Bila Kekuasaan Bukan Lagi Amanat

Dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan terakhir, Afrika Utara hingga jazirah Arab dilanda gelombang protes yang menginginkan perombakan kepemimpinan bangsa. Tunisia, Mesir, Yaman, Bahrain, dan yang terakhir adalah negara gurun yang selama ini dianggap “slilit” oleh Barat – Libya. Apakah gerakan itu murni berasal dari keresahan rakyat atau disponsori pihak asing … wallahu a’lam bishshawab ….

yang satu sudah lengser, yang lain terancam

Setelah Hosni Mubarak akhirnya mau mengalah, lengser dari kursi kepresidenan Mesir, tiba-tiba unjuk rasa bergeser dan menyeruak di salah satu negara di jazirah Arab yang menjadi salah satu tujuan wisata, Bahrain. Alasannya berbeda. Unjuk rasa di Bahrain dilakukan oleh kaum Syiah yang menginginkan perubahan politik, karena sebagai kaum mayoritas ternyata mereka dimarginalkan oleh kaum Sunni yang minoritas. Belum kelar soal Bahrain, Libya mengguncang Afrika dengan aksi protes seperti Mesir, menginginkan Muammar Khadafi lengser. Dengan alasan demonstran tersebut didalangi oleh Al-Qaida, Khadafi memberlakukan kekerasan militer.

Kondisi di Mesir dan Libya nyaris seperti Filipina dan Indonesia, saat Ferdinand Marcos dan Soeharto dilengserkan dari kursi kepemimpinan. Pada suatu masa, rakyat negara-negara tersebut bangga sekali dengan pemimpinnya yang kuat. Akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu, terjadi perubahan ekonomi, sosial politik dunia,  dan ternyata rakyat justru berada dalam tekanan, dimarginalkan, sementara keuntungan serta kesejahteraan hanya dinikmati oleh segelintir orang yang berada di lingkaran elite politik. Pada saatnya rakyat yang muak tidak lagi bersuara dengan santun. Suara santun telah diberangus, perilaku ber-tata krama telah dihina, sehingga rakyat tinggal memiliki pilihan terakhir: bergerak secara massal dalam aroma agresi. Korban jiwa sudah pasti tidak akan terelakkan, dan dalam kondisi kacau seperti itu nyawa manusia seperti benda yang tidak ada harganya.

Memimpin orang lain, baik dalam kelompok kecil, kelompok besar, apalagi sebuah bangsa, tampaknya masih menjadi idaman bagi beberapa orang yang merasa memiliki bakat dan bekal. Tidak mengherankan, bursa Pilkada selalu ramai, selalu banyak cara untuk memenangkan persaingan, bahkan kecurangan bilamana perlu. Bla sudah berhasil meraih kursi yang diimpikan, orang cenderung mencari cara untuk mempertahankan bahkan melanggengkan kekuasaan.

Rasulullah Saw tidak pernah mengajarkan sistem monarki, tetapi justru sekarang negara yang berlabel Islam banyak yang masih berupa kerajaan atau kesultanan, termasuk Kerajaan Saudi Arabia. Negara kerajaan lain, antara lain: Jordania, Maroko, Bahrain, Kuwait, UEA, Brunei Darussalam, Malaysia, dsb. Tujuan penegakan sistem monarki, sudah barang tentu adalah melanggengkan kekuasaan dalam trah atau dinasti yang sama.

Di masa Rasulullah dan Kulafaur Rasyidin, negara Islam adalah Theokrasi: Khalifah adalah ulama dan umara’. Negara diatur tidak hanya melalui undang-undang hukum sipil tetapi juga melalui hukum agama, karena pada dasarnya Islam bukan hanya agama tetapi juga jalan hidup. Dengan pemimpin yang mengemban amanat, negara Islam di masa-masa awal menjadi sangat kuat. Perkembangan Islam yang awalnya dianggap kepercayaan orang gurun berkembang pesat hingga ke luar jazirah Arab.

Sayangnya, pasca Khalifah Ali terjadi pertentangan politik yang akhirnya dimenangkan oleh Bani Ummayah yang memang merupakan keluarga kuat sejak jaman Rasulullah. Mereka inilah yang membangun dinasti Umayyah yang legendaris, berkedudukan di Damaskus. Di sinilah sebenarnya pemerintahan monarki dalam negara Islam dimulai. Tentu saja, sejak awal sistem monarki yang menggantikan theokrasi ini mendapatkan tentangan, akan sistem ini bertahan hingga sekarang di beberapa negara berbendera Islam.

Islam mengajarkan bahwa sebuah amanat adalah cobaan atau musibah, termasuk jabatan tinggi apalagi memimpin. Orang itu harus bisa mempertanggung jawabkan apa yang diembannya dihadapan manusia sekarang dan pengadilan akhirat kelak. Oleh karena itu, umat Islam seharusnya mengucapkan “innalillahi wa inna ilaihi roji’un” secara khusyuk saat menerima amanat jabatan, bukannya “alhamdulillah” dengan wajah berseri. Kenapa demikian? Sebab, jabatan dunia ini besar godaannya. Bila tahta sudah di tangan, tinggal menunggu waktu godaan harta dan wanita menghampiri. Bila tahta sudah di tangan, pada waktunya, akan sangat besar dorongan untuk melanggengkan kekuasaan tersebut. Bila tahta dan kekuasaan tidak menarik, tidak bergelimang harta, niscaya tidak akan banyak orang yang memperebutkannya.

Saat kekuasaan bukan lagi berlandaskan amanat rakyat, bukan lagi karena diridhoi rakyat dan ulama, seharusnya seorang pemimpin berhenti dan mulai mengurusi dirinya sendiri. Sayangnya, sepertinya tidak ada kepuasan untuk menambah harta, disanjung dan dihormati, dan mungkin baru berhenti bila tanah sudah memenuhi mulut mereka ini.

Saya tidak mengatakan bahwa orang tidak boleh berpolitik, karena memang politik adalah salah satu alasan dunia ini tetap berputar, dan manusia bertambah pandai. Akan tetapi, semua ada waktunya untuk berhenti. Apakah berhenti karena mati, berhenti karena dipaksa berhenti, atau berhenti dengan sukarela.

Bila waktunya sudah tiba, tetapi seorang penguasa ngotot akan bertahan, lihatlah yang telah terjadi di Filipina, Indonesia, dan Mesir. Betapa orang mencibir para penguasa yang turun dengan paksa, dan lembaran hitam pun menghiasi sejarah hidup mereka. Memang, bila seseorang sudah diperingatkan dengan halus – oleh Sang Maha Pengatur Alam, yang seringkali diwakili oleh rakyat jelata – tidak mau juga berintrospeksi, maka Dia akan membuatnya menerima musibah. Bukankah musibah terjadi akibat perbuatan manusia sendiri?

Bila kekuasaan bukan lagi pengejawantahan amanat – rakyat maupun Tuhan – berarti telah berubah menjadi nafsu berkuasa yang ujungnya adalah keduniawian, itulah saatnya sang pemimpin (seharusnya) berhenti. Kalau sudah 2 periode pemerintahan, sudah uzur, sudah semakin banyak yang memprotes, sudah sangat susah mengendalikan anak istri … sebutkan lagi banyak pertanda – itulah saat orang orang harus meletakkan kekuasaan. Biarlah terjadi regenerasi.

revolusi PSSI

Belakangan ini, yang terjadi di tubuh PSSI juga tak kalah menggelikan – sekalipun lingkup bicaranya jauh di bawah level negara. Hanya karena sepakbola adalah sport favorit di muka bumi – termasuk Indonesia, proses penggantian kepemimpinan PSSI jadi wacana nasional. Soal Nurdin Halid ingin terus berkuasa adalah haknya, tetapi yang paling lucu adalah upayanya menghalalkan segala cara untuk menang – termasuk merekayasa aturan, mengatur seleksi kandidat ketua, dan akhirnya sok buta-tuli, demi kursi ketua umum PSSI yang konon mampu memberikan keuntungan yang luar biasa. Bagamana tidak, dana PSSI tiap tahun mencapai ¾ milyar, yang tidak pernah terbuka dilaporkan.

Kita tunggu saja akhirnya …. Bagaimana orang-orang PSSI yang keras kepala ini mencoba bertahan di tengah badai ketidak senangan massa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: