Bangsa yang Tangguh

Catatan Akhir Maret 2011

Lokasi gempa dan tsunami Jepang

Catatan ini saya buat untuk mengingat kejadian penting bulan ini. Pada tanggal 11 maret 2011, tepatnya jam 14.46, pantai Timur Jepang lepas pantai prefektur Miyagi (beribu kota di Sendai) menjadi pusat gempa berkekuatan luar biasa besar 8.9 skala Richter yang menyebabkan tsunami berketinggian hingga 4 meter. Konon, ini bukan gempa terhebat, bahkan hanya menempati urutan ke-5 sejak awal 1900-an. Meskipun demikian, korban sudah mencapai 10 ribu orang. Kalau bukan di Jepang yang punya peringatan dini yang baik, dan bangunan-bangunan tahan gempa, mungkin saja korban bisa bepuluh kali lipat.

Seorang teman yang bersuamikan orang Jepang bercerita, ini adalah pengalaman yang tidak terlupakan. Dia tinggal di kota Tsukuba di prefektur Ibaraki yang terletak di area greater Tokyo. Polisi dan petugas langsung diturunkan, untuk mengatur dan mengamankan warga. Kata teman saya itu, itu pun paling hanya beberapa jam. Setelah semua terkendali, polisi ditarik dan meninggalkan para pengungsi dengan pola pengamanan mereka sendiri. Pemadaman listrik tidak berjam-jam, lampu sudah nyala waktu matahari tenggelam. Memang ada situasi darurat tetapi semua warga berusaha bahu membahu agar kondisi tetap terkendali, tenang, dan kondusif.

Seorang ibu yang diwawancarai televisi internasional mengatakan bahwa, tugas mereka adalah tenang dan tidak takut. Sikap mereka akan mempengaruhi anak-anak mereka, dan mereka ingin anak-anak tetap bermain seperti biasa, dan tidak mengalami ketakutan traumatis akibat bencana tersebut. Dan memang, anak-anak Jepang seperti tidak merasakan kondisi darurat yang berlebihan, mereka bisa bermain seperti biasa

Kedisiplinan dan ketertiban, kunci kekuatan masyarakat

Yang paling hebat dari semua penanganan pasca bencana itu adalah ketertiban yang tidak tergoyahkan. Tidak ada penjarahan, tidak ada kebrutalan, tidak ada perampokan, semuanya aman. Bahkan saat pasokan logistik datang, pengungsi rela antre dengan tertib untuk mendapatkan jatah mereka. Bahkan untuk BBM mereka harus antre selama 3 hari. Tidak ada saling serobot, apalagi perkelahian karena perebutan jatah. Petugas membagi dengan tertib, dan penerima menerima secara tertib pula, seolah-olah yang terjadi adalah jual beli di pasar atau supermarket. Bila kondisi sulit menjadi tolok ukur kemapanan dan kedewasaan, inilah yang terjadi.

Bukan hanya orang-orang Asia, bahkan orang Amerika yang dulu pernah mengalami bencana besar badai Katrina mengaku salut dengan budaya orang Jepang yang mampu menyingkirkan ego pribadi demi ketertiban.

Prefektur Miyagi tidak sendiri, sebab prefektur Fukushima yang punya fasilitas PLTN juga terkena imbas, bahkan lebih parah lagi. Gempa telah mempengaruhi kestabilan fasilitas tersebut dan ledakan yang terjadi di sana menyebabkan kebocoran reaktor yang menyebarkan kebocoran radioaktif. Di sekitar Tokyo yang tidak terlalu jauh dari Fukushima, sayuran yang di supermarket ada yang harus ditarik karena dideteksi mengalami radiasi. Persediaan air juga sama, tetapi masih di bawah ambang.

Penderitaan bangsa Jepang mungkin belum akan teratasi dalam waktu dekat, namun demikian mereka sudah menunjukkan betapa tinggi budaya mereka dalam bermasyarakat. Semua masalah yang menimpa akan berlalu, dan mereka akan normal kembali tanpa trauma berlebihan. Semua orang dalam profesi dan kapasitasnya melakukan yang terbaik untuk masyarakat dan kemanusiaan. Yang polisi menjalankan fungsinya dengan benar, petugas medis bekerja tak hentinya menolong yang terluka, hingga pemilik toko yang selamat dengan suka hati membagikan barang kelontong tokonya untuk kemanusiaan. Sungguh mereka tidak berpikir untung rugi dalam masa sulit seperti ini – yang terpikir hanya kemanusiaan dan kebersamaan.

Sebagai orang Islam saya sungguh malu hati melihat kejujuran orang-orang Jepang yang tengah dirundung masalah itu. Mereka bukan orang Islam, namun perilaku jauh lebih Islami daripada kita yang mengaku Islam sejak lahir. Orang Jepang malu bila tidak berbuat apapun demi kemanusiaan, malu bila harus membebani, malu bila berbuat jahat, malu bila … malu kalau …. semuanya diukur dengan rasa malu. Bukan malu pada Tuhan sang Pencipta, melainkan malu pada sesama manusia.

Ada kolom berita yang membandingkan perilaku orang Jepang pasca bencana dengan kita, dengan sinisme bahwa kita tidak bisa seperti mereka. Saya katakan, memang Indonesia tidak bisa diperbandingkan secara apple-to-apple dengan Jepang.

Pertama, budaya Jepang termasuk salah satu yang tertua di dunia, bahkan kekaisaran yang ada sekarang ini adalah yang tertua di dunia.

Kedua, bangsa Jepang terbiasa dengan berbagai bencana alam, sehingga tidak sepanik kita bila tertimpa musibah. Jepang yang memiliki gunung api aktif terbanyak di dunia mendominasi frekuensi gempa dunia (20% gempa dunia berada di Jepang).

Ketiga, Jepang sudah maju, penduduknya lebih terpelajar, dan pendidikan sudah di level yang menggembirakan. Semantara di Indonesia, pendidikan baru level belajar.

Keempat, peringatan dini bencana dan simulasi bencana menjadi bagian dari kurikulum sekolah, semantara bagi kita hal tersebut masih dianggap kemewahan – kalau bukan pemborosan. Toh bencana alam ledakan gunung berapi dan tsunami masih jarang dan kita ini masih relatif aman.

Islam mengajarkan bahwa musibah selalu memberikan pelajaran, baik bagi yang mengalami maupun orang-orang lain yang mau belajar darinya. Kita memang tidak terkena dampak langsung musibah yang dialami bangsa tersebut, namun ternyata kita bisa belajar banyak darinya. Justru sebenarnya kita diuntungkan pada suatu sisi, yakni kita tidak perlu menjadi dewasa dengan mengalaminya sendiri. Kita bisa dewasa hanya dengan melihatnya.

Di saat belahan bumi Asia Timur sedang dalam keprihatinan, di benua Afrika sebelah Utara – tepatnya Libya – lagi-lagi Amerika Serikat dan sekutunya mengemukakan berbagai pembenaran agar bisa menyerang Libya. Kepada dunia, sekutu mengaku memegang mandat PBB untuk mengamankan pantai dan udara Libya, dan menegakkan demokrasi di negeri itu. Ada pengamat yang menyebutkan, Khaddafi adalah mata rantai terakhir yang duluuu … dipakai NATO untuk menahan Pakta Warsawa pada era perang dingin, bersama dengan Ben Ali (Tunisia), Anwar Sadat dan Hosni Mubarak (Mesir), termasuk Saddam Hussein (Irak). Tapi yang lain menyebutkan, apapun alasannya, pengamanan cadangan minyak mereka lah yang paling utama.

Kalau ini merupakan musibah bagi rakyat Libya, semoga kita pun bisa belajar dari kesulitan dan penderitaan yang mereka alami. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: