Mahluk Gaib Jahat (2)

Posted in Sharing, Tausiyah with tags , , , , , , , on June 30, 2011 by hzulkarnain

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan cara kaum jin mencuri dengar berita-berita langit.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Apabila Allah memutuskan suatu perkara di langit, para malaikat merentangkan sayap-sayapnya sebagai (refleksi) kepatuhan terhadap firmanNya, firman (yang didengar) itu seolah-olah seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu, sehingga memekakkan mereka. Tatkala hati mereka telah hilang dari rasa takut, mereka bertanya,’Apa yang baru saja difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab malaikat (Jibril) berkata,’(Perkataan) yang benar, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar’. Ketika itulah, (jin-jin) pencuri berita (wahyu) itu mendengarnya. Keadaan mereka seperti ini. Sebagian mereka bertumpu di atas sebagian yang lain. Sufyan bin Uyainah (salah seorang perawi hadits ini) menggambarkannya dengan telapak tangannya, ia merenggangkannya dan membuka jari jemarinya. Maka ketika (jin-jin) pencuri berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, mereka lalu menyampaikannya kepada yang ada di bawahnya, dan demikian seterusnya hingga disampaikan ke mulut tukang sihir atau tukang ramal. Akan tetapi, kadangkala para pencuri berita itu terkena syihab (panah-panah api) sebelum sempat menyampaikan berita yang disadapnya itu. Dan kadangkala mereka sudah sempat menyampaikannya sebelum terkena syihab. Lalu dengan satu kalimat yang didengarnya itulah, tukang sihir atau tukang ramal melakukan seratus macam kebohongan.

Mereka (yang mendatangi tukang sihir atau tukang ramal berkata),’ Bukankah dia telah memberitahukan kepada kita, bahwa pada hari anu akan terjadi peristiwa anu (dan itu benar-benar terjadi)?’ Sehingga dipercayalah tukang sihir atau tukang ramal tersebut karena satu kalimat yang telah didengar dari langit”.

Hadits ini menunjukkan betapa kaum jin berusaha dengan susah payah serta menempuh resiko untuk mencuri berita langit yang sebenarnya hanya diperuntukkan bagi para malaikat. Pantaslah sejak jaman dahulu, selalu saja ada orang-orang yang punya kemampuan lebih dalam ramal meramal. Kita lihat, kadangkala sebuah ramalan mengandung kebenaran, tapi di saat lain sama sekali tidak tepat. Rupanya ini tergantung pada akurasi kaum jin dalam mencuri dengar berita di langit, sebab ada kemungkinan si pencuri tidak mampu meloloskan diri dari hadangan penjagaan malaikat di langit. Wallahu ‘alam bish shawab.

Wong pinter, orang pintar, orang tua, paranormal, dan suhu adalah beberapa sebutan yang lebih enak didengar untuk menyebut dukun, tukang ramal, atau tukang sihir. Orang-orang seperti ini bisa jadi adalah penipu ulung, atau memang orang yang menghambakan diri pada jalan kemusyrikan. Disebut dengan musyrik karena memang mereka tidak lagi bertuhankan dzat Allah, melainkan taghut yang mereka percayai sendiri. Inilah adalah contoh keberhasilan setan memperdaya manusia untuk mengikuti jalan mereka, menjadikan sebagian manusia menjadi agen-agen mereka untuk menyebarkan kemusyrikan.

Ada beberapa titik penting dalam kehidupan ini yang membuat orang mencari perlindungan pada kekuatan besar di luar dirinya, dan karena kondisi yang dihadapi tersebut bersifat gaib perlindungan yang dicari pun dari kekuatan gaib. Misalnya, bagi tentara adalah ketika ada perintah tugas ke medan perang, bagi pelajar tentunya saat ujian nasional, bagi orang lain adalah saat ada proyek besar, saat mengharapkan cinta seorang perempuan / laki-laki, dsb. Bagi umat Islam, inilah saatnya mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa. Akan tetapi, orang yang kurang kuat iman, yang menganggap Allah jauh, dan mengira ada kekuatan lain yang lebih perkasa, lebih suka mencari perlindungan pada taghut-taghut yang mereka percayai. Dari sini muncullah hal aneh-aneh yang adi kodrati hingga tak masuk akal, seperti ilmu kekebalan, menghilang, jimat pengasihan, jimat wibawa, dsb yang biasanya dirupakan dalam bentuk cincin, kalung, atau bentuk-bentuk lain yang bisa dibawa-bawa atau ditanam di sudut rumah. Tanpa sadar, manusia yang lemah iman telah meninggalkan Islam dan masuk ke dalam jeratan setan.

Sebenarnya, siapakah yang disebut dengan setan tersebut?

Setan atau Syaithan dalam bahasa Arab diambil dari kata yang berarti jauh. Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya terbakar atau batal. Pendapat yang pertama lebih kuat menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir, sehingga kata Syaithan artinya yang jauh dari kebenaran atau dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala (Al-Misbahul Munir, hal. 313). Ibnu Jarir menyatakan, syaithan dalam bahasa Arab adalah setiap yang durhaka dari jin, manusia atau hewan, atau dari segala sesuatu.

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)

Dalam ayat ini Allah menjadikan setan dari jenis manusia, seperti halnya setan dari jenis jin. Dan hanyalah setiap yang durhaka disebut setan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari kebaikan. (Tafsir Ibnu Jarir, 1/49)

Ibnu Katsir menyatakan bahwa syaithan adalah semua yang keluar dari tabiat jenisnya dengan kejelekan (Tafsir Ibnu Katsir, 2/127).

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau berada di masjid. Akupun duduk. Dan beliau menyatakan: “Wahai Abu Dzar apakah kamu sudah shalat?” Aku jawab: “Belum.” Beliau mengatakan: “Bangkit dan shalatlah.” Akupun bangkit dan shalat, lalu aku duduk. Beliau berkata: “Wahai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan jin.” Abu Dzar berkata: “Wahai Rasulullah, apakah di kalangan manusia ada setan?” Beliau menjawab: “Ya.”

Secara awam pula kita hanya mengenal setan dari bangsa jin, yang suka mengganggu manusia dengan cara nyata maupun melalui bisikan yang halus. Misalnya mereka berdiam di sebuah hutan, menguasai hutan, dan dengan sihirnya membuat manusia tidak berani mendekati wilayah itu. Orang yang nekat akan mengalami sakit, bahkan mungkin sampai mati, dan itu menjadi pelajaran bagi lainnya.

Atau, ketakutan itu bisa dengan cara dihembus-hembuskan secara halus di dada manusia, misalnya pada tentara yang akan berangkat ke medan perang, dengan rasa was-was akan kematian dalam tugas (sementara sang istri sedang hamil). Efek yang terjadi mungkin akan sama: orang yang akan masuk ke hutan akan memberikan sesajen kepada penunggu hutan agar aman, dan tentara yang berangkat perang memakai jimat perlindungan.

Apa yang terjadi bila keduanya mati sebelum bertobat? Niscara keduanya mati dalam kemusyrikan, karena sedang mengingkari kekuasaan Allah Swt.

Sebagai manusia yang berakal dan beriman, kita bisa pula menilai siapa saja manusia-manusia yang digolongkan sebagai setan, yakni (per-definisi) orang-orang yang jauh dari kebenaran dan rahmat atau membawa manusia lain menjauhi kebenaran atau rahmat Allah. Para penjahat, dengan segala bentuk kejahatannya yang dilakukan secara sadar serta nyata-nyata mencelakakan atau merugikan orang lain, serta para penganjur kekerasan, penganjur kesesatan, penganjur kemusyrikan bisa digolongkan ke dalam definisi ini.

Para ulama dan guru-guru agama selalu mengingatkan kita akan bahayanya terlalu cinta dunia,  sebab inilah lubang yang hampir selalu menjatuhkan manusia ke dalam kesesatan. Cinta pada harta, tahta, istri dan anak yang berlebihan akan mengingkari kodrat mereka sebagai titipan Allah. Orang seperti ini akan mencari cara agar dunia yang ada di genggamannya tidak lepas, dengan cara apapun. Termasuk dengan cara-cara syirik.

Ulama berkata: Jangan takut mati, tapi jangan mencari mati. Mati adalah kepastian, hanya waktunya saja yang belum ditentukan secara pasti. Tidak ada gunanya mengamalkan sihir mencari kekebalan, karena kematian bisa mencari jalannya sendiri. Bahkan Rasulullah Saw junjungan kita pun pernah terluka parah saat perang, dan kematian akan disambut dengan ikhlas – lalu mengapa kita takut dengan nash Allah?

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan  kepada cahaya . Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah thagut (syaitan), yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan . Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 256-257)

Mahluk Gaib Jahat (1)

Posted in Sharing, Tausiyah with tags , , , , , , on June 24, 2011 by hzulkarnain

Arwah Penasaran, Setan atau Jin?

Film horor Indonesia sama Barat serem mana? Kalau sama film horor Jepang atau Korea? Itulah fenomena film horor, bikin takut tapi juga bikin penasaran. Bagi saya pribadi, atraksi visual film horor Jepang atau Korea adalah top-rating. Mereka bisa menggambarkan sosok mengerikan dalam bentuk dan wujud yang tidak terpikirkan sebelumnya – dan itu ujung-ujungnya akan diadopsi oleh film horor Indonesia. Film horor Jepang yang paling mengerikan, menurut saya, adalah Ringu (the Ring) yang pertama – dan pantaslah bila kemudian gaya ini diadopsi banyak film sejenis di Asia.

kengerian saat Sadako "keluar" dari layar tv

Sekalipun kebanyakan dikenal melalui visualisasi film, bayangan sosok perempuan cantik bergaun putih berambut panjang terurai, dan tampak di kegelapan malam, selalu menumbuhkan rasa was-was dan takut. Itulah wujud Sundel Bolong yang dulu diperankan mendiang Suzzanna, berdasarkan mitos di masyarakat Jawa – khususnya Jawa Timur dan Tengah. Sundel atau sundal menggambarkan perempuan yang keluyuran di malam hari, disebut bolong karena punggungnya bolong. Bukan hanya di Jawa, kisah hantu perempuan ini juga berkembang di bagian lain Indonesia – yang mereka percaya adalah roh gentayangan perempuan yang mati saat melahirkan.

Yang mungkin lumayan mengimbangi ketenaran setan perempuan berambut panjang ini adalah pocong atau pocongan – mayat hidup dengan berkafan terikat, dengan tubuh yang sudah mulai hitam membusuk. Konon, pocong ini terjadi karena saat dimakamkan tali pocongnya lupa dilepas, sehingga dia bangkit menuntut untuk disempurnakan. Pocong populer di daerah Jawa, yang mayoritas muslim, karena memang bentuk tersebut adalah cara orang Islam dimakamkan.

Secara lokal, banyak sekali kisah menyeramkan tentang penampakan, penunggu, dan gangguan yang dipercayai oleh masyarakat. Ada yang berupa mahluk tinggi besar hitam berbulu, ada yang berwujud perempuan buruk rupa penculik anak, raksasa hijau pesugihan, sundel bolong, kuda berkepala manusia, dsb. Kepercayaan ini seringkali melekat secara turun temurun menjadi legenda dan mitos.

Kebanyakan orang takut akan sosok mereka karena seramnya, tapi tak kurang pula yang takut dibunuh hantu-hantu itu. Yah, memang dalam film semua hantu yang ditampilkan bisa membunuh atau membalas dendam, dengan cara mencekik atau cara lain yang tak kurang sadisnya. Apa benar mereka bisa membunuh? Sebenarnya mereka ini apa sih? Setan, hantu, arwah gentayangan, roh penasaran, jin, atau apa?

Awalnya, sama dengan kebanyakan orang, saya bingung dengan banyaknya nama dan bentuk mahluk-mahluk aneh dan menyeramkan ini. Hingga pada suatu saat, secara kebetulan dalam sebuah kajian Islam di televisi, Ust. Abu Aqila dengan gamblang menjelaskan fenomena ini – dan bagi saya masuk akal. Dengan tegas, beliau mengatakan bahwa bentuk-bentuk tersebut adalah perwujudan jin. Inilah yang mendorong saya mencari tahu lebih banyak.

Apa bukan roh orang mati yang gentayangan? BUKAN. Dalam Islam, roh tidak mati bersama jasad manusia, tapi tidak juga berkeliaran. Begitu orang terakhir meninggalkan pemakaman, saat itulah malaikat Munkar dan Nakir bekerja dan perhitungan alam kubur dimulai. Tidak ada satupun ayat dalam Al Qur’an yang mengindikasikan bahwa roh manusia yang sudah masuk dalam alam kubur yang gaib kembali ke alam dunia yang wujud. Kalau ada orang yang mengatakan ini dan itu tentang arwah, roh, atau kehidupan setelah kematian, sudah pasti omong kosong. Al Israa’ ayat 85 menegaskan: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah hanya menciptakan mahlukNya dari 3 elemen: cahaya, nyala api, dan tanah. Mahluk cahaya adalah para malaikat, mahluk api adalah bangsa jin, dan mahluk tanah adalah manusia. Dalam sebuah hadits Muslim, Rasulullah bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya, Jan (nenek moyang jin) diciptakan dari nyala api, dan Adam (nenek moyang manusia) diciptakan dari apa yang telah disebutkan (dalam Al-Qur’an) kepada kalian.”

Dari ketiga jenis mahluk Allah itu, hanya satu yang diberi kelebihan berubah bentuk yakni jin. Secara umum, normalnya manusia tidak akan bisa melihat jin dalam wujud aslinya, kecuali mereka yang ingin memperlihatkan diri – itu pun bukan dalam wujud asli mereka. Kaum jin tinggal di sebuah alam yang bukan alam manusia dan bukan alam malaikat. Manusia normal tidak akan bisa melihat alam dan bangsa jin itu sendiri karena memang Allah menutup mata kita dari mereka. Sesuai dengan namanya, jin berasal dari kata janna syai`un yajunnuhu yang artinya tertutup atau tersembunyi. Sebaliknya mereka bisa melihat kita … “Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka … (Al A’raf: 27).

Di luar kewajaran, menurut ust. Abu Aqila, ada beberapa macam manusia yang terbiasa melihat perwujudan jin dalam banyak rupa, yakni: pengamal dan penganjur kesyirikan (penganut paganisme, dukun, peramal dsb), orang dengan iman yang lemah (kaum kafir dan anak yang belum mengenal aqidah), dan orang yang pernah mengalami panas tinggi waktu masih balita (karena hal itu menimbulkan semacam celah di otak).  Selain itu, tentunya ada orang-orang yang dipilih Allah untuk bisa melihat dan berkomunikasi dengan jin.

Selain perbedaan dzat pembentuk, dan alam kehidupan tempat berdiam, ada beberapa kesamaan antara jin dan manusia. Yang pertama, kedua jenis mahluk ini sama-sama membentuk masyarakat, dan tinggal di wilayah-wilayah tertentu. Kata Ust. Abu Aqila, ada jin-jin yang berkemampuan sangat tinggi, dan menjadi penguasa kaum jin. Seperti halnya yang dikenal masyarakat Jawa sebagai Nyai Roro Kidul yang menguasai Laut Selatan, sebenarnya dia adalah salah satu panglima bangsa jin.

Manusia dan jin sama-sama mahluk berakal, dan karena itu berkemampuan memilih jalan yang baik dan buruk. Peringatan Allah dalam QS Al An’am 130: “Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini. Ada sebuah kisah dari sahabat Ibu Mas’ud yang menceritakan Rasulullah SAW bertemu dengan utusan kaum jin dan bersedia pergi bersamanya ke alam jin untuk membacakan Al Qur’an pada mereka. Karena jin dan manusia sama-sama diciptakan untuk beribadah pada Rabb-nya, tidak mengherankan sebenarnya apabila banyak pula bangsa jin yang taat. Sama halnya dengan manusia, setelah ditunjukkan kebenaran Al Qur’an, sekarang terserah jalan mana yang akan ditempuh. Tunduk pada ketentuan Al Qur’an (dan menjadi jin Islam) atau tetap ingkar (menjadi jin kafir).

Sekalipun jin ada yang muslim dan taat, Al Qur’an menegaskan rambu-rambunya: “Dan bahwasanya ada saja beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara Jin, maka Jin-jin itu justru hanya menambahi mereka dosa dan kesalahan.(QS.Al Jin:6). Ayat di atas bersifat universal, artinya bahwa jin yang mau berkawan dengan manusia, atau manusia mau berkawan dengan jin pasti ada maunya. Tidak ada perkawanan yang tulus antara jin dan manusia karena keduanya bukan sejenis.

Jin yang durhaka kepada Allah, dan berusaha menarik-narik manusia pada kejahatan, adalah setan. Bukan hanya kafir, tetapi juga pembangkang dan mencari-cari manusia yang mau mengikuti jalannya. Tujuannya jelas, menemani moyang jin yakni iblis berdiam di neraka selamanya. Tidak semua jin adalah setan, dan setan tidak identik dengan jin, karena adapula manusia yang setan. Setan adalah sebutan sifat kafir, pendurhaka dan pembangkang kepada Allah.

Bujuk rayu setan bisa berupa tindakan yang sangat kasar hingga halus. Mungkin yang paling kasar adalah menumbuhkan rasa takut dan was-was, sehingga akhirnya manusia mencari perlindungan dari mahluk lain selain Allah. Bentuk-bentuk aneh dan seram tersebut di atas tak lain adalah setan dari bangsa jin yang berusaha mendorong manusia memasuki kesesatan. Muncullah jimat dan piandel seperti cincin, keris, dan barang pusaka lainnya. Juga muncul ilmu kesaktian seperti lembu sekilan (kekebalan), sayepi angin (meringankan tubuh), blabag pengantolan (kekuatan fisik), dsb. semua benda dan kesaktian tersebut tidak punya tuntunan syar’i dan karenanya merupakan bagian dari kesyirikan. Dikatakan syirik karena dalam prosesnya menemukan kekuatan meminta pertolongan pada mahluk lain yakni jin.

Bila ketakutan tidak menjadi pendorong, setan akan mencoba cara yang halus. Tujuannya adalah membangkitkan sifat buruk manusia, misalnya sombong dan riyaa’. Tujuan akhirnya adalah rasa cinta dunia yang sedemikian besar hingga takut mati. Bila tidak mempan juga, akan ada cara lain, hingga akhirnya titik kelemahan manusia ditemukan. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu pernah ditanya tentang perbedaan jin dan setan, beliau menjawab: “Jin itu meliputi setan, namun ada juga yang shalih. Setan diciptakan untuk memalingkan manusia dan menyesatkannya. Adapun yang shalih, mereka berpegang teguh dengan agamanya, memiliki masjid-masjid dan melakukan shalat sebatas yang mereka ketahui ilmunya. Hanya saja mayoritas mereka itu bodoh.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin).

Perubahan dalam Prosesnya

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , , on May 31, 2011 by hzulkarnain

Catatan akhir Mei 2011: Pendidikan dan Kebangkitan Nasional

40,9 prosen responden merasa puas dengan pemerintahan orde baru di bawah kepemimpinan Presiden Suharto. Demikian ungkap Indobarometer dalam survei mereka yang bertajuk 13 tahun reformasi dan 18 bulan pemerintahan Presiden SBY. Karuan saja hasil ini langsung menuai kontroversi, bahkan lembaga survei ini dituding mengusung kepentingan tertentu.

Survei yang dilakukan sejak akhir April hingga awal Mei tersebut, menurut Muhammad Qadari sang direktur, mencakup 33 propinsi dengan responden sekitar 1200 orang dengan margin of error sebesar kurang lebih 3,0 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Artinya, Indobarometer menganggap hasil survei ini valid dan reliabel.

Di luar kontroversi yang timbul, dan di luar benar salahnya versi masing-masing penilai, saya pribadi merasa prihatin dengan kelakuan yang pintar-pintar bodoh seperti ini. Pintar karena survei ini pastinya menggunakan ilmu dan teknologi yang mumpuni, dan pintar karena menangkap peluang menjadi sensasi. Bodoh karena survei yang dilakukan tersebut tanpa manfaat yang jelas. Kalau sudah diketahui responden lebih suka pada masa dan pemerintahan rezim Suharto, so what? Tidak mengherankan bila ada yang menduga survei ini mengandung “pesan sponsor” dari pihak-pihak tertentu.

Sedikit lagi mengomentari proses survei tersebut, ada 2 kejanggalan yang menurut saya agak parah. Yang pertama soal keterwakilan. Bila Indonesia punya 200 juta jiwa penduduk, angka 1200 yang dipakai sebagai responden hanyalah 0,000006-nya. Sah saja kalau lembaga survei ini berkilah bahwa, 40 prosen tadi dari responden – bukan penduduk Indonesia. Sebab sudah pasti, angka yang jauh di bawah nilai 1% penduduk Indonesia tadi sudah pasti tidak representatif. Dari sini saja sudah terlihat betapa sia-sia survei ini.

Hal kedua adalah pola penjaringan responden. Kalau yang ditanya adalah orang yang berusia awal dua puluhan (apalagi kurang dari usia itu), bagaimana mereka bisa merasa dengan pasti kondisi jaman orde baru, apalagi membandingkan dengan kondisi orde baru. Sebab, saat orde baru tumbang, responden ini berumur kurang dari sepuluh tahun, bahkan ada yang mungkin baru masuk SD. Apalagi kalau mereka ditanya soal orde lama, sungguh tidak masuk akal – karena mungkin orang tua mereka pun tidak banyak yang menikmati masa-masa itu.

Beberapa tahun silam, ada pendapat yang mengatakan bahwa Indonesia ini sangat beruntung karena memiliki pemimpin yang sesuai dengan jamannya. Saat baru saja merdeka, jaman kisruh, dan rawan terpecah belah, muncul sosok Soekarno yang keras, cerdas, dan nasionalis. Dengan kepiawaiannya berpidato, beliau menyihir penduduk untuk tetap mematuhi pemerintah sekalipun ekonomi Indonesia berada di titik nadir – yang ditandai dengan sanering di awal 60-an akibat inflasi gila-gilaan. Selama berkuasa dua puluh tahunan, Indonesia memiliki beberapa landmark yang kita kenali sampai sekarang – misalnya monumen nasional, masjid Istiqlal, gereja Katedral, dan patung-patung heroik di banyak jalur protokol di Jakarta. Di sisi lain, pembangunan ekonomi seperti tidak tampak. Meskipun bukan seorang militer, namun Bung Karno suka mengenakan jas berdekorasi atribut kemiliteran. .

Di masa orde baru, Pak Harto memilih pendekatan yang berbeda. Karakter pak Harto berseberangan dengan Bung Karno – kecuali kecerdasannya. Pak Harto terkenal dengan tuturnya yang lembut, mendudukkan pembangunan ekonomi di atas prioritas lainnya, dan ada rencana pembangunan lima tahunan sebagai arah pembangunan bangsa. Akibatnya, ekonomi Indonesia menjadi lebih maju. Beliau bukan seorang orator, tetapi pemikir. Beliau seorang militer, namun lebih suka berpakaian sipil dan jauh dari kesan militeristik.

Coba bayangkan bila Indonesia dianugerahi pemimpin yang tidak cocok dengan masanya; Pak Harto hidup di masa Bung Karno yang bergolak, sementara Bung Karno memimpin Indonesia di masa damai.

Tahun 1998 adalah milestone sejarah bangsa ini. Sebuah drama besar terjadi, saat Pak Harto terpaksa mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden setelah berkuasa sejak 1966. Bila dulu Bung Karno lengser setelah kasus G-30S PKI, yang menelan jiwa jenderal dan perwira angkatan darat, Pak Harto harus lengser setelah kerusuhan sosial dan pergerakan bangsa ini yang meminta reformasi. Dua-duanya turun dari kursi kepresidenan secara tidak wajar, setelah berkuasa lama. Inilah yang kemudian direvisi pasca reformasi – kekuasaan presiden hanya boleh maksimum 2 periode.

Orang sering tidak sabar dengan proses yang berjalan, apalagi bila selama proses tersebut ada hal-hal negatif yang terjadi. Selama 13 tahun pasca reformasi, Indonesia telah menuai setonggak demi setonggak kemajuan; dalam hal demokrasi, transparansi hukum, ekonomi makro, hak asasi manusia, dan sebagainya – namun secara substansial sering dikaburkan oleh pemberitaan tak berimbang media massa. Akan tetapi, ada yang belum banyak bergerak dari urutan Indonesia dalam daftar negara-negara bermasalah di dunia – karena mungkin sudah membudaya: yakni korupsi, kolusi, nepotisme.

Seorang teman berkomentar, bila dulu korupsi sudah bisa diduga orang-orangnya, sekarang ini kondisinya lebih parah: korupsi berjamaah. Kalau dulu korupsi didominasi oleh para birokrat, termasuk kroni penguasa, sekarang ini ditambah lagi dengan para legislator di Senayan. Semakin transparan pemberitaan, kian terang sepak terjang mereka di mata publik. Anehnya, para pelaku ini seperti tidak tersentuh hukum, tetap bisa berpakaian perlente, dan tetap berkuasa.

Dengan memasuki persaingan global, Indonesia harus memperkuat keuangan, salah satunya dengan mengurangi atau menghilangkan subsidi dari beberapa pos, namun hilangnya subsidi bagi perguruan tinggi menjadikan pendidikan di negeri ini sangat mahal. Perguruan tinggi negeri seperti diswasta-kan, dan karena mereka boleh mencari sumber keuangan sendiri, akibatnya uang masuk ke PTN bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Sungguh suatu kebijakan yang tidak masuk akal!!! Mungkin, kalau Ki Hajar Dewantara masih ada, beliau akan menangis. Bagaimana tidak? Pendidikan sudah menjadi ajang bisnis, dan bisnis menjadi bagian dari pendidikan. Bila pendidikan sudah sedemikian mahalnya, lantas bakat-bakat muda yang brilian akan dikemanakan?

Apakah arah pendidikan di Indonesia sudah jelas? Itu juga pertanyaan yang harus dijawab. Bagaimana mungkin mau jelas, sementara negara ini tidak punya lagi garus-garis besr haluan negara seperti jaman orde baru … well, untuk yang satu ini kita harus angkat topi pada tatanan pemerintahan saat itu. Dengan tidak adanya haluan negara, pantaslah pendidikan nasional tidak punya cetak biru. Industri nasional tidak punya strategi. Pertanian dan perikanan yang dulu menjadi penopang kesejahteraan sekarang menjadi masalah baru kemiskinan.

Dalam periode 2 kali masa pemerintahan, yang berarti hanya sekitar 10 tahun, rasanya tidak akan banyak presiden yang mampu membuat kebijakan yang langsung bisa mengangkat kesejahteraan rakyat. Seharusnya ini bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah, namun juga parlemen, birokrat, dan segenap jajaran pengambil keputusan di pusat dan daerah. Amerika yang bekas anak jajahan bisa maju, dengan sistem demokrasi modern, dengan batasan masa kepredidenan juga, karena bukan hanya pemerintah yang memikirkan nasib rakyat. Justru parlemen lah yang memegang peranan paling penting, karena mereka seharusnya menjadi wakil rakyat, mendengarkan keluhan rakyat, dan bertindak atas nama rakyat.

Beberapa bulan lagi, Indonesia akan berusia 66 tahun … usia yang cukup tua untuk manusia namun cukup muda untuk sebuah bangsa. Kita perlu memegang optimisme itu! Artinya, jalan bangsa ini menuju ke kondisi yang baik masih terbuka, asalkan kita mulai memperbaikinya sekarang. Mulai dari diri sendiri, kita harus mengikis korupsi, kolusi, dan nepotisme yang kita sendiri tidak suka. Jangan nantinya kita yang lantang berteriak anti KKN ternyata justru masuk ke dalamnya, ketika ada kesempatan – dan mungkin itulah yang terjadi di Senayan sekarang. Pembangunan bangsa ini bukan semata tugas pemerintah pusat, tetapi daerah juga memegang kendali karena sudah banyak hal yang otonomi sekarang.

Masa lalu adalah sejarah, dan kita tidak bisa kembali ke sana. Yang ada hanyalah sekarang dan masa depan. Kalau ada keindahan di masa lalu … itu hanyalah fatamorgana! Bila sekarang kita menginjak kerikil tajam, terantuk batu besar, terjerembab dan menderita, itulah realita. Semoga dengan kita tahu ada onak dan duri di jalan, kita menjadi lebih bijak. Semua ini adalah proses menjadi dewasa dan lebih baik – itu saya yakini. Di depan kita … kalau tidak di masa kita mungkin di era anak cucu kita … ada harapan yang tak bertepi. Mungkin tugas kita adalah menanam sebiji buah mangga, agar anak kita yang merasakan ranumnya. Allah Ta’ala yang memegang keputusan, namun kita sebagai mahluk wajib berikhtiar, dan nasib Indonesia ada di tangan kita semua. Bukankah Allah tidak akan mengubah suatu kaum, bila kaum itu sendiri tidak mengubahnya?

Islam Yang Humanis

Posted in Kontemplasi, Sharing, Tausiyah with tags , , , , on April 17, 2011 by hzulkarnain

Herdian Zulkarnain

Pada hari Jumat kemarin, lembar Jumat yang disediakan secara gratis bagi jama’ah punya judul yang tidak terlalu istimewa: Wajib Mencitai Sesama Muslim. Tapi, isi di dalamnya ternyata memberikan pencerahan yang luar biasa.

Pada suatu saat, Rasulullah SAW sedang bersama para sahabat saat seorang lelaki yang tidak familiar bagi para sahabat tersebut melintas. Artinya, tentunya orang tersebut bukanlah seseorang yang kerap mereka jumpai di masjid. Rasulullah lantas mengatakan bahwa orang itu adalah ahli surga. Bukan hanya sekali, hingga tiga kali beliau mengatakan hal tersebut.

Mungkin dengan agak bingung dan gusar, sahabat Abdullah bin Umar bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engka mengatakan itu kepada kami, padahal selama ini kami tidak pernah mengenalinya sebagai sahabatmu? Sedangkan terhadap kami sendiri yang selalu mendampingimu engkau tidak pernah mengatakan hal itu.”

Dengan bijak Rasulullah menjawab dengan singkat, “Jika engkau ingin tahu tentang apa yang aku katakan, silakan tanyakan sendiri padanya.”

Siapa yang tidak penasaran? Akhirnya Abdullah berkunjung ke rumah lelaki itu dan mengamatinya. Ternyata, selama di sana Abdullah bin Umar tidak melihat hal yang istimewa dalam ibadahnya. Karena tidak memperoleh informasi dari pengamatan, Abdullah kemudian mencari tahu secara verbal. Ia lantas bercerita tentang komentar Rasulullah atas dirinya tempo hari, saat dia melintas di depan Rasulullah. Apa jawaban lelaki itu?

kesederhanaan dalam cinta kasih

Dengan tersenyum ia berkata, “Sesungguhnya aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak punya kekayaan apa-apa, baik ilmu maupun harta yang bisa aku sedekahkan. Yang aku miliki hanyalah kecintaan. Kecintaan kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada sesama manusia. Dan setiap malam menjelang tidur, aku selalu berusaha menguatkan rasa cinta itu, sekaligus berusaha menghilangkan perasaan benci yang ada kepada siapa saja. Bahkan terhadap orang kafir sekalipun.

Sebuah sikap dan perilaku yang bersahaja dalam penegakan Islam di atas kaidahnya yang agung! Dengan jujur ia mengaku bukan ahli agama (sehingga tidak bisa mengajari orang lain), bukan ahli sedekah harta (karena termasuk orang yang miskin), dan bahkan Abdullah bin Umar pun menyaksikan bahwa caranya beribadah tidaklah istimewa (sehingga tidak bisa berlama-lama bersujud dan berkumpul dalam mejalis taklim karena mencari nafkah). Sampai di sini, lelaki itu memiliki ciri universal kebanyakan manusia di muka bumi ini yang: seorang pekerja atau buruh yang miskin dan tidak pandai. Tapi kecintaannya pada Allah, Rasulullah, dan kehidupan manusia sungguh membedakan dia dengan manusia lainnya.

Mungkin yang disampaikan dan dilakukan orang tersebut tidak canggih, tidak berhiaskan istilah yang muluk, bahkan tidak inspiratif karena dilakukan dalam diam sehingga tidak bisa disaksikan orang lain, tetapi dia telah menterjemahkan dengan akurat esensi Islam sebagai rahmatan lil alamin dan perwujudan hablum minallah – hablum minannas yang sebenarnya.

Sepenggal kisah dalam buletin Jumat itu menggugah kembali ingatan saya pada ucapan seorang teman, yang kala itu mengomentari kiprah Gus Dur. Sebagai seorang tokoh, tentu saja orang sekaliber Gus Dur selalu punya orang yang mengagumi dan membencinya. Orang yang mengagumi mengatakan bahwa beliau ini punya pemikiran yang dalam, luas, dan seringkali melebih jamannya. Bahkan ada yang menyebutnya seorang wali – karena seperti weruh sakdurunge winarah (tahu sebelum terjadi). Gus Dur juga seorang humanis sejati, yang selalu menempatkan sisi kemanusiaan dalam konteks ke-Islam-an yang menjadi pemahamannya. Uniknya, pengagum Gus Dur justru banyak datang dari agama lain, termasuk para ulamanya.

sang guru bangsa

Pihak yang membenci Gus Dur mengataka bahwa konsep pluralitas yang digembar-gemborkan Gus Dur telah melenceng dan melecehkan Islam – karena secara tekstual disebutkan bahwa agama yang diridhoi Allah di muka bumi adalah Islam. Cara bepikir Gus Dur yang meloncat-loncat, tidak patuh pada sistematika berpikir, membuatnya dianggap tidak bisa diandalkan dan akhirnya menjadi sasaran tembak lawan politiknya saat beliau menjabat sebagai Presiden. Anehnya, orang yang tidak suka pada Gus Dur adalah orang Islam sendiri, yang tidak menyukai gaya Gus Dur dalam menginterpretasikan Islam.

Teman saya, yang jelas merupakan pengagum Gus Dur, mengatakan: “Gus Dur itu hendak menanamkan merah putih di halaman orang Islam. Pada saat yang sama beliau ingin memayungkan Islam di bumi merah putih.” Interpretasi sederhana yang menggambarkan Gus Dur secara cukup lengkap.

Gus Dur selalu ingin berkata pada orang Islam di Indonesia bahwa negara ini berbasis demokrasi, nasionalisme, dan keragaman. Kita ini hidup berdampingan dengan orang-orang dari agama yang berbeda, tapi kita semua adalah mahluk ciptaan Allah. Pada saat yang sama, Gus Dur ingin mengatakan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Sekalipun bumi merah putih ini penuh keragaman, di bawah keagungan Islam sebagai agama yang dianut mayoritas warga, kehidupan selalu akan penuh keadilan dan ketenteraman.

Saat diterima oleh kaum Anshor di Madinah, siroh Nabi Muhammad menceritakan bagaimana pluralitas berjalan dengan baik di kota yang sebelumnya bernama Yatsrib itu. Sebagai agama baru yang cepat diterima, diadaptasi, dan diadopsi oleh para penduduk Madinah, Islam berdampingan dengan pemeluk nasrani dan yahudi. Sayangnya kaum yahudi yang merasa kuat kemudian mengkhianati perjanjian yang sudah disepakati sebelumnya sehingga terjadi perang.

Rasulullah sendiri selalu welas asih pada orang beragama lain, sekalipun secara pribadia dia dihina oleh mereka. Mungkin banyak yang sudah mengetahui kisah pengemis Yahudi buta yang selalu mencaci maki Rasulullah di pojok pasar, tetapi dengan telaten Rasulullah SAW justru datang setiap hari untuk menyuapinya dengan kurma masak hingga beliau wafat, tanpa orang Yahudi ini tahu identitas orang yang mengasihinya.

Setelah Rasulullah wafat, ada sahabat lain yang membantu Yahudi pengemis tua ini makan. Tapi Yahudi rewel ini malah marah-marah, “Kamu bukan orang yang biasa membantu aku. Tindak-tanduknya jauh lebih halus, dan dia melembutkan kurma yang disuapkan padaku dengan baik sehingga aku yang sudah tak bergigi ini bisa menelannya dengan mudah.”

Sahabat itu minta maaf, lantas menjelaskan bahwa orang yang selama ini membantunya telah wafat. Yahudi tua itu tentunya sangat terkejut. Dan lebih syok lagi setelah tahu bahwa orang itu adalah Muhammad, orang yang selalu dicaci makinya. Dengan tangisan keinsyafan, konon Yahudi tua itu akhirnya berikrar dua kalimah syahadat.

Orang punya kebebasan dalam menginterpretasikan Islam, sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Ada yang menyukai Islam dalam wujud tekstual seperti yang tertulis dalam kitab-kitab Allah dan sunnah Rasul, ada yang membumikan Islam secara esensial sesuai dengan bumi tempatnya berkembang, hingga sinkretisme yang dianggap kebenaran bagi sebagian orang. Dengan populasi terpadat ke-4 di dunia, Indonesia memiliki pemeluk Islam terbesar di dunia, dan untunglah mayoritas bangsa ini punya sifat dasar yang toleran sehingga tidak mudah menumpahkan darah orang lain. Mungkin media massa suka menggambarkan kelompok-kelompok ormas yang suka memaksakan kehendak mereka, tetapi karena pihak lain menanggapinya dengan bijak, ketegangan dan kekerasan tidak berlangsung lama apalagi berlarut-larut.

musyawarah - toleransi khas Indonesia

Kalaupun ada sejarah ketegangan dan pertumpahan darah antar agama, itu adalah lembaran yang memang tidak bisa dihindarkan lagi. Akan tetapi, dengan kejadian pahit itu semua pihak lantas mau belajar untuk lebih mengendalikan diri. Bibit perpecahan akan selalu ada, tetapi bila umat Islam selaku mayoritas senantiasa mengedepankan semangat Islam rahmatan lil alamin, maka seharusnya tidak perlu ada darah yang tertumpah.

Kalau kita melihat carut marutnya kondisi di Afrika Utara (Libya, Mesir, Tunisia), di jazirah Arab (Yaman, Bahrain, Irak, bahkan mulai mengancam negara lainnya), dan tentunya Pakistan dan Afghanistan, betapa bersyukurnya kita hidup di Indonesia. Betapa bersyukurnya kita memiliki pluralitas yang terkendali seperti ini, dan Indonesia dikenal di dunia sebagai negara Islam moderat serta dihormati di Barat maupun di antara negara-negara Islam sebagai penengah.

Bila kemudian kita mulai mendapati ekstremisme mulai berkembang di bumi kita ini, marilah kita mendoakan agar semuanya kembali pada konsep awal Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Membela Islam tidak harus dengan mengangkat senjata, karena sebenarnya pertumpahan darah adalah jalan terakhir yang ditempuh Rasulullah. Bila senjata sudah menjadi pilihan pertama dalam membela agama yang agung ini, maka penganut Islam di Indonesia mungkin sudah mulai kehilangan arah esensi rahmatan lil alamin yang mendasari Islam.

Bangsa yang Tangguh

Posted in Kisah, Sharing with tags , , , , on March 28, 2011 by hzulkarnain

Catatan Akhir Maret 2011

Lokasi gempa dan tsunami Jepang

Catatan ini saya buat untuk mengingat kejadian penting bulan ini. Pada tanggal 11 maret 2011, tepatnya jam 14.46, pantai Timur Jepang lepas pantai prefektur Miyagi (beribu kota di Sendai) menjadi pusat gempa berkekuatan luar biasa besar 8.9 skala Richter yang menyebabkan tsunami berketinggian hingga 4 meter. Konon, ini bukan gempa terhebat, bahkan hanya menempati urutan ke-5 sejak awal 1900-an. Meskipun demikian, korban sudah mencapai 10 ribu orang. Kalau bukan di Jepang yang punya peringatan dini yang baik, dan bangunan-bangunan tahan gempa, mungkin saja korban bisa bepuluh kali lipat.

Seorang teman yang bersuamikan orang Jepang bercerita, ini adalah pengalaman yang tidak terlupakan. Dia tinggal di kota Tsukuba di prefektur Ibaraki yang terletak di area greater Tokyo. Polisi dan petugas langsung diturunkan, untuk mengatur dan mengamankan warga. Kata teman saya itu, itu pun paling hanya beberapa jam. Setelah semua terkendali, polisi ditarik dan meninggalkan para pengungsi dengan pola pengamanan mereka sendiri. Pemadaman listrik tidak berjam-jam, lampu sudah nyala waktu matahari tenggelam. Memang ada situasi darurat tetapi semua warga berusaha bahu membahu agar kondisi tetap terkendali, tenang, dan kondusif.

Seorang ibu yang diwawancarai televisi internasional mengatakan bahwa, tugas mereka adalah tenang dan tidak takut. Sikap mereka akan mempengaruhi anak-anak mereka, dan mereka ingin anak-anak tetap bermain seperti biasa, dan tidak mengalami ketakutan traumatis akibat bencana tersebut. Dan memang, anak-anak Jepang seperti tidak merasakan kondisi darurat yang berlebihan, mereka bisa bermain seperti biasa

Kedisiplinan dan ketertiban, kunci kekuatan masyarakat

Yang paling hebat dari semua penanganan pasca bencana itu adalah ketertiban yang tidak tergoyahkan. Tidak ada penjarahan, tidak ada kebrutalan, tidak ada perampokan, semuanya aman. Bahkan saat pasokan logistik datang, pengungsi rela antre dengan tertib untuk mendapatkan jatah mereka. Bahkan untuk BBM mereka harus antre selama 3 hari. Tidak ada saling serobot, apalagi perkelahian karena perebutan jatah. Petugas membagi dengan tertib, dan penerima menerima secara tertib pula, seolah-olah yang terjadi adalah jual beli di pasar atau supermarket. Bila kondisi sulit menjadi tolok ukur kemapanan dan kedewasaan, inilah yang terjadi.

Bukan hanya orang-orang Asia, bahkan orang Amerika yang dulu pernah mengalami bencana besar badai Katrina mengaku salut dengan budaya orang Jepang yang mampu menyingkirkan ego pribadi demi ketertiban.

Prefektur Miyagi tidak sendiri, sebab prefektur Fukushima yang punya fasilitas PLTN juga terkena imbas, bahkan lebih parah lagi. Gempa telah mempengaruhi kestabilan fasilitas tersebut dan ledakan yang terjadi di sana menyebabkan kebocoran reaktor yang menyebarkan kebocoran radioaktif. Di sekitar Tokyo yang tidak terlalu jauh dari Fukushima, sayuran yang di supermarket ada yang harus ditarik karena dideteksi mengalami radiasi. Persediaan air juga sama, tetapi masih di bawah ambang.

Penderitaan bangsa Jepang mungkin belum akan teratasi dalam waktu dekat, namun demikian mereka sudah menunjukkan betapa tinggi budaya mereka dalam bermasyarakat. Semua masalah yang menimpa akan berlalu, dan mereka akan normal kembali tanpa trauma berlebihan. Semua orang dalam profesi dan kapasitasnya melakukan yang terbaik untuk masyarakat dan kemanusiaan. Yang polisi menjalankan fungsinya dengan benar, petugas medis bekerja tak hentinya menolong yang terluka, hingga pemilik toko yang selamat dengan suka hati membagikan barang kelontong tokonya untuk kemanusiaan. Sungguh mereka tidak berpikir untung rugi dalam masa sulit seperti ini – yang terpikir hanya kemanusiaan dan kebersamaan.

Sebagai orang Islam saya sungguh malu hati melihat kejujuran orang-orang Jepang yang tengah dirundung masalah itu. Mereka bukan orang Islam, namun perilaku jauh lebih Islami daripada kita yang mengaku Islam sejak lahir. Orang Jepang malu bila tidak berbuat apapun demi kemanusiaan, malu bila harus membebani, malu bila berbuat jahat, malu bila … malu kalau …. semuanya diukur dengan rasa malu. Bukan malu pada Tuhan sang Pencipta, melainkan malu pada sesama manusia.

Ada kolom berita yang membandingkan perilaku orang Jepang pasca bencana dengan kita, dengan sinisme bahwa kita tidak bisa seperti mereka. Saya katakan, memang Indonesia tidak bisa diperbandingkan secara apple-to-apple dengan Jepang.

Pertama, budaya Jepang termasuk salah satu yang tertua di dunia, bahkan kekaisaran yang ada sekarang ini adalah yang tertua di dunia.

Kedua, bangsa Jepang terbiasa dengan berbagai bencana alam, sehingga tidak sepanik kita bila tertimpa musibah. Jepang yang memiliki gunung api aktif terbanyak di dunia mendominasi frekuensi gempa dunia (20% gempa dunia berada di Jepang).

Ketiga, Jepang sudah maju, penduduknya lebih terpelajar, dan pendidikan sudah di level yang menggembirakan. Semantara di Indonesia, pendidikan baru level belajar.

Keempat, peringatan dini bencana dan simulasi bencana menjadi bagian dari kurikulum sekolah, semantara bagi kita hal tersebut masih dianggap kemewahan – kalau bukan pemborosan. Toh bencana alam ledakan gunung berapi dan tsunami masih jarang dan kita ini masih relatif aman.

Islam mengajarkan bahwa musibah selalu memberikan pelajaran, baik bagi yang mengalami maupun orang-orang lain yang mau belajar darinya. Kita memang tidak terkena dampak langsung musibah yang dialami bangsa tersebut, namun ternyata kita bisa belajar banyak darinya. Justru sebenarnya kita diuntungkan pada suatu sisi, yakni kita tidak perlu menjadi dewasa dengan mengalaminya sendiri. Kita bisa dewasa hanya dengan melihatnya.

Di saat belahan bumi Asia Timur sedang dalam keprihatinan, di benua Afrika sebelah Utara – tepatnya Libya – lagi-lagi Amerika Serikat dan sekutunya mengemukakan berbagai pembenaran agar bisa menyerang Libya. Kepada dunia, sekutu mengaku memegang mandat PBB untuk mengamankan pantai dan udara Libya, dan menegakkan demokrasi di negeri itu. Ada pengamat yang menyebutkan, Khaddafi adalah mata rantai terakhir yang duluuu … dipakai NATO untuk menahan Pakta Warsawa pada era perang dingin, bersama dengan Ben Ali (Tunisia), Anwar Sadat dan Hosni Mubarak (Mesir), termasuk Saddam Hussein (Irak). Tapi yang lain menyebutkan, apapun alasannya, pengamanan cadangan minyak mereka lah yang paling utama.

Kalau ini merupakan musibah bagi rakyat Libya, semoga kita pun bisa belajar dari kesulitan dan penderitaan yang mereka alami. Semoga.

Bila Kekuasaan Bukan Lagi Amanat

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , , , , , , , , on February 26, 2011 by hzulkarnain

Dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan terakhir, Afrika Utara hingga jazirah Arab dilanda gelombang protes yang menginginkan perombakan kepemimpinan bangsa. Tunisia, Mesir, Yaman, Bahrain, dan yang terakhir adalah negara gurun yang selama ini dianggap “slilit” oleh Barat – Libya. Apakah gerakan itu murni berasal dari keresahan rakyat atau disponsori pihak asing … wallahu a’lam bishshawab ….

yang satu sudah lengser, yang lain terancam

Setelah Hosni Mubarak akhirnya mau mengalah, lengser dari kursi kepresidenan Mesir, tiba-tiba unjuk rasa bergeser dan menyeruak di salah satu negara di jazirah Arab yang menjadi salah satu tujuan wisata, Bahrain. Alasannya berbeda. Unjuk rasa di Bahrain dilakukan oleh kaum Syiah yang menginginkan perubahan politik, karena sebagai kaum mayoritas ternyata mereka dimarginalkan oleh kaum Sunni yang minoritas. Belum kelar soal Bahrain, Libya mengguncang Afrika dengan aksi protes seperti Mesir, menginginkan Muammar Khadafi lengser. Dengan alasan demonstran tersebut didalangi oleh Al-Qaida, Khadafi memberlakukan kekerasan militer.

Kondisi di Mesir dan Libya nyaris seperti Filipina dan Indonesia, saat Ferdinand Marcos dan Soeharto dilengserkan dari kursi kepemimpinan. Pada suatu masa, rakyat negara-negara tersebut bangga sekali dengan pemimpinnya yang kuat. Akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu, terjadi perubahan ekonomi, sosial politik dunia,  dan ternyata rakyat justru berada dalam tekanan, dimarginalkan, sementara keuntungan serta kesejahteraan hanya dinikmati oleh segelintir orang yang berada di lingkaran elite politik. Pada saatnya rakyat yang muak tidak lagi bersuara dengan santun. Suara santun telah diberangus, perilaku ber-tata krama telah dihina, sehingga rakyat tinggal memiliki pilihan terakhir: bergerak secara massal dalam aroma agresi. Korban jiwa sudah pasti tidak akan terelakkan, dan dalam kondisi kacau seperti itu nyawa manusia seperti benda yang tidak ada harganya.

Memimpin orang lain, baik dalam kelompok kecil, kelompok besar, apalagi sebuah bangsa, tampaknya masih menjadi idaman bagi beberapa orang yang merasa memiliki bakat dan bekal. Tidak mengherankan, bursa Pilkada selalu ramai, selalu banyak cara untuk memenangkan persaingan, bahkan kecurangan bilamana perlu. Bla sudah berhasil meraih kursi yang diimpikan, orang cenderung mencari cara untuk mempertahankan bahkan melanggengkan kekuasaan.

Rasulullah Saw tidak pernah mengajarkan sistem monarki, tetapi justru sekarang negara yang berlabel Islam banyak yang masih berupa kerajaan atau kesultanan, termasuk Kerajaan Saudi Arabia. Negara kerajaan lain, antara lain: Jordania, Maroko, Bahrain, Kuwait, UEA, Brunei Darussalam, Malaysia, dsb. Tujuan penegakan sistem monarki, sudah barang tentu adalah melanggengkan kekuasaan dalam trah atau dinasti yang sama.

Di masa Rasulullah dan Kulafaur Rasyidin, negara Islam adalah Theokrasi: Khalifah adalah ulama dan umara’. Negara diatur tidak hanya melalui undang-undang hukum sipil tetapi juga melalui hukum agama, karena pada dasarnya Islam bukan hanya agama tetapi juga jalan hidup. Dengan pemimpin yang mengemban amanat, negara Islam di masa-masa awal menjadi sangat kuat. Perkembangan Islam yang awalnya dianggap kepercayaan orang gurun berkembang pesat hingga ke luar jazirah Arab.

Sayangnya, pasca Khalifah Ali terjadi pertentangan politik yang akhirnya dimenangkan oleh Bani Ummayah yang memang merupakan keluarga kuat sejak jaman Rasulullah. Mereka inilah yang membangun dinasti Umayyah yang legendaris, berkedudukan di Damaskus. Di sinilah sebenarnya pemerintahan monarki dalam negara Islam dimulai. Tentu saja, sejak awal sistem monarki yang menggantikan theokrasi ini mendapatkan tentangan, akan sistem ini bertahan hingga sekarang di beberapa negara berbendera Islam.

Islam mengajarkan bahwa sebuah amanat adalah cobaan atau musibah, termasuk jabatan tinggi apalagi memimpin. Orang itu harus bisa mempertanggung jawabkan apa yang diembannya dihadapan manusia sekarang dan pengadilan akhirat kelak. Oleh karena itu, umat Islam seharusnya mengucapkan “innalillahi wa inna ilaihi roji’un” secara khusyuk saat menerima amanat jabatan, bukannya “alhamdulillah” dengan wajah berseri. Kenapa demikian? Sebab, jabatan dunia ini besar godaannya. Bila tahta sudah di tangan, tinggal menunggu waktu godaan harta dan wanita menghampiri. Bila tahta sudah di tangan, pada waktunya, akan sangat besar dorongan untuk melanggengkan kekuasaan tersebut. Bila tahta dan kekuasaan tidak menarik, tidak bergelimang harta, niscaya tidak akan banyak orang yang memperebutkannya.

Saat kekuasaan bukan lagi berlandaskan amanat rakyat, bukan lagi karena diridhoi rakyat dan ulama, seharusnya seorang pemimpin berhenti dan mulai mengurusi dirinya sendiri. Sayangnya, sepertinya tidak ada kepuasan untuk menambah harta, disanjung dan dihormati, dan mungkin baru berhenti bila tanah sudah memenuhi mulut mereka ini.

Saya tidak mengatakan bahwa orang tidak boleh berpolitik, karena memang politik adalah salah satu alasan dunia ini tetap berputar, dan manusia bertambah pandai. Akan tetapi, semua ada waktunya untuk berhenti. Apakah berhenti karena mati, berhenti karena dipaksa berhenti, atau berhenti dengan sukarela.

Bila waktunya sudah tiba, tetapi seorang penguasa ngotot akan bertahan, lihatlah yang telah terjadi di Filipina, Indonesia, dan Mesir. Betapa orang mencibir para penguasa yang turun dengan paksa, dan lembaran hitam pun menghiasi sejarah hidup mereka. Memang, bila seseorang sudah diperingatkan dengan halus – oleh Sang Maha Pengatur Alam, yang seringkali diwakili oleh rakyat jelata – tidak mau juga berintrospeksi, maka Dia akan membuatnya menerima musibah. Bukankah musibah terjadi akibat perbuatan manusia sendiri?

Bila kekuasaan bukan lagi pengejawantahan amanat – rakyat maupun Tuhan – berarti telah berubah menjadi nafsu berkuasa yang ujungnya adalah keduniawian, itulah saatnya sang pemimpin (seharusnya) berhenti. Kalau sudah 2 periode pemerintahan, sudah uzur, sudah semakin banyak yang memprotes, sudah sangat susah mengendalikan anak istri … sebutkan lagi banyak pertanda – itulah saat orang orang harus meletakkan kekuasaan. Biarlah terjadi regenerasi.

revolusi PSSI

Belakangan ini, yang terjadi di tubuh PSSI juga tak kalah menggelikan – sekalipun lingkup bicaranya jauh di bawah level negara. Hanya karena sepakbola adalah sport favorit di muka bumi – termasuk Indonesia, proses penggantian kepemimpinan PSSI jadi wacana nasional. Soal Nurdin Halid ingin terus berkuasa adalah haknya, tetapi yang paling lucu adalah upayanya menghalalkan segala cara untuk menang – termasuk merekayasa aturan, mengatur seleksi kandidat ketua, dan akhirnya sok buta-tuli, demi kursi ketua umum PSSI yang konon mampu memberikan keuntungan yang luar biasa. Bagamana tidak, dana PSSI tiap tahun mencapai ¾ milyar, yang tidak pernah terbuka dilaporkan.

Kita tunggu saja akhirnya …. Bagaimana orang-orang PSSI yang keras kepala ini mencoba bertahan di tengah badai ketidak senangan massa.

Kategori Anak dalam Islam

Posted in Psikologi, Tausiyah with tags , , , , , , , on January 26, 2011 by hzulkarnain

pewaris masa depan dunia

Herdian Zulkarnain

Orang Jawa punya ujar-ujar: tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati. Sebuah pepatah yang menggambarkan betapa darah atau nasab tidak mutlak menentukan perkembangan anak menjadi dirinya sendiri.

Tunggak jarak menggambarkan cikal bakal orang kebanyakan, bisa didapat di mana saja, tetapi juga bisa tumbuh di mana saja. Mrajak bermakna tumbuh dengan cepat dan subur. Tunggak jati menunjukkan derajat yang lebih tinggi, mahal, tapi tidak bisa mrajak. Bahkan bila tidak dirawat dengan benar, akan mati begitu saja.

Ada 2 dalam garis hidupnya yang tidak bisa dipilih oleh manusia, yakni dari siapa dia dilahirkan, dan di tanah mana dia akan mati. Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari seorang ibu yang tinggal hangat di sebuah istana raja, atau seorang ibu yang mengigil kedinginan di bawah jembatan. Yang Maha Kuasa dengan segala ke-Maha Adil-nya telah menentukan tanggung jawab dari masing-masing orang tua agar anaknya menjadi diri yang sesempurna mungkin. Anak bukanlah hak milik orang tua, tetapi anak adalah tanggung jawab Allah pada setiap orang tua untuk mengasuh dan membesarkannya.

…sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya ,

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan  pembalasan sesudah  itu?

Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?

(QS At-Tiin)

Dalam cetak birunya, manusia dikodratkan sempurna lahir dan batin. Akan tetapi, saat masuk ke alam dunia manusia harus melewati sebuah gerbang yang berupa kandungan ibu. Di sinilah awal perjalanan jasmaniah dan ruhaniah mulai. Sebagian manusia sangat berhati-hati dengan janin di kandungannya, memperlakukannya dengan cermat dan santun, dan mengajarkan kebaikan bahkan sebelum ruh ditiupkan ke dalam jasad bayi. Sebagian yang lain, dengan cerobohnya membiarkan cikal bakal manusia ini tumbuh tak terawat, bahkan tidak sedikit yang lahir dengan kecacatan fisik maupun mental.

Tidak ada yang terjadi di dunia ini tanpa ijin Allah, namun manusia diberik akal budi untuk menjadikan dirinya sebaik-baik manusia. Karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa mendatang, kita diperintahkan oleh Allah untuk menjaga keluarga kita dari api neraka … Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka … (At Tahriim 6). Perintah yang sederhana, namun memiliki konsekuensi sangat luas.

Sekalipun seorang anak memiliki kecerdasan, namun pada dasarnya ia adalah selembar kertas yang menerima apa saja yang dituliskan orang tuanya padanya. Tidak heran bila ada pepatah, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, sebab memang merekalah yang mengukir jiwa raga si anak. Apakah akan mrajak atau mati, tergantung dari cara orang tua mengasuh mereka.

Kekeliruan pertama yang biasa dijumpai pada sebagian besar orang tua adalah lemah dalam menekankan kedisiplinan pada anak. Demi melihat lucunya anak, tidak tega melihat anak sakit atau sedih, anak tidak dibiasakan berdisiplin. Dalam pikiran orang tua … ah, nanti saja kalau sudah agak besar. Padahal, mengukir kepribadian anak bisa diibaratkan menulis di atas tabularasa, lembar lilin yang cukup lunak. Dengan effort minimum, hasilnya tahan lama. Sementara mengukir anak yang lebih dewasa, seperti memahat batu. Harus keras dengan tenaga besar, atau tidak membekas bagus.

Bila anak mulai merokok, mulai nonton pornografi, pacaran, konsumtif, jangan melulu melihat si anak ini. Lihat pula bagaimana dia dibesarkan. Artinya, sebagian kesalahan terletak pada orang tua. Saat dewasa nanti, sebagian anak akan memberikan surga bagi orang tuanya, namun sebaliknya ada yang memberikan kesedihan dan kesusahan saja bagi mereka. Kita ingat kisah Nabi Khidir yang tanpa diduga oleh Nabi Musa mencekik seorang bocah tampan hingga mati. Nabi Khidir as. hanya mengatakan bahwa anak ini kelak dewasa nanti akan mendurhakai orang tuanya, sebab dia semenjak kecil selalu dimanjakan oleh keduanya. Dengan kematiannya, Nabi Khidir mendoakan semoga orang tuanya itu akan diberi ganti oleh Allah anak yang saleh.

Dalam Islam, kelak dewasa, anak kita akan masuk dalam salah satu kategori:

  1. Anak qurrota a’yun
  2. Anak yang menjadi perhiasan dunia
  3. Anak yang menjadi ujian bagi orang tuanya
  4. Anak yang menjadi musuh bagi orang tuanya

Seorang anak yang qurrota a’yun menjadi penyegar mata dan hati orang tua. Menyenangkan perilaku dan kepribadiannya, membanggakan, dan bisa mengangkat derajat orang tua di dunia dan akhirat. Tentu saja, tidak banyak anak yang seperti ini.

bimbingan sejak dini

Yang masih lebih banyak adalah anak-anak yang menjadi perhiasan dunia. Sesekali menjengkelkan, kadangkala membuat kesal, tetapi secara umum tetap membuat orang tua bangga. Mungkin banyak dari anda yang membaca blog ini termasuk kategori anak-anak kebanggaan orang tua …  bisa dipamerkan pada orang lain, menjadi tumpuan di hari tua mereka, dan akan mendoakan kelak saat orang tua sudah tiada.

Yang mungkin lebih banyak lagi adalah anak-anak yang menjadi ujian bagi orang tua. Sedikit menyenangkan, tapi lebih banyak mengesalkan. Membandel, sekalipun kadang kala menurut. Tidak kelihatan nakal, tapi membuat susah hati. Orang tua jadi sering-sering ber-istighfar, mengelus dada, dan mendoakan keselematan bagi si anak. Keadaan gamang ini masih menyimpan potensi untuk menjadikan anak kembali bagi orang tuanya (bila dia bertobat dari kesalahannya), tetapi bisa juga berubah menjadi musuh (saat dia semakin tersesat).

Kategori terakhir, yang paling memprihatinkan, adalah anak yang menjadi musuh bagi orang tuanya. Tidak ada kebahagiaan orang tua atas diri mereka, hanya ada kesedihan dan penderitaan batin. Sepertinya, arah jalan mereka berbeda dengan arahan orang tua. Anak-anak durhaka ini akan membebani orang tua saat di akhirat, karena kembali bahwa sebagian kesalahan anak terletak pada orang tua. Orang tua tidak bisa menjaga si anak berlari ke arah api neraka.

Marilah sejenak kita lihat, bagaimana anak-anak kita. Masuk di kategori mana mereka ini. Semoga, anak-anak itu bisa tumbuh menjadi manusia yang diridhoi Allah SWT.