Archive for the Kontemplasi Category

SEA Games dan Kebangkitan

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , , on November 16, 2011 by hzulkarnain

INDONESIA BISA!

Begitulah slogan yang didengungkan bangsa ini untuk mendukung para atlit Indonesia di kancah SEA Games. Kita pernah menjadi tuan rumah dan gagal menjadi juara umum, dan secara memalukan harus menundukkan kepala dibantai negara-negara jiran di tanah sendiri. Padahal, bangsa ini besar, kuat, dan punya tradisi juara di kancah perhelatan olah raga se-Asia Tenggara. Sekarang, Indonesia menjadi tuan rumah lagi dan inilah saatnya untuk membuktikan bahwa kita masih punya tradisi juara itu.

Yang lebih membanggakan daripada sekedar memenangkan kejuaraan adalah ketetapan dari petinggi yang mengurusi olahraga untuk memunculkan bibit-bibit baru atlit mendampingi para veteran dalam laga internasional ini. Dan, pada kenyataannya, bibit-bibit muda atlit Indonesia telah menunjukkan kapasitas positif yang membanggakan – di hampir semua cabang olahraga. Misalnya, juara lari 100 meter putra dan putri dengan sangat membanggakan jatuh ke tangan atlit muda kita, yakni Franklin Ramses Burumi dan Serafi Anelis Unani. Beberapa cabang di luar atletik yang juga bersifat non-permainan seperti dayung, renang, dan sepatu roda menyumbangkan banyak medali emas oleh para atlit yang tidak terlalu kita kenal namanya.

Bangga… itu pasti. Akan tetapi, kita ingat bahwa beberapa saat sebelum perhelatan ini dimulai begitu banyak masalah yang terjadi di Palembang yang menyebabkan munculnya pesimisme. Mulai dari pembangunan wisma atlit yang diterpa isu korupsi, gelanggang yang belum siap, infrastruktur yang belum beres, dan banyak lagi. Bahkan sekarang pun, saat SEA Games sudah berlangsung, masih sangat terlihat kondisi yang apa adanya, asal memenuhi syarat. Tidak ada kemewahan dan keindahan yang memberikan kesan.

Para atlit mengeluhkan katering, angkutan antar venue yang berusaha ramah lingkungan tetapi disiapkan ala kadarnya, suasana kompleks olahraga yang masih gersang, kering, dan panas, dan macam-macam lagi. Untungnya … prestasi anak bangsa yang bertanding moncer. Dampaknya, khalayak boleh sedikit melupakan penilaian negatif tentang fasilitas di Jakabaring.

Inikah kebangkitan kembali olahraga bangsa ini? Kita harapkan demikian. Kita bahkan sudah mulai lupa, kapan kita ini bangga dengan prestasi anak negeri di bidang olahraga. Padahal penduduk Indonesia ini hanya kalah oleh China, India, dan Amerika Serikat di dunia. Sementara prestasi kelas dunia hampir tidak ada yang diukir oleh orang Indonesia (atau memang malah tidak ada?).

Saat sang merah putih berkibar, Indonesia Raya berkumandang, bahkan pemirsa televisi di rumah bisa menitikkan airmata tanda keharuan. Menjadi superior di antara bangsa lain merupakan kebanggan sekaligus cita-cita kita bersama, dan ajang olahraga adalah pembuktian yang nyata.

Unsur dasar olahraga adalah atletik, yaitu: lari, lempar, lompat, dan jalan, yang pada ujungnya berbicara soal kekuatan. Struktur tubuh orang Asia Tenggara pada dasarnya memang kurang ideal untuk mencapai prestasi puncak dalam olahraga, bila dibandingkan dengan ras kaukasia dan negro. Tidak mengherankan, negara-negara yang mayoritas berkulit putih dan hitam mendominasi kekuatan olahraga sejagat. Atlit berkulit putih terkenal dalam olah raga senam, renang, atletik, dan beberapa cabang olahraga permainan. Atlit negro Amerika dan Karibia terkenal dalam lari jarak pendek dan menengah, beberapa olah raga permainan, termasuk tinju.

Ras kuning dari Asia Timur belakangan juga menyusul, sekalipun masih belum sekuat ras putih dan hitam. China, Jepang, dan Korea adalah naga-naga Asia yang terbangun dan menggetarkan dunia. Jangankan dalam olimpiade, di level Asia saja (Asian Games) terbukti sulitnya orang-orang Asia Tenggara menembus dominasi ras kuning tersebut.

