Berteman dengan Penderitaan

Salah seorang karyawan di tempat saya bekerja mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu. Masih muda, suka kecepatan, dan bertemu naasnya pada suatu sore sepulang kerja. Karena menghindari sebuah angkot yang berhenti mendadak, ia terjatuh dan kaki kirinya di bawah lutut terlindas truk. Hancur.

Di rumah sakit, rekonstruksi tulang dan jaringan daging pembungkusnya makan waktu berbulan-bulan. Beberapa buah pen platina ditanamkan di sana untuk memperkuat struktur tulang yang belum terbentuk. Ketika rekan IRS Officer menjenguknya, ia hanya berkata pelan:”Saya hancur Pak.” Tentu saja berbagai penghiburan disampaikan agar semangat hidupnya terus menyala, apalagi anaknya masih kecil-kecil.

Saya bertemu dengannya setiap hendak atau setelah shalat Dhuhur, dan memang sekalipun semua luka telah menutup, tulang tersambung, ia masih harus mengenakan sepatu safety khusus yang membuatnya mampu berjalan dengan cukup baik. Ia hanya bisa berjalan pelan, berhati-hati, dan tidak gagah seperti sebelum kecelakaan. Namun demikian, ada sesuatu yang berbeda dan membuat saya terharu.

Ketika saya tanyakan kapan terakhir kontrol, ia katakan beberapa waktu yang lalu. Sekarang jadual kontrol hanya setahun sekali. Terakhir, dokter menyarankan untuk melepas pen agar bisa dilakukan treatment lanjutan. Ada keraguan di matanya, karena pasti biayanya akan besar sekali. Entah bagaimana dia harus membayar kembali pada perusahaan. Di sisi lain, jelas terlihat sikap tatag – tabah dan ikhlas menerima garis nasibnya. Dia bicara tanpa kepahitan, dan menunjukkan kakinya yang – maaf – sedikit deformasi seolah-olah itu adalah luka lecet biasa.

Begitu datar hingga ketika dia mengucapkan: “Ternyata tendon achilles kaki saya ini sudah hancur”, sama nadanya dengan orang yang menjelaskan kemarin dia mengalami diare.

Dia telah bersahabat dengan rasa sakit dan penderitaannya. Tidak ada yang bisa ditolak ketika garis nasib sudah ditentukan oleh Allah, dan satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menerima penderitaan tersebut sebagai sahabat hingga mati.

Salah seorang sepupu, putra seorang dokter, besar dengan masalah di salah satu lobus otaknya. Bila terlalu lelah, memakan sesuatu yang mengandung alergen baginya, langsung epilepsi. Obat penahan epilepsi sudah seperti snack kedua baginya, yang harus dimakan tiap 12 jam. Bila terlambat, tinggal tunggu waktu saja datangnya serangan.

Serangan epilepsi tidak berdampak secara fisik, setelah selesai serangan dia akan biasa kembali, normal, bahkan kecerdasannya pun tidak terpengaruh. Sekarang dia telah menjadi dokter. Akan tetapi, tentu saja tiap serangan yang terjadi di tempat umum mendatangkan rasa kasihan pada orang lain. Padahal, dikasihani orang lain adalah hal terakhir yang ingin diminta oleh orang yang bermartabat dan punya harga diri. Saya tidak bisa membayangkan luka emosi yang diterimanya bertahun-tahun ketika mendapatkan serangan epilepsi di tempat umum (saya tidak memperoleh informasi berapa sering dia mengalami serangan ketika berada di tempat umum, tetapi pernah sekali bersama dengan saya seusai sholat Ied waktu itu).

Adiknya yang entah kebetulan atau memang diminta untuk mengawasi kakaknya, sepertinya selalu berada di dekatnya ketika serangan terjadi. Dia membersihkan air liur dan busa yang keluar dari mulut kakaknya yang terkena serangan dengan sabar sambil membisiki kakaknya agar cepat sadar.

Sepupu saya itu tahu bagaimana orang lain menaruh kasihan padanya, namun ia berusaha untuk bersikap wajar. Ia berteman akrab dengan luka hatinya, dan menjadi kawan perjalanan hidupnya.

apa sebenarnya tujuan hidup ini?

apa sebenarnya tujuan hidup ini?

Suatu saat team takmir masjid tempat saya kerja mencari sasaran dhuafa yang perlu memperoleh zakat dan sedekah. Salah seorang yang berhasil ditemui adalah seorang ustadz yang kedua kakinya lumpuh karena kecelakaan. Hidupnya serba kekurangan, dan geraknya yang terbatas membuatnya hanya mampu berada di sekitar musholla tempatnya berdiam. Sehari dua kali ia mengajar mengaji anak-anak desa yang berada di sekitar musholla, pagi dan sore. Pengajaran selesai kalau matahari sudah turun dan tidak memungkinkan anak-anak membaca juz-amma atau Al Qur’an dengan baik. Berapa infaq yang didapatkannya dengan mengajar anak-anak itu? Hampir tidak ada. Kalaupun ada hanya beberapa liter beras, sedikit sayuran, dan sedikit uang.

Tak sedikitpun ia pernah mengeluh, dan tak ada niatannya untuk meminta belas kasihan orang untuk dirinya. Tentu saja ia sangat gembira dengan bantuan takmir masjid kami yang berarti bisa meningkatkan semangatnya mengajar. Namun demikian, uluran zakat dan sedekah tersebut tidak menjadikan tangannya berada di bawah.

Sang ustadz telah ikhlas bersahabat dengan kecacatannya, dan hal itu tidak menjadikannya seorang miskin hati. Mungkin ia memang menerima bagian zakatnya, namun ia tetap membagikan ilmunya pada anak-anak yang membutuhkan.

Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dengan segala kesempurnaan fisik maupun mentalnya. Dalam proses hidupnya sebagai manusia dewasa, seiring dengan semakin matangnya pertumbuhan fisik, bersamaan dengan kian besarnya nikmat yang dirasakan, berbagai kesulitan dimunculkan untuk menguji manusia. Sebagaimana dalam QS At-Tiin ayat 4 – 6 yang artinya:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya ,

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

 

Cobaan pada manusia tidak berbeda, namun orang beriman yang senantiasa mengerjakan amal saleh tahu bahwa penderitaan mereka bukanlah kesia-siaan. Allah tidak pernah main-main dengan penciptaan-Nya, dan tidak ada yang terjadi pada diri manusia tanpa ijin-Nya. Oleh karena itu, sekalipun mereka terpuruk di tempat yang menghancurkan harga dirinya, Allah menjanjikan bahwa bersama dengan kesulitan ada kemudahan. Selalu ada hikmah dan pelajaran dari segala cobaan, langsung maupun tidak langsung.

Cukup banyak orang yang berusaha survive di tengah masalah yang dideritanya, kesulitan yang menghimpit, dan jalan keluar dari kesulitan yang seolah-olah tidak pernah terlihat. Sebagian menganggap memang itulah garis hidup yang harus mereka jalani, ketentuan Tuhan atas hidup mereka, sehingga tidak ada gunanya berkeluh kesah. Sebagian yang lain, dengan keyakinan penuh bahwa semua kesulitan dan ujian hanya sementara, meretas hari demi hari dengan doa dan usaha, seraya berharap kemudahan dan pertolongan segera tiba.

Sebaliknya, tanpa iman dan amal saleh, orang yang dikenai cobaan akan rapuh. Karena tidak punya pegangan, ada saja jalan yang ditempuh untuk mengatasi penderitaan tersebut. Membunuh diri adalah salah satu contoh, tetapi memang tindakan ini cukup ekstrim. Paling ringan adalah memposisikan tangan di bawah, tidak mensyukuri nikmat Allah bahkan menghinakan diri dengan mengemis. Melacurkan diri demi uang juga merupakan jalan pintas yang kerap di ambil untuk mengamankan badan dari kesengsaraan fisik, khususnya kelaparan dan kurangnya uang.

Saya pernah melihat seseorang yang tidak bisa berteman dengan penderitaannya mengalami kemunduran fisik. Sekalipun penampilan luarnya tidak jauh berbeda, cahaya kehidupan seperti sirna dari wajahnya setelah kelumpuhannya karena kecelakaan. Sama sekali tidak ada hal produktif yang bisa dilakukannya – sekalipun kedua tangannya sehat. Pada akhirnya, ia meninggal karena kondisi jantugnya – yang sebenarnya tidak ada kaitan dengan kelumpuhan kakinya.

Seringkali kita terperangkap dalam sepenggal pikiran saja tatkala kesulitan menimpa. Seolah-olah dunia begitu sempit, gelap, dan tanpa harapan. Terlupakan begitu saja seberapa luas rentang nikmat yang telah diserap dan kemudahan yang selama ini telah dijalani. Kesulitan dan penderitaan yang hanya episode terasa panjang, seperti tidak berujung. Karenanya, orang cenderung mencari cara terpraktis keluar dari himpitan penderitaan tersebut – sekalipun belum tentu cara tersebut dijamin kebaikannya pada diri sang penderita.

Kalau kita pertanyakan alasan orang pergi ke dukun atau tempat pesugihan, jawabannya adalah bosan dengan kemiskinan. Demikian pula dengan mereka yang melakukan pencurian atau perampokan. Salah satu alasan prostitusi adalah bertahan hidup. Ibu yang membunuh bayinya yang baru lahir beralasan malu kalau diketahui orang anaknya lahir tanpa bapak. Bahkan bunuh diri juga merupakan pembenaran bagi sementara orang yang menanggung rasa malu atau tekanan lingkungan yang terlalu besar.

Seolah-olah manusia berhak memilih untuk tidak mengalami penderitaan, sementara kesulitan dan cobaan memang diberikan Allah kepada manusia agar kita selalu memperbaiki diri. Bahkan sebelum lulus sekolah pun, seorang siswa harus mengalami ujian. Tanpa ujian, cobaan, derita, sudah barang tentu manusia. Pergiliran kebahagiaan dan kesedihan, nikmat dan derita, sama pastinya dengan datangnya siang dan malam. Ketika kesedihan dan derita datang, manusia harus optimis bahwa nikmat dan bahagia ada di sisi lain.

Yang menjadi pertanyaan kemudian: Bagaimana kita mengisi kehidupan ini seraya menunggu datangnya nikmat dan bahagia?

Ketika sedang berada dalam cobaan yang berat, kondisi yang paling menyedihkan, itulah kata-kata Allah bahwa kita berada di tempat yang serendah-rendahnya. Akan tetapi kalau kita mau berpegang pada iman, berteman dengan derita yang tidak abadi ini, serta selalu menjalankan amal saleh, insyaallah kemudahan dan kebahagiaan tiba pada saatnya.

Wallahu a’lam bishawab.

One Response to “Berteman dengan Penderitaan”

  1. Hamba Allah Says:

    SubhannaAllah, AstaqfirAllahhaladzhim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: