Archive for January, 2010

Januari yang Semarak

Posted in Sharing with tags on January 28, 2010 by hzulkarnain

CATATAN AKHIR JANUARI 2010

Alam demokrasi Indonesia menunjukkan geliatnya, dengan kesemarakan ragam warna ulah elit politik, legislatif, pelakon unjuk rasa, dan tentu saja siaran televisi. Semua tersaji dengan begitu vulgar hingga akhirnya kita sendiri jadi bingung menentukan mana yang benar dan tidak.

Mungkin memang tidak ada jawaban tentang benar dan salah tersebut, karena memang seperti itulah demokrasi.

Akhir Januari ini, tepatnya tanggal 28 Januari ini, massa akan digerakkan untuk mendemo Presiden, yang dianggap tidak berhasil dalam 100 hari kinerja kabinetnya. Pagi-pagi siaran televisi swasta nasional sudah ramai memberitakan persiapan demo yang sudah dipersiapkan sejak tanggal 27 malam. Di UI ada acara renungan, di Makassar ada acara mencegat mobil plat merah, terpasang spandung “rebut kedaulatan rakyat”, dsb. Seolah-olah para pendemo termasuk mahasiswa hendak membuat sesuatu yang besar dan signifikan.

Kalau kita melihat acara televisi yang menyuguhkan acara demo kepada pemerintah, menyuarakan ketidak puasan kepada Presiden, gugatan agar DPR lebih galak kepada pemerintah, apa yang terpikir di benak Anda?

Sebagian mungkin meng-amini pendapat sementara kelompok masyarakat tersebut, dan sependapat bahwa kinerja pemerintah memang kurang baik. Tapi saya punya pendapat berbeda! Saya katakan, ini adalah wajah demokrasi ala Indonesia, dan ini adalah bukti bahwa Presiden memegang komitmen kepada demokrasi. Saya mendapati kondisi seperti ini di jaman Gus Dur, tetapi sayangnya Gus Dur saat itu tidak punya legitimasi langsung dari rakyat seperti SBY (maksudnya tidak dipilih langsung) – sehingga harus takluk kepada DPR/MPR.

Dengan kekuatan politik dan kekuasaan terhadap militer seperti yang dimiliki SBY sekarang ini (karena beliau adalah purnawirawan militer), apalagi SBY dulu adalah perwira intelijen militer, tidak terlalu susah bagi SBY untuk meredam semua kekuatan massa itu tanpa terdeteksi langsung. Tapi, Presiden kita tidak melakukannya. Beliau hanya menjaga agar semua aktivitas itu tidak melanggar koridor perundang-undangan, dan mewanti-wanti semua anasir masyarakat agar mematuhi perundang-undangan yang disepakati bersama.

Beberapa saat setelah pelantikan kabinet, kasus Cicak vs Buaya langsung menyergap perhatian massa. Presiden akhirya harus turun tangan melalui team 8 karena kekisruhan ini melibatkan lembaga-lembaga penegakan hukum di bawah kendali pemerintah seperti: Polri, Kejaksaan, dan KPK. Puncak kasus ini adalah kembalinya kedua pimpinan KPK ke posisi semula dan lengsernya Susno Duaji dari kursi Kabareskrim Polri.

Baru reda kisruh ini, kasus Bank Century yang sudah sejak awal 2009 menjadi gonjang-ganjing namun tidak pernah tuntas, akhirnya benar-benar terangkat ke permukaan melalui Pansus Hak Angket DPR. Hak yang satu ini adalah kewenangan DPR untuk menyelidiki indikasi penyimpangan kebijakan dan langkah eksekutif.

Secara maraton – dan bahkan disiarkan langsung oleh televisi swasta nasional – team Pansus bersidang dan menghadirkan banyak saksi termasuk 2 orang yang dianggap aktor penting: Wapres Budiono dan Menkeu Sri Mulyani. Presiden sempat menolak keinginan DPR untuk menon-aktifkan mereka, karena tidak ada jalur perundang-undangan – dan akhirnya DPR juga bisa memahaminya. Suara sumbang tentang hal ini banyak mengemuka di masyarakat – karena memang seringkali kita ini latah dalam menanggapi sesuatu. Pada akhirnya, kedua aktor tersebut bisa bersaksi dengan baik – tanpa kendala sebagaimana yang ditakutkan.

Setelah saksi-saksi ahli dan eks-nasabah Bank Century dihadirkan dalam rapat Pansus, sekarang bola ada di tangan Pansus. Mereka sekarang harus membuat rumusan kesimpulan sementara berdasarkan sidang maraton selama ini. Uang rakyat sudah dipakai, jumlahnya tidak kecil, kini giliran mereka yang harus memberikan laporan terbaik kepada kita.

Dua kasus ini seperti highlighter (stabillo) yang memberi tanda bahwa kinerja SBY dalam 100 hari pertama ini tidak beres. Yang lain mengatakan bahwa segala situasi keuangan belum kondusif, hanya memikirkan ekonomi makro, dan perilaku ekonomi negara tidak menyentuh sektor riil. Entah apalagi yang jadi parameter pihak-pihak lain yang hendak mengatakan pemerintahan SBY gagal.

Mengingatkan pemerintah bahwa kinerja mereka selalu dipantau masyarakat itu perlu. Demo dan sentilan melalui DPR dan televisi kepada pemerintah akan mengingatkan eksekutif agar selalu serius menangani nasib rakyat. Sekali lagi rakyat berhak bicara, tapi pemerintah juga punya hak untuk menentukan jalan terbaik untuk kemaslahatan bangsa ini. Sebagai rakyat kita sudah memberikan amanat kita kepada bapak SBY menjadi pemimpin kita, jadi sudah sepantasnya kita mempercayainya – tanpa prasangka berlebihan.

Saya pribadi geli dengan wacana kegagalan 100 hari – bahkan lucunya yang bicara adalah segala macam doktor dan pengamat politik. Mana ada di dunia ini kinerja kabinet dinilai hanya berdasarkan 100 hari kerja saja? Di Amrik Obama juga punya program 100 hari – tapi ya tidak lantas di-judge tidak berhasil hanya karena dalam 100 hari pertama belum menunjukkan geliat yang signifikan.

Saya adalah praktisi HRD yang harus memantau masa probation karyawan dalam 3 bulan pertama. Tidak mungkin lah kita mengharapkan karyawan bisa mencetak prestasi dalam 3 bulan tersebut. Titik penilaian selama 3 bulan tersebut adalah kemampuan team work, potensi berkembang, dan kecakapan teknisnya. Kalau sudah setahun, barulah diketahui benar bagaimana kinerjanya yang sebenarnya.

Seperti sekelompok orang buta yang meraba dan memegang seekor gajah, mereka berebut mendeskripsikan gajah sesuai dengan visi masing-masing – seperti itulah analogi komentar masyarakat yang mendeskripsikan kegagalan pemerintahan SBY dalam 100 hari pertama ini.

Okelah! Bagaimanapun, ini adalah langkah pendewasaan kita semua dalam berbangsa dan bernegara. Semoga Allah senantiasa menjadikan semua perbedaan kita sebagai rahmat.

Fatwa Ulama … Seberapa Jauh Harus Kita Ikuti?

Posted in Kontemplasi, Psikologi, Sharing with tags , on January 23, 2010 by hzulkarnain

Setelah dulu ada yang berfatwa soal Facebook, dan mengundang kontroversi, kali ini sekelompok ulama di Jawa Timur yang tergabung dalam Forum Pondok Pesantren Putri Se-Jawa Timur baru saja mengeluarkan fatwa tentang rebonding …. Kok ada-ada saja? Memangnya tidak ada yang lebih penting untuk difatwakan daripada ngurusi rambut? Sudah pasti kontroversi lagi yang muncul.

rebonding ...

Ada sebagian ulama yang menganggap soal rambut perempuan sudah selesai, bukan khilafiyah. Apapun bentuknya, yang namanya rambut di kepala adalah perhiasan dan merupakan aurat, sehingga harus ditutup. Sebagian lain menganggapnya masih khilafiyah, dengan segala argumen dan pembenarannya.

Fatwa ulama di Jawa Timur soal rebonding tersebut diperuntukkan untuk perempuan yang belum menikah. Penjelasannya: rebonding ditujukan untuk berhias, dan karena rambut adalah aurat bagi perempuan yang seharusnya ditutup dengan jilbab, maka rebonding bagi perempuan yang belum menikah haram hukumnya. Sementara perempuan yang sudah menikah tidak dikenai fatwa haram me-rebonding rambut karena berhias untuk suaminya.

Bagi saya, sebenarnya fatwa semacam ini cukup aneh, karena seharusnya sebuah fatwa diturunkan untuk memberikan pencerahan – bukan justru membingungkan seperti ini. Memelihara rambut adalah hak asasi tiap manusia, mau dipotong, di-blow, di-creambath, dibuat keriting, di-highlight, dan di-rebonding semua adalah suka-sukanya sendiri. Kalau rebonding fatwanya haram, seharusnya perlakuan lain juga seharusnya difatwakan haram juga.

Mungkin yang harus dibedakan adalah tindakan rebonding dengan tujuan rebonding dilakukan. Yang rancu kan adanya pemikiran bahwasanya seorang perempuan merebonding rambutnya karena akan dipamerkan pada kaum laki-laki. Jadi, seharusnya yang haram bukan rebonding-nya tetapi perilaku memamerkan aurat tadi. Kalau setelah rebonding lalu pakai jilbab, apa ya haram? Islam mengajarkan bahwa semuanya dinilai berdasarkan niatnya.

Yang lebih seru lagi, forum ulama pengasuh pesantren putri tersebut kemudian juga mengharamkan 2 hal lain: menjadi pengojek bagi perempuan dan berfoto pre-wedding. Alasannya, keduanya mendekati kemaksiatan. Kalau pengojek perempuan memboncengkan penumpang laki-laki (apalagi malam hari), bisa mengundang kemaksiatan. Sementara itu, foto-foto pre-wedding identik dengan berpelukan dan berciuman, sehingga haramnya hingga ke fotografer.

Fatwa bukanlah hukum, tetapi lebih tepat diartikan sebagai pendapat atau opini. Ulama yang berkompeten pada hal yang baik dan buruk, interpretasi dan implementasi agama, mempunyai hak mengeluarkan fatwa – bila hal itu dinilai akan membawa kebaikan bagi umat, minimum jamaah pengajiannya sendiri. Bisa saja sekelompok ulama yang berada di sebuah daerah punya fatwa atau pendapat yang berbeda tentang suatu hal dengan ulama di daerah lainnya.

Sebelum fatwa rebonding dan facebook yang sebenarnya tidak signifikan, jauh hari pernah ada silang pendapat tentang keharaman bekicot. Ulama di daerah Kediri menghalalkannya, karena memang di wilayah itu bekicot sudah menjadi makanan rakyat, banyak dijual, bahkan sate bekicot telah menyeberangi wilayah lain hingga ke kota-kota besar lain. Bekicot dianggap halal karena tidak masuk dalam kategori apapun pada binatang yang diharamkan oleh Islam, apalagi kandungan gizinya dianggap cukup baik.

