Mahluk Gaib Jahat (2)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan cara kaum jin mencuri dengar berita-berita langit.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Apabila Allah memutuskan suatu perkara di langit, para malaikat merentangkan sayap-sayapnya sebagai (refleksi) kepatuhan terhadap firmanNya, firman (yang didengar) itu seolah-olah seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu, sehingga memekakkan mereka. Tatkala hati mereka telah hilang dari rasa takut, mereka bertanya,’Apa yang baru saja difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab malaikat (Jibril) berkata,’(Perkataan) yang benar, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar’. Ketika itulah, (jin-jin) pencuri berita (wahyu) itu mendengarnya. Keadaan mereka seperti ini. Sebagian mereka bertumpu di atas sebagian yang lain. Sufyan bin Uyainah (salah seorang perawi hadits ini) menggambarkannya dengan telapak tangannya, ia merenggangkannya dan membuka jari jemarinya. Maka ketika (jin-jin) pencuri berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, mereka lalu menyampaikannya kepada yang ada di bawahnya, dan demikian seterusnya hingga disampaikan ke mulut tukang sihir atau tukang ramal. Akan tetapi, kadangkala para pencuri berita itu terkena syihab (panah-panah api) sebelum sempat menyampaikan berita yang disadapnya itu. Dan kadangkala mereka sudah sempat menyampaikannya sebelum terkena syihab. Lalu dengan satu kalimat yang didengarnya itulah, tukang sihir atau tukang ramal melakukan seratus macam kebohongan.

Mereka (yang mendatangi tukang sihir atau tukang ramal berkata),’ Bukankah dia telah memberitahukan kepada kita, bahwa pada hari anu akan terjadi peristiwa anu (dan itu benar-benar terjadi)?’ Sehingga dipercayalah tukang sihir atau tukang ramal tersebut karena satu kalimat yang telah didengar dari langit”.

Hadits ini menunjukkan betapa kaum jin berusaha dengan susah payah serta menempuh resiko untuk mencuri berita langit yang sebenarnya hanya diperuntukkan bagi para malaikat. Pantaslah sejak jaman dahulu, selalu saja ada orang-orang yang punya kemampuan lebih dalam ramal meramal. Kita lihat, kadangkala sebuah ramalan mengandung kebenaran, tapi di saat lain sama sekali tidak tepat. Rupanya ini tergantung pada akurasi kaum jin dalam mencuri dengar berita di langit, sebab ada kemungkinan si pencuri tidak mampu meloloskan diri dari hadangan penjagaan malaikat di langit. Wallahu ‘alam bish shawab.

Wong pinter, orang pintar, orang tua, paranormal, dan suhu adalah beberapa sebutan yang lebih enak didengar untuk menyebut dukun, tukang ramal, atau tukang sihir. Orang-orang seperti ini bisa jadi adalah penipu ulung, atau memang orang yang menghambakan diri pada jalan kemusyrikan. Disebut dengan musyrik karena memang mereka tidak lagi bertuhankan dzat Allah, melainkan taghut yang mereka percayai sendiri. Inilah adalah contoh keberhasilan setan memperdaya manusia untuk mengikuti jalan mereka, menjadikan sebagian manusia menjadi agen-agen mereka untuk menyebarkan kemusyrikan.

Ada beberapa titik penting dalam kehidupan ini yang membuat orang mencari perlindungan pada kekuatan besar di luar dirinya, dan karena kondisi yang dihadapi tersebut bersifat gaib perlindungan yang dicari pun dari kekuatan gaib. Misalnya, bagi tentara adalah ketika ada perintah tugas ke medan perang, bagi pelajar tentunya saat ujian nasional, bagi orang lain adalah saat ada proyek besar, saat mengharapkan cinta seorang perempuan / laki-laki, dsb. Bagi umat Islam, inilah saatnya mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa. Akan tetapi, orang yang kurang kuat iman, yang menganggap Allah jauh, dan mengira ada kekuatan lain yang lebih perkasa, lebih suka mencari perlindungan pada taghut-taghut yang mereka percayai. Dari sini muncullah hal aneh-aneh yang adi kodrati hingga tak masuk akal, seperti ilmu kekebalan, menghilang, jimat pengasihan, jimat wibawa, dsb yang biasanya dirupakan dalam bentuk cincin, kalung, atau bentuk-bentuk lain yang bisa dibawa-bawa atau ditanam di sudut rumah. Tanpa sadar, manusia yang lemah iman telah meninggalkan Islam dan masuk ke dalam jeratan setan.

Sebenarnya, siapakah yang disebut dengan setan tersebut?

Setan atau Syaithan dalam bahasa Arab diambil dari kata yang berarti jauh. Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya terbakar atau batal. Pendapat yang pertama lebih kuat menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir, sehingga kata Syaithan artinya yang jauh dari kebenaran atau dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala (Al-Misbahul Munir, hal. 313). Ibnu Jarir menyatakan, syaithan dalam bahasa Arab adalah setiap yang durhaka dari jin, manusia atau hewan, atau dari segala sesuatu.

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)

Dalam ayat ini Allah menjadikan setan dari jenis manusia, seperti halnya setan dari jenis jin. Dan hanyalah setiap yang durhaka disebut setan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari kebaikan. (Tafsir Ibnu Jarir, 1/49)

Ibnu Katsir menyatakan bahwa syaithan adalah semua yang keluar dari tabiat jenisnya dengan kejelekan (Tafsir Ibnu Katsir, 2/127).

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau berada di masjid. Akupun duduk. Dan beliau menyatakan: “Wahai Abu Dzar apakah kamu sudah shalat?” Aku jawab: “Belum.” Beliau mengatakan: “Bangkit dan shalatlah.” Akupun bangkit dan shalat, lalu aku duduk. Beliau berkata: “Wahai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan jin.” Abu Dzar berkata: “Wahai Rasulullah, apakah di kalangan manusia ada setan?” Beliau menjawab: “Ya.”

Secara awam pula kita hanya mengenal setan dari bangsa jin, yang suka mengganggu manusia dengan cara nyata maupun melalui bisikan yang halus. Misalnya mereka berdiam di sebuah hutan, menguasai hutan, dan dengan sihirnya membuat manusia tidak berani mendekati wilayah itu. Orang yang nekat akan mengalami sakit, bahkan mungkin sampai mati, dan itu menjadi pelajaran bagi lainnya.

Atau, ketakutan itu bisa dengan cara dihembus-hembuskan secara halus di dada manusia, misalnya pada tentara yang akan berangkat ke medan perang, dengan rasa was-was akan kematian dalam tugas (sementara sang istri sedang hamil). Efek yang terjadi mungkin akan sama: orang yang akan masuk ke hutan akan memberikan sesajen kepada penunggu hutan agar aman, dan tentara yang berangkat perang memakai jimat perlindungan.

Apa yang terjadi bila keduanya mati sebelum bertobat? Niscara keduanya mati dalam kemusyrikan, karena sedang mengingkari kekuasaan Allah Swt.

Sebagai manusia yang berakal dan beriman, kita bisa pula menilai siapa saja manusia-manusia yang digolongkan sebagai setan, yakni (per-definisi) orang-orang yang jauh dari kebenaran dan rahmat atau membawa manusia lain menjauhi kebenaran atau rahmat Allah. Para penjahat, dengan segala bentuk kejahatannya yang dilakukan secara sadar serta nyata-nyata mencelakakan atau merugikan orang lain, serta para penganjur kekerasan, penganjur kesesatan, penganjur kemusyrikan bisa digolongkan ke dalam definisi ini.

Para ulama dan guru-guru agama selalu mengingatkan kita akan bahayanya terlalu cinta dunia,  sebab inilah lubang yang hampir selalu menjatuhkan manusia ke dalam kesesatan. Cinta pada harta, tahta, istri dan anak yang berlebihan akan mengingkari kodrat mereka sebagai titipan Allah. Orang seperti ini akan mencari cara agar dunia yang ada di genggamannya tidak lepas, dengan cara apapun. Termasuk dengan cara-cara syirik.

Ulama berkata: Jangan takut mati, tapi jangan mencari mati. Mati adalah kepastian, hanya waktunya saja yang belum ditentukan secara pasti. Tidak ada gunanya mengamalkan sihir mencari kekebalan, karena kematian bisa mencari jalannya sendiri. Bahkan Rasulullah Saw junjungan kita pun pernah terluka parah saat perang, dan kematian akan disambut dengan ikhlas – lalu mengapa kita takut dengan nash Allah?

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan  kepada cahaya . Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah thagut (syaitan), yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan . Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 256-257)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: