Archive for July, 2008

DR. Moh. Sholeh dan Buku Terapi Salat Tahajud

Posted in Biografi, Sharing with tags , on July 31, 2008 by hzulkarnain

Sekalipun saya menyukai beragam buku, sebenarnya saya bukan orang yang mudah tertarik dengan kandungan sebuah buku. Kecuali buku tersebut ditulis oleh orang yang sudah dikenal luas berkompeten di bidangnya. Beberapa buku hanya saya baca sebagian dan kemudian tersimpan rapih di lemari, sebagian lagi saya baca bertahap, dan sedikit sekali yang langsung saya selesaikan dalam sekali duduk. Bila sebuah buku saya anggap sebagai referensi, akan saya tempatkan sedemikian rupa sehingga mudah saya akses dan buka lagi.

Buku karya DR. Mohammad Sholeh ini salah satu yang saya anggap sebagai buku referensi, perlu dibuka lagi untuk memperoleh insipirasi baru, sekalipun tampilannya mungil dan cocok sebagai buku saku. Ketika diterbitkan tahun 2006, segera saja buku ini menjadi booming dan hal itu menarik perhatian istri saya untuk memiliki bukunya (sementara saat itu saya masih lebih suka mengoleksi buku tentang sejarah Islam dan Al-Qur’an). Namun demikian, segera saja istri saya meletakkan buku itu di lemari dan tidak pernah menyentuhnya lagi. Kenapa? Ternyata buku kecil itu jauh lebih berat daripada penampilannya, karena merupakan bentuk populer dari desertasi doktoral sang pengarang.

Sebelum memasuki muatan buku, profil DR. Moh. Sholeh sendiri sudah sangat menarik. Beliau bukan dokter atau psikolog, bahkan menyelesaikan kuliah S-1 di Jurusan Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Malang. Gelar Masternya adalah pendidikan dari IKIP Malang. Gelar doktor beliau diraih di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, yang merupakan barometer pendidikan kedokteran di Indonesia Timur, di bidang imunologi. Tahun 2004, beliau dikukuhkan sebagai guru besar Psikologi Islam. Hingga sekarang beliau adalah dosen di IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Siapapun yang pernah mengenyam pendidikan tinggi pasti akan terkagum-kagum dengan kemampuan beliau menempuh pendidikan lintas disiplin ilmu, seperti mengingatkan kita pada kecerdasan kaum intelektual masa renaissance seperti Leonardo Da Vinci. Da Vinci terkenal dengan lukisan Monalisanya, tetapi juga seorang engineer dan inventor, sementara itu ia juga diketahui sebagai filsuf religius. Menurut Abu Sangkan, yang menulis pengantar buku ini, kondisi ini dibentuk oleh penguasaan Prof.DR. Moh. Sholeh pada Al-Qur’an.

Menurut Abu Sangkan dalam pengantarnya dalam buku Terapi Salat tahajud ini, orang seperti Moh. Sholeh inilah yang dirindukan oleh dunia Islam, karena mampu menterjemahkan firman Allah menjadi temuan sains yang menakjubkan. Baginya, figur Moh. Sholeh dianggap telah menemukan nurun ‘ala nurin (cahaya maha cahaya) di dalam kandungan Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan lagi sekedar dimuati ayat-ayat maha indah dan menggugah rasa ketika dilantunkan, namun juga sarat dengan sumber pengetahuan yang perlu dikaji dan dikupas.

Al-Qur’an sebenarnya mengharapkan dan meminta kita untuk setidaknya 6 hal:

  1. Iqra’ (bacalah)
  2. wa-sma’u (dan simaklah)
  3. afala tatafakkarun (lalu pikirkanlah)
  4. afala tubshirun (lalu perhatikanlah)
  5. afala tandhurun (lalu telitilah)
  6. afala tatadabbarun (lalu ungkapkanlah)

Prof.DR. Moh. Sholeh telah melakukan semuanya hingga beliau menemukan hubungan antara shalat tahajud dengan kesehatan. Al-Qur’an menyebut orang seperti beliau ini Ulul Albab, yaitu orang yang mengingat Allah sabil berdiri, duduk, atau dalam keadaan ebrbaring lalu memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (Ali Imran 190-191).

Kita tidak pernah mengenal nama besar ilmuwan ini sebelumnya, dan hingga sekarang pun saya yakin banyak yang tidak mengenal benar sosoknya yang rendah hati. Beliau bukan selebritis yang mencoba mencari penghargaan dari sesama manusia, namun berlian yang yang berada di tengah masyarakat dan menjadi mercusuar bagi orang lain. Selain aktif sebagai dosen, beliau juga merupakan terapis psikoneuroimunologi di Surabaya (Masjid Al-Akbar).

Rocky

Posted in Kontemplasi with tags on July 27, 2008 by hzulkarnain
Rocky Balboa (Stallone) vs Mason Dixon (Antonio Tarver)

Rocky Balboa (Stallone) vs Mason Dixon (Tarver)

Pernah nonton film Rocky? Kebanyakan kaum laki-laki sudah menontonnya.

Sebenarnya, saya hanya suka Rocky I yang juga berjudul Eye of The Tiger. Konon film inilah yang mengangkat nama Sylvester Stallone menjadi bintang dunia. Selain kompleks, film pertama tersebut sarat dengan pesan humanis. Setelah itu, kalaupun ada film lanjutannya saya hanya nonton di televisi karena fokus film sudah berubah ke arah heroisme ala Amerika (kalah, bangkit, final fight, menang, selesai).

Malam ini, saya menonton film Rocky Balboa (tanpa embel-embel serial di belakangnya). Film yang dibuat tahun 2006 ini mengetengahkan petinju asli Antonio Tarver yang pernah menjadi juara dunia kelas Berat Ringan. Dikisahkan, Rocky sudah pensiun lama, jaman berubah, anak lelakinya sudah tumbuh dewasa, dan istrinya Adrian sudah meninggal karena kanker. Fokus sentral film ada pada Rocky yang sudah mulai uzur – harusnya berumur 50 tahun lebih – yang mengelola rerstoran setelah pensiun. Ia tetap rendah hati dan baik pada semua orang. Ia dihormati dan disegani orang yang mengenalnya. Kharismanya tetap tampak, dan itu membuat anaknya seperti berada dalam bayangan sang ayah.

Konflik terjadi ketika ia ingin naik ring lagi, paling tidak untuk pertunjukan amal kecil-kecilan. Sepeninggal istrinya, memang ia seperti melupakan nalurinya sebagai petarung dan mengurus restoran. Koran mem-blow up berita keinginannya untuk come back sehingga memancing kubu juara dunia untuk menjajalnya. Sang juara dunia dianggap tidak pernah memperoleh musuh sepadan, dan beberapa pihak yakin bila Rocky masih bugar ia akan dilumat habis.

Film itu sendiri tidak banyak memberikan warna baru, tidak terlalu istimewa, namun ada bagian dari dialog yang menurut saya sangat berkesan.

Saat mengetahui Rocky akan come back, Robert Balboa Jr. mendatangi ayahnya dan melarangnya untuk naik ring lagi. Dikatakannya, sudah cukup ayahnya menjadi figur yang membuatnya tidak independen. Ia bisa bekerja baik karena ada nama Balboa di belakangnya. Ia berusaha untuk melepaskannya, namun ketika perjuangannya masih berlangsung tahu-tahu Rocky akan muncul lagi – dan itu akan menarik perhatian dunia.

Rocky berkata:

Dulu tanganku ini muat mengangkat punggungmu, dan saat itu aku katakan pada semua orang, anak ini adalah anak yang hebat. Dia akan menjadi orang berjuang untuk menjadi hebat.

Aku pernah mengatakan sesuatu yang mungkin sudah kamu lupakan. Dunia ini tidak hanya matahari dan pelangi. Banyak sekali hal kejam dan jahat di dalamya dan siap melumatmu. Bukan soal seberapa keras kamu bisa memukul balik, tapi ini mengenai seberapa kuat kamu menerima pukulan dan selalu bangkit. Selalu bangkit setiap kali menerima pukulan.

Anakku ini tidak akan menyerah. Aku yakin kamu tidak akan menyerah.

Kita memang tidak pernah tahu apa yang terjadi nanti, besok, atau minggu depan. Segalanya bisa terjadi, dan mungkin yang terjadi tidak kita sukai. Bila yang terburuk terjadi, kita mungkin seperti petinju yang terpukul dan terduduk. Saat knock down, kita butuh duduk sejenak untuk menghilangkan pusing, TAPI harus bangkit secepatnya … atau kalah! Di ring, petinju hanya punya waktu 10 detik untuk recovery atau KO.

Berjuang adalah keharusan. Melakukan yang terbaik adalah keharusan. Bangkit lagi setelah jatuh adalah keharusan. Keyakinan ini akan memupuk rasa percaya diri.

Orang tanpa rasa takut akan maju tanpa berpikir. Rasa takut kita perlukan bukan hal yang memalukan karena kita membutuhkannya untuk terus berpikir ketika maju. Terus maju dengan berpikir membuat langkah kita lebih meyakinkan.

Kecerdasan Majemuk

Posted in Psikologi with tags , on July 27, 2008 by hzulkarnain

Saat mendengar kata kecerdasan atau intelegensi, apa yang terpikir dalam benak anda?

Saya hampir yakin, banyak di antara kita yang cenderung menyetarakan kecerdasan dengan matematika, fisika, dan ilmu sains lainnya. Bila anak kita punya nilai bagus pada pelajaran matematika atau fisika, betapa bangganya orang tua. Kalau perlu, anak dikursuskan secara khusus cara berhitung dan matematika yang berbiaya mahal. Beda dengan bila anak berkemampuan tinggi di dalam olah bahasa, apalagi Bahasa Indonesia, rasanya masih ada yang kurang. Ini sungguh menggelitik, pekerjaan setelah selesai sekolah tidak hanya yang berkenaan dengan bidang sains dan matematika.

Asumsi saya, hal ini berkenaan dengan konsep konservatif peninggalan kolonial yang mendorong anak untuk menekuni profesi dokter atau insinyur. Orang tua lebih bangga bila anaknya menyandang gelar tersebut bila dibandingkan dengan profesi lain, misalnya kamerawan atau jurnalis. istilah orang Jawa, dokter dan insinyur “luwih mriyayeni” (lebih berkelas). Tentu saja hal ini tidak bisa dipertahankan.

Pele

Pele

Sekarang ini pun, kita mengenal beberapa nama yang sangat dikenal meskipun tidak berkaitan dengan sains dan matematika, misalnya pelukis ekspresionis Affandy, fotografer Darwis Triadi, petinju legendaris Muhammad Ali dan Mike Tyson, striker Brazil Pele, dsb.

Beberapa tahun yang lalu, saya memperoleh pencerahan saat membaca resume buku Frames of Mind:The Theory of Multiple Intelligences karya Howard Gardner. Dengan menantang segala teori lain yang sudah menjadi karya klasik, bahkan sudah menjadi bagian dari perkembangan ilmu psikologi di berbagai negara, Garner yakin bahwa kecerdasan bukan tunggal. Dengan mencontohkan seorang autistic savant, ia menegaskan bahwa seorang dengan cacat di sebagian otak ternyata bisa memiliki kemampuan lain yang menonjol karena perkembangan di tempat lain sangat menonjol.

Mungkin seseorang tidak punya kelebihan khusus di bidang angka, namun bisa jadi dia jenius dalam bidang olah raga atau bahasa. Oleh karena itu, dengan mengacu pada teori Gardner, kita perlu lebih jeli melihat potensi yang sebenarnya dimiliki oleh anak-anak kita. Kita harus berpikir lebih jauh dan maju, dan buang jauh kerangka konservatif yang membelenggu pola pikir kita.

Kembali pada teori Gardner, Kecerdasan Majemuk atau Multiple Intelligences secara garis besar meliputi:

1. Bodily-Khinestetic (Kinetik Tubuh)

Ini adalah tipe kecerdasan yang lebih berfokus pada penyerapan aktivitas fisik daripada mendengar atau membaca. Intinya adalah pergerakan tubuh, olah fisik, dan pemanfaatan anggota tubuh. Mereka memahami segala sesuatu melalui gerakan fisik, bukan dengan mendengar atau membaca. Contoh paling konkret adalah atlit, misalnya pemain bola top dunia, ahli bela diri, koreografer tari, tentara, dsb.

2. Interpersonal

Bila pernah membaca kecerdasan emosional karya Goleman, kiranya model kecerdasan ini berkorelasi dengan kecerdasan interpersonal. Menempatkan diri di antara orang lain, tidak mengenal lelah bekerja dalam sebuah organisasi, bertatap muka untuk berdiskusi dan berdebat, bukanlah sesuatu yang mudah. Diplomat, politisi, public relation officer, manajer, adalah contoh orang dengan kecerdasan interpersonal.

3. Verbal – Linguistic

Bila sesekali pernah melihat filam serial Criminal Minds (mungkin bagi yang langganan teve kabel), ada karakter yang punya keahlian tinggi dalam membaca (kalau tidak salah bernama DR. Reid). Selain punya fotografik memory, ia bisa membaca dengan sangat cepat (seperti scanning), serta memadukan setiap keping ingatan menjadi sebuah konstruksi peristiwa.

Dalam kehidupan nyata, kita bisa kagum dengan kemampuan seorang lawyer membolak-balik kata, pujangga dalam mengolah kalimat menjadi roman panjang, Oprah Winfrey yang bertanya secara cerdas, maupun pencipta naskah iklan yang membuat jargon khas sebuah produk. Jurnalis dan guru juga membutuhkan jenis kecerdasan ini.

4. Logical – Mathematical

Jenis kecerdasan ini tidak perlu diulas panjang lebar, karena merupakan favorit kebanyakan masyarakat kita. Kecerdasan ini tentunya sangat dibutuhkan oleh negara yang sedang berkembang, karena kemajuan teknologi dan penguasan berbagai hal teknis baru didasari oleh kecerdasan dalam logika dan matematika. Kemajuan teknologi informasi juga bergantung pada kecerdasan ini, sebab bahasa pemrograman lekat kaitannya dengan logika berpikir.

5. Naturalistic

Kecerdasan ini terkait dengan sensitivitas orang terhadap alam. Ada sebagian orang yang punya kecenderungan lebih untuk bergaul dengan alam, dan mampu bereaksi baik terhadap lingkungan. Bila menanam sesuatu, secara naluri ia bisa merasakan kebutuhan tanaman sehingga mempersiapkan tanah dengan benar. Ahli botani dan binatang yang bersedia hidup terpencil di hutan untuk penelitian, konservasionis, ahli taman, ahli bonsai, adalah contoh orang yang berkecerdasan naturalistik.

6. Intrapersonal

Kita menjumpai orang yang berkemampuan tinggi dalam introspeksi dan melakukan refleksi diri, dan segala kejadian yang dialami bisa dituangkan dalam wacana yang bisa dipahaminya sendiri maupun orang lain. Biasanya, orang seperti ini cenderung introvert dan penyendiri dalam bekerja, berkonsentrasi penuh agar bisa membentuk wacana berpikir. Filsuf, psikolog, pemikir dan cendekiawan agama, penulis, adalah contoh dari profesi yang berkenaan dengan kecerdasan intrapersonal.

7. Spatial (Ruang Bidang)

Kecerdasan ini terkait dengan kemampuan melakukan visual ruang bidang, mampu mengenal arah dengan cepat, mungkin disertai pula dengan koordinasi mata-tangan yang baik, sebagaimana orang dengan kecerdasan kinestetik tubuh. Arsitek adalah profesi yang membutuhkan kecerdasan ini, dan tampaknya pembalap F1 atau GP 500 juga membutuhkannya. Bisa dibayangkan bagaimana orang harus melakukan beberapa hal bersamaan: kecepatan ekstra tinggi, koordinasi mata dan tangan agar kendaraan melaju terarah, mapping sirkuit di luar kepala, mendengar dan mencerna instruksi dari headset, dan mengeksekusi tindakan dengan benar.

8. Musikal

Musik adalah bahasa universal, dan sekalipun jenius dalam musik tidak banyak pada dasarnya cukup banyak orang yang bisa mengubah kejadian bisa menjadi musik. Kecerdasan ini terkait dengan irama, musik, dan pendengaran. Sensitivitasnya lebih tinggi daripada orang kebanyakan dalam menerima dan mencerna suara, irama, nada dan musik. Secara natural mereka bisa menentukan pitch suara yang baik di telinga orang lain. Pemusik, penyanyi, penggubah lagu, DJ, adalah sebagian dari profesi dengan kecerdasan ini.

Ada beberapa kecerdasan yang muncul belakangan, namun agaknya Gardner belum secara pasti menentukan tempatnya, misalnya kecerdasan moral.

asah bakat

asah bakat

Ada beberapa kritik yang cukup keras terhadap konsep dan teori Gardner ini, namun tidak dibahas disini karena memerlukan pengkajian yang mendalam. Pada intinya, sebagaimana pada teori lain, tidak mungkin sebuah teori bisa memuaskan berbagai kalangan. Mungkin Gardner benar dalam sebuah sisi, tetapi ia lupa ada sisi lain yang juga telah diteliti dan kebetulan hasilnya tidak bisa dijelaskan melalui teori Gardner.

Kembali pada kita sendiri, dengan memahami temuan Gardner ini jelas bahwa anak kita harus dianggap sebagai individu yang unik karena memiliki hal yang mungkin tidak kita cermati sebelumnya. Saya yakin hal ini akan sesuai dengan analogi equalizer dalam sound system. Bila kita ingin anak kita baik dalam semua jenis kecerdasan, anak kita akan menjadi “jack of All Trade” – bisa ini dan itu tapi tidak benar-benar ahli dalam 1 – 2 bidang. Bila kita ingin mendengarkan musik jazz, secara otomatis bagian treble akan tinggi sementara bass akan turun. Kalau default musik rock akan sebaliknya.

Manusia memiliki sisi dominan di salah satu hemisfer otak, entah kanan atau kiri. Bila dominasi terletak di otak kanan, sisi kreatifnya akan lebih menonjol dan lebih mudah baginya membentuk kata-kata serta berkontemplasi. Ada 1 atau 2 hal yang akan menonjol pada dirinya. Sebaliknya, bila dominasi di otak kiri, mungkin dia akan cocok untuk pekerjaan yang membutuhkan keteraturan, ketelitian, dengan pola pikir yang lebih sistematis.

Dunia masih memiliki banyak kemungkinan di masa depan, dan anak kita membutuhkan dorongan dari orang tuanya agar bisa berkembang sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.

Pilkada Jawa Timur

Posted in Sharing with tags , on July 25, 2008 by hzulkarnain
Jawa Timur

Jawa Timur

Tanggal 23 Juli 2008 kemarin, Jawa Timur baru saja menyelenggarakan Pilkada langsung yang pertama. Propinsi dengan jumlah penduduk dan kepadatan yang tinggi ini (termasuk yang tertinggi di Indonesia) menyambutnya dengan antusiasme yang lebih kurang sama dengan Jawa Barat dan Jawa Tengah yang sudah mendahului. Tingkat golput mencapai sekitar 40%.

Dari ke-5 calon Gubernur dan Wakil Gubernur, ada yang sudah start jauh hari sebelumnya dengan cara penempelan foto Cagub di beberapa jalan protokol di Surabaya, atau mengiklankan diri di televisi lokal. Kedua Cagub tersebut adalah Pakde Karwo (Sukarwo) dan Pak Cip (Sucipto). Ada yang menempelkan wajah di baliho sejak lama, tapi tidak kunjung mengiklankan diri, yaitu Achmady yang saat itu sedang menjabat sebagai Bupati Mojokerto. Pak Naryo (Sunaryo) cukup percaya diri orang Jawa Timur mengenalnya, karena beliau adalah dalang kontemporer yang (menurut saya) hampir sekelas dengan dalang yang lebih masyhur semacam Ki Anom Suroto atau Ki Manteb, jadi tidak merasa penting amat beriklan. Sebelumnya ada seorang calon gubernur dari militer, Joko Subroto yang didukung PKS, yang juga memasang wajah pada beberapa baliho raksasa, tapi tidak bisa meneruskan langkah sebagaimana beberapa calon independen lain.

Fenomena kejutan adalah munculnya Khofifah Indar Parawansa. Alumni Unair yang pernah menjabat sebagai menteri ini muncul baru sekitar April, dan dengan cepat merebut simpati jutaan rakyat Jawa Timur. Basisnya sendiri cukup kuat, yaitu Muslimat NU. Jujur, saat pertama kali muncul, saya tidak yakin dengan kemampuan beliau memenangkan pertempuran dengan kandidat gubernur yang berasal dari partai besar semacam Pak Cip dan Pak Naryo.

Ketika para Cagub menentukan wakil gubernur, jelas terbacalah peta pertempuran yang sebenarnya. Suara kaum Nahdliyin diperebutkan. Bagaimana tidak, 4 dari 5 pasangan membawa kader NU yang dikenal luas.

Calon Nomor 1(Ka-Ji): Khofifah yang berasal dari NU adalah calon gubernur termuda (1965) di kompetisi kali ini, sengaja menggandeng Mujiono yang terakhir menjabat sebagai Kasdam V Brawijaya. Khofifah adalah organisatoris ulung, besar di lingkungan NU sejak kuliah, dan terkenal cerdas. Paduan NU dan militer dianggap sebagai potensi yang kuat.

Calon Nomor 2 (SR): Sucipto yang merupakan tokoh pengusaha kawakan Jawa Timur dan senior di PDI Perjuangan adalah pemegang restu sang Ketua Umum, didamping Ridwan Hisjam yang juga pengusaha serta pernah menjabat sebagai ketua DPD Golkar Jatim. Bila suara PDI-P Jatim solid, kombinasi keduanya akan hot, karena PDI-P punya basis kuat di propinsi ini – khususnya Jawa bagian Selatan.

Calon Nomor 3(Sa-lam): Sunaryo adalah incumbent Wakil Gubernur, dan Ketua DPD Golkar Jawa Timur, sementara sang Cawagub adalah Ketua DPW NU Jawa Timur. Cagub adalah birokrat tulen dan besar sebagai pejabat di lingkungan pemerintahan. Sang Cawagub (Ali Maschan Musa) adalah cendekiawan NU dan pernah menjabat lektor kepala filsafat – sosiolinguistik IAIN Sunan Ampel Surabaya. Wow, sungguh kekuatan yang harus diperhitungkan dan di atas kertas adalah kandidat terkuat.

Calon Nomor 4 (Achsan): Achmady juga kader NU namun berskala lokal, terkahir menjabat sebagai Bupati Mojokerto, sehingga kurang populer di Jawa Timur. Calon wakil yang digandengan dari militer, Suhartono, yang seusia dan seangkatan dengan calon wakil Mujiono (Khofifah).

Calon Nomor 5(Kar-sa): Sukarwo adalah birokrat di lingkungan perekonomian daerah, dan terakhir menjabat sebagai Sekretaris Daerah Jawa Timur. Yang digandengnya adalah tokoh muda NU yang kharismatis, pernah menjabat sebagai menteri juga di pemerintahan SBY, dan dikenal di kalangangan muda NU (Anshor).

Semua sumber daya dikerahkan, dana dan tenaga, dan moments of truth tergelar beberapa jam setelah pencoblosan.

Calon nomor 1 dan 5 segera memimpin perolehan suara. Dalam perhitungan quick count dari beberapa lembaga terlihat jelas bahwa tidak ada mencapai threshold 32.5%, dan keduanya hanya berselisih 1 – 2 % saja. Karsa berjaya dengan suara sekitar 26%, sementara Ka-ji dengan sekitar 25% suara.

Calon nomor 2 keteter di urutan 3 dengan raihan sekitar 21% suara; dan nomor 3 tak bisa mengangkat suara lebih tinggi dari urutan ke-4 dengan suara sekitar 18%.

Calon nomor 4 yang didukung partai peraih suara terbanyak di Pemilu yang lalu harus tersungkur di posisi ke-5 dengan perolehan suara tidak mencapai 10%.

Putaran kedua akan digelar beberapa bulan lagi, untuk calon nomor 1 dan 5.

Sebenarnya jawa Timur telah memiliki infrastruktur yang baik, perekonomian yang cukup kuat, dan memiliki sumber daya yang istimewa. Siapapun yang menjadi gubernur, pada dasarnya tidak banyak berpengaruh, namun tentu saja selaku orang Jawa Timur saya berharap orang terbaik akan muncul memimpin wilayah ini.

Anak Kita

Posted in Psikologi with tags on July 22, 2008 by hzulkarnain

Pernah anda perhatikan anak-anak di sekitar kita, termasuk anak-anak kita sendiri? Pernah anda simak perbedaan respon mereka atas tugas-tugas yang diberikan, dibandingkan dengan anak-anak di Jepang, misalnya.

Berbeda, itu pasti. Tapi bagaimana perbedaan mereka?

Tanyakan kepada anak-anak Indonesia, termasuk anak atau keponakan anda … kalau besok sudah dewasa mau jadi apa? Jawaban klasik yang disampaikan oleh mereka antara lain: dokter, insinyur, ABRI, polisi, pramugari, perawat, atau guru. Lihat hasil gambar anak-anak kita pada saat lomba menggambar, bentuk apa yang mayoritas muncul? Pemandangan gunung dan sawah. Sehingga, kita akan takjub sekali ketika hasil gambar seorang anak bukan objek tersebut.

Mengapa bisa terjadi pola berpikir sedemikian uniform?

Semua orang tahu bahwa anak adalah masa depan kita, dan semua orang menyadari bahwa mereka adalah penerus nama dan keluarga kita. Akan tetapi tidak semua orang tua menganggap serius anak-anak mereka. Tidak menganggap serius tidak identik dengan pengabaian, melainkan juga termasuk mereka yang mencoba “memasukkan” diri mereka ke dalam perkembangan jiwa anak.

streetwise of gun

streetwise of gun

Anak bagaikan tanaman di hamparan lembah subur. Dibiarkan begitu saja pun mereka akan tumbuh besar, tapi mungkin akan tumbuh liar (tanpa pola yang jelas) dan mereka menjelma menjadi sesuatu di luar yang dikehendaki orang tua. Karena role model dan reference group mereka adalah lingkungan, mereka akan mengadopsi situasi lingkungan (dengan kecenderungan mengabaikan nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua). Tidak mengherankan bila orang yang dibesarkan di lingkungan buruh tani sulit melihat kehidupan di luar pekerjaan buruh tani di sawah. Anak-anak perkampungan kumuh cenderung tumbuh seperti orang-orang di sekitar mereka, sebagian tanpa pendidikan, sebagian tanpa pengembangan akhlak, yang lain belajar kriminal sejak dini. Anak-anak yang besar di barak tentara, di lingkungan pesantren, di kompleks perumahan, akan bergerak tumbuh sebagaimana lingkungan membesarkan mereka. Ini contoh ketidak seriusan dalam perkembangan anak, sehingga anak tumbuh dan berkembang tanpa pola yang jelas.

Tanaman bonsai sebenarnya adalah tumbuhan biasa yang direkayasa, sehingga kerdil tapi indah, bentuknya artistik seperti yang diinginkan perekayasanya, dan harganya bisa selangit. Imajinasi dan kreasi sang seniman bonsai dicetakkan habis-habisan pada sebuah beringin putih yang dipilihnya, sehingga pada suatu saat beringin putih itu tumbuh meliuk-liuk indah. Beringin putih itu masih menunjukkan ciri pohon beringin putih, seperti tekstur kulit pohon dan bentuk daunnya, namun pola pertumbuhannya sama sekali berbeda. Berapa sering kita dapati seorang anak tumbuh dan berkembang tidak menjadi dirinya sendiri? Seiring dengan meningkatnya tingkat persaingan dalam kehidupan, besarnya hasrat dan harapan agar anak menjadi orang yang sukses, serta serangkum cita-cita terpendam orang tua, anak tumbuh dengan asupan gizi yang lebih dari cukup serta berkembang dalam belenggu. Begitu anak bisa bersuara dan suka menyanyi, tiba-tiba orang tua memasukkannya dalam sekolah vokal. Karena sang ayah suka piano, anak diikutkan kursus piano. Saking takutnya sang anak tertinggal dari teman-temannya, begitu mengenal angka si anak tersebut dimasukkan “Kumon”. Anak tidak pernah ditanya apa maunya, orang tua berdalih itu semua demi masa depan anak. Ini ketidak seriusan yang bersembunyi di balik alasan-alasan tertentu.

Orang tua lebih bangga kepada anak-anak ketika mereka bisa menyanyikan lagu Peter Pan dengan lidah cadel mereka, atau memainkan msuki klasik Mozart dengan tertatih-tatih, daripada saat mereka berhasil merekayasa mobil-mobilan dari kulit jeruk sendiri. Ketika seorang guru lukis membiarkan anak berkreasi, dan si anak bebas memainkan warna dan cat, orang tua menganggap si anak tidak belajar apapun. Mereka lebih suka bila anak mereka belajar menggambar figur binatang atau orang.

Dunia berubah, berkembang, dan membentuk jaman baru. Di masa depan, ribuan kemungkinan menanti si anak ketika dewasa nanti. Bila orang tua tidak serius dengan perkembangan anak-anak, mereka akan terjebak dalam ketidak mampuan menghadapi masa depan. Anak-anak buruh tani tanpa cita-cita atau yang terlahir di bawah kolong jembatan tanpa visi masa depan hanya mengandalkan naluri survival saja kelak agar tetap bertahan hidup. Anak-anak yang dicetak oleh orang tuanya agar menjadi seperti yang mereka inginkan, mungkin punya peluang lebih baik dalam menyongsong masa depan, sekalipun mereka tidak pernah merasakan makna kebahagiaan dalam kehidupan. Bakat mereka, visi pribadi mereka, dorongan emosi mereka yang sejati, semua teredam oleh pagar yang diciptakan oleh orang tua.

Uniformitas anak-anak kita disebabkan oleh kurangnya peranan orang tua dalam membuka wawasan berpikir anak, karena orang tua juga sekedar meneruskan apa yang mereka ketahui dari orang tua mereka dahulu. Seorang anak Jepang ditanya tentang cita-cita di masa depan, mereka akan menjawab beragam; ada mau jadi kamerawan, wartawan, anggota PMK, nelayan, bahkan pedagang sayur. Mereka serius dengan jawaban mereka, karena mereka melihat role-model atau reference group yang benar-benar nyata dan sukses.

Memang, konsep kita sekarang yang kita dapatkan dari orang tua kita, tidak terlepas dari kultur kolonial yang seharusnya kita kikis. Di masa kolonial yang terbawa hingga sekarang, orang pribumi yang kelasnya diakui oleh Belanda adalah ambtenaar (pegawai negeri). Ini priyayi baru, dan hingga sekarang pun di banyak daerah masih menjadi idaman kaum muda. Berapa banyak pelamar pegawai negeri tiap tahunnya, bisa disimak di berbagai media massa. Di bawahnya, ada kelompok profesional, seperti dokter, pengacara, dan insinyur. Bisa dilihat sekarang dampaknya pada kaum muda kan? Kelas terakhir yang berpeluang menjadi paling kaya tetapi paling kurang diminati adalah pedagang (pelaku perniagaan). Coba tanya pada anak-anak kita, siapa yang mau jadi pedagang – berapa orang yang mengacungkan tangan?

Dalam pandangan saya, tugas utama dalam mengembangkan anak bukan sebagai seperti gembala yang membiarkan saja kambingnya berkeliaran tak menentu, atau seniman bonsai yang mengetatkan kawat di sekujur tubuh pohon, tetapi teman bicara anak yang selalu memelihara emosi dan potensi anak optimal, dan memungkinkan mereka fleksibel menyongsong masa depan.

Apa perbedaan anak sekarang dengan anak-anak di jaman kita atau orang tua kita dahulu? Anak sekarang jauh lebih pandai dan lebih besar, kritis, dan mampu melakukan hal-hal di luar dugaan kita di usianya. Kalau di masa kita kecil umur 10 tahun masih suka mengejar layang-layang putus dan mandi di sungai, anak sekarang sudah berprestasi tinggi atau sudah kenal dengan narkoba. Seolah-olah mereka tumbuh dewasa lebih dini. Seolah-olah alam membentuk mereka lebih siap menghadapi tantangan global daripada kita dahulu.

Yang paling sederhana, daripada banyak berteori, saya mengacu saja pada paparan AA Gym tentang anak. Suatu saat AA Gym berkata bahwa, bekerja itu tidak hanya berdakwah ke berbagai daerah. Ia juga punya pekerjaan penting di rumah, yaitu bermain-main dengan anak-anak. Lho?

