Archive for October, 2008

Ketika ABG Mulai Mengenal Sex

Posted in Psikologi, Sharing with tags , on October 22, 2008 by hzulkarnain

 

 

Mendorong aktivitas fisik yang terarah

Mendorong aktivitas fisik yang terarah

Kemarin, seorang teman lama mengirimkan SMS untuk curhat tentang perilaku anak ke-2 nya yang sekarang sedang duduk di kelas 6 SD, berumur sekitar 12 tahunan. Suatu hari, teman saya itu memergoki anaknya sedang menggesek-gesekkan kemaluannya ke guling. Spontan ia berteriak memarahi anaknya itu. Setelahnya, teman itu merasa bersalah, sekaligus bingung tidak tahu harus melakukan apa pada anaknya itu. Ia merasa helpless karena sama sekali tidak paham dengan kondisi itu. Pertanyaannya sederhana, kapan sih biasanya anak laki-laki itu mimpi basah dan bagaimana menyikapi perilaku yang mengarah ke arah aktivitas seksual itu?

Sebagai orang tua, apapun latar belakang pendidikan kita, haruslah kita pahami bahwa cepat atau lambat anak kita akan tumbuh dewasa. Mereka tidak selamanya menjadi figur lucu yang enak diajak bermain, dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan naif yang menggemaskan. Pada saatnya, mereka akan matang secara fisik, mental, termasuk seksual. Di saat itulah tugas kita sebagai orang tua akan berakhir. Tapi itu masih nanti.

Sekarang, teman saya itu menghadapi masalah dengan anaknya yang menunjukkan perkembangan hormonal di usianya yang 12 tahun. Ia bukan lagi anak-anak, tapi juga belum dewasa. Kita menyebutnya remaja. Bila sebelumnya kita selaku orang tua bertanggung jawab menanamkan kebiasaan positif pada anak, berusaha agar anak menjadi figur yang industrious (rajin, cekatan, serba bisa, pintar), di fase perkembangan ini orang tua punya beban membentuk karakter anak yang matang.

Menurut fase perkembangan Erik Erikson, fase remaja adalah saat kritis pencarian identitas. Mereka belum lagi dewasa, dan semua orang dewasa sepakat mereka belum dewasa, namun remaja mendefinisikan diri sebagai bukan anak-anak. Usia 11 – 12 tahun hingga 20-an adalah masa penentuan bagaimana mereka akan dianggap. Secara naluriah, manusia ingin dianggap lebih baik, dan hal itu berarti meninggalkan kesan anak-anak dan menjelmakan diri menjadi sosok yang lebih dewasa. Kematangan hormonal mereka turut memperkuat kecenderungan tersebut. Setelah mengalami menstruasi bagi anak perempuan dan mimpi basah bagi anak laki-laki, tubuh remaja akan mengalami perubahan saat munculnya tanda seks sekunder. Bagi anak perempuan  hal itu berarti tubuh yang terbentuk, payudara membesar, bagi anak laki-laki porsi tubuh yang lebih atletis, perubahan suara, dan bagi kedua jenis kelamin timbulnya bulu di ketiak dan kemaluan.

Mendidik anak yang berangkat remaja bisa diibaratkan seperti memegang seekor burung  di tangan. Bila terlalu longgar dia akan terbang, namun bila sebaliknya dia akan mati. Banyak sekali contoh nyata yang menunjukkan perilaku remaja yang menyimpang karena orang tua yang terlalu longgar dalam mengendalikan mereka, atau justru terlalu ketat. Kita harus ingat bahwa pada umumnya manusia tidak menyukai kekangan dan keterbatasan, sebab hal itu dianggap sebagai kondisi yang tidak mengenakkan dan harus dihindari. Oleh karena itu, justru kekangan yang terlalu kuat berpotensi besar menimbulkan ekses yang tidak dikehendaki, perilaku liar yang tersembunyi (karena di permukaan remaja takut pada orang tua) atau benar-benar kehilangan kemauan untuk membentuk karakternya sendiri. Kebebasan yang berlebihan identik dengan tidak adanya aturan, sehingga remaja akan berkembang sesuai dengan arah yang digariskan lingkungan – bukan yang ditetapkan orang tua.

Masa remaja adalah saat kelompok teman sebaya memegang peranan lebih besar daripada orang tua dan guru. Seperti kita ketahui, saat kanak-kanak kiblat aturan adalah orang tua. Saat memasuki dunia sekolah, aturan berkiblat pada guru. Pada masa remaja ini, aturan orang tua dan guru yang menjauhkan anak dari kelompok teman sebaya tidak akan mendapatkan tempat yang layak di kepala para remaja ini. Namun demikian, orang tua tetap berkewajiban untuk mengawasi dan memilihkan lingkungan teman sebaya yang paling cocok untuk anak-anak mereka.

Saya ingat, ketika masih berusia 13 – 14 tahun dan duduk di bangku SMP, ada dua orang teman seangkatan (salah seorang di antaranya sekelas) yang tidak mau bergaul dengan teman-teman yang lain. Kemanapun mereka selalu berdua. Salah seorang di antaranya adalah anak kepala desa di pinggiran kota tempat tinggal saya dan konon tergolong kaya. Akhirnya saya mengetahui bahwa salah seorang di antara kedua teman saya itu kedapatan mengidap gonorrhoea. Dari teman-teman yang mengetahui situasinya, ternyata mereka berdua beberapa kali menggunakan uang saku yang berlebihan untuk “bermain-main” di kompleks pelacuran. Itu terjadi ketika kami duduk di kelas 3 SMP sekitar di usia 15 tahun.

Ketika di perguruan tinggi, saya sempat berdiskusi dengan beberapa teman yang berasal dari sekolah lain. Dia berasal dari sebuah sekolah menengah Katholik terkemuka di Surabaya. Menurut teman saya itu, yang pada akhirnya sukses masuk PTN adalah mereka yang senang kumpul-kumpul, gak mikir pacaran, dan tidak tergolong kutu buku. Dengan banyak kumpul, mereka justru saling bertukar ilmu dan akhirnya hampir semua bisa masuk ke PTN. Lha, apa ada model lain? Ada, dan itu justru mereka yang kutu buku dan kesana kemari hanya dengan pacarnya saja (yang kebetulan sekelas). Kok bisa? Ya, karena kebiasaan belajar bareng hanya berdua akhirnya si cewek kedapatan hamil dan harus drop out sekolah! Haa???

Kondisi hormonal pada diri remaja yang bergejolak memang tidak bisa dihindarkan, namun harus dikendalikan. Dorongan pada lawan jenis, dorongan untuk beraktivitas seksual, dorongan mengeksplorasi tubuh hingga mengkonsumsi rokok, bahkan drugs, atau bertattoo, semuanya mencirikan bagaimana perkembangan jiwa remaja masih di tahap yag labil. Bila orang tua tidak bisa memfungsikan diri sebagai advisor atau figur yang sejuk bagi anak, sudah barang tentu anak mencari pelarian kepada figur lain. Tidak ada yang sederhana apalagi mudah saat menghadapi remaja, namun orang tua tetap berkewajiban menjadi figur pengayoman mereka. Sekalipun seorang remaja berusaha menetapkan dirinya sebagai orang yang dewasa, pada kenyataannya mereka tetap memiliki sebagian jiwa anak-anak. Suatu saat, dikehendaki maupun tidak, mereka butuh tempat untuk menumpahkan keluh kesah mereka, lari dari kelompok, dan kembali pada orang tua. Pada saat inilah orang tua harus siap menjadi pelabuhan yang nyaman.

Jadi, orang tua perlu waspada pada perkembangan anak remaja dalam 3 hal:

  1. kondisi hormonal mereka, yang memicu bangkitnya dorongan seksualitas.
  2. teman-teman sebaya yang mempengaruhi orientasi sosial dan pola pikir mereka.
  3. perubahan dan perkembangan kepribadian yang mengarah pada pembentukan identitas diri.

 

Untuk itu, orang tua agaknya perlu memikirkan upaya agar ketiga hal ini tumbuh berkembang normal dan membentuk karakter yang mapan. Ketiganya tidak bisa dihambat, karena semuanya merupakan fungsi alamiah. Yang penting dipantau agar tidak berlebihan atau terlalu sedikit, sebab seperti hukum alam lainnya apa yang terlalu (baik banyak maupun sedikit) bukan hal yang positif.

Yang harus diingat oleh orang tua adalah bahwa seorang anak, bagaimanapun, menjadikan orang tua sebagai figur panutan. Bila menghendaki anak yang berkepribadian matang, orang tua harus memberikan contoh yang benar. Jangan sampai anak menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga, lahir maupun batin. Anak perlu lebih banyak menanamkan nilai agama dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Bila memungkinkan, dorong anak untuk lebih aktif secara fisik. Dengan menghabiskan energi mereka untuk sport maupun aktivitas fisik lain (organisasi, pramuka, drumband, hobby outdoor, dsb), fokus mereka tidak lagi terfokus pada perubahan hormonal mereka. Waktu untuk berfantasi lebih sedikit karena mereka sudah capek dengan aktivitas tadi.

Buka saluran komunikasi yang positif, dan jangan ragu untuk sesekali masuk ke kamar anak (meskipun sekedar nimbrung). Jangan biarkan anak mengunci pintu kamar terlalu lama, namun biarkan dia punya rahasia pribadi dalam agenda atau diary-nya. Jangan ungkit-ungkit diary tersebut sekalipun kita sudah membacanya, namun bila kita temukan sesuatu yang berbahaya segera counter dengan cara yang bijak.

Kita perlu mengingat bagaimana emosi kita saat kita masih remaja. Mereka adalah cerminan kita di masa lalu, dan orang tua kita adalah kita sekarang. Be wise, be careful!

Skeptis

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags on October 20, 2008 by hzulkarnain

Paman saya yang hanya tamatan SMP, sekarang berjualan makanan di kaki lima, memberikan pandangannya tentang kehidupan pada suatu sore di ruang tamu. Agak sulit mengatakan ia berhasil, namun usahanya sudah berjalan puluhan tahun dan telah memberikan gelar sarjana pada kedua anaknya, sementara anak bungsunya sedang kuliah. Wajahnya lelah dan dengan kemejanya yang berwarna pudar ia tidak ubahnya seperti kebanyakan pedagang makanan. Yang membedakan hanya matanya yang santun dan senyumnya yang tulus. Kalimat yang diucapkan sederhana, tidak memberikan motivasi, dan tidak hendak menggurui. Ia hanya hendak mengingatkan bahwa hidup itu tidak mudah, sehingga tidak ada tempat bagi orang yang berpangku tangan apalagi yang berputus asa. Sekalipun segenap ucapannya membumi, mudah dipahami, ada dorongan untuk bertanya, apakah saran itu bisa untuk saya?

Ketika seorang Gede Prama atau Anand Khrisna bicara di televisi, betapa banyak orang yang mencoba meresapi, sementara yang dikisahkan atau disampaikan mungkin tak jauh beda dengan muatan ceramah agama yang sering disampaikan di layar kaca juga. Akan tetapi berapa banyak orang yang tertarik untuk mengikuti dan mendalami kuliah Subuh atau majelis pengajian? Skeptismenya, ceramah agama di televisi membosankan, berat, dan kuno.

Sudah jamak dalam kehidupan bahwa kulit seringkali dinilai lebih tinggi daripada isi. Kemasan menjadi penentu harga barang. Menjual barang sebenarnya hanyalah memutuskan sampul terbaik dari dua benda yang serupa. Sekalipun ada ujar-ujar yang mengatakan: jangan menilai sebuah buku hanya dari sampulnya, jelas bahwa sampul yang indah lebih menarik minat. Itu pula yang terjadi pada kemasan acara di televisi. Orang-orang yang sukses secara finansial berbicara dengan gaya bahasa yang meyakinkan, setelan jas mahal dan sepatu mengkilat, wajah bersih terawat khas metroseksual; semuanya ditonjolkan untuk menumbuhkan rasa percaya pada diri pemirsa.

Ketika para motivator tersebut menerbitkan buku pengalaman hidup mereka, mendadak muncul best-seller baru. Buku-buku Anthony Robbins, Robert Kiyosaki, hingga Tung Desem Waringin dipajang di bagian depan toko buku besar, setidaknya menempati rak khusus agar mudah dijangkau. Judul yang menarik (bahkan bombastis) dengan cetakan sampul mewah. Testimoni serangkaian nama di bagian belakang buku yang meyakinkan. Perputaran buku-buku itu menjadi sangat cepat, dan orang seperti latah ingin membeli karena kemasan promosi yang bagus.

Bandingkan dengan buku lain, sama-sama buku alih bahasa, tulisan pakar dari Timur Tengah, dengan judul seperti Kewirausahaan Nabi Muhammad, SAW. Cetakan standar, kemasan standar, sampul dengan kaligrafi di bagian depan, dan di tempatkan bersama buku-buku keagamaan yang lain – bukan buku ekonomi atau manajemen. Termasuk saya sendiri, sebagian besar orang masih mengernyitkan kening ketika membaca nama penulis yang berbau Arab, apalagi disebutkan bahwa sang penulis adalah lulusan sebuah universitas di Jordania – bukan Inggris atau Amerika (minimal Prancis). Seolah-olah kredibilitas buku tersebut langsung merosot.

Skeptisme menurut makna pada dasarnya adalah sikap keragu-raguan. Sikap dan pikiran ini tidaklah salah, karena berangkat dari sikap inilah dunia bisa berkembang. Sayangnya, pikiran manusia tidaklah sesederhana itu. Skeptisme sudah dan akan selalu menjadi bagian dari kehidupan kita, dikarenakan keterbatasan otak kita dalam memproses informasi yang masuk. Secara otomatis, berdasarkan preferensi yang sudah kita tanamkan sebelumnya, otak akan memilah informasi yang perlu segera diproses, diproses pada prioritas berikutnya, hingga tidak merasa perlu untuk segera diproses. Sesuatu yang secara sadar kita pentingkan, misalnya karena tuntutan di tempat kerja, akan diproses terlebih dahulu. Selanjutnya, bagian informasi yang tanpa sadar kita pentingkan, terus begitu hingga bagian yang tidak terlalu penting.

Titik nol sikap skeptis adalah keragu-raguan bahkan ketidak percayaan, dan untuk berubah menjadi percaya perlu upaya. Masalahnya tidak semua orang mampu bersikap open-minded, yang memungkinkan masuknya gagasan baru. Skeptisme seperti memblokir pikiran dari gagasan yang lebih segar, dengan cara mengotakkan kapasitas otak berdasarkan suka-tidak suka. Bahkan kadangkala kredibilitas seorang pakar ditentukan pula skeptis tidaknya kita pada mereka.

Skeptisme bersifat lebih negatif ketika bercampur dengan prejudice (prasangka negatif). Di titik ini, objektivitas berpikir manusia surut dan lebih mengedepankan emosi. Ketika skeptis, seorang yang prejudice biasa langsung membuat kesimpulan, alih-alih memproses informasi dengan lebih cermat. Saat menghadapi soal-soal matematika saya langsung skeptis: soal ini sulit, saya tidak akan sanggup menyelesaikannya. Selanjutnya, otak seperti diperintahkan untuk membeku dan sulit berpikir. Saat menghadapi Paman yang lulusan SMP, dan kita skeptis dengan kata-katanya, niscaya tidak akan ada sepenggal ucapan pun yang yang akan kita percayai. Dalam prejudice kita, bagaimana mungkin seorang lulusan lebih tahu daripada seorang sarjana, apalagi S-2.

Islam memerintahkan kita untuk melihat isi atau kandungan ucapan, bukan siapa yang mengatakannya. Sekalipun dari seorang pengemis dan fakir miskin, kebenaran tetap kebenaran. Sebuah buku tidak akan berubah isinya sekalipun sampulnya terobek bahkan hilang. Masalahnya adalah seberapa siap kita menanggalkan sikap skeptis dan membuka diri pada wacana dan pemikiran baru. Cara terbaik memulainya adalah dengan mengurangi kecenderung berprasangka – khususnya prasangka buruk. Prasangka buruk tidak akan memberikan keuntungan apapun selain skeptisme di ujungnya.

Catatan Lebaran 1429 H: Mudik dan Maut

Posted in Sharing with tags , on October 14, 2008 by hzulkarnain

 

 

courtesy kabarindonesia.com

courtesy kabarindonesia.com

 

 

Taqabalallahu mina wa minkum, taqabbal yaa karim

 

Hari ini, lebih dari 10 hari setelah masuknya 1 syawal, euforia mudik berangsur menghilang dan denyut kehidupan menjadi normal kembali … bagi sebagian orang! “Kloter” terakhir massa yang kembali ke kota besar seperti Jakarta dan Surabaya tampak pada hari Sabtu dan Minggu kemarin, menuntaskan libur panjang lebaran dan menyongsong hari baru Senin ini.

Di seluruh dunia, tidak ada pergerakan manusia sebesar dan seheboh mudik lebaran di Indonesia. Jutaan manusia bergerak dalam jarak ratusan kilometer, mayoritas dengan sarana transportasi darat. Kota-kota besar ditinggalkan menuju berbagai kota kecil di Jawa Timur dan Jawa Tengah (termasuk Yogyakarta). Yang berduit, tiket pesawat yang cukup menggila tidak jadi masalah demi mudik sekali setahun. Alternatifnya kereta api dan bus antar kota. Kapal penyeberangan antar pulau dari Sumatera, dan Kalimantan menuju pelabuhan di Jawa sesak. Dermaga ferry di Bakauheni Lampung, Kamal Madura, dan Gilimanuk Bali penuh dengan antrean mereka yang mau menyeberang ke Jawa. Pendek kata, inilah fenomena yang langka dan ganjil di dunia. Setiap tahun pemerintah menyiapkan cadangan kereta penumpang jarak sedang dan jauh, khusus kelas ekonomi, maskapai penerbangan menyiapkan cadangan pesawat di jalur-jalur gemuk, bus-bus antar kota dan propinsi menambah armadanya, hingga penyiapan kapal angkutan macam ro-ro untuk mengantisipasi ledakan pemudik.

Mudik bukan sekedar pulang kampung, bahkan telah meronai segenap sendi kehidupan dan perekonomian masyarakat di Jawa khususnya. Hari kerja menjadi sedemikian lentur, seolah ikut memaafkan kekhilafan pekerja yang cenderung lalai masuk kerja seusai lebaran. Bisnis umumnya turut menunggu massa yang libur, kecuali bisnis musiman menjelang lebaran. Cuti yang ditahan-tahan mendadak diberondongkan di musim ini. Bahkan kaum non-muslim banyak sekali ditemui di kota-kota tujuan wisata memenuhi hotel-hotel dan penginapan karena pembatu mereka mudik. Secara umum, bisalah kita membayangkan bagaimana dampak mudik ini.

Fenomena mudik mengalami beberapa perubahan sejak tiga – empat tahun terakhir, tampaknya sejak meroketnya harga BBM dan sepeda motor mengambil alih dominasi transportasi karena jenis alat transportasi ini memang diasosiasikan dengan hemat BBM. Pemudik kemudian memanfaatkan kendaraan beroda dua itu untuk mengangkut mereka dan keluarga kecil mereka pulang kampung. Berita yang dilansir Kompas beberapa minggu lalu menyebutkan bahwa angka pesimis pemudik bermotor tahun ini berkisar 2,4 juta motor, sementara perkiraan lain malah dikisaran 2,8 juta. Kalau sebuah sepeda motor dinaiki 3 orang saja, berarti angka tadi harus dikalikan 3 juga.

Mudik dengan motor sebenarnya bukan baru sekarang, bahkan sejak dulu mudik bermotor sudah terjadi sejak dulu, khususnya bila kota tujuan mudik tidak terlalu jauh. Memang tidak jauh ini bisa diinterpretasikan secara beragam, namun umumnya jarak hingga 200 kilometer masih dianggap bisa ditempuh dengan motor. Kalau belakangan menjadi bahan sorotan karena jumlahnya yang berlimpah, jutaan, dan bergerak bersama-sama, sehingga memenuhi jalanan antar kota.

Konsekuensi utama pergerakan massa yang bersamaan adalah gesekan, dan di jalan raya mengakibatkan kecelakaan lalu-lintas. Bisa dibayangkan bagaimana akibatnya sebuah sepeda motor yang seharusnya maksimum dibebani dua orang harus dijejali dengan dua orang dewasa dan dua orang anak yang diselipkan, serta tas besar yang ditempatkan sedemikian rupa, harus mempertahankan keseimbangan di jalan yang bergelombang, atau bersentuhan dengan kendaraan lain. Jalan raya menjadi sumber terror baru yang lebih dahsyat daripada kecelakaan moda angkutan lainnya.

Dalam sebuah iklan layanan masyarakat disebutkan bahwa, korban kecelakaan lalu lintas lebih tinggi daripada korban perang. Mungkin korban perang atau terorisme tampak mengerikan karena berjumlah cukup besar dalam sekali waktu, sementara korban kecelakaan lalu-lintas terjadi berkala, dengan korban yang hanya beberapa orang dalam satu kejadian.Bila ditotal, barulah tampak berapa banyak korban kecelakaan jalan raya khususnya di jalur pantura Jawa. Sebuah laporan menyebutkan bahwa korban jiwa dalam kecelakaan lalu lintas dalam kurun waktu satu bulan terakhir mencapai 1:10. Artinya, dalam 10 kejadian terdapat 1 korban jiwa. Angka yang fantastis! Dalam kepadatannya, Jepang mencatat angka 1: 100.

Bayangkan para korban kecelakaan lalu-lintas yang seharusnya bergembira di kampung halaman, ternyata sampai di tujuan dalam peti-peti jenazah. Idul Fitri yang sebenarnya saat melepas kangen dengan sanak kerabat, berubah menjadi pelepasan jenazah sanak kerabat ke peristirahatan terakhir. Betapa pilu perasaan kerabat yang harus memastikan identitas jenazah di rumah sakit. Semua jerih payah yang dikumpulkan setahun terakhir, semua rencana masa depan yang ingin dibangun dengan istri, suami, anak, mendadak lenyap akibat teror di jalanan.

Bagi sebagian orang, lebaran telah berakhir dan denyut kehidupan kembali normal seperti biasa. Bagi sebagian yang lain, hari-hari ke depan tidak pernah lagi sama seperti sebelumnya. Kehilangan figur suami, istri, atau anak membuat mereka harus membangun hidup yang berbeda.

Memang Allah saja yang memegang rahasia rejeki, jodoh, dan maut, namun Islam menegaskan agar manusia jangan berbuat yang menyebabkan mati. Allah tidak akan ridha perbuatan manusia yang sia-sia, apalagi menempatkan kehidupan mereka dalam resiko tinggi, kecuali untuk jalan jihad fisabilillah.

Tidak ada yang lebih indah daripada pertemuan dengan keluarga dan melepaskan kerinduan. Sungguh indah bila pertemuan itu tidak diwarnai isak tangis pilu karena tubuh kaku jenazah keluarga yang seyogyanya pulang kampung. Mungkin, ada baiknya kita mulai memikirkan cara pulang kampung yang lebih aman, dengan tidak meninggalkan keikhlasan makna idul fitri.

Bukankah sebenarnya lebih penting kita memaknai idul fitri itu sendiri daripada menyibukkan diri dengan pulang kampung dengan cara yang bersiko tinggi?