Archive for November, 2008

Terapi Shalat Tahajud – Rangkuman (4)

Posted in Kontemplasi, Psikologi, Sharing with tags , on November 26, 2008 by hzulkarnain

Rangkuman ke-4 dari buku Terapi Salat Tahajud (DR. Moh. Saleh)

Shalat Khusyuk

Niat  dan Ikhlas

a. Niat

Secara etimologis, niat berasal dari niyyah atau an-niyyah identik dengan al-qashad, as-‘azimah, al-‘iradah, alhimmah, yang mengandung pengertian: maksud, keinginan, kehendak, keinginan yang kuat , dan menyengaja.

Menurut Qardhawi, definisi niat dari berbagai ulama sbb:

  • Niat adalah kemauan yang kuat
  • Niat adalah tujuan yang terbetik di dalam hati
  • Niat adalah dorongan hati yang dilihat sesuai dengan tujuan, baik berupa rumusan demi mendatangkan menfaat atau menghindarkan diri dari mudarat, baik fisik – material maupun psikis – spiritual
  • Niat adalah tuntutan yang kuat
  • Hakikat niat adalah pengaitan tujuan dengan hal tertentu yang dituju
  • Niat adalah tujuan sesuatu yang disertai dengan pelaksanaannya

Niat itu wajib dalam ibadah, karena merupakan syarat sahnya suatu ibadah. Dalam masalah muamalah dan adat kebiasaan, jika bermaksud untuk memperoleh keridhaan Allah Swt dan mendekatkan diri kepada-Nya, diharuskan memakai niat. Sementara untuk meninggalkan perbuatan maksiat tidak dituntut adanya niat, begitu juga dengan upaya menghilangkan najis.

Mengucapkan niat tidak disyariatkan dalam Islam, kecuali yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah Swt  untuk: melaksanakan ihram haji, waktu akan menyembelih korban, atau hewan denda dalam haji.

Dalam Al-Qur’an, niat itu diungkapkan dengan kata-kata ikhlas dan mukhlish – yang berkaitan erat dengan niat ikhlas; sebagaimana tercantum dalam QS Al-Baqarah 22, Az-Zumar 2, Luqman 32, Al-Ankabut 65, al-Bayyinah 5. Sabda Rasulullah Saw: Tiap perbuatan hanya sah dengan adanya niat, dan tiap ornag akan mendapatkan imbalan sesuai dengan amalnya (HR Bukhari dan Muslim).

 

b. Ikhlas

Makna ikhlas adalah membersihkan sesuatu hingga menjadi bersih, membersihkan segala perbuatan dari ketidak murnian, termasuk apa yang timbul dari keinginan untuk menyenangkan diri sendiri dan mahluk lain, atau tujuan dari selain Allah Swt. Ikhlas adalah manunggalnya tujuan kepada yang Mahabenar dalam ketaatan.

Ahli tassawuf berpendapat bahwa ibadah yang diterima Allah Swt adalah ibadah yang dilakukan dengan niat ikhlas, bersih dari riyaa’ dan syirik. Ketidak bersihan tujuan dari syirik lahir dan batin (meskipun dari segi fisik/syar’i benar) menyebabkan tertolaknya ibadah oleh Allah Swt. Syirik dalam ibadah mencakup segala aspek yang memasukkan keridhaan dan kepuasan dari selain Allah Swt, entah itu dari diri sendiri atau orang lain. Jika itu untuk kepuasan orang lain disebut dengan syirik lahiriah, sementara bila untuk memuaskan diri sendiri disebut syirik batiniah.

Beberapa contoh syirik yang dimaksudkan oleh ahli tassawuf itu antara lain:

  • Ibadah yang dilakukan karena takut pada siksaan Allah dan mendambakan surga, bukan karena ikhlas mendapatkan keridhaan Allah.
  • Niatan shalat tahajjud karena ingin rezeki lebih banyak, bukan karena rindu ridha Allah Swt.
  • Niat bersedekah dan memberi santunan dengan harapan selamat dari bencana, bukan mencari ridha Allah Swt.

Sekalipun secara fikih sah, namun dari segi makrifat ibadah semacam itu tergolong tidak ikhlas karena dilandasi tujuan dan maksud duniawi atau mencari pemeneuhan kehendak nafsu duniawi.

 

Hakikat Khusyuk dalam Salat

Secara bahasa, khusyuk diartikan dengan tunduk, rendah hati, takluk, dan mendekat – hati maupun badan. Jika dikaitkan dengan suara berarti diam, jika dihubungkan dengan pandangan mata, berarti rendah. Menurut pengertian syariat, tunduk itu ada kalanya dalam hati atau dengan badan, seperti diam, atau keduanya.

Khusyuk bisa dibagi atas:

  1. khusyuk lahiriah, yakni melakukan gerak-gerik shalat dan ucapannya sesuai dengan tuntunan dan ajaran Rasulullah Saw;
  2. khusyuk batiniah, yakni melakukan sholat dengan hati penuh rasa harap, cemas, takut, merasa diawasi, dan suasana mendukung terciptanya pelaksanaan lahir batin.

 

Al Ghazali menjelaskan hakikat khusyuk:

(1)     Kehadiran hati;

(2)     Mengerti apa yang dibaca dan diperbuat;

(3)     Mengagungkan Allah Swt;

(4)     Merasa gentar terhadap Allah Swt;

(5)     Merasa penuh harap kepada Allah Swt; dan

(6)     Merasa malu terhada-Nya

 

Rasulullah Saw menyatakan bahwa khusyuk adalah pekerjaan hati, dan khusyuknya hati membawa kekhusyukan fisik, sehingga beliau sering berdoa dengan kalimat:”Ya Allah! Aku mohon perlindungan-Mu dari hati yang tidak khusyuk.

Para ulama berbeda pendapat tentang khusyuk dan sahnya shalat. Sebagian ulama sufi memasukkan khusyuk sebagai salah satu di antara syarat sah shalat, sementara ulama fikih memandangnya sebagai sunnah saja (artinya ketiaadan kekhusyukan tidak membatalkan shalat). Al-Qur’an sendiri membatasi kesuksesan orang beriman itu dengan kekhusyukan dalam shalatnya: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya (QS. Al-Mukminun [23]: 1-2).

 

Kalangan alim ulama memberikan rekomendasi agar mampu khusyuk sebagai berikut:

  • Ketika shalat, hendaklah merenungkan bahwa ia sedang berdiri di hadapan Allah Yang Mahakuasa, yang Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam pikiran dan hati;
  • Menghayati makna apa yang sedang dibaca;
  • Memasukkan arti tersebut ke dalam hati;
  • Tidak tergesa-gesa dalam ucapan dan amalan shalat;
  • Menundukkan muka ke tempat sujud;
  • Menjauhkan dari segala hal yang dapat mengysik ketenangan hati.

(to be continued)

Advertisements

Pelajaran dari Jibril

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags , on November 21, 2008 by hzulkarnain

 

manusia seperti buih di laut bila tiada panduan

manusia seperti buih di laut bila tiada panduan

Dari: Hadits Bukhari –Muslim

Pada suatu hari, Rasulullah Saw muncul di antara kaum muslimin.

Lalu datang seorang laki-laki dan bertanya: Wahai Rasulullah, apakah iman itu? Rasulullah Saw menjawab: Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kita-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya, dan kepada hari berbangkit.

Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? Rasulullah Saw menjawab: Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan shalat fardhu, menunaikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadhan.

Orang itu kembali bertanya: Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? Rasulullah Saw menjawab: Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu.

Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? Rasulullah menjawab: Orang yang ditanya masalah ini tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya. Tetapi aku akan ceritakan tanda-tandanya; apabila budak perempuan melahirkan tuannya, maka itulah salah satu tandanya. Apabila orang yang miskin papa menjadi pemimpin manusia, maka itu termasuk di antara tandanya. Apabila ada penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung. Itulah sebagian dari tanda-tandanya yang lima, yang hanya diketahui oleh Allah.

Kemudian Rasulullah Saw membaca firman Allah Ta’ala: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat;  dan  Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.  Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui  apa  yang  akan  diusahakannya  besok  . Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan  mati.  Sesungguhnya  Allah  Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Luqman 34).

Kemudian orang itu berlalu, maka Rasulullah Saw bersabda: Panggilah ia kembali! Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat seorang pun. Rasulullah Saw bersabda: Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia masalah dengan agama.

 

Rasulullah Saw membawa risalah yang meluruskan pandangan manusia terhadap apa yang haq dan bathil, agar manusia senantiasa berada di jalan kebenaran. Islam adalah ajaran yang sederhana dan membumi, menyederhanakan kepelikan berpikir ala jahiliyah tentang penyembahan kepada Tuhan pencipta alam semesta. Bahkan dalam Islam, seberapa khusyuk penyembahan kepada Allah dikembalikan kepada manusia sendiri.

Dalam hadits di atas, Rasulullah menyedehanakan definisi iman dengan indahnya. Sesungguhnya, manusia akan selamat bila mengimani segala hal yang gaib. Allah, malaikat, nabi dan rasul, esensi ajaran kitab, takdir, dan kiamat adalah segala hal yang gaib, dan kaum muslim wajib mengimaninya. Iman jauh berada di lubuk qolbu individu, sehingga keimanan erat kaitannya dengan hal-hal yang dipikir dan dirasakan oleh qolbu.

Sesungguhnya, dari masa ke masa, selalu ada manusia yang lisannya menyatakan keimanan, namun hatinya ingkar. Ketika dunia dan isi materinya menempati posisi lebih tinggi daripada prioritas Allah, itulah saat kekufuran terjadi. Ketakutan akan hilangnya duniawi menyebabkan manusia lantas meminta perlindungan kepada dzat selain Allah SWT. Melupakan esensi takdir, menisbikan kekuasaan Allah, dan sebaliknya mendudukkan kekuatan primbon, fengshui, atau keris pusaka di atas segalanya.

Islam adalah perilaku dan pelaksanaan kewajiban. Didahului dengan tahlil sebagai fundamental perilaku, Islam memerintahkan manusia untuk rukuk dan sujud 5 kali sehari semalam, puasa, zakat, dan pergi haji (bagi yang mampu). Dalam dunia yang modern dan serba instan ini, saat kecepatan seolah meninggalkan sisi religi manusia, betapa banyak pula manusia yang memisahkan Islam dari perilaku sehari-hari. Sholat ditinggalkan di rumah, atau hanya dilakukan seminggu sekali bahkan setahun sekali, puasa dengan enteng dibatalkan, dan zakat atau haji yang dilakukan demi status semata.

Esensi ihsan adalah komunikasi yang intens dengan dzat Allah, dan kesungguhan dalam beribadah semata untuk ketundukan dan ridha-Nya. Allah memang Maha Agung dan Pengampun, sehingga manusia senantiasa bisa mengharapkan ampunan dan pintu surga – selama kita kaum Muslim tidak mengingkari kalimat tauhid. Orang yang mencapai nilai ihsan adalah segelintir orang yang mampu bersujud dengan isak tangis karena takut pada hilangnya ridha Allah – dan itu tidak banyak yang mampu.

Semoga, pelajaran dari Jibril melalui risalah Rasulullah Saw senantiasa menjadi pedoman bagi saya, dan semua yang membaca catatan ini. Amin.

 

 

Maturity

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on November 17, 2008 by hzulkarnain

 

4personalities

kepemimpinan dan teamwork

Beberapa hari yang lalu, saya sempat diskusi dengan pimpinan departemen operasional berkenaan dengan promosi jabatan seorang staff di departemen tersebut. Pada intinya, beliau meminta saya berpendapat tentang calon yang akan dipromosikan tersebut, karena tugas saya antara lain adalah mengikuti perkembangan karyawan, termasuk karakter mereka.

Saya katakan,”Kalau saja calon ini punya kematangan kepribadian seperti sekarang, saya yakin dia sudah pantas menjadi supervisor sejak proses promosi sebelumnya.”

Pada sebuah level, kapasitas teknik seseorang bisa berimbang, dan penentuan karier berikutnya justru terletak pada kualitas non-teknis. Seorang CEO tidak harus menguasai semua bidang yang ada di organisasi yang di pimpinnya, namun ia harus bisa menguasai semua pimpinan departemen yang notabene ahli-ahli di bidangnya. Bila kapasitas teknis yang menjadi pijakan utama penentuan karier, sebuah skema jenjang karier tidak akan bergerak kemana-mana karena teknikalitas selalu berubah, bergerak, menjadi lebih kompleks.

Pimpinan departemen tersebut – seorang expatriate – lantas bercerita tentang sebuah point penting di masa lalunya. Dia masuk induk perusahaan tahun 1994 sebagai engineer, setelah sebelumnya bekerja di perusahaan lain (sebut X) sebagai engineer. Bersamaan dengan dia, rekan seniornya di X juga masuk sebagai engineer, dulu dia adalah asisten manajer dan usianya lebih tua. Selama beberapa tahun bekerja di perusahaan yang sekarang, kemampuan teknis expat yang bicara dengan saya itu meningkat lebih pesat daripada eks seniornya di X.

Empat – lima tahun kemudian, ada posisi lowong di level deputy manager dan keduanya dikandidatkan untuk promosi. Secara teknis, expat yang bicara dengan saya tersebut yakin lebih unggul, demikian juga para koleganya. Tetapi hasil akhir berkata lain, ia kalah karena kondisi yang diyakininya karena faktor non-teknis: maturity. Sebagai orang muda, umurnya belum lagi 35 saat itu dibandingkan dengan umur kandidat lain yang 5 tahun lebih tua, ia selalu berpikir progresif dan terlalu berani mengambil keputusan. Teman-temannya mendesaknya mempertanyakan keputusan manajemen tersebut pada BOD, namun ditolaknya karena ia tidak mau ramai.

Beberapa tahun kemudian, saat ia ditempatkan di Indonesia dan umurnya telah mencapau middle–age, ia bisa berpikir dengan lebih jernih: Di posisi manajemen sekarang, rasanya ia juga akan ngeri bila ada kandidat deputy manager yang terlalu berani mengambil keputusan, sementara nature bisnis tidak menghendaki hal tersebut. Ada kontrol diri yang menurutnya tidak sebaik sekarang. Di sisi lain, ia bersyukur saat itu ia memilih untuk “tidak mau rame”, dan menggantungkan ketidak puasan begitu saja. Kalau saja ia menuruti nasihat teman-temannya untuk memprotes BOD, mungkin karirnya sudah tamat saat itu juga, dan tidak ada peluang baginya dikirinkan overseas (yang bisa menjadi tiket promosi di induk perusahaan).

Apa kaitan antara kematangan kepribadian dengan promosi ke level posisi manajerial?

Secara unik manusia memiliki kecerdasan yang beragam, demikian pula karakternya. Sebenarnya tidak jelas kaitan antara usia dengan kematangan kepribadian, karena pada kenyataannya ada orang-orang yang tidak pernah matang sekalipun telah melewati usia tengah baya. Sebaliknya ada orang yang menunjukkan kematangan kepribadian, karakter yang terbentuk, di saat usia yang masih muda. Kematangan dibentuk oleh kemampuan serap seseorang pada segala pengalaman yang dimiliki, dan menjadikan tiap keping pengaalaman menjadi bagian dari karakternya.

Kepemimpinan, secara ilmu, bisa dipelajari. Tetapi, orang yang paham teori tentang kepemimpinan tidak otomatis jadi pemimpin yang baik. Ilmu agama bisa dipelajari, dan Al-Qur’an bisa dihafalkan, tetapi cukup banyak ustadz yang tersesat dan orang yang paham Al-Qur’an secara teori justru menjadikannya alat klenik.

Artinya, menjalani hidup berbekal ilmu jauh lebih utama daripada menimba ilmu sepanjang hidup tanpa pernah mencoba mengamalkannya dalam pengalaman hidup.

Pantaslah orang Amerika pada awalnya tidak percaya pada kemampuan Obama, karena ia adalah orang muda yang dianggap belum banyak pengalaman. Kandidat lain adalah seorang politisi kawakan, yang telah malang melintang di dunia politik bahkan sejak Obama masih kuliah. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya?

Dari beberapa debat yang ditampilkan, kelihatan jelas bagaimana seorang Obama yang dibesarkan secara multi rasial telah memilih yang terbaik dari dirinya dan segunung pengalamannya sebagai bekal menuju Gedung Putih. Sekalipun McCain jelas lebih banyak memiliki pengalaman hidup, ia tidak mampu memilah point terbaik sebagai senjata melawan “anak kemarin sore” yang brilian itu. Obama tidak pernah memandang negatif kehidupan, dan melihat kegagalan bukan kesalahan ras atau alasan tidak jelas lainnya. Ia tegas mengatakan, dalam video biografinya di acara Metro Files, kalau ia tidak bisa jadi Presiden pasti karena ia tidak mampu meyakinkan rakyat Amerika, atau rakyat Amerika tidak memahami apa yang dipikirkannya … bukan karena sebab lain.

Kematangan kepribadian bisa diibaratkan seperti penyaring atau filter yang memperhalus pengalaman hidup, menyingkirkan residu yang tidak bermanfaat, seraya mengelola sari kehidupan yang berguna untuk langkah kehidupan mendatang.

Bagaimana mengenali kematangan kepribadian?

Tidak ada yang mudah dalam mengenali kepribadian individu, kecuali kita cukup mengenal orang tersebut atau pernah bertemu dengannya sebelumnya. Artinya, untuk memahami kematangan kepribadian seseorang kita memerlukan:

  • Parameter kematangan kepribadian
  • Perbandingan dengan yang tidak memiliki kematangan.

Mungkin kita pernah mendengar orang menilai seseorang: sekarang dia telah banyak berubah, sesuatu yang menggembirakan. Maknanya, telah ada perkembangan kepribadian pada diri orang tersebut, yaitu pencapaian kematangan di level tertentu.

Seorang anak dikatakan telah semakin dewasa bila terlihat kematangan dalam membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu, yang membuatnya lebih bisa dipercaya.

Seorang karyawan yang telah bekerja di bagian produksi selama 10 tahun, telah banyak mengenal seluk beluk pekerjaannya, dan “dituakan” oleh operator lainnya, dianggap telah layak sebagai pengawas, dan karenanya dipromosikan sebagai supervisor.

Dua orang bersuadara, bersekolah di tempat yang sama, bekerja di tempat yang sama, belum tentu memiliki tingkat kematangan kepribadian yang sama. Itulah keunikan manusia, dan menjadikan manusia sebagai individu yang unik. Keunikan manusia menunjukkan bahwa manusia memang mahluk Allah yang paling sempurna.

 

3 Martir (?)

Posted in Sharing with tags on November 12, 2008 by hzulkarnain

 

jihad

atas nama Islam

 

Berbagai media massa tulis dan elektronik sempat terfokus pada issue eksekusi mati trio bom bali di LP Nusakambangan. Berbagai pro dan kontra telah merebak pada hari-hari menjelang hari H eksekusi tersebut. Yang lebih membuat perasaan sebagian umat Islam terhanyut pada issue itu adalah beberapa media massa elektronik yang seolah berlomba tidak ingin kehilangan moment penting. Minggu, 9 November 2008, eksekusi dilakukan setelah sehari sebelumnya batal karena hujan. Usai sudah episode kehidupan tiga manusia yang berstigma teroris (di satu sisi) dan syuhada jihad (di sisi lain).

Sebelum tertangkapnya Amrozy, yang disusul kedua orang lainnya, tidak ada yang secara khusus mengenal nama-nama: Amrozy, Mukhlas, dan Imam Samudera. Mereka mungkin hanya dikenal sebagai salah satu santri dan ustadz di antara ribuan bahkan jutaan yang berada di pesisir Utara Jawa. Pola pikir mereka lah yang membawa mereka pada suatu tindakan penting yang mengubah sejarah dan citra Islam bangsa ini.

Seikhlas apapun, kehilangan sanak kerabat selalu mendatangkan kepiluan. Itulah yang tertangkap pada raut muka, sikap, bahasa tubuh, hingga perilaku sanak kerabat ketiga orang tersebut. Kepiluan mereka antara lain dilampiaskan dengan memaklumkan ketiganya sebagai syuhada’ yang tentunya (dalam anggapan mereka) dijanjikan surga di kehidupan yang mendatang. Bagi kalangan tertentu, ketiganya adalah martir.

Dalam sebuah wawancara dengan sebuah televisi swasta, Mukhlas menegaskan bahwa sekalipun ia ikhlas menghadapi kematian ia tidak ridha dihukum mati. Bila pemerintah memutuskan hukuman mati atas dirinya, berarti pemerintah boleh dibunuh! Lama saya renungkan maksud ucapan orang ini, dan sampai sekarang saya tidak begitu memahaminya – kecuali saya memakai sepatunya.

Ekstrimitas pandangan dan pemikiran, inilah yang membuat Islam seolah-olah tempat yang tidak nyaman, dan bagi orang di luar Islam membentuk image yang tidak menyenangkan. Surga dan neraka, dua ujung yang menjadi penentu akhir kehidupan kelak. Jihad yang dimaknai sebagai hidup mulia atau mati syahid. Kedua konsep ini, yang nyata disebutkan dalam Al-Qur’an, menggiring sebagian kaum Islam hidup dalam kondisi yang eksklusif. Mereka berpikir orang di luar Islam adalah kafir yang jahiliyah, dan darah mereka halal karena dianggap musuh Islam. Bahkan dengan sesama Islam yang tidak segolongan pun mereka tidak segan mengkafirkan. Kuantitas mereka tidak sebesar orang Islam yang lebih moderat, namun mereka telah memberikan sebuah rona di wajah kaum Islam secara keseluruhan.

Meledakkan bom di sebuah lokasi umum yang cukup padat, dengan alasan “sumber kemaksiatan” atau “tidak Islami” menurut saya, bagaimanapun, adalah tindakan biadab yang jauh dari nilai-nilai Islam. Rasulullah SAW, sejauh yang saya baca dari tarikh beliau, tidak pernah membahayakan nyawa orang-orang yang tidak menjadi angkatan perang lawan, sekalipun kafir. Hanya orang-orang kafir yang berusaha menumpas Islam saja yang beliau perangi. Bahkan ketika terjadi sebuah perang di dekat Thaif, setelah tentara Islam menguasai Mekkah, pasukan Rasulullah dari Mekkah terdiri dari kaum Islam Muhajirin dan Anshar, serta kaum musyrik Mekkah yang juga meminjamkan persenjataan serta baju besi kepada Rasulullah. Bisa kita timbang, setelah Rasulullah menaklukkan Mekkah tanpa pertumpahan darah, tidak ada pemaksaan dalam beragama dan orang-orang kafir tetap ditoleransi selama tidak menentang dan mengkhianati kaum Islam.

Apa hanya karena orang Bali mayoritas bukan orang Islam dan Paddy’s Cafe dikunjungi mayoritas orang Australia, sehingga Amrozy cs boleh menganggap darah mereka halal?

Saya tidak berhak memastikan bahwa ketiga orang tersebut adalah pelaku bom bali yang mengerikan itu, dan saya hanya berasumsi merekalah yang melakukan sesuai dengan hasil persidangan yang memvonis hukuman mati. Namun demikian, bila memang benar mereka yang merencanakan dan memicu bom terkutuk itu, saya berhak mengatakan, ketiganya layak dihukum mati, karena telah menghilangkan nyawa orang lain secara berencana. Dalih apapun yang mereka jadikan pijakan, tindakan mereka adalah kebiadaban. Kalau keluarga mereka pilu melihat darah yang menetes akibat eksekusi ketiga orang tersebut, bagaimana pula perasaan 200 orang lebih yang mati dan cedera bahkan cacat tetap hingga tidak bisa mencari penghidupan dengan layak akibat ulah mereka?

Hidup mulia atau mati syahid menurut saya tidak identik dengan darah dan air mata. Bila kita berpegang pada firman Allah dan hadits Rasulullah, seharusnya kita memahami bahwa kemuliaan adalah bila kita bisa khusnul khotimah seraya menjunjung nama agama – bukan mencampakkannya ke selokan. Orang yang mulia adalah yang paling takwa, bukan yang rajin menghabisi nyawa orang lain (kecuali mereka beranggapan membunuh adalah salah satu jalan takwa). Sejak kecil, saya diajari bahwa jihad tidak selalu kekerasan dan pedang! Berjalan ke tempat kerja mencari penghidupan, belajar ilmu, melahirkan anak, dan semua perbuatan baik demi keluarga dan agama adalah jihad. Bila kita mati di sana, kita boleh berbangga diri. 

Saya bermimpi, suatu saat orang Islam khususnya di Indonesia bisa menunjukkan kapasitas dan kualitas sebagai pemikir yang sejati. Islam tidak lagi diidentikkan dengan pedang (sebagaimana dipelintir oleh sebagian kaum Nasrani), namun identik dengan karya besar kemanusiaan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat, para Imam, hingga ilmuwan hebat seperti Ibnu Sina. Sebenarnya Indonesia memiliki beberapa pemikir hebat baik yang masih hidup maupun telah wafat, dan semuanya membawa nama terang bagi kaum Muslim. HAMKA, M. Natsir, KH Agus Salim, Quraish Shihab, Jalaluddin Rahmat, hingga pakar ekonomi Islam M. Syafii Antonio. 

Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, mengapa tidak kita coba dudukkan bangsa ini di tempat yang layak sebagai mercusuar bagi bangsa lain, agar melihat kemegahan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Atas nama Islam, saya menuliskan catatan ini dengan keprihatinan. 

4 Tanda Muslim Yang Jahil

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags , , on November 10, 2008 by hzulkarnain

Suatu ketika anak saya bertanya, mengapa dia tidak punya nama keluarga, sementara beberapa temannya yang sama-sama orang Jawa punya. Saya, yang orang Jawa, tidak punya nama keluarga, sementara istri saya, yang orang Gorontalo, punya nama keluarga. Mengapa ada perbedaan itu?

Memang begitulah adat kesukuan di Indonesia. Orang Jawa pada umumnya tidak menggunakan nama keluarga, kecuali beberapa keluarga ningrat yang berusaha melestarikan nama tersebut. Beberapa suku di Indonesia juga tidak menggunakan nama keluarga, seperti Bali, beberapa kelompok suku di Sumatera, Sulawesi Selatan, Kalimantan, hingga Papua.

Kan asyik punya nama keluarga, jadi kita tahu siapa saja keluarga kita dan dari mana pertalian keluarga itu berasal. Kalau tidak ada nama keluarga, kita jadi bingung apa pertalian keluarga dengan seseorang tersebut. Demikian anak saya menyoal lebih lanjut, maklum dia sudah memasuki ABG dan begitu banyak hal yang mulai menarik perhatiannya.

Apapun suku kita, itu tidak bisa berubah sebagai kondisi yang “given”, dan kita harus menghabiskan seluruh hidup kita dalam naungan asal-usul tersebut. Di sisi lain, saya cukup bersyukur dilahirkan dari sebuah suku yang tidak menggunakan nama keluarga sebagai bagian dari nama, karena hal itu memaksa saya tidak bergantung pada nama keluarga untuk menjadi diri sendiri.

Saya pernah membaca sebuah hadits Rasulullah Saw yang berbunyi: “Empat perkara pada umatku dari perkara jahiliyah yang mereka tidak meninggalkannya, yaitu: membanggakan derajat keturunan, mencela keturunan, meminta hujan dengan binatang, dan meratapi mayat” (HR. Muslim). 

Membanggakan Keturunan:

Seringkali kita jumpai orang yang menyandang nama keturunannya dengan bangga, bahkan terlalu bangga. Ada juga yang tidak menyandang nama keluarga, hanya memakai bin nama bapaknya, tetapi punya kebanggaan yang serupa. Bangga pada asal-usul sah saja, namun terlalu bangga bisa menimbulkan permasalahan yang tidak perlu.

Rasulullah menekankan untuk tidak membanggakan derajat keturunan karena takaran kemuliaan manusia di mata Allah bukanlah karena dia anak siapa, tetapi siapa dia sebenarnya dan bagaimana tingkat ketakwaannya.

QS Al Hujuraat 13 berbunyi: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Dalam buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, dikisahkan bagaimana Rasulullah marah besar pada seorang sahabat yang memintakan keringanan hukuman atas seorang perempuan Mekkah yang kedapatan mencuri, hanya karena perempuan itu dari kalangan bangsawan (dan dikisahkan sudah beberapa kali lolos hukuman potong tangan karena status tersebut). Dari situlah kemudian muncul kata-kata Rasulullah yang populer: Seandainya anakku, Fatimah mencuri, akan aku potong tangannya. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak mendewakan asal-usul dan keturunan, dan tidak ada kaitan antara asal-usul keturunan dengan ketakwaan atau kesesatan seseorang.

Kalau kita kaji, sebenarnya sisitem politik monarkhi yang berkembang di Timur Tengah juga tidak diajarkan oleh Islam. Rasulullah tidak mewariskan posisi Khalifah kepada keturunannya, sehingga para sahabat secara demokratis memilih sahabat yang paling dipercaya. Oleh karena itu, sungguh mengherankan bila kekalifahan diidentikkan dengan kesultanan atau kerajaan, yang berarti mengagungkan keturunan.


Mencela Keturunan

Karena ukuran kemuliaan adalah ketakwaan, hendaknya manusia tidak mengaitkan cela orang tua pada anak-anak mereka begitu saja. Hanya karena izin Allah semata manusia lahir dan mencari penghidupan di muka bumi, sehingga tidak ada hak manusia menghakimi seseorang hanya karena dia lahir tanpa ayah, atau dari rahim seorang pelacur.

Pada jaman sebelum Islam hingga Rasulullah datang membawa Islam meluruskan segala aturan yang berlaku, begitu banyak perang antar suku karena soal pelecehan keturunan ini. Di masa sekarang, keturunan dianggap mewakili citra sebuah keluarga. Kesalahan yang dilakukan oleh orang tua menjadi stigma bagi anak-anak mereka. Apakah salah? Menurut saya manusiawi sekali.

Bayangkan anak atau keluarga kita punya pacar, kebetulan yang serius 2 orang. Keduanya sarjana, tapi yang seorang anak guru SMP, yang seorang lagi anak yang besar di panti asuhan dan tidak jelas keberadaan orang tuanya. Mana yang kita ijinkan serius dengan anak kita?

Sekalipun Islam menegaskan bahwa agama adalah faktor pertama dalam memperoleh jodoh, dan kemuliaan manusia diukur dari ketakwaannya kepada Allah Swt, pada kenyataannya masih jauh lebih banyak yang menempatkan parameter dunia di atas segala hal rohaniah tersebut. Orang Jawa punya jargon bibit, bobot, bebet sebagai kesatuan timbangan.

Bibit adalah darimana seseorang berasal, anak siapa, dari suku mana. Anak orang Batak sudah pasti keras dan (konon) boleh angkat kaki di depan mertua, kalau bapaknya kawin dua anaknya juga akan kawin dua, dan seterusnya. Bobot adalah timbangan personal orang tersebut, sarjana atau bukan, pintar atau tidak, priyayi atau bukan. Bebet adalah harta benda yang dimiliki. Orang Jawa suka calon menantunya +3, bolehlah kalau kurang satu asalkan bukan soal bibit.

Anak maling tidak otomatis menjadi maling, demikian juga anak pelacur. Mereka terbiasa melihat kehidupan maling dan pelacuran, dan mungkin jadi lebih permisif pada perilaku negatif tersebut karena dibesarkan di lingkungan itu. Seorang tumbuh menjadi maling atau pelacur karena pilihan hidup, bukan karena keturunan!

Meminta Hujan Dengan Binatang

Hujan adalah rahmat Allah yang dinantikan setiap kehidupan, apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah-daerah dengan debit curah hujan yang rendah. Di seluruh permukaan bumi, ‘kapan’ dan ‘bagaimana’ hujan turun tidak pernah sama, sesuai dengan firman Allah dalam Al-Furqaan 50: Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran ; maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari .

Apakah manusia selalu bersyukur dengan turunnya hujan? Tidak. Manusia diciptakan dan di-nash-kan sebagai manusia yang mengeluh bila merasa sengsara. Alih-alih mencoba memikirkan penciptaan di langit dan di bumi, manusia lebih suka meratapi dan mencela rahmat Allah tersebut. Kalau sudah waktunya hujan turun dan belum ada tanda-tanda akan turun hujan, manusia mengeluh. Bila hujan turun terus menerus di kala seharusnya sudah reda, manusia mengeluh.

Rasulullah mengajarkan kita umat Islam untuk memohon turunnya rizki berupa hujan dengan cara sholat istisqo’, tanpa perantaraan apapun. Allah menyuruh kita meminta langsung kepadaNya, dan menjauhi cara-cara syirik. QS Huud berbunyi: Dan : “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”

Apa yang dilakukan oleh orang-orang di sini dalam menghadapi kemarau panjang? Alih-alih melakukan tuntunan sholat minta hujan, di desa-desa justru dilakukan upacara bersih desa dengan mengorbankan sapi atau kerbau, atau mengadakan acara ritual minta hujan seperti “ujungan” (saling mencambuk hingga berdarah, namun karena ada kekuatan jin mereka tidak merasakan sakit).

Seolah-olah, mereka merasa nyaman dengan acara persembahan tersebut, dan hujan akan turun bila “Sang Penguasa” gembira dengan persembahan mereka. Sang Penguasa, dalam pengertian mereka, bisa jadi bukan Allah Swt, tetapi sebuah dzat yang dianggap perkasa dan bisa setiap saat mengancam jiwa mereka bila tidak merasa senang.

Meratapi Mayat

Kesedihan selalu menjadi bagian dari kematian salah seorang anggota keluarga, apalagi bila kematian tersebut mendadak. Sekalipun demikian, Islam melarang umatnya untuk meratapi jenazah seolah-olah tidak mengikhlaskan datangnya takdir Allah. Fenomena meratap, meraung, bahkan hingga pingsan ini masih sering kita jumpai, sekalipun orang yang pingsan tersebut paham soal agama.

Sedih atas kematian seseorang memang boleh saja, tapi kesedihan yang berlebihan sampai meratap dengan memukul-mukul badan, kepala, muka, menarik-narik rambut dan mengucapkan kata-kata yang menggambarkan tidak adanya rasa yakin atau percaya kepada Allah Swt merupakan sesuatu yang tidak bisa dibenarkan, karena itu, dala, kitab hadits Riyadush Shalihin, Rasulullah Saw menganggap orang seperti itu sebagai orang yang bukan umatnya, beliau bersabda yang artinya: “Bukan dari golonganku orang yang memukul-mukul pipi, merobek saku dan menjerit dengan suara kaum jahiliyah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pada beberapa suku di Indonesia, meratapi jenazah adalah kultur untuk menunjukkan kesedihan yang mendalam. Bagi yang bukan menjadi bagian dari kultur, meratapi orang yang meninggal sebenarnya meragukan kasih sayang Allah. Allah telah menetapkan hidup dan mati manusia, dan semua sisi kehidupan adalah ujian, agar manusia lebih bertakwa dan menjadi orang yang lebih baik.

Orang yang menangisi orang yang meninggal secara berlebihan sebenarnya takut akan datangnya hari esok tanpa orang yang telah pergi tersebut, karena takut tidak bisa memperoleh rizki dari Allah. Padahal rizki dari Allah dipastikan dari jalan-jalan yang tidak terduga.

Agar jauh dari tindakan jahiliyah, kita harus mengenalnya, sebagaimana pesan Umar Bin kaththab: ‘Kalau engkau hendak menghindari jahiliyah, kenalilah jahiliyah itu’. 

Obama Presiden AS ke-44

Posted in Sharing with tags on November 5, 2008 by hzulkarnain

 

 

Barack Obama

Barack Obama

 

Posting ini saya upload karena moment ini adalah bagian dari sejarah sebuah bangsa. Tidak rugi rasanya hari ini, Rabu 5 November 2008, menghabiskan waktu sepagian di depan televisi, sembari menghabiskan sisa cuti, karena saluran informasi lokal dan dunia bersamaan menyiarkan moment bersejarah di Amerika Serikat. Di Indonesia ada Metro TV dan TvOne, sementara ada juga CNN dan BBC yang tak kalah intens. 

Amerika Srikat mengukir sejarah yang akan menjadi bagian penting perubahan bangsa ini ke depan. Untuk pertama kalinya, seorang keturunan kulit hitam berhasil memperoleh kepercayaan dari warga negara tersebut menjadi presiden yang ke-44.

Kemenangan Obama yang sudah diprediksikan sejak awal, bagaimanapun tetap sungguh fantastis! Progress bar CNN belum menunjukkan angka 70% penghitungan, Obama sudah bisa mendeklarasikan diri sebagai Presiden Amerika Serikat terpilih yang baru, dan pesaingnya John McCain sudah harus mengucapkan selamat kepadanya. Pada prosentase tersebut, Obama sudah mengantongi 338 electoral votes dibandingkan dengan McCain yang baru 155. Prasyarat untuk terpilih sebagai Presiden adalah 270 electoral votes. Hal ini sungguh luar biasa karena dalam berbagai polling sebelumnya yang dilansir berbagai media di Amerika Serikat proyeksi kemenangan Obama dari 100% pemilih hanya unggu 7% di atas McCain. Hasil akhir dari CNN menunjukkan bahwa Obama dipilih oleh 56 juta lebih rakyat Amerika (52%) sementara John McCain dipilih oleh 51 juta lebih (47%).

Massa Partai Demokrat dan berbagai simpatisan Obama yang berjumlah ribuan memadati lapangan terbuka Grant Park Chicago, home base kubu Obama, di akhir musim gugur, bercampur baur antara tua muda, berbagai warna kulit, termasuk Oprah Winfrey dan Pendeta Jesse Jackson yang tak kuasa menahan haru atas kemenangan Obama ini. Suasana yang ditampilkan sedemikian guyub, penuh keharuan, tertib, dan antusias. Berkali-kali mereka meneriakkan slogan: Yes We Can!

Yang lebih menyentuh adalah pidato pertama yang diucapkan Senator Obama beberapa saat setelah pidato pengakuan kekalahan John McCain. Kalimat pembukaan sang Presiden terpilih adalah penggaris bawahan bahwa kekuatan demokrasi telah menjawab semua keragu-raguan bahwa Amerika Serikat adalah tempat segala mungkin terjadi, dan cita-cita para bapak bangsa masih ada.

Dengan segala kerendahan hati Obama menunjukkan dan menyatakan dengan tegas bahwa ini adalah kemenangan ”kalian semua”. Kampanye Obama awalnya tidak berdana besar dari gedung megah di Washington, melainkan dari halaman-halaman belakang di Des Moines, ruang tamu di Concord, atau teras rumah di Charleston, dan semua bekerja keras mengumpulkan $5, $10, dan $20. Obama mengatakan bahwa, ia tahu bahwa semua pendukungnya melakukan hal tersebut bukan semata-mata ingin menang pemilihan, dan tahu bahwa semua dilakukan bukan untuk dirinya. Kerja keras itu dilakukan karena tahu besarnya masalah yang ada di depan mata. Sekalipun malam ini ada perayaan, tantangan yang dibawa hari esok adalah hal terbesar di sepanjang kehidupan – dua perang: planet yang sedang terancam dan krisis financial terburuk di abad ini.

Obama juga menekankan bahwa perubahan yang akan dilakukan adalah demi anak-anak yang menjadi masa depan bangsa.

Sekali lagi, Obama telah membuktikan bahwa keragu-raguan saya dan banyak orang keliru. Menyitir kata-kata beberapa kritikus, who guessed that skinny boy with funny name will be successful as the President of the United States?

Selamat Obama!

Strategi Nanny 911

Posted in Psikologi, Sharing with tags on November 3, 2008 by hzulkarnain

 

 

 

Nanny Yvonne, Nanny Deb, Nanny Stella

Nanny Yvonne, Nanny Deb, Nanny Stella

Sekali lagi saya ingin mencatat kondisi yang menarik dari acara reality show Nanny 911 yang istimewa ini, karena sarat dengan pelajaran. Mungkin budaya di sini dengan Amerika berbeda, namun manusia selalu memiliki berbagai kesamaan sehingga banyak hal yang bisa kita adopsi untuk mendidikan anak-anak kita.

Dari berbagai episode Nanny 911 tampak jelas adanya pembagian wilayah keahlian para Nanny di Nanny Central. Setelah menyaksikan cuplikan adegan dari keluarga yang memanggil bantuan ke Nanny Central, diskusi singkat di antara mereka menjelaskan pembagian keahlian tersebut. Pemberi komentar pertama hampir dipastikan adalah Nanny Deb, yang tampaknya figur senior di sana. Setelah semuanya berkomentar, keputusan pun diambil oleh Nanny Lilian selaku pimpinan Nanny Central

Apa yang didiskusikan secara singkat tadi?

Di awal, kita melihat kesamaan gejala dari kasus yang dihadapi para orang tua: perilaku liar yang tidak terkendali, emosi yang meledak (temper tantrum), dan kekacauan di dalam rumah.

Sudah pasti, team Nanny 911 telah memasang berbagai kamera tersembunyi di berbagai sudut rumah yang diperlukan, agar cuplikan perilaku dan komentar anak, perilaku dan komentar orang tua, serta semua hal yang terkait bisa memberikan cerita yang cukup komprehensif.

Saya perhatikan, pada dasarnya masalah dalam rumah tangga yang bisa menyebabkan salahnya pengasuhan pada anak disebabkan oleh 3 hal penting:

  1. Pola pikir orang tua yang keliru, menyebabkan pola pengasuhan yang keliru. Misalnya, orang tua merasa bahwa anak-anak tidak bisa berpikir sendiri, oleh karena itu pendidikan di rumah harus bergaya militer. Orang tua merasa tidak berdaya menghadapi ulah kenakalan anak-anaknya karena merasa mereka terlalu rapuh untuk memperoleh disiplin.
  2. Hilangnya respek di dalam rumah, akibat perilaku orang tua yang tidak terstruktur dengan baik, sehingga lambat laun membentuk perilaku anak yang tidak saling respek. Berteriak di dalam rumah, tidak mau berbagi, saling memaki atau mengejek, hingga emosi anak yang tidak terkendali karena tidak mau tidur atau makan.
  3. Tanpa sadar, kebiasaan orang tua yang tidak terorganisir membentuk perilaku anak yang juga tidak terorganisir. Pada umumnya, tidak adanya organisasi di dalam rumah ini ditandai dengan kondisi rumah yang tidak terorganisir, tidak sedap dipandang, bahkan mungkin berbau tidak sedap pula.

 

Dari semua Nanny yang tergabung dalam Nanny Central, Nanny Deb lah y ang paling berpengalaman dan ahli dalam menangani pola pikir orang tua yang keliru. Tugas ini tergolong paling berat karena mau tak mau harus melakukan konfrontasi langsung maupun tak langsung dengan orang tua, dan meluruskan cara berpikir mereka. Langkah meluruskan pola pikir ini berat karena seringkali menyangkut past experience orang tua, dan mereka sudah terbiasa berpikir dengan cara seperti itu. Tanpa ini, orang tua tidak akan pernah bisa melihat akar permasalahan yang dihadapi anak-anak mereka. Bila sudah tidak bisa melihatnya, bagaimana mereka akan bersikap kooperatif dan menjadi katalisator perubahan pada diri anak-anak mereka.

Dalam sebuah episode dikisahkan orang tua yang merasa kewalahan menghadapi anak-anak yang sepertinya susah diatur. Sebelumnya, ayah yang bekerja di rumah sementara ibu bekerja di luar. Tetapi setelah anak-anak (1 anak adopsi berumur 5 – 6 tahun dan anak kembar berumur 3 tahunan) agak besar, peran dibalik dan Ibu harus tinggal di rumah.

Sang Ibu merasa tidak mampu seperti sang ayah, yang sama sekali tidak mengeluh dan menuntaskan semua pekerjaan dengan baik. Sang Ibu hampir menyerah, dan memanggil suaminya pulang untuk menangani rumah.

Masalah ini diselesaikan Nanny Deb dengan konsep: Lakukan yang terbaik, dan yakinkan diri bahwa menangani anak-anak bukan beban segunung di atas pundak. Tidak perlu mengimitasi 100% cara sang ayah menangani anak, kendalikan dengan cara benar yang dikuasai. Jadi yang jadi masalah di sini adalah kurangnya kepercayaan diri, dan tidak terbiasanya Ibu menangani anak, kemudian sebelum melakukan tugas sudah lebih dahulu tidak pe-de.

Pengasuh kedua, yakni Nanny Stella, sangat tegas dalam pendisiplinan anak dan memiliki begitu banyak cara untuk membuat mereka menjadi tertib. Pengasuh ini tidak sebagus Nanny Deb dalam mengkonfrontir orang tua, namun lebih kaya dalam ragam stimulus-response serta reward-punishment pada anak. Kunci utama yang diajarkannya pada orang tua adalah: respek dan konsisten. Sekalipun pada anak, orang tua harus bersikap hormat (respek), sebab penghormatan akan membentuk perilaku yang sama dari lawan bicara.

Saya ingat pada sebuah film klasik Amerika yang dibintangi Sidney Poitier berjudul to Sir With Love. Bahkan film ini dibuat kelanjutannya, dan ada beberapa versi yang mirip dengan film tersebut. Inti dari film ini adalah mencari respek dari orang lain dengan terlebih dahulu berperilaku respektif. Sang guru yang negro, diperankan oleh Sidney Potier, selalu berpenampilan necis, dengan jas dan dasi, setiap kali mengajar. Ia tidak pernah memanggil nama depan muridnya, misalnya John atau Mary, melainkan selalu dengan sebutan santun Mr. Baxter atau Miss Davis. Suasananya memang formal, namun hal itu menggugah semua siswa di dalam kelas untuk saling formal dan respek.

Apa ada gunanya? Seluruh siswa diajak bereksperimen di luar gedung sekolah. Seorang siswa kulit putih dan seorang lagi yang berkulit hitam diminta menyapa seorang perempuan tengah baya untuk mencari arah.

Sang siswa kulit putih dengan gaya khas anak muda yang “urakan” mendekati dan mencoba bertanya, namun ditanggapi secara negatif. Perempuan tengah baya itu bahkan menyingkir dan mengancam akan melaporkan hal ini pada polisi.

Sang siswa kulit hitam berbuat sebaliknya. Dia menyapa:

Excuse me Maam, saya Trent dari SMA X. Saya ingin ke gedung opera, bisakah Ibu tunjukkan arah menuju ke sana?”

Siapapun akan menurunkan tingkat kecurigaan pada kata-kata respektif sekalipun diucapkan oleh kaum minoritas dan dikenal biasa dengan kekerasan. Respek akan selalu berbuah respek, cepat atau lambat.

Bandingkan dua perintah ini:

“Andi, ambilkan piring di dapur, taruh di meja ya. Awas jangan jatuh!”

“Andi Mama minta tolong diambilkan piring di dapur, hati-hati ya berat. Terima kasih, darling!”

Nanny ketiga yang bernama Yvonne jarang sekali diturunkan, karena dia secara terbatas hanya memiliki kekuatan dalam mengelola skedul kegiatan keluarga. Sang Nanny diturunkan tatkala masalah yang terjadi diidentifikasi sebagai dis-organisasi keluarga.

Sebuah episode yang menugasi Nanny Yvonne menggambarkan keluarga yang tidak memiliki organisasi jelas, dan membiarkan apa saja keluar masuk rumah. Di dalam rumah ada piaraan berkeliaran, termasuk babi, bahkan sebuah ruangan disediakan untuk sang babi. Karena dianggap kandang babi, tentu saja ruang kosong itu penuh dengan potongan koran. Makan malam tidak di meja, bahkan anak-anak dibiarkan makan dari piring kucing. Lebih dari itu, anak-anak dibiarkan bermain dengan air toilet, menjilati buku yang telah direndam air toilet, dan makan makanan kucing / babi.

Sang Ibu tahu bahwa ia mengasuh anak seperti kebun binatang, namun baru sadar bahwa binatang piaraan bisa berbahaya bagi anak-anaknya ketika sang babi yang dibiarkan berkeliaran di rumah hampir menyerang anak.

Dengan strategi seperti itu, Nanny Central hampir selalu bisa menyelesaikan waktu 1 minggu penugasan dengan baik. Dikatakan hampir karena ada yang bisa selesai dalam waktu 1 minggu, ada yang baru mulai menunjukkan hasil setelah 1 minggu, namun ada yang gagal. Gagal? Bagaimana bisa?

Dalam sebuah episode, diindikasikan bahwa masalah yang terjadi adalah masalah respek dan cara mendidik anak yang kurang efektif. Oleh karena itu, Nanny Central menugasi Nanny Stella. Sang ayah adalah sipir penjara, sementara istrinya adalah ibu rumah tangga biasa, dan mereka menikah dengan posisi sang istri sudah punya 3 anak.

Dalam perjalan kasus, barulah Nanny Stella mendapati kenyataan bahwa masalah yang terbesar ternyata bukan pada anak dan efektivitas pendidikan di rumah. Anak-anak tidak pernah bisa respek pada orang lain, dan pendidikan di rumah menjadi tidak efektif karena pla pikir sang Ibu yang keliru. Sang ayah sudah berusaha keras mengarahkan anak-anaknya dengan benar, dan cukup bisa menunjukkan hasil, namun sang Ibu tidak pernah mendukung.

Ketika sang ayah berusaha mendisplinkan anak, sang Ibu mementahkan upaya sang ayah. Akan tetapi sang Ibu tidak pernah bisa mendisiplinkan anak karena anak tidak pernah respek padanya. Kebiasaannya sehari-hari, bila tidak mengantarkan anaknya keluar adalah duduk di sofa dan ngemil, sehingga badannya membengkak. Ia jadi malas bergerak, dan hanya berteriak-teriak dari sofa untuk menenangkan anak-anaknya. Kalaupun keluar dari sofa, ia menggunakan tenaganya yang besar untuk mengendalikan anak.

Selain itu, si Ibu terbiasa untuk menutup-nutupi kekurangannya dengan berbohong. Ia akan dengan tegas mengatakan bahwa anak-anaknya tidak bermasalah, baik, dan manis. Selain itu, ia sama sekali tidak mau melihat masalah dalam dirinya, dan menganggap dirinya adalah ibu yang baik. Bila sudah seperti itu, bagaimana mungkin ia bisa menerima saran dari orang lain? Pada akhirnya, Nanny Stella berinisiatif “meninggalkan” sang Ibu dalam mendisiplinkan anak, dan membuat sang aya lebih dominan dalam skema tersebut.

Seharusnya, yang lebih cocok diturunkan di sana adalah Nanny Deb. Sekalipun tidak ada jaminan akan berhasil juga, Nanny Deb jauh lebih arif dalam memilih kata untuk mengkonfrontir kata-kata pembelaan diri sang Ibu yang tidak bisa melakukan refleksi diri.

Sekali lagi, Nanny 911 sungguh tontonan yang menuntun.