Archive for Indonesia

SEA Games dan Kebangkitan

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , , on November 16, 2011 by hzulkarnain

INDONESIA BISA!

Begitulah slogan yang didengungkan bangsa ini untuk mendukung para atlit Indonesia di kancah SEA Games. Kita pernah menjadi tuan rumah dan gagal menjadi juara umum, dan secara memalukan harus menundukkan kepala dibantai negara-negara jiran di tanah sendiri. Padahal, bangsa ini besar, kuat, dan punya tradisi juara di kancah perhelatan olah raga se-Asia Tenggara. Sekarang, Indonesia menjadi tuan rumah lagi dan inilah saatnya untuk membuktikan bahwa kita masih punya tradisi juara itu.

Yang lebih membanggakan daripada sekedar memenangkan kejuaraan adalah ketetapan dari petinggi yang mengurusi olahraga untuk memunculkan bibit-bibit baru atlit mendampingi para veteran dalam laga internasional ini. Dan, pada kenyataannya, bibit-bibit muda atlit Indonesia telah menunjukkan kapasitas positif yang membanggakan – di hampir semua cabang olahraga. Misalnya, juara lari 100 meter putra dan putri dengan sangat membanggakan jatuh ke tangan atlit muda kita, yakni Franklin Ramses Burumi dan Serafi Anelis Unani. Beberapa cabang di luar atletik yang juga bersifat non-permainan seperti dayung, renang, dan sepatu roda menyumbangkan banyak medali emas oleh para atlit yang tidak terlalu kita kenal namanya.

Bangga… itu pasti. Akan tetapi, kita ingat bahwa beberapa saat sebelum perhelatan ini dimulai begitu banyak masalah yang terjadi di Palembang yang menyebabkan munculnya pesimisme. Mulai dari pembangunan wisma atlit yang diterpa isu korupsi, gelanggang yang belum siap, infrastruktur yang belum beres, dan banyak lagi. Bahkan sekarang pun, saat SEA Games sudah berlangsung, masih sangat terlihat kondisi yang apa adanya, asal memenuhi syarat. Tidak ada kemewahan dan keindahan yang memberikan kesan.

Para atlit mengeluhkan katering, angkutan antar venue yang berusaha ramah lingkungan tetapi disiapkan ala kadarnya, suasana kompleks olahraga yang masih gersang, kering, dan panas, dan macam-macam lagi. Untungnya … prestasi anak bangsa yang bertanding moncer. Dampaknya, khalayak boleh sedikit melupakan penilaian negatif tentang fasilitas di Jakabaring.

Inikah kebangkitan kembali olahraga bangsa ini? Kita harapkan demikian. Kita bahkan sudah mulai lupa, kapan kita ini bangga dengan prestasi anak negeri di bidang olahraga. Padahal penduduk Indonesia ini hanya kalah oleh China, India, dan Amerika Serikat di dunia. Sementara prestasi kelas dunia hampir tidak ada yang diukir oleh orang Indonesia (atau memang malah tidak ada?).

Saat sang merah putih berkibar, Indonesia Raya berkumandang, bahkan pemirsa televisi di rumah bisa menitikkan airmata tanda keharuan. Menjadi superior di antara bangsa lain merupakan kebanggan sekaligus cita-cita kita bersama, dan ajang olahraga adalah pembuktian yang nyata.

Unsur dasar olahraga adalah atletik, yaitu: lari, lempar, lompat, dan jalan, yang pada ujungnya berbicara soal kekuatan. Struktur tubuh orang Asia Tenggara pada dasarnya memang kurang ideal untuk mencapai prestasi puncak dalam olahraga, bila dibandingkan dengan ras kaukasia dan negro. Tidak mengherankan, negara-negara yang mayoritas berkulit putih dan hitam mendominasi kekuatan olahraga sejagat. Atlit berkulit putih terkenal dalam olah raga senam, renang, atletik, dan beberapa cabang olahraga permainan. Atlit negro Amerika dan Karibia terkenal dalam lari jarak pendek dan menengah, beberapa olah raga permainan, termasuk tinju.

Ras kuning dari Asia Timur belakangan juga menyusul, sekalipun masih belum sekuat ras putih dan hitam. China, Jepang, dan Korea adalah naga-naga Asia yang terbangun dan menggetarkan dunia. Jangankan dalam olimpiade, di level Asia saja (Asian Games) terbukti sulitnya orang-orang Asia Tenggara menembus dominasi ras kuning tersebut.

Namun demikian, perlu dicatat bahwa tidak semua cabang olahraga membutuhkan struktur otot besar, bahkan tidak ada hubungannya dengan besarnya otot misalnya panahan, menembak, tenis meja, bulu tangkis, dsb. Di luar bulu tangkis, ternyata prestasi atlit kita masih terhitung payah, belum konsisten. Seharusnya, di cabang-cabang yang tidak membutuhkan kekuatan otot seperti ini kita bisa menonjol hingga di tingkat dunia.

Nikmati dan syukuri yang ada. Itu adalah kata-kata bijak dari ajaran agama agar manusia tidak meratapi kekurangan dan mengharapkan kelebihan yang berada di luar jangkauan. Kalau memang orang Indonesia hanya bisa berprestasi di kancah Asia Tenggara … biar saja! Para pemuka daerah, petinggi negeri, dan pemimpin organisasi olahraga harus bertanggung jawab menemukan bibit-bibit atlit baru di segenap bumi Indonesia … agar muncul nama-nama baru menyegarkan jagat olahraga Indonesia.

Semoga!

Bila Kekuasaan Bukan Lagi Amanat

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , , , , on February 26, 2011 by hzulkarnain

Dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan terakhir, Afrika Utara hingga jazirah Arab dilanda gelombang protes yang menginginkan perombakan kepemimpinan bangsa. Tunisia, Mesir, Yaman, Bahrain, dan yang terakhir adalah negara gurun yang selama ini dianggap “slilit” oleh Barat – Libya. Apakah gerakan itu murni berasal dari keresahan rakyat atau disponsori pihak asing … wallahu a’lam bishshawab ….

yang satu sudah lengser, yang lain terancam

Setelah Hosni Mubarak akhirnya mau mengalah, lengser dari kursi kepresidenan Mesir, tiba-tiba unjuk rasa bergeser dan menyeruak di salah satu negara di jazirah Arab yang menjadi salah satu tujuan wisata, Bahrain. Alasannya berbeda. Unjuk rasa di Bahrain dilakukan oleh kaum Syiah yang menginginkan perubahan politik, karena sebagai kaum mayoritas ternyata mereka dimarginalkan oleh kaum Sunni yang minoritas. Belum kelar soal Bahrain, Libya mengguncang Afrika dengan aksi protes seperti Mesir, menginginkan Muammar Khadafi lengser. Dengan alasan demonstran tersebut didalangi oleh Al-Qaida, Khadafi memberlakukan kekerasan militer.

Kondisi di Mesir dan Libya nyaris seperti Filipina dan Indonesia, saat Ferdinand Marcos dan Soeharto dilengserkan dari kursi kepemimpinan. Pada suatu masa, rakyat negara-negara tersebut bangga sekali dengan pemimpinnya yang kuat. Akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu, terjadi perubahan ekonomi, sosial politik dunia,  dan ternyata rakyat justru berada dalam tekanan, dimarginalkan, sementara keuntungan serta kesejahteraan hanya dinikmati oleh segelintir orang yang berada di lingkaran elite politik. Pada saatnya rakyat yang muak tidak lagi bersuara dengan santun. Suara santun telah diberangus, perilaku ber-tata krama telah dihina, sehingga rakyat tinggal memiliki pilihan terakhir: bergerak secara massal dalam aroma agresi. Korban jiwa sudah pasti tidak akan terelakkan, dan dalam kondisi kacau seperti itu nyawa manusia seperti benda yang tidak ada harganya.

Memimpin orang lain, baik dalam kelompok kecil, kelompok besar, apalagi sebuah bangsa, tampaknya masih menjadi idaman bagi beberapa orang yang merasa memiliki bakat dan bekal. Tidak mengherankan, bursa Pilkada selalu ramai, selalu banyak cara untuk memenangkan persaingan, bahkan kecurangan bilamana perlu. Bla sudah berhasil meraih kursi yang diimpikan, orang cenderung mencari cara untuk mempertahankan bahkan melanggengkan kekuasaan.

Rasulullah Saw tidak pernah mengajarkan sistem monarki, tetapi justru sekarang negara yang berlabel Islam banyak yang masih berupa kerajaan atau kesultanan, termasuk Kerajaan Saudi Arabia. Negara kerajaan lain, antara lain: Jordania, Maroko, Bahrain, Kuwait, UEA, Brunei Darussalam, Malaysia, dsb. Tujuan penegakan sistem monarki, sudah barang tentu adalah melanggengkan kekuasaan dalam trah atau dinasti yang sama.

Di masa Rasulullah dan Kulafaur Rasyidin, negara Islam adalah Theokrasi: Khalifah adalah ulama dan umara’. Negara diatur tidak hanya melalui undang-undang hukum sipil tetapi juga melalui hukum agama, karena pada dasarnya Islam bukan hanya agama tetapi juga jalan hidup. Dengan pemimpin yang mengemban amanat, negara Islam di masa-masa awal menjadi sangat kuat. Perkembangan Islam yang awalnya dianggap kepercayaan orang gurun berkembang pesat hingga ke luar jazirah Arab.

