Archive for October, 2009

Milestone bagi Bangsa

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags on October 28, 2009 by hzulkarnain

Catatan Akhir Oktober 2009

Setelah bulan lalu umat Islam menandai kalender dengan tanggal merah Idul Fitri, pada akhir September bangsa ini menerima pertanda merah dari alam dengan guncangan lebih dari 7 skala Richter – tepatnya di sekitar kota Padang. Akibatnya, sepanjang awal Oktober ini bangsa Indonesia disibukkan oleh penyaluran bantuan moril, materiil, langsung maupun tidak.

Seperti sebuah ledakan di dalam (implosion) yang dahsyat, gempa tektonik Sumatera Barat tersebut merontokkan berbagai bangunan besar dan kecil tanpa ampun, dan karena terjadi pada jam-jam sibuk, semua orang yang sedang beraktivitas di dalam gedung langsung terjebak di dalamnya. Sebagian bisa diselamatkan, tetapi masih tidak terhitung yang hilang dan mungkin tidak pernah diketemukan lagi di bawah puing-ping.

Sedikit ke luar kota Padang, sebuah desa kelihatan mengenaskan – dan mengerikan – karena nyaris tergusur bukit yang longsor. Penduduk desa yang tersisa seperti berada dalam mimpi buruk, karena mungkin hampir semua kerabatnya mati seketika dan dirinya sebatang kara dalam sekejap. Di luar radius terdekat dari Padang, guncangan seperti tidak terlalu memberikan dampak yang terlalu signifikan. Bukit Tinggi, Tebing Tinggi, dan daerah lain yang cukup jauh dari Padang tidak menerima dampak yang terlalu signifikan.

Solidaritas rakyat Indonesia diuji lagi, dan tampaknya dorongan untuk bersedekah kepada saudara sebangsa yang sedang kesusahan masih sangat menonjol. Penggalangan oleh stasiun televisi (on air maupun off air), media massa cetak, radio, dan berbagai lembaga kemanusiaan lain secara berjamaan berhasil mengumpulkan ratusan milyar rupiah untuk menolong korban gempa Sumbar tersebut.

Catatan lain di bulan ini adalah pelantikan Presiden terpilih 2009 – 2014 Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Boediono, serta pemilihan anggota kabinet pemerintahan. Seperti diduga banyak pengamat politik, partai yang mendukung SBY dalam Pemilu Presiden memperoleh jatah menteri di pos-pos yang diduga maupun tidak. Kaum teknokrat yang handal masih dipertahankan, termasuk ekonom kelas dunia Mari Elka Pangestu dan pemikir ekonomi yang tidak membosankan dilihat Sri Mulyani. Muh. Nuh, mantan Menkominfo yang pernah menjabat sebagai Rektor ITS Surabaya, dan dalam kinerjanya sebagai menteri membuat kementrian yang dipimpinnya tidak lagi dipandang sebelah mata, digeser menempati posisi yang lebih prestisius: Menteri Pendidikan Nasional.

Yang menarik adalah lengsernya Siti Fadillah Supari dari jabatan Menteri Kesehatan, sekalipun sebelumnya banyak yang meyakini dia akan dipertahankan SBY – karena kinerja positifnya dan kemampuannya berdiri dengan lantang membela hak-hak negara dunia ketiga atas virus yang diambil dari negara-negara ini. Ia berseteru dengan NAMRU dari AS yang diketahuinya sudah tidak mempunyai izin beroperasi di Indonesia. Menjadi jauh lebih menarik ketika ternyata SBY justru mengangkat Endang Rahayu Sedyaningsih yang pernah diangkat dan dimutasikan dari jabatan peneliti utama di Depkes, dan dikenal dekat dengan NAMRU.

Tak ubahnya seperti berita gosip ala selebritis, kondisi ini terus menerus menjadi bahan berita media televisi dalam negeri. Baik mantan Menkes maupun pejabat baru sama-sama diwawancarai untuk menemukan titik temu, namun lagi-lagi keesokan harinya muncul berita serupa yang bermuatan sama sekali sama. Bahkan lebih keji, kemudian disebutkan bahwa Menkes kita ini dulu pernah menyelundupkan virus ke luar negeri. Benar-benar sebuah pelintiran, benar-benar penguasaan power atas kata yang abusive.

