Archive for PSSI

Bila Kekuasaan Bukan Lagi Amanat

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , , , , on February 26, 2011 by hzulkarnain

Dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan terakhir, Afrika Utara hingga jazirah Arab dilanda gelombang protes yang menginginkan perombakan kepemimpinan bangsa. Tunisia, Mesir, Yaman, Bahrain, dan yang terakhir adalah negara gurun yang selama ini dianggap “slilit” oleh Barat – Libya. Apakah gerakan itu murni berasal dari keresahan rakyat atau disponsori pihak asing … wallahu a’lam bishshawab ….

yang satu sudah lengser, yang lain terancam

Setelah Hosni Mubarak akhirnya mau mengalah, lengser dari kursi kepresidenan Mesir, tiba-tiba unjuk rasa bergeser dan menyeruak di salah satu negara di jazirah Arab yang menjadi salah satu tujuan wisata, Bahrain. Alasannya berbeda. Unjuk rasa di Bahrain dilakukan oleh kaum Syiah yang menginginkan perubahan politik, karena sebagai kaum mayoritas ternyata mereka dimarginalkan oleh kaum Sunni yang minoritas. Belum kelar soal Bahrain, Libya mengguncang Afrika dengan aksi protes seperti Mesir, menginginkan Muammar Khadafi lengser. Dengan alasan demonstran tersebut didalangi oleh Al-Qaida, Khadafi memberlakukan kekerasan militer.

Kondisi di Mesir dan Libya nyaris seperti Filipina dan Indonesia, saat Ferdinand Marcos dan Soeharto dilengserkan dari kursi kepemimpinan. Pada suatu masa, rakyat negara-negara tersebut bangga sekali dengan pemimpinnya yang kuat. Akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu, terjadi perubahan ekonomi, sosial politik dunia,  dan ternyata rakyat justru berada dalam tekanan, dimarginalkan, sementara keuntungan serta kesejahteraan hanya dinikmati oleh segelintir orang yang berada di lingkaran elite politik. Pada saatnya rakyat yang muak tidak lagi bersuara dengan santun. Suara santun telah diberangus, perilaku ber-tata krama telah dihina, sehingga rakyat tinggal memiliki pilihan terakhir: bergerak secara massal dalam aroma agresi. Korban jiwa sudah pasti tidak akan terelakkan, dan dalam kondisi kacau seperti itu nyawa manusia seperti benda yang tidak ada harganya.

Memimpin orang lain, baik dalam kelompok kecil, kelompok besar, apalagi sebuah bangsa, tampaknya masih menjadi idaman bagi beberapa orang yang merasa memiliki bakat dan bekal. Tidak mengherankan, bursa Pilkada selalu ramai, selalu banyak cara untuk memenangkan persaingan, bahkan kecurangan bilamana perlu. Bla sudah berhasil meraih kursi yang diimpikan, orang cenderung mencari cara untuk mempertahankan bahkan melanggengkan kekuasaan.

Rasulullah Saw tidak pernah mengajarkan sistem monarki, tetapi justru sekarang negara yang berlabel Islam banyak yang masih berupa kerajaan atau kesultanan, termasuk Kerajaan Saudi Arabia. Negara kerajaan lain, antara lain: Jordania, Maroko, Bahrain, Kuwait, UEA, Brunei Darussalam, Malaysia, dsb. Tujuan penegakan sistem monarki, sudah barang tentu adalah melanggengkan kekuasaan dalam trah atau dinasti yang sama.

Di masa Rasulullah dan Kulafaur Rasyidin, negara Islam adalah Theokrasi: Khalifah adalah ulama dan umara’. Negara diatur tidak hanya melalui undang-undang hukum sipil tetapi juga melalui hukum agama, karena pada dasarnya Islam bukan hanya agama tetapi juga jalan hidup. Dengan pemimpin yang mengemban amanat, negara Islam di masa-masa awal menjadi sangat kuat. Perkembangan Islam yang awalnya dianggap kepercayaan orang gurun berkembang pesat hingga ke luar jazirah Arab.

Sayangnya, pasca Khalifah Ali terjadi pertentangan politik yang akhirnya dimenangkan oleh Bani Ummayah yang memang merupakan keluarga kuat sejak jaman Rasulullah. Mereka inilah yang membangun dinasti Umayyah yang legendaris, berkedudukan di Damaskus. Di sinilah sebenarnya pemerintahan monarki dalam negara Islam dimulai. Tentu saja, sejak awal sistem monarki yang menggantikan theokrasi ini mendapatkan tentangan, akan sistem ini bertahan hingga sekarang di beberapa negara berbendera Islam.

Islam mengajarkan bahwa sebuah amanat adalah cobaan atau musibah, termasuk jabatan tinggi apalagi memimpin. Orang itu harus bisa mempertanggung jawabkan apa yang diembannya dihadapan manusia sekarang dan pengadilan akhirat kelak. Oleh karena itu, umat Islam seharusnya mengucapkan “innalillahi wa inna ilaihi roji’un” secara khusyuk saat menerima amanat jabatan, bukannya “alhamdulillah” dengan wajah berseri. Kenapa demikian? Sebab, jabatan dunia ini besar godaannya. Bila tahta sudah di tangan, tinggal menunggu waktu godaan harta dan wanita menghampiri. Bila tahta sudah di tangan, pada waktunya, akan sangat besar dorongan untuk melanggengkan kekuasaan tersebut. Bila tahta dan kekuasaan tidak menarik, tidak bergelimang harta, niscaya tidak akan banyak orang yang memperebutkannya.

Saat kekuasaan bukan lagi berlandaskan amanat rakyat, bukan lagi karena diridhoi rakyat dan ulama, seharusnya seorang pemimpin berhenti dan mulai mengurusi dirinya sendiri. Sayangnya, sepertinya tidak ada kepuasan untuk menambah harta, disanjung dan dihormati, dan mungkin baru berhenti bila tanah sudah memenuhi mulut mereka ini.

Saya tidak mengatakan bahwa orang tidak boleh berpolitik, karena memang politik adalah salah satu alasan dunia ini tetap berputar, dan manusia bertambah pandai. Akan tetapi, semua ada waktunya untuk berhenti. Apakah berhenti karena mati, berhenti karena dipaksa berhenti, atau berhenti dengan sukarela.

Bila waktunya sudah tiba, tetapi seorang penguasa ngotot akan bertahan, lihatlah yang telah terjadi di Filipina, Indonesia, dan Mesir. Betapa orang mencibir para penguasa yang turun dengan paksa, dan lembaran hitam pun menghiasi sejarah hidup mereka. Memang, bila seseorang sudah diperingatkan dengan halus – oleh Sang Maha Pengatur Alam, yang seringkali diwakili oleh rakyat jelata – tidak mau juga berintrospeksi, maka Dia akan membuatnya menerima musibah. Bukankah musibah terjadi akibat perbuatan manusia sendiri?

Bila kekuasaan bukan lagi pengejawantahan amanat – rakyat maupun Tuhan – berarti telah berubah menjadi nafsu berkuasa yang ujungnya adalah keduniawian, itulah saatnya sang pemimpin (seharusnya) berhenti. Kalau sudah 2 periode pemerintahan, sudah uzur, sudah semakin banyak yang memprotes, sudah sangat susah mengendalikan anak istri … sebutkan lagi banyak pertanda – itulah saat orang orang harus meletakkan kekuasaan. Biarlah terjadi regenerasi.

revolusi PSSI

Belakangan ini, yang terjadi di tubuh PSSI juga tak kalah menggelikan – sekalipun lingkup bicaranya jauh di bawah level negara. Hanya karena sepakbola adalah sport favorit di muka bumi – termasuk Indonesia, proses penggantian kepemimpinan PSSI jadi wacana nasional. Soal Nurdin Halid ingin terus berkuasa adalah haknya, tetapi yang paling lucu adalah upayanya menghalalkan segala cara untuk menang – termasuk merekayasa aturan, mengatur seleksi kandidat ketua, dan akhirnya sok buta-tuli, demi kursi ketua umum PSSI yang konon mampu memberikan keuntungan yang luar biasa. Bagamana tidak, dana PSSI tiap tahun mencapai ¾ milyar, yang tidak pernah terbuka dilaporkan.

Kita tunggu saja akhirnya …. Bagaimana orang-orang PSSI yang keras kepala ini mencoba bertahan di tengah badai ketidak senangan massa.

Semangat Kebangsaan dan Sportivitas

Posted in Kisah, Sharing with tags , , , , , , on December 29, 2010 by hzulkarnain

Garuda di dadaku ....

Catatan menjelang leg ke-2 Indonesia v Malaysia final Piala AFF 29 Desember 2010

Apa topik terhangat di penghujung tahun ini? Sudah pasti adalah piala AFF dan timnas Indonesia yang merangsek ke babak final dengan rekor sempurna – tak pernah kalah sepanjang babak penyisihan.

Alasan kedua kegilaan orang Indonesia pada timnas adalah magnet Bachdim dan Gonzales. Tidak bisa dipungkiri, kehadiran dua orang asing di dalam tubuh tim merah-putih turut mendongkrak kinerja mereka, sehingga pergerakan mereka sangat enak ditonton. Dan gol demi gol yang dilesakkan ke gawang lawan seolah pompa semangat nasionalisme yang belakangan ini mulai diragukan. Rekor Gonzales dalam kompetisi lokal sudah tidak perlu diragukan, karena beberapa kali menjadi top skorer, dan naluri pembunuhnya sangat berharga bagi timnas. Adapun Irfan Bachdim, yang sebenarnya belum banyak bicara di kancah lokal, adalah produk besutan tim junior negeri Belanda – dan karenanya banyak menjanjikan prospek masa depan. Apalagi, wajah tampannya yang baby face begitu digandrungi cewek-cewek Indonesia. Kehadiran Irfan telah merebut hati banyak perempuan muda, sehingga mereka jadi tertarik menonton timnas berlaga.

Ketika timnas kalah dalam leg pertama, dan diduga keras karena campur tangan suporter Malaysia yang nakal, serentak kemarahan merebak di penjuru negeri. Bukan soal sentimen antar bangsa yang belakangan merebak, tetapi karena kekecewaan kalahnya timnas. Di layar kaca terlihat jelas berkas-berkas sinar hijau menerpa kaos putih dan wajah pemain kita saat melakukan tendangan penjuru, yang konon berasal dari pointer laser, dan itu dijadikan kambing hitam kekalahan timnas. Semangat membara para suporter memberikan dorongan dan keyakinan akan kemenangan dalam leg kedua yang akan dilakukan pada tanggal 29 Desember 2010 malam.

Gonzales & Bachdim - 2 icon baru timnas

 

Euphoria kebangkitan tim nasional sepakbola Indonesia yang prestasinya selalu timbul tenggelam sedang merebak, ditandai dengan banjirnya berita tentang timnas di media-media massa, televisi, dan perbincangan warga hingga ke warung-warung kopi. Lepas dari carut marutnya wajah PSSI, masyarakat Indonesia punya optimisme yang besar pada timnas dan keberhasilannya.

Waktu sang pelatih Alfred Riedl membatalkan pemanggilan pada Boaz Salossa karena striker handal itu tidak kunjung datang setelah melewati tenggat waktu yang ditetapkan pelatih tersebut, banyak orang bertanya-tanya akan efektivitas striker timnas. Sebagian lain mengacungi jempol (termasuk saya) atas ketegasan tersebut, karena keputusan ini membuat semua pemain menjadi lebih berdisiplin. Sekalipun secara manusiawi kita mungkin kasihan pada alasan Boaz yang menunggui anaknya yang sakit, keputusan telah dibuat dan tidak bisa dianulir. Padahal, kalau saja Boaz masuk dalam timnas, bisa dibayangkan betapa mengerikannya dua ujung tombak itu: Gonzales dan Boaz.

Kalau pun Indonesia tidak berhasil meraih piala AFF sebagaimana yang diidam-idamkan selama ini, timnas kita masih menjanjikan. Kalaupun tidak dengan Bambang Pamungkas dan beberapa pemain lain yang sudah melewati usia berkepala tiga, sistem dan strategi yang dirintis Alfred Riedl membawa angin yang segar dan optimisme yang besar.

Saya jadi teringat pada tim nasional Jerman yang gagal masuk ke babak final di Piala Dunia Afsel, namun tidak ada orang yang dirundung kekecewaan besar di Jerman sekalipun, karena tim yang didominasi wajah-wajah muda tersebut menjanjikan peremajaan dan masa depan sepak bola Jerman yang cemerlang. Sementara pengamat menyatakan, timnas Jerman akan menjadi sosok menakutkan di masa mendatang. Ketika mereka melumat Argentina yang digadang-gadang menjadi juara dunia, saat itulah kesebelasan lain mulai merasa ngeri pada kemampuan Der Panzer muda.

Kita berharap, timnas yang sekarang sedang dibesut oleh Alfred Riedl juga akan menjadi kekuatan yang menakutkan. Kompetisi lokal yang menggeliat keras akan menjadi sumber tak habis dari bakat-bakat baru pemain bola yang bagus. Rasanya sih, tidak mustahil untuk menemukan pemain yang berbakat dari banyak SSB dan bakat alam yang keluar dari kompetisi tersebut. Riedl adalah mantan striker di Austria sana, dan gaya serangannya telah menginspirasi mode serangan timnas, dan ini sungguh enak ditonton.

Dulu sekali, sebelum sport menjadi bisnis seperti sekarang, seorang teman yang pernah berkomentar sinis tentang putaran uang yang besar dalam dunia olah raga. Sponsorship Galatama dan Perserikatan, hadiah besar turnamen tenis dan bulu tangkis, biaya pembinaan bola voli, basket, dsb. Untuk apa?

Secara kasat mata, mungkin hanya nilai yang dipersoalkan di sini, tetapi pada kenyataannya ada hal yang jauh lebih bermakna. Kebanggaan nasional, rasa kebangsaan, dan sportivitas. Itulah yang tidak bisa dihargai dengan nilai uang, karena tidak bisa ditakar. Semua biaya yang dikeluarkan, hadiah yang dijanjikan, bisnis yang terlibat, semuanya menjadi pondasi tegaknya tim-tim nasional yang membanggakan di kancah kompetisi antar bangsa.

Dengan bangkitnya semangat kebangsaan seperti sekarang ini, duka karena bencana alam yang berurutan seperti sedikit terlupakan. Akhir tahun yang biasanya selalu diwarnai perasaan kelabu karena bencana, kali ini agak reda karena timnas PSSI yang membanggakan, yang memberikan janji masa depan sepak bola yang baik.

Bangkitlah garuda-garuda muda, terbanglah tinggi, bawa nasionalisme dan sportivitas bersamamu!

*Kami mendoakan kemenanganmu di leg ke dua di Senayan – dan merebut piala AFF untuk pertama kalinya ke Indonesia ….*