Archive for the Biografi Category

Justin Bieber?

Posted in Biografi, Kisah with tags , , on May 29, 2010 by hzulkarnain

Herdian Zulkarnain

Anak saya yang belum lama genap 12 tahun dengan excited mengabarkan bahwa bintang tamu American Idol result show menjelang pengumuman kontestan yang akan masuk finale di tv kabel Star World adalah Justin Bieber. Beberapa hari sebelumnya, waktu dia mengeluh soal pulsa pada Ibunya, dia bilang harus menabung untuk beli CD Justin Bieber. Nama itu pun beberapa kali terdengar di antara ABG seumur akhir SD atau awal SMP.

Bayangan saya, Justin Bieber ini adalah pemuda akhir belasan atau awal dua puluhan seperti saat Justin Timberlake muncul, handsome, flamboyan, dan atletis khas American boy, dengan penampilan panggung yang meruntuhkan hati gadis-gadis. Jadi, ketika Ryan Seacrest mengumumkan nama Justin Bieber, saya menyiapkan diri untuk melihat a new Justin Timberlake. Tapi … jelas saya terperangah!

Justin Bieber @ Time Magazine

Justin Bieber ternyata tidak seperti Timberlake, bahkan tidak seperti bayangan saya tentang seorang superstar yang dipuja gadis-gadis ABG. Seorang bocah laki-laki bertubuh sedang, bahkan tergolong kecil saat saya tahu umurnya sudah 16 tahun, dengan rambut lebat pirang kecoklatan menutup dahi, bernyanyi dengan sederhana, dan menurut saya tidak waww… Wajahnya yang baby-face manis, imut, dan likeable, tapi petang itu di panggung American Idol kelihatan agak tegang. Yang menarik di penampilan kedua adalah saat ending lagu, dia mengambil alih drum dan membuat closing yang menawan.

Pikiran saya, dia adalah bintang di film-film remaja seperti Miley Cyrus, mantan model anak-anak, mungkin keluarga bintang, atau kondisi lain yang memberikan keuntungan Bieber sejak awal.

Di majalan Time edisi pertengahan Mei, ternyata ada feature tentang si Justin Bieber ini (dan saya baru tertarik membacanya saat dia muncul di panggung American Idol result show). Bieber ternyata bukan produk reality show atau talent show seperti American Idol, bukan mantan model anak-anak, bahkan tidak pernah ikut audisi komersial apapun. Pendek kata, Justin Bieber awalnya bukan siapa-siapa bagi warga Canada, apalagi Amerika. Tapi, Justin Bieber punya seorang ibu (Pattie Mallette) yang single parent, yang bangga dengan bakat anaknya itu. Mereka tinggal di kota Stratford Ontario, Canada.

Mallette punya kebiasaan mem-posting video Bieber di You Tube untuk disaksikan para kerabat yang tidak berkesempatan menontonnya secara langsung saat ia tampil di panggung talent show lokal, atau sedang menyanyi di rumah. Bieber bisa menyanyikan pop dan R&B dengan baik, lagu-lagu Alicia Keys, Stevie Wonder, dan semacamnya, dan dia bisa menyanyikannya dengan baik. Sangat baik. Tak mengherankan, dalam hitungan bulan videonya di internet telah disaksikan ribuan orang.

Kehidupan Bieber berubah di tahun 2007 itu juga, saat Scooter Braun – seorang promotor dan manajer musik di Atlanta – yang sedang browsing internet menemukan Bieber sedang menyanyikan lagu Aretha Franklin “Respect”. Dalam pikiran Braun, inilah bakat alam yang akan bersinar. Dua minggu kemudian, ia membelikan tiket bagi Bieber dan Ibunya ke Atlanta, dan menjadi manajer Bieber.

Tampaknya, Braun menyukai potensi internet dan menjadikannya basis utama membangun fans. Bieber mem-posting lagu baru, lalu menunggu reaksi dan pesan dari fans dan berinteraksi dengan mereka. Bieber memperlakukan mereka dengan bersahaja seperti teman biasa, mudah dikonta

idola ABG

, dan menyapa fans dengan masing-masing nama. Twitter follower-nya mencapai 2.2 juta, dan ia terbiasa me re-tweet mereka.

Sebagai penulis lagu (ini rupanya bakat istimewa yang tidak banyak dimiliki penyanyi muda), Bieber mempunya dua kekhususan: lagu balada lembut tentang perceraian orang tuanya, dan semacam cinta monyet bergairah yang biasa dialami remaja – dan bisa ditilik dari judul-judul lagunya: “U Smile”, “First Dance”, “One Less Lonely Girl”.

Justin Bieber merupakan satu-satunya artis yang punya 4 lagu hit tanpa pernah me-release album sebelumnya. Lagunya “My World” ditonton oleh 50 juta pelanggan You Tube dan salah satu yang paling banyak didiskusikan. Konsernya kemana-mana, dan fans-nya adalah gadis-gadis ABG yang menganggap kesederhanaan dan wajahnya yang manis berbeda dengan kebanyakan artis. Seorang gadis penggemar bernama Alicia Isaacson (13) dari Long Island berkomentar, “He’s so sweet. He’s not like every other guy who is just like, ‘Ugh, whatever.” Muncullah istilah baru di kalangan penggemarnya: ‘Bieber Fever’ atau ‘Biebermania’.

Justin Timberlake ingin berduet dengannya, demikian pula Usher. Kata Usher,”Dia menyanyi dan bermain gitar untukku, dan aku seperti … wow … anak ini bahkan punya bakat melebihi aku di usianya.” Bintang R&B ini pun segera melakukan kerja sama bisnis dengan Braun (manajer Bieber), yakni kontrak yang segera direalisasi dengan Def Jam Record.

Justin Bieber & Usher

Di luar panggung yang riuh, Bieber mengaku, “I am really tired. Right now, my schedule is just go,go,go. Sometimes I just wan to sleep.” Bahkan sore itu latihan hanya dilakuakn setengah karena sudah tidak mempunyai energi lagi. Akan tetapi, begitu di panggung lagi, tanda-tanda keletihan itu hilang, dan dia menguasai panggung dengan bertenaga. Lagi-lagi,di menit-menit awal hanya suara teriakan penggemar yang memenuhi ruangan.

Justin Bieber adalah fenomena baru bisnis musik di Amerika, dan tampaknya tidak akan mengherankan bila akan banyak orang yang mencoba mencari peruntungan dengan mengunggah video mereka di You Tube.

Ternyata You Tube dan website video lain bisa sangat positif bila tak disalah gunakan untuk penyebaran pornografi. Sebuah era baru dalam mempromosikan talenta personal …. dan dunia ini memang tidak lagi bulat (the world is flat) …. nice!

GUS DUR dalam Majalah TIME

Posted in Biografi, Sharing with tags , on January 19, 2010 by hzulkarnain

Wolfowitz, mantan Dubes AS di Indonesia

Majalah Time edisi 18 Januari 2010 menyelipkan sebuah artikel pendek tulisan Paul Wolfowitz tentang Gus Dur yang dikenal dan dikenangnya. Paul Wolfowitz dulu pernah menjabat sebagai duta besar Amerika Serikat di Indonesia, dan lancar berbahasa Indonesia.

Wolfowitz mengisahkan bagaimana ribuan orang berjajar di jalan untuk berbela sungkawa atas meninggalnya Gus Dur, bahkan banyak yang terang-terangan menangis.

Di matanya, Gus Dur bukanlah seorang manajer, sehingga dia harus lengser dari kursi kepresidenan karena desakan parlemen. Tetapi Gus Dur adalah seorang visioner, dan sebagai Presiden beliau menanamkan sebauh visi tentang Indonesia (yang merupakan negara berpopulasi terbanyak ke-4 di dunia dan berpenduduk Muslim terbesar) yang menjunjung kebebasan beragaman dan hak asasi manusia.

Yang lebih penting lagi, sebagai pimpinan spiritual yang berasal dari NU, Gus Dur selalu melawan para fanatik yang dikatakan Gus Dur “membawa Islam menjadi sebuah dogma yang tidak toleran, penuh kebencian, dan pertumpahan darah.” Gus Dur mampu mengutip Al-Qur’an dengan hati untuk membela hak semua orang untuk mengikuti hati mereka dalam urusan agama, dan secara konstan bersuara atas nama kelompok minoritas yang teraniaya sekalipun hal itu mengancam popularitasnya.

Gus Dur mengatakan ingin nisannya nanti bertuliskan: DI SINI DIMAKAMKAN SEORANG HUMANIS. Dan memang begitulah dia. Dia dicintai jutaan orang, baik Muslim maupun non-Muslim. Dia adalah seorang pemimpin yang akan dikenang oleh dunia ini.

Gus Dur yang Kukenang-2

Posted in Biografi, Sharing with tags , on January 4, 2010 by hzulkarnain

Satu dekade sebelum reformasi bergulir, nama Gus Dur mulai dikenal sebagai sosok muda NU yang fenomenal – membalikkan kesan uzur dan kolot organisasi massa di Indonesia ini. Sejalan dengan kembalinya NU ke khittah 1926, yang berarti NU tidak lagi berkiprah di dunia politik, langkah kuda Gus Dur di level akar rumput tidak terbelenggu lagi.

Di antara teman dan orang yang mengenalnya, Gus Dur adalah humoris. Bahkan Jaya Suprana menyebutnya jenius dalam humor dan joke. Menciptakan sebuah guyonan saja sudah sulit, apalagi bila banyak sekali dan kontekstual dengan jaman. Jaya Suprana mengibaratkan dengan seniman musik yang pandai menciptakan lagu atau melodi yang indah, pematung menciptakan patung dengan mudah, Gus Dur adalah seniman yang khusus menciptakan kesegaran humor dengan joke-joke yang cerdas.

Dalam sebuah guyonannya, Gus Dur pernah berceloteh:

“Kalau ada orang yang ngurusi NU sampai jam 6 sore, namanya suka NU. Kalau sampai jam 12 malam masih ngurusi NU, namanya gila NU. Lha, kalau setelah jam 12 malam masih ngurusi NU juga … namanya NU gila!”

Mungkin Gus Dur memang NU gila, karena darah ajaran NU berurat akar dan mengalir di pembuluh darahnya. Dengan berpijak pula pada segala kitab ulama yang diajarkan di seputaran Timur Tengah selama berabad-abad dan pemikiran cendekiawan non-Islam yang dibacanya di perpustakaan Kairo dan Baghdad, pola pemikiran Gus Dur sangat pluralis.

Kaum Islam konservatif seringkali tidak suka dengan cara bicara dan logika Gus Dur yang plural, dan seolah-olah meremehkan Al-Qur’an. Dalam sebuah milis yang pernah saya ikuti, dan akhirnya harus saya tinggalkan, pluralitas pemikiran Gus Dur dan tokoh-tokoh intelektual seperti Nurcholish Madjid, tidak mendapatkan tempat untuk berkembang karena kelompok ini sangat mementingkan bentuk daripada esensi.

Ketika Gus Dur mengatakan … Tuhan tidak perlu dibela! Ada orang yang marah. Padahal memang sebenarnya siapa sih kita yang menganggap layak untuk membela Tuhan – yang sama dengan hendak mengatakan bahwa Tuhan tidak maha perkasa dan berkuasa. Sebenarnya, Gus Dur hendak mengatakan bahwa ada urusan yang memang harus diurusi manusia, dan ada urusan yang merupakan hak prerogatif Allah yang selayaknya tidak diurusi manusia.

Dalam sebuah wawancara, Dorce yang belum lama berganti kelamin menanyakan perihalnya kepada Gus Dur – karena memang banyak kontroversi di sekitar perubahan jenis kelamin ini. Dorce bercerita, Gus Dur hanya bertanya:

Apa sampeyan nyaman dengan kondisi sekarang?(Dorce meng-iyakan), dan Gus Dur melanjutkan, jalankan saja kehidupan dengan baik. Biarlah yang lain terserah penilaian Allah.

Dengan bertindak dan berpikir sebagai manusia, kemudian memanusiakan manusia lainnya, serta tidak bertindak sendiri atas nama Tuhan, manusia telah menjadi dirinya sendiri. Nasihat utamanya kepada Yenny Wahid saat pernikahan pun serupa, yaitu pesan untuk menjunjung tinggi kemanusiaan, dengan cara memanusiakan manusia lain. Hak asasi manusia, kemanusiaan, dan persamaan derajat adalah ciri khas Gus Dur, yang ditinggikan oleh sementara kalangan, dihormati oleh banyak tokoh, namun justru mendudukkan dirinya setara dengan orang biasa.

Egaliter, perasaan dan kedudukan yang setara dan sederajat, itulah kesan orang pada Gus Dur. Siapapun dia, tidak perduli pangkat dan jabatannya, dianggapnya sama dan setara. Penghormatan yang perlu dilakukan hanya karena seseorang lebih tua atau lebih berilmu saja. Oleh karena itu, Gus Dur tidak pernah rikuh duduk bersama dengan rakyat biasa, bahkan konon sering menginap di rumah teman lamanya yang jauh dari kemewahan. Tidak mengherankan, rakyat biasa mengidolakan dirinya, karena menganggapnya sosok biasa yang bersinar di kalangan elite.

Ketika terjadi ketidak adilan, kemudian ada proses marginalisasi seseorang atau sekelompok orang, Gus Dur akan berdiri di depan. Kasus Inul yang dihadang pedangdut senior lainnya, Dorce yang berseberangan dengan sementara ulama, Konghucu yang tidak dianggap agama, masalah orang Papua yang tidak pernah selesai, semua menjadi agenda aktivitas Gus Dur.

Tak mengherankan, saat menjabat Presiden, ada 2 agenda yang langsung diselesaikannya: mencabut aturan yang membatasi aktivitas sosial budaya dan keagamaan kaum Tionghoa, dan memulai langkah rekonsiliasi dengan rakyat Papua. Irian Jaya dihapus, diubah menjadi Papua. Papua juga memperoleh status otonomi khusus, sekalipun banyak tantangan dalam mewujudkannya.

Sebenarnya, tidaklah berlebihan bila ada yang beranggapan bahwa Gus Dur adalah sosok langka yang sulit digantikan. Bahkan di antara saudara dan kerabatnya tidak ada yang cukup pantas sebagai penggantinya. Tak berlebihan pula orang menasbihkannya sebagai guru bangsa, karena pluralitas berpikirnya sejalan dengan nuansa merah-putih bangsa ini. Bangsa ini besar dan kaya ragam, sehingga membutuhkan ulama Islam yang pluralis, dan mampu mendudukan manusia yang beragam tersebut setara.

Semoga kepergian Gus Dur untuk selama-lamanya ini memberi tanda bahwa semua masalah tentang hak asasi manusia akan selesai, semua ketidak setaraan menemukan solusinya, kemudian orang Islam sudah mau menerima merah-putih di halamannya, serta menjadikan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Semoga….semoga …..

Gus Dur yang Kukenang

Posted in Biografi, Sharing with tags , on January 3, 2010 by hzulkarnain

Menjelang akhir tahun 2009, sekitar pukul 18.45 WIB, Gus Dur panggilan akrab KH Abdurrahman Wahid wafat di rumah sakit Cipto Mangunkusumo, di bawah pengawasan dan perawatan team dokter ahli yang menjadi bagian team dokter kepresidenan. Setelah dirawat sekitar 5 hari, sosok fenomenal itu harus tutup usia.

Sebenarnya, sejak beliau memaksa untuk berziarah ke makam kakek dan ayahnya di Jombang, saat berada di rumah sakit Graha Amerta Surabaya, ada pikiran yang terlintas – apakah Gus Dur merasa sesuatu sehingga ziarah kubur ini tidak bisa ditunda lagi.

Seperti diketahui bersama, Gus Dur jatuh sakit saat sedang dalam perjalanan safari ke Jombang untuk berziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim. Setelah dirawat sebentar di Jombang, beliau langsung dirujuk ke RS Graha Amerta yang merupakan fasilitas VIP RSUD Dr. Soetomo. Entah mengapa, Gus Dur mendesak untuk berangkat lagi ke Jombang, hingga kesehatan beliau kembali memburuk dan harus dirujuk ke RSCM sekembali ke Jakarta.

Indonesia berduka dalam arti yang sebenarnya, dan pengaruh meninggalnya beliau sangat terasa di kala orang sedang bersiap memeriahkan dan harus dirujuk ke RSCM sekembali ke Jakarta.

Indonesia berduka dalam arti yang sebenarnya, dan pengaruh meninggalnya beliau sangat terasa di kala orang sedang bersiap memeriahkan pergantian tahun baru 2010. Kepala negara menghimbau pengibaran bendera setengah tiang, yang dilaksanakan oleh segenap BUMN, instansi pemerintah, bahkan perkantoran swasta yang biasa mengibarkan bendera di halaman. Beberapa toko milik Tionghoa terlihat juga memasang bendera setengah tiang. Tentunya hal tersebut tak lepas dari simpati kaum Tionghoa pada almarhum yang memang telah mengembalikan makna budaya dan harga diri kaum Tionghoa yang dimarginalkan selama orde baru. Beberapa pesta tahun baru outdoor di Jakarta sedikit disesuaikan dengan rasa berkabung tersebut.

negarawan, pemikir, ulama, budayawan, jenius...

Gus Dur bukan orang biasa, dan tidak pernah menjadi orang biasa. Dari berbagai sumber, seperti yang ditayangkandi televisi maupun di tulis di surat kabar, Abdurrahman Addhakhil muda selalu berbeda dengan orang lain pada umumnya. Ketika santri lain sibuk dengan kitab-kitab agama, dia justru baca koran. Bila yang lain suka musik religius, justru musik barat seperti klasik dan rock yang digemarinya. Bahkan pemikiran non-Islam pun dilalapnya – karena memang kecerdasannya mampu menampungnya.

Konon, karena tidak puas dengan studi di Al-Azhar, Gus Dur yang berumur 27-an meneruskan studi ke Universitas Baghdad dengan beasiswa. Di perpustakaan Abdul Qadir Jailany di perguruan tinggi itulah dia mencerna berbagai model dan bentuk pemikiran Islam dan non-Islam. Semuanya membuatnya mampu berpikir lateral, yang bagi orang lain seperti meloncat-loncat tidak lumrah.

Sejak menjabat sebagai ketua umum PB NU, Gus Dur yang sebelumnya hanya dikenal oleh sebagian kalangan – kalangan pesantren NU, melalui tulisannya di media massa, dan budayawan – merambah ke jagat politik, dan mulai dikenal oleh berbagai kalangan. Konon perluasan bidang ini lebih banyak didorong oleh kerabatnya, seperti kakek dari pihak ibu KH Bisri Syamsuri. Dengan kendaraan yang disegani, Gus Dur menjadi figur yang sangat diperhitungkan. Orang tentunya masih ingat, Gus Dur lah orangnya yang menjadi motor kembalinya NU ke khittah awal saat didirikan – dan mencabut diri dari perpolitikan praktis. Pertengahan tahun 80-an, NU keluar dari PPP karena harus memposisikan diri sebagai lembaga sosial kemasyarakatan.

Di awal 90-an hingga akhir masa orde baru, nama Gus Dur sangat difavoritkan oleh sementara kalangan, karena dialah figur alternatif yang menjadi simbol Islam moderat. Sebagian orang sudah eneg dengan orde baru dan kekuasaannya yang menakutkan, tetapi untuk berpindah ke Megawati juga belum sreg – karena sebagian orang tahu bahwa banyak juga kepentingan yang bermain di sekelilingnya. Lagi pula, nama PDI tidak pernah lepas dari keberingasan massa-nya.

Di luar panggung politik, Gus Dur adalah icon demokrasi dan pelindung kaum marginal. Ketika kaum Tionghoa dianak tirikan di berbagai sendi kehidupan sosial kemasyarakatan (kecuali berdagang), Gus Dur membela mereka. Seperti saat dia membela pasangan Konghucu yang tidak boleh menikah sesuai dengan agamanya, karena agama tersebut tidak masuk dalam agama-agama yang diakui di Indonesia. Dorce yang berganti kelamin, Inul yang dikecam pedangdut lainnya, dan entah siapa lagi, merasa nyaman dengan perlindungan Gus Dur.

Orang mengatakan, kalau dalam catur Gus Dur adalah kuda – yang selalu melangkah tidak terprediksikan dengan baik. Sebagian lain menilai, Gus Dur adalah negarawan dan bapak bangsa namun tidak pernah menjadi politisi. Kata jaya Suprana, negarawan selalu memikirkan bangsa, politisi memikirkan kekuasaan. Seorang negarawan mungkin bisa bertindak sebagai politisi, tetapi politisi akan sulit menjadi negarawan – dan Gus Dur ternyata memang terlalu agung untuk melumuri diri dengan kekotoran politik.

Gus Dur – menurut saya – memang lebih cocok sebagai guru bangsa yang memberikan petuah dan pemikiran yang brilian – tidak berpolitik praktis. Tetapi Allah Swt memang mengharuskan beliau sebagai Presiden untuk sementara waktu, agar semua borok dan kepentingan yang bersembunyi di belakang kata reformasi terkuak lebar.

Saat menjadi Presiden, sejarah diukirnya dengan tegas. Gelora Senayan dinamai Gelora Bung Karno, Irian Jaya dikembalikan ke nama yang disukai oleh penduduk setempat: Papua, dan penghapusan aturan yang memberangus Tionghoa serta menjadikan Konghucu sebagai agama. Yang lebih signifikan lagi, Gus Dur telah menghapuskan dwi fungsi ABRI – yang berarti mengembalikan tentara ke barak. Polisi dilepas dari kemiliteran, agar bisa menjadi lembaga penegakan hukum sipil seperti di berbagai negara demokrasi lainnya. Semua itu tercipta dalam kurun waktu 2 tahunan masa kepemerintahannya.

Yang paling saya pelajari dari sosok Gus Dur, adalah konsistensi dan ketaatan pada sebuah azas yang diyakini. Sebagai orang Islam, Gus Dur selalu berpegang pada Qur’an dan Hadits, dan berbagai kitab ulama besar sebagai acuan. Sebagai negarawan, beliau berpegang pada konstitusi dan perundang-undangan yang berlaku. Pancasila adalah simbol dari NKRI yang harus dipertahankan. Asyiknya, Gus Dur mampu memainkan semua hal yang diyakini tersebut dengan indah, humanis, dan tidak menakutkan. Sebagai orang Islam dia moderat, sebagai negarawan semua kepentingan dicoba untuk dipahaminya, dan sebagai seorang pemimpin dia menyelami nurani orang biasa sebagai manusia yang membutuhkan bimbingan.

Seorang teman pernah berkata, yang dikaguminya dari sosok Gus Dur adalah caranya untuk menanamkan merah-putih di halaman orang Islam, dan berusaha menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin di bumi merah-putih ini.

Banyak prasangka yang berputaran di sekitar figur jenius ini, dan kecacatannya karena berbagai komplikasi penyakit membuat orang mengira dirinya sudah pikun dan tidak bisa berpikir dengan benar – ternyata semuanya keliru. Bahkan hingga September kemarin, saat diwawancara oleh Metri TV, ingatannya masih tajam. Semua kesan tentang orang yang dikenangnya tidak lekang oleh gangguan penyakit yang dideritanya. Bahkan Ibu Sinta Nuriyah menegaskan – Gus Dur adalah orang yang keras hati dan sulit diubah pendiriannya. Kalau sudah begitu, bagaimana mungkin ada orang yang bisa membisik-bisik pada beliau?

Dengan segala bintang mahaputra yang dimilikinya, dan sederet penghargaan dari manca negara, Gus Dur sudah sangat layak disebut sebagai pahlawan. Kalaupun negara tak kunjung juga memberimu gelar pahlawan Gus, yakinlah banyak di antara kami yang selalu menganggapmu pahlawan. Gitu aja kok repot ….

Gus Dur, warisanmu adalah pemikiran moderat yang humanis. Islam yang bersahabat, mengayomi minoritas, memahami perbedaan, dan kemanusiaan di atas segala tata peribadatan agama. Itu tidak akan pernah dipahami kaum Islam yang lebih mengedepankan cara daripada esensi, yang mengatakan membela Islam seolah-olah Allah bukan lah Sang Maha Kuat, Maha Pandai, dan Maha Mengasihi.

