Archive for December, 2008

Menjadi Tua dan Tidak Bahagia

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags on December 31, 2008 by hzulkarnain

 

menjadi tua adalah kodrat, bagaimana persiapan kita?
menjadi tua adalah kodrat, bagaimana persiapan kita?

Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (QS. Al-Baqarah 266)

 Akhir minggu yang lalu, saya menengok seorang Bude (kakak dari Ibu) yang sudah sepuh terbaring di ruang perawatan intermediate di sebuah rumah sakit di Surabaya. Lanatran bukan kelas utama, dalam bangsal tersebut ada sekitar 10 tempat tidur yang semuanya sudah terisi, semuanya sudah cukup lanjut (minimal tengah baya), dan bercampur laki-laki dan perempuan. Di sebut dengan ruang intermediate karena sifatnya masih semi-intensif (pasien yang lepas dari ICU untuk sementara ditempatkan di sana). Dalam keadaan berbaring dengan infus di salah satu tangan, Bude juga mengenakan masker oksigen untuk melapangkan pernafasannya yang terganggu.

Di ruangan yang tidak seberapa luas itu, suara-suara dan pemandangan orang-orang berusia lanjut yang tengah menderita membuat saya miris, sekaligus mensyukuri nikmat kesehatan yang belum diambil kembali oleh Yang Punya. Cara Allah mengambil kembali nikmat itupun bermacam-macam dengan cara yang tidak kita duga. Seorang pasien menderita karena kekeliruan dalam penanganan gejala penyakit, yang lain lagi kekeliruan konsumsi obat, sementara Bude menderita degenerasi pada ginjal sehingga ada kemungkinan harus menjalani cuci darah (hemodialisis).

Keluarga Bude (Pakde masih ada, beliau adalah pensiunan dosen di Unair, dan hingga 10 tahun-an yang lalu masih mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta) mempunyai 5 orang anak, 2 di antaranya perempuan. Yang bungsu saja sudah berusia 35 tahunan. Semuanya ada di sekitar Surabaya. Semuanya tidak memiliki kemampuan ekonomi yang bisa diandalkan, sekalipun 3 di antaranya adalah sarjana.

Memperoleh uang senilai 1 juta saja, untuk pembiayaan pengobatan Bude, sungguh sulit diupayakan kelima bersaudara tersebut – sekalipun ditanggung bersama.

Sungguh petikan ayat dari Suratul Baqarah tersebut di atas menggambarkan kondisi yang dihadapi kerabat saya itu.

Sejak muda, saya dan keluarga Bude terbilang sangat akrab, karena salah satu putra beliau seusia dengan saya, dan kami sering main bersama. Saya masih ingat, bagaimana rasanya berada di rumah Bude yang berhalaman belakang cukup luas, dengan aroma canda yang renyah (bahkan kadang agak keterlaluan). Hidup terasa ringan, santai, karena penghasilan Pakde sebagai dosen dan peneliti yang lumayan cukup untuk menopang gaya hidup tersebut. Kehidupan dan gaya hidup keluarga tersebut sebenarnya tidak mewah, bahkan cenderung bersahaja. Tidak lantas tiap hari makan berlauk daging, bahkan acapkali sarapan yang tersedia hanya tempe goreng dan sambal bawang. Cozy, leisure, atau indiscipline, mungkin itu gambaran yang lebih memadai.

Rumah adalah tempat untuk pulang, seperti cangkang keong atau kura-kura yang memberikan perlindungan tiap kali ada bahaya. Sehingga, alih-alih menerjang tantangan hidup yang keras, berdiam di rumah adalah pilihan yang lebih menyenangkan. Para sepupu di sana seperti lepas dari etos kerja yang produktif, sekali lagi karena merasakan kenyamanan dalam menjalani hidup sehari-hari.

Karena agama tidak menjadi panduan utama dalam menjalani kehidupan, sulit menegakkan prinsip Islam dalam keseharian mereka. Bagaimana mulai menjelaskan kandungan Al Qur’an bila sepotong buku agama saja tidak ada di sana. Kakak sepupu yang sudah saya kenal dua puluh tahun lebih, lebih kurang sama dengan yang saya jumpai minggu kemarin. relax, dan indiscipline. Nyaris tidak ada perubahan, nyaris sama useless-nya. Ketiga kakak sepupu yang laki-laki semuanya tidak bisa menghasilkan uang yang cukup dari keringat tangannya sendiri, mengingatkan pada tanaman jenis epifit di sebuah pohon.

