SEA Games dan Kebangkitan

INDONESIA BISA!

Begitulah slogan yang didengungkan bangsa ini untuk mendukung para atlit Indonesia di kancah SEA Games. Kita pernah menjadi tuan rumah dan gagal menjadi juara umum, dan secara memalukan harus menundukkan kepala dibantai negara-negara jiran di tanah sendiri. Padahal, bangsa ini besar, kuat, dan punya tradisi juara di kancah perhelatan olah raga se-Asia Tenggara. Sekarang, Indonesia menjadi tuan rumah lagi dan inilah saatnya untuk membuktikan bahwa kita masih punya tradisi juara itu.

Yang lebih membanggakan daripada sekedar memenangkan kejuaraan adalah ketetapan dari petinggi yang mengurusi olahraga untuk memunculkan bibit-bibit baru atlit mendampingi para veteran dalam laga internasional ini. Dan, pada kenyataannya, bibit-bibit muda atlit Indonesia telah menunjukkan kapasitas positif yang membanggakan – di hampir semua cabang olahraga. Misalnya, juara lari 100 meter putra dan putri dengan sangat membanggakan jatuh ke tangan atlit muda kita, yakni Franklin Ramses Burumi dan Serafi Anelis Unani. Beberapa cabang di luar atletik yang juga bersifat non-permainan seperti dayung, renang, dan sepatu roda menyumbangkan banyak medali emas oleh para atlit yang tidak terlalu kita kenal namanya.

Bangga… itu pasti. Akan tetapi, kita ingat bahwa beberapa saat sebelum perhelatan ini dimulai begitu banyak masalah yang terjadi di Palembang yang menyebabkan munculnya pesimisme. Mulai dari pembangunan wisma atlit yang diterpa isu korupsi, gelanggang yang belum siap, infrastruktur yang belum beres, dan banyak lagi. Bahkan sekarang pun, saat SEA Games sudah berlangsung, masih sangat terlihat kondisi yang apa adanya, asal memenuhi syarat. Tidak ada kemewahan dan keindahan yang memberikan kesan.

Para atlit mengeluhkan katering, angkutan antar venue yang berusaha ramah lingkungan tetapi disiapkan ala kadarnya, suasana kompleks olahraga yang masih gersang, kering, dan panas, dan macam-macam lagi. Untungnya … prestasi anak bangsa yang bertanding moncer. Dampaknya, khalayak boleh sedikit melupakan penilaian negatif tentang fasilitas di Jakabaring.

Inikah kebangkitan kembali olahraga bangsa ini? Kita harapkan demikian. Kita bahkan sudah mulai lupa, kapan kita ini bangga dengan prestasi anak negeri di bidang olahraga. Padahal penduduk Indonesia ini hanya kalah oleh China, India, dan Amerika Serikat di dunia. Sementara prestasi kelas dunia hampir tidak ada yang diukir oleh orang Indonesia (atau memang malah tidak ada?).

Saat sang merah putih berkibar, Indonesia Raya berkumandang, bahkan pemirsa televisi di rumah bisa menitikkan airmata tanda keharuan. Menjadi superior di antara bangsa lain merupakan kebanggan sekaligus cita-cita kita bersama, dan ajang olahraga adalah pembuktian yang nyata.

Unsur dasar olahraga adalah atletik, yaitu: lari, lempar, lompat, dan jalan, yang pada ujungnya berbicara soal kekuatan. Struktur tubuh orang Asia Tenggara pada dasarnya memang kurang ideal untuk mencapai prestasi puncak dalam olahraga, bila dibandingkan dengan ras kaukasia dan negro. Tidak mengherankan, negara-negara yang mayoritas berkulit putih dan hitam mendominasi kekuatan olahraga sejagat. Atlit berkulit putih terkenal dalam olah raga senam, renang, atletik, dan beberapa cabang olahraga permainan. Atlit negro Amerika dan Karibia terkenal dalam lari jarak pendek dan menengah, beberapa olah raga permainan, termasuk tinju.

Ras kuning dari Asia Timur belakangan juga menyusul, sekalipun masih belum sekuat ras putih dan hitam. China, Jepang, dan Korea adalah naga-naga Asia yang terbangun dan menggetarkan dunia. Jangankan dalam olimpiade, di level Asia saja (Asian Games) terbukti sulitnya orang-orang Asia Tenggara menembus dominasi ras kuning tersebut.

Namun demikian, perlu dicatat bahwa tidak semua cabang olahraga membutuhkan struktur otot besar, bahkan tidak ada hubungannya dengan besarnya otot misalnya panahan, menembak, tenis meja, bulu tangkis, dsb. Di luar bulu tangkis, ternyata prestasi atlit kita masih terhitung payah, belum konsisten. Seharusnya, di cabang-cabang yang tidak membutuhkan kekuatan otot seperti ini kita bisa menonjol hingga di tingkat dunia.

Nikmati dan syukuri yang ada. Itu adalah kata-kata bijak dari ajaran agama agar manusia tidak meratapi kekurangan dan mengharapkan kelebihan yang berada di luar jangkauan. Kalau memang orang Indonesia hanya bisa berprestasi di kancah Asia Tenggara … biar saja! Para pemuka daerah, petinggi negeri, dan pemimpin organisasi olahraga harus bertanggung jawab menemukan bibit-bibit atlit baru di segenap bumi Indonesia … agar muncul nama-nama baru menyegarkan jagat olahraga Indonesia.

Semoga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: