Archive for January, 2009

Menggenggam Syukur

Posted in Kontemplasi with tags on January 31, 2009 by hzulkarnain

– Catatan akhir Januari 2009 –

Dalam perjalanan kehidupan karier saya sebagai orang yang mengurusi personalia di perusahaan, banyak perilaku orang dan kejadian yang memberikan inspirasi. Hal yang paling saya syukuri adalah, contoh-contoh tersebut memberikan peluang bagi saya untuk memperbaiki diri tanpa saya harus masuk ke dalam suatu situasi yang tidak menguntungkan.

Bila kembali menengok kembali ke belakang, seluruh perjalanan hidup saya tidaklah mulus, namun kiranya sepadan dengan apa yang bisa saya rengkuh dan jalani. Sejauh yang bisa difasilitasi oleh lingkungan dan keluarga, saya berusaha mengoptimalkannya. Bila orang tua mampu membiayai kursus bahasa Inggris di lembaga yang bagus, saya akan menjalaninya secara optimal. Bila uang saku cukup, saya akan menghematnya untuk membeli buku yang saya inginkan. Pendek kata, saya berupaya menyerap fasilitas yang disediakan oleh orang tua (dan itu tidak berlimpah), agar saya lebih siap menghadapi tantangan setelah selesai kuliah.

Memang saya bukan Kiyosaki yang beruntung memiliki “rich dad” dan “poor dad” yang mem-balance bekal moral dan spritualnya, sehingga bisa seperti sekarang. Saya hanya punya seorang “poor dad”, sebagaimana kebanyakan kita, yang mengajarkan bahwa sekolah yang baik dan gelar yang prestisius akan mendatangkan keberhasilan. Lingkungan yang diciptakan oleh orang tua dan keluarga besar, pada umumnya adalah pola pikir konservatif, yang menghendaki anak-anaknya belajar dan belajar, lalu setelah selesai kuliah menjadi pegawai. Dan, memang itulah saya sekarang.

Saya tahu sejak dulu, bahwa ada yang salah dengan kehidupan yang nice tapi monoton semasa masih berada di bawah atap orang tua. Atap yang tidak mewah, tapi hangat, miskin gejolak, serta menjanjikan kenyamanan bila saya harus memutuskan untuk pulang ke rumah. Saya tidak punya alternatif pandangan yang insipiratif. Beberapa kali saya mencoba keluar dari pola, dengan berusaha mencari tambahan uang saku sendiri, namun tidak sepenuhnya berhasil. Saya pernah naik-turun bus kota menjadi sales buku, sampai sepatu bolong. Tapi kelelahan fisik dan mental, serta tekanan untuk menyelesaikan skripsi membuat saya memilih untuk surut dari usaha. Sesekali memang saya menerima terjemahan, menulis cerpen dan artikel ke media massa, namun tidak signifikan.

Saya tidak punya keberanian keluar dari frame, untuk mencari jejak dan peluang baru.

Kalau saya sekarang menjadi pegawai, dan alhamdulillah bekerja di sebuah PMA yang cukup bagus, itu adalah konsekuensi paling optimal yang patut saya peroleh. Semua hasil kerja keras dan networking yang saya jalin berbuah seperti sekarang. Mungkin saja garis hidup saya tidak seberuntung ini, tapi rasanya saya telah mencapai atap. Artinya, di umur yang telah mencapai paruh baya, tidak ada impian yang bersifat materiil yang perlu diobsesikan.

Yang sekarang saya miliki adalah yang terbaik dari Allah Swt. Mensyukuri nikmat Allah sebenarnya adalah berpijak pada realitas, dan pijakan pada semua realitas adalah kunci untuk mensyukuri apa yang sekarang sedang saya miliki. Kalaupun kondisi yang ada sekarang masih di bawah yang saya impikan, itu adalah sebuah keniscayaan, karena manusia ni-nash-kan untuk lupa bila sedang diberikan kenikmatan dan mengeluh bila diberi cobaan. Menjadi orang yang tidak kufur nikmat, itulah yang sekarang sedang saya coba.

Sudah menjadi rahasia dan kepastian bahwa Allah tidak akan memberikan apa yang diminta manusia persis sebagaimana apa yang diminta. Namun demikian, apapun yang diberikan oleh Allah selalu yang terbaik bagi semua kondisi seseorang. Kalau dia tidak bisa menerima manfaat optimal dari ketentuan Allah, mungkin memang Allah menempatkan dirinya sebagai pintu rizki bagi orang lain. Bukankah orang yang paling mulia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain?

