Archive for August, 2008

Ketika Anak Berbohong

Posted in Psikologi with tags , on August 25, 2008 by hzulkarnain
kejujuran permata hati

kejujuran permata hati

“Dik, nanti kalo Tante Nani telfon, bilang Mama lagi pergi ya?” Pesan Ibu pada Dita.

“Memangnya Mama mau kemana?”

“Nggak sih, Mama males saja terima telfonnya.”

“Kenapa, Ma?”

“Mama belum punya uang kalau tante itu nagih sekarang. Tolong sayang ya …,” kilah sang Mama.

Mengapa Berbohong?

Tanpa sadar, berapa banyak dari kita sebagai orang tua yang mengajarkan anak kita berbohong. Si anak yang mungkin belum paham maksud sang Ibu melaksanakan saja perintah tersebut, namun lambat laun ia akan paham bahwa sang ibu sedang mencari dalih. Anak juga tidak akan paham maksud di balik dalih sang Ibu, namun pada suatu saat ia akan mengimitasi pencarian dalih tersebut untuk kepentingannya sendiri.

Menurut definisi, berbohong adalah pernyataan yang tidak benar dengan tujuan menipu, seringkali dengan maksud untuk menjaga rahasia atau reputasi, perasaan orang lain, atau untuk menghindarkan diri dari hukuman. Dengan demikian, berbohong adalah menyatakan sesuatu yang tidak benar dengan niat dianggap benar oleh orang lain. Kapasitas untuk berbohong hampir didapati hampir secara universal dalam perkembangan manusia, dan sudah ada sejak dulu.

Anak-anak umumnya punya fantasi yang menarik ketika masih kecil, dan ingin ceritanya diperhatikan oleh orang dewasa. Bagi si anak, imajinasi tersebut seolah-olah dunia yang berada di sebelah dunia nyata mereka. Imajinasi mereka terhadap pahlawan super, figur ideal ala Barbie, membuat mereka lebih hidup dalam bermain peran. Pada anak-anak dengan perkembangan mental yang normal, dunia nyata dan fantasi punya batasan dan mereka selalu bisa diajak kembali ke dunia nyata. Mereka bisa menghentikan bermain boneka atau Playstation, keluar rumah dan bermain petak umpet dengan teman-teman lainnya.

Beberapa anak sengaja membesar-besarkan cerita untuk mencari perhatian orang tua atau teman sepermainan. Misalnya, mereka bilang: “Papaku punya pistol dan pedang, dulu ada orang mau maling, ditembak”. Bagian yang pertama mungkin benar, karena ayahnya memang perwira militer yang punya pistol dan pedang upacara, tapi bagian kedua pengakuannya jelas tidak benar. Ada pula yang secara meyakinkan punya “teman imajinatif”, yang seolah-olah hidup dan bisa diajak bicara. Dunia imajinatif anak memang memungkinkan mereka membuat rekaan kejadian, dan seringkali kita menganggapnya lucu.

Selain berimajinasi untuk mencari perhatian, yang sering terjadi adalah anak mengarang cerita bohong atau alasan untuk melepaskan diri dari hukuman, sekalipun semua bukti menunjukkan dirinya bersalah. Dorongan untuk berbohong terjadi bila anak merasa terancam, karena hukuman menyebabkan perasaan tidak nyaman. Mereka akan terus belajar berbohong dan mempelajari cara berbohong yang lebih baik dari orang-orang yang ada di sekitarnya, orang tua, kakak, atau teman bermain. Mereka ini adalah role model atau kelompok referensi yang menentukan sikap dan pola berpikir anak.

Berapa banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa mereka turut berperan membuat anak suka berbohong? Kalaupun kita sebagai orang tua tidak mengajari anak berbohong, bahkan dengan keras melarang anak berbohong, pola komunikasi di dalam keluarga bisa menjadi pendorong anak untuk berbohong. Ketika anak melakukan kekeliruan, orang tua cenderung segera melakukan hukuman dan meyakini bahwa satu-satunya cara agar anak tidak berbuat kekeliruan adalah dengan cara menghukum. Apalagi bila orang tua sudah punya konsep anak-anak tentu nakal dan mau enaknya sendiri, kemungkinan si anak didengarkan niscaya lebih jauh lagi. Kepercayaan anak pada orang tua yang menipis membuat anak jauh lebih suka tidak berkata jujur.

Membentuk Kejujuran

Idaman orang tua adalah anak saleh yang senantiasa menjaga lidahnya dari dusta dan ketidak jujuran. Sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At-Tahrim : 6). Sayangnya, hal itu tidak mudah bahkan sering kita dapati anak-anak ulama yang hidup tidak dalam jalur agama yang benar. Sebaliknya, kita juga sering melihat anak-anak orang biasa yang justru mampu membangun diri mereka menjadi insan yang utama.

Sebagai Muslim, kita harus selalu yakin bahwa anak (sebagaiaman harta benda lainnya) adalah titipan dari Allah Swt, dan mereka adalah ujian bagi orang tua. QS. Al Anfaal 28 menyebutkan: Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. Terlalu mencintai mereka atau membuat mereka tidak berguna hanya akan mendatangkan kemudharatan. Oleh karena itu harta dan anak adalah amanah yang harus diarahkan di jalan yang benar. Banyak sekali peringatan Allah tentang makna harta dan anak-anak yang akan menjadi cobaan bagi mukmin.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membangun kejujuran anak adalah sbb:

Kejujuran merupakan permata yang berharga. Konsep ini harus ditanamkan oleh orang tua pada anak dan sama-sama diyakini sebagai kebenaran. Sekalipun sulit, orang tua juga harus belajar untuk tidak berbohong di depan anak. Sebagai role model sekaligus referensi anak, orang tua harus mendorong anak untuk tidak berbohong. Diperlukan kejelian untuk membedakan kebohongan dengan imajinas. Imajinasi perlu dibiarkan berkembang sementara kebohongan harus dikikis.

Bangun pola komunikasi yang demokratis, dan orang tua perlu belajar untuk “mendengarkan” anak. Akhiran “kan” harus menjadi penekanan dengan pengertian orang tua harus aktif menggali permasalahan yang dihadapi oleh anak. Menganggap anak sebagai individu yang tidak signifikan, meremehkan atau menganggap sepele mereka, bisa jadi merupakan cikal bakal terbentuknya kepribadian diri yang tidak utuh. Kita sebagai orang tua tidak akan banyak memahami mereka karena saat anak bercerita tentang teman-teman dan aktivitas sehari-hari telinga kita tidak aktif. Wajar bila suatu saat anak melakukan tindakan yang salah orang tua bingung harus mulai mengoreksi dari mana, dan akhirnya hukuman lah yang jadi senjata.

Hargai prestasi dan kejujuran dengan ganjaran, sekecil apapun itu, bahkan sekedar rasa terima kasih dan ciuman hangat pada anak. Itu disebut dengan positive reinforcement. Anak selalu suka dengan reinforcement ini karena membuat mereka merasa nyaman dan bangga. Ketika anak melakukan kekeliruan, atau berkata tidak jujur, ambil kenyamanan itu tanpa memberikan hukuman secara langsung. Ketidak nyamanan perasaan memang menjadi semacam hukuman, tapi tidak menyakiti fisik maupun ego mereka. Ini disebut dengan negative reinforcement. Pandangan mata yang menegur, teguran pendek seperti “… Dodo, Mama tidak suka!”, atau bahkan sekedar hilangnya senyum seorang Ibu bisa menjadi contoh praktis.

Ada sebuah teori NLP (neuro linguistic programming) yang meminta kita orang tua untuk lebih banyak menggunakan kalimat positif daripada negatif saat menekankan pentingnya kejujuran dan perbuatan baik. Misalnya:

Positif: Mama ingin Dodi berkata jujur, dan Mama akan bangga sekali!

Negatif: Dodi tidak boleh bohong. Mama nggak suka.

Positif: Dodi harus belajar bertanggung jawab, harus mengakui bila sudah berbuat salah.

Negatif: Jangan berbohong Dodi, berani berbuat harus berani tanggung jawab.

Kata tidak boleh atau jangan ternyata menghambat masuknya pesan ke ingatan bawah sadar, berbeda dengan pesan positif. Hal ini tentunya berkebalikan dengan asumsi kuno yang menganggap bahwa kata jangan atau tidak boleh adalah senjata sakti untuk menekan perilaku negatif anak.

Hukuman adalah cara terakhir dalam mendisiplinkan anak, karena efek negatifnya yang membekas pada ego anak. Kalaupun hukuman harus diterapkan, syaratnya ada 2: segera dan terkait langsung dengan kesalahan yang baru dilakukan.

Anak-anak kita adalah bagian dari masa depan kita, karena titipan Allah yang ini bisa mendoakan kita saat kita sudah tidak ada lagi di dunia fana ini. Sayangnya, orang tua masih seringkali memperlakukan mereka secara tidak serius. Kalaupun menyekolahkan mereka di sekolah favorit yang full-day, yang jaraknya jauh dari rumah, lebih karena faktor gengsi dan trend. Kalaupun memasukkan anak ke bimbingan sempoa atau jarimatika bukan karena anak menunjukkan minat dengan hal tersebut tapi alasan yang lain. Komputer disediakan di rumah bukan untuk mengasah wawasan anak, tapi agar kelihatan modern dan tidak mengganggu orang tua, dsb.

Bila sesekali kita temani anak belajar, dengan teve dimatikan, atmosfer kehangatan akan segera terbentuk. Sekalipun di depan kita ada majalah atau buku, anak cukup punya waktu untuk bercerita tentang teman-temannya, dan berbagai sedih-gembira mereka di sekolah. Terlebih bila kita mau menanggapi topik mereka, sekalipun kita tidak paham, anak akan bersemangat untuk bercerita lebih panjang.

Semoga kita bisa menjadi mukmin yang sanggup memelihara amanah.

Advertisements

Terapi Salat Tahajud – Rangkuman (3)

Posted in Kontemplasi, Psikologi, Sharing with tags , on August 23, 2008 by hzulkarnain

Rangkuman ke-3 dari buku Terapi salat tahajud (DR. Moh. Sholeh)

PSIKONEUROIMUNOLOGI SALAT TAHAJUD

Setan mengikat kuduk seseorang

dengan tiga ikatan ketika ia tidur.

Lalu, setan memukul tiap ikatan

pada kuduk orang yang sedang tidur

sambil berkata: ‘Tidurlah, kamu mempunyai malam cukup panjang’.

Bila seseorang yang tidur itu bangun

dan berzikir kepada Allah Swt, lepaslah satu ikatan.

Lalu, jika ia pergi wudhu, terurailah satu ikatan lagi,

dan manakala ia salat, lepaslah ikatan terakhir

sehingga ia menjadi bersemangat dalam beribadah,

terlepas dari segala ikatan kesempitan jiwa dan terlindungi dari rasa malas

– HR Bukhari –

ANALISIS MAKNA TOTALITAS ISLAM

Makna totalitas Islam berkaitan dengan konsep islam, iman, dan ihsan.

Islam

Islam berasal dari kata dalam bahasa Arab aslama, yuslimun, islaman, yang mempunyai beberapa arti, yaitu: melepaskan diri dari penyakit lahir dan batin, kedamaian dan keamanan, ketaatan dan kepatuhan.

Secara etimologis, terminologi islam bermakna: keselamatan, perdamaian, dan penyerahan diri kepada Tuhan. Al-Qur’an sendiri menyebut kata Islam sebanyak 8 kali, yaitu dalam: QS Al-Maidah ayat 3, QS Al-An’am ayat 125, QS Az-Zumar ayat 22, QS Ash-Shaf ayat 7, QS Al-Hujurat ayat 17, dan QS At-Taubah ayat 74.

Sedangkan kata Islam dalam konteks agama, disebutkan dalam QS Al-Maidah ayat 3: … pada hari ini, telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu …

QS Ali-Imran ayat 19: Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam

Islam bukan sekedar sebagai agama, sebagai konsep religion di Barat yang semata hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Islam adalah sistem yang bersifat universal, meliputi seluruh realita kehidupan, mulai dari keyakinan, akidah, dan ibadah yang benar, bahkan hingga tata aturan kehidupan bernegara. Di dalamnya termuat pemerintahan dan rakyat, jihad (perjuangan), seruan dakwah, militer, dan pemikiran strategi.

Pemikir lain mendefinisikan Islam dengan “penyerahan diri kepada Tuhan”. Kata “penyerahan diri” harus digaris bawahi, bukan “ketundukan”. Yang tersirat, penyerahan diri lebih bersifat aktif, penuh inisiatif dari seorang manusia sebagai hamba. Jadi seorang muslim adalah hamba yang menyerahkan dirinya kepada Allah Swt tanpa paksaan. Penyerahan diri juga sudah memuat ketundukan, sementara konsep “ketundukan” sendiri bisa juga menggambarkan tunduk secara lahiriah namun ada di dalam hari terbersit pengingkaran.

Dalam spektrum pengertian Islam yang luas tersebut, apa sebenarnya kewajiban manusia? Apa yang bisa diambil? Bagaimana perjalanan taqarrub dilakukan?

Salah satu kewajiban pertama seorang mukallaf (baliq dan berakal) adalah menerima ajaran Islam dan mengimaninya. Setelah menerimanya, ia wajib melaksanakan kewajiban ibadah fardhu maupun sunnah (di antaranya salat sunat tahajud), serta menjauhi apa diharamkan (bahkan yang dimakruhkan). Selanjutnya melakukan ibadah salat, zakat, puasa, dan haji. Berzikir dan mencari maisyah (penghidupan) yang halal.

Inilah semua garis besar penyerahan diri secara total dan alamiah.

Rasulullah Muhammad Saw bersabda,”Islam adalah engkau bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah Swt dan bahwasanya Nabi Muhammad itu utusan Allah Swt, engkau melaksanakan salat, menunaikan zakat, berpuasa bulan Ramadan, dan melakukan haji jika berkuasa, (HR Muslim).”

Iman

Kata iman berasal dari bahasa Arab amana – yu’minu – imanan. Kata ini memiliki banyak arti, antara lain: percaya, setia, aman, melindungi, dan menempatkan sesuatu pada tenpat yang aman. Pengertian lainnya adalah, “pecaya dengan sungguh-sungguh”.

Harus dibedakan antara kepercayaan dan keyakinan. Kepercayaan diartikan sikap menerima dengan budi, sedangkan keyakinan diterima dengan akal. Catatan: akal berasal dari kata aql yang berarti keseimbangan pemikiran budi, rasio, dan rasa hati atau pemikiran objektif dan subjektif.

Iman harus berdiri di atas keyakinan yang kuat, memiliki ketetapan, tidak berputar-putar, tidka berubah-ubah – baik dalam pikiran maupun hati. Singkatnya, iman akan menjadikan keadaan yang menenteramkan hati, sama sekali tidak ada keraguan dalam segala tindakan.

Secara teknis, iman bertaut dengan akidah. Tauhid (konsep Allah Swt Sang Mahaasal, Mahaawal, asal dari segalanya) adalah inti dari rukun iman, yang merupakan prima causa seluruh atau rukun keyakinan Islam. Iman akan malaikat, kitab, rasul, kiamat, qadha dan qadhar hanyalah akibat logis saja. Artinya, karena adanya iman kepada Allah Swt, secara logis timbullah keyakinan kepada malaikat, rasul, kitab, hari kiamat, dan takdir baik – buruk.

Secara bahasa, kata iman ternyata tidak bisa dipadankan melalui bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris ada kata faith dan belief yang sering dipakai menterjemahkan iman. Belief adalah menerima pernyataan secara intelektual, tanpa meniscayakan adanya perbuatan yang menyertainya. Kata faith lebih sering digunakan sebagai pengganti kata iman, namun berbeda dengan konsep iman, faith tidak meniscayakan adanya ilmu yang mendahului. Iman adalah sesuatu yang didahului oleh ilmu, yaitu pembuktian atas apa yang diketahui dan dikenali.

Para ulama sendiri masih banyak berbeda soal pendefinisian makna iman. Perbedaan ini timbul karena Al-Qur’an dan Hadist tidak memberikan rumusan baku, hanya ada ciri-ciri saja bagaimana orang yang beriman itu:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebutkan nama Allah Swt gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan Tuhanlah mereka bertakwa (QS Al-Anfal: 2).”

“Sungguh beruntunglah orang-prang beriman yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (oerbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barang siapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-prang yang melampaui batas. Dan mereka yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara salatnya (QS Al-Mu’minun: 1-9)”.

Sementara Rasulullah juga bersabda: “Iman itu percaya kepada Allah Sqt, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, Hari Kiamat, ketentuan baik dan buruk adalah keputusan Allah Swt (HR Muslim).

Keimanan itu mempunyai cabang-cabang lebih dari enam puluh atau tujuh puluh, yang terutama ucapan La-Ilaha Ilallah, dan serendah-rendahnya menyingkirkan gangguan dari jalan, sifat malu itu juga cabang dari keimanan, (HR Muslim)”.

Para fuqaha seperti Imam Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal mengikuti pendapat kelompok sufi yang mengatakan bahwa iman adaalh pengakuan dalam lisan, pembenaran dalam hati, dan amalan perbuatan. Sementara Imam Abu Hanifah, Husain bin Fadl Al-Balkhi sepakat dengan kelompok yang menyebutkan bahwa iman adalah pengakuan lisan dan pembenaran dalam hati.

Jadi secara umum bisa disimpulkan bahwa ciri iman adalah: berpegang teguh pada tauhid, mata berpaling dari hal-hal yang haram, telinga mendengarkan firman Allah Swt, perut suci dari makanan yang haram, dan lidah mengucapkan kejujuran.

Dengan demikian, pemahaman hadist yang menyebutkan bahwa “iman seseorang bisa bertambah atau berkurang” bukan terletak pada substansi iman tetapi cabang iman yang berupa amal ibadah – manifestasi (perwujudan) keimanan itu sendiri.

Ihsan

Kata ihsan berasal dari kata ahsana-yuhsinu-ihsanan yang memiliki arti: berbuat baik. Sebuah hadist menjelaskan makna ihsan sbb: Malaikat Jibril bertanya: “Apa ihsan itu?” nabi Saw menjawab: “Ihsan itu apabila kamu menyembah, beribadah kepada Allah Swt, seakan-akan engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu. (HRMuslim).

Ihsan dapat digambarkan sebagai suasana hati dan perilaku seseorang untuk senantiasa merasa dekat dengan Allah sehingga tindakannya sesuai dengan aturan dan hukum-Nya. Secara definitif, ihsan adalah penghambaan diri kepada Allah Swt dalam suasana ruhaniah yang sangat mendalam. Dalam pengertian yang luas, ihsan menyimpan sifat utama takwa, tawakkal, dan syukur.

Takwa adalah fase kematangan yang sempurna, hasil interaksi antara Islam, iman, dan ihsan. Takwa adalah ilmu, amal, naluri, hati, dan etika. Takwa merupakan kondisi ketika antara kalbu, pikiran, dan anggota tubuh berinteraksi secara harmonis.

Dalam takwa terkandung makna melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya, pengendalian emosi dan penguasaan atas kecenderungan hawa nafsu negatif. Ketakwaan menjadi tenaga pengarah manusia kepada perilaku yang baik dan terpuji serta menjadi penangkal atas perilaku buruk, menyimpang dan tercela. Takwa yang paling tinggi menunjukkan kepribadian yang utuh dan integral. Jalan untuk mencapai derajat takwa adalah mujahadah, perjalanan batin, dengan memperbanyak ibadah sunah seperti salat tahajud.

Janji Allah di dalam Al-Qur’an kepada orang yang bertakwa:

  • dimuliakan oleh Allah (QS Al-Hujurat 13)
  • dimudahkan jalan keluar urusannya (QS Ath-Thalaq 2)
  • diberikan kemudahan (QS Ath-Thalaq 4)
  • penduduk negeri yang bertakwa akan dilimpahi berkah dari langit dan bumi, bila mendustakan akan disiksa (QS Al-A’raf 96)

Tawakal secara harifiah berarti pengakuan ketidak mampuan seseorang dan penyandaran dirinya kepada pihak lain selain dirinya. Dari bahasa Arab, at-tawak-kul berasal dari kata wakkala yang bermakna menyerahkan, memercayakan, atau mewakilkan urusan kepada orang lain.

Secara terminologi, tawakal berarti menyerahkan atau memercayakan seluruh masalah kepada Sang Penguasa dan bersandar kepada kemampuan-Nya untuk menyelesaikan masalahnya. Definisi lainnya, tawakal bermakna menyerahkan segala perkaram ikhtiar, dan usaha yang dilakukan kepada Allah Swt serta berserah diri sepenuhnya kepada-Nya untuk mendapatkan manfaat atau menolak yang mudarat.

Orang yang tawakal tidak akan berkeluh kesah atau gelisah. Ia akan berada dalam ketenangan, ketenteraman, dan kegembiraan. Jika memperoleh nikmat dan karunia dari Allah Swt ia akan bersyukur, namun jika menghadapi cobaan ia akan bersabar. Semua keputusan, bahkan dirinya sendiri, diserahkan kepada Allah Swt setelah usaha dan ikhtiar dilakukan.

Al-Ghazali membagi tingkatan tawakal menjadi tiga, yakni:

  • Tawakal itu sendiri, yakni hati senantiasa merasa tenang dan tenteram terhadap apa yang dijanjikan Allah Swt.
  • Taslim, yaitu menyerahkan urusan hamba kepada Allah Swt karena ia mengetahui segala sesuatu mengenai diri dan keadaannya.
  • Taswid, yaitu rela menerima segala ketentuan Allah Swt bagaimanapun bentuk dan keadaannya.

Hikmah yang diperoleh dari tawakal adalah rasa percaya diri, keberanian dalam menghadapi persoalan, memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa, dekat dengan Allah Swt, kecukupan rezeki, selalu berbakti dna taat kepada Allah Swt, dan senantiasa bersyukur kepadaNya.

Tentang syukur, Quraish Shihab menyebutkan cara bersyukur kepada Allah:

  1. Bersyukur dengan hati, yaitu mengakui dan meyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat yang diperoleh berasal dari Allah Swt dan tak ada seorang pun selain Allah Swt yang dapat memberikan nikmat.
  2. Bersyukur dengan lidah, yaotu mengucapkan secara jelas ungkapan Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt.
  3. Bersyukur dengan amal dan perbuatan, yaitu mengamalkan anggota tubuh untuk hal baik dan memanfaatkan nikmat itu sesuai dengan ajaran agama.

Syukur kepada Allah bisa dilakukan dengan sujud syukur, setelah mendapatkan nikmat atau lolos dari musibah, dan dilakukan di luar salat. Allah menjanjikan dalam QS Ibrahim 7 penambahan nikmat bagi orang yang bersukur, dan akan menurunkan azab bila nikmat-Nya diingkari.

(to be continued)

Hamba yang Bersyukur

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags , , on August 16, 2008 by hzulkarnain
sabar dalam ketaatan

sabar dalam ketaatan

Sebuah riwayat mengisahkan bagaimana Rasulullah Saw sholat malam sambil kerapkali menangis hingga jengotnya basah. Tak jarang beliau juga sholat hingga kaki beliau bengkak karena sholat terlalu lama. Hal itu membuat keheranan Bilal, sehingga menanyakan hal ini kepada Rasul. Jawaban Rasulullah Saw sederhana, semua ini terjadi karena beliau merasa belum menjadi hamba yang bersyukur.

Rasulullah menyebutkan dalam salah satu hadistnya bahwa Allah akan mengangkat derajat manusia bila mau melakukan 3 hal: bersyukur, ikhlas, dan bersabar. Kata syukur sudah sering kita dengar, dan mudah diucapkan. Begitu banyak firman Allah yang menyebutkan soal syukur ini, dan kebanyakan berupa pernyataan: termasuk orang yang bersukur, supaya kamu bersyukur, menjadi orang yang bersyukur, bagi orang-orang yang bersukur, dan sebagainya. Sayangnya, justru Al-Qur’an sendiri yang kemudian menyatakan bahwa akan banyak di antara kita bukan bagian orang yang bersyukur.

QS. Al-A’raaf 10: Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.

QS. Al-MukmiDan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur .

QS. Yunus 60: Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari kiamat ? Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri.

QS. Al-A’raaf 17: kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur .

Di dunia yang fana ini, hamparan rahmat dan rizki disemaikan Allah semata-mata untuk kemaslahatan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Allah memerintahkan kita sholat, dan usai melakukannya kita diperintahkan pula untuk bertebaran di muka bumi mencari penghidupan dan rahmat-Nya. Manusia berkecenderungan untuk gembira mencari penghidupan yang banyak memberikan hasil, seperti perniagaan dan kerja lain yang membuahkan penghasilan besar. Bekerja menjadi bagian dari 24 jam kehidupan, bahkan tak jarang menyita waktu pada paruh terbesar waktu harian itu. Bila sudah seperti itu, kadang waktu berlalu cepat hingga lepaslah Dzhuhur dan Ashar. Dalam kelelahan, lepaslah pula Maghrib dan mungkin Subuh.

Kalau untuk perintah yang wajib saja sering lalai, bagaimana pula manusia mampu menunjukkan syukurnya kepada Allah?

Ada sebuah kalimat Allah yang sering dikaligrafikan, dan satu copy-nya yang cukup indah tergantung di dinding rumah saya, yaitu QS. Ibrahim 7: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah kepadamu, dan jika kamu mengingkari , maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”

Allah menghormati orang yang bersyukur dengan membahasakan “Kami”, dan wujud rahmat Allah adalah barokah rizki yang selalu menaungi manusia. Sebaliknya, Allah membahasakan “Aku” pada orang yang tidak bersyukur, disertai ancaman datangnya azab.

Kalau saja manusia mau merenungi makna ayat yang dalam ini, betapa takut seharusnya mereka untuk mengingkari rahmat Allah. Ketika Allah “memalingkan wajah” dari manusia, betapa sengsara mereka dalam mencari penghidupan. Kesengsaraan akan bertambah-tambah tatkala Allah menurunkan teguran dan ujian-Nya, yang sekalipun kita mampu menanggungnya tetap saja terasa berat dan pedih. Bagaimana lagi bila Allah murka dan menurunkan azab-Nya?

Apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan rasa syukur kepada Allah yang Maha Agung dan Penguasa sekalian alam? Sementara tak ada kekayaan yang bisa menyamai dan kemegahan yang setara dengan-Nya?

Pertama, tak berlebihan kiranya bila kita prioritaskan untuk menjalankan kewajiban agama dan beribadah menyembah Allah Swt, dan hanya kepada Allah Ta’ala semata, dengan ikhlas. Dalam Al-Qur’an saja, ada lebih dari 80 ayat yang menyebutkan kata menyembah bahkan mungkin bisa lebih bila ditambahkan dengan pengembangan kata tersebut. Semuanya mengingatkan keharusan untuk menyembah Allah yang Esa dan ancaman bila menyekutukan-Nya. Tentu saja bukan semata ritual, namun memang diniatkan secara ikhlas untuk mendekatkan diri.

Ikhlas mengandung pengertian mensucikan atau memurnikan, yang bermakna penghambaan kepada Allah Swt belandaskan niat suci untuk mencari ridhanya. Selama ada embel-embel lain di sana, keikhlasan manusia dipertanyakan.

Kedua, melakukan apa yang diperintahkan dan menjauhi larangan Allah. Sebuah hadist menyebutkan bahwa: Segala hal di muka bumi ini halal terkecuali apa yang diharamkan oleh Allah. Segala ibadah tidak ada yang perlu dilakukan kecuali yang diperintahkan oleh Allah.

Allah telah menetapkan apa yang haram, dan jangan sekali-kali mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah. QS. Al-Maa’idah 87: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Ada 3 hal yang termaktub di sini: halal-haram, baik (thoyyib), dan tidak melampaui batas. Allah telah eksplisit menyebutkan darah, bangkai, daging babi, dan semua binatang yang disembelih tanpa menyebut asma Allah, sementara Rasulullah telah menambahkan beberapa kategori agar manusia menjadi jelas. Namun demikian, sekalipun suatu makanan sifat dasarnya halal tapi tidak baik (thoyyib), sifatnya berubah menjadi haram. Demikian pula dengan tindakan yang melampaui batas, misalnya terus makan sekalipun telah kekenyangan hingga muntah.

Rasulullah juga mengingatkan tentang ibadah dan ritual yang mengada-ada, dan tidak ada dasarnya dalam pendekatan diri kepada Allah. Islam selalu penuh dengan kesederhanaan, dan tidak akan membenani umat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Semua ritual dan ibadah yang secara objektif kita rasakan berat, tetapi seolah sudah menjadi budaya, perlu kita perhatikan dengan jelas. Tidak ada salahnya berkonsultasi dengan ulama dan pemuka agama yang memiliki ilmu agama yang baik agar tidak salah langkah sekaligus menghapus keragu-raguan.

Termasuk pula dalam kategori ini adalah menjalankan perintah untuk menyantuni yatim piatu, memberi makan fakir miskin, melakukan jihad fi sabilillah seperti mencari rizki yang halal untuk keluarga, dan banyak hal lainnya.

Keharaman juga bukan sekedar makanan, karena tindakan yang merugikan orang lain juga termasuk di dalamnya. Menipu, memanipulasi, korupsi, merampok, riba, termasuk di dalamnya. Allah berfirman dalam QS. An-Nisaa 29: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.

Ketiga, yang seringkali sulit dilakukan adalah bersabar. Bersabar, menurut Rasulullah, memuat 3 dimensi, yaitu: bersabar ketika menghadapi musibah (fa shobrun alal musibah), bersabar dalam ketaatan kepada Allah (fa shobrun alaththa’ah), dan bersabar dari melakukan perbuatan maksiat (fa shobrun anil ma’siyah).

Kita selalu dipenuhi dengan rahmat dan karunia Allah, dan seolah-olah tidak ridha bila Allah (selaku pemilik) mengambilnya lagi. Tak jarang kita melihat orang sebelumnya kelihatan saleh kemudian menggugat Allah ketika anaknya meninggal, suaminya berselingkuh, kedudukannya di masyarakat terancam, diturunkan kecacatan pada dirinya, dsb. Satu yang diambil kembali, seperti meniadakan semua karunia rahmat. Protes dan gugatan jauh lebih keras disuarakan daripada perasaan syukur atas 999 rahmat yang tersisa.

Sabar juga berarti tawakal, menunggu keputusan Allah setelah semua kewajiban dan sunah kita laksanakan, dan tetap meyakini bahwa Allah akan memilihkan yang terbaik bagi kita. Yang terbaik bagi kita bisa jadi yang kita senangi, itu biasa, dan kita perlu bersabar dengan keputusan itu.

Kita sebagai manusia normal acapkali mengingkari nurani kita yang melarang kita melakukan perbuatan yang kurang pada tempatnya. Karena kita suka perbuatan duniawi itu! Kita menisbikan kemungkinan Allah tidak ridha. Kalau ini seringkali terjadi, nurani kita teringkari berulang kali karena bertentangan dengan rasa suka kita pada sebuah hal duniawi, nurani akan menutup diri, qolbu akan mengeras, dan kita akan sulit mendengarkan saran dari orang lain, pada suatu saat nanti. Allah pasti akan memberikan penilaian atas kesabaran kita untuk terus melangkah di jalur yang diridhai-Nya.

Pada intinya, mensyukuri rahmat Allah adalah hidup dengan jalan yang ditentukan oleh Islam, dengan ikhlas dan sabar, semata-mata untuk memperoleh ridha Allah. Dulu, KH Zainuddin MZ pernah memberikan tausiyah tentang ridha ini. Karena parameter ridha Allah ini kadangkala tidak sekedar yang terlihat mata dzahir, dan ada hal-hal yang tersembunyi dan serta butuh penalaran, kita manusia ini diminta untuk selalu bertanya pada diri sendiri sebelum melakukan sebuah perbuatan:”Allah ridha apa tidak?”

Semoga kita selalu menjadi manusia yang bersyukur, dan hanya mengharpakan ridha Allah Swt agar selamat dalam menjalankan amanah kehidupan ini. Amin.

Rahasia Rizki Allah

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags on August 12, 2008 by hzulkarnain
pergiliran hidup

pergiliran hidup

“… barang siapa bertakwa kepada Allah Swt niscaya Allah Swt memudahkan jalan keluar urusannya.

… barang siapa bertakwa kepada Allah Swt niscaya Allah Swt memberikan kemudahan baginya … (QS. Ath-Thalaq: 2 dan 4)

Manusia diwajibkan untuk berusaha mencari penghidupannya, mengais kepingan rizki dari Allah sembari memohon barokah atas rizki tersebut. Sekalipun buku langit sudah menuliskan batasan rizki tiap manusia, limpahan rahmat itu tidak akan turun dengan sendirinya bila tidak diusahakan. Semua adalah rahasia dan urusan Allah, sebagaimana jodoh dan mati. Berdoa tanpa berusaha hanya sia-sia karena tiada perubahan tanpa upaya. Yang paling benar adalah bertawakal, yaitu menyerahkan semuanya kepada Sang Pemberi Hidup setelah semua upaya dikerahkan.

Hidup ini episodik, saya yakin sekali beruas-ruas seperti bambu, tidak lurus mulus seperti sebatang tiang pancang beton. Ruas-ruas tersebut dipenuhi dengan pergiliran kehidupan antara kesempitan dan kelapangan. Saya meyakini hal ini, karena Allah menyebutkannya dalam sepotong ayat dalam QS. Al-Insyirah 5 – 6 … faa innama’al usri yusraan, innama’al usri yusraan ... sebuah kalimat yang sama diulang dua kali berturut-turut. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan, setelah kesulitan ada kemudahan.

Sekalipun tidak ada janji bahwa setelah ada kemudahan akan ada kesulitan, kita harus paham bahwa kesulitan pasti akan muncul sebagai kodrat kehidupan manusia. Setiap jengkal langkah kita untuk maju, dan berupaya menjadi insan kamil, pasti akan dihadang kesulitan. Kesulitan yang terbesar sebenarnya berada di dalam pikiran, bukan di luar diri kita. Bila terbiasa dengan harta yang cukup, ketika hilang sebagian kesedihan langsung menyergap. Padahal secara objektik sisa harta yang dimiliki masih jauh lebih banyak daripada milik seorang buruh pabrik. Sewaktu kehilangan kekasih, dunia seakan runtuh dan ingin mengakhiri hidup, padahal jodoh adalah urusan Allah. Ketika di PHK, ingin rasanya membunuh sang Manajer Personalia, padahal jalan rizki masih terbentang lebar asal dicari dengan sungguh-sungguh.

Saat menjalani kehidupan, tenggelam dalam sebuah episode kehidupan, saya kerapkali lupa bahwa saya sedang berada dalam sebuah episode. Bila tengah gembira, seolah lupa bahwa tiba-tiba Allah bisa menumbangkan kegembiraan itu ke jurang kesedihan. Bila sedang berduka, pesimis akan ada waktu lain untuk bangkit dan kembali bergembira. Manusia lebih mudah mengenali dukanya daripada gembiranya. Ketidak sedang berduka, terasa sekali keinginan untuk mengakhirinya dan untuk itu selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebaliknya, tatkala sedang bahagia, orang cenderung lupa bahwa perjalanan hidup di dunia ini semuanya nisbi. Tidak ada yang mutlak.

Kita pasti masih ingat berbagai wacana tentang orang-orang yang didakwa terlibat dalam gerakan PKI dan dipenjara tanpa pengadilan yang jelas. KTP mereka diberi tanda dan keluarga mereka secara otomatis terimbas stigma tahanan politik, dijauhi orang, dan tidak bisa memperoleh penghidupan sebagaimana orang lain pada umumnya. Setelah kejatuhan rezim Suharto, barulah kondisi berubah. Sementara Allah Swt meniadakan dosa turunan, mengapa manusia menciptakan aturan baru tentang dosa orang tua?

Kita juga belum lupa, bagaimana pejabat sipil, petinggi militer, anggota parlemen, menjadi impian bagi kebanyakan pemuda. Bukan mengimpikan untuk mengabdi kepada bangsa dengan benar, tetapi memperoleh harta dunia yang memabukkan. Pekerjaan di lembaga keuangan seperti BI, pajak dan bea cukai, industri strategis seperti Pertamina dan PLN, semuanya menggiurkan karena dianggap “basah”. Sekarang, berlandaskan itikad Pemerintah untuk menegakkan aparat yang bersih, KPK mengasah taring dan taji memberangus para tersangka korupsi. Era kegemilangan para benalu bangsa sudah mulai memudar.

Karena hidup ini adalah pergiliran, episodik seperti ruas-ruas bambu, sudah selayaknya bila kita tidak pernah lupa untuk bersyukur pada tiap jengkal rizki Allah. Kita dipersilakan untuk melakukan shalat Dhuha bila ingin kelimpahan rizki Allah, dan bayangan kita adalah gumpalan emas atau timbunan uang. Tapi, saya juga pernah membaca, seharusnya yang kita minta dalam shalat Dhuha adalah barokah rizki. Rizki tentunya semua hal yang datang kepada kita, kita duga maupun tidak, namun tidak semuanya barokah. Bila seseorang tidak pernah merasa cukup dengan rizki yang diterimanya, waspadalah dengan kebarokahan rizki yang diperolehnya. Barokahnya rizki membuat perasaan kita senang, sepiring nasi, sayur kangkung, dan sepotong tempe goreng membuat kita gembira, terlebih ketika anak-anak kita tersenyum ketika memakannya.

Kepedihan dan derita yang kita alami dalam kehidupan pasti bukan kebetulan. Seorang bijak mengatakan, tidak ada kebetulan dalam hidup ini. Semua sudah diatur dan menjadi bagian dari riwayat kita. Orang Barat mengatakan: what can not kill you will make you stronger. Saya pribadi mengatakan, Allah selalu memberikan yang terbaik bagi umat-Nya, sekalipun mungkin dalam bungkus terburuk dan terpahit. Semua pengalaman yang tidak menyenangkan hanya akan meningkatkan imunitas tubuh kita.

Kalau sekarang kita sedang dalam kesulitan dan kesusahan, jangan bersedih, sebab pada saatnya nanti kita akan diberikan kegembiraan. Mungkin 1 tahun atau mungkin 3 tahun lagi, kita bisa bercerita pada orang lain bagaimana kita bisa bertahan dan menasihati mereka cara menyelesaikan masalah serupa itu.

Kalau sekarang kita sedang di puncak kegembiraan, tetap ingat bahwa jurang lebar penderitaan siap memakan kita tanpa ampun. Semakin kita lupa, lebih sakit rasa jatuh nanti. Kalau kita waspada, insyaallah kita bisa mempersiapkan perasaan ketika harus jatuh. Hidup ini bukan soal seberapa kuat kita menahan kejatuhan, karena cepat lambat akan terjadi. Tapi, bagaimana kita bangkit dan berjalan lagi setiap kali jatuh.

Sebagai penutup mari simak bunyi QS. Al-A’raf ayat 96: “Jika sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tapi mereka medustakan (ayat-ayat itu), maka Kami sika mereka disebabkan perbuatannya”.

Semoga bangsa ini memang sedang menuju ke arah kedewasaan, meninggalkan segala kemungkaran karena menemukan cahaya kebenaran. Lalu, nestapa yang kita alami sekarang ini kemudian hanyalah sepenggal episode yang akan kita kenang dengan manis beberapa tahun mendatang. Insyallah.

Tahapan Perkembangan Manusia

Posted in Psikologi, Sharing with tags , on August 10, 2008 by hzulkarnain
Erik H. Erikson

Erik H. Erikson

Salah satu teori yang bagi saya mengagumkan dan mudah dipahami dalam pembahasan tentang psikologi perkembangan adalah teori Erik Homburger Erikson.

Erikson mengembangkan dua filosofi dasar berkenaan dengan perkembangan, yaitu:

    1. dunia bertambah besar seiring dengan diri kita
    2. kegagalan bersifat kumulatif

      Kedua dasar filosofi inilah yang membentuk teorinya yang terkenal itu. Ia hendak mengatakan bahwa dunia semakin besar seiring dengan perkembangan karena kapasitas persepsi dan kognisi manusia juga mengalami perubahan. Di sisi lain, dalam pengertian Erikson, kegagalan yang terjadi pada sebuah stage perkembangan akan menghambat sebuah proses perkembangan ke stage berikutnya. Kegagalan ini tidak lantas hilang dengan sendirinya, bahkan terakumulasi dalam stage perkembangan berikutnya.

      Dari penelitiannya, Erikson yang penganut Freudian (karena menggunakan konsep ego) ini melihat bahwa jalur perkembangan merupakan interaksi antara tubuh (pemrograman biologi genetika), pikiran (aspek psikologis), dan pengaruh budaya.

      Erikson mengelompokkan tahapan kehidupan ke dalam 8 stage yang merentang sejak kelahiran hingga kematian.

      1. Tahap Bayi (Infancy): Sejak lahir hingga usia 18 bulan.

      Hasil perkembangan ego: trust vs mistrust (percaya vs tidak percaya)

      Kekuatan dasar: Dorongan dan harapan

      Periode ini disebut juga dengan tahapan sensorik oral, karena orang biasa melihat bayi memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya. Sosok Ibu memainkan peranan terpenting untuk memberikan perhatian positif dan penuh kasih kepada anak, dengan penekanan pada kontak visual dan sentuhan. Jika periode ini dilalui dengan baik, bayi akan menumbuhkan perasaan trust (percaya) pada lingkungan dan melihat bahwa kehidupan ini pada dasarnya baik. Sebaliknya, bila gagal di periode ini, individu memiliki perasaan mistrust (tidak percaya) dan akan melihat bahwa dunia ini adalah tempat yang mengecewakan dan penuh frustrasi. Banyak studi tentang bunuh diri dan usaha bunuh diri yang menunjukkan betapa pentingnya pembentukan keyakinan di tahun-tahun awal kehidupan ini. Di awal kehidupan ini begitu penting meletakkan dasar perasaan percaya dan keyakinan bahwa tiap manusia memiliki hak untuk hidup di muka bumi, dan hal itu hanya bisa dilakukan oleh sosok Ibu, atau siapapun yang dianggap signifikan dalam memberikan kasih sayang secara tetap.

      QS Al-Baqarah 233: Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

      Islam mengatakan bahwa sosok Ibu atau pengganti Ibu adalah madrasah pertama melalui kasih sayangnya, sehingga ada pepatah “surga di telapak kaki ibu”. Ibu lah yang bertanggung jawab di awal untuk mengantarkan anak ke surga.

      2. Tahap Kanak-Kanak Awal (Early Childhood): 18 Bulan hingga 3 tahun

      Hasil perkembangan ego: autonomy vs shame (otonomi vs rasa malu)

      Kekuatan dasar: Pengendalian diri, keberanian, dan kemauan (will)

      Selama tahapan ini individu mempelajari ketrampilan untuk diri sendiri. Bukan sekedar belajar berjalan, bicara, dan makan sendiri, melainkan juga mempelajari perkembangan motorik yang lebih halus, termasuk latihan yang sangat dihargai: toilet training. Di masa ini, individu berkesempatan untuk belajar tentang harga diri dan otonomi, seiring dengan berkembangnya kemampuan mengendalikan bagian tubuh dan tumbuhnya pemahaman tentang benar dan salah. Salah satu ketrampilan yant muncul di periode adalah kemampuan berkata TIDAK. Sekalipun tidak menyenangkan orang tua, hal ini berguna untuk pengembangan semangat dan kemauan.

      Di sisi lain, ada kerentanan yang bisa terjadi dalam periode ini, khususnya berkenaan dengan kegagalan dalam proses toilet training atau mempelajari skill lainnya, yang mengakibatkan munculnya rasa malu dan ragu-ragu. Lebih jauh, individu akan kehilangan rasa percaya dirinya.

      Dalam periode ini, hubungan yang signifikan adalah dengan orang tua.

      QS Al-Maidah 6: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

      Kebersihan selalu menjadi bagian dari Islam, karena itu layak diajarkan sejak anak-anak masih kecil agar mereka bisa mandiri dalam melakukannya serta terbiasa membersihkan diri sekalipun belum siap untuk beribadah secara formal.

      3. Tahap Usia Bermain (Play Age): 3 hingga 5 tahun

      Hasil perkembangan ego: initiative vs guilt (inisiatif vs rasa bersalah)

      Kekuatan dasar: Tujuan

      Pada periode ini, individu biasanya memasukkan gambaran tentang orang dewasa di sekitarnya dan secara inisiatif dibawa dalam situasi bermain. Anak laki-laki bermain dengan kuda-kudaan dan senapan kayu, anak perempuan main “pasar-pasaran” atau boneka yang mengimitasi kehidupan keluarga, mobil-mobilan, handphone mainan, tentara mainan untuk bermain peran, dsb. Di masa ini, muncul sebuah kata yang sering diucapkan seorang anak:”KENAPA?”

      Sesuai dengan konsep Freudian, di masa ini anak (khususnya laki-laki) juga sedang berjuang dalam identitas gender-nya yang disebut “oedipal struggle”. Kita sering melihat anak laki-laki yang bermain dengan alat kelaminnya, saling menunjukkan pada sesama anak laki-laki, atau bahkan menunjukkan pada anak perempuan sebaya. Kegagalan melalui fase ini menimbulkan perasaan bersalah.

      Hubungan yang signifikan di periode ini adalah dengan keluarga inti (ayah, ibu, dan saudara).

      Rasulullah SAW bersabda; “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang-tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR Bukhari)

      Anak-anak di usia ini disebut dengan golden age, karena memiliki ingatan yang luar biasa, dan apapun memory yang didapatkan di kurun usia ini akan menjadi kenangan seumur hidup. Karena itu biarlah mereka selalu mengenang orang tuanya sebagai ilham bagi perbuatan penuh kebajikan dan amal saleh di kelak kemudian hari.

      4. Tahap Usia Sekolah (School Age): Usia 6 – 12 tahun

      Hasil perkembangan ego: Industry vs Inferiority (Industri vs Inferioritas)

      Kekuatan dasar: Metode dan kompetensi

      Periode ini sering disebut juga dengan periode laten, karena individu sepintas hanya menunjukkan pertumbuhan fisik tanpa perkembangan aspek mental yang berarti, berbeda dengan fase-fase sebelumnya. Kita bisa simak, dalam periode sebelumnya pertumbuhan dan perkembangan berbilang bulan saja untuk manusia agar bisa tumbuh dan berkembang.

      Ketrampilan baru yang dikembangkan selama periode ini mengarah pada sikap industri (ketekunan belajar, aktivitas, produktivitas, semangat, kerajinan, dsb), serta berada di dalam konteks sosial. Bila individu gagal menempatkan diri secara normal dalam konteks sosial, ia akan merasakan ketidak mampuan dan rendah diri.

      Sekolah dan lingkungan sosial menjadi figur yang berperan penting dalam pembentukan ego ini, sementara orang tua sekalipun masih penting namun bukan lagi sebagai otoritas tunggal.

      Imam asy-Syafi’i rahimahullaah pemah mengatakan dalam sya’irnya: Saudaraku, engkau tidak akan mendapat ilmu, melainkan dengan enam perkara.Kukabarkan kepadamu rinciannya dengan jelas: Kecerdasan, kemauan keras, bersungguh-sungguh, bekal yang cukup, bimbingan ustadz, dan waktunya yang lama.

      Anak-anak selalu menganggap guru sebagai orang tua kedua, bahkan seringkali lebih mendengar penuturan mereka. Karena guru dan teman-teman sekolah memberikan pengaruh penting, kita wajib seksama dalam memilihkan pendidikan dasar anak kita.

      5. Tahap Remaja (Adolescence): Usia 12 hingga 18 tahun

      Hasil perkembangan ego: Identity vs Role confusion (identitas vs kebingungan peran)

      Kekuatan dasar: devotion and fidelity (kesetiaan dan ketergantungan)

      Bila sebelumnya perkembangan lebih berkisar pada apa yang dilakukan untuk saya, sejak stage perkembangan ini perkembangan tergantung pada apa yang saya kerjakan. Karena di periode ini individu bukan lagi anak tetapi belum menjadi dewasa, hidup berubah sangat kompleks karena individu berusaha mencari identitasnya, berjuang dalam interaksi sosial, dan bergulat dengan persoalan-persoalan moral.

      Tugas perkembangan di fase ini adalah menemukan jati diri sebagai individu yang terpisah dari keularga asal dan menjadi bagian dari lingkup sosial yang lebih luas. Bila stage ini tidak lancara diselesaikan, orang akan mengalami kebingungan dan kekacauan peran.

      Hal utama yang perlu dikembangkan di sini adalah filosofi kehidupan. Di masa ini, seseorang bersifat idealis dan mengharapkan bebas konflik, yang pada kenyataannya tidak demikian. Wajar bila di periode ada kesetiaan dan ketergantungan pada teman.

      Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang sholeh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk. (HR. Al Hakim)
      Seseorang adalah sejalan dan sealiran dengan kawan akrabnya, maka hendaklah kamu berhati-hati dalam memilih kawan pendamping. (HR. Ahmad)

      Pergaulan menjadi sangat crucial di usia ini, dan sangat menentukan arah masa depan perkembangan kerohanian seseorang kelak. Orang tua perlu mengontrol siapa saja teman anak-anaknya tanpa merasa rikuh, karena tugas orang tua adalah memilihka teman yang bisa membawa anak ke jalan kehidupan yang benar.

      6. Tahap Dewasa Awal (Young Adulthood): Usia 18 hingga 35 tahun

      Hasil perkembangan ego: Solidarity vs Isolation (Solidaritas vs isolasi)

      Kekuatan dasar: affiliation and love (kedekatan dan cinta)

      Langkah awal menjadi dewasa adalah mencari teman dan cinta. Hubungan yang saling memberikan rasa senang dan puas, utamanya melalui perkawinan dan persahabatan. Keberhasilan di stage ini memberikan keintiman di level yang dalam.

      Kegagalan di level ini menjadikan orang mengisolasi diri, menjauh dari orang lain, dunia terasa sempit, bahkan hingga bersikap superior kepada orang lain sebagai bentuk pertahanan ego.

      Hubungan yang signifikan adalah melalui perkawinan dan persahabatan.

      QS An-Nuur32: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

      ” jika seorang hamba menikah sesungguhnya ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karena itu bertakwalah pada Allah untuk menyempurnakan sebagian yang lain” (HR Al Baihaqi)

      Menikah adalah pilihan, namun bagi kaum muslim adalah sunnah. Pernikahan yang baik dan berdasarkan ridha Allah akan memberikan ketenteraman.

      7. Tahap Dewasa (Middle Adulthood): Usia 35 hingga 55 atau 65tahun

      Hasil perkembangan ego: Generativity vs Self Absorption or Stagnation

      Kekuatan dasar: production and care (produksi dan perhatian)

      Masa ini dianggap penting karena dalam periode inilah individu cenderung penuh dengan pekerjaan yang kreatif dan bermakna, serta berbagai permasalahan di seputar keluarga. Selain itu adalah masa “berwenang” yang diidamkan sejak lama.

      Tugas yang penting di sini adalah mengejawantahkan budaya dan meneruskan nilai budaya pada keluarga (membentuk karakter anak) serta memantapkan lingkungan yang stabil. Kekuatan timbul melalui perhatian orang lain, dan karya yang memberikan sumbangan pada kebaikan masyarakat, yang disebut dengan generativitas. Jadi di masa ini, kita takut akan ketidak aktifan dan ketidak bermaknaan diri.

      Sementara itu, ketika anak-anak mulai keluar dari rumah, hubungan interpersonal tujuan berubah, ada kehidupan yang berubah drastic, individu harus menetapkan makna dan tujuan hidup yang baru. Bila tidak berhasil di stage ini, timbullah self-absorpsi atau stagnasi.

      Yang memainkan peranan di sini adalh komunitas dan keluarga.

      Anas bin Malik r.a. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidak sempurna iman seseorang di antaramu kecuali jika ia mencintai saudaranya sebagaimana yang ia cintai untuk dirinya.” (HR Bukhari dan Muslim)
      Dari Nu’man bin Basyir r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan saling membantu itu bagaikan satu jasad. Jika ada di antaranya yang merasa sakit, maka semua unsur jasad ikut tidak tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim)

      Menjadi bagian dari komunitas adalah tuntunan bagi orang Islam, selain untuk amalan hablum minannas juga untuk menunjukkan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin.

      7. Tahap Dewasa Akhir (Late Adulthood): Usia 55 atau 65tahun hingga mati

      Hasil perkembangan ego: Integritas vs Despair (integritas vs keputus asaan)

      Kekuatan dasar: wisdom (kebijaksanaan)

      Orang berusia lanjut yang bisa melihat kembali masa-masa yang telah dilaluinya dengan bahagia, merasa tercukupi, dan merasa telah memberikan kontribusi pada kehidupan, ia akan merasakan integritas. Kebijaksanaannya yang tumbuh menerima keluasan dunia dan menjelang kematian sebagai kelengkapan kehidupan.

      Sebaliknya, orang yang menganggap masa lalu adalah kegagalan merasakan keputus asaan, belum bisa menerima kematian karena belum menemukan makna kehidupan. Atau bisa jadi, ia merasa telah menemukan jati diri dan meyakini sekali bahwa dogma yang dianutnyalah yang paling benar.

      QS Al-Jumu’ah 8: Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan”.

      Kematian adalah keniscayaan, dan masa lalu tidak mungkin terulang. Sebuah syair Bimbo menyebutkan, jangan takut mati karena kematian pasti datang, tapi jangan mencari mati dan menyebabkan kematian datang padamu …

      Terapi Salat Tahajud – Rangkuman (2)

      Posted in Kontemplasi, Psikologi, Sharing with tags , on August 7, 2008 by hzulkarnain

      dzikir

      Rangkuman ke-2 dari Buku Terapi Salat Tahajud (Dr. Moh. Sholeh)

      DR. Moh. Sholeh yang tidak memiliki dasar pendidikan kedokteran cukup rinci dalam mengupas anatomi sistem kekebalan tubuh imunologik. Saya tidak bisa merangkum bab yang menjabarkan anatomi tersebut di sini karena terlalu teknis dan tidak semua orang memahaminya.

      Hormon Kortisol dan Sistem Imun

      Hormon kortisol yang dianggap penting dalam meningkatkan sistem ketahanan tubuh imunologik diproduksi oleh kelenjar adrenal, tepatnya oleh dua lapisan korteks bagian dalamnya (fasikulata dan retikularis). Pola sekresi kortisol mengeluarkan implus yang bersifat ritme / irama sirkadian, sehingga sekresi tersebut bersifat episodik. Sekresi kortisol secara umum akan tampak rendah pada dini – pagi hari (jam tidur) dan meningkat ke puncak pada pertengahan hari, untuk kemudian turun kembali pada jam-jam tidur. Ini berlaku bagi orang-orang yang normal. Bila seseorang memiliki kelaianan tertentu, semisal gagal ginjal kronik, sekresi kortisol tidak lagi terikat pada irama sirkadian.

      Beberapa peran Kortisol antara lain:

      1. Berperan dalam metabolisme karbohidrat, yang penting untuk menahan glukosa dalam hati dan darah. Dalam kondisi berpuasa, kortisol bisa mempertahankan glukosa dalam darah. Kekurangan kortisol yang parah menyebabkan hipoglikemia (yang ditandai dengan gemetar, keringat dingin, piloereksi, hipotermia (suhu tubuh di bawah normal), dan sakit kepala): sementara kelebihan kortisol yang berkepanjangan bisa menyebabkan hiperglikemia, kelemahan dan atropi otot serta kenaikan berat badan dengan distribusi lemak yang abnormal.
      2. Berperan dalam kontrol curah jantung dan tonus pembuluh darah kapiler. Di sinilah kortisol berfungsi mempertahankan integritas dan sifat responsif pembuluh darah dan volume cairan tubuh. Kekurangan kortisol menyebabkan berkurangnya tekanan darah yang berakibat shock, sementara peningkatan kortisol bisa memicu hipertensi.
      3. Peningkatan kortisol dalam kadar yang tidak berlebihan baik untuk menurunkan peradangan (anti-inflamasi). Akan tetapi, peningkatan yang terjadi dalam jangka panjang justru menurunkan sistem imunologik yang mengakibatkan orang mudah mendapat infeksi.
      4. Pengaruh terhadap perilaku dan emosi. Kelebihan kortisol pada awalnya berbentuk euforia, tetapi dalam jangka panjang menyebabkan gangguan psikologis seperti: emosi yang labil, mudah tersinggung, kondisi depresi, gangguan memori dan konsentrasi. Selain itu, kelebihan kortisol bisa juga manifes dalam bentuk peningkatan nafsu makan, penurunan libido, dan insomnia. Kekurangan kortisol, sebagaimana yang terjadi pada penderita addison, menunjukkan gejala apatis, negatififistik, dan depresi.

      Stres, Mekanisme Coping, dan Ketahanan Imunologik

      Gejala dan realitas stres dapat digunakan dalam, dan berhubungan dengan, bidang yang sangat luas yakni biologi, ilmu kedokteran, psikologi, bahkan ilmu sosial. Karena itu, stres dapat dikonseptualisasikan dari berbagai titik pandang. Berkenaan dengan penelitian tentang salat tahajud ini, stres ditinjau dari konteks lingkungan, yaitu sebagai stimulus atau variabel bebas penelitian.

      Dalam konsep ini, segala sesuatu yang menimbulkan stres disebut dengan stressor, dan dalam diri manusia terbentuklah reaksi atas stress tersebut yang bisa berupa respon psikologis, fisiologis, maupun perilaku. Dalam sebuah jurnal endokrinologi, seorang pakar bernama Selye menyebutkan fase mekanisme terjadinya stress, yaitu:

      1. Fase peringatan (alarm stage). Pada fase ini, sistem syaraf pusat dibangkitkan dan pertahanan tubuh dimobilisasi. Stres terjadi ketika individu terus menerus mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan: menghadapi sumber stressor secara terbuka atau menghindari dan beradaptasi dengan sumber tersebut.

      2. Fase perlawanan atau adaptasi (the stage of resistance or adaptation). Pada tahap ini individu menentukan apakah ia harus melakukan perlawanan terhadap stressor atau mencari jalan untuk berkompromi. Hormon kortisol dan adrenal mulai bekerja pada tahap ini.

      3. Tahap keletihan (stage of exhaustion). Bila stres terjadi berkelanjutan atau adaptasi tidak berhasil, individu akan mengalami gangguan homeostasis, atau kondisi yang tidak seimbang. Tanda akhir keletihan adalah gangguan respons umum, hingga yang lebih serius seperti gagal jantung, gagal ginjal, bahkan kematian.

      Sebuah pandangan lain menyebutkan bahwa stres bersifat subjektif. Dalam sebuah jurnal psikologi medis, Ostell menyebutkan bahwa:”Secara transaksional, stres dipandang sebagai keadaan yang timbul pada saat individu berhubungan dengan situasi dalam cara tertentu. Sebenarnya, situasi itu sendiri tidak terganggu, hanya saja cara individu menilai dan bereaksi pada situasi itulah yang mengganggu.” Misalnya luka bakar yang mengakibatkan cedera dan bekas luka. Bagi individu yang satu hal itu menjadi stressor yang kuat, sementara individu yang lain tidak menganggapnya sebagai masalah. Stres tidak menyebabkan respons stres apabila faktor psikologis diminimalkan.

      Dalam kaitan dengan penanganan dan pengendaliannya, stres adalah sebuah elemen dalam sistem interdependen yang ditentukan oleh sifatnya, intensitas dan lamanya stressor, serta aspek persepsi, penilaian, dan efektivitas coping yang dimiliki oleh individu. Coping adalah mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima. Apabila mekanisme coping ini berhasil, seseorang akan dapat beradaptasi terhadap perubahan atau beban tersebut.

      Seorang ahli medis bernama ZJ Lipowski dalam penelitiannya memberikan definisi mekanisme coping: all cognitive and motor activities which a sick person employs to preserve his bodily and psychic integrity, to recover reversibly, impaired function and compensate to limit for any irreversible impairment. (Secara bebas bisa diterjemahkan: semua aktivitas kognitif dan motorik yang dilakukan oleh seseorang yang sakit untuk mempertahankan integritas tubuh dan psikisnya, memulihkan fungsi yang rusak, dan membatasi adanya kerusakan yang tidak bisa dipulihkan).

      Mekanisme coping terbentuk melalui proses belajar dan mengingat, yang dimulai sejak awal timbulnya stressor dan saat mulai disadari dampak stressor tersebut. Kemampuan belajar ini tergantung pada kondisi eksternal dan internal, sehingga yang berperan bukan hanya bagaimana lingkungan membentuk stressor tetapi juga kondisi temperamen individu, persepsi, serta kognisi terhadap stressor tersebut.

      Efektivitas coping memiliki kedudukan sangat penting dalam ketahanan tubuh dan daya penolakan tubuh terhadap gangguan maupun serangan penyakit (fisik maupun psikis). Jadi, ketika terdapat stressor yang lebih berat (dan bukan yang biasa diadaptasi), individu secara otomatis melakukan mekanisme coping, yang sekaligus memicu perubahan neurohormonal. Kondisi neurohormonal yang terbentuk akhirnya menyebabkan individu mengembangkan dua hal baru: perubahan perilaku dan perubahan jaringan organ.

