Archive for July, 2009

Ekstrimisme (Lagi) Merobek Nama Bangsa

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags on July 31, 2009 by hzulkarnain

Catatan akhir bulan Juli 2009

Seharusnya, bulan Juli ini penuh dengan event yang ditunggu oleh masyarakat Indonesia. Hasil pilpres 2009 dan datangnya raksasa sepak bola Manchester United di Jakarta adalah dua di antara hot news-nya. Tapi, seperti kata pepatah … untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, justru dua ledakan maut menggasak hotel yang akan dipergunakan oleh team MU dan sedang dipergunakan oleh team Indonesia. MU membatalkan kunjungan ke Jakarta, dan tingkat elit politik yang menyongsong hasil resmi pilpres menjadi tegang. Semua gerah – kecuali media massa yang mengeruk berita harian hangat.

JW Marriot aftermath ...

JW Marriot aftermath ...

Seketika itu juga, di tengah kepedihan yang langsung terasa di sudut-sudut negeri, kita jadi sadar bahwa ekstrimisme masih menjadi PR bagi pemerintah yang sedang berkuasa. Ekstrimisme yang menjadi akar terorisme masih ada, dan setiap saat mengancam. Kali ini, masih seperti sebelumnya, ekstrimisme yang dilakukan pelaku bom bunuh diri meminjam nama Islam. Nama-nama lama seperti Noordin M Top menyeruak ke permukaan, dan jaringan yang selama ini hampir dilupakan membuktikan eksistensinya.

Berbagai analisis dikemukakan di televisi dan koran, yang kian lama rasanya semakin membuat masyarakat cemas. Orang tidak akan melihat progress yang diraih oleh kepolisian dan intelijen, karena porsi dugaan dan asumsi di televisi jauh lebih intens. Hampir setiap pagi dan petang, beberapa televisi selalu menayangkan rekaman detik-detik terakhir sebelum ledakan, sketsa potongan kepala, sosok bertopi yang diduga pelaku bom bunuh diri, hingga keluarga sederhana yang diduga merupakan kerabat pelaku tersebut.

Yang paling menarik sebenarnya adalah ulasan MetroTV. Dengan bahasa yang meyakinkan, stasiun itu mempertanyakan alasan sebenarnya Noordin M Top (yang sebelumnya bersama Dr Azahari) memimpin serangkaian pengemboman di Indonesia. Mereka adalah jagoan perakitan bom, namun tidak ada sepotong pun yang meledak di tanah air mereka. Kalau mereka membenci orang Amerika dan Eropa, rasanya orang asing di Malaysia tidak kalah jumlahnya dengan Indonesia.

Beberapa hari yang lalu, sebuah blog yang berisi pengakuan Noordin M Top bisa diakses massa. Di sana, ia mengaku bahwa bom di kedua hotel internasional tersebut adalah tanggung jawab kelompoknya. Ada yang menganggap blog itu palsu, namun pendapat lain yang lebih kuat menyebutkan bahwa memang bukan NMT sendiri yang membuat. NMT dibantu orang lai dalam menuliskan pikirannya di dalam blog. Hal ini bisa ditengarai dari kemiripan ciri yang tinggi dengan website lain yang serupa yang pernah dirilis MNT. Beberapa perbedaan dalam cara pengetikan menunjukkan bahwa orang yang mengetik memang beda orang.

Yang sangat memprihatinkan adalah keterlibatan pemuda-pemuda Indonesia sendiri dalam bom bunuh diri ini. Mereka meyakini bahwa kematian mereka dengan membawa banyak orang asing akan membuat mereka masuk surga. Sebuah logika yang sinting, namun nyata dan didalami oleh sebagian pemuda tersebut. Entah bagaimana asal muasalnya, yang jelas para pemuda kita itu memiliki pandangan yang sangat ekstrim, tidak punya rasa toleransi, dan menganggap benar kejahatan yang dilakukannya.

Beberapa hari lalu, MetroTV menayangkan kesaksian survivor ledakan JW Marriot 2. Dari pengakuan salah seorang saksi tersebut, memang jelas bahwa yang akan diledakkan adalah kumpulan CEO yang sedang mengadakan jamuan breakfast meeting. Bukan hendak menyabot kedatangan MU. Pelaku yang membawa tas besar memaksa untuk menyerahkan tas besar (yang berisi bom) kepada atasannya yang sedang meeting. Masih menurut saksi tersebut, sesampai di depan meja panjang tempat breakfast meeting, orang itu seperti kebingungan. Hanya berselang 1 menitan, tas orang itu pun meledak.

Mengapa orang itu sepertinya kebingungan? Menurut salah seorang teman, bagaimanapun orang yang akan mati akan muncul keragu-raguan. Tetapi, ada kemungkinan orang tersebut bukanlah pemegang detonator. Ada orang lain yang memicunya. Kalau benar orang yang meledak bersama tas itu bukan sekaligus pembawa detonator, pertanyaannya adalah sadarkah mereka bahwa ia akan diumpankan menjadi bom hidup … yang pastinya akan mencederai lebih banyak orang Indonesia daripada orang asing? Semuanya masih teori dan dugaan, namun yang jelas bangsa ini telah terluka karena tindakan yang berlandaskan ekstrimitas itu ….

Flu babi belum selesai, bahkan tercatat semakin meluas, kini kasus bom bunuh diri menimpali. Rasanya banyak masalah di negeri ini … namun saya yakin, kita semua bisa mengatasinya dengan optimisme, pengharapan, dan dedikasi pada bangsa dan negara. Bangsa ini rasanya sudah berada di track yang benar.

Semoga Allah Swt senantiasa negeri yang indah dan bangsa yang sedang mencari jati dirinya ini. Amin.

Candu Modern: Memabukkan Dan Mematikan

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on July 17, 2009 by hzulkarnain

Benda apa yang paling jamak dijumpai di ruang tamu atau ruang tengah keluarga? Televisi. Setelah awal 90-an, televisi yang sebelumnya adalah barang mewah berubah menjadi salah satu kebutuhan hidup rakyat Indonesia. Apalagi sekarang ini jumlah salurannya sudah semakin banyak. Kalau kita sempat berjalan di sepanjang jalur luar kota besar, akan bisa kita lihat bambu tinggi untuk menempatkan antena televisi, dan jumlahnya luar biasa banyaknya. Televisi adalah icon penyebaran informasi di negeri ini.

Sebagaimana kemajuan lainnya, perkembangan pertelevisian juga memiliki ekses yang tidak terhindarkan. Perlahan namun pasti, posisinya menjadi sentral perhatian di dalam rumah. Bukan hanya itu, fungsinya yang awalnya adalah media hiburan menjelma menjadi bagian kebutuhan anggota keluarga. Sang ayah maunya berita atau siaran olah raga, sang ibu suka sinetron demikian anak pertama yang perempuan (hanya beda saluran saja), sementara anak bungsu yang laki-laki selalu cari saluran kartun atau komedi. Sebuah benda persegi hitam dengan banyak tombol yang bernama remote control akhirnya menjadi barang rebutan di rumah. Kalau sudah begitu, jangan harap ada ketenangan di rumah – khususnya di jam-jam tertentu yang berbenturan.

buang-buang waktu berharga ...

buang-buang waktu berharga ...

Dalam beberapa tahun belakangan, demam PS2 melanda kalangan anak laki-laki. Di sudut kota hingga kampung muncul persewaan PS2 yang mengadu ketrampilan dalam memainkan joystick. Lebih seru bila permainan tersebut berbentuk sparring – misalnya game sepakbola Winning Eleven, FIFA Soccer, dsb. Bukan hanya yang main merasa seru, penonton pun merasakan keseruan yang sama. Bagaimana mereka bisa bermain selama itu, dengan duit tentunya. Apakah kalau seorang anak sudah punya PS2 di rumah lantas dia berhenti bermain di luar? Belum tentu.

Hampir serupa dengan PS2 adalah PC game online. Bila persewaan PS2 menyasar kelas menengah ke bawah, game online menyasar di level yang lebih tinggi. Tidak jauh dengan PS2, permainan ini tidak murah, level adiksinya tinggi, dan pecandunya rela mengorbankan aktivitas yang lebih penting untuk bermain online.

Bagi masyarakat perkotaan, mall adalah fenomena. Tidak ada hari sepi di mall. Kapanpun kita datang ke sana – weekdays apalagi weekend – orang selalu berkeliaran di dalamnya. Apa yang menarik dari sebuah mall – saya tidak tahu. Mengapa orang tergila-gila pada mall – jangan tanya saya. Yang saya tahu, ada orang-orang yang shopaholic. Kalau nggak ke mall, badan rasanya sakit semua. Kalau ada waktu senggang, maunya ke mall. Apa yang terjadi kalau sudah di mall? Belanja, paling tidak makan. Jangan pula ditanya bagaimana waktu akan terlewatkan dengan sedemikian cepatnya.

Kalau sudah mulai nonton televisi, dan asyik dengan yang ditonton, level adiksi meningkat secara perlahan. Yang suka sinetron, komedi, menjadi kian tergantung pada acara-acara tersebut. Aktivitas apapun bisa ditinggalkan asalkan tidak ketinggalan acara TV. Yang bapak-bapak rela begadang demi siaran bola, ibu-ibu menyia-nyiakan waktu berlalu demi sinetron yang sambung-menyambung, anak-anak lupa sholat ashar atau maghrib, dan seterusnya. Kalau sudah main game, PS2 atau PC game online, waktu sekolah dan uang sekolah bisa ludes di meja kasir, dan pulang ke rumah kalau sudah tidak punya bekal lagi. Waktu tampak sangat relatif di dalam mall, karena hampir tidak akses melihat ke luar, sejuk AC, dan semua lampu menyala sekalipun tengah siang. Akibatnya, hari berjalan sedemikian cepatnya – tahu- tahu sudah Maghrib.

Entertainment, itulah yang dicari orang! Dengan menonton sinetron di televisi, bermain PS2, jalan-jalan di mall, ada sisi negatif diri yang terlampiaskan. Persoalan sehari-hari yang menjemukan atau yang berat seolah-olah terkikis dengan hiburan tadi. Orang meninggalkan kehidupan nyata yang tidak nyaman masuk ke kehidupan semu.

Tidak belerbihan kiranya mengekuivalenkan entertainment dunawi tersebut dengan candu kuno yang kita kenal secara harafiah. Candu yang memabukkan membawa orang meninggalkan kegetiran dunia untuk masuk ke alam semu. Semakin dihisap, semakin dalam penikmatnya masuk ke alam halusinasi. Di alam khayalan, orang bisa menjadi apapun yang dikehendakinya, tidak ada rasa sedih, tidak ada kesusahan, hanya kebahagiaan. Sayangnya, begitu efeknya habis, yang muncul adalah kondisi depresi, semua badan sakit-sakit, dan ternyata kesulitan hidup masih di sana tidak pergi barang sejengkalpun. Secara fisiologis, otak akan mengalami degradasi bila orang mengkonsumsi narkoba, hingga tidak mampu lagi digunakan secara normal. Karena otak adalah sumber akal budi manusia, hilangnya kemampuan otak bermakna lenyapnya pula segala kecemerlangan manusia sebagai mahluk tertinggi ciptaan Allah.

Otak kita adalah alat untuk berpikir, berkreasi, sekaligus pusat emosi dan kepribadian kita. Memberikan feeding pada otak berarti memerintahkannya berpikir, bukan justru diberi tontonan yang melenakan. Kepribadian manusia terasah bila langsung bertemu dengan orang, bukan bermain soliter tanpa komunikasi sosial yang bersemangat. Ada kalanya manusia perlu menyegarkan pikiran dengan menghabiskan waktu bersantai – berjalan-jalan di mall misalnya – tetapi menenggelamkan diri dalam kemewahan mall membunuh nurani pada kebutuhan orang-orang miskin.

Entertainment modern mudah sekali membuat orang lupa bahwa, kehidupan ini perlu perjuangan. Tidak ada prestasi yang dicapai dengan duduk manis nonton sinetron atau film, main PS2 atau game online, dan window shopping di mall. Semuanya adalah kehidupan semu, dan rata-rata kita tidak sadar menghabiskan waktu yang tidak bermakna di tempat yang tidak memberikan barokah.

Allah hanya memberikan waktu kita 24 jam sehari. Berapa yang bisa kita sisihkan untuk bersujud memohon ampunan atau duduk tafakur menaikkan zikir kepada Illahi robbi? Mungkin dengan 6 – 8 jam kerja di kantor, pabrik, rumah tangga, atau sekolah, 7 – 8 jam untuk tidur, tersisa 7 – 8 jam untuk lainnya. Mau kita apakan sisa waktu ini?

Mungkin kita tidak mati secara fisik seperti pecandu narkoba, karena entertainment modern tidak membunuh. Yang mati dari diri kita adalah kreativitas, nurani, dan kemauan untuk berkembang menjadi orang yang lebih baik. Bayangkan kalau kita bisa putuskan rantai ketergantungan pada sinetron, PS2 dan mall, berapa banyak waktu yang bisa kita sisihkan untuk membentuk karakter personal kita, membangun kepribadian yang lebih baik.

Al-Qur’an telah menegaskan bahwa, kehidupan ini tak lebih dari senda gurau. Sesuatu yang fana, akan berlalu, dan bukan tempat yang kita tuju. Apakah kita hanya akan menyia-nyiakan waktu hanya untuk sesuatu yang tidak serius? Menghabiskan waktu 3 jam di mall seperti berlalunya angin, namun membaca Al-Qur’an 30 menit saja rasanya …. ampun….

Mungkin kita perlu mengubah mindset. Kita perlu menetapkan tujuan untuk hidup yang lebih baik di masa depan … menuju kehidupan kekal kelak. Tidak mudah itu sudah pasti …. apalagi langkah pertama yang perlu diambil adalah, menjauhi televisi, mesin PS2, dan mall. Dan segala entertainment yang telah membuat mabuk. Anda bisa?

Pemilihan Presiden Indonesia

Posted in Kontemplasi, Sharing on July 8, 2009 by hzulkarnain

Hari ini, Rabu 8 Juli 2008, seluruh warga bangsa Indonesia diberi kesempatan untuk menyalurkan aspirasinya memilih pemimpin negara yang mereka sukai. Sudah tersedia tiga pasang Presiden – Wakil Presiden, yang mewakili 3 kekuatan partai besar dalam Pemilu legislatif beberapa bulan silam.

Capres nomor 1 Megawati adalah representasi PDI Perjuangan yang secara tradisional dikenal sebagai partai nasionalis dan berpihak pada rakyat kebanyakan. Posisinya yang kuat di beberapa propinsi menjanjikan dulangan suara yang harus diperhitungkan. Apalagi, beliau juga didampingi Prabowo Subianto yang tampaknya memiliki cukup kharisma di kalangan muda. Keduanya mengemban konsep kerakyatan yang serupa, dan diwujudkan dengan slogan PRO RAKYAT.

Sang incumbent, SBY yang kali ini menggandeng Boediono, memperoleh nomor 2. Kharisma sang incumbent ini sebagai seorang Presiden sudah dikenal luas. Gaya bicaranya yang reserved dan – sejauh yang saya tahu – selalu dengan emosi yang terkontrol, memiliki nilai positif luar biasa. Ia adalah figur utama dan representasi Partai Demokrat yang secara fenomenal menjadi pemenang dalam Pemilu legislatif tahun ini. Keyakinan beliau bahwa Indonesia sudah berada di jejak yang benar memberi gagasan motto: LANJUTKAN!

Nomor 3 ditempati oleh sang incumbent wakil presiden, JK. Setelah yakin bahwa SBY memasang prasyarat yang tidak bisa dipenuhinya bila hendak meneruskan fungsinya sebagai wakil presiden, beliau memutuskan maju sendiri sebagai representasi Golkar. Dalam Pemilu kali ini, Golkar bersaing ketat dengan PDI Perjuangan dalam peroleh kursi. Dengan menggandeng Jenderal (purn) Wiranto yang sebelum menjadi Ketum Hanura adalah juga fungsionaris Golkar, JK yakin sekali telah menjelma menjadi representasi ideal: Jawa – luar Jawa, sipil – militer, bisnis – birokratis, dst. Sebagai orang bisnis, beliau yakin, Indonesia membutuhkan langkah yang: LEBIH CEPAT LEBIH BAIK.

Hanya sebulan ketiganya secara resmi diijinkan untuk berkampanye secara terbuka, sehingga team sukses masing-masing harus bekerja keras menguapayakan langkah terbaik untuk mengkondisikan hasil paling positif untuk pasangan yang mereka usung. Saling klaim keberhasilan, saling jegal, saling sindir, adalah dinamika yang terjadi selama masa kampanye. Yang lebih mengesankan lagi, tahun ini dimulai acara debat antar calon kandidat Presiden yang diselenggarakan oleh KPU dan ditayangkan oleh hampir semua televisi nasional.

Hari ini – the D-Day – semua dipastikan. Dalam jam-jam terakhir – kurang dari 48 jam sebelum hari pemilihan, Mahkamah Konstitusi mengesahkan aturan penggunaan KTP dan KK sebagai pengganti DPT yang belum lepas dari kekacauan. Artinya, akan lebih banyak warga bangsa yang punya hak memilih. Sekalipun minim dengan sosialisasi, tampaknya peran televisi memberikan dorongan yang luar biasa besarnya pada suksesnya pemilihan presiden hari ini.

Sejak pukul 9-an pagi, secara mengejutkan sudha muncul prediksi angka di televisi swasta yang secara khusus menyiarkan pemilihan kepala negara ini. Prediksi itu berasal dari Exit Polling, yaitu suara pemilih yang baru keluar dari lokasi TPS. Dengan segera pasangan nomor 2 memimpin. Exit polling bukan suara yang sebenarnya, seban ada kemungkinan pesan yang disampaikan secara verbal bisa berbeda dengan hasil yang masuk ke kotak suara.

Pada pukul 12.00, dengan cepat quick count menempatkan pasangan SBY-Boediono leading jauh dari kedua pasangan lainnya. Suara Megawati – Prabowo lebih kurang separuh suara SBY – Boediono; sementara suara JK – Wiranto sekitar separuh dari suara Megawati – Prabowo. Prediksi beberapa pengamat yang menjagokan JK – Wiranto sebagai “kambing hitam” persaingan ternyata meleset jauh. Dari catatan di semua propinsi, pasangan nomor 3 ini tampaknya hanya unggul di 2 atau 3 propinsi. Daerah yang secara tradisional dikenal sebagai basis PDI Perjuangan ternyata tidak memberikan hasil optimal bagi pasangan nomor 1. Bahkan di Ambon, yang dalam Pemilu legislatif didominasi PDI-P, ternyata justru memberikan suara bagi SBY – Boediono.

aku juga nyontreng nomer 2

aku juga nyontreng nomer 2

Dalam pikiran saya, kharisma SBY memang belum bisa dibendung. Langkah-langkahnya yang banyak dikecam oleh Prabowo Subianto ternyata masih disukai oleh para pemilih. Strategi menciptakan image masa depan yang kelam bila pemerintahan sekarang dilanjutkan yang diintrodusir oleh sang cawapres ini ternyata tidak dipahami oleh rakyat. Mungkin sekali bahasa yang dipergunakan terlalu tinggi bagi mereka – tapi ini masih perlu diuji. JK tidak berhasil mendulang suara optimal, menurut Renald Khasali, dikarenakan waktu untuk pencitraan tidak cukup panjang. Konsep ideal yang diusung beliau dan cita-cita untuk membuat negeri ini mandiri, ternyata tidak banyak dipahami juga oleh rakyat.

Bila tidak ada aral melintang, sesuai dengan suara yang diaspirasikan para pemilih dalam ajang Pilpres tahun ini, SBY – Boediono akan melenggang ke kursi kepemimpinan negeri di bulan Oktober 2009 nanti. Insyaallah.

Saya pribadi yakin, pemilihan presiden 5 tahun mendatang akan jauh lebih seru karena tidak ada incumbent yang akan bertarung. Semoga Indonesia selalu dalam lindungan Allah Swt, dan memperoleh pemimpin yang tepat untuk jamannya. Amin.