Archive for May, 2010

Justin Bieber?

Posted in Biografi, Kisah with tags , , on May 29, 2010 by hzulkarnain

Herdian Zulkarnain

Anak saya yang belum lama genap 12 tahun dengan excited mengabarkan bahwa bintang tamu American Idol result show menjelang pengumuman kontestan yang akan masuk finale di tv kabel Star World adalah Justin Bieber. Beberapa hari sebelumnya, waktu dia mengeluh soal pulsa pada Ibunya, dia bilang harus menabung untuk beli CD Justin Bieber. Nama itu pun beberapa kali terdengar di antara ABG seumur akhir SD atau awal SMP.

Bayangan saya, Justin Bieber ini adalah pemuda akhir belasan atau awal dua puluhan seperti saat Justin Timberlake muncul, handsome, flamboyan, dan atletis khas American boy, dengan penampilan panggung yang meruntuhkan hati gadis-gadis. Jadi, ketika Ryan Seacrest mengumumkan nama Justin Bieber, saya menyiapkan diri untuk melihat a new Justin Timberlake. Tapi … jelas saya terperangah!

Justin Bieber @ Time Magazine

Justin Bieber ternyata tidak seperti Timberlake, bahkan tidak seperti bayangan saya tentang seorang superstar yang dipuja gadis-gadis ABG. Seorang bocah laki-laki bertubuh sedang, bahkan tergolong kecil saat saya tahu umurnya sudah 16 tahun, dengan rambut lebat pirang kecoklatan menutup dahi, bernyanyi dengan sederhana, dan menurut saya tidak waww… Wajahnya yang baby-face manis, imut, dan likeable, tapi petang itu di panggung American Idol kelihatan agak tegang. Yang menarik di penampilan kedua adalah saat ending lagu, dia mengambil alih drum dan membuat closing yang menawan.

Pikiran saya, dia adalah bintang di film-film remaja seperti Miley Cyrus, mantan model anak-anak, mungkin keluarga bintang, atau kondisi lain yang memberikan keuntungan Bieber sejak awal.

Di majalan Time edisi pertengahan Mei, ternyata ada feature tentang si Justin Bieber ini (dan saya baru tertarik membacanya saat dia muncul di panggung American Idol result show). Bieber ternyata bukan produk reality show atau talent show seperti American Idol, bukan mantan model anak-anak, bahkan tidak pernah ikut audisi komersial apapun. Pendek kata, Justin Bieber awalnya bukan siapa-siapa bagi warga Canada, apalagi Amerika. Tapi, Justin Bieber punya seorang ibu (Pattie Mallette) yang single parent, yang bangga dengan bakat anaknya itu. Mereka tinggal di kota Stratford Ontario, Canada.

Mallette punya kebiasaan mem-posting video Bieber di You Tube untuk disaksikan para kerabat yang tidak berkesempatan menontonnya secara langsung saat ia tampil di panggung talent show lokal, atau sedang menyanyi di rumah. Bieber bisa menyanyikan pop dan R&B dengan baik, lagu-lagu Alicia Keys, Stevie Wonder, dan semacamnya, dan dia bisa menyanyikannya dengan baik. Sangat baik. Tak mengherankan, dalam hitungan bulan videonya di internet telah disaksikan ribuan orang.

Kehidupan Bieber berubah di tahun 2007 itu juga, saat Scooter Braun – seorang promotor dan manajer musik di Atlanta – yang sedang browsing internet menemukan Bieber sedang menyanyikan lagu Aretha Franklin “Respect”. Dalam pikiran Braun, inilah bakat alam yang akan bersinar. Dua minggu kemudian, ia membelikan tiket bagi Bieber dan Ibunya ke Atlanta, dan menjadi manajer Bieber.

Tampaknya, Braun menyukai potensi internet dan menjadikannya basis utama membangun fans. Bieber mem-posting lagu baru, lalu menunggu reaksi dan pesan dari fans dan berinteraksi dengan mereka. Bieber memperlakukan mereka dengan bersahaja seperti teman biasa, mudah dikonta

idola ABG

, dan menyapa fans dengan masing-masing nama. Twitter follower-nya mencapai 2.2 juta, dan ia terbiasa me re-tweet mereka.

Sebagai penulis lagu (ini rupanya bakat istimewa yang tidak banyak dimiliki penyanyi muda), Bieber mempunya dua kekhususan: lagu balada lembut tentang perceraian orang tuanya, dan semacam cinta monyet bergairah yang biasa dialami remaja – dan bisa ditilik dari judul-judul lagunya: “U Smile”, “First Dance”, “One Less Lonely Girl”.

Justin Bieber merupakan satu-satunya artis yang punya 4 lagu hit tanpa pernah me-release album sebelumnya. Lagunya “My World” ditonton oleh 50 juta pelanggan You Tube dan salah satu yang paling banyak didiskusikan. Konsernya kemana-mana, dan fans-nya adalah gadis-gadis ABG yang menganggap kesederhanaan dan wajahnya yang manis berbeda dengan kebanyakan artis. Seorang gadis penggemar bernama Alicia Isaacson (13) dari Long Island berkomentar, “He’s so sweet. He’s not like every other guy who is just like, ‘Ugh, whatever.” Muncullah istilah baru di kalangan penggemarnya: ‘Bieber Fever’ atau ‘Biebermania’.

Justin Timberlake ingin berduet dengannya, demikian pula Usher. Kata Usher,”Dia menyanyi dan bermain gitar untukku, dan aku seperti … wow … anak ini bahkan punya bakat melebihi aku di usianya.” Bintang R&B ini pun segera melakukan kerja sama bisnis dengan Braun (manajer Bieber), yakni kontrak yang segera direalisasi dengan Def Jam Record.

Justin Bieber & Usher

Di luar panggung yang riuh, Bieber mengaku, “I am really tired. Right now, my schedule is just go,go,go. Sometimes I just wan to sleep.” Bahkan sore itu latihan hanya dilakuakn setengah karena sudah tidak mempunyai energi lagi. Akan tetapi, begitu di panggung lagi, tanda-tanda keletihan itu hilang, dan dia menguasai panggung dengan bertenaga. Lagi-lagi,di menit-menit awal hanya suara teriakan penggemar yang memenuhi ruangan.

Justin Bieber adalah fenomena baru bisnis musik di Amerika, dan tampaknya tidak akan mengherankan bila akan banyak orang yang mencoba mencari peruntungan dengan mengunggah video mereka di You Tube.

Ternyata You Tube dan website video lain bisa sangat positif bila tak disalah gunakan untuk penyebaran pornografi. Sebuah era baru dalam mempromosikan talenta personal …. dan dunia ini memang tidak lagi bulat (the world is flat) …. nice!

Advertisements

Membingkai Kebenaran

Posted in Kontemplasi, Psikologi with tags on May 19, 2010 by hzulkarnain

Herdian Zulkarnain

Siapa yang belakangan ini bisa mengatakan hal yang benar dan tidak? Media massa, khususnya televisi, membuat orang terengah-engah mengikuti arus informasi yang berputar cepat. Hal yang kemarin dianggap kebenaran absolut, sekarang berubah. Yang belum terlihat sebagai master mind kejahatan, ternyata tidak sebesar itu. Sekarang, semakin kabur kebenaran, dan kian tidak jelasnya cerita yang membingkainya, semakin suka pula lah media.

Kebenaran punya dua sisi, absolut dan nisbi. Sisi absolut kebenaran tidak menarik untuk dibahas, karena cepat atau lambat ia akan tampil dengan wajahnya sendiri. Tuhan itu ada dan melakukan penciptaan-penciptaan agung, itu kebenaran absolut. Orang atheis boleh membantah, boleh berteori lain, tetapi pada akhirnya konsep mereka hilang ditelan waktu. Di luar itu, semua kebenaran lainnya bersifat nisbi. Sekalipun kita bicara soal ilmu pasti alam. Artinya, benar menurut yang satu belum tentu benar menurut orang lain. Benar untuk sebuah kondisi, belum tentu untuk kondisi yang lain. Argumen untuk itu sudah berlangsung dari masa ke masa. Apa sebabnya? Karena kita – manusia ini – hanya dianugerahi kemampuan berpikir yang terbatas.

Untuk meyakinkan orang lain pada kebenaran nisbi yang dianut, orang harus membuat bingkai yang bagus. Dengan bingkai yang bagus, akan muncul asumsi tentang bagusnya nilai kebenaran yang dibingkai. Orang Islam meyakini keharaman minuman keras, karena mabuknya seseorang membuat dia tidak sadar dengan apa yang dilakukannya, dan tidak bisa mempertanggung jawabkan apapun yang dilakukannya. Banyak mudharat bagi orang yang mabuk. Tapi, bagaimana bila hanya minum sedikit? Kan tidak sampai mabuk. Bagaimana bila minuman kerasnya (misal wine) tidak diminum tetapi jadi salah satu bahan masakan? Kan alkoholnya menguap karena panas api. Bagaimana minum alkohol di negara 4 musim dan sedang ada badai salju? Kan untuk mempertahankan kehidupan.

Kita lihat, sebuah kebenaran yang diyakini seperti ini pun masih punya variabel yang membuatnya bisa diragukan. Apalagi kebenaran-kebenaran yang bersifat duniawi, hubungan sosial antar manusia, dan tidak menyentuh nilai-nilai agama.

Kasus Century adalah kasus keuangan yang terkait dengan masalah pidana. Dengan berbagai dalih, DPR mengangkatnya ke dalam koridor politik, sehingga mereka meyakini bahwa selain jalur hukum juga perlu diambil penyelesaian melalui jalur politik. Tarik ulur kepentingan terjadi, ada yang melunak, ada yang mengeras, dan ada yang secara konsisten keras dalam sikap ini. Perkembangan terakhir, DPR menghendaki diluncurkannya hak mengeluarkan pendapat kepada pemerintah.

Pemerintah tidak menanggapi dinamika di DPR secara frontal, tetapi kemudian malah membentuk sekretariat bersama antar partai pendukung pemerintah, dengan primadona terbaru Golkar sebagai kartu as. Dengan dukungan Golkar, komposisi aliansi pendukung pemerintah di DPR menjadi sangat dominan. Bisa diduga, mosi sebagian anggota DPR untuk munculnya hal mengeluarkan pendapat membentur dinding batu. Belakangan, muncul kabar bahwa DPR menyerahkan kasus Bank Century hanya melalui jalur hukum.

DPR memiliki kebenaran yang diyakini tentang kasus Century (yaitu kasus ini bermuatan hukum dan politik), dan dibingkai dengan berbagai pembenaran versi DPR. Di pihak lain, pemerintah juga punya kebenaran yang diyakini (bahwa kasus ini adalah kasus hukum), yang berarti tidak sejalan dengan keyakinan DPR. Pemerintah berhasil membungkus kebenaran ini dengan bingkai yang taktis, dan dengan lihai berhasil mengotakkan kasus ini untuk diselesaikan di ranah hukum saja. Persoalan mungkin tidak akan selesai dengan mudah, karena masing-masing pihak akan saling mempertahankan apa yang mereka yakini kebenarannya.

Dalam lingkup yang lebih kecil, seorang rekan kerja dikenal punya relasi yang luas. Usahanya banyak, dan gampang sekali memperoleh rekanan kerja baru. Anehnya, dia tidak pernah bisa lama mengelola suatu bisnis. Selalu pada akhirnya selesai tanpa jelas arahnya. Baru ketahuan, orang ini telah membungkus inkompetensinya dengan bingkai kemampuan persuasi yang luar biasa. Sepandai-pandainya bingkai ini dibuat, pada akhirnya nilai kebenaran yang dibingkai akan berbicara.

Di sisi yang lain, membingkai kebenaran dibutuhkan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Misalnya, bila hendak menyampaikan sebuah kebenaran – menegur orang tua kita sendiri agar mau bersedekah dan berzakat – tentunya tidak bisa seperti kita menegur anak kita. Ada cara yang lebih santun dan tidak menyakiti hatinya. Demikian pula menegur kolega kerja, teman sepermainan, pendek kata siapapun, termasuk istri atau suami kita. Menyampaikan kebenaran adalah sebuah hal penting, sementara membingkai kebenaran yang akan disampaikan tersebut bukanlah hal yang bisa diremehkan.

membingkai kebenaran dengan kehalusan kataAda kalanya, seseorang yang tidak pernah merasakan sakitnya ditegur atau dikritik melontarkan koreksi (yang merupakan bagian dari kebenaran) tanpa membungkusnya dengan layak, akibatnya bukan esensi kebenaran itu yang diterima orang lain – justru perasaan terhina yang timbul. Apakah orang yang melontarkan koreksi salah? Tentu saja tidak, karena memang sudah selayaknya ia mengoreksi karena itu bagian dari tugasnya. Apakah orang yang merasa terhina tadi keliru? Tidak bisa juga disebut demikian, karena hal itu bersifat manusiawi.

Komentar yang terucapkan dari orang yang dikoreksi adalah: “Apakah dia tidak pernah berorganisasi sebelumnya, sehingga arogan dengan ilmunya? Sekalipun ia punya kemampuan mengatakannya, janganlah seperti itu!”

Ya, kebenaran memang pahit bila ditelan begitu saja. Itulah sebabnya manusia diberikan akal untuk mengemasnya dengan cara yang manusiawi, agar manusia lain merasa dimanusiakan. Membingkai kebenaran adalah budaya, agar silaturahmi tidak cedera, agar proses lain bisa berjalan lebih mulus, agar sebuah idea lebih mudah diterima, dan seribu agar yang lain. Keberhasilan dakwah juga karena sang Da’i berhasil membingkai kebenaran agama dalam konteks yang dipahami massa, sebagaimana Sunan Kalijaga mengemas ajaran Islam dengan wayang kulit.

Semoga kita selalu menjadi orang yang sabar dan takwa, menempatkan kebenaran di level tertinggi namun bisa mengemasnya demi konteks hablum minannas.

Ulama yang Alim Umara yang Amanah

Posted in Kontemplasi, Sharing, Tausiyah with tags , on May 18, 2010 by hzulkarnain

Herdian Zulkarnain

Pada sebuah Jumat beberapa minggu lalu, saya mendapatkan sebuah bulletin Jumat yang menarik, mengupas tentang posisi ulama dalam interaksinya dengan umara’.

Dikisahkan, Imam Malik (179 H) diminta oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk berkunjung dan mengajarkan Hadits kepadanya. Imam Malik menolaknya dengan dalih, “Wahai Amirul Mukmini, ilmu itu didatangi, tidak mendatangi.” Di mata Imam Malik, sang Khalifah tidak bedanya dengan pencari ilmu lainnya, dan karena Harun Ar-Rasyid adalah penguasa yang adil ia pun bisa mengerti. Sang Khalifah bersedia untuk datang dan belajar kepada sang guru.

HAMKA ulama bernama harum

Hal lain yang menyebabkan Imam Malik menjaga jarak dengan penguasa adalah kemungkinan timbulnya fitnah. Sebagai sabda Rasulullah SAW: ”Barang siapa tinggal di padang pasir, ia kekeringan. Barang siapa mengikuti buruan, ia lalai. Dan barang siapa yang mendatangi pintu-pintu penguasa, maka ia terkena fitnah.”(riwayat Ahmad).

Seorang guru dari kedua putra Harun Al-Rasyid yang bernama Isa bin Yunus, menolak pemberian uang 10 ribu dirham setelah sang guru tersebut mengajari mereka Hadits. Katanya: ”Hadits Rasulullah SAW tidak untuk mendapatkan apa-apa, walau hanya segelas air minum.”

Sebenarnya, para ulama tersebut bukan orang yang kaya materi, namun mereka sangat meyakini bahwa Dzat yang menciptakan mereka, yakni Allah SWT, akan memelihara mereka. Seorang Khalifah yang bernama Al Mustadhi’ memberikan uang 500 dinar kepada Al Anbari melalui seorang utusan. Al Anbari menolaknya. Karena tidak mungkin membawa uang tersebut pulang begitu saja, sang utusan kemudian mengatakan;

“Kalau engkau tidak mau, berikanlah harta ini kepada anakmu.”

Al Anbari justru berkata: ”Jika akau yang menciptakannya, maka akulah yang memberinya rizki.”

Maksudnya, Allah SWT sebagai pencipta alam dan seisinya ini telah mengatur rizki bagi anaknya, sehingga tidak perlu ia menerima uang itu dan menyerahkan pada anaknya.

Mengapa ulama sekeras itu pada penguasa, tak lain dikarenakan ketakutan akan dampak yang mungkin terjadi di masa mendatang. Bila bahaya fitnah sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW, hal lain yang mengancam adalah hilangnya wibawa ulama di mata penguasa. Akibatnya, ulama jadi segan bahkan tidak berani ber-amar ma’ruf nahi munkar bila sang umara melakukan kekeliruan.

Ada seorang ulama besar yang lahir di Damaskus tetapi menghabiskan masa tua hingga meninggal di Mesir, dan dikenal sebagai seorang ulama yang ditakuti penguasa negeri sekalipun. Namanya adalah Abdul Aziz bin Adissalam, tapi digelari Izzuddin (kemuliaan agama, sehingga beliau dikenal dengan nama Izzuddin Bin Abdissalam. Dia adalah seorang ulama yang punya pemikiran tajam dan luas, lurus hati, pemberani, dan hanya mendasarkan segala sesuatu pada Allah semata. Usahanya sedemikian keras untuk menjaga reputasi ulama pada masanya dan mengomandani para ulama untuk tidak takut ber’aar ma’rud nahi munkar, sehingga murid beliau Ibu Daqiq Al-Id menjuluki gurunya sultan semua ulama. Selama di Mesir beliau menjabat sebagai khatib masjid jami’ Amr bin Al Ash dan qadi kota Kairo.

Pada suatu hari raya, Syaikh Izzudin bin Abdissalam datang ke istana sekalipun tidak diundang. Beliau menyaksikan kemegahan, pasukan berbaris mengawal sultan, Najmuddin Ayyub, yang sedang berkunjung menemui para penghuni istana dengan pakaian mewahnya khas penguasa.

Dalam suasana khidmat seperti itu, Syaikh Izzudin Bin Abdissalam  mendatangi sang sultan dan berkata: “Wahai Ayyub, apa jawabanmu kelak ketika Allah mengatyakan kepadamu,’bukankah kau telah kuberi kekuasaan di Mesir, akan tetapi kau lantas menghalalkan khamr?”

Sang sultan berjawab dengan sang ulama, yang pada intinya khamr sudah ada di Kairo sejak masa ayah-ayah mereka, sehingga tidak mengherankan bila banyak kedai yang menjual minuman keras tersebut. Namun dengan ketegasan dan keteguhannya, sang ulama berhasil memaksa sang umara untuk menutup semua kedai penjual khamr di kota tersebut.

Kepada muridnya, Syaikh Abu Abdullah Muhammda An Nu’man, Syaikh Izzudin bin Abdissalam menjelaskan bagaimana dia bisa sedemikian asertif dan berani kepada penguasa: “Aku melihat pada dirinya telah ada perasaan bahwa dirinya terhormat, maka aku harus merendahkannya, agar kesombongannya tidak mencelakai dirinya sendiri,”

Syaikh Izzudin dihormati orang, mulai rakyat jelata hingga penguasa. Ada anggapan, bila sang Syaikh mengatakan untuk mengganti penguasa, maka tidak ada yang bisa menghentikan rakyat untuk mengangkat penguasa baru. Itulah sebabnya penguasa negeri sedemikian takut kepadanya.

Beberapa bulan menjelang wafatnya, sang Syaikh berselisih paham dengan penguasa negeri Sultan Dhahir Bebres akan suatu hal. Penguasa negeri mengambil sikap dan keputusan, tetapi ternyata menurut Syaikh Izzuddin hal tersebut tidak benar. Sang Syaikh telah berusaha mengingatkan, tetapi Sultan tidak bersedia mendengarkan sarannya. Syaikh Izzudin tidak berkata apa-apa lagi, tetapi ia menyuruh semua keluarganya untuk berkemas-kemas, karena mereka akan keluar Mesir kembali ke Syam.

Iman Khomeini, fatwanya meruntuhkan Shah Iran

Seorang pejabat menasihati Sang Sultan,”Bila Syaikh Izzuddin pergi meninggalkan Mesir, kekuasaan penguasa negeri sudah pasti akan selesai.” Dan Sultan pun berangkat sendiri untuk mencegak Syaikh Izzudin pergi. Syaikh Izzuddin bertahan di Mesir hingga akhirnya wafat di negeri itu.

Ketika ulama besar madzhab Syafi’i ini wafat, sang Sultan berkata,”Hari ini aku memegang tampuk kekuasaan, karena Syaikh ini. Jika beliau mengatakan kepada manusia,’jangan mentaati dia’ niscaya kekuasaan benar-benar lepas dariku.”

Ulama yang berpegang teguh pada tuntunan agama selalu memiliki kharisma yang tak akan lekang oleh apapun. Kharisma ini mendatangkan pengikut, dan pengikut yang besar serta militan bisa mengguncang kursi kekuasaan. Di dunia sekarang ini, rasanya hanya Republik Islam Iran yang masih menempatkan jajaran ulama lebih tinggi daripada umara. Sejak kerajaan Iran di bawah Shah Iran tumbang oleh gerakan Imam Khomeini, republik baru yang berdiri menempatkan ulama sebagai panutan utama, dan presiden yang direstui oleh dewan ulama ini.

Namun demikian, untuk menjadi ulama yang menjadi panutan apalagi mercusuar bangsa tidaklah mudah. Ulama yang berakar dari kata alim, bermakna orang yang berilmu, pandai, dan tempat bertanya. Namun demikian, seorang ulama tidak boleh sembarang berbicara, khususnya mengenai hal-hal yang terkait dengan agama.

Dalam mukadimah bukunya, Quraish Shihab menyebutkan bahwa bila tidak menguasai sesuatu hal, ada 3 kemungkinan yang akan dilakukan oleh orang tersebut: pertama berbohong (yang menjadi dosa besar – apalagi terkait dengan agama); kedua menduga-duga atau mengira-ngira (dan ini sangat tidak terpuji karena menyimpang dari firman Allah); atau langsung pada jawaban: saya tidak tahu.

Bahkan Rasulullah SAW selalu menunggu wahyu Allah bila menemui masalah yang belum pernah terjadi. Bahkan tidak jarang beliau mengatakan “saya tidak tahu”. Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah menyampaikan: “Yang paling berani berfatwa di antara kamu adalah yang paling berani terhadap neraka.”

Imam Malik berkata,”Ilmu agama itu hanya tiga, (1) ayat yang jelas, (2) sunah yang shahih, dan (3) ucapan “aku tidak tahu”.

Seorang ulama yang lurus hati, tanpa pamrih, dan bersandar pada kebenaran, tanpa takut pada manusia dan hanya tunduk kepada Allah, adalah orang yang bisa menjadi panutan. Semua kata-kata dari mulutnya bermuatan kebenaran – sekalipun sang ulama tidak menyebutnya sebagai fatwa. Wallahu a’lam bishawab.

Semoga Allah SWT senantiasa menerangi bumi pertiwi ini dengan para ulama yang menjunjung kebenaran dan umara yang amanah terhadap jabatannya. Amin.