AA Gym tahu pentingnya menganggap serius anak, dan menganggap waktu yang dilewatkan bersama anak-anak bukan lah membuang-buang waktu. Itu juga bekerja. Anak-anak harus paham bahwa orang tua mereka selalu ada, dan bila ada masalah orang tua adalah referensi yang dapat dipercaya. Jangan menimbulkan kesan jauh, sehingga bila bermasalah anak-anak justru mencari jawaban pada orang lain yang belum tentu benar. Sama dengan orang dewasa, anak-anak ingin “di-orang-kan”.

Bersikap serius pada anak akan menyiapkan mereka menghadapi beragam tantangan di masa depan. Anak-anak selalu punya seribu pertanyaan di kepala mereka, dan orang tua harus lebih bijak dalam menjawab tiap tanya yang terlontar. Jadi orang tua memang tidak mudah, namun yakinlah anak-anak juga sedang mengalami masa sulit yang membutuhkan bimbingan di setiap saat.

Tujuan Hidup

Posted in Kontemplasi with tags on July 21, 2008 by hzulkarnain
ini hidupku ....

ini hidupku ....

Alkisah ada seorang pengusaha kaya yang sedang berlibur ke pantai. Etos kerjanya tinggi, dan ia orang yang sukses, sehingga ketika melihat ada seorang nelayan setenagh baya yang sedang bersantai sambil tiduran ia merasa terganggu. Didekatinya nelayan itu, dan terjadilah percakapan di bawah:

“Bapak nelayan di sini kan? Kok tidak melaut?”

“Memang saya nelayan di sini, dan sekarang sedang beristirahat karena semalam telah melaut.”

“Kalau bapak menunda istirahat dan bekerja lebih keras, maka bapak akan memperoleh uang lebih banyak”

“Lalu?”

”Bila terus begitu bapak akan bisa membeli perahu lagi.”

“Lalu?”

“Dengan dua perahu yang aktif, akan lebih cepat bagi bapak untuk mengumpulkan keuntungan lebih besar.”

“Lalu?”

“Ya, bapak akan bisa menambah perahu lagi, satu atau dua lagi. Bapak akan punya tiga atau empat perahu dalam waktu beberapa tahun lagi.”

“Lalu?”

”Tentu saja bapak bisa menyewakan perahu-perahu bapak, dan bapak tidak perlu bekerja keras lagi seperti sebelumnya.”

“Lalu?”

“Bapak bisa hidup tenang dan bersantai.”

“Bapak kira, apa yang saya lakukan sekarang?”

Seringkali terjadi kita mencoba membandingkan diri kita dengan orang lain, mencocokkan pola yang sesuai dengan diri kita dengan gaya hidup orang lain. Yang lebih parah, kita terjebak melakukan judgement atas diri orang lain berdasarkan apa yang ada pada diri kita sendiri. Pengusaha sukses dalam ilustrasi di atas memandang etos kerja dan keberhasilan dari kacamatanya sendiri, dan menurutnya pola pikir sang nelayan jauh dari ideal. Orang harus bekerja untuk mencapai keberhasilan dan kebahagiaan. Baginya, tidak bekerja keras adalah dosa dan kekeliruan yang harus dilawan.

Apa versi sang nelayan? Orang mengisi hidup tentunya dengan sebuah tujuan, dan tiap orang tidak memiliki tujuan yang sama. Manusia adalah unik, karenanya tidak ada yang bisa memaksakan sebuah pikiran ke dalam pikiran orang lain secara sukarela. Tujuan yang hendak dicapai oleh sang pengusaha adalah juga tujuan yang ingin diperoleh sang nelayan, namun sang nelayan memiliki versi sendiri dalam mencapainya.

Saya ingat sebuah episode sinetron lepas yang dibintangi Mat Solar. Mat Solar berperan sebagai seorang penjual makanan keliling (sepertinya ketoprak) yang baik budi. Ia bercita-cita naik haji, dan berhaji bersama Ibunya yang sudah tua. Semua orang mendoakannya, termasuk orang yang merenovasi gerobaknya, dengan menambahkan huruh H di depan namanya. Katanya, itu adalah doanya.

Karakter yang dimainkan Mat Solar akhirnya memutuskan untuk menabung di sebuah tabungan haji. Tak dinyana, baru beberapa kali menabung ternyata dalam undian ia memenangkan sebuah mobil mewah berharga ratusan juta rupiah. Hadiah itu tidak diambilnya, namun ia lebih suka menguangkannya saja, karena ada cita-cita yang ingin dilaksanakannya. Yang menarik adalah diskusi yang terjadi kemudian:

“Saya tidak butuh mobil itu Pak, karena tidak cocok buat saya.”

“Tapi kan bapak bisa kemana-mana dengan mudah dan nyaman.”

“Tiap orang punya “totol” Pak. Mungkin bapak memang punya “totol” sebagai orang besar sehingga cocok pakai mobil mewah. Lha saya, “totol” ya segini-gini aja, tukang ketoprak. Cita-cita saya adalah pergi haji bersama emak saya, bukan punya mobil mewah.”

Garis nasib manusia sudah ditulis, dan keluasan rizki yang datang juga sudah ditetapkan oleh Allah Swt. Sekeras apapun yang kita lakukan, ada batas-batas yang sulit kita tembus. Dalam sholat Dhuha, kita diajarkan untuk meminta barokah atas rizki Allah. Barokah atas rizki lah yang sebenarnya membuat dada kita lebih lapang.

Di sekeliling kita sering melihat sebuah keluarga sederhana bisa hidup tenang dengan penghasilan sang bapak yang hanya tukang parkir. Tapi kita tengok teman kita, yang selalu gelisah kekurangan dana di akhir bulan, sekalipun gajinya 4 – 5 kali gaji tukang parkir tadi. Bagaimana itu bisa terjadi?

Kembali pada kisah sang nelayan dan pengusaha, itulah gambaran kita sehari-hari. Sang pengusaha yakin bahwa passive income akan memberikan ketenangan, dan untuk memperolehnya harus dicapai dengan kerja keras di awal. Bila uang sudah mengalir sendiri, kita tidak perlu bekerja keras dan bisa tenang menikmati masa istirahat.

Menurut sang nelayan, kehalalan rizki yang dicarinya semalam telah memberinya kelapangan dada dan ia merasa berkecukupan. Baginya yang sudah mulai tua, sepiring nasi sudah cukup mengenyangkan, dan anak-anaknya juga sudah bisa turun melaut. Lantas apa lagi yang perlu dicarinya dalam hidup?

Bagaimana kisah ini direnungkan dan menjadi cermin, kembali pada anda sekalian.

Frustrasi

Posted in Psikologi with tags on July 20, 2008 by hzulkarnain

Saya yakin banyak yang mengenal istilah ini, dan kira-kira memahami makna yang terkandung di dalamnya. Ada banyak contoh klasik mengenai frustrasi ini, namun demikian saya punya sebuah contoh yang cukup ekstrim terjadi ketika masih SMA. Saya lupa nama teman itu, yang pasti dia di kelas IPA3 (tetangga sebelah karena saya di IPA4), dan saat itu kami sudah di kelas 3.

Konon, teman saya itu punya gadis yang dia taksir sepenuh hati (tapi tidak di SMA tempat kami bersekolah). Sejauh yang saya kenal, teman satu ini selalu ceria, banyak tertawa, sekalipun guyonnya sendiri sering garing. Karena dikenal sebagai anak ekstrovert, dia bahkan pernah jadi komandan peleton (40 orang) sewaktu di Surabaya ada kewajiban baris-berbaris untuk anak selevel SMA. Hingga suatu saat, dia absen sakit cukup lama, dan kabar yang terdengar dia hampir mati menenggak segelas Baygon di depan rumah gadis yang dia taksir. Haaa?

Rupanya cewek yang dia taksir itu tidak membalas perasaannya, sementara teman saya itu sudah punya cita-cita yang terlalu tinggi dengan gadis tsb. Entah apa yang memicunya, dia nekat membawa sebotol Baygon dan gelas ke depan rumah si cewek dan akhirnya mencoba bunuh diri di depan rumahnya. Seketika respekku pada dia ambruk, tetapi menyisakan pertanyaan mengapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi.

Itulah ilustrasi kasus frustrasi yang dalam. Frustrasi hampir dipastikan bisa dialami siapapun, dan sudah dipastikan terjadi pada semua orang dalam suatu masa hidup mereka. Seorang anak yang mengidamkan sebuah jam tangan ketika di-khitan, ternyata hanya memperoleh dua lembar sarung – saat itulah frustrasi terjadi. Seorang gadis yang mengidolakan Demian sang Ilusionis, mengharapkan sang idola menjadi orang yang super hebat, mendadak kecewa ketika Demian dikabarkan akan menikah dengan Yulia Rahman (host dan presenter acara TV) yang telah berstatus janda dengan 1 anak – saat itu rasa frustrasi menyergap. Seorang peserta ujian PNS yang telah membayar sekian juta pada seorang oknum calo, ternyata tetap tidak menemukan namanya di pengumuman – dia pun jatuh dalam kondisi frustrasi.

Frustrasi adalah sebuah benturan kenyataan yang terjadi ketika harapan, angan-angan, cita-cita tidak selaras dengan realita. Semakin lebar penyimpangan itu terjadi, lebih dalam pula dampak frustrasi yang ditimbulkan. Mungkin efek yang teringan adalah ngambek, gondok, atau marah. Biarkan satu jam hingga sehari, pikiran normal akan mengembalikan realitas ke dalam kehidupannya. Yang bermasalah bila penyimpangan tersebut sedemikian jauh, harapan terlalu melambung, sementara orang tsb tidak siap untuk gagal, akibatnya ketika benar-benar gagal ia tidak bisa segera menemukan pijakan realitas. Bahkan ada orang yang hingga memunculkan mekanisme pertahanan ego yang lebih menjauhkan dirinya dengan kenyataan hidup.

Mekanisme pertahanan ego adalah sebuah sistem ego yang memindahkan kekecewaan pada objek lain. Jadi ketika gagal ujian PNS, alih-alih mengoreksi diri, orang menyalahkan calo yang tidak becus. Alih-alih belajar lebih keras, calon mahasiswa PTN justru sibuk menyalahkan Ibunya yang terlambat bangun hingga ia juga tidak sempat belajar pagi menjelang ujian. Penghuni rumah di tempat padat sibuk mengutuk pemerintah yang lamban memadamkan api yang membakar rumah, padahal mereka sendiri juga salah.

Frustrasi akan selesai dan sembuh bila pijakan realitas sudah didapatkan, baik datang dengan sendirinya maupun dengan bantuan konseling. Mekanisme pertahanan ego memblokir masuknya realitas ke dalam pikiran dan akal sehat, dan hal itu membuat proses recovery lebih lama. Bila sudah masuk dalam fase penyembuhan, orang cenderung menjadi lebih baik dan bisa terbuka dengan berbagai masukan.

Sebagai orang tua, teman, atau kerabat, kita justru perlu mewaspadai fase munculnya frustrasi dan ketika benturan terjadi. Kita perlu menyimak segala perubahan yang terjadi pada anak, teman, dan kerabat, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan ketika benturan frustrasi terjadi. Khususnya waspadai pada gejala depresi yang bisa berujung pada bunuh diri (silakan disimak pada topik depresi dan bunuh diri).