Archive for Mercusuar Kata

Industri Sepakbola Eropa, PSSI, dan Nasionalisme

Posted in Sharing with tags on March 20, 2010 by hzulkarnain

Heboh dan sensasional! Itu yang dirasakan oleh pecinta sepakbola tiap tahun seiring dengan hadirnya liga para juara dari tiap negara di Eropa (UEFA Champions League). Babak 16 besar Liga Champion Eropa – yang dianggap sebagai liga para jawara terbaik dunia – telah selesai, dan akhir bulan ini babak 8 besar menjelang. Ada beberapa kejutan, namun muka lama masih berkibar.

Inggris – yang disebut mempunyai liga dalam negeri terhebat di dunia – menempatkan 2 kesebelasan: si setan merah Manchester United dan sang gudang meriam London Arsenal. Prestasi ini lebih buruk, karena selama 2 tahun terakhir Inggris bahkan bisa menempatkan 4 kesebelasan di perempat final.

Prancis secara mengejutkan menempatkan 2 wakil: Olympique Lyonnaise dan Girondins Bordeaux. Lyon secara dramatis membungkam Los Galacticos Real Madrid asal Spanyol. Tahun lalu tak staupun wakil mereka tampil di 8 besar.

Sisanya menyertakan hanya 1 wakil: Jerman menyertakan: Bayern Munich, Italia punya 1 wakil: Internazionale Milan, Spanyol diwakili: Barcelona, dan team kejutan asal Negeri Beruang Merah Russia: CSKA Moskow yang dulu dibentuk oleh militer Russia.

Dalam perempat final akhir bulan ini, undian UEFA sbb: Bayern Munich vs Manchester United, Barcelona vs Arsenal, CSKA Moscow vs Inter Milan, dan Bordeaux vs Lyon.

(Catatan: Bagi Spanyol dan Italia, prestasi tahun merosot. Liga Inggris, Spanyol, dan Italia merupakan liga utama dunia, oleh karenanya memperoleh jatah 4 kesebelasan untuk maju ke Liga Champion. Bahkan kabar terakhir, Italia hanya punya 1 wakil di semua kejuaraan Eropa.)

Liga-liga sepakbola Eropa selalu menjadi daya tarik bagi pesepak bola dari berbagai belahan dunia, karena menjanjikan kebesaran nama dan tentunya penghasilan yang bisa melimpah ruah. Seorang bintang bahkan dapat mencapai nilai transfer trilyunan rupiah. Ya, sepakbola telah menjadi sebuah industri hiburan – dan menempatkan para pemain bintang menjadi selebritis. Keberhasilan Eropa membuat sepakbola  menjadi ladang uang mengubah wajah cabang olah raga ini di seluruh dunia.

2009 world's best player ... who is 2010?

Untuk memenuhi unsur hiburan tadi, talenta terbaik dari berbagai belahan dunia pun “diperjual belikan” di bursa transfer internasional. Tentu saja, kelas pertama adalah Eropa, sehingga tidak mengherankan bila pemain sepakbola terbaik dunia selalu berasal dari salah satu kesebelasan di Eropa. Brasil adalah pengekspor pesepakbola terbesar di dunia, bahkan konon mencapai angka di atas 1000 orang – yang bermain di seluruh liga di dunia (termasuk liga Indonesia).

Tidak mengherankan, kesebelasan besar seperti Real Madrid, Barcelona, Manchester United, Chelsea, Arsenal, dan kesebelasan besar lainnya dipenuhi bintang dari berbagai negara. Atas nama profesionalisme dan industri hiburan, tidak ada aturan yang jelas tentang komposisi pemain lokal dan import yang boleh dimainkan dalam sebuah pertandingan.

Setelah kemenangan dramatis Inter Milan atas Chelsea dalam laga penentuan 16 besar, dan membawa Inter Milan menjadi satu-satunya kesebelasan Italia yang maju ke perempat final, komentar pelatih team nasional Italia Marcello Lippi justru dingin dan tidak bersahabat. Menurut Lippi, sekalipun Inter Milan adalah kesebelasan Italia namun tidak ada orang Italia yang bermain di sana saat mengalahkan Chelsea. Termasuk pelatihnya.

Di Italia, kesebelasan multinasional dan multi rasial seperti Inter Milan justru sulit digoyahkan dari puncak klasemen. Tampaknya kecintaan pada klub, dan makna profesionalisme bisnis sepakbola lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan semangat nasionalisme. Padahal, Italia sebelumnya dikenal dengan fanatisme dalam penggunaan talenta lokal.

Di Inggris, pemain asing juga berkibar bahkan cukup kencang. Bahkan kibaran mereka bisa melampaui kecemerlangan pemain lokal. Dari 4 kesebelasan langganan Big 4 (MU, Chelsea, Arsenal, dan Liverpool), nama pemain lokal yang diingat adalah: Wayne Roonie, Frank Lampard, Steven Gerrard, dan John Terry. Sisanya adalah pemain impor, sebut saja untuk penjaga gawang: Van Der Sar, Peter Chec, dan Pepe Reina. Pemain lainnya adalah: Drogba, Torres, Kuyt, Anelka, Fabregas, Arshavin, Ballack, Malouda, Kalou, dan sederet pemain tangguh lainnya. Sama dengan kondisi Italia, sekarang ini pelatih timnas Inggris masih sering ragu-ragu dalam menyusun start-up karena kebanyakan pemain asli Inggris cukup merata – kecuali beberapa bintang mereka saja.

Ini kebalikan dari Jerman, yang liga domestiknya tidak gegap gempita. Jerman sangat jarang mengimpor pemain bintang, dan lebih suka pada talenta fresh yang potensial untuk bersinar. Kalaupun ada kesebelasan yang dianggap selebritis adalah Bayern Munich, tapi tetap saja tidak suka bermain-main dengan dana di bursa transfer pemain Jerman selalu mengutamakan talenta lokal, sehingga tidak mengherankan bila team nasional Jerman selalu solid dan fanatik.

Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan yang akan berlangsung tidak lama lagi, akan menjadi batu ujian sebenarnya dari team-team top dunia. Apakah pemilik liga terbaik dunia Inggris dan pemilik klub fenomenal Spanyol bisa memainkan pesona mereka lebih jauh? Bagaimana pula dengan Italia yang terseok-seok di level team? Jerman yang solid dan sulit diprediksi pasti akan memberikan kejutan, tapi sampai di babak mana? Tentu saja, jangan lupa juara dunia 5 kali Brasil – yang melahirkan talenta sepakbola terbaik sepanjang masa – pasti akan mengguncang Afrika Selatan.

Bagaimana dengan Indonesia?

Saya mungkin termasuk orang yang pesimis dengan perkembangan sepakbola nasional kita sendiri. Khususnya bila kepengurusan PSSI masih berada di tangan segelintir orang yang lebih mementingkan kekuasaan daripada prestasi. Bayangkan, bangsa sebesar ini, dengan kesebelasan nasional dan team lokal yang pernah sanggup berbicara di pentas Asia (paling tidak), sekarang berada di titik nadir yang memilukan.

Pemain asing yang didatangkan memang meramaikan persepakbolaan nasional – sebagai industri hiburan – namun tak kunjung mengangkat potensi pemain lokal menjadi kompetensi. Buktinya, dalam segala event internasional belakangan ini, team Indonesia selalu terpuruk. Kegarangan mereka di liga tertinggi lokal yang disebut ISL (Indonesia Super League) tidak kelihatan sama sekali saat berhadapan dengan kesebelasan yang dulu dipandang sebelah mata seperti Vietnam.

Dengan mutu persepakbolaan seperti itu, ditambah pengurus PSSI yang “ngeyel” (baca: tak mau mundur walau morat-marit tanpa prestasi), sungguh menggelikan rasanya melihat niatan PSSI berambisi mengadakan piala dunia 10 tahunan lagi di Indonesia. Padahal, 10 tahun sebelum Piala Dunia diadakan di Jepang dan Korea (bahkan lebih), kedua kesebelasan itu sudah berkibar sebagai macan Asia. 10 tahun sebelum piala dunia tahun ini (bahkan lebih) Bafana-Bafana Afrika Selatan dikenal sebagai salah satu singa Afrika yang patut diperhitungkan.

Industri sepakbola Indonesia memang menggeliat, cukup hingar bingar, tapi sebatas itu saja. Tidak ada nasionalisme yang menggelora, tidak tampak profesionalisme yang menyala. Ricuh, tawuran, penerapan disiplin yang centang perenang … ya cuma ada sepenggal istilah yang cocok: carut-marut ….

fanatisme atau dorongan agresi semata?

Sungguh ironis, bangsa dengan 200 juta penduduk tidak bisa mencari 11 pemain terbaik untuk menghadapi Qatar, Australia, Singapura, Malaysia, Vietnam, bahkan Laos yang penduduknya hanya sekitar 10% atau paling banter 20%nya. Saat pasukan berkaus merah dengan logo Garuda Pancasila di dada masuk ke lapangan, rasanya … wah nasionalisme ini menyala-nyala. Tapi … begitu pertandingan mulai, dan semangat tanding para bintang domestik tadi tidak menyala-nyala … lemas juga kita yang nonton.

Pertanyaan besarnya adalah: APA YANG SALAH dengan PSSI dan persepakbolaan Indonesia? Liga domestik Indonesia dianggap sebagai salah satu yang terbaik di Asia Tenggara, tapi mana output bagi team nasional?

APA YANG HILANG dari pemain sepakbola kita? Kecerdasan, motivasi, nasionalisme, atau apa? Kenapa mereka sepertinya tidak malu selalu kalah? Hingga bisa ditebak – kalau tidak ada berita di televisi berarti kalah, tapi kalau menang pasti heboh.

Atlit-atlit kita di masa lalu tidak diguyur dengan nilai gaji yang menggiurkan, tetapi dinding mereka kaya dengan medali, piagam penghargaan, dan foto kejuaraan. Bagaimana dengan atlit Indonesia sekarang? — anda tahu sendiri jawabannya

Advertisements

Perempuan-Perempuan di Layar Kaca

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on February 6, 2010 by hzulkarnain

Nonton TV? Sudah pasti itu adalah hobi kebanyakan masyarakat kita belakangan ini. bukan Cuma di sini, tetapi juga di belahan bumi lain. Bahkan di Amerika, sebuah survey menunjukkan bahwa anak dan remaja di sana menghabiskan waktu 270 menit perhari di depan televisi – sehingga majalah TIME punya istilah Couch-Potato Generation (karena orang yang tidak punya kerjaan lain selain nonton tv disebut couch-potato). Tapi bukan itu yang ingin saya bahas di sini.

ada tak menggenapi, tak ada tak mengapa

Pertanyaan lain yang secara iseng mungkin menarik untuk dijawab adalah, apa yang membuat televisi menjadi tontonan yang menarik dan sedap dipandang? Jawabannya mungkin beragam, bisa jenis acaranya, lucu komedinya, gosipnya, dsb. Akan tetapi, pernah kita berpikir dan menilai, bagaimana sih kalau di televsi kita ini pengisinya laki-laki melulu …?

Lepas dari masalah kesetaraan gender, perempuan merupakan pemanis bisnis pertelevisian, dan membuat situasi maskulin dunia televisi menjadi lebih feminin dan cair. Mungkin sama dengan balapan F1 atau MotoGP yang maskulin, tetapi dalam tiap start selalu menghadirkan kaum hawa sebagai pembawa payung para racer.

Benarkah televisi adalah dunia maskulin? Sudah barang tentu. Gedung studio televisi dirancang untuk dioperasikan dengan efisiensi, penuh dengan benda teknis, aktivitas yang tidak mengenal waktu dan basa-basi, dan tujuan bisnis yang kompetitif. Muatan yang paling disukai di pagi hari adalah dunia maskulin juga: hard news dan olah raga. Pada prime-time beragam acara bertarung, tetapi semuanya dikendalikan oleh kaum maskulin. Perhatikan para nama crew yang berada di belakang sebuah acara yang sukses.

Akan tetapi, uniknya, acara-acara yang sukses selalu menyertakan perempuan sebagai pengisi acara. Kalau menyebutkan pembaca berita laki-laki di Metro TV, sebagai saluran berita yag mirip CNN di Amerika, mungkin orang butuh waktu untuk berpikir. Tetapi kalau diminta menyebutkan seorang presenter atau pembaca berita perempuan, justru di Metro TV banyak didapatkan dan dikenal. Salah satu favorit saya adalah Kania Sutisnawinata. Dan, kompetensi mereka sangat handal. Penyuka acara dialog di TVOne pasti tidak asing dengan Tina Talisa yang garang dalam bertanya. Dulu, SCTV punya Ira Koesno dan RCTI punya Desi Anwar.

Bukan hanya itu, sinetron, talk-show, acara gosip, semuanya bertaburan wajah-wajah cantik pengisi acara dan berita. Belum lagi bermacam-macam iklan yang beterbangan di layar kaca. Segera saja rumah-rumah produksi dibangun dan aktif mencari talent-talent baru yang fresh dan cantik.

inspiratif ...

Sebelumnya, saya menilai kaum perempuan yang beredar di layar kaca secara umum terbagi atas 2 kategori, yakni: petarung dan pemanis. Perempuan petarung adalah subjek dalam acara, sementara yang pemanis adalah objek semata.

Perempuan petarung adalah kaum hawa yang mendedikasikan dirinya untuk sesuatu yang diyakininya, memiliki kompetensi luar biasa di bidangnya, dan berjuang melalui segala rintangan untuk survive, sehingga siapapun yang melihatnya di layar kaca akan menatap dengan hormat. Oprah Winfrey yang tak perlu saya sebutkan lagi peretasinya, Desi Anwar yang saya anggap perempuan hebat pertama di pertelevisian kita di era 90-an, Kania Sutisnawinata yang membawa image perempuan hebat sebagai presenter, Meutia Hafid yang survive dalam penyanderaan di Irak, Riani Jangkaru melalui acara Jejak Petualangnya menginspirasi perempuan ke pedalaman, dan Medina Kamil yang hampir hilang saat berpetualang di Papua, adalah sedikit dari sekian banyak contoh perempuan petarung yang hebat di pertelevisian. Untuk kalangan pejabat yang menghiasi berita di media televisi, saya sangat respek pada 2 nama: DR Sri Mulyani (Menkeu kita), dan DR Siti Fadilah Supari (mantan Menkes kita).

Perempuan pemanis dihadirkan di layar kaca sebagai pelengkap, menambah cita rasa (taste) acara sehingga lebih meriah dan menarik. Mungkin bisa dianalogikan dengan hadirnya umbrella girl di lintasan, atau round girl di rng tinju. Tanpa mereka, acara itu tidak kekurangan maknanya, namun kalau ada mereka hadirin jadi sumringah. Sekalipun host cukup seorang, master of ceremony pria saja, tetapi kemudian perlu dihadirkan seorang co-host perempuan – agar acara menjadi lebih manis.

Tidak berhenti sampai di situ, pemanis ini juga bisa ditemui dalam berbagai sinetron yang menarik minat pemirsa. Lihat saja judul-judulnya yang kebanyakan nama perempuan. Nama mereka memang dipampang sebagai pemeran utama, tetapi kenyataannya? Cerita yang disajikan tidak akan jauh dari model kisah Cinderella (si Upik Abu yang baik hati bertemu dengan dan menikah dengan sang Pangeran yang tampan dan kaya).

Belakangan ini, tampaknya saya harus membuat definisi baru tentang kehadiran perempuan di layar kaca, seiring dengan munculnya acara Take Me Out dan Take Him Out Indonesia. Sampai sekarang saya belum tahu benar, kaum perempuan di sini yang mencapai jumlah puluhan, berstatus sebagai subjek atau objek? Sebagai petarung atau pemanis? Atau tidak kedua-duanya?

Saya tidak bisa menyebut mereka sebagai pemanis, karena mereka aktif dan bisa membuat keputusan sendiri. Bukan sosok dungu yang diproyeksikan mempermanis ruangan. Akan tetapi, saya juga tidak bisa menyebut mereka petarung, karena kehadiran mereka di acara ini saja seolah-olah hendak menunjukkan bahwa adalah orang-orang yang desperate dalam mencari jodoh. Padahal, seorang petarung adalah figur asertif, dan meyakini bahwa mereka memiliki potensi serta kompetensi untuk bertarung di dunia.

Saya menilai, acara ini bagai ajang pembenaran sindroma Cinderella Complex – untuk menemukan sang pangeran dengan cara cepat. Inilah yang menyebabkan saya tidak bisa menyebut mereka sebagai petarung.

Di luar sana, kaum perempuan petarung tidak dinilai berdasarkan penampilan fisik mereka, dan kecantikan adalah inner beauty yang tidak tersamar kecantikan fisik. Perempuan cantik yang juga petarung adalah bonus indah semata.

Well, saya tidak hendak men-judge-ment apapun, hanya sekedar menginginkan lebih banyak perempuan yang hadir di layar kaca sebagai petarung – tidak sekedar pemanis. Perempuan petarung akan membuat acara manis, tetapi perempuan pemanis tidak akan membuat dirinya kompeten di acara itu.

Januari yang Semarak

Posted in Sharing with tags on January 28, 2010 by hzulkarnain

CATATAN AKHIR JANUARI 2010

Alam demokrasi Indonesia menunjukkan geliatnya, dengan kesemarakan ragam warna ulah elit politik, legislatif, pelakon unjuk rasa, dan tentu saja siaran televisi. Semua tersaji dengan begitu vulgar hingga akhirnya kita sendiri jadi bingung menentukan mana yang benar dan tidak.

Mungkin memang tidak ada jawaban tentang benar dan salah tersebut, karena memang seperti itulah demokrasi.

Akhir Januari ini, tepatnya tanggal 28 Januari ini, massa akan digerakkan untuk mendemo Presiden, yang dianggap tidak berhasil dalam 100 hari kinerja kabinetnya. Pagi-pagi siaran televisi swasta nasional sudah ramai memberitakan persiapan demo yang sudah dipersiapkan sejak tanggal 27 malam. Di UI ada acara renungan, di Makassar ada acara mencegat mobil plat merah, terpasang spandung “rebut kedaulatan rakyat”, dsb. Seolah-olah para pendemo termasuk mahasiswa hendak membuat sesuatu yang besar dan signifikan.

Kalau kita melihat acara televisi yang menyuguhkan acara demo kepada pemerintah, menyuarakan ketidak puasan kepada Presiden, gugatan agar DPR lebih galak kepada pemerintah, apa yang terpikir di benak Anda?

Sebagian mungkin meng-amini pendapat sementara kelompok masyarakat tersebut, dan sependapat bahwa kinerja pemerintah memang kurang baik. Tapi saya punya pendapat berbeda! Saya katakan, ini adalah wajah demokrasi ala Indonesia, dan ini adalah bukti bahwa Presiden memegang komitmen kepada demokrasi. Saya mendapati kondisi seperti ini di jaman Gus Dur, tetapi sayangnya Gus Dur saat itu tidak punya legitimasi langsung dari rakyat seperti SBY (maksudnya tidak dipilih langsung) – sehingga harus takluk kepada DPR/MPR.

Dengan kekuatan politik dan kekuasaan terhadap militer seperti yang dimiliki SBY sekarang ini (karena beliau adalah purnawirawan militer), apalagi SBY dulu adalah perwira intelijen militer, tidak terlalu susah bagi SBY untuk meredam semua kekuatan massa itu tanpa terdeteksi langsung. Tapi, Presiden kita tidak melakukannya. Beliau hanya menjaga agar semua aktivitas itu tidak melanggar koridor perundang-undangan, dan mewanti-wanti semua anasir masyarakat agar mematuhi perundang-undangan yang disepakati bersama.

Beberapa saat setelah pelantikan kabinet, kasus Cicak vs Buaya langsung menyergap perhatian massa. Presiden akhirya harus turun tangan melalui team 8 karena kekisruhan ini melibatkan lembaga-lembaga penegakan hukum di bawah kendali pemerintah seperti: Polri, Kejaksaan, dan KPK. Puncak kasus ini adalah kembalinya kedua pimpinan KPK ke posisi semula dan lengsernya Susno Duaji dari kursi Kabareskrim Polri.

Baru reda kisruh ini, kasus Bank Century yang sudah sejak awal 2009 menjadi gonjang-ganjing namun tidak pernah tuntas, akhirnya benar-benar terangkat ke permukaan melalui Pansus Hak Angket DPR. Hak yang satu ini adalah kewenangan DPR untuk menyelidiki indikasi penyimpangan kebijakan dan langkah eksekutif.

Secara maraton – dan bahkan disiarkan langsung oleh televisi swasta nasional – team Pansus bersidang dan menghadirkan banyak saksi termasuk 2 orang yang dianggap aktor penting: Wapres Budiono dan Menkeu Sri Mulyani. Presiden sempat menolak keinginan DPR untuk menon-aktifkan mereka, karena tidak ada jalur perundang-undangan – dan akhirnya DPR juga bisa memahaminya. Suara sumbang tentang hal ini banyak mengemuka di masyarakat – karena memang seringkali kita ini latah dalam menanggapi sesuatu. Pada akhirnya, kedua aktor tersebut bisa bersaksi dengan baik – tanpa kendala sebagaimana yang ditakutkan.

Setelah saksi-saksi ahli dan eks-nasabah Bank Century dihadirkan dalam rapat Pansus, sekarang bola ada di tangan Pansus. Mereka sekarang harus membuat rumusan kesimpulan sementara berdasarkan sidang maraton selama ini. Uang rakyat sudah dipakai, jumlahnya tidak kecil, kini giliran mereka yang harus memberikan laporan terbaik kepada kita.

Dua kasus ini seperti highlighter (stabillo) yang memberi tanda bahwa kinerja SBY dalam 100 hari pertama ini tidak beres. Yang lain mengatakan bahwa segala situasi keuangan belum kondusif, hanya memikirkan ekonomi makro, dan perilaku ekonomi negara tidak menyentuh sektor riil. Entah apalagi yang jadi parameter pihak-pihak lain yang hendak mengatakan pemerintahan SBY gagal.

Mengingatkan pemerintah bahwa kinerja mereka selalu dipantau masyarakat itu perlu. Demo dan sentilan melalui DPR dan televisi kepada pemerintah akan mengingatkan eksekutif agar selalu serius menangani nasib rakyat. Sekali lagi rakyat berhak bicara, tapi pemerintah juga punya hak untuk menentukan jalan terbaik untuk kemaslahatan bangsa ini. Sebagai rakyat kita sudah memberikan amanat kita kepada bapak SBY menjadi pemimpin kita, jadi sudah sepantasnya kita mempercayainya – tanpa prasangka berlebihan.

Saya pribadi geli dengan wacana kegagalan 100 hari – bahkan lucunya yang bicara adalah segala macam doktor dan pengamat politik. Mana ada di dunia ini kinerja kabinet dinilai hanya berdasarkan 100 hari kerja saja? Di Amrik Obama juga punya program 100 hari – tapi ya tidak lantas di-judge tidak berhasil hanya karena dalam 100 hari pertama belum menunjukkan geliat yang signifikan.

Saya adalah praktisi HRD yang harus memantau masa probation karyawan dalam 3 bulan pertama. Tidak mungkin lah kita mengharapkan karyawan bisa mencetak prestasi dalam 3 bulan tersebut. Titik penilaian selama 3 bulan tersebut adalah kemampuan team work, potensi berkembang, dan kecakapan teknisnya. Kalau sudah setahun, barulah diketahui benar bagaimana kinerjanya yang sebenarnya.

Seperti sekelompok orang buta yang meraba dan memegang seekor gajah, mereka berebut mendeskripsikan gajah sesuai dengan visi masing-masing – seperti itulah analogi komentar masyarakat yang mendeskripsikan kegagalan pemerintahan SBY dalam 100 hari pertama ini.

Okelah! Bagaimanapun, ini adalah langkah pendewasaan kita semua dalam berbangsa dan bernegara. Semoga Allah senantiasa menjadikan semua perbedaan kita sebagai rahmat.

GUS DUR dalam Majalah TIME

Posted in Biografi, Sharing with tags , on January 19, 2010 by hzulkarnain

Wolfowitz, mantan Dubes AS di Indonesia

Majalah Time edisi 18 Januari 2010 menyelipkan sebuah artikel pendek tulisan Paul Wolfowitz tentang Gus Dur yang dikenal dan dikenangnya. Paul Wolfowitz dulu pernah menjabat sebagai duta besar Amerika Serikat di Indonesia, dan lancar berbahasa Indonesia.

Wolfowitz mengisahkan bagaimana ribuan orang berjajar di jalan untuk berbela sungkawa atas meninggalnya Gus Dur, bahkan banyak yang terang-terangan menangis.

Di matanya, Gus Dur bukanlah seorang manajer, sehingga dia harus lengser dari kursi kepresidenan karena desakan parlemen. Tetapi Gus Dur adalah seorang visioner, dan sebagai Presiden beliau menanamkan sebauh visi tentang Indonesia (yang merupakan negara berpopulasi terbanyak ke-4 di dunia dan berpenduduk Muslim terbesar) yang menjunjung kebebasan beragaman dan hak asasi manusia.

Yang lebih penting lagi, sebagai pimpinan spiritual yang berasal dari NU, Gus Dur selalu melawan para fanatik yang dikatakan Gus Dur “membawa Islam menjadi sebuah dogma yang tidak toleran, penuh kebencian, dan pertumpahan darah.” Gus Dur mampu mengutip Al-Qur’an dengan hati untuk membela hak semua orang untuk mengikuti hati mereka dalam urusan agama, dan secara konstan bersuara atas nama kelompok minoritas yang teraniaya sekalipun hal itu mengancam popularitasnya.

Gus Dur mengatakan ingin nisannya nanti bertuliskan: DI SINI DIMAKAMKAN SEORANG HUMANIS. Dan memang begitulah dia. Dia dicintai jutaan orang, baik Muslim maupun non-Muslim. Dia adalah seorang pemimpin yang akan dikenang oleh dunia ini.

Gus Dur yang Kukenang-2

Posted in Biografi, Sharing with tags , on January 4, 2010 by hzulkarnain

Satu dekade sebelum reformasi bergulir, nama Gus Dur mulai dikenal sebagai sosok muda NU yang fenomenal – membalikkan kesan uzur dan kolot organisasi massa di Indonesia ini. Sejalan dengan kembalinya NU ke khittah 1926, yang berarti NU tidak lagi berkiprah di dunia politik, langkah kuda Gus Dur di level akar rumput tidak terbelenggu lagi.

Di antara teman dan orang yang mengenalnya, Gus Dur adalah humoris. Bahkan Jaya Suprana menyebutnya jenius dalam humor dan joke. Menciptakan sebuah guyonan saja sudah sulit, apalagi bila banyak sekali dan kontekstual dengan jaman. Jaya Suprana mengibaratkan dengan seniman musik yang pandai menciptakan lagu atau melodi yang indah, pematung menciptakan patung dengan mudah, Gus Dur adalah seniman yang khusus menciptakan kesegaran humor dengan joke-joke yang cerdas.

Dalam sebuah guyonannya, Gus Dur pernah berceloteh:

“Kalau ada orang yang ngurusi NU sampai jam 6 sore, namanya suka NU. Kalau sampai jam 12 malam masih ngurusi NU, namanya gila NU. Lha, kalau setelah jam 12 malam masih ngurusi NU juga … namanya NU gila!”

Mungkin Gus Dur memang NU gila, karena darah ajaran NU berurat akar dan mengalir di pembuluh darahnya. Dengan berpijak pula pada segala kitab ulama yang diajarkan di seputaran Timur Tengah selama berabad-abad dan pemikiran cendekiawan non-Islam yang dibacanya di perpustakaan Kairo dan Baghdad, pola pemikiran Gus Dur sangat pluralis.

Kaum Islam konservatif seringkali tidak suka dengan cara bicara dan logika Gus Dur yang plural, dan seolah-olah meremehkan Al-Qur’an. Dalam sebuah milis yang pernah saya ikuti, dan akhirnya harus saya tinggalkan, pluralitas pemikiran Gus Dur dan tokoh-tokoh intelektual seperti Nurcholish Madjid, tidak mendapatkan tempat untuk berkembang karena kelompok ini sangat mementingkan bentuk daripada esensi.

Ketika Gus Dur mengatakan … Tuhan tidak perlu dibela! Ada orang yang marah. Padahal memang sebenarnya siapa sih kita yang menganggap layak untuk membela Tuhan – yang sama dengan hendak mengatakan bahwa Tuhan tidak maha perkasa dan berkuasa. Sebenarnya, Gus Dur hendak mengatakan bahwa ada urusan yang memang harus diurusi manusia, dan ada urusan yang merupakan hak prerogatif Allah yang selayaknya tidak diurusi manusia.

Dalam sebuah wawancara, Dorce yang belum lama berganti kelamin menanyakan perihalnya kepada Gus Dur – karena memang banyak kontroversi di sekitar perubahan jenis kelamin ini. Dorce bercerita, Gus Dur hanya bertanya:

Apa sampeyan nyaman dengan kondisi sekarang?(Dorce meng-iyakan), dan Gus Dur melanjutkan, jalankan saja kehidupan dengan baik. Biarlah yang lain terserah penilaian Allah.

Dengan bertindak dan berpikir sebagai manusia, kemudian memanusiakan manusia lainnya, serta tidak bertindak sendiri atas nama Tuhan, manusia telah menjadi dirinya sendiri. Nasihat utamanya kepada Yenny Wahid saat pernikahan pun serupa, yaitu pesan untuk menjunjung tinggi kemanusiaan, dengan cara memanusiakan manusia lain. Hak asasi manusia, kemanusiaan, dan persamaan derajat adalah ciri khas Gus Dur, yang ditinggikan oleh sementara kalangan, dihormati oleh banyak tokoh, namun justru mendudukkan dirinya setara dengan orang biasa.

Egaliter, perasaan dan kedudukan yang setara dan sederajat, itulah kesan orang pada Gus Dur. Siapapun dia, tidak perduli pangkat dan jabatannya, dianggapnya sama dan setara. Penghormatan yang perlu dilakukan hanya karena seseorang lebih tua atau lebih berilmu saja. Oleh karena itu, Gus Dur tidak pernah rikuh duduk bersama dengan rakyat biasa, bahkan konon sering menginap di rumah teman lamanya yang jauh dari kemewahan. Tidak mengherankan, rakyat biasa mengidolakan dirinya, karena menganggapnya sosok biasa yang bersinar di kalangan elite.

Ketika terjadi ketidak adilan, kemudian ada proses marginalisasi seseorang atau sekelompok orang, Gus Dur akan berdiri di depan. Kasus Inul yang dihadang pedangdut senior lainnya, Dorce yang berseberangan dengan sementara ulama, Konghucu yang tidak dianggap agama, masalah orang Papua yang tidak pernah selesai, semua menjadi agenda aktivitas Gus Dur.

Tak mengherankan, saat menjabat Presiden, ada 2 agenda yang langsung diselesaikannya: mencabut aturan yang membatasi aktivitas sosial budaya dan keagamaan kaum Tionghoa, dan memulai langkah rekonsiliasi dengan rakyat Papua. Irian Jaya dihapus, diubah menjadi Papua. Papua juga memperoleh status otonomi khusus, sekalipun banyak tantangan dalam mewujudkannya.

Sebenarnya, tidaklah berlebihan bila ada yang beranggapan bahwa Gus Dur adalah sosok langka yang sulit digantikan. Bahkan di antara saudara dan kerabatnya tidak ada yang cukup pantas sebagai penggantinya. Tak berlebihan pula orang menasbihkannya sebagai guru bangsa, karena pluralitas berpikirnya sejalan dengan nuansa merah-putih bangsa ini. Bangsa ini besar dan kaya ragam, sehingga membutuhkan ulama Islam yang pluralis, dan mampu mendudukan manusia yang beragam tersebut setara.

Semoga kepergian Gus Dur untuk selama-lamanya ini memberi tanda bahwa semua masalah tentang hak asasi manusia akan selesai, semua ketidak setaraan menemukan solusinya, kemudian orang Islam sudah mau menerima merah-putih di halamannya, serta menjadikan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Semoga….semoga …..

Tahun yang Dramatis

Posted in Sharing with tags on January 2, 2010 by hzulkarnain

Renungan akhir tahun 2009

Fase 5 tahunan membuat tahun 2009 akan sangat dikenang. Duka, gembira, dan drama silih berganti menghiasi tahun ini.

Secara kenegaraan dan kebangsaan, tahun ini adalah tonggak demokrasi yang terpancang dengan benar. Sebuah fase kepresidenan 2004 – 2009 selesai dengan baik, diikuti Pemilu legislatif dan Pemilihan Presiden yang aman, hingga terpilihnya kembali SBY secara mutlak untuk periode kepresidenan yang kedua. Elit politik boleh berkoar, dan oknum tertentu atau bahkan LSM boleh saling menggunakan kekuatan massa untuk black campaign, tapi rakyat Indonesia sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap politik.

Sekali lagi Indonesia berhasil mengukirkan namanya sejajar dengan negara demokrasi besar dunia, karena pluralitas etnis, suku, agama, pekerjaan, tidak pernah menjadi dasar untuk bersengketa apapun perbedaan tersebut. Dengan peringkat jumlah penduduk ke-4 terpadat di dunia, bentuk negara yang bekepulauan, kesenjangan ekonomi dan kondisi sosial budaya, cukup normal bila bangsa ini sulit diatur. Tapi tidak demikian kenyataannya. Bahkan para kampiun demokrasi di Amerika Serikat memuji kondusif-nya keamanan Indonesia sepanjang masa kampanye, hingga selesainya Pilpres 2009.

Tahun 2009 adalah tahunnya Partai Demokrat, karena berhasil mendongkrak suara legislatif secara fenomenal hingga di atas 20%. Kesolidannya mengimbangi bahkan akhirnya mengalahkan partai lama yang sudah mapan seperti Golkar dan PDI Perjuangan. Koalisi Demokrat dan beberapa partai kecil yang tidak mau berada di bawah sayap Golkar maupun PDI Perjuangan bahkan membuat dominasi lebih dari 50% kursi legislatif – sebuah fenomena langka di masa demokrasi terbuka seperti sekarang ini. Tidak berenti sampai di situ, sosok Jenderal (purn) Susilo Bambang Yudhoyono yang diusung koalisi Demokrat untuk kursi kepresidenan ternyata menang mutlak atas 2 rivalnya – hanya dalam 1 putaran pilpres. Suara rakyat adalah suara Tuhan … bila rakyat telah menentukan itulah yang dikehendaki Allah atas bumi Indonesia ini.

Ekonomi Indonesia ternyata bisa bertahan dari segala bentuk krisis yang telah mendatangkan kesulitan di negeri Paman Sam. Orang boleh menghujat Sri Mulyani dan Budiono yang dianggap sebagai pendukung neolib, tetapi tanpa peran keduanya sebagai menteri dan otoritas Bank Indonesia, belum tentu Indonesia mempunyai skema yang bagus untuk menahan laju inflasi. Hingga akhir tahun 2009, laju inflasi Indonesia bahkan terhitung paling rendah dalam dekade terakhir.

Deru dan gemuruh demokrasi silih berganti menghiasi layar kaca, berkaitan dengan beberapa kasus yang sebenarnya tidak baru sama sekali. Sebelum Pemilu dan Pilpres kasus-kasus tersebut sudah ada, tetapi tidak mencuat. Kita ingat soal ketua-ketua KPK yang entah disengaja atau tidak dikait-kaitkan dengan kasus kriminal lain, yang tidak ada hubungannya dengan penyalahgunaan kekuasaan mereka. Bila Antasari Azhar terlanjur masuk bui dan diproses, sekalipun masalahnya sampai sekarang masih belum jelas benar, ketua yang lain sempat “diselamatkan” oleh Presiden melalui pidato himbauannya. Ketetapan pemerintah akhirnya mengembalikan Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah kembali ke posisi semula.

Yang temasuk paling heboh di tahun ini adalah penerapan undang-undang baru tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang nyaris menjerat Prita Mulyasari ke dalam bui (sekalipun sebelumnya dia sudah mencicipi dinginnya ruangan sel sebagai tahanan kejaksaan). Begitu naifnya cara pandang dan kerja aparat kejaksaan sehingga bunyi sebuah undang-undang yang netral menjadi jerat hukum yang ganas bagi kita orang awam yang kurang paham hukum.

Ketika kasus tersebut maju ke pengadilan tinggi Banten, dan prita terancam denda sebesar 204 milyar, rakyat Indonesia seperti diguncang. Sekelompok simpatisan menggerakkan sisi kemanusiaan anak bangsa, dengan mengumpulkan recehan (uang koin) untuk disumbangkan pada sang ibu muda tersebut. Efek domino menyeruak dengan cepat, hingga ke pelosok negeri. Dalam waktu yang relatif singkat, nilai nominal mendekati 1 milyar berhasil dikumpulkan – entah berapa sebenarnya nilai riil yang berhasil dikumpulkan, karena ada beberapa sumbangan yang tertutup dari pejabat atau tokoh masyarakat.

Bencana, itu pula yang terjadi di tahun ini. Bila 5 tahun lalu gempa dasar laut menyebabkan tsunami di Aceh, kini gempa tektonik juga yang menggoyang kota Padang hingga nyaris rata dengan tanah. Beberapa daerah di Sumatra Barat bahkan seperti terhapus dari peta karena lenyap di telan longsor. Mudah-mudahan hanya kebetulan saja bencana besar ini terjadi berselang lima tahun – dan tidak terjadi lagi seperti itu.

Beberapa tokoh berpulang ke rahmatullah tahun ini. Orang mungkin masih ingat meninggalnya Sophan Sophiaan yang cukup tragis, di kala ia hendak mengkampanyekan kesatuan Indonesia agar tidak terbelah menjelang Pemilu. Mbah Surip yang berlalu seperti komet juga pasti akan dikenang orang – tua, bersinar, melintas, lalu hilang. Tak lama berselang, pujangga fenomenal yang dikenal dengan sebutan sang burung merak WS Rendra juga wafat.

Kunci dari semua kisah di tahun ini adalah meninggalnya Gus Dur, seorang ulama yang negarawan, dan yang dihormati oleh banyak orang, namun masih menuai kritik dari sebagian orang yang justru adalah Islam. Sebagian orang mengatakan, kehadiran Gus Dur terlalu cepat bagi Indonesia – karena sungguh tidak banyak orang yang bisa memahami jalan pikiran beliau. Mungkin bangsa ini tidak akan sama lagi tanpa Gus Dur yang fenomenal – dengan semua kecerdasannya, kondisi fisiknya, dan kontroversi pemikirannya, justru dialah pilihan DPR-MPR pertama untuk menduduki kursi kepresidenan.

Satu dekade hampir usai di millennium ke-3, dan di majalah Time tampaknya belum ada kesepakatan tentang nama yang pantas diberikan untuk menyebut 2000. Apapun itu, yang nyata adalah tantangan di depan.

SELAMAT TAHUN BARU 2010.

Lingkaran Bingung KPK, POLRI, Kejagung

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on December 1, 2009 by hzulkarnain

Catatan akhir November 2009

 

Gara-gara celetukan sang perwira Polri (yang sekarang sudah dilengser) … “Cicak kok mau melawan buaya …” istilah cicak dan buaya untuk menyebut KPK dan Polri menjadi jargon khas perseteruan kedua lembaga penegakan hukum tersebut.

plesetan yang "kena"...

Awalnya, sang perwira kebakaran jenggot (walaupun dia tidak berjenggot) ketika tahu KPK telah menyadap teleponnya berkenaan dengan dugaan keterkaitan dengan kasus Bank Century. Dari sana kemudian bergulir dugaan kriminalisasi petinggi KPK (saya tidak akan menyebut kriminalisasi KPK – karena sebenarnya yang dicoba untuk dikriminalkan adalah ketua-ketuanya), yang berawal dari testimoni Antasahari Azhar.

Setelah permainan bergulir, dengan melibatkan pula banyak advokat “selebritis” yang kondang dan sering muncul di layar televisi, kasus pun semakin membingungkan orang yang mengikutinya. Masing-masing pihak mengemukakan versi kebenarannya sendiri, dan menyudutkan pihak lain. Lebih ramai lagi, media massa memihak ke salah satu kubu, bundaran HI tak lelah menjadi saksi demo saling dukung, dan televisi menggelontorkan berbagai ragam berita, wawancara, dan opini tentang perseteruan “sang cicak” melawan “sang buaya”.

Karena kedua kubu berada di bawah koordinasi RI-1, rakyat meminta Presiden menengahi. Presiden kita yang selalu berhati-hati dalam setiap tindakan membuat beberapa petinggi partai tidak sabaran. Menurut mereka, sebenarnya Presiden bisa saja dengan mudah menengahi dan membuat ketetapan, karena toh keduanya di bawah sayapnya.

Apakah semudah itu?

Jawabannya YA, kalau negara ini mau bergerak dari alam republik yang demokratis ke republik yang totaliter. Jawabannya TIDAK, kalau kita masih menginginkan trias politika dijalankan dengan konsekuen: fungsi eksekutif, legislatif, dan yudikatif bermain di arenanya masing-masing.

Untunglah SBY terbiasa menangani kondisi krisis, sehingga ia menemukan cara untuk mengulur waktu sambil menenangkan massa, di saat banyak hal harus dipikiran dan diendapkan. Dibentuklah Tim 8 dari Dewan Pertimbangan Presiden yang bertugas mencari data dan fakta tentang kasus “cicak” vs “buaya” tersebut. Sederet nama besar menerima amanat Presiden untuk bekerja sebagai perpanjangan tangannya, yaitu: Adnan Buyung Nasution (ketua), Koeparmono Irsan (wakil), Denny Indrayana (sekretaris), Anies Baswedan, Todung Mulya Lubis, Amir Syamsudin, Hikmahanto Juwana, dan Komaruddin Hidayat.

Pasti ada alasan yang signifikan sehingga Presiden melibatkan beberapa elemen di dalam tim 8 tersebut, bukan hanya para praktisi hukum, seperti teknokrat, politisi, dan mantan polisi. Dalam forum perbincangan dengan The Jakarta Lawyers Club yang diselenggarakan oleh TV-One, seorang lawyer rupanya tidak puas dengan pelibatan unsur non-praktisi hukum. Jauh sebelumnya, saat baru pertama dibentuk, banyak sekali skeptisme terhadap tim ini. Bahkan sebelum tim ini bekerja, dan belum jelas cara kerjanya. Begitu seseorang bersuara di layar kaca, budaya latah muncul lagi … semua orang merasa benar dan berani mengomentari kinerja tim 8 ini.

Setelah tim 8 bekerja, respek pun datang, dan banyak pihak yang berharap temuan dan rekomendasinya akan dilaksanakan oleh Presiden. Saya sudah menduga, Presiden tidak akan mempergunakan semua rekomendasi tim 8, karena beberapa indikasi sudah terlontar. Misalnya, wacana bahwa rekomendasi bukan keharusan untuk dilaksanakan, Presiden akan mengoleh rekomendasi tersebut, dsb. Apalagi, dalam rekomendasi tersebut, sadar atau tidak, telah meminta Presiden selaku eksekutif menyeberang ke ranah lain (yudikatif) – yang selama ini berusaha dihindarinya.

Justru bunyi pidato SBY yang cenderung netral sudah saya duga sebelumnya. Selama ini SBY dikenal moderat dan tidak suka pada pemikiran ekstrim, sehingga wajar bila Presiden tidak memihak pada salah satu lembaga, dan mencoba adil pada semua lembaga di bawahnya: Kepolisan, KPK, dan Kejaksaan Agung. Presiden dengan tegas tidak akan mencampuri proses hukum yang berlaku. Di sisi lain, sekalipun Presiden hanya menghimbau agar proses kedua Ketua KPK (Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah) tidak sampai ke pengadilan, tetap saja ujungnya adalah intervensi.

Seorang pengamat politik dalam sebuah perbincangan dengan Metro TV mengatakan, sekalipun Presiden mengatakan dengan eksplisit tidak akan intervensi, bagaimana mungkin himbauannya pada akhirnya tidak mempengaruhi keputusan Kapolri dan Jaksa Agung? Faktanya, Polri dan Kejagung yang sebelumnya yakin kasus Bibit-Chandra layak maju ke pengadilan, akhirnya membuat keputusan sebagaimana yang diamanatkan oleh Presiden – membebaskan Bibit-Chandra.

Bukan hanya itu, kembali sebagaimana amanat Presiden, Polri langsung melakukan mutasi perwira. Kejaksaan Agung lebih lambat dalam melakukan aksi, dan kiprah KPK belum diketahui. Menkominfo yang baru – Tifatul Sembiring – menegaskan akan membuat aturan untuk penertiban sadap menyadap yang selama ini membuat KPK seperti sebuah super body.

Episode Bibit-Chandra telah memasuki tahap akhir, dan lepas dari puas atau tidaknya semua pihak dengan intervensi Presiden, semoga lembaga-lembaga penegakan hukum segera bisa kembali berkolaborasi dan bersama-sama kembali mengikis korupsi di muka bumi Indonesia. Episode Antasahari belum juga kelar, sekalipun menurut saya kasusnya jadi semakin aneh. Banyak yang dipaksa-paksakan sebagaimana kasus Bibit-Chandra.

Rakyat Indonesia sudah menunggu, bagaimana kelanjutan kasus-kasus panas yang sekarang sedang bergulir – terutama kasus Bank Century yang diduga melibatkan banyak pejabat. Perlahan-lahan gunung es korupsi mulai menampakkan bagian yang selama ini tersembunyi. Kita harus akui bahwa negeri ini masih pekat dengan korupsi, namun saya yakin kebenaran akan menampakkan diri, dan dengan perlindungan dari Tuhan semua keburukan akan terkalahkan.