Politik Panggung Politik

Catatan Akhir Juli 2011

MUAK! Saya kira itu ekspresi sebagian rakyat negeri ini dengan pertunjukan politik para politisi karbitan negeri ini. Sepuluh tahun yang lalu, saat peta politik masih mencari bentuk pasca gerakan reformasi, mereka belum jadi tokoh – baru sebatas figuran di panggung politik. Dengan akrobat dan jurus siluman, akhirnya sampailah mereka menjadi orang-orang yang berdiri di kursi depan muktamar partai, jadi pembesar partai besar, dan berlagak besar.

MUAK! Karena kemunafikan bertebaran di mana-mana, dan sudah menjadi rahasia umum. Kursi DPR yang mereka tuju adalah cita-cita politik, bukan cita-cita pengabdian. Cita-cita menjadi orang besar, bergaji besar, dan membuat rekening pribadi yang besar. Kalau sudah terlanjur berjanji, pasti ada seribu kilah yang bisa ditepati, dengan harapan masyarakat lupa janji itu suatu saat nanti, karena toh manusia ini tempat lupa yang kodrati.

Saat Orde Baru lengser, reformasi mengemuka, seniman kritik seperti Butet Kartarejasa dan Teater Koma sempat gamang, mau bicara apalagi di depan orang? Tetapi, senyatanya, pergantian jaman tidak otomatis membuat orang menjadi lebih baik. Semua penghujat orde baru dan pencela kebobrokan moral penguasa orde baru, ternyata jatuh di lumpur yang sama begitu dapat kursi, punya harta, dan dilirik wanita.

Tidak ada kawan dan lawan abadi

Salah satu kritik terbesar pada order baru adalah masalah korupsi, yang membuat Indonesia termasuk dalam negara paling korup di dunia. Ini adalah perbuatan keji untuk memperkaya diri sendiri, namun tanpa sadar membuat penderitaan masyarakat – secara tak langsung. Dana negara yang harusnya bisa disalurkan untuk menanggulangi kemiskinan, ternyata masuk ke kantong segelintir orang dengan cara dipelintir, lalu tanpa malu-malu mengusung poster anti korupsi dengan kampanye bertalu-talu.

Lakon Nazaruddin adalah contoh lucu dari lawakan yang tak lucu badut-badut politik di panggung politik. Sebelum kasus korupsi yang menyeretnya mencuat, tak banyak yang kenal namanya, karena memang dia bukan siapa-siapa bagi awam. Tiba-tiba saja namanya terkait dengan penyelewengan pembangunan wisma atlet SEA Games Palembang, mendadak dikenal, lalu hujatan pun datang beruntun padanya. Saat akan diperiksa, dia melarikan diri ke luar negeri, dan menghilang hingga sekarang. Ajaib, semua aparat yang berwenang seperti kena hipnotis, hanya termangu-mangu tidak tahu mau berbuat apa.

Lucu dan aneh. Itulah permainan panggung politik kita. Para politisi yang berlabel anggota legislatif, atau calon anggota legislatif, atau sekarang tinggal jadi pengamat politik, laris manis di layar kaca. Mereka berbicara dengan fasihnya tentang benar-salah, baik-buruk, dan norma moral. Seolah-olah mereka ini paling suci. Seolah-olah orang lain terlalu bodoh untuk memahami topeng yang mereka kenakan.

Seorang Nazaruddin tidak akan lari dengan sendirinya ke luar negeri. Sekarang dia bilang, larinya dia karena disuruh Anas (Urbaningrum). Tapi … apakah benar? Uang pelicin pembangunan wisma atlet yang dalam pengakuan terdakwa disalurkan pada Nazaruddin, apakah benar masuk ke rekeningnya sendiri semua? (ingat dia adalah bendahara partai besar yang – konon – di dalamnya terpecah dalam kubu-kubu). Semua jawaban hanyalah asumsi tanpa pembuktian.

Pengibaratan pohon, semakin tinggi kian kencang pula anginnya, seperti itu pula juga yang dialami PD. Bukan cuma Nazar, Andi Nurpati (yang dulu pentolan KPK dan sekarang berjaket biru) juga jadi sasaran tembak lawan poltik. Kasus yang ditimpakan kepadanya pun bukan main-main – pemalsuan surat. Dengan dua warga jaket biru terkena masalah, bisa dibayangkan lebar senyuman si jaket kuning dan merah – yang selama ini menempel ketat di belakang the ruling party.

MUAK! Itulah yang saya rasakan setiap kali nonton televisi, baca koran, buka berita internet, termasuk radio online. Karena pemberitaan didominasi kebejatan tersebut yang sedang mengiming-imingi pelaku lain. Porsinya semakin berimbang dengan sinetron yang main di panggung sebelah (panggung hiburan). Bahkan reality show yang mereka pertontonkan seseru Big Brother Indonesia (Trans TV) – yang sama-sama hadir tanpa skrip naskah. Ada yang terdeportasi, yang low profile selamat, yang kontroversial bertahan, yang ditengah tergencet … panggung politik adalah dunia survival. Tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi … yang abadi adalah kepentingan pribadi.

Episode korupsi dan manipulasi demi kekuasaan atau kekayaan tidak akan berhenti, sekalipun pelakunya yang ada saat ini berhenti (entah mati atau dibui). Umurnya yang setua manusia, menunjukkan bahwa tindakan ini memperoleh perlindungan … dari iblis laknatullah … sebab inilah pintu menuju kesesatan bangsa manusia yang dimintanya dari Allah sebagai kompensasi pengusiran dari langit.

Sekarang, kita tunggu ending dari drama tidak lucu oknum-oknum the ruling party ini. Saya yakin masih banyak orang baik di sana, dan semoga semua onak duri yang melintang di jalan, semata-mata akan mendewasakan kita sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: