Bermain-main dengan Akhirat, Serius pada Dunia

Beberapa hari yang lalu, seorang teman menceritakan kisah seseorang yang dijumpainya beberapa tahun silam di Jakarta. Seorang yang dianggapnya hebat dan inspiratif. Seorang yang berpendidikan, terpandang, namun memilih untuk hidup sederhana sebagai kondektur Kopaja.

dilema tahta ....

Saat pertama kali bertemu dengannya, teman saya sudah menduga bahwa bapak separuh baya ini pasti berpendidikan dari tutur bicara dan pembawaan dirinya. Hingga suatu saat, ia diajak pulang kampung ke sebuah kota dekat Cirebon, itupun ongkos bus ditanggung teman saya itu. Rumah bapak tersebut ada di pinggiran kota, itupun masih masuk gang. Halamannya luas, rumahnya sederhana, dan di belakang rumah ada tiga kolam ikan mas.

Yang paling menarik perhatian teman saya tersebut, semua orang yang berpapasan dengan bapak itu selalu menyapa dengan takzim, bahkan ada beberapa pegawai negeri yang datang ke rumahnya membawa beras. Hal itu semakin membuat penasaran teman saya. Sedikit dari orang-orang, teman saya hanya bisa menangkap informasi bahwa bapak itu dulunya adalah pejabat tinggi yang jujur. Tapi bagaimana bisa berakhir dengan menjadi kondektur Kopaja?

Bapak itu bercerita, diiringi dengan linangan air mata sitri dan anak sulungnya, bahwa dia dulu (sekitar 4 tahun sebelumnya) adalah seorang kepala dinas pendidikan kabupaten. Untuk urusan ini, dia adalah tangan kanan bupati dan bertanggung jawab pada berbagai dana proyek diknas kabupaten. Bukan jumlah uang yang sedikit.

Masalahnya bukan pada dirinya, tetapi pada istri dan anak sulungnya. Sang istri yang mulai mabuk duniawi mendorong-dorong suaminya untuk korupsi. Bukan sekali dua, tetapi terus menerus. Sementara itu, anak sulungnya yang masih SMA tidak pernah lepas dari botol miras dan selalu mabuk. Hanya anak perempuan bungsunya yang masih memberikan harapan baginya.

Bapak itu berpuasa dan terus menerus meminta petunjuk Allah. Hingga akhirnya ia sampai pada sebuah keputusan penting. Ia menghadap bupati untuk meletakkan jabatan, dan semua fasilitas dinas dikembalikannya. Belum selesai di situ, ia menjual semua aset pribadinya seperti mobil dan rumah. Yang tersisa hanya 2 rumah, termasuk yang sekarang mereka tempati. Hasil penjualan tersebut kemudian dibaginya kepada istri dan kedua anaknya, dengan satu pesan: aku akan pergi, tidak perlu dicari. Ia merantau ke Jakarta dan memulai kehidupan dari bawah, sebagai kondektur Kopaja.

Dalam dua tahun pertama, istri dan anak sulungnya yang tiba-tiba mendapatkan harta sebanyak itu seperti hendak menelan semuanya. Dan memang, dalam waktu 2 tahun semuanya ludes. Kesadaran bahwa mereka membutuhkan sosok suami dan Ayah muncul di tahun ketiga.

tinggalkan urusan dunia untuk bersujud

Salah satu rumah yang tersisa masih sempat terjual lagi, namun sekarang semuanya memulai dari kesederhanaan, tinggal di rumah sederhana yang tersisa. Mereka hanya hidup dari hasil penjualan ikan mas yang tidak seberapa, dan upah sebagai kondektur Kopaja. Setiap kali bercerita tentang masa lalu, si anak sulung selalu menangis.

Sebagai orang yang pernah punya nama harum, tawaran untuk menjadi anggota DPRD selalu ada, tetapi selalu ditolaknya. Alasannya:”Harta tidak selalu membawa bahagia, biarlah dia hidup seperti sekarang karena sudah cukup membuatnya bahagia.”

Benarlah firman Allah dalam Surat Al Anfaal dan At-Taghabun yang berbunyi …: Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan , dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Ketika Bapak itu mampu mengatasi sumber cobaan, Allah memberikan jalan untuk meraih kebahagiaan. Orang seperti ini sangat serius memikirkan kehidupan akhirat, dan meyakini bahwa dunia ini serta isinya hanyalah fana dan hanya berupa permainan belaka.

Bandingkan dengan kasus yang sedang heboh belakangan ini, Gayus Tambunan. Perbuatannya tentu saja memberikan aib bagi dirinya dan keluarganya – karena ketahuan. Sebelum ketahuan, tentunya dia telah membuat bangga keluarga. Setelah ketahuan dan masuk penjara, ternyata masih ada saja yang suka memanfaatkan dirinya, dan mengeruk keuntungan pribadi. Termasuk istrinya yang belum juga mendorong suaminya untuk bertobat.

Orang-orang yang lebih suka menumpuk harta daripada menyedekahkan, melakukan praktik riba daripada berzakat, adalah contoh perilaku yang menganggap dunia ini suatu yang serius. Mereka pastinya tahu ketika mati tidak ada satupun yang akan mereka bawa, namun dorongan untuk memperkaya diri sendiri jauh lebih kuat.

Jauhnya perasaan syukur tercermin dari caranya menyikapi pertolongan Allah (Surat Az-Zumar 49): Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni’mat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi ni’mat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.

Manusia yang sombong selalu menganggap dirinya pantas mendapatkan nikmat, dan takabur dengan nikmat tersebut. Padahal, nikmat tersebut juga merupakan bagian dari ujian.

Bahkan orang paling sabar Nabi Allah Ayyub a.s. lebih menyukai kondisinya saat diuji dengan kemiskinan dan penyakit, karena tahu benar batasan ujian Allah. Saat diuji dengan kekayaan dan derajat duniawi, beliau menderita karena tipisnya garis pada kemunkaran dan kekufuran pada nikmat.

Semoga kita selalu diberi petunjuk dan ingatan, bahwa dunia ini adalah tempat bermain-main, untuk menyiapkan akhirat yang kekal dan serius.

(QS. Al ‘Ankabuut:64) Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda  gurau  dan  main-main. Dan  sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: