Archive for Mercusuar Pikir

Fesbuk Lagi … Lagi-Lagi Facebook

Posted in Kontemplasi, Psikologi, Sharing with tags , on February 24, 2010 by hzulkarnain

Herdian Zulkarnain

Seorang tetangga curhat tentang anaknya yang sekarang berumur 12 tahunan, kelas 6 SD ….

fesbuk lagi ....

Hari-hari belakangan ini berlalu seperti biasa, meskipun anak perempuan tetangga tersebut sudah mendekati UAS. Hingga suatu hari, ketika tetangga tersebut dan anaknya sedang nonton pertandingan volley warga, mereka bertemu dengan sesama orang tua murid. Dan terjadilah perbincangan di bawah …

“Hei Nana, bagaimana try out-nya hari Senin kemarin? Kata Linda susah ya?”

“Baik Tante. Memang susah sih …”

Setelah sedikit basa-basi mereka pun berpisah. Sekarang giliran si Ibu – tetangga saya itu – menginterogasi anaknya.

“Kamu memang try-out hari Senin kemarin?” Si Ibu ini cemas.

“Bener Ma,” jawab Nana santai.

“Try out apa?”

”Matematika….”

“Kayaknya kamu nggak belajar deh waktu itu …. Salah berapa kamu?” Si Ibu tambah cemas.

“Cuma ….. salah 42 kok Ma?” kilah Nana masih dengan kepolosannya.

“Haaa …. salah 42 kok cuma! Hayo kenapa kamu nggak bilang kalau mau try out?”

“Habis … kalau Nana bilang ada try out, entar nggak boleh fesbuk-an ….”

ABG à peer group à sosialisasi yang lebih luas à fesbuk … sepertinya rentetan alur logika yang masuk akal, dan cukup menjawab pertanyaan besar kecanduan remaja pada fesbuk.

Secara hormonal, anak yang beranjak remaja mulai menginginkan ruang komunikasi yang lebih luas. Begitu mereka masuk ke dalam sebuah kelompok pertemanan, dan menjadikannya referensi, pemikiran kelompok itu menjadi bagian penting dari cara berpikirnya juga.

Kekeliruan umum yang dilakukan oleh orang tua adalah kecenderungan melihat tingkat sekolah anak, bukan tataran usianya. Kalau masih SD belum pantas ini-itu, kalau masih SMP belum boleh pacaran, nggak boleh fesbuk-an nanti ngganggu belajar … dan seterusnya. Padahal, level sekolah manusia juga yang menetapkan, sementara masuk masa akhil balig tiba karena proses alami. Usia 10 tahunan, sudah banyak anak perempuan yang mengalami menstruasi pertamanya – sekalipun masih kelas 4 SD.

Orang tua juga harus mulai memperlakukan anak secara berbeda dengan sebelumnya, saat tanda-tanda seks sekunder muncul. Bagi anak perempuan, berarti tubuh yang mulai terbentuk dan payudara yang membesar. Bagi anak laki-laki, tanda paling jelas adalah suara yang pecah dan atau tumbuh kumis. Menganggap anak yang berangkat remaja masih seperti anak-anak adalah kekeliruan kedua.

Anak-anak patuh pada orang tua, karena referensi utama mereka adalah orang tua. Komunikasi searah pun tidak masalah dilakukan, sebab anak akan menerima apapun pesan yang disampaikan. Di lain pihak, remaja yang mulai mengembangkan akal pikiran mereka punya referensi lain, yaitu teman-teman sebaya. Akibatnya, tidak semua ucapan orang tua bisa diterima anak dengan senang hati.

Fesbuk (facebook) adalah program komputer yang memungkinkan seseorang terkoneksi secara virtual dengan orang lain, bahkan hingga ke belahan dunia yang lain. Sebelumnya ada program yang bernama Friendster, yang lebih kurang juga menjalin pertemanan via internet, tetapi tidak booming seperti fesbuk yang telah menggaet jutaan warga dunia.

Kelebihan fesbuk adalah keragaman pilihan komunikasi dan sifatnya real-time. Kalau saya menuliskan sebuah status di wall saya, saat itu juga teman saya yang sedang online bisa langsung tahu kabar saya. Dia bisa menanggapi status terbaru saya di sana, atau masuk ke inbox untuk pesan yang lebih personal dan rahasia, atau bahkan bisa mengajak saya chatting.  Popularitas chatting fesbuk mungkin sekarang mulai menggoyahkan Yahoo Messenger yang sudah jauh lebih dahulu dikenal orang.

Pengin tahu kabar dan komentar teman, itulah yang membuat fesbuk didatangi. Hanya dengan melihat-lihat kabar teman, berkomentar, upload foto (biasa …. remaja sekarang hobi-nya difoto dan memfoto), waktu 3 – 4 jam bisa berlalu dengan cepat. Tidak mengherankan waktu untuk belajar jadi tersita.

Belum lagi fesbuk juga menyediakan aplikasi game yang cukup menarik – sekalipun sebenarnya sangat – sangat – sangat sederhana. Game berbasis teks seperti Mafia Wars dan Yakuza Lords, atau game 2 D dengan avatar yang merepresentasikan kita seperti Farmville dan Cafe World, adalah contoh game fesbuk yang digemari.

Friendster tidak lagi in, dan twitter tampaknya tidak akan sanggup menggeser fesbuk. Fesbuk membuat remaja gandrung bahkan mencandu, sehingga tak dapat disangkal lagi sekarang  telah menjadi bagian dari gaya hidup remaja yang melek internet. Pegang HP-pun mereka buka aplikasi fesbuk lewat Mini-Opera.

Semua teknologi pasti menimbulkan pro dan kontra, termasuk fesbuk dan HP. Guru dan orang tua, bahkan sekarang media ramai-ramai mencela fesbuk. … sementara si remaja jalan terus ber-fesbuk ria. Apa bisa melarang remaja tidak ber-fesbuk ria?

disconnected ...

Fesbuk itu nikmat, itu konsep di pikiran remaja. Apapun yang nikmat lalu dilarang, akan menimbulkan dampak samping. Mengunci akses fesbuk remaja tidak akan menyelesaikan masalah, karena naluri survival mereka akan mencari cara untuk kembali fesbuk-an. Sama dengan dulu waktu demam PS, dan banyak rental PS bertebaran di mana-mana. Sekarang, demam itu sudah reda. Begitu juga nantinya dengan fesbuk, demamnya akan reda dan fesbuk tinggal menjadi salah satu program internet biasa.

Masalahnya adalah, saat masih demam seperti ini bagaimana membatasi remaja ber-fesbuk ria? Tidak menghabiskan waktu di sana dan menomor duakan pelajaran di sekolah. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Orang tua harus kenal fesbuk. Seperti biasa, remaja akan mengemukakan semua argumen bila dilarang ini dan itu. Cara paling ampuh adalah memahami hal yang menjadi kesukaan remaja. Buka pikiran, dan pelajari apa dan bagaimana fesbuk itu.
  2. Jadi teman anak dalam fesbuk. Dengan menjadi teman dalam fesbuk, orang tua bisa melihat siapa saja teman anak, termasuk “mengintip” komunikasi wall di antara mereka.
  3. Jadikan fesbuk sebagai reward. Jadi, reward diberikan kalau anak sudah menyelesaikan perintah orang tua. Bahkan kalau bisa meyakinkan orang tua dengan nilai-nilai pelajaran yang baik.
  4. Kendalikan waktu belajar anak. Jangan ada perbedaan sikap antara ayah dan ibu soal waktu belajar. Selama waktu belajar, pastikan anak belajar, dan tidak ada kompromi.
  5. Koordinasi dengan sekolah untuk mengetahui skedul tryout dan ujian. Ini seringkali diabaikan orang tua. Jangan percaya anak begitu saja, dan dengan menjalin komunikasi dengan guru / wali kelas, akan banyak manfaat lain yang bisa diambil.
  6. Berkomunikasi dengan remaja dengan cara yang berbeda. Dalam analisis-transaksional, dikenal komunikasi parent – to – child, dan ini biasa dilakukan orang tua sejak anak masih kecil. Menghadapi remaja, orang tua harus menurunkan levelnya menjadi adult, karena remaja menaikkan levelnya dari child ke adult. Jadi, komunikasi yang terjadi adalah adult – to – adult (orang dewasa ke orang dewasa). Jadi, orang tua menganggap si anak figur dewasa, agar komunikasi menjadi terbuka sebab anak ingin dianggap dewasa dan level pembicaraan setara.

Pada akhirnya, yang ingin kita tumbuhkan dari seorang remaja adalah sikap dan perilaku yang bertanggung jawab. Fesbuk-an tak kenal waktu adalah indikasi bahwa remaja masih belum bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Yang dilarang jangan fesbuk-nya, tapi tumbuhkan sikap dan perilaku bertanggung jawab … maka fesbuk tidak lagi menjadi momok. Tumbuhnya tanggung jawab ini secara otomatis akan menurunkan demam fesbuk.

Memberi Makna pada Kehidupan

Posted in Kontemplasi, Psikologi, Sharing with tags , on February 16, 2010 by hzulkarnain

Seekor monyet (sebut saja monyet kita) yang bersemangat berhasil mencapai sebuah puncak pohon yang tidak terlalu besar tapi cukup tinggi. Ia gembira karena sekarang bisa melihat alam sekelilingnya dengan bebas, ia merasa menjadi momyet yang paling berbahagia. Di pohon itu, ia bisa tidur dan makan dengan tenang, dan lebih gembira lagi karena ia berteman dengan binatang lain yang juga menginginkan kehidupan yang tenang. Monyet-monyet lain yang lebih muda tidak berani naik ke puncak tanpa ijinnya, karena sekarang ia adalah penguasa pohon itu.

Tiba-tiba dilihatnya seekor monyet lain di sebuah pohon lain yang lebih besar dan lebih tinggi. Jaauuhh lebih besar dan jauuuh lebih tinggi.Pohon itu adalah salah satu yang terbesar dan tertinggi di hutan. Monyet kita membayangkan betapa enaknya duduk di puncak pohon tertinggi itu, betapa lebih luas pemandangan dari sana, betapa enaknya.

Monyet kita akhirnya mengenali monyet lain itu sebagai teman masa kecilnya duluuu… sekali. Monyet kita menjadi iri, kenapa dia tidak bisa mendapatkan pohon itu, padahal ia juga mampu jadi seperti monyet temannya itu. Dari iri, ia menjadi marah … marah pada dirinya sendiri, marah pada temannya yang berhasil itu.

Oh no ... I made a mistake

Tanpa pikir panjang, monyet kita meninggalkan pohonnya yang nyaman, dan pindah ke pohon tempat temannya berkuasa. Tanpa diduga, sejak di cabang bawah, sudah banyak monyet lain yang berusaha naik, tetapi kebanyakan gagal sebab persaingan ke puncak sangat ketat. Dengan kekuatannya, monyet kita itu terus mencoba mengatasi masalah menuju puncak pohon.

Monyet kita mulai mengalami luka-luka dari beberapa perkelahian ke puncak. Semakin mencoba ke atas, lebih banyak luka yang dideritanya karena lawannya juga semakin berat. Monyet kita yakin, kalau temannya bisa ia juga pasti bisa! Hingga akhirnya, di sebuah tempat tidak jauh dari puncak, monyet kita tak tahan lagi dengan lukanya – ia terlempar dari pohon itu meluncur ke bawah.

Ketika sadar dari pingsannya, ternyata ia ada di bawah pohon. Untuk naik lagi, ia sudah mulai ngeri, membayangkan perkelahian yang akan dialaminya. Maka, monyet kita kembali ke pohonnya.

Apa yang ditemuinya di sana? Seekor monyet besar muda sudah berada di puncak. Monyet-monyet lain menjadi lebih beringas – tidak lagi takut padanya seperti kemarin…. Monyet kita menyesal bukan main. Tadinya ia ingin meraih gunung, tapi terlalu terburu-buru ia melepaskan pisang di tangan. Kehilangan di sini, tak tercapai di sana, membuatnya tidak tahu lagi apa yang sedang dikejarnya ….

Kisah di atas mungkin hanya fabel, namun dorongan untuk bergerak, berubah, bertambah baik dan menemukan impian adalah sifat hakiki manusia, sekaligus membedakan manusia dengan berbagai mahluk lain ciptaan Tuhan. Untuk itu, manusia dibekali sifat berjuang dan bertahan hidup (survive), untuk menentukan kapan harus bertarung dan tahu saat harus mundur. Kalah sebenarnya adalah hal yang alami, lumrah bagi manusia yang memang tidak sempurna, namun bagi orang yang selalu berhasil sebuah kekalahan merupakan cela yang membuatnya stress.

Stress adalah semacam mekanisme pertahanan ego, yang berfungsi saat kita merasa ada ancaman dan perlu waspada. Saat ujian jadi stress, hendak “nembak” cewek juga stress, dipanggil boss jadi stress … bahkan diam di rumah saja bisa stress. Ya, stress seperti sebuah meter pengukur untuk melihat seberapa baik kondisi mental kita.

Seorang teman belakangan ini cenderung stress yang mengarah depresi terselubung (masked depression). Tanpa ada pemicu, ia bisa cemas sendiri, yang kemudian memunculkan tanda-tanda psikosomatis berupa gastritis dan insomnia. Akhirnya ia berkisah, bahwa memang ia terbiasa sukses sejak muda – seperti masuk SMA tanpa tes, masuk perguruan tinggi PMDK, pindah ke sekolah teknik terkemuka di Bandung dengan sukses, bahkan sebagai manajer safety ia adalah orang yang dipercaya penuh oleh boss. Belakangan, ia bertemu dengan teman-teman kuliah yang dianggapnya jauh lebih sukses: Presdir di perusahaan group terkemuka, komandan batalion, dan jabatan prestisius lainnya. Sementara dirinya tidak bisa kemana-mana lagi … dan dengan umurnya sekarang sudah semakin sulit untuk mengejar karier di tempat lain. Meter pengukur dalam dirinya sudah membunyikan alarm, yang mengindikasikan bahwa mentalnya tidak sedang dalam kondisi prima. Ada suatu hal yang perlu diselesaikannya agar kembali ke level equilibrium.

Apakah stress bisa dimanipulasi? Mungkin bukan stress-nya, tetapi ukuran ambang keberhasilan dan kegagalannya yang bisa dimanipulasi. Coba perhatikan, mengapa kita stress? Waktu belanja di mall tidak stress, malah relax, tetapi kondisi bisa berubah setelah sadar dompet uang dan kartu kredit ketinggalan di mobil. Kalau mata ujian kita kuasai, jadinya relax, tetapi bisa berubah seketika waktu diberitahu bab yang diujikan berbeda. Stress selalu muncul ketika ada kondisi yang mengancam – tepatnya secara subjektif mengancam pada individu tersebut.

Ancaman itu sifatnya subjektif. Bagi seseorang mengancam, belum tentu bagi individu lain. Dua murid sekolah yang sama, menghadapi ujian yang sama, belum tentu mengalami stress yang sama – sekalipun keduanya sama-sama kurang siap. Yang seorang takut tidak lulus sehingga stress, yang seorang lagi tidak perduli pada nilai ujian sehingga tidak kecemasan dan stress.

Konsep tawakkal dalam Islam merupakan langkah yang menarik untuk dikaji dalam Psikologi, yakni berserah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa setelah semua upaya dilakukan. Karena tidak ada yang tahu masa depan, maka konsep ini penting sekali dalam menghadapi ketidak pastian. Dengan tawakkal, manusia meningkatkan ambang penerimaan pada kegagalan, dengan dalih bahwa ada kekuatan di luar kita yang paling menentukan dan bisa membuat perbedaan dengan rencana sebelumnya.

Dalam tawakkal juga termuat prasangka baik kepada Tuhan, karena hanya Dia yang mengetahui apa yang terbaik bagi kita – sekalipun kita manusia ini tak jarang mencibir pilihan Allah kepada kita.

Saya katakan kepada teman saya tersebut – mungkin dengan keberadaannya di jabatan yang sekarang (harap dicatat: jabatan itu selevel manajer dan berada di sebuah perusahaan asing) dia lebih punya banyak waktu dengan hobi fotografinya. Mungkin justru dengan fotografinya ia lebih sukses di masa depan.

Akhirnya ia bercerita juga bahwa, di perusahaan sebelumnya stress kerja benar-benar menghimpit, karena tiap persoalan harus dipresentasikan hingga ke induk di Inggris. Kesibukannya sungguh menyita waktu, hingga bawahan, teman, bahkan keluarga mulai protes. Ia merasa sudah di ambang batas kemampuannya. Di tempat kerja yang sekarang, dengan gaji yang juga tidak kecil, load kerja jauh menurun sehingga banyak waktu luang untuk hobby dan keluarga. Yang hilang adalah peluang menapaki karier yang lebih prestisius.

Sukses juga subjektif, karena tidak ada norma atau batasan yang jelas tentang hal tersebut. Apakah yang kaya dan pensiun muda seperti Robert Kiyosaki atau sejumlah motivator itu yang sukses? Apakah Steve Jobs dan Bill Gates yang berinovasi terus di usia mereka yang lanjut bukan orang yang sukses? Apakah Pak Fulan petani biasa yang mencetak 4 anaknya menjadi pengusaha itu yang sukses? Atau Pak Fulan yang konglomerat tapi seorang anaknya mati karena overdosis? Apakah SBY sukses? Apakah Gus Dur sukses? Apakah Christine Hakim sukses? Apakah Utut Adianto sukses? Apakah Ayah kita sukses?

Saya katakan, ada orang biasa yang berkaliber Gandhi, Columbus, Diponegoro, atau Sukarno. Mereka dianggap sukses dan menjadi pahlawan bagi bangsanya. Ada yang sekaliber KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Bill Gates, Steve Jobs, Linus Thorvald, yang menjadi pahlawan bagi kelompoknya. Ada yang menjadi pahlawan bagi lingkungannya, membangun sistem irigasi, listrik desa, kota yang bersih dan nyaman, dsb. Lebih banyak lagi yang menjadi pahlawan bagi keluarga. Lalu ada yang cukup jadi pahlawan bagi dirinya sendiri. Akan tetapi, ada juga orang yang tidak sanggup apa-apa, bahkan tidak mampu memberikan sukses pada dirinya sendiri. Jangankan memberi arti, bahkan tak sedikit yang menjerumuskan dirinya sendiri ke lembah kenistaan – dengan berbuat kriminal, melacurkan diri (termasuk koruptor), dan meracuni diri dengan alkohol atau narkoba.

Kenapa bisa berbeda-beda? Ya, karena Tuhan mempunya grand design bagi seluruh manusia, agar mesin besar yang bernama dunia ini berjalan dengan lancar. Bayangkan, dalam mesin itu sudah pasti banyak komponen yang terlibat, semuanya punya fungsi dan peranan masing-masing. Kegunaan sebuah alat atau komponen adalah ketika dia berada di tempat yang tepat. Begitulah juga kita manusia ini. Masa kecil, sekolah, pengalaman menjadi dewasa, bahkan jodoh kita pada akhirnya membentuk sebuah kesatuan karakter kepribadian sebagaimana kita sekarang ini. Karakter kepribadian ini menentukan sejauh mana kita bisa meraih impian kita.

kontemplasi ... jalan untuk temukan diri

Di dorong seperti apapun, saya tidak bisa menjadi tokoh politik karena sejak kecil tidak pernah bersentuhan dengan dunia itu. Di beri peluang seperti apapun, sahabat saya yang dibesarkan dalam keluarga berada tidak akan mampu menjadi militer karena memang dunia kemiliteran identik dengan kerja keras fisik. Masa lalu kita membentuk kita secara tipikal. Bukan hanya pendidikan dan pengalaman, pasangan hidup (istri atau suami) juga berperan penting dalam pengembangan karakter – sebab memang kepribadian terus berubah sekalipun semakin lambat.

Berubahnya kepribadian ini sebenarnya pertanda baik, karena memberikan harapan untuk “pulang” bagi mereka yang sudah terlanjur menyia-nyiakan kehidupannya. Bukankah sering kita melihat orang yang bertobat bahkan menjadi penggiat agama yang handal?

Kembali pada timbangan sukses dan ancaman,. dengan demikian semakin lentur timbangan pengukur sukses kian lunak pula ancaman yang disodorkan kehidupan ini. Mungkin masalahnya bukan seperti apa orang yang sukses itu, tetapi bagaimana orang bisa merasakan sukses dalam hidupnya. Merasa sukses ini juga subjektif, tetapi bisa terlihat dan terasa dari reaksi orang di sekitar kita. Kesyukuran mereka pada diri kita pertanda adanya sebuah prestasi yang kita raih.

Bila orang telah memahami keterbatasannya, tahu benar seberapa jauh ia bisa melangkah, yang selanjutnya patut dipikirkan adalah cara memberinya makna. Hidup kita yang hanya satu ini akan berlalu begitu saja – dengan atau tanpa diberi makna. Persis seperti air sungai yang mengalir – dimanfaatkan atau tidak. Orang yang memberinya makna, menjadikan air sungai menjadi pembangkit listrik kecil yang cukup menghidupi desa. Kita yang memberikkan makna bagi kehidupan, mungkin akan terkejut melihat kemanfaatannya bagi orang lain.

Pada akhirnya, pepatah yang menyebutkan gajah mati meninggalkan gading sementara manusia mati meninggalkan nama, bersumber dari makna yang kita buat dalam kehidupan. Gus Dur disanjung dan dihormati bahkan setelah tiada, tentulah dari cara beliau memberikan makna pada kehidupan ini. Besarnya makna inilah yang akan menentukan kita menjadi orang yang terlupakan, menjadi pahlawan bagi keluarga, pahlawan bagi lingkungan kita, atau pahlawan bagi masyarakat luas. Semuanya kembali pada Anda. It’s really your call!

Fatwa Ulama … Seberapa Jauh Harus Kita Ikuti?

Posted in Kontemplasi, Psikologi, Sharing with tags , on January 23, 2010 by hzulkarnain

Setelah dulu ada yang berfatwa soal Facebook, dan mengundang kontroversi, kali ini sekelompok ulama di Jawa Timur yang tergabung dalam Forum Pondok Pesantren Putri Se-Jawa Timur baru saja mengeluarkan fatwa tentang rebonding …. Kok ada-ada saja? Memangnya tidak ada yang lebih penting untuk difatwakan daripada ngurusi rambut? Sudah pasti kontroversi lagi yang muncul.

rebonding ...

Ada sebagian ulama yang menganggap soal rambut perempuan sudah selesai, bukan khilafiyah. Apapun bentuknya, yang namanya rambut di kepala adalah perhiasan dan merupakan aurat, sehingga harus ditutup. Sebagian lain menganggapnya masih khilafiyah, dengan segala argumen dan pembenarannya.

Fatwa ulama di Jawa Timur soal rebonding tersebut diperuntukkan untuk perempuan yang belum menikah. Penjelasannya: rebonding ditujukan untuk berhias, dan karena rambut adalah aurat bagi perempuan yang seharusnya ditutup dengan jilbab, maka rebonding bagi perempuan yang belum menikah haram hukumnya. Sementara perempuan yang sudah menikah tidak dikenai fatwa haram me-rebonding rambut karena berhias untuk suaminya.

Bagi saya, sebenarnya fatwa semacam ini cukup aneh, karena seharusnya sebuah fatwa diturunkan untuk memberikan pencerahan – bukan justru membingungkan seperti ini. Memelihara rambut adalah hak asasi tiap manusia, mau dipotong, di-blow, di-creambath, dibuat keriting, di-highlight, dan di-rebonding semua adalah suka-sukanya sendiri. Kalau rebonding fatwanya haram, seharusnya perlakuan lain juga seharusnya difatwakan haram juga.

Mungkin yang harus dibedakan adalah tindakan rebonding dengan tujuan rebonding dilakukan. Yang rancu kan adanya pemikiran bahwasanya seorang perempuan merebonding rambutnya karena akan dipamerkan pada kaum laki-laki. Jadi, seharusnya yang haram bukan rebonding-nya tetapi perilaku memamerkan aurat tadi. Kalau setelah rebonding lalu pakai jilbab, apa ya haram? Islam mengajarkan bahwa semuanya dinilai berdasarkan niatnya.

Yang lebih seru lagi, forum ulama pengasuh pesantren putri tersebut kemudian juga mengharamkan 2 hal lain: menjadi pengojek bagi perempuan dan berfoto pre-wedding. Alasannya, keduanya mendekati kemaksiatan. Kalau pengojek perempuan memboncengkan penumpang laki-laki (apalagi malam hari), bisa mengundang kemaksiatan. Sementara itu, foto-foto pre-wedding identik dengan berpelukan dan berciuman, sehingga haramnya hingga ke fotografer.

Fatwa bukanlah hukum, tetapi lebih tepat diartikan sebagai pendapat atau opini. Ulama yang berkompeten pada hal yang baik dan buruk, interpretasi dan implementasi agama, mempunyai hak mengeluarkan fatwa – bila hal itu dinilai akan membawa kebaikan bagi umat, minimum jamaah pengajiannya sendiri. Bisa saja sekelompok ulama yang berada di sebuah daerah punya fatwa atau pendapat yang berbeda tentang suatu hal dengan ulama di daerah lainnya.

Sebelum fatwa rebonding dan facebook yang sebenarnya tidak signifikan, jauh hari pernah ada silang pendapat tentang keharaman bekicot. Ulama di daerah Kediri menghalalkannya, karena memang di wilayah itu bekicot sudah menjadi makanan rakyat, banyak dijual, bahkan sate bekicot telah menyeberangi wilayah lain hingga ke kota-kota besar lain. Bekicot dianggap halal karena tidak masuk dalam kategori apapun pada binatang yang diharamkan oleh Islam, apalagi kandungan gizinya dianggap cukup baik.

Berseberangan dengan para ulama ini, ulama di daerah lain justru mengharamkannya. Haramnya bekicot karena avertebrata ini dianggap menjijikkan. Ketika mentah berbau dan berlendir, hingga membuat jijik, setelah matangpun orang tidak bisa melupakan kesan jijik. Akan tetapi jijik adalah perasaan subjektif, sementara haram adalah hukum. Kalau orang tidak jijik dengan bekicot, apakah tetap haram? Beda halnya bila bekicot tidak memberikan manfaat bahkan merugikan kesehatan, karena Islam mengajarkan kita untuk hanya memakan makanan yang halal dan baik (halalan thoyyibah).

Selain bekicot, kita juga tahu di beberapa wilayah di tanah air ada makanan-makanan dari hewan yang bagi orang lain menjijikkan, namun sudah dikenal sebagai makanan penduduk lokal yang lezat dan bergizi. Cacing palolo dan cacing wawo di Indonesia Timur misalnya. Bagi yang suka menyantap teripang, rasanya akan geli kalau melihat bentuk aslinya ketika hidup – karena cukup menjijikkan.

Belakangan ini, dakwah seorang ustadz yang siaran di TPI tiap Minggu dan Senin juga mem-fatwakan syirik pada kalung dan gelang kesehatan, demikian juga hipnotisme (rupanya segala hal yang berupa hipnotis) yang dianggap sebagai sihir. Mungkin beliau tidak menyebutnya fatwa, tetapi karena keluar dari mulut seorang yang alim, sama saja artinya demikian.

Sang ustadz mengharamkan kalung dan gelang kesehatan berdasarkan pengamatan dan pengakuan jemaahnya. Semua data teknis diabaikan, karena dianggap bagian dari marketing semata. Logikanya, tidak mungkin kalung dan gelang itu bisa menyembuhkan penyakit, dan muatan energi di dalamnya hanyalah isu belaka. Sehingga, orang yang menggantungkan kesehatan pada kalung dan gelang itu dianggap telah syirik, karena mencari pemecahan masalah pada hal yang tidak logis dan tidak memberi faedah – dan itu sama dengan mencari jalan keselamatan kepada selain Allah.

Hipnotisme adalah sihir, kata beliau dan syirik dan dalam prosesnya selalu menggunakan bantuan mahluk Allah lain (maksudnya jin). Kalau dikatakan tidak menggunakan mantra, sang ustadz yakin itu BOHONG. Memang sekarang tidak pakai, tetapi ketika belajar dulu pasti menggunakan rapalan mantra. Semua penjelasan adanya manipulasi mental hanya rekayasa ucapan belaka, untuk menutupi sifat sihirnya.

Saya adalah orang yang mencoba menghormati ucapan seorang guru, atau ustadz, tetapi apa yang saya dengar dari ustadz tersebut bertanya tentang metodologi dan caranya membentangkan wawasan. Yang mash pula mengganjal d pikiran saya, sudahkah sang Ustadz ber-tabayyun, melakukan cross-check dan konfirmasi dengan benar dan objektif dengan pihak-pihak yang dituduh syirik tersebut?

Islam adalah agama akal, dan Al-Qur’an adalah samudra ilmu, yang belum semuanya tuntas diteliti. Maknanya, orang Islam diminta untuk berpikir dan terus memikirkan Allah serta penciptaan  langit dan bumi seraya berdiri, duduk, maupun berbaring. Penilaian sang ustadz yang mengunci fenomena kalung kesehatan dan hipnotisme dengan kata haram dan syirik – tanpa mengindahkan alasan apapun – membuat saya tidak nyaman. Sebab dengan demikian, kita sebagai jamaah sepertinya tidak boleh berpikir lain – tidak leluasa mengembangkan akal untuk menjajagi kemungkinan lain.

Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca, dikatakan bahwa otak manusia ini ibaratnya sebuah komputer raksasa, tetapi manusia paling banter hanya menggunakan 10% saja dari kapasitas otaknya. Bayangkan 10% saja, dan orang itu pun hanya Einstein yang dianggap orang tercerdas di dunia. Kalau kita, sebagai manusia biasa, mungkin hanya menggunakan 1 – 3 persen saja. Sama dengan kita beli komputer dengan spesifikasi tercanggih, yang sangat mahal, tapi ujungnya hanya digunakan untuk mengetik dan ber-internet, padahal di tangan orang lain komputer kita itu bisa untuk mengembangkan software dan menciptakan manfaat yang lebih baik. Intinya adalah, ada rahasia tentang otak kita yang belum dieksplorasi dan belum digunakan secara optimal.

Dari sumber resmi perusahaan yang memproduksi kalung kesehatan (yang diharamkan sang ustadz tersebut), saya membaca bahwa kalung itu bukan obat dan bukan penyembuh. Benda itu semacam komposit berbagai mineral yang berkemampuan memancarkan gelombang far-infra red. Far-infra red adalah sejenis gelombang cahaya matahari yang sangat bermanfaat bagi tubuh tetapi hanya muncul di kala Subuh dan hanya sekitar 1 jam saja. Gelombang FIR ini ditemukan bisa melancarkan peredaran darah sehingga meringankan beberapa jenis penyakit. Nah, ahli-ahli di Jepang menemukan campuran mineral yang bisa memancarkan FIR tsb, sehingga manusia bisa menikmati FIR sepanjang hari. Itu saja.

Memang sih, kalau kemudian kita lantas mendewakan kalung tersebut bisa berujung kepada kesyirikan. Kalau itu yang dimaksudkan sang ustadz, saya bisa menerima – sebab memang kita tidak boleh mendewakan apapun karena semua jalan kesembuhan adalah karena izin Allah Swt.

Saya bukan fans berat Rommy Rafael, dan tidak ada alasan bagi saya untuk membelanya. Saya pikir ada beda antara hipnotis ala ahli hipnotis ini dengan gendam yang adalah bagian dari praktik sihir. Saya masih yakin bahwa ada hipnotisme yang bisa dipelajari tanpa sihir dan untuk tujuan rehabilitasi kondisi mental. Kalau kita pernah mendengar hipnoterapi, adalah terapi penyembuhan melalui prinsip hipnotisme. Dengan latihan, orang bisa melakukan sugesti-sugesti yang konstruktif.

Coba sekarang anda bayangkan sebuah JERUK.

JERUK JERUK JERUK.

Ucapkan kata jeruk berulang-ulang dalam pikiran. Bayangkan buahnya di pikiran anda. Bayangkan buahnya secara tiga dimensi. Rasakan aromanya. Bayangkan rasanya.

JERUK JERUK JERUK.

Apa yang terjadi sekarang?

Mayoritas orang yang disugesti dengan jeruk tiba-tiba merasakan air liur di dalam mulutnya. Kenapa? Padahal tidak ada jeruk, selain jeruk dalam pikiran. Inilah yang disebut dengan kekuatan sugesti.

sesi hipnoterapi

Hipnoterapi bisa dipergunakan antara lain untuk terapi penyembuhan fobia, ketergantungan rokok atau narkoba, depresi, demotivasi, dsb dan tidak bertentangan dengan ajaran agama manapun.

Kalau hipnotisme diharamkan, saya khawatir para motivator dan fasilitator ESQ juga harus dilarang, karena mereka juga menggunakan cara-cara sugesti untuk meningkatkan kualitas diri individu pesertanya.  Menurunkan kesadaran ke level terendah, memasukkan kalimat-kalimat introspeksi dan motivasi, agar nanti setelah selesai individu menjadi diri yang lebih baik.

Kembali soal fatwa dan opini, sekarang ini saya paling mengagumi Ustadz Yusuf Mansyur, yang dengan semangat dan pengalamannya membuat kita berpikir positif tentang kehidupan, bergerak maju, dan menjadi diri yang lebih baik… dengan sedekah dan belajar menghafalkan Al-Qur’an. Ustadz satu ini tidak pernah saya dengar men-judge-ment orang lain, bahkan seringkali mentertawakan kekurangannya sendiri – sesuatu yang manusiawi.

Sekali lagi Islam adalah agama akal, dan karena meminta kita memikirkan alam semesta dan penciptaannya dengan akal berarti Islam adalah agama yang menjunjung tinggi perubahan dan pergerakan sosial, budaya, sains dan teknologi, serta evolusi pemikiran manusia itu sendiri. Kalau sudah demikian, alangkah baiknya bila kita tidak terjebak dalam judgement-judgement sempit yang justru akan mengerdilkan kapasitas otak kita. Akal berlandaskan Al-Qur’an, itulah akhlak Islam yang kita inginkan.

Islam mempunyai Ibnu Sina sang ahli kedokteran, Jabir Bin Hayyan sang ahli kimia, Al Kindi yang menguasai banyak ilmu… adalah sedikit contoh pendobrak jaman justru karena melampaui ukuran judgement sempit tadi. Sekarang ini, contoh kecil multi-disiplin yang dimiliki Indonesia adalah DR Moh. Saleh yang belajar di perguruan tinggi lintas disiplin ilmu dan berhasil menemukan hikmah sholat tahajud dari sudut agama, psikologi, dan kedokteran. Menurut catatan Abu Sangkan, orang seperti inilah yang memikirkan Allah dan penciptaan alam semesta saat berdiri, dengan duduknya, dan di kala berbaring (sesuai dengan bunyi QS Ali Imran 191).

Semoga bangsa kita senantiasa dirahmati Allah, dan berkembang menjadi bangsa unggul yang disegani. Amin.

Gus Dur yang Kukenang

Posted in Biografi, Sharing with tags , on January 3, 2010 by hzulkarnain

Menjelang akhir tahun 2009, sekitar pukul 18.45 WIB, Gus Dur panggilan akrab KH Abdurrahman Wahid wafat di rumah sakit Cipto Mangunkusumo, di bawah pengawasan dan perawatan team dokter ahli yang menjadi bagian team dokter kepresidenan. Setelah dirawat sekitar 5 hari, sosok fenomenal itu harus tutup usia.

Sebenarnya, sejak beliau memaksa untuk berziarah ke makam kakek dan ayahnya di Jombang, saat berada di rumah sakit Graha Amerta Surabaya, ada pikiran yang terlintas – apakah Gus Dur merasa sesuatu sehingga ziarah kubur ini tidak bisa ditunda lagi.

Seperti diketahui bersama, Gus Dur jatuh sakit saat sedang dalam perjalanan safari ke Jombang untuk berziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim. Setelah dirawat sebentar di Jombang, beliau langsung dirujuk ke RS Graha Amerta yang merupakan fasilitas VIP RSUD Dr. Soetomo. Entah mengapa, Gus Dur mendesak untuk berangkat lagi ke Jombang, hingga kesehatan beliau kembali memburuk dan harus dirujuk ke RSCM sekembali ke Jakarta.

Indonesia berduka dalam arti yang sebenarnya, dan pengaruh meninggalnya beliau sangat terasa di kala orang sedang bersiap memeriahkan dan harus dirujuk ke RSCM sekembali ke Jakarta.

Indonesia berduka dalam arti yang sebenarnya, dan pengaruh meninggalnya beliau sangat terasa di kala orang sedang bersiap memeriahkan pergantian tahun baru 2010. Kepala negara menghimbau pengibaran bendera setengah tiang, yang dilaksanakan oleh segenap BUMN, instansi pemerintah, bahkan perkantoran swasta yang biasa mengibarkan bendera di halaman. Beberapa toko milik Tionghoa terlihat juga memasang bendera setengah tiang. Tentunya hal tersebut tak lepas dari simpati kaum Tionghoa pada almarhum yang memang telah mengembalikan makna budaya dan harga diri kaum Tionghoa yang dimarginalkan selama orde baru. Beberapa pesta tahun baru outdoor di Jakarta sedikit disesuaikan dengan rasa berkabung tersebut.

negarawan, pemikir, ulama, budayawan, jenius...

Gus Dur bukan orang biasa, dan tidak pernah menjadi orang biasa. Dari berbagai sumber, seperti yang ditayangkandi televisi maupun di tulis di surat kabar, Abdurrahman Addhakhil muda selalu berbeda dengan orang lain pada umumnya. Ketika santri lain sibuk dengan kitab-kitab agama, dia justru baca koran. Bila yang lain suka musik religius, justru musik barat seperti klasik dan rock yang digemarinya. Bahkan pemikiran non-Islam pun dilalapnya – karena memang kecerdasannya mampu menampungnya.

Konon, karena tidak puas dengan studi di Al-Azhar, Gus Dur yang berumur 27-an meneruskan studi ke Universitas Baghdad dengan beasiswa. Di perpustakaan Abdul Qadir Jailany di perguruan tinggi itulah dia mencerna berbagai model dan bentuk pemikiran Islam dan non-Islam. Semuanya membuatnya mampu berpikir lateral, yang bagi orang lain seperti meloncat-loncat tidak lumrah.

Sejak menjabat sebagai ketua umum PB NU, Gus Dur yang sebelumnya hanya dikenal oleh sebagian kalangan – kalangan pesantren NU, melalui tulisannya di media massa, dan budayawan – merambah ke jagat politik, dan mulai dikenal oleh berbagai kalangan. Konon perluasan bidang ini lebih banyak didorong oleh kerabatnya, seperti kakek dari pihak ibu KH Bisri Syamsuri. Dengan kendaraan yang disegani, Gus Dur menjadi figur yang sangat diperhitungkan. Orang tentunya masih ingat, Gus Dur lah orangnya yang menjadi motor kembalinya NU ke khittah awal saat didirikan – dan mencabut diri dari perpolitikan praktis. Pertengahan tahun 80-an, NU keluar dari PPP karena harus memposisikan diri sebagai lembaga sosial kemasyarakatan.

Di awal 90-an hingga akhir masa orde baru, nama Gus Dur sangat difavoritkan oleh sementara kalangan, karena dialah figur alternatif yang menjadi simbol Islam moderat. Sebagian orang sudah eneg dengan orde baru dan kekuasaannya yang menakutkan, tetapi untuk berpindah ke Megawati juga belum sreg – karena sebagian orang tahu bahwa banyak juga kepentingan yang bermain di sekelilingnya. Lagi pula, nama PDI tidak pernah lepas dari keberingasan massa-nya.

Di luar panggung politik, Gus Dur adalah icon demokrasi dan pelindung kaum marginal. Ketika kaum Tionghoa dianak tirikan di berbagai sendi kehidupan sosial kemasyarakatan (kecuali berdagang), Gus Dur membela mereka. Seperti saat dia membela pasangan Konghucu yang tidak boleh menikah sesuai dengan agamanya, karena agama tersebut tidak masuk dalam agama-agama yang diakui di Indonesia. Dorce yang berganti kelamin, Inul yang dikecam pedangdut lainnya, dan entah siapa lagi, merasa nyaman dengan perlindungan Gus Dur.

Orang mengatakan, kalau dalam catur Gus Dur adalah kuda – yang selalu melangkah tidak terprediksikan dengan baik. Sebagian lain menilai, Gus Dur adalah negarawan dan bapak bangsa namun tidak pernah menjadi politisi. Kata jaya Suprana, negarawan selalu memikirkan bangsa, politisi memikirkan kekuasaan. Seorang negarawan mungkin bisa bertindak sebagai politisi, tetapi politisi akan sulit menjadi negarawan – dan Gus Dur ternyata memang terlalu agung untuk melumuri diri dengan kekotoran politik.

Gus Dur – menurut saya – memang lebih cocok sebagai guru bangsa yang memberikan petuah dan pemikiran yang brilian – tidak berpolitik praktis. Tetapi Allah Swt memang mengharuskan beliau sebagai Presiden untuk sementara waktu, agar semua borok dan kepentingan yang bersembunyi di belakang kata reformasi terkuak lebar.

Saat menjadi Presiden, sejarah diukirnya dengan tegas. Gelora Senayan dinamai Gelora Bung Karno, Irian Jaya dikembalikan ke nama yang disukai oleh penduduk setempat: Papua, dan penghapusan aturan yang memberangus Tionghoa serta menjadikan Konghucu sebagai agama. Yang lebih signifikan lagi, Gus Dur telah menghapuskan dwi fungsi ABRI – yang berarti mengembalikan tentara ke barak. Polisi dilepas dari kemiliteran, agar bisa menjadi lembaga penegakan hukum sipil seperti di berbagai negara demokrasi lainnya. Semua itu tercipta dalam kurun waktu 2 tahunan masa kepemerintahannya.

Yang paling saya pelajari dari sosok Gus Dur, adalah konsistensi dan ketaatan pada sebuah azas yang diyakini. Sebagai orang Islam, Gus Dur selalu berpegang pada Qur’an dan Hadits, dan berbagai kitab ulama besar sebagai acuan. Sebagai negarawan, beliau berpegang pada konstitusi dan perundang-undangan yang berlaku. Pancasila adalah simbol dari NKRI yang harus dipertahankan. Asyiknya, Gus Dur mampu memainkan semua hal yang diyakini tersebut dengan indah, humanis, dan tidak menakutkan. Sebagai orang Islam dia moderat, sebagai negarawan semua kepentingan dicoba untuk dipahaminya, dan sebagai seorang pemimpin dia menyelami nurani orang biasa sebagai manusia yang membutuhkan bimbingan.

Seorang teman pernah berkata, yang dikaguminya dari sosok Gus Dur adalah caranya untuk menanamkan merah-putih di halaman orang Islam, dan berusaha menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin di bumi merah-putih ini.

Banyak prasangka yang berputaran di sekitar figur jenius ini, dan kecacatannya karena berbagai komplikasi penyakit membuat orang mengira dirinya sudah pikun dan tidak bisa berpikir dengan benar – ternyata semuanya keliru. Bahkan hingga September kemarin, saat diwawancara oleh Metri TV, ingatannya masih tajam. Semua kesan tentang orang yang dikenangnya tidak lekang oleh gangguan penyakit yang dideritanya. Bahkan Ibu Sinta Nuriyah menegaskan – Gus Dur adalah orang yang keras hati dan sulit diubah pendiriannya. Kalau sudah begitu, bagaimana mungkin ada orang yang bisa membisik-bisik pada beliau?

Dengan segala bintang mahaputra yang dimilikinya, dan sederet penghargaan dari manca negara, Gus Dur sudah sangat layak disebut sebagai pahlawan. Kalaupun negara tak kunjung juga memberimu gelar pahlawan Gus, yakinlah banyak di antara kami yang selalu menganggapmu pahlawan. Gitu aja kok repot ….

Gus Dur, warisanmu adalah pemikiran moderat yang humanis. Islam yang bersahabat, mengayomi minoritas, memahami perbedaan, dan kemanusiaan di atas segala tata peribadatan agama. Itu tidak akan pernah dipahami kaum Islam yang lebih mengedepankan cara daripada esensi, yang mengatakan membela Islam seolah-olah Allah bukan lah Sang Maha Kuat, Maha Pandai, dan Maha Mengasihi.

Selamat jalan Gus, semoga Allah Swt memberikanmu tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Lingkaran Bingung KPK, POLRI, Kejagung

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on December 1, 2009 by hzulkarnain

Catatan akhir November 2009

 

Gara-gara celetukan sang perwira Polri (yang sekarang sudah dilengser) … “Cicak kok mau melawan buaya …” istilah cicak dan buaya untuk menyebut KPK dan Polri menjadi jargon khas perseteruan kedua lembaga penegakan hukum tersebut.

plesetan yang "kena"...

Awalnya, sang perwira kebakaran jenggot (walaupun dia tidak berjenggot) ketika tahu KPK telah menyadap teleponnya berkenaan dengan dugaan keterkaitan dengan kasus Bank Century. Dari sana kemudian bergulir dugaan kriminalisasi petinggi KPK (saya tidak akan menyebut kriminalisasi KPK – karena sebenarnya yang dicoba untuk dikriminalkan adalah ketua-ketuanya), yang berawal dari testimoni Antasahari Azhar.

Setelah permainan bergulir, dengan melibatkan pula banyak advokat “selebritis” yang kondang dan sering muncul di layar televisi, kasus pun semakin membingungkan orang yang mengikutinya. Masing-masing pihak mengemukakan versi kebenarannya sendiri, dan menyudutkan pihak lain. Lebih ramai lagi, media massa memihak ke salah satu kubu, bundaran HI tak lelah menjadi saksi demo saling dukung, dan televisi menggelontorkan berbagai ragam berita, wawancara, dan opini tentang perseteruan “sang cicak” melawan “sang buaya”.

Karena kedua kubu berada di bawah koordinasi RI-1, rakyat meminta Presiden menengahi. Presiden kita yang selalu berhati-hati dalam setiap tindakan membuat beberapa petinggi partai tidak sabaran. Menurut mereka, sebenarnya Presiden bisa saja dengan mudah menengahi dan membuat ketetapan, karena toh keduanya di bawah sayapnya.

Apakah semudah itu?

Jawabannya YA, kalau negara ini mau bergerak dari alam republik yang demokratis ke republik yang totaliter. Jawabannya TIDAK, kalau kita masih menginginkan trias politika dijalankan dengan konsekuen: fungsi eksekutif, legislatif, dan yudikatif bermain di arenanya masing-masing.

Untunglah SBY terbiasa menangani kondisi krisis, sehingga ia menemukan cara untuk mengulur waktu sambil menenangkan massa, di saat banyak hal harus dipikiran dan diendapkan. Dibentuklah Tim 8 dari Dewan Pertimbangan Presiden yang bertugas mencari data dan fakta tentang kasus “cicak” vs “buaya” tersebut. Sederet nama besar menerima amanat Presiden untuk bekerja sebagai perpanjangan tangannya, yaitu: Adnan Buyung Nasution (ketua), Koeparmono Irsan (wakil), Denny Indrayana (sekretaris), Anies Baswedan, Todung Mulya Lubis, Amir Syamsudin, Hikmahanto Juwana, dan Komaruddin Hidayat.

Pasti ada alasan yang signifikan sehingga Presiden melibatkan beberapa elemen di dalam tim 8 tersebut, bukan hanya para praktisi hukum, seperti teknokrat, politisi, dan mantan polisi. Dalam forum perbincangan dengan The Jakarta Lawyers Club yang diselenggarakan oleh TV-One, seorang lawyer rupanya tidak puas dengan pelibatan unsur non-praktisi hukum. Jauh sebelumnya, saat baru pertama dibentuk, banyak sekali skeptisme terhadap tim ini. Bahkan sebelum tim ini bekerja, dan belum jelas cara kerjanya. Begitu seseorang bersuara di layar kaca, budaya latah muncul lagi … semua orang merasa benar dan berani mengomentari kinerja tim 8 ini.

Setelah tim 8 bekerja, respek pun datang, dan banyak pihak yang berharap temuan dan rekomendasinya akan dilaksanakan oleh Presiden. Saya sudah menduga, Presiden tidak akan mempergunakan semua rekomendasi tim 8, karena beberapa indikasi sudah terlontar. Misalnya, wacana bahwa rekomendasi bukan keharusan untuk dilaksanakan, Presiden akan mengoleh rekomendasi tersebut, dsb. Apalagi, dalam rekomendasi tersebut, sadar atau tidak, telah meminta Presiden selaku eksekutif menyeberang ke ranah lain (yudikatif) – yang selama ini berusaha dihindarinya.

Justru bunyi pidato SBY yang cenderung netral sudah saya duga sebelumnya. Selama ini SBY dikenal moderat dan tidak suka pada pemikiran ekstrim, sehingga wajar bila Presiden tidak memihak pada salah satu lembaga, dan mencoba adil pada semua lembaga di bawahnya: Kepolisan, KPK, dan Kejaksaan Agung. Presiden dengan tegas tidak akan mencampuri proses hukum yang berlaku. Di sisi lain, sekalipun Presiden hanya menghimbau agar proses kedua Ketua KPK (Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah) tidak sampai ke pengadilan, tetap saja ujungnya adalah intervensi.

Seorang pengamat politik dalam sebuah perbincangan dengan Metro TV mengatakan, sekalipun Presiden mengatakan dengan eksplisit tidak akan intervensi, bagaimana mungkin himbauannya pada akhirnya tidak mempengaruhi keputusan Kapolri dan Jaksa Agung? Faktanya, Polri dan Kejagung yang sebelumnya yakin kasus Bibit-Chandra layak maju ke pengadilan, akhirnya membuat keputusan sebagaimana yang diamanatkan oleh Presiden – membebaskan Bibit-Chandra.

Bukan hanya itu, kembali sebagaimana amanat Presiden, Polri langsung melakukan mutasi perwira. Kejaksaan Agung lebih lambat dalam melakukan aksi, dan kiprah KPK belum diketahui. Menkominfo yang baru – Tifatul Sembiring – menegaskan akan membuat aturan untuk penertiban sadap menyadap yang selama ini membuat KPK seperti sebuah super body.

Episode Bibit-Chandra telah memasuki tahap akhir, dan lepas dari puas atau tidaknya semua pihak dengan intervensi Presiden, semoga lembaga-lembaga penegakan hukum segera bisa kembali berkolaborasi dan bersama-sama kembali mengikis korupsi di muka bumi Indonesia. Episode Antasahari belum juga kelar, sekalipun menurut saya kasusnya jadi semakin aneh. Banyak yang dipaksa-paksakan sebagaimana kasus Bibit-Chandra.

Rakyat Indonesia sudah menunggu, bagaimana kelanjutan kasus-kasus panas yang sekarang sedang bergulir – terutama kasus Bank Century yang diduga melibatkan banyak pejabat. Perlahan-lahan gunung es korupsi mulai menampakkan bagian yang selama ini tersembunyi. Kita harus akui bahwa negeri ini masih pekat dengan korupsi, namun saya yakin kebenaran akan menampakkan diri, dan dengan perlindungan dari Tuhan semua keburukan akan terkalahkan.

Harga Sebuah Kehidupan dan Sebuah Kematian

Posted in Kisah, Kontemplasi, Tausiyah with tags , on November 17, 2009 by hzulkarnain

Di antara perbincangan tentang kasus POLRI vs KPK, menyeruak sebuah berita kecil tentang kematian seorang perempuan di kamar apartemennya. Perempuan yang konon berprofesi sebagai model tersebut ditemukan tewas dalam keadaan hampir telanjang di kamar mandi, dengan luka fatal di bagian belakang kepala. Pada saat ditemukan, jenazah tersebut sudah mulai mengalami pembengkakan karena sudah tewas lebih dari dua hari.

Berita lanjutan yang saya temukan adalah fakta bahwa: Perempuan yang bernama Setianti Dwi Retno tersebut juga berstatus mahasiswi STAN Purnawarman, berusia 24 tahun. Tempat tinggalnya yang berada di apartemen Mediterania Garden (bernilai kontrak sekitar 39 juta pertahun) berbeda dengan tempat tinggal orang tuanya di Jagakarsa (yang untuk sampai ke sana harus melewati jalan tanah merah).

Polisi sedang mengusut kasus ini, karena banyak informasi yang harus dipastikan karena tidak sembarangan orang bisa masuk ke apartemen berlantai 25 dengan penjagaan satu pintu di lobby. Salah satunya adalah kemungkinan keterlibatan orang dalam, atau yang sudah dikenal korban, sehingga pelaku bisa melenggang melewati security. Hilangnya barang dan uang dari dalam apartemen bisa jadi hanya kamuflase, untuk menutupi sebuah skenario yang lebih dalam.

tanpa iman... bagai topeng hampa

tanpa iman...bagai topeng hampa

Yang menarik perhatian saya justru sosok almarhumah sendiri, yang menurut penilaian saya cukup kontroversial. Sekalipun profesinya adalah model, dia bukan bintang apalagi supermodel. Selain masih kuliah – yang mengindikasikan bahwa profesinya belum full time – ia juga masih punya orang tua yang ditanggungnya (sesuai bunyi berita). Namun demikian, ia bisa mengontrak sebuah apartemen dengan harga yang tidak murah – dan tinggal hanya dengan pembantunya.

Siapapun yang bisa berpikir akan mudah berprasangka pada sosok Tia ini, karena banyak kejanggalan dan ketidak wajaran. Sekian puluh juta untuk sewa apartemen, bukan hal yag wajar, apalagi apartemen tersebut dikenal karena ketatnya akses masuk. Bahkan orang tuanya pun tidak tahu jelas pekerjaan anaknya sehingga bisa membiayai kehidupan mewah seperti itu. Kematiannya yang tidak wajar seperti itu juga menjadi indikasi bahwa ada hubungannya dengan gaya hidupnya yang glamor.

Kita masih ingat penyanyi cantik Alda Risma yang juga meninggal dengan kontroversi dan ketidak wajaran. Penggemarnya tentu masih ingat betapa cantiknya dia ketika masih hidup, namun betapa mengenaskan kondisinya ketika meninggal. Apa yang sebenarnya terjadi pada almarhumah semasa hidupnya hingga harus menemui kematian seperti itu, tidak banyak orang yang tahu.

Dari berbagai data yang ada, kedua contoh di atas bukanlah perempuan bodoh yang mudah dipermainkan. Sebaliknya malah. Tia pernah berprestasi di sekolahnya hingga ke level nasional (menurut sang Ibunda), sementara Alda punya talenta yang bagus termasuk caranya berpikir. Yang menjadi persoalan adalah, bagaimana mungkin mereka lantas terjebak ke dalam sebuah siklus yang menyebabkan mereka mati dalam keadaan yang tidak baik?

Cantik, kaya, hidup mudah dan glamor, mungkin hal itu menjadi tujuan banyak perempuan. Untuk itu, mereka bisa mengorbankan apa saja, termasuk idealisme hidup (itupun kalau mereka sebelumnya punya). Idealisme yang paling jelas adalah akidah keimanan. Kesenangan hidup yang boleh jadi menjadi pengikis utama keimanan justru menjadi cita-cita. Dorongan itu semakin kuat dengan munculnya acara televisi yang mengetengahkan kehidupan megah selebritis, dunia hiburan yang menjanjikan uang cepat dengan hanya berbekal kecantikan, dan tema-tema sinetron yang memuja kemewahan.

Di jalur kehidupan duniawi, segala hal diukur dari kuantitas, dan pandangan orang lain merupakan tolok ukur. Oleh karenanya, ketika harta atau popularitas mereka akhirnya menjadi patokan berperilaku, termasuk standar gaya hidup. Seperti meminum air laut, semakin direguk semakin haus jadinya. Orang akan mengupayakan berbagai hal untuk menjaga keberadaannya di dunia penuh kemewahan tersebut. Bahkan kalau bisa tumpukan harta itu semakin tinggi, agar memuaskannya. Semakin tinggi tumpukan harta itu, kepuasan justru semakin menjauh.

Benarlah peringatan Allah yang tertuang dalam Surat At-Takatsuur:

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu ,

sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui ,

dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.

Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,

niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,

dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin .

kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan .

Bermegah-megahan, yakni beradu kemegahan, dengan mencoba menambah lagi tumpukan harta, akan membuat manusia lalai. Tidak akan sadar manusia terhadap hal itu hingga kematian tiba. Allah telah mengingatkan kita untuk “jangan begitu”!

Manusia diingatkan bahwa akan tiba pengetahuan akan kehidupan setelah kematian tersebut, dengan ancaman pada neraka jahim. Di akhirat manusia akan ditanyai tentang kenikmatan yang didapatkan dengan hasrat bermegah-megahan tersebut.

Kehidupan di dunia ini tidak lah langgeng. Rasulullah wafat pada umur 60-an. Ada yang bertahan hingga lebih dari 80-an. Namun, semakin banyak pula anak-anak muda belasan atau awal dua puluhan yang juga mati dengan cara apapun. Umur manusia memang menjadi rahasia di langit, dan tak seorang pun (bahkan malaikat dan jin) pasti mengenai hal tersebut. Kematian adalah kepastian, namun kita dilarang untuk mencarinya, apalagi menyongsongnya dengan sengaja.

Kematian manusia – dan saat-saat terakhir menjelang keluarnya ruh – seringkali menunjukkan amalan mereka selama hidup di alam fana ini. Tidak ada kematian yang indah, namun ada kematian yang tidak menakutkan. Itulah sebabnya, kematian yang khusnul khotimah (yang baik pada akhirnya) adalah harapan kaum muslimin. Kematian dengan senyuman di bibir, dan tidak menimbulkan bekas sakit, aroma yang wajar, dan tidak menyulitkan siapapun yang menyelenggarakan jenazah maupun orang yang ditinggalkan, adalah sedikit di antara tanda-tandanya.

Sebaliknya, kematian yang mengenaskan, mungkin aurat yang terbuka atau wajah yang sudah berubah mengerikan saat ditemukan, apalagi bila kemudian gambarnya dimuat di media massa, adalah sedikit dari tanda kematian yang tidak baik (shu’ul khotimah).

Seringkali saya mengelus dada ketika melihat orang yang cantik atau tampan semasa hidupnya, meninggal dengan kondisi yang tidak wajar. Menjadi bahan cerita media massa, jenazah yang mengenaskan, dan ketika sudah tidak bernyawa hilanglah semua kemegahan dirinya yang dibanggakannya selama ini. Berbeda dengan orang yang meninggal karena sakit, dan semasa hidupnya penuh dengan amalan yang baik.

Ketika di televisi menyaksikan ulah seorang penyanyi cantik yang ditalak suaminya karena selingkuh berkali-kali, saya berpikir … sebenarnya apa yang dicarinya di dunia ini? Ketenaran dan julukan diva sudah didapatkan, suami yang soleh yang mendukung kariernya, anak-anak manis yang lengkap, harta dunia yang lebih dari cukup … semuanya tercampakkan karena alasan yang tidak habis saya pahami. Sebenarnya, tidak sadarkah dia bahwa kecantikan ini hanyalah pembungkus, dan harta tak akan dibawa mati?

…kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan .

Yakinlah bahwa semua kemewahan dunia ini akan berakhir. Ketika itu terjadi, kita manusia ini tinggal seonggok jasad yang membeku, tidur sendiri di dalam tanah, makan dan perlahan-lahan membusuk untuk akhirnya menjadi satu dengan zat yang membentuk kita… tanah. Begitu orang terakhir meninggalkan tanah pekuburan, saat itulah proses interogasi oleh malaikat kubur dimulai. Semua kenikmatan dunia dan kemegahan yang kita miliki haru skita pertanggung jawabkan.

Harga hidup kita di dunia ini hanyalah sebatas umur kita, namun dampaknya akan kitab hingga hari pembalasan bahkan setelahnya. Sungguh naif bila manusia mengorbankan segala akidah hanya untuk mencari dunia. Islam mengajarkan: bila manusia mencari dunia, dia akan memperoleh dunia. Bila manusia mencari akhirat, dia akan memperoleh dunia dan akhirat.

TIDAK MAU MENGALAH

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on November 3, 2009 by hzulkarnain

Seorang anak lelaki disuruh ayahnya pergi ke kota untuk membeli tepung roti. Anak lelaki itu segera berangkat berjalan kaki. Jarak antara desa tempat tinggalnya dan kota cukup jauh juga. Di perjalanan ia harus melewati sebuah jembatan kecil.

Kini ia tiba di ujung jembatan kecil itu. Di seberang jalan ia melihat seorang anak lelaki lain yang berjalan ke arahnya. Mereka berdua sama-sama berjalan di jalur yang sama. Hingga tepat di tengah-tengah jembatan itu mereka saling berhadap-hadapan. Keduanya berhenti dan berpandangan. Anak lelaki itu berpikir, “Wah, kurang ajar sekali anak ini. Dia tidak mau mengalah dan memberikan jalan padaku.”

Di saat yang sama, anak lelaki lain itu berpikiran hal yang sama, “Seharusnya dia yang mengalah dan memberikan jalan padaku.”

Lama keduanya saling berdiri di tengah jembatan tanpa ada satu pun yang mau mengalah dan memberikan jalan. Keduanya sama-sama berpikir bahwa “Aku harus berteguh hati dan kuat pendirian.” Keduanya saling berpandangan tanpa ada satupun yang berbicara atau bergerak.

Siang pun tiba. Di rumah, ayah dari anak lelaki yang hendak pergi ke kota itu mulai cemas memikirkan mengapa anaknya belum juga kembali. Sang ayah lalu bergegas menyusul anaknya ke kota. Hingga akhirnya ia sampai di jembatan dan melihat ke dua anak lelaki itu saling berdiam dan berhadap-hadapan.

Sang ayah berteriak pada anak lelakinya, “Wahai anakku, mengapa engkau berdiri di situ?”

Anak lelakinya menjawab, “Anak lelaki ini menghalangi jalanku. Ia sama sekali tidak mau mengalah. Bagaimana aku bisa berjalan jika ia menutup jalanku?”

Sang ayah mulai kesal. Ia lalu berkata pada anaknya, “Sudahlah anakku, sebaiknya kau minggir dan segera pergi ke kota untuk membeli tepung. Biar ayahmu ini yang berdiri di sini menggantikanmu dan tidak memberikan jalan pada anak lelaki yang tidak tahu diri ini!”

(Kisah di atas saya temukan dari kiriman email sebuah milis yang saya ikuti, dan disebutkan asalnya adalah sebuah Chinese Wisdom)

Sekilas, kisah di atas seperti sebuah kelakar, namun bila kita amati lebih jauh betapa banyak kemiripan dengan pengalaman yang kita alami sehari-hari.

Secara harafiah, kita sering terbentur pada kondisi tanpa pilihan kecuali berhenti atau bahkan harus mundur, khususnya bila berkendara dengan roda 4 memasuki sebuah jalan kecil. Betapa sering kita harus memiringkan tubuh saat berpapasan dengan orang-orang di pasar atau di tempat umum karena lebar jalan yang tidak memungkinkan.

Akan akankah orang akan bertoleransi seperti memundurkan atau menepikan mobil, atau memiringkan badan, bila merasa kuat dan yakin akan menang? Belum tentu.

Kalau kita sempat memperhatikan bus atau truk di jalan raya, bagaimana sopirnya biasa berperilaku? Sudah bukan rahasia lagi bahwa, bus atau truk terbiasa “memakan” jalur berlawanan karena yakin sekali mobil lain yang lebih kecil akan menepi. Seorang preman yang berbadan besar tidak akan menepi bila berpapasan dengan orang lain, karena ia meyakini lebih berkuasa dan tidak perlu mengalah, bahkan orang lain lah yang harus mengalah.

Mengalah bukan berarti kalah, dan kalah bukan berarti mengalah. Orang yang mengalah memiliki tujuan, sementara orang yang kalah adalah akibat fatal dari sebuah benturan yang tidak dimenangkan. Persamaannya, keduanya belum tentu gagal.

Mengalah bukan sifat alami manusia, karena ia tumbuh dari sebuah konsep yang bernama toleransi. Karena memiliki dan mengembangkan akal budi, manusia bisa mengalah sekalipun lebih kuat dan bisa menang. Binatang mengalah bukan karena toleransi tetapi karena yakin tidak akan menang bila melawan. Kalau badannya sama kuat mungkin binatang itu akan melawan. Negara demokrasi terbangun karena unsur toleransi dan mengalah untuk mencapai tujuan politik para pelakunya. Di kalangan politisi, mengalah untuk menang sudah menjadi bagian dari napas kehidupan sehari-hari.

Kita pernah mendengar konsep win-win solution, yang lebih kurang bermakna penyelesaian menang-menang. Apakah berarti sama-sama menang? Kenyataannya tidak demikian. Orang bisa menganggap dirinya menang bila mencapai tujuan, sekalipun tidak bisa mendominasi. Karena saling merelakan sebagian dari dominasi tersebut, kemudian orang bisa memperoleh hal yang diinginkannya. Jadi, di sebuah sisi kemenangan dalam win-win solution adalah aspek kalah atau mengalah.

Karena bukan sifat manusiawi, mengalah butuh latihan. Anak kecil yang sedang bermain bersama teman-temannya, pada awalnya tidak mengenal istilah mengalah. Kemauannya adalah dominan dan mendominasi. Mainannya tidak boleh dipinjam temannya tapi kalau pinjam harus diberi. Anak yang berusia lebih tua (sekalipun hanya beberapa bulan) dengan mudah akan mendominasi teman yang lebih muda. Di titik awal sosialisasi dengan teman-temannya inilah seharusnya anak dilatih untuk bertoleransi dan mengalah.

Tidak mengalah adalah membatu, seperti tembok. Karena tidak fleksibel, cara untuk melaluinya adalah dengan merobohkan atau melobanginya. Orang dengan pribadi yang seperti itu hanya mengundang orang untuk memusuhi, atau membuat orang berbalik karena tidak suka berhubungan.

Apakah dengan demikian banyak mengalah adalah hal yang utama? Tidak juga. Bagaimana pun, orang  menyukai karakter yang teguh hati. Keteguhan hati juga hal yang layak dipelajari dan diperjuangkan, karena hanya orang dengan keteguhan hatilah yang akan mampu mencapai tujuan. Kadangkala orang sukar membedakan sifat teguh hati dan keras kepala, karena di dalamnya sama-sama memuat unsur keinginan untuk unggul, tidak kalah, dan bertahan. Mungkin bedanya adalah dalam hal menyikapi tujuan yang sesungguhnya.

Bagi orang yang teguh hati, tujuan adalah fokus yang harus diraih – dengan cara terbaik yang bisa dipikirkannya. Kalau pun harus mengalahkan orang lain, mengesampingkan toleransi, dan tidak mau mengalah, itu semata-mata karena memang harus demikian bila ingin berhasil.

Bagi orang yang keras kepala, cara menjadi fokus di atas tujuan. Dominan, unggul, tidak kalah, adalah tujuan. Untuk apa? Tidak jelas. Karena tidak tahu alasan melakukannya, jelas orang tersebut akan mudah kehilangan arah, bahkan tidak akan pernah tahu bagaimana dia akan menyusahkan orang lain.

Betapa banyak orang yang telah kehilangan arah, tidak paham dengan tujuan hidupnya, tetapi bersikap dan berperilaku orang yang punya tujuan. Salah satu indikasinya adalah maraknya artis karbitan, politisi belum matang, jurnalis asal jadi, semuanya dikarenakan peluang dan kesempatan menjadi “orang” terbuka.

Di layar kaca, digambarkan betapa glamornya kehidupan seorang pesinetron atau penyanyi yang sudah jadi. Tetapi, orang tidak tahu betapa melelahkannya dan terkungkungnya kehidupan pribadi mereka, hanya agar memuaskan khalayak penggemar. Kejar tayang, shooting hingga dini hari, skedul roadshow, dsb. Mereka yang tidak pernah membayangkan sulitnya kehidupan seorang artis, mungkin akan mengalami depresi dan memudar dengan cepat bila tak sanggup menahan tekanan seperti itu.

Satu dasawarsa ini adalah era kebangkitan kaum politisi. Bahkan dalam pemilu legislatif yang terakhir, begitu banyak kaum muda yang ingin masuk ke gedung dewan sekalipun rentang mereka masuk ke kancah politik mungkin baru seumur jagung. Kalau kita tengok beberapa surat kabar yang mengetengahkan berita tentang anggota dewan yang harus berurusan dengan polisi, bahkan sudah masuk penjara, sebenarnya kita harus maklum bahwa godaan uang yang tidak halal menjadi bagian dari keseharian anggota dewan. Hanya mereka yang cukup matang lah yang mampu menahan godaan sesaat ilusi kenikmatan uang.

Intinya, tanpa tujuan, hidup yang kita jalani hanyalah keindahan kembangan saja. Seorang perempuan yang ingin bekerja, hanya karena sayang dengan ijazah S-1 nya, seharusnya berpikir ulang. Impian menjadi pegawai negeri adalah ilusi, karena di sana akan ada harapan pensiun sementara pekerjaan hariannya tidak memeras keringat. Padahal, ulama yang menyitir hadits menjelaskan bahwa, dari 10 jalan rizki 9 di antaranya adalah perniagaan. Bila Rasulullah sudah menyatakan demikian, itulah yang seharusnya menjadi buah pikiran kita.

Bukan pegawai kantoran yang mudah menunaikan rukun Islam ke-5 yakni berhaji, melainkan mereka yang kehidupannya justru dalam perniagaan. Seorang pegawai tidak akan kaya, kecuali dia mau bekerja sampingan dengan berniaga.

Semoga kita senantiasa menjadi hamba Tuhan yang berpikir dengan hati dan menimbang dengan nurani. Dengan demikian, kita tidak sekedar ikut-ikutan melainkan dengan mantap mengikuti tujuan yang kita tetapkan sendiri.