Dulu, saya ingin bekerja di sebuah PMA. Dulu, saya punya hasrat bekerja di dekat laut seperti tempat kerja saya di Papua sana, tapi cukup di Jawa ini. Dulu, saya bercita-cita membesarkan anak saya dengan cara yang saya inginkan. Sekarang yang saya dapatkan adalah pekerjaan di PLTU Paiton, sebuah pembangkit listrik swasta (PMA) di tepi pantai, sehingga saya setiap hari bisa melihat laut – persis seperti di Papua. Lalu, dengan tinggal di perumahan, saya bisa menyaksikan anak saya tumbuh terkendali dan optimal, sebagaimana yang saya inginkan.

Allah telah memberikan apa yang saya cita-citakan dan inginkan, dengan generous. Itu yang perlu saya syukuri dulu. Apapun yang nanti saya lakukan, haruslah tetap berpegang pada rasa syukur. Kalau dengan tidak tinggal di dekat kota besar saya jadi tidak bisa mengambil S-2, tidak bisa mengikuti lifestyle modern, dan tidak bisa mengikuti perkembangan gadget yang saya gemari, itu adalah cost yang harus saya terima.

Life is never perfect, yet it is the best possibility from God – Allah Swt.

 

Imlek dan Ironi Kaum Muslim

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags on January 27, 2009 by hzulkarnain

 

 

chinese-new-yearEuforia Imlek masih terasa hari ini, bahkan mungkin sampai akhir minggu ini. Beberapa televisi swasta sudah membuat tayangan khusus yang beraroma kaum Cina hingga seminggu. Sepanjang hari Minggu dan Senin, bila tidak ada acara kemanapun dan lebih sering menghabiskan waktu di depan televisi, nuansa itu terasa. Kalau berjalan-jalan di mall, apalagi yang pengunjungnya mayoritas etnis Tionghoa, hiasan lampion merah, pernak-pernik merah menyala, hingga tulisan “gong xi fa choi’ bertebaran di mana-mana. Belum lagi retail-retail yang membagikan angpao dalam amplop merah (biasanya berisi kupon hadiah langsung atau voucher belanja). Pendek kata, meriah.

Bila lebih dalam menilik isi acara televisi, introduksi budaya Tiongkok dan kaum Tionghoa lebih kental lagi. Mulai selebriti yang kebetulan beretnis Tionghoa berjalan-jalan, Bondan Winarno yang makan sutra dalam rangka Imlek, barongsai dari berbagai kota, hingga berita tentang kaum miskin yang meminta-minta di vihara-vihara (karena di sana biasanya dilakukan sedekahan kepada kaum papa). Yang lebih seru adalah munculnya para suhu peramal, ahli feng-shui, hingga Mama Lauren yang mencoba meramalkan tahun ini, yang menurut kalender Cina ber-shio Kerbau Api. Pokoknya, sarat pesan dan makna.

Apakah hanya kaum Tionghoa yang meramaikan? Tentu tidak. Sekalipun sebenarnya Imlek – yang tahun ini berangka 2560 – berakar dari budaya tradisional Tiongkok kuno yang kemudian berurat pada ajaran Kong Hu Cu dan Buddhisme, selanjutnya lebih dikenal secara budaya sebagai tahun baru Cina. Artinya, apapun agamanya, kalau orang itu merasa beretnis Tionghoa dia boleh meayakannya. Oleh karena itu, tidak jarang ditemui keluarga etnis tersebut makan bersama dalam keluarga besar, sekalipun mungkin di dalamnya bercampur anggota keluarga dengan 3 atau 4 agama berbeda.

Imlek sebagai sebuah festival, perayaan besar dan meriah, muncul lagi sejak tahun 2001 atau 2002, di jaman pemerintahan Gus Dur yang dilanjutkan oleh Megawati. Festival yang diberangus semasa orde baru ini menjadi euforia baru bagi kaum Tionghoa, karena mereka seperti diberikan kebebasan untuk mengekspresikan jati dirinya yang telah terborgol selama tiga dasa warsa lebih. Bahkan mendadak lebih banyak orang Tionghoa yang berani menampilkan nama marganya. Bila dulu mungkin orang hanya mengenal Kwik Kian Gie, Ong Hok Ham, Karim Oey, dan segelintir orang lain saja yang berani mengaku orang Cina, sekarang keraguan itu lebih cair. Intinya, Imlek bukan sekedar euforia tetapi jati diri.

Hampir sebulan yang lalu, tiap orang di dunia pasti merasakan euforia yang hampir sama saat merayakan tahun baru masehi. Meriah, bahkan hingga menyusup ke pelosok-pelosok negeri. Pergantian tahun selalu dianggap sebagai a new dawn – fajar baru yang merekah dengan segudang harapan. Orang-orang membuat resolusi tahun baru, dengan impian yang tinggi, entah benar-benar mereka rencanakan atau sekedar ikut trend. Di wilayah-wilayah yang berpenghuni mayoritas Nasrani, malam tahun baru biasanya disertai dengan berkontemplasi bersama, dengan hanya diterangi lilin, mengingat apa yang telah dilakukan selama setahun terakhir – bahkan tak jarang hingga menangis terguguk-guguk. Semua yang buruk akan dibuang, dan resolusi tahun baru dibuat untuk esok yang lebih cerah. Di jalanan, kendaraan menghabiskan bensin kesana-kemari, meniup terompet tanda suka cita, laki-laki – perempuan berbaur menyambut moment setahun sekali itu.

Apakah yang merayakan tahun baru hanya kaum Nasrani? Tentu tidak. Sebenarnya, tidak banyak yang tahu bahwa tahun baru adalah hari besar keagamaan kaum Nasrani, sehingga kemeriahan itu ditopang oleh orang dari agama apapun. Perayaan tahun baru adalah kelanjutan perayaan Natal. Oleh karena itulah, pada malam tahun baru, kaum Nasrani sebenarnya harus melakukan ibadah di gereja-gereja daripada sekedar berkeliaran di jalanan. Orang Nasrani, yang punya hari besar tersebut, belum tentu paham dengan hakikat tahun baru. Mereka hanya melihat Natal saja.

Bulan Maret, orang Hindu akan menyambut tahun baru Saka mereka dalam upacara yang memang tidak boleh meriah – bernama Nyepi. Begitu takzim orang Hindu menghormati kultur perayaan tahun barunya, dan sarat dengan makna, agar mereka memiliki kendali atas keduniawian mereka. Nyepi adalah identitas bagi kaum Hindu.

Apa yang bisa dikatakan kaum Muslim terhadap tahun baru Hijriyah? Bahkan kalau tidak diliburkan oleh pemerintah, sayapun mungkin lupa bahwa hari tersebut adalah pergantian tahun kaum Islam. Televisi yang menyiarkan acara menyambut 1 Muharram seperti kehabisan ide, tidak kreatif, dan jauh dari inspirasi. Alih-alih mencari model acara yang menarik, acara di Istiqlal yang dihadiri oleh Presiden dijadikan puncak fokus perhatian. Sehingga, 1 Muharram berlalu begitu saja, tanpa kontemplasi dan resolusi yang seru.

Apakah acara menyambut tahun baru Hijriyah tidak meriah? Di sebagian besar wilayah Indonesia memang ya. Tidak meriah.

Kemeriahan justru bisa dijumpai di Solo dan Yogya. Jangan harap bisa mudah menemukan hotel atau penginapan di kedua kota tersebut di saat pergantian tahun Hijriyah. Yang unik, acara ini dihadiri oleh bukan hanya orang Islam, bahkan yang lebih getol adalah para penganut kepercayaan (Kejawen). Ya, orang Jawa menyebut Muharram dengan nama Sura (mungkin dari kata Asyura), dikenal bukan sebagai bulan yang dirahmati oleh Allah, melainkan sebuah bulan “baik” untuk mencuci semua pusaka, namun “sangar” untuk aktivitas pernikahan.

Sebagian orang Islam yang terimbas kejawen, penganut kejawen, dan mungkin kaum Hindu dan Buddha yang berada di kedua wilayah tersebut melakukan beberapa ritual tertentu yang diyakini akan menolak bala dan mendatangkan berkah dari …. Tidak jelas dari mana. Yang bisa mendapatkan air cucian pusaka keraton (dibawa pulang) merasa memperoleh berkah. Di Solo, orang yang memperoleh tahi kerbau Kiai Slamet yakin akan sukses di tahun mendatang karena berkah Kiai Slamet. Animisme dan kekafiran demikian sarat dalam upacara “Grebeg Suro” semacam itu. Kekuatan Allah seperti layak diimbangi oleh berbagai takhayul yang tidak berdasar.