Belum lagi bergerak, sebuah isu baru menerpa dari kalangan kabinet, yakni pemikiran (atau permintaan – kurang jelas) bahwa gaji para menteri yang akan bekerja ini dinaikkan. Kontan berbagai komentar bermunculan dari petinggi partai yang berkiprah di DPR, dan tentu saja mayoritas menilai bahwa para menteri itu keterlaluan dan tidak sensitif. Padahal, kalau dipikir lebih jauh, para menteri tersebut jumlahnya hanya sekitar 30 – 40 orang, membantu Presiden mengurusi 200 jutaan penduduk Indonesia. Rasanya siapapun mereka, dengan kesibukan 24 jam seperti itu, cukup pantas menerima penghargaan gaji yang besar. Kita harus ingat, bahwa sekarang bukan jaman Orde Baru yang penuh dengan kebocoran. Para Menteri harus bergaji tinggi agar mereka kecukupan dan tidak berpikir aneh-aneh tentang jabatan mereka. Presiden sudah berjanji dan sudah memulai langkah pemberantasan korupsi, karenanya tidak layak bila kita meragukan komitmen figur yang telah kita pilih untuk memimpin bangsa ini selama 5 tahun ke depan.

Di akhir Oktober, bertepatan dengan dua pekan pertama bulan Dzulqo’dah, jamaah calon haji Indonesia mulai memadati asrama haji untuk secara bertahap diberangkatkan ke tanah suci Mekkah. Isu pemondokan dan transportasi masih mengemuka, namun menteri agama yang baru dan segenap jajaran yang megurusi haji telah berjanji untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada kafilah yang sampai di sana. Memang mungkin tidak mudah, tetapi semua selalu ada waktu dan caranya. Kita yang belum berkesempatan untuk pergi menunaikan rukun Islam yang ke-lima itu hanya bisa berharap semoga mereka pulang kembali ke tanah air sebagai haji-haji yang mabrur. Amin.

Sebuah catatan penting juga adalah kian senyapnya gaung peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang jatuh pula di bulan ini. Pertanyaan yang kemudian lazim terlontar adalah, apakah gerakan yang menjadi cikal bakal kebangkitan pemuda Indonesia ini akan semakin kehilangan makna?

Beberapa hari yang lalu, masih di seputar saat pelantikan anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, KNPI Maluku menggagas unjuk rasa yang berakhir ricuh karena secara kesukuan mereka merasa dianak tirikan. Pelopor unjuk rasa mengatakan, propinsi lain bisa menempatkan 2 hingga 3 menteri di kabinet, tetapi mengapa tidak ada satupun putra Maluku yang diangkat jadi menteri. Saya yakin, kecemburuan tersebut dipicu naiknya beberapa nama yang berasal dari Sulawesi ke jajara menteri.

Nasionalisme adalah harga mati untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa, karenanya layaklah bila semangat tersebut senantiasa dikobarkan. Mungkin Kementrian Pemuda dan Olahraga perlu menjadi katalisator dan fasilitator bangkitnya semangat nasionalisme ala awal abad XX silam tersebut. Semoga kesempitan dalam berpikir tidak menghambat bara nasionalisme di hati kita.

Advertisements

Sang Menteri…

Posted in Sharing with tags on October 24, 2009 by hzulkarnain

Garuda1Seminggu terakhir ini – sejak hari Sabtu minggu lalu – adalah hari-hari yang melelahkan secara mental bagi beberapa politisi, teknokrat, dan team sukses SBY yang diproyeksikan sebagai menteri dalam jajaran Kabinet Indonesia Bersatu II. Sedikit berbeda dengan era Orde Baru, calon menteri yang dipanggil dan diwawancarai oleh SBY dan Boediono ternyata tidak selalu dipastikan menjadi menteri.

Seperti biasa, kalau ada perhelatan seperti ini para komentator politik jadi laris di media massa elektronik maupun cetak. Bukan sekedar berkomentar, bahkan ada yang dengan nyinyir mencela pemilihan orang yang mereka anggap tidak kompeten di bidang yang akan ditempati para menteri baru tersebut. Mungkin benar bahwa posting menteri yang berasal dari partai politik koalisi Partai Demokrat memang cukup kental bernuansa politis dibandingkan pertimbangan profesional, akan tetapi pada kenyataannya Presiden juga tidak gegabah menempatkan personalia menteri yang akan membantunya.

Beberapa profesional tetap dipertahankan di posisinya semula, beberapa yang lain digeser ke kantor yang berbeda, pos “aman” diserahkan ke menteri dengan kapabilitas yang belum teruji, “ikan besar” di-posting ke posisi yang prestisius, dan seterusnya. Seperti itulah Presiden mengotak-atik sususan nama yang masuk ke kantongnya untuk menjadi barisan lengkap yang baik. Sebelum tanggal 22 malam yang menjadi hari penentuan, banyak spekulasi yang berterbangan di layar kaca, namun pada akhirnya cukup tepat. Pembaca dan pemirsa media massa mau tak mau megikuti perkembangan dari Cikeas.

Beberapa profesional senior tetap menempati posnya masing-masing, seperti Djoko Kirmato, Sri Mulyani, dan Mari Elka Pangestu. Yang hanya bergeser ke kantor lain, bisa disebutkan Hatta Radjasa, Fredi Numberi, Muhammad Nuh, dan Purnomo Yusgiantoro. Tokoh penting yang masuk dalam susunan baru di posisi cukup penting seperti Agung Laksono. Petinggi partai yang diberi posisi “aman” bisa disebutkan seperti Muhaimin Iskandar sebagai Menakertrans, dan Tifatul Sembiring sebagai Menkominfo. Profesional yang baru dimasukkan ke dalam jajaran kabinet juga ada, sebut saja Marty Natalegawa yang selama ini dikenal sebagai Dubes Indonesia untuk PBB. Sebuah nama yang sudah diumumkan menjadi calon menteri, tetapi kemudian ternyata tidak lulus fit & proper test adalah Nila Juwita A Moeloek, dokter spesialis mata yang digadang sebagai Menteri Kesehatan.

Sejumlah pengamat langsung bereaksi. Beberapa masih akan menunggu kelanjutan kinerja menteri yang ditunjuk Presiden, sementara yang lain langsung mengeluarkan nada minor atas beberapa nama. Yang paling eksplosif tampaknya adalah mantan Menkes Siti Fadillah Supari, yang ternyata tidak jadi digantikan oleh Nina Moeloek, karena penggantinya adalah orang yang pernah “dikotakkan”-nya sehubungan dengan kasus virus H5N1. Kabarnya, Endang Rahayu Sedyaningsih pernah membawa sampel flu burung ke Hanoi tanpa sepengetahuan Menkes, dan itu ditengarai berkaitan dengan keterlibatnnya pada NAMRU (Naval Medical Research Unit) milik Amerika. Jadi, pengangkatan Endang sebagai Menkes dianggap sementara pengamat sarat bermuatan kepentingan dengan AS.

Bagi saya, yang lebih menarik adalah ekspresi orang-orang yang akhir diumumkan menjadi menteri. Kebanyakan akan segera mengucapkan hamdalah, mengangkat tangan, dan menerima salam dari rekan dan kerabat yang “kebetulan” nonton bareng pengumuman di rumah mereka … dengan wajah sumringah. Bahkan Patrialis Akbar yang diangkat menjadi Menteri Hukum dan HAM langsung sujud syukur mengekspresikan kegembiraannya.

Yang berbeda adalah Tifatul Sembiring yang diangkat sebagai Menkominfo menggantian Muhammad Nuh (yang sekarang menjabat sebagai Mendiknas). Begitu diumumkan, yang dilakukannya hanya berdiri, mengangkat kedua tangan, dan berucap: Inalillahi wa ina illaihi rooji’uun…. Saya menarik napas terharu melihat keikhlasan Pak Tifatul dalam menerima amanah.

Sebuah jabatan adalah percayaan dan amanat, bukan hadiah. Bila hadiah adalah hak mutlak si penerima begitu berpindah tangan, sementara amanat harus dijalankan dengan baik atau akan diambil kembali oleh si pemberi. Orang akan memperlakukan sesuatu yang disebut dengan hadiah dan amanah secara berbeda.

Saya hanya berharap, sekalipun para menteri tersebut berucap hamdalah, namun di hati mereka tetap menganggapnya amanah, karena tujuan akhir sebuah amanah adalah kemaslahatan bagi umat manusia.

Selamat bekerja Bapak dan Ibu Menteri Kabinet SBY, semoga kalian amanah dan Allah senantiasa memberikan panduan bagi kebaikan manusia Indonesia. Amin.

Istri dalam Bahtera Rumah Tangga

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags on October 17, 2009 by hzulkarnain

Peran dan fungsi laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga berubah dan bergerak dari masa ke masa, maupun dari sebuah kelompok budaya ke kelompok budaya yang lain. Masyarakat Minangkabau, Jawa, Bali, Papua, Eropa, masing-masing punya nilai dan karakter kultur yang beragam. Di beberapa tempat perempuan memiliki tempat yang setara dengan kaum laki-laki dalam mencari nafkah. Di tempat yang lain, kaum perempuan memiliki kuasa atas jalur kekerabatan, dan di beberapa tempat yang belum berkembang, perempuan adalah follower tanpa suara.

Apapun modifikasinya, sebenarnya Allah Swt telah menurunkan penetapan yang disebutkan dalam QS. An-Nisaa 34.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka  atas sebahagian yang lain , dan karena mereka  telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

mengarungi bahtera dengan senyum dan ikhlas...

mengarungi bahtera dengan senyum dan ikhlas...

Allah menetapkan laki-laki sebagai pemimpin bagi kaum perempuan, karena memberikan kelebihan pada mereka. Akan tetapi, dengan sunatullah tersebut bukan berarti sang pemimpin boleh bertindak sekehendak hati. Kedua belah pihak harus saling menjaga dan memelihara karena suami adalah pakaian dari istrinya, demikian pula istri adalah pakaian bagi suaminya. Karena merupakan pakaian, sudah selayaknya keduanya saling bertugas untuk menjaga kehormatan pihak yang lain.

Sekalipun rasanya terlalu menyudutkan, kaum perempuan sudah seyogyanya mengikhlaskan sunatullah ini dalam menjalankan kehidupan, karena justru dengan melakukannya surga akan dijanjikan bagi mereka. Keharmonisan rumah tangga, dan terbentuknya generasi muda Islam justru berada di tangan kaum perempuan sebagai Ibu. Mungkin kaum laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga, tetapi sebenarnya kaum perempuanlah yang menjaga keutuhan keluarga, dan terbinanya anak-anak menjadi orang shalih dan shalihah.

Dalam sebuah tuntunan, beberapa hal yang harus diperhatikan bila perempuan berkeinginan menjadi istri yang terbaik dalam rangka membentuk baity jannaty:

  1. Taat kepada suami selama bukan untuk kemaksiatan. Termasuk di antaranya menolak tidur dengan suami bila hal itu merupakan kesalahan besar yang harus dihindarkan
  2. Istri yang ideal menurut Islam harus mampu memadukan 3 hal:
    1. Membahagiakan suami bila suami melihatnya
    2. Menaatinya bila suami menyuruh,
    3. Tidak menentang keinginan suami
  3. Izin suami harus didapatkan bila seorang istri berniat:
    1. untuk berpuasa sunnah
    2. untuk bepergian
  4. Mendahulukan hak suami atas orang tuanya sendiri, dan Allah akan megampuni dosa-dosa istri tersebut. Termasuk pula meminta ridho suami, karena ridho suami menjanjikan surga bagi istri
  5. Menjaga kehormatan dan harta suami
    1. Tidak mencemarkan dan memburuk-burukkan suami saat tidak sedang bersama suami
    2. Tidak menerima tamu tanpa suami, atau bercengkerama dengan laki-laki lain tanpa mengindahkan keberatan suami
    3. Menjaga harta suami dengan amanah, tidak meminjamkan milik suami, bahkan hanya menyedekahkan harta  dengan seizin suami
    4. Hanya menjawab seperlunya bila orang bertanya tentang suami
    5. Tidak bercerita tentang masalah seksual atau masalah di antara suami-istri kepada orang lain
  6. Menjaga keharmonisan
    1. Berhati-hati dengan pembelanjaan dan keuangan keluarga, dan tidak meminta tambahan bila tidak perlu sekali
    2. Terbuka, mengakui bantuan kepada orang lain
    3. Berhati-hati saat menyampaikan masalah, namun harus tetap mendiskusikannya di saat yang tepat
    4. Memelihara rumah dan menjaga isinya
    5. Berbicara penuh perhatian pada suami, dan menghindarkan adu argumentasi
    6. Menunjukkan kasih sayang pada suami secara terbuka di rumah, dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya
  7. Menjaga silaturahmi dengan kerabat suami

Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah tidak meminta cerai tanpa alasan yang kuat, dan bila suami meninggal harus berkabung selama 4 bulan 10 hari.

Sekalipun Islam menempatkan laki-laki sebagai pemimpin bagi istrinya, tidak berarti tugasnya menjadi lebih ringan. Tidak berarti pula tugas istri yang dominan berada di rumah juga lebih ringan. Ringan atau beratnya tugas masing-masing pihak dalam menjalankan sunatullah harus dilaksanakan dengan baik dan benar, maka akan terasa lebih ringan. Bila salah satu sudah menyalahi tugasnya, maka tugas pihak lain akan menjadi lebih berat.

Tugas suami adalah menjadi tulang punggung keluarga dan mencari nafkah. Ia harus menghabiskan kehidupan di luar rumah untuk mengais rizki Allah, sehingga larut malam baru bisa kembali ke rumah untuk beristirahat. Ia mengemban amanah untuk mencari penghidupan bagi keluarganya. Sayangnya, tidak semua orang punya semangat yang besar untuk menjadi teladan keluarga, sehingga rizki Allah justru menjauh. Bukannya mencari nafkah, malah berjudi. Bukannya bekerja keras, malah “kloyongan” tak menentu. Bila sudah demikian, istri yang seharusnya menunjang tugas suami dalam membina rumah tangga harus ikut mengorbankan waktu untuk mencari nafkah.

Sama halnya bila seorang istri tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik sebagai istri di rumah, misalnya karena sibuk dengan kariernya di luar rumah. Dampaknya adalah anak-anak yang tidak terurus dengan benar. Kalau sudah demikian, suami harus ikut memikirkan perkembangan anak dengan serius, bahkan mungkin terjun langsung . di era modern ini, semakin jamak dijumpai suami yang justru melakukan tugas istri karena ketidak adaan istri di waktu dan tempat yang dibutuhkan. Di kalangan selebritis juga semakin jamak dijumpai istri yang menggugat cerai pada suami, dengan alasan yang kadangkala tidak masuk akal. Bukan sekedar meminta cerai, tetapi juga bicara lantang di media massa. Nauzubillahi mindzalik…..

Bila sudah bicara tentang sunatullah, tidak ada menang maupun kalah. Yang adalah fungsi dan tugas yang harus dijalankan, agar keluarga bisa memperoleh kebarokahan. Ujungnya adalah rumah yang seperti surga … baity jannaty … insyaallah.

Orang yang Cerdas, Orang yang Mengingat Mati

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on October 5, 2009 by hzulkarnain

Pada hari Jumat minggu lalu, saya membaca sebuah pikiran yang menarik dalam buletin Jumat Al-Qalam. Judulnya pun cukup menggelitik: Mengingat Negeri Akhirat.

Di sekitar 1 Syawal tahun ini, begitu banyak kejadian yang mencoba menggugah kesadaran kita akan kematian, yang merupakan sebuah keniscayaan. Pada minggu terakhir ramadhan, seorang teman yang sedang beristirahat di klinik perusahaan karena sejak pagi merasa tak enak badan, tiba-tiba meninggal saat dalam kondisi berpuasa. Di media massa, elektronik dan cetak, diberitakan berbagai tragedi kecelakaan yang menghapuskan ratusan nyawa dalam ribuan kejadian kecelakaan – hanya sekitar 1 Syawal saja. Yang paling baru, pagi ini ada kabar seorang karyawan perusahaan sebelah meninggal di tempat kejadian akibat kecelakaan lalin. Konon, melibatkan sebuah truk. Suami korban tidak banyak menderita luka fisik, tetapi korban yang di boncengan justru fatal. Kejadian inilah yang menggugah saya menuliskan pikiran saya terkait dengan isi buletin Jumat minggu lalu tersebut.

qanaah - ikhlas menjalani hidup dengan takwa

qanaah - ikhlas menjalani hidup dengan takwa

Setiap kematian selalu meninggalkan duka, khususnya bagi yang ditinggalkan. Tangisan yang mengiringi kepergian sang mayit ke alam barzah, sejatinya adalah tangisan untuk diri sendiri. Sang mayit sudah putus hubungan dengan dunia, namun kepergiannya membuat orang-orang yang ditinggalkan harus mencari penyesuaian diri – dan kadangkala hal itu sungguh sulit. Istri yang ditinggalkan suami, anak yang ditinggalkan ayah, anak yang ditinggalkan ibu, kematian anak laki-laki sulung tulang punggung keluarga, dsb. Bandingkan dengan orang yang tidak punya ikatan emosional dengan si mayit – berduka mungkin tetapi meratapi tidak.

Kematian adalah kepastian, hanya waktunya yang tidak pernah pasti pada tiap-tiap orang. Tugas manusia, khususnya mereka yang berkeluarga, adalah mempersiapkan mental dan materi bagi mereka yang ditinggalkan serta mempersiapkan bekal spiritual untuk dijadikan teman perjalanan ke alam barzah. Memang Allah Maha Kuasa dalam merawat tiap manusia sepeninggal tulang punggung keluarga, namun membentuk masa depan anak, serta mempersiapkan mereka untuk menjadi orang yang lebih baik. Kepahitan yang dirasakan atas sebuah kematian merupakan hal yang wajar, namun Islam juga melarang orang untuk meratap. Ratapan yang berlebihan seperti hendak menunjukkan bahwa kita – yang manusia serba tak sempurna ini – tak rela pada garis ketentuan Allah, dan tidak meyakini bahwa Allah sanggup memelihara kita …

Dalam hadist Ibnu Majah, dikisahkan oleh Ibnu Umar ra, ketika sedang duduk bersama Rasulullah Saw ada seorang Ashar yang bertanya pada beliau:

–         Wahai Rasulullah, mukmin yang seperti apakah yang paling utama?

–         Yang paling baik akhlaknya.

–         Mukmin seperti apakah yang paling cerdas?

–         Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk sesudah kematian itu, merekalah ornag-orang yang cerdas.

Para ulama berkata: Sabda rasulullah Saw yang berbunyi “Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian)” merupakan kalimat ringkas yang menggabungkan peringatan dan nasihat. Maka, orang-orang yang teringat kematian dengan sebenarnya pasti akan mengurangi nikmatnya keindahan dunia yang dia rasakan, dan menghalanginya untuk berangan-angan yang tak berujung, serta membuat dia bersikap zuhud terhadap kenikmatan dunia yang semu.

Barang siapa yang suka mengingat hal kematian, akan diberikan kemuliaan dengan 3 perkara: segera bertobat, hati yang bersifat qonaah, dan rajin dalam beribadah. Sebaliknya, mereka yang melupakan datangnya kematian, akan disiksa dengan 3 perkara: menunda-nunda tobat, tidak ridha dengan menahan diri, dan malas dalam beribadah.

Urusan manusia di dunia selesai ketika ajal menjemputnya. Semua hal yang belum dilaksanakan di dunia tidak bisa lagi diulang. Begitu juga semua keburukan yang telah dilakukannya. Hanya ada 3 hal yang akan membantunya nanti di alam barzah yakni: amal jariyah, ilmu yang manfaat, dan doa anak yang soleh. Sekurangnya, inilah yang perlu dipersiapkan manusia sebelum mereka mati. Sayangnya, ketiga hal inipun tidak mudah diraih, tanpa kesadaran penuh bahwa ketiganya teramat penting sebagai bekal spiritual ke alam selanjutnya.

Betapa banyak dari kita yang enggan memakmurkan masjid, dan tidak suka menanamkan sedekah yang terus menerus dimanfaatkan orang untuk beribadah. Ilmu yang dimiliki justru dipergunakan untuk mengeruk keuntungan, tanpa memperdulikan halal-haram. Akhirnya, Allah menguji dengan pasangan yang mandul, bermasalah dengan kandungan, dan sulit memperoleh anak. Akan tetapi, hal itu tidak menggerakkannya untuk menyantuni anak-anak yatim.

Mengingat hal kematian adalah bersegera memohon ampunan, merapatkan jarak antara sholat dengan memperbanyak sholat sunah. Lapang dan ridha adalah dua kata untuk menggambarkan hati orang yang qonaah, menyerahkan semua urusan sulit pada Allah setelah mengupayakan solusi, dan berprasangka baik kepada Allah dengan ketawakalan sepenuhnya. Esensi bersyukur adalah banyak-banyak melaksanakan perintah dan menjauhi segala yang dilarang oleh agama, dan agar yakin pokok panduan dalam hidup hanyalah firman Allah (Al-Qur’an) dan sunnah Rasulnya (hadist).

Tidak ada manusia yang sempurna, dan dilahirkan dalam kesempurnaan. Seorang yang maksum seperti Rasulullah pun selalu belajar dan memperbaiki diri, apalagi kita yang hanya manusia biasa – tempat khilaf dan keliru. Artinya, bila sekarang kita keliru, itu manusiawi – tetapi sudah pada tempatnya lah kita mencoba terus memperbaikinya dan selalu menjadi lebih baik. Nikmat dunia ini sungguh menghanyutkan, dan manusia sungguh cepat terbuai di dalamnya, meskipun sebenarnya semuanya semu. Yang kita lihat gemerlapan di dunia ini, tidak akan ada nilainya kelak di padang mahsyar … karena kita kembali menjadi tanah tidak membawa apapun selain amal perbuatan dan ketakwaan yang kita benihkan di dunia.

Mari kita bertanya pada diri sendiri, termasuk dalam golongan manakah kita? Orang yang diberi kemuliaan dengan 3 perkara: ingin segera bertobat, hati yang qona’ah (menerima apa yang dimiliki dengan ikhlas), dan tekun beribadah – atau sebaliknya, ingin bertobat tetapi tidak merasa perlu sekarang (menunda-nunda), ingin mereguk nikmat dunia terus menerus, dan tidak merasa perlu bersujud kepada Allah Swt?

Dunia adalah ladang menanam benih. Marilah kita menanam benih yang benar dengan cara yang benar, agar kelak yang kita tuai adalah kebaikan dan kemuliaan. Amin.

Lebaran Lagi, Kerawanan Lalu-Lintas Lagi ….

Posted in Kontemplasi with tags on October 1, 2009 by hzulkarnain

Catatan akhir September 2009

Taqabalallahu mina wa minkum … minal aidin wal faidzin 1430 H…. mungkin kalimat-kalimat penuh kerahmatan itu yang sering kita dengar di penghujung bulan September ini, seiring dengan datangnya hari kemenangan bagi segenap kaum muslim di Indonesia – bahkan seluruh dunia.

Setiap bangsa punya fenomenanya sendiri dalam menyambut hari besar keagamaan, seperti halnya orang-orang di pulau Jawa atau yang berasal dari Jawa dalam menyambut datangnya hari raya Idul Fitri, yaitu mudik. Di daerah lain, sekalipun meriah, Idul Fitri tidak menciptakan kehebohan seperti di Jawa. Mudik adalah fenomena, dan seiring dengan kian maraknya urbanisasi mudik juga menjadi lebih massive.

Sudah ada sekian banyak wacana yang terkait dengan upaya mengatasi ekses fenomena mudik ini, namun sejauh ini tidak memberikan dampak yang signifikan. Mudik selalu identik dengan: kemacetan lalu-lintas, pelanggaran lalu-lintas, kecelakaan lalu-lintas, resiko tidak terangkut kendaraan umum, keterlambatan tiba kembali di tempat kerja, penurunan produktivitas, kriminalitas di tempat-tempat yang tidak berpenghuni maupun di atas kendaraan umum, dan banyak lainnya. Tahun ini, angka kematian di jalan raya akibat kecelakaan lalu lintas ditengarai meningkat, baik karena infrastruktur yang kurang baik maupun disebabkan kelalaian personal

Pemerintah sudah melarang operasional truk non-sembako sekian hari sebelum hari H Idul Fitri. Kekuatan armada bus dan kereta api ditambah oleh kemudahan dari pemerintah. Ribuan kilometer jalan sudah diperbaiki sejak sekian bulan sebelum puncak mudik Lebaran. Satpol PP dan kepolisian berjaga di titik-titik rawan kemacetan, seperti pasar tumpah yang serng terjadi menjelang Lebaran. Himbauan melalui media massa tak kurang-kurang untuk berhati-hati. Pengelola bus ditekan keras untuk memperketat pengamanan, selain pemberlakuan batas bawah dan atas tarif demi kenyamanan penumpangnya.

Pihak swasta yang mencoba mengeruk keuntungan dari para pemudik, sebenarnya juga turut andil dalam upaya penurunan tingkat kecelakaan di jalan raya. Kita lihat ada pos-pos istrirahat yang dibuat produsen mie instan yang menyediakan produk gratis siap santap, minuman energi, operator telepon seluler, termasuk layanan bengkel mobil dan motor sesuai dengan merk.

Di sisi lain, kerawanan tertinggi tampaknya justru disebabkan oleh aspek mental pemudik, khususnya keperdulian mereka terhadap safety. Kalaulah mereka (anggap saja sepasang suami istri) sudah mengenakan helm untuk berkendaraan roda dua (crashed helmet), ternyata mereka membawa dua anak kecil yang tanpa helm. Sudah bukan keanehan lagi bila ada sebah keluarga bersepeda motor pulang ke kampung dengan anak-anak mereka di antara bapak dan ibunya, dan seorang lagi di depan sang bapak. Betapa miris perasaan ini tiap kali berita tentang kecelakaan yang dialami kendaraan beroda dua, dan ironisnya yang menjadi korban justru anak-anak. Bukan itu saja, di belakang masih ada lagi tas besar yang mungkin berisi pakaian mereka selama di kampung. Bermotor selama mudik bukan sekedar menghemat ongkos di jalan, tetapi juga kepraktisan selama di sana. Kalau ada motor, silaturahmi lebih mudah dilakukan.

Dari release MetroTV, Menhub menjelaskan bahwa korban tewas turun sekitar 50%, tetapi korban luka dan luka berat naik hingga 40%. Secara umum, kecelakaan masih merupakan kerawanan yang sangat besar pada masa menjelang, selama, dan pasca Lebaran. Jumlah kecelakaan mencapai 1500 kejadian, dengan korban jiwa sekitar 700 – 800 jiwa.

Dalam sebuah ulasan reportasenya, TV-One menuding pemerintah harus bertanggung jawab pada tingginya angka kecelakaan lalu-lintas tersebut. Menurut saya, hal itu kurang bijak dilakukan oleh sebuah media massa. Pemerintah sudah berusaha, utamanya pada infrastruktur dan struktur jaringan transportasi. Sisanya, masyarakat dan individu harus turut berpartisipasi dalam mengupayakan kenyamanan dan keselamatan perjalanan. Fenomena pasar tumpah penyebab kemacetan, ngantuk di jalan, kerusakan mesin kendaraan, hingga kelalaian hingga pengendara motor terlindas truk, tentu saja di luar jangkauan tangan pemerintah – karena bagaimanapun pemerintah punya keterbatasan.

Fenomena terakhir yang sudah hampir dipastikan terjadi pada akhir minggu pasca Lebaran adalah volume kendaran bermotor yang tumpah ruah di jalan utama antar kota, yakni arus balik. Kalau arus muduk sudah cukup menyumbat berbagai jalan raya, arus balik yang memuat jutaan orang yang sebenarnya bepergian dengan enggan lebih menghabiskan energi. Kalau memungkinkan, banyak karyawan yang menunda kepulangan kembali ke tempat kerja agar memperoleh angkutan yang lebih lapang. Apa daya … tempat kerja sudah memanggil-manggil, sekolah sudah hampir dimulai, jadi mau tak mau arus balik harus ditunggangi.

Semoga tahun ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua, agar lebih arif dalam menyikapi mudik tahun depan. Mudik adalah fenomena yang selalu ada, tidak bisa dihapuskan begitu saja, namun dengan pengaturan yang lebih seksama insyaallah bisa lebih menyenangkan dan aman bagi keselamatan jiwa.