Prasangka dan Celaan

 

sinetron horor

sinetron horor

Apa yang menjadi pusat perhatian keluarga dewasa ini? Jawaban yang hampir pasti adalah: televisi. Hampir di setiap rumah ada benda elektronik ini, dan menyita sebagian besar perhatian anggota keluarga yang hadir.

Televisi sudah pasti menjadi bagian dari kehidupan manusia modern, termasuk Indonesia. Lebih maju daripada negara-negara di sekitarnya, Indonesia bahkan sudah memiliki lebih dari 5 stasiun televisi swasta – yang berkembang pesat sejak bangkitnya reformasi. Bila dulu televisi termasuk barang mewah, dan dikenai pajak barang mewah, sekarang posisinya adalah kebutuhan tertier bahkan sekunder.

Dari semua acara televisi, apa acara yang paling ditunggu? Dewasa ini tampaknya ada 2: berita dan film. Lebih khusus lagi: gosip selebriti dan sinetron drama. Rating kedua acara ini selalu menempati jajaran tertinggi, bahkan ada acara semacam ini yang bertahan lama. Sebenarnya, saya sungguh heran dengan trend yang sepertinya tidak pernah turun ini.  

Yang memprihatinkan adalah ketidak mampuan orang tua (khususnya Ibu) menahan diri dari tontotan tersebut, justru tatkala seharusnya anak-anak mereka harus belajar. Pantaslah bila lebih banyak anak-anak yang lebih hafal tokoh dan bintang sinetron dibandingkan dengan pahlawan nasional. Lebih hafal kabar perceraian selebriti daripada agenda pemilu (misalnya). Sebagai media massa, siaran televisi diibaratkan tumpahan air hujan – bisa datang setiap saat, dimana saja, dan pada siapa saja. Orang tua lah yang seharusnya menjadi payung dan filter di rumah, pelindung anak-anak mereka dari acara televisi yang tidak bermanfaat.

Disadari atau tidak, tayangan di layar kaca berimbas pada kultur yang berlaku di masyarakat, khususnya dalam menyikapi konteks sosial yang serupa dengan terlihat di dalam sinetron. Seorang anak kerabat yang berusia TK bahkan berani membentak seorang pembantu yang sudah setengah baya:”Tak pecat kamu!” – karena hardikan serupa pernah di dengar dan dilihat dalam konteks serupa di sinetron, yang disaksikannya sepulang sekolah.

Sinetron yang banyak ditayangkan dan digemari – kalau boleh jujur – tidak banyak bedanya dengan telenovela Amerika Latin. Melodrama gadis cantik miskin yang bertemu dengan pemuda tampan kaya. Keduanya berkarakter “putih”. Kisah cinta ini berbumbu iri dengki perempuan lain (yang juga cantik) berkarakter “hitam”, yang ingin menikahi sang pemuda kaya karena hartanya. Judul sinetron ini, mayoritas adalah nama perempuan yang menjadi protagonis sinetron. Usia pemain pun sekarang ini tampaknya semakin muda, namun harus memainkan peran yang sebenarnya lebih pantas untuk orang yang berusia minimum 4 – 5 tahun lebih tua.

Kehidupan dalam sinetron – senyatanya – langka ditemui dalam masyarakat. Kehidupan di layar kaca adalah gambaran maya semata. Yang kaya sangatlah kaya, sekalipun tidak jelas profesinya – siang hari pun berkeliaran di jalan, mall, cafe dengan perempuan, ketika eksekutif bisnis yang sejati berada di tengah projek mereka. Yang glamor terlalu glamor, hingga tidak pernah lepas setelan jas dan make-up. Yang baik hati tidak punya sisi hitam sama sekali – sehingga kebaikan seperti identik dengan kemelaratan atau kesengsaraan. Si jahat sedemikian hitam dan pendengkinya hingga tak ada ruang putih sedikit pun – bahkan ketika bernafas pun seolah-olah sudah menyebarkan aroma kematian. Yang miskin, lucunya, tetap cantik jelita – sekalipun wajahnya dikotori atau berpakaian kumal. Mana ada orang secantik Tamara Blezinsky atau si remaja Nikita Willy tetap miskin dan merana?

Tontonan sinetron di televisi, secara umum, tidak punya elemen edukasi yang memadai sebagai tuntunan (tentu saja ada beberapa perkecualian – yang sayangnya tidak sering diproduksi). Sudah begitu banyak pakar yang memberikan catatan, ulama yang mengeluarkan peringatan, namun rating seolah-olah membelenggu kreativitas para sineas. Rating berarti uang, dan uang memberikan jaminan proyek berikutnya. Masa bodoh dengan pembinaan akhlak masyarakat.

Beda lagi dengan tontonan gosip selebriti. Pemirsa disuguhi kehidupan internal orang-orang yang biasa disaksikan lewat layar kaca, artis film, penyanyi, pemain band, khususnya bila sedang atau diduga sedang punya konflik. Gosip selebriti adalah – utamanya – memang masalah perseteruan. Entah memang sedang ada masalah, atau sebenarnya hanya konflik alami sebuah rumah tangga, hubungan percintaan, gesekan kepentingan, dsb.

Ketika sedang hangat, hampir semua acara serupa memberitakan dengan cara yang hampir sama pula. Ibarat air yang menetes di atas batu, bila semua saluran sudah berkata tentang hal yang sama – sekalipun baru sebatas dugaan – sebuah issue bisa dianggap kebenaran. Semakin kontroversi kasusnya, apalagi bila sudah melibatkan pengacara, lebih panas pula pemberitaan yang dilancarkan. Banyak berita perseteruan yang akhirnya hilang begitu saja, menggantung tanpa informasi akhir dari saluran gosip. Seolah-olah kabar baik dari selebritis bukan lagi ranah yang patut disajikan secara proporsional. Sering kali akhir perseteruan dan konflik hanya menjadi selipan berita, atau catatan kaki yang sepertinya tidak terlalu penting.

Bila hot news sedang sepi, banyak cara yang diluncurkan agar seolah-olah dunia hiburan tidak sepi dari gosip. Pertanyaan: Apakah? … Benarkah?  … Bagaimana? … Menjadi senjata penulis berita gosip untuk menarik minat pemirsa agar tetap di saluran.

Langsung maupun tidak, gaya bertutur kebanyakan sinetron di negeri ini membuat orang tidak santun. Kalau kita simak, bicara dengan tensi tinggi, bicara sambil berdiri, berdebat bukan berdiskusi dengan sabar, adalah ciri telenovela Amerika Latin. Sebenarnya bukan gaya orang Indonesia yang guyub. Bandingkan head to head dengan sinetron besutan Deddy Mizwar yang Islami, atau si Doel Anak Sekolahan dulu.

Tensi tinggi dalam tiap potongan scene mungkin memang cara yang ditempuh oleh sutradara untuk menyiasati lemahnya plot dan miskinnya kemampuan akting. Ketegangan yang dibangun mungkin menarik untuk disimak tetapi tidak membawa manfaat lebih jauh. Tidak aneh bila yang banyak diserap adalah kata, frase, dan kalimat negatif bernada permusuhan. Celaan, makian, umpatan, seolah-olah menjadi hal yang biasa.

Tontonan gosip membuat pemirsanya belajar berprasangka, karena suapan potongan info negatif yang terus menerus. Prestasi Gita Gutawa atau kelompok Elfas Secoria di ajang internasional sudah pasti dikabarkan, tetapi kemudian tenggelam oleh kabar dugaan perselingkuhan, rencana gugatan perceraian, perselisihan anak band, dan sebagainya. Istilah infotainment yang sebelumnya tidak dikenal – bahkan istilah tersebut memang tidak baku – sekarang biasa diucapkan hingga pembantu rumah tangga – sebagai pengganti acara gosip.

Karena miskinnya bobot edukasi inilah, saya tidak memperbolehkan sembarang sinetron menjadi tontonan di rumah. Istri dan anak saya juga sudah terbiasa untuk tidak berbicara soal sinetron. Kalau ada sinetron yang bagus, khususnya besutan Deddy Mizwar, pasti kami sekeluarga akan menonton. Info gosip juga bukan tontonan di rumah, karena memang tidak ada perlunya update urusan rumah tangga orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: