Archive for January, 2010

Januari yang Semarak

Posted in Sharing with tags on January 28, 2010 by hzulkarnain

CATATAN AKHIR JANUARI 2010

Alam demokrasi Indonesia menunjukkan geliatnya, dengan kesemarakan ragam warna ulah elit politik, legislatif, pelakon unjuk rasa, dan tentu saja siaran televisi. Semua tersaji dengan begitu vulgar hingga akhirnya kita sendiri jadi bingung menentukan mana yang benar dan tidak.

Mungkin memang tidak ada jawaban tentang benar dan salah tersebut, karena memang seperti itulah demokrasi.

Akhir Januari ini, tepatnya tanggal 28 Januari ini, massa akan digerakkan untuk mendemo Presiden, yang dianggap tidak berhasil dalam 100 hari kinerja kabinetnya. Pagi-pagi siaran televisi swasta nasional sudah ramai memberitakan persiapan demo yang sudah dipersiapkan sejak tanggal 27 malam. Di UI ada acara renungan, di Makassar ada acara mencegat mobil plat merah, terpasang spandung “rebut kedaulatan rakyat”, dsb. Seolah-olah para pendemo termasuk mahasiswa hendak membuat sesuatu yang besar dan signifikan.

Kalau kita melihat acara televisi yang menyuguhkan acara demo kepada pemerintah, menyuarakan ketidak puasan kepada Presiden, gugatan agar DPR lebih galak kepada pemerintah, apa yang terpikir di benak Anda?

Sebagian mungkin meng-amini pendapat sementara kelompok masyarakat tersebut, dan sependapat bahwa kinerja pemerintah memang kurang baik. Tapi saya punya pendapat berbeda! Saya katakan, ini adalah wajah demokrasi ala Indonesia, dan ini adalah bukti bahwa Presiden memegang komitmen kepada demokrasi. Saya mendapati kondisi seperti ini di jaman Gus Dur, tetapi sayangnya Gus Dur saat itu tidak punya legitimasi langsung dari rakyat seperti SBY (maksudnya tidak dipilih langsung) – sehingga harus takluk kepada DPR/MPR.

Dengan kekuatan politik dan kekuasaan terhadap militer seperti yang dimiliki SBY sekarang ini (karena beliau adalah purnawirawan militer), apalagi SBY dulu adalah perwira intelijen militer, tidak terlalu susah bagi SBY untuk meredam semua kekuatan massa itu tanpa terdeteksi langsung. Tapi, Presiden kita tidak melakukannya. Beliau hanya menjaga agar semua aktivitas itu tidak melanggar koridor perundang-undangan, dan mewanti-wanti semua anasir masyarakat agar mematuhi perundang-undangan yang disepakati bersama.

Beberapa saat setelah pelantikan kabinet, kasus Cicak vs Buaya langsung menyergap perhatian massa. Presiden akhirya harus turun tangan melalui team 8 karena kekisruhan ini melibatkan lembaga-lembaga penegakan hukum di bawah kendali pemerintah seperti: Polri, Kejaksaan, dan KPK. Puncak kasus ini adalah kembalinya kedua pimpinan KPK ke posisi semula dan lengsernya Susno Duaji dari kursi Kabareskrim Polri.

Baru reda kisruh ini, kasus Bank Century yang sudah sejak awal 2009 menjadi gonjang-ganjing namun tidak pernah tuntas, akhirnya benar-benar terangkat ke permukaan melalui Pansus Hak Angket DPR. Hak yang satu ini adalah kewenangan DPR untuk menyelidiki indikasi penyimpangan kebijakan dan langkah eksekutif.

Secara maraton – dan bahkan disiarkan langsung oleh televisi swasta nasional – team Pansus bersidang dan menghadirkan banyak saksi termasuk 2 orang yang dianggap aktor penting: Wapres Budiono dan Menkeu Sri Mulyani. Presiden sempat menolak keinginan DPR untuk menon-aktifkan mereka, karena tidak ada jalur perundang-undangan – dan akhirnya DPR juga bisa memahaminya. Suara sumbang tentang hal ini banyak mengemuka di masyarakat – karena memang seringkali kita ini latah dalam menanggapi sesuatu. Pada akhirnya, kedua aktor tersebut bisa bersaksi dengan baik – tanpa kendala sebagaimana yang ditakutkan.

Setelah saksi-saksi ahli dan eks-nasabah Bank Century dihadirkan dalam rapat Pansus, sekarang bola ada di tangan Pansus. Mereka sekarang harus membuat rumusan kesimpulan sementara berdasarkan sidang maraton selama ini. Uang rakyat sudah dipakai, jumlahnya tidak kecil, kini giliran mereka yang harus memberikan laporan terbaik kepada kita.

Dua kasus ini seperti highlighter (stabillo) yang memberi tanda bahwa kinerja SBY dalam 100 hari pertama ini tidak beres. Yang lain mengatakan bahwa segala situasi keuangan belum kondusif, hanya memikirkan ekonomi makro, dan perilaku ekonomi negara tidak menyentuh sektor riil. Entah apalagi yang jadi parameter pihak-pihak lain yang hendak mengatakan pemerintahan SBY gagal.

Mengingatkan pemerintah bahwa kinerja mereka selalu dipantau masyarakat itu perlu. Demo dan sentilan melalui DPR dan televisi kepada pemerintah akan mengingatkan eksekutif agar selalu serius menangani nasib rakyat. Sekali lagi rakyat berhak bicara, tapi pemerintah juga punya hak untuk menentukan jalan terbaik untuk kemaslahatan bangsa ini. Sebagai rakyat kita sudah memberikan amanat kita kepada bapak SBY menjadi pemimpin kita, jadi sudah sepantasnya kita mempercayainya – tanpa prasangka berlebihan.

Saya pribadi geli dengan wacana kegagalan 100 hari – bahkan lucunya yang bicara adalah segala macam doktor dan pengamat politik. Mana ada di dunia ini kinerja kabinet dinilai hanya berdasarkan 100 hari kerja saja? Di Amrik Obama juga punya program 100 hari – tapi ya tidak lantas di-judge tidak berhasil hanya karena dalam 100 hari pertama belum menunjukkan geliat yang signifikan.

Saya adalah praktisi HRD yang harus memantau masa probation karyawan dalam 3 bulan pertama. Tidak mungkin lah kita mengharapkan karyawan bisa mencetak prestasi dalam 3 bulan tersebut. Titik penilaian selama 3 bulan tersebut adalah kemampuan team work, potensi berkembang, dan kecakapan teknisnya. Kalau sudah setahun, barulah diketahui benar bagaimana kinerjanya yang sebenarnya.

Seperti sekelompok orang buta yang meraba dan memegang seekor gajah, mereka berebut mendeskripsikan gajah sesuai dengan visi masing-masing – seperti itulah analogi komentar masyarakat yang mendeskripsikan kegagalan pemerintahan SBY dalam 100 hari pertama ini.

Okelah! Bagaimanapun, ini adalah langkah pendewasaan kita semua dalam berbangsa dan bernegara. Semoga Allah senantiasa menjadikan semua perbedaan kita sebagai rahmat.

Fatwa Ulama … Seberapa Jauh Harus Kita Ikuti?

Posted in Kontemplasi, Psikologi, Sharing with tags , on January 23, 2010 by hzulkarnain

Setelah dulu ada yang berfatwa soal Facebook, dan mengundang kontroversi, kali ini sekelompok ulama di Jawa Timur yang tergabung dalam Forum Pondok Pesantren Putri Se-Jawa Timur baru saja mengeluarkan fatwa tentang rebonding …. Kok ada-ada saja? Memangnya tidak ada yang lebih penting untuk difatwakan daripada ngurusi rambut? Sudah pasti kontroversi lagi yang muncul.

rebonding ...

Ada sebagian ulama yang menganggap soal rambut perempuan sudah selesai, bukan khilafiyah. Apapun bentuknya, yang namanya rambut di kepala adalah perhiasan dan merupakan aurat, sehingga harus ditutup. Sebagian lain menganggapnya masih khilafiyah, dengan segala argumen dan pembenarannya.

Fatwa ulama di Jawa Timur soal rebonding tersebut diperuntukkan untuk perempuan yang belum menikah. Penjelasannya: rebonding ditujukan untuk berhias, dan karena rambut adalah aurat bagi perempuan yang seharusnya ditutup dengan jilbab, maka rebonding bagi perempuan yang belum menikah haram hukumnya. Sementara perempuan yang sudah menikah tidak dikenai fatwa haram me-rebonding rambut karena berhias untuk suaminya.

Bagi saya, sebenarnya fatwa semacam ini cukup aneh, karena seharusnya sebuah fatwa diturunkan untuk memberikan pencerahan – bukan justru membingungkan seperti ini. Memelihara rambut adalah hak asasi tiap manusia, mau dipotong, di-blow, di-creambath, dibuat keriting, di-highlight, dan di-rebonding semua adalah suka-sukanya sendiri. Kalau rebonding fatwanya haram, seharusnya perlakuan lain juga seharusnya difatwakan haram juga.

Mungkin yang harus dibedakan adalah tindakan rebonding dengan tujuan rebonding dilakukan. Yang rancu kan adanya pemikiran bahwasanya seorang perempuan merebonding rambutnya karena akan dipamerkan pada kaum laki-laki. Jadi, seharusnya yang haram bukan rebonding-nya tetapi perilaku memamerkan aurat tadi. Kalau setelah rebonding lalu pakai jilbab, apa ya haram? Islam mengajarkan bahwa semuanya dinilai berdasarkan niatnya.

Yang lebih seru lagi, forum ulama pengasuh pesantren putri tersebut kemudian juga mengharamkan 2 hal lain: menjadi pengojek bagi perempuan dan berfoto pre-wedding. Alasannya, keduanya mendekati kemaksiatan. Kalau pengojek perempuan memboncengkan penumpang laki-laki (apalagi malam hari), bisa mengundang kemaksiatan. Sementara itu, foto-foto pre-wedding identik dengan berpelukan dan berciuman, sehingga haramnya hingga ke fotografer.

Fatwa bukanlah hukum, tetapi lebih tepat diartikan sebagai pendapat atau opini. Ulama yang berkompeten pada hal yang baik dan buruk, interpretasi dan implementasi agama, mempunyai hak mengeluarkan fatwa – bila hal itu dinilai akan membawa kebaikan bagi umat, minimum jamaah pengajiannya sendiri. Bisa saja sekelompok ulama yang berada di sebuah daerah punya fatwa atau pendapat yang berbeda tentang suatu hal dengan ulama di daerah lainnya.

Sebelum fatwa rebonding dan facebook yang sebenarnya tidak signifikan, jauh hari pernah ada silang pendapat tentang keharaman bekicot. Ulama di daerah Kediri menghalalkannya, karena memang di wilayah itu bekicot sudah menjadi makanan rakyat, banyak dijual, bahkan sate bekicot telah menyeberangi wilayah lain hingga ke kota-kota besar lain. Bekicot dianggap halal karena tidak masuk dalam kategori apapun pada binatang yang diharamkan oleh Islam, apalagi kandungan gizinya dianggap cukup baik.

Berseberangan dengan para ulama ini, ulama di daerah lain justru mengharamkannya. Haramnya bekicot karena avertebrata ini dianggap menjijikkan. Ketika mentah berbau dan berlendir, hingga membuat jijik, setelah matangpun orang tidak bisa melupakan kesan jijik. Akan tetapi jijik adalah perasaan subjektif, sementara haram adalah hukum. Kalau orang tidak jijik dengan bekicot, apakah tetap haram? Beda halnya bila bekicot tidak memberikan manfaat bahkan merugikan kesehatan, karena Islam mengajarkan kita untuk hanya memakan makanan yang halal dan baik (halalan thoyyibah).

Selain bekicot, kita juga tahu di beberapa wilayah di tanah air ada makanan-makanan dari hewan yang bagi orang lain menjijikkan, namun sudah dikenal sebagai makanan penduduk lokal yang lezat dan bergizi. Cacing palolo dan cacing wawo di Indonesia Timur misalnya. Bagi yang suka menyantap teripang, rasanya akan geli kalau melihat bentuk aslinya ketika hidup – karena cukup menjijikkan.

Belakangan ini, dakwah seorang ustadz yang siaran di TPI tiap Minggu dan Senin juga mem-fatwakan syirik pada kalung dan gelang kesehatan, demikian juga hipnotisme (rupanya segala hal yang berupa hipnotis) yang dianggap sebagai sihir. Mungkin beliau tidak menyebutnya fatwa, tetapi karena keluar dari mulut seorang yang alim, sama saja artinya demikian.

Sang ustadz mengharamkan kalung dan gelang kesehatan berdasarkan pengamatan dan pengakuan jemaahnya. Semua data teknis diabaikan, karena dianggap bagian dari marketing semata. Logikanya, tidak mungkin kalung dan gelang itu bisa menyembuhkan penyakit, dan muatan energi di dalamnya hanyalah isu belaka. Sehingga, orang yang menggantungkan kesehatan pada kalung dan gelang itu dianggap telah syirik, karena mencari pemecahan masalah pada hal yang tidak logis dan tidak memberi faedah – dan itu sama dengan mencari jalan keselamatan kepada selain Allah.

Hipnotisme adalah sihir, kata beliau dan syirik dan dalam prosesnya selalu menggunakan bantuan mahluk Allah lain (maksudnya jin). Kalau dikatakan tidak menggunakan mantra, sang ustadz yakin itu BOHONG. Memang sekarang tidak pakai, tetapi ketika belajar dulu pasti menggunakan rapalan mantra. Semua penjelasan adanya manipulasi mental hanya rekayasa ucapan belaka, untuk menutupi sifat sihirnya.

Saya adalah orang yang mencoba menghormati ucapan seorang guru, atau ustadz, tetapi apa yang saya dengar dari ustadz tersebut bertanya tentang metodologi dan caranya membentangkan wawasan. Yang mash pula mengganjal d pikiran saya, sudahkah sang Ustadz ber-tabayyun, melakukan cross-check dan konfirmasi dengan benar dan objektif dengan pihak-pihak yang dituduh syirik tersebut?

Islam adalah agama akal, dan Al-Qur’an adalah samudra ilmu, yang belum semuanya tuntas diteliti. Maknanya, orang Islam diminta untuk berpikir dan terus memikirkan Allah serta penciptaan  langit dan bumi seraya berdiri, duduk, maupun berbaring. Penilaian sang ustadz yang mengunci fenomena kalung kesehatan dan hipnotisme dengan kata haram dan syirik – tanpa mengindahkan alasan apapun – membuat saya tidak nyaman. Sebab dengan demikian, kita sebagai jamaah sepertinya tidak boleh berpikir lain – tidak leluasa mengembangkan akal untuk menjajagi kemungkinan lain.

Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca, dikatakan bahwa otak manusia ini ibaratnya sebuah komputer raksasa, tetapi manusia paling banter hanya menggunakan 10% saja dari kapasitas otaknya. Bayangkan 10% saja, dan orang itu pun hanya Einstein yang dianggap orang tercerdas di dunia. Kalau kita, sebagai manusia biasa, mungkin hanya menggunakan 1 – 3 persen saja. Sama dengan kita beli komputer dengan spesifikasi tercanggih, yang sangat mahal, tapi ujungnya hanya digunakan untuk mengetik dan ber-internet, padahal di tangan orang lain komputer kita itu bisa untuk mengembangkan software dan menciptakan manfaat yang lebih baik. Intinya adalah, ada rahasia tentang otak kita yang belum dieksplorasi dan belum digunakan secara optimal.

Dari sumber resmi perusahaan yang memproduksi kalung kesehatan (yang diharamkan sang ustadz tersebut), saya membaca bahwa kalung itu bukan obat dan bukan penyembuh. Benda itu semacam komposit berbagai mineral yang berkemampuan memancarkan gelombang far-infra red. Far-infra red adalah sejenis gelombang cahaya matahari yang sangat bermanfaat bagi tubuh tetapi hanya muncul di kala Subuh dan hanya sekitar 1 jam saja. Gelombang FIR ini ditemukan bisa melancarkan peredaran darah sehingga meringankan beberapa jenis penyakit. Nah, ahli-ahli di Jepang menemukan campuran mineral yang bisa memancarkan FIR tsb, sehingga manusia bisa menikmati FIR sepanjang hari. Itu saja.

Memang sih, kalau kemudian kita lantas mendewakan kalung tersebut bisa berujung kepada kesyirikan. Kalau itu yang dimaksudkan sang ustadz, saya bisa menerima – sebab memang kita tidak boleh mendewakan apapun karena semua jalan kesembuhan adalah karena izin Allah Swt.

Saya bukan fans berat Rommy Rafael, dan tidak ada alasan bagi saya untuk membelanya. Saya pikir ada beda antara hipnotis ala ahli hipnotis ini dengan gendam yang adalah bagian dari praktik sihir. Saya masih yakin bahwa ada hipnotisme yang bisa dipelajari tanpa sihir dan untuk tujuan rehabilitasi kondisi mental. Kalau kita pernah mendengar hipnoterapi, adalah terapi penyembuhan melalui prinsip hipnotisme. Dengan latihan, orang bisa melakukan sugesti-sugesti yang konstruktif.

Coba sekarang anda bayangkan sebuah JERUK.

JERUK JERUK JERUK.

Ucapkan kata jeruk berulang-ulang dalam pikiran. Bayangkan buahnya di pikiran anda. Bayangkan buahnya secara tiga dimensi. Rasakan aromanya. Bayangkan rasanya.

JERUK JERUK JERUK.

Apa yang terjadi sekarang?

Mayoritas orang yang disugesti dengan jeruk tiba-tiba merasakan air liur di dalam mulutnya. Kenapa? Padahal tidak ada jeruk, selain jeruk dalam pikiran. Inilah yang disebut dengan kekuatan sugesti.

sesi hipnoterapi

Hipnoterapi bisa dipergunakan antara lain untuk terapi penyembuhan fobia, ketergantungan rokok atau narkoba, depresi, demotivasi, dsb dan tidak bertentangan dengan ajaran agama manapun.