Selamat jalan Gus, semoga Allah Swt memberikanmu tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Mbah Surip, Gombloh, dan Gepeng

Posted in Biografi, Kontemplasi with tags , on August 9, 2009 by hzulkarnain

Tak gendong … kemana-mana

Tak gendong … kemana-mana ….

Enak to, mantep to ….

tak gendong ... kemana-mana

tak gendong ... kemana-mana

Lirik lagu berirama reggae ini sederhana, kedengaran kampungan, campur aduk antara bahasa Indonesia, jawa, bahkan Inggris, namun justru itu yang membuatnya dekat di hati dan disukai khalayak. Pemusik reggae di tanah air cukup banyak, namun penggemarnya captive sebagaimana lagu jazz – terbatas dan itu-itu saja. Tapi lagu Tak Gendong menembus batas usia dan kelas sosial, bahkan bisa dinyanyikan (barang sepenggal) oleh anak berusia 2 tahun yang baru belajar bicara. Di situs 4shared, semua lagunya sudah di-upload, akan tetapi ringback tone-nya mencapai rekor 8 milyar rupiah penjualan – sehingga Mbah Surip selaku pencipta memperoleh royalti hingga 4 milyar rupiah. Sungguh fantastis.

Sosok laki-laki yang bernama asli Urip Akhmad Riyanto ini juga se-eksentrik lagunya. Wajah “ndeso”-nya jelas tidak tampan, berambut gimbal dengan topi warna-warni khas Jamaika, bahkan gitar, pakaian, dan sepatunya juga berwarna ala Jamaika. Dan yang paling susah dilupakan adalah tertawanya yang lebar … Haahahaha ……

Sekarang, pelantun lagu jenaka itu telah tiada, meninggal di usia 60 tahun pada tanggal 4 Agustus 2009. Diduga, pak tua asal Mojokerto ini meninggal karena penyempitan pembuluh jantung. Ia memang kurang suka air putih, dan kabarnya penggila kopi dan rokok. Kematiannya yang medadak membuat banyak orang yang cukup berduka, karena rasanya belum cukup puas kita mendengar kelucuan-kelucuan lagu atau video klip lainnya. Mbah Surip meninggal justru ketika bintangnya sedang naik.

Di era 80-an, ada seorang penyanyi asal Jawa Timur lain yang dikenang hingga sekarang karena lagu-lagunya yang merakyat dengan lirik sederhana namun menikam sasaran: Kebyar-Kebyar, Kugadaikan Cintaku, Apel, dsb. Bahkan lagu Kebyar-Kebyar ini memberikan dorongan motivasi massa saat perjuangan reformasi. Ketika di Surabaya masih berlangsung gerak jalan tradisional Mojokerto-Surabaya untuk memperingati Hari Pahlawan, lagu Gaung Mojoketo – Surabaya sangat disukai massa.

kebyar kebyar ... pelangi jingga ....

kebyar kebyar ... pelangi jingga ....

Gombloh yang bernama asli Sujarwoto Sumarsono ini tidak tampan, malah seperti Mbah Surip – unik dan agak menggelikan. Tubuhnya kurus kering, sangat “nyantai”, selalu berhias kacamata Rayban besar, dan yang paling mencolok adalah mulutnya yang nyaris ompong. Tidak ada keglamoran pada diri Gombloh, bersahaja, hingga akhir hayatnya.

Gombloh meninggal pada usia menjelang 40 tahunan di tahun 1988, ketika lagu-lagunya baru mulai dikenal masyarakat Indonesia. Bila sebelumnya ia adalah aset Surabaya, ketika meninggal Gombloh telah dianggap sebagai bagian dari budaya musik Indonesia. Tubuh kurusnya ternyata menyimpan beberapa penyakit, namun ia tidak pernah menurunkan kuantitas konsumsi rokoknya.

Masih di era 80-an, dunia lawak Indonesia pernah diramaikan oleh seorang jenaka yang akrab dipanggil Gepeng. Nama aslinya adalah Aris Freddy, pengocok perut yang memulai debutnya di Srimulat Surabaya. Sekalipun tergolong baru, Gepeng mampu merangsek dominasi rekan-rekannya yang lebih senior di Surabaya seperti Bambang Gentolet dan Didik Mangkuprojo. Ia berangkat ke Jakarta dengan bekal kelucuannya bersama Tessy, Basuki, Tarsan, dsb.

... untung ada saya ...

... untung ada saya ...

Gepeng nyaris selalu muncul melawak sebagai orang biasa, pelayan yang bodoh atau orang yang tidak berpendidikan, berbicara seenaknya sendiri, dengan ciri khas kepiawaian dalam membolak-balik kata dalam bahasa Indonesia hingga terdengar sangat lucu. Maunya menggunakan istilah modern, tetapi karena tidak tahu artinya, akhirnya yang keluar dari mulutnya adalah serangkaian kalimat tanpa makna. Yang diingat orang akan Gepeng adalah kata-katanya: “… untung ada saya…!” dengan kenaifan yang lucu. Penggalan kata itu pula yang menjadi salah satu judul debut film layar lebarnya.

Gepeng adalah icon baru lawak Indonesia pasca lengsernya para pelawak tua seperti Bagyo cs, Ateng-Iskak, dsb. Beda dengan warga Srimulat lainnya, bintang Gepeng sangat terang. Ia bahkan pernah membintangi film layar lebar di era Warkop DKI – saat film komedi slapstick sedang booming. Sayangnya, ia harus mati muda karena digerogoti penyakit di livernya.

Kesaman dari ketiga seniman yang terkenal di masa mereka itu  adalah sama-samameninggal saat sedang berada di puncak ketenaran. Ketiganya meninggal karena penyakit dalam yang mereka derita, namun tak banyak yang tahu itu sebelum mereka tiada. Yahh … karena tugas mereka adalah berkarya dan menghibur, jadi sesakit apapun harus mereka tahan.

Kematian mereka memberikan garis bawah bagi orang yang beriman … bahwa hidup ini sangat rapuh. Kita bukanlah tuan atas kehidupan kita sendiri. Kematian tidak pernah memberikan kabar, ia datang setiap saat, dan tak memilih orang. Tak akan ia menunggu barang sedetik pun bila sudah waktunya, namun tak akan datang ia bila waktunya belum tiba.

Sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha untuk mati dengan baik … baik pada akhir atau khusnul khotimah. Mati dengan memeluk Tuhan di qolbu, di perut, di mulut, dan dalam perbuatan. Kematian dengan kalimat Allah di mulut terjamin sorga … hanya sayangnya hal itu tidak bisa dilatih. Mereka yang biasa mengumpat, hanya akan menyisakan umpatan sebagai kata akhir. Hanya mereka yang selalu menyimpan iman dan asma Allah di mulut dan qolbu saja yang bisa demikian.

Janganlah kita mati dalam keadaan tidak diridhoi Allah, tanpa iman di dada, apalagi dengan barang najis di perut…. na’udzu billahi mindzalik… karena by pass ke neraka sudah disiapkan lebar-lebar.

Ada yang jauh lebih penting daripada nama besar yang dikenang manusia … yaitu catatan amal kita  yang dicatat indah di langit….

Farewell Corazon ……

Posted in Biografi, Sharing with tags on August 4, 2009 by hzulkarnain
Jan 1933 - Aug 2009

Jan 1933 - Aug 2009

Nama Corazon Aquino – atau biasa disapa dengan Cory – tidak banyak lagi didengar oleh orang di luar negerinya, Filipina, sampai kabar kematiannya tersebar di media massa pada hari Sabtu 1 Agustus 2009 . Mau tak mau, nama itu membawa ingatan saya kembali pada awal-awal masa kuliah dulu, saat perempuan bersahaja itu naik ke kursi kepresidenan Filipina di pertengahan 80-an – pada usia sekitar 53-an. Dialah perempuan pertama yang mengukir sejarah sebagai presiden pertama di Filipina, bahkan Asia.

Catatan: Jabatan Presiden di Filipina sama dengan di Indonesia, yaitu kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Di bagian Asia yang lain, seperti Indi dan Pakistan, sudah ada perempuan yang berhasil mengukir sejarah sebagai kepala pemerintahan dalam jabatan perdana menteri. Kita ingat nama Indira Gandhi dan Benazir Bhutto.

Cory Aquino selalu meng-klaim dirinya sebagai perempuan biasa yang menjadi ibu rumah tangga. Tubuhnya yang cenderung mungil, wajah yang bersahaja tapi tegas, dan pakaian yang tidak mewah, sungguh jauh bila dibandingkan dengan sosok ibu negara saat itu yang dianggap sebagai salah satu perempuan kuat di Asia, Imelda Marcos. Imelda bukan saja cantik, tubuhnya tinggi, cerdas, dan kharisma politiknya juga kuat.

Memang sebelum kebangkitannya dalam pemilihan presiden, nama Corazon Aquino tidak pernah dikaitkan dengan politik praktis. Ia membawa nama Aquino dari suaminya, Senator Benigno Aquino Jr yang tewas di ujung peluru sniper begitu menjejakkan kaki di bandara (yang kelak diberi nama sesuai dengan namanya) sepulang dari pengasingan di Amerika Serikat (1983).

Mendiang Ninoy Aquino selalu didengungkan akan menggantikan sang diktator kuat Ferdinand Marcos, dan mungkin memang inilah langkah keliru sang orang kuat – menghabisi lawan politiknya di tanah kelahirannya sendiri. Entah memang Marcos yang memerintahkan pembunuhan Ninoy Aquino atau bukan, kematian sang Senator telah memicu kemarahan bangsa Filipina.

Cory Aquino kembali ke tanah air pertama kali sejak pengasingan untuk ritual pemakaman suaminya, yang dihadiri oleh lebih dari 2 juta orang – terbesar dalam sejarah bangsa tersebut. Sejak saat itulah, Cory selalu tampak di depan barisan aksi massa yang menyuarakan penentangan kepada diktator Ferdinand Marcos. Ia tampak sebagai icon pemersatu massa penentang Ferdinand Marcos, yang sudah berkuasa di Filipina sejak 1965.

Pada saat pemilihan presiden Filipina yang diumumkan tahun 1985, Cory Aquino bahkan tidak dengan serta merta mencalonkan diri sebagai presiden. Kaum oposan lah yang mendorongnya untuk maju, bahkan didorong pula oleh kaum bisnis yang tidak menyukai perekonomian Filipina dikuasai oleh kroni Marcos. Sebenarnya, calon yang cukup populer saat itu adalah Senator Salvador Laurel – putra mantan Presiden yang dikalahkan Marcos sekian puluh tahun silam. Akan tetapi, beberapa pihak meragukannya mampu menyatukan semua kekuatan oposisi untuk menandingi dominasi partai yang mengusung Ferdinand Marcos.

Hampir semua orang yang menjadi saksi masa kampanye Filipina saat itu meihat euforia politik bangsa, bagaimana mereka larut dalam kekuatan massa yang mendukung Cory Aquino. Simbol jarinya adalah L (ibu jari dan telunjuk – dari partai yang mengusungnya LABAN). Sementara Marcos tetap dengan simbol konservatif V (Victory). Tentu saja, Marcos tidak demikian saja menyerah. Dengan segala cara yang legal maupun kotor  ia berusaha menjatuhkan Cory Aquino (misalnya dengan membunuh sekutu-sekutu kuat Cory), namun barisan pendukung perempuan itu sangat kokoh.

Hasil pemilu bulan February 1986 menjadi kontroversi besar, karena dengan segala cara Marcos berusaha memanipulasi hasil pemilihan presiden untuk keuntungannya. Komisi pemilihan umum resmi pemerintah COMELEC (semacam KPU di sini) menyatakan bahwa Marcos adalah pemenang pemilihan – unggul sekitar 1.5 juta suara. Batasang Pambansa (semacam parlemen) yang dikuasai antek Marcos mengesahkan hasil pemilu tersebut – sekalipun ada 50 orang oposisi melakukan walk-out memprotesnya.

Hasil penghitungan suara oleh lembaga yang lebih independen NAMFREL (semacam Bawaslu di sini) menemukan hal yang berlawanan. Cory Aquino dinyatakan menang dengan selisih sekitar 800 ribu suara. Sekitar 30 orang operator IT COMELEC yang bertugas mengkompilasi suara pemilih melakukan walk-out karena mereka tidak mau menjadi kaki tangan sang diktator. Konon, walk-out-nya staf COMELEC inilah yang memicu bergeraknya protes massa terhadap hasil pemilihan.

Rakyat yang tidak puas bergerak. Mereka melakukan gerakan damai yang dikenal dengan istilah People Power. Gerakan inilah yang mengilhami kebangkitan rakyat Indonesia dalam penggulingan Suharto tahun 1998 tak pelak lagi terinspirasi oleh gerakan Cory yang santun dan damai. Bila Marcos didukung oleh perwira loyalisnya, Cory didukung oleh dua jenderal yang meletakkan jabatan pemerintahan: Juan Ponce Enrile (menteri pertahanan) dan Fidel V Ramos (wakil panglima angkatan bersenjata). Belum lagi tokoh gereja kharismatik Uskup Agung Jaime Cardinal Sin. Boikot pada sendi-sendi bisnis kroni Marcos benar-benar melumpuhkan perekonomian pendukung Marcos.

Saat yang bersejarah adalah 25 Februari 1986, saat Filipina mengangkat sumpah sang presiden terpilih. Yang unik adalah, dua presiden di lantik pada hari yang sama. Marcos dikukuhkan kembali sebagai presiden di Istana Malacanang, sementara Corazon Aquino dilantik di luar istana, di sekitar camp pergerakan massanya. Akan tetapi, pada hari itu juga, keluarga Marcos bergegas meninggalkan Filipina secara dramatis pada malam hari, sehingga otomatis Cory Aquino menjadi penguasa negeri itu.

Yang diingat orang begitu masa demonstran menguasai Malacanang adalah ditemukannya koleksi sepatu Imelda Marcos yang berjumlah ratusan (bahkan mungkin ribuan) pasang. Kemewahan sang diktator akhirnya harus runtuh di tangan seorang lawan politik yang sama sekali tidak diperhitungkannya sebelumnya.

Cory hanya menjabat satu periode masa pemerintahan, dengan segenap kesederhanaan dan integritasnya pada kemanusiaan dan keadilan. Dia menjadi lambang seorang ibu yang ideal bagi bangsa Filipina. Dicabutnya undang-undang subversi, dan dibubarkannya Batasang Pambansa, agar rakyat Filipina bisa membentuk masa depan yang lebih cerah. Di bawah administrasi pemerintahannya, Filipina memasuki era baru pasca diktator Marcos. Mungkin terjadi gejolak, namun bangsa itu telah menjelma menjadi sebuah negara demokrasi.

Bahkan di akhir masa jabatannya, Cory keluar dari Istana Malacanang hanya dengan Toyota Crown yang dibelinya sendiri. Ia tidak mau diantar Mercedez kepresidenan yang disediakan. Ia kembali ke habitatnya, bekerja untuk kemanusiaan pada berbagai yayasan. Sungguh sebuah pribadi sederhana yang mempesona dunia. Jejak kakinya mengukuhkan dirinya sebagai Ibu bangsa Filipina, hingga presiden Gloria Arroyo menetapkan 10 hari berkabung nasional. Kanker usus besar menggerogoti kesehatannya. Menurut kabar, kematiannya disebabkan kegagalan fungsi jantung dan paru (cardiopulmonary arrest)setelah berkomplikasi dengan kanker tadi.

Tanggal 1 Agustus 2009 jam 3:18 waktu setempat tercatat sebagai waktu kematian Cory Aquino. Paalam na po Cory … farewell….

TUTWURI HANDAYANI

Posted in Biografi, Sharing with tags , on May 3, 2009 by hzulkarnain

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani ….

Sebuah slogan dan motto yang telah menginspirasi gerakan pendidikan Indonesia, digagas oleh seorang ningrat dari Yogyakarta, yang seolah menanggalkan semua privilege sebagai bangsawan untuk mengabdikan kehidupannya bagi bangsa ini. Kalau nama RM Suwardi Suryaningrat tidak banyak dikenal, Ki Hajar Dewantara pasti lebih familiar di telinga orang Indonesia. Sebagai pengajar, beliau bertindak sebagaimana motto di atas: Di depan memberikan teladan, di tengah membangun motivasi, di belakang memberikan dukungan dengan segala upaya.

Beliau adalah seorang patriot sejak muda, dengan gaya perjuangannya sendiri. Tidak kenal menyerah, pemberani, dengan daya inisiatif yang mengagumkan. Tulisannya dalam koran De Expres tahun 1913 berjudul Als ik eens Nederlander was (Seandainya aku seorang Belanda) membuatnya diasingkan bersama pemilik koran tersebut yang juga sahabatnya Ernest Douwes Dekker dan sahabatnya yang lain Tjipto Mangoenkoesoemo. Tulisan yang membuat gerah kaum Belanda saat itu adalah (dikutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia): “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”.

Dalam pengasingan di Belanda inilah Suwardi Suryaningrat muda memperoleh gagasan untuk memajukan pendidikan di Indonesia, saat bergabung dengan para pelajar Indonesia di sana. Pemikiran-pemikiran pendidikan Barat serta pergerakan pendidikan India yang digerakkan oleh keluarga Tagore menginspirasinya dengan kuat. Setelah 5 – 6 tahun dalam pengasingan, Suwardi Suryaningrat kembali ke Indonesia dan mulai merintis pergerakan pendidikan dengan cara menjadi guru di sekolah binaan saudaranya. Pada tahun 1922, berbekal pengalaman mengajar, berdirilah Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Nama Ki Hajar Dewantara baru digunakannya saat berusia 40 tahun, tanpa embel-embel gelar kebangsawanan.

Nama Ki Hajar Dewantara, tak pelak lagi, menginspirasi pergerakan pendidikan di Indonesia. Sebagai menteri pengajaran, pendidikan, dan kebudayaan yang pertama. Beliau dikukuhkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia beberapa bulan setelah wafat tahun 1959.

