Archive for June, 2011

Mahluk Gaib Jahat (2)

Posted in Sharing, Tausiyah with tags , , , , , , , on June 30, 2011 by hzulkarnain

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan cara kaum jin mencuri dengar berita-berita langit.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Apabila Allah memutuskan suatu perkara di langit, para malaikat merentangkan sayap-sayapnya sebagai (refleksi) kepatuhan terhadap firmanNya, firman (yang didengar) itu seolah-olah seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu, sehingga memekakkan mereka. Tatkala hati mereka telah hilang dari rasa takut, mereka bertanya,’Apa yang baru saja difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab malaikat (Jibril) berkata,’(Perkataan) yang benar, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar’. Ketika itulah, (jin-jin) pencuri berita (wahyu) itu mendengarnya. Keadaan mereka seperti ini. Sebagian mereka bertumpu di atas sebagian yang lain. Sufyan bin Uyainah (salah seorang perawi hadits ini) menggambarkannya dengan telapak tangannya, ia merenggangkannya dan membuka jari jemarinya. Maka ketika (jin-jin) pencuri berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, mereka lalu menyampaikannya kepada yang ada di bawahnya, dan demikian seterusnya hingga disampaikan ke mulut tukang sihir atau tukang ramal. Akan tetapi, kadangkala para pencuri berita itu terkena syihab (panah-panah api) sebelum sempat menyampaikan berita yang disadapnya itu. Dan kadangkala mereka sudah sempat menyampaikannya sebelum terkena syihab. Lalu dengan satu kalimat yang didengarnya itulah, tukang sihir atau tukang ramal melakukan seratus macam kebohongan.

Mereka (yang mendatangi tukang sihir atau tukang ramal berkata),’ Bukankah dia telah memberitahukan kepada kita, bahwa pada hari anu akan terjadi peristiwa anu (dan itu benar-benar terjadi)?’ Sehingga dipercayalah tukang sihir atau tukang ramal tersebut karena satu kalimat yang telah didengar dari langit”.

Hadits ini menunjukkan betapa kaum jin berusaha dengan susah payah serta menempuh resiko untuk mencuri berita langit yang sebenarnya hanya diperuntukkan bagi para malaikat. Pantaslah sejak jaman dahulu, selalu saja ada orang-orang yang punya kemampuan lebih dalam ramal meramal. Kita lihat, kadangkala sebuah ramalan mengandung kebenaran, tapi di saat lain sama sekali tidak tepat. Rupanya ini tergantung pada akurasi kaum jin dalam mencuri dengar berita di langit, sebab ada kemungkinan si pencuri tidak mampu meloloskan diri dari hadangan penjagaan malaikat di langit. Wallahu ‘alam bish shawab.

Wong pinter, orang pintar, orang tua, paranormal, dan suhu adalah beberapa sebutan yang lebih enak didengar untuk menyebut dukun, tukang ramal, atau tukang sihir. Orang-orang seperti ini bisa jadi adalah penipu ulung, atau memang orang yang menghambakan diri pada jalan kemusyrikan. Disebut dengan musyrik karena memang mereka tidak lagi bertuhankan dzat Allah, melainkan taghut yang mereka percayai sendiri. Inilah adalah contoh keberhasilan setan memperdaya manusia untuk mengikuti jalan mereka, menjadikan sebagian manusia menjadi agen-agen mereka untuk menyebarkan kemusyrikan.

Ada beberapa titik penting dalam kehidupan ini yang membuat orang mencari perlindungan pada kekuatan besar di luar dirinya, dan karena kondisi yang dihadapi tersebut bersifat gaib perlindungan yang dicari pun dari kekuatan gaib. Misalnya, bagi tentara adalah ketika ada perintah tugas ke medan perang, bagi pelajar tentunya saat ujian nasional, bagi orang lain adalah saat ada proyek besar, saat mengharapkan cinta seorang perempuan / laki-laki, dsb. Bagi umat Islam, inilah saatnya mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa. Akan tetapi, orang yang kurang kuat iman, yang menganggap Allah jauh, dan mengira ada kekuatan lain yang lebih perkasa, lebih suka mencari perlindungan pada taghut-taghut yang mereka percayai. Dari sini muncullah hal aneh-aneh yang adi kodrati hingga tak masuk akal, seperti ilmu kekebalan, menghilang, jimat pengasihan, jimat wibawa, dsb yang biasanya dirupakan dalam bentuk cincin, kalung, atau bentuk-bentuk lain yang bisa dibawa-bawa atau ditanam di sudut rumah. Tanpa sadar, manusia yang lemah iman telah meninggalkan Islam dan masuk ke dalam jeratan setan.

Sebenarnya, siapakah yang disebut dengan setan tersebut?

Setan atau Syaithan dalam bahasa Arab diambil dari kata yang berarti jauh. Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya terbakar atau batal. Pendapat yang pertama lebih kuat menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir, sehingga kata Syaithan artinya yang jauh dari kebenaran atau dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala (Al-Misbahul Munir, hal. 313). Ibnu Jarir menyatakan, syaithan dalam bahasa Arab adalah setiap yang durhaka dari jin, manusia atau hewan, atau dari segala sesuatu.

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)

Dalam ayat ini Allah menjadikan setan dari jenis manusia, seperti halnya setan dari jenis jin. Dan hanyalah setiap yang durhaka disebut setan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari kebaikan. (Tafsir Ibnu Jarir, 1/49)

Ibnu Katsir menyatakan bahwa syaithan adalah semua yang keluar dari tabiat jenisnya dengan kejelekan (Tafsir Ibnu Katsir, 2/127).

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau berada di masjid. Akupun duduk. Dan beliau menyatakan: “Wahai Abu Dzar apakah kamu sudah shalat?” Aku jawab: “Belum.” Beliau mengatakan: “Bangkit dan shalatlah.” Akupun bangkit dan shalat, lalu aku duduk. Beliau berkata: “Wahai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan jin.” Abu Dzar berkata: “Wahai Rasulullah, apakah di kalangan manusia ada setan?” Beliau menjawab: “Ya.”

Secara awam pula kita hanya mengenal setan dari bangsa jin, yang suka mengganggu manusia dengan cara nyata maupun melalui bisikan yang halus. Misalnya mereka berdiam di sebuah hutan, menguasai hutan, dan dengan sihirnya membuat manusia tidak berani mendekati wilayah itu. Orang yang nekat akan mengalami sakit, bahkan mungkin sampai mati, dan itu menjadi pelajaran bagi lainnya.

Atau, ketakutan itu bisa dengan cara dihembus-hembuskan secara halus di dada manusia, misalnya pada tentara yang akan berangkat ke medan perang, dengan rasa was-was akan kematian dalam tugas (sementara sang istri sedang hamil). Efek yang terjadi mungkin akan sama: orang yang akan masuk ke hutan akan memberikan sesajen kepada penunggu hutan agar aman, dan tentara yang berangkat perang memakai jimat perlindungan.

Apa yang terjadi bila keduanya mati sebelum bertobat? Niscara keduanya mati dalam kemusyrikan, karena sedang mengingkari kekuasaan Allah Swt.

Sebagai manusia yang berakal dan beriman, kita bisa pula menilai siapa saja manusia-manusia yang digolongkan sebagai setan, yakni (per-definisi) orang-orang yang jauh dari kebenaran dan rahmat atau membawa manusia lain menjauhi kebenaran atau rahmat Allah. Para penjahat, dengan segala bentuk kejahatannya yang dilakukan secara sadar serta nyata-nyata mencelakakan atau merugikan orang lain, serta para penganjur kekerasan, penganjur kesesatan, penganjur kemusyrikan bisa digolongkan ke dalam definisi ini.

Para ulama dan guru-guru agama selalu mengingatkan kita akan bahayanya terlalu cinta dunia,  sebab inilah lubang yang hampir selalu menjatuhkan manusia ke dalam kesesatan. Cinta pada harta, tahta, istri dan anak yang berlebihan akan mengingkari kodrat mereka sebagai titipan Allah. Orang seperti ini akan mencari cara agar dunia yang ada di genggamannya tidak lepas, dengan cara apapun. Termasuk dengan cara-cara syirik.

Ulama berkata: Jangan takut mati, tapi jangan mencari mati. Mati adalah kepastian, hanya waktunya saja yang belum ditentukan secara pasti. Tidak ada gunanya mengamalkan sihir mencari kekebalan, karena kematian bisa mencari jalannya sendiri. Bahkan Rasulullah Saw junjungan kita pun pernah terluka parah saat perang, dan kematian akan disambut dengan ikhlas – lalu mengapa kita takut dengan nash Allah?

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan  kepada cahaya . Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah thagut (syaitan), yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan . Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 256-257)

Advertisements

Mahluk Gaib Jahat (1)

Posted in Sharing, Tausiyah with tags , , , , , , on June 24, 2011 by hzulkarnain

Arwah Penasaran, Setan atau Jin?

Film horor Indonesia sama Barat serem mana? Kalau sama film horor Jepang atau Korea? Itulah fenomena film horor, bikin takut tapi juga bikin penasaran. Bagi saya pribadi, atraksi visual film horor Jepang atau Korea adalah top-rating. Mereka bisa menggambarkan sosok mengerikan dalam bentuk dan wujud yang tidak terpikirkan sebelumnya – dan itu ujung-ujungnya akan diadopsi oleh film horor Indonesia. Film horor Jepang yang paling mengerikan, menurut saya, adalah Ringu (the Ring) yang pertama – dan pantaslah bila kemudian gaya ini diadopsi banyak film sejenis di Asia.

kengerian saat Sadako "keluar" dari layar tv

Sekalipun kebanyakan dikenal melalui visualisasi film, bayangan sosok perempuan cantik bergaun putih berambut panjang terurai, dan tampak di kegelapan malam, selalu menumbuhkan rasa was-was dan takut. Itulah wujud Sundel Bolong yang dulu diperankan mendiang Suzzanna, berdasarkan mitos di masyarakat Jawa – khususnya Jawa Timur dan Tengah. Sundel atau sundal menggambarkan perempuan yang keluyuran di malam hari, disebut bolong karena punggungnya bolong. Bukan hanya di Jawa, kisah hantu perempuan ini juga berkembang di bagian lain Indonesia – yang mereka percaya adalah roh gentayangan perempuan yang mati saat melahirkan.

Yang mungkin lumayan mengimbangi ketenaran setan perempuan berambut panjang ini adalah pocong atau pocongan – mayat hidup dengan berkafan terikat, dengan tubuh yang sudah mulai hitam membusuk. Konon, pocong ini terjadi karena saat dimakamkan tali pocongnya lupa dilepas, sehingga dia bangkit menuntut untuk disempurnakan. Pocong populer di daerah Jawa, yang mayoritas muslim, karena memang bentuk tersebut adalah cara orang Islam dimakamkan.

Secara lokal, banyak sekali kisah menyeramkan tentang penampakan, penunggu, dan gangguan yang dipercayai oleh masyarakat. Ada yang berupa mahluk tinggi besar hitam berbulu, ada yang berwujud perempuan buruk rupa penculik anak, raksasa hijau pesugihan, sundel bolong, kuda berkepala manusia, dsb. Kepercayaan ini seringkali melekat secara turun temurun menjadi legenda dan mitos.

Kebanyakan orang takut akan sosok mereka karena seramnya, tapi tak kurang pula yang takut dibunuh hantu-hantu itu. Yah, memang dalam film semua hantu yang ditampilkan bisa membunuh atau membalas dendam, dengan cara mencekik atau cara lain yang tak kurang sadisnya. Apa benar mereka bisa membunuh? Sebenarnya mereka ini apa sih? Setan, hantu, arwah gentayangan, roh penasaran, jin, atau apa?

Awalnya, sama dengan kebanyakan orang, saya bingung dengan banyaknya nama dan bentuk mahluk-mahluk aneh dan menyeramkan ini. Hingga pada suatu saat, secara kebetulan dalam sebuah kajian Islam di televisi, Ust. Abu Aqila dengan gamblang menjelaskan fenomena ini – dan bagi saya masuk akal. Dengan tegas, beliau mengatakan bahwa bentuk-bentuk tersebut adalah perwujudan jin. Inilah yang mendorong saya mencari tahu lebih banyak.

Apa bukan roh orang mati yang gentayangan? BUKAN. Dalam Islam, roh tidak mati bersama jasad manusia, tapi tidak juga berkeliaran. Begitu orang terakhir meninggalkan pemakaman, saat itulah malaikat Munkar dan Nakir bekerja dan perhitungan alam kubur dimulai. Tidak ada satupun ayat dalam Al Qur’an yang mengindikasikan bahwa roh manusia yang sudah masuk dalam alam kubur yang gaib kembali ke alam dunia yang wujud. Kalau ada orang yang mengatakan ini dan itu tentang arwah, roh, atau kehidupan setelah kematian, sudah pasti omong kosong. Al Israa’ ayat 85 menegaskan: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah hanya menciptakan mahlukNya dari 3 elemen: cahaya, nyala api, dan tanah. Mahluk cahaya adalah para malaikat, mahluk api adalah bangsa jin, dan mahluk tanah adalah manusia. Dalam sebuah hadits Muslim, Rasulullah bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya, Jan (nenek moyang jin) diciptakan dari nyala api, dan Adam (nenek moyang manusia) diciptakan dari apa yang telah disebutkan (dalam Al-Qur’an) kepada kalian.”

Dari ketiga jenis mahluk Allah itu, hanya satu yang diberi kelebihan berubah bentuk yakni jin. Secara umum, normalnya manusia tidak akan bisa melihat jin dalam wujud aslinya, kecuali mereka yang ingin memperlihatkan diri – itu pun bukan dalam wujud asli mereka. Kaum jin tinggal di sebuah alam yang bukan alam manusia dan bukan alam malaikat. Manusia normal tidak akan bisa melihat alam dan bangsa jin itu sendiri karena memang Allah menutup mata kita dari mereka. Sesuai dengan namanya, jin berasal dari kata janna syai`un yajunnuhu yang artinya tertutup atau tersembunyi. Sebaliknya mereka bisa melihat kita … “Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka … (Al A’raf: 27).

Di luar kewajaran, menurut ust. Abu Aqila, ada beberapa macam manusia yang terbiasa melihat perwujudan jin dalam banyak rupa, yakni: pengamal dan penganjur kesyirikan (penganut paganisme, dukun, peramal dsb), orang dengan iman yang lemah (kaum kafir dan anak yang belum mengenal aqidah), dan orang yang pernah mengalami panas tinggi waktu masih balita (karena hal itu menimbulkan semacam celah di otak).  Selain itu, tentunya ada orang-orang yang dipilih Allah untuk bisa melihat dan berkomunikasi dengan jin.

Selain perbedaan dzat pembentuk, dan alam kehidupan tempat berdiam, ada beberapa kesamaan antara jin dan manusia. Yang pertama, kedua jenis mahluk ini sama-sama membentuk masyarakat, dan tinggal di wilayah-wilayah tertentu. Kata Ust. Abu Aqila, ada jin-jin yang berkemampuan sangat tinggi, dan menjadi penguasa kaum jin. Seperti halnya yang dikenal masyarakat Jawa sebagai Nyai Roro Kidul yang menguasai Laut Selatan, sebenarnya dia adalah salah satu panglima bangsa jin.

Manusia dan jin sama-sama mahluk berakal, dan karena itu berkemampuan memilih jalan yang baik dan buruk. Peringatan Allah dalam QS Al An’am 130: “Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini. Ada sebuah kisah dari sahabat Ibu Mas’ud yang menceritakan Rasulullah SAW bertemu dengan utusan kaum jin dan bersedia pergi bersamanya ke alam jin untuk membacakan Al Qur’an pada mereka. Karena jin dan manusia sama-sama diciptakan untuk beribadah pada Rabb-nya, tidak mengherankan sebenarnya apabila banyak pula bangsa jin yang taat. Sama halnya dengan manusia, setelah ditunjukkan kebenaran Al Qur’an, sekarang terserah jalan mana yang akan ditempuh. Tunduk pada ketentuan Al Qur’an (dan menjadi jin Islam) atau tetap ingkar (menjadi jin kafir).

Sekalipun jin ada yang muslim dan taat, Al Qur’an menegaskan rambu-rambunya: “Dan bahwasanya ada saja beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara Jin, maka Jin-jin itu justru hanya menambahi mereka dosa dan kesalahan.(QS.Al Jin:6). Ayat di atas bersifat universal, artinya bahwa jin yang mau berkawan dengan manusia, atau manusia mau berkawan dengan jin pasti ada maunya. Tidak ada perkawanan yang tulus antara jin dan manusia karena keduanya bukan sejenis.

Jin yang durhaka kepada Allah, dan berusaha menarik-narik manusia pada kejahatan, adalah setan. Bukan hanya kafir, tetapi juga pembangkang dan mencari-cari manusia yang mau mengikuti jalannya. Tujuannya jelas, menemani moyang jin yakni iblis berdiam di neraka selamanya. Tidak semua jin adalah setan, dan setan tidak identik dengan jin, karena adapula manusia yang setan. Setan adalah sebutan sifat kafir, pendurhaka dan pembangkang kepada Allah.

Bujuk rayu setan bisa berupa tindakan yang sangat kasar hingga halus. Mungkin yang paling kasar adalah menumbuhkan rasa takut dan was-was, sehingga akhirnya manusia mencari perlindungan dari mahluk lain selain Allah. Bentuk-bentuk aneh dan seram tersebut di atas tak lain adalah setan dari bangsa jin yang berusaha mendorong manusia memasuki kesesatan. Muncullah jimat dan piandel seperti cincin, keris, dan barang pusaka lainnya. Juga muncul ilmu kesaktian seperti lembu sekilan (kekebalan), sayepi angin (meringankan tubuh), blabag pengantolan (kekuatan fisik), dsb. semua benda dan kesaktian tersebut tidak punya tuntunan syar’i dan karenanya merupakan bagian dari kesyirikan. Dikatakan syirik karena dalam prosesnya menemukan kekuatan meminta pertolongan pada mahluk lain yakni jin.

Bila ketakutan tidak menjadi pendorong, setan akan mencoba cara yang halus. Tujuannya adalah membangkitkan sifat buruk manusia, misalnya sombong dan riyaa’. Tujuan akhirnya adalah rasa cinta dunia yang sedemikian besar hingga takut mati. Bila tidak mempan juga, akan ada cara lain, hingga akhirnya titik kelemahan manusia ditemukan. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu pernah ditanya tentang perbedaan jin dan setan, beliau menjawab: “Jin itu meliputi setan, namun ada juga yang shalih. Setan diciptakan untuk memalingkan manusia dan menyesatkannya. Adapun yang shalih, mereka berpegang teguh dengan agamanya, memiliki masjid-masjid dan melakukan shalat sebatas yang mereka ketahui ilmunya. Hanya saja mayoritas mereka itu bodoh.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin).