Archive for May, 2009

Shopping Festival Miskin Konsep

Posted in Sharing with tags on May 31, 2009 by hzulkarnain

SSF09Bulan Mei diperingati sebagai hari jadi kota Surabaya, dan pada tahun ini kota kedua terbesar di Indonesia ini dianggap telah menginjak umur ke 716. Sebelum tahun ini, pemerintah daerah kota Surabaya membuat agenda perayaan selama sebulan penuh dengan label Surabaya Big Sale. Baru mulai tahun inilah namanya diubah menjadi Surabaya Shopping Festival, dan penyelenggaranya adalah pelaku pasar bisnis retail di kota ini. Festival belanja ini cukup menggairahkan berbagai mall dan pasar grosir. Lebih dari itu, perayaan ulang tahun kota tidak lagi sekedar seremonial tahunan – yang membosankan.

Tentu saja konsep shopping festival ini bukan sesuatu yang baru, karena di Singapore telah dikenal The Great Singapore Sale, di Hong Kong ada Hong Kong Shopping Festival, atau Jakarta Great Sale (yang nanti akan bernama Festival Jakarta Great Sale). Selama sebulan, warga kota maupun pendatang dimanjakan dengan berbagai macam diskon dari berbagai pelaku bisnis retail, sehingga wisata belanja bisa terbentuk dengan adanya perayaan ini.

Menurut otoritas kotamadya, perubahan dari konsep sebelumnya yang dikelola oleh pemerintah menjadi festival yang ditangani sendiri oleh swasta sejak 2008 silam bertujuan untuk menggalakkan perekonomian kecil menengah. Bila swasta terlibat penuh, mereka akan bertanggung jawab pada keberhasilan festival belanja untuk peringatan berdirinya Surabaya ini. Selain kesiapan seluruh “warga” retail Surabaya, media masa sebagai agen promosi berperan penting sekali, sehingga event tahunan tersebut bisa berjalan seperti yang diharapkan – dan untuk ini harian Jawa Pos bahkan mendedikasikan beberapa halaman untuk reportase SSF.

Spanduk, umbul-umbul, stiker yang bertema SSF bertebaran di penjuru kota, mengingatkan adanya event diskon belanja di segenap penjuru kota. Penempatan yang cukup bagus, tiap orang yang memasuki kota Surabaya akan segera tahu bahwa kota ini sedang mengadakan event. Di mall-mall pendukung SSF, bahkan stiker di rekatkan di lantai keramik mereka. Untuk mendongkrak penjualan, selama penambahan jam operasional diadakan diskon harga besar-besaran justru setelah puncak jam sibuk lewat, sepertinya misalnya Midnight Sale di Giant Hypermarket. Demikian juga di Tunjungan Plaza yang menjadi favorit dan kebanggaan warga Surabaya, diskon besar-besaran dimulai jam 22.00.

Apakah SSF sudah menjadi ajang wisata belanja yang bisa atau pantas membuat nama Surabaya masuk dalam kalender wisata Asia Tenggara – setidaknya? Saya pribadi mengatakan belum. Masih jauh.

Kalau orang bertanya tentang keunikan SSF, rasanya tidak ada yang bisa menjawab. Hal ini dikarenakan SSF 2009 baru berupa gebyar diskon atau belanja agak murah di berbagai retail pendukung festival. Tidak ada bedanya dengan aktivitas diskon yang secara periodik mereka lakukan. Memang yang menarik dan sedikit berbeda adalah, hampir semua butik, kios, counter, gondola, hingga foodcourt di dalam plaza memberikan diskon pada hampir semua item yang mereka jual. Di beberapa plaza bahkan secara khusus menyelenggarakan food festival. Suasana kebersamaan terbangkitkan, menyegarkan mata pengunjung mall dan plaza.

Kalau saya warga kota yang memang sedang ingin beli alat elektronik baru dengan harga lebih murah, atau mau membelikan anak saya pakaian dengan harga diskon seraya cuci mata di mall, SSF memang mencukupi. Sebagai warga kota, saya punya banyak pilihan untuk mendapatkan barang dengan harga diskon di berbagai tempat. Demikian juga kalau saya datang dari beberapa kota lain di Jawa Timur, mungkin SSF merupakan hiburan akhir pekan yang sebaiknya tidak dilewatkan. Akan tetapi, kalau saya orang dari Jakarta apalagi dari tempat lain yang lebih modern, apa yang menarik dari SSF?

Orang tertarik mendatangi sebuah tempat karena memiliki tujuan yang mungkin tidak bisa didapatkan di tempat lain. Kalau yang ditawarkan unik, punya daya pikat tinggi, orang jadi punya alasan untuk datang.

Mungkin memang SSF baru sebatas event yang dirancang untuk memuaskan warga kota Surabaya dan sekitarnya saja, karena secara potensial penduduk Surabaya dan sekitarnya yang mencapai jutaan orang tidak mungkin disepelekan.

Sebuah mall dengan tema khusus seperti Hi-Tech mall mungkin langsung bisa mengusung segmen pasarnya sendiri. Orang pergi ke sana sudah hampir pasti karena kebutuhan akan sarana dan prasarana yang berkaitan dengan komputer. Demikian juga dengan Plasa Marina yang dihuni retailer HP. BG Junction yang punya IT Center menunjukkan geliat serupa, dan karena mall ini juga punya pusat jajanan, food festival diselenggarakan pula di sini.

Kalau pelaku bisnis retail Surabaya bisa memetakan kekuatan supply dan besarnya demand di segenap penjuru kota, bukan tidak mungkin SSF pada tahun-tahun mendatang punya tema yang lebih kuat.

Misalnya, pusat mebel dan aksesoris rumah berada di sekitar Gemblongan dan Baliwerti, maka rasanya tidak berlebihan bila area itu hingga mall BG Junction menjadi area belanja item-item tersebut. Festival makanan tradisional perlu digelar, karena Jawa Timur penuh dengan berbagai makanan lokal yang enak, dan diselenggarakan di tempat umum seperti lapangan maupun di mall besar macam TP. Pasar Grosir Surabaya dan Jembatan Merah Plaza tidak boleh ditinggalkan karena di sanalah pintu gerbang retailer ke berbagai kota lain, khususnya busana muslim dan kerudung. Demikian seterusnya.

Hari ini, tanggal 31 Mei 2009 Surabaya Shopping Festival akan resmi ditutup dengan event yang diselenggarakan di Galaxy Mall. Sekalipun sudah resmi ditutup, kabarnya beberapa tempat masih melanjutkan program diskon hingga minggu pertama Juni.

Semoga SSF tahun depan lebih meriah dengan tema yang lebih jelas.

CAPRESKU CAPRESMU CAPRES KITA

Posted in Sharing with tags on May 20, 2009 by hzulkarnain

Hari sabtu 16 Mei 2009, resmi sudah 3 pasang Capres-Cawapres yang akan berkompetisi dalam pemilihan presiden Juli 2009 mendatang sudah mendaftarkan diri ke KPU. Semuanya hadir ke kantor KPU dengan modifikasi gaya yang disesuaikan dengan konsep masing-masing. Televisi melaporkan kejadian tersebut, bahkan ada yang secara langsung.

Pasangan Capres-Cawapres yang paling dini membentuk koalisi adalah Jusuf Kalla dan Wiranto, selaku ketua umum Golkar dan Hanura. Kecepatan JK dalam membuat keputusan koalisi itu seolah-olah menggambarkan motto-nya: Lebih Cepat Lebih Baik. Kalau ditilik sedikit ke belakang, sebenarnya Wiranto sebelumnya adalah kader Golkar yang di-Capres-kan dari Partai Golkar, namun keluar dan membentuk partai baru setelah kalah dalam pilpres 5 tahun yang lalu. Jadi, sebenarnya JK – Wiranto adalah dua orang dari Partai Golkar.

 

Jusuf Kalla yang juga pengusaha besar mungkin bukan politisi yang fasih berbicara, namun kemampuannya dalam perekonomian tidak diragukan. Orang boleh mengatakan bahwa senior dari Sulawesi Selatan ini tidak memiliki khasisma yang kuat, akan tetapi resource-nya telah terbukti berhasil melengserkan Akbar Tanjung dari kursi kepemimpinan Golkar. Dia adalah penantang yang tidak bisa dianggap remeh.

Pasangannya adalah seorang Jenderal bintang empat yang mahir dalam bicara, selalu mencoba bermain cantik, tetapi sayangnya besar di jaman orde baru. Kalimat dan kata-katanya enak didengar, terkadang filosofis, tetapi entah mengapa tidak banyak orang yang percaya. Mungkin, mendampingi Jusuf Kalla adalah keputusannya yang terbaik, karena elektabilitasnya yang belum jelas.

Nilai jual yang berusaha didongkrak oleh pasangan ini adalah jargon “pasangan  Nusantara”, dengan anggapan bahwa kombinasi Jawa-Luar Jawa adalah kombinasi yang terbaik. Salah satunya harus politisi, yang lain harus militer. Jadi, team sukses pasangan ini yakin sekali sentimen kesukuan akan mendongkrak suara JK – Wiranto dalam Pemilu mendatang. Sebuah asumsi yang sangat perlu dikaji dan diuji.

 

Kontroversi pembentukan pasangan SBY – Boediono berangkat dari pemikiran umum bahwa pasangan Capres- Cawapres haruslah pasangan politisi dari partai politik. Dengan dukungan utama dari partai-partai berbasis agama di parlemen mendatang, SBY harus menetapkan calon wakil presiden secara adil karena bila salah langkah koalisi yang diharapkan jalan akan berantakan begitu saja. Hal ini disebabkan masing-masing peserta koalisi menyiapkan seorang calon untuk mendampingi SBY.

Kinerja SBY dalam memimpin Indonesia selama hampir 5 tahun terakhir (bersama Jusuf Kalla), dan suara yang didulang Partai Demokrat yang sangat signifikan bagaimanapun merupakan magnet yang kuat bagi partai-partai lain untuk merapat. Selain itu, Demokrat tetap merupakan partai yang moderat, cenderung konservatif, namun terkesan modern. Partai ini boleh lahir pasca orde baru, namun tidak berarti tidak berpengalaman karena beberapa tokoh dari partai lain ternyata sudah menyeberang untuk memperkuat barisan kepengurusan partai ini.

Ketika nama Boediono didesas-desuskan menjadi kandidat yang diinginkan SBY, ada rumor yang mengaitkannya dengan PDI-Perjuangan sebab nama ini muncul hampir bersamaan dengan bertemunya Hatta Rajasa dengan Megawati SP. Koalisi menggeliat, khususnya dari PKS dan PAN yang merasa punya pengaruh dalam koalisi tersebut. Terjadi tarik-ulur politik, karena menganggap SBY kurang jelas mengkomunikasikan kemauannya. Pada akhirnya, ketika benar-benar nama itu yang digandeng SBY untuk kursi Cawapres 5 tahun mendatang, koalisi tetap bertahan. Bahkan ketika hari deklarasi, bukan hanya 4 parpol bernuansa Islam di parlemen yang bergabung dalam koalisi, tetapi juga lebih dari 20 parpol kecil lain yang tidak mampu melampaui parliament threshold 2.5%. Sungguh sebuah koalisi yang luar biasa.

Pasangan SBY-Boediono tetap mengusung moto “Lanjutkan!” untuk menekankan prestasi yang telah diraih dan semangat melanjutkan segala yang sudah dicapai selama ini. Nama Boediono yang selama ini dianggap pro-neoliberalisme mungkin akan menjadi sasaran bidik para kompetitor pasangan yang lain. Benteng Boediono yang teknokrat ekonomi memang hanya SBY dan barisan Demokrat, sehingga team sukses Demokrat harus bekerja kerja bila menghendaki Boediono menjadi aset bukan beban SBY dalam pilpres nanti.

 

Megawati Soekarno Poetri sudah dipastikan menjadi calon presiden dari partai kuat PDI Perjuangan sejak awal, karena selama ini hanya dialah yang memiliki daya rekat bagi partai yang mengusung nasionalisme ini. Sejauh ini, tidak ada orang yang berani mencalonkan diri atau merasa cukup pantas menantang kursi kepemimpinan Megawati di dalam partai. Untuk bisa mendorong Mega, PDIP harus mencapai angka 20% kursi parlemen, dan koalisi yang paling logis ternyata adalah Partai Gerindra. Akan tetapi, Gerindra sendiri mencoba bermanuver karena ternyata hanya bisa menjadi calon wakil presiden saja, sebab suara parlemen partai ini hanya sekitar 5 prosen saja.

Setelah Golkar dan Hanura mantap, disusul Demokrat dan gerombolannya yang bersepakat, pada menit-menit terakhir tanggal 15 Mei 2009, PDIP dan Gerindra sepakat membentuk koalisi Capres-Cawapres. Mau tak mau Prabowo harus menurunkan egonya dan menerima tawaran menjadi Cawapres saja. Berat tapi memang itulah kenyataan yang harus dijalani. Prabowo berkilah, Gerindra bersedia berkoalisi dengan PDIP karena visi kerakyatan partai tersebut. Sementara Megawati menghendaki Prabowo memimpin team yang akan meningkatkan ekonomi kerakyatan.

Duet ini cukup melegakan bagi sebagian orang, karena mengharapkan elektabilitas Megawati akan naik dengan masuknya Prabowo ke dalam koalisi. Figur militer Prabowo dan kucuran dana tak terbatas dari keluarga Prabowo mungkin menjadi aset penting bagi PDIP. Sebaliknya, sebagian fans Prabowo merasakan dilema yang tidak mudah diselesaikan. Kalau Prabowo jadi Capres, sekalipun berduet dengan Megawati, mungkin dilema mereka tidak dalam. Akan tetapi, kali ini Prabowo hanya sebagai Cawapres dari Capres yang tidak mereka sukai.

 

Ketiga pasangan merupakan kompetitor yang serius. Kharisma figur calon presiden dan visi kepemimpinan mereka berperan sangat penting untuk mendongkrak image positif mereka di benak rakyat.

Pasangan JK-Wiranto jelas bertumpu pada suara Golkar yang menyebar hingga ke berbagai daerah terpencil dan elektabilitas Jusuf Kalla di wilayah Indonesia Timur. Rasanya, konsep BLT yang disebut-sebut sebagai gagasan JK akan masih dimunculkan di kalangan rakyat kecil. Peran Wiranto mungkin tidak sebesar JK dalam koalisi ini, apalagi 5 tahun yang lalu sudah terbukti namanya tidak memiliki nikai jual yang baik, namun perolehan angka 4%-an di parlemen mungkin bisa memberikan kontribusi.

Pasangan SBY-Boediono jelas hanya bertumpu pada sosok sang Capres, karena Boediono sama sekali tidak banyak dikenal dan tanpa elektabilitas. Suara Demokrat yang sedemikian besar sudah pasti adalah aset yang penting untuk kursi RI-1 ini. Dalam peta koalisi, suara PKS tampaknya akan bulat masuk ke SBY – mengingat selama ini warga PKS patuh pada pimpinan partai. Suara PAN dan PPP sudah mengindikasikan ketidak bulatan, karena beberapa kader partai justru mendukung pasangan JK-Wiranto. PKB mungkin hampir bulat ke SBY, sekalipun dukungan mutlak Muhaimin Iskandar justru dipertanyakan dewan penasihat partai sendiri. Mungkin akan cukup menarik mencermati dukungan dari belasan partai gurem lainnya, dan seberapa signifikan suara yang bisa didulang dari koalisi dengan mereka. Sementara itu, yang juga tak kalah menarik adalah suara pegawai negeri, pensiunan, dan rakyat penerima BLT.

Bagaimana kans Megawati-Prabowo? PDI Perjuangan jelas memiliki suara fanatik, entah karena jargon demokrasinya atau karena trah Bung Karno. Pertanyaannya adalah, seberapa kuat suara ini akan bermain di wilayah-wilayah yang secara konservatif merupakan kantong suara PDI Perjuangan. Suara Prabowo jelas bermain di sementara kaum muda yang menghendaki perubahan, dan jargon ekonomi kerakyatan yang diusungnya selalu enak untuk didengar.

Dari hitungan matematis, suara yang bisa dan mungkin didulang pasangan SBY-Boediono akan sangat besar. Dalam parlemen sendiri, total Demokrat (20%), PKS (8%), PAN (6%), PPP (5%) dan PKB (5%) akan mencapai sekitar 44 – 45 prosen kursi parlemen. Golkar – Hanura berada di kisaran 23%, sementara PDIP – Gerindra akan berkekuatan 22%-an. Namun demikian, sebuah rumor menyebutkan, bila SBY-Boediono tidak bisa menang dalam sekali putaran, posisinya akan cukup gawat, karena siapapun yang tidak masuk dalam putaran kedua akan memasukkan suara kepada pasangan non SBY-Boediono.

Bila pasangan SBY-Boediono ternyata tidak berhasil menjadi presiden-wapres, sungguh menarik melihat dinamika di Senayan, karena koalisi pendukung SBY justru mayoritas di sana.

Mari kita tunggu perkembangannya dalam waktu sebulan ke depan hingga hari H.

Berteman dengan Penderitaan

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags on May 16, 2009 by hzulkarnain

Salah seorang karyawan di tempat saya bekerja mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu. Masih muda, suka kecepatan, dan bertemu naasnya pada suatu sore sepulang kerja. Karena menghindari sebuah angkot yang berhenti mendadak, ia terjatuh dan kaki kirinya di bawah lutut terlindas truk. Hancur.

Di rumah sakit, rekonstruksi tulang dan jaringan daging pembungkusnya makan waktu berbulan-bulan. Beberapa buah pen platina ditanamkan di sana untuk memperkuat struktur tulang yang belum terbentuk. Ketika rekan IRS Officer menjenguknya, ia hanya berkata pelan:”Saya hancur Pak.” Tentu saja berbagai penghiburan disampaikan agar semangat hidupnya terus menyala, apalagi anaknya masih kecil-kecil.

Saya bertemu dengannya setiap hendak atau setelah shalat Dhuhur, dan memang sekalipun semua luka telah menutup, tulang tersambung, ia masih harus mengenakan sepatu safety khusus yang membuatnya mampu berjalan dengan cukup baik. Ia hanya bisa berjalan pelan, berhati-hati, dan tidak gagah seperti sebelum kecelakaan. Namun demikian, ada sesuatu yang berbeda dan membuat saya terharu.

Ketika saya tanyakan kapan terakhir kontrol, ia katakan beberapa waktu yang lalu. Sekarang jadual kontrol hanya setahun sekali. Terakhir, dokter menyarankan untuk melepas pen agar bisa dilakukan treatment lanjutan. Ada keraguan di matanya, karena pasti biayanya akan besar sekali. Entah bagaimana dia harus membayar kembali pada perusahaan. Di sisi lain, jelas terlihat sikap tatag – tabah dan ikhlas menerima garis nasibnya. Dia bicara tanpa kepahitan, dan menunjukkan kakinya yang – maaf – sedikit deformasi seolah-olah itu adalah luka lecet biasa.

Begitu datar hingga ketika dia mengucapkan: “Ternyata tendon achilles kaki saya ini sudah hancur”, sama nadanya dengan orang yang menjelaskan kemarin dia mengalami diare.

Dia telah bersahabat dengan rasa sakit dan penderitaannya. Tidak ada yang bisa ditolak ketika garis nasib sudah ditentukan oleh Allah, dan satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menerima penderitaan tersebut sebagai sahabat hingga mati.

Salah seorang sepupu, putra seorang dokter, besar dengan masalah di salah satu lobus otaknya. Bila terlalu lelah, memakan sesuatu yang mengandung alergen baginya, langsung epilepsi. Obat penahan epilepsi sudah seperti snack kedua baginya, yang harus dimakan tiap 12 jam. Bila terlambat, tinggal tunggu waktu saja datangnya serangan.

Serangan epilepsi tidak berdampak secara fisik, setelah selesai serangan dia akan biasa kembali, normal, bahkan kecerdasannya pun tidak terpengaruh. Sekarang dia telah menjadi dokter. Akan tetapi, tentu saja tiap serangan yang terjadi di tempat umum mendatangkan rasa kasihan pada orang lain. Padahal, dikasihani orang lain adalah hal terakhir yang ingin diminta oleh orang yang bermartabat dan punya harga diri. Saya tidak bisa membayangkan luka emosi yang diterimanya bertahun-tahun ketika mendapatkan serangan epilepsi di tempat umum (saya tidak memperoleh informasi berapa sering dia mengalami serangan ketika berada di tempat umum, tetapi pernah sekali bersama dengan saya seusai sholat Ied waktu itu).

Adiknya yang entah kebetulan atau memang diminta untuk mengawasi kakaknya, sepertinya selalu berada di dekatnya ketika serangan terjadi. Dia membersihkan air liur dan busa yang keluar dari mulut kakaknya yang terkena serangan dengan sabar sambil membisiki kakaknya agar cepat sadar.

Sepupu saya itu tahu bagaimana orang lain menaruh kasihan padanya, namun ia berusaha untuk bersikap wajar. Ia berteman akrab dengan luka hatinya, dan menjadi kawan perjalanan hidupnya.

apa sebenarnya tujuan hidup ini?

apa sebenarnya tujuan hidup ini?

Suatu saat team takmir masjid tempat saya kerja mencari sasaran dhuafa yang perlu memperoleh zakat dan sedekah. Salah seorang yang berhasil ditemui adalah seorang ustadz yang kedua kakinya lumpuh karena kecelakaan. Hidupnya serba kekurangan, dan geraknya yang terbatas membuatnya hanya mampu berada di sekitar musholla tempatnya berdiam. Sehari dua kali ia mengajar mengaji anak-anak desa yang berada di sekitar musholla, pagi dan sore. Pengajaran selesai kalau matahari sudah turun dan tidak memungkinkan anak-anak membaca juz-amma atau Al Qur’an dengan baik. Berapa infaq yang didapatkannya dengan mengajar anak-anak itu? Hampir tidak ada. Kalaupun ada hanya beberapa liter beras, sedikit sayuran, dan sedikit uang.

Tak sedikitpun ia pernah mengeluh, dan tak ada niatannya untuk meminta belas kasihan orang untuk dirinya. Tentu saja ia sangat gembira dengan bantuan takmir masjid kami yang berarti bisa meningkatkan semangatnya mengajar. Namun demikian, uluran zakat dan sedekah tersebut tidak menjadikan tangannya berada di bawah.

Sang ustadz telah ikhlas bersahabat dengan kecacatannya, dan hal itu tidak menjadikannya seorang miskin hati. Mungkin ia memang menerima bagian zakatnya, namun ia tetap membagikan ilmunya pada anak-anak yang membutuhkan.

Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dengan segala kesempurnaan fisik maupun mentalnya. Dalam proses hidupnya sebagai manusia dewasa, seiring dengan semakin matangnya pertumbuhan fisik, bersamaan dengan kian besarnya nikmat yang dirasakan, berbagai kesulitan dimunculkan untuk menguji manusia. Sebagaimana dalam QS At-Tiin ayat 4 – 6 yang artinya:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya ,

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

 

Cobaan pada manusia tidak berbeda, namun orang beriman yang senantiasa mengerjakan amal saleh tahu bahwa penderitaan mereka bukanlah kesia-siaan. Allah tidak pernah main-main dengan penciptaan-Nya, dan tidak ada yang terjadi pada diri manusia tanpa ijin-Nya. Oleh karena itu, sekalipun mereka terpuruk di tempat yang menghancurkan harga dirinya, Allah menjanjikan bahwa bersama dengan kesulitan ada kemudahan. Selalu ada hikmah dan pelajaran dari segala cobaan, langsung maupun tidak langsung.

Cukup banyak orang yang berusaha survive di tengah masalah yang dideritanya, kesulitan yang menghimpit, dan jalan keluar dari kesulitan yang seolah-olah tidak pernah terlihat. Sebagian menganggap memang itulah garis hidup yang harus mereka jalani, ketentuan Tuhan atas hidup mereka, sehingga tidak ada gunanya berkeluh kesah. Sebagian yang lain, dengan keyakinan penuh bahwa semua kesulitan dan ujian hanya sementara, meretas hari demi hari dengan doa dan usaha, seraya berharap kemudahan dan pertolongan segera tiba.

Sebaliknya, tanpa iman dan amal saleh, orang yang dikenai cobaan akan rapuh. Karena tidak punya pegangan, ada saja jalan yang ditempuh untuk mengatasi penderitaan tersebut. Membunuh diri adalah salah satu contoh, tetapi memang tindakan ini cukup ekstrim. Paling ringan adalah memposisikan tangan di bawah, tidak mensyukuri nikmat Allah bahkan menghinakan diri dengan mengemis. Melacurkan diri demi uang juga merupakan jalan pintas yang kerap di ambil untuk mengamankan badan dari kesengsaraan fisik, khususnya kelaparan dan kurangnya uang.

Saya pernah melihat seseorang yang tidak bisa berteman dengan penderitaannya mengalami kemunduran fisik. Sekalipun penampilan luarnya tidak jauh berbeda, cahaya kehidupan seperti sirna dari wajahnya setelah kelumpuhannya karena kecelakaan. Sama sekali tidak ada hal produktif yang bisa dilakukannya – sekalipun kedua tangannya sehat. Pada akhirnya, ia meninggal karena kondisi jantugnya – yang sebenarnya tidak ada kaitan dengan kelumpuhan kakinya.

Seringkali kita terperangkap dalam sepenggal pikiran saja tatkala kesulitan menimpa. Seolah-olah dunia begitu sempit, gelap, dan tanpa harapan. Terlupakan begitu saja seberapa luas rentang nikmat yang telah diserap dan kemudahan yang selama ini telah dijalani. Kesulitan dan penderitaan yang hanya episode terasa panjang, seperti tidak berujung. Karenanya, orang cenderung mencari cara terpraktis keluar dari himpitan penderitaan tersebut – sekalipun belum tentu cara tersebut dijamin kebaikannya pada diri sang penderita.

Kalau kita pertanyakan alasan orang pergi ke dukun atau tempat pesugihan, jawabannya adalah bosan dengan kemiskinan. Demikian pula dengan mereka yang melakukan pencurian atau perampokan. Salah satu alasan prostitusi adalah bertahan hidup. Ibu yang membunuh bayinya yang baru lahir beralasan malu kalau diketahui orang anaknya lahir tanpa bapak. Bahkan bunuh diri juga merupakan pembenaran bagi sementara orang yang menanggung rasa malu atau tekanan lingkungan yang terlalu besar.

Seolah-olah manusia berhak memilih untuk tidak mengalami penderitaan, sementara kesulitan dan cobaan memang diberikan Allah kepada manusia agar kita selalu memperbaiki diri. Bahkan sebelum lulus sekolah pun, seorang siswa harus mengalami ujian. Tanpa ujian, cobaan, derita, sudah barang tentu manusia. Pergiliran kebahagiaan dan kesedihan, nikmat dan derita, sama pastinya dengan datangnya siang dan malam. Ketika kesedihan dan derita datang, manusia harus optimis bahwa nikmat dan bahagia ada di sisi lain.

Yang menjadi pertanyaan kemudian: Bagaimana kita mengisi kehidupan ini seraya menunggu datangnya nikmat dan bahagia?

Ketika sedang berada dalam cobaan yang berat, kondisi yang paling menyedihkan, itulah kata-kata Allah bahwa kita berada di tempat yang serendah-rendahnya. Akan tetapi kalau kita mau berpegang pada iman, berteman dengan derita yang tidak abadi ini, serta selalu menjalankan amal saleh, insyaallah kemudahan dan kebahagiaan tiba pada saatnya.

Wallahu a’lam bishawab.

Menjadi Orang Jawa

Posted in Kontemplasi, Sharing on May 10, 2009 by hzulkarnain

Orang manca negara kebanyakan mengenal Jawa dari dua buah istilah: Java (sebuah bahasa dalam teknologi informasi) dan Java Coffee (yang legendaris). Konon, dulu juga dikenal istilah Java teak (jati Jawa) yang dipergunakan oleh armada kerajaan Inggris untuk membangun kapal-kapal perangnya yang tangguh. Akan tetapi, kalau ditanya – di mana letak Jawa – tidak banyak orang manca negara tahu. Beda dengan Bali yang sudah menjadi milik dunia.

Pulau Jawa hanya merupakan pulau kelima terbesar di kepulauan yang bernama Indonesia (setelah Borneo, Sumatera, Papua, dan Celebes), namun menjadi pusat aktivitas negara berpenduduk sekitar 200 juta orang ini. Sebagai pula dengan kepadatan penduduk tertinggi, Jawa terkenal dengan dinamika yang tinggi, multietnik, multikultur, dengan heterogentitas yang tinggi. Uniknya, sekalipun etnik Jawa adalah mayoritas, dan bahasa Jawa juga sangat kuat berakar, bukan Bahasa Jawa yang menjadi bahasa nasional bangsa ini. Bahasa Melayu yang menjadi bahasa pergaulan di sepanjang perairan Indonesia terpilih menjadi bahasa pemersatu.

Keunikan lainnya adalah persoalan agama yang sangat sensitif pada banyak bangsa dan peradaban di dunia. Indonesia yang majemuk terimbas pengaruh berbagai agama besar dunia. Islam bisa ditemui dengan mudah di belahan Barat seperti Sumatera dan Jawa. Di bagian tengah, lebih beragam agama dan kepercayaan bisa ditemui, Islam, Kristen, dan Hindu, bahkan animisme. Di bagian Timur Indonesia, mayoritas yang bisa dijumpai adalah Kristen dan Katholik. Mayoritas bangsa Indonesia memeluk agama Islam, mencapai 80% populasi, yang berarti sekitar 170 – 180 juta jiwa. Ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pemeluk Islam terbesar di dunia.

Pulau Jawa bisa dikatakan sebagai miniatur Indonesia. Dari sisi bahasa, memang bahasa Jawa paling banyak dituturkan, selain bahasa lain seperti Sunda di Barat dan Madura di Timur. Namun demikian, justru Bahasa Indonesia lah yang menjadi bahasa pengantar paling umum, bahkan dituturkan antar dua orang yang belum saling mengenal untuk menghindari kesalah pahaman. Sebagai kiblat peradaban Indonesia, pula Jawa juga menampung semua migran dari berbagai pulau di Indonesia, yang membawa masing-masing kultur dan tradisi – mulai dari daerah Aceh (di ujung Barat) hingga Papua (di ujung Timur) ada di sini. Belum lagi etnis dan ras yang bukan native Indonesia, seperti keturunan pendatang dari Tiongkok, Arab, dan India. Tidak hanya itu, hampir semua aliran dalam Islam dan Kristen juga bisa dijumpai di pulau ini. Di beberapa tempat terdapat kantong-kantong kaum Muslim yang fanatik, seperti halnya ada beberapa lokasi yang menjadi tempat berdirinya Seminari atau sekolah kependetaan. Sebagian kelompok masyarakat di sedikit tempat masih berpegang Hindu sebagai agama, seperti peninggalan nenek moyang mereka yang merupakan pelarian Kerajaan Pajajaran di Barat dan Majapahit di Timur. Selain itu, penghayat kepercayaan tradisional yang bernama Kejawen juga ada, sebuah kepercayaan tanpa agama, yang meyakini keberadaan Tuhan yang Tunggal, tanpa ikatan ritual dan kitab suci tertentu.

Peradaban kerajan Hindu, Buddha, dan Islam, serta pengaruh kolonialisme Belanda hingga abad XX mempengaruhi sendi-sendi budaya orang Jawa. Secara umum, pengaruh yang paling terasa adalah Islam, dan Islam menjadi agama mayoritas di Jawa. Tidak mengherankan, bila kemudian di sebagian daerah terasa Ke-Islaman yang berakulturasi dengan budaya Tiongkok, sebagian lagi Arab, Hindu, bahkan animisme. Akulturasi semacam itu terlihat di berbagai daerah rural dan suburban. Di wilayah urban, terlebih di kota besar seperti Surabaya apalagi Jakarta, sekularisme cukup mengemuka dan berkompetisi sengit dengan identitas kultur-religius. Tidak mengherankan, bila di kota-kota besar, perempuan berjilbab beriringan dengan kaum perempuan narsis menampilkan bagian tubuh terindah. Penampilan modern dengan jas selalu ditimpali dengan laki-laki berbaju takwa dan berpeci. Pembicaraan pasar saham berlari sejajar dengan bisnis berbasis syariah. Dan seterusnya.

Beberapa kota di Jawa sudah dikategorikan kota metropolis, bahkan Jakarta termasuk kota termahal di dunia, namun di wilayah yang berbeda masih dijumpai desa-desa yang bahkan tidak tersentuh listrik. Peradaban di kota semacam Jakarta sudah berkelas dunia, yang dicirikan dengan fashion, gaya hidup, dan teknologi. Merk fashion kelas dunia, cafe, clubbing, gadget modern, Blackberry, dan sebagainya bisa ditemukan di kota ini. Di saat yang sama, di pedalaman Banten, kaum Badui masih mengandalkan alam untuk mencari penghidupan bahkan dalam pengadaan pakaian.

Tanah Jawa yang telah menjadi daerah tujuan, bahkan sebelum republik ini berdiri, kondusif karena karakter manusianya yang terbuka tanpa prejudice. Orang Jawa terbiasa dengan kemajemukan, dan dianggap sebagai kelompok etnis yang dekat dengan kesantunan dalam berperilaku. Secara kultural, yang disebut dengan orang Jawa bukan keseluruhan penduduk asli Pulau Jawa, melainkan hanya orang-orang dari wilayah Jawa bagian Tengah dan Timur. Orang Jawa Barat, sekalipun tinggal di pulau Jawa, biasa disebut dengan orang Sunda. Konon hal ini dikarenakan orang Jawa Tengah dan Jawa Timur memiliki akar kesejarahan yang berkesinambungan, yakni sejak bangkitnya Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah hingga bangkitnya Majapahit di Jawa Timur. Jawa Barat identik dengan Kerajaan Taruma Negara dan Pajajaran yang sangat berkuasa di tatar Pasundan, tetapi tidak memperluas wilayah ke daerah lain.

Kemajemukan etnis di Jawa semakin kental di masa kolonial Belanda memasuki abad XX, saat pendidikan bagi bumiputera lebih terbuka. Itulah awal akulturasi besar-besaran terjadi. Strata sosial dipangkas, jarak sosial dipersempit, dan kian banyak kaum ningrat yang berada di antara rakyat kebanyakan untuk berbagi ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah RM Suryadi Suryaningrat yang berubah nama menjadi Ki Hajar Dewantara, yang menanggalkan status kebangsawanannya dan mewajibkan semua pengajar di Taman Siswa di panggil Ki (laki-laki), Nyi (perempuan sudah menikah), dan Ni (perempuan belum menikah). Di antara kaum pergerakan kemerdekaan, sebutan “Bung” sangat populer, menggantikan semua sebutan dan gelaran yang bersifat etnis atau agamis.

 

sisa peradaban yang siap diklaim negara lain ...

sisa peradaban yang siap diklaim negara lain ...

Dewasa ini, buah akulturasi kemajemukan budaya yang berada di tanah Jawa adalah terbentuknya kultur Jawa yang berbeda dengan sebelumnya. Bahasa Indonesia jauh lebih mudah ditemui dalam penuturan dibandingkan dengan bahasa Jawa. Kalaupun dituturkan, bahasa Jawa tingkatan terendah (ngoko) atau paling tinggi adalah kromo madya. Semakin majemuk sebuah komunitas, semakin sulit orang Jawa mempertahankan identitas ke-Jawa-annya. Sehingga, kultur Jawa sendiri pada akhirnya termarginalkan ke kantung wilayah yang memang masih cenderung homogen berkultur Jawa. Sebutlah, wilayah Jawa bagian Selatan seperti Yogyakarta, Solo, Madiun, Tulungagung, Blitar, dsb.

 

Di wilayah ini, beberapa adat, budaya, dan kesenian rakyat yang langka dijumpai di kota-kota yang berpopulasi majemuk masih bisa dijumpai, sekalipun jumlah seniman yang memainkannya juga semakin berkurang. Wayang orang, wayang kulit, dan ketoprak adalah bentuk-bentuk kesenian yang menjadi icon Jawa, namun sudah kian terpinggirkan. Batik, lurik, kebaya, dan sanggul adalah contoh budaya yang juga lekat dengan etnik Jawa, namun sudah kian jarang terlihat. Belum lagi ritual adat yang sudah banyak menyimpang dari pakem, misalnya upacara pernikahan.

Kepraktisan dan pragmatisme merupakan mata masa, dan banyak adat maupun tradisi yang tidak bisa menahan tuntutan keduanya sehingga terpinggirkan. Sementara orang memang masih menganggap kultur Jawa harus dipertahankan secara utuh seperti sedia kala, sementara di pihak lain ada yang mempertanyakan manfaatnya. Bagi yang bermaksud mempertahankan, budaya Jawa yang adi luhung merupakan pusaka yang tidak boleh hilang, dan harus menjadi pakem perilaku. Bagi yang tidak terlalu memperdulikan hal tersebut, evolusi adalah keniscayaan. Bila budaya Jawa memang tidak bisa bertahan, bagaimana pun tidak akan hilang, kecuali tidak ada sama sekali orang Jawa di Pulau Jawa. Yang nanti terbentuk adalah budaya Jawa yang sudah menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman.

Pada kenyataannya, semakin sulit menjadi orang Jawa yang setia pada berbagai nilai dan etika luhur sebagaimana nenek moyang dulu karena Indonesia sudah membuka diri pada globalisasi. Pragmatisme manusia modern mengalahkan segala keribetan simbolisme adat yang menjadi ciri masa lalu. Di berbagai sekolah memang masih tersisa pelajaran bahasa Jawa – yang menjadi salah satu jendela untuk memasuki pendalaman kultur Jawa – namun pada praktiknya hanya kulitnya saja yang diajarkan. Anak-anak di wilayah heterogen lebih suka menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan. Kalaupun seseorang dibesarkan di wilayah yang berkultur relatif homogen Jawa, pada akhirnya – entah ketika masuk perguruan tinggi atau bekerja – cenderung sulit baginya untuk tidak menerima imbas dari globalisasi.

Di kalangan orang Jawa, ada istilah “ora jawa” yang artinya tidak paham. Bisa dikarenakan sebuah kondisi yang tidak umum bagi orang Jawa, konteks yang asing, hal yang tidak lumrah, dan sebagainya. Wong Jawa sing “ora jawa” bermakna orang Jawa yang tidak memahami konteks ke-Jawa-annya. Kian hari, justru orang seperti ini yang lebih banyak dijumpai, khususnya dari kalangan muda. Bila konteks Jawa adalah adat, tradisi, termasuk unggah-ungguh, orang jang “ora jawa” berarti telah menyerupai orang asing yang tidak mengenal adat, tradisi dan unggah-ungguh itu. Pengendalian diri, yang bernama tepa selira atau toleransi, adalah salah satu ciri yang juga mulai hilang dari dinamika kehidupan orang Jawa modern, khususnya yang sudah tidak lagi mencerna nilai luhur para orang tua.

Semakin bisa dipahami alasan kegelisahan sementara orang yang menginginkan orang Jawa kembali “jawa”, mengingat sudah cukup parah erosi akulturasi menggerus makna ke-Jawa-an orang Jawa. Bentuk orang Jawa hasil “evolusi” budaya juga tidak kunjung menunjukkan wujud yang established, bahkan kian mengindikasikan kemunduran nilai yang lebih parah. Hingga pantas diajukan, akan kemana orang Jawa ini dibawa mata jaman?

May Day

Posted in Sharing with tags , on May 4, 2009 by hzulkarnain

Catatan tentang Perburuhan Indonesia- 1 Mei 2009

Sebelum orde baru, dalam pengaruh politik komunisme yang kuat, buruh dan tani adalah posisi rakyat kebanyakan yang mempunyai kekuatan bila dipersatukan. Indonesia pernah dipengaruhi komunisme ala Uni Soviet (tahun 50-an) dan RRT (tahun 60-an). Mungkin karena kondisi di Tiongkok saat itu lebih mendekati kultur demografi Indonesia, komunisme ala RRT lebih diterima. Tiongkok bukan cuma punya buruh pabrik, tetapi juga petani yang jumlahnya ratusan juta orang. Menjelang keruntuhan komunisme di Indonesia, bahkan sudah muncul gagasan unutk mempersenjatai Angkatan ke-5, Buruh dan Tani. Pada masa itu, kaum komunis benar-benar ingin mengendalikan militer, dan menyingkirkan kaum agama dan nasionalis.

Pada era orde baru, yang menggantikan orde sebelumnya yang dekat dengan komunisme, buruh lebih dikendalikan, tidak boleh lagi menyebut diri dengan “buruh” tetapi “pekerja”, dan diwadahi dalam sebuah wadah tunggal yang bernama SPSI. Kontrol militer cukup ketat pada pergerakan buruh ini, apalagi ada undang-undang tentang subversi yang tidak mensyaratkan pemeriksaan normal seperti halnya tindakan kriminal lainnya, sehingga dalam menyuarakan ketidak puasan buruh tidak berani berbuat lebih besar daripada sekedar memberikan usulan kepada Manajemen.

Dinamika perburuhan seperti sebuah panggung Srimulat yang besar, penuh lelucon, improvisasi, kebebasan memainkan properti panggung, namun batas-batas permainan sudah diketahui benar oleh sang sutradara. Presiden bisa tidur nyenyak tanpa perlu memikirkan unjuk rasa buruh. Bila terjadi sedikit kondisi di luar plot yang tersedia, ada pelakon yang terlalu antusias berimprovisasi, sedikit treatment diberikan. Yang bisa bermain cantik dan punya jaringan, mungkin bisa selamat dan punya usaha sendiri dengan fasilitas pemerintah. Sebaliknya, yang tidak mampu berpikir panjang, sulit berimprovisasi dengan cantik, apalagi tidak punya jaringan, bisa saja hilang dari muka bumi begitu saja.

Kaum tani punya masa bulan madu tersendiri selama orde baru, karena sang Presiden yang dikenal sebagai petani ketika masih muda, memberikan perhatian yang besar. Bukan sekedar jargon, Presiden Indonesia kala itu memang menguasai situasi peranian nyata di tanah air. Pembinaan pertanian luar biasa bagus, dan TVRI sebagai badan milik pemerintah sangat membantu suksesnya pertanian di berbagai daerah. Karena itulah, kaum tani di Indonesia tidak merasa perlu melakukan unjuk rasa pada pemerintah.

 

Semangat!

Semangat!

Peristilahan buruh muncul lagi setelah orde baru tumbang, tatkala euforia kebebasan mengemuka. Gerakan-gerakan yang mengatas namakan buruh turut muncul, hingga yang berbentuk partai politik. Mungkin hal tersebut bisa sedikit dimaklumi, karena pada tahun 2000 muncul sebuah Keputusan Menteri yang pro-buruh dan memperoleh tentangan keras dari pihak pengusaha. Pengusaha menuding, Kepmen 150/2000 tersebut membuat investor asing enggan masuk ke Indonesia. Poin paling pentingnya adalah adanya keharusan bagi pengusaha untuk menghitung uang jasa bagi mereka yang mengundurkan diri baik-baik. Setelah 3 tahun bertarung, Megawati yang saat itu menjabat sebagai presiden menanda tangani UU ketenagakerjaan yang lebih balance, tetapi ditentang oleh buruh. Selain karena tidak lebih baik daripada kepmen yang digusur, juga disebabkan dilegalkannya praktik outsourcing (alih daya) di perusahaan.

 

Sejak bergulirnya reformasi, tanggal 1 Mei yang diperingati sebagai hari buruh sedunia atau May Day selalu diperingati oleh sementara aktivis perburuhan. Setiap kali peringatan May Day digelar, agenda tentangan terhadap outsourcing dan tenaga kontrak (perjanjian kerja waktu tertentu) selalu disuarakan, karena praktik ini dianggap sebagai biang keladi pemiskinan buruh di Indonesia.

Entah karena tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, para aktivis perburuhan tersebut seolah-olah ingin memutar roda jaman kembali ke romantisme masa lalu, ketika raksasa konglomerasi besar berkuasa. Pertamina, PLN, Astra, dan berbagai nama besar lokal pernah berkibar di muka bumi Indonesia sebagai kekuatan ekonomi yang mengagumkan. Waktu bergerak, jaman berubah, dan kondisi pasca orde baru yang datang seiring dengan globalisasi mau tidak mau memaksa Indonesia berada di persimpangan jalan. Tekanan internal dan eksternal menyebabkan pemimpin bangsa menetapkan masuknya Indonesia ke ajang pasar bebas.

Wacana pertama dalam era pasar bebas ini adalah outsourcing. Agar efisien dan lebih lincah dalam menarik laba, perusahaan harus ramping sekaligus ahli dalam core business-nya. Urusan lain yang tidak langsung terkait diserahkan pada perusahaan lain yang ahli di bidang tersebut: kebersihan kantor, ekspedisi surat, sekuriti, customer service, transportasi, dsb. Sebuah perusahaan industri petrokimia, mungkin hanya perlu fokus pada pembuatan bahan kimia, sementara urusan yang tidak langsung terkait dengan produksi, engineering, dan perawatan di serahkan pada perusahaan pengelola sekuriti, armada transportasi, kebersihan, dsb. Memang benar bahwa, tenaga yang diserap langsung oleh perusahaan petrokimia tersebut lebih sedikit, karena hanya mereka yang punya keahlian khusus yang dibutuhkan industri tersebut. Di sisi lain, munculnya berbagai perusahaan kecil yang menerima porsi kerja di luar bisnis utama membuka peluang kerja yang lebih luas pada lebih banyak buruh dengan ketrampilan minimum – yang pada kenyataannya adalah mayoritas di Indonesia ini.

Secara umum, outsourcing yang dikenal di Indonesia terbagi atas dua kelompok:

  1. pemborongan pekerjaan
  2. suplai tenaga kerja ke perusahaan lain

Dalam pemborongan, perusahaan alih daya dan pemberi kerja menanda tangani sebuah nilai kontrak, yang dibayarkan pada saat pekerjaan berakhir, tanpa perlu melihat lagi bagaimana nilai tersebut dibagikan di antara pelaksana borongan.

Dalam suplai tenaga kerja, perusahaan alih daya mengirimkan orang dengan kualifikasi yang dibutuhkan pemberi kerja dengan standar gaji yang disepakati. Perusahaan alih daya menerima management fee untuk mengelola tenaga kerja kontrak seperti ini.

Berusaha membalikkan waktu, dengan protes dan usul supaya outsourcing dan kontrak kerja sementra dihapus dari praktik industri di Indonesia – sejujurnya – tidak produktif. Kita harus bercermin, seberapa kuat sebenarnya posisi tawar kita pada pasar tenaga kerja global. Seberapa bagus Bahasa Inggris kita untuk bersaing dengan tenaga kerja dari negara tetangga yang menggunakannya sebagai bahasa kedua (second language) dan bukan bahasa asing (foreign language), seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina. Kalaupun kita punya kemampuan teknis di atas orang-orang dari negara-negara tetangga tersebut, tetap saja mereka yang menjadi pilihan utama employer asing karena lebih kecil kemungkinan mis-komunikasi.

Salah seorang expatriate asing – berkebangsaan Kanada – pernah menilai, bahasa Inggris orang Indonesia bagus. Daya serap kita pada bahasa Inggris cukup kuat, dan logat kita jauh lebih mudah dipahami daripada, misalnya, orang Afrika. Tanpa perlu belajar formal, orang-orang Indonesia bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Tentu saja, jangan dibandingkan dengan orang Malaysia atau Singapura (apalagi India) yang bisa berbicara dengan fasihnya. Sayangnya, pendidikan formal di Indonesia belum lagi mengarah pada kompetensi bahasa asing di sekolah-sekolah. Akibatnya, sangat sedikit lulusan sekolah – bahkan perguruan tinggi – yang tidak bisa berbahasa Inggris dengan cukup baik.

Daripada menuntut sesuatu yang tidak mungkin terjadi – kecuali pemerintah bisa dikuasai orang-orang sosialis – bukankah lebih produktif bila kita mau melirik ke negara-negara Asia yang berpenduduk besar lainnya seperti India dan RRC. India dipercaya oleh raksasa industri di Amerika Serikat meng-outsourcing sebagian bisnis mereka. RRC menggerakkan industri outsourcing hingga ke tingkat home industry untuk menyokong industri besar mereka – seperti misalnya pembuatan gasket atau mur-baut untuk komponen industri otomotif. Jadi, bila dijalankan dengan benar, didukung oleh sistem yang benar, outsourcing bukanlah momok PHK yang menakutkan – justru sebaliknya, adalah peluang usaha yang luar biasa besarnya.

Yang kita perlukan sekarang adalah, menurut saya, adalah pemimpin bangsa yang tanggap dan mampu memikirkan kerangka masa depan industri Indonesia yang bersahabat dengan nasib buruh. Indonesia harus punya grand strategy agar bisa survive dalam persaingan usaha global. Bila Singapura adalah negara perdagangan, Thailand menjadi pusat perakitan otomotif, Malaysia dengan elektronik dan teknologi IT, Vietnam sebagai pusat industri berat, akan dibawa kemana Indonesia ini?

TUTWURI HANDAYANI

Posted in Biografi, Sharing with tags , on May 3, 2009 by hzulkarnain

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani ….

Sebuah slogan dan motto yang telah menginspirasi gerakan pendidikan Indonesia, digagas oleh seorang ningrat dari Yogyakarta, yang seolah menanggalkan semua privilege sebagai bangsawan untuk mengabdikan kehidupannya bagi bangsa ini. Kalau nama RM Suwardi Suryaningrat tidak banyak dikenal, Ki Hajar Dewantara pasti lebih familiar di telinga orang Indonesia. Sebagai pengajar, beliau bertindak sebagaimana motto di atas: Di depan memberikan teladan, di tengah membangun motivasi, di belakang memberikan dukungan dengan segala upaya.

Beliau adalah seorang patriot sejak muda, dengan gaya perjuangannya sendiri. Tidak kenal menyerah, pemberani, dengan daya inisiatif yang mengagumkan. Tulisannya dalam koran De Expres tahun 1913 berjudul Als ik eens Nederlander was (Seandainya aku seorang Belanda) membuatnya diasingkan bersama pemilik koran tersebut yang juga sahabatnya Ernest Douwes Dekker dan sahabatnya yang lain Tjipto Mangoenkoesoemo. Tulisan yang membuat gerah kaum Belanda saat itu adalah (dikutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia): “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”.

Dalam pengasingan di Belanda inilah Suwardi Suryaningrat muda memperoleh gagasan untuk memajukan pendidikan di Indonesia, saat bergabung dengan para pelajar Indonesia di sana. Pemikiran-pemikiran pendidikan Barat serta pergerakan pendidikan India yang digerakkan oleh keluarga Tagore menginspirasinya dengan kuat. Setelah 5 – 6 tahun dalam pengasingan, Suwardi Suryaningrat kembali ke Indonesia dan mulai merintis pergerakan pendidikan dengan cara menjadi guru di sekolah binaan saudaranya. Pada tahun 1922, berbekal pengalaman mengajar, berdirilah Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Nama Ki Hajar Dewantara baru digunakannya saat berusia 40 tahun, tanpa embel-embel gelar kebangsawanan.

Nama Ki Hajar Dewantara, tak pelak lagi, menginspirasi pergerakan pendidikan di Indonesia. Sebagai menteri pengajaran, pendidikan, dan kebudayaan yang pertama. Beliau dikukuhkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia beberapa bulan setelah wafat tahun 1959.

Tahun ini, setelah sekitar 50 tahun sang pahlawan pendidikan pergi, bangsa ini masih terus bergulat untuk mencari model dan sistem pendidikan yang paling tepat. Tak dapat disangsikan, pendidikan selalu menempati urutan ke sekian dalam prioritas kepentingan nasional, sehingga bentuk dan mutu pendidikan di Indonesia tidak pernah jelas. Bahkan di era orde baru, dengan teganya penguasa menanamkan serangkaian kronologi sejarah yang bisa menyesatkan kaum muda, hanya demi pengkultusan individu penguasa.

 

salah satu model kelas

salah satu model kelas

Satu hal yang perlu kita syukuri adalah besarnya upaya pemerataan pendidikan dasar bagi generasi baru bangsa. Sejak masa orde baru, kita pernah mengenal istilah SD Inpres untuk menyebut sekolah-sekolah baru di wilayah pinggiran yang merupakan rintisan baru. Dewasa ini, pasca orde baru, jargon wajib belajar lebih didorong dengan peningkatan anggaran pendidikan. Hal yang seharusnya sudah dilakukan sejak dulu, karena bangsa ini bisa besar karena generasi muda yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.

 

Setelah keruntuhan orde baru, pendidikan di Indonesia tidak memiliki kiblat tertentu, karena memang pasar bebas juga telah merambah ke ranah pendidikan. Tidak ada lagi kewajiban penyeragaman, buku teks yang dipergunakan, hingga kurikulum. Memang, sekolah-sekolah negeri sudah pasti tidak terlalu jauh beranjak dari pakem pendidikan yang sudah dikonsepkan sejak awal. Sebaliknya, sekolah swasta terus melakukan revisi dan peningkatan agar tidak selalu berada di belakang institusi pendidikan yang didanai pemerintah. Pendidikan yang dikelola swasta menggeliat, karena tidak mau selalu dianggap “cadangan” bagi siswa yang tidak lulus tes sekolah negeri.

Dampaknya, di berbagai kota besar di Indonesia pendidikan semakin kompetitif, namun tentu saja bila mau biaya yang lebih ringan pilihan jatuh pada sekolah negeri. Di sisi lain, kesenjangan masih terjadi di tempat-tempat yang jauh dari kota-kota besar, karena kurangnya tenaga pendidik. Pendidikan masih dianggap sebelah mata, selain karena dianggap membebani juga tidak memberikan manfaat langsung. Sebagian masyarakat masih belum mampu menimbang pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Kisah novel Andrea Hirata bukan isapan jempol, sebab memang ada daerah yang sama sekali tidak memiliki guru, dan satu-satunya guru hanyalah lulusan sekolah dasar.

Peningkatan standar mutu pendidikan yang dicanangkan oleh menteri pendidikan memang sudah seharusnya dilakukan, agar pendidikan di Indonesia memiliki bobot yang standar. Bila tidak demikian, tidak akan ada penyetaraan pendidikan tinggi di negeri ini. Masalahnya, sistem pendidikan di Indonesia tampaknya belum sepenuhnya “kompatibel” dengan pencanangan standar nilai yang semakin lama semakin tinggi tersebut. Akibatnya, berbagai kecurangan masih terjadi dalam proses Ujian Nasional dengan tujuan kelulusan siswa.

Mahalnya biaya pendidikan di Indonesia semakin terasa, terlebih lagi pendidikan tingginya. Hal ini dikarenakan perguruan tinggi tidak lagi menerima subsidi dari pemerintah, dan harus mencari sumber dana sendiri – baik dari sumbangan pendidikan maupun dari kerjasama dengan perguruan tinggi di luar negeri. Tidak heran, banyak lulusan SMA yang langsung mencari bea siswa di luar negeri, dengan asumsi biaya sekolah bisa ditekan bila bersekolah di luar negeri (karena biaya pokok sudah ditanggung sponsor).

India sudah menemukan jati diri sistem pendidikannya lebih lama, dan di Asia negeri berpenduduk terpadat kedua di dunia itu sudah dipandang sebagai penantang bagi pasar tenaga kerja di Amerika dan Eropa. Banyak sekali pakar dan penulis buku manajemen dan teknik yang berasal dari negeri anak benua itu. Kemampuan mereka bahkan telah diapresiasi dengan sangat baik, sehingga raksasa IT seperti Microsoft meng-outsource-kan sebagian tugas pengembangan software pada anak-anak bangsa tersebut. Sebuah prestasi yang tentu saja sangat membanggakan.

Ironisnya, pendidikan di India termasuk yang paling murah di dunia. Dalam sebuah feature yang pernah di muat harian Jawa Pos sekian tahun lalu, disebutkan bahwa perguruan tinggi di India tidaklah glamor. Jangan tanya ruang ber-AC, perabotan modern, atau kelas asri yang enak dipandang mata. Semuanya efisien, seperti kelas-kelas di perguruan tinggi negeri di Indonesia sekian tahun silam. Akan tetapi, semua profesor dan doktor yang bertugas mengajar tidak pernah mewakilkannya pada asisten dosen. Bayangkan kondisi tersebut disertai dengan adanya buku-buku original dan murah terbitan Tata-McGraw-Hill, yang selalu update.

Saya selalu bermimpi, kita bisa mengembangkan sebuah sistem pendidikan yang efisien, komprehensif, dan yang paling penting mampu menghasilkan lulusan yang “terpakai” oleh dunia yang membutuhkannya: industri, profesi, sastra dan jurnalistik, dsb. Bekerja punya makna yang lebih luas daripada status pegawai negeri, pegawai swasta, buruh, dsb. Bekerja adalah mencari penghidupan dengan halal, dan sukses adalah hasil kerja keras karena memanfaatkan berbagai peluang usaha. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits: pintu rizki itu ada sepuluh, sementara sembilan di antaranya melalui perniagaan.

Semoga, kita sedang mengarah pada bentuk dan sistem pendidikan yang benar, yang terbaik untuk bangsa ini. Mungkin tidak seperti di Amerika atau Jepang, tidak persis seperti India, karena mungkin kita justru bisa menemukan jati diri kita sendiri.

Bangsaku, selamat merayakan Hari Pendidikan Nasional. Semoga semangat Bapak Pendidikan selalu menjadi ruh kemajuan pendidikan bangsa ini. Amin.

Ritual Jumat

Posted in Kontemplasi on May 2, 2009 by hzulkarnain

Jam 11.00 siang, hari Jumat, hampir bisa dipastikan kegiatan bisnis di banyak kantor, pabrik, dan tempat usaha lainnya perlahan mereda hingga akhirnya berhenti pada jam 11.30 (lebih kurangnya). Kaum laki-laki yang bekerja di segenap tempat usaha diberikan istirahat lebih awal untuk solat Jumat, bahkan kalau perlu dilakukan di dalam area pabrik atau gedung bertingkat sendiri. Ada lokasi untuk masjid atau sekedar musholla di pabrik, atau hall yang dibisa dimanfaatkan di dalan gedung bertingkat. Ini sudah merupakan kelaziman, dan kultur ini sulit dihapuskan karena bersinggungan langsung dengan kaidah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia.

Tak kurang dari Al Qur’an sendiri mengabadikan keutamaan hari Jumat sebagai nama salah sebuah surat di dalamnya. Dalam ayat 9 dan 10 surat Al Jumu’ah ini jelas sekali perintah yang terkandung:

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli . Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(QS Al Jumu’ah:9)

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS Al Jumu’ah:10)

 

johnny-apple-sandalKaum Islam diperintahkan untuk berkumpul di masjid-masjid dan tempat-tempat lain untuk solat berjamaah, agar ukhuwah terjalin – dan itu adalah esensi kata jamaah. Sekalipun hari untuk ibadah, sehingga di hari ini bahkan ada sekolah dan toko yang tutup, tidak berarti para laki-laki Islam harus sepanjang waktu berada di masjid dan surau. Allah justru memerintahkan manusia untuk kembali mengais rizki dan bertebaran di muka bumi setelah selesai menunaikan kewajiban solat Jumat, dengan tetap berzikir kepada-Nya.

Menjadikan solat Jumat sebagai peluang untuk menjalin ukhuwah dan menimba ilmu agama dari para khatib di mimbar ternyata bukan urusan sepele. Kalau mau jujur melihat, sebenarnya lebih banyak yang melaksanakan ritual ibadah ini sekedar untuk mengugurkan kewajiban. Bila dalam kutipan surat Al Jumu’ah diserukan muslimin untuk bersegera, yang terjadi justru sebaliknya. Sudah jamak bila orang berangkat ke masjid bertepatan atau bahkan setelah bedug terdengar. Waktu khatib naik ke mimbar, sebagian bahkan masih berada di luar – merokok, wudhu, dan sebagainya. Yang sudah berada di dalam, duduk dengan tenang, sebagian menyimak kutbah dengan benar sementara yang lain terkantuk-kantuk. Memang, kondisi ambient di dalam masjid, audio, terutama kemampuan peng-kotbah sangat berpengaruh pada keseriusan orang dalam menyimak kutbah.

Di setiap hari Jumat, hampir bisa dipastikan masjid-masjid penuh atau hampir penuh, sekalipun tidak semua laki-laki Islam menegakkan perintah ini. Kendatipun hal ini tidak otomatis bermakna meningkatnya pengamalan agama yang lebih baik, sekurangnya kita paham bahwa umat Islam di Indonesia masih menunjukkan ciri kereligiusan yang baik.

Ada sebuah ironi yang terlihat di mata saya setiap usai ritual Jumat, tatkala shuttle bus yang membawa karyawan kantor mengantarkan kami kembali ke pabrik. Tukang becak sedang tidur di atas becak mereka, sebagian sedang bermain kartu, di warung-warung laki-laki dan perempuan bercanda, di beberapa proyek bangunan para pekerja yang istirahat sedang tidur atau makan, dan sebagainya. Intinya, justru mereka yang berpenghidupan susahlah yang tidak menundukkan kepala bersujud di hadapan Allah.

Kesyukuran memang suatu rahasia, yang sangat pribadi di dalam qolbu manusia. Namun demikian, ada rambu-rambu yang sudah diperingatkan sejak awal pada manusia tentang penghidupan ini. Harta yang berlimpah, diperoleh dengan cara yang halal maupun tidak, beresiko membuat orang lupa pada kesyukuran. Ibarat air laut, orang yang “kemaruk” harta akan semakin merasa kekurangan, sekalipun saat itu bisnisnya sedang bagus dan hartanya meningkat. Sebaliknya, orang yang tidak pernah merasa beruntung juga rentan pada kesyukuran, sebab mereka tidak paham harus mensyukuri apa.

Kesyukuran paling pribadi, paling mendasar adalah solat. Solat adalah simbol ketundukan, penyerahan diri, dan pengakuan kebesaran Dzat Illahi. Uniknya, solat menempati posisi yang sedemikian penting dalam tegaknya akidah Islam, sehingga dalam rukun Islam tempatnya tepat setelah ikrar syahadatain. Dalam pembahasaan, solat tidak sekedar dilaksanakan atau ditunaikan, tetapi ditegakkan. Makna filosofis yang dikandung dalam, sebab penegakan solat pada akhirnya adalah tegaknya akidah Islam dengan kokoh.

Konon, kelompok militan HAMAS merekrut kader-kader mudanya dari jamaah solat Subuh di berbagai tempat di Palestina. Orang yang selalu menegakkan solat Subuh di masjid, memiliki kecintaan yang sangat besar pada Allah, dan mereka tidak takut mati untuk apapun.

Semoga, solat jumat selalu memberikan makna ukhuwah bagi semua muslimin, dari kelompok apapun. Ucapan khatib tidak sekedar pengisi waktu sebelum ritual dimulai, namun benar-benar merupakan khazanah ilmu bagi jamaah dan makmum. Allah telah mengabulkan permintaan Rasulullah Saw untuk meringankan hitungan solat kita, hingga tinggal 5 saja dalam sehari semalam. Urusan solat telah diringankan, jadi mengapa kita tidak mengimbanginya dengan keikhlasan dalam bersujud?