Archive for August, 2009

Menjadi Khalifah…

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags , on August 29, 2009 by hzulkarnain

Beberapa hari silam, dalam salah satu episode perbincangan menjelang Maghrib antara Shahnaz Haque dan Ustadz Abu Sangkan, diangkat sebuah fenomena tentang pengusaha muslim yang sukses dan memiliki karyawan hingga ribuan. Pengusaha konstruksi tersebut bisa dikatakan sebagai pebisnis papan atas di sektornya. Yang menarik adalah kutipan sang ustadz pada ucapan sang pengusaha, yang menyebutkan bahwa semua usaha yang dilakukannya semata-mata agar dia menjadi apa yang disebut khalifah di muka bumi.

Menjadi khalifah adalah menjadi kepanjangan tangan Tuhan di muka bumi, dan dalam pengertian sang pengusaha dia ridha menjadi pintu rizki bagi orang lain dengan kemajuan usahanya. Ia istikomah dalam berbisnis bukan semata untuk dimakan atau untuk kepentingan lainnya, namun lebih untuk menjalankan amanat Allah.

Lebih jauh Abu Sangkan menjelaskan hakikat zakat sebagai salah satu pilar dalam rukun Islam. Zakat yang disebutkan di sana adalah memberi zakat, bukan menerima zakat. Implikasinya, umat Islam tidak boleh miskin agar bisa membayarkan zakat. Kalau saja orang Islam memahami konsep dasar ke-lima pilar tersebut, seharusnya orang Islam harus berkecukupan dalam nafkah.

Yang terjadi dewasa ini, justru kebalikan dari semangat Islam yang mulia tersebut. Di beberapa ruas jalan di Jawa, jamak kita jumpai barisan beberapa orang di dekat pembangunan masjid yang berdiri di atas marka jalan – seraya mengacung-acungkan ember atau kaleng untuk minta uang. Ada pengeras suara yang memberikan alasan minta-minta itu – misalnya untuk biaya pembangunan masjid. Saya selalu berpikir, apakah tidak ada cara yang lebih terhormat untuk melakukan pembangunan rumah ibadah semacam itu? Bagaimana pula dengan belasan laki-laki produktif yang hanya berjajar di marka jalan dan meminta-minta dari mobil yang lewat itu? Mengapa tidak sebaiknya mereka bekerja saja daripada mengacung-acungkan ember?

Jangan tanya lagi soal pengemis yang jumlahnya semakin banyak saat memasuki bulan puasa begini. Seolah-olah memanfaatkan kerapuhan hati sebagian muslim di saat berpuasa dalam bersedekah, bulan puasa seolah-olah identik dengan musim pengemis. Satpol PP yang bertugas membersihkan jalanan menjadi momok sekaligus musuh pengemis dan gelandangan musiman, karena mereka tak kenal lelah membersihkan jalanan. Ada perasaan iba campur aduk melihat mereka “digaruk” petugas, tetapi itulah resiko mengemis dan menggelandang di masa sekarang.

Manusia yang dianugerahi akal budi tidak pernah tanpa pilihan, namun memang tidak semua manusia mau bersusah payah melihat peluang yang memungkinkan mereka lebih baik, atau cukup sabar menghadapi cobaan.

Beberapa hari berselang saya membaca kabar pelaku korupsi berjamaah dana sosial yang memasuki tahap vonis. Ke-5 orang jamaah korupsi tersebut (dari jajaran Depsos, pemda, camat hingga lurah), mengkorupsi dana bantuan korban bencana puting beliung di sebuah wilayah di Probolinggo. Dana yang dialokasikan sekitar 285 milyar ternyata yang disalurkan kepada para korban tinggal 14 milyar. Sebanyak 271 milyar raib.

Apakah memang begini karakter manusia yang sebenarnya?

Hingga para malaikat yang biasanya tunduk patuh pada tiap keputusan Allah pun bertanya kepada Allah Swt ketika hendak menetapkan seorang khalifah di muka bumi (QS Al Baqarah 30). Manusia dianggap tidak pantas memimpin dunia, karena ia hanyalah biang kerusakan, dibandingkan dengan para malaikat yang selalu bertasbih. Akan tetapi Allah berketetapan untuk menempatkan manusia sebagai khalifah di antara mereka sendiri.

Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, akan tetapi manusia diletakkan di titik nol – yang serendah-rendahnya. Hanya manusia yang beriman dan beramal saleh saja yang bisa mengangkat dirinya dan meneguk pahala yang tiada habis. Surat At-Tin dengan jelas menggambarkan kodrat manusia yang memang tidak tinggi, namun mereka diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri, menjadi orang yang lebih baik, agar menjadi khalifah sebagaimana ketetapan Allah. Orang yang tidak paham akan tetap di tempat yang tidak punya nilai tinggi.

Kalau manusia hanya berpikir untuk mencari makan dalam mengisi kehidupan ini, lantas apa bedanya dengan mahluk hidup lain yang lebih rendah derajatnya? Memang tidak semua orang punya rizki sebaik orang yang lain, namun semua orang punya peluang untuk menjadi diri yang lebih baik. Kalaupun ia tidak bisa menjadi pintu rizki bagi orang lain, setidaknya ia punya waktu untuk mensyukuri rizki yang diterimanya. Bersyukur adalah salah satu cara untuk bangkit dari titik nol, sesuai dengan firman Allah dalam QS Ibrahim, bila kita bersyukur semakin besar karunia Allah. Sebaliknya, bila kita tidak juga mau bersyukur, maka siksa Allah sungguh pedih.

Salah satu kesyukuran yang bisa kita tunjukkan pada Allah adalah dengan memberi pada orang lain. Allah tidak menyukai tangan di bawah, karena meminta-minta bukanlah tuntunan Islam. Orang Islam harus berikhtiar, menunjukkan harga diri, sehingga tiap rupiah yang kita terima terasa jauh lebih manis.

Tangan di atas tidak pernah sama dengan tangan di bawah!

Advertisements

Mari Berpuasa ….

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags on August 23, 2009 by hzulkarnain

Tanggal 22 Agustus 2009, secara serentak kaum Muslim negeri ini seharusnya mulai berpuasa, seiring dengan masuknya bulan Ramadhan. Memang ada beberapa anomali yang tidak terhindarkan, misalnya beberapa aliran yang berpayungkan Islam ternyata memilih untuk berbeda. Katakanlah tharikat naqsabandiyah di Sumatera Barat yang berlandaskan ajaran sufisme, ternyata memulai dua hari lebih awal. Anomali lain adalah kelompok orang Islam (paling tidak KTP-nya berbunyi seperti itu) yang menganggap bulan Ramadhan sama dengan bulan lain, tidak lebih – bedanya hanyalah mereka jadi tidak bebas untuk makan di siang hari.

Adanya orang yang tidak berpuasa karena tidak menganggap penting berpuasa di bulan Ramadhan dari masa ke masa ini seolah-olah sudah menjadi garis kodrat manusia, sehingga firman Allah dalam Al-Baqarah 183 pun menyebutkan: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. Yang diseru adalah “yaa ayyuhalladzina aamanu” bukan “yaa ayyuhannas” – hai orang yang beriman bukan hai manusia. Berpuasa adalah jalan orang yang beriman dan diserukan hanya kepada orang yang beriman, agar semakin mereka mendalami makna puasa, kian besarlah takwa dalam diri mereka.

Secara nyata, memang tidak semua orang suka (bahkan yang beragama Islam) dengan datangnya bulan puasa, karena berarti mereka harus berhenti melakukan berbagai hal yang secara nafsu mereka sukai: makan minum di siang hari dengan bebas, aktivitas syahwat yang menyimpang, dan suasana yang mendadak religius mau tak mau membuat kekangan, setidaknya perasaan yang tidak enak.

Kalau kita simak di layar televisi, menjelang bulan suci ini para Satpol Pamong Praja berkeliaran di tempat-tempat yang ditengarai menjadi basis kemaksiatan dan menertibkan mereka. Para PSK mau tak mau harus ikut berpuasa, karena lokasi mereka dipantau ketat. Tak kalah seru, Ormas yang mengatas namakan Islam seperti FPI juga merazia beberapa tempat yang dianggap sumber maksiat. Pokoknya, aparat pemerintah daerah dan ormas seperti berlomba menegakkan kedisiplinan dalam beribadah.

Puasa sebenarnya bukan monopoli orang Islam, karena sebelum Islam pun berpuasa sudah di-syariah-kan melalui Rasul sebelum Muhammad SAW. Puasa Dawud dan puasa di hari Asyura adalah contohnya. Sebelum di tetapkan hukumnya sebagai sunnah oleh Rasulullah SAW, orang-orang yang hidup di jaman Rasulullah (bahkan Rasulullah sendiri) juga berpuasa di hari Asyura. Pada intinya, dengan kenyataan bahwa puasa adalah tuntutanan agama sejak jaman dahulu, tidak ada alasan untuk tidak melakukannya. Apalagi puasa di bulan Ramadhan sudah jelas dituliskan dalam Al Qur’an.

Teristimewa di Jawa, datangnya bulan puasa ini juga dimaknai dengan beberapa ritual dan adat yang tidak jelas asal-usulnya. Pertama, sebelum masuk Ramadhan berbagai makam tiba-tiba penuh dengan kerabat ahli kubur untuk “nyekar” (mungkin sekali di beberapa tempat lain juga demikian). Kemudian ada saling antar makanan antara tetangga, khususnya memberi antaran pada orang-orang tua atau yang dituakan. Setelah masuk bulan puasa, pikiran sudah meloncat jauh ke akhir bulan, saat Idul Fitri – karena di Jawa Idul Fitri identik dengan mudik dan perayaan keluarga besar. Beberapa orang yang menjelang bulan puasa belum “nyekar” juga menyempatkan diri untuk berziarah kubur.

Mudik yang masif sekarang sudah menjadi tradisi, adat kontemporer, baik bagi Muslim maupun non-Muslim, bagi Muslim yang khusyuk berpuasa maupun sama sekali tidak melaksanakannya. Tahun ini, dengan meningkatnya teknologi pemesanan tiket kereta, bahkan tiket bisnis dan eksekutif hingga hari H-5 sudah habis terjual ketika bulan puasa belum tiba.

Dengan masuknya bulan puasa, kita kemudian disuguhi acara televisi yang bernuansa ramadhan, dan pada jam sahur semua televisi swasta berlomba-lomba menyajikan konsep acara yang hampir sama dengan tahun lalu: humor dan kuis. Yang sedikit berbeda adalah sinetron Para Pencari Tuhan yang masuk tahun ketiga di SCTV, dan kelanjutan Tafsir Al-Misbah di Metro. Jadi, sambil bersantap sahur,  pemirsa bisa menentukan selera mereka.

Di atas segala apapun, ramadhan adalah biang segala bulan, bulan yang utama karena Allah sendiri yang memerintahkan puasa ini, bukan untuk siapa-siapa melainkan untuk Allah sendiri. Allah juga yang akan membalas sendiri ketakwaan manusia dengan takaran yang dikehendakiNya. Berpuasa bisa dengan alasan apapun, termasuk semua khasiat dan manfaat yang dijelaskan oleh Rasulullah, tetapi boleh juga hanya mendasarkan diri pada prinsip tersebut di atas: puasa kita ini hanya untuk Allah. Semakin ikhlas kita melaksanakannya, semakin ringan rasanya. Mereka yang berpuasa dengan pamrih karena manusia lain, akan merasakan beratnya puasa ini.

Semoga Allah senantiasa menjaga puasa kita yang dilakukan hanya untuk mencari ridlo Allah semata, dari semua gangguan dan godaan duniawi maupun syetan yang terkutuk.

SELAMAT MELAKSANAKAN IBADAH PUASA.

TERAPI SALAT TAHAJUD 6

Posted in Sharing on August 15, 2009 by hzulkarnain

Makna Salat Tahajud

Makna Salat

bumi Allah, di manapun kau berada

bumi Allah, di manapun kau berada

Secara bahasa, salat berarti doa, karena di dalamnya mengandung doa. Secara terminologi, salat adalah suatu ibadah dengan syarat tertentu yang terdiri atas ucapan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Pentingnya posisi salat dalam Islamdisabdakan oleh Rasulullah Saw:

“Pokok segala urusan adalah Islam, sedangkan tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah berjuang di jalan Allah Swt.”

“Salat itu adalah tiang agama. Barang siapa mendirikan salat, ia telah menegakkan agama dan barang siapa meninggalkan salat, ia akan meruntuhkan agama.”

Tujuan salat adalah pengakuan hati bahwa, Allah Swt sebagai pencipta adalah Mahaagung, dan pernyataan patuh terhadapNya, Tuhan Yang Mahakekal dan Mahaabadi.

Makna Tahajud

Tahajjud artinya bangun dari tidur. Salat tahajud artinya salat sunah yang dikerjakan pada waktu malam hari dan dilaksanakan setelah tidur lebih dahulu walaupun tidurnya hanya sebentar. Orang yang melaksanakan salat tahajud disebut mutahajjid.

Karena pentingnya salat tahajud ini, sebuah riwayat dari Ahmad dan Muslim menyebutkan bahwa Allah Swt sempat mewajibkannya untuk Rasulullah dan sahabat sebelum kemudian menetapkan kesunahannya:

Said bin Hisyam bertanya kepada Aisyah tentang salat Nabi di waktu malam. Aisyah menjawab:”Apakah Anda tidak membaca Surah Al Muzzammil?” “Ya,”jawab Said. Maka, salat malam pada permulaan surah ini, dijalankan oleh Rasulullah Saw dan sahabatnya selama satu tahun, sampai kaki mereka bengkak dan Allah Swt tidak menurunkan ayat akhir (ayat 20 Surat Al-Muzzammil) dalam surat ini selama dua belas bulan. Kemudian, (ayat 20) diturunkan untuk meringankan sehingga salat malam menjadi sunah sesudah diwajibkan.” (HR Ahmad dan Muslim)

Rasulullah Saw menekankan pentingnya salat tahajud dalam sabdanya:

“Kalian harus mengerjakan salat malam sebab itu kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, juga suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt juga sebagai penebus dosa dan kejelekanmu, serta dapat menangkal penyakit dari badan.” (HR At-Tarmidzi).

