Archive for July, 2008

DR. Moh. Sholeh dan Buku Terapi Salat Tahajud

Posted in Biografi, Sharing with tags , on July 31, 2008 by hzulkarnain

Sekalipun saya menyukai beragam buku, sebenarnya saya bukan orang yang mudah tertarik dengan kandungan sebuah buku. Kecuali buku tersebut ditulis oleh orang yang sudah dikenal luas berkompeten di bidangnya. Beberapa buku hanya saya baca sebagian dan kemudian tersimpan rapih di lemari, sebagian lagi saya baca bertahap, dan sedikit sekali yang langsung saya selesaikan dalam sekali duduk. Bila sebuah buku saya anggap sebagai referensi, akan saya tempatkan sedemikian rupa sehingga mudah saya akses dan buka lagi.

Buku karya DR. Mohammad Sholeh ini salah satu yang saya anggap sebagai buku referensi, perlu dibuka lagi untuk memperoleh insipirasi baru, sekalipun tampilannya mungil dan cocok sebagai buku saku. Ketika diterbitkan tahun 2006, segera saja buku ini menjadi booming dan hal itu menarik perhatian istri saya untuk memiliki bukunya (sementara saat itu saya masih lebih suka mengoleksi buku tentang sejarah Islam dan Al-Qur’an). Namun demikian, segera saja istri saya meletakkan buku itu di lemari dan tidak pernah menyentuhnya lagi. Kenapa? Ternyata buku kecil itu jauh lebih berat daripada penampilannya, karena merupakan bentuk populer dari desertasi doktoral sang pengarang.

Sebelum memasuki muatan buku, profil DR. Moh. Sholeh sendiri sudah sangat menarik. Beliau bukan dokter atau psikolog, bahkan menyelesaikan kuliah S-1 di Jurusan Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Malang. Gelar Masternya adalah pendidikan dari IKIP Malang. Gelar doktor beliau diraih di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, yang merupakan barometer pendidikan kedokteran di Indonesia Timur, di bidang imunologi. Tahun 2004, beliau dikukuhkan sebagai guru besar Psikologi Islam. Hingga sekarang beliau adalah dosen di IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Siapapun yang pernah mengenyam pendidikan tinggi pasti akan terkagum-kagum dengan kemampuan beliau menempuh pendidikan lintas disiplin ilmu, seperti mengingatkan kita pada kecerdasan kaum intelektual masa renaissance seperti Leonardo Da Vinci. Da Vinci terkenal dengan lukisan Monalisanya, tetapi juga seorang engineer dan inventor, sementara itu ia juga diketahui sebagai filsuf religius. Menurut Abu Sangkan, yang menulis pengantar buku ini, kondisi ini dibentuk oleh penguasaan Prof.DR. Moh. Sholeh pada Al-Qur’an.

Menurut Abu Sangkan dalam pengantarnya dalam buku Terapi Salat tahajud ini, orang seperti Moh. Sholeh inilah yang dirindukan oleh dunia Islam, karena mampu menterjemahkan firman Allah menjadi temuan sains yang menakjubkan. Baginya, figur Moh. Sholeh dianggap telah menemukan nurun ‘ala nurin (cahaya maha cahaya) di dalam kandungan Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan lagi sekedar dimuati ayat-ayat maha indah dan menggugah rasa ketika dilantunkan, namun juga sarat dengan sumber pengetahuan yang perlu dikaji dan dikupas.

Al-Qur’an sebenarnya mengharapkan dan meminta kita untuk setidaknya 6 hal:

  1. Iqra’ (bacalah)
  2. wa-sma’u (dan simaklah)
  3. afala tatafakkarun (lalu pikirkanlah)
  4. afala tubshirun (lalu perhatikanlah)
  5. afala tandhurun (lalu telitilah)
  6. afala tatadabbarun (lalu ungkapkanlah)

Prof.DR. Moh. Sholeh telah melakukan semuanya hingga beliau menemukan hubungan antara shalat tahajud dengan kesehatan. Al-Qur’an menyebut orang seperti beliau ini Ulul Albab, yaitu orang yang mengingat Allah sabil berdiri, duduk, atau dalam keadaan ebrbaring lalu memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (Ali Imran 190-191).

Kita tidak pernah mengenal nama besar ilmuwan ini sebelumnya, dan hingga sekarang pun saya yakin banyak yang tidak mengenal benar sosoknya yang rendah hati. Beliau bukan selebritis yang mencoba mencari penghargaan dari sesama manusia, namun berlian yang yang berada di tengah masyarakat dan menjadi mercusuar bagi orang lain. Selain aktif sebagai dosen, beliau juga merupakan terapis psikoneuroimunologi di Surabaya (Masjid Al-Akbar).

Rocky

Posted in Kontemplasi with tags on July 27, 2008 by hzulkarnain
Rocky Balboa (Stallone) vs Mason Dixon (Antonio Tarver)

Rocky Balboa (Stallone) vs Mason Dixon (Tarver)

Pernah nonton film Rocky? Kebanyakan kaum laki-laki sudah menontonnya.

Sebenarnya, saya hanya suka Rocky I yang juga berjudul Eye of The Tiger. Konon film inilah yang mengangkat nama Sylvester Stallone menjadi bintang dunia. Selain kompleks, film pertama tersebut sarat dengan pesan humanis. Setelah itu, kalaupun ada film lanjutannya saya hanya nonton di televisi karena fokus film sudah berubah ke arah heroisme ala Amerika (kalah, bangkit, final fight, menang, selesai).

Malam ini, saya menonton film Rocky Balboa (tanpa embel-embel serial di belakangnya). Film yang dibuat tahun 2006 ini mengetengahkan petinju asli Antonio Tarver yang pernah menjadi juara dunia kelas Berat Ringan. Dikisahkan, Rocky sudah pensiun lama, jaman berubah, anak lelakinya sudah tumbuh dewasa, dan istrinya Adrian sudah meninggal karena kanker. Fokus sentral film ada pada Rocky yang sudah mulai uzur – harusnya berumur 50 tahun lebih – yang mengelola rerstoran setelah pensiun. Ia tetap rendah hati dan baik pada semua orang. Ia dihormati dan disegani orang yang mengenalnya. Kharismanya tetap tampak, dan itu membuat anaknya seperti berada dalam bayangan sang ayah.

Konflik terjadi ketika ia ingin naik ring lagi, paling tidak untuk pertunjukan amal kecil-kecilan. Sepeninggal istrinya, memang ia seperti melupakan nalurinya sebagai petarung dan mengurus restoran. Koran mem-blow up berita keinginannya untuk come back sehingga memancing kubu juara dunia untuk menjajalnya. Sang juara dunia dianggap tidak pernah memperoleh musuh sepadan, dan beberapa pihak yakin bila Rocky masih bugar ia akan dilumat habis.

Film itu sendiri tidak banyak memberikan warna baru, tidak terlalu istimewa, namun ada bagian dari dialog yang menurut saya sangat berkesan.

Saat mengetahui Rocky akan come back, Robert Balboa Jr. mendatangi ayahnya dan melarangnya untuk naik ring lagi. Dikatakannya, sudah cukup ayahnya menjadi figur yang membuatnya tidak independen. Ia bisa bekerja baik karena ada nama Balboa di belakangnya. Ia berusaha untuk melepaskannya, namun ketika perjuangannya masih berlangsung tahu-tahu Rocky akan muncul lagi – dan itu akan menarik perhatian dunia.

Rocky berkata:

Dulu tanganku ini muat mengangkat punggungmu, dan saat itu aku katakan pada semua orang, anak ini adalah anak yang hebat. Dia akan menjadi orang berjuang untuk menjadi hebat.

Aku pernah mengatakan sesuatu yang mungkin sudah kamu lupakan. Dunia ini tidak hanya matahari dan pelangi. Banyak sekali hal kejam dan jahat di dalamya dan siap melumatmu. Bukan soal seberapa keras kamu bisa memukul balik, tapi ini mengenai seberapa kuat kamu menerima pukulan dan selalu bangkit. Selalu bangkit setiap kali menerima pukulan.

Anakku ini tidak akan menyerah. Aku yakin kamu tidak akan menyerah.

Kita memang tidak pernah tahu apa yang terjadi nanti, besok, atau minggu depan. Segalanya bisa terjadi, dan mungkin yang terjadi tidak kita sukai. Bila yang terburuk terjadi, kita mungkin seperti petinju yang terpukul dan terduduk. Saat knock down, kita butuh duduk sejenak untuk menghilangkan pusing, TAPI harus bangkit secepatnya … atau kalah! Di ring, petinju hanya punya waktu 10 detik untuk recovery atau KO.

Berjuang adalah keharusan. Melakukan yang terbaik adalah keharusan. Bangkit lagi setelah jatuh adalah keharusan. Keyakinan ini akan memupuk rasa percaya diri.

Orang tanpa rasa takut akan maju tanpa berpikir. Rasa takut kita perlukan bukan hal yang memalukan karena kita membutuhkannya untuk terus berpikir ketika maju. Terus maju dengan berpikir membuat langkah kita lebih meyakinkan.

Kecerdasan Majemuk

Posted in Psikologi with tags , on July 27, 2008 by hzulkarnain

Saat mendengar kata kecerdasan atau intelegensi, apa yang terpikir dalam benak anda?

Saya hampir yakin, banyak di antara kita yang cenderung menyetarakan kecerdasan dengan matematika, fisika, dan ilmu sains lainnya. Bila anak kita punya nilai bagus pada pelajaran matematika atau fisika, betapa bangganya orang tua. Kalau perlu, anak dikursuskan secara khusus cara berhitung dan matematika yang berbiaya mahal. Beda dengan bila anak berkemampuan tinggi di dalam olah bahasa, apalagi Bahasa Indonesia, rasanya masih ada yang kurang. Ini sungguh menggelitik, pekerjaan setelah selesai sekolah tidak hanya yang berkenaan dengan bidang sains dan matematika.

Asumsi saya, hal ini berkenaan dengan konsep konservatif peninggalan kolonial yang mendorong anak untuk menekuni profesi dokter atau insinyur. Orang tua lebih bangga bila anaknya menyandang gelar tersebut bila dibandingkan dengan profesi lain, misalnya kamerawan atau jurnalis. istilah orang Jawa, dokter dan insinyur “luwih mriyayeni” (lebih berkelas). Tentu saja hal ini tidak bisa dipertahankan.

Pele

Pele

Sekarang ini pun, kita mengenal beberapa nama yang sangat dikenal meskipun tidak berkaitan dengan sains dan matematika, misalnya pelukis ekspresionis Affandy, fotografer Darwis Triadi, petinju legendaris Muhammad Ali dan Mike Tyson, striker Brazil Pele, dsb.

Beberapa tahun yang lalu, saya memperoleh pencerahan saat membaca resume buku Frames of Mind:The Theory of Multiple Intelligences karya Howard Gardner. Dengan menantang segala teori lain yang sudah menjadi karya klasik, bahkan sudah menjadi bagian dari perkembangan ilmu psikologi di berbagai negara, Garner yakin bahwa kecerdasan bukan tunggal. Dengan mencontohkan seorang autistic savant, ia menegaskan bahwa seorang dengan cacat di sebagian otak ternyata bisa memiliki kemampuan lain yang menonjol karena perkembangan di tempat lain sangat menonjol.

Mungkin seseorang tidak punya kelebihan khusus di bidang angka, namun bisa jadi dia jenius dalam bidang olah raga atau bahasa. Oleh karena itu, dengan mengacu pada teori Gardner, kita perlu lebih jeli melihat potensi yang sebenarnya dimiliki oleh anak-anak kita. Kita harus berpikir lebih jauh dan maju, dan buang jauh kerangka konservatif yang membelenggu pola pikir kita.

Kembali pada teori Gardner, Kecerdasan Majemuk atau Multiple Intelligences secara garis besar meliputi:

1. Bodily-Khinestetic (Kinetik Tubuh)

Ini adalah tipe kecerdasan yang lebih berfokus pada penyerapan aktivitas fisik daripada mendengar atau membaca. Intinya adalah pergerakan tubuh, olah fisik, dan pemanfaatan anggota tubuh. Mereka memahami segala sesuatu melalui gerakan fisik, bukan dengan mendengar atau membaca. Contoh paling konkret adalah atlit, misalnya pemain bola top dunia, ahli bela diri, koreografer tari, tentara, dsb.

2. Interpersonal

Bila pernah membaca kecerdasan emosional karya Goleman, kiranya model kecerdasan ini berkorelasi dengan kecerdasan interpersonal. Menempatkan diri di antara orang lain, tidak mengenal lelah bekerja dalam sebuah organisasi, bertatap muka untuk berdiskusi dan berdebat, bukanlah sesuatu yang mudah. Diplomat, politisi, public relation officer, manajer, adalah contoh orang dengan kecerdasan interpersonal.

3. Verbal – Linguistic

Bila sesekali pernah melihat filam serial Criminal Minds (mungkin bagi yang langganan teve kabel), ada karakter yang punya keahlian tinggi dalam membaca (kalau tidak salah bernama DR. Reid). Selain punya fotografik memory, ia bisa membaca dengan sangat cepat (seperti scanning), serta memadukan setiap keping ingatan menjadi sebuah konstruksi peristiwa.

Dalam kehidupan nyata, kita bisa kagum dengan kemampuan seorang lawyer membolak-balik kata, pujangga dalam mengolah kalimat menjadi roman panjang, Oprah Winfrey yang bertanya secara cerdas, maupun pencipta naskah iklan yang membuat jargon khas sebuah produk. Jurnalis dan guru juga membutuhkan jenis kecerdasan ini.

4. Logical – Mathematical

Jenis kecerdasan ini tidak perlu diulas panjang lebar, karena merupakan favorit kebanyakan masyarakat kita. Kecerdasan ini tentunya sangat dibutuhkan oleh negara yang sedang berkembang, karena kemajuan teknologi dan penguasan berbagai hal teknis baru didasari oleh kecerdasan dalam logika dan matematika. Kemajuan teknologi informasi juga bergantung pada kecerdasan ini, sebab bahasa pemrograman lekat kaitannya dengan logika berpikir.

5. Naturalistic

Kecerdasan ini terkait dengan sensitivitas orang terhadap alam. Ada sebagian orang yang punya kecenderungan lebih untuk bergaul dengan alam, dan mampu bereaksi baik terhadap lingkungan. Bila menanam sesuatu, secara naluri ia bisa merasakan kebutuhan tanaman sehingga mempersiapkan tanah dengan benar. Ahli botani dan binatang yang bersedia hidup terpencil di hutan untuk penelitian, konservasionis, ahli taman, ahli bonsai, adalah contoh orang yang berkecerdasan naturalistik.

6. Intrapersonal

Kita menjumpai orang yang berkemampuan tinggi dalam introspeksi dan melakukan refleksi diri, dan segala kejadian yang dialami bisa dituangkan dalam wacana yang bisa dipahaminya sendiri maupun orang lain. Biasanya, orang seperti ini cenderung introvert dan penyendiri dalam bekerja, berkonsentrasi penuh agar bisa membentuk wacana berpikir. Filsuf, psikolog, pemikir dan cendekiawan agama, penulis, adalah contoh dari profesi yang berkenaan dengan kecerdasan intrapersonal.

7. Spatial (Ruang Bidang)

Kecerdasan ini terkait dengan kemampuan melakukan visual ruang bidang, mampu mengenal arah dengan cepat, mungkin disertai pula dengan koordinasi mata-tangan yang baik, sebagaimana orang dengan kecerdasan kinestetik tubuh. Arsitek adalah profesi yang membutuhkan kecerdasan ini, dan tampaknya pembalap F1 atau GP 500 juga membutuhkannya. Bisa dibayangkan bagaimana orang harus melakukan beberapa hal bersamaan: kecepatan ekstra tinggi, koordinasi mata dan tangan agar kendaraan melaju terarah, mapping sirkuit di luar kepala, mendengar dan mencerna instruksi dari headset, dan mengeksekusi tindakan dengan benar.

8. Musikal

Musik adalah bahasa universal, dan sekalipun jenius dalam musik tidak banyak pada dasarnya cukup banyak orang yang bisa mengubah kejadian bisa menjadi musik. Kecerdasan ini terkait dengan irama, musik, dan pendengaran. Sensitivitasnya lebih tinggi daripada orang kebanyakan dalam menerima dan mencerna suara, irama, nada dan musik. Secara natural mereka bisa menentukan pitch suara yang baik di telinga orang lain. Pemusik, penyanyi, penggubah lagu, DJ, adalah sebagian dari profesi dengan kecerdasan ini.

Ada beberapa kecerdasan yang muncul belakangan, namun agaknya Gardner belum secara pasti menentukan tempatnya, misalnya kecerdasan moral.

asah bakat

asah bakat

Ada beberapa kritik yang cukup keras terhadap konsep dan teori Gardner ini, namun tidak dibahas disini karena memerlukan pengkajian yang mendalam. Pada intinya, sebagaimana pada teori lain, tidak mungkin sebuah teori bisa memuaskan berbagai kalangan. Mungkin Gardner benar dalam sebuah sisi, tetapi ia lupa ada sisi lain yang juga telah diteliti dan kebetulan hasilnya tidak bisa dijelaskan melalui teori Gardner.

Kembali pada kita sendiri, dengan memahami temuan Gardner ini jelas bahwa anak kita harus dianggap sebagai individu yang unik karena memiliki hal yang mungkin tidak kita cermati sebelumnya. Saya yakin hal ini akan sesuai dengan analogi equalizer dalam sound system. Bila kita ingin anak kita baik dalam semua jenis kecerdasan, anak kita akan menjadi “jack of All Trade” – bisa ini dan itu tapi tidak benar-benar ahli dalam 1 – 2 bidang. Bila kita ingin mendengarkan musik jazz, secara otomatis bagian treble akan tinggi sementara bass akan turun. Kalau default musik rock akan sebaliknya.

Manusia memiliki sisi dominan di salah satu hemisfer otak, entah kanan atau kiri. Bila dominasi terletak di otak kanan, sisi kreatifnya akan lebih menonjol dan lebih mudah baginya membentuk kata-kata serta berkontemplasi. Ada 1 atau 2 hal yang akan menonjol pada dirinya. Sebaliknya, bila dominasi di otak kiri, mungkin dia akan cocok untuk pekerjaan yang membutuhkan keteraturan, ketelitian, dengan pola pikir yang lebih sistematis.

Dunia masih memiliki banyak kemungkinan di masa depan, dan anak kita membutuhkan dorongan dari orang tuanya agar bisa berkembang sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.