Archive for September, 2008

Ramadhan Gerbang Syukur

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags on September 26, 2008 by hzulkarnain

 

mengakhiri hari dengan bersyukur

Tidak terasa Ramadhan bulan penuh hikmah akan berlalu untuk tahun ini, semua kegiatan religius yang sebulan penuh seolah menyesaki sudut-sudut aktivitas harian kita juga (mau tak mau) akan menemukan ujungnya, dan (mau tak mau) kita sebagai manusia akan kembali terjebak dalam rutinitas duniawi hingga setahun kemudian. Mungkin para ustadz dan ulama akan berpesan dengan khidmat agar kita tidak membuang demikian saja semua hal baik yang sudah kita mulai pada Ramadhan tahun ini, mempertahankannya, bahkan kalau bisa meningkatkannya. Kita pun akan mencoba menghayati pesan tersebut, mengangguk-angguk setuju, dan berjanji akan mencoba melaksanakannya.

Apa yang kemudian terjadi? Lebih umum kita menemukan takbir penanda masuknya bulan Syawal menjadi pengakhir kekangan atas segala nikmat dunia. Bila di bulan ramadhan saja masih banyak kaki yang terlihat di balik tabir kedai kaki lima, bagaimana pula meminta mereka melaksanakan puasa sunnah syawal. Kalau selama Ramadhan begitu banyak ajakan, anjuran, dan tuntunan untuk bersedekah yang tidak menggerakkan hati, apalagi di bulan selain bulan suci itu.

Islam memerintahkan penganutnya untuk memperbaiki diri, dan menjadikan kebaikan hari sebagai tonggak kebaikan besok. Sebagaimana tertulis dalam Surat Al-Ashr, kita sebenarnya dalam kondisi yang minus bila statusnya hanya sama dengan diri yang kemarin. Sekecil apapun perubahan itu, seyogyanya kita lebih baik daripada kemarin. Ramadhan yang datang setiap tahun sebenarnya bisa menjadi tonggak besar perubahan diri seseorang yang sadar bahwa masa lalu adalah hal yang terjauh, karena waktu tidak pernah berulang, dan kita ini seperti menyentuh air sebuah sungai yang mengalir. Tidak pernah kita menyentuh air yang sama.

Salah satu langkah terbaik untuk memulai memperbaiki diri adalah dengan cara bersyukur. Bersyukur adalah kewajiban manusia, suka atau tidak, karena sepenggal hidup ini terasa mudah dan nikmat hanya karena kemurahan Allah Ta’ala. Allah menetapkan default yang sedemikian indah atas diri manusia yang baru dilahirkan. Normalnya, manusia lahir dilahirkan dengan “kelengkapan” yang standar: kepala lengkap dengan mata-telinga-mulut-hidung, tubuh, tangan-kaki, organ dalam tubuh, dsb. Sebenarnya, orang tua paham akan nikmat ini, dan mengucapkan pujian serta rasa syukur sesaat setelah mengetahui anaknya lahir selamat dan tanpa cacat. Hanya sayangnya, rasa syukur itu tidak pernah lama, dan tidak pernah menjadi bagian dari pengajaran pada sang anak.

Kebanyakan dari kita tumbuh dan berkembang dengan merasa bahwa kesempurnaan tubuh sebagai suatu standar. Bagaimana mungkin nikmat Allah yang besar ini dianggap sebagai standar? Standar artinya tidak kurang dan tidak lebih. Berapa dari kita yang selalu melihat default ciptaan Allah sebagai kesempurnaan. Mungkin terlintas, namun seberapa dalam. Manusia baru merasakan tingginya nikmat – yang dianggap standar tadi – ketika Allah memberikan cobaan sedikit saja. Sakit gigi, atau kaki yang patah karena kecelakaan. Tiba-tiba orang merindukan masa ketika gigi tidak sakit atau kala bisa berjalan normal tanpa kruk. Apalagi bila Allah mengambilnya untuk selama-selamanya?

Atau sebaliknya, Allah tidak mengurangi tapi menambahi. Mata yang seharusnya dua ditambah satu. Jari yang seharusnya lima di kanan dan lima di kiri ditambahi masing-masing satu. Berapa orang yang mau “kelebihan” dari default ciptaan Allah itu?

Kekayaan yang melimpah juga bukan sesuatu yang bisa diidamkan bila hal itu lantas menjauhkan manusia dari rasa syukur dan ketakwaan. Banyak kasus yang menunjukkan bahwa kelimpahan harta menyebabkan orang menjadi terikat untuk mempertahankannya, bahkan dengan cara yang tidak bisa dibenarkan menurut jalan agama.

Ironisnya, wajah syukur justru lebih mudah tampak pada manusia yang telah kehilangan salah satu atau beberapa nikmat dari Allah. Orang yang terbiasa hidup dengan nikmat yang tidak sebanyak orang normal lainnya. Mereka yang cacat sejak kecil atau sejak lahir, orang yang miskin dan tidak mengeluh, anak-anak yatim yang kehilangan orang tua, dan sebagainya. Hilangnya sebagian dari nikmat telah menyadarkan mereka bahwa masih ada hal yang bisa disyukuri, dan ada kekhawatiran akan hilangnya nikmat yang lain bila mereka tidak mensyukuri apa yang tersisa.

Saya selalu miris ketika melihat orang yang secara dholim merusak keindahan ciptaan Allah dengan tattoo atau tindik yang berlebihan, hanya karena tidak indah di mata manusia. Atau menggunakan narkoba yang sadar atau tidak sadar merusak ciptaan Allah dari dalam. Ada lagi yang merasa perlu merombak susunan yang sudah bagus ini agar tampak lebih elok dengan cara operasi plastik. Kalau bagi kebanyakan orang tubuh kita yang sempurna ini dianggap standar, ternyata masih ada yang menganggapnya sub-standar. Di tempat lain, betapa banyak orang dengan kelebihan harta dan jabatan justru terperangkap dalam upaya memperkaya diri sendiri melalui korupsi. Sebagian lain didapati mati di kamar seorang perempuan pekerja seks. Naudzubillahi mindzalik!

Dengan sadar bahwa Allah telah merahmati kebanyakan dari kita nikmat yang sedemikian tinggi, sudah sepantasnya sebagai insan biasa kita senantiasa meningkatkan rasa syukur. Ada beberapa nasihat untuk meningkatkan rasa syukur tersebut, antara lain dengan cara:

1. Menuliskan semua kenikmatan yang diberikan oleh Allah. Segala hal yang kita ingat sebagai nikmat, tuliskan saja, sekecil apapun. Selain itu, tambahkan catatan itu dengan semua kemujuran dan keberuntungan yang terjadi sepanjang hari. Surat Lukman 27 menegaskan bahwa … seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

2. Menimbang nikmat yang kita dapatkan dengan mereka yang tidak seberuntung kita. Harta yang dititipkan Allah kepada kita sesungguhnya semata-mata agar kita mampu meningkatkan takwa dengan menjadi jalan rizki bagi orang lain. Surat Al An’aam 53 menyebutkan: Dan Demikianlah Telah kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang Kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?”

3. Mewujudkan rasa syukur dengan berbagi. Zakat adalah jalan yang ditentukan oleh Allah kepada setiap muslim dan mukmin unuk meningkatkan takwa. Begitu banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang menggandengkan frase menegakkan sholat dan membayarkan zakat. Bila ada kata menegakkan sholat, di belakangnya ada lanjutan membayarkan zakat. Zakat dan sedekah tidak menjadikan manusia miskin, karena Allah sendiri yang memerintahkannya agar menjadi jalan taubat bagi mereka yang berpunya. QS Al-Mujadillah 13 menggaris bawahi: Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) Karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah Telah memberi Taubat kepadamu Maka Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

4. Berdoa dan mengucapkan syukur alhamdulillah sebagai penutup hari seraya mengingat terus bunti QS Ibrahim 7: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Ramadhan segera berlalu, sebagai bagian dari perjalanan waktu dan hidup manusia. Terserah pada kita, apakah menjadikan bulan suci ini hanya satu dari 11 bulan yang lain, dengan keyakinan akan datang lagi tahun depan (dan umur kita sampai), atau menjadikannya gerbang untuk terus meningkatkan diri menjadi insan yang bertakwa. Semoga Allah senantiasa memberikan panduan kepada kita agar kita selalu memperoleh ridha-Nya. Amin.

 

 

MINAL ‘AIDIN WAL FA’IDZIN 1429 H.

Mohon Maaf Lahir dan Batin

 

Advertisements

Memahami Cobaan dan Ujian

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags , on September 19, 2008 by hzulkarnain

 

 

mensyukuri hidup

mensyukuri hidup

Dalam sebuah episode sinetron Para Pencari Tuhan jilid 2 besutan Dedy Mizwar, ada sebuah percakapan antara Asrul dan Mira istrinya yang menark untuk dicermati lebih lanjut.

Dikisahkan Asrul memperoleh pekerjaan dari Azam namun ia kebingungan harus mencari pakaian layak di mana. Ia berkeluh kesah pada istrinya yang ekstra penyabar dengan logat Medannya.

Kira-kira begini dialognya:

Asrul: ”Kemarin awak tak punya pekerjaan, sekarang Azam ngasih pekerjaan awak tak punya baju yang layak untuk kerja. Cobaan macam apa lagi ini, Dik?”

Mira: “ Terserah Abang mau menganggap ini cobaan atau ujian. Kalau Abang hanya menganggap ini cobaan, maka Abang hanya akan menahan diri. Tapi kalau Abang menganggap ini ujian, maka Abang akan mencoba menjadi lebih baik.”

Asrul terdiam, namun apa yang disampaikan istrinya telah menggerakkan sesuatu dalam hatinya. Dalam kesabarannya, istrinya hendak berpesan, kalau Asrul sekedar mengganggap kesulitan kecil ini cobaan, maka Asrul tidak perlu berbuat apa-apa. Ia bisa pergi kerja dengan pakaian apa adanya yang dipunyainya saat itu. Sebaliknya, kalau Asrul menganggapnya sebagai ujian, ia akan berusaha memperoleh pakaian yang layak untuk pergi kerja.

Sungguh tipis perbedaan antara cobaan dengann ujian. Sepertinya, kita sendirilah manusia ini yang harus memaknai, sebagai apakah kesulitan yang kita hadapi ini: cobaan atau ujian. Tidak ada yang memaksa kita untuk menaikkan status cobaan menjadi ujian.

 

Ada cobaan yang memang nyata-nyata sekedar cobaan. Seperti dalam Al-Baqarah 155: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Suatu kondisi deprivasi menimbulkan kecemasan dan was-was, takut tidak makan, takut mati, takut miskin, dsb. Dalam kondisi ini manusia diminta untuk menahan diri, agar tidak terjatuh dalam penyakit hati seperti was-was dan kebakhilan.

Sebagian cobaan tidak terlalu nyata karena berupa kesenangan, seperti harta dan anak-anak yang kita sayangi (Al Anfaal 28 dan At Thaghabuun 15). Kesenangan harus disikapi dengan benar agar manusia tidak terjatuh dalam ketakaburan. Kesenangan tersebut tidak akan abadi, sebagaimana difirmankan dalam Al Anbiyaa’ 111: Dan aku tiada mengetahui, boleh jadi hal itu  cobaan bagi kamu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu.

 

Ujung sebuah cobaan adalah nilai spiritual yang lebih baik, yakni kesabaran. Sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah Saw dalam sebuah hadist bahwa Allah mengangkat derajat orang yang sabar dalam 3 perkara: sabar dalam musibah, sabar saat beribadah, dan sabar dari tindakan maksiat. Dalam musibah ada derita, dalam menjalankan ibadah ada kejenuhan, dan dorongan untuk berbuat maksiat dikarenakan kesenangan ragawi yang dijanjikan. Allah menyediakan pahala bagi mereka yang bisa secara konsisten mempertahankan kesabaran.

Cobaan bisa dianggap sebagai ujian bilamana manusia menginginkan dirinya menjadi insan yang secara spiritual mendekati janji Allah. Semua yang ada di dunia ini adalah permainan, kecuali manusia membentuk keinginan yang lebih tinggi. QS Al Hadiid 20 menyebutkan: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat  ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Al Qoshosh 60 menggaris bawahi janji Allah tentang kebaikan di akhirat kelak: Dan apa saja  yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah keni’matan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?

Sebenarnya, tidak pernah akan jelas kapan seorang manusia selesai menjalankan ujian, karena meningkatkan performa spiritualitas bukanlah jalan yang berujung. Namun demikian, kita sebagai awam bisa menilai orang-orang yang mampu mengenali ujian yang dihadapinya dan berusaha menyelesaikan ujian tersebut: yakni keimanan dan ketakwaan yang bertambah-tambah dalam kemiskinan maupun kekayaan duniawinya. Bila orang miskin beramal saleh dengan kesabarannya, orang kaya beramal saleh dengan kedermawanannya.

Spiritualitas yang tinggi dalam mengharapkan ridha Allah dan mendekatkan diri kepada janji Allah tentang nikmat akhirat disebut dengan zuhud. Syekh Junaid berkata, “Yang disebut zuhud adalah hati selalu merasa ridha sekalipun usahanya gagal”. Orang yang zuhud tentu tidak akan bangga dengan keduniaan yang dimilikinya, juga tidak akan meratapi apa yang luput darinya.

Sekarang, semuanya memang kembali kepada manusia, bagaimana memperlakukan segenggam atau segudang harta yang dititipkan padanya di dunia. Cara ia menilai apa yang dimilikinya secara temporer itu akan membentuk konsep berpikir tentang cobaan dan ujian. Kalau ia menganggapnya sebagai cobaan, itu adalah hal yang bagus, karena membuatnya bersabar dan pahala di sisi Allah. Kalau ia menganggap semuanya adalah ujian, itu lebih baik, karena ia bisa menjadi orang yang zuhud dan ada janji kenikmatan di akhirat.

Yang paling mulia di sisi Allah kemudian adalah kita, manusia yang bermanfaat bagi diri kita, manusia lain, dan kehidupan secara makro. Baik dengan harta yang banyak maupun sedikit.

Belajar dari Nanny 911

Posted in Psikologi with tags , on September 16, 2008 by hzulkarnain
Nanny Deb yang bijak  

Salah satu acara impor di televisi (Metro TV) yang paling saya gemari adalah Nanny 911. Sekelompok Nanny (pengasuh anak) berpengalaman yang dikoordinasi oleh seorang Nanny asal Inggris mantan pengasuh keluarga kerajaan, memberikan bantuan kepada keluarga di Amerika yang membutuhkan. Dari 3 atau 4 orang Nanny yang tergabung dalam Nanny Central, dalam tiap episode dipilih seorang yang memiliki kemampuan dan karakter yang bisa menyelesaikan dalam rumah klien. Sesuai dengan profesi Nanny, kasus pada reality show ini difokuskan pada permasalahan di seputar anak-anak, umumnya agresivitas anak-anak yang berlebihan dan sulit dikendalikan.

Selama seminggu, Nanny yang terpilih bertugas di tempat tinggal klien. Biasanya, ia akan menggunakan hari pertama (dan kadangkala hingga hari kedua) untuk observasi. Ia akan mencatat semua kebiasaaan dan kejadian sehari-hari yang terjadi di rumah, baik ketika figur ayah sedang berada di rumah maupun tidak. Barulah pada hari kedua atau ketiga sang Nanny mengumpulkan semua anggota rumah sebagai kick-off meeting dimulainya treatment keluarga.

Sebuah pelajaran yang sangat berharga dari acara made in Amerika ini adalah penyelesaian masalah dengan komunikasi, sama sekali tanpa kekerasan fisik. Sekalipun si anak mulai memukul orang tua, tidak dibenarkan tindakan balasan berupa kekerasan fisik. Cara dan pola komunikasi yang benar akan membentuk hubungan yang lebih baik. Dalam budaya Amerika, kekerasan kepada anak bisa jadi masalah hukum dan Nanny memperkenalkan cara pengendalian anak dengan sistem dan komunikasi yang terarah.

Akar masalah yang hampir selalu menjadi landasan lepasnya pengendalian orang tua kepada anak-anak adalah lepasnya tali komunikasi. Bukan masalah orang tua tersebut pendiam atau talkative, melainkan cara penyampaian gagasan kepada anak dan menerima gagasan yang ada di kepala anak.

Agresivitas anak di rumah, kepada barang maupun manusia, pada dasarnya adalah ekses dari terjadinya hambatan komunikasi. Ketika anak tidak memahami kehendak orang tua, dan segala yang dikerjakannya keliru, kemudian memperoleh hukuman, anak mungkin diam ketika pertama kali memperoleh hukuman. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, ketika anak tidak bisa melihat lagi perbedaan sikap orang tua terhadap perilaku yang benar dan salah yang mereka kerja, mereka akan melakukan yang menurut mereka paling mudah dan enak dilakukan.

Di sisi orang tua, perilaku anak yang agresif pada awalnya dianggap sebagai kelucuan belaka, sebagai bentuk protes hukuman yang mereka terima. Seiring dengan berjalannya waktu, tiba-tiba saja agresivitas anak sudah berada di luar kendali mereka. Orang tua semakin tidak memahami anak-anak mereka, sebagaimana anak-anak yang skeptis pada orang tua.

Nanny yang diutus oleh Nanny Central punya tugas untuk menyambung tali komunikasi yang putus, mengembalikan jalur komunikasi tersebut pada tempat yang semestinya, dan meletakkan dasar pendidikan anak yang benar.

Beberapa hal yang saya catat dari proses ini adalah:

1. Anak-anak bisa berpikir, jadi jangan menganggap mereka bodoh. Ajak mereka berbicara secara terbuka, dan sampaikan pesan dengan sederhana.

  • Kesalahan yang sering terjadi: orang tua memperlakukan anak seperti manusia yang tidak bisa berpikir dan tanpa emosi. Anak dianggap hanya boleh menerima putusan orang tua tanpa boleh berkeberatan. Dengan sikap seperti ini, anak akan cenderung menjadi pelengkap dalam sebuah keluarga, bukan asset masa depan yang menjadi generasi lanjutan keluarga tersebut.

2. Terapkan reward – punishment pada tempatnya, agar anak tahu benar apa yang benar dan salah, apa yang menjadi harapan orang tua dan yang tidak mereka kehendaki.

  • Kadangkala orang tua tidak konsisten dalam reward – punishment, sehingga anak jadi rancu. Delayed reward dan punishment (khususnya punishment) juga membuat anak sulit menghubungkan hukuman yang diterima dengan perilaku yang salah. Orang tua harus punya ketegasan dalam memberikan reward bila anak melakukan tindakan baik (apapun bentuk reward tsb) dan hukuman ketika anak berlaku keliru (sesegera mungkin).

3. Immediate action. Tindakan yang segera adalah kunci dalam menangani masalah di rumah. Seorang Ibu harus memiliki otoritas dalam mengambil keputusan di rumah, khususnya saat sang ayah tidak ada. Ayah harus memberikan ruang bagi Ibu untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai pemegang kendali agar berbagai masalah kecil tidak perlu menunggu dirinya pulang. Bila ayah sedang berada di rumah, baik ayah maupun ibu  harus sepakat untuk saling menghormati keputusan yang lain. Kesenjangan dalam “komando” akan membuka celah lepasnya kendali orang tua terhadap anak.

  • Dalam sebuah episode ditampakkan Ayah yang tanpa sadar meremehkan sang Ibu, dan perlahan menurunkan wibawa sang Ibu di mata anak. Bila ada Ayah, anak-anak mudah menjadi anak manis, tetapi sangat liar ketika Ayah tidak ada. Sang Ibu menjadi segan mengambil sikap dan tindakan karena sang Ayah bisa menganulir apapun yang dilakukan sang Ibu saat ia pulang kerja sore harinya. Anak-anak melihat dan memanfaatkan celah ini untuk keuntungan mereka.

4. Be fair.  Fair (adil) dalam bersikap dan memperlakukan anak, baik salah seorang dari anak atau antara seorang anak dengan anak yang lain.

  • Ini yang seringkali sulit. Tanpa sadar orang tua melakukan keberpihakan pada salah seorang anak, atau tidak pernah meminta maaf bila salah sementara menuntut anak bila mereka keliru, tidak pernah mengucapkan kata ‘tolong’ sementara mererka menuntut hal serupa pada anak. Orang tua selalu dituntut memberikan contoh dengan perbuatan mereka.

5. Berkomunikasi secara verbal maupun emosional. Kadangkala, anak membutuhkan ucapan dan kata-kata, namun ada kalanya mereka lebih mementingkan keberadaan dan kedekatan sosok orang tua sekalipun tidak ada kata-kata.

  • Dalam sebuah episode, ada seorang anak yang emosinya tidak terkendali karena sang Ibu tanpa sadar bertindak pilih kasih dan lebih sering memenangkan sang adik. Emosinya menjadi lebih stabil dan lebih terkendali ketika sang Ibu memutuskan untuk menghabiskan waktu beberapa jam sepanjang sore berdua dengan dia sendiri di taman. Hanya terjadi pembicaraan biasa, tapi si anak benar-benar merasakan dirinya menjadi bagian dari sang Ibu. Dampaknya, emosinya terkendali dan ia jadi lebih toleran kepada sang adik.

Ada sebuah konsep penting yang perlu saya garis bawahi di sini, bahwa apa yang dialami dan rasakan oleh anak ketika mereka masih kecil akan menjadi kerangka acuan mereka ketika dewasa kelak. Bila di masa anak-anak mereka memperoleh pengalaman batin yang positif, kelak mereka akan berusaha menciptakan hal yang sama pada keluarga yang mereka bentuk sendiri. 

Tugas Nanny dari Nanny Central selesai ketika keluarga tersebut mampu menempatkan diri dalam peran masing-masing dan menjalankan peran tersebut secara bertanggung jawab. Orang tua harus saling terbuka dan membantu dalam membimbing anak-anak, memegang kendali atas apapun yang terjadi di rumah, dan tidak membiarkan anak tumbuh tanpa kendali tersebut. Anak-anak harus menemukan rumah sebagai “sarang” yang nyaman, belajar ketrampilan sosial dengan benar, agar kelak bisa menjadi manusia yang mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri.