Archive for the Kisah Category

Fenomena Jokowi-Ahok

Posted in Kisah, Sharing with tags , , , , , , , , on July 14, 2012 by hzulkarnain

Luar biasa! Itu kata yang bisa diucapkan oleh pengamat dan tentunya pemilih Jokowi saat semua quick count menyebutkan pasangan kandidat gubernur DKI Jokowi-Ahok merebut lebih dari 40% suara pilkada 11 Juli lalu. Memang belum memenangkan pilkada, tetapi pasangan ini membawa angin segar suasana pilkada yang sebelumnya diprediksi akan diraih incumbent dengan relatif mudah.

Gak potongan pejabat tapi justru pamong tulen

Segera setelah diketahui secara unofficial melalui berbagai quick count lembaga survey, kemenangan Jokowi-Ahok ini membuat lembaga-lembaga survey tersebut mencari sebab kesalahan perhitungan mereka. Selain luar biasa, kondisi ini juga sekaligus meruntuhkan kredibilitas mereka. Bagaimana tidak? Tidak ada satu pun lembaga survey punya keyakinan bahwa Jokowi-Ahok akan melibas Foke-Nara dengan cukup telak. Hanya LSI yang menyebutkan selisih kedua pasangan ini sekitar 10%, yang lainnya berkisar di nilai 20%.

Sebelumnya tidak ada yang terlalu yakin pada sosok pasangan ini, karena sama-sama “gak potongan” pejabat. Jokowi yang tinggi kurus, kalem dan berdialek Jawa, khas Solo yang tenang, dan tidak menunjukkan ambisi menyala. Ahok yang muda dan beretnis Tionghoa, seperti pemula yang tidak berpengalaman. Tapi kalau orang mau menilik prestasi keduanya, tidak ada yang berani menyangkal bahwa mereka lah orang-orang pro-rakyat yang sebenarnya. Masalah keduanya cuma satu, yakni mereka berasal dari suatu daerah di luar Jakarta yang tidak semajemuk Jakarta, dan level kompleksitas yang jauh di bawah Jakarta.

Disinggung mengenai perbedaan Jakarta yang kota megapolitan dan berupa propinsi, dengan Solo yang kotamadya dan bukan ibukota propinsi, Jokowi berkilah … besar kecilnya kota itu hanya ukurannya. Masalahnya sama saja. Ini adalah hipotesis Jokowi yang menarik untuk disimak dan diikuti bila nanti dia terpilih menjadi gubernur. Bagi sebagian orang, Jokowi seperti terlalu menyederhanakan permasalahan, sebab Jakarta punya kemajemukan berlipat ganda daripada Solo, seperti: Jakarta adalah ibukota negara yang rawan pada keamanan dan menjadi barometer suhu politik nasional, percampuran dan interaksi sosial bukan hanya etnis tetapi juga ras, kesenjangan kaya – miskin seperti jurang menganga, persoalan banjir dan lalu-lintas yang jauh dari sederhana, dan sebagainya.

Di luar pertanyaan akan kesanggupan Jokowi mengelola kemajemukan permasalahan di DKI, tim sukses besutan PDI Perjuangan dan Gerindra sebagai pengusung utama pasangan Jokowi-Ahok telah berhasil membentuk paket yang unik sekaligus mengena di hati rakyat Jakarta. Misalnya, kesederhanaan berbusana yang diwakili kemeja kotak-kotak yang konon awalnya dibeli di Pasar Tanah Abang. Kemudian, saat pendaftaran di KPUD mereka berangkat dengan Metro Mini yang menjadi ikon rakyat jelata di Jakarta. Saat sosialisasi pun mereka tidak jauh dari kepentingan rakyat, dan langsung berbincang-bincang dengan masyarakat di perkampungan kumuh. Kemeja kotak-kotak mereka segera menjadi tren.

Berpikir out-of-the box adalah ciri orang muda yang kreatif, dan tim sukses Jokowi-Ahok telah menciptakan image muda, segar, dan pembaharu pada kedua sosok ini. Orang jenuh dengan orasi dan pidato, maka pasangan ini pun tidak banyak didapati berpidato panjang lebar. Rakyat bosan dengan janji-janji akan pengendalian banjir, maka konsep penanganan banjir di letakkan di sebuah tempat sementara yang langsung menyentuh hajat hidup rakyat disampaikan langsung pada mereka. Rakyat tidak mengerti soal angka dan statistik, tidak paham soal strategi pemerintahan, mereka hanya perduli soal perut dan kesehatan, maka itulah yang dikedepankan oleh pasangan ini.

Kebiasaan Jokowi “blusukan” ke pasar dan kampung-kampung di Solo, menghadapi unjuk rasa justru dengan mengundang pengunjuk rasa duduk di ruang ber-AC dengan snack dan makan siang, dan memanusiakan pedagang yang pasarnya direlokasi, menjadi harapan besar bagi rakyat Jakarta. Sebagai pemimpin kota yang sadar bahwa dia digaji dari uang rakyat, Jokowi tahu benar cara mengembalikan uang rakyat untuk rakyat, dan inilah yang diharapkan oleh orang Jakarta.

Selain pasangan Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini, sebenarnya praktis massa dari pasangan lain merupakan massa partai yang tidak terlalu solid. Hidayat Nurwahid dari PKS didukung oleh kelompok-kelompok masyarakat simpatisan PKS yang digalang melalui liqo (pengajian) selama bertahun-tahun cukup solid dengan angka sekitar 11%, tetapi tercecer di urutan ketiga. Angka ini tidak bisa disalip oleh tiga pasangan lain yang tampaknya hanya menjadi penggembira, karena prosentase yang sangat kecil. Jika kemudian Jokowi-Ahok berhasil meraih sekitar 42% suara pemilih, melampuai angka golput yang sekitar 35%, ini adalah prestasi luar biasa dari orang yang tidak punya KTP Jakarta.

Pertarungan masih akan berlangsung satu putaran lagi, dan kedua pasangan siap memperebutkan suara yang masih mengambang (golput), serta suara pendukung keempat pasangan lain yang tercecer, khususnya suara PKS yang cukup solid. Ada kemungkinan suara golput akan turun, karena fenomena Jokowi-Ahok yang mencerahkan harapan.

Kalau saya pribadi … Go Jokowi-Ahok!

Advertisements

Harry Potter dan Sihir (1)

Posted in Kisah, Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , , on August 9, 2011 by hzulkarnain

Expecto Patronum!

Seberkas cahaya putih meluncur dari tongkat sihir Harry Potter, menjelma menjadi wujud siluet rusa jantan besar yang putih cemerlang, dan melindunginya dari serangan para dementor. Itulah mantera patronus yang luar biasa.

expecto patronum!

Kira-kira demikian deskripsi dalam novel Harry Potter tentang salah satu mantera di dalamnya. Harry Potter telah menjadi fenomena dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Dari sekedar sebuah novel, yang awalnya ditolak penerbit tetapi kemudiaan booming menjadi best seller, nama ini menjelma menjadi bahan baku industri hiburan yang menjamin kelarisan. Bisa dibayangkan kaya rayanya JK Rowling sang pengarang dan pemilik hak cipta tokoh rekaan ini.

Pada bulan Juli ini, sekuel terakhir film Harry Potter dari novel terakhirnya telah ditayangkan di berbagai negara di dunia, kecuali Indonesia (karena masalah perijinan). Khalayak penggemar Harry Potter telah menantikannya, dan dunia seperti tersihir oleh bocah ahli sihir ini.

Sejak pemutaran perdana di Indonesia, animo penggemar Harry Potter sangat luar biasa, bahkan dalam sebuah gedung cineplex film ini bisa ditayangkan lebih dari sebuah studio … dan semuanya penuh hingga pertunjukan terakhir. Untuk bisa memperoleh tempat duduk yang enak, jangan sampai telat mengantre …. Semua orang ingin melihat akhir kisah yang melegenda ini, dan bagaimana Harry Potter yang masih hijau akan mengalahkan musuh bebuyutannya yang berjuluk pangeran kegelapan: Lord Voldemort.

Wajar bila banyak yang bertanya dengan penasaran, apa sih yang menarik dari Harry Potter ini?

Saat novel pertamanya keluar sekitar tahun 1997, dunia heboh. Bahkan langsung jadi demam di banyak negara termasuk Indonesia. Saya tidak tertarik, karena pikir saya itu hanya novel yang bercerita tentang anak-anak … apa sih menariknya? Soal sihirnya … ah, itu paling hanya tempelan saja. Tidak akan jauh bedanya dengan kisah anak-anak detektif, bocah petualang, dan semacamnya seperti kisah rekaan Enyd Blyton (Lima Sekawan, Sapta Siaga) atau Alfred Hitchcock (Trio detektif).

Kehebohan yang sama terjadi saat film novel pertama ini diangkat ke layar lebar. Saya juga tidak serta merta menengoknya, karena pemikiran yang sama. Namun demikian, saat sebuah tv kabel menayangkannya, saya menontonnya juga (karena tidak film lain yang bagus). Satu hal yang langsung saya sadari, bahwa teknologi film sudah sedemikian maju sehingga film di eran millennium jauh lebih maju dalam special effect daripada dekade sebelunya. Dan … memang inilah salah satu kekuatan film Harry Potter. Hagrid yang setengah raksasa, kaum goblin penjaga bank, anjing kepala tiga, centaur, semuanya bisa disajikan secara apik. Belum lagi trik loncatan bunga api dari tongkat sihir, terbang dengan sapu, serta perubahan bentuk yang alami. Film ini langsung merebut hati saya.

Ada sebuah pesan moral yang tersampaikan pada film itu, bahwa karakter Harry Potter berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia memang tidak sepintar Hermione dalam pelajaran sihir, bahkan cenderung naif dan minder. Akan tetapi, selain punya bakat bocah ini sangat tulus dan setia kawan. Ia berani menempuh bahaya apapun untuk menolong teman, dan menjunjung kebenaran. Sihir yang diangkat dalam film ini … seperti dugaan saya – hanya menjadi latar belakang kisah, tetapi dibentuk secara solid.

JK Rowling, wanita pengarangnya yang asli Inggris, tampaknya besar dalam lingkungan yang mempercayai sesuatu yang gaib (agak beda dengan orang Barat pada umumnya), hendak mengatakan bahwa sihir adalah milik orang-orang yang punya bakat (berbakat besar maupun kecil). Orang awam, yang tidak bisa sihir dan tidak mengenal sihir, disebut dengan muggle. Kaum sihir punya komunitas, bahkan komunitas ini sangat besar, sehingga harus diatur oleh kementrian sihir. Komunitas ini berdampingan dengan orang awam, tetapi kegiatan mereka tersembunyi, terselubung, atau tersamar. Kaum sihir sengaja menyembunyikan jati diri mereka, dan tinggal tersamar melalui trik sihir.

Bakat sihir, menurut Rowling, bisa diwarisi dari kedua orang tua, salah satu dari orang tua, atau mungkin dari leluhurnya (karena kedua orang tuanya adalah muggle). Salah satu aspek terpenting dalam sihir adalah tongkat sihir, dan tidak sembarang orang bisa membuatnya (mungkin di sini dibuat hanya oleh empu). Tongkat sihir punya kekuatan gaib karena di intinya terdapat elemen dari mahluk-mahluk mitos, misalnya bulu burung phoenix (seperti tongkat sihir Harry Potter dan Voldemort), surai unicorn, otot jantung naga, dsb. Penyihir tidak bisa memilih tongkat, tapi tongkat sihir lah yang memilih orang yang memegangnya. Karena itu, agaknya seorang tanpa bakat tidak akan bisa mengeluarkan kekuatan sebuah tongkat sihir.

Dalam kisah JK Rowling ini, sihir punya sekolah formal, layaknya sekolah kejuruan pada umumnya. Sihir tidak didapatkan dengan bertapa dan menyepi, tetapi mengolah bakat yang sudah ada di dalam diri para murid. Semua mantera dan keahlian sihir dipelajari, dicermati, dihayati, dieksperimen-kan, dan akhirnya dikembangkan sendiri. Mereka yang mampu mengembangkan sihir mereka akan sukses sebagai penyihir. Di Inggris, sekolah sihirnya bernama Hogwarts, dengan kepala sekolah dan guru-guru yang bergelar profesor – dan mengajar sesuai dengan keahliannya masing-masing. Ada yang mengajar ramuan, ilmu tumbuhan (herbology), transfigurasi (perubahan bentuk), pertahanan terhadap ilmu hitam, ramalan, dsb. Akan tetapi, ada juga sport yang menjadi andalan, layaknya sepakbola yang dinamakan quidditch, degan aspek sihir berupa penggunaan sapu terbang. Bangunan sekolah yang luas mirip kastil abad pertengahan juga menjadi asrama bagi siswa-siswa sihir hingga lulus di tahun ke-tujuh.

Novel JK Rowling ini menurut saya unik, karena mampu membangun suasana hati dan sikap pembacanya. Tidak banyak novelis seperti ini, dan JK Rowling ternyata punya bakat yang kuat. Novel dan film Harry Potter di awal-awal terasa ceria, ada sifat anak-anak yang usil, nakal, lucu, tapi tetap serius. Seiring dengan bertambah dewasanya sang protagonis, novel berikutnya terasa lebih berat (dan halaman buku juga lebih tebal). Ada nuansa kelam yang menyelimuti jalannya cerita, banyak kepahitan, kematian, apalagi para penyihir hitam yang tergabung dalam dead eaters (pelahap maut) semakin kuat. Terlebih lagi setelah sang pemimpin Lord Voldemort bangkit dari kondisi hampir matinya. Bahkan penyihir terhebat seperti Profesor Dumbledore sang kepala sekolah Hogwarts harus berupaya keras mecari tahu kelemahan pangeran kegelapan itu, untuk melindungi Harry Potter dan dunia sihir agar tetap bersih.

Sekolah sihir Hogwarts, dan sekolah-sekolah sihir lain di Eropa sebenarnya hanya mengajarkan sihir yang baik, bahkan hanya mantra-mantra ringan yang diajarkan di tingkat dasar. Akan tetapi, tetap saja ada sisi kelam dari dunia sihir ini yang rahasianya berhasil diungkap oleh Voldemort muda dan menjadikannya master dalam sihir hitam – padahal dia dulunya adalah siswa Hogwarts semasa muda. Sihir hitam (the dark arts) dipelajarinya sendiri, dan sihir paling hitam adalah horcrux, yakni membelah jiwa dan memasukkannya ke dalam sebuah benda. Tujuannya adalah kehidupan yang abadi. Sebab, bila sebuah jiwa mati masih ada jiwa lain yang siap dibangkitkan. Untuk bisa membelah jiwa dan menyimpannya dalam horcrux, ada satu syarat yang mengerikan … pelakunya harus membunuh seseorang. Karena tidak bisa mati inilah Voldemort sangat ditakuti.

Harry Potter dan teman-teman setianya

Inti dari kisah perjalanan hidup Harry Potter adalah pertarungan kelompok putih dan kelompok hitam, kebaikan lawan angkara murka. Beberapa pesan moral yang dimuatnya antara lain:

  • Asal-usul mungkin penting tetapi jauh lebih penting lagi adalah kesungguhan diri sendiri dalam membentuk kepribadian. Siapa kita, tidak tergantung orang tua kita …. tetapi cara kita mengisi kehidupan ini.
  • Harry Potter berbakat dalam ilmu hitam (dark arts), tetapi ia memilih untuk tidak menggunakannya. Untuk bisa melafalkan mantera sihir hitam, pelakunya harus punya keyakinan bulat untuk mencelakai orang lain.
  • Semakin tinggi kemampuan Harry Potter kian jauh dia dari pamrih pribadi, dan semua kesengsaraan ditanggungnya untuk mengalahkan bencana semua penyihir: Voldemort.
  • Orang yang terbaik bukan yang paling pintar, tapi orang yang paling care pada orang lain. Itulah yang menjadikan Harry Potter dibenci lawannya dan dicintai teman-temannya.

Di akhir film Deathly Hallows (part 2), Harry Potter yang memegang tongkat sihir terkuat The Elder Wand menjelaskan bahwa tongkat itu tidak bisa ditaklukkan oleh Voldemort yang mengambilnya dari peti mati Dumbledore, karena tongkat itu sudah memilih tuan – yakni Harry Potter. Dengan tongkat itu, sebenarnya Harry Potter bisa menjadi penyihir terkuat. Akan tetapi, secara mengejutkan, Harry mematahkan The Elder Wand tersebut dan membuangnya ke ngarai. Tidak ada lagi orang yang bisa memanfaatkannya.

Kesimpulannya hanya satu, Harry Potter tidak mau menjadi penyihir terkuat, karena itu tidak pernah menjadi impiannya dan bukan kepribadiannya.

Kisah Harry Potter ini memang lebih dari sekedar cerita sihir.

Bangsa yang Tangguh

Posted in Kisah, Sharing with tags , , , , on March 28, 2011 by hzulkarnain

Catatan Akhir Maret 2011

Lokasi gempa dan tsunami Jepang

Catatan ini saya buat untuk mengingat kejadian penting bulan ini. Pada tanggal 11 maret 2011, tepatnya jam 14.46, pantai Timur Jepang lepas pantai prefektur Miyagi (beribu kota di Sendai) menjadi pusat gempa berkekuatan luar biasa besar 8.9 skala Richter yang menyebabkan tsunami berketinggian hingga 4 meter. Konon, ini bukan gempa terhebat, bahkan hanya menempati urutan ke-5 sejak awal 1900-an. Meskipun demikian, korban sudah mencapai 10 ribu orang. Kalau bukan di Jepang yang punya peringatan dini yang baik, dan bangunan-bangunan tahan gempa, mungkin saja korban bisa bepuluh kali lipat.

Seorang teman yang bersuamikan orang Jepang bercerita, ini adalah pengalaman yang tidak terlupakan. Dia tinggal di kota Tsukuba di prefektur Ibaraki yang terletak di area greater Tokyo. Polisi dan petugas langsung diturunkan, untuk mengatur dan mengamankan warga. Kata teman saya itu, itu pun paling hanya beberapa jam. Setelah semua terkendali, polisi ditarik dan meninggalkan para pengungsi dengan pola pengamanan mereka sendiri. Pemadaman listrik tidak berjam-jam, lampu sudah nyala waktu matahari tenggelam. Memang ada situasi darurat tetapi semua warga berusaha bahu membahu agar kondisi tetap terkendali, tenang, dan kondusif.

Seorang ibu yang diwawancarai televisi internasional mengatakan bahwa, tugas mereka adalah tenang dan tidak takut. Sikap mereka akan mempengaruhi anak-anak mereka, dan mereka ingin anak-anak tetap bermain seperti biasa, dan tidak mengalami ketakutan traumatis akibat bencana tersebut. Dan memang, anak-anak Jepang seperti tidak merasakan kondisi darurat yang berlebihan, mereka bisa bermain seperti biasa

Kedisiplinan dan ketertiban, kunci kekuatan masyarakat

Yang paling hebat dari semua penanganan pasca bencana itu adalah ketertiban yang tidak tergoyahkan. Tidak ada penjarahan, tidak ada kebrutalan, tidak ada perampokan, semuanya aman. Bahkan saat pasokan logistik datang, pengungsi rela antre dengan tertib untuk mendapatkan jatah mereka. Bahkan untuk BBM mereka harus antre selama 3 hari. Tidak ada saling serobot, apalagi perkelahian karena perebutan jatah. Petugas membagi dengan tertib, dan penerima menerima secara tertib pula, seolah-olah yang terjadi adalah jual beli di pasar atau supermarket. Bila kondisi sulit menjadi tolok ukur kemapanan dan kedewasaan, inilah yang terjadi.

Bukan hanya orang-orang Asia, bahkan orang Amerika yang dulu pernah mengalami bencana besar badai Katrina mengaku salut dengan budaya orang Jepang yang mampu menyingkirkan ego pribadi demi ketertiban.

Prefektur Miyagi tidak sendiri, sebab prefektur Fukushima yang punya fasilitas PLTN juga terkena imbas, bahkan lebih parah lagi. Gempa telah mempengaruhi kestabilan fasilitas tersebut dan ledakan yang terjadi di sana menyebabkan kebocoran reaktor yang menyebarkan kebocoran radioaktif. Di sekitar Tokyo yang tidak terlalu jauh dari Fukushima, sayuran yang di supermarket ada yang harus ditarik karena dideteksi mengalami radiasi. Persediaan air juga sama, tetapi masih di bawah ambang.

Penderitaan bangsa Jepang mungkin belum akan teratasi dalam waktu dekat, namun demikian mereka sudah menunjukkan betapa tinggi budaya mereka dalam bermasyarakat. Semua masalah yang menimpa akan berlalu, dan mereka akan normal kembali tanpa trauma berlebihan. Semua orang dalam profesi dan kapasitasnya melakukan yang terbaik untuk masyarakat dan kemanusiaan. Yang polisi menjalankan fungsinya dengan benar, petugas medis bekerja tak hentinya menolong yang terluka, hingga pemilik toko yang selamat dengan suka hati membagikan barang kelontong tokonya untuk kemanusiaan. Sungguh mereka tidak berpikir untung rugi dalam masa sulit seperti ini – yang terpikir hanya kemanusiaan dan kebersamaan.

Sebagai orang Islam saya sungguh malu hati melihat kejujuran orang-orang Jepang yang tengah dirundung masalah itu. Mereka bukan orang Islam, namun perilaku jauh lebih Islami daripada kita yang mengaku Islam sejak lahir. Orang Jepang malu bila tidak berbuat apapun demi kemanusiaan, malu bila harus membebani, malu bila berbuat jahat, malu bila … malu kalau …. semuanya diukur dengan rasa malu. Bukan malu pada Tuhan sang Pencipta, melainkan malu pada sesama manusia.

Ada kolom berita yang membandingkan perilaku orang Jepang pasca bencana dengan kita, dengan sinisme bahwa kita tidak bisa seperti mereka. Saya katakan, memang Indonesia tidak bisa diperbandingkan secara apple-to-apple dengan Jepang.

Pertama, budaya Jepang termasuk salah satu yang tertua di dunia, bahkan kekaisaran yang ada sekarang ini adalah yang tertua di dunia.

Kedua, bangsa Jepang terbiasa dengan berbagai bencana alam, sehingga tidak sepanik kita bila tertimpa musibah. Jepang yang memiliki gunung api aktif terbanyak di dunia mendominasi frekuensi gempa dunia (20% gempa dunia berada di Jepang).

Ketiga, Jepang sudah maju, penduduknya lebih terpelajar, dan pendidikan sudah di level yang menggembirakan. Semantara di Indonesia, pendidikan baru level belajar.

Keempat, peringatan dini bencana dan simulasi bencana menjadi bagian dari kurikulum sekolah, semantara bagi kita hal tersebut masih dianggap kemewahan – kalau bukan pemborosan. Toh bencana alam ledakan gunung berapi dan tsunami masih jarang dan kita ini masih relatif aman.

Islam mengajarkan bahwa musibah selalu memberikan pelajaran, baik bagi yang mengalami maupun orang-orang lain yang mau belajar darinya. Kita memang tidak terkena dampak langsung musibah yang dialami bangsa tersebut, namun ternyata kita bisa belajar banyak darinya. Justru sebenarnya kita diuntungkan pada suatu sisi, yakni kita tidak perlu menjadi dewasa dengan mengalaminya sendiri. Kita bisa dewasa hanya dengan melihatnya.

Di saat belahan bumi Asia Timur sedang dalam keprihatinan, di benua Afrika sebelah Utara – tepatnya Libya – lagi-lagi Amerika Serikat dan sekutunya mengemukakan berbagai pembenaran agar bisa menyerang Libya. Kepada dunia, sekutu mengaku memegang mandat PBB untuk mengamankan pantai dan udara Libya, dan menegakkan demokrasi di negeri itu. Ada pengamat yang menyebutkan, Khaddafi adalah mata rantai terakhir yang duluuu … dipakai NATO untuk menahan Pakta Warsawa pada era perang dingin, bersama dengan Ben Ali (Tunisia), Anwar Sadat dan Hosni Mubarak (Mesir), termasuk Saddam Hussein (Irak). Tapi yang lain menyebutkan, apapun alasannya, pengamanan cadangan minyak mereka lah yang paling utama.

Kalau ini merupakan musibah bagi rakyat Libya, semoga kita pun bisa belajar dari kesulitan dan penderitaan yang mereka alami. Semoga.

Semangat Kebangsaan dan Sportivitas

Posted in Kisah, Sharing with tags , , , , , , on December 29, 2010 by hzulkarnain

Garuda di dadaku ....

Catatan menjelang leg ke-2 Indonesia v Malaysia final Piala AFF 29 Desember 2010

Apa topik terhangat di penghujung tahun ini? Sudah pasti adalah piala AFF dan timnas Indonesia yang merangsek ke babak final dengan rekor sempurna – tak pernah kalah sepanjang babak penyisihan.

Alasan kedua kegilaan orang Indonesia pada timnas adalah magnet Bachdim dan Gonzales. Tidak bisa dipungkiri, kehadiran dua orang asing di dalam tubuh tim merah-putih turut mendongkrak kinerja mereka, sehingga pergerakan mereka sangat enak ditonton. Dan gol demi gol yang dilesakkan ke gawang lawan seolah pompa semangat nasionalisme yang belakangan ini mulai diragukan. Rekor Gonzales dalam kompetisi lokal sudah tidak perlu diragukan, karena beberapa kali menjadi top skorer, dan naluri pembunuhnya sangat berharga bagi timnas. Adapun Irfan Bachdim, yang sebenarnya belum banyak bicara di kancah lokal, adalah produk besutan tim junior negeri Belanda – dan karenanya banyak menjanjikan prospek masa depan. Apalagi, wajah tampannya yang baby face begitu digandrungi cewek-cewek Indonesia. Kehadiran Irfan telah merebut hati banyak perempuan muda, sehingga mereka jadi tertarik menonton timnas berlaga.

Ketika timnas kalah dalam leg pertama, dan diduga keras karena campur tangan suporter Malaysia yang nakal, serentak kemarahan merebak di penjuru negeri. Bukan soal sentimen antar bangsa yang belakangan merebak, tetapi karena kekecewaan kalahnya timnas. Di layar kaca terlihat jelas berkas-berkas sinar hijau menerpa kaos putih dan wajah pemain kita saat melakukan tendangan penjuru, yang konon berasal dari pointer laser, dan itu dijadikan kambing hitam kekalahan timnas. Semangat membara para suporter memberikan dorongan dan keyakinan akan kemenangan dalam leg kedua yang akan dilakukan pada tanggal 29 Desember 2010 malam.

Gonzales & Bachdim - 2 icon baru timnas

 

Euphoria kebangkitan tim nasional sepakbola Indonesia yang prestasinya selalu timbul tenggelam sedang merebak, ditandai dengan banjirnya berita tentang timnas di media-media massa, televisi, dan perbincangan warga hingga ke warung-warung kopi. Lepas dari carut marutnya wajah PSSI, masyarakat Indonesia punya optimisme yang besar pada timnas dan keberhasilannya.

Waktu sang pelatih Alfred Riedl membatalkan pemanggilan pada Boaz Salossa karena striker handal itu tidak kunjung datang setelah melewati tenggat waktu yang ditetapkan pelatih tersebut, banyak orang bertanya-tanya akan efektivitas striker timnas. Sebagian lain mengacungi jempol (termasuk saya) atas ketegasan tersebut, karena keputusan ini membuat semua pemain menjadi lebih berdisiplin. Sekalipun secara manusiawi kita mungkin kasihan pada alasan Boaz yang menunggui anaknya yang sakit, keputusan telah dibuat dan tidak bisa dianulir. Padahal, kalau saja Boaz masuk dalam timnas, bisa dibayangkan betapa mengerikannya dua ujung tombak itu: Gonzales dan Boaz.

Kalau pun Indonesia tidak berhasil meraih piala AFF sebagaimana yang diidam-idamkan selama ini, timnas kita masih menjanjikan. Kalaupun tidak dengan Bambang Pamungkas dan beberapa pemain lain yang sudah melewati usia berkepala tiga, sistem dan strategi yang dirintis Alfred Riedl membawa angin yang segar dan optimisme yang besar.

Saya jadi teringat pada tim nasional Jerman yang gagal masuk ke babak final di Piala Dunia Afsel, namun tidak ada orang yang dirundung kekecewaan besar di Jerman sekalipun, karena tim yang didominasi wajah-wajah muda tersebut menjanjikan peremajaan dan masa depan sepak bola Jerman yang cemerlang. Sementara pengamat menyatakan, timnas Jerman akan menjadi sosok menakutkan di masa mendatang. Ketika mereka melumat Argentina yang digadang-gadang menjadi juara dunia, saat itulah kesebelasan lain mulai merasa ngeri pada kemampuan Der Panzer muda.

Kita berharap, timnas yang sekarang sedang dibesut oleh Alfred Riedl juga akan menjadi kekuatan yang menakutkan. Kompetisi lokal yang menggeliat keras akan menjadi sumber tak habis dari bakat-bakat baru pemain bola yang bagus. Rasanya sih, tidak mustahil untuk menemukan pemain yang berbakat dari banyak SSB dan bakat alam yang keluar dari kompetisi tersebut. Riedl adalah mantan striker di Austria sana, dan gaya serangannya telah menginspirasi mode serangan timnas, dan ini sungguh enak ditonton.

Dulu sekali, sebelum sport menjadi bisnis seperti sekarang, seorang teman yang pernah berkomentar sinis tentang putaran uang yang besar dalam dunia olah raga. Sponsorship Galatama dan Perserikatan, hadiah besar turnamen tenis dan bulu tangkis, biaya pembinaan bola voli, basket, dsb. Untuk apa?

Secara kasat mata, mungkin hanya nilai yang dipersoalkan di sini, tetapi pada kenyataannya ada hal yang jauh lebih bermakna. Kebanggaan nasional, rasa kebangsaan, dan sportivitas. Itulah yang tidak bisa dihargai dengan nilai uang, karena tidak bisa ditakar. Semua biaya yang dikeluarkan, hadiah yang dijanjikan, bisnis yang terlibat, semuanya menjadi pondasi tegaknya tim-tim nasional yang membanggakan di kancah kompetisi antar bangsa.

Dengan bangkitnya semangat kebangsaan seperti sekarang ini, duka karena bencana alam yang berurutan seperti sedikit terlupakan. Akhir tahun yang biasanya selalu diwarnai perasaan kelabu karena bencana, kali ini agak reda karena timnas PSSI yang membanggakan, yang memberikan janji masa depan sepak bola yang baik.

Bangkitlah garuda-garuda muda, terbanglah tinggi, bawa nasionalisme dan sportivitas bersamamu!

*Kami mendoakan kemenanganmu di leg ke dua di Senayan – dan merebut piala AFF untuk pertama kalinya ke Indonesia ….*

Bermain-main dengan Akhirat, Serius pada Dunia

Posted in Kisah, Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , on December 4, 2010 by hzulkarnain

Beberapa hari yang lalu, seorang teman menceritakan kisah seseorang yang dijumpainya beberapa tahun silam di Jakarta. Seorang yang dianggapnya hebat dan inspiratif. Seorang yang berpendidikan, terpandang, namun memilih untuk hidup sederhana sebagai kondektur Kopaja.

dilema tahta ....

Saat pertama kali bertemu dengannya, teman saya sudah menduga bahwa bapak separuh baya ini pasti berpendidikan dari tutur bicara dan pembawaan dirinya. Hingga suatu saat, ia diajak pulang kampung ke sebuah kota dekat Cirebon, itupun ongkos bus ditanggung teman saya itu. Rumah bapak tersebut ada di pinggiran kota, itupun masih masuk gang. Halamannya luas, rumahnya sederhana, dan di belakang rumah ada tiga kolam ikan mas.

Yang paling menarik perhatian teman saya tersebut, semua orang yang berpapasan dengan bapak itu selalu menyapa dengan takzim, bahkan ada beberapa pegawai negeri yang datang ke rumahnya membawa beras. Hal itu semakin membuat penasaran teman saya. Sedikit dari orang-orang, teman saya hanya bisa menangkap informasi bahwa bapak itu dulunya adalah pejabat tinggi yang jujur. Tapi bagaimana bisa berakhir dengan menjadi kondektur Kopaja?

Bapak itu bercerita, diiringi dengan linangan air mata sitri dan anak sulungnya, bahwa dia dulu (sekitar 4 tahun sebelumnya) adalah seorang kepala dinas pendidikan kabupaten. Untuk urusan ini, dia adalah tangan kanan bupati dan bertanggung jawab pada berbagai dana proyek diknas kabupaten. Bukan jumlah uang yang sedikit.

Masalahnya bukan pada dirinya, tetapi pada istri dan anak sulungnya. Sang istri yang mulai mabuk duniawi mendorong-dorong suaminya untuk korupsi. Bukan sekali dua, tetapi terus menerus. Sementara itu, anak sulungnya yang masih SMA tidak pernah lepas dari botol miras dan selalu mabuk. Hanya anak perempuan bungsunya yang masih memberikan harapan baginya.

Bapak itu berpuasa dan terus menerus meminta petunjuk Allah. Hingga akhirnya ia sampai pada sebuah keputusan penting. Ia menghadap bupati untuk meletakkan jabatan, dan semua fasilitas dinas dikembalikannya. Belum selesai di situ, ia menjual semua aset pribadinya seperti mobil dan rumah. Yang tersisa hanya 2 rumah, termasuk yang sekarang mereka tempati. Hasil penjualan tersebut kemudian dibaginya kepada istri dan kedua anaknya, dengan satu pesan: aku akan pergi, tidak perlu dicari. Ia merantau ke Jakarta dan memulai kehidupan dari bawah, sebagai kondektur Kopaja.

Dalam dua tahun pertama, istri dan anak sulungnya yang tiba-tiba mendapatkan harta sebanyak itu seperti hendak menelan semuanya. Dan memang, dalam waktu 2 tahun semuanya ludes. Kesadaran bahwa mereka membutuhkan sosok suami dan Ayah muncul di tahun ketiga.

tinggalkan urusan dunia untuk bersujud

Salah satu rumah yang tersisa masih sempat terjual lagi, namun sekarang semuanya memulai dari kesederhanaan, tinggal di rumah sederhana yang tersisa. Mereka hanya hidup dari hasil penjualan ikan mas yang tidak seberapa, dan upah sebagai kondektur Kopaja. Setiap kali bercerita tentang masa lalu, si anak sulung selalu menangis.

Sebagai orang yang pernah punya nama harum, tawaran untuk menjadi anggota DPRD selalu ada, tetapi selalu ditolaknya. Alasannya:”Harta tidak selalu membawa bahagia, biarlah dia hidup seperti sekarang karena sudah cukup membuatnya bahagia.”

Benarlah firman Allah dalam Surat Al Anfaal dan At-Taghabun yang berbunyi …: Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan , dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Ketika Bapak itu mampu mengatasi sumber cobaan, Allah memberikan jalan untuk meraih kebahagiaan. Orang seperti ini sangat serius memikirkan kehidupan akhirat, dan meyakini bahwa dunia ini serta isinya hanyalah fana dan hanya berupa permainan belaka.

Bandingkan dengan kasus yang sedang heboh belakangan ini, Gayus Tambunan. Perbuatannya tentu saja memberikan aib bagi dirinya dan keluarganya – karena ketahuan. Sebelum ketahuan, tentunya dia telah membuat bangga keluarga. Setelah ketahuan dan masuk penjara, ternyata masih ada saja yang suka memanfaatkan dirinya, dan mengeruk keuntungan pribadi. Termasuk istrinya yang belum juga mendorong suaminya untuk bertobat.

Orang-orang yang lebih suka menumpuk harta daripada menyedekahkan, melakukan praktik riba daripada berzakat, adalah contoh perilaku yang menganggap dunia ini suatu yang serius. Mereka pastinya tahu ketika mati tidak ada satupun yang akan mereka bawa, namun dorongan untuk memperkaya diri sendiri jauh lebih kuat.

Jauhnya perasaan syukur tercermin dari caranya menyikapi pertolongan Allah (Surat Az-Zumar 49): Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni’mat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi ni’mat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.

Manusia yang sombong selalu menganggap dirinya pantas mendapatkan nikmat, dan takabur dengan nikmat tersebut. Padahal, nikmat tersebut juga merupakan bagian dari ujian.

Bahkan orang paling sabar Nabi Allah Ayyub a.s. lebih menyukai kondisinya saat diuji dengan kemiskinan dan penyakit, karena tahu benar batasan ujian Allah. Saat diuji dengan kekayaan dan derajat duniawi, beliau menderita karena tipisnya garis pada kemunkaran dan kekufuran pada nikmat.

Semoga kita selalu diberi petunjuk dan ingatan, bahwa dunia ini adalah tempat bermain-main, untuk menyiapkan akhirat yang kekal dan serius.

(QS. Al ‘Ankabuut:64) Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda  gurau  dan  main-main. Dan  sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.

 

Islamofobia di Amerika: Transisi Bangkitnya Peradaban Islam -1

Posted in Kisah, Sharing with tags , , , , , on September 10, 2010 by hzulkarnain

TIME edisi 30 Agustus 2010 mengangkat topik yang menarik seputar issue anti Islam di Amerika Serikat – dan peristilahannya cukup provokatif, yaitu Islamophobic. Di satu sisi Islam punya ruang berkembang di sana, namun di sisi yang lain banyak hambatan yang menghadang syi’ar Islam tersebut.

Apa issue besar yang sekarang sedang bergulir? Protes atas pembangunan Masjid di ground zero – lokasi bekas reruntuhan WTC pada tragedi 9/11. Rencana itu seperti menyulut kebangkitan sentimen anti Islam di Amerika di wilayah lain. Padahal, sebenarnya masjid yang disebut dengan nama Park51 itu sudah ada sebelumnya, di tempat yang sama, dan sudah ada di sana setahun silam. Yang dimintakan perijinan adalah ekspansi agar cukup menampung jamaah sholat yang lebih banyak, serta menjadi semacam Muslim cultural center. Masjid Park51 sendiri diprakarsai oleh Imam Feisal Rauf dan istrinya Daisy Khan – seorang Muslim Amerika yang getol mempromosikan dialog antar-agama, dan rencana itu sudah mengantongi ijin dari otoritas kota serta Walikota New York Michael Bloomberg.

Para pemrotes sebenarnya tahu bahwa menurut undang-undang di Amerika Serikat, mereka tidak bisa menghentikan ekspansi masjid tersebut karena itu adalah hak individual yang dilindungi, apalagi sudah punya kekuatan hukum. Sebagian pemrotes berdalih bahwa pembangunan masjid di daerah itu tidak layak, karena lokasi ground zero itu sakral. Kehadiran sebuah masjid hanya akan menambah luka hati keluarga korban tragedi 9/11 yang mencapai 3000 orang.

lokasi Park51 yg akan direnovasi

Tapi apakah hanya ada Masjid Park51 di sana? Tidak. Daerah itu adalah wilayah hunian Lower Manhattan. Di antara bangunan hunian dan bisnis, hanya beberapa meter dari masjid itu ada klub striptease, toko minuman keras, dan toko-toko lain khas wilayah itu.

Menurut Ebrahim Moosa yang merupakan associate professor studi Islam di Duke University, protes atas pembangunan Park51 adalah bagian dari pola intoleransi terhadap kaum Muslim sejak tragedi 9/11 dan kian dalam dalam beberapa tahun terakhir. Memang tidak ada kekerasan langsung terhadap orang Islam meningkat, tetapi topik pembicaraan yang berbau kebencian terhadap Islam semakin luas dan semakin memanas. Seorang penulis Muslim Amerika, Arsalan Iftikhtar menyebutkan:”Islamofobia telah menjadi bentuk rasisme yang diterima di Amerika.”

Sebenarnya, intoleransi religius juga ditujukan kepada agama lain seperti Yahudi, Mormon, dan lainnya, namun jantung beracunnya disiapkan untuk Muslim. Franklin Graham, anak raksasa evangelis Billy Graham berkata kepada TIME bahwa “Islam is a religion of hatred. It’s a religion of war” (agama kebencian, agama perang). Lebih jauh, Graham mengatakan bahwa Park51 seharusnya tidak diijinkan karena semua orang Muslim bisa berjalan masuk ke sana, dan “semua wilayah yang mereka lalui dengan jalan kaki akan di-klaim sebagai wilayah Islam. Mereka sekarang akan menyebut daerah World Trade Center … sebagai tanah Islam.”

Lady Caliphs - tim basket muslimah SMA yang disegani

Sebagian orang Amerika mempertanyakan dengan sinis: Arab Saudi tidak mengijinkan gereja dan sinagog dibangun, jadi kenapa Amerika harus mengijinkan pembangunan tempat peribadahan Islam? Sebenarnya hal ini adalah persamaan atau analogi yang bodoh.  AS dan Arab Saudi tidak sama. Arab Saudi adalah negara berazaskan agama, sementara Amerika Serikat dibangun dengan landasan idealisme kebebasan beragama dan toleransi.

Kenapa Islamofobia tiba-tiba menguat? Beberapa Muslim Amerika berpendapat bahwa sebenarnya tidak menguat tiba-tiba. Sentimen ini sudah ada selama bertahun-tahun. Yang lainnya menyebutkan tragedi 9/11 adalah puncak semuanya. Arsalan Iftikhar ingat adanya ledakan “gelombang pertama” anti-Muslim setelah serangan teroris tersebut oleh pemimpin Kristen seperti Pat Robertson dan Jerry Falwell yang secara terbuka mempertanyakan apakah Islam benar-benar agama, dan memberi label Nabi Muhammad sebagai perampok, penyamun, dan teroris. Beberapa insiden lain dengan pemimpin politik juga terjadi.

Jumlah kaum Muslim di Amerika Serikat sendiri, menurut sebuah survey, mencapai 2.5 juta orang dari total 300 juta lebih penduduk. Angka ini sebenarnya lebih kecil daripada perkiraan sebelumnya yang diperkirakan mencapai 6 hingga 8 juta orang. Namun demikian, sebaran musholla di Amerika mencapai menurut Ihsan Bagby – seorang professor studi Islam di Universitas Kentucky – sekitar 1900 buah (meningkat 700 buah dari survey di tahun 2001), tapi memang kebanyakan berupa musholla kecil di ruang ganti atau sudut perkantoran, dan hanya beberapa yang berupa masjid.

Namun demikian, bahkan President Bush dan Menlu Condollezza Rice perlu repot untuk menenangkan gejolak anti Islam di Amerika sesaat setelah insiden tragis 9/11. Bush mengunjungi Islamic Centre di Washington dan menyebut Islam sebagai agama damai. Tidak seheboh dan sedemonstratif Bush, Obama juga melakukan hal serupa bahkan berusaha menjangkau dunia Islam di luar negeri Amerika. Bush dan Obama sama-sama menekankan garis tegas yang membedakan antara ekstrimis yang penginterpretasikan Islam dengan jalan kekerasan seperti Osama Bin Laden, dengan mayoritas kaum Muslim yang damai.

Bagi kaum Muslim yang mengagumi ideologi Amerika, dan menginginkan Park51 dibangun, mereka berkata:”Jika mereka tidak membangunnya, Pemerintah berarti setuju dengan pihak yang mengatakan bahwa kaum Muslim tidak bisa menjadi orang Amerika yang baik. Kalau memang begitu, lebih baik bagiku pulang ke Baghdad, karena aku tidak akan pernah diterima di sini.”

Pdt. Terry Jones dan gereja kecilnya

Usaha pemimpin Amerika untuk mengakomodasi Islam sebagai bagian integral masyarakat Islam masih menghadapi jalan terjal. Bangkitnya Islam di Amerika Serikat adalah test case serius bagi tegaknya ideologi bangsa itu sendiri, setelah selama berabad-abad merdeka dan ternyata dalam sejarahnya diwarnai dengan prejudice, intoleransi bahkan kekerasan religius.

Amerika memang dibangun atas idealisme kebebasan beragama dan toleransi, persamaan hak, dan tanah harapan. Ketika Pendeta Terry Jones berinisiaif hendak membakar Al-Qur’an untuk memperingati insiden 9/11, berbagai elemen bangsa Amerika menekan sang pendeta untuk mengurungkan niatnya. Semua elemen tersebut ingin menegakkan konstitusi bangsa itu. Kabar terakhir pendeta tersebut membatalkan rencananya, dengan tuntutan pembangunan Islamic Centre harus keluar dari ground zero. Sebenarnya, hal itu tidak bisa dipertentangkan dan bukan komoditi untuk saling dipertukarkan. .

Kita insyaallah masih akan terus melihat geliat transisi peradaban Islam, karena perlahan tapi pasti Islam merebut perhatian dan minat rakyat AS, sementara sebagian pemegang hegemoni tidak rela budaya Islam berkembang luas. Mereka akan terus berusaha mengaburkan makna konstitusi mereka sendiri – seperti layaknya tanda-tanda orang munafik. Let’s wait and see ….

Demi Kehormatan?

Posted in Kisah, Sharing with tags , , , , on August 10, 2010 by hzulkarnain

Herdian Zulkarnain

Foto ilustrasi tulisan saya kali ini mungkin memberikan perasaan tidak nyaman bagi kebanyakan pembaca yang singgah di blog ini. Saya mohon maaf. Saat melihat dan membaca liputan majalah TIME edisi tanggal 9 Agustus ini, saya merasa tergerak untuk membahasnya.

Cover TIME 9 Agustus 2010

Aisha adalah seorang wanita muda Afghanistan berumur 18 tahun dan menikah. Ia sebelumnya adalah perempuan yang cantik, berambut indah, bermata cemerlang, namun sekarang orang akan ngeri melihat wajahnya. Hidungnya habis, memperlihatkan rongga hidung, demikian pula telinganya. Apa yang terjadi?

Dalam pengakuannya, setelah menikah ia diperlakukan secara sewenang-wenang oleh para iparnya seperti budak, mereka memukulinya, dan ia merasa akan mati bila tidak menyelamatkan diri. melarikan diri dari rumah keluarga suaminya adalah pilihan yang diambilnya.

Aisha tinggal di wilayah Selatan Afghanistan, tempat kelompok pejuang Taliban berkuasa. Sekalipun Taliban tidak lagi berkuasa sebagai pemerintahan, kelompok itu punya akar yang kuat dan cukup menguasai sendi kehidupan di wilayahnya. Keluarga suami Aisha meminta Aisha dihukum, dan dengan pengawalan prajurit Taliban Aisha dijemput di suatu malam untuk menghadapi “pengadilan” di sebuah tempat di pinggir desa. Aisha sudah menjelaskan alasannya minggat dari rumah, namun hakim “pengadilan” itu – yakni komandan lokal Taliban – tidak goyah.

Keputusan diambil, Aisha harus dihukum, dan yang melakukannya adalah suaminya sendiri. Menurut sang hakim kepada Paman Aisha yang hadir, hal itu dilakukan sebagai pelajaran bagi perempuan-perempuan lain di desa itu agar tidak melakukan perbuatan serupa. Sementara ipar-iparnya memegangi, suami Aisha menghunus pisau dan mengiris kedua daun telinga perempuan itu, lalu hidungnya. Aisha pingsan karena penderitaannya, dan ia ditinggalkan begitu saja untuk mati.

Aisha - 18 tahun

Tapi entah bagaimana ceritanya, Aisha ternyata tidak mati. Yang Kuasa belum mengijinkannya mati. Ia terbangun karena tersedak darahnya sendiri, saat semua laki-laki yang menyaksikan eksekusi itu sudah pergi.

Aisha akhirnya ditampung dan dilindungi oleh semacam lembaga perlindungan perempuan di Kabul, setelah sebelumnya memperoleh perawatan di camp tentara Amerika. Perempuan muda itu akan menjalani rehabilitasi bedah kosmetik. Ayahnya pernah ke penampungan tersebut dan meminta Aisha kembali ke rumah, namun perempuan muda itu menolaknya. Ia bisa membayangkan apa yang terjadi bila ia pulang, sementara keluarganya menanggung rasa malu. Untuk menghilangkan rasa malu itu, mungkin saja ia akan mati dibunuh keluarganya sendiri demi pulihnya kehormatan keluarga, atau sekali lagi dikembalikan kepada keluarga suaminya – yang ujungnya sama saja: mati demi kehormatan keluarga.

Kejadian ini bukan 10 tahun lalu, saat Taliban berkuasa penuh, tetapi baru tahun 2009 kemarin. Di Afghanistan memang sedang terjadi konflik kepentingan antara pemeritah berkuasa yang didukung Amerika dengan kekuatan pasukan Taliban yang bergerilya di kantong-kantong perjuangan mereka. Setelah Taliban lepas dari kekuasaan dan iklim demokrasi membaik, perempuan-perempuan Afghanistan (terutama di Ibukota Kabul) mulai menggeliat dan menunjukkan kapasitas mereka. Sekarang ini, anggota parlemen perempuan mencapai sekitar 25%, tetapi secara de facto mereka belum dianggap signifikan. Aisha adalah contoh perempuan di area rural yang jauh dari modernisasi, dan masih hidup dalam kungkungan adat yang mengatas namakan agama. Perempuan-perempuan ini hidup dalam budaya patriarki yang kuat, dan tidak memberikan mereka kebebasan untuk berpikir dan bertindak. Mereka harus siap menerima kematian bila dianggap mempermalukan nama keluarga.

Perempuan Afghan di Kabul, terpelajar dan emansipasi

Honor killing – sebutan untuk pembunuhan atau kematian yang dilakukan demi nama dan kehormatan keluarga. Istilah ini pertama kali disebutkan oleh Ane Nauta, ilmuwan Belanda di masyarakat Turki. Human Rights Watch mendefinisikan honor killing sebagai: tindak kekerasan, biasanya pembunuhan, yang dilakukan oleh kaum pria sebuah keluarga terhadap kaum wanitanya yang dianggap membuat malu keluarga.

Perbuatan yang dianggap memalukan dan patut dihukum dengan kematian antara lain: menolak dinikahkan, menjadi korban kekerasan seksual, meminta cerai (sekalipun dari suami yang penganiaya), atau melakukan perzinahan.

Ada yang mengasumiskan bahwa honor killing terkait dengan dunia Islam. Dalam laporan National Geographic di tahun 2002, Hillary Mayell menyebutkan bahwa honor killing ditemukan oleh PBB dilakukan di negara-negara: Bangladesh, Britania Raya, Brazil, Ecuador, Mesir, India, Israel, Italy, Jordan, Pakistan, Maroko, Swedia, Turki, dan Uganda. Yang tidak secara resmi dilaporkan adalah Afghanistan, Iran, dan Iraq.

Menurut Marsha Freeman (2002 – direktur International Women’s Right Action Watch), kebanyakan honor killing terjadi di negara-negara yang punya konsep perempuan sebagai alat untuk mengangkat reputasi keluarga.

Widney Brown, direktur advocacy Human Rights Watch, menyatakan,”di negara-negara yang bernafaskan Islam, mereka menyebutnya honor killing (pembunuhan demi kehormatan), tetapi kematian karena uang mahar (dowry – uang yang dibawa mempelai perempuan pada keluarga pengantin laki-laki – red) dan kejahatan karena hal-hal semacam itu memiliki dinamika serupa – yang pada pokonya perempuan dibunuh oleh anggota keluarga yang laki-laki, dan kejahatan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang bisa dipahami dan dimaafkan.”

Di India, lebih dari 5000 mempelai perempuan mati tiap tahun karena uang mahar yang tidak mencukupi. Di Amerika Latin, praktik seperti ini juga terjadi.

Tahira Shahid Khan (1999) dalam tulisannya menyebutkan bahwa, di dalam Al-Qur’an tidak ada pengajaran yang mengijinkan pembunuhan demi kehormatan. Akan tetapi, pandangan bahwa perempuan adalah properti (hak milik) tanpa hak pribadi sangat berakar pada kultur masyarakat Islam.

Katanya,”Perempuan dianggap sebagai properti dalam keluarga tanpa memandang kelas, etnik, dan agamanya. Pemilik properti berhak menetapkan nasibnya. Konsep ini telah mengubah perempuan menjadi komoditi yang dapat dipertukarkan, dibeli, dan dijual.”

Honor killing tidak selalu dengan cara yang mengerikan sebagaimana yang dialami Aisha, tetapi bisa juga dengan tembakan langsung. Tidak selalu di tempat khusus, bisa juga di tengah keramaian. Samia Imran di tahun 1999 hendak menggugat cerai suaminya di Peshawar Pakistan, setelah 10 tahun perkawinan yang menyengsarakannya. Dia bukan dari keluarga sembarangan, karena ayahnya saat itu adalah Ketua Kamar Dagang di Peshawar. Keluarganya menentang, karena hal itu akan mempermalukan keluarga. Perempuan berumur 28 tahun ditembak mati oleh seorang laki-laki yang masih kerabatnya di depan kantor pengacara. Pembunuhnya tidak pernah dihukum.

Zahida Parveen. inset: sebelum rusak dan setelah rusak

Di tahun 2002, dokumenter National Geographic menyelidiki honor killing di Pakistan, dan memperkirakan 3 orang perempuan menjadi korban praktik ini tiap harinya. Kasus mirip yang dialami Aisha terjadi juga tahun-tahun itu, dialami oleh Zahida Parveen (29) seorang ibu beranak 3 yang secara brutal dibutakan kedua matanya dan dirusak wajahnya … lagi-lagi oleh suaminya sendiri.

Dengan mengatas namakan agama dan kehormatan keluarga, honor killing dilakukan. Akan tetapi, sebenarnya hal ini adalah legitimasi atas kekerasan pada perempuan, karena perempuan dianggap tidak punya tempat pada budaya patrilinial. Tidak ada urusan dengan agama.

Semoga kita bisa sedikit mengambil hikmah dari kisah ini. Islam meninggikan derajat kaum perempuan, menjadikan mereka ahli dalam urusan mengatur rumah tangga dan menyeimbangkan harmonisasi keluarga dengan emosinya. Akan tetapi, dengan sedikit mis-interpretasi, memang akhirnya bisa saja perempuan dianggap sebagai properti.

Semoga Allah Swt senantiasa memberikan rahmat dan petunjukNya untuk bangsa ini.

SELAMAT MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN … semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan rahmat-Nya pada kita semua, dan keikhlasan kita menyambut bulan suci ini membawa kebaikan bagi semuanya. Amin.