Saya hanya berpikir dan mengharap, kapan orang Islam bisa takzim menyambut tahun baru Hijriyah – seperti orang Hindu pada pergantian tahun Saka? Meriah dan insipiratif seperti orang Cina menyambut Imlek? Dan menjadikan Muharram sebagai jati diri orang Islam, bukan sebagaimana orang Jawa dengan Suro-nya.

Seharusnya kita bisa. Bisa menjadikan Muharram sebagai jati diri. Bisa memberikan makna yang sarat dalam bulan Muharram, bukan sekedar sebagai doktrin tapi juga inspirasi yang membumi. Peringatan Muharram bukan lagi sekedar dzikir di masjid-masjid, tetapi juga kegiatan sosial di tengah-tengah masyarakat. Semoga. 

7 Wasiat Rasulullah SAW

Posted in Tausiyah with tags on January 18, 2009 by hzulkarnain

 

climbersDari riwayat Ahmad, suatu saat Rasulullah Saw memberikan nasihat atau wasiat kepada Abu Dzar ra. (namun pada hakikatnya juga berlaku untuk semua muslimin) pesan-pesan sbb:

Dari Abu Dzar ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah SAW) berwasiat kepadaku dengan tujuh hal:

(1)   supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka

(2)   beliau memerintahkan aku untuk melihat otang-orang di bawahku dan tidak melihat mereka yang di atasku

(3)   beliau memerintahkanku untuk menyambung silaturahim dengan karib, sekalipun mereka kasar kepadaku

(4)   diperintahkan kepadaku untuk memperbanyak ucapan “la haula walaa quwwata illa billah”

(5)   diperintahkan kepadaku untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit

(6)   nasihat beliau kepadaku untuk tidak takut pada pada celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah

(7)   larangan beliau kepadaku agar aku tidak meminta-minta sesuatu kepada sesama manusia

 

Mencintai Orang Miskin

Kerendahan hati adalah sebuah anjuran dalam Islam, bahkan sudah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat utama yang kemudian menjadi Khulafaur Rasyidin. Abu Bakar, Umar, dan Ustman meninggalkan harta dan derajat sosial agar serupa dengan orang kebanyakan.

Sebuah sabda Rasulullah: Barang siapa yang menhilangkan satu kesusahan dunia dar seorang Muslim akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat. Dan barang siapa yang memudahkan kesulitan orang yang dililit hutang, Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat (HR Muslim).

Melihat Orang yang Lebih Rendah

Nikmat Allah akan terasa bila kita selalu melihat orang lain yang tidak seberuntung kita. Sudah pasti, orang yang tidak seberuntung kita masih jauh lebih banyak daripada orang yang lebih beruntung. Dengan melihat orang yang lebih tidak beruntung, akan muncul rasa cukup dengan apa yang telah diberikan oleh Allah, mampu menjauhkan diri dari keserakahan, dan tidak iri apalagi dengki pada orang lain.

Akan tetapi, sebaliknya, dalam soal agama orang harus melihat orang lain yang lebih tinggi dan lebih beruntung. Bukankah Allah berfirman, bahwa derajat orang yang berilmu lebih tinggi daripada yang tidak memilikinya?

Menyambung Silaturahim

Istilah silaturahim mengacu pada perbuatan baik kepada karib kerabat karena nasab (keturunan) maupun pernikahan. Perbuatan baik tersebut meliputi tindakan sehari-hari yang santun, baik, lemah lembut dan menyayangi, memperhatikan serta membantu mereka.

Allah Swt memberikan manfaat pada silaturahim yang selalu terbina dengan baik, antara lain rizki yang lapang dan umur yang panjang. Sebaliknya orang yang mengabaikan bahkan meninggalkannya akan menyempitkan rizki dan hartanya, dan tidak ada barokah pada umurnya, bahkan Allah tidak akan memasukkan orang ini di dalam surga-Nya.

Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahim.

Memperbanyak “La haula walaa quwwata illa billah”

Ucapan ini adalah ungkapan ketidak mampuan, pertanda pengakuan akan kekuatan Allah, dan hanya dengan kekuatan dari-Nya saja manusia bisa melakukan apapun. Dengan ucapan ini, manusia hendaknya bertawakal dan memohon hanya kepada dzat yang Maha Agung.

Kebenaran Sekalipun Pahit

Berlaku jujur bukan hal yang mudah, namun Rasulullah menekankan bahwa mengatakan kebenaran adalah salah satu bentuk jihad. Dalam sebuah riwayat Ahmad, Rasulullah pernah bersabda:

“Barang siapa ingin menasihati penguasa, janganlah ia tampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya, lalu menyendiri dengannya. Kalau penguasa itu mau mendengarkan, maka itu yang terbaik. Kalau penguasa itu enggan, sesungguhnya orang yang menyampaikan  tsb telah menjalankan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya.”

Ada orang yang tidak suka mendengarka kebenaran sama sekali, ada yang tidak suka dicela atau diberitahu tentang kebenaran di muka orang banyak, dan ada orang yang selalu terbuka. Kebanyakan orang tidak suka menderita malu, bila dikritik atau dikoreksi di depan orang banyak. Rasulullah telah menunjukkan resep yang baik, yaitu berbicara empat mata dan personal/

Tidak Takut Celaan dalam Berdakwah

Bagi para da’i dan penyeru agama, takut atau mundur hanya karena menerima celaan adalah godaan yang harus dijauhi. Dalam QS Al-Ahzaab 39 terdapat ayat yang berbunyi:

“(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak merasa takut dengan siapapun selain Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.”

Tidak Meminta-Minta Sesuatu kepada Orang Lain

Salah satu kehormatan bagi manusia, dan khususnya kaum muslimin, adalah memperoleh penghidupan dari hasil jerih payahnya sendiri. Mereka harus memenuhi hajat hidup dari pekerjaan mereka, dan tidak dengan meminta-minta kepada orang lain.

Apapun alasannya, meminta atau meminta-minta kepada orang lain, apalagi tidak untuk masalah hidup dan mati, seharusnya adalah hal yang tidak dilakukan orang Islam. Dalam sebuah hadist riwayat Bukhari Rasulullah SAW bersabda: Sungguh, seseorang dari kalian mengambil tali, lalu membawa seikat kayu bakar di punggungnya, kemudian ia menjualnya, sehingga dengannya Allah menjaga kehormatannya. Itu lebih baik baginya daripada memintaa-minta kepada manusia. Mereka bisa memberi atau tidak memberi.

(disarikan dari “Suara Hidayatullah”)

Penipuan via Telepon

Posted in Kisah, Sharing on January 9, 2009 by hzulkarnain

 

phone_hookoffKemarin, seorang kolega saya hampir saja terkena penipuan menggunakan jaringan telepon dengan modus yang sebenarnya sudah pernah kita dengar sebelumnya. Kejadian tersebut saya sharingkan di sini untuk menjadi pengingat dan pelajaran.

Sekitar jam 10.00 pagi tanggal 8 Januari 2009 kemarin, teman saya yang bermeja di dekat saya mengeluhkan panggilan terus menerus yang mencoba mengontaknya. Panggilan tersebut dikatakan dari seseorang yang bernama Iptu Gunawan Santoso dari bagian narkoba Polres Pasuruan. Pengontak tersebut mengatakan bahwa nomor telepon teman saya tersebut sudah dipergunakan oleh sindikat Narkoba (tapi jangan khawatir anda tidak terlibat – katanya) dan sekarang ini sedang dalam pelacakan. Untuk keperluan itu, Iptu Gunawan Santoso (yang juga memberikan sebuah nomor fix-line) meminta teman saya mematikan HP-nya selama 2 jam.

Teman saya tidak menghiraukan permintaan tersebut, bahkan ia mencoba mencari tahu nama Gunawan Santoso di Polres Pasuruan, yang hasilnya adalah nihil. Bahkan penerima telepon yang ada di Polres tersebut mengatakan bahwa nomor yang diberikan itu adalah nomor di wilayah Paiton – Probolinggo. (Note: sekalipun bekerja di PLTU Paiton, teman saya itu sebenarnya berasal dari Pasuruan, dan ber-KTP Pasuruan).

Karena teman saya tidak mematikan HP-nya, Iptu gadungan tersebut mencoba mengontak lagi, tapi teman saya tidak menghiraukannya. Ia hanya me-reject tiap panggilan yang masuk. Akan tetapi, ternyata panggilan-panggilan demi panggilan terus bergelombang masuk. Teman saya mencatat, ada 2 nomor yang tidak dikenalnya berusaha mengontaknya terus menerus. Nomor dari Iptu gadungan tadi berusaha sebanyak 35 nomor, sementara nomor kedua 17 kali.

Ketika hal bombardir panggilan itu dikeluhkan kepada saya, apalagi saat ia menyebutkan “HP dimatikan selama 2 jam”, saya langsung teringat modus penipuan serupa yang mengena pada diri tetangga saya. Saya langsung menyarankan teman saya mengontak istrinya di Pasuruan, karena pengalaman penipuan tersebut. Dalam pikiran saya, gelombang panggilan tersebut bisa jadi adalah upaya memblokir HP korban yang tidak dimatikan – sehingga efeknya hampir sama dengan mematikan HP, yaitu tidak bisa dihubungi.

Nomor HP istrinya mailbox, pertanda dimatikan. Telepon rumahnya di Pasuruan tidak merespon. Tidak ada nada panggil. Demikian juga dengan semua HP yang ada di rumah. Ia terus mencoba mengontak nomor rumah. Tapi terus gagal. Teman saya mulai panik.

Akhirnya ia memutuskan mencoba nomor mertuanya (yang juga di sekitar Pasuruan). Mertuanya rupanya kaget menerima telepon teman saya itu, dengan pertanyaan: Lho, nak, katanya kecelakaan? Terihat eskalasi emosinya, yang sebelumnya hampir tidak pernah terlihat. Mertuanya tersebut menerima telepon dari seseorang yang mengabarkan bahwa menantunya itu mengalami kecelakaan di Paiton.

Jadi benar yang saya khawatirkan. Ini modus yang sama dengan yang terjadi pada tetangga saya. HP korban dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak bisa dihubungi, dan pada saat terbatas itu istri atau keluarga korban dikabari bahwa korban mengalami kecelakaan – parah – dan butuh dana cepat untuk beli obat.

Setelah mengontak mertua, ia mencoba mengontak Ibunya yang ada di sekitar Probolinggo. Ternyata sang Ibu tidak tahu kabar tersebut. Saat masih mengontak Ibuya, teman saya minta tolong saya mencoba mengontak rumahnya. Agak sulit, pada awalnya tidak diangkat, tapi akhirnya istri teman saya itu mengangkat. Setelah selesai bicara dengan istrinya, teman saya kemudian bercerita:

Sekitar 1 jam sebelumnya, istrinya dikontak oleh seseorang berpangkat Inspektur (lupa namanya) dari Polres Probolinggo yang menyebutkan bahwa suaminya kecelakaan di perempatan Paiton (bersama 3 orang lainnya), karena ditabrak truk tangki Pertamina. Sekarang, teman saya itu sedang menjalani persiapan operasi, dan sang Inspektur gadungan mengatakan bahwa di sampingnya ada dokter yang akan menangani operasi. Untuk kelancaran pembelian obat, dokter itu minta dikirimkan dana 25 juta dalam tempo 20 menit.

Untuk menunjang kelancaran operasi, istri teman saya itu diminta untuk mematikan semua piranti elektronik, termasuk HP, karena gelombang elektromagnetik bisa mengacaukan peralatan operasi.

Istri teman saya itu mulai percaya (karena tidak ada orang di rumah sehingga tidak ada teman untuk saling bertimbang rasa). Ia pun melengkapi formulir transfer bank yang memang dimiliki di rumah. Tapi … siapa yang akan ke bank?

Tidak lama kemudian ada 2 orang teman guru yang datang ke rumah, mengantarkan daftar nilai yang perlu diotorisasi oleh istri teman saya itu. Istri teman saya itu pun minta bantuan untuk melakukan transfer bank (dengan formulir yang sudah lengkap), dalam kepanikan yang tinggi.

Namun demikian, teman guru tersebut mencoba tidak gegabah. Melalui telepon rumah, ia hubungi telepon kantor di Paiton, panggilan diterima oleh seorang laki-laki (padahal resepsionis di kantor adalah perempuan) yang menyebutkan bahwa teman saya itu sedang keluar bersama 3 orang (dinas luar). Nomor telepon teman saya sudah pasti tidak bisa dikontak (karena sedang digelontor panggilan). Polres Probolinggo (selain bagian SIM) tidak bisa dihubungi. Bahkan ketika mencoba ke nomor telepon Ibu teman saya, yang menerima adalah laki-laki tidak dikenal.

Meskipun berangkat ke bank, teman guru tadi sangat ragu-ragu. Ia punya pengalaman, kerabat yang mengalami kejadian serupa dan berujung pada penipuan. Di bank, sekuriti bank juga menyarankan untuk menunggu sedikit lama, karena salah seorang karyawan bank juga menjadi korban penipuan bermodus telepon kecelakaan. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak jadi melakukan transfer bank, dan kembali ke rumah teman saya. Tidak lama kemudian, telepon saya (yang akhirnya berhasil masuk – setelah sekian lama seolah-olah tidak ada yang mengangkat) berbunyi.

Duduk persoalan jadi jelas, dan episode upaya penipuan telah gagal.

Teman saya tersebut kemudian mencoba mengontak nomor telepon yang diberikan kepadanya. Mesin penjawab Telkom mengatakan: nomor ini tidak bisa dihubungi atas permintaan pemilik.

Sedikit siang, ternyata ada kondisi di kantor yang terkait dengan kisah teman saya tadi. Sekitar jam 9 pagi, ada telepon dari seseorang yang mengaku dari Telkom Probolinggo bernama Ir. Antonius Nugraha, menanyakan berapa line yang ada di kantor. Karena resepsionis tidak tahu, ia re-direct ke bagian IT. Ternyata, orang Telkom gadungan itu meminta telepon kantor dimatikan selama 1 jam, sebab nomor telepon kantor telah dipergunakan beberapa perusahaan di Probolinggo sebagai pengalihan tagihan yang mencapai 700 juta.

Caranya bagaimana? Katanya, cabut saja kabelnya.Tentu saja hal ini mustahil dilakukan karena bagaimana mungkin kantor harus idle dari komunikasi? Gertakan balik teman saya membuat “orang Telkom” tadi menutup sambungan. Kepala bagian IT langsung menduga akan ada karyawan yang akan menjadi korban penipuan.

Ada beberapa hal yang saya catat dari kejadian ini, sekaligus menyimpulkan bahwa sekalipun modus ini tidak baru tetapi jauh lebih canggih.

1.      Bila orang tidak mau mematikan telepon, alternatifnya dibombardir dengan panggilan yang tidak terputus. Sepertinya sindikat tersebut bisa memprogram panggilan secara auto, agar tiap kali putus (karena tidak diangkat atau di-reject) langsung mencoba kontak lagi.

2.      Semua hal yang terhubung dengan telepon rumah korban di-jammed, dan otomatis ter-divert ke nomor lain.

3.      Pelaku tidak bertindak sendiri, melainkan bermain secara team yang terdiri dari sekurangnya 4 orang yang berbeda. Dari pengalaman sebelumnya, salah seorang akan mahir berbicara seperti polisi dan seorang lagi mampu memberikan penjelesan layaknya dokter. Salah seorang lagi sudah pasti punya keahlian dalam bidang telekomunikasi – fix-line phone maupun seluler.

4.      Orang yang dikabarkan kecelakaan dan penyedia dana sudah pasti terpisah secara geografis, dan entah bagaimana sindikat tahu cukup banyak tentang kondisi orang yang dikabarkan kecelakaan. Semua jalur yang memungkin untuk menghubungi orang yang dikabarkan kecelakaan tertutup melalui koordinasi dan mekanisme yang rapih.

5.      Waktu 30 menit hingga 1 jam sejak kabar kecelakaan diluncurkan adalah waktu krusial Sepertinya mereka akan me-release fix-line yang “dikerjain” setelah 1 jam-an.

 

Telepon fix-line atau telepon rumah merupakan sarana inti pergerakan penipuan ini, sehingga yang utama “dikerjain” adalah telepon rumah korban. Rupanya ini sudah jadi concern Telkom juga. Kebocoran semacam ini mungkin terjadi karena selama ini yang mengerjakan jaringan (instalasi, maintenance) adalah pihak ketiga (outsourcing). Di sinilah Telkom tidak bisa memantau orang per orang individu yang bekerja pada perusahaan outsourcing tersebut.

Knowledge adalah power, dan menyalahgunakan power yang dimiliki ternyata bukan semata dominasi orang di jajaran elite. Karena power memang bisa sangat memabukkan.