Sayangnya, pasca Khalifah Ali terjadi pertentangan politik yang akhirnya dimenangkan oleh Bani Ummayah yang memang merupakan keluarga kuat sejak jaman Rasulullah. Mereka inilah yang membangun dinasti Umayyah yang legendaris, berkedudukan di Damaskus. Di sinilah sebenarnya pemerintahan monarki dalam negara Islam dimulai. Tentu saja, sejak awal sistem monarki yang menggantikan theokrasi ini mendapatkan tentangan, akan sistem ini bertahan hingga sekarang di beberapa negara berbendera Islam.

Islam mengajarkan bahwa sebuah amanat adalah cobaan atau musibah, termasuk jabatan tinggi apalagi memimpin. Orang itu harus bisa mempertanggung jawabkan apa yang diembannya dihadapan manusia sekarang dan pengadilan akhirat kelak. Oleh karena itu, umat Islam seharusnya mengucapkan “innalillahi wa inna ilaihi roji’un” secara khusyuk saat menerima amanat jabatan, bukannya “alhamdulillah” dengan wajah berseri. Kenapa demikian? Sebab, jabatan dunia ini besar godaannya. Bila tahta sudah di tangan, tinggal menunggu waktu godaan harta dan wanita menghampiri. Bila tahta sudah di tangan, pada waktunya, akan sangat besar dorongan untuk melanggengkan kekuasaan tersebut. Bila tahta dan kekuasaan tidak menarik, tidak bergelimang harta, niscaya tidak akan banyak orang yang memperebutkannya.

Saat kekuasaan bukan lagi berlandaskan amanat rakyat, bukan lagi karena diridhoi rakyat dan ulama, seharusnya seorang pemimpin berhenti dan mulai mengurusi dirinya sendiri. Sayangnya, sepertinya tidak ada kepuasan untuk menambah harta, disanjung dan dihormati, dan mungkin baru berhenti bila tanah sudah memenuhi mulut mereka ini.

Saya tidak mengatakan bahwa orang tidak boleh berpolitik, karena memang politik adalah salah satu alasan dunia ini tetap berputar, dan manusia bertambah pandai. Akan tetapi, semua ada waktunya untuk berhenti. Apakah berhenti karena mati, berhenti karena dipaksa berhenti, atau berhenti dengan sukarela.

Bila waktunya sudah tiba, tetapi seorang penguasa ngotot akan bertahan, lihatlah yang telah terjadi di Filipina, Indonesia, dan Mesir. Betapa orang mencibir para penguasa yang turun dengan paksa, dan lembaran hitam pun menghiasi sejarah hidup mereka. Memang, bila seseorang sudah diperingatkan dengan halus – oleh Sang Maha Pengatur Alam, yang seringkali diwakili oleh rakyat jelata – tidak mau juga berintrospeksi, maka Dia akan membuatnya menerima musibah. Bukankah musibah terjadi akibat perbuatan manusia sendiri?

Bila kekuasaan bukan lagi pengejawantahan amanat – rakyat maupun Tuhan – berarti telah berubah menjadi nafsu berkuasa yang ujungnya adalah keduniawian, itulah saatnya sang pemimpin (seharusnya) berhenti. Kalau sudah 2 periode pemerintahan, sudah uzur, sudah semakin banyak yang memprotes, sudah sangat susah mengendalikan anak istri … sebutkan lagi banyak pertanda – itulah saat orang orang harus meletakkan kekuasaan. Biarlah terjadi regenerasi.

revolusi PSSI

Belakangan ini, yang terjadi di tubuh PSSI juga tak kalah menggelikan – sekalipun lingkup bicaranya jauh di bawah level negara. Hanya karena sepakbola adalah sport favorit di muka bumi – termasuk Indonesia, proses penggantian kepemimpinan PSSI jadi wacana nasional. Soal Nurdin Halid ingin terus berkuasa adalah haknya, tetapi yang paling lucu adalah upayanya menghalalkan segala cara untuk menang – termasuk merekayasa aturan, mengatur seleksi kandidat ketua, dan akhirnya sok buta-tuli, demi kursi ketua umum PSSI yang konon mampu memberikan keuntungan yang luar biasa. Bagamana tidak, dana PSSI tiap tahun mencapai ¾ milyar, yang tidak pernah terbuka dilaporkan.

Kita tunggu saja akhirnya …. Bagaimana orang-orang PSSI yang keras kepala ini mencoba bertahan di tengah badai ketidak senangan massa.