Archive for Mercusuar Pikir

Fesbuk Lagi … Lagi-Lagi Facebook

Posted in Kontemplasi, Psikologi, Sharing with tags , on February 24, 2010 by hzulkarnain

Herdian Zulkarnain

Seorang tetangga curhat tentang anaknya yang sekarang berumur 12 tahunan, kelas 6 SD ….

fesbuk lagi ....

Hari-hari belakangan ini berlalu seperti biasa, meskipun anak perempuan tetangga tersebut sudah mendekati UAS. Hingga suatu hari, ketika tetangga tersebut dan anaknya sedang nonton pertandingan volley warga, mereka bertemu dengan sesama orang tua murid. Dan terjadilah perbincangan di bawah …

“Hei Nana, bagaimana try out-nya hari Senin kemarin? Kata Linda susah ya?”

“Baik Tante. Memang susah sih …”

Setelah sedikit basa-basi mereka pun berpisah. Sekarang giliran si Ibu – tetangga saya itu – menginterogasi anaknya.

“Kamu memang try-out hari Senin kemarin?” Si Ibu ini cemas.

“Bener Ma,” jawab Nana santai.

“Try out apa?”

”Matematika….”

“Kayaknya kamu nggak belajar deh waktu itu …. Salah berapa kamu?” Si Ibu tambah cemas.

“Cuma ….. salah 42 kok Ma?” kilah Nana masih dengan kepolosannya.

“Haaa …. salah 42 kok cuma! Hayo kenapa kamu nggak bilang kalau mau try out?”

“Habis … kalau Nana bilang ada try out, entar nggak boleh fesbuk-an ….”

ABG à peer group à sosialisasi yang lebih luas à fesbuk … sepertinya rentetan alur logika yang masuk akal, dan cukup menjawab pertanyaan besar kecanduan remaja pada fesbuk.

Secara hormonal, anak yang beranjak remaja mulai menginginkan ruang komunikasi yang lebih luas. Begitu mereka masuk ke dalam sebuah kelompok pertemanan, dan menjadikannya referensi, pemikiran kelompok itu menjadi bagian penting dari cara berpikirnya juga.

Kekeliruan umum yang dilakukan oleh orang tua adalah kecenderungan melihat tingkat sekolah anak, bukan tataran usianya. Kalau masih SD belum pantas ini-itu, kalau masih SMP belum boleh pacaran, nggak boleh fesbuk-an nanti ngganggu belajar … dan seterusnya. Padahal, level sekolah manusia juga yang menetapkan, sementara masuk masa akhil balig tiba karena proses alami. Usia 10 tahunan, sudah banyak anak perempuan yang mengalami menstruasi pertamanya – sekalipun masih kelas 4 SD.

Orang tua juga harus mulai memperlakukan anak secara berbeda dengan sebelumnya, saat tanda-tanda seks sekunder muncul. Bagi anak perempuan, berarti tubuh yang mulai terbentuk dan payudara yang membesar. Bagi anak laki-laki, tanda paling jelas adalah suara yang pecah dan atau tumbuh kumis. Menganggap anak yang berangkat remaja masih seperti anak-anak adalah kekeliruan kedua.

Anak-anak patuh pada orang tua, karena referensi utama mereka adalah orang tua. Komunikasi searah pun tidak masalah dilakukan, sebab anak akan menerima apapun pesan yang disampaikan. Di lain pihak, remaja yang mulai mengembangkan akal pikiran mereka punya referensi lain, yaitu teman-teman sebaya. Akibatnya, tidak semua ucapan orang tua bisa diterima anak dengan senang hati.

Fesbuk (facebook) adalah program komputer yang memungkinkan seseorang terkoneksi secara virtual dengan orang lain, bahkan hingga ke belahan dunia yang lain. Sebelumnya ada program yang bernama Friendster, yang lebih kurang juga menjalin pertemanan via internet, tetapi tidak booming seperti fesbuk yang telah menggaet jutaan warga dunia.

Kelebihan fesbuk adalah keragaman pilihan komunikasi dan sifatnya real-time. Kalau saya menuliskan sebuah status di wall saya, saat itu juga teman saya yang sedang online bisa langsung tahu kabar saya. Dia bisa menanggapi status terbaru saya di sana, atau masuk ke inbox untuk pesan yang lebih personal dan rahasia, atau bahkan bisa mengajak saya chatting.  Popularitas chatting fesbuk mungkin sekarang mulai menggoyahkan Yahoo Messenger yang sudah jauh lebih dahulu dikenal orang.