Namun demikian, bukan berarti salat tahajud bisa dilaksanakan dengan mudah. Kemalasan akibat gangguan setan selalu datang pada saat orang seharusnya bangkit dari tidur untuk menegakkan salat. Imam Bukhari meriwayatkan sabda Rasulullah Saw:

“Setan mengikat kuduk seseorang dengan tiga ikatan ketika ia tidur. Lalu, setan memukul tempat tiap ikatan pada kuduk orang yang sedang tidur sambil berkata:’Tidurlah, kamu mempunyai malam cukup panjang.’ Bila seseorang yang tidur itu bangun dan berzikir kepada Allah Swt, lepaslah satu ikatan. Lalu, jika ia pergi wudu, teruailah satu ikatan lagi, dan manakala ia salat lepaslah ikatan terakhir sehingga ia menjadi bersemangat dalam beribadah, terlepas dari segala ikatan kesempitan jiwa dan terlindungi dari rasa malas,”(HR Bukhari).

Waktu untuk Salat Tahajud

Malam hari sebagaimana yang dimaksudkan untuk pelaksanaan salat malam terbagi atas 3 bagian, yang disebut dengan permulaan malam, pertengahan malam, dan penghabisan malam.

Dalam Surah Al-Muzzammil (73: 3-4) Allah Swt menerangkan waktu untuk salat tahaud dengan sebutan: separuh malam, kurang atau lebih. Artinya, Allah Swt menyerahkan waktu salat tahajud yang tepat sesuai dengan kelonggaran yang ada pada diri Nabi Saw. Namun demikian, menurut hadis yang sahih, sebaik-baiknya waktu untuk menjalankan salat tahajud adalah pada sepertiga malam yang terakhir (sekitar pukul 02.00 atau 03.00 hingga sebelum subuh). Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

“Tuhan kita, Azza wajalla, tiap malam turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir.”

Pada saat itulah Allah Swt berfirman:’Barang siapa yang berdoa kepadaKu pasti Kukabulkan, barang siapa yang meminta kepadaKu, pasti Kuberi, dan barang siapa yang meminta ampun padaKu, pasti Kuampuni.” (HR Jamaah)

“Pada saat manakah salat malam yang lebih utama?” Abu Dzar menjawab:”Saya pernah menanyakan demikian kepada Rasulullah Saw, maka beliau bersabda:’Pada tengah malam yang terakhir, tapi sedikit sekali yang suka mengerjakannya.” (HR Ahmad)

Dari Amar bin Abas berkata:”Saya mendengar Nabi Saw bersabda:’Sedekat0dekatnya hamba kepada Allah Swt ialah di tengah malam yang akhir, maka jika engkau termasuk golongan orang yang berzikir kepada Allah Swt pada waktu itu usahakanlah!” (HR Al-Hakim)

Bilangan Rakaat Salat Tahajud dan Witir

Rasulullah Saw memberikan contoh nyata cara dan bilangan salat tahajud, sebagaimana hadist berikut:

Telah berkata Aisyah:”Bahwasanya Rasulullah Saw pernah salat antara waktu Isya dan Subuh sebelas rakaat, yaitu ia beri salam pada tiap-tiap dua rakaat, dan ia sembahyang witir satu rakaat.” (HR Bukhari)

Telah berkata Aisyah:”Bahwasanya Rasulullah Saw pernah salat malam tigabelas rakaat. Dari tiga belas rakaat itu, ia salat witir lima rakaat, dan ia tidak duduk di antara rakaat-rakaat itu kecuali pada rakaat terakhir.” (HR Bukhari dan Muslim)

Telah berkata Aisyah:”Bahwasanya Rasulullah Saw pernah salat tahajud empat rakaat, tapijangan emgkau tanya bagusnya dan panjangnya, kemudian ia salat lagi empat rakaat, dan jangan tanya bagus dan panjangnya, kemudian ia salat witir tiga rakaat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Said bin Yazid mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw mengerjakan salat tahajud tiga belas rakaat, yaitu dua rakaat untuk salat iftitah, salat pembukaan, delapan rakaat salat tahajud, dan tiga rakaat salat witir.

Untuk memudahkan pelaksanaannya, seseorang diperbolehkan memilih satu model untuk dijalankan secara istiqomah. Atau seserang diperbolehkan juga menggunakna satu model pada satu malam dan pada malam yang lain menggunakan model yang lain pula sesuai dengan kelonggarannya.

Beberapa hadis shahih menerangkan tentang salat tahajud Nabis Saw dan hampir semua hadis tersebut menunjukkan bahwa salat tahajud yang dilaksanakan dengan witir tersebut berbilangan sebelas rakaat atau atau tiga belas rakaat. Bila tiga belas rakaat, dua rakaat berupa salat iftitah, delapan rakaat salat tahajud, dan tiga rakaat untuk salat witir.

Adapun jumlah rakaat salat witir, bilangannya adalah satu, tiga, lima, tujuh, atau sembilan. Bila tiga rakaat, pelaksanaannya tidak boleh sama dengan salat Maghrib – tidak boleh dengan dua tasyahud. Salat witir, berapapun bilangan rakaatnya, hanya menggunakan satu tasyahud pada rakaat yang terakhir.

Etika Salat Tahajud

  1. Berniat akan melakukan salat tahajud ketika akan tidur. Ini sesuai dengan sabda Nabi Saw:”Barang siapa yang mau tidur dan berniat akan bangun melakukan salat malam, lalu tidur sampai pagi, mereka dituliskan apa yang diniatkan itu merupakan sedekah untuk Tuhan.” (HR Ibnu Majah dan Nasai).
  2. Membersihkan bekas idur dari wajahnya, kemudian bersuci dan memandang ke langit sambil berdoa membaca akhir Surah Ali Imran.
  3. Membuka salat tahajud dengan salat iftitah.
  4. hendaknya membangunkan keluarganya untuk bersama-sama salat tahajud.
  5. Jika mengantuk sebaiknya salat dihentikan saja sampai kantuknya hilang.
  6. Jangan memaksakan diri dan hendaklah salat tahajjud dijalankan sesuai dengan kesanggupannya. Karena itu, mengondisikan diri adalah cara yang baik. Karena, bila sudah terbiasa bangun di tengah malam, rasa berat dan kantuk akan tidak ada.

Salat Tahajud dan Kebutuhan Homeostasis

Hikmah dan manfaat salat tahajud yang dapat diambil di antaranya adalah:

  1. Orang yang slat tahajud akan memperoleh macam-macam nikmat yang menyejukkan padangan mata (QS 32: 16-17), tutur kata yang berbobot, mantap, dan berkualitas, qaulan tsaqila (QS 73: 5).
  2. Memperoleh tempat yang terpuji, maqaman mahmuda (QS 17:79) baik di dunia maupun di akhirat, di sisi Allah Swt.
  3. Dihapuskan segala dosa dan kejelekannya dan terhindar dari penyakit (HR At-Tarmidzi).

Hikmah lain dari salat tahajud adalah hilangnya perasaan pesimis, rendah diri dan minder, kurang berbobot, dan berganti dengan sikap selali optimis, penuh percaya diri, dan pemberani tampa sifat sombong dan takabur.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa salat tahajud dapat menjadaga homeostatis tubuh. Ini berarti bahwa Allah Swt mensyariatkan salat tahajud dan supaya dijalankan dengan ikhlas, bukan untuk kepentingan Allah Swt, melainkan untuk kepentingan yang menjakankan itu sendiri. Allah St berfirman:

Barang siapa yang menjalankan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri ….” (QS Al-Jatisyah: 15)..

Mbah Surip, Gombloh, dan Gepeng

Posted in Biografi, Kontemplasi with tags , on August 9, 2009 by hzulkarnain

Tak gendong … kemana-mana

Tak gendong … kemana-mana ….

Enak to, mantep to ….

tak gendong ... kemana-mana

tak gendong ... kemana-mana

Lirik lagu berirama reggae ini sederhana, kedengaran kampungan, campur aduk antara bahasa Indonesia, jawa, bahkan Inggris, namun justru itu yang membuatnya dekat di hati dan disukai khalayak. Pemusik reggae di tanah air cukup banyak, namun penggemarnya captive sebagaimana lagu jazz – terbatas dan itu-itu saja. Tapi lagu Tak Gendong menembus batas usia dan kelas sosial, bahkan bisa dinyanyikan (barang sepenggal) oleh anak berusia 2 tahun yang baru belajar bicara. Di situs 4shared, semua lagunya sudah di-upload, akan tetapi ringback tone-nya mencapai rekor 8 milyar rupiah penjualan – sehingga Mbah Surip selaku pencipta memperoleh royalti hingga 4 milyar rupiah. Sungguh fantastis.

Sosok laki-laki yang bernama asli Urip Akhmad Riyanto ini juga se-eksentrik lagunya. Wajah “ndeso”-nya jelas tidak tampan, berambut gimbal dengan topi warna-warni khas Jamaika, bahkan gitar, pakaian, dan sepatunya juga berwarna ala Jamaika. Dan yang paling susah dilupakan adalah tertawanya yang lebar … Haahahaha ……

Sekarang, pelantun lagu jenaka itu telah tiada, meninggal di usia 60 tahun pada tanggal 4 Agustus 2009. Diduga, pak tua asal Mojokerto ini meninggal karena penyempitan pembuluh jantung. Ia memang kurang suka air putih, dan kabarnya penggila kopi dan rokok. Kematiannya yang medadak membuat banyak orang yang cukup berduka, karena rasanya belum cukup puas kita mendengar kelucuan-kelucuan lagu atau video klip lainnya. Mbah Surip meninggal justru ketika bintangnya sedang naik.

Di era 80-an, ada seorang penyanyi asal Jawa Timur lain yang dikenang hingga sekarang karena lagu-lagunya yang merakyat dengan lirik sederhana namun menikam sasaran: Kebyar-Kebyar, Kugadaikan Cintaku, Apel, dsb. Bahkan lagu Kebyar-Kebyar ini memberikan dorongan motivasi massa saat perjuangan reformasi. Ketika di Surabaya masih berlangsung gerak jalan tradisional Mojokerto-Surabaya untuk memperingati Hari Pahlawan, lagu Gaung Mojoketo – Surabaya sangat disukai massa.

kebyar kebyar ... pelangi jingga ....

kebyar kebyar ... pelangi jingga ....

Gombloh yang bernama asli Sujarwoto Sumarsono ini tidak tampan, malah seperti Mbah Surip – unik dan agak menggelikan. Tubuhnya kurus kering, sangat “nyantai”, selalu berhias kacamata Rayban besar, dan yang paling mencolok adalah mulutnya yang nyaris ompong. Tidak ada keglamoran pada diri Gombloh, bersahaja, hingga akhir hayatnya.

Gombloh meninggal pada usia menjelang 40 tahunan di tahun 1988, ketika lagu-lagunya baru mulai dikenal masyarakat Indonesia. Bila sebelumnya ia adalah aset Surabaya, ketika meninggal Gombloh telah dianggap sebagai bagian dari budaya musik Indonesia. Tubuh kurusnya ternyata menyimpan beberapa penyakit, namun ia tidak pernah menurunkan kuantitas konsumsi rokoknya.

Masih di era 80-an, dunia lawak Indonesia pernah diramaikan oleh seorang jenaka yang akrab dipanggil Gepeng. Nama aslinya adalah Aris Freddy, pengocok perut yang memulai debutnya di Srimulat Surabaya. Sekalipun tergolong baru, Gepeng mampu merangsek dominasi rekan-rekannya yang lebih senior di Surabaya seperti Bambang Gentolet dan Didik Mangkuprojo. Ia berangkat ke Jakarta dengan bekal kelucuannya bersama Tessy, Basuki, Tarsan, dsb.

... untung ada saya ...

... untung ada saya ...

Gepeng nyaris selalu muncul melawak sebagai orang biasa, pelayan yang bodoh atau orang yang tidak berpendidikan, berbicara seenaknya sendiri, dengan ciri khas kepiawaian dalam membolak-balik kata dalam bahasa Indonesia hingga terdengar sangat lucu. Maunya menggunakan istilah modern, tetapi karena tidak tahu artinya, akhirnya yang keluar dari mulutnya adalah serangkaian kalimat tanpa makna. Yang diingat orang akan Gepeng adalah kata-katanya: “… untung ada saya…!” dengan kenaifan yang lucu. Penggalan kata itu pula yang menjadi salah satu judul debut film layar lebarnya.

Gepeng adalah icon baru lawak Indonesia pasca lengsernya para pelawak tua seperti Bagyo cs, Ateng-Iskak, dsb. Beda dengan warga Srimulat lainnya, bintang Gepeng sangat terang. Ia bahkan pernah membintangi film layar lebar di era Warkop DKI – saat film komedi slapstick sedang booming. Sayangnya, ia harus mati muda karena digerogoti penyakit di livernya.

Kesaman dari ketiga seniman yang terkenal di masa mereka itu  adalah sama-samameninggal saat sedang berada di puncak ketenaran. Ketiganya meninggal karena penyakit dalam yang mereka derita, namun tak banyak yang tahu itu sebelum mereka tiada. Yahh … karena tugas mereka adalah berkarya dan menghibur, jadi sesakit apapun harus mereka tahan.

Kematian mereka memberikan garis bawah bagi orang yang beriman … bahwa hidup ini sangat rapuh. Kita bukanlah tuan atas kehidupan kita sendiri. Kematian tidak pernah memberikan kabar, ia datang setiap saat, dan tak memilih orang. Tak akan ia menunggu barang sedetik pun bila sudah waktunya, namun tak akan datang ia bila waktunya belum tiba.

Sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha untuk mati dengan baik … baik pada akhir atau khusnul khotimah. Mati dengan memeluk Tuhan di qolbu, di perut, di mulut, dan dalam perbuatan. Kematian dengan kalimat Allah di mulut terjamin sorga … hanya sayangnya hal itu tidak bisa dilatih. Mereka yang biasa mengumpat, hanya akan menyisakan umpatan sebagai kata akhir. Hanya mereka yang selalu menyimpan iman dan asma Allah di mulut dan qolbu saja yang bisa demikian.

Janganlah kita mati dalam keadaan tidak diridhoi Allah, tanpa iman di dada, apalagi dengan barang najis di perut…. na’udzu billahi mindzalik… karena by pass ke neraka sudah disiapkan lebar-lebar.

Ada yang jauh lebih penting daripada nama besar yang dikenang manusia … yaitu catatan amal kita  yang dicatat indah di langit….

Farewell Corazon ……

Posted in Biografi, Sharing with tags on August 4, 2009 by hzulkarnain
Jan 1933 - Aug 2009

Jan 1933 - Aug 2009

Nama Corazon Aquino – atau biasa disapa dengan Cory – tidak banyak lagi didengar oleh orang di luar negerinya, Filipina, sampai kabar kematiannya tersebar di media massa pada hari Sabtu 1 Agustus 2009 . Mau tak mau, nama itu membawa ingatan saya kembali pada awal-awal masa kuliah dulu, saat perempuan bersahaja itu naik ke kursi kepresidenan Filipina di pertengahan 80-an – pada usia sekitar 53-an. Dialah perempuan pertama yang mengukir sejarah sebagai presiden pertama di Filipina, bahkan Asia.

Catatan: Jabatan Presiden di Filipina sama dengan di Indonesia, yaitu kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Di bagian Asia yang lain, seperti Indi dan Pakistan, sudah ada perempuan yang berhasil mengukir sejarah sebagai kepala pemerintahan dalam jabatan perdana menteri. Kita ingat nama Indira Gandhi dan Benazir Bhutto.

Cory Aquino selalu meng-klaim dirinya sebagai perempuan biasa yang menjadi ibu rumah tangga. Tubuhnya yang cenderung mungil, wajah yang bersahaja tapi tegas, dan pakaian yang tidak mewah, sungguh jauh bila dibandingkan dengan sosok ibu negara saat itu yang dianggap sebagai salah satu perempuan kuat di Asia, Imelda Marcos. Imelda bukan saja cantik, tubuhnya tinggi, cerdas, dan kharisma politiknya juga kuat.

Memang sebelum kebangkitannya dalam pemilihan presiden, nama Corazon Aquino tidak pernah dikaitkan dengan politik praktis. Ia membawa nama Aquino dari suaminya, Senator Benigno Aquino Jr yang tewas di ujung peluru sniper begitu menjejakkan kaki di bandara (yang kelak diberi nama sesuai dengan namanya) sepulang dari pengasingan di Amerika Serikat (1983).

Mendiang Ninoy Aquino selalu didengungkan akan menggantikan sang diktator kuat Ferdinand Marcos, dan mungkin memang inilah langkah keliru sang orang kuat – menghabisi lawan politiknya di tanah kelahirannya sendiri. Entah memang Marcos yang memerintahkan pembunuhan Ninoy Aquino atau bukan, kematian sang Senator telah memicu kemarahan bangsa Filipina.

Cory Aquino kembali ke tanah air pertama kali sejak pengasingan untuk ritual pemakaman suaminya, yang dihadiri oleh lebih dari 2 juta orang – terbesar dalam sejarah bangsa tersebut. Sejak saat itulah, Cory selalu tampak di depan barisan aksi massa yang menyuarakan penentangan kepada diktator Ferdinand Marcos. Ia tampak sebagai icon pemersatu massa penentang Ferdinand Marcos, yang sudah berkuasa di Filipina sejak 1965.

Pada saat pemilihan presiden Filipina yang diumumkan tahun 1985, Cory Aquino bahkan tidak dengan serta merta mencalonkan diri sebagai presiden. Kaum oposan lah yang mendorongnya untuk maju, bahkan didorong pula oleh kaum bisnis yang tidak menyukai perekonomian Filipina dikuasai oleh kroni Marcos. Sebenarnya, calon yang cukup populer saat itu adalah Senator Salvador Laurel – putra mantan Presiden yang dikalahkan Marcos sekian puluh tahun silam. Akan tetapi, beberapa pihak meragukannya mampu menyatukan semua kekuatan oposisi untuk menandingi dominasi partai yang mengusung Ferdinand Marcos.

Hampir semua orang yang menjadi saksi masa kampanye Filipina saat itu meihat euforia politik bangsa, bagaimana mereka larut dalam kekuatan massa yang mendukung Cory Aquino. Simbol jarinya adalah L (ibu jari dan telunjuk – dari partai yang mengusungnya LABAN). Sementara Marcos tetap dengan simbol konservatif V (Victory). Tentu saja, Marcos tidak demikian saja menyerah. Dengan segala cara yang legal maupun kotor  ia berusaha menjatuhkan Cory Aquino (misalnya dengan membunuh sekutu-sekutu kuat Cory), namun barisan pendukung perempuan itu sangat kokoh.

Hasil pemilu bulan February 1986 menjadi kontroversi besar, karena dengan segala cara Marcos berusaha memanipulasi hasil pemilihan presiden untuk keuntungannya. Komisi pemilihan umum resmi pemerintah COMELEC (semacam KPU di sini) menyatakan bahwa Marcos adalah pemenang pemilihan – unggul sekitar 1.5 juta suara. Batasang Pambansa (semacam parlemen) yang dikuasai antek Marcos mengesahkan hasil pemilu tersebut – sekalipun ada 50 orang oposisi melakukan walk-out memprotesnya.

Hasil penghitungan suara oleh lembaga yang lebih independen NAMFREL (semacam Bawaslu di sini) menemukan hal yang berlawanan. Cory Aquino dinyatakan menang dengan selisih sekitar 800 ribu suara. Sekitar 30 orang operator IT COMELEC yang bertugas mengkompilasi suara pemilih melakukan walk-out karena mereka tidak mau menjadi kaki tangan sang diktator. Konon, walk-out-nya staf COMELEC inilah yang memicu bergeraknya protes massa terhadap hasil pemilihan.

Rakyat yang tidak puas bergerak. Mereka melakukan gerakan damai yang dikenal dengan istilah People Power. Gerakan inilah yang mengilhami kebangkitan rakyat Indonesia dalam penggulingan Suharto tahun 1998 tak pelak lagi terinspirasi oleh gerakan Cory yang santun dan damai. Bila Marcos didukung oleh perwira loyalisnya, Cory didukung oleh dua jenderal yang meletakkan jabatan pemerintahan: Juan Ponce Enrile (menteri pertahanan) dan Fidel V Ramos (wakil panglima angkatan bersenjata). Belum lagi tokoh gereja kharismatik Uskup Agung Jaime Cardinal Sin. Boikot pada sendi-sendi bisnis kroni Marcos benar-benar melumpuhkan perekonomian pendukung Marcos.

Saat yang bersejarah adalah 25 Februari 1986, saat Filipina mengangkat sumpah sang presiden terpilih. Yang unik adalah, dua presiden di lantik pada hari yang sama. Marcos dikukuhkan kembali sebagai presiden di Istana Malacanang, sementara Corazon Aquino dilantik di luar istana, di sekitar camp pergerakan massanya. Akan tetapi, pada hari itu juga, keluarga Marcos bergegas meninggalkan Filipina secara dramatis pada malam hari, sehingga otomatis Cory Aquino menjadi penguasa negeri itu.

Yang diingat orang begitu masa demonstran menguasai Malacanang adalah ditemukannya koleksi sepatu Imelda Marcos yang berjumlah ratusan (bahkan mungkin ribuan) pasang. Kemewahan sang diktator akhirnya harus runtuh di tangan seorang lawan politik yang sama sekali tidak diperhitungkannya sebelumnya.

Cory hanya menjabat satu periode masa pemerintahan, dengan segenap kesederhanaan dan integritasnya pada kemanusiaan dan keadilan. Dia menjadi lambang seorang ibu yang ideal bagi bangsa Filipina. Dicabutnya undang-undang subversi, dan dibubarkannya Batasang Pambansa, agar rakyat Filipina bisa membentuk masa depan yang lebih cerah. Di bawah administrasi pemerintahannya, Filipina memasuki era baru pasca diktator Marcos. Mungkin terjadi gejolak, namun bangsa itu telah menjelma menjadi sebuah negara demokrasi.

Bahkan di akhir masa jabatannya, Cory keluar dari Istana Malacanang hanya dengan Toyota Crown yang dibelinya sendiri. Ia tidak mau diantar Mercedez kepresidenan yang disediakan. Ia kembali ke habitatnya, bekerja untuk kemanusiaan pada berbagai yayasan. Sungguh sebuah pribadi sederhana yang mempesona dunia. Jejak kakinya mengukuhkan dirinya sebagai Ibu bangsa Filipina, hingga presiden Gloria Arroyo menetapkan 10 hari berkabung nasional. Kanker usus besar menggerogoti kesehatannya. Menurut kabar, kematiannya disebabkan kegagalan fungsi jantung dan paru (cardiopulmonary arrest)setelah berkomplikasi dengan kanker tadi.

Tanggal 1 Agustus 2009 jam 3:18 waktu setempat tercatat sebagai waktu kematian Cory Aquino. Paalam na po Cory … farewell….