Fenomena Jokowi-Ahok

Posted in Kisah, Sharing with tags , , , , , , , , on July 14, 2012 by hzulkarnain

Luar biasa! Itu kata yang bisa diucapkan oleh pengamat dan tentunya pemilih Jokowi saat semua quick count menyebutkan pasangan kandidat gubernur DKI Jokowi-Ahok merebut lebih dari 40% suara pilkada 11 Juli lalu. Memang belum memenangkan pilkada, tetapi pasangan ini membawa angin segar suasana pilkada yang sebelumnya diprediksi akan diraih incumbent dengan relatif mudah.

Gak potongan pejabat tapi justru pamong tulen

Segera setelah diketahui secara unofficial melalui berbagai quick count lembaga survey, kemenangan Jokowi-Ahok ini membuat lembaga-lembaga survey tersebut mencari sebab kesalahan perhitungan mereka. Selain luar biasa, kondisi ini juga sekaligus meruntuhkan kredibilitas mereka. Bagaimana tidak? Tidak ada satu pun lembaga survey punya keyakinan bahwa Jokowi-Ahok akan melibas Foke-Nara dengan cukup telak. Hanya LSI yang menyebutkan selisih kedua pasangan ini sekitar 10%, yang lainnya berkisar di nilai 20%.

Sebelumnya tidak ada yang terlalu yakin pada sosok pasangan ini, karena sama-sama “gak potongan” pejabat. Jokowi yang tinggi kurus, kalem dan berdialek Jawa, khas Solo yang tenang, dan tidak menunjukkan ambisi menyala. Ahok yang muda dan beretnis Tionghoa, seperti pemula yang tidak berpengalaman. Tapi kalau orang mau menilik prestasi keduanya, tidak ada yang berani menyangkal bahwa mereka lah orang-orang pro-rakyat yang sebenarnya. Masalah keduanya cuma satu, yakni mereka berasal dari suatu daerah di luar Jakarta yang tidak semajemuk Jakarta, dan level kompleksitas yang jauh di bawah Jakarta.

Disinggung mengenai perbedaan Jakarta yang kota megapolitan dan berupa propinsi, dengan Solo yang kotamadya dan bukan ibukota propinsi, Jokowi berkilah … besar kecilnya kota itu hanya ukurannya. Masalahnya sama saja. Ini adalah hipotesis Jokowi yang menarik untuk disimak dan diikuti bila nanti dia terpilih menjadi gubernur. Bagi sebagian orang, Jokowi seperti terlalu menyederhanakan permasalahan, sebab Jakarta punya kemajemukan berlipat ganda daripada Solo, seperti: Jakarta adalah ibukota negara yang rawan pada keamanan dan menjadi barometer suhu politik nasional, percampuran dan interaksi sosial bukan hanya etnis tetapi juga ras, kesenjangan kaya – miskin seperti jurang menganga, persoalan banjir dan lalu-lintas yang jauh dari sederhana, dan sebagainya.

Di luar pertanyaan akan kesanggupan Jokowi mengelola kemajemukan permasalahan di DKI, tim sukses besutan PDI Perjuangan dan Gerindra sebagai pengusung utama pasangan Jokowi-Ahok telah berhasil membentuk paket yang unik sekaligus mengena di hati rakyat Jakarta. Misalnya, kesederhanaan berbusana yang diwakili kemeja kotak-kotak yang konon awalnya dibeli di Pasar Tanah Abang. Kemudian, saat pendaftaran di KPUD mereka berangkat dengan Metro Mini yang menjadi ikon rakyat jelata di Jakarta. Saat sosialisasi pun mereka tidak jauh dari kepentingan rakyat, dan langsung berbincang-bincang dengan masyarakat di perkampungan kumuh. Kemeja kotak-kotak mereka segera menjadi tren.

Berpikir out-of-the box adalah ciri orang muda yang kreatif, dan tim sukses Jokowi-Ahok telah menciptakan image muda, segar, dan pembaharu pada kedua sosok ini. Orang jenuh dengan orasi dan pidato, maka pasangan ini pun tidak banyak didapati berpidato panjang lebar. Rakyat bosan dengan janji-janji akan pengendalian banjir, maka konsep penanganan banjir di letakkan di sebuah tempat sementara yang langsung menyentuh hajat hidup rakyat disampaikan langsung pada mereka. Rakyat tidak mengerti soal angka dan statistik, tidak paham soal strategi pemerintahan, mereka hanya perduli soal perut dan kesehatan, maka itulah yang dikedepankan oleh pasangan ini.

Kebiasaan Jokowi “blusukan” ke pasar dan kampung-kampung di Solo, menghadapi unjuk rasa justru dengan mengundang pengunjuk rasa duduk di ruang ber-AC dengan snack dan makan siang, dan memanusiakan pedagang yang pasarnya direlokasi, menjadi harapan besar bagi rakyat Jakarta. Sebagai pemimpin kota yang sadar bahwa dia digaji dari uang rakyat, Jokowi tahu benar cara mengembalikan uang rakyat untuk rakyat, dan inilah yang diharapkan oleh orang Jakarta.

Selain pasangan Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini, sebenarnya praktis massa dari pasangan lain merupakan massa partai yang tidak terlalu solid. Hidayat Nurwahid dari PKS didukung oleh kelompok-kelompok masyarakat simpatisan PKS yang digalang melalui liqo (pengajian) selama bertahun-tahun cukup solid dengan angka sekitar 11%, tetapi tercecer di urutan ketiga. Angka ini tidak bisa disalip oleh tiga pasangan lain yang tampaknya hanya menjadi penggembira, karena prosentase yang sangat kecil. Jika kemudian Jokowi-Ahok berhasil meraih sekitar 42% suara pemilih, melampuai angka golput yang sekitar 35%, ini adalah prestasi luar biasa dari orang yang tidak punya KTP Jakarta.

Pertarungan masih akan berlangsung satu putaran lagi, dan kedua pasangan siap memperebutkan suara yang masih mengambang (golput), serta suara pendukung keempat pasangan lain yang tercecer, khususnya suara PKS yang cukup solid. Ada kemungkinan suara golput akan turun, karena fenomena Jokowi-Ahok yang mencerahkan harapan.

Kalau saya pribadi … Go Jokowi-Ahok!

SEA Games dan Kebangkitan

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , , on November 16, 2011 by hzulkarnain

INDONESIA BISA!

Begitulah slogan yang didengungkan bangsa ini untuk mendukung para atlit Indonesia di kancah SEA Games. Kita pernah menjadi tuan rumah dan gagal menjadi juara umum, dan secara memalukan harus menundukkan kepala dibantai negara-negara jiran di tanah sendiri. Padahal, bangsa ini besar, kuat, dan punya tradisi juara di kancah perhelatan olah raga se-Asia Tenggara. Sekarang, Indonesia menjadi tuan rumah lagi dan inilah saatnya untuk membuktikan bahwa kita masih punya tradisi juara itu.

Yang lebih membanggakan daripada sekedar memenangkan kejuaraan adalah ketetapan dari petinggi yang mengurusi olahraga untuk memunculkan bibit-bibit baru atlit mendampingi para veteran dalam laga internasional ini. Dan, pada kenyataannya, bibit-bibit muda atlit Indonesia telah menunjukkan kapasitas positif yang membanggakan – di hampir semua cabang olahraga. Misalnya, juara lari 100 meter putra dan putri dengan sangat membanggakan jatuh ke tangan atlit muda kita, yakni Franklin Ramses Burumi dan Serafi Anelis Unani. Beberapa cabang di luar atletik yang juga bersifat non-permainan seperti dayung, renang, dan sepatu roda menyumbangkan banyak medali emas oleh para atlit yang tidak terlalu kita kenal namanya.

Bangga… itu pasti. Akan tetapi, kita ingat bahwa beberapa saat sebelum perhelatan ini dimulai begitu banyak masalah yang terjadi di Palembang yang menyebabkan munculnya pesimisme. Mulai dari pembangunan wisma atlit yang diterpa isu korupsi, gelanggang yang belum siap, infrastruktur yang belum beres, dan banyak lagi. Bahkan sekarang pun, saat SEA Games sudah berlangsung, masih sangat terlihat kondisi yang apa adanya, asal memenuhi syarat. Tidak ada kemewahan dan keindahan yang memberikan kesan.

Para atlit mengeluhkan katering, angkutan antar venue yang berusaha ramah lingkungan tetapi disiapkan ala kadarnya, suasana kompleks olahraga yang masih gersang, kering, dan panas, dan macam-macam lagi. Untungnya … prestasi anak bangsa yang bertanding moncer. Dampaknya, khalayak boleh sedikit melupakan penilaian negatif tentang fasilitas di Jakabaring.

Inikah kebangkitan kembali olahraga bangsa ini? Kita harapkan demikian. Kita bahkan sudah mulai lupa, kapan kita ini bangga dengan prestasi anak negeri di bidang olahraga. Padahal penduduk Indonesia ini hanya kalah oleh China, India, dan Amerika Serikat di dunia. Sementara prestasi kelas dunia hampir tidak ada yang diukir oleh orang Indonesia (atau memang malah tidak ada?).

Saat sang merah putih berkibar, Indonesia Raya berkumandang, bahkan pemirsa televisi di rumah bisa menitikkan airmata tanda keharuan. Menjadi superior di antara bangsa lain merupakan kebanggan sekaligus cita-cita kita bersama, dan ajang olahraga adalah pembuktian yang nyata.

Unsur dasar olahraga adalah atletik, yaitu: lari, lempar, lompat, dan jalan, yang pada ujungnya berbicara soal kekuatan. Struktur tubuh orang Asia Tenggara pada dasarnya memang kurang ideal untuk mencapai prestasi puncak dalam olahraga, bila dibandingkan dengan ras kaukasia dan negro. Tidak mengherankan, negara-negara yang mayoritas berkulit putih dan hitam mendominasi kekuatan olahraga sejagat. Atlit berkulit putih terkenal dalam olah raga senam, renang, atletik, dan beberapa cabang olahraga permainan. Atlit negro Amerika dan Karibia terkenal dalam lari jarak pendek dan menengah, beberapa olah raga permainan, termasuk tinju.

Ras kuning dari Asia Timur belakangan juga menyusul, sekalipun masih belum sekuat ras putih dan hitam. China, Jepang, dan Korea adalah naga-naga Asia yang terbangun dan menggetarkan dunia. Jangankan dalam olimpiade, di level Asia saja (Asian Games) terbukti sulitnya orang-orang Asia Tenggara menembus dominasi ras kuning tersebut.

Namun demikian, perlu dicatat bahwa tidak semua cabang olahraga membutuhkan struktur otot besar, bahkan tidak ada hubungannya dengan besarnya otot misalnya panahan, menembak, tenis meja, bulu tangkis, dsb. Di luar bulu tangkis, ternyata prestasi atlit kita masih terhitung payah, belum konsisten. Seharusnya, di cabang-cabang yang tidak membutuhkan kekuatan otot seperti ini kita bisa menonjol hingga di tingkat dunia.

Nikmati dan syukuri yang ada. Itu adalah kata-kata bijak dari ajaran agama agar manusia tidak meratapi kekurangan dan mengharapkan kelebihan yang berada di luar jangkauan. Kalau memang orang Indonesia hanya bisa berprestasi di kancah Asia Tenggara … biar saja! Para pemuka daerah, petinggi negeri, dan pemimpin organisasi olahraga harus bertanggung jawab menemukan bibit-bibit atlit baru di segenap bumi Indonesia … agar muncul nama-nama baru menyegarkan jagat olahraga Indonesia.

Semoga!

Membunuh Kemajuan Umat Islam

Posted in Sharing, Tausiyah with tags , , on October 26, 2011 by hzulkarnain

Dalam suatu mimbar Jumat di bulan September, sang khotib menukil sebuah artikel yang pernah dibacanya, sebuah tulisan seorang non-muslim tentang kebangkitan Islam. Dikisahkannya, sebagai orang Barat dengan tradisi Nasrani dan sekuler, sang penulis artikel melihat ketaatan orang Islam pada agamanya sungguh kuat. Sholat yang merupakan perwujudan kesujudan pada Tuhan bukan hanya seminggu, bahkan sehari sampai 5 kali, itu dilakukan orang Islam dengan taat. Bulan Ramadhan, mau bersusah payah melaparkan diri dan kehausan hanya semata-mata karena menjalankan perintah Tuhannya. Kemudian, mengeluarkan sebagian harta untuk orang miskin dalam bentuk zakat. Semuanya tanpa pengawasan, semuanya datang dari diri sendiri, tetapi ketaatan umat Islam sungguh tak bisa disangkal. Masjid-masjid selalu dihadiri umat dari berbagai lapisan usia, sementara gereja-gereja di Eropa yang dulu menjadi pusat peradaban Kristen semakin kosong – hanya dihadiri segelintir jemaat berumur lanjut.

Ketakjuban sang penulis tersebut – yang namanya tak pernah disebut oleh sang khotib – membawanya ke penelitian lebih jauh dan membuatnya lebih takjub. Umat Islam di seluruh dunia menjalankan kaidah agamanya sekalipun tidak ada khalifah tunggal seperti halnya agama Katolik. Orang Islam tidak berkumpul dalam wilayah tertentu, melainkan tersebar dalam rentangan geografis yang sangat luas di Asia – bahkan belakangan di Eropa dan Amerika Serikat, namun semuanya menjalankan perintah yang sama dengan cara yang sama seolah-olah digerakkan oleh sesuatu yang besar. Padahal, pengajaran agama ini melalui sekurangnya 4 mazhab besar, dan entah berapa banyak tafsir Qur’an dan Hadits yang tersebar di seluruh dunia. Islam adalah agama dengan perkembangan yang terhebat di Eropa, Amerika, dan dunia.

Meskipun Nabi Muhammad sudah wafat sekian abad silam, pengaruh pengajarannya masih sedemikian kuat. Bukan hanya memimpin umat Islam dalam agama, beliau juga seorang kepala pemerintahan, panglima perang, waktu mudanya menjadi wirausahawan, yang mengajarkan semuanya sebagai sebuah pengetahuan yang komprehensif. Segenap perilaku dan ucapannya adalah pengejawantahan Al-Qur’an sebagai kitab suci yang dibawanya. Jadi, orang Islam menjalankan Islam tidak sekedar menjalankan syariat agama tetapi juga cara hidup dan berperilaku Islami.

Dalam kesimpulannya, artikel itu menyebutkan bahwa kunci dari semua kekuatan Islam adalah Al-Qur’an. Sebenarnya, inilah negeri bayangan (virtual country) yang bernama Islam itu. Di sanalah umat Islam tinggal dan menjalankan semua peri kehidupannya. Jadi, bila ingin meruntuhkan orang Islam, bukan dengan kekerasan fisik atau penindasan. Sudah terbukti bahwa penindasan, kekerasan, bahkan penjajahan ternyata tidak mampu menjauhkan kaum muslimin dari agamanya. Cara yang tersisa hanya satu: menjauhkan orang Islam dari Al-Qur’an. Karena, Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang luar biasa dan memberi inspirasi tiada habisnya. Bila orang Islam sudah tidak lagi mempercayai kitan suci ini, mereka akan mudah digoyang dan tinggal menunggu kejatuhan.

Menurut sang khotib, ini adalah pengakuan jujur dari seorang non-muslim. Sebuah pengakuan – tetapi (bagi saya) juga ancaman terbuka dari pihak-pihak yang tidak menyukai bangkitnya kultur Islam sebagai pandangan hidup. Inilah sebabnya modus untuk melunturkan keimanan orang Islam tidak sekonvensional dulu lagi, yang kebanyakan berupa kekerasan atau tipu daya berlandaskan ekonomi. Modus semacam itu, kalaupun berhasil pada satu dua orang, tampaknya tidak akan berhasil mengubah pikiran massa Islam.

Langkah paling logis setelah tidak berhasil menekuk peradaban Islam dengan kekerasan adalah membuat umat Islam meragukan Al-Qur’an. Hal pertama yang bisa diperdebatkan adalah asal usul Al-Qur’an dan logika di dalamnya, yang dirujukkan pada cara orang Barat dan Yahudi berlogika. Beberapa debat seperti ini (yang akhirnya jadi debat kusir tiada akhir) bisa dijumpai dalam pemikiran liberal orang-orang JIL. Saya tidak hendak mengatakan JIL identik dengan model berpikir seperti ini, tetapi pemikiran yang liberal bebas seperti ini diwadahi dalam JIL. Bagi saya pribadi, manusia diberi akal untuk menalar dan berlogika, baik dengan pikiran maupun perasaan. Ini sudah menjadi ketentuan dari Allah, dan karena Indonesia bukan negara Islam, silakan saja siapa saja berpikir bebas tentang Islam dan Al-Qur’an. Yang jelas, Al-Qur’an sudah ada yang menjaga, dan hingga akhir jaman akan selalu ada orang yang meneguhkan kemurnian kalam Allah ini. Ini juga menjadi ketentuan Allah di dalam Al-Qur’an.

Kotbah sang khotib berhenti di sini. Tetapi saya pernah membaca hal yang lebih jauh lagi.

Dari beberapa sumber yang cukup banyak beredar, misalnya majalah Hidayatullah, beberapa buletin Jumat berbasis salafi, pengajian-pengajian, disebutkan bahwa ancaman paling serius yang berpotensi besar menjauhkan umat Islam dari Al-Qur’an adalah cara terhalus bagi generasi muda … yakni gaya hidup “modern”. Ini adalah tipu daya kaum Yahudi. Gaya hidup modern yang hedonistik, yang memuja kesenangan fisik, membuat generasi muda yang secara akidah tidak terkawal mudah terjerumus ke dalam kemaksiatan. Generasi muda adalah kata kunci pertama, dan hedonistik adalah kata kunci kedua. Sambungkan kedua kata kunci ini, maka bila berhasil umat Islam akan kehilangan sebuah generasi yang penting. Cara ini butuh waktu, tetapi dampaknya sangat luar biasa.

Kekuatan sebuah bangsa bisa dilihat dari generasi mudanya. Semakin kuat dan tangguh mereka, kian berkarakter mereka, maka generasi muda tersebut bisa menopang tegaknya bangsa. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa, bila pemuda di sebuah negeri (setingkat kota sekarang ini) rajin solat subuh berjamaah, tidak ada kekuatan asing yang berani menyerang negeri itu. Bila pemudanya sudah lemah, tidak lagi tergerak untuk solat subuh berjamaah, keruntuhan tinggal menunggu waktu.

Bangsa ini mungkin sedang dalam posisi yang kurang baik, tetapi pertolongan Allah selalu muncul. Kita beruntung, sisi religius bangsa ini masih cukup mudah digerakkan, sehingga sekularisme tidak bergerak cepat sebagaimana yang muncul di Turki dan Mesir. Elemen masyarakat sendiri juga tidak menghendaki sekulerisme yang memisahkan urusan agama dengan peri kehidupan sehari-hari merebak di Indonesia. Pancasila menghendaki agama sebagai panduan tiap penduduk Indonesia.

Menjadi Islam haruslah kaffah, mendekatkan diri dengan jalan Allah dengan wujud melaksanakan tuntunan Al-Qur’an dan Hadits. Kehilangan keduanya sama saja dengan kehilangan Islam. Untuk tetap menjadi muslim yang kuat, hanya satu cara yang ada yakni memperkuat ikatan dengan mengaji Al-Qur’an dan memahami isinya, melalui guru dan pembimbing yang mumpuni.

 

REPOTNYA LEBARAN

Posted in Sharing with tags , , , , , , on September 17, 2011 by hzulkarnain

Hari raya keagamaan yang satu ini memang istimewa, dan setiap tahun selalu menimbulkan kehebohan di Indonesia. Kabarnya, hal ini hanya terjadi di Indonesia. Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini punya kultur baru yang menjadi ciri khas yang tidak dimiliki negara lain.

rukyatul hilal di Pantai Ambat Pamekasan Madura

Heboh pertama karena alasan yang berkait dengan penentuan kepastian tanggalnya. Karena Muhammadiyah menghitung datangnya bulan baru dengan cara menghitung secara sistematis, sementara NU berpegang teguh untuk melakukan aktivitas melihat bulan dengan mata (baik langsung maupun dibantu alat modern), cukup kerap terjadi selisih 1 hari. Masalahnya, semua kalender nasional sudah mencantumkan tanggal merah Idul Fitri sejak tahun sebelumnya, bahkan SKB 3 menteri tentang hari-hari libur nasional yang juga mencantumkan waktu-waktu cuti bersama sudah beredar luas. Akibatnya sudah bisa diduga, kerancuan dan kebingungan muncul saat penetapan pemerintah mengenai 1 Syawal berbeda dengan kalender.

Di jaman Orde Baru, Pak Harto suka sekali seremoni menjelang Idul Fitri, misalnya menabuh bedug pertanda datangnya 1 Syawal atau kegiatan serupa lainnya. Tentu saja, pemerintahan ini lebih menyukai datangnya 1 Syawal yang terprediksi ala Muhammadiyah. Sementara di era reformasi, terlebih di jaman Gus Dur, penentuan bulan baru untuk memulai puasa dan Idul Fitri dengan melihat hilal lebih diutamakan. Di masa Orde Baru, memang terlihat beberapa tetangga yang orang NU melaksanakan Idul Fitri berbeda dengan penetapan pemerintah, tetapi tidak jadi polemik besar seperti sekarang. Mungkin era keterbukaan informasi turut menyumbang kehebohan seperti sekarang ini.

Menurut Prof. Azyumardi Azra, di negara lain yang berlandaskan Islam perbedaan ini tidak terjadi karena negara yang membuat ketentuan tunggal, seperti di Malaysia, Arab Saudi, dsb. Di Indonesia yang berbasis demokrasi hal itu tidak bisa diterapkan, karena Kementrian Agama tidak boleh masuk terlalu jauh dalam penentuan semacam ini. Penetapan 1 Syawal ada di tangan musyawarah Ormas, dan pemerintah tinggal mengikuti saja melalui mekanisme sidang isbat.

Kemudian, masih menurut cendekiawan Islam tersebut, antara Muhammadiyah dan NU sebagai ormas Islam terbesar juga perlu duduk bersama untuk melakukan kesepakatan-kesepakatan. Selama ini, Muhammadiyah berprinsip bahwa asal dalam perhitungan astronomi bulan baru sudah lebih dari 1.5 derajat di atas ufuk berarti sudah masuk bulan baru. Padahal, secara hilal bulan muda baru akan tampak bila ketinggiannya mencapai sekurangnya 2.5 derajat di atas ufuk – dan tanggal 1 terjadi bila bulan benar-benar terlihat. Mungkin NU perlu menurunkan nilai 2.5 serajat tersebut, dan Muhammadiyah menaikkan nilai yang selama ini dipegangnya, lalu keduanya membuat kesepakatan. Ini semua demi umat Islam.

Kita tunggu saja, apakah di tahun-tahun mendatang akan ada solusi dan kesepakatan demi umat dari ormas-ormas besar di Indonesia?

Kehebohan kedua adalah kultur mudik, yang kian lama semakin marak. Tak pelak lagi, ini adalah buah urbanisasi yang sudah terjadi sejak dulu. Sudah bukan rahasia lagi, industrialisasi di perkotaan menarik minat orang untuk pergi ke kota mengadu nasib – meskipun hanya menjadi buruh pabrik, karyawan rendahan, atau bekerja di sekotr-sektor informal. Sarjana yang dicetak di kota pun turut menyesaki kota, enggan pulang, dan akhirnya menjadi bagian dari kota-kota industri. Dalam perkembangannya, industrialisasi tidak sekedar di Jawa tetapi juga di beberapa kantung industri seperti Batam dan Kalimantan Timur. Ke sana pula orang-orang Jawa mengadu nasib, bahkan akhirnya menetap dan berkeluarga.

Sekitar tahun 80-an hingga 90-an, moda transportasi yang sangat umum untuk mudik di Jawa adalah bus dan kereta, serta kapal laut menjadi favorit bagi yang bepergian antar pulau. Namun, beberapa tahun belakangan ini moda transportasi jarak dekat dan menengah yang paling favorit adalah sepeda motor. Meskipun kurang aman dibandingkan dengan kendaraan roda empat, pilihan ini harus diambil untuk mengejar efisiensi biaya. Yak, dengan naiknya permintaan tiket kereta dan bus, jelas harga tiket melambung dan pemerintah memberikan peluang bagi operator bus dan KA untuk menaikkan tiket. Bagi yang mudik jarak jauh, pilihan yang tersisa hanyalah pasrah untuk membeli tiket yang mahal dan rela berjubel di stasiun atau terminal, bahkan harus berdiri di bus.

Menteri Perhubungan sempat dikecam oleh sementara kalangan karena meletakkan kesalahan pada individual pemudik saat terjadi kecelakaan lalu-lintas. Menurut Pak Menteri, ngantuk dan lelah adalah penyebab utama kecelakaan, dan hal tersebut sifatnya individual. Jadi, pemerintah tidak mengakui bahwa bagian lain dari kecelakaan ini adalah kondisi jalan, sistem transportasi yang masih belum pro-rakyat, harga tiket yang menggila, dsb.

Mudik ngirit beresiko tinggi

Lepas dari siapa yang salah, bagaimanapun pergerakan massa dalam jumlah sebesar itu sudah pasti tidak mudah. Menghilangkan tradisi mudik juga rasanya sangat sulit, sebab setiap orang Indonesia punya kecenderungan untuk kembali ke akarnya – di kampung, desa, dan kerabat. Selama di kota asal masih ada sanak kerabat yang perlu atau harus dikunjungi, selama itu pula mudik terjadi. Kalaupun tinggal kerabat jauh, selama ada hasrat untuk berbagi kesuksesan dan mengajak teman sekampung urbanisasi, di situlah mudik terjadi. Alasan lain, yang sifatnya lebih berupa ikatan emosional adalah “nyekar” ke makam leluhur. Biar pun hanya sehari dua hari, nyekar bisa juga menjadi alasan mudik.

Repotnya lebaran ini pada akhirnya menggeser makna Idul Fitri yang sebenarnya. Tidak ada yang mengharuskan mudik, liburan, dan berjubelan di bus saat Idul Fitri, karena esensi Idul Fitri bukan itu. Namun demikian, banyak yang “kurang marem” atau “tidak afdhol” kalau tidak mudik. Padahal, pulang kampung bisa saja dilakukan di saat lain – kala terminal dan stasiun kereta tidak padat.

Akhirnya, mau mudik atau tidak, kembali kepada individu. Kembali pada kepentingan dan niat masing-masing. Biar pun rasanya … mudik dan bertemu kerabat di saat Idul Fitri beda sekali suasananya dibandingkan dengan pertemuan di waktu yang lain.

Harry Potter dan Sihir (2)

Posted in Sharing with tags , , , , , on August 15, 2011 by hzulkarnain

Sebuah Hiburan dan Kontroversi Kesyirikan

Harry Potter itu mengajarkan paganisme. Mantera-manternya itu lho … dari bahasa kuno kaum pagan, yang dihidupkan kembali oleh JK Rowling. Demikian kira-kira sebuah tuduhan pada pengisahan dan penokohan Harry Potter ini, terutama karena di dalamnya dipenuhi dengan kosa kata dan istilah asing yang tidak mudah dipahami.

Dalam pembahasan di Wikipedia, tampaknya tidak seseram itu. Beberapa istilah yang dijadikan mantera terdengar cukup familiar bagi mengerti bahasa Inggris, tapi lebih banyak yang terdengar seperti bahasa biologi (bahasa latin). Ternyata memang sejumlah kata bahasa Inggris berakar dari latin, dan bahasa latin ini yang banyak digunakan oleh JK Rowling untuk meramu mantera. Meskipun ada kritik pada konsep pencampuran bahasa ini, mantera sihir ala JK Rowling menunjukkan kemahirannya dalam beberapa bahasa.

"sihir" modern ... zoot ... lebih ampuh daripada senjata laser?

Harry Potter adalah fenomena era millennium, terlahir pertama pada tahun 1997 dan pungkas di novel terakhir sekitar 10 tahun kemudian. Tokoh dan kisah ini bahkan lebih fenomenal daripada karya-karya untuk anak sebelumnya. Kita ingat ada kisah Lima Sekawan (The Famous Five) dan Sapta Siaga (The Secret Seven) karya Enid Blyton, yang berkisah tentang pemecahan misteri. Bahkan The Famous Five sempat diangkat ke layar kaca di Inggris (dan pernah ditayangkan di sini). Ada serial Agatha Christie yang diangkat lagi oleh penerbit Gramedia, sehingga cukup populer di sera 90-an. Bedanya, Harry Potter seperti lintas segmental, karena novel dan filmya dinikmati oleh sekurangnya dua generasi (orang tua dan anaknya). Di pihak lain, serial Enid Blyton hanya menarik untuk anak-anak hingga awal remaja, sedangkan Agatha Christie hanya bisa dicermati oleh pembaca remaja akhir dan dewasa. Ada beberapa novel yang mencoba menyejajarkan diri dengan Harry Potter, seperti kisah Eragon dan naga birunya Saphira, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Novel triloginya tidak pernah booming.

Seperti halnya penyakit, demam ini akan berakhir. Semua euforia tentang Harry Potter yang memang sudah diniatkan untuk pamungkas pada buku ke-7 akan selesai. Mungkin novelnya tetap akan terjual, tetapi tidak ada lagi kehebohan seperti yang terjadi tiap novel ini terbit. Saya sebut heboh karena isi novel ini bahkan menjadi issue media massa, pertaruhan judi, hingga karyawan penerbitan novel Harry Potter di Inggris diperintahkan untuk tutup mulut. Apalagi jika dalam proses promosinya yang sudah dilakukan sebelum novel ini ditulis sudah dilansir issue adanya tokoh yang dimatikan. Sejak buku ke-4 Harry Potter and the Goblet of Fire, JK Rowling sudah memastikan ada tokoh yang mati, dan ini memicu rumor serta tebak menebak tokoh yang dimatikan Rowling.

Sejak munculnya fenomena Harry Potter ini, pandangan orang tentang sihir, penyihir, dan dunia sihir berubah. Sebelumnya, penyihir dianggap dongeng, karena menjadi bagian dari masa lalu sebagaimana novel dan film Lords of The Ring. Ada juga yang memandangnya secara tabu, musuh agama, dan perilaku menyimpang yang jahat. Tidak ada yang menduga bahwa sihir dimunculkan (di dalam film) dalam bentuk bocah laki-laki imut berusia sepuluh tahunan, dan sama sekali tanpa kesan magis. Kita tahu, di Eropa yang berlanjut di Amerika praktisi sihir dikerja-kejar dan dibunuh di abad pertengahan, karena dianggap anti gereja dan menghujat. Tapi siapa yang akan tega menyakiti siswa sekolah sihir yang imut seperti Daniel Radcliff dan Emma Watson?

Sebenarnya apa yang paling berbahaya dari fenomena sihir ala Harry Potter ini? Bagi saya, perubahan pandangan tentang sihir. Sihir dianggap cool dan asyik dicoba. Ini adalah tugas orang tua untuk menjelaskan pada anak-anaknya yang menggemari Harry Potter bahwa film itu hanya fantasi, dan tidak nyata dalam kehidupan. Harry Potter harus berhenti sebagai hiburan, internalisasi sedikit teladannya, sudah. Jangan pernah tertarik pada sihir, dalam bentuk apapun.

Bagi kaum muslim, praktik sihir harus dijauhi. Tidak ada kebaikan di dalamnya, bahkan hanya mengundang mudharat. Sihir adalah pengejawantahan persekutuan manusia dengan setan – sebab kekuatan sihir hanya muncul bila manusia celaka. Dengan perantaraan mahluk gaib ciptaan Allah yakni jin, sihir bisa terwujud dengan mengelabui pandangan mata manusia.

Contoh konkret praktik sihir adalah keris pusaka yang berkekuatan magis, tombak pusaka yang tidak bisa diangkat oleh manusia biasa, penyakit yang dipindahkan ke kelapa atau kambing, ilmu gendam, pelet, babi ngepet, susuk, dan sebagainya. Sihir akan berwujud sebagaimana yang ingin dilihat manusia itu sendiri. Jin yang menjadi medium sudah pasti bukan jin biasa, melainkan golongan jin yang kuat karena mampu mempengaruhi manusia.

Iblis sudah bersumpah akan mengupayakan manusia untuk mengikuti jalannya yang sesat dengan segala cara, agar pada akhirnya turut menemaninya di neraka jahanam. Allah sudah mengijinkan iblis mencari pengikut, dengan cara apapun. Akibatnya, sepanjang umur manusia dan selama manusia masih berjalan di muka bumi, iblis akan terus berupaya menyesatkan kita semua. Mahluk yang dilaknat Allah itu tidak bekerja sendiri, sebab ia sudah menebar jaringan berupa setan-setan yang berasal dari jin dan manusia.

Hal pertama yang diajarkan setan pada manusia adalah rasa takut yang besar, atau kecil tapi selalu muncul (was-was). Ketakutan ini selalu dibisik-bisikkan di dada manusia, hingga manusia menganggap pertolongan Allah jauh atau tidak mencukupi. Kalau mau instan, langsung, datanglah ke sumbernya … yakni manusia yang “berilmu”, orang tua, orang pintar, paranormal, dan sebutan lain sebangsanya. Produk yang ditawarkan oleh agen iblis itu antara lain: jimat, pusaka, susuk, dan semacamnya … yang sebenarnya justru menjadi pertanda bahwa kita telah masuk dalam lingkaran sihir.

Islam mengajarkan ilmu, dan menghendaki penganutnya cerdas. Jauhi sihir, ikuti jejak Al-Qur’an, maka manusia akan selamat dan bertambah cerdas. Dengan berlandaskan pada Al-Qur’an, Islam pernah mengalami jaman keemasan dengan munculnya ahli kimia, matematika, kedokteran, ilmu falak, sastra, pemerintahan … saat Barat belum membentuk peradaban yang solid. Ilmu yang mereka kembangkan saat ini, banyak yang berakar pada pemikiran cendekiawan dari Timur Tengah di abad pertengahan.

Kalau sekarang umat Islam kembali pada sihir, maka sama saja artinya dengan kembali ke abad kegelapan.

Harry Potter dan Sihir (1)

Posted in Kisah, Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , , on August 9, 2011 by hzulkarnain

Expecto Patronum!

Seberkas cahaya putih meluncur dari tongkat sihir Harry Potter, menjelma menjadi wujud siluet rusa jantan besar yang putih cemerlang, dan melindunginya dari serangan para dementor. Itulah mantera patronus yang luar biasa.

expecto patronum!

Kira-kira demikian deskripsi dalam novel Harry Potter tentang salah satu mantera di dalamnya. Harry Potter telah menjadi fenomena dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Dari sekedar sebuah novel, yang awalnya ditolak penerbit tetapi kemudiaan booming menjadi best seller, nama ini menjelma menjadi bahan baku industri hiburan yang menjamin kelarisan. Bisa dibayangkan kaya rayanya JK Rowling sang pengarang dan pemilik hak cipta tokoh rekaan ini.

Pada bulan Juli ini, sekuel terakhir film Harry Potter dari novel terakhirnya telah ditayangkan di berbagai negara di dunia, kecuali Indonesia (karena masalah perijinan). Khalayak penggemar Harry Potter telah menantikannya, dan dunia seperti tersihir oleh bocah ahli sihir ini.

Sejak pemutaran perdana di Indonesia, animo penggemar Harry Potter sangat luar biasa, bahkan dalam sebuah gedung cineplex film ini bisa ditayangkan lebih dari sebuah studio … dan semuanya penuh hingga pertunjukan terakhir. Untuk bisa memperoleh tempat duduk yang enak, jangan sampai telat mengantre …. Semua orang ingin melihat akhir kisah yang melegenda ini, dan bagaimana Harry Potter yang masih hijau akan mengalahkan musuh bebuyutannya yang berjuluk pangeran kegelapan: Lord Voldemort.

Wajar bila banyak yang bertanya dengan penasaran, apa sih yang menarik dari Harry Potter ini?

Saat novel pertamanya keluar sekitar tahun 1997, dunia heboh. Bahkan langsung jadi demam di banyak negara termasuk Indonesia. Saya tidak tertarik, karena pikir saya itu hanya novel yang bercerita tentang anak-anak … apa sih menariknya? Soal sihirnya … ah, itu paling hanya tempelan saja. Tidak akan jauh bedanya dengan kisah anak-anak detektif, bocah petualang, dan semacamnya seperti kisah rekaan Enyd Blyton (Lima Sekawan, Sapta Siaga) atau Alfred Hitchcock (Trio detektif).

Kehebohan yang sama terjadi saat film novel pertama ini diangkat ke layar lebar. Saya juga tidak serta merta menengoknya, karena pemikiran yang sama. Namun demikian, saat sebuah tv kabel menayangkannya, saya menontonnya juga (karena tidak film lain yang bagus). Satu hal yang langsung saya sadari, bahwa teknologi film sudah sedemikian maju sehingga film di eran millennium jauh lebih maju dalam special effect daripada dekade sebelunya. Dan … memang inilah salah satu kekuatan film Harry Potter. Hagrid yang setengah raksasa, kaum goblin penjaga bank, anjing kepala tiga, centaur, semuanya bisa disajikan secara apik. Belum lagi trik loncatan bunga api dari tongkat sihir, terbang dengan sapu, serta perubahan bentuk yang alami. Film ini langsung merebut hati saya.

Ada sebuah pesan moral yang tersampaikan pada film itu, bahwa karakter Harry Potter berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia memang tidak sepintar Hermione dalam pelajaran sihir, bahkan cenderung naif dan minder. Akan tetapi, selain punya bakat bocah ini sangat tulus dan setia kawan. Ia berani menempuh bahaya apapun untuk menolong teman, dan menjunjung kebenaran. Sihir yang diangkat dalam film ini … seperti dugaan saya – hanya menjadi latar belakang kisah, tetapi dibentuk secara solid.

JK Rowling, wanita pengarangnya yang asli Inggris, tampaknya besar dalam lingkungan yang mempercayai sesuatu yang gaib (agak beda dengan orang Barat pada umumnya), hendak mengatakan bahwa sihir adalah milik orang-orang yang punya bakat (berbakat besar maupun kecil). Orang awam, yang tidak bisa sihir dan tidak mengenal sihir, disebut dengan muggle. Kaum sihir punya komunitas, bahkan komunitas ini sangat besar, sehingga harus diatur oleh kementrian sihir. Komunitas ini berdampingan dengan orang awam, tetapi kegiatan mereka tersembunyi, terselubung, atau tersamar. Kaum sihir sengaja menyembunyikan jati diri mereka, dan tinggal tersamar melalui trik sihir.

Bakat sihir, menurut Rowling, bisa diwarisi dari kedua orang tua, salah satu dari orang tua, atau mungkin dari leluhurnya (karena kedua orang tuanya adalah muggle). Salah satu aspek terpenting dalam sihir adalah tongkat sihir, dan tidak sembarang orang bisa membuatnya (mungkin di sini dibuat hanya oleh empu). Tongkat sihir punya kekuatan gaib karena di intinya terdapat elemen dari mahluk-mahluk mitos, misalnya bulu burung phoenix (seperti tongkat sihir Harry Potter dan Voldemort), surai unicorn, otot jantung naga, dsb. Penyihir tidak bisa memilih tongkat, tapi tongkat sihir lah yang memilih orang yang memegangnya. Karena itu, agaknya seorang tanpa bakat tidak akan bisa mengeluarkan kekuatan sebuah tongkat sihir.

Dalam kisah JK Rowling ini, sihir punya sekolah formal, layaknya sekolah kejuruan pada umumnya. Sihir tidak didapatkan dengan bertapa dan menyepi, tetapi mengolah bakat yang sudah ada di dalam diri para murid. Semua mantera dan keahlian sihir dipelajari, dicermati, dihayati, dieksperimen-kan, dan akhirnya dikembangkan sendiri. Mereka yang mampu mengembangkan sihir mereka akan sukses sebagai penyihir. Di Inggris, sekolah sihirnya bernama Hogwarts, dengan kepala sekolah dan guru-guru yang bergelar profesor – dan mengajar sesuai dengan keahliannya masing-masing. Ada yang mengajar ramuan, ilmu tumbuhan (herbology), transfigurasi (perubahan bentuk), pertahanan terhadap ilmu hitam, ramalan, dsb. Akan tetapi, ada juga sport yang menjadi andalan, layaknya sepakbola yang dinamakan quidditch, degan aspek sihir berupa penggunaan sapu terbang. Bangunan sekolah yang luas mirip kastil abad pertengahan juga menjadi asrama bagi siswa-siswa sihir hingga lulus di tahun ke-tujuh.

Novel JK Rowling ini menurut saya unik, karena mampu membangun suasana hati dan sikap pembacanya. Tidak banyak novelis seperti ini, dan JK Rowling ternyata punya bakat yang kuat. Novel dan film Harry Potter di awal-awal terasa ceria, ada sifat anak-anak yang usil, nakal, lucu, tapi tetap serius. Seiring dengan bertambah dewasanya sang protagonis, novel berikutnya terasa lebih berat (dan halaman buku juga lebih tebal). Ada nuansa kelam yang menyelimuti jalannya cerita, banyak kepahitan, kematian, apalagi para penyihir hitam yang tergabung dalam dead eaters (pelahap maut) semakin kuat. Terlebih lagi setelah sang pemimpin Lord Voldemort bangkit dari kondisi hampir matinya. Bahkan penyihir terhebat seperti Profesor Dumbledore sang kepala sekolah Hogwarts harus berupaya keras mecari tahu kelemahan pangeran kegelapan itu, untuk melindungi Harry Potter dan dunia sihir agar tetap bersih.

Sekolah sihir Hogwarts, dan sekolah-sekolah sihir lain di Eropa sebenarnya hanya mengajarkan sihir yang baik, bahkan hanya mantra-mantra ringan yang diajarkan di tingkat dasar. Akan tetapi, tetap saja ada sisi kelam dari dunia sihir ini yang rahasianya berhasil diungkap oleh Voldemort muda dan menjadikannya master dalam sihir hitam – padahal dia dulunya adalah siswa Hogwarts semasa muda. Sihir hitam (the dark arts) dipelajarinya sendiri, dan sihir paling hitam adalah horcrux, yakni membelah jiwa dan memasukkannya ke dalam sebuah benda. Tujuannya adalah kehidupan yang abadi. Sebab, bila sebuah jiwa mati masih ada jiwa lain yang siap dibangkitkan. Untuk bisa membelah jiwa dan menyimpannya dalam horcrux, ada satu syarat yang mengerikan … pelakunya harus membunuh seseorang. Karena tidak bisa mati inilah Voldemort sangat ditakuti.

Harry Potter dan teman-teman setianya

Inti dari kisah perjalanan hidup Harry Potter adalah pertarungan kelompok putih dan kelompok hitam, kebaikan lawan angkara murka. Beberapa pesan moral yang dimuatnya antara lain:

  • Asal-usul mungkin penting tetapi jauh lebih penting lagi adalah kesungguhan diri sendiri dalam membentuk kepribadian. Siapa kita, tidak tergantung orang tua kita …. tetapi cara kita mengisi kehidupan ini.
  • Harry Potter berbakat dalam ilmu hitam (dark arts), tetapi ia memilih untuk tidak menggunakannya. Untuk bisa melafalkan mantera sihir hitam, pelakunya harus punya keyakinan bulat untuk mencelakai orang lain.
  • Semakin tinggi kemampuan Harry Potter kian jauh dia dari pamrih pribadi, dan semua kesengsaraan ditanggungnya untuk mengalahkan bencana semua penyihir: Voldemort.
  • Orang yang terbaik bukan yang paling pintar, tapi orang yang paling care pada orang lain. Itulah yang menjadikan Harry Potter dibenci lawannya dan dicintai teman-temannya.

Di akhir film Deathly Hallows (part 2), Harry Potter yang memegang tongkat sihir terkuat The Elder Wand menjelaskan bahwa tongkat itu tidak bisa ditaklukkan oleh Voldemort yang mengambilnya dari peti mati Dumbledore, karena tongkat itu sudah memilih tuan – yakni Harry Potter. Dengan tongkat itu, sebenarnya Harry Potter bisa menjadi penyihir terkuat. Akan tetapi, secara mengejutkan, Harry mematahkan The Elder Wand tersebut dan membuangnya ke ngarai. Tidak ada lagi orang yang bisa memanfaatkannya.

Kesimpulannya hanya satu, Harry Potter tidak mau menjadi penyihir terkuat, karena itu tidak pernah menjadi impiannya dan bukan kepribadiannya.

Kisah Harry Potter ini memang lebih dari sekedar cerita sihir.

Politik Panggung Politik

Posted in Sharing with tags , , , , , on July 25, 2011 by hzulkarnain

Catatan Akhir Juli 2011

MUAK! Saya kira itu ekspresi sebagian rakyat negeri ini dengan pertunjukan politik para politisi karbitan negeri ini. Sepuluh tahun yang lalu, saat peta politik masih mencari bentuk pasca gerakan reformasi, mereka belum jadi tokoh – baru sebatas figuran di panggung politik. Dengan akrobat dan jurus siluman, akhirnya sampailah mereka menjadi orang-orang yang berdiri di kursi depan muktamar partai, jadi pembesar partai besar, dan berlagak besar.

MUAK! Karena kemunafikan bertebaran di mana-mana, dan sudah menjadi rahasia umum. Kursi DPR yang mereka tuju adalah cita-cita politik, bukan cita-cita pengabdian. Cita-cita menjadi orang besar, bergaji besar, dan membuat rekening pribadi yang besar. Kalau sudah terlanjur berjanji, pasti ada seribu kilah yang bisa ditepati, dengan harapan masyarakat lupa janji itu suatu saat nanti, karena toh manusia ini tempat lupa yang kodrati.

Saat Orde Baru lengser, reformasi mengemuka, seniman kritik seperti Butet Kartarejasa dan Teater Koma sempat gamang, mau bicara apalagi di depan orang? Tetapi, senyatanya, pergantian jaman tidak otomatis membuat orang menjadi lebih baik. Semua penghujat orde baru dan pencela kebobrokan moral penguasa orde baru, ternyata jatuh di lumpur yang sama begitu dapat kursi, punya harta, dan dilirik wanita.

Tidak ada kawan dan lawan abadi

Salah satu kritik terbesar pada order baru adalah masalah korupsi, yang membuat Indonesia termasuk dalam negara paling korup di dunia. Ini adalah perbuatan keji untuk memperkaya diri sendiri, namun tanpa sadar membuat penderitaan masyarakat – secara tak langsung. Dana negara yang harusnya bisa disalurkan untuk menanggulangi kemiskinan, ternyata masuk ke kantong segelintir orang dengan cara dipelintir, lalu tanpa malu-malu mengusung poster anti korupsi dengan kampanye bertalu-talu.

Lakon Nazaruddin adalah contoh lucu dari lawakan yang tak lucu badut-badut politik di panggung politik. Sebelum kasus korupsi yang menyeretnya mencuat, tak banyak yang kenal namanya, karena memang dia bukan siapa-siapa bagi awam. Tiba-tiba saja namanya terkait dengan penyelewengan pembangunan wisma atlet SEA Games Palembang, mendadak dikenal, lalu hujatan pun datang beruntun padanya. Saat akan diperiksa, dia melarikan diri ke luar negeri, dan menghilang hingga sekarang. Ajaib, semua aparat yang berwenang seperti kena hipnotis, hanya termangu-mangu tidak tahu mau berbuat apa.

Lucu dan aneh. Itulah permainan panggung politik kita. Para politisi yang berlabel anggota legislatif, atau calon anggota legislatif, atau sekarang tinggal jadi pengamat politik, laris manis di layar kaca. Mereka berbicara dengan fasihnya tentang benar-salah, baik-buruk, dan norma moral. Seolah-olah mereka ini paling suci. Seolah-olah orang lain terlalu bodoh untuk memahami topeng yang mereka kenakan.

Seorang Nazaruddin tidak akan lari dengan sendirinya ke luar negeri. Sekarang dia bilang, larinya dia karena disuruh Anas (Urbaningrum). Tapi … apakah benar? Uang pelicin pembangunan wisma atlet yang dalam pengakuan terdakwa disalurkan pada Nazaruddin, apakah benar masuk ke rekeningnya sendiri semua? (ingat dia adalah bendahara partai besar yang – konon – di dalamnya terpecah dalam kubu-kubu). Semua jawaban hanyalah asumsi tanpa pembuktian.

Pengibaratan pohon, semakin tinggi kian kencang pula anginnya, seperti itu pula juga yang dialami PD. Bukan cuma Nazar, Andi Nurpati (yang dulu pentolan KPK dan sekarang berjaket biru) juga jadi sasaran tembak lawan poltik. Kasus yang ditimpakan kepadanya pun bukan main-main – pemalsuan surat. Dengan dua warga jaket biru terkena masalah, bisa dibayangkan lebar senyuman si jaket kuning dan merah – yang selama ini menempel ketat di belakang the ruling party.

MUAK! Itulah yang saya rasakan setiap kali nonton televisi, baca koran, buka berita internet, termasuk radio online. Karena pemberitaan didominasi kebejatan tersebut yang sedang mengiming-imingi pelaku lain. Porsinya semakin berimbang dengan sinetron yang main di panggung sebelah (panggung hiburan). Bahkan reality show yang mereka pertontonkan seseru Big Brother Indonesia (Trans TV) – yang sama-sama hadir tanpa skrip naskah. Ada yang terdeportasi, yang low profile selamat, yang kontroversial bertahan, yang ditengah tergencet … panggung politik adalah dunia survival. Tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi … yang abadi adalah kepentingan pribadi.

Episode korupsi dan manipulasi demi kekuasaan atau kekayaan tidak akan berhenti, sekalipun pelakunya yang ada saat ini berhenti (entah mati atau dibui). Umurnya yang setua manusia, menunjukkan bahwa tindakan ini memperoleh perlindungan … dari iblis laknatullah … sebab inilah pintu menuju kesesatan bangsa manusia yang dimintanya dari Allah sebagai kompensasi pengusiran dari langit.

Sekarang, kita tunggu ending dari drama tidak lucu oknum-oknum the ruling party ini. Saya yakin masih banyak orang baik di sana, dan semoga semua onak duri yang melintang di jalan, semata-mata akan mendewasakan kita sendiri.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.