Archive for the Tausiyah Category

Membunuh Kemajuan Umat Islam

Posted in Sharing, Tausiyah with tags , , on October 26, 2011 by hzulkarnain

Dalam suatu mimbar Jumat di bulan September, sang khotib menukil sebuah artikel yang pernah dibacanya, sebuah tulisan seorang non-muslim tentang kebangkitan Islam. Dikisahkannya, sebagai orang Barat dengan tradisi Nasrani dan sekuler, sang penulis artikel melihat ketaatan orang Islam pada agamanya sungguh kuat. Sholat yang merupakan perwujudan kesujudan pada Tuhan bukan hanya seminggu, bahkan sehari sampai 5 kali, itu dilakukan orang Islam dengan taat. Bulan Ramadhan, mau bersusah payah melaparkan diri dan kehausan hanya semata-mata karena menjalankan perintah Tuhannya. Kemudian, mengeluarkan sebagian harta untuk orang miskin dalam bentuk zakat. Semuanya tanpa pengawasan, semuanya datang dari diri sendiri, tetapi ketaatan umat Islam sungguh tak bisa disangkal. Masjid-masjid selalu dihadiri umat dari berbagai lapisan usia, sementara gereja-gereja di Eropa yang dulu menjadi pusat peradaban Kristen semakin kosong – hanya dihadiri segelintir jemaat berumur lanjut.

Ketakjuban sang penulis tersebut – yang namanya tak pernah disebut oleh sang khotib – membawanya ke penelitian lebih jauh dan membuatnya lebih takjub. Umat Islam di seluruh dunia menjalankan kaidah agamanya sekalipun tidak ada khalifah tunggal seperti halnya agama Katolik. Orang Islam tidak berkumpul dalam wilayah tertentu, melainkan tersebar dalam rentangan geografis yang sangat luas di Asia – bahkan belakangan di Eropa dan Amerika Serikat, namun semuanya menjalankan perintah yang sama dengan cara yang sama seolah-olah digerakkan oleh sesuatu yang besar. Padahal, pengajaran agama ini melalui sekurangnya 4 mazhab besar, dan entah berapa banyak tafsir Qur’an dan Hadits yang tersebar di seluruh dunia. Islam adalah agama dengan perkembangan yang terhebat di Eropa, Amerika, dan dunia.

Meskipun Nabi Muhammad sudah wafat sekian abad silam, pengaruh pengajarannya masih sedemikian kuat. Bukan hanya memimpin umat Islam dalam agama, beliau juga seorang kepala pemerintahan, panglima perang, waktu mudanya menjadi wirausahawan, yang mengajarkan semuanya sebagai sebuah pengetahuan yang komprehensif. Segenap perilaku dan ucapannya adalah pengejawantahan Al-Qur’an sebagai kitab suci yang dibawanya. Jadi, orang Islam menjalankan Islam tidak sekedar menjalankan syariat agama tetapi juga cara hidup dan berperilaku Islami.

Dalam kesimpulannya, artikel itu menyebutkan bahwa kunci dari semua kekuatan Islam adalah Al-Qur’an. Sebenarnya, inilah negeri bayangan (virtual country) yang bernama Islam itu. Di sanalah umat Islam tinggal dan menjalankan semua peri kehidupannya. Jadi, bila ingin meruntuhkan orang Islam, bukan dengan kekerasan fisik atau penindasan. Sudah terbukti bahwa penindasan, kekerasan, bahkan penjajahan ternyata tidak mampu menjauhkan kaum muslimin dari agamanya. Cara yang tersisa hanya satu: menjauhkan orang Islam dari Al-Qur’an. Karena, Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang luar biasa dan memberi inspirasi tiada habisnya. Bila orang Islam sudah tidak lagi mempercayai kitan suci ini, mereka akan mudah digoyang dan tinggal menunggu kejatuhan.

Menurut sang khotib, ini adalah pengakuan jujur dari seorang non-muslim. Sebuah pengakuan – tetapi (bagi saya) juga ancaman terbuka dari pihak-pihak yang tidak menyukai bangkitnya kultur Islam sebagai pandangan hidup. Inilah sebabnya modus untuk melunturkan keimanan orang Islam tidak sekonvensional dulu lagi, yang kebanyakan berupa kekerasan atau tipu daya berlandaskan ekonomi. Modus semacam itu, kalaupun berhasil pada satu dua orang, tampaknya tidak akan berhasil mengubah pikiran massa Islam.

Langkah paling logis setelah tidak berhasil menekuk peradaban Islam dengan kekerasan adalah membuat umat Islam meragukan Al-Qur’an. Hal pertama yang bisa diperdebatkan adalah asal usul Al-Qur’an dan logika di dalamnya, yang dirujukkan pada cara orang Barat dan Yahudi berlogika. Beberapa debat seperti ini (yang akhirnya jadi debat kusir tiada akhir) bisa dijumpai dalam pemikiran liberal orang-orang JIL. Saya tidak hendak mengatakan JIL identik dengan model berpikir seperti ini, tetapi pemikiran yang liberal bebas seperti ini diwadahi dalam JIL. Bagi saya pribadi, manusia diberi akal untuk menalar dan berlogika, baik dengan pikiran maupun perasaan. Ini sudah menjadi ketentuan dari Allah, dan karena Indonesia bukan negara Islam, silakan saja siapa saja berpikir bebas tentang Islam dan Al-Qur’an. Yang jelas, Al-Qur’an sudah ada yang menjaga, dan hingga akhir jaman akan selalu ada orang yang meneguhkan kemurnian kalam Allah ini. Ini juga menjadi ketentuan Allah di dalam Al-Qur’an.

Kotbah sang khotib berhenti di sini. Tetapi saya pernah membaca hal yang lebih jauh lagi.

Dari beberapa sumber yang cukup banyak beredar, misalnya majalah Hidayatullah, beberapa buletin Jumat berbasis salafi, pengajian-pengajian, disebutkan bahwa ancaman paling serius yang berpotensi besar menjauhkan umat Islam dari Al-Qur’an adalah cara terhalus bagi generasi muda … yakni gaya hidup “modern”. Ini adalah tipu daya kaum Yahudi. Gaya hidup modern yang hedonistik, yang memuja kesenangan fisik, membuat generasi muda yang secara akidah tidak terkawal mudah terjerumus ke dalam kemaksiatan. Generasi muda adalah kata kunci pertama, dan hedonistik adalah kata kunci kedua. Sambungkan kedua kata kunci ini, maka bila berhasil umat Islam akan kehilangan sebuah generasi yang penting. Cara ini butuh waktu, tetapi dampaknya sangat luar biasa.

Kekuatan sebuah bangsa bisa dilihat dari generasi mudanya. Semakin kuat dan tangguh mereka, kian berkarakter mereka, maka generasi muda tersebut bisa menopang tegaknya bangsa. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa, bila pemuda di sebuah negeri (setingkat kota sekarang ini) rajin solat subuh berjamaah, tidak ada kekuatan asing yang berani menyerang negeri itu. Bila pemudanya sudah lemah, tidak lagi tergerak untuk solat subuh berjamaah, keruntuhan tinggal menunggu waktu.

Bangsa ini mungkin sedang dalam posisi yang kurang baik, tetapi pertolongan Allah selalu muncul. Kita beruntung, sisi religius bangsa ini masih cukup mudah digerakkan, sehingga sekularisme tidak bergerak cepat sebagaimana yang muncul di Turki dan Mesir. Elemen masyarakat sendiri juga tidak menghendaki sekulerisme yang memisahkan urusan agama dengan peri kehidupan sehari-hari merebak di Indonesia. Pancasila menghendaki agama sebagai panduan tiap penduduk Indonesia.

Menjadi Islam haruslah kaffah, mendekatkan diri dengan jalan Allah dengan wujud melaksanakan tuntunan Al-Qur’an dan Hadits. Kehilangan keduanya sama saja dengan kehilangan Islam. Untuk tetap menjadi muslim yang kuat, hanya satu cara yang ada yakni memperkuat ikatan dengan mengaji Al-Qur’an dan memahami isinya, melalui guru dan pembimbing yang mumpuni.

 

Mahluk Gaib Jahat (2)

Posted in Sharing, Tausiyah with tags , , , , , , , on June 30, 2011 by hzulkarnain

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan cara kaum jin mencuri dengar berita-berita langit.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Apabila Allah memutuskan suatu perkara di langit, para malaikat merentangkan sayap-sayapnya sebagai (refleksi) kepatuhan terhadap firmanNya, firman (yang didengar) itu seolah-olah seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu, sehingga memekakkan mereka. Tatkala hati mereka telah hilang dari rasa takut, mereka bertanya,’Apa yang baru saja difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab malaikat (Jibril) berkata,’(Perkataan) yang benar, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar’. Ketika itulah, (jin-jin) pencuri berita (wahyu) itu mendengarnya. Keadaan mereka seperti ini. Sebagian mereka bertumpu di atas sebagian yang lain. Sufyan bin Uyainah (salah seorang perawi hadits ini) menggambarkannya dengan telapak tangannya, ia merenggangkannya dan membuka jari jemarinya. Maka ketika (jin-jin) pencuri berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, mereka lalu menyampaikannya kepada yang ada di bawahnya, dan demikian seterusnya hingga disampaikan ke mulut tukang sihir atau tukang ramal. Akan tetapi, kadangkala para pencuri berita itu terkena syihab (panah-panah api) sebelum sempat menyampaikan berita yang disadapnya itu. Dan kadangkala mereka sudah sempat menyampaikannya sebelum terkena syihab. Lalu dengan satu kalimat yang didengarnya itulah, tukang sihir atau tukang ramal melakukan seratus macam kebohongan.

Mereka (yang mendatangi tukang sihir atau tukang ramal berkata),’ Bukankah dia telah memberitahukan kepada kita, bahwa pada hari anu akan terjadi peristiwa anu (dan itu benar-benar terjadi)?’ Sehingga dipercayalah tukang sihir atau tukang ramal tersebut karena satu kalimat yang telah didengar dari langit”.

Hadits ini menunjukkan betapa kaum jin berusaha dengan susah payah serta menempuh resiko untuk mencuri berita langit yang sebenarnya hanya diperuntukkan bagi para malaikat. Pantaslah sejak jaman dahulu, selalu saja ada orang-orang yang punya kemampuan lebih dalam ramal meramal. Kita lihat, kadangkala sebuah ramalan mengandung kebenaran, tapi di saat lain sama sekali tidak tepat. Rupanya ini tergantung pada akurasi kaum jin dalam mencuri dengar berita di langit, sebab ada kemungkinan si pencuri tidak mampu meloloskan diri dari hadangan penjagaan malaikat di langit. Wallahu ‘alam bish shawab.

Wong pinter, orang pintar, orang tua, paranormal, dan suhu adalah beberapa sebutan yang lebih enak didengar untuk menyebut dukun, tukang ramal, atau tukang sihir. Orang-orang seperti ini bisa jadi adalah penipu ulung, atau memang orang yang menghambakan diri pada jalan kemusyrikan. Disebut dengan musyrik karena memang mereka tidak lagi bertuhankan dzat Allah, melainkan taghut yang mereka percayai sendiri. Inilah adalah contoh keberhasilan setan memperdaya manusia untuk mengikuti jalan mereka, menjadikan sebagian manusia menjadi agen-agen mereka untuk menyebarkan kemusyrikan.

Ada beberapa titik penting dalam kehidupan ini yang membuat orang mencari perlindungan pada kekuatan besar di luar dirinya, dan karena kondisi yang dihadapi tersebut bersifat gaib perlindungan yang dicari pun dari kekuatan gaib. Misalnya, bagi tentara adalah ketika ada perintah tugas ke medan perang, bagi pelajar tentunya saat ujian nasional, bagi orang lain adalah saat ada proyek besar, saat mengharapkan cinta seorang perempuan / laki-laki, dsb. Bagi umat Islam, inilah saatnya mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa. Akan tetapi, orang yang kurang kuat iman, yang menganggap Allah jauh, dan mengira ada kekuatan lain yang lebih perkasa, lebih suka mencari perlindungan pada taghut-taghut yang mereka percayai. Dari sini muncullah hal aneh-aneh yang adi kodrati hingga tak masuk akal, seperti ilmu kekebalan, menghilang, jimat pengasihan, jimat wibawa, dsb yang biasanya dirupakan dalam bentuk cincin, kalung, atau bentuk-bentuk lain yang bisa dibawa-bawa atau ditanam di sudut rumah. Tanpa sadar, manusia yang lemah iman telah meninggalkan Islam dan masuk ke dalam jeratan setan.

Sebenarnya, siapakah yang disebut dengan setan tersebut?

Setan atau Syaithan dalam bahasa Arab diambil dari kata yang berarti jauh. Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya terbakar atau batal. Pendapat yang pertama lebih kuat menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir, sehingga kata Syaithan artinya yang jauh dari kebenaran atau dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala (Al-Misbahul Munir, hal. 313). Ibnu Jarir menyatakan, syaithan dalam bahasa Arab adalah setiap yang durhaka dari jin, manusia atau hewan, atau dari segala sesuatu.

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)

Dalam ayat ini Allah menjadikan setan dari jenis manusia, seperti halnya setan dari jenis jin. Dan hanyalah setiap yang durhaka disebut setan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari kebaikan. (Tafsir Ibnu Jarir, 1/49)

Ibnu Katsir menyatakan bahwa syaithan adalah semua yang keluar dari tabiat jenisnya dengan kejelekan (Tafsir Ibnu Katsir, 2/127).

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau berada di masjid. Akupun duduk. Dan beliau menyatakan: “Wahai Abu Dzar apakah kamu sudah shalat?” Aku jawab: “Belum.” Beliau mengatakan: “Bangkit dan shalatlah.” Akupun bangkit dan shalat, lalu aku duduk. Beliau berkata: “Wahai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan jin.” Abu Dzar berkata: “Wahai Rasulullah, apakah di kalangan manusia ada setan?” Beliau menjawab: “Ya.”

Secara awam pula kita hanya mengenal setan dari bangsa jin, yang suka mengganggu manusia dengan cara nyata maupun melalui bisikan yang halus. Misalnya mereka berdiam di sebuah hutan, menguasai hutan, dan dengan sihirnya membuat manusia tidak berani mendekati wilayah itu. Orang yang nekat akan mengalami sakit, bahkan mungkin sampai mati, dan itu menjadi pelajaran bagi lainnya.

Atau, ketakutan itu bisa dengan cara dihembus-hembuskan secara halus di dada manusia, misalnya pada tentara yang akan berangkat ke medan perang, dengan rasa was-was akan kematian dalam tugas (sementara sang istri sedang hamil). Efek yang terjadi mungkin akan sama: orang yang akan masuk ke hutan akan memberikan sesajen kepada penunggu hutan agar aman, dan tentara yang berangkat perang memakai jimat perlindungan.

Apa yang terjadi bila keduanya mati sebelum bertobat? Niscara keduanya mati dalam kemusyrikan, karena sedang mengingkari kekuasaan Allah Swt.

Sebagai manusia yang berakal dan beriman, kita bisa pula menilai siapa saja manusia-manusia yang digolongkan sebagai setan, yakni (per-definisi) orang-orang yang jauh dari kebenaran dan rahmat atau membawa manusia lain menjauhi kebenaran atau rahmat Allah. Para penjahat, dengan segala bentuk kejahatannya yang dilakukan secara sadar serta nyata-nyata mencelakakan atau merugikan orang lain, serta para penganjur kekerasan, penganjur kesesatan, penganjur kemusyrikan bisa digolongkan ke dalam definisi ini.

Para ulama dan guru-guru agama selalu mengingatkan kita akan bahayanya terlalu cinta dunia,  sebab inilah lubang yang hampir selalu menjatuhkan manusia ke dalam kesesatan. Cinta pada harta, tahta, istri dan anak yang berlebihan akan mengingkari kodrat mereka sebagai titipan Allah. Orang seperti ini akan mencari cara agar dunia yang ada di genggamannya tidak lepas, dengan cara apapun. Termasuk dengan cara-cara syirik.

Ulama berkata: Jangan takut mati, tapi jangan mencari mati. Mati adalah kepastian, hanya waktunya saja yang belum ditentukan secara pasti. Tidak ada gunanya mengamalkan sihir mencari kekebalan, karena kematian bisa mencari jalannya sendiri. Bahkan Rasulullah Saw junjungan kita pun pernah terluka parah saat perang, dan kematian akan disambut dengan ikhlas – lalu mengapa kita takut dengan nash Allah?

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan  kepada cahaya . Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah thagut (syaitan), yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan . Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 256-257)

Mahluk Gaib Jahat (1)

Posted in Sharing, Tausiyah with tags , , , , , , on June 24, 2011 by hzulkarnain

Arwah Penasaran, Setan atau Jin?

Film horor Indonesia sama Barat serem mana? Kalau sama film horor Jepang atau Korea? Itulah fenomena film horor, bikin takut tapi juga bikin penasaran. Bagi saya pribadi, atraksi visual film horor Jepang atau Korea adalah top-rating. Mereka bisa menggambarkan sosok mengerikan dalam bentuk dan wujud yang tidak terpikirkan sebelumnya – dan itu ujung-ujungnya akan diadopsi oleh film horor Indonesia. Film horor Jepang yang paling mengerikan, menurut saya, adalah Ringu (the Ring) yang pertama – dan pantaslah bila kemudian gaya ini diadopsi banyak film sejenis di Asia.

kengerian saat Sadako "keluar" dari layar tv

Sekalipun kebanyakan dikenal melalui visualisasi film, bayangan sosok perempuan cantik bergaun putih berambut panjang terurai, dan tampak di kegelapan malam, selalu menumbuhkan rasa was-was dan takut. Itulah wujud Sundel Bolong yang dulu diperankan mendiang Suzzanna, berdasarkan mitos di masyarakat Jawa – khususnya Jawa Timur dan Tengah. Sundel atau sundal menggambarkan perempuan yang keluyuran di malam hari, disebut bolong karena punggungnya bolong. Bukan hanya di Jawa, kisah hantu perempuan ini juga berkembang di bagian lain Indonesia – yang mereka percaya adalah roh gentayangan perempuan yang mati saat melahirkan.

Yang mungkin lumayan mengimbangi ketenaran setan perempuan berambut panjang ini adalah pocong atau pocongan – mayat hidup dengan berkafan terikat, dengan tubuh yang sudah mulai hitam membusuk. Konon, pocong ini terjadi karena saat dimakamkan tali pocongnya lupa dilepas, sehingga dia bangkit menuntut untuk disempurnakan. Pocong populer di daerah Jawa, yang mayoritas muslim, karena memang bentuk tersebut adalah cara orang Islam dimakamkan.

Secara lokal, banyak sekali kisah menyeramkan tentang penampakan, penunggu, dan gangguan yang dipercayai oleh masyarakat. Ada yang berupa mahluk tinggi besar hitam berbulu, ada yang berwujud perempuan buruk rupa penculik anak, raksasa hijau pesugihan, sundel bolong, kuda berkepala manusia, dsb. Kepercayaan ini seringkali melekat secara turun temurun menjadi legenda dan mitos.

Kebanyakan orang takut akan sosok mereka karena seramnya, tapi tak kurang pula yang takut dibunuh hantu-hantu itu. Yah, memang dalam film semua hantu yang ditampilkan bisa membunuh atau membalas dendam, dengan cara mencekik atau cara lain yang tak kurang sadisnya. Apa benar mereka bisa membunuh? Sebenarnya mereka ini apa sih? Setan, hantu, arwah gentayangan, roh penasaran, jin, atau apa?

Awalnya, sama dengan kebanyakan orang, saya bingung dengan banyaknya nama dan bentuk mahluk-mahluk aneh dan menyeramkan ini. Hingga pada suatu saat, secara kebetulan dalam sebuah kajian Islam di televisi, Ust. Abu Aqila dengan gamblang menjelaskan fenomena ini – dan bagi saya masuk akal. Dengan tegas, beliau mengatakan bahwa bentuk-bentuk tersebut adalah perwujudan jin. Inilah yang mendorong saya mencari tahu lebih banyak.

Apa bukan roh orang mati yang gentayangan? BUKAN. Dalam Islam, roh tidak mati bersama jasad manusia, tapi tidak juga berkeliaran. Begitu orang terakhir meninggalkan pemakaman, saat itulah malaikat Munkar dan Nakir bekerja dan perhitungan alam kubur dimulai. Tidak ada satupun ayat dalam Al Qur’an yang mengindikasikan bahwa roh manusia yang sudah masuk dalam alam kubur yang gaib kembali ke alam dunia yang wujud. Kalau ada orang yang mengatakan ini dan itu tentang arwah, roh, atau kehidupan setelah kematian, sudah pasti omong kosong. Al Israa’ ayat 85 menegaskan: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah hanya menciptakan mahlukNya dari 3 elemen: cahaya, nyala api, dan tanah. Mahluk cahaya adalah para malaikat, mahluk api adalah bangsa jin, dan mahluk tanah adalah manusia. Dalam sebuah hadits Muslim, Rasulullah bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya, Jan (nenek moyang jin) diciptakan dari nyala api, dan Adam (nenek moyang manusia) diciptakan dari apa yang telah disebutkan (dalam Al-Qur’an) kepada kalian.”

Dari ketiga jenis mahluk Allah itu, hanya satu yang diberi kelebihan berubah bentuk yakni jin. Secara umum, normalnya manusia tidak akan bisa melihat jin dalam wujud aslinya, kecuali mereka yang ingin memperlihatkan diri – itu pun bukan dalam wujud asli mereka. Kaum jin tinggal di sebuah alam yang bukan alam manusia dan bukan alam malaikat. Manusia normal tidak akan bisa melihat alam dan bangsa jin itu sendiri karena memang Allah menutup mata kita dari mereka. Sesuai dengan namanya, jin berasal dari kata janna syai`un yajunnuhu yang artinya tertutup atau tersembunyi. Sebaliknya mereka bisa melihat kita … “Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka … (Al A’raf: 27).

Di luar kewajaran, menurut ust. Abu Aqila, ada beberapa macam manusia yang terbiasa melihat perwujudan jin dalam banyak rupa, yakni: pengamal dan penganjur kesyirikan (penganut paganisme, dukun, peramal dsb), orang dengan iman yang lemah (kaum kafir dan anak yang belum mengenal aqidah), dan orang yang pernah mengalami panas tinggi waktu masih balita (karena hal itu menimbulkan semacam celah di otak).  Selain itu, tentunya ada orang-orang yang dipilih Allah untuk bisa melihat dan berkomunikasi dengan jin.

Selain perbedaan dzat pembentuk, dan alam kehidupan tempat berdiam, ada beberapa kesamaan antara jin dan manusia. Yang pertama, kedua jenis mahluk ini sama-sama membentuk masyarakat, dan tinggal di wilayah-wilayah tertentu. Kata Ust. Abu Aqila, ada jin-jin yang berkemampuan sangat tinggi, dan menjadi penguasa kaum jin. Seperti halnya yang dikenal masyarakat Jawa sebagai Nyai Roro Kidul yang menguasai Laut Selatan, sebenarnya dia adalah salah satu panglima bangsa jin.

Manusia dan jin sama-sama mahluk berakal, dan karena itu berkemampuan memilih jalan yang baik dan buruk. Peringatan Allah dalam QS Al An’am 130: “Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini. Ada sebuah kisah dari sahabat Ibu Mas’ud yang menceritakan Rasulullah SAW bertemu dengan utusan kaum jin dan bersedia pergi bersamanya ke alam jin untuk membacakan Al Qur’an pada mereka. Karena jin dan manusia sama-sama diciptakan untuk beribadah pada Rabb-nya, tidak mengherankan sebenarnya apabila banyak pula bangsa jin yang taat. Sama halnya dengan manusia, setelah ditunjukkan kebenaran Al Qur’an, sekarang terserah jalan mana yang akan ditempuh. Tunduk pada ketentuan Al Qur’an (dan menjadi jin Islam) atau tetap ingkar (menjadi jin kafir).

Sekalipun jin ada yang muslim dan taat, Al Qur’an menegaskan rambu-rambunya: “Dan bahwasanya ada saja beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara Jin, maka Jin-jin itu justru hanya menambahi mereka dosa dan kesalahan.(QS.Al Jin:6). Ayat di atas bersifat universal, artinya bahwa jin yang mau berkawan dengan manusia, atau manusia mau berkawan dengan jin pasti ada maunya. Tidak ada perkawanan yang tulus antara jin dan manusia karena keduanya bukan sejenis.

Jin yang durhaka kepada Allah, dan berusaha menarik-narik manusia pada kejahatan, adalah setan. Bukan hanya kafir, tetapi juga pembangkang dan mencari-cari manusia yang mau mengikuti jalannya. Tujuannya jelas, menemani moyang jin yakni iblis berdiam di neraka selamanya. Tidak semua jin adalah setan, dan setan tidak identik dengan jin, karena adapula manusia yang setan. Setan adalah sebutan sifat kafir, pendurhaka dan pembangkang kepada Allah.

Bujuk rayu setan bisa berupa tindakan yang sangat kasar hingga halus. Mungkin yang paling kasar adalah menumbuhkan rasa takut dan was-was, sehingga akhirnya manusia mencari perlindungan dari mahluk lain selain Allah. Bentuk-bentuk aneh dan seram tersebut di atas tak lain adalah setan dari bangsa jin yang berusaha mendorong manusia memasuki kesesatan. Muncullah jimat dan piandel seperti cincin, keris, dan barang pusaka lainnya. Juga muncul ilmu kesaktian seperti lembu sekilan (kekebalan), sayepi angin (meringankan tubuh), blabag pengantolan (kekuatan fisik), dsb. semua benda dan kesaktian tersebut tidak punya tuntunan syar’i dan karenanya merupakan bagian dari kesyirikan. Dikatakan syirik karena dalam prosesnya menemukan kekuatan meminta pertolongan pada mahluk lain yakni jin.

Bila ketakutan tidak menjadi pendorong, setan akan mencoba cara yang halus. Tujuannya adalah membangkitkan sifat buruk manusia, misalnya sombong dan riyaa’. Tujuan akhirnya adalah rasa cinta dunia yang sedemikian besar hingga takut mati. Bila tidak mempan juga, akan ada cara lain, hingga akhirnya titik kelemahan manusia ditemukan. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu pernah ditanya tentang perbedaan jin dan setan, beliau menjawab: “Jin itu meliputi setan, namun ada juga yang shalih. Setan diciptakan untuk memalingkan manusia dan menyesatkannya. Adapun yang shalih, mereka berpegang teguh dengan agamanya, memiliki masjid-masjid dan melakukan shalat sebatas yang mereka ketahui ilmunya. Hanya saja mayoritas mereka itu bodoh.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin).

Islam Yang Humanis

Posted in Kontemplasi, Sharing, Tausiyah with tags , , , , on April 17, 2011 by hzulkarnain

Herdian Zulkarnain

Pada hari Jumat kemarin, lembar Jumat yang disediakan secara gratis bagi jama’ah punya judul yang tidak terlalu istimewa: Wajib Mencitai Sesama Muslim. Tapi, isi di dalamnya ternyata memberikan pencerahan yang luar biasa.

Pada suatu saat, Rasulullah SAW sedang bersama para sahabat saat seorang lelaki yang tidak familiar bagi para sahabat tersebut melintas. Artinya, tentunya orang tersebut bukanlah seseorang yang kerap mereka jumpai di masjid. Rasulullah lantas mengatakan bahwa orang itu adalah ahli surga. Bukan hanya sekali, hingga tiga kali beliau mengatakan hal tersebut.

Mungkin dengan agak bingung dan gusar, sahabat Abdullah bin Umar bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engka mengatakan itu kepada kami, padahal selama ini kami tidak pernah mengenalinya sebagai sahabatmu? Sedangkan terhadap kami sendiri yang selalu mendampingimu engkau tidak pernah mengatakan hal itu.”

Dengan bijak Rasulullah menjawab dengan singkat, “Jika engkau ingin tahu tentang apa yang aku katakan, silakan tanyakan sendiri padanya.”

Siapa yang tidak penasaran? Akhirnya Abdullah berkunjung ke rumah lelaki itu dan mengamatinya. Ternyata, selama di sana Abdullah bin Umar tidak melihat hal yang istimewa dalam ibadahnya. Karena tidak memperoleh informasi dari pengamatan, Abdullah kemudian mencari tahu secara verbal. Ia lantas bercerita tentang komentar Rasulullah atas dirinya tempo hari, saat dia melintas di depan Rasulullah. Apa jawaban lelaki itu?

kesederhanaan dalam cinta kasih

Dengan tersenyum ia berkata, “Sesungguhnya aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak punya kekayaan apa-apa, baik ilmu maupun harta yang bisa aku sedekahkan. Yang aku miliki hanyalah kecintaan. Kecintaan kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada sesama manusia. Dan setiap malam menjelang tidur, aku selalu berusaha menguatkan rasa cinta itu, sekaligus berusaha menghilangkan perasaan benci yang ada kepada siapa saja. Bahkan terhadap orang kafir sekalipun.

Sebuah sikap dan perilaku yang bersahaja dalam penegakan Islam di atas kaidahnya yang agung! Dengan jujur ia mengaku bukan ahli agama (sehingga tidak bisa mengajari orang lain), bukan ahli sedekah harta (karena termasuk orang yang miskin), dan bahkan Abdullah bin Umar pun menyaksikan bahwa caranya beribadah tidaklah istimewa (sehingga tidak bisa berlama-lama bersujud dan berkumpul dalam mejalis taklim karena mencari nafkah). Sampai di sini, lelaki itu memiliki ciri universal kebanyakan manusia di muka bumi ini yang: seorang pekerja atau buruh yang miskin dan tidak pandai. Tapi kecintaannya pada Allah, Rasulullah, dan kehidupan manusia sungguh membedakan dia dengan manusia lainnya.

Mungkin yang disampaikan dan dilakukan orang tersebut tidak canggih, tidak berhiaskan istilah yang muluk, bahkan tidak inspiratif karena dilakukan dalam diam sehingga tidak bisa disaksikan orang lain, tetapi dia telah menterjemahkan dengan akurat esensi Islam sebagai rahmatan lil alamin dan perwujudan hablum minallah – hablum minannas yang sebenarnya.

Sepenggal kisah dalam buletin Jumat itu menggugah kembali ingatan saya pada ucapan seorang teman, yang kala itu mengomentari kiprah Gus Dur. Sebagai seorang tokoh, tentu saja orang sekaliber Gus Dur selalu punya orang yang mengagumi dan membencinya. Orang yang mengagumi mengatakan bahwa beliau ini punya pemikiran yang dalam, luas, dan seringkali melebih jamannya. Bahkan ada yang menyebutnya seorang wali – karena seperti weruh sakdurunge winarah (tahu sebelum terjadi). Gus Dur juga seorang humanis sejati, yang selalu menempatkan sisi kemanusiaan dalam konteks ke-Islam-an yang menjadi pemahamannya. Uniknya, pengagum Gus Dur justru banyak datang dari agama lain, termasuk para ulamanya.

sang guru bangsa

Pihak yang membenci Gus Dur mengataka bahwa konsep pluralitas yang digembar-gemborkan Gus Dur telah melenceng dan melecehkan Islam – karena secara tekstual disebutkan bahwa agama yang diridhoi Allah di muka bumi adalah Islam. Cara bepikir Gus Dur yang meloncat-loncat, tidak patuh pada sistematika berpikir, membuatnya dianggap tidak bisa diandalkan dan akhirnya menjadi sasaran tembak lawan politiknya saat beliau menjabat sebagai Presiden. Anehnya, orang yang tidak suka pada Gus Dur adalah orang Islam sendiri, yang tidak menyukai gaya Gus Dur dalam menginterpretasikan Islam.

Teman saya, yang jelas merupakan pengagum Gus Dur, mengatakan: “Gus Dur itu hendak menanamkan merah putih di halaman orang Islam. Pada saat yang sama beliau ingin memayungkan Islam di bumi merah putih.” Interpretasi sederhana yang menggambarkan Gus Dur secara cukup lengkap.

Gus Dur selalu ingin berkata pada orang Islam di Indonesia bahwa negara ini berbasis demokrasi, nasionalisme, dan keragaman. Kita ini hidup berdampingan dengan orang-orang dari agama yang berbeda, tapi kita semua adalah mahluk ciptaan Allah. Pada saat yang sama, Gus Dur ingin mengatakan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Sekalipun bumi merah putih ini penuh keragaman, di bawah keagungan Islam sebagai agama yang dianut mayoritas warga, kehidupan selalu akan penuh keadilan dan ketenteraman.

Saat diterima oleh kaum Anshor di Madinah, siroh Nabi Muhammad menceritakan bagaimana pluralitas berjalan dengan baik di kota yang sebelumnya bernama Yatsrib itu. Sebagai agama baru yang cepat diterima, diadaptasi, dan diadopsi oleh para penduduk Madinah, Islam berdampingan dengan pemeluk nasrani dan yahudi. Sayangnya kaum yahudi yang merasa kuat kemudian mengkhianati perjanjian yang sudah disepakati sebelumnya sehingga terjadi perang.

Rasulullah sendiri selalu welas asih pada orang beragama lain, sekalipun secara pribadia dia dihina oleh mereka. Mungkin banyak yang sudah mengetahui kisah pengemis Yahudi buta yang selalu mencaci maki Rasulullah di pojok pasar, tetapi dengan telaten Rasulullah SAW justru datang setiap hari untuk menyuapinya dengan kurma masak hingga beliau wafat, tanpa orang Yahudi ini tahu identitas orang yang mengasihinya.

Setelah Rasulullah wafat, ada sahabat lain yang membantu Yahudi pengemis tua ini makan. Tapi Yahudi rewel ini malah marah-marah, “Kamu bukan orang yang biasa membantu aku. Tindak-tanduknya jauh lebih halus, dan dia melembutkan kurma yang disuapkan padaku dengan baik sehingga aku yang sudah tak bergigi ini bisa menelannya dengan mudah.”

Sahabat itu minta maaf, lantas menjelaskan bahwa orang yang selama ini membantunya telah wafat. Yahudi tua itu tentunya sangat terkejut. Dan lebih syok lagi setelah tahu bahwa orang itu adalah Muhammad, orang yang selalu dicaci makinya. Dengan tangisan keinsyafan, konon Yahudi tua itu akhirnya berikrar dua kalimah syahadat.

Orang punya kebebasan dalam menginterpretasikan Islam, sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Ada yang menyukai Islam dalam wujud tekstual seperti yang tertulis dalam kitab-kitab Allah dan sunnah Rasul, ada yang membumikan Islam secara esensial sesuai dengan bumi tempatnya berkembang, hingga sinkretisme yang dianggap kebenaran bagi sebagian orang. Dengan populasi terpadat ke-4 di dunia, Indonesia memiliki pemeluk Islam terbesar di dunia, dan untunglah mayoritas bangsa ini punya sifat dasar yang toleran sehingga tidak mudah menumpahkan darah orang lain. Mungkin media massa suka menggambarkan kelompok-kelompok ormas yang suka memaksakan kehendak mereka, tetapi karena pihak lain menanggapinya dengan bijak, ketegangan dan kekerasan tidak berlangsung lama apalagi berlarut-larut.

musyawarah - toleransi khas Indonesia

Kalaupun ada sejarah ketegangan dan pertumpahan darah antar agama, itu adalah lembaran yang memang tidak bisa dihindarkan lagi. Akan tetapi, dengan kejadian pahit itu semua pihak lantas mau belajar untuk lebih mengendalikan diri. Bibit perpecahan akan selalu ada, tetapi bila umat Islam selaku mayoritas senantiasa mengedepankan semangat Islam rahmatan lil alamin, maka seharusnya tidak perlu ada darah yang tertumpah.

Kalau kita melihat carut marutnya kondisi di Afrika Utara (Libya, Mesir, Tunisia), di jazirah Arab (Yaman, Bahrain, Irak, bahkan mulai mengancam negara lainnya), dan tentunya Pakistan dan Afghanistan, betapa bersyukurnya kita hidup di Indonesia. Betapa bersyukurnya kita memiliki pluralitas yang terkendali seperti ini, dan Indonesia dikenal di dunia sebagai negara Islam moderat serta dihormati di Barat maupun di antara negara-negara Islam sebagai penengah.

Bila kemudian kita mulai mendapati ekstremisme mulai berkembang di bumi kita ini, marilah kita mendoakan agar semuanya kembali pada konsep awal Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Membela Islam tidak harus dengan mengangkat senjata, karena sebenarnya pertumpahan darah adalah jalan terakhir yang ditempuh Rasulullah. Bila senjata sudah menjadi pilihan pertama dalam membela agama yang agung ini, maka penganut Islam di Indonesia mungkin sudah mulai kehilangan arah esensi rahmatan lil alamin yang mendasari Islam.

Kategori Anak dalam Islam

Posted in Psikologi, Tausiyah with tags , , , , , , , on January 26, 2011 by hzulkarnain

pewaris masa depan dunia

Herdian Zulkarnain

Orang Jawa punya ujar-ujar: tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati. Sebuah pepatah yang menggambarkan betapa darah atau nasab tidak mutlak menentukan perkembangan anak menjadi dirinya sendiri.

Tunggak jarak menggambarkan cikal bakal orang kebanyakan, bisa didapat di mana saja, tetapi juga bisa tumbuh di mana saja. Mrajak bermakna tumbuh dengan cepat dan subur. Tunggak jati menunjukkan derajat yang lebih tinggi, mahal, tapi tidak bisa mrajak. Bahkan bila tidak dirawat dengan benar, akan mati begitu saja.

Ada 2 dalam garis hidupnya yang tidak bisa dipilih oleh manusia, yakni dari siapa dia dilahirkan, dan di tanah mana dia akan mati. Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari seorang ibu yang tinggal hangat di sebuah istana raja, atau seorang ibu yang mengigil kedinginan di bawah jembatan. Yang Maha Kuasa dengan segala ke-Maha Adil-nya telah menentukan tanggung jawab dari masing-masing orang tua agar anaknya menjadi diri yang sesempurna mungkin. Anak bukanlah hak milik orang tua, tetapi anak adalah tanggung jawab Allah pada setiap orang tua untuk mengasuh dan membesarkannya.

…sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya ,

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan  pembalasan sesudah  itu?

Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?

(QS At-Tiin)

Dalam cetak birunya, manusia dikodratkan sempurna lahir dan batin. Akan tetapi, saat masuk ke alam dunia manusia harus melewati sebuah gerbang yang berupa kandungan ibu. Di sinilah awal perjalanan jasmaniah dan ruhaniah mulai. Sebagian manusia sangat berhati-hati dengan janin di kandungannya, memperlakukannya dengan cermat dan santun, dan mengajarkan kebaikan bahkan sebelum ruh ditiupkan ke dalam jasad bayi. Sebagian yang lain, dengan cerobohnya membiarkan cikal bakal manusia ini tumbuh tak terawat, bahkan tidak sedikit yang lahir dengan kecacatan fisik maupun mental.

Tidak ada yang terjadi di dunia ini tanpa ijin Allah, namun manusia diberik akal budi untuk menjadikan dirinya sebaik-baik manusia. Karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa mendatang, kita diperintahkan oleh Allah untuk menjaga keluarga kita dari api neraka … Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka … (At Tahriim 6). Perintah yang sederhana, namun memiliki konsekuensi sangat luas.

Sekalipun seorang anak memiliki kecerdasan, namun pada dasarnya ia adalah selembar kertas yang menerima apa saja yang dituliskan orang tuanya padanya. Tidak heran bila ada pepatah, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, sebab memang merekalah yang mengukir jiwa raga si anak. Apakah akan mrajak atau mati, tergantung dari cara orang tua mengasuh mereka.

Kekeliruan pertama yang biasa dijumpai pada sebagian besar orang tua adalah lemah dalam menekankan kedisiplinan pada anak. Demi melihat lucunya anak, tidak tega melihat anak sakit atau sedih, anak tidak dibiasakan berdisiplin. Dalam pikiran orang tua … ah, nanti saja kalau sudah agak besar. Padahal, mengukir kepribadian anak bisa diibaratkan menulis di atas tabularasa, lembar lilin yang cukup lunak. Dengan effort minimum, hasilnya tahan lama. Sementara mengukir anak yang lebih dewasa, seperti memahat batu. Harus keras dengan tenaga besar, atau tidak membekas bagus.

Bila anak mulai merokok, mulai nonton pornografi, pacaran, konsumtif, jangan melulu melihat si anak ini. Lihat pula bagaimana dia dibesarkan. Artinya, sebagian kesalahan terletak pada orang tua. Saat dewasa nanti, sebagian anak akan memberikan surga bagi orang tuanya, namun sebaliknya ada yang memberikan kesedihan dan kesusahan saja bagi mereka. Kita ingat kisah Nabi Khidir yang tanpa diduga oleh Nabi Musa mencekik seorang bocah tampan hingga mati. Nabi Khidir as. hanya mengatakan bahwa anak ini kelak dewasa nanti akan mendurhakai orang tuanya, sebab dia semenjak kecil selalu dimanjakan oleh keduanya. Dengan kematiannya, Nabi Khidir mendoakan semoga orang tuanya itu akan diberi ganti oleh Allah anak yang saleh.

Dalam Islam, kelak dewasa, anak kita akan masuk dalam salah satu kategori:

  1. Anak qurrota a’yun
  2. Anak yang menjadi perhiasan dunia
  3. Anak yang menjadi ujian bagi orang tuanya
  4. Anak yang menjadi musuh bagi orang tuanya

Seorang anak yang qurrota a’yun menjadi penyegar mata dan hati orang tua. Menyenangkan perilaku dan kepribadiannya, membanggakan, dan bisa mengangkat derajat orang tua di dunia dan akhirat. Tentu saja, tidak banyak anak yang seperti ini.

bimbingan sejak dini

Yang masih lebih banyak adalah anak-anak yang menjadi perhiasan dunia. Sesekali menjengkelkan, kadangkala membuat kesal, tetapi secara umum tetap membuat orang tua bangga. Mungkin banyak dari anda yang membaca blog ini termasuk kategori anak-anak kebanggaan orang tua …  bisa dipamerkan pada orang lain, menjadi tumpuan di hari tua mereka, dan akan mendoakan kelak saat orang tua sudah tiada.

Yang mungkin lebih banyak lagi adalah anak-anak yang menjadi ujian bagi orang tua. Sedikit menyenangkan, tapi lebih banyak mengesalkan. Membandel, sekalipun kadang kala menurut. Tidak kelihatan nakal, tapi membuat susah hati. Orang tua jadi sering-sering ber-istighfar, mengelus dada, dan mendoakan keselematan bagi si anak. Keadaan gamang ini masih menyimpan potensi untuk menjadikan anak kembali bagi orang tuanya (bila dia bertobat dari kesalahannya), tetapi bisa juga berubah menjadi musuh (saat dia semakin tersesat).

Kategori terakhir, yang paling memprihatinkan, adalah anak yang menjadi musuh bagi orang tuanya. Tidak ada kebahagiaan orang tua atas diri mereka, hanya ada kesedihan dan penderitaan batin. Sepertinya, arah jalan mereka berbeda dengan arahan orang tua. Anak-anak durhaka ini akan membebani orang tua saat di akhirat, karena kembali bahwa sebagian kesalahan anak terletak pada orang tua. Orang tua tidak bisa menjaga si anak berlari ke arah api neraka.

Marilah sejenak kita lihat, bagaimana anak-anak kita. Masuk di kategori mana mereka ini. Semoga, anak-anak itu bisa tumbuh menjadi manusia yang diridhoi Allah SWT.

Membela Allah

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags , , , on August 26, 2010 by hzulkarnain

“Allah tidak perlu dibela,” ujar almarhum Gus Dur pada suatu ketika.

Kalimat sederhana yang bisa diinterpretasikan secara berlawanan. Orang bisa menganggap Gus Dur melecehkan Islam, tetapi bisa juga bermakna meninggikan kedudukan Islam. Sekalipun suka bercanda, saat menyatakan ini beliau tampak serius.

Kita memahami bahwa Indonesia adalah sebuah negeri beretnis majemuk, mayoritas penduduknya beragama Islam, namun sejak awal para bapak bangsa sudah sepakat untuk menerapkan demokrasi sebagai landasan bernegara, bukan Islam. Konsekuensinya, bangsa ini selalu berada di persimpangan paham politik yang sedang trend di dunia. Sempat cenderung  ke arah liberal, sosialis, dan sekarang kembali mengarah ke liberal lagi. Dalam iklim politik seperti ini, setiap orang boleh berekspresi selama tidak melanggar hukum dan mengganggu orang lain. Sekalipun mungkin tidak suka, orang Islam harus menyerahkan kepercayaan kepada pengurus negara yaitu pemerintah, untuk bertindak adil.

Sayangnya, selalu ada orang atau pihak yang mencari celah hukum dan melakukan perbuatan yang bagi sebagian orang Islam cukup menyakitkan atau tidak pada tempatnya. Diskotik buka malam hari itu wajar bagi pemda, karena mereka sudah membayar pajak. Tapi bagi sekelompok massa, hal itu menghina bulan ramadhan. Lokalisasi yang tetap buka di malam hari, itu melecehkan ibadah orang Islam. Mungkin ini lebih ke perbedaan persepsi, tetapi ujungnya adalah perusakan properti. Pamong praja dianggap lamban dalam menyikapi hal ini, sementara sekelompok massa tidak sabar menunggu aksi pemda atau pemkot.

Hal serupa juga menyangkut tindakan ekstrim sekelompok umat Islam yang meledakkan objek yang mereka anggap representasi Barat atau peradaban Barat. Pemerintah sudah tidak dianggap punya legitimasi karena dipandang telah menjadi kaki tangan Barat, dan niatan membangun negara Islam menguat. Bagi mereka, demokrasi yang berjalan sekarang ini tidak Islami, dan harus diganti dengan syariat Islam sepenuhnya. Kalau pun ada korban yang jatuh karena aksi mereka – termasuk sesama orang Islam – dianggap sebagai korban perang semata.

Alih-alih menarik simpati, kelakuan anarkis tersebut justru mengundang antipati. Setidaknya itu yang muncul di permukaan dan kabar di media massa nasional. Sekalipun yang punya pemikiran dan melakukan tindakan adalah individu atau kelompok individu (karena saya sebagai orang Islam tidak merasa terwakili) tetapi Islam sendiri sebagai agama dan petunjuk yang lurus jadi terbawa-bawa.

Sebenarnya, apakah Islam sebagai agama, pandangan hidup, dan kultur mengalami ancaman di tengah berbagai peradaban di dunia? Sehingga ada individu atau kelompok individu yang “terpanggil” untuk membelanya dengan kekerasan.

Kalau kita menengok sejarah, dan kembali ke masa lalu, kita tahu bahwa sejak awal kebangkitannya bersama Rasulullah SAW, Islam tidak pernah kering dari cobaan, karena memang kebenaran selalu mendapatkan ujian. Sebagai bukti bahwa Islam adalah kebenaran, bukannya mengerdil tetapi agama ini justru menjelma menjadi raksasa di tengah peradaban dunia saat itu. Dalam perjalanannya, semakin besar tekanan kepada Islam, semakin luas wilayah perkembangannya. Ketika tentara Perang Salib sempat mengalahkan pasukan Islam, sebenarnya justru saat itulah awal masuknya ide-ide dari para pemikir Islam ke Eropa, seperti ilmu kedokteran Ibnu Sina. Eropa tercerahkan, tapi pada umumnya mereka tidak mengakui bahwa pencerahan itu bersumber dari peradaban Islam yang mereka serap.

Kita ingat kontroversi 9/11 – saat menara kembar Wold Trade Center rata dengan tanah akibat dihantam pesawat berbadan lebar secara sengaja. Konon, pesawat itu dibajak teroris dari Timur Tengah dan ditabrakkan ke WTC. Versi lain, semua kabar tentang terorisme adalah rekayasa, sebab pada hari itu, hampir semua karyawan yang beretnis Yahudi serentak cuti sehingga selamat dari runtuhnya WTC. Apapun alasannya, orang Amerika lah yang menderita.

Anehnya, seperti anti-tesis bahwa runtuhnya WTC akan menjatuhkan reputasi Islam, justru kejadian pahit ini membuat orang Amerika ingin tahu Islam itu seperti apa. Mereka yang sebelumnya tidak tahu dan tidak perduli, menjadi ingin tahu dan ingin belajar. Justru inilah kunci peradaban Islam, penyebaran agama dengan akal. Orang Amerika yang berakal, dan menggunakan akal mereka dalam mempelajari Islam, justru tertarik ke Islam. Mualaf menjadi jauh lebih besar pasca tragedi 9/11 … sebuah keanehan yang nyata.

Upaya pelemahan Islam terjadi secara sistematis maupun sporadis, itu sudah terjadi sejak jaman Rasulullah sendiri. Selama sifatnya masih pertentangan dengan kata-kata, ketinggian kandungan dan tata bahasa Al-Qur’an tidak akan terpatahkan. Oleh karena itu, yang kemudian terjadi adalah upaya pembunuhan Rasulullah SAW dan menghabisi semua orang Islam. Terjadilah berbagai peperangan yang tidak terhindarkan.

Pada masa Khulafaur Rasyidin, Islam mengembangkan sayap semakin jauh ke negeri-negeri tetangga hingga ke tempat yang jauh. Islam bukan lagi sebuah agama dan gagasan tetapi sudah menjelma menjadi sebuah peradaban dan negara. Oleh karena itu, perluasan peradaban ini terkadang berbenturan dengan peradaban lain dan menimbulkan pertentangan dan perang.

Kemudian, muncullah pameo bahwa Islam disebarkan dengan pedang. Sebagai penghalusan gagaan bahwategaknya Islam ini karena memaksa orang untuk memeluknya, bukan karena keikhlasan. Islam tidak akan mendunia bila tidak melalui peperangan.

Padahal, dalam kenyataannya, penyebaran agama Islam di Asia, Eropa, dan banyak negara lain justru kebanyakan melalui perdagangan. Tidak mungkin Islam bercokol beberapa abad di Spanyol tanpa adanya orang-orang Islam yang mendahului tiba di sana. Tidak ada kabar berita dan bukti bahwa tentara dari jazirah Arab disebarkan di banyak negara Asia dan Afrika untuk penaklukan. Yang ada adalah armada pedagang, yang membawa peradaban Islam dalam tata cara perdagangan mereka. Tentu saja ini sangat berbeda dengan penaklukan kaum kolonial Spanyol dan Portugis yang membawa agenda ekspedisi: gold, gospel, glory (perburuan emas, penyebaran agama, dan membangun kejayaan) – untuk menyebut mencari harta di tanah orang, menyebarkan agama kepada bangsa lain, dan membentuk koloni di negeri yang jauh.

Ujian bagi kaum Islam pun sampai sekarang belum selesai, dengan bentuk yang berbeda-beda dan berasal dari elemen yang beragam. Ada yang berbentuk tekanan militer seperti di Palestina, ada yang berwujud westernisasi seperti di beberapa negara pesisir jazirah Arab, melalui arus informasi yang tidak terbendung seperti di Indonesia, dan sebagainya. Dampaknya serupa, yakni menjauhkan orang Islam dari Al-Qur’an dan Hadits. Justru ujian non-fisik seperti westernisasi dan informasi lah yang jauh lebih berbahaya, karena tidak nyata dan halus sekali masuk ke pembuluh nadi orang Islam.

Akankah Islam akan runtuh? Sekali-kali TIDAK. Allah telah memberikan janjiNya bahwa satu-satunya agama di sisiNya adalah Islam (Ali Imran 19): Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam. Kemudian dalam QS Al Maidah ayat 3, Allah menegaskan … Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Dengan demikian, sebenarnya Islam sebagai agama tauhid sudah diamanatkan Allah bagi manusia yang bertakwa. Allah sendiri yang menjamin keberlangsungannya. Allah sendiri yang akan melindungi Islam, dan Allah tidak butuh manusia sebagai penolongNya. Tidak mungkin Allah membiarkan agama yang diridhaiNya, dan satu-satunya yang benar seperti dalam wahyuNya dibiarkan runtuh.

tanggung jawab kita adalah anak-anak kita

Bila kita mencintai agama ini sebagai rahmatan lil alamin, tugas kita adalah menegakkan syariat Islam bagi diri kita, keluarga kita, dan orang-orang yang mau bertakwa sebagaimana Rasulullah menegakkan Islam dengan kasih sayang dan persaudaraan. Tidak ada paksaan dalam beragama, sehingga memusuhi orang di luar Islam sungguh bukan ajaran Rasulullah SAW. Biarlah mereka dengan sesembahan mereka, dan Allah akan memberikan keputusanNya kelak.

Bagaimana dengan musuh-musuh yang membenci Islam dan berusaha menghancurkan umat Islam? QS An-Nisa 45 menjelaskan: Dan Allah lebih mengetahui  tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung. Dan cukuplah Allah menjadi Penolong.

Bila Allah sudah berkehendak, apa susahnya meremukkan sebuah bangsa dan menghapusnya dari muka bumi? Kaum ‘Ad, kaum Tsamud, bangsa Nabi Nuh, dsb telah menjadi bukti. Biarlah Allah yang akan menentukan nasib bangsa Israel, orang Eropa, dan semua yang dianggap musuh Islam, karena mereka bertahan di muka bumi ini semata karena ijin Allah, semata agar menjadi ujian bagi kita – kaum mukmin yang bertakwa.

Cukuplah Bagiku Allah …

Posted in Kontemplasi, Sharing, Tausiyah with tags , , , , , , , , on August 15, 2010 by hzulkarnain

Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung … demikian bunyi sepotong ayat dalam Ali Imran ayat 173, untuk menunjukkan bahwa kekuatan iman (seharusnya) bisa menahan ketakutan dan kekhawatiran atas apapun yang membahayakan jiwa.

Sayangnya, realitanya tidak semudah itu. Kita dibesarkan dalam konsep keduniaan, dan sebagai mahluk sosial terbiasa untuk menjadikan manusia lain sebagai penolong. Ayah ibu kita, kakak, saudara, hingga sahabat dan teman biasa. Bisa dikatakan, kita tidak dididik untuk menjadikan Allah sebagai penolong, kecuali mungkin bila kita dibesarkan secara khusus seperti di lingkungan pesantren.

Ketika sakit, pikiran yang pertama terlintas adalah dokter. Wajar, tetapi kecenderungannya kemudian adalah berpikir pertolongan sangat jauh, dan hanya bisa didapatkan lewat tangan ahli. Ketika mendadak membutuhkan biaya besar, yang pertama terlintas di pikiran adalah pinjam uang pada orang atau bank, karena rasanya Allah yang gaib tidak akan menurunkan sejumlah uang secara nyata. Ketika masuk rumah baru dan takut pada fenomena yang tidak dipahami, yang terpikirkan justru bantuan paranormal.

Mungkin sekarang ini kondisi religius orang Indonesia sudah membaik, setelah sangat lama terbelenggu total pada sekularisme di era sebelumnya. Kemajuan informasi dan komunikasi telah mendorong maraknya dakwah agama, dan orang jadi lebih mudah mengakses apapun yang terkait dengan agama. Akan tetapi, seperti halnya evolusi dalam berbagai bidang, tidak mudah mengikis cara berpikir yang diturunkan dari generasi sebelumnya.

Mengatakan cukuplah bagiku Allah memang mudah untuk dikatakan, tetapi bila masih percaya pada ruwatan, hari baik, sedekah bumi, selamatan, dan apapun namanya yang mengatas namakan keselamatan, berarti Allah belum lah cukup. Allah tidak pernah menyuruh kita melakukan ritual selain sholat untuk mendekatkan Dia pada umat-Nya. Hanya sholat saja ritual yang diperintahkan, dan perbanyak zikir agar kita lebih mendekat padaNya.

Beberapa waktu lalu, seorang teman bercerita tentang sakitnya. Dia masih muda dan belum menikah, atraktif, dan masih naif. Menurutnya, keluarganya cukup konservatif, dan cukup baik dalam pengajaran agama. Dalam ceritanya, ia pernah ditaksir seseorang yang sudah dianggapnya kakak sendiri. Intinya, ia tidak tertarik dengan laki-laki tersebut dengan dalih belum siap untuk menikah. Konon, setelah penolakan itu beberapa kali mimpi buruk mendatanginya. Yang paling serius terjadi saat ia merasa dicekik figur hitam besar, dan merasa hampir mati.

Menurut teman tersebut, keesokan harinya ia tidak bisa berjalan. Kakinya terasa berat seperti dibebani sesuatu. Dua minggu ia tidak bisa kemana-mana, dan dokter pun tidak menemukan penyakit apapun. Selanjutnya, orang tuanya membawanya ke kiai (sebutannya begitu). Menurutnya, sampai ada 4 kiai yang didatangi untuk mencari kesembuhan. Akhirnya ia memang sembuh dan bisa berjalan seperti biasa.

Apakah sembuh begitu saja? Tidak.

Sekarang, kemana-mana teman saya itu membawa semacam jimat penangkal, yang katanya bisa melindunginya. Sebuah bungkusan putih dengan tulisan arab gundul. Dia sepakat bahwa apa yang dilakukan itu adalah menangkal jin dengan jin lain. Dia juga tahu dampak buruk yang bakal terjadi bila dia terus merawat jimat itu. Sekarang pun sudah terasa,  dia jadi lebih sulit mengaji dengan normal karena selalu mengantuk dan akhirnya tertidur. Kalaupun terbangun, minatnya mengaji sudah hilang.

Takut akan hal gaib, itu adalah hal yang lumrah karena normalnya kita tidak tahu apa yang ada di balik tabir gaib tersebut. Sama dengan orang yang takut pada kegelapan, karena dia tidak tahu apa yang bersembunyi di dalam kegelapan itu. Dalam situasi seperti itu, kita dipaksa untuk berpegang pada sesuatu agar tidak takut lagi. Mau berpegang pada apa, itu adalah pilihan kita.

Meyakini sebuah supreme being – dzat yang maha tinggi – adalah hakikat manusia. Itulah sebabnya manusia mengembara dalam pikiran dan keyakinan untuk mencari bentuk sesembahan sebagai wujud takluk dan takutnya. Muncullah keyakinan-keyakinan kuno seperti animisme, dinamisme, hingga paganisme yang memunculkan dewa-dewa seperti era Yunani dan Eropa kuno. Bila di Yunani ada Zeus, orang-orang Viking menyembah Odin – yang sama-sama penguasa langit bersenjatakan petir. Orang Arab kuno lebih takut pada dewa air, karena kondisi dataran yang bergurun. Orang Persia menyembah dewa api, yakni kaum Majusi yang masih ada hingga sekarang. Masyarakat kuno di Amerika Selatan dan kebanyakan suku-suku yang terlah hilang takut pada matahari, dan api sebagai sebuah bentuk dari kekuatan matahari.

Agama-agama yang masih ada dan berkembang sekarang ini meyakini adanya sebuah dzat yang maha tinggi, namum hanya Islam yang secara lugas menegaskan bahwa tidak perlu perantara untuk berhubungan dengan Sang Khalik tersebut. Tidak perlu dewa, pendeta, idol (bentuk patung untuk fokus), atau bahkan tempat khusus untuk menyembahNya, karena dia bisa lebih dekat daripada urat nadi manusia sendiri.

Manusia secara nas sudah ditunjuk menjadi khalifah di muka bumi, spesies yang memang diperintahkan menyebar dan mengembara di atas dunia untuk mengagungkan namaNya. Manusia boleh memanfaatkan apapun yang ada di atas dan di dalam bumi untuk kepentingannya. Kurang apa lagi. Akan tetapi, tidak semua manusia cukup pede meyakini bahwa dia adalah seorang khalifah, sehingga memerlukan “jasa” mahluk lain untuk bisa menegakkan dada menunjukkan jati diri sebagai manusia.

Padahal, Allah telah juga mengingatkan bahwa menjadi khalifah di muka bumi itu tidak lah mudah (QS At-Tiin): “…sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya , kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”.

Bila kembali pada akar keyakinan, yakni Allah, semuanya jauh lebih sederhana. Kebutuhan yang teramat sangat pada figur dokter, bank, hingga mahluk lain sebenarnya ketakutan akan derita, sengsara, bahkan mati. Padahal, tanpa ijin Allah, sengsara dan derita tidak akan menghampiri. Kecuali memang Allah menurunkan cobaan, teguran, atau azab pada kita manusia. Bila sudah kehendak Allah, tidak akan ada yang bisa menundanya apalagi membatalkannya.

merendah di hadapan Allah

Jadi, mengapa tidak sekarang saja dengan sepenuh hati mengucapkan hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal mawla wa ni’man nashir …. seperti saat Nabi Ibrahim a.s dilemparkan ke api, saat Rasulullah SAW menghadapi ancaman serangan kafir Quraisy, dan Aisyah r.a menghadapi fitnah keji.

Semoga Allah merahmati kita semua. Amin….