Kalau hipnotisme diharamkan, saya khawatir para motivator dan fasilitator ESQ juga harus dilarang, karena mereka juga menggunakan cara-cara sugesti untuk meningkatkan kualitas diri individu pesertanya.  Menurunkan kesadaran ke level terendah, memasukkan kalimat-kalimat introspeksi dan motivasi, agar nanti setelah selesai individu menjadi diri yang lebih baik.

Kembali soal fatwa dan opini, sekarang ini saya paling mengagumi Ustadz Yusuf Mansyur, yang dengan semangat dan pengalamannya membuat kita berpikir positif tentang kehidupan, bergerak maju, dan menjadi diri yang lebih baik… dengan sedekah dan belajar menghafalkan Al-Qur’an. Ustadz satu ini tidak pernah saya dengar men-judge-ment orang lain, bahkan seringkali mentertawakan kekurangannya sendiri – sesuatu yang manusiawi.

Sekali lagi Islam adalah agama akal, dan karena meminta kita memikirkan alam semesta dan penciptaannya dengan akal berarti Islam adalah agama yang menjunjung tinggi perubahan dan pergerakan sosial, budaya, sains dan teknologi, serta evolusi pemikiran manusia itu sendiri. Kalau sudah demikian, alangkah baiknya bila kita tidak terjebak dalam judgement-judgement sempit yang justru akan mengerdilkan kapasitas otak kita. Akal berlandaskan Al-Qur’an, itulah akhlak Islam yang kita inginkan.

Islam mempunyai Ibnu Sina sang ahli kedokteran, Jabir Bin Hayyan sang ahli kimia, Al Kindi yang menguasai banyak ilmu… adalah sedikit contoh pendobrak jaman justru karena melampaui ukuran judgement sempit tadi. Sekarang ini, contoh kecil multi-disiplin yang dimiliki Indonesia adalah DR Moh. Saleh yang belajar di perguruan tinggi lintas disiplin ilmu dan berhasil menemukan hikmah sholat tahajud dari sudut agama, psikologi, dan kedokteran. Menurut catatan Abu Sangkan, orang seperti inilah yang memikirkan Allah dan penciptaan alam semesta saat berdiri, dengan duduknya, dan di kala berbaring (sesuai dengan bunyi QS Ali Imran 191).

Semoga bangsa kita senantiasa dirahmati Allah, dan berkembang menjadi bangsa unggul yang disegani. Amin.

GUS DUR dalam Majalah TIME

Posted in Biografi, Sharing with tags , on January 19, 2010 by hzulkarnain

Wolfowitz, mantan Dubes AS di Indonesia

Majalah Time edisi 18 Januari 2010 menyelipkan sebuah artikel pendek tulisan Paul Wolfowitz tentang Gus Dur yang dikenal dan dikenangnya. Paul Wolfowitz dulu pernah menjabat sebagai duta besar Amerika Serikat di Indonesia, dan lancar berbahasa Indonesia.

Wolfowitz mengisahkan bagaimana ribuan orang berjajar di jalan untuk berbela sungkawa atas meninggalnya Gus Dur, bahkan banyak yang terang-terangan menangis.

Di matanya, Gus Dur bukanlah seorang manajer, sehingga dia harus lengser dari kursi kepresidenan karena desakan parlemen. Tetapi Gus Dur adalah seorang visioner, dan sebagai Presiden beliau menanamkan sebauh visi tentang Indonesia (yang merupakan negara berpopulasi terbanyak ke-4 di dunia dan berpenduduk Muslim terbesar) yang menjunjung kebebasan beragaman dan hak asasi manusia.

Yang lebih penting lagi, sebagai pimpinan spiritual yang berasal dari NU, Gus Dur selalu melawan para fanatik yang dikatakan Gus Dur “membawa Islam menjadi sebuah dogma yang tidak toleran, penuh kebencian, dan pertumpahan darah.” Gus Dur mampu mengutip Al-Qur’an dengan hati untuk membela hak semua orang untuk mengikuti hati mereka dalam urusan agama, dan secara konstan bersuara atas nama kelompok minoritas yang teraniaya sekalipun hal itu mengancam popularitasnya.

Gus Dur mengatakan ingin nisannya nanti bertuliskan: DI SINI DIMAKAMKAN SEORANG HUMANIS. Dan memang begitulah dia. Dia dicintai jutaan orang, baik Muslim maupun non-Muslim. Dia adalah seorang pemimpin yang akan dikenang oleh dunia ini.