Archive for September, 2010

ISLAMOFOBIA DI AMERIKA: Transisi Bangkitnya Sebuah Peradaban (2)

Posted in Sharing with tags , , , , , on September 21, 2010 by hzulkarnain

Wilayah Sheboygan - Michigan

Mansoor Mirza adalah seorang dokter, bertempat tinggal di sebuah desa di wilayah kota Wilson, Sheboygan County, Wisconsin, dan sudah menjadi dokter selama sekurangnya 5 tahun di rumah sakit setempat, Manitowoc Hospital. Mayoritas pasiennya – tentu saja – orang kulit putih yang tidak perduli tentang ras dan agama si dokter saat berbicara tentang sakit mereka. Dr. Mirza sedang mengajukan proposal pendirian masjid di atas sebidang lahan yang dimilikinya tidak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja. Menurutnya, tidak akan ada masalah, mengingat tanah yang dipakai adalah miliknya, ia sudah lama tinggal di sana, dan ia dikenal baik di kota tersebut karena profesinya. Tetapi kenyataannya tidak demikian.

Saat sidang dengar pendapat dengan komisi perencanaan kots Wilson (populasi 3,200), semua pertanyaan yang menyakitkan hati segera saja susul menyusul. Sesuatu yang tidak pernah ia dengar selama praktik dokternya. Hujatan dan itikad permusuhan terhadap proposal menguat, dan tidak ada hubungannya dengan peraturan daerah. Objek dari semua kebencian mereka hanya satu: agaman Dr. Mirza. Mereka menuduh Islam sebagai agama kebencian, Muslim akan menghapuskan agama Kristen dan ada 20 camp training jihad di tersembunyi berbagai wilayah pedesaan Amerika (yang sekarang sibuk menyiapkan gelombang teroris berikutnya). Anak-anak Kristen sudah cukup bermasalah dengan narkoba, alkohol, dan pornografi, jadi jangan lagi ditambah dengan kekhawatiran tentang Islam juga. Yang seorang mengatakan,”Aku tidak mau berurusan dengan hal itu.” Yang lain berkata,”Menurut aku, ini bukan seperti Amerika.”

Dr. Mirza ingat, beberapa orang memang berusaha untuk menenangkan persidangan. Dalam catatan sidang yang berhasil dikutip TIME, sementara anggota sidang juga menghendaki untuk tidak melakukan generalisasi yang terlalu luas. Tetapi, semuanya tidak menetralisir ekspresi kecurigaan dan permusuhan terhadap Islam dan Muslim. Dokter yang lahir di Pakistan 38 tahun silam tersebut masih lebih kaget lagi, saat orang-orang yang biasa mendatanginya di rumah sakit dan memperlakukannya dengan rasa hormat, bertanya apakah di dalam masjid yang akan dibangun itu ada senjata atau pelatihan militer.

Bentuk masjid di AS - sederhana

Di Sheboygan, kaum Muslim mencapai angka 100-an orang, dan mereka menganggap Mirza terlalu naif dengan menganggap pembangunan masjid ini perkara mudah. Kaum Muslim tersebut kebanyakan berasal dari Bosnia dan Albania yang melarikan diri ke AS untuk menghindari tekanan Serbia setelah runtuhnya Yugoslavia. Ketakutan mereka pada masa lalu membuat mereka berusaha untuk tetap menyembunyikan identitas agama mereka, bahkan  takut ide pembangunan masjid akan menarik perhatian masyarakat. Ketakutan mereka ternyata tidak terlalu keliru. Setelah rapat di dewan kota, seorang pendeta lokal di Oostburg mulai mengkampanyekan perlawanan terhadap proyek pendirian masjid itu. Pendeta Wayne DeVrou, dalam kampanyenya mengatakan:”Tujuan politis Islam adalah mendominasi dunia dengan ajarannya … dan harus mendominasi semua agama di dunia secara militer.”

Selain Park51 dan masjid milik Mansoor Mirza, ada 6 projek masjid lain di Amerika Serikat yang menghadapi tantangan pahit. Misalnya, di Temecula California pada bulan Juli lalu sekelompok orang membawa anjing sebagai protes pada tempat sembahyang kaum Muslim, karena mereka tahu anjing dianggap najis dalam Islam. Di Gainsville Florida, seorang pendeta bahkan mengumumkan rencana pembakaran salinan Al-Qur’andalam peringatan 9/11, dengan meyakini bahwa Yesus juga akan membakarnya karena “tidak suci”. Ada lagi kelompok yang menyebut diri mereka Freedom Defense Initiative and Stop the Islamization of America men-sponsori iklan yang menawari kaum Muslim “jalan keselamatan” untuk keluar dari Islam – semacam bujuk rayu yang dulu sekali diarahkan pada pemeluk Yahudi dan Katolik Roma. Selain cara-cara langsung, banyak pula serang secara online via website dan blog, dengan maksud menjangkau lebih jauh pemerhati.

Rencana pengeboman di Times Square oleh Faisal Shahzad dan insiden penembakan yang melibatkan Mayor Nidal Hasan di Fort Hood, yang secara luas dipublikasikan dan dicermati oleh warga Amerika, membuat imigran keturunan Timur Tengah menjadi sasaran kecurigaan. Salah seorang imigran asal Irak di Dearborn memperhatikan perubahan tetangganya setelah insiden di Times Square. Katanya,”Dua hari setelah kejadian itu, saya sedang memasukkan beberapa kantong di mobil, dan seorang tetangga lewat seraya mengintip dari belakang. Aku melihat langsung ke matanya, dan aku tahu apa yang sedang dipikirkannya.”

Ketakutan pada Islam atau Islamofobia tampaknya akan menjadi isu mainstream dalam perpolitikan Amerika. Islam dibawa dalam dua moda yang tidak lazim di Amerika, yakni garis rasial dan bahasa. Kaum Muslim di Amerika, sebagaimana yang ada di belahan Eropa, berasal dari imigran Asia dan mungkin Afrika. Kebanyakan dari mereka tidak atau belum berbahasa Inggris. Bahasa Al-Qur’an adalah Arab, tidak diterjemahkan langsung sebagaimana Bible, sehingga semua yang melihat terjemahan kitab suci Muslimin ini akan melihat tulisan Arab. Komunitas Islam juga tidak memiliki pimpinan yang jelas dan pasti, seperti seorang pendeta di kalangan kulit putih Amerika yang menjadi pemimpin informal dan spiritual. Perbedaan-perbedaan ini membawa prasangka.

Amerika memang secara konsisten membutuhkan “musuh” di luar, agar perhatian masyarakat teralih dari Gedung Putih dan Capitol Hill. Pasca berakhirnya perang dingin dengan Uni Soviet dan banyak negara Eropa Timur anggota Pakta Warsawa, Amerika yang melakukan ekspansi di Timur Tengah melihat Islam sebagai peradaban baru yang harus diwaspadai. Osama Bin Laden yang dulu di-back up CIA untuk menggusur Soviet dari Afghanistan sekarang berubah menjadi icon teroris yang dikejar-kejar, dan dikhawatirkan menyusup ke negeri Amerika untuk melumpuhkan bangsa itu dari dalam. Kebetulan Osama Bin Laden dan kelompoknya adalah Kaum Muslim juga …. Sungguh kebetulan?

Amerika yang konon punya detektor tercanggih, bisa melihat orang di manapun di seluruh dunia, sanggup melumpuhkan dan menegakkan pemerintahan manapun di dunia, dan punya persenjataan terbaik di dunia, tidak sanggup menghabisi seorang Osama Bin Laden yang katanya bersembunyi di pegunungan dalam waktu singkat. Menurut saya, jawabannya hanya satu: Amerika tidak mau menghabisi Osama Bin Laden sekarang. Karena Amerika butuh lawan abadi.

Masjid Sheboygan telah berdiri

Bila Osama dianggap terlalu jauh, Muslim Amerika lah yang dianggap duri dalam daging, dan apapun yang terkait dengan kebangkitan peradaban Islam akan dicurigai. Upaya mendiskreditkan Islam demikian kuat, namun justru orang-orang berakal kian tertarik untuk keluar dari mainstream dan mengkaji Islam secara objektif.

Catatan: Masjid Dr. Mansoor Mirza akhir disetujui untuk dibangun, dan komunitas Islam telah mengubah bangunan yang ada menjadi masjid. Sebuah tragedi kematian gadis Islam dalam sebuah tragedi pembunuhan telah menyatukan umat Islam dan non-Islam di Sheboygan, yang membuat mereka mencoba saling memahami.

Islamofobia di Amerika: Transisi Bangkitnya Peradaban Islam -1

Posted in Kisah, Sharing with tags , , , , , on September 10, 2010 by hzulkarnain

TIME edisi 30 Agustus 2010 mengangkat topik yang menarik seputar issue anti Islam di Amerika Serikat – dan peristilahannya cukup provokatif, yaitu Islamophobic. Di satu sisi Islam punya ruang berkembang di sana, namun di sisi yang lain banyak hambatan yang menghadang syi’ar Islam tersebut.

Apa issue besar yang sekarang sedang bergulir? Protes atas pembangunan Masjid di ground zero – lokasi bekas reruntuhan WTC pada tragedi 9/11. Rencana itu seperti menyulut kebangkitan sentimen anti Islam di Amerika di wilayah lain. Padahal, sebenarnya masjid yang disebut dengan nama Park51 itu sudah ada sebelumnya, di tempat yang sama, dan sudah ada di sana setahun silam. Yang dimintakan perijinan adalah ekspansi agar cukup menampung jamaah sholat yang lebih banyak, serta menjadi semacam Muslim cultural center. Masjid Park51 sendiri diprakarsai oleh Imam Feisal Rauf dan istrinya Daisy Khan – seorang Muslim Amerika yang getol mempromosikan dialog antar-agama, dan rencana itu sudah mengantongi ijin dari otoritas kota serta Walikota New York Michael Bloomberg.

Para pemrotes sebenarnya tahu bahwa menurut undang-undang di Amerika Serikat, mereka tidak bisa menghentikan ekspansi masjid tersebut karena itu adalah hak individual yang dilindungi, apalagi sudah punya kekuatan hukum. Sebagian pemrotes berdalih bahwa pembangunan masjid di daerah itu tidak layak, karena lokasi ground zero itu sakral. Kehadiran sebuah masjid hanya akan menambah luka hati keluarga korban tragedi 9/11 yang mencapai 3000 orang.

lokasi Park51 yg akan direnovasi

Tapi apakah hanya ada Masjid Park51 di sana? Tidak. Daerah itu adalah wilayah hunian Lower Manhattan. Di antara bangunan hunian dan bisnis, hanya beberapa meter dari masjid itu ada klub striptease, toko minuman keras, dan toko-toko lain khas wilayah itu.

Menurut Ebrahim Moosa yang merupakan associate professor studi Islam di Duke University, protes atas pembangunan Park51 adalah bagian dari pola intoleransi terhadap kaum Muslim sejak tragedi 9/11 dan kian dalam dalam beberapa tahun terakhir. Memang tidak ada kekerasan langsung terhadap orang Islam meningkat, tetapi topik pembicaraan yang berbau kebencian terhadap Islam semakin luas dan semakin memanas. Seorang penulis Muslim Amerika, Arsalan Iftikhtar menyebutkan:”Islamofobia telah menjadi bentuk rasisme yang diterima di Amerika.”

Sebenarnya, intoleransi religius juga ditujukan kepada agama lain seperti Yahudi, Mormon, dan lainnya, namun jantung beracunnya disiapkan untuk Muslim. Franklin Graham, anak raksasa evangelis Billy Graham berkata kepada TIME bahwa “Islam is a religion of hatred. It’s a religion of war” (agama kebencian, agama perang). Lebih jauh, Graham mengatakan bahwa Park51 seharusnya tidak diijinkan karena semua orang Muslim bisa berjalan masuk ke sana, dan “semua wilayah yang mereka lalui dengan jalan kaki akan di-klaim sebagai wilayah Islam. Mereka sekarang akan menyebut daerah World Trade Center … sebagai tanah Islam.”

Lady Caliphs - tim basket muslimah SMA yang disegani

Sebagian orang Amerika mempertanyakan dengan sinis: Arab Saudi tidak mengijinkan gereja dan sinagog dibangun, jadi kenapa Amerika harus mengijinkan pembangunan tempat peribadahan Islam? Sebenarnya hal ini adalah persamaan atau analogi yang bodoh.  AS dan Arab Saudi tidak sama. Arab Saudi adalah negara berazaskan agama, sementara Amerika Serikat dibangun dengan landasan idealisme kebebasan beragama dan toleransi.

Kenapa Islamofobia tiba-tiba menguat? Beberapa Muslim Amerika berpendapat bahwa sebenarnya tidak menguat tiba-tiba. Sentimen ini sudah ada selama bertahun-tahun. Yang lainnya menyebutkan tragedi 9/11 adalah puncak semuanya. Arsalan Iftikhar ingat adanya ledakan “gelombang pertama” anti-Muslim setelah serangan teroris tersebut oleh pemimpin Kristen seperti Pat Robertson dan Jerry Falwell yang secara terbuka mempertanyakan apakah Islam benar-benar agama, dan memberi label Nabi Muhammad sebagai perampok, penyamun, dan teroris. Beberapa insiden lain dengan pemimpin politik juga terjadi.

Jumlah kaum Muslim di Amerika Serikat sendiri, menurut sebuah survey, mencapai 2.5 juta orang dari total 300 juta lebih penduduk. Angka ini sebenarnya lebih kecil daripada perkiraan sebelumnya yang diperkirakan mencapai 6 hingga 8 juta orang. Namun demikian, sebaran musholla di Amerika mencapai menurut Ihsan Bagby – seorang professor studi Islam di Universitas Kentucky – sekitar 1900 buah (meningkat 700 buah dari survey di tahun 2001), tapi memang kebanyakan berupa musholla kecil di ruang ganti atau sudut perkantoran, dan hanya beberapa yang berupa masjid.

Namun demikian, bahkan President Bush dan Menlu Condollezza Rice perlu repot untuk menenangkan gejolak anti Islam di Amerika sesaat setelah insiden tragis 9/11. Bush mengunjungi Islamic Centre di Washington dan menyebut Islam sebagai agama damai. Tidak seheboh dan sedemonstratif Bush, Obama juga melakukan hal serupa bahkan berusaha menjangkau dunia Islam di luar negeri Amerika. Bush dan Obama sama-sama menekankan garis tegas yang membedakan antara ekstrimis yang penginterpretasikan Islam dengan jalan kekerasan seperti Osama Bin Laden, dengan mayoritas kaum Muslim yang damai.

Bagi kaum Muslim yang mengagumi ideologi Amerika, dan menginginkan Park51 dibangun, mereka berkata:”Jika mereka tidak membangunnya, Pemerintah berarti setuju dengan pihak yang mengatakan bahwa kaum Muslim tidak bisa menjadi orang Amerika yang baik. Kalau memang begitu, lebih baik bagiku pulang ke Baghdad, karena aku tidak akan pernah diterima di sini.”

Pdt. Terry Jones dan gereja kecilnya

Usaha pemimpin Amerika untuk mengakomodasi Islam sebagai bagian integral masyarakat Islam masih menghadapi jalan terjal. Bangkitnya Islam di Amerika Serikat adalah test case serius bagi tegaknya ideologi bangsa itu sendiri, setelah selama berabad-abad merdeka dan ternyata dalam sejarahnya diwarnai dengan prejudice, intoleransi bahkan kekerasan religius.

Amerika memang dibangun atas idealisme kebebasan beragama dan toleransi, persamaan hak, dan tanah harapan. Ketika Pendeta Terry Jones berinisiaif hendak membakar Al-Qur’an untuk memperingati insiden 9/11, berbagai elemen bangsa Amerika menekan sang pendeta untuk mengurungkan niatnya. Semua elemen tersebut ingin menegakkan konstitusi bangsa itu. Kabar terakhir pendeta tersebut membatalkan rencananya, dengan tuntutan pembangunan Islamic Centre harus keluar dari ground zero. Sebenarnya, hal itu tidak bisa dipertentangkan dan bukan komoditi untuk saling dipertukarkan. .

Kita insyaallah masih akan terus melihat geliat transisi peradaban Islam, karena perlahan tapi pasti Islam merebut perhatian dan minat rakyat AS, sementara sebagian pemegang hegemoni tidak rela budaya Islam berkembang luas. Mereka akan terus berusaha mengaburkan makna konstitusi mereka sendiri – seperti layaknya tanda-tanda orang munafik. Let’s wait and see ….

Berteman dengan Ketidak Sempurnaan

Posted in Psikologi, Sharing with tags , , , , , , on September 4, 2010 by hzulkarnain

Melalui facebook saya kembali bertemu dengan seorang teman baik di masa kuliah, dan sekarang dia sudah menjadi seorang manager HRD di sebuah perusahaan group yang bergerak dalam bidang fast moving consumer goods. Dia perempuan yang pintar dan aktif, lancar dalam mengemukakan pikiran, dan menikah muda. Bahkan sebelum selesai kuliah anak pertamanya lahir.

single parent

“Saya bercerai setahun silam,” ujarnya ringan. Sebuah pengakuan atau pernyataan yang menurut saya luar biasa, dan disampaikan dengan cara yang sangat biasa.

Ia harus menanggung ketiga anaknya sendirian, dan bisa survive. Bukan sekedar survive, tetapi ketiga anaknya bahkan punya prestasi masing-masing – dalam konteks subjektif teman saya itu. Bukan prestasi yang heboh, tetapi kemampuan mengatasi masalah dan menjadi pemenang dalam pergulatan kehidupannya sehari-hari. Intinya bahwa, ketiga anak tersebut mampu mandiri dan berbagi dalam semua kesulitan yang dimiliki.

Berumah tangga selama dua puluh tahunan, berakhir dengan perceraian. Apa tidak sayang? Sekalipun disayangkannya, namun semua menjadi pelajaran baginya. Menurutnya, dua puluh tahun berumah tangga itu berproses menjadi ajang pembuktian jati diri masing-masing. Teman saya itu membentuk karakter, pikiran dan hasratnya, demikian pula mantan suaminya. Teman saya berorientasi religius, dan semakin bertambah umur kian mencoba mendekatkan diri dengan agama. Sebaliknya, suaminya semakin membuktikan bahwa kehidupan dunia adalah nafasnya.

Akhir sebuah rumah tangga biasanya membawa dampak logis, berupa gangguan psikologi khususnya depresi. Tapi, teman saya itu berhasil melewati fase kritis dengan baik. Ia tidak terlalu terguncang dengan perceraiannya, karena tampaknya ia sudah melihat akhir hubungan suami istrinya jauh hari sebelumnya dengan jernih. Perceraian bukan sekedari konsekuensi atas sebuah perilaku tetapi juga pilihan dari pihaknya. Dalam situasi turbulensi, ia berpegang pada kedua asa yang masih kuat digenggamnya: ketiga anaknya, dan keyakinannya pada Tuhan.

Dari perspektif psikologi, teman saya itu berhasil menunaikan aturan pertama dalam konseling pada dirinya sendiri: membumikan masalah. Membumikan masalah bermakna meninjau masalah secara komprehensif sebagai realitas, sebagai masa lalu yang tidak bisa diubah, dan solusi hanya bisa dicari dengan melihat ke depan secara konstruktif. Menyikapi masalah sebagai realitas bermakna mengakui kekinian, tidak berandai-andai pada kejadian yang sudah lewat, dan tidak mengasihani diri sendiri.