Namun demikian, perlu dicatat bahwa tidak semua cabang olahraga membutuhkan struktur otot besar, bahkan tidak ada hubungannya dengan besarnya otot misalnya panahan, menembak, tenis meja, bulu tangkis, dsb. Di luar bulu tangkis, ternyata prestasi atlit kita masih terhitung payah, belum konsisten. Seharusnya, di cabang-cabang yang tidak membutuhkan kekuatan otot seperti ini kita bisa menonjol hingga di tingkat dunia.

Nikmati dan syukuri yang ada. Itu adalah kata-kata bijak dari ajaran agama agar manusia tidak meratapi kekurangan dan mengharapkan kelebihan yang berada di luar jangkauan. Kalau memang orang Indonesia hanya bisa berprestasi di kancah Asia Tenggara … biar saja! Para pemuka daerah, petinggi negeri, dan pemimpin organisasi olahraga harus bertanggung jawab menemukan bibit-bibit atlit baru di segenap bumi Indonesia … agar muncul nama-nama baru menyegarkan jagat olahraga Indonesia.

Semoga!

Harry Potter dan Sihir (1)

Posted in Kisah, Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , , on August 9, 2011 by hzulkarnain

Expecto Patronum!

Seberkas cahaya putih meluncur dari tongkat sihir Harry Potter, menjelma menjadi wujud siluet rusa jantan besar yang putih cemerlang, dan melindunginya dari serangan para dementor. Itulah mantera patronus yang luar biasa.

expecto patronum!

Kira-kira demikian deskripsi dalam novel Harry Potter tentang salah satu mantera di dalamnya. Harry Potter telah menjadi fenomena dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Dari sekedar sebuah novel, yang awalnya ditolak penerbit tetapi kemudiaan booming menjadi best seller, nama ini menjelma menjadi bahan baku industri hiburan yang menjamin kelarisan. Bisa dibayangkan kaya rayanya JK Rowling sang pengarang dan pemilik hak cipta tokoh rekaan ini.

Pada bulan Juli ini, sekuel terakhir film Harry Potter dari novel terakhirnya telah ditayangkan di berbagai negara di dunia, kecuali Indonesia (karena masalah perijinan). Khalayak penggemar Harry Potter telah menantikannya, dan dunia seperti tersihir oleh bocah ahli sihir ini.

Sejak pemutaran perdana di Indonesia, animo penggemar Harry Potter sangat luar biasa, bahkan dalam sebuah gedung cineplex film ini bisa ditayangkan lebih dari sebuah studio … dan semuanya penuh hingga pertunjukan terakhir. Untuk bisa memperoleh tempat duduk yang enak, jangan sampai telat mengantre …. Semua orang ingin melihat akhir kisah yang melegenda ini, dan bagaimana Harry Potter yang masih hijau akan mengalahkan musuh bebuyutannya yang berjuluk pangeran kegelapan: Lord Voldemort.

Wajar bila banyak yang bertanya dengan penasaran, apa sih yang menarik dari Harry Potter ini?

Saat novel pertamanya keluar sekitar tahun 1997, dunia heboh. Bahkan langsung jadi demam di banyak negara termasuk Indonesia. Saya tidak tertarik, karena pikir saya itu hanya novel yang bercerita tentang anak-anak … apa sih menariknya? Soal sihirnya … ah, itu paling hanya tempelan saja. Tidak akan jauh bedanya dengan kisah anak-anak detektif, bocah petualang, dan semacamnya seperti kisah rekaan Enyd Blyton (Lima Sekawan, Sapta Siaga) atau Alfred Hitchcock (Trio detektif).

Kehebohan yang sama terjadi saat film novel pertama ini diangkat ke layar lebar. Saya juga tidak serta merta menengoknya, karena pemikiran yang sama. Namun demikian, saat sebuah tv kabel menayangkannya, saya menontonnya juga (karena tidak film lain yang bagus). Satu hal yang langsung saya sadari, bahwa teknologi film sudah sedemikian maju sehingga film di eran millennium jauh lebih maju dalam special effect daripada dekade sebelunya. Dan … memang inilah salah satu kekuatan film Harry Potter. Hagrid yang setengah raksasa, kaum goblin penjaga bank, anjing kepala tiga, centaur, semuanya bisa disajikan secara apik. Belum lagi trik loncatan bunga api dari tongkat sihir, terbang dengan sapu, serta perubahan bentuk yang alami. Film ini langsung merebut hati saya.

Ada sebuah pesan moral yang tersampaikan pada film itu, bahwa karakter Harry Potter berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia memang tidak sepintar Hermione dalam pelajaran sihir, bahkan cenderung naif dan minder. Akan tetapi, selain punya bakat bocah ini sangat tulus dan setia kawan. Ia berani menempuh bahaya apapun untuk menolong teman, dan menjunjung kebenaran. Sihir yang diangkat dalam film ini … seperti dugaan saya – hanya menjadi latar belakang kisah, tetapi dibentuk secara solid.

JK Rowling, wanita pengarangnya yang asli Inggris, tampaknya besar dalam lingkungan yang mempercayai sesuatu yang gaib (agak beda dengan orang Barat pada umumnya), hendak mengatakan bahwa sihir adalah milik orang-orang yang punya bakat (berbakat besar maupun kecil). Orang awam, yang tidak bisa sihir dan tidak mengenal sihir, disebut dengan muggle. Kaum sihir punya komunitas, bahkan komunitas ini sangat besar, sehingga harus diatur oleh kementrian sihir. Komunitas ini berdampingan dengan orang awam, tetapi kegiatan mereka tersembunyi, terselubung, atau tersamar. Kaum sihir sengaja menyembunyikan jati diri mereka, dan tinggal tersamar melalui trik sihir.

Bakat sihir, menurut Rowling, bisa diwarisi dari kedua orang tua, salah satu dari orang tua, atau mungkin dari leluhurnya (karena kedua orang tuanya adalah muggle). Salah satu aspek terpenting dalam sihir adalah tongkat sihir, dan tidak sembarang orang bisa membuatnya (mungkin di sini dibuat hanya oleh empu). Tongkat sihir punya kekuatan gaib karena di intinya terdapat elemen dari mahluk-mahluk mitos, misalnya bulu burung phoenix (seperti tongkat sihir Harry Potter dan Voldemort), surai unicorn, otot jantung naga, dsb. Penyihir tidak bisa memilih tongkat, tapi tongkat sihir lah yang memilih orang yang memegangnya. Karena itu, agaknya seorang tanpa bakat tidak akan bisa mengeluarkan kekuatan sebuah tongkat sihir.

Dalam kisah JK Rowling ini, sihir punya sekolah formal, layaknya sekolah kejuruan pada umumnya. Sihir tidak didapatkan dengan bertapa dan menyepi, tetapi mengolah bakat yang sudah ada di dalam diri para murid. Semua mantera dan keahlian sihir dipelajari, dicermati, dihayati, dieksperimen-kan, dan akhirnya dikembangkan sendiri. Mereka yang mampu mengembangkan sihir mereka akan sukses sebagai penyihir. Di Inggris, sekolah sihirnya bernama Hogwarts, dengan kepala sekolah dan guru-guru yang bergelar profesor – dan mengajar sesuai dengan keahliannya masing-masing. Ada yang mengajar ramuan, ilmu tumbuhan (herbology), transfigurasi (perubahan bentuk), pertahanan terhadap ilmu hitam, ramalan, dsb. Akan tetapi, ada juga sport yang menjadi andalan, layaknya sepakbola yang dinamakan quidditch, degan aspek sihir berupa penggunaan sapu terbang. Bangunan sekolah yang luas mirip kastil abad pertengahan juga menjadi asrama bagi siswa-siswa sihir hingga lulus di tahun ke-tujuh.

Novel JK Rowling ini menurut saya unik, karena mampu membangun suasana hati dan sikap pembacanya. Tidak banyak novelis seperti ini, dan JK Rowling ternyata punya bakat yang kuat. Novel dan film Harry Potter di awal-awal terasa ceria, ada sifat anak-anak yang usil, nakal, lucu, tapi tetap serius. Seiring dengan bertambah dewasanya sang protagonis, novel berikutnya terasa lebih berat (dan halaman buku juga lebih tebal). Ada nuansa kelam yang menyelimuti jalannya cerita, banyak kepahitan, kematian, apalagi para penyihir hitam yang tergabung dalam dead eaters (pelahap maut) semakin kuat. Terlebih lagi setelah sang pemimpin Lord Voldemort bangkit dari kondisi hampir matinya. Bahkan penyihir terhebat seperti Profesor Dumbledore sang kepala sekolah Hogwarts harus berupaya keras mecari tahu kelemahan pangeran kegelapan itu, untuk melindungi Harry Potter dan dunia sihir agar tetap bersih.

