bahkan dengan memulung, akan membawa kebahagiaan. Itulah yang kemudian dipraktikkannya. Ia memberikan makna pada kehidupannya sendiri, agar bisa terus bertahan dan mengasuh kedua cucunya. Dengan makna tersebut, ia melihat pengharapan, dan secara subjektif dunia ini tidak gelap.

Bandingkan dengan beberapa selebriti dunia yang justru mati di puncak karir atau selepas puncak karir karena overdosis atau lewat cara bunuh diri lainnya. Orang yang OD belum tentu bunuh diri, namun OD bisa jadi cara untuk menghabisi nyawa sendiri. Yang jelas, orang yang punya ketergantungan pada narkotika menyimpan ketidak beresan. Limpahan uang bukan diarahkan untuk sesuatu yang bermanfaat malah dihamburkan untuk menghancurkan diri sendiri.

Ada sebuah iklan susu yang sangat saya gemari, tentang Cila yang ingin jadi dokter. Dalam bahasanya sendiri, saat menjawab alasan dia ingin menjadi dkter, Cila menjawab: “Cila mau sembuh-sembuhin teman Cila yang sakit … supaya bisa bermain bersama lagi.” Bukan soal cita-citanya menjadi dokter yang menarik, tetapi anak ini sudah berusaha memberikan makna di balik cita-citanya.

Ketika hidup ini sudah diberikan makna, orang yang menjalaninya akan lebih serius dan tidak mudah patah. Orang-orang yang dikenal sebagai pahlawan kemerdekaan bangsa ini memberikan makna yang dalam pada kemerdekaan. Hidup ini tidak ada artinya tanpa kemerdekaan bangsa, sehingga mereka meletakkan pondasi kemerdekaan dengan cara mereka sendiri. Kalaupun mereka tidak mengalaminya, mereka mengikhlaskannya untuk anak cucu yang saat itu mungkin belum lahir.

Seorang tukang kayu, bekerja keras menyekolahkan ketiga anaknya hingga sarjana, dengan harapan mereka tidak akan menderita seperti dirinya dalam mencari nafkah. Penat akibat kerja keras, sakit karena kelelahan, dan bahkan mungkin kematian karena kecelakaan adalah harga yang diusahakan untuk meraih impian. Biarlah kemudahan itu milik anak cucunya.

mendekatkan diri pada Sang Pencipta ... memohon petunjuk arah kehidupan

Jadi, memberi makna pada kehidupan ini tidak harus dinikmati sendiri, tetapi juga bisa berarti menyiapkan masa depan bagi anak cucu. Atau bahkan makna ini lepas dari sisi keduniawian. Bekerja dengan sepenuh hati, lalu menyumbangkan sebagian besar harta untuk wakaf, orang miskin, rumah yatim piatu, karena mencari rahmat Tuhan.

Bagi yang pernah menonton film Forrest Gump bisa melihat semangat hidup yang mengalir di sepanjang perjalanan hidup orang yang terlahir dengan kecerdasan yang kurang namun diberkahi dengan banyak bakat. Sekalipun ia sendiri tidak paham akan apa yang dicarinya, ia sangat paham bahwa ia harus mematuhi Ibunya dan menjadi orang yang baik. Setelah kaya raya tanpa sengaja, ia memutuskan untuk hanya mengurusi rumahnya sendiri, dengan ilustrasi pesan dari mendiang Ibunya:”Kita hanya butuh harta sedikit saja. Selebihnya, hanya akan kita pakai untuk pamer.” Dan ia sumbangkan hampir semua hartanya kecuali rumah peninggalan orang tuanya.

Makna hidup harus dicari, karena dialah yang akan menyemangati kita. Kita jadi punya tujuan yang harus dicapai … dan tidak menutup kemungkinan tujuan itu akan berkembang, sehingga hidup kita jadi lebih menarik.

 

Berteman dengan Ketidak Sempurnaan

Posted in Psikologi, Sharing with tags , , , , , , on September 4, 2010 by hzulkarnain

Melalui facebook saya kembali bertemu dengan seorang teman baik di masa kuliah, dan sekarang dia sudah menjadi seorang manager HRD di sebuah perusahaan group yang bergerak dalam bidang fast moving consumer goods. Dia perempuan yang pintar dan aktif, lancar dalam mengemukakan pikiran, dan menikah muda. Bahkan sebelum selesai kuliah anak pertamanya lahir.

single parent

“Saya bercerai setahun silam,” ujarnya ringan. Sebuah pengakuan atau pernyataan yang menurut saya luar biasa, dan disampaikan dengan cara yang sangat biasa.

Ia harus menanggung ketiga anaknya sendirian, dan bisa survive. Bukan sekedar survive, tetapi ketiga anaknya bahkan punya prestasi masing-masing – dalam konteks subjektif teman saya itu. Bukan prestasi yang heboh, tetapi kemampuan mengatasi masalah dan menjadi pemenang dalam pergulatan kehidupannya sehari-hari. Intinya bahwa, ketiga anak tersebut mampu mandiri dan berbagi dalam semua kesulitan yang dimiliki.

Berumah tangga selama dua puluh tahunan, berakhir dengan perceraian. Apa tidak sayang? Sekalipun disayangkannya, namun semua menjadi pelajaran baginya. Menurutnya, dua puluh tahun berumah tangga itu berproses menjadi ajang pembuktian jati diri masing-masing. Teman saya itu membentuk karakter, pikiran dan hasratnya, demikian pula mantan suaminya. Teman saya berorientasi religius, dan semakin bertambah umur kian mencoba mendekatkan diri dengan agama. Sebaliknya, suaminya semakin membuktikan bahwa kehidupan dunia adalah nafasnya.

Akhir sebuah rumah tangga biasanya membawa dampak logis, berupa gangguan psikologi khususnya depresi. Tapi, teman saya itu berhasil melewati fase kritis dengan baik. Ia tidak terlalu terguncang dengan perceraiannya, karena tampaknya ia sudah melihat akhir hubungan suami istrinya jauh hari sebelumnya dengan jernih. Perceraian bukan sekedari konsekuensi atas sebuah perilaku tetapi juga pilihan dari pihaknya. Dalam situasi turbulensi, ia berpegang pada kedua asa yang masih kuat digenggamnya: ketiga anaknya, dan keyakinannya pada Tuhan.

Dari perspektif psikologi, teman saya itu berhasil menunaikan aturan pertama dalam konseling pada dirinya sendiri: membumikan masalah. Membumikan masalah bermakna meninjau masalah secara komprehensif sebagai realitas, sebagai masa lalu yang tidak bisa diubah, dan solusi hanya bisa dicari dengan melihat ke depan secara konstruktif. Menyikapi masalah sebagai realitas bermakna mengakui kekinian, tidak berandai-andai pada kejadian yang sudah lewat, dan tidak mengasihani diri sendiri.

Membumikan masalah bukan pekerjaan mudah, karena lebih banyak orang yang masih mengedepankan kalimat “… seandainya saja…” atau “... I wish ….”. Kalau manusia boleh memutar waktu, mereka boleh membuat kekeliruan dan tetap punya peluang melakukan koreksi. Tapi, kita tidak punya peluang itu. Kekeliruan pasti terjadi, dan kita memang harus hidup dengan segala macam ketidak pastian, ketidak sempurnaan, dan serba kekurangan.

Di muka bumi ini tidak ada kesempurnaan yang sebenarnya. Kesempurnaan yang dipersepsi manusia hanyalah nisbi belaka, sesuatu yang bermain di pikiran manusia. Kesempurnaan akan kecantikan, kekayaan, kepandaian, ketangkasan, dsb. Persepsi akan kesempurnaan ini secara positif memberi semangat dan keberanian individu untuk meraih cita-cita, pe-de dalam memilih pasangan hidup, mencari peluang bisnis, dsb. Masalah baru terjadi bila yang menghadang di jalan bukan keberhasilan melainkan kegagalan. Harapan dan cita-cita yang sudah melambung, tiba-tiba terhadang tembok tinggi. Akibatnya jelas: timbul jarak antara impian dan kenyataan.

Orang perlu siap dan paham bahwa dirinya tidak sempurna, karena memang tidak ada manusia yang sempurna. Dengan demikian, kegagalan, nasib buruk, atau sekedar ketidak beruntungan sebenarnya menjadi bagian yang integral dari kehidupan. Expect the unexpected! Memprakirakan hal yang tidak terduga, karena apa sih yang tidak mungkin di dunia ini?

terus berjalan meski tak sempurna

Seorang atlet yang mengalami kecelakaan dan lumpuh, jauh lebih tersiksa daripada orang yang sejak kecil cacat kaki. Selama hidupnya, hingga sebelum nikmat dicabut darinya, atlet tersebut menganggap dirinya sempurna dan fisiknya yang utuh memberinya nafkah. Sehingga, bila hal itu diambl darinya, ia akan menderita. Beda dengan orang yang sejak kecil menderita cacat dan telah berteman dengan ketidak sempurnaan sepanjang hidupnya. Penerimaan keduanya pada realitas kehidupan terpaut jauh, sebab penderita cacat sejak kecil telah lebih dulu menerima kecacatannya sebagai bagian dari kehidupannya.

Perubahan membuat orang cemas, apalagi bila perubahan itu tidak mengarah pada sesuatu yang lebih baik. Kecelakaan, perceraian, kematian suami, kehilangan pekerjaan, kalah bersaing untuk promosi, semuanya memberikan tekanan sendiri-sendiri, dan diterima oleh orang yang berbeda secara unik. Pada umumnya, akan terjadi turbulensi pada kondisi kejiwaannya, namun cepat atau lambat orang akan menyesuaikan diri dengan cara yang beragam. Seberapa cepat penyesuaian diri tersebut, tergantung seberapa kuat usahanya untuk menerima kenyataan serta kesiapan menjalani kehidupan baru yang tidak sesempurna sebelumnya.

Kehidupan ini tidak lah sempurna, sehingga tidak perlu kita memaksakan diri mencari kesempurnaan di dalamnya. Kesempurnaan di dunia ini letaknya hanya ada di persepsi, sebab sesempurna apapun di mata kita pasti menyimpan celah dan cela yang mungkin tidak tampak oleh mata kita – yang juga tidak sempurna. Kita boleh punya angan-angan dan cita-cita, namun bersiaplah kembali ke alam realitas, khususnya bila menemui masalah dengan cita-cita itu.

Jadilah diri sendiri dengan konsep diri yang jelas.

Makna Piala Dunia Bagi Sebuah Bangsa

Posted in Kisah, Psikologi, Sharing with tags , on July 12, 2010 by hzulkarnain

Herdian Zulkarnain

Perhelatan Piala Dunia 2010 telah usai dengan juara baru SPANYOL. Inilah generasi emas Spanyol. Negara satu ini memang unik, karena dalam sejarah sepak bolanya yang panjang, dan dikenal luas sebagai salah satu negara bola terbaik di dunia, baru pertama kali ini bisa menembus final dan juara. Dengan 2 kesebelasan utama Spanyol yakni Barcelona dan Real Madrid sebagai tulang punggung kesebelasan nasional, sejak pertama kali digulirkan di era 1930-an semua talenta pemain-pemain muda Spanyol yang eksplosif seperti tidak bisa banyak bicara di kancah piala dunia … hingga tahun ini.

Spain - 2010 World Cup Champion

Bukan hanya sebuah sejarah, bahkan sekurangnya 3 sejarah diukir oleh Spanyol saat memenangkan piala dunia 2010 ini:

  1. Juara baru – kali pertama dalam sejarah mereka menjadi juara. Uniknya, kedua finalis (Spanyol dan Belanda) berebut menjadi juara baru untuk kali pertama. Eropa yang agak diremehkan di awal kompetisi, dan terkurung kekuatan Amerika Latin, justru akhirnya menghadirkan all Europe final.
  2. Negara Eropa pertama yang bisa menjadi juara di benua lain. Ini mengejar rekor Brasil yang dua kali menjadi juara di benua lain (1958 di Swedia dan 2002 di Jepang).
  3. Mengawinkan Piala Eropa dan Piala Dunia dalam satu periode, menyusul Jerman (yang saat itu Jerman Barat di tahun 1972 dan 1974) dan Prancis (1998 dan 2000).

Serta sebuah mitos dipatahkan, yakni juara piala dunia tidak pernah kalah di fase penyisihan group. Spanyol pernah kalah di fase group dari Swiss, tetapi mereka bangkit dan bermain lugas hingga ke final.

Carlos Puyol - semi final hero

Lebih besar daripada itu, Piala Dunia 2010 yang merupakan pertaruhan terbesar

pelatih Vincente Del Bosque telah mempersatukan jiwa Catalunia ke dalam Spanyol. Komposisi timnas Spanyol tahun ini didominasi punggawa El Barca kebanggaan masyarakat Catalunia yang selama ini selalu ingin memerdekakan diri dari Spanyol. Selama ini, masyarakat Spanyol selalu mengkambing hitamkan orang-orang Catalan dalam timnas bila Spanyol gagal. Menurut mereka, orang-orang Catalan tidak pernah serius dalam membela timnas, sehingga selalu gagal. Padahal kurang apik apa Spanyol selama ini?

Dua pertandingan terakhir Spanyol di ajang piala dunia yakni semi final dan final

Andres Iniesta - final hero

menempatkan orang Catalunia sebagai pahlawan. Dalam semi final, bek timnas Spanyol yang juga punggawa Barcelona Carlos Puyol menceploskan gol penentu ke gawang Jerman, 10 menit sebelum bubaran. Dalam final, lagi-lagi punggawa El Barca – kali ini Andres Iniesta – yang mencetak gol penentu ke gawan Belanda. Dua punggawa Catalunia, dua gol penentu, sebuah sejarah baru negara berbudaya sepak bola.

Kendati pun Jerman tidak masuk final, bangsa yang juga disegani dalam persepak bolaan itu menganugerahkan bintang jasa pada pelatih Timnas Joachim Lowe karena telah meletakkan fondasi bagi masa depan persepak bolaan Jerman. Bukan hanya sang pelatih, seluruh anggota timnas juga dianugerahi medali kebangsaan karena telah menjadi duta olah raga bagi bangsa Jerman. Memang, Jerman kalah di perempat final dari sang juara, namun siapapun akan membicarakan tim muda bangsa ini dengan kekaguman.

Bagaimana tidak? Dengan berbekal pemain-pemain di awal dan pertengah usia 20-an (kecuali 2 pilar inti dan 3 cadangan), serta rata-rata hanya bermain di Bundes Liga, pasukan Joachim Lowe ini menggulung tim favorit Inggris 4 – 1 dan Argentina 4 – 0. Gaya permainan mereka yang bisa bertahan dengan ketat namun menyerang balik dengan cepat membuat lawan mereka harus menemukan formula penangkal dengan cermat.

Jerman sudah berbenah sejak Piala Dunia 2006 (saat itu dilatih Jurgen Klinsmann, dan selesai di peringkat ke-3 juga), dengan menemukan dan memanfaatkan talenta-talenta muda yang berbakat, baik asli bangsa Jerman maupun hasil asimilasi. Podolski, Klose, Cacau, Ozil, Boateng dan Khedira adalah sedikit contoh dari pemain Jerman yang lahir dari orang tua imigran atau merupakan hasil naturalisasi. Prancis sudah lebih dulu menerapkan hal ini dan mereka telah menikmati hasilnya dengan memenangkan Piala Dunia 98 serta Euro 2000. Sejak dulu, Prancis memang terbiasa dengan asimilasi dan naturalisasi karena terletak di persimpangan Eropa Barat, Semenanjung Iberia, Mediterania, dan Afrika Utara. Terakhir Prancis masih bisa menjadi runner up di Piala Dunia 2006 – di penghujung karier generasi emasnya – sebelum terjebak dalam kekacauan di bawah pelatih Raymond Domenech sejak Euro 2008.

Khedira (Tunisia) - Ozil (Turki) - Boateng (Ghana)

Negara-negara besar seperti Inggris dan Italia pasti juga punya, namun sejauh ini hampir tidak ada pemain yang bukan asli Inggris atau Italia dimainkan oleh kedua negara tersebut. Selain Spanyol, kedua negara ini memiliki kompetisi liga nasional yang sangat disegani, karena hampir selalu menelurkan tim juara Champions League. Berbeda dengan Spanyol yang kuat dalam pengkaderan pemain muda melalui tim junior Barcelona maupun Real Madrid, regenerasi di Inggris dan Italia terbilang sangat lamban. Masih untung Italia bisa merengkuh juara dunia untuk ke-4 kalinya tahun 2006, tapi tahun ini Italia gagal total. Sementara itu, Inggris yang dihuni banyak pemain tua masih tetap berharap football coming home… karena mereka meyakini sepak bola diciptakan di Inggris dan sudah seharusnya pulang ke Inggris dalam bentuk trofi Piala Dunia. Masalahnya, bagaimana mereka bisa jadi juara kalau tidak punya pemain pelapis yang handal?

Ada perbedaan mendasar antara kompetisi liga utama di Spanyol, Italia, Inggris, dan Jerman. Di Spanyol, memang banyak pemain asing bahkan pemain-pemain termahal di dunia, namun di tiap kesebelasan selalu ada pemain muda Spanyol yang bersinar dan diperhitungkan. Di Jerman, hanya Bayern Munchen yang berani mengontrak pemain mahal, selebihnya adalah pemain Jerman atau pemain asing yang “masih” belum diperhitungkan – dan sekarang mencorong di ajang piala dunia. Di Inggris dan Italia, tidak ada aturan jelas tentang penggunaan pemain asing, sehingga Arsenal (Inggris) dan Inter Milan (Italia) bisa memasang hampir semua pemain asing di tiap pertandingan. Aura pemain asing ini menutup potensi pemain lokal.

Semua negara yang menginginkan sepak bola mengangkat derajat bangsa mereka telah berbenah, atau akan ketinggalan semakin jauh. Asia sudah menggeliat dan diperhitungkan. Bagaimana dengan Indonesia?

Tampaknya, hingga sekarang PSSI belum punya konsep yang jelas.

Berjuang tanpa Minder

Posted in Kisah, Psikologi with tags , , on June 30, 2010 by hzulkarnain

Catatan Piala Dunia 2010

Jepang dan Asia kalah di 16 besar, dan Asia lagi-lagi tanpa wakil di lanjutan putaran final Piala Dunia. Perempat final akan diisi mayoritas wajah lama dalam persepak bolaan dunia: Brasil, Jerman, Argentina, Belanda, Spanyol, Uruguay, dan 2 muka baru: Paraguay dan Ghana. TAPI … Jepang boleh pulang dengan kepala tegak.

Permainan Jepang di babak 16 besar sungguh setaraf dengan Paraguay, seimbang, dan tidak kenal menyerah. Lini per lini Paraguay unggul, tetapi semangat Jepang membuat permainan Paraguay tidak berkembang. Sekalipun rata-rata ukuran fisik kalah, pemain Jepang berani berjibaku untuk memenangkan bola. Sehingga, permainan harus diakhiri dengan tendangan penalti. Kekalahan melalui penalti memang menyakitkan, namun itulah cara untuk pulang dengan kepala tegak. Kalah beruntung, kalah tenang, dan esok masih terbuka lebar.

Taeguk warriors Korea Selatan juga harus pulang, tetapi Park Ji Sung dan kawan-kawan mendapatkan pelajaran berharga. Di fase group, Korsel sempat bertekuk lutut di tangan Argentina dengan telak, tidak sekedar selisih 1 atau 2 gol. Memang kalah! Penguasaan bola buruk, tidak punya rasa percaya diri, sehingga selalu kalah dalam perebutan bola. Berapa keras pun mereka berusaha, mereka seperti membentur dinding, karena Argentina sedemikian percaya diri dan menguasai permainan.

Beberapa hari kemudian, giliran Jepang yang bertemu dengan Belanda, dan kondisinya sangat berbeda. Jepang bermain taktis dan penuh percaya diri, tidak menganggap team Belanda yang bertabur bintang-bintang Piala Champions Eropa sebagai raksasa yang perlu ditakuti. Saya jadi ingat salah satu filosofi Karate bahwa, pertahanan yang baik adalah serangan yang kuat. Belanda adalah negara dengan kultur sepak bola yang kental, dan telah menelurkan banyak sekali ksatria lapangan hijau yang baik. Dan, memang itulah yang akhirnya menjadi pembeda. Belanda menang 1 – 0 saja karena tendangan keras gelandang serangnya Wesley Sneijder.

Semangat Jepang inilah yang saya kira menginspirasi Korsel, sehingga mereka main luar biasa di pertandingan-pertandingan selanjutnya. Dengan semangat itu, pada akhirnya tidak mudah membuat prediksi akhir pertandingan, karena ternyata team-team yang tidak diunggulkan bisa menjungkalkan raksasa sepak bola. Itu terbukti dengan gagalnya Itali dan Prancis – di luar kenyataan bahwa mereka punya masalah internal dalam team nasional.

Kalah menang memang hal biasa dalam permainan sepakbola, tetapi bermain dengan trengginas dan percaya diri akan memberikan semangat bagi yang menonton juga. Semangat Jepang tidak hanya menginspirasi team besutan pelatih lokal itu, bahkan menambah rasa percaya diri team underdog lainnya.

Setelah semua team asal benua hitam tersingkir, tinggal Ghana yang bertahan dan mendampingi Jerman lolos ke babak 16 besar. Melawan team yang sama-sama belum lama muncul di piala dunia – Amerika Serikat, Ghana bermain dengan sangat baik, sehingga masuk ke babak 8 besar.

Selandia Baru adalah anak bawang dalam kancah Piala Dunia, dan tahun ini tidak lolos fase group. Akan tetapi, rakyat Selandia Baru akan menyambut kesebelasan kebanggaan negeri Kiwi itu bak pahlawan karena mereka berada di atas Italia dengan nilai 3, dari 3 kali pertandingan tanpa pernah kalah. Sementara Italia kalah di pertandingan terakhir.

Negara-negara besar di dunia sepakbola secara bergantian selalu mengulangi prestasi di turnamen terbesar ini, sementara team-team debutan akan menjadi kuda hitam bila lolos ke babak knock-out, seperti Ghana, Jepang, dan Korsel. Mereka menjadi kuda hitam karena tidak berasal dari negara dengan kultur sepakbola yang mengakar.

Bagaimana dengan sepakbola Indonesia?

Bahkan di Asia Tenggara, Indonesia sudah kewalahan. Belakangan ini PSSI tidak lagi punya taring di Asia Tenggara, karena dengan Vietnam pun sudah hampir pasti kalah. Apalagi dengan Thailand. Lalu, mau di bawa kemana persepak bolaan Indonesia? Menjadi penonton abadi event internasional? (karena tidak pernah lolos penyisihan wilayah). Bahkan lebih sadis lagi, sebagian pengamat sepakbola menyebut sepakbola kita sedang berada di titik nadir prestasi.

Kompetisi sepakbola di Indonesia berjalan, bahkan dengan bangga merekrut pemain asing (yang tidak jelas juga prestasi di negaranya sendiri). Akan tetapi, hal itu tidak menjadi jaminan prestasi PSSI ke depan, karena yang menonjol dari ajang kompetisi itu adalah perkelahiannya. Baik perkelahian antar supporter maupun antar pemain. Wasit yang tidak tegas, pendisiplinan yang terasa janggal, dan banyak kontroversi lainnya.

Pengurus PSSI seperti sibuk dengan dirinya sendiri. Kursi pejabat teras PSSI tampak sangat nyaman, sehingga ada yang duduk di jabatan penting selama bertahun-tahun (dan tidak pernah bosan). Kalau bukan lantaran duit besar, rasanya tidak mungkin ada yang bercokol selama itu. Bahkan dengan kegagalan demi kegagalan yang terus menerus menimpa, masih tersisa sesumbar: Kalau PSSI tidak jadi juara SEA Games tahun depan, dia akan mundur.

Well … kita tunggu saja komitmen beliau.

Sementara itu, mungkin … kita perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah memang sulit menemukan 11 orang terbaik dalam sepak bola di antara 200 juta lebih penduduk negeri ini? Yang siap berlaga di Olimpiade atau Piala Dunia? Di antara negara berpenduduk terbesar di dunia, India dan Indonesia yang belum pernah masuk putaran final. Mengapa ya?

Kita sudah pernah punya program khusus pembibitan seperti Primavera dan Baretti, yakni dengan mengirimkan bibit-bibit muda pilihan ke negara sepak bola. Dari sana kita kenal nama-nama Kurniawan Dwi Yulianto dan kiper Kurnia Sandy. Terakhir sekali ke Uruguay. Semua proyek tersebut tidak berakhir dengan manis.

Proyek terakhir yang akan digulirkan mulai Juli nanti adalah IFA (Indonesia Football Academy) yang bermarkas di Sawangan, dengan cara melatih bibit-bibit muda di usia 14 – 16 tahun secara intensif selama 3 tahun. Pelatihnya pun tidak main-main, yakni seorang pelatih dari Manchester United Academy. 25 anak disaring dan dilatih selama 3 tahun, dengan pembiayaan negara, meliputi sekolah, biaya hidup, dan transportasi. Proyek yang ambisius namun positif … menurut saya.

Kata Ketum PSSI, orang Indonesia fisik orang Indonesia secara umum kurang ideal untuk persepak bolaan internasional. Itulah sebabnya, rintisan pertama akademi sepakbola tersebut akan berintikan anak-anak remaja bertinggi minimal 170 cam, dan selama bersekolah di akademi akan memperoleh gizi terbaik. Saya membayangkan, anak-anak Indonesia akan setinggi bintang Eropa. Rooney yang kelihatan pendek saja tingginya sekitar 185 cm. Rio Ferdinand sekitar 195 cm. Jadi … berapa tinggi Van Der Sar ya? Bila pasukan merah putih rata-rata setinggi 185 saja, mantap sekali.

Sebuah langkah yang baik, dan mudah-mudahan tidak sia-sia. Mari kita optimis!

Di sisi lain, bintang sepak bola tidak selalu tinggi, khususnya dari Amerika Latin: Pele, Maradona, Robinho … adalah contohnya. Dua diktator dunia yang terkenal juga pendek: Napoleon Bonaparte dan Adolf Hitler. Mungkin bukan hanya fisik yang dgembleng, mentalitas juga perlu diasah, karena minder bukan soal fisik tapi mental.

DENSUS 88 – Detasemen Yin-Yang

Posted in Kisah, Psikologi, Sharing with tags , , , , , on June 10, 2010 by hzulkarnain

Majalah TIME edisi 7 Juni 2010 menurunkan feature lengkap tentang kesatuan anti teror milik Indonesia ini. Kalau sekedar menjadi berita, mungkin tidak mengherankan karena prestasi kesatuan ini terbilang spektakuler, karena berhasil mengikis perkembangan terorisme di Indonesia.

Akar penting kelahiran Densus adalah reformasi yang bergulir di tahun 1998, yang menggulingkan rezim Suharto dan menjadikan Indonesia negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Parlemen yang khawatir pada kekuatan militer yang bisa dipergunakan oleh eksekutif untuk melindungi kepentingannya, memutuskan untuk menugasi kepolisian sebagai unit anti teror nasional. Undang-undang subversi sudah dihapuskan, karena dianggap menyokong potensi kediktatoran, sehingga pemerintah tidak bisa menerapkan undang-undang seperti ISA (internal security act) di Malaysia, dan harus membawa tersangka terorisme melalui jalur pengadilan biasa. Di dalam sistem ini, orang tidak bisa sembarangan ditangkap tanpa tuduhan.

Kelahiran Detasemen 88 lahir setahun setelah kasus bom bali. Kengerian dan keganasan kejadian itu menyadarkan semua elemen bangsa bahwa ekstrimisme telah lahir dan berkembang di Indonesia. Kelahiran kesauan ini tidak lepas pula dari kepentingan pemerintah Amerika dan Australia, dan keduanya memberikan sokongan. Bahkan majalah Time berani menyebutkan Densus 88 sebagai American-trained police unit.

Indonesia memiliki keunikan geografi dan demografi, berpenduduk ke-4 terbesar di dunia, negara kepulauan dengan lebih dari 13,000 pulau yang menyebar sepanjang lebih dari 5,000 km garis bujur, mayoritas muslim tetapi bukan negara Islam, dan hukum yang diberlakukan adalah hukum sekuler. Bisa dibayangkan sulitnya pengawasan terhadap pergerakan potensi terorisme di sini, sehingga Polri harus menemukan format penanganan terorisme yang tepat melalui Densus 88 ini. Rupanya, Polri berhasil menemukan format yang paling tepat. Sekarang, Densus 88 telah menjelma menjadi salah satu kesatuan polisi anti teror terbaik di dunia, dan itu diakui oleh seorang mantan pelatihnya:”I’ve trained guys all over the world, and this unit is one of the best I’ve ever seen.” KITA PANTAS BANGGA!

Dari liputan TIME: Latihan Kadet Densus 88 di Semarang

Apa kunci kesuksesan Densus 88 tersebut?

Densus 88 bukan sekedar mesin penembak. Di tengah-tengah kaum muslim yang menjadi mayoritas di Indonesiacracking down on terrorism isn’t just about cracking heads (kiasan: memecahkan masalah terorisme bukan sekedar memecahkan kepala teroris). Mungkin yang sering kita lihat dan dengar melalui media televisi adalah Densus 88 yang sedang unjuk kekuatan saat menyerbu sarang ekstrimis dan teroris, tetapi itu pada kenyataannya hanyalah bagian kecil dari banyak tugas Densus. Kalau Densus 88 hanya difungsikan sebagai mesin tembak, bisa dibayangkan kerepotannya mengatasi bibit-bibit baru terorisme di Indonesia, karena luasnya wilayah cakupan dan teramat sedikitnya personil Densus.

Kebanyakan dari kita tidak tahu, bahwa tugas lain dari Densus 88 adalah program de-radikalisasi. Di antara personil Densus, ada yang bertugas menjadi konselor atau penasihat spiritual, dengan pekerjaan meyakinkan para militan kesesatan cara berpikir mereka. Program ini berhasil, sehingga beberapa orang tersangka teroris sekarang bekerja sama dengan polisi dalam program-program yang menjangkau masyarakat di pelosok.

Prof. Sarlito Wirawan Sarwono yang menjadi instruktur personil Densus dalam hal taktik interogasi berkata kepada TIME: “Anda ingin tahu kenapa Indonesia mencapai keberhasilan dalam memerangi terorisme? Karena kami tidak punya penjara Guantanamo. Polisi kami memahami aspek kejiwaan teroris. Negara lain dapat belajar dari apa yang telah kami perbuat.”

Sidney Jones, pakar dari International Crisis Group yang mendalami teror di Indonesia mengatakan:”Kebijakan Densus 88 adalah menganggap tersangka teroris sebagai orang baik yang sedang tersesat. Ketika sepenuhnya berada dalam tahanan kepolisian, mereka diperlakukan dengan sangat baik untuk mendapatkan informasi tentang jaringan teror.” Pemerintah memang mengambil kebijakan yang sangat kontroversial untuk menekan meningkatnya pergerakan politis Islam militan, yaitu: tidak menganggap teroris sebagai kriminal kambuhan, melainkan orang yang sedang kebingungan dalam menetapkan ideologinya.

Selama sesi interogasi, personil Densus yang mayoritas muslim mengijinkan tahanan untuk sholat, bahkan seringkali berjamaah dengan mereka. Personil Densus juga selalu menegur sapa para tahanan dalam bahasa Arab bukan bahasa Indonesia. Bukan itu saja, para alim ulama didatangkan oleh Densus untuk berdiskusi tentang ajaran Al-Qur’an dengan para tahanan. Prof. Muchlis Hanafi, seorang pakar lulusan Al-Azhar Kairo mengatakan:”Banyak dari para teroris ini telah diajari kutipan ayat Qur’an yang berfokus pada jihad, tanpa memahami konteks surat-surat tersebut.

Jerih payah dan kesabaran Densus 88 dalam menangani tersangka dengan cara khusus sudah membuah hasil sekarang ini. Dari 400 lebih tersangka teroris, Polri memperkirakan sekitar setengahnya bekerja sama dengan pihak berwenang atau menjauhi kekerasan. Kompensasi untuk kerjasama atau menjauhi kekerasan itu terkadang sederhana (saat mereka berada dalam penjara): Ada yang menginginkan negara membiayai sekolah anaknya, pekerjaan bagi istri mereka, atau bahkan pernikahan di penjara yang dibiayai pemerintah.

Pekerjaan Densus memang tidak selalu berhasil, misalnya dua orang militan yang terkait dengan bom Ritz-Carlton – JW Marriot ternyata pernah mengikuti program deradikalisasi Densus 88. Pendiri dan aktivis Institute of International Peace Building Noor Huda Ismail berkata:” Kita harus memberikan pengharagaan kepada Densus 88 untuk sukses mereka menangkal jaringan teror Indonesia. Tapi satu unit tidak akan bisa melakukan semuanya, meskipun mereka mencoba melakukan segalanya: mencegah menangkal teroris, menangkap teroris, deradikalisasi teroris.”

Perjalanan memang belum selesai, tapi setidaknya kita tahu Indonesia telah memiliki andalan dalam penumpasan terorisme: Densus 88. Kesatuan yin – yang, yang bisa sekeras palu saat menghantam, tetapi selunak air saat melumpuhkan.