Archive for March, 2009

Kampanye Pesta Demokrasi, Saat Introspeksi

Posted in Kontemplasi on March 31, 2009 by hzulkarnain

Catatan akhir Maret 2009

 

Aktivitas nasional yang digaris bawahi selama bulan Maret ini adalah kampanye partai politik peserta pemilu legislatif 2009. Setelah 5 tahun beselang, kinilah saatnya berbagai nama partai politik beradu nama dan berjuangkan memenangkan image massa agar bisa melenggangkan kandidat mereka ke gedung parlemen di segenap level – sebanyak mungkin.

Setelah 5 tahun, banyak yang telah terjadi pada diri partai-partai yang dulu pernah bertarung dalam medan serupa. Sebagian menunjukkan perkembangan yang positif, sebagian lain cukup aman, yang lain bergerak dengan stabilitas, akan tetapi ada yang tercabik-cabik oleh perpecahan internal partai – dan sekarang sedang berusaha menyulam kebocoran agar kekuatan mereka pulih. Tentu saja, ada juga partai-partai baru atau jelmaan baru (setelah 5 tahun lalu terpuruk tanpa suara) yang masih pula berusaha mengangkat bendera kebanggan mereka.

Secara tradisional, masyarakat Indonesia tetap melirik Partai Golkar dan PDI Perjuangan sebagai penggalang massa terbesar, yang berbasis nasionalisme. Berikutnya, orang tidak akan lupa pada Partai Persatuan Pembangunan, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Bulan Bintang. Ketiga partai ini punya pendukung khusus dari kalangan agama, baik yang berbasis NU, Muhammadiyah, dan ormas lainnya.

Pemain yang tergolong baru dengan kekuatan yang menakjubkan adalah Partai Keadilan Sejahtera, yang secara konsisten meningkatkan pendukung yang solid dengan pola dakwah. Konon, partai ini meng-klaim jabatan politik bukanlah prioritas utama mereka – karena partai ini adalah partai dakwah. Justru karena itulah, simpatisan dan komponen pendukungnya jadi sangat solid. Yang tidak boleh dilupakan adalah munculnya Partai Demokrat yang mengusung nama Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden, dan popularitas sang Presiden juga turut mendongkrak minat orang pada partai ini.

Belakangan, muncul sebuah partai baru dengan dana yang tampaknya sangat besar: Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Nama ini mengingatkan kita pada sebuah partai politik pada jaman Belanda Parindra (Partai Indonesia Raya). Sekalipun tidak orisinil benar, namun nama Gerindra memiliki kekuatan imaging yang sangat kuat berkat gelontoran iklan yang tergarap rapih (yang tidak mungkin terlaksana tanpa budget luar biasa besar). Nama populer Prabowo Subianto yang dikenal luas sebagai mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad merupakan orang pertama di partai, yang didukung pengusaha Hasyim Joyohadikusumo – adiknya. Kemungkin, partai ini akan mengejutkan peta kekuatan politik di tahun ini.

Dua partai besar yang tercabik intrik internal adalah PDI Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa. PDI Perjuangan retak karena ketidak puasan elite partai, sehingga beberapa pejabat teras partai hengkang dan membentuk beberapa partai baru yang juga bernuansa demokrasi. Salah satunya adalah PDP (Partai Demokrasi Pembaharuan).

PKB dua kali mengalami hempasan. Keretakan pertama ditandai dengan keluarnya berbagai elite politik yang kemudian bergabung dengan PPP atau PKNU. Yang masih segar diingat orang adalah lengsernya Gus Dur dari gerbong partai melalui putusan pengadilan, dan dengan bersungut-sungut beliau berusaha menarik simpatisannya kepada Gerindra.

Beberapa Jenderal lainnya kelihatan tidak mau kehilangan momentum untuk kembali ke dalam lingkaran pembuat kebijakan. Kita masih ingat, ada PKPB (Partai Karya Perduli Bangsa) yang dibentengi R. Hartono. Partai ini (dalam iklan-iklannya) berusaha menarik simpatisan Pak Harto yang tersisa – dengan mengangkat sentimen kejayaan masa lalu. Partai Hanura yang dikomandani Wiranto berusaha meraih konstituen yang kurang jelas – setidaknya itu yang saya tangkap sampai saat ini. Sutiyoso juga maju dengan PIS – yang dalam pemikiran saya, sama kurang jelasnya.

Dalam perjalanan kampanye, mulai terlihat kesenjangan antara partai berkonstituen solid dan tidak, berdana besar dan kecil, serta dampak panggung hiburan yang dulu selalu menjadi alat penggalang massa. Bahkan ada kampanye partai di sebuah daerah di Sumatera harus bubar sebelum waktunya karena tidak diminati massa – namun partai tersebut beralasan hal itu dikarenakan waktu kampanye bersamaan dengan jam kerja. Ironisnya, kampanye partai besar di daerah lain – pada waktu yang sama – mampu mendatangkan massa berjumlah ribuan. Partai ber-budget mencoba mengoptimalkan dana dengan pola pengabdian pada masyarakat. Termasuk calon legislatif dari kalangan artis dan selebriti diharuskan langsung bertemu dengan masyarakat yang menjadi konstituen mereka.

Janji politik bertebaran – baik saat orasi kampanye maupun dalam berbagai iklan layanan masyarakat. Tidak penting bagaimana nanti janji tersebut akan dan harus ditepati – sebab tidak ada ikatan apapun. Ada partai yang berani meng-klaim telah melakukan kontrak politik – tapi tidak jelas dengan siapa dan bagaimana bentuknya. Apapun hasil kerja pemerintah sekarang – yang tentunya dikawal oleh anggota parlemen dari berbagai unsur partai politik juga – selalu menjadi amunisi bagi partai politik yang bukan pendukung pemerintah. Seperti tidak ada lagi bahan orasi dan kampanye, semua partai politik yang berniat mengusung nama calon presiden baru seolah-olah sepakat untuk berfokus pada kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sedang negatif dan mengabaikan keberhasilan pemerintah (tentu saja).

Masyarakat seperti dicekoki kegagalan pemerintah dalam menekan harga-harga, perbandingan harga BBM dengan masa sebelum era SBY, hingga BLT yang dianggap melecehkan kemanusiaan. Lucunya, yang berbicara soal petani tidak pernah menjadi petani. Yang bicara soal BBM tidak menyebutkan langkah pelunasan hutang IMF. Sementara yang bicara soal BLT kemudian mengatakan berada di tengah rakyat saat pembagian BLT.

banjirDitengah persiapan pesta demokrasi, mendadak sebuah bencana pecah mengejutkan. Tanggul Situ Gintung yang beradi di desa Cireundeu Kabupaten Banten jebol dan menghanyutkan harta benda serta nyawa lebih dari 90 orang, sementara lebih dari 100 orang masih belum ditemukan. Karena letaknya yang berada dekat dengan pusat pemerintahan, semua televisi swasta dan nasional menyiarkannya secara khusus – dan memakan porsi berita yang cukup signifikan. Situ Gintung seperti sebuah garis bawah bencana alam lain yang – bisa jadi – lebih besar namun selalu luput dari sorotan media.

Allah tidak akan menurunkan musibah tanpa alasan. Apapun itu, teguran Allah seperti menjaga kita agar tidak terlena. Euforia politik 5 tahunan boleh tetap berlangsung, namun kita harus ingat bahwa bangsa ini masih perlu menyimpan dana, tenaga, dan pikiran untuk hal lain yang lebih manfaat bagi sebagian besar masyarakat. Apapun janji politik dan tebar pesona yang terjadi selama kampanye, pada akhirnya kita semua harus kembali pada realitas – pada semua kesulitan hidup yang sekarang kita alami. Saat anggota legislatif kembali melangkah dengan anggun ke gedung dewan, kita semua harus kembali ke alat kerja kita atau kembali membuka koran pagi untuk mencari lowongan kerja.

Siapapun pemerintah yang berkuasa atas negeri ini adalah khalifah bangsa yang harus dijunjung tinggi, harus memperoleh sokongan penuh – saat menjalan kebaikan bagi bangsa. Indonesia bukan utopia yang tidak bercacat – karena memang negeri dan bangsa ini sedang berkembang. Hukum alam sudah membuktikan bahwa bangsa yang pernah agung – berada di titik zenith – cepat atau lambat akan turun bahkan mungkin berbalik ke titik nadir. Biarlah bangsa ini berproses dengan alami – dan kita menuju sebuah alam yang lebih baik melalui jalan terjal yang mendewasakan.

Dalam usianya yang relatif muda – 60 tahunan – Indonesia harus diakui oleh banyak negara sebagai bangsa yang tangguh. Dalam keragaman yang sedemikian majemuk – etnis, bahasa, kultur, agama, bentuk kepulauan – ternyata bangsa ini masih mampu mempertahankan bentuk negara kesatuan. Indonesia sudah menjadi cermin bagi banyak bangsa lain bahwa keragaman tidak identik dengan perpecahan.

Kalau kita tinjau sedikit di negara lain – mereka sedang mencoba bertahan dari perpecahan internal karena perbedaan.

Sejak ditinggalkan Marcos, Filipina selalu berada diambang pertentangan dengan kaum Muslim di Selatan. Hampir serupa, Thailand juga rentan pada hal tersebut. Myanmar belum pernah kembali stabil sejak junta militer berkuasa – sekalipun bangsa itu bisa dikatakan homogen. Konflik politik yang berlatar agama antara Inggris dan Irlandia Utara belum tuntas benar hingga sekarang. Di Srilanka, etnis Tamil selalu menjadi momok perpecahan bangsa. India yang berpenduduk terpadat kedua di dunia senantiasa dihantui konflik antar agama di beberapa daerah.

Semoga, azas bangsa yang pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, membuat kita selalu sadar bahwa tidak ada kekuatan apapun yang melebihi kuasa Allah – dan karenanya kita tidak pernah putus mendoakan kebaikan dan keselamatan bangsa. Mungkin di antara kita masih ada orang-orang yang berakhlak kurang baik, dan bisa jadi dengan keberuntungan mereka bisa menjadi wakil rakyat. Dengan doa yang tiada putus, semoga Allah senantiasa melindungi kita, bangsa ini, dan segenap wilayah hingga sudut terjauh. Allah mungkin memberikan cobaan, tapi itu semata agar kita tetap ingat bahwa kita masih tergantung padaNya.

Semoga bangsa ini tetap jaya!

Menyikapi Perbedaan

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags , on March 28, 2009 by hzulkarnain
kontak inter-rasial

kontak inter-rasial

 

Manusia dilahirkan berbeda. Perbedaan adalah fitrah manusia. Bahkan sepasang anak kembar pun tidak mungkin tidak berbeda. Perbedaan fisik, emosi, karakter, kultural, dan sebagainya. Sekalipun diterapkan upaya penyeragaman, misalnya dalam kemiliteran, tetap saja pada akhirnya ada perbedaan hasil. Dari sana lahir seorang jenderal ahli strategi dan sukses sebagai Presiden seperti Suharto dan SBY, atau di kutub lain ada juga tentara desersi atau berlaku kriminal yang berakhir di penjara.

Kemajemukan dunia menggiring manusia pada perilaku dan profesi yang berbeda, hingga lahirlah beragam jenis dan bentuk pekerjaan yang saling melengkapi. Di satu sisi ada seniman yang punya kehalusan perasaan, di sisi lain ada militer dengan segala ketegaran dan keunggulan fisiknya. Ada ulama dan pendeta yang berbicara tentang kebenaran, di sisi lain ada pedagang dan politisi yang yakin tentang peluang dan keuntungan.  Satu sama lain seperti sudah tahu wilayah masing-masing, dan tidak berniat mencampuri ranah pembicaraan yang tidak dipahami masing-masing pihak. Justru karena keragaman tersebut negara-negara besar di masa lalu dan masa kini bisa terbentuk.

Hakikat perbedaan adalah tidak adanya kemutlakan di dunia ini. Kebenaran di sebuah pemikiran ternyata tidak bagi yang lain. Keyakinan yang dianut mati dalam sekelompok masyarakat, ternyata tidak berlaku di tempat lain. Beberapa pemikir besar yang dihukum mati oleh penguasa theokrasi di masa lalu, hanya karena mereka berpikir tanpa ikatan dogmatis, dan karenanya dianggap menghujat Tuhan. Setelah bertahun-tahun kemudian, justru yang diketahui benar adalah pendapat pemikir yang sudah terlanjur dihukum mati tersebut.

Bisakah perbedaan ditiadakan? Apa jadinya bila perbedaan ditindas demi keseragaman?

Meniadakan perbedaan berarti mengingkari rahmat Tuhan Sekalian Alam, karena perbedaan adalah anugerah rahmat dariNya. Impian untuk meniadakan perbedaan berarti menganggap sebuah pemikiran, isme, kelompok, etnis, atau ras lebih baik daripada yang lain, sehingga menganggap yang lain tidak penting. Seorang diktator selalu menganggap diri dan kelompoknya yang terpenting, namun belum tentu ia seorang fasis. Hitler adalah seorang fasis yang diktator, sehingga bukan hanya menganggap dirinya penting namun menganggap ras selain Aria tidak penting – dan karenanya tidak layak berdampingan dengan ras ini.

Bahkan ketika alam menunjukkan dominasi atlet kulit hitam dalam ajang olimpiade sebelum perang dunia II, Hitler tidak mau mengakui kehebatan para atlit non-putih tersebut. Dalam pikirannya, figur individu yang hebat adalah laki-laki berkulit putih, berambut pirang, bertubuh tinggi besar, tanpa cacat – seolah-olah figur utopisnya sendiri yang bertubuh pendek dan berambut hitam. Impiannya bahwa orang Aria memimpin dunia diwujudkannya dengan serangan ke berbagai negara di Eropa dalam upaya penaklukan terbesar.

Sejarah Islam menunjukkan bahwa kebesaran agama ini dikarenakan hanya memperlakukan hukum manusia secara nisbi, namun hukum Allah dijunjung sebagai kemutlakan. Dalam kitab sejarah Rasulullah Saw, jelas ditunjukkan bahwa Allah tidak senantiasa menurunkan wahyu untuk mengatur kehidupan. Justru lebih sering Rasulullah dan para sahabat harus berunding untuk menentukan langkah dan hukum karena Allah tak kunjung menurunkan wahyu. Bagaimana kalau keliru? Bahkan Rasulullah juga pernah keliru dalam membuat keputusan dan ditegur oleh Allah Swt dengan diturunkannya wahyu yang mengoreksi keputusan Rasulullah tersebut.

Sebagai seorang yang ahli dalam strategi dan taktik, Rasulullah Saw senantiasa berpijak pada wahyu Allah dalam menentukan langkah yang akan diambil. Akan tetapi, beliau tidak menyama ratakan cara saat menghadapi lawan bicara, lawan berunding, bahkan lawan dalam peperangan. Ada kalanya pasukan Islam harus menunjukkan kekuatannya yang menggiriskan hati, namun tidak jarang hanya beberapa orang terpilih yang menjadi utusan, atau bahkan beliau sendiri yang bertemu dengan pemuka masyarakat yang memusuhi Islam. Tidak pernah disebutkan dalam sejarah keberingasan tentara Islam dalam penaklukan, bahkan peperangan frontal terjadi hanya sebagai reaksi dari ancaman yang datang. Kekerasan adalah jalan terakhir setelah semua diplomasi.

Islam berprinsip bahwa perbedaan adalah rahmat, dan dalam Surat Al Baqarah bahkan ditegaskan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Artinya bahwa, dalam pemerintahan yang berpayungkan hukum Islam, semua agama, etnis, suku, dan isme dipersilakan hidup selama tidak merongrong kewibawaan pemerintahan. Tatkala kekalifahan Islam mencapai Damaskus, penduduk yang beragama Kristen menegaskan bahwa mereka merasa lebih aman di bawah payung Khilafah Islam dibandingkan saat berada di bawah panji-panji Romawi.

Orang Islam harus adaptif, namun tidak boleh lepas dari prinsip dan konsep ke-Islaman yang hakiki. Mungkin itu yang dikehendaki oleh Rasulullah ketika menyebarkan ajaran agama ini kepada manusia yang mendiami jazirah Arabia, pada awalnya. Sejarah juga telah membuktikan bahwa ajaran Islam dominan di Indonesia tanpa mengubah identitas pribadi pemeluknya menjadi Timur Tengah. Orang Jawa tetap menjadi Islam Jawa, dan orang Minang tetap Islam Minang. Sebagian memang mengubah nama mereka sesuai dengan nama yang ada di Al-Qur’an tetapi mereka tidak lantas berpakaian selayaknya orang Arab.

Kalau kita sempat menyaksikan tayangan National Geographic yang bertajuk Inside Mecca, di sana dikisahkan tiga orang jamaah haji dari tiga bangsa yang berbeda: seorang karyawan pria berkebangsaan Malaysia yang berangkat dengan rombongan jamaah, seorang pekerja pria kulit hitam berkebangsaan Afrika Selatan yang berangkat sendiri, dan seorang ilmuwan wanita berkebangsaan Amerika yang berangkat dengan rombongan perempuan. Tampak jelas bagaimana Islam bermain dalam tiga kultur yang berbeda, sehingga membuahkan cara berpikir yang berbeda pula saat menyikapi ritual keagamaan terbesar di dunia itu. Ketika mereka semua melaksanakan wukuf di Arafah, leburlah semua kultur menjadi satu identitas saja: Islam.

Islam bermain di dalam prinsip dan konsep, sementara kultur lokal bermain di ranah yang berbeda. Orang bisa membawa kedua identitas secara simultan, tanpa saling merugikan. Tentu saja, bagi sebagian orang pendapat personal ini tidak benar. Tidak jadi apa, karena perbedaan adalah sah hukumnya.

Saya menyukai kalimat Mario Teguh, dalam salah satu Golden Ways-nya, yang menyatakan bahwa: Kokohlah dalam prinsip, tapi fleksibel dalam cara / metode. Dengan demikian, kita selalu adaptif tanpa pernah kehilangan arah dan tujuan.

Prasangka dan Celaan

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags on March 25, 2009 by hzulkarnain

 

sinetron horor

sinetron horor

Apa yang menjadi pusat perhatian keluarga dewasa ini? Jawaban yang hampir pasti adalah: televisi. Hampir di setiap rumah ada benda elektronik ini, dan menyita sebagian besar perhatian anggota keluarga yang hadir.

Televisi sudah pasti menjadi bagian dari kehidupan manusia modern, termasuk Indonesia. Lebih maju daripada negara-negara di sekitarnya, Indonesia bahkan sudah memiliki lebih dari 5 stasiun televisi swasta – yang berkembang pesat sejak bangkitnya reformasi. Bila dulu televisi termasuk barang mewah, dan dikenai pajak barang mewah, sekarang posisinya adalah kebutuhan tertier bahkan sekunder.

Dari semua acara televisi, apa acara yang paling ditunggu? Dewasa ini tampaknya ada 2: berita dan film. Lebih khusus lagi: gosip selebriti dan sinetron drama. Rating kedua acara ini selalu menempati jajaran tertinggi, bahkan ada acara semacam ini yang bertahan lama. Sebenarnya, saya sungguh heran dengan trend yang sepertinya tidak pernah turun ini.  

Yang memprihatinkan adalah ketidak mampuan orang tua (khususnya Ibu) menahan diri dari tontotan tersebut, justru tatkala seharusnya anak-anak mereka harus belajar. Pantaslah bila lebih banyak anak-anak yang lebih hafal tokoh dan bintang sinetron dibandingkan dengan pahlawan nasional. Lebih hafal kabar perceraian selebriti daripada agenda pemilu (misalnya). Sebagai media massa, siaran televisi diibaratkan tumpahan air hujan – bisa datang setiap saat, dimana saja, dan pada siapa saja. Orang tua lah yang seharusnya menjadi payung dan filter di rumah, pelindung anak-anak mereka dari acara televisi yang tidak bermanfaat.

Disadari atau tidak, tayangan di layar kaca berimbas pada kultur yang berlaku di masyarakat, khususnya dalam menyikapi konteks sosial yang serupa dengan terlihat di dalam sinetron. Seorang anak kerabat yang berusia TK bahkan berani membentak seorang pembantu yang sudah setengah baya:”Tak pecat kamu!” – karena hardikan serupa pernah di dengar dan dilihat dalam konteks serupa di sinetron, yang disaksikannya sepulang sekolah.

Sinetron yang banyak ditayangkan dan digemari – kalau boleh jujur – tidak banyak bedanya dengan telenovela Amerika Latin. Melodrama gadis cantik miskin yang bertemu dengan pemuda tampan kaya. Keduanya berkarakter “putih”. Kisah cinta ini berbumbu iri dengki perempuan lain (yang juga cantik) berkarakter “hitam”, yang ingin menikahi sang pemuda kaya karena hartanya. Judul sinetron ini, mayoritas adalah nama perempuan yang menjadi protagonis sinetron. Usia pemain pun sekarang ini tampaknya semakin muda, namun harus memainkan peran yang sebenarnya lebih pantas untuk orang yang berusia minimum 4 – 5 tahun lebih tua.

Kehidupan dalam sinetron – senyatanya – langka ditemui dalam masyarakat. Kehidupan di layar kaca adalah gambaran maya semata. Yang kaya sangatlah kaya, sekalipun tidak jelas profesinya – siang hari pun berkeliaran di jalan, mall, cafe dengan perempuan, ketika eksekutif bisnis yang sejati berada di tengah projek mereka. Yang glamor terlalu glamor, hingga tidak pernah lepas setelan jas dan make-up. Yang baik hati tidak punya sisi hitam sama sekali – sehingga kebaikan seperti identik dengan kemelaratan atau kesengsaraan. Si jahat sedemikian hitam dan pendengkinya hingga tak ada ruang putih sedikit pun – bahkan ketika bernafas pun seolah-olah sudah menyebarkan aroma kematian. Yang miskin, lucunya, tetap cantik jelita – sekalipun wajahnya dikotori atau berpakaian kumal. Mana ada orang secantik Tamara Blezinsky atau si remaja Nikita Willy tetap miskin dan merana?

Tontonan sinetron di televisi, secara umum, tidak punya elemen edukasi yang memadai sebagai tuntunan (tentu saja ada beberapa perkecualian – yang sayangnya tidak sering diproduksi). Sudah begitu banyak pakar yang memberikan catatan, ulama yang mengeluarkan peringatan, namun rating seolah-olah membelenggu kreativitas para sineas. Rating berarti uang, dan uang memberikan jaminan proyek berikutnya. Masa bodoh dengan pembinaan akhlak masyarakat.

Beda lagi dengan tontonan gosip selebriti. Pemirsa disuguhi kehidupan internal orang-orang yang biasa disaksikan lewat layar kaca, artis film, penyanyi, pemain band, khususnya bila sedang atau diduga sedang punya konflik. Gosip selebriti adalah – utamanya – memang masalah perseteruan. Entah memang sedang ada masalah, atau sebenarnya hanya konflik alami sebuah rumah tangga, hubungan percintaan, gesekan kepentingan, dsb.

Ketika sedang hangat, hampir semua acara serupa memberitakan dengan cara yang hampir sama pula. Ibarat air yang menetes di atas batu, bila semua saluran sudah berkata tentang hal yang sama – sekalipun baru sebatas dugaan – sebuah issue bisa dianggap kebenaran. Semakin kontroversi kasusnya, apalagi bila sudah melibatkan pengacara, lebih panas pula pemberitaan yang dilancarkan. Banyak berita perseteruan yang akhirnya hilang begitu saja, menggantung tanpa informasi akhir dari saluran gosip. Seolah-olah kabar baik dari selebritis bukan lagi ranah yang patut disajikan secara proporsional. Sering kali akhir perseteruan dan konflik hanya menjadi selipan berita, atau catatan kaki yang sepertinya tidak terlalu penting.

Bila hot news sedang sepi, banyak cara yang diluncurkan agar seolah-olah dunia hiburan tidak sepi dari gosip. Pertanyaan: Apakah? … Benarkah?  … Bagaimana? … Menjadi senjata penulis berita gosip untuk menarik minat pemirsa agar tetap di saluran.

Langsung maupun tidak, gaya bertutur kebanyakan sinetron di negeri ini membuat orang tidak santun. Kalau kita simak, bicara dengan tensi tinggi, bicara sambil berdiri, berdebat bukan berdiskusi dengan sabar, adalah ciri telenovela Amerika Latin. Sebenarnya bukan gaya orang Indonesia yang guyub. Bandingkan head to head dengan sinetron besutan Deddy Mizwar yang Islami, atau si Doel Anak Sekolahan dulu.

Tensi tinggi dalam tiap potongan scene mungkin memang cara yang ditempuh oleh sutradara untuk menyiasati lemahnya plot dan miskinnya kemampuan akting. Ketegangan yang dibangun mungkin menarik untuk disimak tetapi tidak membawa manfaat lebih jauh. Tidak aneh bila yang banyak diserap adalah kata, frase, dan kalimat negatif bernada permusuhan. Celaan, makian, umpatan, seolah-olah menjadi hal yang biasa.

Tontonan gosip membuat pemirsanya belajar berprasangka, karena suapan potongan info negatif yang terus menerus. Prestasi Gita Gutawa atau kelompok Elfas Secoria di ajang internasional sudah pasti dikabarkan, tetapi kemudian tenggelam oleh kabar dugaan perselingkuhan, rencana gugatan perceraian, perselisihan anak band, dan sebagainya. Istilah infotainment yang sebelumnya tidak dikenal – bahkan istilah tersebut memang tidak baku – sekarang biasa diucapkan hingga pembantu rumah tangga – sebagai pengganti acara gosip.

Karena miskinnya bobot edukasi inilah, saya tidak memperbolehkan sembarang sinetron menjadi tontonan di rumah. Istri dan anak saya juga sudah terbiasa untuk tidak berbicara soal sinetron. Kalau ada sinetron yang bagus, khususnya besutan Deddy Mizwar, pasti kami sekeluarga akan menonton. Info gosip juga bukan tontonan di rumah, karena memang tidak ada perlunya update urusan rumah tangga orang lain.

PEMILU untuk Siapa?

Posted in Kontemplasi with tags on March 23, 2009 by hzulkarnain

 

bendera-partai

Dalam minggu pertama dilaksanakannya kampanye Pemilu legislatif, mulai terlihat peta kekuatan finansial partai-partai yang bertarung menuju Senayan. Seperti bisa diduga sebelumnya, kekuatan lama tidak banyak berubah. Golkar, PDI Perjuangan, yang dikenal sebagai partai berbasis masa kuat, PKB dan PAN yang didukung ormas keagamaan, sekarang ditambah PKS dan Partai Demokrat, berani unjuk gigi menggalang masa dalam jumlah besar. Tentu saja, dana yang disediakan untuk ini tidak kecil.

Seorang pengamat politik menyebutkan bahwa, kampanye massa tidak lagi menjadi cara utama kebanyakan peserta Pemilu karena kekuatan logistik partai (khususnya finansial) tidak bagus. Dengan legitimasi masing-masing, partai-partai cenderung berusaha mendekati rakyat dengan berbagai pelayanan. Persalinan gratis, fogging anti DB gratis, sunat gratis, hingga pijat dan gunting rambut gratis.

Apakah rakyat yang diberi merasa senang? Tentu saja. Tidak biasanya partai politik memperlakukan mereka dengan baik seperti itu. Akan tetapi, tentu saja, mereka tahu bahwa masa “bulan madu” ini hanya sementara saja. Begitu mendekati hari H pencoblosan / pencontrengan, semua servis tadi akan berlalu seperti angin.

Apakah rakyat akan memilih partai yang telah berbaik hati pada mereka itu? Belum tentu. Bahkan mungkin mereka tidak akan ingat lagi nama partai yang baru saja melakukan fogging atau memijat mereka.

Bagaimanapun, kebanyakan rakyat masih melihat kode partai atau sosok dalam partai yang mereka jadikan acuan dalam memilih. Rakyat ingat pohon beringin dan warna kuning; yang lain lebih ingat banteng dan Bung Karno, atau Megawati anak Bung Karno; yang lain ingat partainya Gus Dur, Amien Rais, atau SBY. Ingatan ini tersimpan dalam ketidak sadaran mereka, dan itu akan mempermudah mereka dalam memilih sebuah nama partai di antara puluhan lainnya. Jadi, seperti sebuah proses marketing, hanya partai yang bisa menanamkan image ke dalam alam bawah sadar massa yang bisa mendulang suara besar.

Tak dapat disangkal, sekalipun membawa trauma masa lalu, Golkar selalu dikenal memiliki kader yang berpengalaman dalam pemerintahan. PDI Perjuangan senantiasa diasosiasikan dengan suara rakyat kecil, berkat ingatan orang terhadap Bung Karno yang marhaenis. Yang diprediksikan akan mengejutkan adalah perolehan suara PKS, karena partai ini dikenal kuat dalam pola sosialsiasi dan kaderisasi di akar rumput. Bila orang sudah tertarik pada PKS, apalagi sudah bergabung, hampir tidak mungkin berubah ke “lain hati”.

Suara mengambang yang tidak tersentuh partai politik akan jauh lebih banyak volumenya daripada jumlah masyarakat yang sudah menetapkan pilihan. Mereka inilah yang sebenarnya menjadi target partai-partai gurem yang selalu muncul silih berganti pada tiap Pemilu legislatif. Kalau mereka bisa diyakinkan, bukan tidak mungkin partai sebesar Golkar dan PDI Perjuangan pun akan merasa gentar. Sebaliknya, bila suara mengambang ini tidak dimanfaatkan, keuntungan berada di pihak partai-partai yang sudah mapan dengan konstituen yang jelas.

Seperti dalam kasus pemilihan Gubernur Jawa Barat yang dimenangkan oleh kader PKS. Naiknya sang kandidat menjadi gubernur bukan karena kuatnya suara PKS semata, namun lebih dikarenakan tingginya tingkat golput, sementara seperti diketahui suara PKS selalu solid. Akibatnya, bisa dikalkulasi, voter pada kandidat PKS menuai hasil yang optimal. Kasus serupa juga terjadi di NTB, yang memenangkan kandidat yang tidak didukung oleh partai besar namun didukung oleh para pemuka dan pengikut Nahdlatul Wathon.

Memenangkan kepercayaan rakyat tidaklah mudah, dan lebih tidak mudah lagi dengan banyak terungkapnya kebusukan para anggota dewan legislatif pusat hingga tingkat II. Indikasi bahwa mereka naik menjadi wakil rakyat karena kepentingan pribadi dan golongan seperti sudah menjadi rahasia umum, dan itulah yang membuat rakyat kian muak. Munculnya kabar pengunduran diri mantan Kapolda Jatim dari kepolisian yang dikaitkan dengan kecurangan KPU daerah membuka sebuah babak baru.

Kasus ini memang aneh sejak awal, namun baru menyita perhatian tepat menjelang kampanye Pemilu legislatif saat diungkapkan oleh mantan Kapolda Jatim. Bila sebelumnya ketidak percayaan lebih pada kualitas calon legislatif, sekarang ditambah lagi dengan kredibilitas petugas KPU di pusat dan daerah. Tak kurang dari Megawati Soekarnoputri selaku pendukung Khofifah Indar Parawansa yang bersuara cukup lantang mengenai kinerja KPU ini.

Pengalaman banyaknya masyarakat Indonesia yang tidak menggunakan hak suara dalam berbagai pilkada di Indonesia mengindikasikan sesuatu. Setidaknya, hal itu mengindikasikan ancaman tingginya angka golput dalam Pemilu legislatif nanti. Kondisi ini diperparah dengan tata cara baru dalam pemilihan, seperti: mencontreng bukan mencoblos, boleh mencontreng lebih dari satu asalkan dalam satu partai, ukuran kertas suara yang sebesar koran hingga butuh cara pelipatan khusus agar tidak sobek, dan lain sebagainya.

KPU sendiri sebenarnya sudah mengantisipasinya dan tidak berpangku tangan dalam sosialisasi Pemilu 2009, serta sudah banyak mengupayakan agar masyarakat bersedia menyalurkan suara mereka di TPS-TPS. Iklan dan kampanye anti golput ditebarkan melalui media massa dan berbagai sendi ormas masyarakat, termasuk kaum ulama.  

Pemilu memang pesta demokrasi. Rakyat memegang peranan penting dalam menentukan nasib bangsa, melalui wakil-wakil mereka di parlemen. Berbagai janji politik manis ditebar, agar partai dan caleg terpilih, sementara mungkin ada janji lama yang tidak pernah terealisasikan. Intinya, tanggal 9 April nanti rakyat memegang kendali. RAKYAT MEMANG SEYOGYANYA TIDAK ABSTAIN.

Satu pertanyaan: bisakah apatisme rakyat dibangkitkan lagi dengan janji-janji politik? Kalau rakyat sudah tidak percaya pada komponen sistem (caleg, partai, bahkan KPU) … lalu sebenarnya Pemilu ini untuk siapa?

Menarik untuk disimak nanti, dari seluruh warga bangsa yang berhak memilih, berapa persen yang akan terhitung dalam bilik pemilih. 

Musim Kampanye Tiba!!!

Posted in Kontemplasi on March 17, 2009 by hzulkarnain

 

 

 

langit Indonesia selama 24 hari

langit Indonesia selama 24 hari

Musim kampanye legislatif sudah tiba. Tanggal 16 Maret 2009 peluit pembuka sudah dibunyikan, dan pawai parpol pun bergerak. Waktu yang diberikan pada kepada parpol peserta Pemilu legislatif tidak banyak, dibandingkan dengan jumlah parpol yang ikut serta. Beberapa parpol bermodal besar sudah menyiapkan kampanye kelas nasional, dengan jurkam public figure di Senayan hingga ornag nomor satu dan dua di negeri ini. Yang lain sudah ancang-ancang show of force di lapangan, dengan pertunjukan dangdut seperti biasa. Pendek kata, jangan harap waktu yang kurang dari 1 bulan ke depan akan sepi dari gesekan dan konflik horizontal, antar massa kampanye.

Secara pribadi, saya tidak terlalu bergairah pada pemilu legislatif tahun ini – justru karena terlalu banyak parpol yang “coba-coba” ikut serta dalam pemilu, dengan impian menempatkan jajaran legislatif mereka di gedung dewan. Dalam akal sehat saya, semakin banyak partai yang terpampang dalam surat suara semakin mirip karnaval jadinya. Megah, enak dilihat, tapi tidak serius.

Kalau kita tinjau berbagai partai yang bertarung di ajang kampanye pemilu kali ini, sebenarnya tidak semua punya basis massa yang kuat. Yang selalu punya basis massa karena sudah veteran dan establish, sebut saja partai besar macam Golkar, PDI Perjuangan, dan Partai Persatuan Pembangunan yang sudah ada sejak era orde baru. PKB dan PAN selalu bisa berharap dari basis massa NU dan Muhammadiyah mereka. PKS adalah nama yang belum terlalu lama terdengar, namun kian diperhitungkan, karena kemampuannya menggalang basis massa yang solid. Personality, kharisma, dan pola kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah pasti berpengaruh besar pada penggalangan massa Partai Demokrat dalam pemilu bulan depan.

Selain SBY, mantan petinggi militer lain yang dulu juga aktif semasa orde baru, dan sekarang ikut muncul dengan partai bentukan mereka, adalah Wiranto (Hanura) dan Prabowo (Gerindra). Mungkin Gerindra akan menjadi partai baru yang patut diperhitungkan, karena sokongan dana yang kuat sehingga memunculkan berbagai advertorial yang sangat menawan. Jauh lebih inspiratif daripada iklan partai lain, yang saling klaim (Gerindra setali tiga uang sebenarnya, mengklaim kelemahan pemerintahan sekarang dan keyakinan bisa berbuat lebih baik, namun kemasannya jauh lebih mantap).

Di luar itu, ada barisan sakit hati individu yang hengkang dari sebuah partai dan bergabung dengan partai lain atau membentuk partai baru. Ada juga partai yang gagal 4 tahun lalu, sekarang masuk lagi dengan modifikasi nama. Beberapa partai yang bertarung dalam pemilu yang lalu tidak bisa maju lagi, namun ada pula yang benar-benar fresh dan baru muncul sekarang.

Issue golput, massa mengambang yang memutuskan untuk tidak memilih, adalah momok dalam setiap pemilihan umum. Sebut saja pemilihan kepala daerah di berbagai tempat belum lama berselang, berapa banyak nama yang akhirnya memutuskan untuk tidak hadir di bilik suara untuk memberikan suara mereka. Tidak heran, dalam berbagai kesempatan, lembaga yang berwenang dalam penyelenggaraan pemilihan umum selalu mencoba meyakinkan massa untuk tidak golput. Berbagai alasan dirayukan agar orang mau menyalurkan suara mereka dalam pemilu bulan depan. Bahkan tak kurang dari MUI sampai mengeluarkan fatwa haram untuk tindakan golput (sigh!).

Entah apa yang dipikirkan para calon legislatif saat menempelkan gambar dan foto mereka di sudut jalanan, dengan biaya yang tidak murah. Sungguh lucu bila sempat memperhatikan foto-foto caleg yang terpampang di jalanan. Beberapa orang tampil dengan gaya serius, gagah berpeci, senyum mengembang, bahkan ada yang norak juga, dan lain sebagainya. Semua gelar akademis, kultural, dan personal ditampilkan, sehingga ada yang bernama Raden Roro Hj. XXXXX, Msc. Figur Bung Karno, Megawati, SBY, Gus Dur, tak jarang menjadi background. Yang kurang pe-de, bahkan menyebutkan nama bapaknya yang sebelumnya dikenal masyarakat sebagai orang terpandang.

Berbagai kalimat manis ditulis di sana, janji-janji politik nan manis diungkapkan, bahkan ada yang melakukan kontrak politik segala. Pernah terlihat caleg yang menjanjikan 100% gajinya untuk hibah pada masyarakat, tapi ada yang hanya 10% saja. Kira-kira, kalau mereka terpilih,  apakah benar mereka mau berbuat seperti itu? Apakah orang akan tertarik begitu saja akan datang ke bilik suara untuk mengantarkan orang yang tidak mereka kenal ke kursi dewan – yang dipahami bermandikan materi?

Berapa banyak caleg yang berada di tengah konstituennya dan berbicara dengan mereka? Kok rasanya tidak pernah saya dapati seorang calon legislatif “blusukan” kampung untuk berbicara di forum-forum kecil untuk memenangkan perhatian para calon pemilih? Semua partai yang berbicara atas nama rakyat, wong cilik, akar rumput, bagaimana cara mereka bicara?

Setelah Obama terpilih sebagai Presiden, beberapa kisah biografinya yang disiarkan di televisi menceritakan bagaimana dia berjuang keras dan konsisten untuk memenangkan suara di beberapa wilayah yang menjadi basis konstituennya. Ketika para kandidat kulit putih tumbang, Partai Republik akhirnya memunculkan kandidat berkulit hitam pula (maunya supaya head-to-head dengan Obama dalam menarik minat pemilih berkulit hitam), namun akhirnya Obama jua lah yang memenangkan pertarungan. Sistem pemilihan di Amerika memang berbeda dengan Indonesia, namun demikian saya pikir pemilu legislatif sekarang ini semakin mirip dengan pemilihan anggota kongres maupun senat.

Pada masa orde baru, kita mengenal istilah caleg nomer sepatu karena pola masuk caleg ke dewan sesuai dengan urutan yang ditentukan partai. Semakin kecil nomor, lebih mungkin seseorang masuk ke gedung dewan. Di sisi lain, caleg nomor sepatu (nomor besar – 39, 40, 41 dst) seperti penggembira saja, karena tidak mungkin mereka masuk ke gedung dewan dengan mudah.

Kalau sekarang undang-undang memperbolehkan masyarakat memilih caleg dengan nomor sepatu untuk masuk ke gedung dewan asalkan suara yang dijaring mencukupi, seharusnya mereka lebih aktif mempromosika diri di dapil masing-masing. Tidak sekedar pasang foto, dan seolah-olah pekerjaan mereka selesai. Bagaimana mereka bisa yakin orang akan memilih mereka, sementara mereka tidak pernah menampakkan batag hidung di depan konstituen?

Yang lebih parah lagi, kelakuan korupsi (atau sekurangnya dugaan korupsi) anggota legislatif yang terhormat seperti tidak pernah berhenti. Ironis sekali, hanya dalam hitungan puluhan menjelang pemilu, masih ada anggota DPR yang tertangkap basah oleh KPK, dan diduga terlibat dalam konspirasi korupsi. Satu persatu KPK menggelandang oknum-oknum tersebut ke kursi pesakitan. Belum lagi pengakuan Permadi tentang perilaku anggota dewan yang tidak senonoh, dan kemangkiran yang seolah sudah jadi penyakit kronis. Di layar kaca, terlihat anggota dewan baku pukul di ruang sidang, dan kelakuan anarkis lain yang tidak perlu. Pendek kata, sungguh ironis bahwa orang yang berani menyebut dirinya sebagai wakil rakyat yang terhormat tidak menunjukkan perilaku yang terhormat.

Kalau melihat semua fakta, rasanya demokrasi yang berkibar selama 10 tahun terakhir masih jauh dari wujud yang kita harapkan. Gedung dewan dan anggota dewan yang kita harapkan mampu memandu agenda demokrasi, justru sibuk mencari cara menaikkan citra pribadi dan partai – bukan kepentingan rakyat. TAPI KITA TIDAK BOLEH MENYERAH.

Ada figur-figur yang selalu bicara untuk dan demi rakyat. Ada partai yang mengemban amanat rakyat dengan setia. Pada merekalah kita bisa menyerahkan kepercayaan kita. Panji-panji demokrasi tidak boleh jatuh ke tangan penguasa yang otoriter lagi, dan Indonesia akan kembali terpuruk dalam kondisi yang sama dengan masa orde baru atau orde lama. Demokrasi memang butuh waktu, dan sekalipun banyak partai yang mengritik penguasa – pada kenyataannya – proses demokrasi tetap berjalan ke arah yang benar.

Suara rakyat adalah suara Tuhan. Allah tidak akan mengubah nasih sebuah bangsa sebelum bangsa itu sendiri yang mau berubah. Rakyat Indonesia sudah ingin berdemokrasi, dan Allah akan memenuhi janjiNya.

Kalau Amerika (misalnya) sudah sedemikian maju dengan iklim demokrasi mereka, dan kita hendak memperbandingkan diri dengan mereka, itu tidaklah adil. Indonesia baru 60 tahunan merdeka dan 10 tahunan mengecap alam demokrasi yang sebenarnya – sementara Amerika sudah sejak tahun 1700-an merdeka, dan setelah lepas dari kolonisasi Inggris terus bergerak menjadi sebuah republik yang kian mapan. Bahkan Amerika Serikat pun pernah mengalami masa perang saudara selama masa penegakan republik federasinya. Jadi, kalau hanya riak-riak kecil selama proses demokrasi, Indonesia masih jauh lebih beruntung.

Dalam dua periode pemilu yang lalu, pasca kejatuhan orde baru, Indonesia telah melakukan pemilu dengan aman dan tertib. Hal itu sungguh mencengangkan banyak negara Barat – sebab bangsa ini terdiri dari begitu banyak suku dan negara pun berbentuk kepulauan yang terpisah lautan. Bandingkan dengan beberapa pemilu di belahan Asia lain – yang sama-sama sedang berjuang dalam iklim demokrasi – seperti India, Pakistan, Bangladesh, bahkan tetangga-tetangga kita seperti Filipina, Myanmar, Thailand, dsb. Indonesia yang jauh lebih luas wilayahnya, jauh lebih majemuk dan jauh lebih rawan konflik perpecahan, justru jauh lebih aman dibandingkan dengan negara-negara tersebut.

Saya selalu bangga menjadi bagian dari bangsa ini, dengan segala macam kelebihan dan kekurangannya. Semoga demokrasi yang sedang berproses ini terus bergulir hingga menemukan bentuknya yang paling cocok dengan karakter bangsa – sebab demokrasi justru adalah tuntunan Rasulullah Saw.

Muhammad Rasulullah Saw tidak pernah mengajarkan sistem pemerintahan monarki sebagaimana yang banyak dianut negara-negara Islam, dengan menunjuk putri atau atau cucu beliau sebagai penerus. Kaum Muslimin lah yang menentukan pemimpin mereka sendiri melalui pemilihan. Karena itulah, demokrasi harus tegak di bumi Pancasila ini, dengan wajah dan semangat yang paling sesuai dengan karakter bangsa. Demokrasi yang cocok untuk orang Islam, maupun bukan orang Islam. 

Menjadi Tua dan Hampa

Posted in Kontemplasi, Psikologi with tags on March 15, 2009 by hzulkarnain

 

menjadi tua adalah fitrah manusia

menjadi tua adalah fitrah manusia

Mungkin kita pernah melihat – entah secara pibadi atau melalui media televisi – orang tua (berusia lanjut) yang tinggal sendiri, hanya berteman dengan kucing-kucing piaraannya. Ada pula orang lansia yang memilih untuk tinggal di sebuah panti jompo dibandingkan dengan tinggal dengan anak-menantunya. Yang lain lagi, tidak tahu harus mengerjakan apa setelah anak-anaknya berkeluarga. Hidup mereka yang mungkin sudah di penghujung usia justru dipenuhi dengan kesunyian dari kehangatan manusia, khususnya sanak saudara.

Di sisi lain, kita masih melihat ada lansia yang tetap produktif di usia senja mereka, khususnya para pendidik, dosen atau guru besar perguruan tinggi, ulama, konsultan. Ada pula, pengurus panti asuhan dan yayasan lain yang tetap bersemangat sekalipun telah di usia senja. Titiek Puspa di usia 70-an, Mooryati Soedibyo di usia 80-an, semuanya masih produktif. Kegairahan mereka akan hidup seolah-olah menyiratkan jiwa yang tidak pernah kosong, selalu penuh terisi kehangatan dan semangat manusiawi.

Menjadi tua adalah fitrah manusia – setiap kita akan beranjak tua suka maupun tidak – akan  tetapi tidak banyak orang yang menyadari pentingnya mempersiapkan diri agar tetap produktif dan sejahtera secara psikis di masa tua itu. Kebanyakan orang tanpa sadar menjalani saja hidup ini, mengisinya dari hari ke hari, dan tahu-tahu anak-anak mereka sudah harus meninggalkan rumah untuk membentuk keluarga sendiri. Pada saat itulah, muncul sebuah krisis yang kadang kala tidak mudah dilalui.

Dalam khazanah Psikologi ada sebuah gangguan yang disebut dengan empty nest syndrome, yang kian sering dijumpai dalam masyarakat kota yang modern. Fenomena ini dulu tidak dijumpai, atau kalau pun ada jumlahnya sedikit, karena kebanyakan orang pada satu marga atau keluarga besar tinggal berdekatan, sehingga tidak sampai meimbulkan empty nest (sarang kosong). Sekarang, seiring dengan banyaknya urbanisasi, migrasi ke daerah lain – bahkan ke negara lain – karena bekerja maupun studi, dan jumlah anggota keluarga juga lebih kecil, menyebabkan ikatan kekeluargaan hanya terjadi pada unit-unit kecil. Selain alasan praktis tersebut, program KB pemerintah yang berhasil juga turut mendorong turunnya tingkat kelahiran anak.

Empty nest syndrome biasanya terjadi ketika anak mulai meninggalkan rumah, yang sifatnya permanen – dapat pekerjaan di kota lain, ikut suami mereka, dsb. Itulah sebabnya, keluarga modern lebih cenderung mengalaminya, karena jumlah anak yang sedikit. Sindroma ini lebih cenderung terjadi pada kaum perempuan, karena biasanya tidak bekerja di luar rumah. Penelitian menunjukkan bahwa, peluang terjadinya sindroma ini pada perempuan bekerja lebih kecil. Gejala yang umum pada gangguan ini adalah perasaan tertekan, kesedihan, sering menangis, sehingga sering menghabiskan waktu di kamar yang dulu ditempati anak.

Secara umum, sindroma ini tidak berlangsung lama, namun pengidap perlu memperhatikan apa yang terjadi pada diri mereka sendiri. Ketika anak-anak pergi dari rumah, kesedihan yang timbul merupakan kewajaran, tapi bila kondisi mental yang dialami berkepanjangan individu yang mengalaminya harus memperoleh bantuan profesional. Bagaimanapun, sebuah bantuan psikologi tidak akan berhasil tanpa kesediaan orang yang mengalami masalah.

Selain diri sendiri, keluarga adalah komponen terpenting yang menentukan bagaimana orang bisa menghadapi masa tuanya secara bermakna. Anak-anak dan cucu-cucu yang berada di sekeliling kakek-nenek, tumbuh dan jadi orang yang baik, membuat lansia tersebut mensyukuri kehidupan. Lansia yang masih memiliki pasangan, suami atau istri, juga berpeluang lebih baik dalam melalui krisis di usia tua yang terjadi.

Menurut seorang ahli perkembangan, Erik H. Erikson, orang lansia (lanjut usia) yang merasa bermakna, merasa telah memberikan kontribusi pada kehidupan yang dilalui, akan menumbuhkan integritas, harga diri, dan kebijaksanaan dalam dirinya, menerima luasnya dunia dan lapang menatap kematian yang bisa datang setiap saat. Di sisi lain, ada orang tua yang merasa belum banyak melakukan hal penting di masa lalu, sehingga merasa telah menyia-nyiakan umur. Ada perasaan putus asa, tidak berguna, dan kecenderungan lainnya adalah minta lebih banyak perhatian dari orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Dari pemahaman ini kita lantas bisa memahami bahwa, setelah semua anak-anaknya beranjak dewasa dan pergi dari rumah, ada sebagian orang lanjut usia yang seolah tidak banyak terpengaruh, tetap produktif, dan tetap menyenangkan. Akan tetapi, ada pula lansia yang kemudian berubah seperti anak-anak, minta perhatian berlebih, dan menjadi beban bagi orang lain (khususnya anak-anak mereka). Dalam kondisi sakit pun, lansia dengan integritas tinggi akan berusaha sekuat mungkin tidak menjadi beban bagi orang lain. Beda dengan lansia yang mulai putus asa menghadapi usia tua, yang cenderung mudah patah dan lebih suka diperhatikan dan dibantu.

Anak-anak yang telah dewasa seharusnya memahami kesulitan yang dihadapi orang tua mereka yang beranjak lanjut usia, dan seharusnya lebih arif dalam menyikapi kondisi ini. Manusia adalah tempat lupa, dan sudah jamak terjadi anak-anak yang mulai lupa pada keringat orang tua ketika mereka sudah sukses, seolah-olah ibu-bapa mereka tidak berperan dalam membentuk kesuksesan tersebut. Orang tua mungkin pernah berbuat kekeliruan di masa muda mereka dan Allah telah banyak menegur mereka dengan berbagai kejadian yang terjadi di sepanjang hidup mereka. Sebagai anak, bukan tugas kita menambah beban mereka di masa tua.

Islam mengajarkan kita sesuatu, sebagaimana tersurat dalam QS Al Israa’ (23): Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang  mulia .

QS Al Ahqaaf (15): Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah . Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan  kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Islam mengajarkan tentang tugas mulia seorang anak pada orang tuanya ketika mereka sudah beranjak tua, karena pada gilirannya nanti kita lah yang menjadi tua dan menantikan kasih sayang anak-anak kita – sebagaimana yang kita lakukan sekarang pada ibu – bapak kita yang sudah lanjut usia.