Archive for July, 2010

Pastor Impor

Posted in Kisah, Kontemplasi, Tausiyah with tags , , , , on July 27, 2010 by hzulkarnain

Pastor bule di Indonesia, Korea, Vietnam, atau India, atau di belahan dunia lain yang tidak besar dalam budaya Katholik mungkin biasa. Tetapi bagi pikiran kita, sungguh aneh bila pastor ber-ras non kaukasia memimpin paroki di negara yang besar dengan budaya Katholik. Tetapi, itu memang terjadi.

Pastor Ruhatijuli di Dijon

Liputan majalah TIME edisi 19 Juli 2010 mengetengahkan kondisi yang runyam di Prancis. Di kota Dijon, pastor gereja Saint Jean Bosco adalah orang Afrika asal Rwanda bernama Etienne Ruhatijuli, dan sudah hampir 4 tahun ia berada di sana. Prancis berpenduduk mayoritas Katholik, dan di negara ini para pastornya tidak termasuk yang belakangan ini heboh terkena skandal pelecehan seksual. Posisi pastor masih sangat dihormati di sini, namun pada kenyataannya tahun lalu hanya 90 orang saja orang Prancis yang dikukuhkan sebagai pendeta. Ini sudah jauh menurun dibandingkan dengan jumlah pada dekade sebelumnya yang sekitar 112 orang.

Seorang pastor lain asal Republik Kongo, Joseph Kuka, mengatakan bahwa, ia sekarang menjadi pastor di 19 paroki – yang berada di sekitar desa Brazeyen-Plane dekat kota Dijon. Saking banyaknya gereja yang dibawahinya, ia baru bisa kembali ke gereja yang sama tiap 2 atau 3 bulan sekali.

Di Prancis, pastor imigran mencapai 1,316 orang dan 650 orang di antaranya berasal dari Afrika. Bila seabad silam Prancis memberangkatkan misionaris ke berbagai negara Afrika, sekarang ini arahnya berkebalikan – terjadi migrasi yang konstan para pendeta kulit hitam ke Prancis. Mayoritas pendeta dari Afrika ini berasal dari negara-negara miskin seperti Togo, Madagascar, Burkina Faso, Rwanda, dsb yang jumlah pastor-nya telah lebih dari cukup atau gereja memang tidak mampu membayar mereka. Negara-negara lain yang menyumbang banyak pastor imigran ke Prancis adalah Asia: Korea, Vietnam, dan India.

Kondisi yang lebih menyedihkan adalah daerah pedesaan di Prancis. Karena banyak keluarga yang pindah ke kota besar seperti Paris, akibatnya populasi kota kecil menurun. Gereja-gereja gotik nan indah yang berada di sana kebanyakan berakhir menjadi objek wisata, karena sulitnya mencari pastor, dan sedemikian sedikitnya orang yang hadir di gereja. Kalau pun ada, kebanyakan adalah kaum tua. Dari sekitar 42 juta-an kaum Katholik di Prancis, mungkin hanya 2 jutaan yang reguler ke gereja.

Bukan musim dingin yang buruk di Prancis yang membuat Ruhatijuli kangen tanah air, tetapi kegairahan di gereja. Di Rwanda gereja selalu penuh dan bersemangat, sementara di Dijon dan kota-kota lain di Prancis hanya segelintir orang yang datang menghadiri misa. Itupun kebanyakan orang yang sudah beruban.

Kalangan gereja Prancis tak kurang-kurang membuat sosialisasi kebutuhan akan pastor muda, namun sambutan kaum muda Prancis tidak hangat. Seorang eksekutif periklanan yang bertugas membuat sosialisasi ini menyatakan:”Orang berpikir bahwa para pendeta itu berada di luar kehidupan masyarakat. Tantangan terbesarku adalah menyampaikan bahwa gereja itu modern dan untuk siapa saja.” Bahkan kalaupun promosi ini berhasil, butuh waktu sekurangnya 7 tahun untuk bisa menjadi seorang pastor penuh. Artinya, Prancis akan mengalami kritis kekurangan pendeta di tahun-tahun mendatang.

Ruhatijuli dari Dijon punya versi yang berbeda, menyikapi lemahnya animo kaum muda Prancis untuk menjadi pendeta. Menurut Pastor Ruhatijuli, persoalan selibat (ketentuan tidak menikah) sangat membebani perekrutan kaum muda ini.”Kaum muda menginginkan kemerdekaan, kebebasan penuh. Mereka tidak mau tahu hal-hal yang dilarang.”

Sinyalemen Pastor Ruhatijuli ini bersifat universal, bukan semata domain orang Katholik. Orang muda memang seperti itu, suka menurutkan hawa nafsu dan tidak berpikir panjang dalam membuat keputusan. Tidak mengherankan bila kondisi lemahnya keimanan orang muda justru terjadi di wilayah yang dianggap maju. Pragmatisme, apriori, hingga ketidak yakinan pada dogma mewarnai sikap kaum muda yang menganggap dirinya modern.

Rasulullah pernah bersabda, bahwa pada suatu masa jumlah kaumnya akan banyak sekali, tetapi tidak lebih seperti busa ombak di laut. Mudah pecah, mudah hilang, dan tidak membekas. Bila sudah seperti itu, jangan heran bila kondisi di Prancis akan juga terjadi di belahan bumi yang mayoritas beragama Islam seperti Indonesia.

Tulang punggung kebangkitan agama adalah para pemudanya. Pemuda yang sehat jasmani dan rohani akan membuat agama menjadi kokoh. Rasulullah SAW menekankan pentingnya pengolahan fisik di samping bimbingan mental bagi kaum muda. Bila pemuda sudah tidak tertarik mendalami agama, hanya bergelut pada masalah-masalah dunia, maka agama yang memayungi bangsa itu ibarat atap tanpa sokoguru yang kokoh. Cepat atau lambat akan tumbang sekalipun tidak ada badai.

Untuk mendeteksi kekuatan sokoguru tersebut, cara paling mudah adalah menghitung anak muda yang sholat subuh secara reguler di masjid. Semakin banyak anak muda yang berjamaah subuh, kekuatan Islam di negara itu semakin mengagumkan. Bila yang selalu berjamaah subuh hanya orang-orang tua, bisa diprediksi betapa rapuh sokoguru itu.

Konon, pasukan militan semacam HAMAS di wilayah Palestina selalu dipilih dari anak-anak muda yang reguler berjamaan subuh di masjid. Para pencari bakat ini disebar ke berbagai masjid untuk memantau kehadiran anak-anak muda yang cinta pada Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya pada diri sendiri. Tak mengherankan, bila kemudian HAMAS menjadi kekuatan politik dan perlawanan yang menakutkan bagi Israel dan Amerika Serikat. Jihad menjadi bagian dari penghayatan pada agama dan kemaslahatan bangsa, sehingga mati di ujung peluru musuh bukan hal yang besar bagi mereka – karena mereka meyakini sekali life after death yang dijanjikan Allah.

pendidikan dan pembinaan sejak dini

Memupuk semangat ke-Islaman di kalangan muda tidak pernah menjadi issue yang mudah.   Pola pendidikan sekuler, konsumsi acara teve yang kronis, kegiatan antar pemuda yang tidak jelas, saling mendukung pelemahan generasi muda Islam. Contoh paling konkret adalah, betapa susahnya membangunkan anak, adik, atau bahkan mungkin diri kita untuk menjalankan sholat subuh. Kalaupun bisa bangun, betapa susahnya melangkah kaki ke masjid – sementara cuaca masih basah dan dingin. Kalau pun bisa berjamaah, betapa sulitnya duduk sebentar di majelis taklim ba’da Subuh.

Sebaliknya, bila keliru menerapkan bimbingan, yang terjadi justru militansi. Mereka bisa menjadi armada fanatik yang sangar dan tidak mencerminkan nilai Islam yang santun dan rahmatan lil alamin. Alih-alih berjihad dengan benar, mereka justru menjadi alat empuk teroris yang mengatas namakan Islam, menjadi bom bunuh diri tanpa alasan jelas.

Kita masih di persimpangan. Akan tetapi, bila kita meyakini arah perjuangan penegakan agama ini di bumi Pancasila, insyaallah kita tidak akan tersesat. Apalagi, Rasulullah dengan tegas mewasiatkan dua hal yakni Qur’an dan hadist sebagai pegangan, dan itulah yang harus kita pakai untuk mendidik generasi muda Islam.

Semoga Allah memberikan pencerahan bagi kita semua. Amin.

Advertisements

Menjaga Kehormatan

Posted in Kontemplasi, Sharing, Tausiyah with tags , , , on July 17, 2010 by hzulkarnain

Mengaku sambil menangis. Menyesal dan meratapi kebodohan. Meminta maaf lalu mengharapkan belas kasihan. Itulah semua yang terjadi di depan sidang pengadilan, saat terdakwa tidak bisa lagi mengelak pada tuduhan. Majelis hakim, jaksa, dan penasihat hukum tentu sudah hapal dengan semua lakon ini.

dimulai dari yang kecil

Itu pula yang terjadi beberapa hari lalu, saat Cut Tari mengakui perilakunya yang sangat tidak pada tempatnya. Baik sebagai perempuan apalagi sebagai istri. Uniknya, kejadian ini belum sampai di depan pengadilan, tetapi di depan media massa – dalam sebuah konperensi pers. Apakah mungkin pengadilan massa lebih menakutkan daripada ruang pengadilan?al ahzab,

Lepas dari dramatisnya persoalan itu penyesalan selalu datang belakangan. Kalau saja waktu ini bisa dibalik, mungkin mereka akan rela kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan yang terjadi saat itu. Sayangnya, sudah menjadi ketentuan alam bahwa waktu selalu berjalan searah, seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya (tidak bisa kembali), dan ibarat air sungai – air yang kita pegang tidak pernah air yang sama.

Rasulullah pernah bersabda, orang yang menjaga di antara 2 janggutnya dan 2 kakinya akan beroleh keselamatan. Yang berada di antara dua janggut adalah mulut, sedangkan di antara kedua kaki adalah kemaluan. Kedua tempat ini memang mudah sekali masuk dalam godaan setan dan terjebak dalam kekhilafan yang menyengsarakan.

Persoalan menjaga kemaluan merupakan issue yang sudah berlangsung mungkin sejak manusia mengenal budaya. Munculnya lembaga perkawinan oleh agama manapun adalah salah satu pagar untuk mengontrol kesusilaan perilaku manusia, dan agama menghendaki manusia berada di dalam koridor yang diijinkannya. Sayangnya, justru manusia yang mengaku orang modern lah yang kerap melecehkan norma agama yang satu ini – apapun agamanya. Lebih aneh lagi, di Indonesia ini video amatir porno bertebaran mengabadikan perilaku dursila mereka – entah untuk tujuan apa. Bila berzinah saja sudah merupakan kekejian yang luar biasa, apa yang bisa dikatakan tentang publikasi perzinahan itu? Demi mendengar sang istri berzinah saja sudah sedemikian membuat malu di hadapan sang Khalik, bagaimana kita bisa bayangkan perasaan suami yang melihat video istrinya di ranjang dengan lelaki lain?

komunikasi keluarga, kunci menanamkan iman anak

Pengakuan seorang Cut Tari, menurut saya adalah pukulan telak bagi keluarganya. Kalau Ariel dan Luna Maya, karena keduanya berstatus tidak dalam ikatan pernikahan dengan siapapun – kondisinya mungkin berbeda. Saya tidak bisa membayangkan hancurnya perasaan seorang Ibu, yang dengan kebanggan menyandang gelar kehormatan tradisi, dari keluarga muslim serta dari daerah yang dikenal kuat asas ke-Islamannya, harus menerima kenyataan bahwa anak yang dicintainya mengakui telah berbuaht zinah dengan laki-laki yang bukan menantunya. Bukan cuma itu, di-video-kan pula dan terpublikasi dengan luas.

Kalau seorang pelacur, yang melacur untuk sesuap nasi karena hampir tidak puya pilihan lain, namun masih berusaha menyekolahkan anaknya agar menjadi perempuan sejati, kiranya masih menyisakan kehormatan bagi dirinya. Setidaknya sang anak tahu, ia bersekolah dari uang haram namun untuk mendapatkan masa depan yang halal. Sebaliknya. apa yang dikatakan sang anak, bila tahu Ibunya berzinah just for fun? Dilihat orang sedunia lagi (karena bebas berkeliaran di internet). Allah mungkin tetap mengampuni manusia yang bertobat, tetapi bagaimana manapun manusia lain tidak akan lupa. Menjaga kehormatan saja sudah sulit, apa lagi mengais sisa kehormatan yang dicampakkan begitu saja.

Sudah menjadi bagian dari janji Iblis untuk mencoba merayu manusia agar kelak ikut dirinya di neraka jahanam, lupa pada semua aturan agama, dan menurutkan hawa nafsu. Jangankan orang yang selalu lalai, sementara orang yang khusyuk pun terus digoda untuk masuk dalam tindakan yang tidak bisa dibenarkan.

Min syarril waswasil khannas. Alladzi yuwaswisu fii shudurinnas. Minal jinnati wannas. Surat An-Nas … syaitan bersembunyi untuk membisikkan kejahatan di dada manusia. Syaitan yang berasal dari bangsa jin dan manusia.

Jelas lah peringatan Allah bahwa – tidak seperti uji nyali yang membesarkan rasa takut pada mahluk gaib di rumah kosong misalnya – justru kita seharusnya lebih waspada pada bisikan syaitan dari bangsa manusia. Apalagi bila bujukan menyesatkan itu dari seorang perempuan cantik atau lelaki tampan, artis lagi. Orang yang takut pada jin, bisa jadi justru ingat Allah. Akan tetapi, orang yang terhanyut masuk jebakan syaitan, lebih cenderung lupa pada Allah.

Bagi laki-laki dan perempuan yang senantiasa menjaga kehormatannya, janji Allah dalam surat Al-Ahzab 35: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min , laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut  Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Saya terkesan dengan pandangan hidup Samurai Jepang, Musashi, yang mencari jati dirinya dalam pengembaraan yang lama dan bersimbah peluh dan darah. Dia mengatakan yang intinya: Saya tidak pernah menyesali apa yang saya lakukan. Karena saya sudah memikirkan dengan dalam apa yang akan saya lakukan. Bukan soal tidak menyesali apa yang telah dilakukan, tetapi berpikir tentang apa yang akan dilakukan, agar tidak menyesal di kemudian hari. Bila telah dipikirkan, dan keputusan telah diambil, lalu kalau semua sudah terjadi, perlu apa disesali? Penyesalan hanya untuk orang yang bertindak tanpa berpikir.


Pintu tobat Allah memang selalu terbuka, selama nafas belum sampai di tengorokan. Tetapi masalahnya, siapa yang tahu umur kita sampai kapan?

Makna Piala Dunia Bagi Sebuah Bangsa

Posted in Kisah, Psikologi, Sharing with tags , on July 12, 2010 by hzulkarnain

Herdian Zulkarnain

Perhelatan Piala Dunia 2010 telah usai dengan juara baru SPANYOL. Inilah generasi emas Spanyol. Negara satu ini memang unik, karena dalam sejarah sepak bolanya yang panjang, dan dikenal luas sebagai salah satu negara bola terbaik di dunia, baru pertama kali ini bisa menembus final dan juara. Dengan 2 kesebelasan utama Spanyol yakni Barcelona dan Real Madrid sebagai tulang punggung kesebelasan nasional, sejak pertama kali digulirkan di era 1930-an semua talenta pemain-pemain muda Spanyol yang eksplosif seperti tidak bisa banyak bicara di kancah piala dunia … hingga tahun ini.

Spain - 2010 World Cup Champion

Bukan hanya sebuah sejarah, bahkan sekurangnya 3 sejarah diukir oleh Spanyol saat memenangkan piala dunia 2010 ini:

  1. Juara baru – kali pertama dalam sejarah mereka menjadi juara. Uniknya, kedua finalis (Spanyol dan Belanda) berebut menjadi juara baru untuk kali pertama. Eropa yang agak diremehkan di awal kompetisi, dan terkurung kekuatan Amerika Latin, justru akhirnya menghadirkan all Europe final.
  2. Negara Eropa pertama yang bisa menjadi juara di benua lain. Ini mengejar rekor Brasil yang dua kali menjadi juara di benua lain (1958 di Swedia dan 2002 di Jepang).
  3. Mengawinkan Piala Eropa dan Piala Dunia dalam satu periode, menyusul Jerman (yang saat itu Jerman Barat di tahun 1972 dan 1974) dan Prancis (1998 dan 2000).

Serta sebuah mitos dipatahkan, yakni juara piala dunia tidak pernah kalah di fase penyisihan group. Spanyol pernah kalah di fase group dari Swiss, tetapi mereka bangkit dan bermain lugas hingga ke final.

Carlos Puyol - semi final hero

Lebih besar daripada itu, Piala Dunia 2010 yang merupakan pertaruhan terbesar

pelatih Vincente Del Bosque telah mempersatukan jiwa Catalunia ke dalam Spanyol. Komposisi timnas Spanyol tahun ini didominasi punggawa El Barca kebanggaan masyarakat Catalunia yang selama ini selalu ingin memerdekakan diri dari Spanyol. Selama ini, masyarakat Spanyol selalu mengkambing hitamkan orang-orang Catalan dalam timnas bila Spanyol gagal. Menurut mereka, orang-orang Catalan tidak pernah serius dalam membela timnas, sehingga selalu gagal. Padahal kurang apik apa Spanyol selama ini?

Dua pertandingan terakhir Spanyol di ajang piala dunia yakni semi final dan final

Andres Iniesta - final hero

menempatkan orang Catalunia sebagai pahlawan. Dalam semi final, bek timnas Spanyol yang juga punggawa Barcelona Carlos Puyol menceploskan gol penentu ke gawang Jerman, 10 menit sebelum bubaran. Dalam final, lagi-lagi punggawa El Barca – kali ini Andres Iniesta – yang mencetak gol penentu ke gawan Belanda. Dua punggawa Catalunia, dua gol penentu, sebuah sejarah baru negara berbudaya sepak bola.

Kendati pun Jerman tidak masuk final, bangsa yang juga disegani dalam persepak bolaan itu menganugerahkan bintang jasa pada pelatih Timnas Joachim Lowe karena telah meletakkan fondasi bagi masa depan persepak bolaan Jerman. Bukan hanya sang pelatih, seluruh anggota timnas juga dianugerahi medali kebangsaan karena telah menjadi duta olah raga bagi bangsa Jerman. Memang, Jerman kalah di perempat final dari sang juara, namun siapapun akan membicarakan tim muda bangsa ini dengan kekaguman.

Bagaimana tidak? Dengan berbekal pemain-pemain di awal dan pertengah usia 20-an (kecuali 2 pilar inti dan 3 cadangan), serta rata-rata hanya bermain di Bundes Liga, pasukan Joachim Lowe ini menggulung tim favorit Inggris 4 – 1 dan Argentina 4 – 0. Gaya permainan mereka yang bisa bertahan dengan ketat namun menyerang balik dengan cepat membuat lawan mereka harus menemukan formula penangkal dengan cermat.

Jerman sudah berbenah sejak Piala Dunia 2006 (saat itu dilatih Jurgen Klinsmann, dan selesai di peringkat ke-3 juga), dengan menemukan dan memanfaatkan talenta-talenta muda yang berbakat, baik asli bangsa Jerman maupun hasil asimilasi. Podolski, Klose, Cacau, Ozil, Boateng dan Khedira adalah sedikit contoh dari pemain Jerman yang lahir dari orang tua imigran atau merupakan hasil naturalisasi. Prancis sudah lebih dulu menerapkan hal ini dan mereka telah menikmati hasilnya dengan memenangkan Piala Dunia 98 serta Euro 2000. Sejak dulu, Prancis memang terbiasa dengan asimilasi dan naturalisasi karena terletak di persimpangan Eropa Barat, Semenanjung Iberia, Mediterania, dan Afrika Utara. Terakhir Prancis masih bisa menjadi runner up di Piala Dunia 2006 – di penghujung karier generasi emasnya – sebelum terjebak dalam kekacauan di bawah pelatih Raymond Domenech sejak Euro 2008.

Khedira (Tunisia) - Ozil (Turki) - Boateng (Ghana)

Negara-negara besar seperti Inggris dan Italia pasti juga punya, namun sejauh ini hampir tidak ada pemain yang bukan asli Inggris atau Italia dimainkan oleh kedua negara tersebut. Selain Spanyol, kedua negara ini memiliki kompetisi liga nasional yang sangat disegani, karena hampir selalu menelurkan tim juara Champions League. Berbeda dengan Spanyol yang kuat dalam pengkaderan pemain muda melalui tim junior Barcelona maupun Real Madrid, regenerasi di Inggris dan Italia terbilang sangat lamban. Masih untung Italia bisa merengkuh juara dunia untuk ke-4 kalinya tahun 2006, tapi tahun ini Italia gagal total. Sementara itu, Inggris yang dihuni banyak pemain tua masih tetap berharap football coming home… karena mereka meyakini sepak bola diciptakan di Inggris dan sudah seharusnya pulang ke Inggris dalam bentuk trofi Piala Dunia. Masalahnya, bagaimana mereka bisa jadi juara kalau tidak punya pemain pelapis yang handal?

Ada perbedaan mendasar antara kompetisi liga utama di Spanyol, Italia, Inggris, dan Jerman. Di Spanyol, memang banyak pemain asing bahkan pemain-pemain termahal di dunia, namun di tiap kesebelasan selalu ada pemain muda Spanyol yang bersinar dan diperhitungkan. Di Jerman, hanya Bayern Munchen yang berani mengontrak pemain mahal, selebihnya adalah pemain Jerman atau pemain asing yang “masih” belum diperhitungkan – dan sekarang mencorong di ajang piala dunia. Di Inggris dan Italia, tidak ada aturan jelas tentang penggunaan pemain asing, sehingga Arsenal (Inggris) dan Inter Milan (Italia) bisa memasang hampir semua pemain asing di tiap pertandingan. Aura pemain asing ini menutup potensi pemain lokal.

Semua negara yang menginginkan sepak bola mengangkat derajat bangsa mereka telah berbenah, atau akan ketinggalan semakin jauh. Asia sudah menggeliat dan diperhitungkan. Bagaimana dengan Indonesia?

Tampaknya, hingga sekarang PSSI belum punya konsep yang jelas.

Tolok Ukur Sukses

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , , , , on July 9, 2010 by hzulkarnain

Pertengahan tahun begini, sebagian orang tua yang punya anak lulusan SD dan SMP turut berjibaku mencarikan sekolah bagi anak-anak mereka. Si anak, dengan semua potensi dan kompetensi yang dimiliki, berjuang agar masuk ke sekolah idamannya. Minggu-minggu ini, masih ada yang baru tes, ada yang sudah harap-harap cemas, dan sebagian lagi harus mengakhiri liburan lebih cepat karena harus menjalani MOS sekolah baru.

aksi MOS SMA

Yang sudah akan memulai MOS, sebagian berangkat dengan bangga, yang lain dengan kurang bangga, ada yang murung, bahkan rasanya ada yang tidak optimis. Yang bangga dan gembira, mungkin dikarenakan sekolah yang menampung mereka adalah sekolah favorit. Yang lain merasa biasa saja, karena sekolahnya ya biasa saja. Ada pula yang ternyata tidak cukup bangga dengan sekolah barunya.

Sekolah favorit selalu dicari dan dijadikan rujukan, itu sudah berlaku sejak dulu. Ada yang favorit di sebuah wilayah, dan favorit dengan pengakuan umum. Di tiap-tiap kota selalu ada sekolah semacam itu, menjadi idaman bagi orang tua dan pelajar, biasanya SMP-SMA Negeri. Akan tetapi, ada juga sekolah favorit yang didirikan oleh swasta, sehingga tentu saja investasi yang dikeluarkan oleh orang tua juga melangit. Belakangan, sekolah umum swasta yang bernafaskan agama lebih menjadi favorit – bahkan dibandingkan sekolah negeri sekalipun.

Tentu saja, logis bila kemudian sekolah-sekolah ini dijubeli orang tua yang merasa pe-de anaknya bisa masuk ke sekolah favorit tersebut. Para orang tua yang care pada pendidikan anak sudah pasti tidak ingin anaknya masuk ke sekolah dengan mutu yang tidak terpetakan. Bukan hanya satu sekolah, orang tua harus membuat cadangan dengan memasukkan beberapa salinan berkas ke sekolah yang lain.Itu berarti biaya tambahan yang bisa hilang separuh bila anak masuk ke sekolah negeri. Masuk sekolah baru berarti biaya … biaya … biaya … dan biaya lagi dan jumlahnya mencapai nilai jutaan (itu yang dirasakan orang tua, karena uang yang dikeluarkan sudah tidak jelas lagi arahnya pada investasi atau biaya).

Pendidikan adalah hak semua warga negara, dan untuk menyediakannya tidak sekedar ada guru dan kurikulum, melainkan juga bangunan permanen, buku, dan sarana – prasarana lainnya. Itu semua butuh biaya dan menjadi penyeleksi alam institusi pendidikan tidak jelas yang sempat menjamur. Perlahan tapi pasti, sekolah-sekolah yang tidak bermutu akan tutup. Dengan peraturan yang baru, sekolah yang punya mutu dan calon murid pun bila tidak punya gedung sendiri harus tutup.

Tapi, apakah pendidikan harus mahal? Bahkan sangat mahal. Pertanyaan yang mudah tapi sangat sulit dicari jawabannya. Bila bicara soal pendidikan, sudah pasti bicara tentang manpower-nya yakni guru. Dan guru di Indonesia belum semua menikmati kehormatan dan penghormatan semestinya, sebagai pencetak generasi baru. Mereka yang beruntung menjadi guru sekolah negeri mungkin sudah lebih baik, karena menikmati gaji dengan standar baru yang ditetapkan pemerintah. Mungkin, sekarang ini guru negeri tidak perlu lagi bekerja ganda mengajar sekolah swasta untuk menambah penghasilan. Sebaliknya, sekolah swasta harus menggali lebih dalam kantong orang tua siswa bila tidak mau guru-gurunya hengkang menjadi pegawai negeri. Pendidikan yang semakin baik akan membentuk generasi muda yang lebih baik pula, dan generasi muda yang lebih baik menjanjikan perkembangan bangsa ke arah yang kita inginkan bersama.

diskusi

Banyak pakar yang mempertanyakan, kemana sebenarnya arah pendidikan bangsa ini. Semau fasilitas sekolah – yang tidak terkait langsung dengan pendidikan – dibangun untuk kenyamanan siswa dan guru, tetapi biayanya harus ditanggung oleh orang tua. Gedung-gedung ber-AC, multimedia yang mewah, penggunaan internet untuk perkuliahan, dan semacamnya sekarang ini menjadi trend. Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan masa 10 – 20 tahun silam. Tapi, apakah output-nya sudah benar-benar jauh lebih baik daripada masa-masa sebelumnya? Dengan semua kemahalan fasilitas atau sarana-prasarana belajar-mengajar itu, apa perbedaan lulusan dulu dengan lulusan sekarang?

Dalam sebuah feature di koran Jawa Pos beberapa waktu lalu, sempat diulas pendidikan di India yang jauh lebih murah daripada di negara-negara lain – termasuk Indonesia. Dikatakan bahwa, biaya sekolah S-2 per-semester hanya sekitar 10 juta rupiah (sementara di Indonesia untuk biaya kuliah – tidak termasuk biaya buku dan lainnya bisa mencapai 10 – 15  juta persemester), itupun sudah termasuk biaya asrama kampus. Pengajarnya langsung guru besar atau Doktornya sendiri, bukan para asisten sebagaimana yang lazim di Indonesia (karena sang guru besar dan Doktor juga harus hadir di tempat lain yang mendatangkan uang lebih besar). Akan tetapi, jangan harap ada kemewahan. Ruangan kelasnya kuno, kursi kuliahnya model lama dari kayu, penyejuknya kipas angin di langit-langit, dan masih menggunakan papan tulis kapur. Akan tetapi, istimewanya, India sekarang merupakan salah satu negara outsourcing IT Amerika yang terbesar. Pelaku ekonomi di Wallstreet, dokter di rumah-rumah sakit di AS, banyak merupakan jebolan sekolah-sekolah di India sebelum mengambil master atau spesialis di Amerika. Bukan hanya 1 – 2 orang, tetapi sudah berbilang prosentase.

perpusatakaan pusat informasi

Dari semua anak yang bersekolah di SMA favorit dan masuk ke perguruan tinggi negeri ternama, rasanya tidak sampai 30% yang sadar benar alasan mereka masuk ke sana. Yang penting sekolah di tempat elite, masuk ke fakultas yang bergengsi. Kalau sekolah saja sudah tanpa visi yang jelas, bagaimana anak tersebut bisa membangun jati dirinya melalui pendidikan yang ditempuh? tidak mengherankan bila banyak sarjana kita yang “tersasar” ke pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang studinya. Sekolahnya hukum, ujungnya bekerja di perbankan, seorang teman yang sarjana psikologi sampai sekarang betah sekali menjadi detailer obat, sekretaris, atau hanya tenaga administrasi biasa.

Jadi, bagaimana sebenarnya ukuran keberhasilan seseorang dalam studi? Mencapai atau memperoleh pendidikan di sekolah favorit, atau berhasil memperoleh pekerjaan seperti yang diidamkan. Sudah jamak di masyarakat, seseorang dari sekolah terbaik, dan dari jurusan idaman, tidak berakhir dengan mata pencaharian atau pekerjaan yang diidamkan. Sebaliknya, ada orang yang ketika sekolah biasa-biasa saja tetapi menemukan tempat kerja idaman, bekerja di perusahaan oil & gas yang bergaji tinggi. Kelihatannya unfair, tetapi itu adalah kenyataan.

Bekerja di “tempat basah” saya yakin masih menjadi impian banyak lulusan baru, atau siapapun yang belum dapat pekerjaan. Institusi keuangan, bagian logistik sebuah BUMN, bagian pembelian, termasuk di bagian kepegawaian, menjadi incaran karena diprediksi bisa mendatangkan keuntungan secara cepat. Apakah keuntungan itu halal? Tidak penting. Tapi, apakah bekerja seperti ini adalah sebuah prestasi?

Mungkin, dari diri kita sendiri dan anak kita, perlu mengevaluasi diri dan memperjelas definisi sukses itu. Kalau sukses adalah nilai uang, kaya, punya rumah dan mobil mewah – maka Gayus dan sederet koruptor yang sekarang sudah dibui (atau masih dalam proses) adalah orang sukses yang sedang sial. Koruptor yang masih berkeliaran adalah orang sukses yang beruntung.

Akan tetapi, kalau sukses itu adalah be a better person, banyak hal yang kita align karena tolok ukur kebaikan sekalipun universal tetapi tidak uniform. Sekolah adalah ajang pendadaran jiwa dan raga, agar menjadi seseorang yang mempunyai jati diri – identitas kepribadian yang jelas. Banyak pelajar yang menganggap sekolah sebagai ruang hukuman, dan berusaha lari dari kewajiban. Mengapa pelajar tidak suka belajar? Itu adalah PR bagi penyelenggara pendidikan – dan harus mengatasinya. Pelajar harus jadi suka belajar, tidak lagi bolos dan berkeliaran di mall.

Kalau sukses adalah be a better person, kita perlu me-redefinisikan makna sukses. Kekayaan mungkin adalah bagian dari sukses, tetapi sukses tidak selalu harus kaya secara finansial. Seperti yang ditekankan dalam ayat suci Al-Qur’an: Kalau manusia mencari dunia, maka dia hanya mendapatkan dunia. Akan tetapi, bila manusia itu mencari akhirat, dia akan memperoleh dunia dan akhirat. Sebuah dogma yang bermakna dalam.

Untung Ada Ariel dan Piala Dunia

Posted in Sharing with tags , , on July 2, 2010 by hzulkarnain

Catatan Akhir Juni

TDL Naik nggak akan byar pet?

Tanggal 1 Juli ini TDL naik, khususnya bagi yang memasang listrik dengan daya 1300 watt ke atas. Tampaknya cukup lancar, dengan sedikit saja demo sporadis di sana-sini, komentar beberapa pengamat di televisi (itupun kadang kala). Ada yang mencoba demo di dekat simbol pemerintahan – yakni istana negara – tetapi tidak signifikan. Secara umum, nyaris tanpa hambatan.

Rasanya pemerintah sudah hafal dengan gejolak massa sesaat setiap kali ada kenaikan tarif yang akan ditetapkan, sehingga rasanya tidak aneh bila awal Juli menjadi tanggal yang dipilih. Siapapun tahu, Juni – Juli adalah bulannya piala dunia. Penyisihan sudah dilakukan jauh hari, dan euforia di kota-kota besar terasa. Setidaknya, ini cukup menyibukkan pikiran mereka menjelang detik kenaikan TDL.

Seperti berkah terselubung, tiba-tiba kasus video porno mirip Ariel-Luna-Cut Tari meledak (atau dibuat meledak). Popularitasnya mengalahkan kasus Gayus yang diduga punya kekayaan di atas 100M. Bahkan orang tidak lagi tertarik pada temuan baru keterlibatan atasan Gayus di instansinya. Orang tidak lagi meributkan Bank Century, dan yang digambari taring vampir bukan lagi Pak Budiono dan Bu Sri Mulyani, melainkan Ariel.

Mereka penggemar bola asyik dengan semua prediksi dan progres team kesayangan di piala dunia, penggemar gosip dimanjakan dengan informasi simpang siur dan spekulasi tentang Ariel.

Apa sebenarnya esensi kasus video mesum “pelaku yang mirip” Ariel-Luna-Cut Tari? Bahkan sekalipun benar-benar mereka yang yang menjadi pelakunya, so what? Tidak penting amat. Kalau dibiarkan saja, sebenarnya kasus ini lewat saja, tetapi karena blow up media dan penyebaran via HP yang intens, seolah-olah hal ini adalah kasus penting. Di mana pentingnya? Tidak ada. Tidak berpengaruh pada inflasi, tidak berpengaruh pada angka pengangguran, pada demokrasi, dan semacamnya.

Berpengaruh pada aspek moral? Mungkin ada, tetapi tidak signifikan, kecuali mungkin pada penggemar mereka saja. Yang meresahkan bukan bagaimana mereka mempermalukan diri sendiri, tetapi kelakuan penyebar rekaman ini ke khalayak via internet dan penjualan bebas di lapak kaki lima. Tanpa kasus ini, di internet dan lapak kaki lima video porno sudah banyak, media massa lah yang semakin melariskan mereka saja.

Kalau melihat liputan kasus video mesum mirip artis ini, sebenarnya rasanya sudah eneg. Tidak ada perkembangan yang signifikan, namun infotainment berusaha keras agar tidak kehilangan mata rantai kasus, sehingga apapun gerak di tempat penahanan Ariel selalu ada beritanya.

Dengan semua kesibukan media tersebut, tanpa terasa bulan Juni telah berlalu. Saat piala dunia sudah tidak seseru babak-babak awal, saat orang mulai menganggap kasus Ariel tidak lagi panas, mendadak sebuah edisi majalah TEMPO menghilang. Kebetulan issue utamanya adalah mengenai rekening gendut jendral POLRI, dan mendadak ada pihak yang berusaha menghilangkan edisi ini dari pasaran.

Tentu saja hanya orang bodoh yang berusaha menghilangkan edisi majalah dari surat kabar. Dan, rasanya kecil kemungkinan tindakan tersebut dilakukan oleh POLRI. Kalau dibiarkan saja, mungkin orang tidak tertarik. Tetapi, setelah ada upaya pemborongan majalah tersebut, justru orang jadi sangat tertarik. Sekarang, mata massa berpindah pada rekening gendut jendral POLRI ini — lagi-lagu teralihdari kenaikan TDL.

Brilian!