Mahluk Gaib Jahat (1)

Arwah Penasaran, Setan atau Jin?

Film horor Indonesia sama Barat serem mana? Kalau sama film horor Jepang atau Korea? Itulah fenomena film horor, bikin takut tapi juga bikin penasaran. Bagi saya pribadi, atraksi visual film horor Jepang atau Korea adalah top-rating. Mereka bisa menggambarkan sosok mengerikan dalam bentuk dan wujud yang tidak terpikirkan sebelumnya – dan itu ujung-ujungnya akan diadopsi oleh film horor Indonesia. Film horor Jepang yang paling mengerikan, menurut saya, adalah Ringu (the Ring) yang pertama – dan pantaslah bila kemudian gaya ini diadopsi banyak film sejenis di Asia.

kengerian saat Sadako "keluar" dari layar tv

Sekalipun kebanyakan dikenal melalui visualisasi film, bayangan sosok perempuan cantik bergaun putih berambut panjang terurai, dan tampak di kegelapan malam, selalu menumbuhkan rasa was-was dan takut. Itulah wujud Sundel Bolong yang dulu diperankan mendiang Suzzanna, berdasarkan mitos di masyarakat Jawa – khususnya Jawa Timur dan Tengah. Sundel atau sundal menggambarkan perempuan yang keluyuran di malam hari, disebut bolong karena punggungnya bolong. Bukan hanya di Jawa, kisah hantu perempuan ini juga berkembang di bagian lain Indonesia – yang mereka percaya adalah roh gentayangan perempuan yang mati saat melahirkan.

Yang mungkin lumayan mengimbangi ketenaran setan perempuan berambut panjang ini adalah pocong atau pocongan – mayat hidup dengan berkafan terikat, dengan tubuh yang sudah mulai hitam membusuk. Konon, pocong ini terjadi karena saat dimakamkan tali pocongnya lupa dilepas, sehingga dia bangkit menuntut untuk disempurnakan. Pocong populer di daerah Jawa, yang mayoritas muslim, karena memang bentuk tersebut adalah cara orang Islam dimakamkan.

Secara lokal, banyak sekali kisah menyeramkan tentang penampakan, penunggu, dan gangguan yang dipercayai oleh masyarakat. Ada yang berupa mahluk tinggi besar hitam berbulu, ada yang berwujud perempuan buruk rupa penculik anak, raksasa hijau pesugihan, sundel bolong, kuda berkepala manusia, dsb. Kepercayaan ini seringkali melekat secara turun temurun menjadi legenda dan mitos.

Kebanyakan orang takut akan sosok mereka karena seramnya, tapi tak kurang pula yang takut dibunuh hantu-hantu itu. Yah, memang dalam film semua hantu yang ditampilkan bisa membunuh atau membalas dendam, dengan cara mencekik atau cara lain yang tak kurang sadisnya. Apa benar mereka bisa membunuh? Sebenarnya mereka ini apa sih? Setan, hantu, arwah gentayangan, roh penasaran, jin, atau apa?

Awalnya, sama dengan kebanyakan orang, saya bingung dengan banyaknya nama dan bentuk mahluk-mahluk aneh dan menyeramkan ini. Hingga pada suatu saat, secara kebetulan dalam sebuah kajian Islam di televisi, Ust. Abu Aqila dengan gamblang menjelaskan fenomena ini – dan bagi saya masuk akal. Dengan tegas, beliau mengatakan bahwa bentuk-bentuk tersebut adalah perwujudan jin. Inilah yang mendorong saya mencari tahu lebih banyak.

Apa bukan roh orang mati yang gentayangan? BUKAN. Dalam Islam, roh tidak mati bersama jasad manusia, tapi tidak juga berkeliaran. Begitu orang terakhir meninggalkan pemakaman, saat itulah malaikat Munkar dan Nakir bekerja dan perhitungan alam kubur dimulai. Tidak ada satupun ayat dalam Al Qur’an yang mengindikasikan bahwa roh manusia yang sudah masuk dalam alam kubur yang gaib kembali ke alam dunia yang wujud. Kalau ada orang yang mengatakan ini dan itu tentang arwah, roh, atau kehidupan setelah kematian, sudah pasti omong kosong. Al Israa’ ayat 85 menegaskan: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah hanya menciptakan mahlukNya dari 3 elemen: cahaya, nyala api, dan tanah. Mahluk cahaya adalah para malaikat, mahluk api adalah bangsa jin, dan mahluk tanah adalah manusia. Dalam sebuah hadits Muslim, Rasulullah bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya, Jan (nenek moyang jin) diciptakan dari nyala api, dan Adam (nenek moyang manusia) diciptakan dari apa yang telah disebutkan (dalam Al-Qur’an) kepada kalian.”

Dari ketiga jenis mahluk Allah itu, hanya satu yang diberi kelebihan berubah bentuk yakni jin. Secara umum, normalnya manusia tidak akan bisa melihat jin dalam wujud aslinya, kecuali mereka yang ingin memperlihatkan diri – itu pun bukan dalam wujud asli mereka. Kaum jin tinggal di sebuah alam yang bukan alam manusia dan bukan alam malaikat. Manusia normal tidak akan bisa melihat alam dan bangsa jin itu sendiri karena memang Allah menutup mata kita dari mereka. Sesuai dengan namanya, jin berasal dari kata janna syai`un yajunnuhu yang artinya tertutup atau tersembunyi. Sebaliknya mereka bisa melihat kita … “Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka … (Al A’raf: 27).

Di luar kewajaran, menurut ust. Abu Aqila, ada beberapa macam manusia yang terbiasa melihat perwujudan jin dalam banyak rupa, yakni: pengamal dan penganjur kesyirikan (penganut paganisme, dukun, peramal dsb), orang dengan iman yang lemah (kaum kafir dan anak yang belum mengenal aqidah), dan orang yang pernah mengalami panas tinggi waktu masih balita (karena hal itu menimbulkan semacam celah di otak).  Selain itu, tentunya ada orang-orang yang dipilih Allah untuk bisa melihat dan berkomunikasi dengan jin.

Selain perbedaan dzat pembentuk, dan alam kehidupan tempat berdiam, ada beberapa kesamaan antara jin dan manusia. Yang pertama, kedua jenis mahluk ini sama-sama membentuk masyarakat, dan tinggal di wilayah-wilayah tertentu. Kata Ust. Abu Aqila, ada jin-jin yang berkemampuan sangat tinggi, dan menjadi penguasa kaum jin. Seperti halnya yang dikenal masyarakat Jawa sebagai Nyai Roro Kidul yang menguasai Laut Selatan, sebenarnya dia adalah salah satu panglima bangsa jin.

Manusia dan jin sama-sama mahluk berakal, dan karena itu berkemampuan memilih jalan yang baik dan buruk. Peringatan Allah dalam QS Al An’am 130: “Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini. Ada sebuah kisah dari sahabat Ibu Mas’ud yang menceritakan Rasulullah SAW bertemu dengan utusan kaum jin dan bersedia pergi bersamanya ke alam jin untuk membacakan Al Qur’an pada mereka. Karena jin dan manusia sama-sama diciptakan untuk beribadah pada Rabb-nya, tidak mengherankan sebenarnya apabila banyak pula bangsa jin yang taat. Sama halnya dengan manusia, setelah ditunjukkan kebenaran Al Qur’an, sekarang terserah jalan mana yang akan ditempuh. Tunduk pada ketentuan Al Qur’an (dan menjadi jin Islam) atau tetap ingkar (menjadi jin kafir).

Sekalipun jin ada yang muslim dan taat, Al Qur’an menegaskan rambu-rambunya: “Dan bahwasanya ada saja beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara Jin, maka Jin-jin itu justru hanya menambahi mereka dosa dan kesalahan.(QS.Al Jin:6). Ayat di atas bersifat universal, artinya bahwa jin yang mau berkawan dengan manusia, atau manusia mau berkawan dengan jin pasti ada maunya. Tidak ada perkawanan yang tulus antara jin dan manusia karena keduanya bukan sejenis.

Jin yang durhaka kepada Allah, dan berusaha menarik-narik manusia pada kejahatan, adalah setan. Bukan hanya kafir, tetapi juga pembangkang dan mencari-cari manusia yang mau mengikuti jalannya. Tujuannya jelas, menemani moyang jin yakni iblis berdiam di neraka selamanya. Tidak semua jin adalah setan, dan setan tidak identik dengan jin, karena adapula manusia yang setan. Setan adalah sebutan sifat kafir, pendurhaka dan pembangkang kepada Allah.

Bujuk rayu setan bisa berupa tindakan yang sangat kasar hingga halus. Mungkin yang paling kasar adalah menumbuhkan rasa takut dan was-was, sehingga akhirnya manusia mencari perlindungan dari mahluk lain selain Allah. Bentuk-bentuk aneh dan seram tersebut di atas tak lain adalah setan dari bangsa jin yang berusaha mendorong manusia memasuki kesesatan. Muncullah jimat dan piandel seperti cincin, keris, dan barang pusaka lainnya. Juga muncul ilmu kesaktian seperti lembu sekilan (kekebalan), sayepi angin (meringankan tubuh), blabag pengantolan (kekuatan fisik), dsb. semua benda dan kesaktian tersebut tidak punya tuntunan syar’i dan karenanya merupakan bagian dari kesyirikan. Dikatakan syirik karena dalam prosesnya menemukan kekuatan meminta pertolongan pada mahluk lain yakni jin.

Bila ketakutan tidak menjadi pendorong, setan akan mencoba cara yang halus. Tujuannya adalah membangkitkan sifat buruk manusia, misalnya sombong dan riyaa’. Tujuan akhirnya adalah rasa cinta dunia yang sedemikian besar hingga takut mati. Bila tidak mempan juga, akan ada cara lain, hingga akhirnya titik kelemahan manusia ditemukan. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu pernah ditanya tentang perbedaan jin dan setan, beliau menjawab: “Jin itu meliputi setan, namun ada juga yang shalih. Setan diciptakan untuk memalingkan manusia dan menyesatkannya. Adapun yang shalih, mereka berpegang teguh dengan agamanya, memiliki masjid-masjid dan melakukan shalat sebatas yang mereka ketahui ilmunya. Hanya saja mayoritas mereka itu bodoh.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: