Archive for the Kontemplasi Category

SEA Games dan Kebangkitan

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , , on November 16, 2011 by hzulkarnain

INDONESIA BISA!

Begitulah slogan yang didengungkan bangsa ini untuk mendukung para atlit Indonesia di kancah SEA Games. Kita pernah menjadi tuan rumah dan gagal menjadi juara umum, dan secara memalukan harus menundukkan kepala dibantai negara-negara jiran di tanah sendiri. Padahal, bangsa ini besar, kuat, dan punya tradisi juara di kancah perhelatan olah raga se-Asia Tenggara. Sekarang, Indonesia menjadi tuan rumah lagi dan inilah saatnya untuk membuktikan bahwa kita masih punya tradisi juara itu.

Yang lebih membanggakan daripada sekedar memenangkan kejuaraan adalah ketetapan dari petinggi yang mengurusi olahraga untuk memunculkan bibit-bibit baru atlit mendampingi para veteran dalam laga internasional ini. Dan, pada kenyataannya, bibit-bibit muda atlit Indonesia telah menunjukkan kapasitas positif yang membanggakan – di hampir semua cabang olahraga. Misalnya, juara lari 100 meter putra dan putri dengan sangat membanggakan jatuh ke tangan atlit muda kita, yakni Franklin Ramses Burumi dan Serafi Anelis Unani. Beberapa cabang di luar atletik yang juga bersifat non-permainan seperti dayung, renang, dan sepatu roda menyumbangkan banyak medali emas oleh para atlit yang tidak terlalu kita kenal namanya.

Bangga… itu pasti. Akan tetapi, kita ingat bahwa beberapa saat sebelum perhelatan ini dimulai begitu banyak masalah yang terjadi di Palembang yang menyebabkan munculnya pesimisme. Mulai dari pembangunan wisma atlit yang diterpa isu korupsi, gelanggang yang belum siap, infrastruktur yang belum beres, dan banyak lagi. Bahkan sekarang pun, saat SEA Games sudah berlangsung, masih sangat terlihat kondisi yang apa adanya, asal memenuhi syarat. Tidak ada kemewahan dan keindahan yang memberikan kesan.

Para atlit mengeluhkan katering, angkutan antar venue yang berusaha ramah lingkungan tetapi disiapkan ala kadarnya, suasana kompleks olahraga yang masih gersang, kering, dan panas, dan macam-macam lagi. Untungnya … prestasi anak bangsa yang bertanding moncer. Dampaknya, khalayak boleh sedikit melupakan penilaian negatif tentang fasilitas di Jakabaring.

Inikah kebangkitan kembali olahraga bangsa ini? Kita harapkan demikian. Kita bahkan sudah mulai lupa, kapan kita ini bangga dengan prestasi anak negeri di bidang olahraga. Padahal penduduk Indonesia ini hanya kalah oleh China, India, dan Amerika Serikat di dunia. Sementara prestasi kelas dunia hampir tidak ada yang diukir oleh orang Indonesia (atau memang malah tidak ada?).

Saat sang merah putih berkibar, Indonesia Raya berkumandang, bahkan pemirsa televisi di rumah bisa menitikkan airmata tanda keharuan. Menjadi superior di antara bangsa lain merupakan kebanggan sekaligus cita-cita kita bersama, dan ajang olahraga adalah pembuktian yang nyata.

Unsur dasar olahraga adalah atletik, yaitu: lari, lempar, lompat, dan jalan, yang pada ujungnya berbicara soal kekuatan. Struktur tubuh orang Asia Tenggara pada dasarnya memang kurang ideal untuk mencapai prestasi puncak dalam olahraga, bila dibandingkan dengan ras kaukasia dan negro. Tidak mengherankan, negara-negara yang mayoritas berkulit putih dan hitam mendominasi kekuatan olahraga sejagat. Atlit berkulit putih terkenal dalam olah raga senam, renang, atletik, dan beberapa cabang olahraga permainan. Atlit negro Amerika dan Karibia terkenal dalam lari jarak pendek dan menengah, beberapa olah raga permainan, termasuk tinju.

Ras kuning dari Asia Timur belakangan juga menyusul, sekalipun masih belum sekuat ras putih dan hitam. China, Jepang, dan Korea adalah naga-naga Asia yang terbangun dan menggetarkan dunia. Jangankan dalam olimpiade, di level Asia saja (Asian Games) terbukti sulitnya orang-orang Asia Tenggara menembus dominasi ras kuning tersebut.

Namun demikian, perlu dicatat bahwa tidak semua cabang olahraga membutuhkan struktur otot besar, bahkan tidak ada hubungannya dengan besarnya otot misalnya panahan, menembak, tenis meja, bulu tangkis, dsb. Di luar bulu tangkis, ternyata prestasi atlit kita masih terhitung payah, belum konsisten. Seharusnya, di cabang-cabang yang tidak membutuhkan kekuatan otot seperti ini kita bisa menonjol hingga di tingkat dunia.

Nikmati dan syukuri yang ada. Itu adalah kata-kata bijak dari ajaran agama agar manusia tidak meratapi kekurangan dan mengharapkan kelebihan yang berada di luar jangkauan. Kalau memang orang Indonesia hanya bisa berprestasi di kancah Asia Tenggara … biar saja! Para pemuka daerah, petinggi negeri, dan pemimpin organisasi olahraga harus bertanggung jawab menemukan bibit-bibit atlit baru di segenap bumi Indonesia … agar muncul nama-nama baru menyegarkan jagat olahraga Indonesia.

Semoga!

Advertisements

Harry Potter dan Sihir (1)

Posted in Kisah, Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , , on August 9, 2011 by hzulkarnain

Expecto Patronum!

Seberkas cahaya putih meluncur dari tongkat sihir Harry Potter, menjelma menjadi wujud siluet rusa jantan besar yang putih cemerlang, dan melindunginya dari serangan para dementor. Itulah mantera patronus yang luar biasa.

expecto patronum!

Kira-kira demikian deskripsi dalam novel Harry Potter tentang salah satu mantera di dalamnya. Harry Potter telah menjadi fenomena dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Dari sekedar sebuah novel, yang awalnya ditolak penerbit tetapi kemudiaan booming menjadi best seller, nama ini menjelma menjadi bahan baku industri hiburan yang menjamin kelarisan. Bisa dibayangkan kaya rayanya JK Rowling sang pengarang dan pemilik hak cipta tokoh rekaan ini.

Pada bulan Juli ini, sekuel terakhir film Harry Potter dari novel terakhirnya telah ditayangkan di berbagai negara di dunia, kecuali Indonesia (karena masalah perijinan). Khalayak penggemar Harry Potter telah menantikannya, dan dunia seperti tersihir oleh bocah ahli sihir ini.

Sejak pemutaran perdana di Indonesia, animo penggemar Harry Potter sangat luar biasa, bahkan dalam sebuah gedung cineplex film ini bisa ditayangkan lebih dari sebuah studio … dan semuanya penuh hingga pertunjukan terakhir. Untuk bisa memperoleh tempat duduk yang enak, jangan sampai telat mengantre …. Semua orang ingin melihat akhir kisah yang melegenda ini, dan bagaimana Harry Potter yang masih hijau akan mengalahkan musuh bebuyutannya yang berjuluk pangeran kegelapan: Lord Voldemort.

Wajar bila banyak yang bertanya dengan penasaran, apa sih yang menarik dari Harry Potter ini?

Saat novel pertamanya keluar sekitar tahun 1997, dunia heboh. Bahkan langsung jadi demam di banyak negara termasuk Indonesia. Saya tidak tertarik, karena pikir saya itu hanya novel yang bercerita tentang anak-anak … apa sih menariknya? Soal sihirnya … ah, itu paling hanya tempelan saja. Tidak akan jauh bedanya dengan kisah anak-anak detektif, bocah petualang, dan semacamnya seperti kisah rekaan Enyd Blyton (Lima Sekawan, Sapta Siaga) atau Alfred Hitchcock (Trio detektif).

Kehebohan yang sama terjadi saat film novel pertama ini diangkat ke layar lebar. Saya juga tidak serta merta menengoknya, karena pemikiran yang sama. Namun demikian, saat sebuah tv kabel menayangkannya, saya menontonnya juga (karena tidak film lain yang bagus). Satu hal yang langsung saya sadari, bahwa teknologi film sudah sedemikian maju sehingga film di eran millennium jauh lebih maju dalam special effect daripada dekade sebelunya. Dan … memang inilah salah satu kekuatan film Harry Potter. Hagrid yang setengah raksasa, kaum goblin penjaga bank, anjing kepala tiga, centaur, semuanya bisa disajikan secara apik. Belum lagi trik loncatan bunga api dari tongkat sihir, terbang dengan sapu, serta perubahan bentuk yang alami. Film ini langsung merebut hati saya.

Ada sebuah pesan moral yang tersampaikan pada film itu, bahwa karakter Harry Potter berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia memang tidak sepintar Hermione dalam pelajaran sihir, bahkan cenderung naif dan minder. Akan tetapi, selain punya bakat bocah ini sangat tulus dan setia kawan. Ia berani menempuh bahaya apapun untuk menolong teman, dan menjunjung kebenaran. Sihir yang diangkat dalam film ini … seperti dugaan saya – hanya menjadi latar belakang kisah, tetapi dibentuk secara solid.

JK Rowling, wanita pengarangnya yang asli Inggris, tampaknya besar dalam lingkungan yang mempercayai sesuatu yang gaib (agak beda dengan orang Barat pada umumnya), hendak mengatakan bahwa sihir adalah milik orang-orang yang punya bakat (berbakat besar maupun kecil). Orang awam, yang tidak bisa sihir dan tidak mengenal sihir, disebut dengan muggle. Kaum sihir punya komunitas, bahkan komunitas ini sangat besar, sehingga harus diatur oleh kementrian sihir. Komunitas ini berdampingan dengan orang awam, tetapi kegiatan mereka tersembunyi, terselubung, atau tersamar. Kaum sihir sengaja menyembunyikan jati diri mereka, dan tinggal tersamar melalui trik sihir.

Bakat sihir, menurut Rowling, bisa diwarisi dari kedua orang tua, salah satu dari orang tua, atau mungkin dari leluhurnya (karena kedua orang tuanya adalah muggle). Salah satu aspek terpenting dalam sihir adalah tongkat sihir, dan tidak sembarang orang bisa membuatnya (mungkin di sini dibuat hanya oleh empu). Tongkat sihir punya kekuatan gaib karena di intinya terdapat elemen dari mahluk-mahluk mitos, misalnya bulu burung phoenix (seperti tongkat sihir Harry Potter dan Voldemort), surai unicorn, otot jantung naga, dsb. Penyihir tidak bisa memilih tongkat, tapi tongkat sihir lah yang memilih orang yang memegangnya. Karena itu, agaknya seorang tanpa bakat tidak akan bisa mengeluarkan kekuatan sebuah tongkat sihir.

Dalam kisah JK Rowling ini, sihir punya sekolah formal, layaknya sekolah kejuruan pada umumnya. Sihir tidak didapatkan dengan bertapa dan menyepi, tetapi mengolah bakat yang sudah ada di dalam diri para murid. Semua mantera dan keahlian sihir dipelajari, dicermati, dihayati, dieksperimen-kan, dan akhirnya dikembangkan sendiri. Mereka yang mampu mengembangkan sihir mereka akan sukses sebagai penyihir. Di Inggris, sekolah sihirnya bernama Hogwarts, dengan kepala sekolah dan guru-guru yang bergelar profesor – dan mengajar sesuai dengan keahliannya masing-masing. Ada yang mengajar ramuan, ilmu tumbuhan (herbology), transfigurasi (perubahan bentuk), pertahanan terhadap ilmu hitam, ramalan, dsb. Akan tetapi, ada juga sport yang menjadi andalan, layaknya sepakbola yang dinamakan quidditch, degan aspek sihir berupa penggunaan sapu terbang. Bangunan sekolah yang luas mirip kastil abad pertengahan juga menjadi asrama bagi siswa-siswa sihir hingga lulus di tahun ke-tujuh.

Novel JK Rowling ini menurut saya unik, karena mampu membangun suasana hati dan sikap pembacanya. Tidak banyak novelis seperti ini, dan JK Rowling ternyata punya bakat yang kuat. Novel dan film Harry Potter di awal-awal terasa ceria, ada sifat anak-anak yang usil, nakal, lucu, tapi tetap serius. Seiring dengan bertambah dewasanya sang protagonis, novel berikutnya terasa lebih berat (dan halaman buku juga lebih tebal). Ada nuansa kelam yang menyelimuti jalannya cerita, banyak kepahitan, kematian, apalagi para penyihir hitam yang tergabung dalam dead eaters (pelahap maut) semakin kuat. Terlebih lagi setelah sang pemimpin Lord Voldemort bangkit dari kondisi hampir matinya. Bahkan penyihir terhebat seperti Profesor Dumbledore sang kepala sekolah Hogwarts harus berupaya keras mecari tahu kelemahan pangeran kegelapan itu, untuk melindungi Harry Potter dan dunia sihir agar tetap bersih.

Sekolah sihir Hogwarts, dan sekolah-sekolah sihir lain di Eropa sebenarnya hanya mengajarkan sihir yang baik, bahkan hanya mantra-mantra ringan yang diajarkan di tingkat dasar. Akan tetapi, tetap saja ada sisi kelam dari dunia sihir ini yang rahasianya berhasil diungkap oleh Voldemort muda dan menjadikannya master dalam sihir hitam – padahal dia dulunya adalah siswa Hogwarts semasa muda. Sihir hitam (the dark arts) dipelajarinya sendiri, dan sihir paling hitam adalah horcrux, yakni membelah jiwa dan memasukkannya ke dalam sebuah benda. Tujuannya adalah kehidupan yang abadi. Sebab, bila sebuah jiwa mati masih ada jiwa lain yang siap dibangkitkan. Untuk bisa membelah jiwa dan menyimpannya dalam horcrux, ada satu syarat yang mengerikan … pelakunya harus membunuh seseorang. Karena tidak bisa mati inilah Voldemort sangat ditakuti.

Harry Potter dan teman-teman setianya

Inti dari kisah perjalanan hidup Harry Potter adalah pertarungan kelompok putih dan kelompok hitam, kebaikan lawan angkara murka. Beberapa pesan moral yang dimuatnya antara lain:

  • Asal-usul mungkin penting tetapi jauh lebih penting lagi adalah kesungguhan diri sendiri dalam membentuk kepribadian. Siapa kita, tidak tergantung orang tua kita …. tetapi cara kita mengisi kehidupan ini.
  • Harry Potter berbakat dalam ilmu hitam (dark arts), tetapi ia memilih untuk tidak menggunakannya. Untuk bisa melafalkan mantera sihir hitam, pelakunya harus punya keyakinan bulat untuk mencelakai orang lain.
  • Semakin tinggi kemampuan Harry Potter kian jauh dia dari pamrih pribadi, dan semua kesengsaraan ditanggungnya untuk mengalahkan bencana semua penyihir: Voldemort.
  • Orang yang terbaik bukan yang paling pintar, tapi orang yang paling care pada orang lain. Itulah yang menjadikan Harry Potter dibenci lawannya dan dicintai teman-temannya.

Di akhir film Deathly Hallows (part 2), Harry Potter yang memegang tongkat sihir terkuat The Elder Wand menjelaskan bahwa tongkat itu tidak bisa ditaklukkan oleh Voldemort yang mengambilnya dari peti mati Dumbledore, karena tongkat itu sudah memilih tuan – yakni Harry Potter. Dengan tongkat itu, sebenarnya Harry Potter bisa menjadi penyihir terkuat. Akan tetapi, secara mengejutkan, Harry mematahkan The Elder Wand tersebut dan membuangnya ke ngarai. Tidak ada lagi orang yang bisa memanfaatkannya.

Kesimpulannya hanya satu, Harry Potter tidak mau menjadi penyihir terkuat, karena itu tidak pernah menjadi impiannya dan bukan kepribadiannya.

Kisah Harry Potter ini memang lebih dari sekedar cerita sihir.

Perubahan dalam Prosesnya

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , , on May 31, 2011 by hzulkarnain

Catatan akhir Mei 2011: Pendidikan dan Kebangkitan Nasional

40,9 prosen responden merasa puas dengan pemerintahan orde baru di bawah kepemimpinan Presiden Suharto. Demikian ungkap Indobarometer dalam survei mereka yang bertajuk 13 tahun reformasi dan 18 bulan pemerintahan Presiden SBY. Karuan saja hasil ini langsung menuai kontroversi, bahkan lembaga survei ini dituding mengusung kepentingan tertentu.

Survei yang dilakukan sejak akhir April hingga awal Mei tersebut, menurut Muhammad Qadari sang direktur, mencakup 33 propinsi dengan responden sekitar 1200 orang dengan margin of error sebesar kurang lebih 3,0 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Artinya, Indobarometer menganggap hasil survei ini valid dan reliabel.

Di luar kontroversi yang timbul, dan di luar benar salahnya versi masing-masing penilai, saya pribadi merasa prihatin dengan kelakuan yang pintar-pintar bodoh seperti ini. Pintar karena survei ini pastinya menggunakan ilmu dan teknologi yang mumpuni, dan pintar karena menangkap peluang menjadi sensasi. Bodoh karena survei yang dilakukan tersebut tanpa manfaat yang jelas. Kalau sudah diketahui responden lebih suka pada masa dan pemerintahan rezim Suharto, so what? Tidak mengherankan bila ada yang menduga survei ini mengandung “pesan sponsor” dari pihak-pihak tertentu.

Sedikit lagi mengomentari proses survei tersebut, ada 2 kejanggalan yang menurut saya agak parah. Yang pertama soal keterwakilan. Bila Indonesia punya 200 juta jiwa penduduk, angka 1200 yang dipakai sebagai responden hanyalah 0,000006-nya. Sah saja kalau lembaga survei ini berkilah bahwa, 40 prosen tadi dari responden – bukan penduduk Indonesia. Sebab sudah pasti, angka yang jauh di bawah nilai 1% penduduk Indonesia tadi sudah pasti tidak representatif. Dari sini saja sudah terlihat betapa sia-sia survei ini.

Hal kedua adalah pola penjaringan responden. Kalau yang ditanya adalah orang yang berusia awal dua puluhan (apalagi kurang dari usia itu), bagaimana mereka bisa merasa dengan pasti kondisi jaman orde baru, apalagi membandingkan dengan kondisi orde baru. Sebab, saat orde baru tumbang, responden ini berumur kurang dari sepuluh tahun, bahkan ada yang mungkin baru masuk SD. Apalagi kalau mereka ditanya soal orde lama, sungguh tidak masuk akal – karena mungkin orang tua mereka pun tidak banyak yang menikmati masa-masa itu.

Beberapa tahun silam, ada pendapat yang mengatakan bahwa Indonesia ini sangat beruntung karena memiliki pemimpin yang sesuai dengan jamannya. Saat baru saja merdeka, jaman kisruh, dan rawan terpecah belah, muncul sosok Soekarno yang keras, cerdas, dan nasionalis. Dengan kepiawaiannya berpidato, beliau menyihir penduduk untuk tetap mematuhi pemerintah sekalipun ekonomi Indonesia berada di titik nadir – yang ditandai dengan sanering di awal 60-an akibat inflasi gila-gilaan. Selama berkuasa dua puluh tahunan, Indonesia memiliki beberapa landmark yang kita kenali sampai sekarang – misalnya monumen nasional, masjid Istiqlal, gereja Katedral, dan patung-patung heroik di banyak jalur protokol di Jakarta. Di sisi lain, pembangunan ekonomi seperti tidak tampak. Meskipun bukan seorang militer, namun Bung Karno suka mengenakan jas berdekorasi atribut kemiliteran. .

Di masa orde baru, Pak Harto memilih pendekatan yang berbeda. Karakter pak Harto berseberangan dengan Bung Karno – kecuali kecerdasannya. Pak Harto terkenal dengan tuturnya yang lembut, mendudukkan pembangunan ekonomi di atas prioritas lainnya, dan ada rencana pembangunan lima tahunan sebagai arah pembangunan bangsa. Akibatnya, ekonomi Indonesia menjadi lebih maju. Beliau bukan seorang orator, tetapi pemikir. Beliau seorang militer, namun lebih suka berpakaian sipil dan jauh dari kesan militeristik.

Coba bayangkan bila Indonesia dianugerahi pemimpin yang tidak cocok dengan masanya; Pak Harto hidup di masa Bung Karno yang bergolak, sementara Bung Karno memimpin Indonesia di masa damai.

Tahun 1998 adalah milestone sejarah bangsa ini. Sebuah drama besar terjadi, saat Pak Harto terpaksa mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden setelah berkuasa sejak 1966. Bila dulu Bung Karno lengser setelah kasus G-30S PKI, yang menelan jiwa jenderal dan perwira angkatan darat, Pak Harto harus lengser setelah kerusuhan sosial dan pergerakan bangsa ini yang meminta reformasi. Dua-duanya turun dari kursi kepresidenan secara tidak wajar, setelah berkuasa lama. Inilah yang kemudian direvisi pasca reformasi – kekuasaan presiden hanya boleh maksimum 2 periode.

Orang sering tidak sabar dengan proses yang berjalan, apalagi bila selama proses tersebut ada hal-hal negatif yang terjadi. Selama 13 tahun pasca reformasi, Indonesia telah menuai setonggak demi setonggak kemajuan; dalam hal demokrasi, transparansi hukum, ekonomi makro, hak asasi manusia, dan sebagainya – namun secara substansial sering dikaburkan oleh pemberitaan tak berimbang media massa. Akan tetapi, ada yang belum banyak bergerak dari urutan Indonesia dalam daftar negara-negara bermasalah di dunia – karena mungkin sudah membudaya: yakni korupsi, kolusi, nepotisme.

Seorang teman berkomentar, bila dulu korupsi sudah bisa diduga orang-orangnya, sekarang ini kondisinya lebih parah: korupsi berjamaah. Kalau dulu korupsi didominasi oleh para birokrat, termasuk kroni penguasa, sekarang ini ditambah lagi dengan para legislator di Senayan. Semakin transparan pemberitaan, kian terang sepak terjang mereka di mata publik. Anehnya, para pelaku ini seperti tidak tersentuh hukum, tetap bisa berpakaian perlente, dan tetap berkuasa.

Dengan memasuki persaingan global, Indonesia harus memperkuat keuangan, salah satunya dengan mengurangi atau menghilangkan subsidi dari beberapa pos, namun hilangnya subsidi bagi perguruan tinggi menjadikan pendidikan di negeri ini sangat mahal. Perguruan tinggi negeri seperti diswasta-kan, dan karena mereka boleh mencari sumber keuangan sendiri, akibatnya uang masuk ke PTN bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Sungguh suatu kebijakan yang tidak masuk akal!!! Mungkin, kalau Ki Hajar Dewantara masih ada, beliau akan menangis. Bagaimana tidak? Pendidikan sudah menjadi ajang bisnis, dan bisnis menjadi bagian dari pendidikan. Bila pendidikan sudah sedemikian mahalnya, lantas bakat-bakat muda yang brilian akan dikemanakan?

Apakah arah pendidikan di Indonesia sudah jelas? Itu juga pertanyaan yang harus dijawab. Bagaimana mungkin mau jelas, sementara negara ini tidak punya lagi garus-garis besr haluan negara seperti jaman orde baru … well, untuk yang satu ini kita harus angkat topi pada tatanan pemerintahan saat itu. Dengan tidak adanya haluan negara, pantaslah pendidikan nasional tidak punya cetak biru. Industri nasional tidak punya strategi. Pertanian dan perikanan yang dulu menjadi penopang kesejahteraan sekarang menjadi masalah baru kemiskinan.

Dalam periode 2 kali masa pemerintahan, yang berarti hanya sekitar 10 tahun, rasanya tidak akan banyak presiden yang mampu membuat kebijakan yang langsung bisa mengangkat kesejahteraan rakyat. Seharusnya ini bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah, namun juga parlemen, birokrat, dan segenap jajaran pengambil keputusan di pusat dan daerah. Amerika yang bekas anak jajahan bisa maju, dengan sistem demokrasi modern, dengan batasan masa kepredidenan juga, karena bukan hanya pemerintah yang memikirkan nasib rakyat. Justru parlemen lah yang memegang peranan paling penting, karena mereka seharusnya menjadi wakil rakyat, mendengarkan keluhan rakyat, dan bertindak atas nama rakyat.

Beberapa bulan lagi, Indonesia akan berusia 66 tahun … usia yang cukup tua untuk manusia namun cukup muda untuk sebuah bangsa. Kita perlu memegang optimisme itu! Artinya, jalan bangsa ini menuju ke kondisi yang baik masih terbuka, asalkan kita mulai memperbaikinya sekarang. Mulai dari diri sendiri, kita harus mengikis korupsi, kolusi, dan nepotisme yang kita sendiri tidak suka. Jangan nantinya kita yang lantang berteriak anti KKN ternyata justru masuk ke dalamnya, ketika ada kesempatan – dan mungkin itulah yang terjadi di Senayan sekarang. Pembangunan bangsa ini bukan semata tugas pemerintah pusat, tetapi daerah juga memegang kendali karena sudah banyak hal yang otonomi sekarang.

Masa lalu adalah sejarah, dan kita tidak bisa kembali ke sana. Yang ada hanyalah sekarang dan masa depan. Kalau ada keindahan di masa lalu … itu hanyalah fatamorgana! Bila sekarang kita menginjak kerikil tajam, terantuk batu besar, terjerembab dan menderita, itulah realita. Semoga dengan kita tahu ada onak dan duri di jalan, kita menjadi lebih bijak. Semua ini adalah proses menjadi dewasa dan lebih baik – itu saya yakini. Di depan kita … kalau tidak di masa kita mungkin di era anak cucu kita … ada harapan yang tak bertepi. Mungkin tugas kita adalah menanam sebiji buah mangga, agar anak kita yang merasakan ranumnya. Allah Ta’ala yang memegang keputusan, namun kita sebagai mahluk wajib berikhtiar, dan nasib Indonesia ada di tangan kita semua. Bukankah Allah tidak akan mengubah suatu kaum, bila kaum itu sendiri tidak mengubahnya?

Islam Yang Humanis

Posted in Kontemplasi, Sharing, Tausiyah with tags , , , , on April 17, 2011 by hzulkarnain

Herdian Zulkarnain

Pada hari Jumat kemarin, lembar Jumat yang disediakan secara gratis bagi jama’ah punya judul yang tidak terlalu istimewa: Wajib Mencitai Sesama Muslim. Tapi, isi di dalamnya ternyata memberikan pencerahan yang luar biasa.

Pada suatu saat, Rasulullah SAW sedang bersama para sahabat saat seorang lelaki yang tidak familiar bagi para sahabat tersebut melintas. Artinya, tentunya orang tersebut bukanlah seseorang yang kerap mereka jumpai di masjid. Rasulullah lantas mengatakan bahwa orang itu adalah ahli surga. Bukan hanya sekali, hingga tiga kali beliau mengatakan hal tersebut.

Mungkin dengan agak bingung dan gusar, sahabat Abdullah bin Umar bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engka mengatakan itu kepada kami, padahal selama ini kami tidak pernah mengenalinya sebagai sahabatmu? Sedangkan terhadap kami sendiri yang selalu mendampingimu engkau tidak pernah mengatakan hal itu.”

Dengan bijak Rasulullah menjawab dengan singkat, “Jika engkau ingin tahu tentang apa yang aku katakan, silakan tanyakan sendiri padanya.”

Siapa yang tidak penasaran? Akhirnya Abdullah berkunjung ke rumah lelaki itu dan mengamatinya. Ternyata, selama di sana Abdullah bin Umar tidak melihat hal yang istimewa dalam ibadahnya. Karena tidak memperoleh informasi dari pengamatan, Abdullah kemudian mencari tahu secara verbal. Ia lantas bercerita tentang komentar Rasulullah atas dirinya tempo hari, saat dia melintas di depan Rasulullah. Apa jawaban lelaki itu?

kesederhanaan dalam cinta kasih

Dengan tersenyum ia berkata, “Sesungguhnya aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak punya kekayaan apa-apa, baik ilmu maupun harta yang bisa aku sedekahkan. Yang aku miliki hanyalah kecintaan. Kecintaan kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada sesama manusia. Dan setiap malam menjelang tidur, aku selalu berusaha menguatkan rasa cinta itu, sekaligus berusaha menghilangkan perasaan benci yang ada kepada siapa saja. Bahkan terhadap orang kafir sekalipun.

Sebuah sikap dan perilaku yang bersahaja dalam penegakan Islam di atas kaidahnya yang agung! Dengan jujur ia mengaku bukan ahli agama (sehingga tidak bisa mengajari orang lain), bukan ahli sedekah harta (karena termasuk orang yang miskin), dan bahkan Abdullah bin Umar pun menyaksikan bahwa caranya beribadah tidaklah istimewa (sehingga tidak bisa berlama-lama bersujud dan berkumpul dalam mejalis taklim karena mencari nafkah). Sampai di sini, lelaki itu memiliki ciri universal kebanyakan manusia di muka bumi ini yang: seorang pekerja atau buruh yang miskin dan tidak pandai. Tapi kecintaannya pada Allah, Rasulullah, dan kehidupan manusia sungguh membedakan dia dengan manusia lainnya.

Mungkin yang disampaikan dan dilakukan orang tersebut tidak canggih, tidak berhiaskan istilah yang muluk, bahkan tidak inspiratif karena dilakukan dalam diam sehingga tidak bisa disaksikan orang lain, tetapi dia telah menterjemahkan dengan akurat esensi Islam sebagai rahmatan lil alamin dan perwujudan hablum minallah – hablum minannas yang sebenarnya.

Sepenggal kisah dalam buletin Jumat itu menggugah kembali ingatan saya pada ucapan seorang teman, yang kala itu mengomentari kiprah Gus Dur. Sebagai seorang tokoh, tentu saja orang sekaliber Gus Dur selalu punya orang yang mengagumi dan membencinya. Orang yang mengagumi mengatakan bahwa beliau ini punya pemikiran yang dalam, luas, dan seringkali melebih jamannya. Bahkan ada yang menyebutnya seorang wali – karena seperti weruh sakdurunge winarah (tahu sebelum terjadi). Gus Dur juga seorang humanis sejati, yang selalu menempatkan sisi kemanusiaan dalam konteks ke-Islam-an yang menjadi pemahamannya. Uniknya, pengagum Gus Dur justru banyak datang dari agama lain, termasuk para ulamanya.

sang guru bangsa

Pihak yang membenci Gus Dur mengataka bahwa konsep pluralitas yang digembar-gemborkan Gus Dur telah melenceng dan melecehkan Islam – karena secara tekstual disebutkan bahwa agama yang diridhoi Allah di muka bumi adalah Islam. Cara bepikir Gus Dur yang meloncat-loncat, tidak patuh pada sistematika berpikir, membuatnya dianggap tidak bisa diandalkan dan akhirnya menjadi sasaran tembak lawan politiknya saat beliau menjabat sebagai Presiden. Anehnya, orang yang tidak suka pada Gus Dur adalah orang Islam sendiri, yang tidak menyukai gaya Gus Dur dalam menginterpretasikan Islam.

Teman saya, yang jelas merupakan pengagum Gus Dur, mengatakan: “Gus Dur itu hendak menanamkan merah putih di halaman orang Islam. Pada saat yang sama beliau ingin memayungkan Islam di bumi merah putih.” Interpretasi sederhana yang menggambarkan Gus Dur secara cukup lengkap.

Gus Dur selalu ingin berkata pada orang Islam di Indonesia bahwa negara ini berbasis demokrasi, nasionalisme, dan keragaman. Kita ini hidup berdampingan dengan orang-orang dari agama yang berbeda, tapi kita semua adalah mahluk ciptaan Allah. Pada saat yang sama, Gus Dur ingin mengatakan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Sekalipun bumi merah putih ini penuh keragaman, di bawah keagungan Islam sebagai agama yang dianut mayoritas warga, kehidupan selalu akan penuh keadilan dan ketenteraman.

Saat diterima oleh kaum Anshor di Madinah, siroh Nabi Muhammad menceritakan bagaimana pluralitas berjalan dengan baik di kota yang sebelumnya bernama Yatsrib itu. Sebagai agama baru yang cepat diterima, diadaptasi, dan diadopsi oleh para penduduk Madinah, Islam berdampingan dengan pemeluk nasrani dan yahudi. Sayangnya kaum yahudi yang merasa kuat kemudian mengkhianati perjanjian yang sudah disepakati sebelumnya sehingga terjadi perang.

Rasulullah sendiri selalu welas asih pada orang beragama lain, sekalipun secara pribadia dia dihina oleh mereka. Mungkin banyak yang sudah mengetahui kisah pengemis Yahudi buta yang selalu mencaci maki Rasulullah di pojok pasar, tetapi dengan telaten Rasulullah SAW justru datang setiap hari untuk menyuapinya dengan kurma masak hingga beliau wafat, tanpa orang Yahudi ini tahu identitas orang yang mengasihinya.

Setelah Rasulullah wafat, ada sahabat lain yang membantu Yahudi pengemis tua ini makan. Tapi Yahudi rewel ini malah marah-marah, “Kamu bukan orang yang biasa membantu aku. Tindak-tanduknya jauh lebih halus, dan dia melembutkan kurma yang disuapkan padaku dengan baik sehingga aku yang sudah tak bergigi ini bisa menelannya dengan mudah.”

Sahabat itu minta maaf, lantas menjelaskan bahwa orang yang selama ini membantunya telah wafat. Yahudi tua itu tentunya sangat terkejut. Dan lebih syok lagi setelah tahu bahwa orang itu adalah Muhammad, orang yang selalu dicaci makinya. Dengan tangisan keinsyafan, konon Yahudi tua itu akhirnya berikrar dua kalimah syahadat.

Orang punya kebebasan dalam menginterpretasikan Islam, sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Ada yang menyukai Islam dalam wujud tekstual seperti yang tertulis dalam kitab-kitab Allah dan sunnah Rasul, ada yang membumikan Islam secara esensial sesuai dengan bumi tempatnya berkembang, hingga sinkretisme yang dianggap kebenaran bagi sebagian orang. Dengan populasi terpadat ke-4 di dunia, Indonesia memiliki pemeluk Islam terbesar di dunia, dan untunglah mayoritas bangsa ini punya sifat dasar yang toleran sehingga tidak mudah menumpahkan darah orang lain. Mungkin media massa suka menggambarkan kelompok-kelompok ormas yang suka memaksakan kehendak mereka, tetapi karena pihak lain menanggapinya dengan bijak, ketegangan dan kekerasan tidak berlangsung lama apalagi berlarut-larut.

musyawarah - toleransi khas Indonesia

Kalaupun ada sejarah ketegangan dan pertumpahan darah antar agama, itu adalah lembaran yang memang tidak bisa dihindarkan lagi. Akan tetapi, dengan kejadian pahit itu semua pihak lantas mau belajar untuk lebih mengendalikan diri. Bibit perpecahan akan selalu ada, tetapi bila umat Islam selaku mayoritas senantiasa mengedepankan semangat Islam rahmatan lil alamin, maka seharusnya tidak perlu ada darah yang tertumpah.

Kalau kita melihat carut marutnya kondisi di Afrika Utara (Libya, Mesir, Tunisia), di jazirah Arab (Yaman, Bahrain, Irak, bahkan mulai mengancam negara lainnya), dan tentunya Pakistan dan Afghanistan, betapa bersyukurnya kita hidup di Indonesia. Betapa bersyukurnya kita memiliki pluralitas yang terkendali seperti ini, dan Indonesia dikenal di dunia sebagai negara Islam moderat serta dihormati di Barat maupun di antara negara-negara Islam sebagai penengah.

Bila kemudian kita mulai mendapati ekstremisme mulai berkembang di bumi kita ini, marilah kita mendoakan agar semuanya kembali pada konsep awal Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Membela Islam tidak harus dengan mengangkat senjata, karena sebenarnya pertumpahan darah adalah jalan terakhir yang ditempuh Rasulullah. Bila senjata sudah menjadi pilihan pertama dalam membela agama yang agung ini, maka penganut Islam di Indonesia mungkin sudah mulai kehilangan arah esensi rahmatan lil alamin yang mendasari Islam.

Bila Kekuasaan Bukan Lagi Amanat

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , , , , on February 26, 2011 by hzulkarnain

Dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan terakhir, Afrika Utara hingga jazirah Arab dilanda gelombang protes yang menginginkan perombakan kepemimpinan bangsa. Tunisia, Mesir, Yaman, Bahrain, dan yang terakhir adalah negara gurun yang selama ini dianggap “slilit” oleh Barat – Libya. Apakah gerakan itu murni berasal dari keresahan rakyat atau disponsori pihak asing … wallahu a’lam bishshawab ….

yang satu sudah lengser, yang lain terancam

Setelah Hosni Mubarak akhirnya mau mengalah, lengser dari kursi kepresidenan Mesir, tiba-tiba unjuk rasa bergeser dan menyeruak di salah satu negara di jazirah Arab yang menjadi salah satu tujuan wisata, Bahrain. Alasannya berbeda. Unjuk rasa di Bahrain dilakukan oleh kaum Syiah yang menginginkan perubahan politik, karena sebagai kaum mayoritas ternyata mereka dimarginalkan oleh kaum Sunni yang minoritas. Belum kelar soal Bahrain, Libya mengguncang Afrika dengan aksi protes seperti Mesir, menginginkan Muammar Khadafi lengser. Dengan alasan demonstran tersebut didalangi oleh Al-Qaida, Khadafi memberlakukan kekerasan militer.

Kondisi di Mesir dan Libya nyaris seperti Filipina dan Indonesia, saat Ferdinand Marcos dan Soeharto dilengserkan dari kursi kepemimpinan. Pada suatu masa, rakyat negara-negara tersebut bangga sekali dengan pemimpinnya yang kuat. Akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu, terjadi perubahan ekonomi, sosial politik dunia,  dan ternyata rakyat justru berada dalam tekanan, dimarginalkan, sementara keuntungan serta kesejahteraan hanya dinikmati oleh segelintir orang yang berada di lingkaran elite politik. Pada saatnya rakyat yang muak tidak lagi bersuara dengan santun. Suara santun telah diberangus, perilaku ber-tata krama telah dihina, sehingga rakyat tinggal memiliki pilihan terakhir: bergerak secara massal dalam aroma agresi. Korban jiwa sudah pasti tidak akan terelakkan, dan dalam kondisi kacau seperti itu nyawa manusia seperti benda yang tidak ada harganya.

Memimpin orang lain, baik dalam kelompok kecil, kelompok besar, apalagi sebuah bangsa, tampaknya masih menjadi idaman bagi beberapa orang yang merasa memiliki bakat dan bekal. Tidak mengherankan, bursa Pilkada selalu ramai, selalu banyak cara untuk memenangkan persaingan, bahkan kecurangan bilamana perlu. Bla sudah berhasil meraih kursi yang diimpikan, orang cenderung mencari cara untuk mempertahankan bahkan melanggengkan kekuasaan.

Rasulullah Saw tidak pernah mengajarkan sistem monarki, tetapi justru sekarang negara yang berlabel Islam banyak yang masih berupa kerajaan atau kesultanan, termasuk Kerajaan Saudi Arabia. Negara kerajaan lain, antara lain: Jordania, Maroko, Bahrain, Kuwait, UEA, Brunei Darussalam, Malaysia, dsb. Tujuan penegakan sistem monarki, sudah barang tentu adalah melanggengkan kekuasaan dalam trah atau dinasti yang sama.

Di masa Rasulullah dan Kulafaur Rasyidin, negara Islam adalah Theokrasi: Khalifah adalah ulama dan umara’. Negara diatur tidak hanya melalui undang-undang hukum sipil tetapi juga melalui hukum agama, karena pada dasarnya Islam bukan hanya agama tetapi juga jalan hidup. Dengan pemimpin yang mengemban amanat, negara Islam di masa-masa awal menjadi sangat kuat. Perkembangan Islam yang awalnya dianggap kepercayaan orang gurun berkembang pesat hingga ke luar jazirah Arab.

Sayangnya, pasca Khalifah Ali terjadi pertentangan politik yang akhirnya dimenangkan oleh Bani Ummayah yang memang merupakan keluarga kuat sejak jaman Rasulullah. Mereka inilah yang membangun dinasti Umayyah yang legendaris, berkedudukan di Damaskus. Di sinilah sebenarnya pemerintahan monarki dalam negara Islam dimulai. Tentu saja, sejak awal sistem monarki yang menggantikan theokrasi ini mendapatkan tentangan, akan sistem ini bertahan hingga sekarang di beberapa negara berbendera Islam.

Islam mengajarkan bahwa sebuah amanat adalah cobaan atau musibah, termasuk jabatan tinggi apalagi memimpin. Orang itu harus bisa mempertanggung jawabkan apa yang diembannya dihadapan manusia sekarang dan pengadilan akhirat kelak. Oleh karena itu, umat Islam seharusnya mengucapkan “innalillahi wa inna ilaihi roji’un” secara khusyuk saat menerima amanat jabatan, bukannya “alhamdulillah” dengan wajah berseri. Kenapa demikian? Sebab, jabatan dunia ini besar godaannya. Bila tahta sudah di tangan, tinggal menunggu waktu godaan harta dan wanita menghampiri. Bila tahta sudah di tangan, pada waktunya, akan sangat besar dorongan untuk melanggengkan kekuasaan tersebut. Bila tahta dan kekuasaan tidak menarik, tidak bergelimang harta, niscaya tidak akan banyak orang yang memperebutkannya.

Saat kekuasaan bukan lagi berlandaskan amanat rakyat, bukan lagi karena diridhoi rakyat dan ulama, seharusnya seorang pemimpin berhenti dan mulai mengurusi dirinya sendiri. Sayangnya, sepertinya tidak ada kepuasan untuk menambah harta, disanjung dan dihormati, dan mungkin baru berhenti bila tanah sudah memenuhi mulut mereka ini.

Saya tidak mengatakan bahwa orang tidak boleh berpolitik, karena memang politik adalah salah satu alasan dunia ini tetap berputar, dan manusia bertambah pandai. Akan tetapi, semua ada waktunya untuk berhenti. Apakah berhenti karena mati, berhenti karena dipaksa berhenti, atau berhenti dengan sukarela.

Bila waktunya sudah tiba, tetapi seorang penguasa ngotot akan bertahan, lihatlah yang telah terjadi di Filipina, Indonesia, dan Mesir. Betapa orang mencibir para penguasa yang turun dengan paksa, dan lembaran hitam pun menghiasi sejarah hidup mereka. Memang, bila seseorang sudah diperingatkan dengan halus – oleh Sang Maha Pengatur Alam, yang seringkali diwakili oleh rakyat jelata – tidak mau juga berintrospeksi, maka Dia akan membuatnya menerima musibah. Bukankah musibah terjadi akibat perbuatan manusia sendiri?

Bila kekuasaan bukan lagi pengejawantahan amanat – rakyat maupun Tuhan – berarti telah berubah menjadi nafsu berkuasa yang ujungnya adalah keduniawian, itulah saatnya sang pemimpin (seharusnya) berhenti. Kalau sudah 2 periode pemerintahan, sudah uzur, sudah semakin banyak yang memprotes, sudah sangat susah mengendalikan anak istri … sebutkan lagi banyak pertanda – itulah saat orang orang harus meletakkan kekuasaan. Biarlah terjadi regenerasi.

revolusi PSSI

Belakangan ini, yang terjadi di tubuh PSSI juga tak kalah menggelikan – sekalipun lingkup bicaranya jauh di bawah level negara. Hanya karena sepakbola adalah sport favorit di muka bumi – termasuk Indonesia, proses penggantian kepemimpinan PSSI jadi wacana nasional. Soal Nurdin Halid ingin terus berkuasa adalah haknya, tetapi yang paling lucu adalah upayanya menghalalkan segala cara untuk menang – termasuk merekayasa aturan, mengatur seleksi kandidat ketua, dan akhirnya sok buta-tuli, demi kursi ketua umum PSSI yang konon mampu memberikan keuntungan yang luar biasa. Bagamana tidak, dana PSSI tiap tahun mencapai ¾ milyar, yang tidak pernah terbuka dilaporkan.

Kita tunggu saja akhirnya …. Bagaimana orang-orang PSSI yang keras kepala ini mencoba bertahan di tengah badai ketidak senangan massa.

Harapan Baru Di Tahun Baru

Posted in Kontemplasi, Psikologi, Sharing with tags , , , , on January 7, 2011 by hzulkarnain

Kalau sudah menjelang tahun baru, atau masuk tahun baru, orang suka membuat resolusi tahun baru. Yang pada intinya ingin menjadi orang yang lebih baik daripada tahun sebelumnya. Banyak resolusi tahun baru yang muluk-muluk, saking inginnya menjadi orang yang berbeda, yang sukses, dan signifikan.

definisikan resolusimu

Bila memungkinkan, tidak ada orang yang tidak mengharapkan lebih baik daripada tahun sebelumnya. Bagi pekerja, mungkin gaji yang lebih baik. Bagi yang masih menjombol, mudah-mudahan ada jodoh di tahun yang baru ini. Bagi pengantin baru, kehamilan atau malah lahirnya anak-anak yang sehat. Demikian seterusnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, sejalan dengan beratnya perjuangan menempuh kehidupan hari ke hari, lebih banyak resolusi yang dilupakan daripada terlaksana. Apapun alasannya. Akhirnya, tidak sedikit yang mencapai akhir tahun berikutnya sama saja kondisinya dengan setahun silam, kalau tidak bertambah buruk.

Masalah yang paling lazim dihadapi oleh pembuat resolusi tahun baru adalah merumuskan resolusi tersebut menjadi tahapan yang bisa dicapai. Entah karena tidak tahu caranya membuat rumusan, atau tidak suka membuat perencanaan, akhirnya cita-cita yang ingin dicapai di tahun mendatang menguap begitu saja bersama waktu.

Bagaimana Caranya?

Meminjam istilah Romy Rafael, buatlah cita-cita yang menjadi puncak resolusi tahun baru itu punya fisik, punya warna, bisa dirasakan, bahkan mungkin diendus baunya, dan diraba. Intinya kita yakin bahwa itulah yang ingin kita raih. Ini akan men-sugesti diri kita untuk meyakini maknanya, dan mendorong kita untuk mewujudkannya.

Seringkali orang hanya bercita-cita secara abstrak – misalnya menjadi orang yang lebih baik. Itu tidak akan tercapai, kecuali anda merumuskannya secara jelas. Menjadi lebih baik dalam hal apa, bidang apa, urusan apa. Justru karena (alam bawah sadar kita) enggan berubah dari kondisi sekarang, seringkali kita mengaburkan resolusi yang kita tetapkan sendiri.

Apapun yang akan kita lakukan, selalu butuh rencana. Kalau secara sadar kita ingin berubah, kita harus membuat rencana. Rencana itu dirupakan tahapan yang bisa di-eksekusi, cukup mudah dilakukan, dan sederhana. Pecahlah cita-cita menjadi bagian-bagian atau tahapan-tahapan, agar kita tidak malas menjalankannya. Penjadwalan akan membuat anda lebih disiplin.

tahapan membuatnya mungkin dicapai

Seribu langkah selalu didahului dengan langkah pertama – itulah yang harus anda lakukan. Sekalipun rencana itu tidak sempurna, jalani saja. Kuatkan niat untuk memulai langkah pertama, dan jangan menengok ke belakang lagi – agar tidak ada keragu-raguan yang merugikan.

Seraya membuat rencana, organisasikan semua hal yang diperlukan untuk meraih cita-cita. Kalau cita-cita akhir tahun ini adalah menikah, pastikan ada punya seorang calon istri atau suami (:D pastilah ….). Di masa sekarang, orang menikah biasanya perlu biaya besar, pastikan sumber dana aman, tempat resepsi aman, suvenir, dsb. Apalagi kalau mau mendatangkan artis, atau pesta kebun di tepi kolam renang, perlu perencanaan yang lebih seksama.

Bila rencana sudah dibuat, semua resource (sumber daya) sudah didaftar, tinggal mengeksekusinya sesuai dengan tahapan yang sudah direncanakan. Kerjakan yang termudah, yang bisa dilakukan sekarang, tapi harus mulai sekarang. Diri anda adalah komandan dan guru bagi diri anda sendiri, karena tidak ada kekuatan besar yang bisa membuat anda berubah kecuali diri anda sendiri. Bila komandan memerintahkan anda untuk bergerak sekarang, tetapi dengan berbagai dalih anda berusaha menghindarinya, melupakan disiplin, dan tidak memenuhi rencana yang anda buat sendiri … itu sudah setengah jalan untuk menemui kegagalan lagi dalam mencapai cita-cita resolusi tahun baru anda.

Alasan rencana perlu dibuat dengan tahapan adalah fungsi kontrol. Rencana anda harus bisa diukur keberhasilannya, dan secara sadar anda bisa melihat progress (kemajuan) yang sudah terjadi. Kalau anda belajar membaca Al-Qur’an, anda tentunya bisa merasakan perbedaan antara pertama kali anda membuka kitab suci tersebut dengan setelah 3 bulan berlalu. Bila sebelumnya membaca halaman pertama Al-Baqarah butuh 30 menit, selanjutnya anda hanya perlu setengah waktu saja untuk menghabiskan 1 halaman. Setelah 1 tahun, mungkin hanya perlu 15 menit untuk menyelesaikan surat Yasiin. Itu yang dinamakan kemajuan.

Dengan fungsi kontrol ini, anda bisa mengoreksi jalan yang keliru dan harus diperbaiki. Bila mungkin kemarin anda sudah membuat seseorang sakit hati, ini waktunya anda mendatanginya dan minta maaf. Sekalipun mungkin orang tersebut sudah memaafkan sejak dulu, ia akan bisa melihat bahwa anda telah berubah menjadi orang yang lebih baik.

resolusi tanpa rencana? end up like this ...

Membentuk karakter tidak pernah bisa diselesaikan dalam waktu semalam saja. Butuh waktu lama dan kesabaran. Penyusunnya adalah bata demi bata perbuatan baik, yang anda cetak sendiri, dan bangun sesuai dengan keinginan. Semakin rapat batu bata tersebut, semakin kokoh bangunan yang terbentuk nanti. Kejujuran anda pada diri sendiri diperlukan untuk menjadikan bangunan ini nanti solid tak tergoyahkan.

Semoga tahun baru ini membawa keberkahan bagi kita semua, dan kita sama-sama berkehendak menjadi orang yang lebih baik. Islam mengajarkan kita untuk selalu lebih baik, agar jadi orang yang beruntung. Dengan cara apa? Saya mengatakan: Perbaiki diri, sekalipun hanya dengan 1 alif. Artinya, seperti mengaji Al-Qur’an, teruslah tambah bacaan anda dari ke hari … sekalipun perbedaan itu hanya 1 alif dibandingkan dengan kemarin.

Bermain-main dengan Akhirat, Serius pada Dunia

Posted in Kisah, Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , on December 4, 2010 by hzulkarnain

Beberapa hari yang lalu, seorang teman menceritakan kisah seseorang yang dijumpainya beberapa tahun silam di Jakarta. Seorang yang dianggapnya hebat dan inspiratif. Seorang yang berpendidikan, terpandang, namun memilih untuk hidup sederhana sebagai kondektur Kopaja.

dilema tahta ....

Saat pertama kali bertemu dengannya, teman saya sudah menduga bahwa bapak separuh baya ini pasti berpendidikan dari tutur bicara dan pembawaan dirinya. Hingga suatu saat, ia diajak pulang kampung ke sebuah kota dekat Cirebon, itupun ongkos bus ditanggung teman saya itu. Rumah bapak tersebut ada di pinggiran kota, itupun masih masuk gang. Halamannya luas, rumahnya sederhana, dan di belakang rumah ada tiga kolam ikan mas.

Yang paling menarik perhatian teman saya tersebut, semua orang yang berpapasan dengan bapak itu selalu menyapa dengan takzim, bahkan ada beberapa pegawai negeri yang datang ke rumahnya membawa beras. Hal itu semakin membuat penasaran teman saya. Sedikit dari orang-orang, teman saya hanya bisa menangkap informasi bahwa bapak itu dulunya adalah pejabat tinggi yang jujur. Tapi bagaimana bisa berakhir dengan menjadi kondektur Kopaja?

Bapak itu bercerita, diiringi dengan linangan air mata sitri dan anak sulungnya, bahwa dia dulu (sekitar 4 tahun sebelumnya) adalah seorang kepala dinas pendidikan kabupaten. Untuk urusan ini, dia adalah tangan kanan bupati dan bertanggung jawab pada berbagai dana proyek diknas kabupaten. Bukan jumlah uang yang sedikit.

Masalahnya bukan pada dirinya, tetapi pada istri dan anak sulungnya. Sang istri yang mulai mabuk duniawi mendorong-dorong suaminya untuk korupsi. Bukan sekali dua, tetapi terus menerus. Sementara itu, anak sulungnya yang masih SMA tidak pernah lepas dari botol miras dan selalu mabuk. Hanya anak perempuan bungsunya yang masih memberikan harapan baginya.

Bapak itu berpuasa dan terus menerus meminta petunjuk Allah. Hingga akhirnya ia sampai pada sebuah keputusan penting. Ia menghadap bupati untuk meletakkan jabatan, dan semua fasilitas dinas dikembalikannya. Belum selesai di situ, ia menjual semua aset pribadinya seperti mobil dan rumah. Yang tersisa hanya 2 rumah, termasuk yang sekarang mereka tempati. Hasil penjualan tersebut kemudian dibaginya kepada istri dan kedua anaknya, dengan satu pesan: aku akan pergi, tidak perlu dicari. Ia merantau ke Jakarta dan memulai kehidupan dari bawah, sebagai kondektur Kopaja.

Dalam dua tahun pertama, istri dan anak sulungnya yang tiba-tiba mendapatkan harta sebanyak itu seperti hendak menelan semuanya. Dan memang, dalam waktu 2 tahun semuanya ludes. Kesadaran bahwa mereka membutuhkan sosok suami dan Ayah muncul di tahun ketiga.

tinggalkan urusan dunia untuk bersujud

Salah satu rumah yang tersisa masih sempat terjual lagi, namun sekarang semuanya memulai dari kesederhanaan, tinggal di rumah sederhana yang tersisa. Mereka hanya hidup dari hasil penjualan ikan mas yang tidak seberapa, dan upah sebagai kondektur Kopaja. Setiap kali bercerita tentang masa lalu, si anak sulung selalu menangis.

Sebagai orang yang pernah punya nama harum, tawaran untuk menjadi anggota DPRD selalu ada, tetapi selalu ditolaknya. Alasannya:”Harta tidak selalu membawa bahagia, biarlah dia hidup seperti sekarang karena sudah cukup membuatnya bahagia.”

Benarlah firman Allah dalam Surat Al Anfaal dan At-Taghabun yang berbunyi …: Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan , dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Ketika Bapak itu mampu mengatasi sumber cobaan, Allah memberikan jalan untuk meraih kebahagiaan. Orang seperti ini sangat serius memikirkan kehidupan akhirat, dan meyakini bahwa dunia ini serta isinya hanyalah fana dan hanya berupa permainan belaka.

Bandingkan dengan kasus yang sedang heboh belakangan ini, Gayus Tambunan. Perbuatannya tentu saja memberikan aib bagi dirinya dan keluarganya – karena ketahuan. Sebelum ketahuan, tentunya dia telah membuat bangga keluarga. Setelah ketahuan dan masuk penjara, ternyata masih ada saja yang suka memanfaatkan dirinya, dan mengeruk keuntungan pribadi. Termasuk istrinya yang belum juga mendorong suaminya untuk bertobat.

Orang-orang yang lebih suka menumpuk harta daripada menyedekahkan, melakukan praktik riba daripada berzakat, adalah contoh perilaku yang menganggap dunia ini suatu yang serius. Mereka pastinya tahu ketika mati tidak ada satupun yang akan mereka bawa, namun dorongan untuk memperkaya diri sendiri jauh lebih kuat.

Jauhnya perasaan syukur tercermin dari caranya menyikapi pertolongan Allah (Surat Az-Zumar 49): Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni’mat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi ni’mat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.

Manusia yang sombong selalu menganggap dirinya pantas mendapatkan nikmat, dan takabur dengan nikmat tersebut. Padahal, nikmat tersebut juga merupakan bagian dari ujian.

Bahkan orang paling sabar Nabi Allah Ayyub a.s. lebih menyukai kondisinya saat diuji dengan kemiskinan dan penyakit, karena tahu benar batasan ujian Allah. Saat diuji dengan kekayaan dan derajat duniawi, beliau menderita karena tipisnya garis pada kemunkaran dan kekufuran pada nikmat.

Semoga kita selalu diberi petunjuk dan ingatan, bahwa dunia ini adalah tempat bermain-main, untuk menyiapkan akhirat yang kekal dan serius.

(QS. Al ‘Ankabuut:64) Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda  gurau  dan  main-main. Dan  sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.