Archive for Mercusuar Insan

Ulama yang Alim Umara yang Amanah

Posted in Kontemplasi, Sharing, Tausiyah with tags , on May 18, 2010 by hzulkarnain

Herdian Zulkarnain

Pada sebuah Jumat beberapa minggu lalu, saya mendapatkan sebuah bulletin Jumat yang menarik, mengupas tentang posisi ulama dalam interaksinya dengan umara’.

Dikisahkan, Imam Malik (179 H) diminta oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk berkunjung dan mengajarkan Hadits kepadanya. Imam Malik menolaknya dengan dalih, “Wahai Amirul Mukmini, ilmu itu didatangi, tidak mendatangi.” Di mata Imam Malik, sang Khalifah tidak bedanya dengan pencari ilmu lainnya, dan karena Harun Ar-Rasyid adalah penguasa yang adil ia pun bisa mengerti. Sang Khalifah bersedia untuk datang dan belajar kepada sang guru.

HAMKA ulama bernama harum

Hal lain yang menyebabkan Imam Malik menjaga jarak dengan penguasa adalah kemungkinan timbulnya fitnah. Sebagai sabda Rasulullah SAW: ”Barang siapa tinggal di padang pasir, ia kekeringan. Barang siapa mengikuti buruan, ia lalai. Dan barang siapa yang mendatangi pintu-pintu penguasa, maka ia terkena fitnah.”(riwayat Ahmad).

Seorang guru dari kedua putra Harun Al-Rasyid yang bernama Isa bin Yunus, menolak pemberian uang 10 ribu dirham setelah sang guru tersebut mengajari mereka Hadits. Katanya: ”Hadits Rasulullah SAW tidak untuk mendapatkan apa-apa, walau hanya segelas air minum.”

Sebenarnya, para ulama tersebut bukan orang yang kaya materi, namun mereka sangat meyakini bahwa Dzat yang menciptakan mereka, yakni Allah SWT, akan memelihara mereka. Seorang Khalifah yang bernama Al Mustadhi’ memberikan uang 500 dinar kepada Al Anbari melalui seorang utusan. Al Anbari menolaknya. Karena tidak mungkin membawa uang tersebut pulang begitu saja, sang utusan kemudian mengatakan;

“Kalau engkau tidak mau, berikanlah harta ini kepada anakmu.”

Al Anbari justru berkata: ”Jika akau yang menciptakannya, maka akulah yang memberinya rizki.”

Maksudnya, Allah SWT sebagai pencipta alam dan seisinya ini telah mengatur rizki bagi anaknya, sehingga tidak perlu ia menerima uang itu dan menyerahkan pada anaknya.

Mengapa ulama sekeras itu pada penguasa, tak lain dikarenakan ketakutan akan dampak yang mungkin terjadi di masa mendatang. Bila bahaya fitnah sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW, hal lain yang mengancam adalah hilangnya wibawa ulama di mata penguasa. Akibatnya, ulama jadi segan bahkan tidak berani ber-amar ma’ruf nahi munkar bila sang umara melakukan kekeliruan.

Ada seorang ulama besar yang lahir di Damaskus tetapi menghabiskan masa tua hingga meninggal di Mesir, dan dikenal sebagai seorang ulama yang ditakuti penguasa negeri sekalipun. Namanya adalah Abdul Aziz bin Adissalam, tapi digelari Izzuddin (kemuliaan agama, sehingga beliau dikenal dengan nama Izzuddin Bin Abdissalam. Dia adalah seorang ulama yang punya pemikiran tajam dan luas, lurus hati, pemberani, dan hanya mendasarkan segala sesuatu pada Allah semata. Usahanya sedemikian keras untuk menjaga reputasi ulama pada masanya dan mengomandani para ulama untuk tidak takut ber’aar ma’rud nahi munkar, sehingga murid beliau Ibu Daqiq Al-Id menjuluki gurunya sultan semua ulama. Selama di Mesir beliau menjabat sebagai khatib masjid jami’ Amr bin Al Ash dan qadi kota Kairo.

Pada suatu hari raya, Syaikh Izzudin bin Abdissalam datang ke istana sekalipun tidak diundang. Beliau menyaksikan kemegahan, pasukan berbaris mengawal sultan, Najmuddin Ayyub, yang sedang berkunjung menemui para penghuni istana dengan pakaian mewahnya khas penguasa.

Dalam suasana khidmat seperti itu, Syaikh Izzudin Bin Abdissalam  mendatangi sang sultan dan berkata: “Wahai Ayyub, apa jawabanmu kelak ketika Allah mengatyakan kepadamu,’bukankah kau telah kuberi kekuasaan di Mesir, akan tetapi kau lantas menghalalkan khamr?”

Sang sultan berjawab dengan sang ulama, yang pada intinya khamr sudah ada di Kairo sejak masa ayah-ayah mereka, sehingga tidak mengherankan bila banyak kedai yang menjual minuman keras tersebut. Namun dengan ketegasan dan keteguhannya, sang ulama berhasil memaksa sang umara untuk menutup semua kedai penjual khamr di kota tersebut.

Kepada muridnya, Syaikh Abu Abdullah Muhammda An Nu’man, Syaikh Izzudin bin Abdissalam menjelaskan bagaimana dia bisa sedemikian asertif dan berani kepada penguasa: “Aku melihat pada dirinya telah ada perasaan bahwa dirinya terhormat, maka aku harus merendahkannya, agar kesombongannya tidak mencelakai dirinya sendiri,”

Syaikh Izzudin dihormati orang, mulai rakyat jelata hingga penguasa. Ada anggapan, bila sang Syaikh mengatakan untuk mengganti penguasa, maka tidak ada yang bisa menghentikan rakyat untuk mengangkat penguasa baru. Itulah sebabnya penguasa negeri sedemikian takut kepadanya.

Beberapa bulan menjelang wafatnya, sang Syaikh berselisih paham dengan penguasa negeri Sultan Dhahir Bebres akan suatu hal. Penguasa negeri mengambil sikap dan keputusan, tetapi ternyata menurut Syaikh Izzuddin hal tersebut tidak benar. Sang Syaikh telah berusaha mengingatkan, tetapi Sultan tidak bersedia mendengarkan sarannya. Syaikh Izzudin tidak berkata apa-apa lagi, tetapi ia menyuruh semua keluarganya untuk berkemas-kemas, karena mereka akan keluar Mesir kembali ke Syam.

Iman Khomeini, fatwanya meruntuhkan Shah Iran

Seorang pejabat menasihati Sang Sultan,”Bila Syaikh Izzuddin pergi meninggalkan Mesir, kekuasaan penguasa negeri sudah pasti akan selesai.” Dan Sultan pun berangkat sendiri untuk mencegak Syaikh Izzudin pergi. Syaikh Izzuddin bertahan di Mesir hingga akhirnya wafat di negeri itu.

Ketika ulama besar madzhab Syafi’i ini wafat, sang Sultan berkata,”Hari ini aku memegang tampuk kekuasaan, karena Syaikh ini. Jika beliau mengatakan kepada manusia,’jangan mentaati dia’ niscaya kekuasaan benar-benar lepas dariku.”

Ulama yang berpegang teguh pada tuntunan agama selalu memiliki kharisma yang tak akan lekang oleh apapun. Kharisma ini mendatangkan pengikut, dan pengikut yang besar serta militan bisa mengguncang kursi kekuasaan. Di dunia sekarang ini, rasanya hanya Republik Islam Iran yang masih menempatkan jajaran ulama lebih tinggi daripada umara. Sejak kerajaan Iran di bawah Shah Iran tumbang oleh gerakan Imam Khomeini, republik baru yang berdiri menempatkan ulama sebagai panutan utama, dan presiden yang direstui oleh dewan ulama ini.

Namun demikian, untuk menjadi ulama yang menjadi panutan apalagi mercusuar bangsa tidaklah mudah. Ulama yang berakar dari kata alim, bermakna orang yang berilmu, pandai, dan tempat bertanya. Namun demikian, seorang ulama tidak boleh sembarang berbicara, khususnya mengenai hal-hal yang terkait dengan agama.

Dalam mukadimah bukunya, Quraish Shihab menyebutkan bahwa bila tidak menguasai sesuatu hal, ada 3 kemungkinan yang akan dilakukan oleh orang tersebut: pertama berbohong (yang menjadi dosa besar – apalagi terkait dengan agama); kedua menduga-duga atau mengira-ngira (dan ini sangat tidak terpuji karena menyimpang dari firman Allah); atau langsung pada jawaban: saya tidak tahu.

Bahkan Rasulullah SAW selalu menunggu wahyu Allah bila menemui masalah yang belum pernah terjadi. Bahkan tidak jarang beliau mengatakan “saya tidak tahu”. Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah menyampaikan: “Yang paling berani berfatwa di antara kamu adalah yang paling berani terhadap neraka.”

Imam Malik berkata,”Ilmu agama itu hanya tiga, (1) ayat yang jelas, (2) sunah yang shahih, dan (3) ucapan “aku tidak tahu”.

Seorang ulama yang lurus hati, tanpa pamrih, dan bersandar pada kebenaran, tanpa takut pada manusia dan hanya tunduk kepada Allah, adalah orang yang bisa menjadi panutan. Semua kata-kata dari mulutnya bermuatan kebenaran – sekalipun sang ulama tidak menyebutnya sebagai fatwa. Wallahu a’lam bishawab.

Semoga Allah SWT senantiasa menerangi bumi pertiwi ini dengan para ulama yang menjunjung kebenaran dan umara yang amanah terhadap jabatannya. Amin.

Perempuan-Perempuan di Layar Kaca

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on February 6, 2010 by hzulkarnain

Nonton TV? Sudah pasti itu adalah hobi kebanyakan masyarakat kita belakangan ini. bukan Cuma di sini, tetapi juga di belahan bumi lain. Bahkan di Amerika, sebuah survey menunjukkan bahwa anak dan remaja di sana menghabiskan waktu 270 menit perhari di depan televisi – sehingga majalah TIME punya istilah Couch-Potato Generation (karena orang yang tidak punya kerjaan lain selain nonton tv disebut couch-potato). Tapi bukan itu yang ingin saya bahas di sini.

ada tak menggenapi, tak ada tak mengapa

Pertanyaan lain yang secara iseng mungkin menarik untuk dijawab adalah, apa yang membuat televisi menjadi tontonan yang menarik dan sedap dipandang? Jawabannya mungkin beragam, bisa jenis acaranya, lucu komedinya, gosipnya, dsb. Akan tetapi, pernah kita berpikir dan menilai, bagaimana sih kalau di televsi kita ini pengisinya laki-laki melulu …?

Lepas dari masalah kesetaraan gender, perempuan merupakan pemanis bisnis pertelevisian, dan membuat situasi maskulin dunia televisi menjadi lebih feminin dan cair. Mungkin sama dengan balapan F1 atau MotoGP yang maskulin, tetapi dalam tiap start selalu menghadirkan kaum hawa sebagai pembawa payung para racer.

Benarkah televisi adalah dunia maskulin? Sudah barang tentu. Gedung studio televisi dirancang untuk dioperasikan dengan efisiensi, penuh dengan benda teknis, aktivitas yang tidak mengenal waktu dan basa-basi, dan tujuan bisnis yang kompetitif. Muatan yang paling disukai di pagi hari adalah dunia maskulin juga: hard news dan olah raga. Pada prime-time beragam acara bertarung, tetapi semuanya dikendalikan oleh kaum maskulin. Perhatikan para nama crew yang berada di belakang sebuah acara yang sukses.

Akan tetapi, uniknya, acara-acara yang sukses selalu menyertakan perempuan sebagai pengisi acara. Kalau menyebutkan pembaca berita laki-laki di Metro TV, sebagai saluran berita yag mirip CNN di Amerika, mungkin orang butuh waktu untuk berpikir. Tetapi kalau diminta menyebutkan seorang presenter atau pembaca berita perempuan, justru di Metro TV banyak didapatkan dan dikenal. Salah satu favorit saya adalah Kania Sutisnawinata. Dan, kompetensi mereka sangat handal. Penyuka acara dialog di TVOne pasti tidak asing dengan Tina Talisa yang garang dalam bertanya. Dulu, SCTV punya Ira Koesno dan RCTI punya Desi Anwar.

Bukan hanya itu, sinetron, talk-show, acara gosip, semuanya bertaburan wajah-wajah cantik pengisi acara dan berita. Belum lagi bermacam-macam iklan yang beterbangan di layar kaca. Segera saja rumah-rumah produksi dibangun dan aktif mencari talent-talent baru yang fresh dan cantik.

inspiratif ...

Sebelumnya, saya menilai kaum perempuan yang beredar di layar kaca secara umum terbagi atas 2 kategori, yakni: petarung dan pemanis. Perempuan petarung adalah subjek dalam acara, sementara yang pemanis adalah objek semata.

Perempuan petarung adalah kaum hawa yang mendedikasikan dirinya untuk sesuatu yang diyakininya, memiliki kompetensi luar biasa di bidangnya, dan berjuang melalui segala rintangan untuk survive, sehingga siapapun yang melihatnya di layar kaca akan menatap dengan hormat. Oprah Winfrey yang tak perlu saya sebutkan lagi peretasinya, Desi Anwar yang saya anggap perempuan hebat pertama di pertelevisian kita di era 90-an, Kania Sutisnawinata yang membawa image perempuan hebat sebagai presenter, Meutia Hafid yang survive dalam penyanderaan di Irak, Riani Jangkaru melalui acara Jejak Petualangnya menginspirasi perempuan ke pedalaman, dan Medina Kamil yang hampir hilang saat berpetualang di Papua, adalah sedikit dari sekian banyak contoh perempuan petarung yang hebat di pertelevisian. Untuk kalangan pejabat yang menghiasi berita di media televisi, saya sangat respek pada 2 nama: DR Sri Mulyani (Menkeu kita), dan DR Siti Fadilah Supari (mantan Menkes kita).

Perempuan pemanis dihadirkan di layar kaca sebagai pelengkap, menambah cita rasa (taste) acara sehingga lebih meriah dan menarik. Mungkin bisa dianalogikan dengan hadirnya umbrella girl di lintasan, atau round girl di rng tinju. Tanpa mereka, acara itu tidak kekurangan maknanya, namun kalau ada mereka hadirin jadi sumringah. Sekalipun host cukup seorang, master of ceremony pria saja, tetapi kemudian perlu dihadirkan seorang co-host perempuan – agar acara menjadi lebih manis.

Tidak berhenti sampai di situ, pemanis ini juga bisa ditemui dalam berbagai sinetron yang menarik minat pemirsa. Lihat saja judul-judulnya yang kebanyakan nama perempuan. Nama mereka memang dipampang sebagai pemeran utama, tetapi kenyataannya? Cerita yang disajikan tidak akan jauh dari model kisah Cinderella (si Upik Abu yang baik hati bertemu dengan dan menikah dengan sang Pangeran yang tampan dan kaya).

Belakangan ini, tampaknya saya harus membuat definisi baru tentang kehadiran perempuan di layar kaca, seiring dengan munculnya acara Take Me Out dan Take Him Out Indonesia. Sampai sekarang saya belum tahu benar, kaum perempuan di sini yang mencapai jumlah puluhan, berstatus sebagai subjek atau objek? Sebagai petarung atau pemanis? Atau tidak kedua-duanya?

Saya tidak bisa menyebut mereka sebagai pemanis, karena mereka aktif dan bisa membuat keputusan sendiri. Bukan sosok dungu yang diproyeksikan mempermanis ruangan. Akan tetapi, saya juga tidak bisa menyebut mereka petarung, karena kehadiran mereka di acara ini saja seolah-olah hendak menunjukkan bahwa adalah orang-orang yang desperate dalam mencari jodoh. Padahal, seorang petarung adalah figur asertif, dan meyakini bahwa mereka memiliki potensi serta kompetensi untuk bertarung di dunia.

Saya menilai, acara ini bagai ajang pembenaran sindroma Cinderella Complex – untuk menemukan sang pangeran dengan cara cepat. Inilah yang menyebabkan saya tidak bisa menyebut mereka sebagai petarung.

Di luar sana, kaum perempuan petarung tidak dinilai berdasarkan penampilan fisik mereka, dan kecantikan adalah inner beauty yang tidak tersamar kecantikan fisik. Perempuan cantik yang juga petarung adalah bonus indah semata.

Well, saya tidak hendak men-judge-ment apapun, hanya sekedar menginginkan lebih banyak perempuan yang hadir di layar kaca sebagai petarung – tidak sekedar pemanis. Perempuan petarung akan membuat acara manis, tetapi perempuan pemanis tidak akan membuat dirinya kompeten di acara itu.

GUS DUR dalam Majalah TIME

Posted in Biografi, Sharing with tags , on January 19, 2010 by hzulkarnain

Wolfowitz, mantan Dubes AS di Indonesia

Majalah Time edisi 18 Januari 2010 menyelipkan sebuah artikel pendek tulisan Paul Wolfowitz tentang Gus Dur yang dikenal dan dikenangnya. Paul Wolfowitz dulu pernah menjabat sebagai duta besar Amerika Serikat di Indonesia, dan lancar berbahasa Indonesia.

Wolfowitz mengisahkan bagaimana ribuan orang berjajar di jalan untuk berbela sungkawa atas meninggalnya Gus Dur, bahkan banyak yang terang-terangan menangis.

Di matanya, Gus Dur bukanlah seorang manajer, sehingga dia harus lengser dari kursi kepresidenan karena desakan parlemen. Tetapi Gus Dur adalah seorang visioner, dan sebagai Presiden beliau menanamkan sebauh visi tentang Indonesia (yang merupakan negara berpopulasi terbanyak ke-4 di dunia dan berpenduduk Muslim terbesar) yang menjunjung kebebasan beragaman dan hak asasi manusia.

Yang lebih penting lagi, sebagai pimpinan spiritual yang berasal dari NU, Gus Dur selalu melawan para fanatik yang dikatakan Gus Dur “membawa Islam menjadi sebuah dogma yang tidak toleran, penuh kebencian, dan pertumpahan darah.” Gus Dur mampu mengutip Al-Qur’an dengan hati untuk membela hak semua orang untuk mengikuti hati mereka dalam urusan agama, dan secara konstan bersuara atas nama kelompok minoritas yang teraniaya sekalipun hal itu mengancam popularitasnya.

Gus Dur mengatakan ingin nisannya nanti bertuliskan: DI SINI DIMAKAMKAN SEORANG HUMANIS. Dan memang begitulah dia. Dia dicintai jutaan orang, baik Muslim maupun non-Muslim. Dia adalah seorang pemimpin yang akan dikenang oleh dunia ini.