      Lipowski membagi coping menjadi: coping style dan coping strategy. Coping style adalah mekanisme adaptasi individu yang meliputi aspek psikologis, kognitif, dan persepsi. Coping strategy merupakan coping yang dilakukan secara sadar dan terarah dalam mengatasi rasa sakit atau menghadapi stressor. Apabila coping dilakukan secara efektif, stressor tidak lagi menimbulkan tekanan secara psikis, penyakit, atau rasa sakit, melainkan berubah menjadi stimulan yang memacu prestasi serta kondisi fisik dan mental yang baik.

      Sistem Ketahanan Tubuh Imunologik

      Sistem ketahanan tubuh adalah semua mekanisme yang digunakan tubuh untuk menjaga keutuhan tubuh sebagai perlindungan terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan oleh berbagai keadaan yang ada di dalam lingkungan hidupnya. Sistem ini berasal dari sel darah putih yang mengalami perkembangan dalam sumsum tulang kelenjar timus. Bila ada ada benda yang dianggap asing (non-self) masuk ke dalam tubuh barulah sel darah putih ini bereaksi.

      Sistem ketahanan tubuh dapat dibedakan menjadi:

      • Respon ketahanan tubuh non-spesifik. Dikatakan non-spesifik karena dalam mekanisme tidak memerlukan pengenalan pada pengenalan spesifik benda asing. Contohnya adalah keradangan (inflamasi), yang mengindikasikan adanya suatu masalah dalam tubuh kita tapi tidak spesifik.
      • Respon ketahanan tubuh spesifik. Disebut dengan spesifik karena terkait dengan kemampuan mengenali atau memaparkan benda asing yang masuk ke tubuh. Gejala masuknya badan asing akan spesifik sesuai dengan benda yang masuk.

      Respon ketahanan tubuh ini memiliki 3 fungsi, yakni:

      1. fungsi ketahanan (defense).

      Fungsi ini berguna untuk melawan segala aktivitas benda asing dengan kemampuan tubuh serta menyebarkan ketahanan tubuh ke seluruh jaringan

      2. fungsi keseimbangan (homeostasis)

      Fungsi ini memelihara keseimbangan (homeostasis) hubungan timbal balik antara sistem ketahanan tubuh dan sistem syaraf atau sistem organ lainnya.

      3. fungsi pemantauan (surveillance)

      Sesuai dengan namanya, fungsi ini memantau dan mengenali jenis-jenis sel abnormal yang secara tetap timbul dalam diri individu, baik yang spontan maupun yang disebabkan oleh pengaruh virus atau zat kimia.

      (to be continued)

      Terapi Shalat Tahajud – Rangkuman (1)

      Posted in Kontemplasi, Psikologi, Sharing with tags , on August 1, 2008 by hzulkarnain
      ikhlas kunci sehat

      ikhlas kunci sehat

      Pengantar:

      Buku Terapi Salat Tahajud yang merupakan upaya penulisan kembali secara populer disertasi ilmiah DR. Moh. Sholeh merupakan sebuah mutiara hikmah yang patut disebar luaskan, agar lebih banyak manusia yang memahami dan melakukannya. Asalnya, disertasi tersebut berjudul: Pengaruh Salat Tahajud terhadap Peningkatan Respons Ketahanan Tubuh Imunologik: Suatu Pendekatan Peikoneuroimonologi.

      Saya berusaha merangkumkan garis-garis besar buku ini dalam beberapa seri tulisan, semata-mata untuk 3 tujuan:

      1. Membagikan apa yang saya ketahui
      2. mewujudkan kekaguman saya pada DR. Moh. Sholeh
      3. Mengajak kaum muslimin lebih ikhlas dalam menjalankan perintah Allah

      Dalam merangkum isi buku ini, saya tidak menggunakan mekanisme penulisan sebagaimana yang terdapat di dalamnya, melainkan saya kelompokkan ke dalam sub pembahasan yang memungkinkan pembaca lebih mudah mencernanya.

      Bila ada kekeliruan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mohon koreksi.

      PENDAHULUAN

      1. Dasar Perintah Salat Tahajud

      Ada sebuah riwayat shahih yang mennceritakan bahwa Rasulullah Saw tidak pernah meninggalkan shalat tahajud semasa hidupnya, dan beliau juga bersabda:”Salat sunah yang utama setelah salat fardhu adalah salat tahajud,”(HR Abu Dawud).

      Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman dalam dua surat:

      QS. Al-Muzzamil 1-3: “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.”

      QS. Al-Israa 79: “Dan, pada sebagian malam hari, bersembahyang dan tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

      2. Salat Tahajud dan Kesehatan

      Menanggapi perintah Allah, dan menterjemahkannya dalam bahasa yang dipahami oleh kaumnya, Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits:”Salat tahajud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan, dan menghindarkan dari penyakit,”(HR Tarmidzi).

      Sabda inilah yang menjadi salah satu pemicu DR. Moh. Sholeh menghubungkannya dengan penyembuhan atas penyakit. Dari sebuah penelitian diasumsikan bahwa ketenangan yang disebutka dalam hadits Rasulullah tersebut memang berkaitan dengan peningkatan ketahanan tubuh imonologik, mengurangi resiko penyakit jantung, dan meningkatkan usia harapan. Sebaliknya, stress dapat menyebabkan kerentanan terhadap infeksi, mempercepat pertumbuhan sel kanker, dan meningkatkan metastasis (penyebaran sel-sel kanker).

      Namun demikian, ada temuan yang menyebutkan bahwa pelaksanaan salat tahajud di malam hari, yang menuntut orang untuk bangun malam hari di tengah waktu tidurnya, merugikan kesehatan. Hal ini juga disadari oleh penulis buku, dan menurutnya hal ini disebabkan oleh kegagalan adaptasi terhadap irama biologis baru.

      Seperti diketahui, kita yang terbiasa bangun dan beraktivitas di hari terang (pagi – sore hari) memiliki irama kehidupan yang khas siang hari. Bila kemudian ditambah lagi dengan beban melakukan aktivitas salat tahajud, berarti irama kehidupan yang mapan tadi harus berubah dan menuntut adanya perubahan dalam perilaku dan kerja sistem syaraf pusat. Di malam hari, seharusnya sekresi hormon kortisol menurun, termasuk sebagian dari mereka yang melaksanakan salat tahajud. Sebaliknya, ada sementara orang yang menunjukka peningkatan hormon kortisol saat dibebani harus melakukan salat tahajud. Orang yang berhasil melakukan adaptasi dengan perubahan jam tidur adalah orang yang punya niat dan ikhlas. Hal ini berkebalikan dengan mereka yang melakukan salat tahajud dengan keterpaksaan. Catatan: Hormon kortisol berfungsi untuk mempertahankan integritas tubuh, sifat responsif pembuluh darah dan volume cairan tubuh. Peningkatan hormon kortisol bisa memicu terjadinya hipertensi melalui mekanisme fisiologis tertentu.

      Dalam pikiran penulis buku ini, kondisi ini harus didekati dengan cabang sains yang melibatkan ilmu psikologi, neurologi, dan imunologi. Kini, psikoneuroimunologi telah berkembang menjadi suatu sains dengan paradigma yang jelas, dengan mengaitkan konsep tentang perilaku, neuroendokrin, dan imunologik. Dengan demikian, pembahasan tentang manusia bisa diharapkan lebih holistik.

      Tantangan terbesar sinergi antara ilmu agama dengan sains adalah perbedaan logika berpikirnya. Penulis agaknya mendukung dijembataninya logika dikotomi sains empiris dengan spiritualitas / religiusitas. Dikotomi sains dan spiritualiltas / religiusitas menempatkan kajian agama secara normatif dan tidak menyentuh sains, sebaliknya penalaran sains harus bersifats sekuler  dan lepas dari landasan wahyu Ilahiah. DR. Moh. Shaleh berasumsi bahwa,  kajian tentang kecerdasan emosional atau kecerdasan spiritual untuk menunjukkan mekanisme kerja otak mengindikasikan bahwa kesadaran religius sudah mencampuri penalaran sains. Dengan  hilangnya pembatas antara nalar religius dengan arguemntasi ilmiah, ia berharap adanya jawaban atas dua pertanyaan pokok yang melandasi pemelitian ini, yaitu:

      1. Apakah salat tahajud menurunkan sekresi hormon kortisol?
      2. Apakah salat tahajud meningkatkan perubahan respons ketahanan tubuh imunologik?

      Penelitian DR. Moh. Sholeh berusaha membuktikan bahwa salat tahajud memang bisa menurunkan sekresi hormon kortisol, atau dengan kata lain meningkatkan ketahanan tubuh imunologik. Salat tahajud yang dimaksudkan di sini adalah salat yang dilakukan secara ikhlas, yang merupakan wilayah pemikiran religius. Pada akhirnya, sang penulis mengharapkan bukunya mampu menandai dimulainya kebangkitan pembuktian sains terhadap berbagai konsep religius.

      (to be continued)