Memberi Makna pada Hidup

Siang tadi, seorang teman mengirimkan e-mail yang berisi sepenggal informasi, bahwa ada penelitian di Amerika yang menunjukkan bahwa sepertiga dari pemenang lotere di Amerika Serikat jatuh bangkrut 5 tahun setelah mendapatkan uang yang berlimpah. Kenapa? Uang melambangkan nilai, dan bila orang tidak memahami makna di balik nilai uang itu maka uang-uang itu tidak akan bertahan.

crying for help

Kick Andy edisi 15 Oktober 2010 mengupas tentang perilaku bunuh diri, dan membahas alasan orang melakukannya. Sungguh di luar dugaan, usia pelaku bunuh diri ternyata semakin muda, di kala seharusnya mereka sedang menikmati masa hidup terindah. Ada yang baru 10 tahunan, 15 tahunan, 18 tahunan, serta seorang gadis muda yang pernah melakukan percobaan bunuh diri sebanyak 3 kali.

Kriminolog Ronny Nitibaskara dan psikolog Josephine Ratna yang menjadi narasumber sama menyepakati bahwa pelaku bunuh diri bisa dikenali sejak dini, saat terjadinya perubahan perilaku pada diri anak atau kerabat kita. Bukan hanya perilaku negatif tetapi bisa juga positif. Perilaku negatif misalnya murung, menutup diri, menarik diri, stress, dan semacamnya; sementara perilaku positif kebalikannya: anak menjadi lebih rajin membantu, rajin sholat, jadi lebih manis, dsb. Hal ini lebih kentara lagi pada perempuan, karena sebenarnya bunuh diri bukan pilihan pertama mereka. Mereka mencoba bunuh diri sebagai ganti “crying for help”.

Orang tua perlu melatih sensitifitas terhadap anak-anak, agar bisa mengantisipasi dengan cepat perubahan mental mereka. Josephine Ratna menunjukkan vitamin yang bisa mengokohkan akar kepribadian anak yaitu vitamin KPC: kasih sayang, perhatian, dan cinta. Jangan menolak saat anak meminta perhatian, misalnya dengan alasan capek atau sibuk. Berilah anak hak mereka untuk menikmati kehangatan relasi dengan orang tua. Orang tua yang terbiasa menyepelekan anak, yang berakibat renggangnya kontak emosi orang tua dan anak-anak mereka.

Apa kesamaan antara orang menang lotere dan pelaku bunuh diri? Keduanya sama-sama menyia-nyiakan sesuatu yang penting dalam kehidupan. Bukan soal uangnya, tetapi kesempatan untuk menjadi lebih baik. Bukan soal hidup yang seperti tanpa guna, tetapi kehidupan ini diciptakan sebenarnya tidak untuk main-main.

no future...hidup tanpa makna

Manusia punya tugas sebagai dan selayaknya insan mulia di muka bumi ini. Menjadi manusia yang utuh pada dasarnya menjadikan kehidupan ini punya makna bagi diri dan sekelilingnya. Bukan hanya Presiden, pejabat kementrian, Jenderal, perwira militer, pengusaha, engineer, advokat, dan semacamnya yang berhak mengatakan bahwa hidup mereka bermakna. Guru, petugas cleaning service, petugas parkir, bahkan pemulung pun punya hak untuk merasa hidupnya bermakna.

Dalam acara Minta Tolong RCTI beberapa waktu lalu, sang penolong adalah seorang perempuan pemulung dengan becak sewaan, dengan dua orang cucunya yang masih kecil-kecil. Dia sudah memulung selama 20 tahunan, dan belum akan berhenti selama masih hidup. Semasa mudanya, nenek itu adalah seorang tuna susila. Ia benar-benar merasakan siksaan hidup setelah ke-4 anaknya kehilangan arah. Dua anaknya ditengarainya hidup melacur seperti dirinya dulu, sementara dua yang lain tidak mau mengakuinya sebagai orang tua.

Sebuah nasihat sahabat menjadi pencerahan baginya 20 tahun yang lalu. Ia mendapatkan wejangan tentang kesengsaraan hidup saat bergantung pada orang lain. Hidup mejadi pelacur yang mengandalkan orang lain tidak akan membahagiakan. Hidup dengan keringat sendiri, bahkan dengan memulung, akan membawa kebahagiaan. Itulah yang kemudian dipraktikkannya. Ia memberikan makna pada kehidupannya sendiri, agar bisa terus bertahan dan mengasuh kedua cucunya. Dengan makna tersebut, ia melihat pengharapan, dan secara subjektif dunia ini tidak gelap.

Bandingkan dengan beberapa selebriti dunia yang justru mati di puncak karir atau selepas puncak karir karena overdosis atau lewat cara bunuh diri lainnya. Orang yang OD belum tentu bunuh diri, namun OD bisa jadi cara untuk menghabisi nyawa sendiri. Yang jelas, orang yang punya ketergantungan pada narkotika menyimpan ketidak beresan. Limpahan uang bukan diarahkan untuk sesuatu yang bermanfaat malah dihamburkan untuk menghancurkan diri sendiri.

Ada sebuah iklan susu yang sangat saya gemari, tentang Cila yang ingin jadi dokter. Dalam bahasanya sendiri, saat menjawab alasan dia ingin menjadi dkter, Cila menjawab: “Cila mau sembuh-sembuhin teman Cila yang sakit … supaya bisa bermain bersama lagi.” Bukan soal cita-citanya menjadi dokter yang menarik, tetapi anak ini sudah berusaha memberikan makna di balik cita-citanya.

Ketika hidup ini sudah diberikan makna, orang yang menjalaninya akan lebih serius dan tidak mudah patah. Orang-orang yang dikenal sebagai pahlawan kemerdekaan bangsa ini memberikan makna yang dalam pada kemerdekaan. Hidup ini tidak ada artinya tanpa kemerdekaan bangsa, sehingga mereka meletakkan pondasi kemerdekaan dengan cara mereka sendiri. Kalaupun mereka tidak mengalaminya, mereka mengikhlaskannya untuk anak cucu yang saat itu mungkin belum lahir.

Seorang tukang kayu, bekerja keras menyekolahkan ketiga anaknya hingga sarjana, dengan harapan mereka tidak akan menderita seperti dirinya dalam mencari nafkah. Penat akibat kerja keras, sakit karena kelelahan, dan bahkan mungkin kematian karena kecelakaan adalah harga yang diusahakan untuk meraih impian. Biarlah kemudahan itu milik anak cucunya.

mendekatkan diri pada Sang Pencipta ... memohon petunjuk arah kehidupan

Jadi, memberi makna pada kehidupan ini tidak harus dinikmati sendiri, tetapi juga bisa berarti menyiapkan masa depan bagi anak cucu. Atau bahkan makna ini lepas dari sisi keduniawian. Bekerja dengan sepenuh hati, lalu menyumbangkan sebagian besar harta untuk wakaf, orang miskin, rumah yatim piatu, karena mencari rahmat Tuhan.

Bagi yang pernah menonton film Forrest Gump bisa melihat semangat hidup yang mengalir di sepanjang perjalanan hidup orang yang terlahir dengan kecerdasan yang kurang namun diberkahi dengan banyak bakat. Sekalipun ia sendiri tidak paham akan apa yang dicarinya, ia sangat paham bahwa ia harus mematuhi Ibunya dan menjadi orang yang baik. Setelah kaya raya tanpa sengaja, ia memutuskan untuk hanya mengurusi rumahnya sendiri, dengan ilustrasi pesan dari mendiang Ibunya:”Kita hanya butuh harta sedikit saja. Selebihnya, hanya akan kita pakai untuk pamer.” Dan ia sumbangkan hampir semua hartanya kecuali rumah peninggalan orang tuanya.

Makna hidup harus dicari, karena dialah yang akan menyemangati kita. Kita jadi punya tujuan yang harus dicapai … dan tidak menutup kemungkinan tujuan itu akan berkembang, sehingga hidup kita jadi lebih menarik.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: