Menyikapi Perbedaan

kontak inter-rasial

kontak inter-rasial

 

Manusia dilahirkan berbeda. Perbedaan adalah fitrah manusia. Bahkan sepasang anak kembar pun tidak mungkin tidak berbeda. Perbedaan fisik, emosi, karakter, kultural, dan sebagainya. Sekalipun diterapkan upaya penyeragaman, misalnya dalam kemiliteran, tetap saja pada akhirnya ada perbedaan hasil. Dari sana lahir seorang jenderal ahli strategi dan sukses sebagai Presiden seperti Suharto dan SBY, atau di kutub lain ada juga tentara desersi atau berlaku kriminal yang berakhir di penjara.

Kemajemukan dunia menggiring manusia pada perilaku dan profesi yang berbeda, hingga lahirlah beragam jenis dan bentuk pekerjaan yang saling melengkapi. Di satu sisi ada seniman yang punya kehalusan perasaan, di sisi lain ada militer dengan segala ketegaran dan keunggulan fisiknya. Ada ulama dan pendeta yang berbicara tentang kebenaran, di sisi lain ada pedagang dan politisi yang yakin tentang peluang dan keuntungan.  Satu sama lain seperti sudah tahu wilayah masing-masing, dan tidak berniat mencampuri ranah pembicaraan yang tidak dipahami masing-masing pihak. Justru karena keragaman tersebut negara-negara besar di masa lalu dan masa kini bisa terbentuk.

Hakikat perbedaan adalah tidak adanya kemutlakan di dunia ini. Kebenaran di sebuah pemikiran ternyata tidak bagi yang lain. Keyakinan yang dianut mati dalam sekelompok masyarakat, ternyata tidak berlaku di tempat lain. Beberapa pemikir besar yang dihukum mati oleh penguasa theokrasi di masa lalu, hanya karena mereka berpikir tanpa ikatan dogmatis, dan karenanya dianggap menghujat Tuhan. Setelah bertahun-tahun kemudian, justru yang diketahui benar adalah pendapat pemikir yang sudah terlanjur dihukum mati tersebut.

Bisakah perbedaan ditiadakan? Apa jadinya bila perbedaan ditindas demi keseragaman?

Meniadakan perbedaan berarti mengingkari rahmat Tuhan Sekalian Alam, karena perbedaan adalah anugerah rahmat dariNya. Impian untuk meniadakan perbedaan berarti menganggap sebuah pemikiran, isme, kelompok, etnis, atau ras lebih baik daripada yang lain, sehingga menganggap yang lain tidak penting. Seorang diktator selalu menganggap diri dan kelompoknya yang terpenting, namun belum tentu ia seorang fasis. Hitler adalah seorang fasis yang diktator, sehingga bukan hanya menganggap dirinya penting namun menganggap ras selain Aria tidak penting – dan karenanya tidak layak berdampingan dengan ras ini.

Bahkan ketika alam menunjukkan dominasi atlet kulit hitam dalam ajang olimpiade sebelum perang dunia II, Hitler tidak mau mengakui kehebatan para atlit non-putih tersebut. Dalam pikirannya, figur individu yang hebat adalah laki-laki berkulit putih, berambut pirang, bertubuh tinggi besar, tanpa cacat – seolah-olah figur utopisnya sendiri yang bertubuh pendek dan berambut hitam. Impiannya bahwa orang Aria memimpin dunia diwujudkannya dengan serangan ke berbagai negara di Eropa dalam upaya penaklukan terbesar.

Sejarah Islam menunjukkan bahwa kebesaran agama ini dikarenakan hanya memperlakukan hukum manusia secara nisbi, namun hukum Allah dijunjung sebagai kemutlakan. Dalam kitab sejarah Rasulullah Saw, jelas ditunjukkan bahwa Allah tidak senantiasa menurunkan wahyu untuk mengatur kehidupan. Justru lebih sering Rasulullah dan para sahabat harus berunding untuk menentukan langkah dan hukum karena Allah tak kunjung menurunkan wahyu. Bagaimana kalau keliru? Bahkan Rasulullah juga pernah keliru dalam membuat keputusan dan ditegur oleh Allah Swt dengan diturunkannya wahyu yang mengoreksi keputusan Rasulullah tersebut.

Sebagai seorang yang ahli dalam strategi dan taktik, Rasulullah Saw senantiasa berpijak pada wahyu Allah dalam menentukan langkah yang akan diambil. Akan tetapi, beliau tidak menyama ratakan cara saat menghadapi lawan bicara, lawan berunding, bahkan lawan dalam peperangan. Ada kalanya pasukan Islam harus menunjukkan kekuatannya yang menggiriskan hati, namun tidak jarang hanya beberapa orang terpilih yang menjadi utusan, atau bahkan beliau sendiri yang bertemu dengan pemuka masyarakat yang memusuhi Islam. Tidak pernah disebutkan dalam sejarah keberingasan tentara Islam dalam penaklukan, bahkan peperangan frontal terjadi hanya sebagai reaksi dari ancaman yang datang. Kekerasan adalah jalan terakhir setelah semua diplomasi.

Islam berprinsip bahwa perbedaan adalah rahmat, dan dalam Surat Al Baqarah bahkan ditegaskan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Artinya bahwa, dalam pemerintahan yang berpayungkan hukum Islam, semua agama, etnis, suku, dan isme dipersilakan hidup selama tidak merongrong kewibawaan pemerintahan. Tatkala kekalifahan Islam mencapai Damaskus, penduduk yang beragama Kristen menegaskan bahwa mereka merasa lebih aman di bawah payung Khilafah Islam dibandingkan saat berada di bawah panji-panji Romawi.

Orang Islam harus adaptif, namun tidak boleh lepas dari prinsip dan konsep ke-Islaman yang hakiki. Mungkin itu yang dikehendaki oleh Rasulullah ketika menyebarkan ajaran agama ini kepada manusia yang mendiami jazirah Arabia, pada awalnya. Sejarah juga telah membuktikan bahwa ajaran Islam dominan di Indonesia tanpa mengubah identitas pribadi pemeluknya menjadi Timur Tengah. Orang Jawa tetap menjadi Islam Jawa, dan orang Minang tetap Islam Minang. Sebagian memang mengubah nama mereka sesuai dengan nama yang ada di Al-Qur’an tetapi mereka tidak lantas berpakaian selayaknya orang Arab.

Kalau kita sempat menyaksikan tayangan National Geographic yang bertajuk Inside Mecca, di sana dikisahkan tiga orang jamaah haji dari tiga bangsa yang berbeda: seorang karyawan pria berkebangsaan Malaysia yang berangkat dengan rombongan jamaah, seorang pekerja pria kulit hitam berkebangsaan Afrika Selatan yang berangkat sendiri, dan seorang ilmuwan wanita berkebangsaan Amerika yang berangkat dengan rombongan perempuan. Tampak jelas bagaimana Islam bermain dalam tiga kultur yang berbeda, sehingga membuahkan cara berpikir yang berbeda pula saat menyikapi ritual keagamaan terbesar di dunia itu. Ketika mereka semua melaksanakan wukuf di Arafah, leburlah semua kultur menjadi satu identitas saja: Islam.

Islam bermain di dalam prinsip dan konsep, sementara kultur lokal bermain di ranah yang berbeda. Orang bisa membawa kedua identitas secara simultan, tanpa saling merugikan. Tentu saja, bagi sebagian orang pendapat personal ini tidak benar. Tidak jadi apa, karena perbedaan adalah sah hukumnya.

Saya menyukai kalimat Mario Teguh, dalam salah satu Golden Ways-nya, yang menyatakan bahwa: Kokohlah dalam prinsip, tapi fleksibel dalam cara / metode. Dengan demikian, kita selalu adaptif tanpa pernah kehilangan arah dan tujuan.

One Response to “Menyikapi Perbedaan”

  1. Bajry_Return Says:

    stujuuuuuuuuuuuuuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: