Islam Yang Humanis

Herdian Zulkarnain

Pada hari Jumat kemarin, lembar Jumat yang disediakan secara gratis bagi jama’ah punya judul yang tidak terlalu istimewa: Wajib Mencitai Sesama Muslim. Tapi, isi di dalamnya ternyata memberikan pencerahan yang luar biasa.

Pada suatu saat, Rasulullah SAW sedang bersama para sahabat saat seorang lelaki yang tidak familiar bagi para sahabat tersebut melintas. Artinya, tentunya orang tersebut bukanlah seseorang yang kerap mereka jumpai di masjid. Rasulullah lantas mengatakan bahwa orang itu adalah ahli surga. Bukan hanya sekali, hingga tiga kali beliau mengatakan hal tersebut.

Mungkin dengan agak bingung dan gusar, sahabat Abdullah bin Umar bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engka mengatakan itu kepada kami, padahal selama ini kami tidak pernah mengenalinya sebagai sahabatmu? Sedangkan terhadap kami sendiri yang selalu mendampingimu engkau tidak pernah mengatakan hal itu.”

Dengan bijak Rasulullah menjawab dengan singkat, “Jika engkau ingin tahu tentang apa yang aku katakan, silakan tanyakan sendiri padanya.”

Siapa yang tidak penasaran? Akhirnya Abdullah berkunjung ke rumah lelaki itu dan mengamatinya. Ternyata, selama di sana Abdullah bin Umar tidak melihat hal yang istimewa dalam ibadahnya. Karena tidak memperoleh informasi dari pengamatan, Abdullah kemudian mencari tahu secara verbal. Ia lantas bercerita tentang komentar Rasulullah atas dirinya tempo hari, saat dia melintas di depan Rasulullah. Apa jawaban lelaki itu?

kesederhanaan dalam cinta kasih

Dengan tersenyum ia berkata, “Sesungguhnya aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak punya kekayaan apa-apa, baik ilmu maupun harta yang bisa aku sedekahkan. Yang aku miliki hanyalah kecintaan. Kecintaan kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada sesama manusia. Dan setiap malam menjelang tidur, aku selalu berusaha menguatkan rasa cinta itu, sekaligus berusaha menghilangkan perasaan benci yang ada kepada siapa saja. Bahkan terhadap orang kafir sekalipun.

Sebuah sikap dan perilaku yang bersahaja dalam penegakan Islam di atas kaidahnya yang agung! Dengan jujur ia mengaku bukan ahli agama (sehingga tidak bisa mengajari orang lain), bukan ahli sedekah harta (karena termasuk orang yang miskin), dan bahkan Abdullah bin Umar pun menyaksikan bahwa caranya beribadah tidaklah istimewa (sehingga tidak bisa berlama-lama bersujud dan berkumpul dalam mejalis taklim karena mencari nafkah). Sampai di sini, lelaki itu memiliki ciri universal kebanyakan manusia di muka bumi ini yang: seorang pekerja atau buruh yang miskin dan tidak pandai. Tapi kecintaannya pada Allah, Rasulullah, dan kehidupan manusia sungguh membedakan dia dengan manusia lainnya.

Mungkin yang disampaikan dan dilakukan orang tersebut tidak canggih, tidak berhiaskan istilah yang muluk, bahkan tidak inspiratif karena dilakukan dalam diam sehingga tidak bisa disaksikan orang lain, tetapi dia telah menterjemahkan dengan akurat esensi Islam sebagai rahmatan lil alamin dan perwujudan hablum minallah – hablum minannas yang sebenarnya.

Sepenggal kisah dalam buletin Jumat itu menggugah kembali ingatan saya pada ucapan seorang teman, yang kala itu mengomentari kiprah Gus Dur. Sebagai seorang tokoh, tentu saja orang sekaliber Gus Dur selalu punya orang yang mengagumi dan membencinya. Orang yang mengagumi mengatakan bahwa beliau ini punya pemikiran yang dalam, luas, dan seringkali melebih jamannya. Bahkan ada yang menyebutnya seorang wali – karena seperti weruh sakdurunge winarah (tahu sebelum terjadi). Gus Dur juga seorang humanis sejati, yang selalu menempatkan sisi kemanusiaan dalam konteks ke-Islam-an yang menjadi pemahamannya. Uniknya, pengagum Gus Dur justru banyak datang dari agama lain, termasuk para ulamanya.

sang guru bangsa

Pihak yang membenci Gus Dur mengataka bahwa konsep pluralitas yang digembar-gemborkan Gus Dur telah melenceng dan melecehkan Islam – karena secara tekstual disebutkan bahwa agama yang diridhoi Allah di muka bumi adalah Islam. Cara bepikir Gus Dur yang meloncat-loncat, tidak patuh pada sistematika berpikir, membuatnya dianggap tidak bisa diandalkan dan akhirnya menjadi sasaran tembak lawan politiknya saat beliau menjabat sebagai Presiden. Anehnya, orang yang tidak suka pada Gus Dur adalah orang Islam sendiri, yang tidak menyukai gaya Gus Dur dalam menginterpretasikan Islam.

Teman saya, yang jelas merupakan pengagum Gus Dur, mengatakan: “Gus Dur itu hendak menanamkan merah putih di halaman orang Islam. Pada saat yang sama beliau ingin memayungkan Islam di bumi merah putih.” Interpretasi sederhana yang menggambarkan Gus Dur secara cukup lengkap.

Gus Dur selalu ingin berkata pada orang Islam di Indonesia bahwa negara ini berbasis demokrasi, nasionalisme, dan keragaman. Kita ini hidup berdampingan dengan orang-orang dari agama yang berbeda, tapi kita semua adalah mahluk ciptaan Allah. Pada saat yang sama, Gus Dur ingin mengatakan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Sekalipun bumi merah putih ini penuh keragaman, di bawah keagungan Islam sebagai agama yang dianut mayoritas warga, kehidupan selalu akan penuh keadilan dan ketenteraman.

Saat diterima oleh kaum Anshor di Madinah, siroh Nabi Muhammad menceritakan bagaimana pluralitas berjalan dengan baik di kota yang sebelumnya bernama Yatsrib itu. Sebagai agama baru yang cepat diterima, diadaptasi, dan diadopsi oleh para penduduk Madinah, Islam berdampingan dengan pemeluk nasrani dan yahudi. Sayangnya kaum yahudi yang merasa kuat kemudian mengkhianati perjanjian yang sudah disepakati sebelumnya sehingga terjadi perang.

Rasulullah sendiri selalu welas asih pada orang beragama lain, sekalipun secara pribadia dia dihina oleh mereka. Mungkin banyak yang sudah mengetahui kisah pengemis Yahudi buta yang selalu mencaci maki Rasulullah di pojok pasar, tetapi dengan telaten Rasulullah SAW justru datang setiap hari untuk menyuapinya dengan kurma masak hingga beliau wafat, tanpa orang Yahudi ini tahu identitas orang yang mengasihinya.

Setelah Rasulullah wafat, ada sahabat lain yang membantu Yahudi pengemis tua ini makan. Tapi Yahudi rewel ini malah marah-marah, “Kamu bukan orang yang biasa membantu aku. Tindak-tanduknya jauh lebih halus, dan dia melembutkan kurma yang disuapkan padaku dengan baik sehingga aku yang sudah tak bergigi ini bisa menelannya dengan mudah.”

Sahabat itu minta maaf, lantas menjelaskan bahwa orang yang selama ini membantunya telah wafat. Yahudi tua itu tentunya sangat terkejut. Dan lebih syok lagi setelah tahu bahwa orang itu adalah Muhammad, orang yang selalu dicaci makinya. Dengan tangisan keinsyafan, konon Yahudi tua itu akhirnya berikrar dua kalimah syahadat.

Orang punya kebebasan dalam menginterpretasikan Islam, sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Ada yang menyukai Islam dalam wujud tekstual seperti yang tertulis dalam kitab-kitab Allah dan sunnah Rasul, ada yang membumikan Islam secara esensial sesuai dengan bumi tempatnya berkembang, hingga sinkretisme yang dianggap kebenaran bagi sebagian orang. Dengan populasi terpadat ke-4 di dunia, Indonesia memiliki pemeluk Islam terbesar di dunia, dan untunglah mayoritas bangsa ini punya sifat dasar yang toleran sehingga tidak mudah menumpahkan darah orang lain. Mungkin media massa suka menggambarkan kelompok-kelompok ormas yang suka memaksakan kehendak mereka, tetapi karena pihak lain menanggapinya dengan bijak, ketegangan dan kekerasan tidak berlangsung lama apalagi berlarut-larut.

musyawarah - toleransi khas Indonesia

Kalaupun ada sejarah ketegangan dan pertumpahan darah antar agama, itu adalah lembaran yang memang tidak bisa dihindarkan lagi. Akan tetapi, dengan kejadian pahit itu semua pihak lantas mau belajar untuk lebih mengendalikan diri. Bibit perpecahan akan selalu ada, tetapi bila umat Islam selaku mayoritas senantiasa mengedepankan semangat Islam rahmatan lil alamin, maka seharusnya tidak perlu ada darah yang tertumpah.

Kalau kita melihat carut marutnya kondisi di Afrika Utara (Libya, Mesir, Tunisia), di jazirah Arab (Yaman, Bahrain, Irak, bahkan mulai mengancam negara lainnya), dan tentunya Pakistan dan Afghanistan, betapa bersyukurnya kita hidup di Indonesia. Betapa bersyukurnya kita memiliki pluralitas yang terkendali seperti ini, dan Indonesia dikenal di dunia sebagai negara Islam moderat serta dihormati di Barat maupun di antara negara-negara Islam sebagai penengah.

Bila kemudian kita mulai mendapati ekstremisme mulai berkembang di bumi kita ini, marilah kita mendoakan agar semuanya kembali pada konsep awal Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Membela Islam tidak harus dengan mengangkat senjata, karena sebenarnya pertumpahan darah adalah jalan terakhir yang ditempuh Rasulullah. Bila senjata sudah menjadi pilihan pertama dalam membela agama yang agung ini, maka penganut Islam di Indonesia mungkin sudah mulai kehilangan arah esensi rahmatan lil alamin yang mendasari Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: