REPOTNYA LEBARAN

Hari raya keagamaan yang satu ini memang istimewa, dan setiap tahun selalu menimbulkan kehebohan di Indonesia. Kabarnya, hal ini hanya terjadi di Indonesia. Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini punya kultur baru yang menjadi ciri khas yang tidak dimiliki negara lain.

rukyatul hilal di Pantai Ambat Pamekasan Madura

Heboh pertama karena alasan yang berkait dengan penentuan kepastian tanggalnya. Karena Muhammadiyah menghitung datangnya bulan baru dengan cara menghitung secara sistematis, sementara NU berpegang teguh untuk melakukan aktivitas melihat bulan dengan mata (baik langsung maupun dibantu alat modern), cukup kerap terjadi selisih 1 hari. Masalahnya, semua kalender nasional sudah mencantumkan tanggal merah Idul Fitri sejak tahun sebelumnya, bahkan SKB 3 menteri tentang hari-hari libur nasional yang juga mencantumkan waktu-waktu cuti bersama sudah beredar luas. Akibatnya sudah bisa diduga, kerancuan dan kebingungan muncul saat penetapan pemerintah mengenai 1 Syawal berbeda dengan kalender.

Di jaman Orde Baru, Pak Harto suka sekali seremoni menjelang Idul Fitri, misalnya menabuh bedug pertanda datangnya 1 Syawal atau kegiatan serupa lainnya. Tentu saja, pemerintahan ini lebih menyukai datangnya 1 Syawal yang terprediksi ala Muhammadiyah. Sementara di era reformasi, terlebih di jaman Gus Dur, penentuan bulan baru untuk memulai puasa dan Idul Fitri dengan melihat hilal lebih diutamakan. Di masa Orde Baru, memang terlihat beberapa tetangga yang orang NU melaksanakan Idul Fitri berbeda dengan penetapan pemerintah, tetapi tidak jadi polemik besar seperti sekarang. Mungkin era keterbukaan informasi turut menyumbang kehebohan seperti sekarang ini.

Menurut Prof. Azyumardi Azra, di negara lain yang berlandaskan Islam perbedaan ini tidak terjadi karena negara yang membuat ketentuan tunggal, seperti di Malaysia, Arab Saudi, dsb. Di Indonesia yang berbasis demokrasi hal itu tidak bisa diterapkan, karena Kementrian Agama tidak boleh masuk terlalu jauh dalam penentuan semacam ini. Penetapan 1 Syawal ada di tangan musyawarah Ormas, dan pemerintah tinggal mengikuti saja melalui mekanisme sidang isbat.

Kemudian, masih menurut cendekiawan Islam tersebut, antara Muhammadiyah dan NU sebagai ormas Islam terbesar juga perlu duduk bersama untuk melakukan kesepakatan-kesepakatan. Selama ini, Muhammadiyah berprinsip bahwa asal dalam perhitungan astronomi bulan baru sudah lebih dari 1.5 derajat di atas ufuk berarti sudah masuk bulan baru. Padahal, secara hilal bulan muda baru akan tampak bila ketinggiannya mencapai sekurangnya 2.5 derajat di atas ufuk – dan tanggal 1 terjadi bila bulan benar-benar terlihat. Mungkin NU perlu menurunkan nilai 2.5 serajat tersebut, dan Muhammadiyah menaikkan nilai yang selama ini dipegangnya, lalu keduanya membuat kesepakatan. Ini semua demi umat Islam.

Kita tunggu saja, apakah di tahun-tahun mendatang akan ada solusi dan kesepakatan demi umat dari ormas-ormas besar di Indonesia?

Kehebohan kedua adalah kultur mudik, yang kian lama semakin marak. Tak pelak lagi, ini adalah buah urbanisasi yang sudah terjadi sejak dulu. Sudah bukan rahasia lagi, industrialisasi di perkotaan menarik minat orang untuk pergi ke kota mengadu nasib – meskipun hanya menjadi buruh pabrik, karyawan rendahan, atau bekerja di sekotr-sektor informal. Sarjana yang dicetak di kota pun turut menyesaki kota, enggan pulang, dan akhirnya menjadi bagian dari kota-kota industri. Dalam perkembangannya, industrialisasi tidak sekedar di Jawa tetapi juga di beberapa kantung industri seperti Batam dan Kalimantan Timur. Ke sana pula orang-orang Jawa mengadu nasib, bahkan akhirnya menetap dan berkeluarga.

Sekitar tahun 80-an hingga 90-an, moda transportasi yang sangat umum untuk mudik di Jawa adalah bus dan kereta, serta kapal laut menjadi favorit bagi yang bepergian antar pulau. Namun, beberapa tahun belakangan ini moda transportasi jarak dekat dan menengah yang paling favorit adalah sepeda motor. Meskipun kurang aman dibandingkan dengan kendaraan roda empat, pilihan ini harus diambil untuk mengejar efisiensi biaya. Yak, dengan naiknya permintaan tiket kereta dan bus, jelas harga tiket melambung dan pemerintah memberikan peluang bagi operator bus dan KA untuk menaikkan tiket. Bagi yang mudik jarak jauh, pilihan yang tersisa hanyalah pasrah untuk membeli tiket yang mahal dan rela berjubel di stasiun atau terminal, bahkan harus berdiri di bus.

Menteri Perhubungan sempat dikecam oleh sementara kalangan karena meletakkan kesalahan pada individual pemudik saat terjadi kecelakaan lalu-lintas. Menurut Pak Menteri, ngantuk dan lelah adalah penyebab utama kecelakaan, dan hal tersebut sifatnya individual. Jadi, pemerintah tidak mengakui bahwa bagian lain dari kecelakaan ini adalah kondisi jalan, sistem transportasi yang masih belum pro-rakyat, harga tiket yang menggila, dsb.

Mudik ngirit beresiko tinggi

Lepas dari siapa yang salah, bagaimanapun pergerakan massa dalam jumlah sebesar itu sudah pasti tidak mudah. Menghilangkan tradisi mudik juga rasanya sangat sulit, sebab setiap orang Indonesia punya kecenderungan untuk kembali ke akarnya – di kampung, desa, dan kerabat. Selama di kota asal masih ada sanak kerabat yang perlu atau harus dikunjungi, selama itu pula mudik terjadi. Kalaupun tinggal kerabat jauh, selama ada hasrat untuk berbagi kesuksesan dan mengajak teman sekampung urbanisasi, di situlah mudik terjadi. Alasan lain, yang sifatnya lebih berupa ikatan emosional adalah “nyekar” ke makam leluhur. Biar pun hanya sehari dua hari, nyekar bisa juga menjadi alasan mudik.

Repotnya lebaran ini pada akhirnya menggeser makna Idul Fitri yang sebenarnya. Tidak ada yang mengharuskan mudik, liburan, dan berjubelan di bus saat Idul Fitri, karena esensi Idul Fitri bukan itu. Namun demikian, banyak yang “kurang marem” atau “tidak afdhol” kalau tidak mudik. Padahal, pulang kampung bisa saja dilakukan di saat lain – kala terminal dan stasiun kereta tidak padat.

Akhirnya, mau mudik atau tidak, kembali kepada individu. Kembali pada kepentingan dan niat masing-masing. Biar pun rasanya … mudik dan bertemu kerabat di saat Idul Fitri beda sekali suasananya dibandingkan dengan pertemuan di waktu yang lain.

2 Responses to “REPOTNYA LEBARAN”

  1. Mudik dengan sepeda motor bukanlah pilihan yang menyenangkan. Lebih karena keterpaksaan, karena kendaraan umum sangat mahal dan tidak nyaman.

    BTW, apakah mungkin menghilangkan atau meminimalisasi budaya mudik ini?

  2. Indahnya perbedaan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: