Archive for December, 2008

Menjadi Tua dan Tidak Bahagia

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags on December 31, 2008 by hzulkarnain

 

menjadi tua adalah kodrat, bagaimana persiapan kita?
menjadi tua adalah kodrat, bagaimana persiapan kita?

Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (QS. Al-Baqarah 266)

 Akhir minggu yang lalu, saya menengok seorang Bude (kakak dari Ibu) yang sudah sepuh terbaring di ruang perawatan intermediate di sebuah rumah sakit di Surabaya. Lanatran bukan kelas utama, dalam bangsal tersebut ada sekitar 10 tempat tidur yang semuanya sudah terisi, semuanya sudah cukup lanjut (minimal tengah baya), dan bercampur laki-laki dan perempuan. Di sebut dengan ruang intermediate karena sifatnya masih semi-intensif (pasien yang lepas dari ICU untuk sementara ditempatkan di sana). Dalam keadaan berbaring dengan infus di salah satu tangan, Bude juga mengenakan masker oksigen untuk melapangkan pernafasannya yang terganggu.

Di ruangan yang tidak seberapa luas itu, suara-suara dan pemandangan orang-orang berusia lanjut yang tengah menderita membuat saya miris, sekaligus mensyukuri nikmat kesehatan yang belum diambil kembali oleh Yang Punya. Cara Allah mengambil kembali nikmat itupun bermacam-macam dengan cara yang tidak kita duga. Seorang pasien menderita karena kekeliruan dalam penanganan gejala penyakit, yang lain lagi kekeliruan konsumsi obat, sementara Bude menderita degenerasi pada ginjal sehingga ada kemungkinan harus menjalani cuci darah (hemodialisis).

Keluarga Bude (Pakde masih ada, beliau adalah pensiunan dosen di Unair, dan hingga 10 tahun-an yang lalu masih mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta) mempunyai 5 orang anak, 2 di antaranya perempuan. Yang bungsu saja sudah berusia 35 tahunan. Semuanya ada di sekitar Surabaya. Semuanya tidak memiliki kemampuan ekonomi yang bisa diandalkan, sekalipun 3 di antaranya adalah sarjana.

Memperoleh uang senilai 1 juta saja, untuk pembiayaan pengobatan Bude, sungguh sulit diupayakan kelima bersaudara tersebut – sekalipun ditanggung bersama.

Sungguh petikan ayat dari Suratul Baqarah tersebut di atas menggambarkan kondisi yang dihadapi kerabat saya itu.

Sejak muda, saya dan keluarga Bude terbilang sangat akrab, karena salah satu putra beliau seusia dengan saya, dan kami sering main bersama. Saya masih ingat, bagaimana rasanya berada di rumah Bude yang berhalaman belakang cukup luas, dengan aroma canda yang renyah (bahkan kadang agak keterlaluan). Hidup terasa ringan, santai, karena penghasilan Pakde sebagai dosen dan peneliti yang lumayan cukup untuk menopang gaya hidup tersebut. Kehidupan dan gaya hidup keluarga tersebut sebenarnya tidak mewah, bahkan cenderung bersahaja. Tidak lantas tiap hari makan berlauk daging, bahkan acapkali sarapan yang tersedia hanya tempe goreng dan sambal bawang. Cozy, leisure, atau indiscipline, mungkin itu gambaran yang lebih memadai.

Rumah adalah tempat untuk pulang, seperti cangkang keong atau kura-kura yang memberikan perlindungan tiap kali ada bahaya. Sehingga, alih-alih menerjang tantangan hidup yang keras, berdiam di rumah adalah pilihan yang lebih menyenangkan. Para sepupu di sana seperti lepas dari etos kerja yang produktif, sekali lagi karena merasakan kenyamanan dalam menjalani hidup sehari-hari.

Karena agama tidak menjadi panduan utama dalam menjalani kehidupan, sulit menegakkan prinsip Islam dalam keseharian mereka. Bagaimana mulai menjelaskan kandungan Al Qur’an bila sepotong buku agama saja tidak ada di sana. Kakak sepupu yang sudah saya kenal dua puluh tahun lebih, lebih kurang sama dengan yang saya jumpai minggu kemarin. relax, dan indiscipline. Nyaris tidak ada perubahan, nyaris sama useless-nya. Ketiga kakak sepupu yang laki-laki semuanya tidak bisa menghasilkan uang yang cukup dari keringat tangannya sendiri, mengingatkan pada tanaman jenis epifit di sebuah pohon.

Di masa tuanya, di usia yang sudah sekitar 70 tahunan, Pakde dan Bude belum bisa tenang juga duduk santai, karena setiap hari harus memikirkan sekurangnya 1 anak dan 4 cucu yang bergantung pada mereka, karena tidak bisa bergantung pada orang lain.

Ketika kebun kurma dan anggur masih melimpahkan hasil, sebaiknya kita sudah memikirkan yang terbaik bagi anak-anak kita. Bukan memberikan mereka anggur dan kurma tiap hari, melainkan justru membawa mereka ke kebun untuk melihat dan bekerja bersama para penggarap. Anggur dan kurma bisa habis atau busuk. Kebun ribuan hektar bisa lenyap dalam semalam. Tapi rasa syukur nikmat dan ilmu akan menjadi warisan yang tak akan lekang dimakan masa.

Sayangnya, orang tua sering lupa bahwa kasih sayang mereka yang tiada cela, bila tidak cermat dalam cara memberikan, justru akan menyebabkan anak-anak mereka menjadi beban di hari tua. Terlalu protektif, menyebabkan anak tidak mandiri. Terlalu sayang, membuat anak tidak kenal sopan santun. Pada ujungnya, anak yang merasa terlalu nyaman dengan kondisi rumahnya, tidak menemukan tantangan yang perlu diselesaikan, akan menumpulkan daya juang mereka untuk membentuk pribadi yang lebih baik.

 CATATAN TERAKHIR 2008

31 Desember 2008 / 22:56 WIB

12 Emosi Negatif Penghambat Kemajuan

Posted in Kontemplasi, Psikologi on December 23, 2008 by hzulkarnain
kecemasan perlu diatasi

kecemasan perlu diatasi

 

Dari tulisan Patricia Patton, yang menulis tentang aspek dalam kecerdasan emosional, saya menemukan 12 konsep emosi negatif yang harus ditinggalkan bila kita ingin berkembang.

Tentu saja, tidak ada hal yang mudah dalam kehidupan ini, apalagi sisi negatif emosi yang sering kita rasakan kebanyakan telah menjadi bagian kehidupan – artinya bila ingin meninggalkannya berarti harus melakukan beberapa perubahan dalam kehidupan.

 

Ke-12 emosi negatif tersebut adalah:

1.  Cemburu

Cemburu sebenarnya berintikan rasa iri. Iri terhadap sesuatu yang dimiliki orang lain, yang pada akhirnya akan membatasi kemampuan kita untuk melihat apa yang kita miliki sendiri. Cemburu hanya akan menyebabkan kita gagal melihat potensi dalam diri kita. Sikap ini menempatkan orang lain sebagai obyek rasa frustrasi. Ketika kita cemburu, kita menjadi tidak terbuka, membenci dan sulit untuk bertindak apa adanya.

Islam mengingatkan umat Islam tentang iri hati sbb: Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain,  bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita  ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nisa 32)

2.  Perasaan Tidak Aman

Setiap orang memiliki wilayah rasa aman, yang ditandai dengan rasa nyaman dan kita enggan meninggalkannya. Orang Jawa mengekspresikannya dengan istilah “nrima” (menerima), yang bermakna, seolah-olah apa yang diterima atau dimiliki sekarang ini sudah final dan tidak mungkin bertambah baik lagi. Keluar dari wilayah ini hanya akan menimbulkan rasa tidak aman.

Rasa tidak aman dapat mencegah kita mencoba hal baru dan menghalangi peluang untuk sesuatu yang bermanfaat bagi hidup kita. Kita menarik diri dari segala sesuatu yang akan menjauhkan kita dari area yang aman atau yang menyenangkan. Ini sangat menghambat perkembangan kita sebagai seorang individu. Topeng yang sering dipakai untuk menutupi rasa tidak aman ini adalah agresivitas yang berlebihan. Sikap ini menghambat komunikasi dengan orang lain dan mempersulit untuk bisa santai dan menikmati keberhasilan.  

Rasulullah adalah contoh utama manusia yang meninggalkan kenyamanan, kehidupan makmur bersama Siti Khadijah, karena melaksanakan perintah Allah. Bukan hanya beliau, termasuk juga para sahabat: Abu Bakar As-Shidiq dan Usman Bin Affan yang kaya, Umar Bin Khaththab dan Ali Bin Abi Thalib yang terpandang, semua keluar dari zona rasa aman mengejar impian yang lebih besar. Mengejar mimpi seharusnya menjadi bagian dari kehidupan.

Mengutip ucapan Mario Teguh dalam salah satu episode Golden Ways-nya: Jadilah pejuang bagi impianmu, sebelum kau menjadi narapidana bagi semua penyesalanmu.

3.  Dengki

Level yang lebih tinggi dari iri hati dan cemburu adalah dengki. Dengki bermuatan kemarahan, bahkan dendam kepada seseorang hanya karena rasa iri yang mendalam, sekalipun tanpa sebab yang jelas. Memendam perasaan dengki dapat menyumbat sistem emosi kita dengan cara yang tidak konstruktif. Memendam rasa dengki sama dengan menumpuk perasaan marah karena merasa bahwa dunia ini tidak adil, hanya berpihak terus menerus pada orang-orang yang sama, sehingga orang yang dengki akan gagal total menilik potensinya sendiri. Kehidupan ini rasanya hanya berisi sedikit kumpulan tulisan nasib buruk, dan terasa menyengsarakan.

Islam mengkategorikan pendengki sebagai kekufuran, karena tidak bisa menerima perbedaan karunia Allah pada tiap-tiap orang. Firman Allah berbunyi: Alangkah buruknya  mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya  kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah  kemurkaan . Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. (QS Al Baqarah 90)

4.  Kebencian

Tidak menyukai orang lain adalah hal yang biasa terjadi pada seseorang. Bila bersifat akumulatif, dan meningkat dari waktu ke waktu, mungkin karena terus menerus bertemu, rasa tidak suka yang wajar mungkin akan berubah menjadi kebencian.

Emosi yang satu ini bersifat stress, sehingga dapat menyebabkan masalah kesehatan, sekaligus pada saat yang sama membuat orang yang pandai sekalipun tampak bodoh.   Bagaimana bisa? Karena membuat sang pembenci kehilangan objektivitas dalam berpikir dan mengambil keputusan. Apapun yang dilakukan oleh orang yang dibenci membuat sang pembenci tidak suka, mempengaruhi motivasi kerja, dan sangat subjektif.

Islam mengingatkan kita untuk bersikap dan menilai segala hal dengan objektif, dan memupuskan kebencian karena kita tidak tahu hakikat yang ada di baliknya. Kutipan dari QS Al Baqarah 216 sbb: … Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi  kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

5.  Tidak Menghargai Diri Sendiri

Coba tanyakan pada orang yang anda kenal, apa kelebihan yang ia banggakan? Apa kelemahan yang harus ia perbaiki? Lihat bagaimana ia menjawabnya.

Dari pengalaman sebagai seorang interviewer, kedua pertanyaan pendek dan sederhana tersebut cukup sulit dijawab, khususnya oleh mereka yang tidak terbiasa berkontemplasi. Seringkali, pada ujungnya muncul jawaban, orang lain lebih bisa melihat kelebihan (atau kekurangan saya). Ini menunjukkan bahwa secara umum kita ini lemah pada daya apresiasi pada diri sendiri. Kemampuan kita mengapresiasi orang lain seharusnya tidak seobjektif apresiasi pada diri sendiri, atau dengan kata lain, kita baru bisa mengapresiasi orang dengan objektif bila kita sudah bisa berbuat demikian pada diri sendiri.

Lemahnya penghargaan pada diri sendiri yang kronis bisa berwujud menyalahkan diri sendiri atas segala sesuatu yang (sebenarnya) berada di luar jangkauan, memandang orang lain sebagai sumber permasalahan dan membiarkan keadaan yang dapat menurunkan harga diri. Perasaan ini membatasi kita untuk berkembang, meremehkan diri sendiri, dan menganggap orang lainlah yang menghancurkan hidup Anda. Tidak menghargai diri sendiri membuat Anda tidak mau memikul tanggung-jawab dan mengambil tindakan.  

Dalam Surat At Tiin (ayat 4) Allah telah memberitahukan kita bahwa, manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Allah yang menciptakan dan memperindah wujud manusia, dan semua hal yang berkenaan dengan nasib adalah rahasia di sisi Allah. Jadi, Islam mengingatkan kita agar tetap istiqomah.

6.  Kecemasan

Stress dalam porsi yang wajar dan normal berperan penting dalam produktivitas manusia. Akan tetapi, stress yang akumulatif, bereskalasi, dan tidak diatasi, bisa berubah menjadi kecemasan. Kecemasan bisa jadi datang tanpa pemicu, dan hal yang dicemaskan pun tidak jelas. Kecemasan merupakan pangkal ketidak produktifan manusia.

Emosi yang ini sangat melemahkan. Membuat Anda jauh dari kedamaian dan ketenangan. Perasaan ini tidak membebaskan Anda menjadi diri sendiri. Pikiran yang terbelenggu kecemasan dapat menghalangi pikiran rasional untuk bertindak secara efektif. Orang yang cemas bahkan lupa hal sederhana, seperti nomor telepon sendiri.

Seharusnya, kecemasan merupakan hal terakhir yang diidap oleh kaum muslimin, karena kita memiliki tuntutan berupa shalat dan sabar. Dalam Al baqarah 153 disebutkan: Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu , sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.  

7.  Depresi

Depresi juga merupakan suatu bentuk akumulasi stress, dan biasanya terpicu oleh sebuah kondisi yang spesifik seperti dukacita, hambatan yang seolah-olah tidak pernah berhenti, atau gelombang cobaan yang bertubi-tubi. Orang yang memahami bahwa dirinya sedang mengalami depresi (dengan mengenali gejala-gejalanya) akan berusaha untuk mengatasinya, dan meletakkan kehidupannya di jalur yang seharusnya. Dunia adalah permainan, dan ada masa manusia mengembalikan segala kesulitan pada sang pemilik kehidupan. Bisa jadi, manusia justru lebih produktif setelah tenggelam dalam lautan penderitaan.

Sayangnya, sementara orang tidak mengenali bahwa dirinya mengalami depresi, bahkan berusaha menyangkalnya. Kecintaan pada dunianya yang melebihi kecintaan pada Allah dan akhirat-Nya telah membutakan mata batin mereka. Orang seperti ini akan sulit bangkit dari keterpurukannya, karena kunci menjadi diri yang lebih baik adalah penerimaan diri, dan mengerti bahwa sekalipun manusia diciptakan dalam bentuk terbaik, ia hanyalah setitik debu.

Islam mengingatkan: Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka  yang terbaik perbuatannya (QS Al Kahfi 7).

8.  Kemarahan

Sebuah emosi negatif yang akrab pada hampir semua orang adalah kemarahan. Kemarahan terjadi kala harapan tidak bertemu dengan realitas, dan frustrasi yang timbul tidak tersalur dengan benar, hingga mengakibatkan ledakan. Kemarahan sebagai ujung emosi yang tidak terkendali, pada umumnya bersifat destruktif. Oleh karenanya, manusia perlu mengenali akar sebab sebuah kemarahan dan mengendalikannya bila muncul. Sebuah kemarahan yang terkendali bisa menjadi dasar konstruktif perbuatan seseorang, karena bentuknya bukan pelampiasan melainkan penyaluran.

Menahan amarah adalah sebuah kebajikan yang disukai Allah. QS Ali Imran 133-134 berbunyi: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang menafkahkan , baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan  orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

 

9.  Kejengkelan

Hati-hati dengan situasi emosi yang satu ini, karena letaknya yang berada di “perbatasan”. Jengkel atau kesal bisa mengindikasikan banyak hal, seperti kemarahan, kebencian, perasaan tidak aman, dan berbagai hal lain, yang semuanya bersifat destruktif. Oleh karena itu, bila perasaan ini timbul kenali sebabnya, atasi, dan bentuk perubahan yang bersifat konstruktif ke masa depan.

10.  Rasa Bersalah

Manusia yang normal selalu memiliki rasa bersalah, dengan takaran yang wajar. Rasa bersalah muncul setiap kali ia melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan oleh norma sosial dan agama. Hal yang positif dari rasa bersalah adalah memicu kesadaran untuk mengubah apa yang kita perbuat atau katakan. Selebihnya, rasa bersalah merupakan perasaan yang tidak bermanfaat. Perasaan bersalah menghalangi kita untuk mencoba sesuatu yang baru dan memungkinkan kita dimanfaatkan oleh orang lain dengan perasaan bersalah yang kita miliki, untuk mencapai tujuannya.  

Yang harus dilakukan agar rasa bersalah tidak melebihi takaran, adalah mengetahui bahwa manusia adalah tempatnya lupa, khilaf, dan keliru. Kesalahan bisa terjadi, namun sebagai mahluk yang berakal budi, hendaknya tidak jatuh dalam lubang yang sama lebih dari sekali.

11.  Rasa Malu

Rasa malu digariskan oleh Allah untuk dimiliki oleh manusia, dalam takaran yang wajar. Secara konstruktif, malu adalah pengendali manusia agar tetap berjalan sesuai dengan norma sosial dan agama. Malu bersifat personal, dan orang lain tidak mudah meniliknya.

Namun demikian, rasa malu yang berlebihan justru menjadikan orang tidak kreatif, rendah diri, bahkan merasa tidak berharga.

12.  Penyesalan

Penyesalan adalah buah perilaku yang seharusnya bisa dihindari, namun terlanjur dilakukan. Padahal masa lalu adalah tempat terjauh yang mustahil untuk didatangi. Akibatnya, ketika terjadi hal yang tidak diinginkan, penyesalan muncul sebagai buah masa lalu.

Penyesalan yang sesuai dengan takaran, dan dijadikan cambuk pengingat, bisa konstruktif. Namun demikian, penyesalan yang berlarut-larut akan destruktif pada hal yang bisa dilakukan di masa depan. Cara terbaik untuk menyikapi penyesalan adalah dengan memusatkan perhatian pada apa yang dapat Anda lakukan. Kuncinya adalah merelakan semuanya. Kemudian mencari kesempatan yang baru di masa mendatang.   

 

Berhenti Menyalahkan, Hidup untuk Masa Depan

Posted in Kisah, Sharing with tags on December 20, 2008 by hzulkarnain

forgiving expands the future

forgiving expands the future

Beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah situasi yang membuatku harus menilik kembali semua hal yang telah terjadi.

Di rumah sakit, ketika menjenguk kerabat yang mengalami kecelakaan, saya duduk-duduk di teras ruang perawatan wanita setelah menyapa si sakit, agar tidak terlalu berdesakan di dalam. Kami agak bebas berkunjung di luar jam kunjungan resmi, karena berada di wilayah ruang perawatan kelas 1. Di seberang tempat saya duduk, ada seorang remaja putri keturunan Tionghoa bersama seorang perempuan yang saya kira adalah Ibunya. Di dahi dan tangan  remaja berusia belasan (paling banyak dua puluhan) itu ada bekas memar dan luka yang dibalut. Saya tidak begitu memperhatikan, dan asyik dengan koran sore yang sengaja saya beli di luar tadi. Saya hanya menangkap kecemasan di wajahnya.

Tak berapa lama kemudian, dua orang remaja seusianya datang bergegas dari arah lift. Mereka langsung menghampiri remaja di depan saya dan berpelukan. Mata saya mulai beralih dari koran pada kejadian di hadapan saya.

“Kamu nggak pa-pa, Lina? Aku tadi waktu dengar kamu kecelaakaan langsung lemes. Soalnya, kata Yeni, mobilnya hancur.”

Lina hanya menggeleng, air matanya berurai. Katanya,”Aku nggak apa-apa. Cuma perlu jahitan di dahi, dan tangan ini aja agak ngelupas.”

“Kamu sama Siska, katanya? Bagaimana dia?”

Lina tersedu. Ibunya menenangkan gadis itu. Saya lihat kedua temannya itu juga mulai berkaca-kaca.

“Siska langsung meninggal. Bagian mobil yang hancur di sebelah kiri depan, pas di mana Siska duduk,” Ibu Lina menjelaskan.

Kedua gadis itu mulai menangis, seraya menyebut teman mereka yang sudah tidak ada itu. Ibu tadi kemudian menjelaskan kronologi kejadiannya. Rupanya, Lina yang duduk di depan saya itu bersahabat dengan seorang gadis lain yang bernama Siska, yang tinggal bersama dua saudaranya di wilayah real estate besar di Barat Surabaya. Orang tua Siska, yang merupakan pengusaha besar, tinggal di basis bisnisnya di Balikpapan. Pagi itu, adik Siska yang berusia 17 tahun baru selesai kursus mengemudi  bermaksud memamerkan kemahirannya pada kedua kakaknya. Kebetulan, Lina yang pagi itu mampir, di ajak sekalian jalan-jalan.

Masih menurut cerita Ibu Lina, Yona (adik Siska yang mengemudi) sudah cukup terampil dan tidak ada masalah. Sedan yang mereka tumpangi juga bagus. Naas terjadi ketika Yona berusaha menyalip angkot di depannya, dan dalam kecepatan tinggi itu, salah satu ban depan meletus sehingga mobil tidak terkendali dan berakhir dengan menghunjam pohon asam di pinggir jalan. Yona mengalami patah tangan, Siska yang duduk di kursi depan terjepit pohon dan langsung meninggal, sementara Virly (kakak Siska) yang duduk di belakangnya patah kaki.

Setelah kejadian itu, Lina baru ingat bahwa ban yang meletus itu adalah ban cadangan yang bukan tubeless. Siska lupa menggantinya lagi dengan ban tubeless yang selesai ditambal, karena siang kemarin buru-buru berangkat kuliah. Padahal ban cadangan itu juga tidak dalam kondisi yang prima. Sebuah kelalaian yang berujung maut.

“Mamanya Siska sudah tahu?”

“Ini Papanya Lina sedang menjemput mereka di Juanda.”

Belum lama Ibu Lina bicara, dua laki-laki tengah baya, seorang perempuan berusia setara, dan seorang anak berusia 10 tahunan tampak dari arah lift. Mata perempuan itu sembab, sementara salah seorang laki-lakinya berwajah seperti tersaput mendung tebal. Asumsiku mereka adalah orang tua Siska.

Lina berdiri dengan wajah cemas dan takut, bercampur sedih yang tidak terhingga. Ibu Siska mendatangi Lina dan memeluknya, yang dibalas Lina dengan pelukan yang lebih erat.

“Kamu nggak apa-apa kan, sayang?” Suara Ibu Siska berdesah dalam, tapi jelas terdengar.

“Aku nggak apa-apa Tante, tapi Siska ….” Lina tidak bisa meneruskan kata-katanya.

“Ssst, sudah Lina. Tante sudah tahu.” Dipeluknya Lina sekali lagi dengan erat.

“Lina, terima kasih telah menjadi sahabat terbaik Siska, ya sayang.” Ibu Siska lalu mencium pipi Lina kanan-kiri seperti anaknya sendiri, dan itu membuat Lina semakin deras meneteskan air mata.

Saya terperangah! Tidak ada sama sekali kata-kata yang menyesalkan meninggalnya Siska. Tidak ada sepenggal katapun yang menyalahkan Yona atau siapapun yang mengakibatkan meninggalnya Siska. Bahkan tak sepenggal desahan yang menyesali kepergian Siska yang terlalu cepat. Ayah Siska pun hanya mengangguk-angguk, tersenyum, dan mencium kening Lina layaknya anaknya sendiri.

Ketika semuanya masuk ke ruang perawatan, tempat Yona dan Virly di rawat, saya termangu sendiri, dengan bekas yang mendalam.

Beberapa saat kemudian, Ayah Lina keluar dan duduk-duduk seperti saya, karena di dalam pasti cukup penuh. Saya mendekatinya untuk mencari tahu situasinya. Yang saya ingat, dia berkata demikian:

“Pak Tanu adalah sedikit dari orang yang mampu mencapai pemahaman tentang esensi hidup. Baginya kematian adalah sebuah proses yang alami, apapun penyebabnya, sebab setiap orang akan mati – cepat maupun lambat. Ia pernah kehilangan seorang anak laki-laki beberapa tahun yang lalu, dan sekarang kehilangan anak perempuan. Keduanya telah menjadi bagian dari sejarah kehidupannya, tak lebih. Baginya, lebih penting untuk memperhatikan anak-anaknya yang hidup daripada meratapi yang telah dipanggil kembali oleh Sang Pencipta.

Ia tidak akan pernah menyalahkan siapapun atas kematian anak-anaknya karena itu semua adalah garis takdir. Prinsipnya: Menyalahkan tidak akan mengubah segala yang sudah terjadi, tapi menerima dan memaafkan akan memperluas masa depan.”

Sekalipun ilmu menghadapi hidup ini saya terima dari seorang non-Muslim, kebajikan dan kebijaksanaan adalah ilmu yang universal.

 

TIPS

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags on December 16, 2008 by hzulkarnain

 

barokahnya rizki

barokahnya rizki

Pernah suatu ketika, enam – tujuh tahun yang lalu, saya terhenyak oleh celetukan seorang tukang becak yang saya tawar “harga keringatnya”: “Alaah Pak …, wong cuma selisih 500 perak!”

Sentakan ini timbul kebali setelah saya membaca sebuah inspirasi di sebuah milis yang saya ikuti.

Dalam perenungan saya, muncul bayangan-bayangan dari masa lalu. Kalau mau naik becak, saya menawar. Harga sepakat setelah tawar menawar, katakanlah 4 ribu perak, itulah nilai yang akan diterimanya nanti. Saat naik angkot, saya akan melihat pengumuman tarif jauh-dekat, let’s say Rp. 2000. Nilai itulah yang saya bayarkan pada kenek atai sopir. Kalau mau angkat barang di stasiun, layanan portir kita tawar seminim mungkin, dan itulah yang akan diterimanya nanti.

Sudah lazim kita idak pernah memberikan uang tips kepada penarik becak, sopir bemo, bajaj, portir di stasiun, dsb.? Sementara banyak di antara kita yang terbiasa memberikan uang tips kepada sopir taxi atau bell boy di hotel.

Ironis, kita cenderung merelakan selisih 1000 bahkan hingga hampir 5000 pada sopir taksi – sedemikian mudahnya. Kita juga tidak terlalu keberatan melepaskan 5000 perak pada pembawa barang kita hingga ke kamar hotel. Orang jarang mengeluh saat diberi kembalian berupa permen di Supermarket, tapi coba kalau hal itu dilakukan oleh penjual sayuran di pasar basah!

Padahal, siapa sebenarnya yang lebih butuh tambahan 1000 rupiah – tukang becak atau sopir taksi? Bell boy di hotel atau portir di terminal? 100 perak bagi Mbok Yem yang jualan sayur sangat penting, dibandingkan dengan pengusaha supermarket, tentunya.

Apakah kita melakukan pemborosan dengan memberikan uang tips kepada pemberi jasa, atau tidak menawar pada tukang becak?

Pertanyaan yang kemudian melintas adalah, apakah yang ingin kita capai dengan memberi atau tidak memberi uang tips?

Mungkin kita mencoba mengapresiasi kenyamanan yang ditawarkan taksi atau supermarket, dengan cara memberikan uang tips. Akan tetapi, lambat laun kita menjadi terbiasa untuk tidak berpikir saat nyaman, dan mempersoalkan kenyamanan sekalipun sudah dikompensasi dengan harga barang atau jasa yang murah.

Semua orang sudah pasti menginginkan keuntungan dalam hal perniagaan dan jasa. Karena itulah, seorang penjual atau pemberi jasa mematok harga yang sudah memberikan profit bagi dirinya. Di sisi lain, pembeli atau pemakai jasa berusaha menghemat pengeluaran dengan menawar ke harga terpantas.

Tanpa menyudutkan gender, biasanya kaum Ibu paling bangga bila berhasil menawar harga seketat mungkin. Bagi kaum laki-laki, mencari selisih yang kisarannya tidakbegitu signifikan seringkali tidak bisa dipahami. Memang, yang namanya kepuasan tidak bisa dinilai dengan nominal uang. Di sisi lain, kaum laki-laki tidak sedemikian mudah bercerai dengan tiap keping atau lembar rupiah kembalian, karena bisa dirupakan sebagai batangan rokok.

Kita semua pasti pernah merasakan kebaikan seorang penjual kue, servis ganti oli, pangkas rambut, dsb. Tiba-tiba, ibu penjual kue memberikan tambahan sepotong kue karena kita beli 10 biji (orang Jawa bilang: di-imbuhi – ditambahi). Waktu ganti oli, ternyata pemilik bengkel menyuguhi sebotol teh Sosro dingin. Waktu pangkas rambut, eh … ternyata, setelah leher pegal karena harus duduk tegak selama dipangkas, tukang pangkasnya memijat pundak dan belakang leher sebagai bonus. Apa yang kita rasakan? Gembira pasti. Memang bonus dari penjual atau pemberi jasa adalah semacam taktik penjualan, agar pelanggan loyal dan puas. Ada hal yang dihitung di luar perhitungan profit sekarang, yaitu kesinambungan profit. Bagaimana dengan kita sebagai pelanggan?

Seringkali saya termenung memandang uang 1000 rupiah di tangan, hasil kembalian sesuatu. Nilai ini tidak besar, biasa kita lihat, dan bahkan bisa tergeletak di manapun. Kalau pas kebetulan beli makanan di resto fastfood nilai ini sama sekali tidak berarti. Tapi seberapa mau kita mengulurkan uang itu pada pengemis pertama yang kita jumpai? Ataukah kita lebih suka menyimpannya di dashboard mobil untuk ongkos parkir?

Dalam Surat Al Ma’aru 19-21, Allah berfirman tentang nash manusia: Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.

Sungguh dari ayat ini saya bisa bercermin dan memahami bahwa sulit menyedekahkan harta benda adalah hakikat manusia, siapapun itu. Jadi, betapa besar upaya orang untuk bisa lepas dari nash yang sedemikian ini. Tapi bagaimana caranya?

Kelanjutan surat ini adalah: kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang  yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa, dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.

Pernahkah anda berhenti untuk memperhatikan apa yang dilakukan oleh seorang pengemis tulen (yang benar-benar mengemis karena tidak ada lagi yang bisa dikerjakan) saat menerima 1000 atau 2000 rupiah dari anda? Kebanyakan pengemis yang saya temui biasanya akan mengucapkan doa untuk kita. Mungkin kita bisa bahkan biasa menyepelekan makna doa mereka, sementara kita tidak tahu doa siapa yang akan dikabulkan oleh Allah Swt.

Saya ingat sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang indah: Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis . Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.(QS Al Baqarah 265)

Balasan dari Allah yang tidak terhingga atas semua belanja kita demi mencari ridha-Nya adalah kebarokahan atas rizki. Mungkin dari tahun-ke tahun, pendapatan kita tidak banyak beringsut, namun sangat ajaib bila ternyata rizki kita yang hanya sedemikian itu telah menjadi pintu rizki pula bagi orang lain yang kita sayangi (keluarga, kerabat, teman). Barokah adalah rumusan yang tidak dikenal oleh akuntansi dan budgetting, namun ia sungguh ada, bisa kita rasakan, dan semoga menjadi jalan kesyukuran kita lebih jauh. 

Psikotes

Posted in Psikologi, Sharing with tags on December 12, 2008 by hzulkarnain

chalkboard

Adik ipar saya beberapa hari lalu sempat bertanya: Mas, apa arti “overprotektif” dalam tes IQ? (Tes IQ kok ada “overprotektif”?)

Saya tanya lebih jauh: Siapa yang di tes?

Adik Ipar saya menjawab: Itu Rara (anak adiknya yang berusia lima tahunan).

Saya: Di mana tes-nya?

Adik Ipar: Di sekolah.

Saya: Bareng-bareng atau sendiri-sendiri?

Adik Ipar: Nggak tahu, wong yang ngadakan sekolah. Ya itu, hasilnya IQ-nya 106 terus ada keterangan overprotektif.

 

Saya mengeluh dalam hati. Di masa sekarang ini, ketika bisnis pendidikan semakin berkembang, masih banyak pula psikolog yang tidak mempergunakan kode etik dengan benar. Di sisi lain, pihak sekolah rasanya juga terlalu ambisius melakukan pengukuran psikologi (psikotes) pada anak-anak pra sekolah secara sembrono. Tentu saja, keuntungan materi adalah hal yang diburu.

Melakukan pengukuran pada anak-anak tidak pernah mudah, dan selama aktivitas saya di bidang ini (sebelum saya memutuskan untuk sepenuhnya mengurus SDM di perusahaan), mengukur kecerdasan anak-anak adalah hal terakhir yang mungkin saya lakukan. Bukannya tidak bisa, tetapi tidak biasa dan banyak trik yang perlu dikuasai agar anak-anak mau bekerja sama.

Kalau tes kecerdasan pada anak-anak dilakukan secara klasikal (bersama-sama dalam ruang kelas), saya hampir yakin hasilnya tidak akan optimal, kecuali psikolognya sudah mengeleminasi semua faktor yang menyebabkan pengukuran tidak efektif. Hal ini saya ragukan, karena sejauh yang saya tahu, budaya ilmiah seperti ini belum banyak dibangun oleh komunitas praktisi psikologi (mungkin kecuali yang di kampus).

Tes kecerdasan dan bakat untuk anak biasanya berupa paket battery, dan diterapkan secara individual. Petikan alat tes tersebut bisa saja diterapkan secara klasikal, namun sekali lagi perlu penyesuaian dan pengkajian secara ilmiah (termasuk statistika penghitungan normanya).

Yang mengganggu saya adalah penggunaan angka sebagai parameter IQ untuk laporan pada orang tua anak-anak pra-sekolah tersebut. Ketika dalam buku laporan disebutkan bahwa IQ seorang anak adalah 106, tanpa ada penjelasan lebih jauh, apa yang dipahami oleh orang tua? Apa arti 106, bisa sampai kemana anak dengan IQ seperti itu? 

Pada dasarnya, level IQ adalah range atau menyerupai kontinum – bukan sesuatu yang diskrit. Oleh karena itu, konsultan biasa menuliskan dalam laporan: kecerdasan si X beroperasi di level menengah atas. Jadi, bila sekarang seseorang di-tes IQ ternyata berskor 106 (anggap saja semua prasyarat dan kondisi orang yang bersangkutan baik, dan psikolog yang melakukannya juga dengan cermat), kalau suatu saat di tes lagi kecerdasannya mungkin tidak tepat di 106 tetapi tidak akan lebih dari 110 atau kurang dari 100. Nah, orang tua murid sekolah seharusnya diberikan pengertian mengenai hal ini.

Bayangkan sikap orang tua yang tidak memahami kondisi ini, ketika melihat skor IQ anaknya yang 106 dibandingkan dengan skor anak lain yang tidak pintar-pintar amat namun skornya adalah 109. Keduanya beroperasi di level yang sama, sehingga boleh dikatakan tidak berbeda.

Yang menjadi masalah di Indonesia adalah taraf pemahaman pengguna jasa pengukuran psikologi, karena memang edukasi yang kurang memadai, sementara pihak konsultan juga merasa tidak perlu memberikan edukasi. Satu di antaranya, karena menganggap orang awam tidak perlu paham terlalu banyak seluk beluk psikologi. Atau mereka juga tidak paham, karena tidak memiliki kapabilitas pengetahuan sebagaimana yang dituntut.

Yang lebih menyedihkan adalah perangkat pengukuran kepribadian yang seringkali dipaksakan untuk anak-anak. Katakan tes DAM (draw a man) dan HTP (house-tree-person) agar anak tidak perlu membaca dan menulis, tapi hanya menggambar. Pada dasarnya tes grafis tersebut untuk menilik adakah kecenderungan klinis subjek, namun sekarang kegunaannya sudah banyak bergeser untuk kepentingan yang lebih luas. Itulah sebabnya, hasil laporan yang didasarkan pada tes grafis juga cenderung klinis: kurang percaya diri, agresif, menarik diri, hingga yang saya singgung di atas; overprotektif.

Adik ipar saya jadi kebingungan, karena anak yang disebut overprotektif tadi besar bersama nenek dan tantenya, sementara orang tuanya bekerja sampai sore. Bahkan menurut saya perlakuan semua orang justru cenderung serba boleh. Dia sangat disayang karena masih cucu catu-satunya, tapi sejauh yang saya tahu memang tidak pernah mengalami kungkungan proteksi yang berlebihan.

Saya yakin, apa yang dialami oleh adik ipar saya tersebut bukan satu-satunya. Masih sangat banyak kasus orang tua yang bangga ketika tahu anaknya “di-psikotes” tapi sama sekali tidak paham apa sebenarnya yang terjadi. Bagi pembaca blog saya, ingin saya membagikan beberapa tips sebagai berikut:

  1. Tiap pengukuran psikologis seharusnya menempatkan anak sebagai subjek. Artinya, tes tersebut bukan menempatkan profit sebagai subjek, sementara anak hanya objek penderita yang menjadi sarana. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menanyakan:
    • Bagaimana tes dilakukan. Bila diadakan secara klasikal (bareng-bareng dalam satu kelas), tanyakan bagaimana kontrol pada anak yang mungkin sedang tidak siap (bad mood, tidak serius, dsb). Tesnya meliputi apa saja, berapa lama dilakukan (1 jam sudah terlalu lama bagi anak pra-sekolah).
    • Apakah akan diadakan sesi tanya jawab dengan psikolog, karena ini penting untuk mengupas semua ketidak mengertian.
  2. Apapun hasil psikotes yang telah diadakan, jangan ragu atau sungkan untuk berkonsultasi dengan psikolog yang melakukan tes. Sekalipun sekolah telah menyediakan sesi tanya jawab sekitar hasil psikotes, luangkan waktu untuk memuaskan segala ketidak mengertian pada sang konsultan secara pribadi. Umumnya, untuk 1 – 2 sesi tanya jawab tambahan saja (asal yang berkaitan dengan tes yang dilakukan) psikolog akan menyediakan waktu – sekalipun tidak full 1 jam.
  3. Jangan pernah menganggap hasil psikotes sebagai harga mati! Pertama, kemungkinan error bisa terjadi, sehingga hasil tes tidak benar-benar mencerminkan diri sang anak. Kedua, anak-anak yang masih berusia sekolah dasar, apalagi pra-sekolah, masih sangat labil dan mudah sekali dibentuk. Dengan pola pengasuhan dan bimbingan yang tepat, hasil psikotes kemarin mungkin tidak akan ada maknanya 2 – 3 tahun lagi. Anggap saja hasil psikotes tersebut sebagai parameter dimensi kecerdasan dan kepribadian anak, tapi tidak perlu dianut 100%.
  4. Selama anak-anak kita bertumbung kembang normal, tidak perlu terobsesi melakukan pengukuran psikologis pada diri mereka, kecuali sebatas menilik minat dan bakat mereka saja. Tiap anak selalu punya gugus bakat yang belum tampak, sehingga bila memang belum tampak bisa saja dimintakan bantuan pada ahlinya. Itupun harus pada psikolog yang biasa menangani anak-anak dan memiliki battery khusus pengukuran tersebut.
  5. Terakhir, dunia praktik psikologi (sebagaimana kedokteran) memiliki kode etik, sehingga penting bagi klien untuk sedikit tahu dan jangan pernah ragu mempertanyakan pada psikolog anda bila menangkap indikasi malpraktik.

 

 

Untungnya Hidup Bukan Fiksi Ilmiah

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on December 5, 2008 by hzulkarnain

kembali ke masa lalu

Memutar ulang kehidupan, mungkinkah?

Herdian Zulkarnain

Ada dua hal yang saya gemari sejak dulu, di samping hobi utama lainnya, yakni membaca cerita atau menonton film fiksi ilmiah dan bermain PC games.

Dari sekian banyak kisah dalam fiksi ilmiah, yang paling mengusik pikiran adalah time travel. Di akhir 70-an, ada sebuah film seri di TVRI yang cukup di gemari saat itu, berjudul Time Tunnel. Pertengahan tahun 80-an, ada sebuah film yang berjudul Back to the Future yang laris hingga dibuat berseri. Konsepnya hampir sama, yaitu kemampuan akal manusia dalam menciptakan alat guna menembus ruang dan waktu, sehingga memungkinkan orang untuk memperbaiki kondisi buruk di masa kini dengan cara membuat sebuah perubahan di masa lalu.

Sekalipun bisa kembali ke masa lalu, orang harus tetap berhati-hati agar tidak menimbulkan paradoks. Misalnya, orang bisa kembali ke jaman purba, dan di sana dia membunuh seekor kupu-kupu. Kematian seekor kupu-kupu di masa itu bisa memutus sebuah rantai makanan, dan mungkin akan menyebabkan musnahnya sebuah spesies penting di masa sekarang, bahkan lebih jauh lagi mungkin kita ini tidak berbentuk seperti sekarang. Ketika di masa lalu tanpa sengaja orang membunuh seekor kucing, mungkin saja kelak ada seorang pembunuh berantai yang lahir karena ketiadaan kucing tersebut. Demikian seterusnya.

Saya selalu bertanya dalam hati, apa yang terjadi bila manusia benar-benar bisa melakukan perjalanan menembus ruang dan waktu?

Sejak punya PC sendiri di pertengahan 90-an, yang kala itu masih ber-OS DOS, saya mulai suka bermain games. Hampir semuanya games 2 dimensi, karena mesin hardware maupun software masih jauh dari kapabilitas 3 dimensi. Ketika sudah mulai mengoperasikan OS Windows 98, saya punya games favorit yaitu games strategi Civilization, Colonization, dan games yang berjudul Fall Out dan Baldur’s Gate.

Dalam games, kompleksitas dunia seolah-olah bisa dipecah-pecah dalam berbagai segmen, untuk kemudian dimasukkan ke dalam judul dan tema yang berbeda-beda. Muncullah berbagai genre games antara lain: Adventure (yang menekankan petualangan, dialog dan penyelidikan), action (yang menekankan pada aksi individual mencapai skor, atau memenangkan turnamen), dan RPG – role-playing games (yang menekankan pada petualangan dan pembentukan kompetensi dan kepribadian karakter). Tentu saja masih ada beberapa percabangan lainnya sebagai percampuran genre-genre tersebut.

Apa yang paling mengasyikkan dari permainan video game?

Dalam pengamatan saya, point penting yang membuat sebuah video game atau PC game membuat kebanyakan orang betah di dalamnya adalah kemampuan untuk saving, reload atau replay.

Saving, reload atau replay membuat alam games benar-benar menjadi dunia maya yang aman dan bisa dinikmati. Tidak ada resiko, karena ada garansi koreksi kesalahan. Kalau gagal, kalah atau mati, ada garansi bisa kembali ke level sebelum melakukan aksi (selama tidak lupa nge-save), dan merencanakan kembali aksi yang kalah tadi. Bahkan dunia yang sedang dimainkan saja bisa dengan mudah dihentikan (aborted) untuk dilanjutkan atau disudahi seterusnya.

Saya selalu bertanya dalam hati, apa yang terjadi bila kehidupan ini bisa di-save, untuk kemudian di reload atau replay bila menghadapi kondisi yang tidak baik?

Ada sebuah benang merah kesamaan mesin waktu dengan video games? Keduanya memungkinkan orang kembali ke masa lalu!

Apa konsekuensi positif  orang bisa kembali ke masa sebelumnya? Manusia tidak harus berpikir sebelum bertindak, karena toh ada peluang untuk melakukan koreksi dengan cara kembali ke masa lalu atau melakukan replay.

Lalu, apa ada konsekuensi negatifnya? Bayangkan betapa kacaunya kehidupan ini bila manusia bisa kembali ke masa lalu untuk mengoreksi kesalahan yang dilakukannya. Betapa banyak kejahatan yang berulang, dan agama tidak lagi memiliki nilai karena manusia tidak lagi memiliki ketakutan moral akan masa depan. Mungkin ada yang kembali untuk menjadi diri yang lebih baik, namun betapa banyak yang kembali untuk mencari keuntungan demi dirinya sendiri.

Mungkin kalau saya yang dari masa depan kembali ke masa sekarang, kemudian mengabarkan kondisi di jamannya, saya tidak lagi sama dengan saya yang sekarang. Mungkin lebih termotivasi, atau jadi jauh lebih apatis. Roda kehidupan menjadi centang perenang karena tiap individu tidak lagi menjalankan kehidupannya secara normal.

Bagaimana kalau orang bisa pergi ke masa depan? Apa sih yang sebenarnya ingin diketahui orang di masa depan? Kalau masa depannya sudah dia ketahui, bagaimana anak cucunya telah menyebar ke pelosok dunia telah dilihatnya, perubahan lingkungan hidup juga sudah dirasakan, apalagi? Ya, ujungnya orang ingin tahu ramalan tentang datangnya hari kiamat!

Untungnya dunia bukanlah fiksi ilmiah, apalagi video games!

Manusia boleh mengimpikan apapun, termasuk mencita-citakan berbagai hal yang secara prerogatif sebenarnya adalah kekuasaan Allah, namun keteraturan dunia dan seisinya adalah keniscayaan yang digariskan oleh Allah Swt. Manusia adalah tempatnya lupa dan khilaf, sehingga hanya sedikit saja ilmu yang Allah berikan pada kita agar kita selalu merendahkan hati, merundukkan diri, bersyukur, dan berzikir.

Allah hanya mengijinkan seorang saja umat manusia mengarungi ruang dan waktu, dan menempuh lautan ilmu hingga menembus tahta langit ke tujuh. Dialah Rasulullah Muhammad Saw. Dalam satu semalam, beliau telah melihat Masjidil Aqsa yang berjarak ribuan kilometer dari Mekkah, bahkan oleh Jibril ditunjukkan semua rahasia masa depan yang bahkan tidak pernah dilihat oleh Rasul dan Nabi lain semasa hidup mereka, yaitu kehidupan di surga dan neraka.

Allah telah puka berfirman tentang saat kiamat, dalam QS Thahaa 20: Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.

Dengan melihat nikmatnya surga dan pedihnya neraka, Rasululah menjadi gamblang menjelaskan apa yang baik dan tidak bagi kehidupan di akhirat kelak. Bagi Rasulullah Saw, surga telah menjadi jaminan, namun karena beliau adalah baginda rasul bagi umat Islam, dan Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, tiada kenal lelah beliau menjaga kaumnya dari siksa neraka kelak, dan berusaha mengajak kaum kafir memeluk Islam yang telah diridhoi oleh Allah Swt.

Islam tidak mengenal konsep reinkarnasi, dan menyebut masa lalu sebagai tempat yang paling jauh, karenanya tidak mungkin didatangi. Agama yang sempurna ini senantiasa mengajari umatnya untuk berpikir sebelum bertindak. Penyesalan memang selalu datang terakhir, ketika segala hal telah terjadi dan tidak bisa dikoreksi.

Karena kehidupan ini tidak bisa di-save, di-reload atau replay, dan manusia juga tidak diperkenankan kembali ke masa lalu untuk melakukan koreksi, penting bagi umat Islam untuk selalu bertanya pada diri sendiri sebelum bertindak: Allah ridha atau tidak?

Berpikir sebelum bertindak, karena kita adalah mahluk dengan akal. Berzikir ketika melangkah, karena kita harus meminta ridha Allah; dan memohon ampunan bila telah selesai karena kita adalah tempat khilaf; serta bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah, sekalipun kita hanya beruntung bisa hidup sehelaan napas lagi. Bila kita sudah berhati-hati dalam menentukan langkah, insyaallah langkah kita lebih ringan.

Kalaupun ada kekeliruan, wajar! Manusia yang tangguh bukanlah yang bisa menahan pukulan terkeras, namun yang mampu selalu bangkit tiap kali tersungkur. Untuk mencoba lagi, untuk membuktikan jati dirinya sebagai mahluk Allah termulia.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(QS. Al Hadiid 20)

Mematuhi Hati Nurani

Posted in Kontemplasi, Psikologi with tags on December 1, 2008 by hzulkarnain

 

heart

inikah sumber nurani

Kira-kira pertanyaannya seperti ini: Bagaimana kita tahu bahwa pilihan yang kita lakukan benar?

Sebenarnya, secara teori psikologi, ada banyak cara untuk menjawab hal ini akan tetapi tidak akan membumi. Mario Teguh lebih memiliki aplikasi praktis yang dekat dengan keseharian manusia Indonesia: kereligiusan.

Mario Teguh menjelaskan bahwa, dalam struktur tubuh manusia ada sebuah sistem yang disebut dengan hati nurani. Hati nurani selalu memberikan alarm terhadap sikap dan tindakan yang kita ambil. Hati nurani selalu berbicara, kapanpun kita akan membuat pilihan sikap dan perbuatan. Akan tetapi, hati nurani bisa berhenti bicara! Hati nurani bisa berhenti bicara bila kita selalu mengabaikannya. Karena itu, dalam akhir sesi Golden Ways Mario Teguh mengajak audiens untuk mematuhi hati nurani, dan lihat apa yang terjadi.

Saya teringat sebuah sesi kuliah sewaktu masih berstatus mahasiswa Psikologi Unair Surabaya. Dosen psikologi humanistik saya, melontarkan sebuah pertanyaan yang tidak pernah di jawabnya: Kapan manusia benar-benar bebas?

Seperti kita tahu, manusia selalu terikat dengan kehidupannya. Ketika bangun pagi, seorang Muslim yang taat memaksa dirinya bangkit dari ranjang yang hangat untuk berbasah dengan air dingin, berwudhu untuk sholat yang hanya 2 rakaat. Ini ikatan pertama yang terjadi begitu bangun. Setelah itu, ia harus sarapan untuk bergegas pergi mencari penghidupan, sebagai karyawan, polisi, penarik becak, sopir angkot, atau apapun itu. Selama di jalan dan di tempat kerja, serenceng aturan wajib dipatuhi bila tidak mau terkena sanksi. Bagi muslimin, ada lagi kewajiban shalat Dhuhur dan Ashar di sela-sela jam kerja. Seusai kerja, seorang eksekutif muda memaksakan diri ke gymnasium untuk mencairkan lemak, atau mungkin kongkow-kongkow dengan rekan bisnis, atau bagi yang lain mencari penghasilan tambahan, atau langsung pulang karena anak minta ditemani bikin pe-er.

Kehidupan terus berlangsung, hari demi hari, dan tanpa terasa sebenarnya manusia terikat dengan norma sosial serta berbagai peraturan hidup. Seolah-olah ada jalur koridor yang dibentengi dinding kokoh di kanan kiri yang memaksa manusia menjalani koridor tersebut hingga ujung. Setelah di ujung, apa yang kemudian terjadi?

Dari bertahun-tahun perenungan, mungkin saya menemukan jawabannya. Jawabannya hanya sebuah kata, namun itu bukan kata yang mudah: PILIHAN. Dalam jalur takdir dan nasib, ada banyak sekali persimpangan atau percabangan. Kita sering menemui persimpangan itu, namun jarang sekali merasakan adanya persimpangan dan percabangan tersebut.

Contoh: Ketika bangun pagi, orang dihadapkan pada pilihan mau shalat subuh atau tidak. Kalau tidak mau, mau terus tidur atau tidak. Kalau tidak, mau  … dst.

Mau nyampai kantor tepat waktu atau tidak. Kalau mau, naik taksi atau usaha nebeng teman. Kalau mau nebeng, si A atau bukan. Kalau mau nebeng si A, harus …. dst.

Mau terus kerja di kantor ini atau tidak. Kalau tidak, mau pindah kerja atau tidak. Kalau mau pindah kerja, ke perusahaan sejenis atau tidak. Kalau tidak … dst.

Lebih tajam lagi, sebenarnya manusia selalu HANYA dihadapkan pada 2 pilihan utama. Seorang teman menyangkal, katanya bisa saja orang punya 3 bahkan hingga 5 pilihan. Saya katakan, prioritas pada akal sehat kita dan hati nurani kita selalu menempatkan sebuah pilihan tertinggi. Prosesnya adalah: mau memilih opsi di prioritas pertama atau tidak? Kalau tidak, mau prioritas ke dua atau tidak? Demikian terus hingga menemukan jawaban. Di luar prioritas 1 dan 2, sebenarnya hanyalah alternatif yang dibuat oleh otak kita untuk menenangkan kecemasan.

Saat harus memilih, manusia memiliki kebebasan hakiki sebagai manusia. Di sinilah persimpangan penting yang menentukan ikatan seperti apa yang kemudian akan membelenggunya. Di sini pulalah hati nurani berbicara untuk menjaga langkah kita dari kesesatan. Apakah hati nurani tidak mungkin keliru? Hati nurani tidak terjadi seketika, karena pada dasarnya seluruh norma agama dan sosial kemasyarakatan tempat kita dibesarkan telah secara bersama-sama menjadi pondasi suara nurani yang kokoh.

Bahkan lebih jauh, asumsi saya yang masih perlu dibuktikan, hati nurani adalah qolbu yang merupakan bagian dari fitrah manusia. Karena dituntun sendiri oleh “The Ultimate Being” Allah Swt, hati nurani seharusnya tidak akan salah, kecuali manusia mengabaikannya demi sesuatu yang tidak hakiki:

QS. Al A’raaf 179 menyebutkan:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami  dan mereka mempunyai mata  tidak dipergunakannya untuk melihat , dan mereka mempunyai telinga  tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Seorang atheis sekalipun bisa merasakan kebenaran hati nurani sekalipun dia tidak mengenal figur tuhan, karena nilai Illahiah yang diperkenalkan oleh Allah Swt bersifat universal. Seorang muslim adalah individu yang harus mengimani hal-hal gaib (Allah, rasulullah, malaikat, takdir, dsb), karenanya sudah sewajarnya bila kita lebih peka pada hati nurani yang berbicara.

Ketika hati nurani terus diabaikan dan akhirnya dia berhenti berbicara, sebenarnya apa yang terjadi?

Dengan indah Al-Qur’an mendeskripsikannya sebagai hati atau mata-hati yang terkunci, seperti dalam QS. Al Jatsiyaah 23:

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah . Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

 

Mungkin pertanyaan dosen saya sekian tahun yang lalu sebenarnya memang tidak mempunyai jawaban, karena bagaimana pun manusia tidak akan terlepas dari kefitrahannya sebagai figur ciptaan Sang Maha Pencipta. Artinya, dalam kondisi harus membuat pilihan yang terbebas sekalipun, hati nurani yang membawa pesan moral religius serta norma-norma sosial yang universal tetap berusaha memagari. Manusia tidak akan pernah 100% menjadi individu yang bebas.

Jadi, saya sepakat dengan Mario Teguh, patuhilah suara hati nurani dan perhatikan apa yang terjadi.