Membumikan masalah bukan pekerjaan mudah, karena lebih banyak orang yang masih mengedepankan kalimat “… seandainya saja…” atau “... I wish ….”. Kalau manusia boleh memutar waktu, mereka boleh membuat kekeliruan dan tetap punya peluang melakukan koreksi. Tapi, kita tidak punya peluang itu. Kekeliruan pasti terjadi, dan kita memang harus hidup dengan segala macam ketidak pastian, ketidak sempurnaan, dan serba kekurangan.

Di muka bumi ini tidak ada kesempurnaan yang sebenarnya. Kesempurnaan yang dipersepsi manusia hanyalah nisbi belaka, sesuatu yang bermain di pikiran manusia. Kesempurnaan akan kecantikan, kekayaan, kepandaian, ketangkasan, dsb. Persepsi akan kesempurnaan ini secara positif memberi semangat dan keberanian individu untuk meraih cita-cita, pe-de dalam memilih pasangan hidup, mencari peluang bisnis, dsb. Masalah baru terjadi bila yang menghadang di jalan bukan keberhasilan melainkan kegagalan. Harapan dan cita-cita yang sudah melambung, tiba-tiba terhadang tembok tinggi. Akibatnya jelas: timbul jarak antara impian dan kenyataan.

Orang perlu siap dan paham bahwa dirinya tidak sempurna, karena memang tidak ada manusia yang sempurna. Dengan demikian, kegagalan, nasib buruk, atau sekedar ketidak beruntungan sebenarnya menjadi bagian yang integral dari kehidupan. Expect the unexpected! Memprakirakan hal yang tidak terduga, karena apa sih yang tidak mungkin di dunia ini?

terus berjalan meski tak sempurna

Seorang atlet yang mengalami kecelakaan dan lumpuh, jauh lebih tersiksa daripada orang yang sejak kecil cacat kaki. Selama hidupnya, hingga sebelum nikmat dicabut darinya, atlet tersebut menganggap dirinya sempurna dan fisiknya yang utuh memberinya nafkah. Sehingga, bila hal itu diambl darinya, ia akan menderita. Beda dengan orang yang sejak kecil menderita cacat dan telah berteman dengan ketidak sempurnaan sepanjang hidupnya. Penerimaan keduanya pada realitas kehidupan terpaut jauh, sebab penderita cacat sejak kecil telah lebih dulu menerima kecacatannya sebagai bagian dari kehidupannya.

Perubahan membuat orang cemas, apalagi bila perubahan itu tidak mengarah pada sesuatu yang lebih baik. Kecelakaan, perceraian, kematian suami, kehilangan pekerjaan, kalah bersaing untuk promosi, semuanya memberikan tekanan sendiri-sendiri, dan diterima oleh orang yang berbeda secara unik. Pada umumnya, akan terjadi turbulensi pada kondisi kejiwaannya, namun cepat atau lambat orang akan menyesuaikan diri dengan cara yang beragam. Seberapa cepat penyesuaian diri tersebut, tergantung seberapa kuat usahanya untuk menerima kenyataan serta kesiapan menjalani kehidupan baru yang tidak sesempurna sebelumnya.

Kehidupan ini tidak lah sempurna, sehingga tidak perlu kita memaksakan diri mencari kesempurnaan di dalamnya. Kesempurnaan di dunia ini letaknya hanya ada di persepsi, sebab sesempurna apapun di mata kita pasti menyimpan celah dan cela yang mungkin tidak tampak oleh mata kita – yang juga tidak sempurna. Kita boleh punya angan-angan dan cita-cita, namun bersiaplah kembali ke alam realitas, khususnya bila menemui masalah dengan cita-cita itu.

Jadilah diri sendiri dengan konsep diri yang jelas.