Tahun ini, setelah sekitar 50 tahun sang pahlawan pendidikan pergi, bangsa ini masih terus bergulat untuk mencari model dan sistem pendidikan yang paling tepat. Tak dapat disangsikan, pendidikan selalu menempati urutan ke sekian dalam prioritas kepentingan nasional, sehingga bentuk dan mutu pendidikan di Indonesia tidak pernah jelas. Bahkan di era orde baru, dengan teganya penguasa menanamkan serangkaian kronologi sejarah yang bisa menyesatkan kaum muda, hanya demi pengkultusan individu penguasa.

 

salah satu model kelas

salah satu model kelas

Satu hal yang perlu kita syukuri adalah besarnya upaya pemerataan pendidikan dasar bagi generasi baru bangsa. Sejak masa orde baru, kita pernah mengenal istilah SD Inpres untuk menyebut sekolah-sekolah baru di wilayah pinggiran yang merupakan rintisan baru. Dewasa ini, pasca orde baru, jargon wajib belajar lebih didorong dengan peningkatan anggaran pendidikan. Hal yang seharusnya sudah dilakukan sejak dulu, karena bangsa ini bisa besar karena generasi muda yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.

 

Setelah keruntuhan orde baru, pendidikan di Indonesia tidak memiliki kiblat tertentu, karena memang pasar bebas juga telah merambah ke ranah pendidikan. Tidak ada lagi kewajiban penyeragaman, buku teks yang dipergunakan, hingga kurikulum. Memang, sekolah-sekolah negeri sudah pasti tidak terlalu jauh beranjak dari pakem pendidikan yang sudah dikonsepkan sejak awal. Sebaliknya, sekolah swasta terus melakukan revisi dan peningkatan agar tidak selalu berada di belakang institusi pendidikan yang didanai pemerintah. Pendidikan yang dikelola swasta menggeliat, karena tidak mau selalu dianggap “cadangan” bagi siswa yang tidak lulus tes sekolah negeri.

Dampaknya, di berbagai kota besar di Indonesia pendidikan semakin kompetitif, namun tentu saja bila mau biaya yang lebih ringan pilihan jatuh pada sekolah negeri. Di sisi lain, kesenjangan masih terjadi di tempat-tempat yang jauh dari kota-kota besar, karena kurangnya tenaga pendidik. Pendidikan masih dianggap sebelah mata, selain karena dianggap membebani juga tidak memberikan manfaat langsung. Sebagian masyarakat masih belum mampu menimbang pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Kisah novel Andrea Hirata bukan isapan jempol, sebab memang ada daerah yang sama sekali tidak memiliki guru, dan satu-satunya guru hanyalah lulusan sekolah dasar.

Peningkatan standar mutu pendidikan yang dicanangkan oleh menteri pendidikan memang sudah seharusnya dilakukan, agar pendidikan di Indonesia memiliki bobot yang standar. Bila tidak demikian, tidak akan ada penyetaraan pendidikan tinggi di negeri ini. Masalahnya, sistem pendidikan di Indonesia tampaknya belum sepenuhnya “kompatibel” dengan pencanangan standar nilai yang semakin lama semakin tinggi tersebut. Akibatnya, berbagai kecurangan masih terjadi dalam proses Ujian Nasional dengan tujuan kelulusan siswa.

Mahalnya biaya pendidikan di Indonesia semakin terasa, terlebih lagi pendidikan tingginya. Hal ini dikarenakan perguruan tinggi tidak lagi menerima subsidi dari pemerintah, dan harus mencari sumber dana sendiri – baik dari sumbangan pendidikan maupun dari kerjasama dengan perguruan tinggi di luar negeri. Tidak heran, banyak lulusan SMA yang langsung mencari bea siswa di luar negeri, dengan asumsi biaya sekolah bisa ditekan bila bersekolah di luar negeri (karena biaya pokok sudah ditanggung sponsor).

India sudah menemukan jati diri sistem pendidikannya lebih lama, dan di Asia negeri berpenduduk terpadat kedua di dunia itu sudah dipandang sebagai penantang bagi pasar tenaga kerja di Amerika dan Eropa. Banyak sekali pakar dan penulis buku manajemen dan teknik yang berasal dari negeri anak benua itu. Kemampuan mereka bahkan telah diapresiasi dengan sangat baik, sehingga raksasa IT seperti Microsoft meng-outsource-kan sebagian tugas pengembangan software pada anak-anak bangsa tersebut. Sebuah prestasi yang tentu saja sangat membanggakan.

Ironisnya, pendidikan di India termasuk yang paling murah di dunia. Dalam sebuah feature yang pernah di muat harian Jawa Pos sekian tahun lalu, disebutkan bahwa perguruan tinggi di India tidaklah glamor. Jangan tanya ruang ber-AC, perabotan modern, atau kelas asri yang enak dipandang mata. Semuanya efisien, seperti kelas-kelas di perguruan tinggi negeri di Indonesia sekian tahun silam. Akan tetapi, semua profesor dan doktor yang bertugas mengajar tidak pernah mewakilkannya pada asisten dosen. Bayangkan kondisi tersebut disertai dengan adanya buku-buku original dan murah terbitan Tata-McGraw-Hill, yang selalu update.

Saya selalu bermimpi, kita bisa mengembangkan sebuah sistem pendidikan yang efisien, komprehensif, dan yang paling penting mampu menghasilkan lulusan yang “terpakai” oleh dunia yang membutuhkannya: industri, profesi, sastra dan jurnalistik, dsb. Bekerja punya makna yang lebih luas daripada status pegawai negeri, pegawai swasta, buruh, dsb. Bekerja adalah mencari penghidupan dengan halal, dan sukses adalah hasil kerja keras karena memanfaatkan berbagai peluang usaha. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits: pintu rizki itu ada sepuluh, sementara sembilan di antaranya melalui perniagaan.

Semoga, kita sedang mengarah pada bentuk dan sistem pendidikan yang benar, yang terbaik untuk bangsa ini. Mungkin tidak seperti di Amerika atau Jepang, tidak persis seperti India, karena mungkin kita justru bisa menemukan jati diri kita sendiri.

Bangsaku, selamat merayakan Hari Pendidikan Nasional. Semoga semangat Bapak Pendidikan selalu menjadi ruh kemajuan pendidikan bangsa ini. Amin.