Kategori Anak dalam Islam

pewaris masa depan dunia

Herdian Zulkarnain

Orang Jawa punya ujar-ujar: tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati. Sebuah pepatah yang menggambarkan betapa darah atau nasab tidak mutlak menentukan perkembangan anak menjadi dirinya sendiri.

Tunggak jarak menggambarkan cikal bakal orang kebanyakan, bisa didapat di mana saja, tetapi juga bisa tumbuh di mana saja. Mrajak bermakna tumbuh dengan cepat dan subur. Tunggak jati menunjukkan derajat yang lebih tinggi, mahal, tapi tidak bisa mrajak. Bahkan bila tidak dirawat dengan benar, akan mati begitu saja.

Ada 2 dalam garis hidupnya yang tidak bisa dipilih oleh manusia, yakni dari siapa dia dilahirkan, dan di tanah mana dia akan mati. Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari seorang ibu yang tinggal hangat di sebuah istana raja, atau seorang ibu yang mengigil kedinginan di bawah jembatan. Yang Maha Kuasa dengan segala ke-Maha Adil-nya telah menentukan tanggung jawab dari masing-masing orang tua agar anaknya menjadi diri yang sesempurna mungkin. Anak bukanlah hak milik orang tua, tetapi anak adalah tanggung jawab Allah pada setiap orang tua untuk mengasuh dan membesarkannya.

…sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya ,

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan  pembalasan sesudah  itu?

Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?

(QS At-Tiin)

Dalam cetak birunya, manusia dikodratkan sempurna lahir dan batin. Akan tetapi, saat masuk ke alam dunia manusia harus melewati sebuah gerbang yang berupa kandungan ibu. Di sinilah awal perjalanan jasmaniah dan ruhaniah mulai. Sebagian manusia sangat berhati-hati dengan janin di kandungannya, memperlakukannya dengan cermat dan santun, dan mengajarkan kebaikan bahkan sebelum ruh ditiupkan ke dalam jasad bayi. Sebagian yang lain, dengan cerobohnya membiarkan cikal bakal manusia ini tumbuh tak terawat, bahkan tidak sedikit yang lahir dengan kecacatan fisik maupun mental.

Tidak ada yang terjadi di dunia ini tanpa ijin Allah, namun manusia diberik akal budi untuk menjadikan dirinya sebaik-baik manusia. Karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa mendatang, kita diperintahkan oleh Allah untuk menjaga keluarga kita dari api neraka … Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka … (At Tahriim 6). Perintah yang sederhana, namun memiliki konsekuensi sangat luas.

Sekalipun seorang anak memiliki kecerdasan, namun pada dasarnya ia adalah selembar kertas yang menerima apa saja yang dituliskan orang tuanya padanya. Tidak heran bila ada pepatah, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, sebab memang merekalah yang mengukir jiwa raga si anak. Apakah akan mrajak atau mati, tergantung dari cara orang tua mengasuh mereka.

Kekeliruan pertama yang biasa dijumpai pada sebagian besar orang tua adalah lemah dalam menekankan kedisiplinan pada anak. Demi melihat lucunya anak, tidak tega melihat anak sakit atau sedih, anak tidak dibiasakan berdisiplin. Dalam pikiran orang tua … ah, nanti saja kalau sudah agak besar. Padahal, mengukir kepribadian anak bisa diibaratkan menulis di atas tabularasa, lembar lilin yang cukup lunak. Dengan effort minimum, hasilnya tahan lama. Sementara mengukir anak yang lebih dewasa, seperti memahat batu. Harus keras dengan tenaga besar, atau tidak membekas bagus.

Bila anak mulai merokok, mulai nonton pornografi, pacaran, konsumtif, jangan melulu melihat si anak ini. Lihat pula bagaimana dia dibesarkan. Artinya, sebagian kesalahan terletak pada orang tua. Saat dewasa nanti, sebagian anak akan memberikan surga bagi orang tuanya, namun sebaliknya ada yang memberikan kesedihan dan kesusahan saja bagi mereka. Kita ingat kisah Nabi Khidir yang tanpa diduga oleh Nabi Musa mencekik seorang bocah tampan hingga mati. Nabi Khidir as. hanya mengatakan bahwa anak ini kelak dewasa nanti akan mendurhakai orang tuanya, sebab dia semenjak kecil selalu dimanjakan oleh keduanya. Dengan kematiannya, Nabi Khidir mendoakan semoga orang tuanya itu akan diberi ganti oleh Allah anak yang saleh.

Dalam Islam, kelak dewasa, anak kita akan masuk dalam salah satu kategori:

  1. Anak qurrota a’yun
  2. Anak yang menjadi perhiasan dunia
  3. Anak yang menjadi ujian bagi orang tuanya
  4. Anak yang menjadi musuh bagi orang tuanya

Seorang anak yang qurrota a’yun menjadi penyegar mata dan hati orang tua. Menyenangkan perilaku dan kepribadiannya, membanggakan, dan bisa mengangkat derajat orang tua di dunia dan akhirat. Tentu saja, tidak banyak anak yang seperti ini.

bimbingan sejak dini

Yang masih lebih banyak adalah anak-anak yang menjadi perhiasan dunia. Sesekali menjengkelkan, kadangkala membuat kesal, tetapi secara umum tetap membuat orang tua bangga. Mungkin banyak dari anda yang membaca blog ini termasuk kategori anak-anak kebanggaan orang tua …  bisa dipamerkan pada orang lain, menjadi tumpuan di hari tua mereka, dan akan mendoakan kelak saat orang tua sudah tiada.

Yang mungkin lebih banyak lagi adalah anak-anak yang menjadi ujian bagi orang tua. Sedikit menyenangkan, tapi lebih banyak mengesalkan. Membandel, sekalipun kadang kala menurut. Tidak kelihatan nakal, tapi membuat susah hati. Orang tua jadi sering-sering ber-istighfar, mengelus dada, dan mendoakan keselematan bagi si anak. Keadaan gamang ini masih menyimpan potensi untuk menjadikan anak kembali bagi orang tuanya (bila dia bertobat dari kesalahannya), tetapi bisa juga berubah menjadi musuh (saat dia semakin tersesat).

Kategori terakhir, yang paling memprihatinkan, adalah anak yang menjadi musuh bagi orang tuanya. Tidak ada kebahagiaan orang tua atas diri mereka, hanya ada kesedihan dan penderitaan batin. Sepertinya, arah jalan mereka berbeda dengan arahan orang tua. Anak-anak durhaka ini akan membebani orang tua saat di akhirat, karena kembali bahwa sebagian kesalahan anak terletak pada orang tua. Orang tua tidak bisa menjaga si anak berlari ke arah api neraka.

Marilah sejenak kita lihat, bagaimana anak-anak kita. Masuk di kategori mana mereka ini. Semoga, anak-anak itu bisa tumbuh menjadi manusia yang diridhoi Allah SWT.

One Response to “Kategori Anak dalam Islam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: