Archive for February, 2009

Time to Move On

Posted in Kontemplasi with tags on February 27, 2009 by hzulkarnain

Catatan Akhir Februari 2009 – 

 

Akhir bulan ini mungkin merupakan kali terakhir saya bertemu dengan salah seorang teman baik, kolega kerja, yang sama-sama penggemar jazz.

Teman saya itu, seorang wanita, akan ikut suaminya pulang ke negerinya di Denmark sana. Setelah bekerja sekitar 5 tahunan, dia bertemu jodohnya, dan tak dinyana adalah seorang bule asal Skandinavia yang dingin. Bukan Cuma beda negara, sang bule juga punya agama dan kultur yang sangat jauh berbeda. Sebelum mereka menikah, laki-laki Danish itu menjadi mu’alaf, dan setelah pensiun dini (dia pegawai negeri di kota kecil di Denmark sana), dia tinggal dengan istrinya (teman saya itu) di negeri tropis ini. Sekarang mereka sudah punya seorang anak yang lucu yang berusia 7 bulanan, dengan penampilan dan wajah yang sangat Eropa.

Keputusan untuk berhenti bekerja tentunya bukan keputusan yang mudah, mungkin sama dengan keputusan suaminya yang berhenti menjadi pegawai kota praja di negerinya sana. Akan tetapi, yang jauh lebih berat adalah meninggalkan negeri ini dan berpindah ke sebuah negeri yang berbeda 180 derajat. Konon, negeri yang akan ditujunya sangat dingin (tentu saja karena letaknya berada di lingkar Utara bumi), dan danau membeku bila musim dingin seperti saat ini. Negeri yang mayoritas bukan Muslim itu adalah penggemar dua jenis makanan yang diharamkan dalam Islam: khamar dan babi. Sekalipun berada di Eropa, tidak semua orang di negeri itu bisa berbahasa Inggris, sementara teman saya hanya bisa berbahasa Inggris (selain bahasa ibunya dan bahasa Indonesia).

Membina sebuah rumah tangga dengan seorang asing bukanlah hal yang mudah, dan begitu banyak kompromi yang dilakukannya untuk menjaga keutuhan bahtera yang sudah lama diidamkannya dan sekarang sedang dilayarinya bersama sang suami. Sebagai seorang muslimah, ia ingin sang nakhoda adalah navigator ulung yang mampu menyelamatkan bahtera dari badai – dengan berpedoman pada kitabullah dan sunah rasulullah. Akan tetapi, bagaimana bila sang nakhoda masih belum mampu memahami navigasi ala muslim? Itulah seni berumah tangga yang saat ini dimainkan teman saya itu, dan menurut saya dia sangat lihai.

Itu pulalah yang membuat dia harus memutuskan untuk bergerak. Waktunya adalah sekarang. It’s time to move on.

Moving adalah hijrah, sebenarnya adalah salah satu pokok ajaran Rasulullah Saw. Banyak pelajaran yang dikandung oleh perintah ini, khususnya (sebagaimana disebutkan oleh DR Moh. Soleh dalam Terapi Salat Tahajud) untuk memelihara qaulan tsaqila – yaitu perkataan berat yang diturunkan oleh Allah. Dari tafisr Al Maraghi, perkataan berat ini maksudnya perintah yang berat untuk dilakukan oleh seorang mukallaf (seorang Muslim yang baliq dan berakal).

Kalau kita hijrah ke sebuah tempat yang penuh hikmah dan bisa mendorong keislaman kita lebih kuat, itu sangat masuk akal. Teman saya ini justru sebaliknya, dengan kemampuan agamanya yang tidak terlalu baik, dan suaminya yang masih belum kaffah dalam ber-Islam, dia harus memutuskan untuk berhijrah ke tempat yang berpotensi besar melemahkan akidah mereka. Apakah ini keputusan yang benar? Hanya Allah yang tahu kunci jawabannya.

Beberapa hari sebelumnya, seorang teman lain juga resign dari tempat kerjanya – yang menurut ukuran normal sudah lebih dari mencukupi. Di usianya yang muda ia telah mencapai posisi karier yang sangat bagus. Dalam email terakhirnya pada semua kolega kerja, dia memberi header: time to move on.

Manusia – pada hakikatnya – berkarier dalam hidupnya, bukan sekedar karier dalam bidang pekerjaan tetapi juga dalam upaya mencapai tujuan hidup sebagai manusia yang paripurna. Sebuah karier memiliki jenjang, dan seperti sebuah tangga, ada puncak yang bisa diraih. Tiap orang memiliki visi yang berbeda dalam karier kehidupan ini, tergantung bekal yang dulu dipersiapkannya semasa muda.

Kalau saya menganggap bahwa karier pekerjaan saya sudah hampir di puncak, itu sah. Tidak banyak lagi yang bisa saya lakukan untuk mencapainya, selain memberikan peluang pada waktu untuk memainkan kartu-kartunya. Kalau saya menganggap bahwa terlalu enak membiarkan waktu bermain sendiri, dan saya memutuskan untuk mencari jalur baru – agar bisa lebih kuat mencari positioning dalam akhir karier saya – itu juga sah.

Intinya, Allah memberi kita budi untuk menentukan akhir karier saya – baik di bidang pekerjaan maupun sebagai manusia. Kita diberikan keleluasaan untuk berhenti atau terus bergerak. Seseorang mengatakan, my ceilling is the sky … atapku adalah langit, artinya semuanya adalah peluang dan tidak ada kata akhir dalam berusaha. Orang lain berprinsip, my sky is the ceilling … bila menganggap kehidupannya sangat muram dan pesimis.

Hijrah adalah sebuah langkah untuk berubah, baik dalam pemikiran, tindakan, maupun lokasi. Hijrah merupakan tuntunan bagi kaum Muslim agar selalu menyegarkan pikiran, dan mencoba gagasan, lepas dari rasa putus asa maupun pesimisme.

Teman saya yang memutuskan untuk move on pada saat karier kerjanya sedang bagus tersebut memang memilih sebuah pekerjaan lain yang bergaji lebih besar, namun di lokasi yang jauh lebih menantang, dan di bidang yang disukai engineer. Hijrah yang dilakukannya sekarang, diyakininya, adalah sebuah langkah awal dari berbagai langkah lain yang (mungkin) kelak akan dijalaninya.

moving on will face difficulty

moving on will face difficulty

Time to move on, hajran jamila, hijrah yang indah … ke tempat yang memungkinkan kita untuk menjadi orang yang lebih baik. Lebih baik dalam pemikiran, sikap, dan perbuatan.

Tentu saja, hijrah tidak mudah dilakukan, karena hijrah adalah perubahan. Tidak semua orang suka perubahan, dan berani menghadapinya. Comfort zone yang sudah terbentuk menjadi oase semu, karena dianggapnya mampu memberikan kenyamanan yang langgeng – padahal tidak ada satupun kenyamanan yang langgeng di muka bumi.

Dengan berhijrah, kita menjadi terbiasa untuk menghadapi perubahan. Kita jadi berani menantang resiko, dan menyerapnya menjadi survival ability. Intinya, hijrah adalah kebaikan.

Advertisements

Sulitnya Menghadapi Remaja

Posted in Psikologi on February 24, 2009 by hzulkarnain

 

bentuk eksplorasi

bentuk eksplorasi

Berkembangnya pertelevisian, maraknya berita-berita nasional yang bersifat public interest, pada akhirnya menumbuhkan rasa cemas pada orang-orang tua yang memiliki anak usia remaja.

Berkali-kali ditayangkan pelajar selevel sekolah menengah yang digiring ke kantor polisi karena tawuran. Hanya karena urusan sepele, dua kelompok pelajar baku hantam dan saling lempar batu di jalan. Premanisme, pencurian motor, perjudian yang saat terungkap pelakunya ternyata adalah remaja. Gang remaja sekarang bukan hanya laki-laki, bahkan anak perempuan bisa lebih beringas pada sesama ABG perempuan, termonitor lewat kamera ponsel. Penyebaran pornografi melalui ponsel, saling pinjam DVD porno, kontak seksual sebagaimana layaknya orang dewasa, hingga prostitusi terbuka dan terselubung, juga memberikan warna yang menakutkan.

Awam sering bertanya: Apa yang salah dengan sistem pendidikan kita?

Mungkin pendidikan di negeri tercinta ini belum sempurna, dan masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan untuk membangun sebuah sistem yang lebih baik. Namun demikian, sebenarnya juga perlu dipertanyakan seberapa proporsional pemberitaan-pemberitaan tersebut.

Seperti kita pahami, fenomena yang terjadi di alam pada umumnya adalah distribusi normal. Artinya, kelompok pelajar yang berperilaku menyimpang berada di sisi lain dari kelompok pelajar yang penuh prestasi. Jumlah kedua ekstrim ini tidak banyak sebenarnya. Yang paling banyak justru pelajar yang “sedang-sedang” atau “biasa-biasa” saja. Kalau nakal, masih nakalnya remaja. Kalau pun berprestasi, masih dalam taraf prestasi yang normal. Saya berpendapat, pemberitaan di media televisi dan pemberitaan lainnya kurang proporsional. Bagaimanapun, karena mereka mencari “rating” (bagi televisi) dan oplah (bagi media cetak), sebuah kasus yang memiliki nilai berita akan jadi komoditi yang baik. Tidak lagi bicara soal statistik.

Tanpa hendak mengecilkan kontribusi jurnalisme tersebut, masyarakat perlu paham bahwa penyimpangan perilaku tidak selalu terjadi pada remaja, bahkan kasusnya tidak selalu ditemukan dalam tiap kelompok masyarakat. Yang lebih besar proporsinya pada dasarnya adalah remaja yang bermasalah, dan ketidak berhasilan orang tua untuk menarik anak-anak mereka dari kubangan masalah tersebut.

Sejak dulu, menghadapi remaja tidak pernah mudah. Pola pikir dan pola asuh orang tua kepada anaknya yang sudah terbentuk sejak lama harus berubah saat anak memasuki usia remaja. Dalam pengertian umum, masa remaja adalah tahap transisional  perkembangan fisik dan mental  manusia yang terjadi antara masa anak-anak dan dewasa. Transisi ini meliputi perubahan biologis (pubertas), sosial, dan psikologis, akan tetapi perubahan biologis dan fisiologis yang paling mudah diukur secara objektif. Bukan hanya orang tua yang mengalami kebingungan dalam menghadapi perubahan anak, anak itu sendiri pun mengalami kebingungan dengan perubahan yang terjadi pada dirinya sendiri.

Bila secara fisik pubertas ditandai dengan munculnya sex sekunder sehubungan  kematangan organ-organ seksual, secara psikologis muncul perubahaan mood yang dikenal sebagai mood swings. Tidak heran, emosi remaja sering berubah seketika dan tidak diduga-duga.

Kecenderungan untuk berinteraksi dan bergantung pada peer (teman sebaya) juga merupakan salah satu ciri perkembangan remaja, dan menggeser makna penting keluarga dengan peer group (kelompok sebaya). Tidak mengherankan bila kemudian kelompok mendominasi kehidupan remaja, dan semakin menjauhi orang tua bila sang orang tua tidak bijak menyikapi kondisi ini. Dari sini kita bisa pahami bahwa budaya berkelompok dan gang adalah ciri remaja, sehingga semakin keras orang tua menekan anak untuk berpisah dengan peer group yang cocok dengannya, semakin bingung anak menetapkan pilihannya.

Dalam kehidupan berkelompok, dikenal istilah peer pressure (tekanan kelompok), yang biasanya berkaitan dengan norma dan kaidah sosial tertentu yang dianut kelompok tersebut. Norma ini bisa bersifat negatif tetapi bisa juga positif. Norma yang negatif bisa menggiring remaja pada sikap permisif dalam kontak seksual, konsumsi alkohol dan narkotika, hingga perilaku kriminal. Sebaliknya, norma positif akan membawa remaja dalam lingkungan agamis, kecerdasan intelektual dan emosional, dan bentuk positif lainnya.

Bagaimana remaja menentukan peer group-nya bisa tergantung pada beberapa kondisi, tetapi jelas salah satunya adalah faktor keluarga. Lingkungan rumah (keluarga) membangun pondasi yang kuat dalam pikiran anak dan mencapai puncaknya saat dia memasuki masa remaja. Misalnya, anak yang “teraniaya” akan melampiaskan kemarahannya pada objek yang bisa dimanipulasinya (binatang kecil atau teman yang lebih kecil), dan ketika memasuki masa remaja hal ini mencapai puncak dengan perilaku yang lebih kejam. Dia juga akan lebih memilih menjadi penyendiri atau bergabung dengan peer group yang sejalan dengan pikirannya. Sebaliknya, anak yang dibesarkan dengan kasih sayang, juga akan memilih kelompok yang tidak jauh dengan sikap dan kepribadian yang dibangun di dalam keluarga.

Mungkinkah sebuah keluarga yang utuh dan harmonis menghasilkan anak-anak remaja yang bermasalah? Secara umum tidak, namun setiap orang tua harus jujur mengakui adanya kesalahan dan kekeliruan dalam pengasuhan anak. Orang tua seyogyanya tidak merasa benar sendiri, dengan dalih demi keutuhan dan keharmonisan keluarga. Utuh dan harmonis bisa dirasakan, bukan sekedar yang ditampakkan. Anak bisa menilai keharmonisan tersebut, dan menentukan sikap berdasarkan apa yang dilihat dan dirasakannya.

Orang tua mungkin bisa menyamarkan kondisi di rumah pada anak-anak karena keterbatasan kapasitas kognitif mereka, namun semakin sulit menutupi fakta dari seorang remaja. Menurut Piaget, salah seorang pakar perkembangan, masa remaja ditandai dengan peningkatan kemampuan kognitif; di periode ini anak mulai mampu menerima bentuk-bentuk abstrak, sehingga individu remaja mulai berpikir dan menalar pada lingkup yang lebih luas. Berkurangnya egosentrisme pada remaja memberikan peluang bagi orang tua untuk berkomunikasi secara lebih terbuka dan mendalam, dan memang remaja membutuhkan perlakuan yang berbeda dibandingkan dengan saat mereka masih anak-anak dulu.

Satu lagi yang menjadi ciri remaja adalah budaya kontemporer, dan ini mau tidak mau harus menjadi perhatian orang tua. Budaya kontemporer yang dianut masa remaja mencakup di antaranya gaya berpakaian, piranti komunikasi dan audio-video semacam ponsel dan iPod, gaya bicara, artis idola, jenis musik, tempat-tempat rendezvous yang “gaul”, dan sebagainya. Sekalipun tidak menyukainya, orang tua perlu memberikan respek pada pengaruh budaya kontemporer semacam ini.

Jadi, perubahan pada individu dari periode anak-anak ke periode remaja bisa dikatakan sebagai proses transisi yang kompleks. Dari segi fisik dan fisiologis, terjadi perubahan dan perubahan tersebut signifikan, bisa dilihat dengan mata. Emosi dan kepribadian anak yang menginjak remaja juga berubah, dan di masa transisi ini terjadi beberapa kelabilan karena sifat alami remaja adalah mencari identitas diri. Identitas diri yang mana?

Pertama, remaja membutuhkan pengakuan bahwa mereka bukan anak-anak lagi. Untuk membuktikannya, mereka cenderung melakukan beberapa pembangkangan langsung maupun tidak langsung – karena meyakini bahwa orang dewasa bisa mengambil keputusan sendiri. Remaja tidak ingin sekedar didikte, karena mereka mulai mau didengarkan. Perkembangan kapasitas intelektual dan emosi mereka memang sudah memungkinkan untuk diperlakukan lebih dewasa.

Kedua, dorongan alami remaja adalah bersosialisasi (seperti halnya orang dewasa), dan menempatkan kelompok di atas orang tua. Bentuk sosialisasi ini bisa berupa eksistensi / keberadaan dalam kelompok dan pengadopsian budaya kontemporer dalam pergaulan.

Bagaimanapun, rumah (keluarga) selalu menjadi tempat pulang bagi remaja dan mereka sebenarnya masih selalu ingin pulang kepada orang tua. Rumah yang terbuka dan dipenuhi dengan kehangatan komunikasi selalu dirindukan oleh remaja.

Bila seorang remaja mulai menunjukkan perubahan ke arah yang negatif: bergaul dengan kelompok delinkuen (menyimpang/kriminal), pacaran yang mulai melebihi batas, berkenalan dengan alkohol dan rokok, memutar film porno, hampir dipastikan karena pengaruh teman akan tetapi telusuri akarnya di dalam keluarga!

Dalam banyak kasus, anak yang mencari penyaluran di luar dikarenakan tersumbatnya komunikasi di rumah. Mungkin orang tua mau mendengarkan, tetapi tidak cukup bijak menyikapi mereka. Mungkin cukup bijak, tetapi kurang intensitas pertemuan. Orang tua haruslah cerdas dalam menghadapi remaja, karena remaja sudah mampu berpikir dan menalar. Bukan hanya harus cerdas, pertemuan yang terjadi haruslah intens dan dalam, agar orang tua mampu mendekatkan diri secara emosional dengan anak mereka.

Apakah orang tua yang bijak tidak perlu marah? Itu konsep yang keliru. Orang tua tetap sebagai komandan dalam keluarga. Bila masih lengkap, orang tua adalah ayah dan ibu. Dominasi dari salah satu di antaranya akan membawa bencana bagi pertumbuhan remaja. Orang tua berhak marah dan mendominasi, menghukum dan menghilangkan privilege anak bila perlu (misalnya ijin menggunakan ponsel atau berinternet), dalam upaya mendisiplinkan anak.

Menjadi dewasa adalah sebuah proses, dan proses pertama disebut dengan masa remaja. Masa remaja adalah periode pencarian identitas diri, yang bertujuan menemukan konsep diri yang merupakan cetak biru kepribadiannya sebagai orang dewasa kelak. Masa remaja tidak akan terlewati dengan baik tanpa peran orang tua.

Gangguan Obsesif-Kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder)

Posted in Psikologi with tags on February 19, 2009 by hzulkarnain

 

Dalam film The Aviator, Industriawan sukses dan salah seorang genius dalam bisnis penerbangan Howard Hughes (Leonardo Di Caprio) dikisahkan mengidap sebuah gangguan yang mendorongnya untuk mencuci tangan. Ia hampir selalu mengenakan sarung tangan, dan tidak mau berjabatan tangan dengan orang lain. Suatu ketika, dikisahkan ia berjabat tangan dengan orang dalam sebuah pesta, dan sialnya ia lupa memakai sarung tangan kulitnya. Setelah menekan kegelisahan beberapa lama, ia akhirnya bisa ke toilet – untuk mencuci tangan dengan sabun. Sekalipun tidak ada apa-apa di sana, tangan itu disabung terus hingga tangannya justru lecet-lecet. Ia juga dikenal sebagai seorang perfeksionis, dan dikisahkan juga, untuk membuat film yang indah dan realistis, ia bahkan “berburu” awan – sekalipun awan di langit itu hanya untuk sepenggal adegan pertempuran udara. Kesempurnaan yang ada dalam pikirannya mengalahkan akal sehat bisnisnya, sehingga ia terus menerus bertengkat dengan penasihat keuangannya.

 Atau mungkin yang berlangganan TV kabel pernah melihat profil detektif satire Adrian Monk? Seorang yang cerdas, cermat, tetapi mengidap gangguan ini. Ia tidak bisa berjabatan tangan dengan orang,  takut pada kekototan dan ketidak teraturan, dan semua hal harus balance dan teratur. Meja kurang ke tengah, dia akan dorong. Jumlah bunga dalam tiap vas beda, dia akan sesuaikan. Sehari-hari, dia didampingi seorang konselor yang berusaha mengingatkan dia bila gangguan tersebut sudah semakin ekstrim. Uniknya, dengan gangguan itu ia justru lebih cepat menyadari adanya hal yang tidak biasa, tidak balance, tidak pada tempatnya, dan akhirnya mencurigakan dalam tiap-2 kasus.

448871a-i10

Senyata apa sebenarnya OCD itu?

Dalam Wikipedia disebutkan bahwa, di Amerika Serikat gangguan obsesif-kompulsif (OCD) sudah dianggap mendekati kejamakan asma dan diabetes melitus. 1 dari 50 orang dewasa mengidap gangguan ini – dari tingkat yang rendah hingga hingga yang parah. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Oprah Winfrey mengangkatnya sebagai topik dalam salah satu episode show-nya.

Dalam show itu diangkat kisah nyata proses terapi 5 orang dewasa (campuran laki-laki dan perempuan, kaukasia dan negro) hingga sembuh dari gangguan ini. Dalam proses terapi mereka, lima orang pengidap gangguan ini diajak ke beberapa tempat yang selama ini mereka jauhi, dan dipaksa untuk melakukan sesuatu yang mereka hindari. Intinya, mereka dihadapkan dan dibenturkan pada realitas agar konsep ketakutan di alam bawah sadar mereka terangkat dan bisa diterapi.

Bagaimana sebenarnya orang yang mengidap OCD itu?

Dalam Wikipedia disebutkan bahwa, ciri orang yang mengidap OCD ada 6, yaitu:

Obsesi:

1.        Pikiran, dorongan, dan bayangan yang menetap dan berulang, dan menyebabkan kecemasan dan stress.

2.        Pikiran, dorongan, dan bayangan itu bukan semata kecemasan berlebihan terhadap masalah kehidupan yang nyata.

3.        Pengidap mencoba untuk mengabaikan atau menekan pikiran, dorongan, dan bayangan tersebut atau menetralisasinya dengan pikiran dan tindakan lainnya.

4.        Pengidap mengetahui bahwa pikiran, dorongan, dan bayangan obsesif-nya hanyalah produk pikirannya semata, dan tidak didasarkan atas kenyataan.

Kompulsi

5.        Perilaku atau sikap mental berulang, buah dari obsesi yang dimiliki, atau yang rasanya harus dilakukan sesuai dengan aturan yang dilaksanakan secara ketat.

6.        Perilaku atau sikap mental tersebut bertujuan untuk mencegah atau mengurangi stress, atau mencegah datangnya kejadian yang mengerikan, sekalipun perilaku dan sikap mental tersebut tidak berhubungan dengan kejadian mengerikan (yang dikhawatirkan) tersebut.

 

Kembali dalam kasus yang diangkat dalam show Oprah Winfrey, kelima pangidap OCD tersebut diterapi dengan cara yang cukup ekstrim. Kelimanya dibawa ke sebuah lorong di samping gedung bertingkat, tepatnya ke sebuah pembuangan sampah besar, dan terapis yang memimpin meminta mereka menempelkan tangan (kanan dan kiri) mereka ke dinding dalam tempat sampah. Tangan tersebut lalu harus diusapkan ke rambut dan dijilat.Alasannya, orang normal biasanya tanpa sadar menyentuh segala macam benda, dan tanpa sadar diusapkan ke kepala bahkan dijilat. Tempat sampah itu terlihat sangat menjijikkan, dengan bau (sesuai pengakuan pelaku) yang memuakkan, bahkan terlihat ada bekas muntahan.

Hampir semua tidak ada yang berani memulai, karena memang pengidap OCD biasanya sangat sensitif terhadap kebersihan. Yang pertama memulai adalah seorang wanita tengah baya yang mengalami gangguan perfeksionisme. Ia tidak menyukai kekotoran dan kekacauan, sehingga tidak pernah mengajak anak-anaknya ke warung es krim yang menyebabkan anak belepotan. Setelah ada yang memberikan contoh, barulah yang lain berani mencoba. Itupun dengan roman muka penuh ketakutan dan kecemasan. Mereka mengakui, hampir menangis rasanya memasukkan tangan ke sana, apalagi kemudian harus mengusap kepala dan menjilat tangan “kotor” itu.

Sesi terapi berikutnya adalah konsultasi kelompok, dalam sebuah ruangan yang hangat, nyaman, dan bersahabat. Pertanyaan terapis sebenarnya tidak aneh, bahkan cenderung sederhana. Tetapi untuk menjawabnya, ternyata tidak mudah. Terapi bertanya kepada peserta sesi: Kapan terakhir kali kamu menangis

Jadi, setelah pintu ketakutan pertama dibuka (di bak sampah besar), rupanya peristiwa traumatis yang tersembunyi di bawah sadar mulai menampakkan diri. Wanita paruh baya pengidap perfeksionisme yang diberi pertanyaan ini seperti mencoba bertahan, sekalipun ia masih berusaha mengingat-ingat. Terapis melanjutkan dengan pernyataan: Orang menangis saat mereka merasa aman.

Tiba-tiba, mata wanita perfeksionis tadi mulai berkaca-kaca, dan air mata meleleh. Ia menjelaskan pada Oprah Winfrey, saat itulah pertama kali ia menangis lagi setelah sekian tahun tidak bisa menangis. Menangis menunjukkan kelemahan, sehingga menangis tidak ada dalam dunia perfeksionis. Setelah perilaku tidak realistisnya disadari, ia pulang dengan lebih hangat, bebas memeluk anaknya dan menunjukkan emosinya yang positif, bahkan langsung mengajak anaknya makan es krim – dan membiarkan anak-anaknya belepotan karena saling lempar es krim.

Peserta lain, yang OCD-nya berupa dorongan mencuci tangan, mengakui bahwa ia merasa bersalah dengan kematian saudara kembarnya. Sejak lahir mereka memang kelihatan berbeda. Ia besar dan kuat, sementara saudara kembarnya kecil dan sakit-sakitan. Padahal, umumnya anak kembar akan punya kualitas fisik dan mental yang sama. Pada usia 10 tahunan, saudara kembarnya itu akhirnya meninggal, dan entah bagaimana ia merasa bersalah. Sejak itulah, ia perlahan-lahan mulai mengidap OCD – dan yang paling mengganggu adalah dorongan untuk terus mencuci tangan.

Setelah menyelesaikan sesi, semua pengidap OCD terbebas dari gangguan. Mereka bisa berguling-guling di tanah, membersihkan tanah dengan tangan, berkotor-kotor, pendek kata mengalami kebebasan dari belenggu ketakutan yang tidak realistis sebelumnya.

Bagaimana dengan di Indonesia? Tampaknya sejauh ini belum ada penelitian yang signifikan tentang hal ini. Namun demikian, menekan sebuah kondisi ke alam ketidak sadaran sudah jamak dilakukan pada masyarakat kita, sebab norma sosial tidak mengijinkan segala hal dibuka begitu saja. Dalam etnis Melayu (termasuk sebagian orang Indonesia) fenomena latah dan “amok” justru menjadi ciri khas – karena tidak didapati pada masyarakat Barat misalnya.

Pernah saya bicara dengan seorang teman (perempuan) yang mengidap latah. Setiap kali kaget, dia selalu menyebut alat kelamin laki-laki. Katanya, dalam mimpi (tidak jelas berapa kali dia bermimpi), dia melihat banyak sekali alat kelamin laki-laki. Bayangan “organ tubuh” ini selalu ada di kepalanya. Sekarang, setelah menikah, latah itu hilang dengan sendirinya, dan tidak pernah lagi menyebut alat kelamin laki-laki bila kaget.

Fenomena amok biasanya didapati pada orang-orang yang biasanya justru tidak dikenal sebagai orang pemarah. Tiap stress ditekannya, dan dikompensasinya dengan pikiran lain. Stress itu menetap karena tidak pernah ada upaya mencari solusinya. Misalnya, di rumah ia selalu menjadi korban kemarahan. Tidak ada yang benar, dan caci maki diterimanya dengan diam. Ibarat sebuah gelas yang diisi air terus menerus, pada suatu ketika – karena penambahan yang mungkin hanya setitik – air itu tumpah. Orang yang amok, bahkan karena alasan yang sepele, bisa marah membabi buta, bahkan membunuh siapa saja yang dijumpai di jalan.

Yang sekarang perlu kita pahami adalah, menyimpan masalah di alam ketidak sadaran, akan membawa dampak buruk cepat maupun lambat. Bila menemui masalah, alangkah baiknya bila kita mencoba berbicara dengan orang yang kita percaya – sekalipun sekedar sharing dan agar didengarkan saja

Terapi Salat Tahajud – Rangkuman 5

Posted in Kontemplasi, Psikologi, Sharing with tags , on February 14, 2009 by hzulkarnain

 

Rangkuman ke-5 dari buku: Terapi Salat Tahjud (Dr. Moh. Saleh)

Hakikat Salat Tahajud

 

bila jiwamu gelisah pergilah ke 3 tempat ...

bila jiwamu gelisah pergilah ke 3 tempat ...

Penulis buku ini, DR. Moh. Saleh, menimbang 3 tafsir untuk menjelaskan dasar turunnya anjuran salat tahajud, yaitu tafsir Sayyid Quthub (Tafsir fi Dzillalil Qur’an), tafsir Ibnu Katsir, dan tafsir Al-Maraghi. Dari sanalah ia ber-kesimpulan bahwa asal muasal turunnya surat Al-Muzzamil – yang memuat perintah untuk bertahajud – adalah kemasygulan Rasulullah Saw, yakni:

  1. Beratnya tugas dakwah yang diemban, dan memerlukan kekuatan jiwa dan raga,
  2. Hebatnya rencana musuh.

Secara manusiawi, dengan tekanan semacam itu pada tugas dan tanggung jawab beliau, Rasulullah Saw merasa gelisah, cemas, khawatir, bahkan takut. Rasulullah merenung sambil berbaring dan menyelimuti badannya. Saat itulah, Malaikat Jibril menyampaikan ayat Allah:

Hai orang yang berselimut ,

bangunlah  di malam hari , kecuali sedikit ,

seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.

atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan.

Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat  dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.

Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang .

Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.

Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan  melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.

Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.

(QS Al Muzzamil 1 – 10)

 

Dari ke-sepuluh ayat pertama surat ini, ada 6 pokok perintah yang harus dijalankan oleh Rasulullah Saw yakni:

1. Perintah salat tahajud

Ayat pertama surat ini yang memuat kata “orang yang berselimut” seara kontekstual bisa bermakna orang yang dirundung masalah, kegelisahan, kecemasan, , kekhawatiran, atau bahkan kengerian karena menghadapi berbagai kemungkinan yang akan menimpa dirinya.

Jadi, bila ditafsirkan, bunyi awal surat Al muzzamil adalah: “hai orang yang berselimut kegelisahan, kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, bangunlah untuk salat di malam hari, kecuali sedikit daripadanya.”

Kapan saatnya? Yaitu seperdua malam, atau kurangilah dari seperdua itu. Separuh malam adalah kurang lebih jam 24.00, jadi waktu yang dianjurkan adalah antara 24.00 hingga jam 04.00. Kemakbulan dia pada waktu-waktu ini dijamin oleh Allah, sebagaimana tercantum dalam hadits Muslim:

Sesungguhnya pada tiap-tiap malam ada suatu saat makbul; barang siapa dari hambaNya yang muslim memohon kebaikan tepat dalam saat itu, niscaya akan dikabulkan oleh Allah Swt.”

Rasulullah juga bersabda:” Tuhan kita turun tiap-tiap malam ke langit yang paling rendah ketika sepertiga malam yang terakhir seraya berkata – Barang siapa yang meminta ampun kepadaKu, niscaya Ku-ampuni.”

Dalam Al Muzzamil ayat 5 disebutkan sebuah istilah: perkataan-perkataan yang berat (qaulan tsaqila), yang bermakna hal –hal berat yang dikerjakan oleh mukallaf (tafsir Al Maraghi). Untuk melaksanakannya, umat Islam dituntun untuk menyertainya dengan zikir, tawakal, sabar, dan hijrah. Perintah ini justru lebih dahulu hadir daripada perintah zakat, salat lima waktu, dan berhaji.

2. Membaca Al Qur’an dengan perlahan-lahan.

Mempelajari ilmu tajwid itu sunah, namun membaca Al Qur’an dengan tajwid hukumnya wajib. Lebih jauh, Al Qur’an seharusnya dibaca dengan tidak terburu-buru (tartil) dan dibaca dengan kaidah baca yang benar.

Tentang manfaat psikis membaca Al Qur’an, suatu hari Ibu Mas’ud ra. seorang sahabat Rasulullah Saw didatangi oleh seseorang untuk meminta nasihat tentang pengobat jiwa yang gelisah. Tanda jiwa yang gelisah itu, dalam riwayat ini, adalah perasaan yang tidak tenteram, gelisah, pikiran kusut, tidak enak makan, dan tidak nyenyak tidur.

Ibnu Mas’ud memberikan nasihat:” Kalau penyakit itu yang menimpamu, bawalah hatimu untuk mengunjungi tiga tempat, yaitu:

  1. tempat orang membaca Al Qur’an, engkau baca Al Qur’an, atau engkau dengarkan baik-baik orang yang membacanya. Atau,
  2. majelis taklim yang mengingatkan hati kepada Allah Swt. Atau,
  3. cari waktu dan tempat yang sunyi, di sana engkau berkhalwat, beribadah kpada Allah Swt, umpamanya di tengah malam buta saat orang tidur nyenyak, engkau bangun mengerjakan salat malam meminta keada Allah Swt agar diberi hati yang lain karena hati yang kamu pakai sekarang bukan lagi hatimu.

Ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Al Qadi di Florida AS. Penelitian ini membuktikan bahwa dengan sekedar mendengarkan bacaan Al Qur’an, seorang muslim (baik yang berbahasa Arab maupun bukan) dapat merasakan perubahan fisiologis dan psikologis yang besar. Dengan dibantu piranti elektronik mutakhir pendeteksi detak jantung, ketahan otot, dan kulit terhadap aliran listrik, didapatkan penurunan depresi, kesedihan, bahkan memberikan ketenangan yang mampu menolak berbagai macam penyakit.

3. Berzikir

Salah satu penopang qaulan tsaqila yang disebutkan oleh buku Prof Moh. Saleh ini adalah berzikir. Surat Al Muzzamil menyebutkan:” Sebutkanlah nama Tuhanmu dengan penuh ketekunan” (ayat 8). Zikir diterjemahkan sebagai menyebutkan nama Tuhan, sekalipun tidak tepat benar karena pada dasarnya belum ada kata yang memaknainya dengan tepat.

Ibu Qayyim berkata: “Seorang mukmin yang bertafakur dan berzikir akan dibukakan baginya pintu untuk dapat bersepi-sepi dan menyendiri di tempat yang sunyi dari suara dan gerakan. Semuanya memberikan kekuatan hati. Baginya akan ditutup pintu yang dapat mematahkan cita-cita dan frustrasi, meretakkan hati, kemudian dibukakan pula baginya pintu kenikmatan dalam ibadah. Ia mendapat kenikmatan yang tidak dirasakan oleh seseorang yang sedang menikmati hawa nafsunya. Apabila perasaan ini sudah menguasai seseorang, ia tidak akan sempat lagi mengingat kenikmatan dunia dengan segala isinya. Ia berada dalam dunianya sedangkan manusia lain berada di dunia yang lainnya.

4. Tawakal

Dialah Tuhan yang Masyrik dan Magrib, tiada Tuhan melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung (QS Al-Muzzamil:9). Tuhan, Allah Ta’ala, berkuasa di Timur dan Barat sehingga patutlah kita manusia berserah kepadanya sebagai satu-satunya pelindung.

Tawakal bukan berarti berdiam diri, pasif dan masa bodoh, melainkan suatu bentuk penyerahan diri yang dinamis bergerak. Berkurung diri dan menyerahkan semuanya kepada Allah bukanlah tindakan tawakal. Orang yang bertawakal akan bergerak dinamis, tidak akan cemas, karena yakin pertolongan Allah akan besertanya.

5. Sabar

Dan bersabarlah engkau terhadap apa yng mereka ucapkan (QA Al-Muzzamil: 10)”. Menahan diri dan bersabar adalah perintah dari Allah dalam menghadapi tekanan, sebagaimana yang dihadapi oleh Nabi Muhammad Saw saat menghadapi tekanan dan teror dari para pembesar Quraisy.

Mungkin orang masih bisa sabar menghadapi kesulitan, istri yang melarikan diri, anak yang sakit-sakitan, pangkat yang mandeg dan tidak pernah promosi, dsb. Namun, perbuatan orang lain yang melampaui batas, hinaan, celaan, dan olok-olok yang tidak berkesudahan, bisa membentuk kejengkelan dan rasa kesal yang memuncak. Pentingnya kesabaran menghadapi hal ini ternyata dimasukkan oleh Allah sebagai bagian dari enam pokok perintah dalam surat ini, yang harus ditunaikan oleh Rasulullah Swt.

6. Hijrah

Dan jauhilah mereka dengan cara yang baik (QS Al-Muzzamil:10)”. Hijrah yang dimaksudkan di sini tidak dalam pengertian fisik, tetapi lebih bersifat konotatif. Manusia diperintahkan untuk membuat garis demarkasi, garis jelas antara baik dan buruk, benar dan salah. Dengan garis ini, orang bisa dengan jelas menyeberang ke sisi yang dibenarkan oleh Allah, atau hajran jamila. Berpindah dari bukan Islam ke dalam Islam, dulu kejam sekarang lebih welas asih, sebelumnya pelit sekarang senantiasa mengeluarkan zakat dan sedekah, perangai yang sebelumnya tercela sekarang terpuji, dan sebagainya.

 

Lingkaran Kebingungan

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on February 8, 2009 by hzulkarnain

desperate1Islam mengajarkan pada umatnya untuk selalu melihat ke bawah dalam urusan dunia, namun sebaliknya harus melihat ke atas ketika menimbang kapasitas keagamaan. Tuntunan itu jelas, akan tetapi manusia lebih sering melakukan hal yang sebaliknya. Untuk urusan dunia, dorongan yang terbesar adalah melihat ke atas, sementara urusan agama bahkan sama sekali tidak ditengok. Tanpa bermaksud membuka aib (karena itu biarkan tetap anonim) saya ingin mencatat kondisinya sebagai pengingat bagi saya sendiri, dan mungkin yang membaca blog ini.

Teman saya, seorang pria, masuk ke perusahaan tempatnya sekarang bekerja sekitar 10 tahunan yang lalu. Awalnya dia direkrut sebagai resepsionis, saat perusahaan masih dalam masa proyek. Jadi, kebutuhan saat itu memang resepsionis pria. Saya lihat, dia adalah seorang yang punya kemampuan berpikir baik, dan bisa menyelesaikan persoalan secara proporsional.

Dalam perjalanannya, dia dipromosikan sebagai staf transportasi. Hal itu sungguh tidak mengherankan, mengingat dirinya punya kapabilitas, Tugasnya adalah mengurus armada mobil perusahaan yang saat itu jumlahnya puluhan (maklum banyak expatriate). Untuk seorang staf biasa, gajinya sama sekali tidak buruk (karena dia bekerja di sebuah PMA). Bahkan dia bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 di PT swasta di kotanya.

Saat baru bergabung dia belum menikah, sekarang anaknya sudah dua orang. Perusahaan tempatnya bekerja menerapkan sistem struktur organisasi yang flat (bukan piramidal), sehingga semua staf langsung melapor dan bertanggung jawab kepada manajer bagian. Salah satu dampaknya adalah spesialisasi posisi, dan pintu promosi yang sangat terbatas (tapi gaji tetap diapresiasi tiap tahun). Masalah muncul ketika dia berhenti mengapresiasi dirinya sendiri, dengan tidak lagi meningkatkan kapabilitas personalnya. Sebagian dari dirinya beranggapan bahwa dengan lulus sarjana, perusahaan harus memberikan nilai respek lebih padanya, tanpa terlebih dahulu menunjukkan bahwa kapasitas personalnya memang setara dengan gelar S-1 nya (swasta lokal). Padahal, sudah menjadi rahasia umum, tidak semua lulusan sarjana di Indonesia ini memiliki kompetensi sebagaimana seharusnya, sehingga menutup pintu kerja bagi lulusan setara SMA – karena pengusaha bisa menggaji sarjana dengan gaji lulusan SMA.

Teman saya itu menciptakan comfort zone-nya sendiri, dan tidak mau menerima saran orang lain demi perbaikan. Ketika atasannya tidak lagi menaruh respek, dan akibatnya performance appraisal-nya jatuh, alih-alih mencari cara mengoreksi diri dia justru menyalahkan atasannya sebagai boss yang pilih kasih. Seperti lingkaran kebingungan yang diciptakan setan, kinerja yang buruk menyebabkan penilaian performan kinerja yang tidak bagis, dan berbutntut kenaikan gaji yang tidak signifikan. Prosentase kenaikan gaji yang kurang bagus membuat demotivasi. Semangat kerja menurun, dan akhirnya asal masuk kerja saja. Pekerjaan yang monoton dijadikan kambing hitam, tapi bila diberikan enlargement (tambahan pekerjaan untuk peningkatan karier) tidak dikerjakan dengan banyak alasan. Sebagai pelarian, akhir minggu dihabiskan dengan menuntaskan hobi: memancing, bahkan hingga ke kota lain di hari kerja. Bukan sekedar melepaskan diri dari rutinitas, bahkan kalau perlu mencari cara supaya bisa datang ke lokasi pemancingan yang jauh (dan mahal). Kalau terlalu lelah karena memancing hingga hari Minggu, gampang … cari surat sakit di dokter umum.

Beberapa tahun sudah, kondisi ini terjadi. Atasannya jenuh, dan dia sendiri juga jenuh. Teman saya itu mulai mencari-cari pekerjaan baru. Dia merasa yakin dengan kapasitas dan kapabilitasnya sebagai orang general affair, sehingga posisi yang dilamarnya pun adalah supervisor atau sekurangnya staf senior di bidang transportasi. Masalah baru muncul. Dengan bekerja selama 10 tahun di perusahaan PMA, gajinya sudah terdongkrak cukup tinggi. Bila dia minta gaji yang sama saja dengan gajinya sekarang – dengan posisi staf – tidak ada perusahaan yang mau. Apalagi usianya juga sudah tidak muda lagi. Untuk posisi supervisor, kompetensinya tidak mencukupi (sekalipun dia yakin sekali mampu mengerjakannya), karena dia sudah berhenti mengapresiasi dirinya sendiri sekian tahun yang lalu.

Kalau saja dia selalu meng-upgrade kemampuannya sendiri, mungkin ceritanya lain. Kalau saja dia berhenti menyalahkan orang lain, dia akan bertambah baik. Kalau saja usianya lebih muda 5 tahun, peluangnya lebih terbuka. Kalau saja … Ada seribu “kalau saja”, yang menandakan penyesalan. Ketika ia berhenti mengapresiasi dirinya sendiri, saat itulah rasa syukur tidak lagi menjadi pijakan. Tatkala kepercayaan perusahaan terkhianati, ia semakin menjauhkan rahmat dari nafkah halalnya. Perusahaan tidak pernah terlambat membayar gaji, jadi sudah sepantasnya sebagai orang Islam kita membalasnya dengan kinerja yang baik. Bila tidak, rizki halal yang diterima seolah-olah kian jauh dari berkah. Tak pernah cukup.

Hidup adalah menjalani hari demi hari, seperti membangun sebuah rumah, menyusun dari satu bata ke bata yang lain. Cita-cita besarnya adalah sebuah rumah tinggal yang kokoh. Bila esok pagi bisa menambah sebuah batu bata saja, itu sudah cukup membedakannya dengan hari ini bahkan kemarin. Kalau besok tidak berhasil menambah satu batu bata saja, kita adalah orang yang merugi – demikian Islam mengajarkan. Apalagi kalau besok justru ada batu-bata yang runtuh.

Sekali lagi – kalau saja – teman saya itu berpegang pada Islam sebagai sandaran, bukan sekedar melakukan ritual salat dhuhur atau ashar di kantor, insyaallah dia akan berhenti bertindak destruktif dan mulai mencari sebuah batu bata untuk esok pagi. Sayangnya hidup adalah pilihan, dan kita tidak pernah bisa kembali ke titik crucial di masa lalu – satat kita membuat pilihan – tersebut.