Archive for September, 2009

Ketika Cinta Bertasbih: Tutur Panjang Film Manis dengan Kebingungan

Posted in Kisah on September 24, 2009 by hzulkarnain

kcb2_wallpaper1Setelah Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih adalah novel kedua Habiburrahman El-Shirazy yang diangkat ke layar kaca dan sukses. Mungkin karena justru pangsa pasar ini lebih ditujukan kepada pemeluk Islam, orang Islam yang mencapai lebih dari 80% penduduk negeri jadi tertarik untuk menyaksikannya. Atau bagi mereka yang telah membaca novel Kang Abik sebelumnya, mereka ingin melihat visualisasi cerita novel tersebut. Genre yang diangkat memang tidak terlalu umum, yaitu kultur Islam dalam komunikasi antara laki-laki dan perempuan, atau dalam kelompok masyarakat yang lebih besar. Ya, karena Islam tidak sekedar agama formal, melainkan juga merupakan nilai dan filosofi kehidupan sosial yang berdasarkan Al-Qur’an dan hadist, Islam memiliki kultur yang relatif universal maupun yang terpengaruh dengan kondisi kultur lokal.

Film KCB terbagi dalam dua episode, yang secara umum terbagi dalam dua lokasi cerita. KCB 1 didominasi pemandangan kota Alexandria Mesir, sementara KCB 2 banyak sekali mengetengahkan gambar desa dan sub-urban di wilayah Kartasura – Jawa Tengah. Berbeda dengan AAC yang melakukan pengambilan gambar di India (tetapi diset serupa Mesir), KCB memang mengambil lokasi di Mesir. Bisa jadi, karena AAC sukses mengangkat budaya Mesir, pemerintah mendukung dibuatnya KCB.

Protagonis utama film ini adalah seorang mahasiswa telat lulus bernama Abdullah Khariul Azzam,  yang masuk ke Universitas Al-Azhar sejak 9 tahun yang lalu namun, cerdas dan cemerlang di awal kuliah namun terseok-seok di tahun-tahun lanjutan karena harus bekerja sambilan agar terus sekolah. Dinamika kehidupan mahasiswa cukup bagus disajikan dalam episode 1. Sosok Azzam yang sederhana dan ulet, pemberani dan berjiwa kepemimpinan, memberika tauladan kepada rekan mahasiswa yang lebih junior, cukup bagus dimainkan oleh M. Cholidi Asadil Alam. Menurut penilaian saya, peran Azzam dimainkan dengan proporsional – walaupun kadangkala masih terlihat akting yang bisa lebih ditingkatkan.

Azzam pada akhirnya dipasangkan dengan Anna Althafunissa, yang sejak di Kairo sudah dipertemukan dengan Azzam, namun kisah berliku baru mempertemukan mereka sekali lagi di kartasura (ternyata mereka satu kota). Anna Althafunissa terlihat dimainkan dengan sangat santun, bahkan teramat santun, sehingga sekilas terlihat seperti porselin yang mudah pecah. Sekalipun demikian, hampir semua orang suka dan bersimpati pada karakternya di film ini – mungkin missi membawa citra muslimah ideal sukses di sini. Karena too white inilah karakter Anna tidak terlalu menarik untuk dibahas.

Alice Norin yang berperan sebagai Eliana Pramesthi Alam, putri duta besar Indonesia untuk Mesir, cukup mencolok dan mencuri perhatian dengan kecantikannya. Elliana, dimainkan secara cukup naturaloleh Alice Norin, khususnya saat menunjukkan citra perempuan modern yang biasa berpikir liberal. Namun demikian, di mata saya sosok ini  seharusnya bisa ditampilkan lebih cerdas dibandingkan lebih glamor. Sebagai seorang yang aktif, cerdas, dominan, putri Dubes yang juga aktivis dan artis sinetron, dalam film ini Elliana lebih cenderung muncul sebagai selebritis dibandingkan pekerja yang sibuk.

Saya harus mengangkat jempol untuk casting Ninik L. Karim sebagai ibunda Azzam, Deddy Mizwar sebagai Kyai Luthfi, dan Meyda Sefira sebagai ayatul Husna (adik Azzam). Harus saya katakan, ketiga orang dan karakter inilah yang membuat benar merah cerita dalam KCB 2 bisa terjalin manis dan mengalir. Tak diragukan lagi, Dedy dan Ninik punya karakter yang kuat dan sanggup menghidupkan tokoh yang dimainkan. Bila dalam KCB 1 sosok Kyai Luthfi hanya muncul sesekali, dalam KCB 2 kharisma sang Kyai muncul mempesona. Begitu juga peran Bu Malikatun yang dimainkan Ninik L Karim, begitu kuatnya mewarnai sequel ini. Yang mengejutkan justru kemampuan Meyda Sefira beradu akting dengan Ninik L Karim saat terjadi dialog rutin di rumah, jauh melampaui kemampuan akting artis-artis sinetron yang reguler muncul di televisi.

Saya juga memberikan poin plus pada Dude Herlino, Asmirandah dan Gito Gilas yang memainkan peran kecil namun cukup memberikan keindahan warna film ini secara keseluruhan. Mereka cukup layak menjadi bintang sinetron papan atas negeri ini.

Ada sebuah karakter yang menurut saya tidak dimainkan dengan optimal, yaitu figur Furqon. Sosok ini seharusnya menjadi salah satu sentral dalam cerita film ini tetapi secara umum gagal menarik perhatian. Kalah cemerlang dibandingkan figur Eliana yang dimainkan dengan bagus oleh Alice Norin. Andi Arsyil Rahman punya ketampanan yang khas, tetapi mungkin kurang pas memainkan Furqon. Ada kharisma yang hilang dari karakter anak seorang kaya raya, biasa berkehidupan borjuis, intelek, dan dominan. Saya malah berpikir, bagaimana sekiranya posisi Andi Arsyil Rahman dan Dude Herlino dipertukarkan?

Kesan tentang film KCB:

1. Secara umum, saya katakan KCB adalah film yang manis, banyak letupan yang memancing emosi penonton, alur cerita yang cukup menarik, sehingga sekalipun mungkin berbeda dengan isi novel penonton tidak terlalu berkeberatan. Bahkan teman saya berkomentar, perlu bawa banyak tisu untuk air mata. Banyak pelajaran tentang kultur Islam yang bisa dipetik melalui film ini. Recommended untuk kaum muslim.

2.  Pemakaian jilbab kok tidak natural? Pemirsa akan lebih banyak menyaksikannya dalam KCB 2. Saya tidak tahu harus berkomentar bagaimana, karena memang cukup membingungkan. Jamaknya, perempuan Islam tidak mengenakan jilbab di dalam rumah yang hanya berisi perempuan, bahkan bila ada laki-laki yang merupakan saudara kandung. Di manapun, istri yang sudah tinggal berduaan dengan suami di dalam kamar tidak akan mengenakan pakaian penutup yang berat dan lengkap. Masalahnya adalah rumah dan kamar tersebut adalah set pengambilan film, dan saudara atau suami tersebut hanyalah peran yang dimainkan.

3. Sponsor untuk kerudung ditampilkan dengan cukup demonstratif. Kerudung Anna Althafunnisa adalah Pasmira, sedangkan yang lainnya adalah Rabbani. Logo keduanya selalu tampak, bahkan agak mencolok.

4. Sepanjang ingatan saya, ada dua momen saat gambar di layar seperti kehilangan fokus. Dalam KCB 1, hal itu terjadi saat ada adegan lansekap pantai alexandria di sebelah kiri dan kamar hotel di sebelah kanan. Dalam KCB 2, terjadi saat rombongan Furqan datang untuk melaksanakan pernikahan di pesantren.

Di luar semua kekurang telitian atau kebingungan tadi, Indonesia perlu lebih banyak membuat film-film lain dengan genre kultur Islam seperti ini. Edukasi tentang Islam yang paling bagus adalah melalui visual, apalagi bila dengan contoh yang membumi.

Kado Istimewa dari POLRI

Posted in Sharing with tags , on September 19, 2009 by hzulkarnain

Catatan akhir Ramadhan 1430H

Subuh tanggal 17 September 2009, Densus Polri 88 melancarkan penggerebekan dan penyerangan ke sebuah rumah di Solo, Jawa Tengah. Konon, tanpa disangka-sangka, buronan teroris nomor wahid sedang berada di sana. Noordin M Top yang licin seperti belut berada di rumah yang menjadi target operasi. Tekanan serangan dari pasukan polisi memaksa jatuhnya korban jiwa di pihak target, termasuk sang buronan … NMT. Sudah jelas bahwa kepolisian kita sudah bekerja tak kenal lelah menelusuri jejak NMT, termasuk membongkar permainan psikologis yang selalu dimainkan para teroris tersebut. Semua kemungkinan diperiksa, karena di antara kemungkinan yang menyesatkan selalu ada petunjuk yang benar.

Ibarat “sepandai-pandainya tupai melompat, dia akan jatuh juga”, NMT yang perfeksionis dalam membuat perencanaan akhirnya memainkan desperate moves yang menggiringnya ke arah kematian. Bagaimanapun Polri yang punya banyak personil dan resource memiliki peluang yang lebih besar untuk menang dalam permainan strategis ini, terlebih lagi kepolisian sudah mulai mampu membuat profiling sang teroris. Kepolisian telah memainkan buah-buah caturnya dengan efektif.

Kita ingat bahwa, setelah berhenti beberapa tahun, ledakan bom di dua hotel internasional di Jakarta itulah (JW Marriot dan Ritz-Carlton) yang memicu gerakan lebih intensif pihak kepolisian. Rupanya, kepolisian menangkap banyak petunjuk dari aksi terakhir yang bisa dikembangkan menjadi petunjuk, khususnya identitas kedua pelaku dan orang dalam yang membantu terjadinya aksi tersebut.

Sebuah aksi teroris yang sedemikian rapih tidak mungkin dilakukan dengan tergesa-gesa, sudah pasti ada perencanaan yang matang dengan pembiayaan yang serius. Dari sana, kepolisian merangkai alur pengeboman yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.

Pertama adalah pelaku. Sudah pasti gerombolan NMT tidak akan mengorbankan diri mereka sendiri bila hendak melakukan bom bunuh diri, sehingga mereka harus merekrut orang lain. Bom bunuh diri jauh lebih efektif daripada bom mobil, yang juga masih dipakai sebagai alternatif. Dengan terungkapnya identitas kedua pelaku bom bunuh diri Marriot-2, kepolisian jadi tahu bahwa kelompok NMT merekrut remaja atau pemuda tertentu, yang mudah dicuci otaknya, untuk menjadi “pengantin”. Media cetak dan elektronik dipergunakan sebagai alat untuk menyebarkan informasi ini, termasuk nama rekruter yang berkeliaran di masyarakat. Maskarakat menjadi paham dan jauh lebih waspada.

Kedua, rekruter. Pengungkapan pengeboman Marriot-2 dan pemberitaan media massa memaksa kelompok NMT harus menangguhkan rekrutmen pengantin seperti dulu, karena mendadak masyarakat menjadi berprasangka pada orang-orang tertentu.

Ketiga markas sementara, yang dipergunakan untuk mengumpulkan bahan peledak dan perakitan bom. Ini adalah titik penting dalam penyusunan rencana. Terbongkarnya markas sementara di Bekasi membuka mata masyarakat untuk waspada pada kemungkinan pemanfaatan rumah kosong menjadi tempat perakitan bom. Kecurigaan warga pada orang baru yang tidak bisa menunjukkan identitas dengan jelas meningkat, sehingga tidak mudah lagi bagi kelompok NMT mengembangkan gerakan.

Keempat orang-orang kunci dan penghubung aktivitas. Sudah pasti, mereka ini adalah inner circle kelompok NMT. Beberapa orang yang sudah dikenal oleh polisi terus mendapatkan pengawasan. Orang-orang kunci ini memiliki akses pada sejumlah tempat tinggal yang diduga menjadi safe house NMT. Sebelum Temanggung dan Bekasi, Cilacap sudah dilumpuhkan.

Kelima, penyandang dana. Tanpa dana yang kuat, tidak mungkin pembelian setengah ton bahan peledak, mobil pengangkut, dan rumah kontrakan bisa didanai. Kelompok NMT sudah pasti bukan kumpulan orang-orang miskin, mereka militan tetapi tidak miskin. Uang yang mereka terima utamanya dipergunakan untuk aksi terorisme, bukan kepentingan pribadi. Kepolisian sudah pasti memeras otak untuk mencari tahu penyandang dana atau orang yang menyalurkan dana yang dikucurkan pada mereka.

Pergerakan intensif kepolisian membuat ruang gerak NMT semakin lama semakin sempit. Dengan lumpuhnya Bekasi, Temanggung, dan Cilacap, pilihan NMT semakin sedikit. Detik.com menyebutkan, NMT sudah semakin desperate, hingga dia melanggar aturannya sendiri, berkumpul dengan anggota yang menjadi target operasi polisi. Dengan tewasnya Ibrahim dan ditangkapnya beberapa orang lain, NMT mau tak mau harus kembali berhubungan dengan bekas pesakitan macam Urwah.

Kalau dulu pada jaman perjuangan Diponegoro, Jenderal De Kock menggunakan strategi benteng untuk menjepit pergerakan gerilya Pangeran Diponegoro. Semua daerah yang sudah dikuasai segera dibangun benteng dan dijaga ketat, karena tentara kolonial sendiri tidak tahu persisnya keberadaan Diponegoro. Dengan siasat ini, satu persatu orang kepercayaan sang pangeran tertangkap, hingga akhirnya memaksa sang pangeran keluar sarang untuk maju ke perundingan.

Sekarang, siasat yang secara konsep mirip dijalankan oleh Polri. Pergerakan NMT terjepit dengan pengerahan resource yang banyak, langsung maupun tidak langsung. Yang langsung sudah pasti adalah pengerahan reserse ke sendi-sendi kemasyarakatan. Yang tidak langsung adalah membangun awareness masyarakat terhadap keberadaan kelompok NMT. Akibatnya, NMT tidak merasa bebas berkeliaran di kota besar. Sekalipun ada 17 titik yang pernah dilacak sebagai markas, tetapi NMT berakhir di Jebres, Solo.

Tanggal 17 September 2009 adalah titik akhir gerakan sang gembong, namun Polri sendiri juga masih yakin bahwa perjuangan mereka tidak akan selesai sampai di sini. Kematian NMT tidak otomatis mematikan gerakan, karena akar gerakan tersebut masih ada. Kalau sekarang kita semua bisa lega, itu masih untuk sementara. Polri tidak akan berhenti mencari tahu pemain baru yang akan muncul untuk menggantikan NMT sebagai leader.

Semoga Allah Swt senantiasa melindungi kita, semoga moment Ramadhan ini adalah saat yang tepat untuk memperbaiki diri dan membangun masa depan bangsa yang lebih baik.

SELAMAT IDUL FITRI 1430 H

Taqabbalallahu mina wa minkum taqabbal ya karim

Kecintaan dan Keyakinan

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags on September 14, 2009 by hzulkarnain

Sebuah cinta yang dilandasi dengan keyakinan yang mendalam, bisa mengubah pandangan orang sedemikian rupa, sehingga bertolak belakang dengan pandangan sebelumnya. Kisah yang paling populer dan diceritakan dari generasi ke generasi di jaman Rasulullah SAW adalah Umar Bin Khaththab ra, yang masuk ke dalam pelukan Islam secara dramatis dan menjadi pembela Islam yang segarang ketika dia memusuhi Islam.

Ada seorang lagi sahabat yang punya pandangan dan kehidupan yang sangat berbeda ketika belum memeluk Islam dan setelah masuk Islam, yaitu Mush’ab bin Umair. Sebelum Islam, Mush’ab adalah pemuda flamboyan, tampan dan kaya, dan dengan jubahnya yang harum selalu menarik hati laki-laki dan perempuan Mekkah di masa itu. Kehidupannya selalu berkecukupan bahkan berlebih karena memang ia adalah putra sebuah keluarga bangsawan Quraisy.

Kebanyakan orang tidak memahami alasan Mush’ab memeluk Islam, namun yang jelas hidayah Allah bisa datang pada orang dan saat yang tak terduga. Mush’ab langsung di-Islamken sendiri oleh Rasulullah, sehingga kegembiraannya bergejolak harus ditenangkan oleh sentuhan tangan Rasululah SAW di dadanya. Kegundahan Mush’ab hanya satu, yaitu kekhawatirannya pada sang Ibu yang juga sangat dikasihi dan dihormatinya.

Akhirnya memang sang Ibu mengetahui perihal ke-Islaman Mush’ab – anak yang dikasihinya. Kemarahannya memuncak, demikian juga segenap kaum bangsawan Quraisy. Siksaan fisik dan mental diterimanya dengan lapang dada. Pada puncaknya, ia harus meninggalkan keluarga dan sanak kerabat bangsawannya, namun Mush’ab lagi-lagi mampu menerimanya. Ia tidak lagi berjubah dan berpakaian indah, keindahan pakainnya dulu tergantikan oleh sebuah jubah usang yang bertambal-tamal. Mush’ab membuang semua keindahan dan kenikmatan duniawi yang semu, namun diliputi kebodohan, untuk masuk ke dunia terang Islam sekalipun harus penuh dengan kesederhanaan.

Ketika sebagian umat Muslim harus mengungsi ke Habsyi, Mush’ab adalah salah seorang relawan yang pergi meninggalkan tanah air. Kelompok yang pergi ke Habsyi ini punya tujuan sampingan untuk menyebarkan Islam kepada raja dan penduduk negeri itu. Beberapa orang meninggal saat berada di Habsyi maupun dalam perjalanan pergi dan pulang melalui laut yang penuh kesulitan.

Kecintaan Mush’ab pada Islam dan Rasulullah SAW dibuktikannya terakhir kali dengan perang Uhud yang merupakan tragedi bagi kaum Muslimin. Ketidak disiplinan tentara Islam hanpir membawa petaka, sehingga Rasulullah tersudut dan harus bertahan dari gempuran tentara kafir yang menang personil dan persenjataan. Mush’ab adalah salah satu yang gugur karena melindungi Rasulullah.

Banyak kisah yang bercerita tentang mu’alaf yang selalu berada di garda depan perjuangan Islam, karena mereka pernah berada di sebuah tempat yang gelap dan penuh kebodohan. Ketika merasakan cerahnya Islam, mereka tak ragu-ragu lagi membela Islam dalam pemikiran dan perbuatan. Sebut saja Muh. Syafii Antonio, Anton Medan, dan Irene Suhandono, tiga di antara banyak pemuka Islam yang pernah beragama lain.

kemanapun wajah kuhadapkan adalah bumi Allah

kemanapun wajah kuhadapkan adalah bumi Allah

Di sisi lain, betapa tidak sedikit juga orang yang sejak lahir mengaku beragama Islam, namun perilaku serta pemikirannya justru kontra produktif dengan kultur Islam. Sebut saja para teroris yang mengaku memperjuangkan Islam namun tidak keberatan dengan tumpahnya darah sesama umat Islam.

Islam mengajarkan kita meyakini segala hal yang gaib, dalam pengertian memang tidak pernah terlihat wujudnya, maupun yang tidak pernah dilihat manusia kebanyakan. Itulah rukun iman yang enam. Percaya dan meyakini Allah, malaikat, Nabi dan Rasul, kitab-kitab yang diturunkan, takdir, dan hari akhir. Semuanya agar manusia lebih bertakwa.

Dalam sebuah hadist diriwayatkan, Rasulullah pernah berkata tentang orang-orang luar biasa yang dicintainya. Bukan mereka yang hidup di jaman beliau dan bisa bertemu dengan beliau, dan bukan alim ulama besar yang dekat dengan beliau. Orang-orang luar biasa itu adalah kebanyakan manusia di muka bumi ini, yang mencintai Rasulullah sekalipun tidak pernah bertemu dengan beliau. Kecintaan secara gaib, hanya karena meyakini bahwa tanpa beliau kita masih berada di alam kegelapan, dan hanya karena beliau saja kita terus bisa menikmati kerinduan pada Allah Ta’ala. Sekalipun berjarak ratusan bahkan ribuan tahun dari Rasulullah, orang-orang luar biasa itu berdzikir dan membaca Al-Qur’an seperti diajarkan beliau, menyayangi yatim piatu dan santun pada orang tua seperti beliau, dan memakmurkan masjid seperti tatkala beliau ada.

Kecintaan dan keyakinan membentuk karakter, dan bila sumbernya adalah firman Allah SWT dan sunnah Rasulullah SAW tentu saja jadinya luar biasa baik. Pribadi yang dihasilkan adalah bentuk indah sebagai manusia. Apapun yang menjadi jalan kehidupannya, ia akan mengabdikannya pada jalan yang di-ridhoi oleh Allah SWT. Kalau dia orang yang kaya, kekayaannya akan berguna bagi orang lain. Kalau dia penguasa, maka dirinya adalah payung besar yang mengayomi dan meneduhkan. Kalau jalan hidupnya sebagai cendekia dan pendidik, ia menjadi jalan terang bagi orang-orang yang bodoh dan mencari ilmu. Kalau dia pedagang, dia menjadi pengingat adanya kejujuran dalam semua transaksi. Kalau dia adalah seorang dhuafa, miskin, tak berharta, dia mengajarkan pada orang lain tentang kesabaran dan keikhlasan.

Dengan kecintaan dan keikhlasan, marilah kita mencari bentuk terbaik dari diri kita sendiri, untuk kemudian kita abdikan untuk agama dan kemanusiaan. Marilah berbagi dan mengabdi untuk kemanusiaan secara universal, untuk kemajuan dan kemakmuran umat Islam pada khususnya.

Penyenang Hati

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags on September 9, 2009 by hzulkarnain

Bila membaca status teman-teman di Facebook, khususnya yang bergender wanita, tampak sekali kegairahan, kegembiraan, atau kesedihan mereka bila berbicara tentang anak. Naluri alamiah sebagai Ibu mendorong mereka untuk menunjukkan sikap dan kecintaan mereka itu. Bila anak mereka berprestasi, betapa bangganya mereka bercerita di FB. Sebaliknya, kalau anak sedang sakit, muncul pula gambaran kesedihan pada tiap komentarnya.

Apakah laki-laki tidak seperti itu? Sebenarnya sama saja, hanya saja kaum lelaki ini tidak pandai mengutarakan emosinya secara terbuka. Yang namanya kebanggaan pada anak, sama saja. Demikian pula dengan kesedihan. Bila bangga pada anaknya, seorang ayah mungkin tidak memuji, namun memberikan hadiah jam tangan atau tas baru. Bila sedih saat anaknya sakit, ia tidak mengeluh namun ikut berjaga karena sulit tidur.

penyenang hati

penyenang hati

Dalam Islam, anak dan istri termasuk dalam cobaan namun juga penyenang hati (qurota a’yun). Pada bagian akhir surat Al-Furqan, orang yang menjalankan takwa dengan anak-istri mereka yang juga saleh, akan menerima derajat yang lebih tinggi. Allah mentitipkan istri dan anak, dan menjadikan seorang laki-laki imam dalam keluarga, semata-mata bertujuan untuk lebih meundukkan kepala dalam sujud dan kesyukuran. Allah telah melarang manusia untuk membunuh anak-anak mereka karena takut akan kemiskinan, karena Allah menjanjikan rizki bagi orang tua dan anak-anak tersebut.

Bila kita sempat melihat beberapa catatan kriminal di televisi dan media cetak, betapa miris hati saat melihat atau membaca pembunuhan anak-anak – dengan penganiayaan – oleh orang tuanya sendiri. Sang anak mati di rumah kos-an, dan ditemukan oleh tetangganya, sementara si orang tua sudah kabur entah kemana. Lain lagi cerita tentang seorang ibu yang tega membunuh kedua anaknya dengan racun dan kemudian bunuh diri, karena takut akan masa depan anak-anaknya. Ada juga kasus pembunuhan yang dilatar belakangi ketidak sengajaan, kelainan jiwa, dan sebagainya.

Belakangan juga marak kasus perceraian di kalangan selebritis, entah yang sedang direncanakan (digugat) maupun yang sudah terjadi. Penyebab yang paling umum adalah issue perselingkuhan, baik yang dilakukan oleh si laki-laki maupun si perempuan. Seorang penyanyi yang baru menikah seumur jagung harus menggugat cerai suaminya yang membuatnya bonyok, saat dipergoki sedang bersama perempuan lain. Cerita lain lagi, seorang aktor sinetron menggugat cerai istrinya karena tempat kerjanya dekat dengan maksiat (loh? Memang dulu nggak tahu?). Yang paling mutakhir adalah kabar perceraian penyanyi KD, entah karena sebab apa …..

Sungguh ironis, orang-orang yang seharusnya menjadi penyenang hati mengapa akhirnya menjadi musuh atau korban? Ketika menyakiti istri, tanpa sadar anak menjadi korban. Ketika menganiaya anak, sebenarnya istri justru menjadi musuh baru. Tugas laki-laki adalah menjadi imam, dan bila ia bisa menjadi imam sebuah rumah tangga yang bertakwa, derajatnya akan diangkat oleh Allah Swt.

Akan tetapi, banyak sekali laki-laki yang tidak sadar akan tugasnya sebagai imam dalam rumah tangga, yang merasa tidak berdaya pada istri yang bertingkah berlebihan hanya karena punya pendapatan lebih besar, pada anak-anak yang menunjukkan penyimpangan dengan mendekati kemaksiatan yang nyata. Bukan hanya mereka yang tidak mengenal jalan agama, bahkan anak ulama pun banyak yang salah jalan. Seolah-olah anak-anak itu telah lepas dari tali kendali yang sejak kecil ditanamkan.

Dunia memang tidak sempurna, penuh dengan warna yang seringkali membuat kira merasa miris. Satu hal yang jelas, Islam mengajarkan umatnya untuk tidak berputus asa pada rahmat Allah. Apalagi Allah juga berjanji akan menaikkan derajat orang-orang yang sebar, karena Allah beserta orang-orang yang sabar. Sabar dalam menjalankan ibadah kepada Allah, sabar dalam menjalankan ketetapan-ketetapan Allah (menjalankan perintah dan menjauhi larangan), dan sabar saat menerima cobaan dari Allah.

Anak dan istri adalah penyenang hati, tetapi bila sebagai imam seorang suami tidak bisa mengarahkan mereka, maka mereka bisa menjadi cobaan. Hanya dengan jalan agama, pengajaran Al-Qur’an beserta penerapan isinya, yang membuat rumah menjadi surga. Semoga kita menjadi orang yang bersabar dan bertakwa.

Agustusan – Kontemplasi dan Kebanggaan

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on September 3, 2009 by hzulkarnain

Catatan Akhir Agustus

upacara1Bulan lalu, bangsa ini genap berusia 64 tahun. Usia yang belum tua sebagai sebuah bangsa, bila dibandingkan dengan negara-negara Eropa dan Amerika. Indonesia juga tidak termasuk bangsa yang dianggap berkebudayaan tua Asia, seperti Cina dan India. Kalaupun di Indonesia ditemukan candi, prasasti, dan petilasan kebudayaan pra-sejarah, gaungnya tidak sampai ke masa sekarang. Bahkan bila dibandingkan dengan Korea dan Jepang yang bisa melestarikan budaya asli mereka dan hidup hingga masa sekarang, Indonesia masih kalah jauh.

Jepang dan Korea Selatan adalah contoh bangsa yang berkembang pesat dalam modernisasi di segala bidang kehidupan, namun tetap mempertahankan elemen tradisi yang mengakar kuat. Wajah modern dan tradisional bisa berjalan tanpa saling menjegal. Bila Jepang terkenal dengan upacara minum teh, budaya samurai, drama tradisional, kehidupan lautnya, hingga kebiasaan melepas sepatu di pintu, Korea Selatan sejak dulu dikenal sebagai negeri pengobatan kuno. Kimchi yang disebut sebagai makanan tradisional negeri itu diolah dengan sangat tradisional. Bukan hanya caranya yang konvensional, bahkan semua peralatannya pun tidak berubah sejak ratusan tahun silam. Semua peralatan masak dan makan dibuat untuk mendorong manfaat kesehatan bahan makanan yang akan dikonsumsi.

Kembali ke Indonesia, usia bangsa ini memang belum tua, namun berangsur-angsur menjelma menjadi sebuah entitas yang tidak bisa dianggap remeh di dunia. Letaknya yang sangat strategis, keluasannya yang membentang, kemajemukan kulturnya, dan potensi kekayaannya yang masih belum semuanya tereksplorasi, membuat Indonesia seperti permata khatulistiwa yang belum terasah benar.

Siapa yang berani mengatakan bahwa orang Indonesia lemah? Kelemahan yang tampak di permukaan sebenarnya bisa terjadi di bangsa manapun, namun kita merasa terpuruk karena membandingkan diri dengan bangsa lain yang lebih maju. Sebagian lagi karena adanya penilaian dari orang-orang kita sendiri yang pesimis seperti seekor katak dalam tempurung.

Tatkala umur bangsa ini masih muda, bahkan kita sudah bisa menegakkan Monas dan Masjid Istiqlal yang hingga sekarang kemegahannya tetap diakui. Kita pernah punya Ir Sutami yang mampu memikirkan konsep jembatan semanggi yang unik, karena pilarnya tidak tegak lurus. Daerah rawa disulap menjadi Ancol dan Dufan, Taman Mini Indonesia Indah, dan yang terakhir adalah prestasi pembangunan Suramadu. Pulau Jawa sekarang ini hampir seperti kota terpanjang di dunia, karena hampir tidak ada lagi wilayah yang sepenuhnya terisolasi. Infrastruktur sedemikian berkembang di sini.

Dalam berbagai carut marut politik, keamanan Indonesia harus diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Kecuali diprovokasi, kondisi serawan pemilihan umum pun tidak menimbulkan gejolak yang berarti. Tentara dan polisi bekerja sangat keras, namun dewasa ini mereka lebih banyak bekerja tidak show of force seperti masa orde baru. Tidak ada undang-undang anti subversi atau ISA (internal security act) seperti di Malaysia, akan tetapi semua tampak berjalan normal dan keamanan kondusif sekali. Kegeraman pemerintah pada terorisme mulai menampakkan hasil, gembong terorisme diidentifikasi, masyarakat aware pada bahaya terorisme, tanpa membuat masyarakat resah.

Dalam kondisi ekonomi yang tidak dikontrol ketat seperti halnya Malaysia (yang disubsidi habis sehingga 1 USD setara dengan 3 RM), di bawah pemerintahan yang sedang berlangsung ekonomi Indonesia terus menunjukkan perbaikan. Tahun ini, inflasi masih berada jauh di bawah 5%, artinya bahwa ada kestabilan yang bisa dipelihara oleh pemerintah, sehingga pelaku bisnis bisa juga lebih tenang. Bila pemerintah mampu menciptakan peraturan yang membuat pelaku bisnis yakin pada keamanan Indonesia, bukan tidak mungkin investasi asing kembali marak sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Bicara soal prestasi, Indonesia adalah gudang seni dan budaya. Tak mengherankan “tetangga sebelah” gatal sekali mau meng-klaim sebagian seni budaya yang keberadaannya bahkan sudah lebih tua daripada Kerajaan Malaka sendiri. Katakanlah wayang kulit yang dikreasi oleh Sunan Kalijaga, batik, dan tari Pendet asal Bali. Dewasa ini, generasi mudah bangsa juga semakin banyak yang mengharumkan nama bangsa melalui berbagai olimpiade sains dan teknologi. Anak-anak muda kita sudah langganan membawa pulang medali dari “kandang-kandang singa” teknologi.

Bulan kemarin, kita semua memulai bulan Ramadhan, bulan suci bagi kaum Muslimin. Sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, sudah selayaknya bangsa ini menjadi contoh bagi pluralitas berbangsa dan beragama. Toleransi yang sudah menjadi akar budaya bangsa telah terbukti menjadi perekat kemajemukan tersebut. Justru karena mengamalkan firman Allah “lakum dinukum waliyadiin” kita tidak pernah merasa risih dalam menjalam ibadah. Besarnya peranan kaum Islam dalam pengembangan bangsa ini bukannya tidak dilihat oleh bangsa lain, bahkan Amerika Serikat yang dikenal sebagai tentara dunia, dan dianggap sebagai kiblat demokrasi dunia, menaruh hormat pada posisi kita.

Rasanya, bangsa ini memang perlu lebih menghormati dirinya sendiri, agar mampu berjalan dengan kepala tegak saat menempuh masa depan yang semakin sulit.

MERDEKA!