Di masa tuanya, di usia yang sudah sekitar 70 tahunan, Pakde dan Bude belum bisa tenang juga duduk santai, karena setiap hari harus memikirkan sekurangnya 1 anak dan 4 cucu yang bergantung pada mereka, karena tidak bisa bergantung pada orang lain.

Ketika kebun kurma dan anggur masih melimpahkan hasil, sebaiknya kita sudah memikirkan yang terbaik bagi anak-anak kita. Bukan memberikan mereka anggur dan kurma tiap hari, melainkan justru membawa mereka ke kebun untuk melihat dan bekerja bersama para penggarap. Anggur dan kurma bisa habis atau busuk. Kebun ribuan hektar bisa lenyap dalam semalam. Tapi rasa syukur nikmat dan ilmu akan menjadi warisan yang tak akan lekang dimakan masa.

Sayangnya, orang tua sering lupa bahwa kasih sayang mereka yang tiada cela, bila tidak cermat dalam cara memberikan, justru akan menyebabkan anak-anak mereka menjadi beban di hari tua. Terlalu protektif, menyebabkan anak tidak mandiri. Terlalu sayang, membuat anak tidak kenal sopan santun. Pada ujungnya, anak yang merasa terlalu nyaman dengan kondisi rumahnya, tidak menemukan tantangan yang perlu diselesaikan, akan menumpulkan daya juang mereka untuk membentuk pribadi yang lebih baik.

 CATATAN TERAKHIR 2008

31 Desember 2008 / 22:56 WIB

12 Emosi Negatif Penghambat Kemajuan

Posted in Kontemplasi, Psikologi on December 23, 2008 by hzulkarnain
kecemasan perlu diatasi

kecemasan perlu diatasi

 

Dari tulisan Patricia Patton, yang menulis tentang aspek dalam kecerdasan emosional, saya menemukan 12 konsep emosi negatif yang harus ditinggalkan bila kita ingin berkembang.

Tentu saja, tidak ada hal yang mudah dalam kehidupan ini, apalagi sisi negatif emosi yang sering kita rasakan kebanyakan telah menjadi bagian kehidupan – artinya bila ingin meninggalkannya berarti harus melakukan beberapa perubahan dalam kehidupan.

 

Ke-12 emosi negatif tersebut adalah:

1.  Cemburu

Cemburu sebenarnya berintikan rasa iri. Iri terhadap sesuatu yang dimiliki orang lain, yang pada akhirnya akan membatasi kemampuan kita untuk melihat apa yang kita miliki sendiri. Cemburu hanya akan menyebabkan kita gagal melihat potensi dalam diri kita. Sikap ini menempatkan orang lain sebagai obyek rasa frustrasi. Ketika kita cemburu, kita menjadi tidak terbuka, membenci dan sulit untuk bertindak apa adanya.

Islam mengingatkan umat Islam tentang iri hati sbb: Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain,  bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita  ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nisa 32)

2.  Perasaan Tidak Aman

Setiap orang memiliki wilayah rasa aman, yang ditandai dengan rasa nyaman dan kita enggan meninggalkannya. Orang Jawa mengekspresikannya dengan istilah “nrima” (menerima), yang bermakna, seolah-olah apa yang diterima atau dimiliki sekarang ini sudah final dan tidak mungkin bertambah baik lagi. Keluar dari wilayah ini hanya akan menimbulkan rasa tidak aman.

Rasa tidak aman dapat mencegah kita mencoba hal baru dan menghalangi peluang untuk sesuatu yang bermanfaat bagi hidup kita. Kita menarik diri dari segala sesuatu yang akan menjauhkan kita dari area yang aman atau yang menyenangkan. Ini sangat menghambat perkembangan kita sebagai seorang individu. Topeng yang sering dipakai untuk menutupi rasa tidak aman ini adalah agresivitas yang berlebihan. Sikap ini menghambat komunikasi dengan orang lain dan mempersulit untuk bisa santai dan menikmati keberhasilan.  

Rasulullah adalah contoh utama manusia yang meninggalkan kenyamanan, kehidupan makmur bersama Siti Khadijah, karena melaksanakan perintah Allah. Bukan hanya beliau, termasuk juga para sahabat: Abu Bakar As-Shidiq dan Usman Bin Affan yang kaya, Umar Bin Khaththab dan Ali Bin Abi Thalib yang terpandang, semua keluar dari zona rasa aman mengejar impian yang lebih besar. Mengejar mimpi seharusnya menjadi bagian dari kehidupan.

Mengutip ucapan Mario Teguh dalam salah satu episode Golden Ways-nya: Jadilah pejuang bagi impianmu, sebelum kau menjadi narapidana bagi semua penyesalanmu.

3.  Dengki

Level yang lebih tinggi dari iri hati dan cemburu adalah dengki. Dengki bermuatan kemarahan, bahkan dendam kepada seseorang hanya karena rasa iri yang mendalam, sekalipun tanpa sebab yang jelas. Memendam perasaan dengki dapat menyumbat sistem emosi kita dengan cara yang tidak konstruktif. Memendam rasa dengki sama dengan menumpuk perasaan marah karena merasa bahwa dunia ini tidak adil, hanya berpihak terus menerus pada orang-orang yang sama, sehingga orang yang dengki akan gagal total menilik potensinya sendiri. Kehidupan ini rasanya hanya berisi sedikit kumpulan tulisan nasib buruk, dan terasa menyengsarakan.

Islam mengkategorikan pendengki sebagai kekufuran, karena tidak bisa menerima perbedaan karunia Allah pada tiap-tiap orang. Firman Allah berbunyi: Alangkah buruknya  mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya  kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah  kemurkaan . Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. (QS Al Baqarah 90)

4.  Kebencian

Tidak menyukai orang lain adalah hal yang biasa terjadi pada seseorang. Bila bersifat akumulatif, dan meningkat dari waktu ke waktu, mungkin karena terus menerus bertemu, rasa tidak suka yang wajar mungkin akan berubah menjadi kebencian.

Emosi yang satu ini bersifat stress, sehingga dapat menyebabkan masalah kesehatan, sekaligus pada saat yang sama membuat orang yang pandai sekalipun tampak bodoh.   Bagaimana bisa? Karena membuat sang pembenci kehilangan objektivitas dalam berpikir dan mengambil keputusan. Apapun yang dilakukan oleh orang yang dibenci membuat sang pembenci tidak suka, mempengaruhi motivasi kerja, dan sangat subjektif.

Islam mengingatkan kita untuk bersikap dan menilai segala hal dengan objektif, dan memupuskan kebencian karena kita tidak tahu hakikat yang ada di baliknya. Kutipan dari QS Al Baqarah 216 sbb: … Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi  kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

5.  Tidak Menghargai Diri Sendiri

Coba tanyakan pada orang yang anda kenal, apa kelebihan yang ia banggakan? Apa kelemahan yang harus ia perbaiki? Lihat bagaimana ia menjawabnya.

Dari pengalaman sebagai seorang interviewer, kedua pertanyaan pendek dan sederhana tersebut cukup sulit dijawab, khususnya oleh mereka yang tidak terbiasa berkontemplasi. Seringkali, pada ujungnya muncul jawaban, orang lain lebih bisa melihat kelebihan (atau kekurangan saya). Ini menunjukkan bahwa secara umum kita ini lemah pada daya apresiasi pada diri sendiri. Kemampuan kita mengapresiasi orang lain seharusnya tidak seobjektif apresiasi pada diri sendiri, atau dengan kata lain, kita baru bisa mengapresiasi orang dengan objektif bila kita sudah bisa berbuat demikian pada diri sendiri.

Lemahnya penghargaan pada diri sendiri yang kronis bisa berwujud menyalahkan diri sendiri atas segala sesuatu yang (sebenarnya) berada di luar jangkauan, memandang orang lain sebagai sumber permasalahan dan membiarkan keadaan yang dapat menurunkan harga diri. Perasaan ini membatasi kita untuk berkembang, meremehkan diri sendiri, dan menganggap orang lainlah yang menghancurkan hidup Anda. Tidak menghargai diri sendiri membuat Anda tidak mau memikul tanggung-jawab dan mengambil tindakan.  

Dalam Surat At Tiin (ayat 4) Allah telah memberitahukan kita bahwa, manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Allah yang menciptakan dan memperindah wujud manusia, dan semua hal yang berkenaan dengan nasib adalah rahasia di sisi Allah. Jadi, Islam mengingatkan kita agar tetap istiqomah.

6.  Kecemasan

Stress dalam porsi yang wajar dan normal berperan penting dalam produktivitas manusia. Akan tetapi, stress yang akumulatif, bereskalasi, dan tidak diatasi, bisa berubah menjadi kecemasan. Kecemasan bisa jadi datang tanpa pemicu, dan hal yang dicemaskan pun tidak jelas. Kecemasan merupakan pangkal ketidak produktifan manusia.

Emosi yang ini sangat melemahkan. Membuat Anda jauh dari kedamaian dan ketenangan. Perasaan ini tidak membebaskan Anda menjadi diri sendiri. Pikiran yang terbelenggu kecemasan dapat menghalangi pikiran rasional untuk bertindak secara efektif. Orang yang cemas bahkan lupa hal sederhana, seperti nomor telepon sendiri.

Seharusnya, kecemasan merupakan hal terakhir yang diidap oleh kaum muslimin, karena kita memiliki tuntutan berupa shalat dan sabar. Dalam Al baqarah 153 disebutkan: Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu , sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.  

7.  Depresi

Depresi juga merupakan suatu bentuk akumulasi stress, dan biasanya terpicu oleh sebuah kondisi yang spesifik seperti dukacita, hambatan yang seolah-olah tidak pernah berhenti, atau gelombang cobaan yang bertubi-tubi. Orang yang memahami bahwa dirinya sedang mengalami depresi (dengan mengenali gejala-gejalanya) akan berusaha untuk mengatasinya, dan meletakkan kehidupannya di jalur yang seharusnya. Dunia adalah permainan, dan ada masa manusia mengembalikan segala kesulitan pada sang pemilik kehidupan. Bisa jadi, manusia justru lebih produktif setelah tenggelam dalam lautan penderitaan.

Sayangnya, sementara orang tidak mengenali bahwa dirinya mengalami depresi, bahkan berusaha menyangkalnya. Kecintaan pada dunianya yang melebihi kecintaan pada Allah dan akhirat-Nya telah membutakan mata batin mereka. Orang seperti ini akan sulit bangkit dari keterpurukannya, karena kunci menjadi diri yang lebih baik adalah penerimaan diri, dan mengerti bahwa sekalipun manusia diciptakan dalam bentuk terbaik, ia hanyalah setitik debu.

Islam mengingatkan: Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka  yang terbaik perbuatannya (QS Al Kahfi 7).

8.  Kemarahan

Sebuah emosi negatif yang akrab pada hampir semua orang adalah kemarahan. Kemarahan terjadi kala harapan tidak bertemu dengan realitas, dan frustrasi yang timbul tidak tersalur dengan benar, hingga mengakibatkan ledakan. Kemarahan sebagai ujung emosi yang tidak terkendali, pada umumnya bersifat destruktif. Oleh karenanya, manusia perlu mengenali akar sebab sebuah kemarahan dan mengendalikannya bila muncul. Sebuah kemarahan yang terkendali bisa menjadi dasar konstruktif perbuatan seseorang, karena bentuknya bukan pelampiasan melainkan penyaluran.

Menahan amarah adalah sebuah kebajikan yang disukai Allah. QS Ali Imran 133-134 berbunyi: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang menafkahkan , baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan  orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

 

9.  Kejengkelan

Hati-hati dengan situasi emosi yang satu ini, karena letaknya yang berada di “perbatasan”. Jengkel atau kesal bisa mengindikasikan banyak hal, seperti kemarahan, kebencian, perasaan tidak aman, dan berbagai hal lain, yang semuanya bersifat destruktif. Oleh karena itu, bila perasaan ini timbul kenali sebabnya, atasi, dan bentuk perubahan yang bersifat konstruktif ke masa depan.

10.  Rasa Bersalah

Manusia yang normal selalu memiliki rasa bersalah, dengan takaran yang wajar. Rasa bersalah muncul setiap kali ia melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan oleh norma sosial dan agama. Hal yang positif dari rasa bersalah adalah memicu kesadaran untuk mengubah apa yang kita perbuat atau katakan. Selebihnya, rasa bersalah merupakan perasaan yang tidak bermanfaat. Perasaan bersalah menghalangi kita untuk mencoba sesuatu yang baru dan memungkinkan kita dimanfaatkan oleh orang lain dengan perasaan bersalah yang kita miliki, untuk mencapai tujuannya.  

Yang harus dilakukan agar rasa bersalah tidak melebihi takaran, adalah mengetahui bahwa manusia adalah tempatnya lupa, khilaf, dan keliru. Kesalahan bisa terjadi, namun sebagai mahluk yang berakal budi, hendaknya tidak jatuh dalam lubang yang sama lebih dari sekali.

11.  Rasa Malu

Rasa malu digariskan oleh Allah untuk dimiliki oleh manusia, dalam takaran yang wajar. Secara konstruktif, malu adalah pengendali manusia agar tetap berjalan sesuai dengan norma sosial dan agama. Malu bersifat personal, dan orang lain tidak mudah meniliknya.

Namun demikian, rasa malu yang berlebihan justru menjadikan orang tidak kreatif, rendah diri, bahkan merasa tidak berharga.

12.  Penyesalan

Penyesalan adalah buah perilaku yang seharusnya bisa dihindari, namun terlanjur dilakukan. Padahal masa lalu adalah tempat terjauh yang mustahil untuk didatangi. Akibatnya, ketika terjadi hal yang tidak diinginkan, penyesalan muncul sebagai buah masa lalu.

Penyesalan yang sesuai dengan takaran, dan dijadikan cambuk pengingat, bisa konstruktif. Namun demikian, penyesalan yang berlarut-larut akan destruktif pada hal yang bisa dilakukan di masa depan. Cara terbaik untuk menyikapi penyesalan adalah dengan memusatkan perhatian pada apa yang dapat Anda lakukan. Kuncinya adalah merelakan semuanya. Kemudian mencari kesempatan yang baru di masa mendatang.   

 

Berhenti Menyalahkan, Hidup untuk Masa Depan

Posted in Kisah, Sharing with tags on December 20, 2008 by hzulkarnain

forgiving expands the future

forgiving expands the future

Beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah situasi yang membuatku harus menilik kembali semua hal yang telah terjadi.

Di rumah sakit, ketika menjenguk kerabat yang mengalami kecelakaan, saya duduk-duduk di teras ruang perawatan wanita setelah menyapa si sakit, agar tidak terlalu berdesakan di dalam. Kami agak bebas berkunjung di luar jam kunjungan resmi, karena berada di wilayah ruang perawatan kelas 1. Di seberang tempat saya duduk, ada seorang remaja putri keturunan Tionghoa bersama seorang perempuan yang saya kira adalah Ibunya. Di dahi dan tangan  remaja berusia belasan (paling banyak dua puluhan) itu ada bekas memar dan luka yang dibalut. Saya tidak begitu memperhatikan, dan asyik dengan koran sore yang sengaja saya beli di luar tadi. Saya hanya menangkap kecemasan di wajahnya.

Tak berapa lama kemudian, dua orang remaja seusianya datang bergegas dari arah lift. Mereka langsung menghampiri remaja di depan saya dan berpelukan. Mata saya mulai beralih dari koran pada kejadian di hadapan saya.

“Kamu nggak pa-pa, Lina? Aku tadi waktu dengar kamu kecelaakaan langsung lemes. Soalnya, kata Yeni, mobilnya hancur.”

Lina hanya menggeleng, air matanya berurai. Katanya,”Aku nggak apa-apa. Cuma perlu jahitan di dahi, dan tangan ini aja agak ngelupas.”

“Kamu sama Siska, katanya? Bagaimana dia?”

Lina tersedu. Ibunya menenangkan gadis itu. Saya lihat kedua temannya itu juga mulai berkaca-kaca.

“Siska langsung meninggal. Bagian mobil yang hancur di sebelah kiri depan, pas di mana Siska duduk,” Ibu Lina menjelaskan.

Kedua gadis itu mulai menangis, seraya menyebut teman mereka yang sudah tidak ada itu. Ibu tadi kemudian menjelaskan kronologi kejadiannya. Rupanya, Lina yang duduk di depan saya itu bersahabat dengan seorang gadis lain yang bernama Siska, yang tinggal bersama dua saudaranya di wilayah real estate besar di Barat Surabaya. Orang tua Siska, yang merupakan pengusaha besar, tinggal di basis bisnisnya di Balikpapan. Pagi itu, adik Siska yang berusia 17 tahun baru selesai kursus mengemudi  bermaksud memamerkan kemahirannya pada kedua kakaknya. Kebetulan, Lina yang pagi itu mampir, di ajak sekalian jalan-jalan.

Masih menurut cerita Ibu Lina, Yona (adik Siska yang mengemudi) sudah cukup terampil dan tidak ada masalah. Sedan yang mereka tumpangi juga bagus. Naas terjadi ketika Yona berusaha menyalip angkot di depannya, dan dalam kecepatan tinggi itu, salah satu ban depan meletus sehingga mobil tidak terkendali dan berakhir dengan menghunjam pohon asam di pinggir jalan. Yona mengalami patah tangan, Siska yang duduk di kursi depan terjepit pohon dan langsung meninggal, sementara Virly (kakak Siska) yang duduk di belakangnya patah kaki.

Setelah kejadian itu, Lina baru ingat bahwa ban yang meletus itu adalah ban cadangan yang bukan tubeless. Siska lupa menggantinya lagi dengan ban tubeless yang selesai ditambal, karena siang kemarin buru-buru berangkat kuliah. Padahal ban cadangan itu juga tidak dalam kondisi yang prima. Sebuah kelalaian yang berujung maut.

“Mamanya Siska sudah tahu?”

“Ini Papanya Lina sedang menjemput mereka di Juanda.”

Belum lama Ibu Lina bicara, dua laki-laki tengah baya, seorang perempuan berusia setara, dan seorang anak berusia 10 tahunan tampak dari arah lift. Mata perempuan itu sembab, sementara salah seorang laki-lakinya berwajah seperti tersaput mendung tebal. Asumsiku mereka adalah orang tua Siska.

Lina berdiri dengan wajah cemas dan takut, bercampur sedih yang tidak terhingga. Ibu Siska mendatangi Lina dan memeluknya, yang dibalas Lina dengan pelukan yang lebih erat.

“Kamu nggak apa-apa kan, sayang?” Suara Ibu Siska berdesah dalam, tapi jelas terdengar.

“Aku nggak apa-apa Tante, tapi Siska ….” Lina tidak bisa meneruskan kata-katanya.

“Ssst, sudah Lina. Tante sudah tahu.” Dipeluknya Lina sekali lagi dengan erat.

“Lina, terima kasih telah menjadi sahabat terbaik Siska, ya sayang.” Ibu Siska lalu mencium pipi Lina kanan-kiri seperti anaknya sendiri, dan itu membuat Lina semakin deras meneteskan air mata.

Saya terperangah! Tidak ada sama sekali kata-kata yang menyesalkan meninggalnya Siska. Tidak ada sepenggal katapun yang menyalahkan Yona atau siapapun yang mengakibatkan meninggalnya Siska. Bahkan tak sepenggal desahan yang menyesali kepergian Siska yang terlalu cepat. Ayah Siska pun hanya mengangguk-angguk, tersenyum, dan mencium kening Lina layaknya anaknya sendiri.

Ketika semuanya masuk ke ruang perawatan, tempat Yona dan Virly di rawat, saya termangu sendiri, dengan bekas yang mendalam.

Beberapa saat kemudian, Ayah Lina keluar dan duduk-duduk seperti saya, karena di dalam pasti cukup penuh. Saya mendekatinya untuk mencari tahu situasinya. Yang saya ingat, dia berkata demikian:

“Pak Tanu adalah sedikit dari orang yang mampu mencapai pemahaman tentang esensi hidup. Baginya kematian adalah sebuah proses yang alami, apapun penyebabnya, sebab setiap orang akan mati – cepat maupun lambat. Ia pernah kehilangan seorang anak laki-laki beberapa tahun yang lalu, dan sekarang kehilangan anak perempuan. Keduanya telah menjadi bagian dari sejarah kehidupannya, tak lebih. Baginya, lebih penting untuk memperhatikan anak-anaknya yang hidup daripada meratapi yang telah dipanggil kembali oleh Sang Pencipta.

Ia tidak akan pernah menyalahkan siapapun atas kematian anak-anaknya karena itu semua adalah garis takdir. Prinsipnya: Menyalahkan tidak akan mengubah segala yang sudah terjadi, tapi menerima dan memaafkan akan memperluas masa depan.”

Sekalipun ilmu menghadapi hidup ini saya terima dari seorang non-Muslim, kebajikan dan kebijaksanaan adalah ilmu yang universal.