Archive for Gayus

Bermain-main dengan Akhirat, Serius pada Dunia

Posted in Kisah, Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , on December 4, 2010 by hzulkarnain

Beberapa hari yang lalu, seorang teman menceritakan kisah seseorang yang dijumpainya beberapa tahun silam di Jakarta. Seorang yang dianggapnya hebat dan inspiratif. Seorang yang berpendidikan, terpandang, namun memilih untuk hidup sederhana sebagai kondektur Kopaja.

dilema tahta ....

Saat pertama kali bertemu dengannya, teman saya sudah menduga bahwa bapak separuh baya ini pasti berpendidikan dari tutur bicara dan pembawaan dirinya. Hingga suatu saat, ia diajak pulang kampung ke sebuah kota dekat Cirebon, itupun ongkos bus ditanggung teman saya itu. Rumah bapak tersebut ada di pinggiran kota, itupun masih masuk gang. Halamannya luas, rumahnya sederhana, dan di belakang rumah ada tiga kolam ikan mas.

Yang paling menarik perhatian teman saya tersebut, semua orang yang berpapasan dengan bapak itu selalu menyapa dengan takzim, bahkan ada beberapa pegawai negeri yang datang ke rumahnya membawa beras. Hal itu semakin membuat penasaran teman saya. Sedikit dari orang-orang, teman saya hanya bisa menangkap informasi bahwa bapak itu dulunya adalah pejabat tinggi yang jujur. Tapi bagaimana bisa berakhir dengan menjadi kondektur Kopaja?

Bapak itu bercerita, diiringi dengan linangan air mata sitri dan anak sulungnya, bahwa dia dulu (sekitar 4 tahun sebelumnya) adalah seorang kepala dinas pendidikan kabupaten. Untuk urusan ini, dia adalah tangan kanan bupati dan bertanggung jawab pada berbagai dana proyek diknas kabupaten. Bukan jumlah uang yang sedikit.

Masalahnya bukan pada dirinya, tetapi pada istri dan anak sulungnya. Sang istri yang mulai mabuk duniawi mendorong-dorong suaminya untuk korupsi. Bukan sekali dua, tetapi terus menerus. Sementara itu, anak sulungnya yang masih SMA tidak pernah lepas dari botol miras dan selalu mabuk. Hanya anak perempuan bungsunya yang masih memberikan harapan baginya.

Bapak itu berpuasa dan terus menerus meminta petunjuk Allah. Hingga akhirnya ia sampai pada sebuah keputusan penting. Ia menghadap bupati untuk meletakkan jabatan, dan semua fasilitas dinas dikembalikannya. Belum selesai di situ, ia menjual semua aset pribadinya seperti mobil dan rumah. Yang tersisa hanya 2 rumah, termasuk yang sekarang mereka tempati. Hasil penjualan tersebut kemudian dibaginya kepada istri dan kedua anaknya, dengan satu pesan: aku akan pergi, tidak perlu dicari. Ia merantau ke Jakarta dan memulai kehidupan dari bawah, sebagai kondektur Kopaja.

Dalam dua tahun pertama, istri dan anak sulungnya yang tiba-tiba mendapatkan harta sebanyak itu seperti hendak menelan semuanya. Dan memang, dalam waktu 2 tahun semuanya ludes. Kesadaran bahwa mereka membutuhkan sosok suami dan Ayah muncul di tahun ketiga.

tinggalkan urusan dunia untuk bersujud

Salah satu rumah yang tersisa masih sempat terjual lagi, namun sekarang semuanya memulai dari kesederhanaan, tinggal di rumah sederhana yang tersisa. Mereka hanya hidup dari hasil penjualan ikan mas yang tidak seberapa, dan upah sebagai kondektur Kopaja. Setiap kali bercerita tentang masa lalu, si anak sulung selalu menangis.

Sebagai orang yang pernah punya nama harum, tawaran untuk menjadi anggota DPRD selalu ada, tetapi selalu ditolaknya. Alasannya:”Harta tidak selalu membawa bahagia, biarlah dia hidup seperti sekarang karena sudah cukup membuatnya bahagia.”

Benarlah firman Allah dalam Surat Al Anfaal dan At-Taghabun yang berbunyi …: Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan , dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Ketika Bapak itu mampu mengatasi sumber cobaan, Allah memberikan jalan untuk meraih kebahagiaan. Orang seperti ini sangat serius memikirkan kehidupan akhirat, dan meyakini bahwa dunia ini serta isinya hanyalah fana dan hanya berupa permainan belaka.

Bandingkan dengan kasus yang sedang heboh belakangan ini, Gayus Tambunan. Perbuatannya tentu saja memberikan aib bagi dirinya dan keluarganya – karena ketahuan. Sebelum ketahuan, tentunya dia telah membuat bangga keluarga. Setelah ketahuan dan masuk penjara, ternyata masih ada saja yang suka memanfaatkan dirinya, dan mengeruk keuntungan pribadi. Termasuk istrinya yang belum juga mendorong suaminya untuk bertobat.

Orang-orang yang lebih suka menumpuk harta daripada menyedekahkan, melakukan praktik riba daripada berzakat, adalah contoh perilaku yang menganggap dunia ini suatu yang serius. Mereka pastinya tahu ketika mati tidak ada satupun yang akan mereka bawa, namun dorongan untuk memperkaya diri sendiri jauh lebih kuat.

Jauhnya perasaan syukur tercermin dari caranya menyikapi pertolongan Allah (Surat Az-Zumar 49): Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni’mat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi ni’mat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.

Manusia yang sombong selalu menganggap dirinya pantas mendapatkan nikmat, dan takabur dengan nikmat tersebut. Padahal, nikmat tersebut juga merupakan bagian dari ujian.

Bahkan orang paling sabar Nabi Allah Ayyub a.s. lebih menyukai kondisinya saat diuji dengan kemiskinan dan penyakit, karena tahu benar batasan ujian Allah. Saat diuji dengan kekayaan dan derajat duniawi, beliau menderita karena tipisnya garis pada kemunkaran dan kekufuran pada nikmat.

Semoga kita selalu diberi petunjuk dan ingatan, bahwa dunia ini adalah tempat bermain-main, untuk menyiapkan akhirat yang kekal dan serius.

(QS. Al ‘Ankabuut:64) Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda  gurau  dan  main-main. Dan  sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.

 

Tolok Ukur Sukses

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , , , , on July 9, 2010 by hzulkarnain

Pertengahan tahun begini, sebagian orang tua yang punya anak lulusan SD dan SMP turut berjibaku mencarikan sekolah bagi anak-anak mereka. Si anak, dengan semua potensi dan kompetensi yang dimiliki, berjuang agar masuk ke sekolah idamannya. Minggu-minggu ini, masih ada yang baru tes, ada yang sudah harap-harap cemas, dan sebagian lagi harus mengakhiri liburan lebih cepat karena harus menjalani MOS sekolah baru.

aksi MOS SMA

Yang sudah akan memulai MOS, sebagian berangkat dengan bangga, yang lain dengan kurang bangga, ada yang murung, bahkan rasanya ada yang tidak optimis. Yang bangga dan gembira, mungkin dikarenakan sekolah yang menampung mereka adalah sekolah favorit. Yang lain merasa biasa saja, karena sekolahnya ya biasa saja. Ada pula yang ternyata tidak cukup bangga dengan sekolah barunya.

Sekolah favorit selalu dicari dan dijadikan rujukan, itu sudah berlaku sejak dulu. Ada yang favorit di sebuah wilayah, dan favorit dengan pengakuan umum. Di tiap-tiap kota selalu ada sekolah semacam itu, menjadi idaman bagi orang tua dan pelajar, biasanya SMP-SMA Negeri. Akan tetapi, ada juga sekolah favorit yang didirikan oleh swasta, sehingga tentu saja investasi yang dikeluarkan oleh orang tua juga melangit. Belakangan, sekolah umum swasta yang bernafaskan agama lebih menjadi favorit – bahkan dibandingkan sekolah negeri sekalipun.

Tentu saja, logis bila kemudian sekolah-sekolah ini dijubeli orang tua yang merasa pe-de anaknya bisa masuk ke sekolah favorit tersebut. Para orang tua yang care pada pendidikan anak sudah pasti tidak ingin anaknya masuk ke sekolah dengan mutu yang tidak terpetakan. Bukan hanya satu sekolah, orang tua harus membuat cadangan dengan memasukkan beberapa salinan berkas ke sekolah yang lain.Itu berarti biaya tambahan yang bisa hilang separuh bila anak masuk ke sekolah negeri. Masuk sekolah baru berarti biaya … biaya … biaya … dan biaya lagi dan jumlahnya mencapai nilai jutaan (itu yang dirasakan orang tua, karena uang yang dikeluarkan sudah tidak jelas lagi arahnya pada investasi atau biaya).

Pendidikan adalah hak semua warga negara, dan untuk menyediakannya tidak sekedar ada guru dan kurikulum, melainkan juga bangunan permanen, buku, dan sarana – prasarana lainnya. Itu semua butuh biaya dan menjadi penyeleksi alam institusi pendidikan tidak jelas yang sempat menjamur. Perlahan tapi pasti, sekolah-sekolah yang tidak bermutu akan tutup. Dengan peraturan yang baru, sekolah yang punya mutu dan calon murid pun bila tidak punya gedung sendiri harus tutup.

Tapi, apakah pendidikan harus mahal? Bahkan sangat mahal. Pertanyaan yang mudah tapi sangat sulit dicari jawabannya. Bila bicara soal pendidikan, sudah pasti bicara tentang manpower-nya yakni guru. Dan guru di Indonesia belum semua menikmati kehormatan dan penghormatan semestinya, sebagai pencetak generasi baru. Mereka yang beruntung menjadi guru sekolah negeri mungkin sudah lebih baik, karena menikmati gaji dengan standar baru yang ditetapkan pemerintah. Mungkin, sekarang ini guru negeri tidak perlu lagi bekerja ganda mengajar sekolah swasta untuk menambah penghasilan. Sebaliknya, sekolah swasta harus menggali lebih dalam kantong orang tua siswa bila tidak mau guru-gurunya hengkang menjadi pegawai negeri. Pendidikan yang semakin baik akan membentuk generasi muda yang lebih baik pula, dan generasi muda yang lebih baik menjanjikan perkembangan bangsa ke arah yang kita inginkan bersama.

diskusi

Banyak pakar yang mempertanyakan, kemana sebenarnya arah pendidikan bangsa ini. Semau fasilitas sekolah – yang tidak terkait langsung dengan pendidikan – dibangun untuk kenyamanan siswa dan guru, tetapi biayanya harus ditanggung oleh orang tua. Gedung-gedung ber-AC, multimedia yang mewah, penggunaan internet untuk perkuliahan, dan semacamnya sekarang ini menjadi trend. Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan masa 10 – 20 tahun silam. Tapi, apakah output-nya sudah benar-benar jauh lebih baik daripada masa-masa sebelumnya? Dengan semua kemahalan fasilitas atau sarana-prasarana belajar-mengajar itu, apa perbedaan lulusan dulu dengan lulusan sekarang?

Dalam sebuah feature di koran Jawa Pos beberapa waktu lalu, sempat diulas pendidikan di India yang jauh lebih murah daripada di negara-negara lain – termasuk Indonesia. Dikatakan bahwa, biaya sekolah S-2 per-semester hanya sekitar 10 juta rupiah (sementara di Indonesia untuk biaya kuliah – tidak termasuk biaya buku dan lainnya bisa mencapai 10 – 15  juta persemester), itupun sudah termasuk biaya asrama kampus. Pengajarnya langsung guru besar atau Doktornya sendiri, bukan para asisten sebagaimana yang lazim di Indonesia (karena sang guru besar dan Doktor juga harus hadir di tempat lain yang mendatangkan uang lebih besar). Akan tetapi, jangan harap ada kemewahan. Ruangan kelasnya kuno, kursi kuliahnya model lama dari kayu, penyejuknya kipas angin di langit-langit, dan masih menggunakan papan tulis kapur. Akan tetapi, istimewanya, India sekarang merupakan salah satu negara outsourcing IT Amerika yang terbesar. Pelaku ekonomi di Wallstreet, dokter di rumah-rumah sakit di AS, banyak merupakan jebolan sekolah-sekolah di India sebelum mengambil master atau spesialis di Amerika. Bukan hanya 1 – 2 orang, tetapi sudah berbilang prosentase.

perpusatakaan pusat informasi

Dari semua anak yang bersekolah di SMA favorit dan masuk ke perguruan tinggi negeri ternama, rasanya tidak sampai 30% yang sadar benar alasan mereka masuk ke sana. Yang penting sekolah di tempat elite, masuk ke fakultas yang bergengsi. Kalau sekolah saja sudah tanpa visi yang jelas, bagaimana anak tersebut bisa membangun jati dirinya melalui pendidikan yang ditempuh? tidak mengherankan bila banyak sarjana kita yang “tersasar” ke pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang studinya. Sekolahnya hukum, ujungnya bekerja di perbankan, seorang teman yang sarjana psikologi sampai sekarang betah sekali menjadi detailer obat, sekretaris, atau hanya tenaga administrasi biasa.

Jadi, bagaimana sebenarnya ukuran keberhasilan seseorang dalam studi? Mencapai atau memperoleh pendidikan di sekolah favorit, atau berhasil memperoleh pekerjaan seperti yang diidamkan. Sudah jamak di masyarakat, seseorang dari sekolah terbaik, dan dari jurusan idaman, tidak berakhir dengan mata pencaharian atau pekerjaan yang diidamkan. Sebaliknya, ada orang yang ketika sekolah biasa-biasa saja tetapi menemukan tempat kerja idaman, bekerja di perusahaan oil & gas yang bergaji tinggi. Kelihatannya unfair, tetapi itu adalah kenyataan.

Bekerja di “tempat basah” saya yakin masih menjadi impian banyak lulusan baru, atau siapapun yang belum dapat pekerjaan. Institusi keuangan, bagian logistik sebuah BUMN, bagian pembelian, termasuk di bagian kepegawaian, menjadi incaran karena diprediksi bisa mendatangkan keuntungan secara cepat. Apakah keuntungan itu halal? Tidak penting. Tapi, apakah bekerja seperti ini adalah sebuah prestasi?

Mungkin, dari diri kita sendiri dan anak kita, perlu mengevaluasi diri dan memperjelas definisi sukses itu. Kalau sukses adalah nilai uang, kaya, punya rumah dan mobil mewah – maka Gayus dan sederet koruptor yang sekarang sudah dibui (atau masih dalam proses) adalah orang sukses yang sedang sial. Koruptor yang masih berkeliaran adalah orang sukses yang beruntung.

Akan tetapi, kalau sukses itu adalah be a better person, banyak hal yang kita align karena tolok ukur kebaikan sekalipun universal tetapi tidak uniform. Sekolah adalah ajang pendadaran jiwa dan raga, agar menjadi seseorang yang mempunyai jati diri – identitas kepribadian yang jelas. Banyak pelajar yang menganggap sekolah sebagai ruang hukuman, dan berusaha lari dari kewajiban. Mengapa pelajar tidak suka belajar? Itu adalah PR bagi penyelenggara pendidikan – dan harus mengatasinya. Pelajar harus jadi suka belajar, tidak lagi bolos dan berkeliaran di mall.

Kalau sukses adalah be a better person, kita perlu me-redefinisikan makna sukses. Kekayaan mungkin adalah bagian dari sukses, tetapi sukses tidak selalu harus kaya secara finansial. Seperti yang ditekankan dalam ayat suci Al-Qur’an: Kalau manusia mencari dunia, maka dia hanya mendapatkan dunia. Akan tetapi, bila manusia itu mencari akhirat, dia akan memperoleh dunia dan akhirat. Sebuah dogma yang bermakna dalam.