Sekolah sihir Hogwarts, dan sekolah-sekolah sihir lain di Eropa sebenarnya hanya mengajarkan sihir yang baik, bahkan hanya mantra-mantra ringan yang diajarkan di tingkat dasar. Akan tetapi, tetap saja ada sisi kelam dari dunia sihir ini yang rahasianya berhasil diungkap oleh Voldemort muda dan menjadikannya master dalam sihir hitam – padahal dia dulunya adalah siswa Hogwarts semasa muda. Sihir hitam (the dark arts) dipelajarinya sendiri, dan sihir paling hitam adalah horcrux, yakni membelah jiwa dan memasukkannya ke dalam sebuah benda. Tujuannya adalah kehidupan yang abadi. Sebab, bila sebuah jiwa mati masih ada jiwa lain yang siap dibangkitkan. Untuk bisa membelah jiwa dan menyimpannya dalam horcrux, ada satu syarat yang mengerikan … pelakunya harus membunuh seseorang. Karena tidak bisa mati inilah Voldemort sangat ditakuti.

Harry Potter dan teman-teman setianya

Inti dari kisah perjalanan hidup Harry Potter adalah pertarungan kelompok putih dan kelompok hitam, kebaikan lawan angkara murka. Beberapa pesan moral yang dimuatnya antara lain:

  • Asal-usul mungkin penting tetapi jauh lebih penting lagi adalah kesungguhan diri sendiri dalam membentuk kepribadian. Siapa kita, tidak tergantung orang tua kita …. tetapi cara kita mengisi kehidupan ini.
  • Harry Potter berbakat dalam ilmu hitam (dark arts), tetapi ia memilih untuk tidak menggunakannya. Untuk bisa melafalkan mantera sihir hitam, pelakunya harus punya keyakinan bulat untuk mencelakai orang lain.
  • Semakin tinggi kemampuan Harry Potter kian jauh dia dari pamrih pribadi, dan semua kesengsaraan ditanggungnya untuk mengalahkan bencana semua penyihir: Voldemort.
  • Orang yang terbaik bukan yang paling pintar, tapi orang yang paling care pada orang lain. Itulah yang menjadikan Harry Potter dibenci lawannya dan dicintai teman-temannya.

Di akhir film Deathly Hallows (part 2), Harry Potter yang memegang tongkat sihir terkuat The Elder Wand menjelaskan bahwa tongkat itu tidak bisa ditaklukkan oleh Voldemort yang mengambilnya dari peti mati Dumbledore, karena tongkat itu sudah memilih tuan – yakni Harry Potter. Dengan tongkat itu, sebenarnya Harry Potter bisa menjadi penyihir terkuat. Akan tetapi, secara mengejutkan, Harry mematahkan The Elder Wand tersebut dan membuangnya ke ngarai. Tidak ada lagi orang yang bisa memanfaatkannya.

Kesimpulannya hanya satu, Harry Potter tidak mau menjadi penyihir terkuat, karena itu tidak pernah menjadi impiannya dan bukan kepribadiannya.

Kisah Harry Potter ini memang lebih dari sekedar cerita sihir.

Perubahan dalam Prosesnya

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , , on May 31, 2011 by hzulkarnain

Catatan akhir Mei 2011: Pendidikan dan Kebangkitan Nasional

40,9 prosen responden merasa puas dengan pemerintahan orde baru di bawah kepemimpinan Presiden Suharto. Demikian ungkap Indobarometer dalam survei mereka yang bertajuk 13 tahun reformasi dan 18 bulan pemerintahan Presiden SBY. Karuan saja hasil ini langsung menuai kontroversi, bahkan lembaga survei ini dituding mengusung kepentingan tertentu.

Survei yang dilakukan sejak akhir April hingga awal Mei tersebut, menurut Muhammad Qadari sang direktur, mencakup 33 propinsi dengan responden sekitar 1200 orang dengan margin of error sebesar kurang lebih 3,0 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Artinya, Indobarometer menganggap hasil survei ini valid dan reliabel.

Di luar kontroversi yang timbul, dan di luar benar salahnya versi masing-masing penilai, saya pribadi merasa prihatin dengan kelakuan yang pintar-pintar bodoh seperti ini. Pintar karena survei ini pastinya menggunakan ilmu dan teknologi yang mumpuni, dan pintar karena menangkap peluang menjadi sensasi. Bodoh karena survei yang dilakukan tersebut tanpa manfaat yang jelas. Kalau sudah diketahui responden lebih suka pada masa dan pemerintahan rezim Suharto, so what? Tidak mengherankan bila ada yang menduga survei ini mengandung “pesan sponsor” dari pihak-pihak tertentu.

Sedikit lagi mengomentari proses survei tersebut, ada 2 kejanggalan yang menurut saya agak parah. Yang pertama soal keterwakilan. Bila Indonesia punya 200 juta jiwa penduduk, angka 1200 yang dipakai sebagai responden hanyalah 0,000006-nya. Sah saja kalau lembaga survei ini berkilah bahwa, 40 prosen tadi dari responden – bukan penduduk Indonesia. Sebab sudah pasti, angka yang jauh di bawah nilai 1% penduduk Indonesia tadi sudah pasti tidak representatif. Dari sini saja sudah terlihat betapa sia-sia survei ini.

Hal kedua adalah pola penjaringan responden. Kalau yang ditanya adalah orang yang berusia awal dua puluhan (apalagi kurang dari usia itu), bagaimana mereka bisa merasa dengan pasti kondisi jaman orde baru, apalagi membandingkan dengan kondisi orde baru. Sebab, saat orde baru tumbang, responden ini berumur kurang dari sepuluh tahun, bahkan ada yang mungkin baru masuk SD. Apalagi kalau mereka ditanya soal orde lama, sungguh tidak masuk akal – karena mungkin orang tua mereka pun tidak banyak yang menikmati masa-masa itu.

Beberapa tahun silam, ada pendapat yang mengatakan bahwa Indonesia ini sangat beruntung karena memiliki pemimpin yang sesuai dengan jamannya. Saat baru saja merdeka, jaman kisruh, dan rawan terpecah belah, muncul sosok Soekarno yang keras, cerdas, dan nasionalis. Dengan kepiawaiannya berpidato, beliau menyihir penduduk untuk tetap mematuhi pemerintah sekalipun ekonomi Indonesia berada di titik nadir – yang ditandai dengan sanering di awal 60-an akibat inflasi gila-gilaan. Selama berkuasa dua puluh tahunan, Indonesia memiliki beberapa landmark yang kita kenali sampai sekarang – misalnya monumen nasional, masjid Istiqlal, gereja Katedral, dan patung-patung heroik di banyak jalur protokol di Jakarta. Di sisi lain, pembangunan ekonomi seperti tidak tampak. Meskipun bukan seorang militer, namun Bung Karno suka mengenakan jas berdekorasi atribut kemiliteran. .

Di masa orde baru, Pak Harto memilih pendekatan yang berbeda. Karakter pak Harto berseberangan dengan Bung Karno – kecuali kecerdasannya. Pak Harto terkenal dengan tuturnya yang lembut, mendudukkan pembangunan ekonomi di atas prioritas lainnya, dan ada rencana pembangunan lima tahunan sebagai arah pembangunan bangsa. Akibatnya, ekonomi Indonesia menjadi lebih maju. Beliau bukan seorang orator, tetapi pemikir. Beliau seorang militer, namun lebih suka berpakaian sipil dan jauh dari kesan militeristik.

Coba bayangkan bila Indonesia dianugerahi pemimpin yang tidak cocok dengan masanya; Pak Harto hidup di masa Bung Karno yang bergolak, sementara Bung Karno memimpin Indonesia di masa damai.

Tahun 1998 adalah milestone sejarah bangsa ini. Sebuah drama besar terjadi, saat Pak Harto terpaksa mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden setelah berkuasa sejak 1966. Bila dulu Bung Karno lengser setelah kasus G-30S PKI, yang menelan jiwa jenderal dan perwira angkatan darat, Pak Harto harus lengser setelah kerusuhan sosial dan pergerakan bangsa ini yang meminta reformasi. Dua-duanya turun dari kursi kepresidenan secara tidak wajar, setelah berkuasa lama. Inilah yang kemudian direvisi pasca reformasi – kekuasaan presiden hanya boleh maksimum 2 periode.

Orang sering tidak sabar dengan proses yang berjalan, apalagi bila selama proses tersebut ada hal-hal negatif yang terjadi. Selama 13 tahun pasca reformasi, Indonesia telah menuai setonggak demi setonggak kemajuan; dalam hal demokrasi, transparansi hukum, ekonomi makro, hak asasi manusia, dan sebagainya – namun secara substansial sering dikaburkan oleh pemberitaan tak berimbang media massa. Akan tetapi, ada yang belum banyak bergerak dari urutan Indonesia dalam daftar negara-negara bermasalah di dunia – karena mungkin sudah membudaya: yakni korupsi, kolusi, nepotisme.

Seorang teman berkomentar, bila dulu korupsi sudah bisa diduga orang-orangnya, sekarang ini kondisinya lebih parah: korupsi berjamaah. Kalau dulu korupsi didominasi oleh para birokrat, termasuk kroni penguasa, sekarang ini ditambah lagi dengan para legislator di Senayan. Semakin transparan pemberitaan, kian terang sepak terjang mereka di mata publik. Anehnya, para pelaku ini seperti tidak tersentuh hukum, tetap bisa berpakaian perlente, dan tetap berkuasa.

Dengan memasuki persaingan global, Indonesia harus memperkuat keuangan, salah satunya dengan mengurangi atau menghilangkan subsidi dari beberapa pos, namun hilangnya subsidi bagi perguruan tinggi menjadikan pendidikan di negeri ini sangat mahal. Perguruan tinggi negeri seperti diswasta-kan, dan karena mereka boleh mencari sumber keuangan sendiri, akibatnya uang masuk ke PTN bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Sungguh suatu kebijakan yang tidak masuk akal!!! Mungkin, kalau Ki Hajar Dewantara masih ada, beliau akan menangis. Bagaimana tidak? Pendidikan sudah menjadi ajang bisnis, dan bisnis menjadi bagian dari pendidikan. Bila pendidikan sudah sedemikian mahalnya, lantas bakat-bakat muda yang brilian akan dikemanakan?

Apakah arah pendidikan di Indonesia sudah jelas? Itu juga pertanyaan yang harus dijawab. Bagaimana mungkin mau jelas, sementara negara ini tidak punya lagi garus-garis besr haluan negara seperti jaman orde baru … well, untuk yang satu ini kita harus angkat topi pada tatanan pemerintahan saat itu. Dengan tidak adanya haluan negara, pantaslah pendidikan nasional tidak punya cetak biru. Industri nasional tidak punya strategi. Pertanian dan perikanan yang dulu menjadi penopang kesejahteraan sekarang menjadi masalah baru kemiskinan.

Dalam periode 2 kali masa pemerintahan, yang berarti hanya sekitar 10 tahun, rasanya tidak akan banyak presiden yang mampu membuat kebijakan yang langsung bisa mengangkat kesejahteraan rakyat. Seharusnya ini bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah, namun juga parlemen, birokrat, dan segenap jajaran pengambil keputusan di pusat dan daerah. Amerika yang bekas anak jajahan bisa maju, dengan sistem demokrasi modern, dengan batasan masa kepredidenan juga, karena bukan hanya pemerintah yang memikirkan nasib rakyat. Justru parlemen lah yang memegang peranan paling penting, karena mereka seharusnya menjadi wakil rakyat, mendengarkan keluhan rakyat, dan bertindak atas nama rakyat.

Beberapa bulan lagi, Indonesia akan berusia 66 tahun … usia yang cukup tua untuk manusia namun cukup muda untuk sebuah bangsa. Kita perlu memegang optimisme itu! Artinya, jalan bangsa ini menuju ke kondisi yang baik masih terbuka, asalkan kita mulai memperbaikinya sekarang. Mulai dari diri sendiri, kita harus mengikis korupsi, kolusi, dan nepotisme yang kita sendiri tidak suka. Jangan nantinya kita yang lantang berteriak anti KKN ternyata justru masuk ke dalamnya, ketika ada kesempatan – dan mungkin itulah yang terjadi di Senayan sekarang. Pembangunan bangsa ini bukan semata tugas pemerintah pusat, tetapi daerah juga memegang kendali karena sudah banyak hal yang otonomi sekarang.

Masa lalu adalah sejarah, dan kita tidak bisa kembali ke sana. Yang ada hanyalah sekarang dan masa depan. Kalau ada keindahan di masa lalu … itu hanyalah fatamorgana! Bila sekarang kita menginjak kerikil tajam, terantuk batu besar, terjerembab dan menderita, itulah realita. Semoga dengan kita tahu ada onak dan duri di jalan, kita menjadi lebih bijak. Semua ini adalah proses menjadi dewasa dan lebih baik – itu saya yakini. Di depan kita … kalau tidak di masa kita mungkin di era anak cucu kita … ada harapan yang tak bertepi. Mungkin tugas kita adalah menanam sebiji buah mangga, agar anak kita yang merasakan ranumnya. Allah Ta’ala yang memegang keputusan, namun kita sebagai mahluk wajib berikhtiar, dan nasib Indonesia ada di tangan kita semua. Bukankah Allah tidak akan mengubah suatu kaum, bila kaum itu sendiri tidak mengubahnya?