Pengin tahu kabar dan komentar teman, itulah yang membuat fesbuk didatangi. Hanya dengan melihat-lihat kabar teman, berkomentar, upload foto (biasa …. remaja sekarang hobi-nya difoto dan memfoto), waktu 3 – 4 jam bisa berlalu dengan cepat. Tidak mengherankan waktu untuk belajar jadi tersita.

Belum lagi fesbuk juga menyediakan aplikasi game yang cukup menarik – sekalipun sebenarnya sangat – sangat – sangat sederhana. Game berbasis teks seperti Mafia Wars dan Yakuza Lords, atau game 2 D dengan avatar yang merepresentasikan kita seperti Farmville dan Cafe World, adalah contoh game fesbuk yang digemari.

Friendster tidak lagi in, dan twitter tampaknya tidak akan sanggup menggeser fesbuk. Fesbuk membuat remaja gandrung bahkan mencandu, sehingga tak dapat disangkal lagi sekarang  telah menjadi bagian dari gaya hidup remaja yang melek internet. Pegang HP-pun mereka buka aplikasi fesbuk lewat Mini-Opera.

Semua teknologi pasti menimbulkan pro dan kontra, termasuk fesbuk dan HP. Guru dan orang tua, bahkan sekarang media ramai-ramai mencela fesbuk. … sementara si remaja jalan terus ber-fesbuk ria. Apa bisa melarang remaja tidak ber-fesbuk ria?

disconnected ...

Fesbuk itu nikmat, itu konsep di pikiran remaja. Apapun yang nikmat lalu dilarang, akan menimbulkan dampak samping. Mengunci akses fesbuk remaja tidak akan menyelesaikan masalah, karena naluri survival mereka akan mencari cara untuk kembali fesbuk-an. Sama dengan dulu waktu demam PS, dan banyak rental PS bertebaran di mana-mana. Sekarang, demam itu sudah reda. Begitu juga nantinya dengan fesbuk, demamnya akan reda dan fesbuk tinggal menjadi salah satu program internet biasa.

Masalahnya adalah, saat masih demam seperti ini bagaimana membatasi remaja ber-fesbuk ria? Tidak menghabiskan waktu di sana dan menomor duakan pelajaran di sekolah. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Orang tua harus kenal fesbuk. Seperti biasa, remaja akan mengemukakan semua argumen bila dilarang ini dan itu. Cara paling ampuh adalah memahami hal yang menjadi kesukaan remaja. Buka pikiran, dan pelajari apa dan bagaimana fesbuk itu.
  2. Jadi teman anak dalam fesbuk. Dengan menjadi teman dalam fesbuk, orang tua bisa melihat siapa saja teman anak, termasuk “mengintip” komunikasi wall di antara mereka.
  3. Jadikan fesbuk sebagai reward. Jadi, reward diberikan kalau anak sudah menyelesaikan perintah orang tua. Bahkan kalau bisa meyakinkan orang tua dengan nilai-nilai pelajaran yang baik.
  4. Kendalikan waktu belajar anak. Jangan ada perbedaan sikap antara ayah dan ibu soal waktu belajar. Selama waktu belajar, pastikan anak belajar, dan tidak ada kompromi.
  5. Koordinasi dengan sekolah untuk mengetahui skedul tryout dan ujian. Ini seringkali diabaikan orang tua. Jangan percaya anak begitu saja, dan dengan menjalin komunikasi dengan guru / wali kelas, akan banyak manfaat lain yang bisa diambil.
  6. Berkomunikasi dengan remaja dengan cara yang berbeda. Dalam analisis-transaksional, dikenal komunikasi parent – to – child, dan ini biasa dilakukan orang tua sejak anak masih kecil. Menghadapi remaja, orang tua harus menurunkan levelnya menjadi adult, karena remaja menaikkan levelnya dari child ke adult. Jadi, komunikasi yang terjadi adalah adult – to – adult (orang dewasa ke orang dewasa). Jadi, orang tua menganggap si anak figur dewasa, agar komunikasi menjadi terbuka sebab anak ingin dianggap dewasa dan level pembicaraan setara.

Pada akhirnya, yang ingin kita tumbuhkan dari seorang remaja adalah sikap dan perilaku yang bertanggung jawab. Fesbuk-an tak kenal waktu adalah indikasi bahwa remaja masih belum bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Yang dilarang jangan fesbuk-nya, tapi tumbuhkan sikap dan perilaku bertanggung jawab … maka fesbuk tidak lagi menjadi momok. Tumbuhnya tanggung jawab ini secara otomatis akan menurunkan demam fesbuk.

Memberi Makna pada Kehidupan

Posted in Kontemplasi, Psikologi, Sharing with tags , on February 16, 2010 by hzulkarnain

Seekor monyet (sebut saja monyet kita) yang bersemangat berhasil mencapai sebuah puncak pohon yang tidak terlalu besar tapi cukup tinggi. Ia gembira karena sekarang bisa melihat alam sekelilingnya dengan bebas, ia merasa menjadi momyet yang paling berbahagia. Di pohon itu, ia bisa tidur dan makan dengan tenang, dan lebih gembira lagi karena ia berteman dengan binatang lain yang juga menginginkan kehidupan yang tenang. Monyet-monyet lain yang lebih muda tidak berani naik ke puncak tanpa ijinnya, karena sekarang ia adalah penguasa pohon itu.

Tiba-tiba dilihatnya seekor monyet lain di sebuah pohon lain yang lebih besar dan lebih tinggi. Jaauuhh lebih besar dan jauuuh lebih tinggi.Pohon itu adalah salah satu yang terbesar dan tertinggi di hutan. Monyet kita membayangkan betapa enaknya duduk di puncak pohon tertinggi itu, betapa lebih luas pemandangan dari sana, betapa enaknya.

Monyet kita akhirnya mengenali monyet lain itu sebagai teman masa kecilnya duluuu… sekali. Monyet kita menjadi iri, kenapa dia tidak bisa mendapatkan pohon itu, padahal ia juga mampu jadi seperti monyet temannya itu. Dari iri, ia menjadi marah … marah pada dirinya sendiri, marah pada temannya yang berhasil itu.

Oh no ... I made a mistake

Tanpa pikir panjang, monyet kita meninggalkan pohonnya yang nyaman, dan pindah ke pohon tempat temannya berkuasa. Tanpa diduga, sejak di cabang bawah, sudah banyak monyet lain yang berusaha naik, tetapi kebanyakan gagal sebab persaingan ke puncak sangat ketat. Dengan kekuatannya, monyet kita itu terus mencoba mengatasi masalah menuju puncak pohon.

Monyet kita mulai mengalami luka-luka dari beberapa perkelahian ke puncak. Semakin mencoba ke atas, lebih banyak luka yang dideritanya karena lawannya juga semakin berat. Monyet kita yakin, kalau temannya bisa ia juga pasti bisa! Hingga akhirnya, di sebuah tempat tidak jauh dari puncak, monyet kita tak tahan lagi dengan lukanya – ia terlempar dari pohon itu meluncur ke bawah.

Ketika sadar dari pingsannya, ternyata ia ada di bawah pohon. Untuk naik lagi, ia sudah mulai ngeri, membayangkan perkelahian yang akan dialaminya. Maka, monyet kita kembali ke pohonnya.

Apa yang ditemuinya di sana? Seekor monyet besar muda sudah berada di puncak. Monyet-monyet lain menjadi lebih beringas – tidak lagi takut padanya seperti kemarin…. Monyet kita menyesal bukan main. Tadinya ia ingin meraih gunung, tapi terlalu terburu-buru ia melepaskan pisang di tangan. Kehilangan di sini, tak tercapai di sana, membuatnya tidak tahu lagi apa yang sedang dikejarnya ….

Kisah di atas mungkin hanya fabel, namun dorongan untuk bergerak, berubah, bertambah baik dan menemukan impian adalah sifat hakiki manusia, sekaligus membedakan manusia dengan berbagai mahluk lain ciptaan Tuhan. Untuk itu, manusia dibekali sifat berjuang dan bertahan hidup (survive), untuk menentukan kapan harus bertarung dan tahu saat harus mundur. Kalah sebenarnya adalah hal yang alami, lumrah bagi manusia yang memang tidak sempurna, namun bagi orang yang selalu berhasil sebuah kekalahan merupakan cela yang membuatnya stress.

Stress adalah semacam mekanisme pertahanan ego, yang berfungsi saat kita merasa ada ancaman dan perlu waspada. Saat ujian jadi stress, hendak “nembak” cewek juga stress, dipanggil boss jadi stress … bahkan diam di rumah saja bisa stress. Ya, stress seperti sebuah meter pengukur untuk melihat seberapa baik kondisi mental kita.

Seorang teman belakangan ini cenderung stress yang mengarah depresi terselubung (masked depression). Tanpa ada pemicu, ia bisa cemas sendiri, yang kemudian memunculkan tanda-tanda psikosomatis berupa gastritis dan insomnia. Akhirnya ia berkisah, bahwa memang ia terbiasa sukses sejak muda – seperti masuk SMA tanpa tes, masuk perguruan tinggi PMDK, pindah ke sekolah teknik terkemuka di Bandung dengan sukses, bahkan sebagai manajer safety ia adalah orang yang dipercaya penuh oleh boss. Belakangan, ia bertemu dengan teman-teman kuliah yang dianggapnya jauh lebih sukses: Presdir di perusahaan group terkemuka, komandan batalion, dan jabatan prestisius lainnya. Sementara dirinya tidak bisa kemana-mana lagi … dan dengan umurnya sekarang sudah semakin sulit untuk mengejar karier di tempat lain. Meter pengukur dalam dirinya sudah membunyikan alarm, yang mengindikasikan bahwa mentalnya tidak sedang dalam kondisi prima. Ada suatu hal yang perlu diselesaikannya agar kembali ke level equilibrium.

Apakah stress bisa dimanipulasi? Mungkin bukan stress-nya, tetapi ukuran ambang keberhasilan dan kegagalannya yang bisa dimanipulasi. Coba perhatikan, mengapa kita stress? Waktu belanja di mall tidak stress, malah relax, tetapi kondisi bisa berubah setelah sadar dompet uang dan kartu kredit ketinggalan di mobil. Kalau mata ujian kita kuasai, jadinya relax, tetapi bisa berubah seketika waktu diberitahu bab yang diujikan berbeda. Stress selalu muncul ketika ada kondisi yang mengancam – tepatnya secara subjektif mengancam pada individu tersebut.

Ancaman itu sifatnya subjektif. Bagi seseorang mengancam, belum tentu bagi individu lain. Dua murid sekolah yang sama, menghadapi ujian yang sama, belum tentu mengalami stress yang sama – sekalipun keduanya sama-sama kurang siap. Yang seorang takut tidak lulus sehingga stress, yang seorang lagi tidak perduli pada nilai ujian sehingga tidak kecemasan dan stress.

Konsep tawakkal dalam Islam merupakan langkah yang menarik untuk dikaji dalam Psikologi, yakni berserah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa setelah semua upaya dilakukan. Karena tidak ada yang tahu masa depan, maka konsep ini penting sekali dalam menghadapi ketidak pastian. Dengan tawakkal, manusia meningkatkan ambang penerimaan pada kegagalan, dengan dalih bahwa ada kekuatan di luar kita yang paling menentukan dan bisa membuat perbedaan dengan rencana sebelumnya.

Dalam tawakkal juga termuat prasangka baik kepada Tuhan, karena hanya Dia yang mengetahui apa yang terbaik bagi kita – sekalipun kita manusia ini tak jarang mencibir pilihan Allah kepada kita.

Saya katakan kepada teman saya tersebut – mungkin dengan keberadaannya di jabatan yang sekarang (harap dicatat: jabatan itu selevel manajer dan berada di sebuah perusahaan asing) dia lebih punya banyak waktu dengan hobi fotografinya. Mungkin justru dengan fotografinya ia lebih sukses di masa depan.

Akhirnya ia bercerita juga bahwa, di perusahaan sebelumnya stress kerja benar-benar menghimpit, karena tiap persoalan harus dipresentasikan hingga ke induk di Inggris. Kesibukannya sungguh menyita waktu, hingga bawahan, teman, bahkan keluarga mulai protes. Ia merasa sudah di ambang batas kemampuannya. Di tempat kerja yang sekarang, dengan gaji yang juga tidak kecil, load kerja jauh menurun sehingga banyak waktu luang untuk hobby dan keluarga. Yang hilang adalah peluang menapaki karier yang lebih prestisius.

Sukses juga subjektif, karena tidak ada norma atau batasan yang jelas tentang hal tersebut. Apakah yang kaya dan pensiun muda seperti Robert Kiyosaki atau sejumlah motivator itu yang sukses? Apakah Steve Jobs dan Bill Gates yang berinovasi terus di usia mereka yang lanjut bukan orang yang sukses? Apakah Pak Fulan petani biasa yang mencetak 4 anaknya menjadi pengusaha itu yang sukses? Atau Pak Fulan yang konglomerat tapi seorang anaknya mati karena overdosis? Apakah SBY sukses? Apakah Gus Dur sukses? Apakah Christine Hakim sukses? Apakah Utut Adianto sukses? Apakah Ayah kita sukses?

Saya katakan, ada orang biasa yang berkaliber Gandhi, Columbus, Diponegoro, atau Sukarno. Mereka dianggap sukses dan menjadi pahlawan bagi bangsanya. Ada yang sekaliber KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Bill Gates, Steve Jobs, Linus Thorvald, yang menjadi pahlawan bagi kelompoknya. Ada yang menjadi pahlawan bagi lingkungannya, membangun sistem irigasi, listrik desa, kota yang bersih dan nyaman, dsb. Lebih banyak lagi yang menjadi pahlawan bagi keluarga. Lalu ada yang cukup jadi pahlawan bagi dirinya sendiri. Akan tetapi, ada juga orang yang tidak sanggup apa-apa, bahkan tidak mampu memberikan sukses pada dirinya sendiri. Jangankan memberi arti, bahkan tak sedikit yang menjerumuskan dirinya sendiri ke lembah kenistaan – dengan berbuat kriminal, melacurkan diri (termasuk koruptor), dan meracuni diri dengan alkohol atau narkoba.

Kenapa bisa berbeda-beda? Ya, karena Tuhan mempunya grand design bagi seluruh manusia, agar mesin besar yang bernama dunia ini berjalan dengan lancar. Bayangkan, dalam mesin itu sudah pasti banyak komponen yang terlibat, semuanya punya fungsi dan peranan masing-masing. Kegunaan sebuah alat atau komponen adalah ketika dia berada di tempat yang tepat. Begitulah juga kita manusia ini. Masa kecil, sekolah, pengalaman menjadi dewasa, bahkan jodoh kita pada akhirnya membentuk sebuah kesatuan karakter kepribadian sebagaimana kita sekarang ini. Karakter kepribadian ini menentukan sejauh mana kita bisa meraih impian kita.

kontemplasi ... jalan untuk temukan diri

Di dorong seperti apapun, saya tidak bisa menjadi tokoh politik karena sejak kecil tidak pernah bersentuhan dengan dunia itu. Di beri peluang seperti apapun, sahabat saya yang dibesarkan dalam keluarga berada tidak akan mampu menjadi militer karena memang dunia kemiliteran identik dengan kerja keras fisik. Masa lalu kita membentuk kita secara tipikal. Bukan hanya pendidikan dan pengalaman, pasangan hidup (istri atau suami) juga berperan penting dalam pengembangan karakter – sebab memang kepribadian terus berubah sekalipun semakin lambat.

Berubahnya kepribadian ini sebenarnya pertanda baik, karena memberikan harapan untuk “pulang” bagi mereka yang sudah terlanjur menyia-nyiakan kehidupannya. Bukankah sering kita melihat orang yang bertobat bahkan menjadi penggiat agama yang handal?

Kembali pada timbangan sukses dan ancaman,. dengan demikian semakin lentur timbangan pengukur sukses kian lunak pula ancaman yang disodorkan kehidupan ini. Mungkin masalahnya bukan seperti apa orang yang sukses itu, tetapi bagaimana orang bisa merasakan sukses dalam hidupnya. Merasa sukses ini juga subjektif, tetapi bisa terlihat dan terasa dari reaksi orang di sekitar kita. Kesyukuran mereka pada diri kita pertanda adanya sebuah prestasi yang kita raih.

Bila orang telah memahami keterbatasannya, tahu benar seberapa jauh ia bisa melangkah, yang selanjutnya patut dipikirkan adalah cara memberinya makna. Hidup kita yang hanya satu ini akan berlalu begitu saja – dengan atau tanpa diberi makna. Persis seperti air sungai yang mengalir – dimanfaatkan atau tidak. Orang yang memberinya makna, menjadikan air sungai menjadi pembangkit listrik kecil yang cukup menghidupi desa. Kita yang memberikkan makna bagi kehidupan, mungkin akan terkejut melihat kemanfaatannya bagi orang lain.

Pada akhirnya, pepatah yang menyebutkan gajah mati meninggalkan gading sementara manusia mati meninggalkan nama, bersumber dari makna yang kita buat dalam kehidupan. Gus Dur disanjung dan dihormati bahkan setelah tiada, tentulah dari cara beliau memberikan makna pada kehidupan ini. Besarnya makna inilah yang akan menentukan kita menjadi orang yang terlupakan, menjadi pahlawan bagi keluarga, pahlawan bagi lingkungan kita, atau pahlawan bagi masyarakat luas. Semuanya kembali pada Anda. It’s really your call!

Fatwa Ulama … Seberapa Jauh Harus Kita Ikuti?

Posted in Kontemplasi, Psikologi, Sharing with tags , on January 23, 2010 by hzulkarnain

Setelah dulu ada yang berfatwa soal Facebook, dan mengundang kontroversi, kali ini sekelompok ulama di Jawa Timur yang tergabung dalam Forum Pondok Pesantren Putri Se-Jawa Timur baru saja mengeluarkan fatwa tentang rebonding …. Kok ada-ada saja? Memangnya tidak ada yang lebih penting untuk difatwakan daripada ngurusi rambut? Sudah pasti kontroversi lagi yang muncul.

rebonding ...

Ada sebagian ulama yang menganggap soal rambut perempuan sudah selesai, bukan khilafiyah. Apapun bentuknya, yang namanya rambut di kepala adalah perhiasan dan merupakan aurat, sehingga harus ditutup. Sebagian lain menganggapnya masih khilafiyah, dengan segala argumen dan pembenarannya.

Fatwa ulama di Jawa Timur soal rebonding tersebut diperuntukkan untuk perempuan yang belum menikah. Penjelasannya: rebonding ditujukan untuk berhias, dan karena rambut adalah aurat bagi perempuan yang seharusnya ditutup dengan jilbab, maka rebonding bagi perempuan yang belum menikah haram hukumnya. Sementara perempuan yang sudah menikah tidak dikenai fatwa haram me-rebonding rambut karena berhias untuk suaminya.

Bagi saya, sebenarnya fatwa semacam ini cukup aneh, karena seharusnya sebuah fatwa diturunkan untuk memberikan pencerahan – bukan justru membingungkan seperti ini. Memelihara rambut adalah hak asasi tiap manusia, mau dipotong, di-blow, di-creambath, dibuat keriting, di-highlight, dan di-rebonding semua adalah suka-sukanya sendiri. Kalau rebonding fatwanya haram, seharusnya perlakuan lain juga seharusnya difatwakan haram juga.

Mungkin yang harus dibedakan adalah tindakan rebonding dengan tujuan rebonding dilakukan. Yang rancu kan adanya pemikiran bahwasanya seorang perempuan merebonding rambutnya karena akan dipamerkan pada kaum laki-laki. Jadi, seharusnya yang haram bukan rebonding-nya tetapi perilaku memamerkan aurat tadi. Kalau setelah rebonding lalu pakai jilbab, apa ya haram? Islam mengajarkan bahwa semuanya dinilai berdasarkan niatnya.

Yang lebih seru lagi, forum ulama pengasuh pesantren putri tersebut kemudian juga mengharamkan 2 hal lain: menjadi pengojek bagi perempuan dan berfoto pre-wedding. Alasannya, keduanya mendekati kemaksiatan. Kalau pengojek perempuan memboncengkan penumpang laki-laki (apalagi malam hari), bisa mengundang kemaksiatan. Sementara itu, foto-foto pre-wedding identik dengan berpelukan dan berciuman, sehingga haramnya hingga ke fotografer.

Fatwa bukanlah hukum, tetapi lebih tepat diartikan sebagai pendapat atau opini. Ulama yang berkompeten pada hal yang baik dan buruk, interpretasi dan implementasi agama, mempunyai hak mengeluarkan fatwa – bila hal itu dinilai akan membawa kebaikan bagi umat, minimum jamaah pengajiannya sendiri. Bisa saja sekelompok ulama yang berada di sebuah daerah punya fatwa atau pendapat yang berbeda tentang suatu hal dengan ulama di daerah lainnya.

Sebelum fatwa rebonding dan facebook yang sebenarnya tidak signifikan, jauh hari pernah ada silang pendapat tentang keharaman bekicot. Ulama di daerah Kediri menghalalkannya, karena memang di wilayah itu bekicot sudah menjadi makanan rakyat, banyak dijual, bahkan sate bekicot telah menyeberangi wilayah lain hingga ke kota-kota besar lain. Bekicot dianggap halal karena tidak masuk dalam kategori apapun pada binatang yang diharamkan oleh Islam, apalagi kandungan gizinya dianggap cukup baik.

Berseberangan dengan para ulama ini, ulama di daerah lain justru mengharamkannya. Haramnya bekicot karena avertebrata ini dianggap menjijikkan. Ketika mentah berbau dan berlendir, hingga membuat jijik, setelah matangpun orang tidak bisa melupakan kesan jijik. Akan tetapi jijik adalah perasaan subjektif, sementara haram adalah hukum. Kalau orang tidak jijik dengan bekicot, apakah tetap haram? Beda halnya bila bekicot tidak memberikan manfaat bahkan merugikan kesehatan, karena Islam mengajarkan kita untuk hanya memakan makanan yang halal dan baik (halalan thoyyibah).

Selain bekicot, kita juga tahu di beberapa wilayah di tanah air ada makanan-makanan dari hewan yang bagi orang lain menjijikkan, namun sudah dikenal sebagai makanan penduduk lokal yang lezat dan bergizi. Cacing palolo dan cacing wawo di Indonesia Timur misalnya. Bagi yang suka menyantap teripang, rasanya akan geli kalau melihat bentuk aslinya ketika hidup – karena cukup menjijikkan.

Belakangan ini, dakwah seorang ustadz yang siaran di TPI tiap Minggu dan Senin juga mem-fatwakan syirik pada kalung dan gelang kesehatan, demikian juga hipnotisme (rupanya segala hal yang berupa hipnotis) yang dianggap sebagai sihir. Mungkin beliau tidak menyebutnya fatwa, tetapi karena keluar dari mulut seorang yang alim, sama saja artinya demikian.

Sang ustadz mengharamkan kalung dan gelang kesehatan berdasarkan pengamatan dan pengakuan jemaahnya. Semua data teknis diabaikan, karena dianggap bagian dari marketing semata. Logikanya, tidak mungkin kalung dan gelang itu bisa menyembuhkan penyakit, dan muatan energi di dalamnya hanyalah isu belaka. Sehingga, orang yang menggantungkan kesehatan pada kalung dan gelang itu dianggap telah syirik, karena mencari pemecahan masalah pada hal yang tidak logis dan tidak memberi faedah – dan itu sama dengan mencari jalan keselamatan kepada selain Allah.

Hipnotisme adalah sihir, kata beliau dan syirik dan dalam prosesnya selalu menggunakan bantuan mahluk Allah lain (maksudnya jin). Kalau dikatakan tidak menggunakan mantra, sang ustadz yakin itu BOHONG. Memang sekarang tidak pakai, tetapi ketika belajar dulu pasti menggunakan rapalan mantra. Semua penjelasan adanya manipulasi mental hanya rekayasa ucapan belaka, untuk menutupi sifat sihirnya.

Saya adalah orang yang mencoba menghormati ucapan seorang guru, atau ustadz, tetapi apa yang saya dengar dari ustadz tersebut bertanya tentang metodologi dan caranya membentangkan wawasan. Yang mash pula mengganjal d pikiran saya, sudahkah sang Ustadz ber-tabayyun, melakukan cross-check dan konfirmasi dengan benar dan objektif dengan pihak-pihak yang dituduh syirik tersebut?

Islam adalah agama akal, dan Al-Qur’an adalah samudra ilmu, yang belum semuanya tuntas diteliti. Maknanya, orang Islam diminta untuk berpikir dan terus memikirkan Allah serta penciptaan  langit dan bumi seraya berdiri, duduk, maupun berbaring. Penilaian sang ustadz yang mengunci fenomena kalung kesehatan dan hipnotisme dengan kata haram dan syirik – tanpa mengindahkan alasan apapun – membuat saya tidak nyaman. Sebab dengan demikian, kita sebagai jamaah sepertinya tidak boleh berpikir lain – tidak leluasa mengembangkan akal untuk menjajagi kemungkinan lain.

Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca, dikatakan bahwa otak manusia ini ibaratnya sebuah komputer raksasa, tetapi manusia paling banter hanya menggunakan 10% saja dari kapasitas otaknya. Bayangkan 10% saja, dan orang itu pun hanya Einstein yang dianggap orang tercerdas di dunia. Kalau kita, sebagai manusia biasa, mungkin hanya menggunakan 1 – 3 persen saja. Sama dengan kita beli komputer dengan spesifikasi tercanggih, yang sangat mahal, tapi ujungnya hanya digunakan untuk mengetik dan ber-internet, padahal di tangan orang lain komputer kita itu bisa untuk mengembangkan software dan menciptakan manfaat yang lebih baik. Intinya adalah, ada rahasia tentang otak kita yang belum dieksplorasi dan belum digunakan secara optimal.

Dari sumber resmi perusahaan yang memproduksi kalung kesehatan (yang diharamkan sang ustadz tersebut), saya membaca bahwa kalung itu bukan obat dan bukan penyembuh. Benda itu semacam komposit berbagai mineral yang berkemampuan memancarkan gelombang far-infra red. Far-infra red adalah sejenis gelombang cahaya matahari yang sangat bermanfaat bagi tubuh tetapi hanya muncul di kala Subuh dan hanya sekitar 1 jam saja. Gelombang FIR ini ditemukan bisa melancarkan peredaran darah sehingga meringankan beberapa jenis penyakit. Nah, ahli-ahli di Jepang menemukan campuran mineral yang bisa memancarkan FIR tsb, sehingga manusia bisa menikmati FIR sepanjang hari. Itu saja.

Memang sih, kalau kemudian kita lantas mendewakan kalung tersebut bisa berujung kepada kesyirikan. Kalau itu yang dimaksudkan sang ustadz, saya bisa menerima – sebab memang kita tidak boleh mendewakan apapun karena semua jalan kesembuhan adalah karena izin Allah Swt.

Saya bukan fans berat Rommy Rafael, dan tidak ada alasan bagi saya untuk membelanya. Saya pikir ada beda antara hipnotis ala ahli hipnotis ini dengan gendam yang adalah bagian dari praktik sihir. Saya masih yakin bahwa ada hipnotisme yang bisa dipelajari tanpa sihir dan untuk tujuan rehabilitasi kondisi mental. Kalau kita pernah mendengar hipnoterapi, adalah terapi penyembuhan melalui prinsip hipnotisme. Dengan latihan, orang bisa melakukan sugesti-sugesti yang konstruktif.

Coba sekarang anda bayangkan sebuah JERUK.

JERUK JERUK JERUK.

Ucapkan kata jeruk berulang-ulang dalam pikiran. Bayangkan buahnya di pikiran anda. Bayangkan buahnya secara tiga dimensi. Rasakan aromanya. Bayangkan rasanya.

JERUK JERUK JERUK.

Apa yang terjadi sekarang?

Mayoritas orang yang disugesti dengan jeruk tiba-tiba merasakan air liur di dalam mulutnya. Kenapa? Padahal tidak ada jeruk, selain jeruk dalam pikiran. Inilah yang disebut dengan kekuatan sugesti.

sesi hipnoterapi

Hipnoterapi bisa dipergunakan antara lain untuk terapi penyembuhan fobia, ketergantungan rokok atau narkoba, depresi, demotivasi, dsb dan tidak bertentangan dengan ajaran agama manapun.

Kalau hipnotisme diharamkan, saya khawatir para motivator dan fasilitator ESQ juga harus dilarang, karena mereka juga menggunakan cara-cara sugesti untuk meningkatkan kualitas diri individu pesertanya.  Menurunkan kesadaran ke level terendah, memasukkan kalimat-kalimat introspeksi dan motivasi, agar nanti setelah selesai individu menjadi diri yang lebih baik.

Kembali soal fatwa dan opini, sekarang ini saya paling mengagumi Ustadz Yusuf Mansyur, yang dengan semangat dan pengalamannya membuat kita berpikir positif tentang kehidupan, bergerak maju, dan menjadi diri yang lebih baik… dengan sedekah dan belajar menghafalkan Al-Qur’an. Ustadz satu ini tidak pernah saya dengar men-judge-ment orang lain, bahkan seringkali mentertawakan kekurangannya sendiri – sesuatu yang manusiawi.

Sekali lagi Islam adalah agama akal, dan karena meminta kita memikirkan alam semesta dan penciptaannya dengan akal berarti Islam adalah agama yang menjunjung tinggi perubahan dan pergerakan sosial, budaya, sains dan teknologi, serta evolusi pemikiran manusia itu sendiri. Kalau sudah demikian, alangkah baiknya bila kita tidak terjebak dalam judgement-judgement sempit yang justru akan mengerdilkan kapasitas otak kita. Akal berlandaskan Al-Qur’an, itulah akhlak Islam yang kita inginkan.

Islam mempunyai Ibnu Sina sang ahli kedokteran, Jabir Bin Hayyan sang ahli kimia, Al Kindi yang menguasai banyak ilmu… adalah sedikit contoh pendobrak jaman justru karena melampaui ukuran judgement sempit tadi. Sekarang ini, contoh kecil multi-disiplin yang dimiliki Indonesia adalah DR Moh. Saleh yang belajar di perguruan tinggi lintas disiplin ilmu dan berhasil menemukan hikmah sholat tahajud dari sudut agama, psikologi, dan kedokteran. Menurut catatan Abu Sangkan, orang seperti inilah yang memikirkan Allah dan penciptaan alam semesta saat berdiri, dengan duduknya, dan di kala berbaring (sesuai dengan bunyi QS Ali Imran 191).

Semoga bangsa kita senantiasa dirahmati Allah, dan berkembang menjadi bangsa unggul yang disegani. Amin.