Archive for August, 2010

Membela Allah

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags , , , on August 26, 2010 by hzulkarnain

“Allah tidak perlu dibela,” ujar almarhum Gus Dur pada suatu ketika.

Kalimat sederhana yang bisa diinterpretasikan secara berlawanan. Orang bisa menganggap Gus Dur melecehkan Islam, tetapi bisa juga bermakna meninggikan kedudukan Islam. Sekalipun suka bercanda, saat menyatakan ini beliau tampak serius.

Kita memahami bahwa Indonesia adalah sebuah negeri beretnis majemuk, mayoritas penduduknya beragama Islam, namun sejak awal para bapak bangsa sudah sepakat untuk menerapkan demokrasi sebagai landasan bernegara, bukan Islam. Konsekuensinya, bangsa ini selalu berada di persimpangan paham politik yang sedang trend di dunia. Sempat cenderung  ke arah liberal, sosialis, dan sekarang kembali mengarah ke liberal lagi. Dalam iklim politik seperti ini, setiap orang boleh berekspresi selama tidak melanggar hukum dan mengganggu orang lain. Sekalipun mungkin tidak suka, orang Islam harus menyerahkan kepercayaan kepada pengurus negara yaitu pemerintah, untuk bertindak adil.

Sayangnya, selalu ada orang atau pihak yang mencari celah hukum dan melakukan perbuatan yang bagi sebagian orang Islam cukup menyakitkan atau tidak pada tempatnya. Diskotik buka malam hari itu wajar bagi pemda, karena mereka sudah membayar pajak. Tapi bagi sekelompok massa, hal itu menghina bulan ramadhan. Lokalisasi yang tetap buka di malam hari, itu melecehkan ibadah orang Islam. Mungkin ini lebih ke perbedaan persepsi, tetapi ujungnya adalah perusakan properti. Pamong praja dianggap lamban dalam menyikapi hal ini, sementara sekelompok massa tidak sabar menunggu aksi pemda atau pemkot.

Hal serupa juga menyangkut tindakan ekstrim sekelompok umat Islam yang meledakkan objek yang mereka anggap representasi Barat atau peradaban Barat. Pemerintah sudah tidak dianggap punya legitimasi karena dipandang telah menjadi kaki tangan Barat, dan niatan membangun negara Islam menguat. Bagi mereka, demokrasi yang berjalan sekarang ini tidak Islami, dan harus diganti dengan syariat Islam sepenuhnya. Kalau pun ada korban yang jatuh karena aksi mereka – termasuk sesama orang Islam – dianggap sebagai korban perang semata.

Alih-alih menarik simpati, kelakuan anarkis tersebut justru mengundang antipati. Setidaknya itu yang muncul di permukaan dan kabar di media massa nasional. Sekalipun yang punya pemikiran dan melakukan tindakan adalah individu atau kelompok individu (karena saya sebagai orang Islam tidak merasa terwakili) tetapi Islam sendiri sebagai agama dan petunjuk yang lurus jadi terbawa-bawa.

Sebenarnya, apakah Islam sebagai agama, pandangan hidup, dan kultur mengalami ancaman di tengah berbagai peradaban di dunia? Sehingga ada individu atau kelompok individu yang “terpanggil” untuk membelanya dengan kekerasan.

Kalau kita menengok sejarah, dan kembali ke masa lalu, kita tahu bahwa sejak awal kebangkitannya bersama Rasulullah SAW, Islam tidak pernah kering dari cobaan, karena memang kebenaran selalu mendapatkan ujian. Sebagai bukti bahwa Islam adalah kebenaran, bukannya mengerdil tetapi agama ini justru menjelma menjadi raksasa di tengah peradaban dunia saat itu. Dalam perjalanannya, semakin besar tekanan kepada Islam, semakin luas wilayah perkembangannya. Ketika tentara Perang Salib sempat mengalahkan pasukan Islam, sebenarnya justru saat itulah awal masuknya ide-ide dari para pemikir Islam ke Eropa, seperti ilmu kedokteran Ibnu Sina. Eropa tercerahkan, tapi pada umumnya mereka tidak mengakui bahwa pencerahan itu bersumber dari peradaban Islam yang mereka serap.

Kita ingat kontroversi 9/11 – saat menara kembar Wold Trade Center rata dengan tanah akibat dihantam pesawat berbadan lebar secara sengaja. Konon, pesawat itu dibajak teroris dari Timur Tengah dan ditabrakkan ke WTC. Versi lain, semua kabar tentang terorisme adalah rekayasa, sebab pada hari itu, hampir semua karyawan yang beretnis Yahudi serentak cuti sehingga selamat dari runtuhnya WTC. Apapun alasannya, orang Amerika lah yang menderita.

Anehnya, seperti anti-tesis bahwa runtuhnya WTC akan menjatuhkan reputasi Islam, justru kejadian pahit ini membuat orang Amerika ingin tahu Islam itu seperti apa. Mereka yang sebelumnya tidak tahu dan tidak perduli, menjadi ingin tahu dan ingin belajar. Justru inilah kunci peradaban Islam, penyebaran agama dengan akal. Orang Amerika yang berakal, dan menggunakan akal mereka dalam mempelajari Islam, justru tertarik ke Islam. Mualaf menjadi jauh lebih besar pasca tragedi 9/11 … sebuah keanehan yang nyata.

Upaya pelemahan Islam terjadi secara sistematis maupun sporadis, itu sudah terjadi sejak jaman Rasulullah sendiri. Selama sifatnya masih pertentangan dengan kata-kata, ketinggian kandungan dan tata bahasa Al-Qur’an tidak akan terpatahkan. Oleh karena itu, yang kemudian terjadi adalah upaya pembunuhan Rasulullah SAW dan menghabisi semua orang Islam. Terjadilah berbagai peperangan yang tidak terhindarkan.

Pada masa Khulafaur Rasyidin, Islam mengembangkan sayap semakin jauh ke negeri-negeri tetangga hingga ke tempat yang jauh. Islam bukan lagi sebuah agama dan gagasan tetapi sudah menjelma menjadi sebuah peradaban dan negara. Oleh karena itu, perluasan peradaban ini terkadang berbenturan dengan peradaban lain dan menimbulkan pertentangan dan perang.

Kemudian, muncullah pameo bahwa Islam disebarkan dengan pedang. Sebagai penghalusan gagaan bahwategaknya Islam ini karena memaksa orang untuk memeluknya, bukan karena keikhlasan. Islam tidak akan mendunia bila tidak melalui peperangan.

Padahal, dalam kenyataannya, penyebaran agama Islam di Asia, Eropa, dan banyak negara lain justru kebanyakan melalui perdagangan. Tidak mungkin Islam bercokol beberapa abad di Spanyol tanpa adanya orang-orang Islam yang mendahului tiba di sana. Tidak ada kabar berita dan bukti bahwa tentara dari jazirah Arab disebarkan di banyak negara Asia dan Afrika untuk penaklukan. Yang ada adalah armada pedagang, yang membawa peradaban Islam dalam tata cara perdagangan mereka. Tentu saja ini sangat berbeda dengan penaklukan kaum kolonial Spanyol dan Portugis yang membawa agenda ekspedisi: gold, gospel, glory (perburuan emas, penyebaran agama, dan membangun kejayaan) – untuk menyebut mencari harta di tanah orang, menyebarkan agama kepada bangsa lain, dan membentuk koloni di negeri yang jauh.

Ujian bagi kaum Islam pun sampai sekarang belum selesai, dengan bentuk yang berbeda-beda dan berasal dari elemen yang beragam. Ada yang berbentuk tekanan militer seperti di Palestina, ada yang berwujud westernisasi seperti di beberapa negara pesisir jazirah Arab, melalui arus informasi yang tidak terbendung seperti di Indonesia, dan sebagainya. Dampaknya serupa, yakni menjauhkan orang Islam dari Al-Qur’an dan Hadits. Justru ujian non-fisik seperti westernisasi dan informasi lah yang jauh lebih berbahaya, karena tidak nyata dan halus sekali masuk ke pembuluh nadi orang Islam.

Akankah Islam akan runtuh? Sekali-kali TIDAK. Allah telah memberikan janjiNya bahwa satu-satunya agama di sisiNya adalah Islam (Ali Imran 19): Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam. Kemudian dalam QS Al Maidah ayat 3, Allah menegaskan … Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Dengan demikian, sebenarnya Islam sebagai agama tauhid sudah diamanatkan Allah bagi manusia yang bertakwa. Allah sendiri yang menjamin keberlangsungannya. Allah sendiri yang akan melindungi Islam, dan Allah tidak butuh manusia sebagai penolongNya. Tidak mungkin Allah membiarkan agama yang diridhaiNya, dan satu-satunya yang benar seperti dalam wahyuNya dibiarkan runtuh.

tanggung jawab kita adalah anak-anak kita

Bila kita mencintai agama ini sebagai rahmatan lil alamin, tugas kita adalah menegakkan syariat Islam bagi diri kita, keluarga kita, dan orang-orang yang mau bertakwa sebagaimana Rasulullah menegakkan Islam dengan kasih sayang dan persaudaraan. Tidak ada paksaan dalam beragama, sehingga memusuhi orang di luar Islam sungguh bukan ajaran Rasulullah SAW. Biarlah mereka dengan sesembahan mereka, dan Allah akan memberikan keputusanNya kelak.

Bagaimana dengan musuh-musuh yang membenci Islam dan berusaha menghancurkan umat Islam? QS An-Nisa 45 menjelaskan: Dan Allah lebih mengetahui  tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung. Dan cukuplah Allah menjadi Penolong.

Bila Allah sudah berkehendak, apa susahnya meremukkan sebuah bangsa dan menghapusnya dari muka bumi? Kaum ‘Ad, kaum Tsamud, bangsa Nabi Nuh, dsb telah menjadi bukti. Biarlah Allah yang akan menentukan nasib bangsa Israel, orang Eropa, dan semua yang dianggap musuh Islam, karena mereka bertahan di muka bumi ini semata karena ijin Allah, semata agar menjadi ujian bagi kita – kaum mukmin yang bertakwa.

Cukuplah Bagiku Allah …

Posted in Kontemplasi, Sharing, Tausiyah with tags , , , , , , , , on August 15, 2010 by hzulkarnain

Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung … demikian bunyi sepotong ayat dalam Ali Imran ayat 173, untuk menunjukkan bahwa kekuatan iman (seharusnya) bisa menahan ketakutan dan kekhawatiran atas apapun yang membahayakan jiwa.

Sayangnya, realitanya tidak semudah itu. Kita dibesarkan dalam konsep keduniaan, dan sebagai mahluk sosial terbiasa untuk menjadikan manusia lain sebagai penolong. Ayah ibu kita, kakak, saudara, hingga sahabat dan teman biasa. Bisa dikatakan, kita tidak dididik untuk menjadikan Allah sebagai penolong, kecuali mungkin bila kita dibesarkan secara khusus seperti di lingkungan pesantren.

Ketika sakit, pikiran yang pertama terlintas adalah dokter. Wajar, tetapi kecenderungannya kemudian adalah berpikir pertolongan sangat jauh, dan hanya bisa didapatkan lewat tangan ahli. Ketika mendadak membutuhkan biaya besar, yang pertama terlintas di pikiran adalah pinjam uang pada orang atau bank, karena rasanya Allah yang gaib tidak akan menurunkan sejumlah uang secara nyata. Ketika masuk rumah baru dan takut pada fenomena yang tidak dipahami, yang terpikirkan justru bantuan paranormal.

Mungkin sekarang ini kondisi religius orang Indonesia sudah membaik, setelah sangat lama terbelenggu total pada sekularisme di era sebelumnya. Kemajuan informasi dan komunikasi telah mendorong maraknya dakwah agama, dan orang jadi lebih mudah mengakses apapun yang terkait dengan agama. Akan tetapi, seperti halnya evolusi dalam berbagai bidang, tidak mudah mengikis cara berpikir yang diturunkan dari generasi sebelumnya.

Mengatakan cukuplah bagiku Allah memang mudah untuk dikatakan, tetapi bila masih percaya pada ruwatan, hari baik, sedekah bumi, selamatan, dan apapun namanya yang mengatas namakan keselamatan, berarti Allah belum lah cukup. Allah tidak pernah menyuruh kita melakukan ritual selain sholat untuk mendekatkan Dia pada umat-Nya. Hanya sholat saja ritual yang diperintahkan, dan perbanyak zikir agar kita lebih mendekat padaNya.

Beberapa waktu lalu, seorang teman bercerita tentang sakitnya. Dia masih muda dan belum menikah, atraktif, dan masih naif. Menurutnya, keluarganya cukup konservatif, dan cukup baik dalam pengajaran agama. Dalam ceritanya, ia pernah ditaksir seseorang yang sudah dianggapnya kakak sendiri. Intinya, ia tidak tertarik dengan laki-laki tersebut dengan dalih belum siap untuk menikah. Konon, setelah penolakan itu beberapa kali mimpi buruk mendatanginya. Yang paling serius terjadi saat ia merasa dicekik figur hitam besar, dan merasa hampir mati.

Menurut teman tersebut, keesokan harinya ia tidak bisa berjalan. Kakinya terasa berat seperti dibebani sesuatu. Dua minggu ia tidak bisa kemana-mana, dan dokter pun tidak menemukan penyakit apapun. Selanjutnya, orang tuanya membawanya ke kiai (sebutannya begitu). Menurutnya, sampai ada 4 kiai yang didatangi untuk mencari kesembuhan. Akhirnya ia memang sembuh dan bisa berjalan seperti biasa.

Apakah sembuh begitu saja? Tidak.

Sekarang, kemana-mana teman saya itu membawa semacam jimat penangkal, yang katanya bisa melindunginya. Sebuah bungkusan putih dengan tulisan arab gundul. Dia sepakat bahwa apa yang dilakukan itu adalah menangkal jin dengan jin lain. Dia juga tahu dampak buruk yang bakal terjadi bila dia terus merawat jimat itu. Sekarang pun sudah terasa,  dia jadi lebih sulit mengaji dengan normal karena selalu mengantuk dan akhirnya tertidur. Kalaupun terbangun, minatnya mengaji sudah hilang.

Takut akan hal gaib, itu adalah hal yang lumrah karena normalnya kita tidak tahu apa yang ada di balik tabir gaib tersebut. Sama dengan orang yang takut pada kegelapan, karena dia tidak tahu apa yang bersembunyi di dalam kegelapan itu. Dalam situasi seperti itu, kita dipaksa untuk berpegang pada sesuatu agar tidak takut lagi. Mau berpegang pada apa, itu adalah pilihan kita.

Meyakini sebuah supreme being – dzat yang maha tinggi – adalah hakikat manusia. Itulah sebabnya manusia mengembara dalam pikiran dan keyakinan untuk mencari bentuk sesembahan sebagai wujud takluk dan takutnya. Muncullah keyakinan-keyakinan kuno seperti animisme, dinamisme, hingga paganisme yang memunculkan dewa-dewa seperti era Yunani dan Eropa kuno. Bila di Yunani ada Zeus, orang-orang Viking menyembah Odin – yang sama-sama penguasa langit bersenjatakan petir. Orang Arab kuno lebih takut pada dewa air, karena kondisi dataran yang bergurun. Orang Persia menyembah dewa api, yakni kaum Majusi yang masih ada hingga sekarang. Masyarakat kuno di Amerika Selatan dan kebanyakan suku-suku yang terlah hilang takut pada matahari, dan api sebagai sebuah bentuk dari kekuatan matahari.

Agama-agama yang masih ada dan berkembang sekarang ini meyakini adanya sebuah dzat yang maha tinggi, namum hanya Islam yang secara lugas menegaskan bahwa tidak perlu perantara untuk berhubungan dengan Sang Khalik tersebut. Tidak perlu dewa, pendeta, idol (bentuk patung untuk fokus), atau bahkan tempat khusus untuk menyembahNya, karena dia bisa lebih dekat daripada urat nadi manusia sendiri.

Manusia secara nas sudah ditunjuk menjadi khalifah di muka bumi, spesies yang memang diperintahkan menyebar dan mengembara di atas dunia untuk mengagungkan namaNya. Manusia boleh memanfaatkan apapun yang ada di atas dan di dalam bumi untuk kepentingannya. Kurang apa lagi. Akan tetapi, tidak semua manusia cukup pede meyakini bahwa dia adalah seorang khalifah, sehingga memerlukan “jasa” mahluk lain untuk bisa menegakkan dada menunjukkan jati diri sebagai manusia.

Padahal, Allah telah juga mengingatkan bahwa menjadi khalifah di muka bumi itu tidak lah mudah (QS At-Tiin): “…sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya , kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”.

Bila kembali pada akar keyakinan, yakni Allah, semuanya jauh lebih sederhana. Kebutuhan yang teramat sangat pada figur dokter, bank, hingga mahluk lain sebenarnya ketakutan akan derita, sengsara, bahkan mati. Padahal, tanpa ijin Allah, sengsara dan derita tidak akan menghampiri. Kecuali memang Allah menurunkan cobaan, teguran, atau azab pada kita manusia. Bila sudah kehendak Allah, tidak akan ada yang bisa menundanya apalagi membatalkannya.

merendah di hadapan Allah

Jadi, mengapa tidak sekarang saja dengan sepenuh hati mengucapkan hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal mawla wa ni’man nashir …. seperti saat Nabi Ibrahim a.s dilemparkan ke api, saat Rasulullah SAW menghadapi ancaman serangan kafir Quraisy, dan Aisyah r.a menghadapi fitnah keji.

Semoga Allah merahmati kita semua. Amin….

Demi Kehormatan?

Posted in Kisah, Sharing with tags , , , , on August 10, 2010 by hzulkarnain

Herdian Zulkarnain

Foto ilustrasi tulisan saya kali ini mungkin memberikan perasaan tidak nyaman bagi kebanyakan pembaca yang singgah di blog ini. Saya mohon maaf. Saat melihat dan membaca liputan majalah TIME edisi tanggal 9 Agustus ini, saya merasa tergerak untuk membahasnya.

Cover TIME 9 Agustus 2010

Aisha adalah seorang wanita muda Afghanistan berumur 18 tahun dan menikah. Ia sebelumnya adalah perempuan yang cantik, berambut indah, bermata cemerlang, namun sekarang orang akan ngeri melihat wajahnya. Hidungnya habis, memperlihatkan rongga hidung, demikian pula telinganya. Apa yang terjadi?

Dalam pengakuannya, setelah menikah ia diperlakukan secara sewenang-wenang oleh para iparnya seperti budak, mereka memukulinya, dan ia merasa akan mati bila tidak menyelamatkan diri. melarikan diri dari rumah keluarga suaminya adalah pilihan yang diambilnya.

Aisha tinggal di wilayah Selatan Afghanistan, tempat kelompok pejuang Taliban berkuasa. Sekalipun Taliban tidak lagi berkuasa sebagai pemerintahan, kelompok itu punya akar yang kuat dan cukup menguasai sendi kehidupan di wilayahnya. Keluarga suami Aisha meminta Aisha dihukum, dan dengan pengawalan prajurit Taliban Aisha dijemput di suatu malam untuk menghadapi “pengadilan” di sebuah tempat di pinggir desa. Aisha sudah menjelaskan alasannya minggat dari rumah, namun hakim “pengadilan” itu – yakni komandan lokal Taliban – tidak goyah.

Keputusan diambil, Aisha harus dihukum, dan yang melakukannya adalah suaminya sendiri. Menurut sang hakim kepada Paman Aisha yang hadir, hal itu dilakukan sebagai pelajaran bagi perempuan-perempuan lain di desa itu agar tidak melakukan perbuatan serupa. Sementara ipar-iparnya memegangi, suami Aisha menghunus pisau dan mengiris kedua daun telinga perempuan itu, lalu hidungnya. Aisha pingsan karena penderitaannya, dan ia ditinggalkan begitu saja untuk mati.

Aisha - 18 tahun

Tapi entah bagaimana ceritanya, Aisha ternyata tidak mati. Yang Kuasa belum mengijinkannya mati. Ia terbangun karena tersedak darahnya sendiri, saat semua laki-laki yang menyaksikan eksekusi itu sudah pergi.

Aisha akhirnya ditampung dan dilindungi oleh semacam lembaga perlindungan perempuan di Kabul, setelah sebelumnya memperoleh perawatan di camp tentara Amerika. Perempuan muda itu akan menjalani rehabilitasi bedah kosmetik. Ayahnya pernah ke penampungan tersebut dan meminta Aisha kembali ke rumah, namun perempuan muda itu menolaknya. Ia bisa membayangkan apa yang terjadi bila ia pulang, sementara keluarganya menanggung rasa malu. Untuk menghilangkan rasa malu itu, mungkin saja ia akan mati dibunuh keluarganya sendiri demi pulihnya kehormatan keluarga, atau sekali lagi dikembalikan kepada keluarga suaminya – yang ujungnya sama saja: mati demi kehormatan keluarga.

Kejadian ini bukan 10 tahun lalu, saat Taliban berkuasa penuh, tetapi baru tahun 2009 kemarin. Di Afghanistan memang sedang terjadi konflik kepentingan antara pemeritah berkuasa yang didukung Amerika dengan kekuatan pasukan Taliban yang bergerilya di kantong-kantong perjuangan mereka. Setelah Taliban lepas dari kekuasaan dan iklim demokrasi membaik, perempuan-perempuan Afghanistan (terutama di Ibukota Kabul) mulai menggeliat dan menunjukkan kapasitas mereka. Sekarang ini, anggota parlemen perempuan mencapai sekitar 25%, tetapi secara de facto mereka belum dianggap signifikan. Aisha adalah contoh perempuan di area rural yang jauh dari modernisasi, dan masih hidup dalam kungkungan adat yang mengatas namakan agama. Perempuan-perempuan ini hidup dalam budaya patriarki yang kuat, dan tidak memberikan mereka kebebasan untuk berpikir dan bertindak. Mereka harus siap menerima kematian bila dianggap mempermalukan nama keluarga.

Perempuan Afghan di Kabul, terpelajar dan emansipasi

Honor killing – sebutan untuk pembunuhan atau kematian yang dilakukan demi nama dan kehormatan keluarga. Istilah ini pertama kali disebutkan oleh Ane Nauta, ilmuwan Belanda di masyarakat Turki. Human Rights Watch mendefinisikan honor killing sebagai: tindak kekerasan, biasanya pembunuhan, yang dilakukan oleh kaum pria sebuah keluarga terhadap kaum wanitanya yang dianggap membuat malu keluarga.

Perbuatan yang dianggap memalukan dan patut dihukum dengan kematian antara lain: menolak dinikahkan, menjadi korban kekerasan seksual, meminta cerai (sekalipun dari suami yang penganiaya), atau melakukan perzinahan.

Ada yang mengasumiskan bahwa honor killing terkait dengan dunia Islam. Dalam laporan National Geographic di tahun 2002, Hillary Mayell menyebutkan bahwa honor killing ditemukan oleh PBB dilakukan di negara-negara: Bangladesh, Britania Raya, Brazil, Ecuador, Mesir, India, Israel, Italy, Jordan, Pakistan, Maroko, Swedia, Turki, dan Uganda. Yang tidak secara resmi dilaporkan adalah Afghanistan, Iran, dan Iraq.

Menurut Marsha Freeman (2002 – direktur International Women’s Right Action Watch), kebanyakan honor killing terjadi di negara-negara yang punya konsep perempuan sebagai alat untuk mengangkat reputasi keluarga.

Widney Brown, direktur advocacy Human Rights Watch, menyatakan,”di negara-negara yang bernafaskan Islam, mereka menyebutnya honor killing (pembunuhan demi kehormatan), tetapi kematian karena uang mahar (dowry – uang yang dibawa mempelai perempuan pada keluarga pengantin laki-laki – red) dan kejahatan karena hal-hal semacam itu memiliki dinamika serupa – yang pada pokonya perempuan dibunuh oleh anggota keluarga yang laki-laki, dan kejahatan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang bisa dipahami dan dimaafkan.”

Di India, lebih dari 5000 mempelai perempuan mati tiap tahun karena uang mahar yang tidak mencukupi. Di Amerika Latin, praktik seperti ini juga terjadi.

Tahira Shahid Khan (1999) dalam tulisannya menyebutkan bahwa, di dalam Al-Qur’an tidak ada pengajaran yang mengijinkan pembunuhan demi kehormatan. Akan tetapi, pandangan bahwa perempuan adalah properti (hak milik) tanpa hak pribadi sangat berakar pada kultur masyarakat Islam.

Katanya,”Perempuan dianggap sebagai properti dalam keluarga tanpa memandang kelas, etnik, dan agamanya. Pemilik properti berhak menetapkan nasibnya. Konsep ini telah mengubah perempuan menjadi komoditi yang dapat dipertukarkan, dibeli, dan dijual.”

Honor killing tidak selalu dengan cara yang mengerikan sebagaimana yang dialami Aisha, tetapi bisa juga dengan tembakan langsung. Tidak selalu di tempat khusus, bisa juga di tengah keramaian. Samia Imran di tahun 1999 hendak menggugat cerai suaminya di Peshawar Pakistan, setelah 10 tahun perkawinan yang menyengsarakannya. Dia bukan dari keluarga sembarangan, karena ayahnya saat itu adalah Ketua Kamar Dagang di Peshawar. Keluarganya menentang, karena hal itu akan mempermalukan keluarga. Perempuan berumur 28 tahun ditembak mati oleh seorang laki-laki yang masih kerabatnya di depan kantor pengacara. Pembunuhnya tidak pernah dihukum.

Zahida Parveen. inset: sebelum rusak dan setelah rusak

Di tahun 2002, dokumenter National Geographic menyelidiki honor killing di Pakistan, dan memperkirakan 3 orang perempuan menjadi korban praktik ini tiap harinya. Kasus mirip yang dialami Aisha terjadi juga tahun-tahun itu, dialami oleh Zahida Parveen (29) seorang ibu beranak 3 yang secara brutal dibutakan kedua matanya dan dirusak wajahnya … lagi-lagi oleh suaminya sendiri.

Dengan mengatas namakan agama dan kehormatan keluarga, honor killing dilakukan. Akan tetapi, sebenarnya hal ini adalah legitimasi atas kekerasan pada perempuan, karena perempuan dianggap tidak punya tempat pada budaya patrilinial. Tidak ada urusan dengan agama.

Semoga kita bisa sedikit mengambil hikmah dari kisah ini. Islam meninggikan derajat kaum perempuan, menjadikan mereka ahli dalam urusan mengatur rumah tangga dan menyeimbangkan harmonisasi keluarga dengan emosinya. Akan tetapi, dengan sedikit mis-interpretasi, memang akhirnya bisa saja perempuan dianggap sebagai properti.

Semoga Allah Swt senantiasa memberikan rahmat dan petunjukNya untuk bangsa ini.

SELAMAT MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN … semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan rahmat-Nya pada kita semua, dan keikhlasan kita menyambut bulan suci ini membawa kebaikan bagi semuanya. Amin.