Archive for April, 2009

Hari Kartini

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on April 21, 2009 by hzulkarnain

 

Ibu Kita Kartini

Putri Sejati

Putri Indonesia harum namanya

Ibu Kita Kartini

Pendekar bangsa

Pendekar kaumnya untuk merdeka

Nama Kartini, siapa yang tidak kenal di bumi pertiwi tercinta ini? Sebuah nama Jawa yang seolah-olah sudah menjadi milik perempuan Indonesia. Hari kelahiran Kartini diperingati sebagai kebangkitan kaum perempuan Indonesia, karena dianggap sebagai perempuan pertama yang mencita-citakan kesetaraan gender.

Banyak kaum perempuan yang perkasa di penjuru negeri ini, bahkan jauh sebelum Kartini dikenal luas oleh orang Indonesia. Siapa yang tak kenal Cut Nyak Dien yang gagah, dan tak kenal menyerah dalam perlawanan terhadap kolonial Belanda, bahkan sangat sulit ditangkap karena keuletannya. Inspirasi yang hampir serupa juga ditunjukkan oleh istri dan putri Pangeran Diponegoro, saat membantu perlawanan sang pangeran di Jawa Tengah. Christina Martha Tyahahu dikenal namanya di wilayah Ambon. Dan sebagainya. Kalaupun tidak tercatat dengan baik melalui bukti sejarah, bukan berarti mereka tidak ada. Mungkin yang berbeda adalah, Kartini memunculkan gagasannya di level pemikiran dan intelektual.

kartiniKartini dibesarkan dan hidup dalam era kolonialisme yang sudah lebih maju, ketika politik etis berkembang di Negeri Belanda. Sebagai seorang anak bangsawan, kebebasan intelektual yang diberikan oleh orang tuanya pada akhirnya berujung juga pada ketundukan pada ikatan budaya. Menikah di usia muda, begitu sang Kartini remaja memasuki masa akhil baliq. Hampir bersamaan dengan Kartini juga muncul pejuang emansipasi lain, seperti Dewi Sartika di Jawa Barat, namun entah mengapa gaungnya tidak sehebat Kartini.

Kartini adalah simbol, sekalipun beliau tidak pernah benar-benar berhasil memperjuangkan emansipasi.Sebuah simbol mungkin memang tidak perlu sempurna benar, yang penting ada dan menginspirasi banyak perempuan Indonesia modern. Simbol bangkitnya pemikiran yang progresif, melawan ikatan kultural, dan menunjukkan jati diri sebagai manusia yang memiliki kompetensi. Cita-cita Kartini bisa dipahami oleh perempuan yang berada di perkotaan, yang hidup tidak dalam himpitan ekonomi dan kultur. Tak heran bila perempuan modern Indonesia di wilayah urban sudah semakin mencerminkan cita-cita Kartini seabad yang lalu.

Kaum feminis menempatkan ide Kartini sebagai simbol gerakan yang menuntut kesamaan hak dengan kaum laki-laki. Melebihi ide awal Kartini, perempuan dianggap memiliki hak yang sama dalam memanfaatkan ruang publik, yang selama ini identik dengan hak kaum laki-laki. Karena perempuan pada dasarnya memiliki kompetensi setara dengan laki-laki, sudah sepantasnya pula kaum ini berdiri sama tinggi dengan laki-laki.

Kaum agamis tidak sepakat. Dalih mereka, Allah menciptakan manusia dengan porsi dan posisi yang berbeda untuk membentuk keseimbangan. Dengan berpegang pada tuntunan kitab suci, khususnya orang Islam jelas tidak sepakat sepenuhnya penempatan perempuan dalam ruang publik. Perempuan memiliki posisi yang ekslusif dalam ruang privat, tempat mereka bisa beraktualisasi diri dengan cara membangun rumah tangga yang nyaman, dan membesarkan generasi baru yang baik.

Dalam perkembangan dewasa ini, secara alami perempuan Indonesia memiliki kultur tersendiri yang tidak persis seperti yang diinginkan kaum feminis, akan tetapi juga tidak terkungkung dalam ikatan ruang privat. Kita mengenal kaum perempuan yang duduk di jajaran CEO perusahaan terkemuka, terjun dalam berbagai profesi publik seperti dokter dan pilot pesawat, berada dalam jajaran perwira militer maupun kepolisian, dsb. Akan tetapi, juga jamak kita temui artis atau model yang mengundurkan diri dari ruang publik untuk lebih fokus ke ruang privat, hanya sesekali muncul ke depan massa atas ijin suami, namun tidak berhenti berkarya selama bisa dijalankan seraya mengelola tugas rumah mereka.

Sebenarnya tidak perlu ada pertentangan antara kaum feminis dan agamis, karena kita bukan masyarakat Barat yang hanya mengenal agama sebagai formalitas. Sekalipun masyarakat Indonesia mampu berpikir pragmatis, pada kenyataannya nilai religi masih menyelinap dalam pembuatan keputusan. Kita juga bukan masyarakat jazirah Arabia yang hampir meniadakan peran perempuan dalam ruang publik, sekalipun mayoritas orang Indonesia adalah Muslim. Artinya bahwa, bangsa ini punya corak tersendiri, berbeda dengan orang Barat maupun Arab. Muslim Indonesia punya karakter sendiri – sekalipun ada dua kutub yang berusaha menarik mereka menjadi sekuler atau sebaliknya terlalu rigid.

Kalau Kartini masih hidup sekarang, saya yakin beliau akan tersenyum. Tidak ada yang sempurna di muka bumi ini – yang ada hanyalah ideal atau tidaknya sebuah posisi secara relatif dalam sebuah tatanan sosial budaya masyarakat. Bila sekarang ini kita tidak merasa aneh dengan kehadiran kaum perempuan di semua lini aktivitas sosial, berarti cita-cita Kartini sudah terwujud. Tidak aneh lagi melihat dokter perempuan, pilot permpuan, direktur perempuan, hingga presiden perempuan.

Apakah masih ada perlunya merayakan Hari Kartini setiap tahun, dengan mendandani anak-anak kita dengan pakaian daerah ke sekolah?

Romantisme itu sifatnya relatif, tidak ada yang keliru, dan mungkin malah baik untuk tetap mengingatkan generasi baru setelah kita tentang makna perjuangan pemikiran Kartini di masanya, yang melampaui pemikiran kebanyakan perempuan di masa itu.

Di sisi lain, semakin kita merasa tidak lagi perlu memperingati Hari Kartini, dan tidak memerlukan lagi Menteri Negara yang mengurusi perempuan, mungkin bangsa ini sudah lebih maju dalam menyikapi perbedaan gender. Masalah yang terjadi pada perempuan tidak perlu lagi dibahas dalam konteks perbedaan gender, tetapi ditempatkan pada duduk persoalan semestinya: konteks hukum perdata, pidana, sosial budaya, agama, dsb.

 Kartini akan tetap kita kenang dalam kerangka romantisme yang manis, simbol pergerakan pemikiran perempuan yang progresif, dan menjadi dasar bangkitnya bangsa ini.  Insyallah.

Sebuah Kecelakaan, Lautan Kesia-siaan

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags on April 20, 2009 by hzulkarnain

 

BATU | SURYA-Pesta ulang tahun yang digelar sekelompok mahasiswa dari sejumlah kampus di Kota Malang, Rabu (15/4) malam, berakhir dengan tragis. Sembilan dari 17 mahasiswa itu tewas mengenaskan setelah kendaraan yang mereka tumpangi menabrak sebuah pohon angsana di Jl Panglima Sudirman, Kota Batu.

Seluruh korban yang meninggal di tempat, merupakan mahasiswa dari empat perguruan tinggi ternama di Kota Malang. Mereka berasal dari berbagai tempat seperti Malang, Sidoarjo, Pasuruan, NTB (Nusa Tenggara Barat), Lumajang, Sumenep serta Bali.

Kecelakaan itu terjadi Kamis (16/4) dini hari sekitar pukul 00.10 WIB. Kendaraan Daihatsu Taruna dengan nopol DK 1070 XB, yang ditumpangi empat mahasiswa serta lima mahasiswi ini, terlihat melaju kencang sekitar 100 km/jam. Tak lama setelah melintas di depan SPBU Lahor, mobil naas itu menabrak pohon di tepi jalan dekat SPBU Lahor.

Polisi masih menyelidiki penyebab pasti kecelakaan. Namun, para mahasiswa-mahasiswi itu disebutkan usai berpesta ria, merayakan ulang tahun salah-seorang dari mereka di sebuah vila di kawasan wisata Songgoriti, Batu.

“Terdengar suara keras, dan saya bersama beberapa orang berlarian ke lokasi kejadian,” kata saksi mata Eko Cahyono, 30, pegawai SPBU Lahor Jl Panglima Sudirman.

Menurut Eko, mobil terlihat sudah terbelah cukup panjang, dari bagian depan (jok pengemudi) hingga bagian tengah (jok penumpang). Ini membuat beberapa warga dan polisi yang hendak menolang korban yang duduk di kursi jok tengah kesulitan karena korban berada dalam posisi terjepit.

“Kami tak tahu persis kejadian awalnya. Tahu-tahu sudah terdengar suara keras dan saat kami melihat ternyata mobil itu sudah nyungsep di pohon samping warung saya,” tutur Mulyo Miseno, pemilik warung pangsit di samping Tempat Kejadian Perkara (TKP), Kamis (16/4).

Mulyo bersama beberapa saksi lainnya langsung berlarian mendekat ke TKP. Hampir bersamaan dengan tabrakan, Mulyo melihat dua penumpang perempuan yang berada di bangku depan terpental ke depan mobil dan tergeletak di samping pohon.

Seorang korban yang terpental keluar, sudah tak memiliki kaki kiri karena tertinggal di terjepit dalam mobil. “Setelah tabrakan saya tak mendengar satu pun suara jeritan ataupun rintihan minta tolong. Seketika suasana hening. Saat kami membuka pintu mobil, yang saya lihat darah berceceran di mana-mana, dan yang terdengar hanya suara seperti ngorok dari beberapa korban yang sudah kritis,” kata Mulyo.

Mulyo sempat menolong satu korban yang masih bernapas, tapi akhirnya dia pun meninggal dalam perjalanan ke RS Hasta Brata, Kota Batu. Saat mengevakuasi para korban, Mulyo mendapati bagian depan mobil sudah terbelah hingga ke bangku tengah mobil. Karena itu, empat penumpang di jok tengah sulit dikeluarkan karena terjepit.

“Mesin mobil bagian depan sudah tak berbentuk lagi. Jok penumpang bagian depan mobil ringsek terhantam pohon. Namun anehnya, pohonnya tak roboh,” imbuh Mulyo.

Untuk mengetahui penyebab kecelakaan, Tim Laboratorium Forensik Polda Jatim turun memeriksa TKP. Di lokasi kejadian tak didapatkan tanda-tanda penggunaan rem mendadak, selain cuma bekas benturan mobil dengan trotoar yang berjarak beberapa meter dari pohon yang ditabrak.

“Ini termasuk kecelakaan lalu lintas menonjol, di mana korbannya lebih dari lima orang. Tapi hingga saat ini kami masih mengumpulkan data di lapangan,” ungkap AKBP Ir Didik Subiantoro, Kepala Unit Fisika dan Instrumen Forensik Polda Jatim.

 

 

kombinasi maut

kombinasi maut

Ngeri! Mungkin itu kata pertama yang terucap tatkala orang mengetahui bahkan sekedar membaca berita di atas. Sebuah kesalahan, sebuah kenaasan, sebuah kecelakaan, sembilan kematian. Semuanya muda, semuanya adalah anak dari para orang tua yang berharap anak-anak tersebut menjadi orang yang membanggakan mereka. Harapan itu digantungkan melalui biaya yang diupayakan dari manapun dan lelehan air mata doa di setiap sujud mereka pada Sang Pencipta Alam Semesta … tetapi sekarang semuanya sia-sia!

Tidak ada yang bisa menghindari dari takdir, bahkan umur manusia pun sudah tercatat dalam buku besar kehidupan. Yang bisa diusahakan manusia adalah mengakhiri kehidupan tersebut tanpa kesia-siaan. Dalam rentang umur yang terbatas, manusia diberikan akal budi untuk melakukan pertimbangan, menentukan pilihan, dan membuat keputusan yang mengikat dirinya. Itulah gunanya orang tua memberikan dasar pendidikan, dan pendidikan pula yang membuka cakrawala akal budi agar pertimbangan, pilihan, dan keputusan yang dibuat bertanggung jawab.

Dari berbagai laporan di media massa pasca kejadian tersebut, semakin kuat indikasi adanya kelalaian yang mendasari kecelakaan itu. Lalai bahwa hidup ini bukan untuk disia-siakan, lupa bahwa orang tua telah menitipkan kepercayaan, tidak sadar bahwa kelalaian kecil bisa merenggut nyawa seketika.

Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi?

Kota Batu berada di dataran tinggi, dihubungkan dengan Kota Malang dengan lintasan yang cukup berbahaya di malam hari. Jalanan di Indonesia yang tidak banyak yang mulus. Mobil dimuati melebihi kapasitas, dan kondisi mobil secara umum tidak diketahui. Sebuah pesta anak muda. Semuanya bisa disarikan dalam sebuah istilah: HIGH RISK.

Sebuah kondisi dengan resiko tinggi mensyaratkan kehati-hatian dalam penanganan, karena sebuah kefatalan bisa terjadi bila ada kelalaian. Tanggung jawab yang besar berada di tangan pengemudi, karena dia lah yang mengemudikan mobil pembawa kehidupan orang lain. Bila di kursi penumpang depan diisi dua orang (sesuai kabar dari koran), bisa dibayangkan betapa tidak leluasa gerak pengemudi dalam mengganti perseneling – padahal mobil dalam kecepatan yang tinggi. Semua orang memang dalam kecelakaan itu memang menanggung terjadinya kecelakaan, termasuk yang mendiamkan sopir ketika melaju sangat kencang.

Konon, ada seorang mahasiswa yang tidak ikut mobil naas tersebut karena menganggap perilaku mengemudi temannya sudah sangat membahayakan, dan sudah memperingatkannya beberapa kali. Mahasiswa perempuan ini akhirnya memutuskan untuk pulang ke Malang dengan membonceng motor teman yang lain, dan selamat sampai di kos-kosan jam 02.00 dini hari. Jam 11 siang ketika bangun tidur, baru dia ketahui bahwa teman-temannya yang berangkat bersama-sama dari Malang dengan mobil Taruna tidak pernah sampai lagi di Kota Malang.

Setiap kali membaca berita semacam ini, khususnya yang terjadi pada orang-orang muda, satu kata yang selalu terbersit dalam pikiran: Betapa sia-sianya!

Beberapa kejadian naas mengenaskan semacam ini justru tidak melibatkan orang-orang yang kehidupannya dipenuhi bahaya. Anak-anak muda yang terlupa sesaat, tidak teguh sekejap, inilah yang menjadi korban kelalaian di jalan.

Sekian belas tahun yang lalu, ada sebuah kejadian nyata semacam ini, yang menimpa anak tetangga depan rumah. Sebut saja namanya A. Dia adalah anak yang baik, penurut, dan rajin, berbeda dengan kakaknya yang cenderung nakal dan semaunya sendiri. Pada suatu malam, seingat saya tahun baru, si A yang duduk di kelas 2 SMA hang out bersama teman-temannya. Rupanya alkohol menjadi salah satu teman mereka juga (padahal si A ini dikenal anak musholla yang baik). Ia tergelincir, ikut menenggak miras tersebut. Berboncengan motor bertiga juga hal lazim kala itu, dan helm belum jadi aturan. Sialnya, motor tersebut melewati lubang, sehingga si A yang duduk paling belakang terpelanting dengan kepala membentur aspal. Ia tidak pernah sadar lagi hingga meninggal beberapa jam kemudian di rumah sakit. Dengan alkohol di perut, dan suara ngorok di tenggorokan.

Islam menyebut kondisi tersebut dengan akhir yang buruk (kebalikan dari khusnul khotimah – akhir yang baik). Padahal, ancaman dari Al-Qur’an sudah jelas tentang orang yang berakhir dengan buruk, sekalipun banyak kebaikan dilakukan semasa hidupnya. Akhir yang buruk adalah seburuk-buruk akhir hidup manusia, karena bisa mencuci semua kebaikan dalam kehidupan – sekalipun itu hanya karena ”tergelincir”.

Tidaklah Allah menciptakan dunia dan seisinya sekedar untuk main-main, jadi mengapa kita yang sekedar mahluk ini bermain-main dengan kehidupan kita di dunia – dan mempertaruhkan kehidupan lain setelah kematian?

Pemilu … aftermath!

Posted in Psikologi with tags on April 15, 2009 by hzulkarnain

 

Pemilu 2009 adalah bencana!

Itulah yang dirasakan sebagian orang pasca pesta demokrasi 5 tahunan tersebut. Sehari setelah pencontrengan, beberapa kabar duka menyeruak dari tengah-tengah masyarakat, dan kabar-kabar yang tidak menyenangkan lainnya.

Di Bali, seorang caleg Hanura meninggal dunia karena perolehan suara yang kecil dan tidak mampu mengangkat dirinya ke kursi parlemen. Itu kabar resmi pertama yang ditayangkan televisi. Hari Senin kemarin, saat pertamakali bertemu dengan teman-teman kerja seusai libur panjang, catatan tersebut bertambah panjang. Seorang pengusaha lokal yang menjadi caleg Golkar gagal maju, dan dikabarkan meninggal. Seorang lainnya, caleg dari PPP, menderita gejala depresi setelah menghabiskan hampir 300 juta secara sia-sia.

Melalui televisi, muncul kabar mulai masuknya para caleg gagal ke rumah sakit jiwa – mulai sekedar konsultasi karena stress hingga harus awat inap karena depresi. Bahkan rumah sakit jiwa tersebut mempunyai ruangan hingga VVIP! Wow …. Kabar lainnya adalah meninggalnya beberapa caleg kalah dari berbagai macam partai gurem, yang tidak bisa bersaing dengan kandidat dari partai-partai yang lebih besar.

Yang lebih menggelikan dan mengenaskan adalah pernyataan Wiranto soal Pemilu 2009 yang dianggapnya sebagai Pemilu terburuk sepanjang sejarah bangsa ini. Dengan dalih “banyak sekali” pelanggaran yang terjadi, beliau merasa sudah pantas menilai Pemilu tahun ini dipenuhi skandal dan kongkalikong untuk memenangkan partai pemerintah. Masalahnya adalah, beliau menilai “banyak sekali” berdasarkan laporan yang masuk ke Hanura dan berita di televisi – bukan tinjauan statistik.

depressionAftermath Pemilu, sebagaimana bencana lainnya, menimbulkan mekanisme pertahanan ego bagi individu yang terimbas dampak buruknya. Mekanisme ini muncul – bahkan mungkin dibutuhkan – dalam masa transisi pasca kejadian traumatis agar mereka bisa menata menghadapai kehidupan yang akan datang. Mereka yang tidak berhasil memunculkan mekanisme pertahanan ego mungkin langsung kehilangan gairah hidup dan meninggal.

Gejala depresi yang biasa muncul adalah withdrawal atau menarik diri dari pergaulan sosial. Caleg yang merasa gagal merasa kehilangan muka dan harga diri, atau marah pada orang di sekitarnya, sehingga merasa tidak perlu bertemu dengan orang lain. Bukan sekedar menarik diri, tetapi juga lebih suka tidur dan menghabiskan waktu di ranjang untuk melupakan semua masalah yang dialami. Dengan tidu atau tidur-tiduran, waktu akan cepat sekali berlalu – setidaknya itu yang mereka rasakan.

Para petinggi partai seperti Wiranto yang bisa melenggang ke parlemen merasa perlu juga membangun mekanisme pertahanan ego, agar tidak dianggap sebagai total loser. Mereka perlu merasionalisasi kekalahan dengan tudingan kelancungan yang dilakukan oleh pihak ke-3 (dalam hal ini adalah KPU beserta semua aparat di bawahnya). Padahal, jujur saja, tanpa kecurangan sama sekali pun, belum tentu suara yang didulang partai kecil cukup signifikan untuk menandingi perolehan suara partai pemenang.

Yang juga baru kita amati melalui televisi adalah intelektualisasi, semacam langkah rasionalisasi namun dengan model analisis ilmiah sehingga penyebab kekalahan dalam pendulangan suara bisa diketahui. Ujungnya adalah penyelamatan harga diri. Berbagai elit partai diwawancara, dan dengan keras mereka berupaya menjelaskan penyebab kekalahan mereka. Kalapun mereka akhirnya mengakui kekalahan, pengakuan atas keberhasilan partai pemenang masih jauh.

Mekanisme pertahanan ego normalnya muncul dalam situasi transisi yang belum stabil – atau kondisi yang disebut disequilibrium. Rentang waktunya seharusnya tidak panjang, karena orang harus segera menemukan realitas dan kembali hidup berpijak di atas kehidupan nyata tersebut. Mereka yang depresi harus kembali bergairah, yang meyangkal harus menerima, tidak mencari kambing hitam, dan berhenti menganggap orang lain bodoh. Bila berkepanjangan, ada indikasi gangguan yang dialami penderita sudah membutuhkan penanganan yang lebih serius.

Bukankah Al-Qur’an menjelaskan dalam QS Al-An’am 32: Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka . Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?

Jadi, tidak pada tempatnya manusia terlalu fokus pada hal duniawi, menjadi sakit, terluka, bahkan mati karena urusan dunia yang sia-sia. Sementara kita diajari untuk menyerahkan semua masalah dan kesulitan pada Allah Swt, khususnya bila sedang menghadapi musibah.

Aku Mencontreng!

Posted in Sharing with tags on April 14, 2009 by hzulkarnain

 

bukticontreng1Pesta demokrasi telah berlangsung. Hari H: 9 April 2009. Quick count yang ditayangkan oleh beberapa televisi swasta juga sudah selesai. Sekarang, hasil resmi dari KPU yang sedang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Di tengah berbagai keterbatasan dan carut marut aturan main oleh KPU, sungguh menakjubkan secara umum Pemilu berlangsung dengan baik. Catatan KPU menunjukkan bahwa jumlah pemilih mencapai bilangan 170 juta orang lebih – dan kalau 60% saja yang mau mencontreng, angka pemilih di kisaran 110 juta sudah bagus sekali.

Ketika berada di lokasi TPS, yang terlihat adalah wajah-wajah warga yang ingin tahu, penasaran, dan mungkin sebagian agak cemas. Di luar area tunggu TPS terdapat papan besar berisi daftar nama caleg tiap partai (tapi tidak semua partai punya caleg), lengkap dengan asal daerah dan alamat. Tidak ada antrean panjang, hanya barisan tunggu biasa. Saya sendiri hanya berada di lokasi TPS sekitar 50 menit (sejak datang sampai siap pulang). TPS tempat saya mencontreng sederhana sekali, yaitu gedung sekolah dasar negeri.

Panitia memberikan 4 buah surat suara yang terlipat rapih. Di dalam bilik suara, yang berupa sekat setengah badan dari bahan metal (mungkin aluminium), hal pertama yang saya lakukan – sesuai dengan pesan panitia – adalah memeriksa surat suara. Jangan sampai memperoleh surat suara yang rusak atau sobek. Nah, perpaduan antara besarnya surat suara dan bilik pencontrengan yang sempit menimbulkan kesan baru: sumpek. Untungnya, karena partai pilihan saya terletak di tepian, tidak terlalu susah saat mencontreng. Bagaimana kalau pilihan warga ada di tengah, ya tentu saja akan cukup sulit!

Saat membuka lembar surat suara yang selebar koran, saya baru sadar bahwa nama caleg di bawah lambang partai tidak disertai dengan asal daerahnya. Jadi, hanya berdasarkan ingatan saja pada daftar nama caleg di luar bilik pencontrengan, saya menentukan nama yang saya contreng. Demikian pula dengan anggota DPD, yang hanya mencantumkan foto dan nama saja, tanpa daerah asal. Jujur saja, Pemilu kita masih identik dengan pembelian kucing dalam karung ….

Petang hingga malam hari, mulailah quick count memberikan kejutan baru dengan tampilnya Partai Demokrat sebagai pendulang suara terbesar. Sejak sore, posisi 20%-an terus bertahan. Gerindra yang saya prediksikan membuat kejutan, ternyata tidak sefenomenal Partai Demokrat dalam Pemilu 2004. Sebagai partai baru, langsung masuk dalam jajaran 10 besar bersama dengan Hanura sebenarnya sudah cukup bagus, tapi belanja promosi Gerindra tampaknya jauh lebih besar dibandingkan dengan Hanura. Yang terancam tidak masuk dalam parlemen adalah partai-partai berbasis agama seperti PBB dan PDS.

Dari berbagai komentar di koran yang terbit esok paginya, tampak ketidak puasan dari elit politik yang cukup terpukul dengan rendahnya suara yang mereka peroleh. Mereka tidak paham, bagaimana mungkin pemerintahan yang “begini-begini saja” bisa memperoleh kepercayaan rakyat sedemikian besar. Yang lain berusaha mengungkit-ungkit ketidak sempurnaan proses Pemilu, yang sebenarnya sudah bisa diprediksikan sejak tidak kelar-kelarnya dalam proses di DPR.

Jurus lain yang lebih nyata segera dilontarkan oleh beberapa partai yang memang dikenal akrab dengan PD, seperti Golkar, PKS, dan PAN untuk memantapkan koalisi dalam parlemen. Hal ini, tentu saja, untuk mengantisipasi upaya koalisi partai PDI Perjuangan yang juga sudah mulai manuver dengan Hanura dan Gerindra. Bila koalisi Partai Demokrat ditujukan untuk mencapai mayoritas parlemen, tampaknya koalisi PDI-P masih dalam rangka mencapai persyaratan minimum yang solid jumlah prosentase di parlemen untuk pengusulan calon presiden.

Seperti yang sudah saya tuliskan dalam catatan sebelumnya, Indonesia harus tetap bersyukur dengan segala bentuk proses yang sedang berlangsung. Dalam segala konflik dan carut marut proses pemilihan umum, kita tetap rekat sebagai sebuah bangsa. Tak ada yang menyangkal bahwa elit politik selalu dituding sebagai orang dengan lidah bercabang, namun demikian jelas bahwa perhatian mereka pada rakyat masih sangat besar. Bandingkan saja dengan kondisi pemerintahan Thailand yang seperti tak putus dilanda konflik. Bagaimana pula ceritanya, seorang mantan perdana menteri yang dilengserkan karena korupsi bisa menggalang massa untuk melakukan kudeta balasan. Thaksin tidak menggunakan pengaruhnya pada massa untuk membangun bangsanya, melainkan sebagai alat untuk kembali melenggang ke tampuk kekuasaan lagi.

Seharusnya, berbagai elit politik berani mengakui bahwa pemerintahan yang berkuasa saat ini memiliki program kerja yang bagus – menyeimbangkan ekonomi makro dan mikro. Dalam guncangan resesi dunia, Indonesia masih mampu bertahan karena keseimbangan ini. Benar rakyat sengsara, tapi bukan hanya rakyat Indonesia saja. Akan tetapi, rakyat tidak dalam posisi tidak berdaya. Mereka masih selalu punya harapan untuk bangkit, dan optimisme untuk menjadi lebih baik esok hari. Saya pribadi masih sangat yakin bahwa, duet SBY – JK selalu punya gagasan untuk menemukan solusi dan terobosan pada tiap persoalan yang dihadapi bangsa ini.

Menyoroti kelemahan program kerja pemerintah saja – tanpa mengakui keberhasilannya – tampaknya sudah bukan langkah yang tepat lagi. Ternyata, rakyat Indonesia sudah memiliki pola pikir yang lebih kritis, berani melihat fakta daripada sekedar janji dan celaan. Bila Megawati atau Prabowo ingin naik ke kursi RI-1, tahun ini atau 5 tahun lagi, mereka harus menemukan formula yang lebih tepat untuk membangun kepercayaan rakyat, agar rakyat yakin bahwa mereka adalah figur yang tepat dalam membangun bangsa.

Pemilu 2009

Posted in Sharing with tags on April 8, 2009 by hzulkarnain

 

tactical and political move ...

tactical and political move ...

Tak terasa, sudah 5 tahun berselang sejak pemilihan umum legislatif terakhir dilaksanakan di bumi tercinta ini. Tanggal 9 April 2009 besok, Indonesia akan kembali merayakan demokrasi dengan caranya sendiri – dan keberhasilannya akan mengukuhkan bangsa ini sebagai negara demokrasi terbesar ke-3 di dunia setelah India dan Amerika Serikat. 

Saya sempat membaca pidato Presiden SBY di depan London School of Economics and Political Sciences 31 Maret 2009 yang lalu, dan tiba-tiba sebuah cermin besar terpampang di depan saya. Negara ini memang sedang dalam masa transisi, namun kita adalah bangsa dengan optimisme yang sangat besar.

Dalam kurun waktu 1998 – 2004, sebelum pemilu presiden, kita mempunyai 4 orang presiden yang masing-masing hanya berumur sekitar 1.5 tahun. Ekonomi tidak stabil dan situasi politik suram, hingga seorang foreign affair columnist AS dan pemenang Pullitzer Thomas Friedman sempat menyebut Indonesia sebagai: “messy state … too large to fail, too messy to work.” Di sisi lain, justru Menlu AS Collin Powell menaruh optimisme dengan menganggap Indonesia sebagai “the most misunderstood country in the world“. 

Setelah bencana tsunami Indonesia pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di level 6%, di akhir tahun ini pun – ketika perekenomian dunia sedang lesu – diperkirakan level pertumbuhan ekonomi masih berada pada 4.5%. Setelah Timor Timur lepas, bangsa ini juga terancam perpecahan di ujung Barat dan Timur. Namun, dengan cara yang cukup menakjubkan, konflik di Aceh bisa terselesaikan secara elegan. Di Timur, dengan pemekaran menjadi dua propinsi, Papua sekarang lebih terkendali. 

Bangsa ini berbentuk negara kesatuan, dan sejauh ini tidak ada tawar menawar tentang hal tersebut. Ide bentuk negara federal seperti yang digagas beberapa tokoh (seperti Amin Rais) dikesampingkan, karena kita juga harus paham bahwa tidak semua propinsi mempunyai kekuatan merata dan pemerintah pusat masih perlu campur tangan. Otonomi daerah tampaknya menjadi solusi yang jauh lebih masuk akal. Sekarang ini, buah dari otoda adalah terbentuknya pemerintahan daerah dan parlemen tingkat I dan II yang murni merupakan bentukan tiap-tiap daerah. Semua aset terbaik daerah bergegas pulang untuk membangun daerah masing-masing – dan memang itulah harapan kita semua. 

Besok TPS dibuka dan mengharapkan kehadiran para pemilih yang sudah terdaftar untuk datang ke sana. Ada pesimisme, karena rasanya kurang sosialisasi. Terlalu banyak partai sehingga kertas suara terlalu lebar. KPU yang belum mampu bekerja secara profesional. Caleg yang tidak dikenal konstituennya sendiri. Dan … swing voters (suara mengambang) yang belum menetapkan pilihan dan berpotensi besar untuk tidak memilih. Banyak yang justru sudah mempersiapkan diri berlibur ke luar kota, karena kapan lagi ada libur berturut-turut seperti ini? (anggap saja Sabtu libur atau harpitnas).

Akan tetapi, optimisme selalu ada. Masih banyak yang menginginkan hasil terbaik untuk bangsa ini. Pesta demokrasi besok adalah sebuah langkah menuju Indonesia yang lebih baik. Kalaupun banyak kekurangan, itu wajar karena semua harus melalui proses – dan tugas kita yang hidup di masa ini adalah menjaga proses tersebut berjalan ke arah yang benar. Kalaupun kita tidak lagi hidup tatkala bangsa dan negara ini sudah menjadi negara demokrasi yang kokoh, it’s okey … setidaknya kita bisa bangga telah mengawalnya. Biarlah kita yang menanam biji mangga itu, dan semoga anak cucu kita selalu bersukur setiap menikmati buahnya yang ranum.

Waktu untuk Anak

Posted in Kontemplasi, Psikologi with tags on April 7, 2009 by hzulkarnain

Anak-anak yang lucu, permata hidup kita ...

Anak-anak yang lucu, permata hidup kita ...

Pada suatu saat, seorang teman – wanita – menuliskan statusnya pada Facebook, yang intinya: … bagaimana cara meluangkan waktu lebih banyak untuk anak?

Jelas sekali terbaca keprihatinannya tentang waktu yang dirasakannya kurang bagi anak. Sebuah pernyataan yang sepintas bukan hal yang kompleks – bagi kebanyakan wanita. Sesibuk apa sih, kok tidak punya waktu luang untuk anak?

Sejak kuliah, saya bisa menyebutnya sebagai super girl. Gadis yang tidak bisa diam, dan hari-harinya selalu dipenuhi dengan berbagai macam kesibukan. Selain berotak encer, berwajah cantik, juga sangat energik. Dalam semua kesibukan di dalam dan di luar kampus, dia masih bisa selesai dengan IPK di atas 3,5.

Saya tidak begitu banyak dengar tentang dirinya setelah kuliah, tapi saya tahu dia menikah dan sekolah lagi ke Australia bersama dengan suaminya untuk memperoleh gelar master. Setelah sekian lama, saya bertemu lagi dengan dia dan suaminya dalam sebuah pesta pernikahan teman.

Kesibukannya tetap luar biasa. Sepertinya tidak boleh ada waktu luang yang disia-disiakan. Dari seorang supergirl – ketika masih kuliah – teman saya itu telah berubah menjadi seorang wonder woman. Dengan energi yang sama, kecerdasan yang tidak pernah luntur, dan kecantikan wanita matang yang menawan. Saya bahkan berpikir, mungkin ia bisa rileks justru ketika banyak yang harus dikerjakan.

Dengan pola yang khas, anak-anaknya sudah pasti harus berangkat dan pulang dengan sopir. Mungkin saat bertemu dengan orang tua adalah setelah matahari terbenam, itu pun hanya beberapa jam saja sebelum semua harus berangkat tidur. Mungkin waktu yang optimal adalah Sabtu dan Minggu – itupun kalau tidak ada pertemuan sosial dan keagamaan yang membutuhkan kehadiran teman saya itu. Sebagai seorang Nasrani yang taat, ia juga menjadi bagian dari komunitas tertentu, dan tentu saja dengan posisinya ia dan suaminya adalah anggota komunitas yang terpandang. Jadi, semakin sempitlah waktu untuk anak-anak yang manis dan cerdas itu.

Mungkin pertanyaan saya untuknya adalah: Orang tak perlu ragu dia adalah seorang wonder woman, tapi apakah sudah cukup sebagai seorang SuperMom?

Jawaban saya pada status Facebook teman saya tersebut adalah memberikan sebuah filosofi yang saya yakini: tujuan dan pengorbanan adalah dua sisi dalam sekeping mata uang. Tanpa pengorbanan, tak mungkin orang mencapai tujuan. Besarnya pengorbanan, tergantung berapa besar tujuan yang ingin dicapai. Tanpa pengorbanan, jangan harap sebuah tujuan bisa dicapai.

Dari semua permata di dunia, anak adalah permata yang terhebat – karena kilaunya membuat bangga, dan suramnya membawa kepedihan. Anak bisa membuat orang tua menyesal seumur hidup, namun sebaliknya bisa membuat orang tua mati dalam senyuman. Semuanya tergantung pada cara anak bertumbuh dan menjadi individu yang terbaik.
Rupanya teman saya itu memahaminya, karena kami tumbuh bersama dalam budaya psikologi. Di sisi lain, saya bisa berempati pada dilema yang dihadapinya sekarang. Letting go of something bukan hal yang mudah, apalagi bila hal itu sudah menjadi bagian dari kehidupan. Di sisi lain, ia kian menyadari bahwa kualitas pertemuan tidak pernah cukup – sebab kuantitas juga merupakan kondisi yang penting. Omong kosong bila ada orang tua berani berkata bahwa yang terpenting adalah kualitas pertemuan dengan anak – bukan kuantitas. Itu hanyalah dalih dari ketidak mampuan orang tua untuk menomor satukan anak.

Sebagai individu yang berkembang dan menumbuhkan banyak kompetensi di dalam dirinya, seorang anak akan mencapai tahapan perkembangan secara alami. Pada masanya, ia lebih mementingkan teman dan kelompok. Kemudian, seiring dengan pubertas, anak mencoba bereksplorasi dan bereksperimentasi. Energi dan curiousity pada berbagai hal baru pecah di usia remaja ini – termasuk eksplorasi dan eksperimentasi dalam seksualitas. Tanpa disadari, anak akan meninggalkan orang tua – karena mereka harus memiliki dunia sendiri dan keluarga yang mandiri.
Seberapa kenal kita pada anak-anak kita sendiri?

Setiap orang tua akan senang bila setiap hari mendengarkan cerita dan kabar yang bagus dari anak. Ia berkisah tentang teman yang suportif, prestasi yang cemerlang, guru-guru yang baik, dan kehidupan lain yang menyenangkan. Angka rapor yang baik memperkuat asumsi bahwa anak itu unggul dan manis.
Apa reaksi kita bila ada informasi bahwa anak kita – yang manis dan pintar itu – ternyata mulai suka nonton BF di rumah temannya, dan dalam ujian suka mencontek?
Resistensi atau penolakan sudah pasti menjadi reaksi pertama, karena mana ada orang tua yang mau percaya anaknya tidak berkelakuan baik?
Orang tua pada umumnya berasumsi telah memberikan segalanya pada anak, sehingga meyakini anak akan membalasnya dengan kebaikan. Bila orang tua adalah orang terpandang, dan sudah menerapkan semua standar dan norma yang – menurut orang tua – terbaik, anak dipastikan akan menjadi baik. Orang tua yang berpendidikan tinggi, terpandang di masyarakat, akan menghasilkan anak dengan kualitas serupa. Well … bisa benar, bisa tidak.

Pada kenyataannya adalah – kalau orang tua hanya atau kebanyakan mendengar anak bicara tentang sisi positifnya saja, dan tidak pernah menceritakan tentang sisi negatif dirinya, berarti ada sesuatu yang salah. Bagaimana pun, anak tetap anak, remaja tetap remaja. Mereka selalu punya dua sisi dalam diri mereka: baik – nakal, gembira – sedih, suka – duka, dan sebagainya. Kalau orang tua hanya bisa menangkap satu sisi saja (dalam banyak kesempatan), orang tua perlu introspeksi diri. Mungkin ada sesuatu yang salah.

Kita sebagai orang tua yang lebih matang dalam menempuh kehidupan saja selalu membutuhkan orang untuk berbagi kesedihan, keluhan, frustrasi kemarahan, dan sejenisnya. Ketika bahagia karena prestasi, kita menginginkan reward agar terpacu untuk lebih baik. Saat sedih, kita membutuhkan tempat untuk berbagi, pelukan yang menenangkan, bahu untuk menangis … dan semacamnya.

Tapi … apa yang biasanya kita lakukan bila anak datang dari sekolah dengan wajah cerah dan berkata: Bu, ulangan bahasa Indonesiaku dapat 93 …. adakah sebuah kata selamat sempat terlontar dari sang Ibu yang sedang memasak? Atau sekedar pelukan agar anak gembira? Anak membutuhkan sambutan (sekurangnya), tapi orang tua biasanya menganggap hal itu sebagai kewajaran dan kewajiban.

Apa yang terjadi ketika anak menyambut kedatangan Ayah atau Ibu di sore hari – dengan tubuh yang letih – dengan berita bahwa ulangan matematikanya jeblok … dapat 54? Omelan, cercaan, atau senyuman dan pelukan? Anak membutuhkan penenang kegalauan seperti elusan dan pelukan, tapi orang tua umumnya justru menimpali dengan omelan – seolah-olah dunia akan kiamat besok.

Kekeliruan orang tua dalam merespon aktivitas dan ucapan anak bisa menyebabkan terputusnya komunikasi – sehingga mungkin sekali anak akan menarik diri. Ia hanya akan menyampaikan segala hal yang tidak membuat orang tua lebih marah dan lebih membuatnya merasa tidak berharga. Karena tidak mungkin semua beban batin dan emosi negatif disimpan, ia akan mencari pemecahannya sendiri tanpa orang tua. Hukum alam sudah menjelaskan bahwa adanya sumbatan bisa memicu dua kemungkinan: jebolnya sumbatan dengan paksa, atau material yang tersumbat mencari saluran keluar yang lain.

Kalau anak lebih suka mencurahkan perasaan dan beban batinnya pada diary-nya, sebenarnya orang tua harus mulai berintrospeksi. Karena, anak lebih percaya pada diary yang tidak memberikan respon, daripada kepada orang tua yang akan merespon negatif. Anak usia SMP yang mulai pacaran, mungkin alami dan trendy, namun sebenarnya tidak wajar. Seharusnya, anak itu lebih berfokus pada studi, pembebasan energi secara fisik dalam aktivitas sosial, dan pelepasan emosi kepada orang tua (bukan kepada sang pacar). Keterlibatan anak dalam kelompok yang menunjukkan perilaku delinkuen seperti merokok dan berkelahi, juga mengindikasikan adanya sesuatu yang keliru.

Bila orang tua hanya punya kualitas pertemuan dengan anak, pertanyaannya adalah: seberapa banyak emosi yang bisa ditumpahkan pada orang tua – khususnya Ibu? Sementara sentuhan tangan sang Ibu mungkin sangat diperlukan oleh anak, setiap kali dia mengalami kesulitan dan masalah – yang mungkin terlalu lama bila harus menunggu sang Ibu pulang nanti malam. Bahkan dengan kehadiran seorang Ibu secara fisik, anak bisa merasakan ketenteraman, dan rasa sakit yang dialami bisa reda dengan sendirinya.

Menyaksikan anak berkembang dan tumbuh, dan menjadi bagian dari semua kesulitan mereka sebenanrya adalah tugas orang tua. Anak-anak akan bangga pada orang tuanya, itu adalah hal yang wajar, dan itu perlu dipupuk agar anak menjadikan orang tua mereka sebagai referensi semua tindakan mereka. Untuk itu, orang tua perlu selalu mengenal anak-anak mereka, dan memberikan nasihat sesuai dengan karakter anak. Ingat, karakter anak memuat kepingan dari budaya yang berkembang di masanya.

Menjadi seorang SuperMom bukan sekedar manajemen rumah tangga: menyiapkan masakan untuk keluarga, pakaian yang selalu bersih, rumah yang terawat – karena hal itu bisa dikerjakan PRT. Yang lebih penting adalah menyediakan diri secara fisik dan mental untuk anak, agar bisa menjadi bagian dari perkembangan permata terindah itu.

Saya tetap meyakini bahwa, mengasuh anak ibaratnya memegang seekor anak burung. Terlalu kendor dia akan lepas, terlalu erat dia akan mati.