Berseberangan dengan para ulama ini, ulama di daerah lain justru mengharamkannya. Haramnya bekicot karena avertebrata ini dianggap menjijikkan. Ketika mentah berbau dan berlendir, hingga membuat jijik, setelah matangpun orang tidak bisa melupakan kesan jijik. Akan tetapi jijik adalah perasaan subjektif, sementara haram adalah hukum. Kalau orang tidak jijik dengan bekicot, apakah tetap haram? Beda halnya bila bekicot tidak memberikan manfaat bahkan merugikan kesehatan, karena Islam mengajarkan kita untuk hanya memakan makanan yang halal dan baik (halalan thoyyibah).

Selain bekicot, kita juga tahu di beberapa wilayah di tanah air ada makanan-makanan dari hewan yang bagi orang lain menjijikkan, namun sudah dikenal sebagai makanan penduduk lokal yang lezat dan bergizi. Cacing palolo dan cacing wawo di Indonesia Timur misalnya. Bagi yang suka menyantap teripang, rasanya akan geli kalau melihat bentuk aslinya ketika hidup – karena cukup menjijikkan.

Belakangan ini, dakwah seorang ustadz yang siaran di TPI tiap Minggu dan Senin juga mem-fatwakan syirik pada kalung dan gelang kesehatan, demikian juga hipnotisme (rupanya segala hal yang berupa hipnotis) yang dianggap sebagai sihir. Mungkin beliau tidak menyebutnya fatwa, tetapi karena keluar dari mulut seorang yang alim, sama saja artinya demikian.

Sang ustadz mengharamkan kalung dan gelang kesehatan berdasarkan pengamatan dan pengakuan jemaahnya. Semua data teknis diabaikan, karena dianggap bagian dari marketing semata. Logikanya, tidak mungkin kalung dan gelang itu bisa menyembuhkan penyakit, dan muatan energi di dalamnya hanyalah isu belaka. Sehingga, orang yang menggantungkan kesehatan pada kalung dan gelang itu dianggap telah syirik, karena mencari pemecahan masalah pada hal yang tidak logis dan tidak memberi faedah – dan itu sama dengan mencari jalan keselamatan kepada selain Allah.

Hipnotisme adalah sihir, kata beliau dan syirik dan dalam prosesnya selalu menggunakan bantuan mahluk Allah lain (maksudnya jin). Kalau dikatakan tidak menggunakan mantra, sang ustadz yakin itu BOHONG. Memang sekarang tidak pakai, tetapi ketika belajar dulu pasti menggunakan rapalan mantra. Semua penjelasan adanya manipulasi mental hanya rekayasa ucapan belaka, untuk menutupi sifat sihirnya.

Saya adalah orang yang mencoba menghormati ucapan seorang guru, atau ustadz, tetapi apa yang saya dengar dari ustadz tersebut bertanya tentang metodologi dan caranya membentangkan wawasan. Yang mash pula mengganjal d pikiran saya, sudahkah sang Ustadz ber-tabayyun, melakukan cross-check dan konfirmasi dengan benar dan objektif dengan pihak-pihak yang dituduh syirik tersebut?

Islam adalah agama akal, dan Al-Qur’an adalah samudra ilmu, yang belum semuanya tuntas diteliti. Maknanya, orang Islam diminta untuk berpikir dan terus memikirkan Allah serta penciptaan  langit dan bumi seraya berdiri, duduk, maupun berbaring. Penilaian sang ustadz yang mengunci fenomena kalung kesehatan dan hipnotisme dengan kata haram dan syirik – tanpa mengindahkan alasan apapun – membuat saya tidak nyaman. Sebab dengan demikian, kita sebagai jamaah sepertinya tidak boleh berpikir lain – tidak leluasa mengembangkan akal untuk menjajagi kemungkinan lain.

Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca, dikatakan bahwa otak manusia ini ibaratnya sebuah komputer raksasa, tetapi manusia paling banter hanya menggunakan 10% saja dari kapasitas otaknya. Bayangkan 10% saja, dan orang itu pun hanya Einstein yang dianggap orang tercerdas di dunia. Kalau kita, sebagai manusia biasa, mungkin hanya menggunakan 1 – 3 persen saja. Sama dengan kita beli komputer dengan spesifikasi tercanggih, yang sangat mahal, tapi ujungnya hanya digunakan untuk mengetik dan ber-internet, padahal di tangan orang lain komputer kita itu bisa untuk mengembangkan software dan menciptakan manfaat yang lebih baik. Intinya adalah, ada rahasia tentang otak kita yang belum dieksplorasi dan belum digunakan secara optimal.

Dari sumber resmi perusahaan yang memproduksi kalung kesehatan (yang diharamkan sang ustadz tersebut), saya membaca bahwa kalung itu bukan obat dan bukan penyembuh. Benda itu semacam komposit berbagai mineral yang berkemampuan memancarkan gelombang far-infra red. Far-infra red adalah sejenis gelombang cahaya matahari yang sangat bermanfaat bagi tubuh tetapi hanya muncul di kala Subuh dan hanya sekitar 1 jam saja. Gelombang FIR ini ditemukan bisa melancarkan peredaran darah sehingga meringankan beberapa jenis penyakit. Nah, ahli-ahli di Jepang menemukan campuran mineral yang bisa memancarkan FIR tsb, sehingga manusia bisa menikmati FIR sepanjang hari. Itu saja.

Memang sih, kalau kemudian kita lantas mendewakan kalung tersebut bisa berujung kepada kesyirikan. Kalau itu yang dimaksudkan sang ustadz, saya bisa menerima – sebab memang kita tidak boleh mendewakan apapun karena semua jalan kesembuhan adalah karena izin Allah Swt.

Saya bukan fans berat Rommy Rafael, dan tidak ada alasan bagi saya untuk membelanya. Saya pikir ada beda antara hipnotis ala ahli hipnotis ini dengan gendam yang adalah bagian dari praktik sihir. Saya masih yakin bahwa ada hipnotisme yang bisa dipelajari tanpa sihir dan untuk tujuan rehabilitasi kondisi mental. Kalau kita pernah mendengar hipnoterapi, adalah terapi penyembuhan melalui prinsip hipnotisme. Dengan latihan, orang bisa melakukan sugesti-sugesti yang konstruktif.

Coba sekarang anda bayangkan sebuah JERUK.

JERUK JERUK JERUK.

Ucapkan kata jeruk berulang-ulang dalam pikiran. Bayangkan buahnya di pikiran anda. Bayangkan buahnya secara tiga dimensi. Rasakan aromanya. Bayangkan rasanya.

JERUK JERUK JERUK.

Apa yang terjadi sekarang?

Mayoritas orang yang disugesti dengan jeruk tiba-tiba merasakan air liur di dalam mulutnya. Kenapa? Padahal tidak ada jeruk, selain jeruk dalam pikiran. Inilah yang disebut dengan kekuatan sugesti.

sesi hipnoterapi

Hipnoterapi bisa dipergunakan antara lain untuk terapi penyembuhan fobia, ketergantungan rokok atau narkoba, depresi, demotivasi, dsb dan tidak bertentangan dengan ajaran agama manapun.

Kalau hipnotisme diharamkan, saya khawatir para motivator dan fasilitator ESQ juga harus dilarang, karena mereka juga menggunakan cara-cara sugesti untuk meningkatkan kualitas diri individu pesertanya.  Menurunkan kesadaran ke level terendah, memasukkan kalimat-kalimat introspeksi dan motivasi, agar nanti setelah selesai individu menjadi diri yang lebih baik.

Kembali soal fatwa dan opini, sekarang ini saya paling mengagumi Ustadz Yusuf Mansyur, yang dengan semangat dan pengalamannya membuat kita berpikir positif tentang kehidupan, bergerak maju, dan menjadi diri yang lebih baik… dengan sedekah dan belajar menghafalkan Al-Qur’an. Ustadz satu ini tidak pernah saya dengar men-judge-ment orang lain, bahkan seringkali mentertawakan kekurangannya sendiri – sesuatu yang manusiawi.

Sekali lagi Islam adalah agama akal, dan karena meminta kita memikirkan alam semesta dan penciptaannya dengan akal berarti Islam adalah agama yang menjunjung tinggi perubahan dan pergerakan sosial, budaya, sains dan teknologi, serta evolusi pemikiran manusia itu sendiri. Kalau sudah demikian, alangkah baiknya bila kita tidak terjebak dalam judgement-judgement sempit yang justru akan mengerdilkan kapasitas otak kita. Akal berlandaskan Al-Qur’an, itulah akhlak Islam yang kita inginkan.

Islam mempunyai Ibnu Sina sang ahli kedokteran, Jabir Bin Hayyan sang ahli kimia, Al Kindi yang menguasai banyak ilmu… adalah sedikit contoh pendobrak jaman justru karena melampaui ukuran judgement sempit tadi. Sekarang ini, contoh kecil multi-disiplin yang dimiliki Indonesia adalah DR Moh. Saleh yang belajar di perguruan tinggi lintas disiplin ilmu dan berhasil menemukan hikmah sholat tahajud dari sudut agama, psikologi, dan kedokteran. Menurut catatan Abu Sangkan, orang seperti inilah yang memikirkan Allah dan penciptaan alam semesta saat berdiri, dengan duduknya, dan di kala berbaring (sesuai dengan bunyi QS Ali Imran 191).

Semoga bangsa kita senantiasa dirahmati Allah, dan berkembang menjadi bangsa unggul yang disegani. Amin.

GUS DUR dalam Majalah TIME

Posted in Biografi, Sharing with tags , on January 19, 2010 by hzulkarnain

Wolfowitz, mantan Dubes AS di Indonesia

Majalah Time edisi 18 Januari 2010 menyelipkan sebuah artikel pendek tulisan Paul Wolfowitz tentang Gus Dur yang dikenal dan dikenangnya. Paul Wolfowitz dulu pernah menjabat sebagai duta besar Amerika Serikat di Indonesia, dan lancar berbahasa Indonesia.

Wolfowitz mengisahkan bagaimana ribuan orang berjajar di jalan untuk berbela sungkawa atas meninggalnya Gus Dur, bahkan banyak yang terang-terangan menangis.

Di matanya, Gus Dur bukanlah seorang manajer, sehingga dia harus lengser dari kursi kepresidenan karena desakan parlemen. Tetapi Gus Dur adalah seorang visioner, dan sebagai Presiden beliau menanamkan sebauh visi tentang Indonesia (yang merupakan negara berpopulasi terbanyak ke-4 di dunia dan berpenduduk Muslim terbesar) yang menjunjung kebebasan beragaman dan hak asasi manusia.

Yang lebih penting lagi, sebagai pimpinan spiritual yang berasal dari NU, Gus Dur selalu melawan para fanatik yang dikatakan Gus Dur “membawa Islam menjadi sebuah dogma yang tidak toleran, penuh kebencian, dan pertumpahan darah.” Gus Dur mampu mengutip Al-Qur’an dengan hati untuk membela hak semua orang untuk mengikuti hati mereka dalam urusan agama, dan secara konstan bersuara atas nama kelompok minoritas yang teraniaya sekalipun hal itu mengancam popularitasnya.

Gus Dur mengatakan ingin nisannya nanti bertuliskan: DI SINI DIMAKAMKAN SEORANG HUMANIS. Dan memang begitulah dia. Dia dicintai jutaan orang, baik Muslim maupun non-Muslim. Dia adalah seorang pemimpin yang akan dikenang oleh dunia ini.

Gus Dur yang Kukenang-2

Posted in Biografi, Sharing with tags , on January 4, 2010 by hzulkarnain

Satu dekade sebelum reformasi bergulir, nama Gus Dur mulai dikenal sebagai sosok muda NU yang fenomenal – membalikkan kesan uzur dan kolot organisasi massa di Indonesia ini. Sejalan dengan kembalinya NU ke khittah 1926, yang berarti NU tidak lagi berkiprah di dunia politik, langkah kuda Gus Dur di level akar rumput tidak terbelenggu lagi.

Di antara teman dan orang yang mengenalnya, Gus Dur adalah humoris. Bahkan Jaya Suprana menyebutnya jenius dalam humor dan joke. Menciptakan sebuah guyonan saja sudah sulit, apalagi bila banyak sekali dan kontekstual dengan jaman. Jaya Suprana mengibaratkan dengan seniman musik yang pandai menciptakan lagu atau melodi yang indah, pematung menciptakan patung dengan mudah, Gus Dur adalah seniman yang khusus menciptakan kesegaran humor dengan joke-joke yang cerdas.

Dalam sebuah guyonannya, Gus Dur pernah berceloteh:

“Kalau ada orang yang ngurusi NU sampai jam 6 sore, namanya suka NU. Kalau sampai jam 12 malam masih ngurusi NU, namanya gila NU. Lha, kalau setelah jam 12 malam masih ngurusi NU juga … namanya NU gila!”

Mungkin Gus Dur memang NU gila, karena darah ajaran NU berurat akar dan mengalir di pembuluh darahnya. Dengan berpijak pula pada segala kitab ulama yang diajarkan di seputaran Timur Tengah selama berabad-abad dan pemikiran cendekiawan non-Islam yang dibacanya di perpustakaan Kairo dan Baghdad, pola pemikiran Gus Dur sangat pluralis.

Kaum Islam konservatif seringkali tidak suka dengan cara bicara dan logika Gus Dur yang plural, dan seolah-olah meremehkan Al-Qur’an. Dalam sebuah milis yang pernah saya ikuti, dan akhirnya harus saya tinggalkan, pluralitas pemikiran Gus Dur dan tokoh-tokoh intelektual seperti Nurcholish Madjid, tidak mendapatkan tempat untuk berkembang karena kelompok ini sangat mementingkan bentuk daripada esensi.

Ketika Gus Dur mengatakan … Tuhan tidak perlu dibela! Ada orang yang marah. Padahal memang sebenarnya siapa sih kita yang menganggap layak untuk membela Tuhan – yang sama dengan hendak mengatakan bahwa Tuhan tidak maha perkasa dan berkuasa. Sebenarnya, Gus Dur hendak mengatakan bahwa ada urusan yang memang harus diurusi manusia, dan ada urusan yang merupakan hak prerogatif Allah yang selayaknya tidak diurusi manusia.

Dalam sebuah wawancara, Dorce yang belum lama berganti kelamin menanyakan perihalnya kepada Gus Dur – karena memang banyak kontroversi di sekitar perubahan jenis kelamin ini. Dorce bercerita, Gus Dur hanya bertanya:

Apa sampeyan nyaman dengan kondisi sekarang?(Dorce meng-iyakan), dan Gus Dur melanjutkan, jalankan saja kehidupan dengan baik. Biarlah yang lain terserah penilaian Allah.

Dengan bertindak dan berpikir sebagai manusia, kemudian memanusiakan manusia lainnya, serta tidak bertindak sendiri atas nama Tuhan, manusia telah menjadi dirinya sendiri. Nasihat utamanya kepada Yenny Wahid saat pernikahan pun serupa, yaitu pesan untuk menjunjung tinggi kemanusiaan, dengan cara memanusiakan manusia lain. Hak asasi manusia, kemanusiaan, dan persamaan derajat adalah ciri khas Gus Dur, yang ditinggikan oleh sementara kalangan, dihormati oleh banyak tokoh, namun justru mendudukkan dirinya setara dengan orang biasa.

Egaliter, perasaan dan kedudukan yang setara dan sederajat, itulah kesan orang pada Gus Dur. Siapapun dia, tidak perduli pangkat dan jabatannya, dianggapnya sama dan setara. Penghormatan yang perlu dilakukan hanya karena seseorang lebih tua atau lebih berilmu saja. Oleh karena itu, Gus Dur tidak pernah rikuh duduk bersama dengan rakyat biasa, bahkan konon sering menginap di rumah teman lamanya yang jauh dari kemewahan. Tidak mengherankan, rakyat biasa mengidolakan dirinya, karena menganggapnya sosok biasa yang bersinar di kalangan elite.

Ketika terjadi ketidak adilan, kemudian ada proses marginalisasi seseorang atau sekelompok orang, Gus Dur akan berdiri di depan. Kasus Inul yang dihadang pedangdut senior lainnya, Dorce yang berseberangan dengan sementara ulama, Konghucu yang tidak dianggap agama, masalah orang Papua yang tidak pernah selesai, semua menjadi agenda aktivitas Gus Dur.

Tak mengherankan, saat menjabat Presiden, ada 2 agenda yang langsung diselesaikannya: mencabut aturan yang membatasi aktivitas sosial budaya dan keagamaan kaum Tionghoa, dan memulai langkah rekonsiliasi dengan rakyat Papua. Irian Jaya dihapus, diubah menjadi Papua. Papua juga memperoleh status otonomi khusus, sekalipun banyak tantangan dalam mewujudkannya.

Sebenarnya, tidaklah berlebihan bila ada yang beranggapan bahwa Gus Dur adalah sosok langka yang sulit digantikan. Bahkan di antara saudara dan kerabatnya tidak ada yang cukup pantas sebagai penggantinya. Tak berlebihan pula orang menasbihkannya sebagai guru bangsa, karena pluralitas berpikirnya sejalan dengan nuansa merah-putih bangsa ini. Bangsa ini besar dan kaya ragam, sehingga membutuhkan ulama Islam yang pluralis, dan mampu mendudukan manusia yang beragam tersebut setara.

Semoga kepergian Gus Dur untuk selama-lamanya ini memberi tanda bahwa semua masalah tentang hak asasi manusia akan selesai, semua ketidak setaraan menemukan solusinya, kemudian orang Islam sudah mau menerima merah-putih di halamannya, serta menjadikan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Semoga….semoga …..

Gus Dur yang Kukenang

Posted in Biografi, Sharing with tags , on January 3, 2010 by hzulkarnain

Menjelang akhir tahun 2009, sekitar pukul 18.45 WIB, Gus Dur panggilan akrab KH Abdurrahman Wahid wafat di rumah sakit Cipto Mangunkusumo, di bawah pengawasan dan perawatan team dokter ahli yang menjadi bagian team dokter kepresidenan. Setelah dirawat sekitar 5 hari, sosok fenomenal itu harus tutup usia.

Sebenarnya, sejak beliau memaksa untuk berziarah ke makam kakek dan ayahnya di Jombang, saat berada di rumah sakit Graha Amerta Surabaya, ada pikiran yang terlintas – apakah Gus Dur merasa sesuatu sehingga ziarah kubur ini tidak bisa ditunda lagi.

Seperti diketahui bersama, Gus Dur jatuh sakit saat sedang dalam perjalanan safari ke Jombang untuk berziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim. Setelah dirawat sebentar di Jombang, beliau langsung dirujuk ke RS Graha Amerta yang merupakan fasilitas VIP RSUD Dr. Soetomo. Entah mengapa, Gus Dur mendesak untuk berangkat lagi ke Jombang, hingga kesehatan beliau kembali memburuk dan harus dirujuk ke RSCM sekembali ke Jakarta.

Indonesia berduka dalam arti yang sebenarnya, dan pengaruh meninggalnya beliau sangat terasa di kala orang sedang bersiap memeriahkan dan harus dirujuk ke RSCM sekembali ke Jakarta.

Indonesia berduka dalam arti yang sebenarnya, dan pengaruh meninggalnya beliau sangat terasa di kala orang sedang bersiap memeriahkan pergantian tahun baru 2010. Kepala negara menghimbau pengibaran bendera setengah tiang, yang dilaksanakan oleh segenap BUMN, instansi pemerintah, bahkan perkantoran swasta yang biasa mengibarkan bendera di halaman. Beberapa toko milik Tionghoa terlihat juga memasang bendera setengah tiang. Tentunya hal tersebut tak lepas dari simpati kaum Tionghoa pada almarhum yang memang telah mengembalikan makna budaya dan harga diri kaum Tionghoa yang dimarginalkan selama orde baru. Beberapa pesta tahun baru outdoor di Jakarta sedikit disesuaikan dengan rasa berkabung tersebut.

negarawan, pemikir, ulama, budayawan, jenius...

Gus Dur bukan orang biasa, dan tidak pernah menjadi orang biasa. Dari berbagai sumber, seperti yang ditayangkandi televisi maupun di tulis di surat kabar, Abdurrahman Addhakhil muda selalu berbeda dengan orang lain pada umumnya. Ketika santri lain sibuk dengan kitab-kitab agama, dia justru baca koran. Bila yang lain suka musik religius, justru musik barat seperti klasik dan rock yang digemarinya. Bahkan pemikiran non-Islam pun dilalapnya – karena memang kecerdasannya mampu menampungnya.

Konon, karena tidak puas dengan studi di Al-Azhar, Gus Dur yang berumur 27-an meneruskan studi ke Universitas Baghdad dengan beasiswa. Di perpustakaan Abdul Qadir Jailany di perguruan tinggi itulah dia mencerna berbagai model dan bentuk pemikiran Islam dan non-Islam. Semuanya membuatnya mampu berpikir lateral, yang bagi orang lain seperti meloncat-loncat tidak lumrah.

Sejak menjabat sebagai ketua umum PB NU, Gus Dur yang sebelumnya hanya dikenal oleh sebagian kalangan – kalangan pesantren NU, melalui tulisannya di media massa, dan budayawan – merambah ke jagat politik, dan mulai dikenal oleh berbagai kalangan. Konon perluasan bidang ini lebih banyak didorong oleh kerabatnya, seperti kakek dari pihak ibu KH Bisri Syamsuri. Dengan kendaraan yang disegani, Gus Dur menjadi figur yang sangat diperhitungkan. Orang tentunya masih ingat, Gus Dur lah orangnya yang menjadi motor kembalinya NU ke khittah awal saat didirikan – dan mencabut diri dari perpolitikan praktis. Pertengahan tahun 80-an, NU keluar dari PPP karena harus memposisikan diri sebagai lembaga sosial kemasyarakatan.

Di awal 90-an hingga akhir masa orde baru, nama Gus Dur sangat difavoritkan oleh sementara kalangan, karena dialah figur alternatif yang menjadi simbol Islam moderat. Sebagian orang sudah eneg dengan orde baru dan kekuasaannya yang menakutkan, tetapi untuk berpindah ke Megawati juga belum sreg – karena sebagian orang tahu bahwa banyak juga kepentingan yang bermain di sekelilingnya. Lagi pula, nama PDI tidak pernah lepas dari keberingasan massa-nya.

Di luar panggung politik, Gus Dur adalah icon demokrasi dan pelindung kaum marginal. Ketika kaum Tionghoa dianak tirikan di berbagai sendi kehidupan sosial kemasyarakatan (kecuali berdagang), Gus Dur membela mereka. Seperti saat dia membela pasangan Konghucu yang tidak boleh menikah sesuai dengan agamanya, karena agama tersebut tidak masuk dalam agama-agama yang diakui di Indonesia. Dorce yang berganti kelamin, Inul yang dikecam pedangdut lainnya, dan entah siapa lagi, merasa nyaman dengan perlindungan Gus Dur.

Orang mengatakan, kalau dalam catur Gus Dur adalah kuda – yang selalu melangkah tidak terprediksikan dengan baik. Sebagian lain menilai, Gus Dur adalah negarawan dan bapak bangsa namun tidak pernah menjadi politisi. Kata jaya Suprana, negarawan selalu memikirkan bangsa, politisi memikirkan kekuasaan. Seorang negarawan mungkin bisa bertindak sebagai politisi, tetapi politisi akan sulit menjadi negarawan – dan Gus Dur ternyata memang terlalu agung untuk melumuri diri dengan kekotoran politik.

Gus Dur – menurut saya – memang lebih cocok sebagai guru bangsa yang memberikan petuah dan pemikiran yang brilian – tidak berpolitik praktis. Tetapi Allah Swt memang mengharuskan beliau sebagai Presiden untuk sementara waktu, agar semua borok dan kepentingan yang bersembunyi di belakang kata reformasi terkuak lebar.

Saat menjadi Presiden, sejarah diukirnya dengan tegas. Gelora Senayan dinamai Gelora Bung Karno, Irian Jaya dikembalikan ke nama yang disukai oleh penduduk setempat: Papua, dan penghapusan aturan yang memberangus Tionghoa serta menjadikan Konghucu sebagai agama. Yang lebih signifikan lagi, Gus Dur telah menghapuskan dwi fungsi ABRI – yang berarti mengembalikan tentara ke barak. Polisi dilepas dari kemiliteran, agar bisa menjadi lembaga penegakan hukum sipil seperti di berbagai negara demokrasi lainnya. Semua itu tercipta dalam kurun waktu 2 tahunan masa kepemerintahannya.

Yang paling saya pelajari dari sosok Gus Dur, adalah konsistensi dan ketaatan pada sebuah azas yang diyakini. Sebagai orang Islam, Gus Dur selalu berpegang pada Qur’an dan Hadits, dan berbagai kitab ulama besar sebagai acuan. Sebagai negarawan, beliau berpegang pada konstitusi dan perundang-undangan yang berlaku. Pancasila adalah simbol dari NKRI yang harus dipertahankan. Asyiknya, Gus Dur mampu memainkan semua hal yang diyakini tersebut dengan indah, humanis, dan tidak menakutkan. Sebagai orang Islam dia moderat, sebagai negarawan semua kepentingan dicoba untuk dipahaminya, dan sebagai seorang pemimpin dia menyelami nurani orang biasa sebagai manusia yang membutuhkan bimbingan.

Seorang teman pernah berkata, yang dikaguminya dari sosok Gus Dur adalah caranya untuk menanamkan merah-putih di halaman orang Islam, dan berusaha menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin di bumi merah-putih ini.

Banyak prasangka yang berputaran di sekitar figur jenius ini, dan kecacatannya karena berbagai komplikasi penyakit membuat orang mengira dirinya sudah pikun dan tidak bisa berpikir dengan benar – ternyata semuanya keliru. Bahkan hingga September kemarin, saat diwawancara oleh Metri TV, ingatannya masih tajam. Semua kesan tentang orang yang dikenangnya tidak lekang oleh gangguan penyakit yang dideritanya. Bahkan Ibu Sinta Nuriyah menegaskan – Gus Dur adalah orang yang keras hati dan sulit diubah pendiriannya. Kalau sudah begitu, bagaimana mungkin ada orang yang bisa membisik-bisik pada beliau?

Dengan segala bintang mahaputra yang dimilikinya, dan sederet penghargaan dari manca negara, Gus Dur sudah sangat layak disebut sebagai pahlawan. Kalaupun negara tak kunjung juga memberimu gelar pahlawan Gus, yakinlah banyak di antara kami yang selalu menganggapmu pahlawan. Gitu aja kok repot ….

Gus Dur, warisanmu adalah pemikiran moderat yang humanis. Islam yang bersahabat, mengayomi minoritas, memahami perbedaan, dan kemanusiaan di atas segala tata peribadatan agama. Itu tidak akan pernah dipahami kaum Islam yang lebih mengedepankan cara daripada esensi, yang mengatakan membela Islam seolah-olah Allah bukan lah Sang Maha Kuat, Maha Pandai, dan Maha Mengasihi.

Selamat jalan Gus, semoga Allah Swt memberikanmu tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Tahun yang Dramatis

Posted in Sharing with tags on January 2, 2010 by hzulkarnain

Renungan akhir tahun 2009

Fase 5 tahunan membuat tahun 2009 akan sangat dikenang. Duka, gembira, dan drama silih berganti menghiasi tahun ini.

Secara kenegaraan dan kebangsaan, tahun ini adalah tonggak demokrasi yang terpancang dengan benar. Sebuah fase kepresidenan 2004 – 2009 selesai dengan baik, diikuti Pemilu legislatif dan Pemilihan Presiden yang aman, hingga terpilihnya kembali SBY secara mutlak untuk periode kepresidenan yang kedua. Elit politik boleh berkoar, dan oknum tertentu atau bahkan LSM boleh saling menggunakan kekuatan massa untuk black campaign, tapi rakyat Indonesia sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap politik.

Sekali lagi Indonesia berhasil mengukirkan namanya sejajar dengan negara demokrasi besar dunia, karena pluralitas etnis, suku, agama, pekerjaan, tidak pernah menjadi dasar untuk bersengketa apapun perbedaan tersebut. Dengan peringkat jumlah penduduk ke-4 terpadat di dunia, bentuk negara yang bekepulauan, kesenjangan ekonomi dan kondisi sosial budaya, cukup normal bila bangsa ini sulit diatur. Tapi tidak demikian kenyataannya. Bahkan para kampiun demokrasi di Amerika Serikat memuji kondusif-nya keamanan Indonesia sepanjang masa kampanye, hingga selesainya Pilpres 2009.

Tahun 2009 adalah tahunnya Partai Demokrat, karena berhasil mendongkrak suara legislatif secara fenomenal hingga di atas 20%. Kesolidannya mengimbangi bahkan akhirnya mengalahkan partai lama yang sudah mapan seperti Golkar dan PDI Perjuangan. Koalisi Demokrat dan beberapa partai kecil yang tidak mau berada di bawah sayap Golkar maupun PDI Perjuangan bahkan membuat dominasi lebih dari 50% kursi legislatif – sebuah fenomena langka di masa demokrasi terbuka seperti sekarang ini. Tidak berenti sampai di situ, sosok Jenderal (purn) Susilo Bambang Yudhoyono yang diusung koalisi Demokrat untuk kursi kepresidenan ternyata menang mutlak atas 2 rivalnya – hanya dalam 1 putaran pilpres. Suara rakyat adalah suara Tuhan … bila rakyat telah menentukan itulah yang dikehendaki Allah atas bumi Indonesia ini.

Ekonomi Indonesia ternyata bisa bertahan dari segala bentuk krisis yang telah mendatangkan kesulitan di negeri Paman Sam. Orang boleh menghujat Sri Mulyani dan Budiono yang dianggap sebagai pendukung neolib, tetapi tanpa peran keduanya sebagai menteri dan otoritas Bank Indonesia, belum tentu Indonesia mempunyai skema yang bagus untuk menahan laju inflasi. Hingga akhir tahun 2009, laju inflasi Indonesia bahkan terhitung paling rendah dalam dekade terakhir.

Deru dan gemuruh demokrasi silih berganti menghiasi layar kaca, berkaitan dengan beberapa kasus yang sebenarnya tidak baru sama sekali. Sebelum Pemilu dan Pilpres kasus-kasus tersebut sudah ada, tetapi tidak mencuat. Kita ingat soal ketua-ketua KPK yang entah disengaja atau tidak dikait-kaitkan dengan kasus kriminal lain, yang tidak ada hubungannya dengan penyalahgunaan kekuasaan mereka. Bila Antasari Azhar terlanjur masuk bui dan diproses, sekalipun masalahnya sampai sekarang masih belum jelas benar, ketua yang lain sempat “diselamatkan” oleh Presiden melalui pidato himbauannya. Ketetapan pemerintah akhirnya mengembalikan Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah kembali ke posisi semula.

Yang temasuk paling heboh di tahun ini adalah penerapan undang-undang baru tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang nyaris menjerat Prita Mulyasari ke dalam bui (sekalipun sebelumnya dia sudah mencicipi dinginnya ruangan sel sebagai tahanan kejaksaan). Begitu naifnya cara pandang dan kerja aparat kejaksaan sehingga bunyi sebuah undang-undang yang netral menjadi jerat hukum yang ganas bagi kita orang awam yang kurang paham hukum.

Ketika kasus tersebut maju ke pengadilan tinggi Banten, dan prita terancam denda sebesar 204 milyar, rakyat Indonesia seperti diguncang. Sekelompok simpatisan menggerakkan sisi kemanusiaan anak bangsa, dengan mengumpulkan recehan (uang koin) untuk disumbangkan pada sang ibu muda tersebut. Efek domino menyeruak dengan cepat, hingga ke pelosok negeri. Dalam waktu yang relatif singkat, nilai nominal mendekati 1 milyar berhasil dikumpulkan – entah berapa sebenarnya nilai riil yang berhasil dikumpulkan, karena ada beberapa sumbangan yang tertutup dari pejabat atau tokoh masyarakat.

Bencana, itu pula yang terjadi di tahun ini. Bila 5 tahun lalu gempa dasar laut menyebabkan tsunami di Aceh, kini gempa tektonik juga yang menggoyang kota Padang hingga nyaris rata dengan tanah. Beberapa daerah di Sumatra Barat bahkan seperti terhapus dari peta karena lenyap di telan longsor. Mudah-mudahan hanya kebetulan saja bencana besar ini terjadi berselang lima tahun – dan tidak terjadi lagi seperti itu.

Beberapa tokoh berpulang ke rahmatullah tahun ini. Orang mungkin masih ingat meninggalnya Sophan Sophiaan yang cukup tragis, di kala ia hendak mengkampanyekan kesatuan Indonesia agar tidak terbelah menjelang Pemilu. Mbah Surip yang berlalu seperti komet juga pasti akan dikenang orang – tua, bersinar, melintas, lalu hilang. Tak lama berselang, pujangga fenomenal yang dikenal dengan sebutan sang burung merak WS Rendra juga wafat.

Kunci dari semua kisah di tahun ini adalah meninggalnya Gus Dur, seorang ulama yang negarawan, dan yang dihormati oleh banyak orang, namun masih menuai kritik dari sebagian orang yang justru adalah Islam. Sebagian orang mengatakan, kehadiran Gus Dur terlalu cepat bagi Indonesia – karena sungguh tidak banyak orang yang bisa memahami jalan pikiran beliau. Mungkin bangsa ini tidak akan sama lagi tanpa Gus Dur yang fenomenal – dengan semua kecerdasannya, kondisi fisiknya, dan kontroversi pemikirannya, justru dialah pilihan DPR-MPR pertama untuk menduduki kursi kepresidenan.

Satu dekade hampir usai di millennium ke-3, dan di majalah Time tampaknya belum ada kesepakatan tentang nama yang pantas diberikan untuk menyebut 2000. Apapun itu, yang nyata adalah tantangan di depan.

SELAMAT TAHUN BARU 2010.