Archive for March, 2010

Industri Sepakbola Eropa, PSSI, dan Nasionalisme

Posted in Sharing with tags on March 20, 2010 by hzulkarnain

Heboh dan sensasional! Itu yang dirasakan oleh pecinta sepakbola tiap tahun seiring dengan hadirnya liga para juara dari tiap negara di Eropa (UEFA Champions League). Babak 16 besar Liga Champion Eropa – yang dianggap sebagai liga para jawara terbaik dunia – telah selesai, dan akhir bulan ini babak 8 besar menjelang. Ada beberapa kejutan, namun muka lama masih berkibar.

Inggris – yang disebut mempunyai liga dalam negeri terhebat di dunia – menempatkan 2 kesebelasan: si setan merah Manchester United dan sang gudang meriam London Arsenal. Prestasi ini lebih buruk, karena selama 2 tahun terakhir Inggris bahkan bisa menempatkan 4 kesebelasan di perempat final.

Prancis secara mengejutkan menempatkan 2 wakil: Olympique Lyonnaise dan Girondins Bordeaux. Lyon secara dramatis membungkam Los Galacticos Real Madrid asal Spanyol. Tahun lalu tak staupun wakil mereka tampil di 8 besar.

Sisanya menyertakan hanya 1 wakil: Jerman menyertakan: Bayern Munich, Italia punya 1 wakil: Internazionale Milan, Spanyol diwakili: Barcelona, dan team kejutan asal Negeri Beruang Merah Russia: CSKA Moskow yang dulu dibentuk oleh militer Russia.

Dalam perempat final akhir bulan ini, undian UEFA sbb: Bayern Munich vs Manchester United, Barcelona vs Arsenal, CSKA Moscow vs Inter Milan, dan Bordeaux vs Lyon.

(Catatan: Bagi Spanyol dan Italia, prestasi tahun merosot. Liga Inggris, Spanyol, dan Italia merupakan liga utama dunia, oleh karenanya memperoleh jatah 4 kesebelasan untuk maju ke Liga Champion. Bahkan kabar terakhir, Italia hanya punya 1 wakil di semua kejuaraan Eropa.)

Liga-liga sepakbola Eropa selalu menjadi daya tarik bagi pesepak bola dari berbagai belahan dunia, karena menjanjikan kebesaran nama dan tentunya penghasilan yang bisa melimpah ruah. Seorang bintang bahkan dapat mencapai nilai transfer trilyunan rupiah. Ya, sepakbola telah menjadi sebuah industri hiburan – dan menempatkan para pemain bintang menjadi selebritis. Keberhasilan Eropa membuat sepakbola  menjadi ladang uang mengubah wajah cabang olah raga ini di seluruh dunia.

2009 world's best player ... who is 2010?

Untuk memenuhi unsur hiburan tadi, talenta terbaik dari berbagai belahan dunia pun “diperjual belikan” di bursa transfer internasional. Tentu saja, kelas pertama adalah Eropa, sehingga tidak mengherankan bila pemain sepakbola terbaik dunia selalu berasal dari salah satu kesebelasan di Eropa. Brasil adalah pengekspor pesepakbola terbesar di dunia, bahkan konon mencapai angka di atas 1000 orang – yang bermain di seluruh liga di dunia (termasuk liga Indonesia).

Tidak mengherankan, kesebelasan besar seperti Real Madrid, Barcelona, Manchester United, Chelsea, Arsenal, dan kesebelasan besar lainnya dipenuhi bintang dari berbagai negara. Atas nama profesionalisme dan industri hiburan, tidak ada aturan yang jelas tentang komposisi pemain lokal dan import yang boleh dimainkan dalam sebuah pertandingan.

Setelah kemenangan dramatis Inter Milan atas Chelsea dalam laga penentuan 16 besar, dan membawa Inter Milan menjadi satu-satunya kesebelasan Italia yang maju ke perempat final, komentar pelatih team nasional Italia Marcello Lippi justru dingin dan tidak bersahabat. Menurut Lippi, sekalipun Inter Milan adalah kesebelasan Italia namun tidak ada orang Italia yang bermain di sana saat mengalahkan Chelsea. Termasuk pelatihnya.

Di Italia, kesebelasan multinasional dan multi rasial seperti Inter Milan justru sulit digoyahkan dari puncak klasemen. Tampaknya kecintaan pada klub, dan makna profesionalisme bisnis sepakbola lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan semangat nasionalisme. Padahal, Italia sebelumnya dikenal dengan fanatisme dalam penggunaan talenta lokal.

Di Inggris, pemain asing juga berkibar bahkan cukup kencang. Bahkan kibaran mereka bisa melampaui kecemerlangan pemain lokal. Dari 4 kesebelasan langganan Big 4 (MU, Chelsea, Arsenal, dan Liverpool), nama pemain lokal yang diingat adalah: Wayne Roonie, Frank Lampard, Steven Gerrard, dan John Terry. Sisanya adalah pemain impor, sebut saja untuk penjaga gawang: Van Der Sar, Peter Chec, dan Pepe Reina. Pemain lainnya adalah: Drogba, Torres, Kuyt, Anelka, Fabregas, Arshavin, Ballack, Malouda, Kalou, dan sederet pemain tangguh lainnya. Sama dengan kondisi Italia, sekarang ini pelatih timnas Inggris masih sering ragu-ragu dalam menyusun start-up karena kebanyakan pemain asli Inggris cukup merata – kecuali beberapa bintang mereka saja.

Ini kebalikan dari Jerman, yang liga domestiknya tidak gegap gempita. Jerman sangat jarang mengimpor pemain bintang, dan lebih suka pada talenta fresh yang potensial untuk bersinar. Kalaupun ada kesebelasan yang dianggap selebritis adalah Bayern Munich, tapi tetap saja tidak suka bermain-main dengan dana di bursa transfer pemain Jerman selalu mengutamakan talenta lokal, sehingga tidak mengherankan bila team nasional Jerman selalu solid dan fanatik.

Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan yang akan berlangsung tidak lama lagi, akan menjadi batu ujian sebenarnya dari team-team top dunia. Apakah pemilik liga terbaik dunia Inggris dan pemilik klub fenomenal Spanyol bisa memainkan pesona mereka lebih jauh? Bagaimana pula dengan Italia yang terseok-seok di level team? Jerman yang solid dan sulit diprediksi pasti akan memberikan kejutan, tapi sampai di babak mana? Tentu saja, jangan lupa juara dunia 5 kali Brasil – yang melahirkan talenta sepakbola terbaik sepanjang masa – pasti akan mengguncang Afrika Selatan.

Bagaimana dengan Indonesia?

Saya mungkin termasuk orang yang pesimis dengan perkembangan sepakbola nasional kita sendiri. Khususnya bila kepengurusan PSSI masih berada di tangan segelintir orang yang lebih mementingkan kekuasaan daripada prestasi. Bayangkan, bangsa sebesar ini, dengan kesebelasan nasional dan team lokal yang pernah sanggup berbicara di pentas Asia (paling tidak), sekarang berada di titik nadir yang memilukan.

Pemain asing yang didatangkan memang meramaikan persepakbolaan nasional – sebagai industri hiburan – namun tak kunjung mengangkat potensi pemain lokal menjadi kompetensi. Buktinya, dalam segala event internasional belakangan ini, team Indonesia selalu terpuruk. Kegarangan mereka di liga tertinggi lokal yang disebut ISL (Indonesia Super League) tidak kelihatan sama sekali saat berhadapan dengan kesebelasan yang dulu dipandang sebelah mata seperti Vietnam.

Dengan mutu persepakbolaan seperti itu, ditambah pengurus PSSI yang “ngeyel” (baca: tak mau mundur walau morat-marit tanpa prestasi), sungguh menggelikan rasanya melihat niatan PSSI berambisi mengadakan piala dunia 10 tahunan lagi di Indonesia. Padahal, 10 tahun sebelum Piala Dunia diadakan di Jepang dan Korea (bahkan lebih), kedua kesebelasan itu sudah berkibar sebagai macan Asia. 10 tahun sebelum piala dunia tahun ini (bahkan lebih) Bafana-Bafana Afrika Selatan dikenal sebagai salah satu singa Afrika yang patut diperhitungkan.

Industri sepakbola Indonesia memang menggeliat, cukup hingar bingar, tapi sebatas itu saja. Tidak ada nasionalisme yang menggelora, tidak tampak profesionalisme yang menyala. Ricuh, tawuran, penerapan disiplin yang centang perenang … ya cuma ada sepenggal istilah yang cocok: carut-marut ….

fanatisme atau dorongan agresi semata?

Sungguh ironis, bangsa dengan 200 juta penduduk tidak bisa mencari 11 pemain terbaik untuk menghadapi Qatar, Australia, Singapura, Malaysia, Vietnam, bahkan Laos yang penduduknya hanya sekitar 10% atau paling banter 20%nya. Saat pasukan berkaus merah dengan logo Garuda Pancasila di dada masuk ke lapangan, rasanya … wah nasionalisme ini menyala-nyala. Tapi … begitu pertandingan mulai, dan semangat tanding para bintang domestik tadi tidak menyala-nyala … lemas juga kita yang nonton.

Pertanyaan besarnya adalah: APA YANG SALAH dengan PSSI dan persepakbolaan Indonesia? Liga domestik Indonesia dianggap sebagai salah satu yang terbaik di Asia Tenggara, tapi mana output bagi team nasional?

APA YANG HILANG dari pemain sepakbola kita? Kecerdasan, motivasi, nasionalisme, atau apa? Kenapa mereka sepertinya tidak malu selalu kalah? Hingga bisa ditebak – kalau tidak ada berita di televisi berarti kalah, tapi kalau menang pasti heboh.

Atlit-atlit kita di masa lalu tidak diguyur dengan nilai gaji yang menggiurkan, tetapi dinding mereka kaya dengan medali, piagam penghargaan, dan foto kejuaraan. Bagaimana dengan atlit Indonesia sekarang? — anda tahu sendiri jawabannya

Advertisements

Nikmat Mana yang Pantas Didustakan?

Posted in Kontemplasi, Sharing, Tausiyah with tags on March 2, 2010 by hzulkarnain

Yang Maha Pengasih

Yang telah mengajarkan Al-Qur’an

Dia menciptakan manusia

Mengajarnya pandai berbicara

Matahari dan bulan menurut perhitungan

Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya

Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca

Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu

Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu

(QS Ar-Rahman 1-9)

Terpana! Itulah yang terjadi pada kebanyakan orang saat membaca bahasa indah dan makna tersirat dalam surat Ar-Rahman ini. Kalimat-kalimat indah ini menunjukkan betapa manusia harus bersyukur karena besarnya kasih sayang Allah, karena Allah mengatur alam sedemikian rupa hingga kita beruntung.

menjaga keseimbanganAllah mengajarkan manusia membaca. Kata Al-Qur’an secara harafiah bermakna bacaan, dan bacaan baru punya arti bila kita bisa membacanya. Bukan sekedar bacaan, Al-Qur’an adalah ilmu yang menuntun, referensi sepanjang jaman bagi manusia yang berakal.

Allah mengajarkan manusia untuk berbicara. Bukan sekedar bersuara, tetapi berkomunikasi dengan suaranya itu. Tidak satu bahasa, melainkan jutaan bahasa lokal hingga ada yang menjadi bahasa pergaulan internasional. Perbedaan adalah rahmat, dan dengan rahmat itu lahirlah rasa syukur.

Matahari dan bulan diciptakan bukan sekedar menjadi hiasan langit, tetapi dijadikannya pergiliran siang dan malam telah menjelma menjadi perhitungan almanak. Kita sekarang mengenal dua jenis kalender, yakni kalender berbasis syamsiah (matahari) dan qomariyah (bulan).

Allah menjanjikan tumbuh-tumbuhan dan pepohonan yang diciptakan-Nya untuk selalu tunduk pada aturan-Nya. Berkembang, berbuah, beranak-pinak selaras dengan musim. Kita jadi mengenal musim buah mangga, musim rambutan, panen raya anggur, panen raya kakao, rotasi penanaman padi dan kedelai, dan sebagainya.

Langit yang ditinggikan dan neraca yang diletakkan Allah di bawahnya – menurut saya menunjukkan betapa luas semesta alam ini, namun tetap ada hukum keseimbangan yang harus dipelihara. Neraca menunjukkan timbangan yang harus setimbang, dan manusia dilarang berlebihan dengannya atau mengurangi takarannya – karena hanya akan membuat neraca tersebut tidak seimbang.

Terkait dengan semua penciptaan langit dan seisinya, Allah yang Maha Pengasih menghendaki keseimbangan. Manusia yang diajari untuk membaca dan berbicara, sebagai mahluk berderajat tertinggi mengemban amanat memelihara keseimbangan. Manusia punya tugas untuk menegakkan neraca itu.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Bahkan penjelajah lautan Jacques Cousteau konon memeluk Islam setelah membaca ayat 19 – 22 surat ini.

underground river - Luray Caverns, Virginia

undeground river, Luray Caverns, Virginia USA

Sebagai peneliti kelautan, Cousteau menjumpai banyak keanehan di dalam samudra yang hanya bisa ditemui dengan berbagai peralatan ekspedisinya yang canggih. Salah satu keajaibannya adalah bertemunya aliran air tawar dan air asin di laut tanpa bercampur satu sama lain.

Kita ingat, dalam kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir, kediaman sang nabi yang berpengetahuan luas itu adalah tempat bertemunya aliran air asin dan tawar. Ada yang menyebutnya muara sungai, tapi penafsir lain mengatakan memang ada tempat seperti itu – yaitu antara air asinnya dan air tawarnya tidak bercampur (sementara di muara air asin dan air tawar bertemu hingga membentuk air berasa payau). Namun ada penafsir lain yang menganggap ayat ini adalah kiasan. Saya tak hendak memperselisihkan hal itu di sini.

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,

antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing .

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

(QS Ar-Rahman 19-23)

Mutiara berasal dari kerang yang hidup di laut, sementara marjan berasal dari karang-karangan yang berwarna-warni di laut. Jadi indikasinya, yang disebut tempat pertemuan itu bukanlah muara sungai tetapi memang laut yang mengalirkan sumber air tawar.

Ayat-ayat ini menjawab keraguan Cousteau bahwa memang di dasar samudra ada sumber air tawar yang tidak bercampur dengan air asin. Batasnya jelas dan seperti tidak tertembus. Sudah pasti, Muhammad yang hidup sebelum abad 10 Masehi tidak akan punya peralatan canggih, sehingga pasti ayat-ayat itu bukan tulisan Muhammad.

Sebenarnya di beberapa tempat di Indonesia fenomena mirip ini pun ada, yaitu adanya sumber air tawar di pantai – dan baru terlihat ketika air laut surut. Secara aneh, kantong-kantong air tawar ini terisolasi dari air laut di sekelilingnya, dan air laut tersebut tidak bisa menembus batas keduanya.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Semua yang ada di bumi itu akan binasa.

Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan .

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Sungguh tidak berat bagi Allah memelihara semua mahluk, semata karena kasih sayang-Nya. Sekalipun semua air di lautan dijadikan tinta, niscaya tidak akan cukup untuk menuliskan nikmat Allah bagi semesta alam. Kalau ada manusia berani mendustakan lautan nikmat dari Allah, sungguh ia adalah orang yang tak berakal dan pantas beroleh laknat.