Archive for Mercusuar Insan

Ulama yang Alim Umara yang Amanah

Posted in Kontemplasi, Sharing, Tausiyah with tags , on May 18, 2010 by hzulkarnain

Herdian Zulkarnain

Pada sebuah Jumat beberapa minggu lalu, saya mendapatkan sebuah bulletin Jumat yang menarik, mengupas tentang posisi ulama dalam interaksinya dengan umara’.

Dikisahkan, Imam Malik (179 H) diminta oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk berkunjung dan mengajarkan Hadits kepadanya. Imam Malik menolaknya dengan dalih, “Wahai Amirul Mukmini, ilmu itu didatangi, tidak mendatangi.” Di mata Imam Malik, sang Khalifah tidak bedanya dengan pencari ilmu lainnya, dan karena Harun Ar-Rasyid adalah penguasa yang adil ia pun bisa mengerti. Sang Khalifah bersedia untuk datang dan belajar kepada sang guru.

HAMKA ulama bernama harum

Hal lain yang menyebabkan Imam Malik menjaga jarak dengan penguasa adalah kemungkinan timbulnya fitnah. Sebagai sabda Rasulullah SAW: ”Barang siapa tinggal di padang pasir, ia kekeringan. Barang siapa mengikuti buruan, ia lalai. Dan barang siapa yang mendatangi pintu-pintu penguasa, maka ia terkena fitnah.”(riwayat Ahmad).

Seorang guru dari kedua putra Harun Al-Rasyid yang bernama Isa bin Yunus, menolak pemberian uang 10 ribu dirham setelah sang guru tersebut mengajari mereka Hadits. Katanya: ”Hadits Rasulullah SAW tidak untuk mendapatkan apa-apa, walau hanya segelas air minum.”

Sebenarnya, para ulama tersebut bukan orang yang kaya materi, namun mereka sangat meyakini bahwa Dzat yang menciptakan mereka, yakni Allah SWT, akan memelihara mereka. Seorang Khalifah yang bernama Al Mustadhi’ memberikan uang 500 dinar kepada Al Anbari melalui seorang utusan. Al Anbari menolaknya. Karena tidak mungkin membawa uang tersebut pulang begitu saja, sang utusan kemudian mengatakan;

“Kalau engkau tidak mau, berikanlah harta ini kepada anakmu.”

Al Anbari justru berkata: ”Jika akau yang menciptakannya, maka akulah yang memberinya rizki.”

Maksudnya, Allah SWT sebagai pencipta alam dan seisinya ini telah mengatur rizki bagi anaknya, sehingga tidak perlu ia menerima uang itu dan menyerahkan pada anaknya.

Mengapa ulama sekeras itu pada penguasa, tak lain dikarenakan ketakutan akan dampak yang mungkin terjadi di masa mendatang. Bila bahaya fitnah sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW, hal lain yang mengancam adalah hilangnya wibawa ulama di mata penguasa. Akibatnya, ulama jadi segan bahkan tidak berani ber-amar ma’ruf nahi munkar bila sang umara melakukan kekeliruan.

Ada seorang ulama besar yang lahir di Damaskus tetapi menghabiskan masa tua hingga meninggal di Mesir, dan dikenal sebagai seorang ulama yang ditakuti penguasa negeri sekalipun. Namanya adalah Abdul Aziz bin Adissalam, tapi digelari Izzuddin (kemuliaan agama, sehingga beliau dikenal dengan nama Izzuddin Bin Abdissalam. Dia adalah seorang ulama yang punya pemikiran tajam dan luas, lurus hati, pemberani, dan hanya mendasarkan segala sesuatu pada Allah semata. Usahanya sedemikian keras untuk menjaga reputasi ulama pada masanya dan mengomandani para ulama untuk tidak takut ber’aar ma’rud nahi munkar, sehingga murid beliau Ibu Daqiq Al-Id menjuluki gurunya sultan semua ulama. Selama di Mesir beliau menjabat sebagai khatib masjid jami’ Amr bin Al Ash dan qadi kota Kairo.

Pada suatu hari raya, Syaikh Izzudin bin Abdissalam datang ke istana sekalipun tidak diundang. Beliau menyaksikan kemegahan, pasukan berbaris mengawal sultan, Najmuddin Ayyub, yang sedang berkunjung menemui para penghuni istana dengan pakaian mewahnya khas penguasa.

Dalam suasana khidmat seperti itu, Syaikh Izzudin Bin Abdissalam  mendatangi sang sultan dan berkata: “Wahai Ayyub, apa jawabanmu kelak ketika Allah mengatyakan kepadamu,’bukankah kau telah kuberi kekuasaan di Mesir, akan tetapi kau lantas menghalalkan khamr?”

Sang sultan berjawab dengan sang ulama, yang pada intinya khamr sudah ada di Kairo sejak masa ayah-ayah mereka, sehingga tidak mengherankan bila banyak kedai yang menjual minuman keras tersebut. Namun dengan ketegasan dan keteguhannya, sang ulama berhasil memaksa sang umara untuk menutup semua kedai penjual khamr di kota tersebut.

Kepada muridnya, Syaikh Abu Abdullah Muhammda An Nu’man, Syaikh Izzudin bin Abdissalam menjelaskan bagaimana dia bisa sedemikian asertif dan berani kepada penguasa: “Aku melihat pada dirinya telah ada perasaan bahwa dirinya terhormat, maka aku harus merendahkannya, agar kesombongannya tidak mencelakai dirinya sendiri,”

Syaikh Izzudin dihormati orang, mulai rakyat jelata hingga penguasa. Ada anggapan, bila sang Syaikh mengatakan untuk mengganti penguasa, maka tidak ada yang bisa menghentikan rakyat untuk mengangkat penguasa baru. Itulah sebabnya penguasa negeri sedemikian takut kepadanya.

Beberapa bulan menjelang wafatnya, sang Syaikh berselisih paham dengan penguasa negeri Sultan Dhahir Bebres akan suatu hal. Penguasa negeri mengambil sikap dan keputusan, tetapi ternyata menurut Syaikh Izzuddin hal tersebut tidak benar. Sang Syaikh telah berusaha mengingatkan, tetapi Sultan tidak bersedia mendengarkan sarannya. Syaikh Izzudin tidak berkata apa-apa lagi, tetapi ia menyuruh semua keluarganya untuk berkemas-kemas, karena mereka akan keluar Mesir kembali ke Syam.

Iman Khomeini, fatwanya meruntuhkan Shah Iran

Seorang pejabat menasihati Sang Sultan,”Bila Syaikh Izzuddin pergi meninggalkan Mesir, kekuasaan penguasa negeri sudah pasti akan selesai.” Dan Sultan pun berangkat sendiri untuk mencegak Syaikh Izzudin pergi. Syaikh Izzuddin bertahan di Mesir hingga akhirnya wafat di negeri itu.

Ketika ulama besar madzhab Syafi’i ini wafat, sang Sultan berkata,”Hari ini aku memegang tampuk kekuasaan, karena Syaikh ini. Jika beliau mengatakan kepada manusia,’jangan mentaati dia’ niscaya kekuasaan benar-benar lepas dariku.”

Ulama yang berpegang teguh pada tuntunan agama selalu memiliki kharisma yang tak akan lekang oleh apapun. Kharisma ini mendatangkan pengikut, dan pengikut yang besar serta militan bisa mengguncang kursi kekuasaan. Di dunia sekarang ini, rasanya hanya Republik Islam Iran yang masih menempatkan jajaran ulama lebih tinggi daripada umara. Sejak kerajaan Iran di bawah Shah Iran tumbang oleh gerakan Imam Khomeini, republik baru yang berdiri menempatkan ulama sebagai panutan utama, dan presiden yang direstui oleh dewan ulama ini.

Namun demikian, untuk menjadi ulama yang menjadi panutan apalagi mercusuar bangsa tidaklah mudah. Ulama yang berakar dari kata alim, bermakna orang yang berilmu, pandai, dan tempat bertanya. Namun demikian, seorang ulama tidak boleh sembarang berbicara, khususnya mengenai hal-hal yang terkait dengan agama.

Dalam mukadimah bukunya, Quraish Shihab menyebutkan bahwa bila tidak menguasai sesuatu hal, ada 3 kemungkinan yang akan dilakukan oleh orang tersebut: pertama berbohong (yang menjadi dosa besar – apalagi terkait dengan agama); kedua menduga-duga atau mengira-ngira (dan ini sangat tidak terpuji karena menyimpang dari firman Allah); atau langsung pada jawaban: saya tidak tahu.

Bahkan Rasulullah SAW selalu menunggu wahyu Allah bila menemui masalah yang belum pernah terjadi. Bahkan tidak jarang beliau mengatakan “saya tidak tahu”. Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah menyampaikan: “Yang paling berani berfatwa di antara kamu adalah yang paling berani terhadap neraka.”

Imam Malik berkata,”Ilmu agama itu hanya tiga, (1) ayat yang jelas, (2) sunah yang shahih, dan (3) ucapan “aku tidak tahu”.

Seorang ulama yang lurus hati, tanpa pamrih, dan bersandar pada kebenaran, tanpa takut pada manusia dan hanya tunduk kepada Allah, adalah orang yang bisa menjadi panutan. Semua kata-kata dari mulutnya bermuatan kebenaran – sekalipun sang ulama tidak menyebutnya sebagai fatwa. Wallahu a’lam bishawab.

Semoga Allah SWT senantiasa menerangi bumi pertiwi ini dengan para ulama yang menjunjung kebenaran dan umara yang amanah terhadap jabatannya. Amin.

Advertisements

Perempuan-Perempuan di Layar Kaca

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on February 6, 2010 by hzulkarnain

Nonton TV? Sudah pasti itu adalah hobi kebanyakan masyarakat kita belakangan ini. bukan Cuma di sini, tetapi juga di belahan bumi lain. Bahkan di Amerika, sebuah survey menunjukkan bahwa anak dan remaja di sana menghabiskan waktu 270 menit perhari di depan televisi – sehingga majalah TIME punya istilah Couch-Potato Generation (karena orang yang tidak punya kerjaan lain selain nonton tv disebut couch-potato). Tapi bukan itu yang ingin saya bahas di sini.

ada tak menggenapi, tak ada tak mengapa

Pertanyaan lain yang secara iseng mungkin menarik untuk dijawab adalah, apa yang membuat televisi menjadi tontonan yang menarik dan sedap dipandang? Jawabannya mungkin beragam, bisa jenis acaranya, lucu komedinya, gosipnya, dsb. Akan tetapi, pernah kita berpikir dan menilai, bagaimana sih kalau di televsi kita ini pengisinya laki-laki melulu …?

Lepas dari masalah kesetaraan gender, perempuan merupakan pemanis bisnis pertelevisian, dan membuat situasi maskulin dunia televisi menjadi lebih feminin dan cair. Mungkin sama dengan balapan F1 atau MotoGP yang maskulin, tetapi dalam tiap start selalu menghadirkan kaum hawa sebagai pembawa payung para racer.

Benarkah televisi adalah dunia maskulin? Sudah barang tentu. Gedung studio televisi dirancang untuk dioperasikan dengan efisiensi, penuh dengan benda teknis, aktivitas yang tidak mengenal waktu dan basa-basi, dan tujuan bisnis yang kompetitif. Muatan yang paling disukai di pagi hari adalah dunia maskulin juga: hard news dan olah raga. Pada prime-time beragam acara bertarung, tetapi semuanya dikendalikan oleh kaum maskulin. Perhatikan para nama crew yang berada di belakang sebuah acara yang sukses.

Akan tetapi, uniknya, acara-acara yang sukses selalu menyertakan perempuan sebagai pengisi acara. Kalau menyebutkan pembaca berita laki-laki di Metro TV, sebagai saluran berita yag mirip CNN di Amerika, mungkin orang butuh waktu untuk berpikir. Tetapi kalau diminta menyebutkan seorang presenter atau pembaca berita perempuan, justru di Metro TV banyak didapatkan dan dikenal. Salah satu favorit saya adalah Kania Sutisnawinata. Dan, kompetensi mereka sangat handal. Penyuka acara dialog di TVOne pasti tidak asing dengan Tina Talisa yang garang dalam bertanya. Dulu, SCTV punya Ira Koesno dan RCTI punya Desi Anwar.

Bukan hanya itu, sinetron, talk-show, acara gosip, semuanya bertaburan wajah-wajah cantik pengisi acara dan berita. Belum lagi bermacam-macam iklan yang beterbangan di layar kaca. Segera saja rumah-rumah produksi dibangun dan aktif mencari talent-talent baru yang fresh dan cantik.

inspiratif ...

Sebelumnya, saya menilai kaum perempuan yang beredar di layar kaca secara umum terbagi atas 2 kategori, yakni: petarung dan pemanis. Perempuan petarung adalah subjek dalam acara, sementara yang pemanis adalah objek semata.

Perempuan petarung adalah kaum hawa yang mendedikasikan dirinya untuk sesuatu yang diyakininya, memiliki kompetensi luar biasa di bidangnya, dan berjuang melalui segala rintangan untuk survive, sehingga siapapun yang melihatnya di layar kaca akan menatap dengan hormat. Oprah Winfrey yang tak perlu saya sebutkan lagi peretasinya, Desi Anwar yang saya anggap perempuan hebat pertama di pertelevisian kita di era 90-an, Kania Sutisnawinata yang membawa image perempuan hebat sebagai presenter, Meutia Hafid yang survive dalam penyanderaan di Irak, Riani Jangkaru melalui acara Jejak Petualangnya menginspirasi perempuan ke pedalaman, dan Medina Kamil yang hampir hilang saat berpetualang di Papua, adalah sedikit dari sekian banyak contoh perempuan petarung yang hebat di pertelevisian. Untuk kalangan pejabat yang menghiasi berita di media televisi, saya sangat respek pada 2 nama: DR Sri Mulyani (Menkeu kita), dan DR Siti Fadilah Supari (mantan Menkes kita).

Perempuan pemanis dihadirkan di layar kaca sebagai pelengkap, menambah cita rasa (taste) acara sehingga lebih meriah dan menarik. Mungkin bisa dianalogikan dengan hadirnya umbrella girl di lintasan, atau round girl di rng tinju. Tanpa mereka, acara itu tidak kekurangan maknanya, namun kalau ada mereka hadirin jadi sumringah. Sekalipun host cukup seorang, master of ceremony pria saja, tetapi kemudian perlu dihadirkan seorang co-host perempuan – agar acara menjadi lebih manis.

Tidak berhenti sampai di situ, pemanis ini juga bisa ditemui dalam berbagai sinetron yang menarik minat pemirsa. Lihat saja judul-judulnya yang kebanyakan nama perempuan. Nama mereka memang dipampang sebagai pemeran utama, tetapi kenyataannya? Cerita yang disajikan tidak akan jauh dari model kisah Cinderella (si Upik Abu yang baik hati bertemu dengan dan menikah dengan sang Pangeran yang tampan dan kaya).

Belakangan ini, tampaknya saya harus membuat definisi baru tentang kehadiran perempuan di layar kaca, seiring dengan munculnya acara Take Me Out dan Take Him Out Indonesia. Sampai sekarang saya belum tahu benar, kaum perempuan di sini yang mencapai jumlah puluhan, berstatus sebagai subjek atau objek? Sebagai petarung atau pemanis? Atau tidak kedua-duanya?

Saya tidak bisa menyebut mereka sebagai pemanis, karena mereka aktif dan bisa membuat keputusan sendiri. Bukan sosok dungu yang diproyeksikan mempermanis ruangan. Akan tetapi, saya juga tidak bisa menyebut mereka petarung, karena kehadiran mereka di acara ini saja seolah-olah hendak menunjukkan bahwa adalah orang-orang yang desperate dalam mencari jodoh. Padahal, seorang petarung adalah figur asertif, dan meyakini bahwa mereka memiliki potensi serta kompetensi untuk bertarung di dunia.

Saya menilai, acara ini bagai ajang pembenaran sindroma Cinderella Complex – untuk menemukan sang pangeran dengan cara cepat. Inilah yang menyebabkan saya tidak bisa menyebut mereka sebagai petarung.

Di luar sana, kaum perempuan petarung tidak dinilai berdasarkan penampilan fisik mereka, dan kecantikan adalah inner beauty yang tidak tersamar kecantikan fisik. Perempuan cantik yang juga petarung adalah bonus indah semata.

Well, saya tidak hendak men-judge-ment apapun, hanya sekedar menginginkan lebih banyak perempuan yang hadir di layar kaca sebagai petarung – tidak sekedar pemanis. Perempuan petarung akan membuat acara manis, tetapi perempuan pemanis tidak akan membuat dirinya kompeten di acara itu.

GUS DUR dalam Majalah TIME

Posted in Biografi, Sharing with tags , on January 19, 2010 by hzulkarnain

Wolfowitz, mantan Dubes AS di Indonesia

Majalah Time edisi 18 Januari 2010 menyelipkan sebuah artikel pendek tulisan Paul Wolfowitz tentang Gus Dur yang dikenal dan dikenangnya. Paul Wolfowitz dulu pernah menjabat sebagai duta besar Amerika Serikat di Indonesia, dan lancar berbahasa Indonesia.

Wolfowitz mengisahkan bagaimana ribuan orang berjajar di jalan untuk berbela sungkawa atas meninggalnya Gus Dur, bahkan banyak yang terang-terangan menangis.

Di matanya, Gus Dur bukanlah seorang manajer, sehingga dia harus lengser dari kursi kepresidenan karena desakan parlemen. Tetapi Gus Dur adalah seorang visioner, dan sebagai Presiden beliau menanamkan sebauh visi tentang Indonesia (yang merupakan negara berpopulasi terbanyak ke-4 di dunia dan berpenduduk Muslim terbesar) yang menjunjung kebebasan beragaman dan hak asasi manusia.

Yang lebih penting lagi, sebagai pimpinan spiritual yang berasal dari NU, Gus Dur selalu melawan para fanatik yang dikatakan Gus Dur “membawa Islam menjadi sebuah dogma yang tidak toleran, penuh kebencian, dan pertumpahan darah.” Gus Dur mampu mengutip Al-Qur’an dengan hati untuk membela hak semua orang untuk mengikuti hati mereka dalam urusan agama, dan secara konstan bersuara atas nama kelompok minoritas yang teraniaya sekalipun hal itu mengancam popularitasnya.

Gus Dur mengatakan ingin nisannya nanti bertuliskan: DI SINI DIMAKAMKAN SEORANG HUMANIS. Dan memang begitulah dia. Dia dicintai jutaan orang, baik Muslim maupun non-Muslim. Dia adalah seorang pemimpin yang akan dikenang oleh dunia ini.

Gus Dur yang Kukenang-2

Posted in Biografi, Sharing with tags , on January 4, 2010 by hzulkarnain

Satu dekade sebelum reformasi bergulir, nama Gus Dur mulai dikenal sebagai sosok muda NU yang fenomenal – membalikkan kesan uzur dan kolot organisasi massa di Indonesia ini. Sejalan dengan kembalinya NU ke khittah 1926, yang berarti NU tidak lagi berkiprah di dunia politik, langkah kuda Gus Dur di level akar rumput tidak terbelenggu lagi.

Di antara teman dan orang yang mengenalnya, Gus Dur adalah humoris. Bahkan Jaya Suprana menyebutnya jenius dalam humor dan joke. Menciptakan sebuah guyonan saja sudah sulit, apalagi bila banyak sekali dan kontekstual dengan jaman. Jaya Suprana mengibaratkan dengan seniman musik yang pandai menciptakan lagu atau melodi yang indah, pematung menciptakan patung dengan mudah, Gus Dur adalah seniman yang khusus menciptakan kesegaran humor dengan joke-joke yang cerdas.

Dalam sebuah guyonannya, Gus Dur pernah berceloteh:

“Kalau ada orang yang ngurusi NU sampai jam 6 sore, namanya suka NU. Kalau sampai jam 12 malam masih ngurusi NU, namanya gila NU. Lha, kalau setelah jam 12 malam masih ngurusi NU juga … namanya NU gila!”

Mungkin Gus Dur memang NU gila, karena darah ajaran NU berurat akar dan mengalir di pembuluh darahnya. Dengan berpijak pula pada segala kitab ulama yang diajarkan di seputaran Timur Tengah selama berabad-abad dan pemikiran cendekiawan non-Islam yang dibacanya di perpustakaan Kairo dan Baghdad, pola pemikiran Gus Dur sangat pluralis.

Kaum Islam konservatif seringkali tidak suka dengan cara bicara dan logika Gus Dur yang plural, dan seolah-olah meremehkan Al-Qur’an. Dalam sebuah milis yang pernah saya ikuti, dan akhirnya harus saya tinggalkan, pluralitas pemikiran Gus Dur dan tokoh-tokoh intelektual seperti Nurcholish Madjid, tidak mendapatkan tempat untuk berkembang karena kelompok ini sangat mementingkan bentuk daripada esensi.

Ketika Gus Dur mengatakan … Tuhan tidak perlu dibela! Ada orang yang marah. Padahal memang sebenarnya siapa sih kita yang menganggap layak untuk membela Tuhan – yang sama dengan hendak mengatakan bahwa Tuhan tidak maha perkasa dan berkuasa. Sebenarnya, Gus Dur hendak mengatakan bahwa ada urusan yang memang harus diurusi manusia, dan ada urusan yang merupakan hak prerogatif Allah yang selayaknya tidak diurusi manusia.

Dalam sebuah wawancara, Dorce yang belum lama berganti kelamin menanyakan perihalnya kepada Gus Dur – karena memang banyak kontroversi di sekitar perubahan jenis kelamin ini. Dorce bercerita, Gus Dur hanya bertanya:

Apa sampeyan nyaman dengan kondisi sekarang?(Dorce meng-iyakan), dan Gus Dur melanjutkan, jalankan saja kehidupan dengan baik. Biarlah yang lain terserah penilaian Allah.

Dengan bertindak dan berpikir sebagai manusia, kemudian memanusiakan manusia lainnya, serta tidak bertindak sendiri atas nama Tuhan, manusia telah menjadi dirinya sendiri. Nasihat utamanya kepada Yenny Wahid saat pernikahan pun serupa, yaitu pesan untuk menjunjung tinggi kemanusiaan, dengan cara memanusiakan manusia lain. Hak asasi manusia, kemanusiaan, dan persamaan derajat adalah ciri khas Gus Dur, yang ditinggikan oleh sementara kalangan, dihormati oleh banyak tokoh, namun justru mendudukkan dirinya setara dengan orang biasa.

Egaliter, perasaan dan kedudukan yang setara dan sederajat, itulah kesan orang pada Gus Dur. Siapapun dia, tidak perduli pangkat dan jabatannya, dianggapnya sama dan setara. Penghormatan yang perlu dilakukan hanya karena seseorang lebih tua atau lebih berilmu saja. Oleh karena itu, Gus Dur tidak pernah rikuh duduk bersama dengan rakyat biasa, bahkan konon sering menginap di rumah teman lamanya yang jauh dari kemewahan. Tidak mengherankan, rakyat biasa mengidolakan dirinya, karena menganggapnya sosok biasa yang bersinar di kalangan elite.

Ketika terjadi ketidak adilan, kemudian ada proses marginalisasi seseorang atau sekelompok orang, Gus Dur akan berdiri di depan. Kasus Inul yang dihadang pedangdut senior lainnya, Dorce yang berseberangan dengan sementara ulama, Konghucu yang tidak dianggap agama, masalah orang Papua yang tidak pernah selesai, semua menjadi agenda aktivitas Gus Dur.

Tak mengherankan, saat menjabat Presiden, ada 2 agenda yang langsung diselesaikannya: mencabut aturan yang membatasi aktivitas sosial budaya dan keagamaan kaum Tionghoa, dan memulai langkah rekonsiliasi dengan rakyat Papua. Irian Jaya dihapus, diubah menjadi Papua. Papua juga memperoleh status otonomi khusus, sekalipun banyak tantangan dalam mewujudkannya.

Sebenarnya, tidaklah berlebihan bila ada yang beranggapan bahwa Gus Dur adalah sosok langka yang sulit digantikan. Bahkan di antara saudara dan kerabatnya tidak ada yang cukup pantas sebagai penggantinya. Tak berlebihan pula orang menasbihkannya sebagai guru bangsa, karena pluralitas berpikirnya sejalan dengan nuansa merah-putih bangsa ini. Bangsa ini besar dan kaya ragam, sehingga membutuhkan ulama Islam yang pluralis, dan mampu mendudukan manusia yang beragam tersebut setara.

Semoga kepergian Gus Dur untuk selama-lamanya ini memberi tanda bahwa semua masalah tentang hak asasi manusia akan selesai, semua ketidak setaraan menemukan solusinya, kemudian orang Islam sudah mau menerima merah-putih di halamannya, serta menjadikan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Semoga….semoga …..

Gus Dur yang Kukenang

Posted in Biografi, Sharing with tags , on January 3, 2010 by hzulkarnain

Menjelang akhir tahun 2009, sekitar pukul 18.45 WIB, Gus Dur panggilan akrab KH Abdurrahman Wahid wafat di rumah sakit Cipto Mangunkusumo, di bawah pengawasan dan perawatan team dokter ahli yang menjadi bagian team dokter kepresidenan. Setelah dirawat sekitar 5 hari, sosok fenomenal itu harus tutup usia.

Sebenarnya, sejak beliau memaksa untuk berziarah ke makam kakek dan ayahnya di Jombang, saat berada di rumah sakit Graha Amerta Surabaya, ada pikiran yang terlintas – apakah Gus Dur merasa sesuatu sehingga ziarah kubur ini tidak bisa ditunda lagi.

Seperti diketahui bersama, Gus Dur jatuh sakit saat sedang dalam perjalanan safari ke Jombang untuk berziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim. Setelah dirawat sebentar di Jombang, beliau langsung dirujuk ke RS Graha Amerta yang merupakan fasilitas VIP RSUD Dr. Soetomo. Entah mengapa, Gus Dur mendesak untuk berangkat lagi ke Jombang, hingga kesehatan beliau kembali memburuk dan harus dirujuk ke RSCM sekembali ke Jakarta.

Indonesia berduka dalam arti yang sebenarnya, dan pengaruh meninggalnya beliau sangat terasa di kala orang sedang bersiap memeriahkan dan harus dirujuk ke RSCM sekembali ke Jakarta.

Indonesia berduka dalam arti yang sebenarnya, dan pengaruh meninggalnya beliau sangat terasa di kala orang sedang bersiap memeriahkan pergantian tahun baru 2010. Kepala negara menghimbau pengibaran bendera setengah tiang, yang dilaksanakan oleh segenap BUMN, instansi pemerintah, bahkan perkantoran swasta yang biasa mengibarkan bendera di halaman. Beberapa toko milik Tionghoa terlihat juga memasang bendera setengah tiang. Tentunya hal tersebut tak lepas dari simpati kaum Tionghoa pada almarhum yang memang telah mengembalikan makna budaya dan harga diri kaum Tionghoa yang dimarginalkan selama orde baru. Beberapa pesta tahun baru outdoor di Jakarta sedikit disesuaikan dengan rasa berkabung tersebut.

negarawan, pemikir, ulama, budayawan, jenius...

Gus Dur bukan orang biasa, dan tidak pernah menjadi orang biasa. Dari berbagai sumber, seperti yang ditayangkandi televisi maupun di tulis di surat kabar, Abdurrahman Addhakhil muda selalu berbeda dengan orang lain pada umumnya. Ketika santri lain sibuk dengan kitab-kitab agama, dia justru baca koran. Bila yang lain suka musik religius, justru musik barat seperti klasik dan rock yang digemarinya. Bahkan pemikiran non-Islam pun dilalapnya – karena memang kecerdasannya mampu menampungnya.

Konon, karena tidak puas dengan studi di Al-Azhar, Gus Dur yang berumur 27-an meneruskan studi ke Universitas Baghdad dengan beasiswa. Di perpustakaan Abdul Qadir Jailany di perguruan tinggi itulah dia mencerna berbagai model dan bentuk pemikiran Islam dan non-Islam. Semuanya membuatnya mampu berpikir lateral, yang bagi orang lain seperti meloncat-loncat tidak lumrah.

Sejak menjabat sebagai ketua umum PB NU, Gus Dur yang sebelumnya hanya dikenal oleh sebagian kalangan – kalangan pesantren NU, melalui tulisannya di media massa, dan budayawan – merambah ke jagat politik, dan mulai dikenal oleh berbagai kalangan. Konon perluasan bidang ini lebih banyak didorong oleh kerabatnya, seperti kakek dari pihak ibu KH Bisri Syamsuri. Dengan kendaraan yang disegani, Gus Dur menjadi figur yang sangat diperhitungkan. Orang tentunya masih ingat, Gus Dur lah orangnya yang menjadi motor kembalinya NU ke khittah awal saat didirikan – dan mencabut diri dari perpolitikan praktis. Pertengahan tahun 80-an, NU keluar dari PPP karena harus memposisikan diri sebagai lembaga sosial kemasyarakatan.

Di awal 90-an hingga akhir masa orde baru, nama Gus Dur sangat difavoritkan oleh sementara kalangan, karena dialah figur alternatif yang menjadi simbol Islam moderat. Sebagian orang sudah eneg dengan orde baru dan kekuasaannya yang menakutkan, tetapi untuk berpindah ke Megawati juga belum sreg – karena sebagian orang tahu bahwa banyak juga kepentingan yang bermain di sekelilingnya. Lagi pula, nama PDI tidak pernah lepas dari keberingasan massa-nya.

Di luar panggung politik, Gus Dur adalah icon demokrasi dan pelindung kaum marginal. Ketika kaum Tionghoa dianak tirikan di berbagai sendi kehidupan sosial kemasyarakatan (kecuali berdagang), Gus Dur membela mereka. Seperti saat dia membela pasangan Konghucu yang tidak boleh menikah sesuai dengan agamanya, karena agama tersebut tidak masuk dalam agama-agama yang diakui di Indonesia. Dorce yang berganti kelamin, Inul yang dikecam pedangdut lainnya, dan entah siapa lagi, merasa nyaman dengan perlindungan Gus Dur.

Orang mengatakan, kalau dalam catur Gus Dur adalah kuda – yang selalu melangkah tidak terprediksikan dengan baik. Sebagian lain menilai, Gus Dur adalah negarawan dan bapak bangsa namun tidak pernah menjadi politisi. Kata jaya Suprana, negarawan selalu memikirkan bangsa, politisi memikirkan kekuasaan. Seorang negarawan mungkin bisa bertindak sebagai politisi, tetapi politisi akan sulit menjadi negarawan – dan Gus Dur ternyata memang terlalu agung untuk melumuri diri dengan kekotoran politik.

Gus Dur – menurut saya – memang lebih cocok sebagai guru bangsa yang memberikan petuah dan pemikiran yang brilian – tidak berpolitik praktis. Tetapi Allah Swt memang mengharuskan beliau sebagai Presiden untuk sementara waktu, agar semua borok dan kepentingan yang bersembunyi di belakang kata reformasi terkuak lebar.

Saat menjadi Presiden, sejarah diukirnya dengan tegas. Gelora Senayan dinamai Gelora Bung Karno, Irian Jaya dikembalikan ke nama yang disukai oleh penduduk setempat: Papua, dan penghapusan aturan yang memberangus Tionghoa serta menjadikan Konghucu sebagai agama. Yang lebih signifikan lagi, Gus Dur telah menghapuskan dwi fungsi ABRI – yang berarti mengembalikan tentara ke barak. Polisi dilepas dari kemiliteran, agar bisa menjadi lembaga penegakan hukum sipil seperti di berbagai negara demokrasi lainnya. Semua itu tercipta dalam kurun waktu 2 tahunan masa kepemerintahannya.

Yang paling saya pelajari dari sosok Gus Dur, adalah konsistensi dan ketaatan pada sebuah azas yang diyakini. Sebagai orang Islam, Gus Dur selalu berpegang pada Qur’an dan Hadits, dan berbagai kitab ulama besar sebagai acuan. Sebagai negarawan, beliau berpegang pada konstitusi dan perundang-undangan yang berlaku. Pancasila adalah simbol dari NKRI yang harus dipertahankan. Asyiknya, Gus Dur mampu memainkan semua hal yang diyakini tersebut dengan indah, humanis, dan tidak menakutkan. Sebagai orang Islam dia moderat, sebagai negarawan semua kepentingan dicoba untuk dipahaminya, dan sebagai seorang pemimpin dia menyelami nurani orang biasa sebagai manusia yang membutuhkan bimbingan.

Seorang teman pernah berkata, yang dikaguminya dari sosok Gus Dur adalah caranya untuk menanamkan merah-putih di halaman orang Islam, dan berusaha menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin di bumi merah-putih ini.

Banyak prasangka yang berputaran di sekitar figur jenius ini, dan kecacatannya karena berbagai komplikasi penyakit membuat orang mengira dirinya sudah pikun dan tidak bisa berpikir dengan benar – ternyata semuanya keliru. Bahkan hingga September kemarin, saat diwawancara oleh Metri TV, ingatannya masih tajam. Semua kesan tentang orang yang dikenangnya tidak lekang oleh gangguan penyakit yang dideritanya. Bahkan Ibu Sinta Nuriyah menegaskan – Gus Dur adalah orang yang keras hati dan sulit diubah pendiriannya. Kalau sudah begitu, bagaimana mungkin ada orang yang bisa membisik-bisik pada beliau?

Dengan segala bintang mahaputra yang dimilikinya, dan sederet penghargaan dari manca negara, Gus Dur sudah sangat layak disebut sebagai pahlawan. Kalaupun negara tak kunjung juga memberimu gelar pahlawan Gus, yakinlah banyak di antara kami yang selalu menganggapmu pahlawan. Gitu aja kok repot ….

Gus Dur, warisanmu adalah pemikiran moderat yang humanis. Islam yang bersahabat, mengayomi minoritas, memahami perbedaan, dan kemanusiaan di atas segala tata peribadatan agama. Itu tidak akan pernah dipahami kaum Islam yang lebih mengedepankan cara daripada esensi, yang mengatakan membela Islam seolah-olah Allah bukan lah Sang Maha Kuat, Maha Pandai, dan Maha Mengasihi.

Selamat jalan Gus, semoga Allah Swt memberikanmu tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Prita Mulyasari dan The New York Times

Posted in Kisah, Sharing with tags , on December 11, 2009 by hzulkarnain

The judge must be crazy,” ungkap seorang expat yang saya kenal, sambil memasukkan lembaran uang ke kotak “Coin for Prita”. Sebagai orang yang cukup lama tinggal di Indonesia, dan mengikuti hot news belakangan ini, penilaiannya tidak ngawur… karena kita pun juga berpikir demikian. Apalagi koran asing sudah memuat profil ibu muda ini.

Tanggal 14 Desember 2009 merupakan hari penutupan pengumpulan koin keprihatinan untuk Prita Mulyasari, yang didenda 204 juta oleh Pengadilan Tinggi Banten. Gelombang suara dan derma keprihatian membanjir dari segenap penjuru Jakarta hingga ke berbagai daerah di Indonesia. Semuanya prihatin dan merasa sepenanggungan karena Prita yang orang biasa, bekerja biasa, dan punya keluarga biasa, terasa seperti saudara kita yang orang biasa. Tidak mengherankan bila puluhan bahkan ratusan kilogram mengalir deras ke kantor panitia penggalangan “Coin for Prita”.

Prita Mulyasari @The New York Times

Ketika diwawancara oleh wartawan The New York Times, Prita mengatakan:”People always lose to the powerful in this country. I’m a mother, a regular person like everybody else,  so a lot of people indentified with me and felt sympathy” (Orang selalu kalah dengan pihak yang kuat di negara ini. Saya adalah seorang Ibu, orang biasa seperti orang lain, jadi banyak orang yang merasa sama dengan saya dan bersimpati). Tidak tanggung-tanggung, Prita Mulyasari menjadi The Saturday Profile tanggal 5 Desember 2009 di harian bergengsi asal negeri Obama ini, dengan tajuk: Trapped Inside a Broken Judicial System After Hitting Send (Terjebak di Dalam Sistem Hukum yang Rusak setelah Menekan “Send”)

NewYork Times menceritakan dengan singkat asal-usul kasus Prita hingga ia harus dimasukkan tahanan dan menghadapi tuntutan 6 tahun penjara. Seperti kita pahami bersama, Prita menceritakan dan mengeluhkan pelayanan di rumah sakit tempatnya di rawat, serta menyebutkan nama dokter yang menanganinya melalui e-mail pada kerabat dan rekan sejawatnya. Entah siapa yang kemudian meneruskannya ke dalam mailing-list (Prita tidak akan mencari tahu, karena mereka yang dikiriminya adalah teman dan kerabat yang disayangi dan menyayanginya), yang jelas akhirnya e-mail tersebut beredar di milis tertentu yang akhirnya sampai di inbox pihak rumah sakit. Tak berapa lama, Prita harus mendekam di tahanan bersama tahanan lain yang didakwa membunuh.

Inilah kasus pertama Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik – yang sampai di meja hijau dan mengancam hukuman maksimal seorang warga negara Indonesia (6 tahun kurungan). Entah bagaimana ceritanya, undang-undang yang awalnya akan dipakai untuk meregulasi penggunaan internet yang kian marak di negara ini menjadi alat hukum untuk memidanakan orang.

NY Times memberi istilah …, yet another ordinary Indonesian caught up in one of the world’s most corrupt legal system. Hati kecil saya – sebenarnya – tidak terima dengan penilaian ini, karena sudah menyangkut nama bangsa … tetapi saya tidak punya alasan untuk kesal pada media asing – karena memang kenyataannya seperti itu. Apalagi sekarang Prita malah menghadapi masalah yang tak kurang besarnya, karena tuntutan perdata sekian ratus juta tersebut.

Di mata NY Times, Prita tidak menikmati ketenaran sebagai icon perlawanan terhadap sistem hukum yang amburadul ini. Sekalipun ia bersedia dipotret untuk satu atau dua keperluan – termasuk pose untuk NY Times – keputusan bebas dari majelis hakim akan membuatnya paling bahagia, sebab ia bisa kembali ke kehidupannya semula yang normal: sebagai Ibu, istri, dan karyawati. Kata Prita:”Saya hanya berharap ini akan selesai pada akhir tahun. Saya merasa tidak nyaman menjadi terkenal. Orang-orang jadi mengenal saya in mall dan pasar, dan saya harus bersikap manis pada mereka sekalipun saya sedang dalam kondisi mood yang tidak baik.”

Prita sendiri sebenarnya sudah pesimis pada sistem hukum kita, kepercayaannya pada hukum sangat menurun. Katanya,” Satu-satunya harapan saya adalah berdoa dan memohon perikemanusiaan majelis hakim.” Kalau kita berada di tempat Prita, mungkin yang akan kita lakukan sama, tidak lagi meminta sistem hukum yang adil tetapi hati nurani dan kemanusiaan sang hakim yang bersuara.

Keprihatinan massa ini telah mencapai pejabat dan orang-orang penting, bahkan DPD (Dewan Pimpinan Daerah) pun menyuarakan boikot pada RS Omni. Ketika kasus ini pertama mencuat, di media massa tersiar kabar bahwa tingkat kunjungan orang ke rumah sakit tersebut menurun drastis. Dengan seruan tersebut, manajemen rumah sakit menjadi berlipat-lipat kecemasannya, sehingga berharap agar rumah sakit tsb tidak diboikot karena sekitar seribuan orang terancam menjadi pengangguran. Dengan mediasi dari pihak Departemen Kesehatan, setelah melalui tahapan yang tidak mudah, pihak rumah sakit bersedia mencabut gugatan perdata dan Prita tidak perlu membayar apapun kepada pihak rumah sakit.

Sejauh ini, pihak Prita masih menanggapi aksi dari pihak rumah sakit dengan dingin, karena sekalipun gugatan perdata dicabut proses pidana masih berjalan. Ada kekhawatiran dari pihak Prita, hasil perdamaian dengan rumah sakit justru akan memberatkannya – sekalipun penasihat hukum rumah sakit serta mediator dari Depkes mencoba meyakinkan bahwa besar kemungkinan hakim akan menilai kasus tersebut secara berbeda setelah ada perdamaian.

Kita semua juga berharap, keadilan akan bicara – kalaupun tidak lewat sistem yang harus diperbaiki, setidaknya lewat nurani sang pengadil. Pihak MA jauh hari sudah mengatakan, tidak ada korelasi antara keprihatinan dan kebenaran. Artinya, MA akan berjalan sesuai dengan kebenaran hukum, tanpa memandang segala macam aksi keprihatinan di luar sana. Dewi pengadil selalu tampil dengan mata tertutup agar tak memihak, membawa neraca agar mampu menimbang secara adil, dan sebilah pedang untuk menjatuhkan hukuman. Pertanyaannya adalah … di mana nurani sebagai manusia akan diletakkan?

Kita semua prihatin, bersedih pada penegakan hukum yang ternyata belum banyak berubah sejak Orde baru. Untunglah kita berada di iklim keterbukaan yang dijamin sepenuhnya oleh negara, sehingga informasi semacam ini benar-benar terbuka serta luas di ketahui massa. Sudah pada tempatnya lah aparat hukum harus mengubah mindset mereka, sudah waktunya mereka bekerja untuk rakyat yang telah membayar pajak untuk gaji mereka.

Saya yakin Indonesia akan maju! Semoga Indonesia diridhoi Allah. Mari kita berubah mulai diri kita sendiri.

Bangsa Ini … Besar Dan Mulia

Posted in Sharing with tags , on December 6, 2009 by hzulkarnain

Kapan Kaum Ilmuwan Kita di Manca Negara Beroleh Tempat Di sini?

Karena penasaran, saya nonton Kick Andy sekali lagi sore hari Minggu ini, karena Jumat kemarin sembari terkantuk-kantuk dan tidak tuntas karena ketiduran. Apalagi seorang teman menulis di status facebook-nya mengomentari tayangan tersebut … yang intinya memaklumi mengapa banyak orang pintar anak bangsa yang justru “terpakai” di negeri orang.

Episode yang ditayangkan perdana hari Jumat tanggal 4 Desember tersebut berjudul: BERPRESTASI DI NEGERI ORANG. Mengetengahkan beberapa orang pintar anak bangsa yang “kebetulan” sekarang ini dipercaya sebagai orang penting di luar Indonesia. Dari 7 orang yang seharusnya diundang, hanya 6 yang tidak berhalangan, yakni: Suhendra, Andreas Raharso, Yow Pin Lim, Ken Sutanto, Muhammad Reza, dan Etin Anwar. Nelson Tansu tidak bisa hadir karena kesibukannya.

Mereka adalah orang-orang hebat! Suhendra dan Muhammad Reza di usia pertengahan 30-an telah menjelma menjadi orang penting di Jerman dan Sedia. Ken Sutanto adalah pemegang 4 gelar Doktor dan mencatatkan serangkaian paten di dunia kedokteran di Jepang dan Amerika Serikat. Nelson Tansu adalah profesor termuda di pantai Timur Amerika Serikat, dan pengajar S2 dan S3 di almamaternya Lehigh University.

Yang paling menarik, menurut saya, adalah kisah hidup Prof. DR. Ken Sutanto (kelahiran Surabaya tahun 1951) dan pemikirannya. Sebenarnya ia tidak sempat lulus SMA karena sekolah Tionghoa ditutup, dan ia harus membantu kakaknya berdagang elektronika selama beberapa tahunan. Setelah merasa punya modal, ia menempuh jalan akademis di luar negeri, sekalipun kakaknya tidak setuju. Katanya: Orang sekolah untuk jadi cukong, kalau sudah jadi cukong seperti sekarang kenapa harus sekolah lagi?

Ken Sutanto yang memperoleh gelar PhD dari empat perguruan tinggi yang berbeda, dan sempat bekerja di Amerika Serikat, akhirnya dipanggil kembali ke Jepang dan sekarang menjadi dekan di sekolah almamaternya, Universitas Waseda Tokyo. Sebuah jabatan yang prestisius, karena selama berdiri selama 125 tahun, baru kali ini dipimpin oleh seorang asing – dan orang itu berkebangsaan Indonesia.

Kalau ditanya mau pulang ke Indonesia atau tidak: Ken Sutanto tampaknya tidak akan pulang. Dia berkilah, PhD yang lebih senior daripada dirinya dan harus pulang karena dibiayai perguruan tinggi di Indonesia, ternyata pada akhirnya tidak bisa mengembangkan diri setelah pulang. Tidak ada pekerjaan, istilahnya. No future! Itu di sampaikan padanya oleh rekan-rekannya dalam sebuah kesempatan di Jakarta. Akan tetapi, dengan tegas Ken Sutanto menyatakan tidak akan mengganti kewarganegaraan sekalipun banyak negara yang menawarinya.

Saya pernah membaca, Prof. Nelson Tansu yang berasal dari Medan juga berpikiran serupa. Bahkan sebenarnya tidak ada sebelumnya percaya ia adalah orang Indonesia. Bahkan ada yang mengira ia berasal dari Turki, karena saat itu Perdana Menteri Turki bernama Tansu Chiller.

Seorang teman pernah bercerita, ada seorang warga Indonesia yang dikenalnya sekarang ini menjadi teknisi pesawat terbang paling prestisius di dunia: Air Force One. Tentu saja, dia tinggal di Washington DC dan bekerja dekat dengan bandara yang menjadi landasan pesawat kepresidenan tersebut. Melihat Presiden atau Wapres Amerika lewat yang menjadi sensasi luar biasa bagi orang lain, tidak baginya. Memang kehidupannya tidak bisa di-ekspos karena kerahasiaan yang menjadi bagian dari pekerjaannya.

Penggagas terkumpulnya para ilmuwan tersebut adalah anak-anak muda yang membentuk I4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional). Ketuanya sekarang, Achmad Aditya sekarang sedang menempuh pendidikan pasca sarjana di Belanda, mengatakan bahwa impian anak-anak muda tersebut adalah mengumpulkan pemikiran bagi perkembangan bangsa. Karena paham bahwa mengumpulkan nama-nama orang pintar tidak mudah, target awal mereka adalah 50 orang saja. Pada kenyataannya, sekitar 400-an orang yang akhirnya tercatat.

Pada akhirnya, kita menjadi paham bahwa bangsa ini bukan kumpulan orang-orang yang terpuruk. Kita ternyata memiliki ilmuwan dan pemikir yang diakui di manca negara – sekalipun ternyata belum punya tempat di antara kaum cerdik pandai di negeri ini. Mungkin keahlian mereka masih belum membumi di bumi kita ini, sehingga masih lebih bermakna bagi bumi bangsa lain.

Mengutip kata DR Etin Anwar yang menjadi pengajar studi Islam di Pensylvania, dirinya tidak keberatan kembali ke Indonesia. Akan tetapi, seberapa bermakna ia bagi bangsa ini dibandingkan bila tetap berada di Amerika Serikat dan mengajarkan tentang Islam dan perempuan dalam Islam bagi warga Amerika Serikat.

Saya jadi teringat ucapan DR M. Syafii Antonio dalam tausiah di TVOne siang tadi, bahwa negeri ini tidak bisa makmur walaupun kecukupan sumber daya alam dan manusia, karena selama ini salah urus. Hal ini berbeda dengan kondisi beberapa negara di Afrika yang memang kekurangan sumber daya alam dan lemah dalam sumber daya manusianya.

Bangsa kita baru atau telah berusia 60 tahunan, masih cukup muda sebagai bangsa. Tidak fair membandingkan kondisi bangsa ini dengan negara-negara lain yang berumur lebih tua, atau seumur tapi dengan jumlah penduduk yang lebih sedikit. Indonesia memang dirahmati Allah dengan demografi yang unik: penduduk yang tersebar di 13,000-an pulau dengan bahasa yang beragam, jumlahnya terbesr ke-4 di dunia, letaknya persis di persilangan dua benua dan dua samudera, bahasa persatuan justru bukan dari suku terbesar tetapi mampu mempersatukan keragaman bangsa.

Mungkin banyak orang yang menonton tayangan televisi belakangan ini bingung dan pesimis dengan masa depan bangsa. Peranan media yang dibebaskan oleh pemerintah untuk mengekspresikan apapun yang benar dalam koridor perundangan yang berlaku – sedikit banyak – turut membentuk kebingungan tersebut. Belum selesai mengupas sebuah masalah, sudah berpindah ke kasus lain. Kemudian terjadi penumpukan perhatian pada sebuah kasus, sementara kasus yang lain jadi sedikit terlupakan.

Coba kita ingat, ketika semua orang membahas kasus Prita, semua ikut. Ketika pemilu Presiden, kasus Prita terlupakan. Belum genap mengawal agenda 100 kerja kabinet, semua media bicara soal kriminalisasi KPK. Setelah Presiden angkat bicara, dan kasus KPK reda, semuanya berpindah ke Bank Century. Kelatahan ini menjemukan, karena akhirnya kemanapun memindah saluran televisi hal yang dibahas sama dan berulang-ulang. Narasumber yang sama diundang ke sana kemari untuk berbicara hal yang sama.

Kita ini mudah lupa, atau mudah kehilangan interes. Ketika sudah membahas kasus baru, kasus lama kehilangan daya tarik. Kita mungkin sudah lupa bagaimana Polri berhasil menghapus gembong teroris Norrdin M Top. Episode baru Prita mencuat lagi, saat ibu muda itu harus berjuang menghadapi tuntutan 200 juta-an. KPK belum tuntas. Agenda 100 hari masih perlu dikawal. Pembersihan di tubuh Polri, Kejagung, dan KPK harus tetap diawasi.

Pada tanggal 9 Desember nanti, rencananya akan digelar demo anti korupsi besar-besaran yang menurut saya bagus sekali. Sayangnya, seperti biasa, akanbanyak kaum oportunis yang siap naik panggung lagi … meneriakkan anti korupsi ketika sebenarnya mereka telah kenyang dengan duit korupsi.

Dalam tausiah bersama Syofii Antonio, mantan Menpora Adhyaksa Dault menggaris bawahi kondisi riil bahwa korupsi di negeri tercinta ini 20% dikarenakan kebutuhan sementara yang 8-% disebabkan keserakahan. Mindset yang salah telah berkembang bertahun-tahun, bahwa sah bila pejabat punya rumah dan tanah yang luas. Sudah umum bila eks menteri selalu bertambah kaya. Bagaimana mungkin bertambah kaya bila pensiun seorang menteri hanya berbilang 2 – 3 juta rupiah per bulan.

Bangsa ini memang sedang belum sepenuh bangkit dari keterpurukan setelah berpuluh tahun terbenam dalam keasyik masyukan korupsi. Justru semakin sering kita mendengar kasus korupsi di media massa, kita harus bersyukur sebab arahnya sudah benar: KORUPSI HARUS DITRANSPARANKAN.

Saya masih sangat meyakini, Allah Swt telah memilihkan orang-orang terpilih untuk memimpin bangsa ini, lepas dari kelebihan dan kekurangan mereka. Saya tetap yakin bahwa Presiden sekarang, Susilo Bambang Yudhoyono, merupakan penjelmaan aspirasi rakyat yang sah. Kalaupun ada yang tidak menyukai beliau, itu hak mereka, karena rakyat telah memutuskan sesuai nurani mereka. Buktinya, beliau mutlak memenangkan Pemilu yang legitimate. Suara rakyat adalah cerminan ijin Tuhan.

Ya Allah ya Rob, semoga bangsa ini segera memberikan tempat bagi kaum cerdik pandai yang sedang menyumbangkan pikiran di negeri orang. Kalau mereka yang pandai tersebut mengamalkan ilmu mereka bagi bangsa … semoga bangsa ini kian menjadi teladan bagi bangsa lain di dunia.