Islamofobia di Amerika: Transisi Bangkitnya Peradaban Islam -1

TIME edisi 30 Agustus 2010 mengangkat topik yang menarik seputar issue anti Islam di Amerika Serikat – dan peristilahannya cukup provokatif, yaitu Islamophobic. Di satu sisi Islam punya ruang berkembang di sana, namun di sisi yang lain banyak hambatan yang menghadang syi’ar Islam tersebut.

Apa issue besar yang sekarang sedang bergulir? Protes atas pembangunan Masjid di ground zero – lokasi bekas reruntuhan WTC pada tragedi 9/11. Rencana itu seperti menyulut kebangkitan sentimen anti Islam di Amerika di wilayah lain. Padahal, sebenarnya masjid yang disebut dengan nama Park51 itu sudah ada sebelumnya, di tempat yang sama, dan sudah ada di sana setahun silam. Yang dimintakan perijinan adalah ekspansi agar cukup menampung jamaah sholat yang lebih banyak, serta menjadi semacam Muslim cultural center. Masjid Park51 sendiri diprakarsai oleh Imam Feisal Rauf dan istrinya Daisy Khan – seorang Muslim Amerika yang getol mempromosikan dialog antar-agama, dan rencana itu sudah mengantongi ijin dari otoritas kota serta Walikota New York Michael Bloomberg.

Para pemrotes sebenarnya tahu bahwa menurut undang-undang di Amerika Serikat, mereka tidak bisa menghentikan ekspansi masjid tersebut karena itu adalah hak individual yang dilindungi, apalagi sudah punya kekuatan hukum. Sebagian pemrotes berdalih bahwa pembangunan masjid di daerah itu tidak layak, karena lokasi ground zero itu sakral. Kehadiran sebuah masjid hanya akan menambah luka hati keluarga korban tragedi 9/11 yang mencapai 3000 orang.

lokasi Park51 yg akan direnovasi

Tapi apakah hanya ada Masjid Park51 di sana? Tidak. Daerah itu adalah wilayah hunian Lower Manhattan. Di antara bangunan hunian dan bisnis, hanya beberapa meter dari masjid itu ada klub striptease, toko minuman keras, dan toko-toko lain khas wilayah itu.

Menurut Ebrahim Moosa yang merupakan associate professor studi Islam di Duke University, protes atas pembangunan Park51 adalah bagian dari pola intoleransi terhadap kaum Muslim sejak tragedi 9/11 dan kian dalam dalam beberapa tahun terakhir. Memang tidak ada kekerasan langsung terhadap orang Islam meningkat, tetapi topik pembicaraan yang berbau kebencian terhadap Islam semakin luas dan semakin memanas. Seorang penulis Muslim Amerika, Arsalan Iftikhtar menyebutkan:”Islamofobia telah menjadi bentuk rasisme yang diterima di Amerika.”

Sebenarnya, intoleransi religius juga ditujukan kepada agama lain seperti Yahudi, Mormon, dan lainnya, namun jantung beracunnya disiapkan untuk Muslim. Franklin Graham, anak raksasa evangelis Billy Graham berkata kepada TIME bahwa “Islam is a religion of hatred. It’s a religion of war” (agama kebencian, agama perang). Lebih jauh, Graham mengatakan bahwa Park51 seharusnya tidak diijinkan karena semua orang Muslim bisa berjalan masuk ke sana, dan “semua wilayah yang mereka lalui dengan jalan kaki akan di-klaim sebagai wilayah Islam. Mereka sekarang akan menyebut daerah World Trade Center … sebagai tanah Islam.”

Lady Caliphs - tim basket muslimah SMA yang disegani

Sebagian orang Amerika mempertanyakan dengan sinis: Arab Saudi tidak mengijinkan gereja dan sinagog dibangun, jadi kenapa Amerika harus mengijinkan pembangunan tempat peribadahan Islam? Sebenarnya hal ini adalah persamaan atau analogi yang bodoh.  AS dan Arab Saudi tidak sama. Arab Saudi adalah negara berazaskan agama, sementara Amerika Serikat dibangun dengan landasan idealisme kebebasan beragama dan toleransi.

Kenapa Islamofobia tiba-tiba menguat? Beberapa Muslim Amerika berpendapat bahwa sebenarnya tidak menguat tiba-tiba. Sentimen ini sudah ada selama bertahun-tahun. Yang lainnya menyebutkan tragedi 9/11 adalah puncak semuanya. Arsalan Iftikhar ingat adanya ledakan “gelombang pertama” anti-Muslim setelah serangan teroris tersebut oleh pemimpin Kristen seperti Pat Robertson dan Jerry Falwell yang secara terbuka mempertanyakan apakah Islam benar-benar agama, dan memberi label Nabi Muhammad sebagai perampok, penyamun, dan teroris. Beberapa insiden lain dengan pemimpin politik juga terjadi.

Jumlah kaum Muslim di Amerika Serikat sendiri, menurut sebuah survey, mencapai 2.5 juta orang dari total 300 juta lebih penduduk. Angka ini sebenarnya lebih kecil daripada perkiraan sebelumnya yang diperkirakan mencapai 6 hingga 8 juta orang. Namun demikian, sebaran musholla di Amerika mencapai menurut Ihsan Bagby – seorang professor studi Islam di Universitas Kentucky – sekitar 1900 buah (meningkat 700 buah dari survey di tahun 2001), tapi memang kebanyakan berupa musholla kecil di ruang ganti atau sudut perkantoran, dan hanya beberapa yang berupa masjid.

Namun demikian, bahkan President Bush dan Menlu Condollezza Rice perlu repot untuk menenangkan gejolak anti Islam di Amerika sesaat setelah insiden tragis 9/11. Bush mengunjungi Islamic Centre di Washington dan menyebut Islam sebagai agama damai. Tidak seheboh dan sedemonstratif Bush, Obama juga melakukan hal serupa bahkan berusaha menjangkau dunia Islam di luar negeri Amerika. Bush dan Obama sama-sama menekankan garis tegas yang membedakan antara ekstrimis yang penginterpretasikan Islam dengan jalan kekerasan seperti Osama Bin Laden, dengan mayoritas kaum Muslim yang damai.

Bagi kaum Muslim yang mengagumi ideologi Amerika, dan menginginkan Park51 dibangun, mereka berkata:”Jika mereka tidak membangunnya, Pemerintah berarti setuju dengan pihak yang mengatakan bahwa kaum Muslim tidak bisa menjadi orang Amerika yang baik. Kalau memang begitu, lebih baik bagiku pulang ke Baghdad, karena aku tidak akan pernah diterima di sini.”

Pdt. Terry Jones dan gereja kecilnya

Usaha pemimpin Amerika untuk mengakomodasi Islam sebagai bagian integral masyarakat Islam masih menghadapi jalan terjal. Bangkitnya Islam di Amerika Serikat adalah test case serius bagi tegaknya ideologi bangsa itu sendiri, setelah selama berabad-abad merdeka dan ternyata dalam sejarahnya diwarnai dengan prejudice, intoleransi bahkan kekerasan religius.

Amerika memang dibangun atas idealisme kebebasan beragama dan toleransi, persamaan hak, dan tanah harapan. Ketika Pendeta Terry Jones berinisiaif hendak membakar Al-Qur’an untuk memperingati insiden 9/11, berbagai elemen bangsa Amerika menekan sang pendeta untuk mengurungkan niatnya. Semua elemen tersebut ingin menegakkan konstitusi bangsa itu. Kabar terakhir pendeta tersebut membatalkan rencananya, dengan tuntutan pembangunan Islamic Centre harus keluar dari ground zero. Sebenarnya, hal itu tidak bisa dipertentangkan dan bukan komoditi untuk saling dipertukarkan. .

Kita insyaallah masih akan terus melihat geliat transisi peradaban Islam, karena perlahan tapi pasti Islam merebut perhatian dan minat rakyat AS, sementara sebagian pemegang hegemoni tidak rela budaya Islam berkembang luas. Mereka akan terus berusaha mengaburkan makna konstitusi mereka sendiri – seperti layaknya tanda-tanda orang munafik. Let’s wait and see ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: